Prolog
"Hmm, bagaimana aku harus
memahami hal ini..."
Melihat pemandangan aneh yang belum
pernah kulihat membentang di depan mata, aku tanpa sadar bergumam dan bertanya
pada diriku sendiri.
Di hadapanku, kereta-kereta kuda
dari logam saling berpacu dengan kecepatan tinggi di atas jalan berwarna
abu-abu.
Bangunan-bangunan yang tak pernah
kulihat sebelumnya berjejer rapi, dan di kejauhan menjulang gedung-gedung
pencakar langit berbentuk balok logam yang tak terhitung jumlahnya.
"Apakah itu yang namanya mobil
seperti yang ada di dalam buku? Kalau begitu, bangunan tinggi di belakang sana
itu gedung?"
Objek dengan struktur serupa pernah
muncul di buku tentang arsitektur yang kudapatkan di Easy Dungeon. Yah,
meskipun ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung.
Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa
berada di tempat yang aneh ini? Ingatanku terasa agak kacau.
Lebih tepatnya, semua ini terasa
buram. Mari coba
kuingat-ingat kembali sedikit.
"Seingatku... aku..."
Karena insiden Gereja Pusat telah mereda, aku
mengunjungi Guild Hunter untuk membahas urusan pasca-insiden, saat itulah kami
menerima laporan tentang kemunculan Undead dalam jumlah besar dari 【Kota Mati Bunga】.
Aku diminta oleh ketua guild, Ralph Excel, untuk
membasmi mereka, lalu aku pun berangkat ke sana.
Di dalam gua terdalam Area 5, seorang gadis yang
sepertinya adalah Pahlawan Mashiro sedang diikat oleh ekor monster ular
berwujud manusia.
Aku berhasil menyelamatkan Pahlawan Mashiro dari
monster ular itu, tetapi saat Mashiro mengenaliku, dia tiba-tiba meronta di
pelukanku lalu jatuh pingsan.
Setelah itu, ketika aku menundukkan para ular dan
hendak menginterogasi bos mereka yang berwujud manusia ular, sebuah lingkaran
sihir muncul di tanah di belakangnya dan menyedot kami.
Sesaat kemudian, tubuh kami ikut melayang dan
diselimuti cahaya, dan ketika aku sadar, aku sudah berada di tempat ini.
"Kemungkinan besar itu adalah lingkaran sihir
teleportasi. Kalau begitu, apakah aku baru saja dipindahkan secara paksa ke
dunia yang tidak kuketahui?"
Bodo amatlah, tapi ada terlalu banyak hal tidak
wajar yang terjadi! Kurasa Area 5 di 【Kota Mati Bunga】 sebaiknya disegel
permanen saja.
Aku akan benar-benar mengusulkan hal ini kepada
Chloe dan Ralph nanti.
Namun, terlepas dari itu—
Sakit kepala apa ini, rasanya sejak tadi pelipisku
seperti dipukul dengan palu raksasa? Ini adalah pengalaman pertamaku sejak
keluar dari Easy Dungeon itu.
Lagipula, sejak tadi kesadaranku perlahan-lahan
mulai tertutup kabut.
Tidak mungkin ini akibat campur tangan dari luar.
Sejak awal, Status Ailment sama sekali tidak mempan padaku.
Jadi, ini mungkin bukan karena aku terlempar ke
dunia ini, melainkan fenomena bawaan yang sudah tertanam di dalam tubuh ini
sejak awal.
Tiba-tiba, pemandangan Beelze dan Girimehkala yang
sedang berlutut di hadapanku terlintas di benakku.
"Baiklah! Itu terdengar menarik! Saat semua
persyaratan yang kalian sebutkan terpenuhi, aku akan membiarkan Satori
memanipulasi ingatanku. Namun, aku sendiri yang akan menentukan apa saja
ingatan yang boleh diubah!"
Apa-apaan ini? Aku tidak ingat pernah melakukan
percakapan seperti itu dengan Beelze atau Girimehkala.
"Ukh!"
Pada akhirnya aku tak sanggup lagi menahannya,
jadi aku duduk di bangku panjang di dekatku, merentangkan kedua tangan di
sandaran, dan menatap langit biru yang cerah.
Aku merasa sedikit mengantuk. Jangankan sakit
kepala yang sehebat ini, aku bahkan sudah lama tidak merasakan rasa sakit sama
sekali.
Anehnya, rasa sakit ini membuatku merasa begitu
rindu dan nyaman.
"Biarlah terjadi apa yang akan terjadi."
Di tengah kesadaran yang perlahan diselimuti
kabut, aku memejamkan mata dengan perasaan antisipasi yang aneh dan kegembiraan
yang meluap-luap. Ini adalah firasat akan sebuah pertarungan mendebarkan yang
telah lama hilang dari hidupku.
"Aku berharap... semoga ada pertarungan putus
asa tanpa jalan keselamatan bagiku..."
Sambil menggumamkan harapan berbahaya itu dengan
samar, kesadaranku perlahan memudar menjadi putih sepenuhnya.
◇◆◇
Aku terbangun di atas ranjang rumah sakit, tiga
hari setelah hari aku diselamatkan.
Sepertinya aku diamankan setelah tertidur di
bangku taman di bawah teriknya matahari pertengahan musim panas.
Seorang perawat mengatakan dengan nada setengah
tak percaya bahwa sungguh ajaib aku tidak terkena sengatan panas yang parah.
Alasan aku berada di taman adalah untuk berlatih
mumpung ada waktu luang, tapi aku mendadak diserang rasa kantuk yang luar biasa
dan jatuh tertidur di bangku layaknya orang pingsan.
Dokter bilang itu adalah semacam mabuk sihir,
kemungkinan karena aku terpapar Mana dalam jumlah besar saat pelajaran,
padahal hal seperti itu belum pernah terjadi padaku sebelumnya...
Yah, bagaimanapun juga, syukurlah tidak terjadi
hal buruk padaku. Membayangkan apa yang akan terjadi jika aku terus tertidur di
bangku itu membuatku merinding.
Saat ini, aku baru saja kembali ke kamarku di
asrama siswa.
"Aneh sekali..."
Padahal aku tinggal di kamar ini setiap hari,
entah kenapa tempat ini terasa begitu asing seolah aku baru pertama kali
menginjakkan kaki di sini. Akhir-akhir ini aku memang sibuk, jadi mungkin ini
semacam dejavu akibat kelelahan. Kalau begitu—
"Lebih baik aku menyiapkan materi pelajaran
untuk besok sebelum tidur."
Dengan pemikiran itu aku mencoba untuk belajar,
tetapi entah mengapa, hampir semua isi buku pelajaran untuk mata pelajaran umum
sudah kuketahui. Sejak kapan aku jadi sepintar ini dalam mata pelajaran umum?
Sebaliknya, untuk pengetahuan yang berhubungan
dengan sihir, lebih dari enam puluh persen pemahamanku ternyata salah. Yah,
sejak awal aku memang masuk Jurusan Dukungan karena tidak bisa menggunakan
sihir, jadi mungkin itu bukan hal yang mengejutkan.
Meski begitu, seingatku aku tidak seburuk ini
dalam hal sihir.
"Aku sudah selesai belajar..."
Rasanya benar-benar tidak menantang, tapi karena
tugas hari ini kebanyakan memang mata pelajaran umum, mau bagaimana lagi...
"Aku mengantuk sekali..."
Rasa kantuk yang luar biasa ini membuatku tak
punya tenaga lagi untuk melawannya. Aku pasti sangat kelelahan.
Begitu aku merebahkan diri di tempat tidur,
kesadaranku langsung hilang seketika.
Aku menutupi cahaya yang masuk dari celah tirai
dengan tangan kananku, lalu bangun dan melihat waktu yang menunjukkan pukul
lima pagi. Sepertinya aku tertidur sangat pulas sejak tadi malam.
Aku pergi ke taman terdekat untuk melakukan
latihan pagi yang sudah menjadi rutinitas harianku.
Setelah melakukan pemanasan ringan, aku mulai
berlatih.
"Hebat, ya."
Tepat saat aku sedang melatih teknik bela diri,
seorang gadis berambut merah yang diikat separuh dan mengenakan gaun terusan
biru muda tiba-tiba menyapaku.
Aku memang sudah menyadari sejak tadi kalau dia
memperhatikanku.
Namun, karena dia tidak memancarkan niat
bermusuhan, aku membiarkannya saja.
"Terima kasih."
Aku menjawabnya dengan dingin lalu melanjutkan
latihanku. Aku masih punya waktu tiga puluh menit lagi, dan karena waktu sangat
terbatas, aku tidak ingin menyia-nyiakannya.
Setelah itu, gadis tersebut tidak mengucapkan
sepatah kata pun dan hanya mengamati latihanku dalam diam.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku menyantap
sarapan ringan lalu berangkat ke sekolah.
Saat aku keluar dari asrama, terlihat kerumunan
orang yang berjalan menuju satu arah yang sama. Sambil membaur dengan lautan
manusia, aku menapaki tanjakan panjang hingga sebuah bangunan raksasa perlahan
mulai terlihat.
Itu adalah SMA Kazatsuki, sekolah tempat kami
menimba ilmu.
Tentu saja mayoritas kerumunan ini adalah para
siswa yang mengenakan pakaian bersulam lambang sekolah "Kazatsuki",
namun di antara mereka juga terdapat orang-orang dewasa yang memakai seragam
unik berwarna hitam dan putih.
Benar. Inilah perbedaan terbesar antara sekolah
biasa dan SMA Kazatsuki. Tempat ini adalah lembaga pelatihan hunter yang
bergengsi.
Hunter—Sekitar setengah abad yang lalu, sebuah
dungeon mendadak muncul di tengah kota New York, disusul oleh kemunculan
dungeon-dungeon lain yang tak terhitung jumlahnya di seluruh negara, membuat
monster-monster mulai bermunculan di berbagai tempat.
Seolah merespons fenomena tersebut, orang-orang
dengan bakat kekuatan gaib dan sihir yang selama ini dianggap hanya fiksi
belaka mulai lahir di berbagai belahan dunia.
Tentu saja, pada saat itu dunia sempat mengalami
kekacauan besar. Diskriminasi dan konflik bersenjata pun pecah di mana-mana.
Namun, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa
kekuatan super seperti sihir dan Skill sebenarnya adalah kemampuan dasar
yang dimiliki oleh setiap manusia. Seakan membuktikan hal tersebut, orang-orang
yang mewarisi ilmu sihir dan Skill secara turun-temurun pun mulai
menampakkan diri.
Ada banyak alasan mengapa mereka mengungkapkan
identitas mereka ke publik, tapi kemungkinan besar alasan utamanya adalah agar
mereka bisa memonopoli keuntungan dari dungeon.
Berbagai niat saling bersilangan, dan pada
akhirnya dunia pun perlahan mulai menerima konsep kekuatan super seperti sihir
dan Skill. Hasil dari penerimaan tersebut adalah terciptanya profesi
pemburu monster yang disebut sebagai hunter.
Sekolah ini adalah tempat belajar bagi para calon
hunter, dan sejarah berdirinya bisa ditarik kembali hingga sekitar empat puluh
tahun yang lalu.
Kemudian, lima tahun yang lalu, monster jenis baru
yang berbeda dari sebelumnya muncul di dunia. Mereka adalah vampir.
Senjata modern sama sekali tidak mempan terhadap
mereka, dan para hunter yang menjadi tumpuan harapan manusia bahkan tidak mampu
menggores kulit mereka sedikit pun.
Umat manusia dihadapkan pada ancaman kepunahan
akibat ulah para vampir, namun di saat itulah sebuah keajaiban terjadi.
Tiba-tiba, sebuah dinding menjulang tinggi
memisahkan antara manusia dan vampir.
Pada dasarnya para vampir tidak bisa melewati
dinding yang melindungi umat manusia tersebut, dan dinding itu hanya akan
runtuh jika syarat tertentu terpenuhi.
Berkat dinding inilah umat manusia masih bisa
bertahan dan menjalani kehidupan mereka seperti biasa.
Singkatnya, sekolah ini adalah tempat untuk
mendidik para hunter yang menjadi harapan umat manusia. Oleh karena itu, hanya
orang-orang berstatus elit super yang bisa masuk ke sini.
Aku sendiri tidak punya sihir atau Skill
tempur yang berguna, sehingga dari sudut pandang ini aku sama sekali tidak bisa
diandalkan dalam pertarungan melawan para monster.
Namun, karena Skill yang kumiliki
berhubungan dengan transportasi, aku pun bisa bersekolah di sini sebagai
personel unit logistik.
Saat aku melewati gerbang sekolah, memasuki area
masuk, dan mengganti sepatuku dengan sepatu dalam ruangan di loker sepatu—
"Kai Heinemann! Keparat! Kenapa kau ada di
sini!?"
Mendengar bentakan marah seorang perempuan dari
arah belakangku, aku sontak menoleh ke belakang bahuku.
Di sana, seorang gadis berambut hitam berkilau
menatapku tajam dengan mata yang dipenuhi niat bermusuhan.
"Eh? Hah?"
Tentu saja aku tidak bisa memikirkan satu alasan
pun kenapa seorang siswi yang baru pertama kali kutemui tiba-tiba memakiku.
Lagipula, dia pasti salah mengira aku sebagai
orang lain yang bernama Kai Heinemann.
"Jawab pertanyaanku!"
Menanggapi gadis berambut hitam yang tiba-tiba
mencengkeram kerah bajuku dan berteriak dengan ekspresi mengerikan itu—
"T-Tunggu sebentar, aku tidak
mengerti apa maksudmu—"
Saat aku membuka mulut untuk meluruskan
kesalahpahaman...
"Lepaskan tanganmu dari Kain!"
Seorang pemuda berambut merah dengan potongan
two-block dan tatapan tajam membentak. Dia mencengkeram pergelangan tangan
kanan gadis berambut hitam itu. Orang ini... uhm.
"..."
Benar juga, dia Akutsu Arata. Sahabat berandalanku
sejak SMP.
Sepertinya aku mirip dengan mendiang adiknya yang
tewas dalam serangan vampir lima tahun lalu. Karena itulah, dia selalu
bertingkah layaknya kakak yang overprotektif kepadaku.
Kemunculan Arata yang tiba-tiba membuat gadis
berambut hitam itu membelalakkan matanya.
Dia menatap Arata dan aku secara bergantian, lalu
melepaskan cengkeramannya dari kerah bajuku.
"Kamu kenal laki-laki ini?"
Tanyanya kepada Arata dengan suara
bergetar.
"Tentu saja, Kain adalah sahabatku dari
dulu!"
Mendengar jawaban Arata yang tanpa ragu, aku pun
ikut menimpali.
"Namaku Tsukishiro Kanon. Karena warna
rambutku, aku sering disalahpahami, tapi aku orang Jepang asli."
"Tsukishiro Kanon..."
Gumamnya pelan. Sambil terus menatapku
lekat-lekat, dia menutup mulutnya sendiri dengan tangan.
"Maaf. Aku salah orang..."
Gadis berambut hitam itu melangkah gontai dan
berjalan terhuyung-huyung memasuki gedung sekolah.
"Terima kasih. Kamu sangat membantu,
Arata."
Aku mengucapkan rasa terima kasihku kepada sahabat
penolongku itu.
"Bukan masalah."
Arata menyeringai bangga, memamerkan gigi putihnya
sambil mengacungkan jempol kepadaku.
"Gadis itu... murid kelas Khusus yang sama
denganmu, kan, Arata?"
"Yah, mungkin saja dia anak baru yang masuk
hari ini. Pantas saja dari kemarin orang-orang pada heboh."
Sudah kuduga. Lagipula, ada lambang kelas Khusus
di seragamnya.
Kelas di akademi ini terbagi menjadi kelas Khusus,
Komando Strategis, Taktik Tempur, dan Dukungan Tempur. Kecuali kelas Dukungan
Tempur, semuanya adalah kadet calon petinggi Asosiasi Hunter.
Di antara mereka, kelas Khusus adalah kelas super
elite yang membina senjata hidup untuk melawan vampir.
Arata adalah anggota kelas tersebut, dan di masa
depan, dia akan menjadi pusat kekuatan dalam membasmi vampir di negara ini.
"Kalau begitu, Arata, ayo kita makan di luar
saat hari libur nanti!"
"Pasti!"
Aku melambaikan tangan kananku pada Arata, lalu
mulai berjalan menuju ruang kelas Dukungan Tempur.
◇◆◇
Aku, Mikage Mashiro, memiliki seorang adik
laki-laki angkat. Dia
itu lemah dan cengeng, tapi sangat baik hati.
Namun, di saat krisis, dia mampu
menunjukkan kemampuan bertindak dan pengambilan keputusan yang luar biasa.
Setiap hari, kami belajar ilmu
pedang dan bela diri bersama dari ayahku yang seorang Hunter. Kami tidur
berdampingan, dan makan masakan ibu bersama.
Kehidupan itu terasa biasa dan
membosankan, tapi kurasa saat-saat itulah masa yang paling menyenangkan dan
bahagia dalam hidupku.
Kehidupan yang damai itu hancur
berkeping-keping dengan cara terburuk pada hari penentuan tersebut.
Hari itu adalah hari ulang tahunku. Ayah, ibu, dan dia pergi ke
restoran di depan stasiun bersama-sama.
Di sana, dia memberiku jepit
rambut buatan tangannya yang berbentuk kelinci. Aku sangat senang, saking
senangnya aku rasanya ingin melompat. Namun—
"Bentuknya jelek. Tapi, karena kamu sudah repot-repot, akan
kupakai."
Karena aku tidak pandai jujur, aku malah
melontarkan kata-kata pedas seperti biasa.
"Uhm, terima kasih."
Dia menggaruk pipinya dengan sedikit tersipu.
"Ini, kuberikan padamu."
Karena tidak ingin memperlihatkan wajahku yang
merona, aku memaksa memberikan sebuah kotak berpita putih kepadanya.
"Ini... untukku?"
Mendengar suaranya yang penuh haru, aku menjawab
dengan cepat.
"Tentu saja!"
"Boleh kubuka!?"
"Kuizinkan!"
Dia melepas kertas pembungkusnya dengan hati-hati
dan membuka kotak itu. Saat dia mengambil sapu tangan putih dengan sulaman
kelinci di dalamnya, wajahnya berbinar.
"Wah! Terima kasih, Mashiro!"
Dengan senyum lebar yang bahagia, dia memelukku
erat. Aku sadar wajahku pasti sudah merah padam.
Puncak kebahagiaanku hanya sampai di titik ini. Mimpi buruk terburuk dimulai
setelahnya.
Saat kami dalam perjalanan pulang,
diiringi tatapan menggoda dari kedua orang tua kami, tiba-tiba matahari hitam
jatuh dari langit.
Detik berikutnya, seluruh area di
sekitar kami berubah menjadi tempat makan bagi monster-monster yang muncul
secara mendadak.
Ayah dan ibu yang merupakan Hunter
peringkat A mulai melarikan diri sambil menuntun warga. Di tengah kekacauan
itu, aku dan dia terpisah dari ayah dan ibu.
Aku terus-menerus menangis dan
merengek, tapi dia tak henti-hentinya menyemangatiku. Dia menarik tanganku dan
kami terus berlari.
Lalu, kami berpapasan dengan
monster berwujud setengah manusia dan setengah ular itu.
Seakan mengejek perjuangan
mati-matian kami, monster itu membiarkan pengikutnya memangsa orang-orang yang
lari bersama kami satu per satu.
Pada akhirnya, hanya tersisa aku dan dia.
Napas kami berdua
tersengal-sengal, kami bahkan tidak bisa berlari dengan benar. Batas kemampuan kami sudah sangat jelas.
"Ayo, ayo, serangga manusia. Kalau kalian
tidak lari lebih cepat, kalian akan kumakan~"
Mendengar suara monster ular yang seolah sedang
bermain-main itu, dia melepaskan genggaman tangannya dariku.
"Mashiro! Larilah ke arah sana!"
Dia mendorong punggungku dan memberi perintah
dengan nada tegas.
"T-Tapi..."
"Cepat!"
Mendengar suara kerasnya yang belum pernah
kudengar sebelumnya, aku pun berlari tanpa memahami apa yang terjadi.
Saat aku menoleh ke belakang, aku melihat sosoknya
yang berteriak lantang dan semakin menjauh dariku.
Saat itulah aku menyadari, dia mempertaruhkan
nyawanya untuk memancing perhatian monster-monster itu agar aku bisa kabur.
Monster ular mengerumuni sosoknya. Bagaikan sudah
ditargetkan, sebuah gedung runtuh tepat di atas kepalanya dan menciptakan
gemuruh hebat.
Aku meneriakkan namanya berulang kali dengan putus
asa.
"Mashiro! Kamu tidak apa-apa!? Syukurlah! Ayo
kita lari!"
Di saat seperti itu, bawahan ayahku yang juga
seorang Hunter mendekat, menghela napas lega, dan langsung menggendongku.
"Tunggu! Umi masih di sana!"
Aku terus meneriakkan namanya sampai suaraku
serak.
Aku dilindungi oleh Asosiasi Hunter. Namun, ayah,
ibu, dan dia dinyatakan hilang dalam neraka hari itu.
Kehilangan keluarga secara tiba-tiba membuatku
dititipkan di panti asuhan. Saat itu informasi sangat dibatasi sehingga aku
tidak tahu detail pastinya.
Meski begitu, amarah dan kebencianku terhadap
monster ular yang telah merenggut segalanya dariku terus membengkak setiap
harinya.
Di tengah situasi itu, setelah dua minggu tinggal
di panti asuhan, aku dipanggil ke dunia lain, Lemuria, oleh Saint Rosemary Loto
Amelia.
Yang dipanggil bukan hanya aku, melainkan ada juga
dua remaja laki-laki bernama Hijiri dan Satoru.
Hijiri kehilangan temannya dalam serangan monster
itu, sementara Satoru kehilangan orang tuanya dan terpaksa berpisah dengan adik
perempuannya.
Kami bertiga bersumpah untuk membasmi ras iblis
dan monster, demi membangun dunia di mana manusia bisa hidup damai. Kami terus
mengasah diri tanpa henti untuk tujuan itu.
Namun, pada akhirnya semua itu runtuh begitu saja
dengan kemunculan satu monster bernama Kai Heineman.
Dari semua hal yang bisa dilakukannya, dia malah
mendirikan Faesta, negara bagi monster dan ras iblis.
Dia juga membebaskan markas besar Gereja Pusat,
Embraid, yang sebelumnya dikuasai dewa jahat.
Hebatnya, dia bahkan berhasil mendapatkan dukungan
dari Gereja Pusat yang sebelumnya sangat membenci monster dan ras iblis.
Monster dan ras iblis... mereka adalah pihak yang
telah merenggut segalanya dariku. Aku sangat tahu betapa jahatnya eksistensi
mereka.
Karena krisis itulah aku bergerak, tapi Hijiri dan
Satoru malah mengabaikanku dan pergi meninggalkanku.
Dan pada akhirnya, aku berujung sendirian seperti
ini.
—Aku tidak mau sendirian—.
—Ayah, Ibu—.
"Umi!"
Sambil berteriak, aku terbangun secara tiba-tiba
dan mendapati diriku berada di gang yang remang-remang.
"Eh?"
Suara konyol keluar dari mulutku. Wajar saja.
Dinding beton, jalanan aspal, dan
botol plastik kosong yang berserakan. Semua ini jelas tidak ada di dunia Lemuria.
"Jangan-jangan, tempat ini!"
Dengan pikiran yang masih kacau, aku menggenggam
pedang suci yang jatuh di tanah dan berlari keluar gang.
Pemandangan yang menyambutku adalah kampung
halamanku yang telah hancur. Gedung-gedung setengah runtuh, aspal jalan raya
retak parah, serta bus dan mobil terguling di mana-mana.
"Apa maksudnya ini!? Apa yang sebenarnya
terjadi!?"
Aku mencoba bertanya pada diri sendiri, tapi tentu
saja tidak ada jawaban.
Sambil menyeka keringat yang terus bercucuran di
dahi, aku memeriksa keadaan sekitarku.
Dari kedalaman gedung di depanku, terdengar suara
raungan monster, gemuruh tanah, dan suara tembakan. Suara-suara itu semakin
mendekat ke arahku.
Akhirnya, sekelompok pria dan wanita yang
bersenjata api, pedang, dan zirah muncul dalam pandanganku.
Mereka
dikejar oleh dua monster raksasa setinggi tiga meter berwajah mirip lamprey
dengan leher yang panjang.
Dilihat dari persenjataan khas itu, mereka pasti
adalah Hunter dari dunia ini.
Orang-orang yang kutebak sebagai Hunter itu
menembakkan sihir dan senjata api ke arah monster lamprey tersebut. Sayangnya,
serangan mereka sama sekali tidak terlihat berdampak.
Kalau terus begini mereka akan musnah. Apa yang
harus kulakukan?
Di Lemuria, aku ingat menerima luka fatal dari
monster ular itu karena kecerobohanku. Tapi anehnya, sekarang tidak ada satu
pun luka di tubuhku, dan pedang suci andalanku pun ada di tanganku.
(Kalau begitu...!)
Tidak ada waktu untuk ragu.
Aku menggenggam erat pedang suciku, membidik
monster lamprey itu, dan menjejak tanah dengan kuat.
Monster-monster itu bergerak lambat. Dalam
sekejap, aku sudah masuk ke dalam jangkauan serangan monster lamprey tersebut.
"Holy Blade!"
Aku mengaktifkan skill Holy Blade
dan mengayunkan pedang suci yang dipenuhi elemen cahaya dengan kekuatan penuh.
Teknik ini adalah serangan tebasan berelemen suci
yang memiliki daya hancur luar biasa terhadap monster dan iblis.
Pedang suci itu menciptakan tebasan tak kasat mata
yang memenggal leher monster lamprey itu dengan sangat mudah.
Di tengah rintik darah merah pekat yang menghujani
tanah, aku kembali menjejak bumi dengan sekuat tenaga.
Aku langsung tiba di atas kepala
monster lamprey kedua. Memanfaatkan putaran tubuh, aku menancapkan pedang
suciku dalam-dalam ke ubun-ubunnya.
"Gyaaakhhhh!"
Dengan jeritan kematian yang
melengking, monster itu tumbang ke tanah dan menciptakan gemuruh hebat.
Aku menghampiri para Hunter yang
terduduk lemas di tanah dengan tubuh penuh luka.
"Kalian tidak apa-apa?"
Tanyaku memastikan keadaan mereka.
Kalau ini memang Bumi kampung halamanku, tidak
mungkin hanya ada monster kroco tak berakal seperti ini.
Pasti ada banyak monster ular
berwujud manusia yang benar-benar mengerikan berkeliaran, jadi kami harus
segera pergi ke tempat aman.
"Ya... terima kasih
banyak."
Saat seorang wanita berjubah putih
mengucapkan terima kasih, sebuah mobil jip tiba-tiba muncul dari balik gedung
dan mengerem mendadak di dekat kami.
Kemudian, seorang paman paruh baya
dengan cambang yang belum dicukur melompat turun dari jip tersebut.
"Paman Amagi!?"
Tanpa sadar aku meninggikan suaraku. Benar, aku sangat mengenal orang
ini.
Paman Amagi membelalakkan matanya dan menatapku
lekat-lekat.
"Jangan-jangan...
Mashiro!?"
Bagaikan tersengat listrik, dia
mencengkeram kedua bahuku dan berseru kaget.
Mantan Hunter peringkat A, Amagi
Tokisada. Dia adalah anggota klan yang sama dengan ayahku, Mikage Takeru,
sekaligus Hunter yang menyelamatkanku saat insiden penyerangan monster dulu.
Mobil jip yang kutumpangi melaju
melintasi jalan raya kota yang penuh puing-puing, hingga tiba di depan pintu
raksasa pada dinding putih kokoh di ujung jalan.
Saat kami mendekat, pintu itu terbuka perlahan,
membiarkan jip kami masuk.
"Tidak hancur? Tempat ini
adalah Tokyo..."
Pemandangan di dalam sana adalah
lanskap kota Tokyo yang dulu sering kulihat.
"Mereka tidak bisa masuk
melewati dinding putih ini. Ini
adalah zona aman umat manusia."
Paman memberitahuku sambil mengedipkan sebelah
mata saat menyetir.
Setelah itu, aku dibawa ke sebuah ruangan di dalam
gedung pencakar langit Cabang Jepang Asosiasi Hunter di Shinjuku.
Di sana, aku mendapatkan informasi yang selama ini
sangat kuinginkan dari paman.
Itu adalah... keadaan kampung halaman kami setelah
kami diteleportasi paksa ke dunia lain, Lemuria.
Tidak lama setelah aku meninggalkan Bumi, Asosiasi
Hunter Dunia mengumumkan bahwa Bumi sedang diinvasi oleh musuh alami umat
manusia, yakni monster vampir.
Awalnya, seluruh dunia bersatu dalam menghadapi
krisis kepunahan ini dan meluncurkan beberapa serangan untuk membasmi vampir,
namun semuanya berujung pada kekalahan. Kekuatan monster yang menyebut diri
mereka vampir itu sungguh di luar nalar.
Hunter peringkat S terkuat di
dunia beserta Hunter tingkat tinggi lainnya gugur satu per satu. Umat manusia pun menyadari bahwa
kemenangan melawan vampir saat ini mustahil dicapai.
Vampir adalah monster yang
menganggap manusia sebagai hewan ternak dan memangsa mereka.
Tidak ada cara untuk melawan
monster semacam itu, dan fakta ini sudah cukup untuk menghancurkan tatanan
serta keseimbangan dunia yang ada.
Dalam sekejap, keamanan runtuh.
Terorisme dan kerusuhan menjadi makanan sehari-hari di berbagai belahan dunia.
Di tengah kekacauan itu, keluarga
Akizuki dari Jepang, yang merupakan garis keturunan penyihir tradisional,
menggunakan kartu as terakhir mereka untuk menahan invasi para monster.
Kartu as itu adalah dinding
pelindung luar biasa kuat yang tak bisa diaktifkan oleh ilmu sihir manusia
modern.
Dengan membangun dinding ini di
bawah syarat-syarat tertentu, mereka mencegah masuknya monster-monster itu.
Berkat kekuatan pelindung inilah
umat manusia saat ini nyaris berhasil mencegah kepunahan akibat invasi vampir.
Pelindung dinding yang menjadi
garis hidup umat manusia itu berdiri di atas beberapa aturan ketat. Dengan memanfaatkannya sebaik mungkin,
manusia bisa menikmati kedamaian sementara ini.
"Mikage Mashiro, kami ingin kamu bergabung
dengan Asosiasi Hunter."
Seorang Hunter bertubuh raksasa dengan banyak luka
di sekujur tubuhnya, yang dibawa oleh Paman Amagi, meminta hal itu kepadaku.
Dari nada bicaranya yang tidak menerima penolakan,
aku yakin ini adalah sebuah paksaan.
Meski begitu, aku tidak pernah bermimpi akan
menjadi Hunter seperti ayahku. Tentu saja, saat masih kecil, aku dan dia pernah
berjanji untuk menjadi Hunter di masa depan.
Namun, pada akhirnya, semuanya telah direnggut
dariku.
Dulu, Hunter adalah simbol keadilan bagiku, jalan
mimpi yang kuikrarkan bersamanya.
Tapi sejak hari mimpi buruk itu, Hunter telah
jatuh menjadi eksistensi tak bisa diandalkan yang sama sekali gagal melindungi
kami dari serangan monster.
Itulah sebabnya, aku tidak pernah bergabung dengan
Guild Hunter di Lemuria, meski organisasi itu memiliki nama yang sama.
"Lima tahun lalu, pihak yang merenggut
segalanya dari kami adalah vampir, kan?"
"Benar. Merebut kembali wilayah kehidupan
manusia dari para vampir itu adalah tujuan kami."
"Aku akan membantu."
Dengan ini, aku bisa membasmi habis semua makhluk
yang telah menghancurkan kebahagiaan kami tanpa sisa.
Pria raksasa penuh luka itu sepertinya sudah
menduga jawabanku. Tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, dia berbalik.
"Terima kasih sudah menerima tawaran ini.
Kalau begitu, kamu akan segera mempelajari semua hal yang diperlukan sebagai
Hunter di SMA Kagetsu."
Setelah menyatakan hal itu secara sepihak, dia
memerintahkan bawahannya untuk mengantarku ke asrama siswa.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke SMA
Kagetsu.
Akhirnya, aku menemukan target yang tepat untuk
melampiaskan kebencian ini.
Aku tidak bodoh. Aku sangat mengerti apa yang
dikatakan Hijiri dan Satoru, bahwa melampiaskan kebencian pada ras iblis dan
monster di Lemuria adalah tindakan salah sasaran.
Meski begitu, fakta bahwa ras iblis dan monster
adalah makhluk yang sangat berbahaya bagi umat manusia tetap tidak berubah. Aku
sudah merasakannya secara langsung di kampung halamanku ini.
Itulah mengapa aku menjadikan pemusnahan ras iblis
dan monster sebagai takdirku, agar tidak ada lagi yang mengalami penderitaan
sepertiku.
Oleh karena itu, sampai detik ini pun, aku tidak
merasa tindakanku salah, dan aku sama sekali tidak menyesal.
Namun, bohong besar jika aku bilang aku sama
sekali tidak merasa bersalah karena telah melampiaskan kemarahan dan kebencian
pada target yang salah.
Justru karena itulah, aku merasa sangat gembira
ketika akhirnya bisa bertemu dengan musuh dari hari itu, musuh yang selama ini
tak pernah bisa kugapai betapa pun aku berusaha.
Dengan semangat membara, aku melangkah menuju
akademi yang ditunjuk. Namun, di area loker sepatu itulah aku berpapasan dengan
sosok yang tak pernah kuduga.
Dia adalah Kai Heineman, musuh umat manusia yang
telah mendirikan negara monster dan ras iblis di dunia Lemuria!
"Kai Heineman! Keparat! Kenapa kamu ada di
sini!?"
Aku membentaknya dengan amarah
yang meledak-ledak.
"T-Tunggu sebentar, ada apa ini
sebenarnya—"
Reaksi paniknya—yang sangat berbeda dari sosoknya
yang biasanya menjengkelkan dan dewasa—membuatku merasakan sedikit kejanggalan.
Namun, tepat saat aku hendak mencekik kerahnya lebih kuat...
"Lepaskan tanganmu dari Kain!"
Seorang pemuda berambut merah dengan potongan
two-block menahan pergelangan tangan kananku yang sedang mencengkeram kerah
jaketnya.
Kain? Bukan Kai? Tunggu, sebelum itu, kenapa pria
berambut merah ini mengenal Kai Heineman?
Dilihat dari situasinya, hanya aku dan Kai
Heineman yang terlempar dari dunia Lemuria ke dunia ini. Pria ini seharusnya
tidak ada hubungannya dengan Lemuria.
"Kamu kenal orang ini?"
Menanggapi pertanyaanku...
"Tentu saja, Kain adalah sahabatku dari
dulu!"
Pemuda berambut merah itu langsung
menjawab dengan nada tegas. Amarah dan permusuhan yang terpancar di matanya
sama sekali tidak terlihat seperti sebuah kebohongan.
"..."
Karena bingung harus bereaksi
seperti apa, aku mengalihkan pandanganku pada pemuda berambut abu-abu yang
dipanggil Kain itu.
"Namaku Tsukishiro Kanon.
Karena warna rambutku, aku sering disalahpahami, tapi aku orang Jepang
asli."
Dia memberikan balasan seperti itu kepadaku.
"Tsukishiro Kanon..."
Dari warna rambut hingga fisiknya, penampilannya
adalah Kai Heineman yang sempurna. Tapi baru saja, pemuda ini menyebut dirinya
orang Jepang bernama Tsukishiro Kanon.
Aku juga baru menyadari, dia tidak berbicara dalam
bahasa Lemuria, melainkan bahasa Jepang yang sangat fasih. Sangat mustahil
untuk menguasai pelafalan sesempurna itu hanya dalam beberapa hari.
Lagipula, permusuhan pemuda berambut merah itu
terhadapku adalah asli. Setidaknya, dia tidak terlihat sedang berakting.
Itu artinya, tidak diragukan lagi bahwa Tsukishiro
Kanon dan pemuda berambut merah ini adalah sahabat sungguhan.
Segala situasi ini menunjukkan bahwa pemuda yang
mengaku sebagai Tsukishiro Kanon ini adalah orang Bumi, dan bukan Kai Heineman.
Namun, aku tetap tidak bisa menepisnya begitu saja
sebagai sekadar kemiripan belaka. Karena itulah—
"Maaf. Aku salah orang..."
Dengan suara serak, aku hanya bisa mengatakan hal
itu dan langsung pergi dari sana seolah melarikan diri.
—Inilah pertemuanku yang menyedihkan dan terburuk
dengan Tsukishiro Kanon.
Kurasa pada saat itu, entah bagaimana aku sudah
mendapat firasat. Firasat bahwa jalan yang kutempuh selama ini, demi
mempertahankan eksistensiku dan menuntaskan keyakinan mutlakku, pada akhirnya
akan terbukti sebagai sebuah kesalahan fatal.
Justru karena itulah, sosok Kai Heineman terasa
sangat menakutkan dan kubenci.
◇◆◇
—Cabang Jepang Asosiasi Hunter Shinjuku.
Tempat ini adalah salah satu dari Delapan Cabang
Utama Asosiasi Hunter Dunia.
Ini merupakan garis depan perlawanan terhadap
vampir, tempat bernaungnya para Hunter kelas atas.
Belasan petinggi sedang duduk mengelilingi meja
bundar di sebuah ruangan di lantai teratas gedung pencakar langit.
"Kita kalah lagi... akhir-akhir ini kekalahan
kita terus beruntun."
Pria plontos bertubuh besar dengan banyak luka
membuang dokumen ke atas meja. Dia mengeluh sambil memijat sudut matanya dengan
jari kiri.
"Benar. Dengan kekalahan kali ini, secara
praktis hampir separuh Distrik Katsushika telah lepas dari kendali manusia.
Melihat kondisi saat ini, hampir dapat dipastikan wilayah itu akan menjadi
milik mereka."
Pemuda berkacamata yang memberikan laporan
membalas dengan ekspresi suram.
"Mereka pasti cuma mempermainkan kita!"
Salah satu petinggi mengerutkan wajahnya dengan
frustrasi dan menggebrak meja dengan tinju kanannya.
"Kemungkinan besar. Perbedaan kekuatan kita
dan mereka ibarat gajah dan semut."
"Jika situasi ini terus berlanjut, dalam
waktu 30 tahun ke depan, Bumi akan sepenuhnya menjadi wilayah kekuasaan
mereka."
Pria plontos besar itu berbicara dengan wajah
masam, seolah baru saja menelan pil pahit.
"..."
Ada yang menunduk, ada yang
menggertakkan gigi karena frustrasi. Ekspresi semua orang di ruangan itu
diwarnai oleh keputusasaan.
Di tengah suasana itu, pria
plontos besar menatap seorang pria paruh baya dengan rambut abu-abu panjang
yang diikat di belakang, dengan wajah penuh tekad.
"Tuan Atom, apakah tidak
mungkin menambahkan aturan baru dengan kekuatan Anda?"
Tanyanya dengan nada kaku.
"Mustahil. Kemampuanku tidak sepraktis itu.
Untuk mengubah aturan, aku harus mengatur ulang semuanya, tapi belum tentu
aturan yang baru akan lebih menguntungkan dari sekarang."
"Terlebih lagi, untuk
mengatur ulang aturan, pelindungnya sendiri harus dilepaskan terlebih dahulu. Jika pelindungnya dilepas sekarang, kalian
yang cerdas pasti tahu apa jadinya, kan?"
Pria paruh baya berambut abu-abu bernama Atom itu
menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan tenang.
"Begitu... ya..."
Pria plontos besar itu menundukkan bahunya lesu.
"Maaf aku tidak bisa membantu..."
Atom mengucapkan permintaan maaf dengan nada
menyesal.
"Tidak, kamilah yang minta maaf karena telah
menuntut hal yang tidak masuk akal. Tanpa Anda, umat manusia pasti sudah
menjadi hewan ternak mereka sejak lama."
Pria plontos besar itu meletakkan tangannya di
atas meja dan menunduk dalam-dalam.
"Hari ini kita bisa bertahan murni karena
jasa Anda."
"Tidak perlu berterima kasih. Pada akhirnya,
yang kulakukan hanyalah mengulur waktu. Ini bukanlah solusi akar masalah sama
sekali."
"Meskipun hanya mengulur waktu, berkat
andalah kami bisa menjalani kehidupan normal layaknya manusia."
Pria plontos besar itu berkata dengan penuh
penekanan.
"Itu pun tidak akan bertahan lama. Seandainya
saja Susanoo ada di tempat ini, kelelawar-kelelawar itu bukan ancaman yang
berarti..."
Atom menggumamkan hal itu dengan
wajah serius sambil melipat tangannya.
"Apakah sosok bernama Susanoo
itu adalah sang penyelamat yang sering Anda bicarakan?"
"Benar. Jika dia ada, dia
tidak akan pernah membiarkan anak-anak tak berdosa menangis tersiksa."
"Begitu dia kembali ke tempat
ini, hama kelelawar itu pasti bisa dimusnahkan."
Mendengar jawaban Atom, pemuda
berkacamata langsung mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Seberapa besar kemungkinan Tuan Susanoo
kembali!?"
"Entahlah. Lagipula, alasan kepergiannya saja
tidak diketahui. Dia bisa saja kembali besok, atau mungkin tidak kembali meski
puluhan tahun berlalu."
"Dan itulah letak kesalahan terbesarku kali
ini."
Atom perlahan menggelengkan kepalanya dari sisi ke
sisi.
"Ternyata... tidak bisa, ya..."
Pria plontos besar itu merosotkan bahunya dan
menghela napas panjang.
"Kalian tidak perlu seputus asa itu. Harapan
masih ada."
Atom mendeklarasikannya dengan nada tegas.
"Masih ada harapan?"
"Ya. Walau bukan Susanoo sendiri, sisa-sisa
energi sihirnya bisa terpantau di dunia ini. Artinya, ada pihak yang berhubungan dengan
Susanoo yang datang ke dunia ini."
"Meski hanya bawahannya,
mereka sudah lebih dari cukup untuk menghadapi kelelawar-kelelawar itu."
Pernyataan Atom tersebut disambut
sorakan gembira dari para petinggi yang hadir dalam rapat.
"Apakah Anda mengetahui
lokasi orang yang memiliki hubungan dengan Tuan Susanoo itu?"
"Kemampuan deteksiku tidak terlalu kuat. Jika
aku bisa memantaunya dengan sejelas ini, itu berarti dia tidak jauh dari
sini."
"Tanpa diragukan lagi, dia pasti ada di
negara ini. Lacak semua orang yang datang ke negara ini dalam beberapa hari
terakhir secara menyeluruh. Kalian pasti akan menemukannya."
"Jika kami menemukannya, apa yang harus kami
lakukan?"
"Untuk saat ini, awasi saja."
"Kenapa begitu?"
"Hanya karena ada jejak sisa sihir Susanoo,
bukan berarti orang itu adalah sekutu. Ada kemungkinan besar mereka justru
pernah bermusuhan."
"Menambah musuh dalam situasi seperti ini
bukanlah langkah yang bijak."
"Jadi maksud Anda, kami harus mendekatinya
dan mengawasinya?"
"Ya. Setelah kalian membangun hubungan saling
percaya, kalian bisa menanyakannya secara perlahan. Kita masih punya cukup
waktu untuk itu."
"Dimengerti. Kami akan melaksanakannya sesuai
instruksi."
Pria plontos besar itu memberi isyarat dagu kepada
pemuda berkacamata.
Pemuda berkacamata itu mengangguk tegas dalam
diam, memberi hormat, lalu meninggalkan ruangan.
"Pertarungan sesungguhnya baru dimulai. Entah
baik atau buruk, semuanya akan segera mencapai titik akhir."
Pria plontos besar menatap Atom
sejenak.
"Tuan Atom, mengapa Anda mau
sejauh ini berjuang untuk kami umat manusia?"
Tanyanya dengan ekspresi serius.
Atom menatap ke kejauhan dengan
pandangan menerawang.
"Mungkin... ini adalah bentuk
penebusan dosaku pada seorang pemuda di masa lalu, yang telah kuseret dalam
kekacauan dan kuhancurkan perasaannya..."
Dia menjawab dengan tenang dan penuh
penghayatan.
◇◆◇
—Adachi-ku, Tokyo, Bumi — Vlad
Palace.
Wilayah ini dikuasai oleh Vlad, yang
dianggap sebagai raja terkuat di antara para vampir yang muncul di Bumi.
Vlad Palace, istana sang raja, terletak di pusat
Adachi-ku.
Di sekelilingnya, membentang secara konsentris
distrik bangsawan untuk tempat tinggal para petinggi, distrik rakyat jelata
untuk kaum vampir biasa, distrik budak untuk bawahan non-vampir, dan fasilitas
penampungan manusia yang menjadi persediaan makanan.
Karpet merah membentang membelah bagian tengah
ruangan luas di dalam bangunan yang menyerupai istana abad pertengahan
tersebut, berujung langsung ke singgasana di bagian terdalam.
Di sisi kiri dan kanan karpet, para bangsawan
vampir yang mengenakan pakaian merah mewah berdiri tegak dan teratur. Di atas singgasana itu, Vlad, sang
Raja Merah, duduk bersandar dengan angkuh.
"Berkat para budak yang melancarkan invasi,
manusia-manusia itu akhirnya menyerahkan tanah mereka, YO! Dengan ini, separuh
dari Distrik Katsushika telah jatuh ke tangan kita, YO!"
Seorang pemuda vampir berambut pirang dengan tato
semanggi di punggung tangan kanannya melaporkan hal itu dengan penuh semangat.
Dia mengenakan jaket kulit hitam, kacamata hitam
mencolok, dan headphone, membuatnya terlihat seperti seorang DJ di klub.
"Pelindung yang menghalangi kita ras darah
murni untuk masuk benar-benar merepotkan. Karena itulah, kita butuh waktu lama
hanya untuk menaklukkan para hewan ternak itu."
Seorang pria vampir dengan kantung mata hitam
menggerutu seolah meludah. Di pipinya terdapat tato bergambar sekop dan pedang.
"Pelindung itu diciptakan oleh Atom. Dia
salah satu dari monster generasi lama, kan..."
"Entah benar atau tidak, kabarnya dia juga
berteman baik dengan mendiang Raja Iblis, Beelzebub, dan Thor, kan?"
Vampir berambut pendek dengan tato wajik dan koin
di dahinya—yang mengenakan pakaian mewah berlebihan layaknya bangsawan agung
abad pertengahan dalam buku cerita anak—melontarkan pertanyaan itu dengan nada
jemu.
Kecemasan yang luar biasa seketika menyebar di
wajah para vampir yang memiliki harga diri tinggi tersebut.
"Tidak boleh, tidak boleh. Kita adalah ras
vampir, ras yang terkuat."
"Aku tidak butuh bawahan pengecut yang
gemetar ketakutan pada legenda yang belum pernah mereka temui. Kalian paham,
kan?"
Vlad tersenyum memperingatkan, menolehkan
kepalanya untuk menatap sekeliling pada bawahan-bawahannya.
"""""Siap!"""""
Semua vampir di sana seketika menegang,
membenarkan postur mereka, dan berseru lantang.
"Lagi pula, tidak ada yang perlu
dikhawatirkan. Yang merepotkan dari Atom hanyalah kemampuannya, sementara
kekuatan tempurnya sendiri tidak seberapa."
"Lagipula, karena suatu sumpah perjanjian,
dia tidak bisa menggunakan kekuatannya secara langsung di dunia ini. Hal
terbaik yang bisa dilakukannya hanyalah menetapkan aturan mengganggu semacam
itu."
Vlad menyesap cairan merah pekat di dalam gelas
yang dipegang tangan kanannya, lalu menggoyangkan gelasnya perlahan sambil
memberikan tanggapannya.
"Sedikit lagi... seluruh wilayah ini akan
jatuh ke tangan kita!"
Vampir berambut pendek dengan pakaian bangsawan
agung mengepalkan tangan kanannya dengan kuat dan berseru gembira.
"Namun, Rajaku, bagaimana dengan
Susanoo?"
Begitu mendengar nama Susanoo, senyum yang sejak
tadi tak pernah lepas dari wajah Vlad seketika berubah menjadi raut kebencian
yang mendalam.
"Ya, tepat di situ masalahnya! Penghalang
sejati kita hanyalah Susanoo seorang! Dia benar-benar di level yang berbeda dalam
segala hal."
"Jika dia kembali ke dunia ini, aku sekalipun
tidak akan bisa mengalahkannya. Itulah sebabnya, kita butuh kartu truf. Hei,
Spade, sudah ada kemajuan mengenai urusan itu, kan?"
"Siap. Bawahan saya yang ahli dalam pelacakan
telah mendeteksi sebuah fakta penting. Nero, kuizinkan kau menampakkan
diri!"
Vampir dengan kantung mata hitam yang dipanggil
Spade berseru lantang.
"Siap!"
Detik berikutnya, diiringi suaranya, seorang
pemuda berambut hitam asimetris muncul. Dia berlutut dan menundukkan kepalanya
di hadapan Vlad.
"Rajaku, ini adalah Nero, iblis yang telah
menjadi bawahan saya sejak lama. Nero pernah bertemu dengan dia lima tahun
lalu, sehingga dia bisa mengidentifikasinya."
"Nero akan menjelaskan detailnya kepada
Anda!"
"Aroma jiwa orang itu muncul di wilayah ini
sejak tiga hari yang lalu. Itu artinya—"
"Lokasi Behemoth itu akhirnya ketahuan,
ya!"
Vlad memotong ucapan Nero dengan suara emosional,
sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya kegirangan.
Mata Vlad berubah menjadi merah darah, sementara
sudut bibirnya robek dan tertarik ke atas hingga mencapai telinga. Saat semua
orang menahan napas melihat wujudnya yang sama sekali tidak mencerminkan sikap
tenang seorang raja...
"Lalu, di mana Leluhur Sejati kita itu berada
sekarang?"
Seorang wanita berbaju putih dengan tato hati dan
burung di lengan kanannya bertanya pada Nero dengan suara teredam dari balik
maskernya.
"Saya belum bisa melacak lokasi pastinya,
tapi jiwa orang itu benar-benar berada dalam wilayah kekuasaan manusia."
Nero menjawab dengan penuh penekanan.
"Akhirnya kutemukan! Sesuai dugaanku, dia
bersembunyi di antara manusia! Selama wanita itu ada di pihak kita, aku sudah
yakin dia pasti ada di dunia ini!"
Vlad mencondongkan tubuhnya ke depan dan berseru
penuh sukacita.
"Namun, lima tahun lalu sosoknya terlihat
benar-benar seperti manusia biasa, ZEI! Apakah dia benar-benar Behemoth yang
legendaris itu, YO?"
Pria vampir berambut pirang dengan penampilan DJ
melontarkan pertanyaan yang mengganjal di benak semua orang kepada Vlad.
"Ya, dia memang cukup melemah. Namun, dia
tetaplah Behemoth. Dia adalah nenek moyang kita para vampir, sang Vampir
Pertama!"
"Ini bukan soal logika, darah di dalam
tubuhkulah yang memahaminya!"
Mendengar penegasan Vlad...
"Tapi... jika dia benar-benar Behemoth,
bukankah ini terlalu berbahaya!?"
Pemuda petinggi itu bertanya pada Vlad dengan ragu
dan raut wajah penuh kecemasan.
"Berbahaya!? Biarpun sedang melemah, dia
tetaplah Behemoth! Tentu saja risiko itu sudah pasti ada!"
"Justru karena itulah, ini sangat sepadan
dengan risikonya! Lagipula, kita punya kartu truf!"
"Kalau kita memanfaatkan wanita itu dengan
baik, dia akan jadi boneka kita! Setelah itu, aku akan merebut tubuh monster
terkuat dari generasi lama itu! Jika itu berhasil—!"
Vlad berteriak lantang dengan
sangat antusias, hingga semburan api kecil keluar dari mulutnya.
"Tuan Vlad akan menjadi
eksistensi terkuat di dunia ini!"
Spade mengepalkan tangan kanannya
dengan erat, suaranya bergetar.
"Tepat sekali! Kalau aku
mendapatkan kekuatan Behemoth, Susanoo, atau bahkan para dewa dan tentara iblis
tidak akan bisa melawanku!"
"Benar! Aku akan menguasai seluruh dunia
ini!"
Vlad merentangkan kedua tangannya
ke arah langit-langit dan mendeklarasikan hal tersebut dengan penuh ekstase.
"Selamat, Rajaku!"
Vampir berambut pendek dengan tato
wajik dan koin menyatukan tangannya, dan para vampir lainnya pun mengikutinya.
"Bawa Behemoth ke hadapanku!
Apapun caranya!"
Mata Vlad bersinar penuh ancaman.
Aura merah pekat yang sangat jahat menguar dari tubuhnya dan bergerak menuju
Spade, perlahan mulai menyelimuti pria itu.
"Sesuai kehendak Anda!"
Spade langsung berlutut refleks
dan menggosokkan dahinya ke lantai. Dalam situasi ini, sekecil apa pun bentuk
penolakan, bisa dipastikan nyawanya akan langsung melayang tak peduli siapa pun
dia.
"Dengan begini—akulah makhluk
terkuat di dunia ini!"
Vlad merentangkan kedua tangannya
dan meledak dalam kegembiraan.
◇◆◇
—Atap sebuah gedung terbengkalai
di Distrik Katsushika, Jepang, Bumi.
Di atap gedung yang terbengkalai
itu, dewa jahat berwujud gajah Girimehkala, Raja Lalat Beelzebub, dewi Nemesis,
serta Astaroth yang mengaku sebagai ajudan Kai, sedang mengamati proyeksi
visual singgasana Vlad Palace yang melayang di udara.
"Konyol! Sungguh konyol!
Mereka bahkan tidak sadar bahwa para kelelawar itu tidak lebih dari sekadar
pengganggu dalam ujian kali ini, tapi mereka malah menari-nari dengan
memalukan!"
Tatapan Girimehkala terhadap para
vampir itu tidak lebih berharga dari sekadar sampah.
Alasan dari hal ini jelas terikat kuat pada
keyakinan mutlak yang membangun sosok pria sejati bernama Girimehkala saat ini.
Namun, sangat kontras dengan
Girimehkala yang begitu percaya diri...
"Beelze, rival menjijikkan
yang kau maksud itu adalah Behemoth, kan?"
Asta memastikan kepada Beelzebub
dengan ekspresi tegang.
"Benal cekali."
Beelzebub mengiyakan dengan nada
ceria dan suara yang riang.
Berbeda dengan Girimehkala dan
Beelzebub yang sama sekali tidak gentar, sebaliknya, pusaran emosi yang kuat
dan kompleks bergolak di kedalaman mata Asta.
Dia pasti memahami skala dan bahaya dari ujian
kali ini dengan sangat baik. Itu hal yang wajar.
Hampir tidak ada dewa ternama yang tidak mengenal
nama Behemoth.
Bersama Beelzebub, dia adalah salah satu monster
legendaris yang membuat para petarung terkuat dari generasi lama gemetar
ketakutan, sekaligus menjadi salah satu wujud bencana di dunia ini.
Jika Beelzebub biasanya bergerak dalam kawanan,
Behemoth selalu bertindak sendirian atau hanya membawa beberapa bawahan saja.
Dia menghancurkan musuhnya hanya dengan satu
tinju. Oleh karena itu, dia dijuluki sebagai Dewa Super Behemoth.
"Sebagai syarat mutlak, jika Behemoth
benar-benar bangkit, ingatan Master akan kembali, kan?"
Asta bertanya dengan nada bicara yang tidak
selembut biasanya kepada Girimehkala, yang bertindak sebagai penyelenggara
rencana ini.
"Tentu saja, memang begitu
rencananya. Benar kan, Nemesis?"
"Iya."
Kilatan kesedihan sekilas melintas di mata Nemesis
yang mengangguk pelan. Alis kanan Asta yang indah langsung berkedut melihatnya.
"Nemesis, aku tanya sekali lagi. Ingatan Master pasti akan kembali
dalam situasi yang paling optimal, kan?"
Asta menuntut jawaban dari Nemesis
dengan nada tajam yang tidak biasa ia tunjukkan.
"Aku berjanji padamu."
Nemesis mempertahankan senyum
tipisnya dan menjawab dengan penuh keyakinan. Asta menatap wajah Nemesis dengan
saksama.
"...Baiklah. Aku percaya
padamu."
Ketegangan dan kewaspadaan kuat dari Asta pun
akhirnya mereda.
Girimehkala dan Beelzebub mencoba membaca niat
dari tuan mereka, Kai Heineman, dan berusaha mengeksekusinya dengan setia.
Di sisi lain, Nemesis dan Aliansi Dewi bertindak
liar demi mewujudkan perasaan terpendam dari para wanita di sekitar Kai
Heineman terhadap tuan mereka.
Meskipun ketiganya bertindak demi kepentingan tuan
mereka, Kai Heineman, hasil akhirnya belum tentu menguntungkan pria tersebut.
Ketiga pihak tersebut memiliki bahaya
masing-masing; jika itu demi tuan mereka, Kai Heineman, mereka akan mengikuti
keyakinan masing-masing dan menjalankannya, meskipun rencana itu merusak dan
berbahaya.
Karena itulah, deklarasi tentang kembalinya
ingatan Kai Heineman dari kelompok Girimehkala adalah prasyarat mutlak bagi
Asta agar dia bisa fokus pada ujian ini.
"Omong-omong, bagaimana kabar
Asura?"
"Dia sudah masuk ke sekolah yang sama dengan
Tuan kita."
Girimehkala membalas dengan senyuman yang
menyeramkan.
"Sepertinya ini berjalan terlalu lancar
sampai terasa menjijikkan."
"Tentu saja! Awal yang sempurna tanpa celah
sedikit pun! Seperti yang diharapkan dari Dewa kita yang agung!"
Girimehkala menatap langit dan mengaum kegirangan
hingga menggetarkan udara.
"Jika nyawa Master benar-benar berada dalam
bahaya, aku akan langsung ikut campur, mengerti?"
"Lakukan saja sesukamu! Itu juga pasti bagian
dari kehendak Dewa kita!"
Tanpa memedulikan peringatan Asta sama sekali,
Girimehkala berteriak.
"Kalau begitu, Aliansi Dewi juga akan mulai
bergerak secara terpisah dari sekarang."
Setelah mendeklarasikan hal itu,
Nemesis pun menghilang dari pandangan.
Detik berikutnya, Asta dan
Beelzebub juga memudar bagaikan asap dan menghilang dari tempat itu.
"Nah, mari kita mulai! Festival besar yang
diselenggarakan oleh Dewa kita!"
Girimehkala mengumumkannya pada dunia, layaknya
seorang penyair jalanan.
Illustrasi | ToC | Chapter 1



Post a Comment