NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 10 Prolog

Prolog


"Hmm, bagaimana aku harus memahami hal ini..."

Melihat pemandangan aneh yang belum pernah kulihat membentang di depan mata, aku tanpa sadar bergumam dan bertanya pada diriku sendiri.

Di hadapanku, kereta-kereta kuda dari logam saling berpacu dengan kecepatan tinggi di atas jalan berwarna abu-abu.

Bangunan-bangunan yang tak pernah kulihat sebelumnya berjejer rapi, dan di kejauhan menjulang gedung-gedung pencakar langit berbentuk balok logam yang tak terhitung jumlahnya.

"Apakah itu yang namanya mobil seperti yang ada di dalam buku? Kalau begitu, bangunan tinggi di belakang sana itu gedung?"

Objek dengan struktur serupa pernah muncul di buku tentang arsitektur yang kudapatkan di Easy Dungeon. Yah, meskipun ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung.

Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa berada di tempat yang aneh ini? Ingatanku terasa agak kacau.

Lebih tepatnya, semua ini terasa buram. Mari coba kuingat-ingat kembali sedikit.

"Seingatku... aku..."

Karena insiden Gereja Pusat telah mereda, aku mengunjungi Guild Hunter untuk membahas urusan pasca-insiden, saat itulah kami menerima laporan tentang kemunculan Undead dalam jumlah besar dari 【Kota Mati Bunga】.

Aku diminta oleh ketua guild, Ralph Excel, untuk membasmi mereka, lalu aku pun berangkat ke sana.

Di dalam gua terdalam Area 5, seorang gadis yang sepertinya adalah Pahlawan Mashiro sedang diikat oleh ekor monster ular berwujud manusia.

Aku berhasil menyelamatkan Pahlawan Mashiro dari monster ular itu, tetapi saat Mashiro mengenaliku, dia tiba-tiba meronta di pelukanku lalu jatuh pingsan.

Setelah itu, ketika aku menundukkan para ular dan hendak menginterogasi bos mereka yang berwujud manusia ular, sebuah lingkaran sihir muncul di tanah di belakangnya dan menyedot kami.

Sesaat kemudian, tubuh kami ikut melayang dan diselimuti cahaya, dan ketika aku sadar, aku sudah berada di tempat ini.

"Kemungkinan besar itu adalah lingkaran sihir teleportasi. Kalau begitu, apakah aku baru saja dipindahkan secara paksa ke dunia yang tidak kuketahui?"

Bodo amatlah, tapi ada terlalu banyak hal tidak wajar yang terjadi! Kurasa Area 5 di 【Kota Mati Bunga】 sebaiknya disegel permanen saja.

Aku akan benar-benar mengusulkan hal ini kepada Chloe dan Ralph nanti.

Namun, terlepas dari itu—

Sakit kepala apa ini, rasanya sejak tadi pelipisku seperti dipukul dengan palu raksasa? Ini adalah pengalaman pertamaku sejak keluar dari Easy Dungeon itu.

Lagipula, sejak tadi kesadaranku perlahan-lahan mulai tertutup kabut.

Tidak mungkin ini akibat campur tangan dari luar. Sejak awal, Status Ailment sama sekali tidak mempan padaku.

Jadi, ini mungkin bukan karena aku terlempar ke dunia ini, melainkan fenomena bawaan yang sudah tertanam di dalam tubuh ini sejak awal.

Tiba-tiba, pemandangan Beelze dan Girimehkala yang sedang berlutut di hadapanku terlintas di benakku.

"Baiklah! Itu terdengar menarik! Saat semua persyaratan yang kalian sebutkan terpenuhi, aku akan membiarkan Satori memanipulasi ingatanku. Namun, aku sendiri yang akan menentukan apa saja ingatan yang boleh diubah!"

Apa-apaan ini? Aku tidak ingat pernah melakukan percakapan seperti itu dengan Beelze atau Girimehkala.

"Ukh!"

Pada akhirnya aku tak sanggup lagi menahannya, jadi aku duduk di bangku panjang di dekatku, merentangkan kedua tangan di sandaran, dan menatap langit biru yang cerah.

Aku merasa sedikit mengantuk. Jangankan sakit kepala yang sehebat ini, aku bahkan sudah lama tidak merasakan rasa sakit sama sekali.

Anehnya, rasa sakit ini membuatku merasa begitu rindu dan nyaman.

"Biarlah terjadi apa yang akan terjadi."

Di tengah kesadaran yang perlahan diselimuti kabut, aku memejamkan mata dengan perasaan antisipasi yang aneh dan kegembiraan yang meluap-luap. Ini adalah firasat akan sebuah pertarungan mendebarkan yang telah lama hilang dari hidupku.

"Aku berharap... semoga ada pertarungan putus asa tanpa jalan keselamatan bagiku..."

Sambil menggumamkan harapan berbahaya itu dengan samar, kesadaranku perlahan memudar menjadi putih sepenuhnya.

◇◆◇

Aku terbangun di atas ranjang rumah sakit, tiga hari setelah hari aku diselamatkan.

Sepertinya aku diamankan setelah tertidur di bangku taman di bawah teriknya matahari pertengahan musim panas.

Seorang perawat mengatakan dengan nada setengah tak percaya bahwa sungguh ajaib aku tidak terkena sengatan panas yang parah.

Alasan aku berada di taman adalah untuk berlatih mumpung ada waktu luang, tapi aku mendadak diserang rasa kantuk yang luar biasa dan jatuh tertidur di bangku layaknya orang pingsan.

Dokter bilang itu adalah semacam mabuk sihir, kemungkinan karena aku terpapar Mana dalam jumlah besar saat pelajaran, padahal hal seperti itu belum pernah terjadi padaku sebelumnya...

Yah, bagaimanapun juga, syukurlah tidak terjadi hal buruk padaku. Membayangkan apa yang akan terjadi jika aku terus tertidur di bangku itu membuatku merinding.

Saat ini, aku baru saja kembali ke kamarku di asrama siswa.

"Aneh sekali..."

Padahal aku tinggal di kamar ini setiap hari, entah kenapa tempat ini terasa begitu asing seolah aku baru pertama kali menginjakkan kaki di sini. Akhir-akhir ini aku memang sibuk, jadi mungkin ini semacam dejavu akibat kelelahan. Kalau begitu—

"Lebih baik aku menyiapkan materi pelajaran untuk besok sebelum tidur."

Dengan pemikiran itu aku mencoba untuk belajar, tetapi entah mengapa, hampir semua isi buku pelajaran untuk mata pelajaran umum sudah kuketahui. Sejak kapan aku jadi sepintar ini dalam mata pelajaran umum?

Sebaliknya, untuk pengetahuan yang berhubungan dengan sihir, lebih dari enam puluh persen pemahamanku ternyata salah. Yah, sejak awal aku memang masuk Jurusan Dukungan karena tidak bisa menggunakan sihir, jadi mungkin itu bukan hal yang mengejutkan.

Meski begitu, seingatku aku tidak seburuk ini dalam hal sihir.

"Aku sudah selesai belajar..."

Rasanya benar-benar tidak menantang, tapi karena tugas hari ini kebanyakan memang mata pelajaran umum, mau bagaimana lagi...

"Aku mengantuk sekali..."

Rasa kantuk yang luar biasa ini membuatku tak punya tenaga lagi untuk melawannya. Aku pasti sangat kelelahan.

Begitu aku merebahkan diri di tempat tidur, kesadaranku langsung hilang seketika.

Aku menutupi cahaya yang masuk dari celah tirai dengan tangan kananku, lalu bangun dan melihat waktu yang menunjukkan pukul lima pagi. Sepertinya aku tertidur sangat pulas sejak tadi malam.

Aku pergi ke taman terdekat untuk melakukan latihan pagi yang sudah menjadi rutinitas harianku.

Setelah melakukan pemanasan ringan, aku mulai berlatih.

"Hebat, ya."

Tepat saat aku sedang melatih teknik bela diri, seorang gadis berambut merah yang diikat separuh dan mengenakan gaun terusan biru muda tiba-tiba menyapaku.

Aku memang sudah menyadari sejak tadi kalau dia memperhatikanku.

Namun, karena dia tidak memancarkan niat bermusuhan, aku membiarkannya saja.

"Terima kasih."

Aku menjawabnya dengan dingin lalu melanjutkan latihanku. Aku masih punya waktu tiga puluh menit lagi, dan karena waktu sangat terbatas, aku tidak ingin menyia-nyiakannya.

Setelah itu, gadis tersebut tidak mengucapkan sepatah kata pun dan hanya mengamati latihanku dalam diam.

Setelah mandi dan berganti pakaian, aku menyantap sarapan ringan lalu berangkat ke sekolah.

Saat aku keluar dari asrama, terlihat kerumunan orang yang berjalan menuju satu arah yang sama. Sambil membaur dengan lautan manusia, aku menapaki tanjakan panjang hingga sebuah bangunan raksasa perlahan mulai terlihat.

Itu adalah SMA Kazatsuki, sekolah tempat kami menimba ilmu.

Tentu saja mayoritas kerumunan ini adalah para siswa yang mengenakan pakaian bersulam lambang sekolah "Kazatsuki", namun di antara mereka juga terdapat orang-orang dewasa yang memakai seragam unik berwarna hitam dan putih.

Benar. Inilah perbedaan terbesar antara sekolah biasa dan SMA Kazatsuki. Tempat ini adalah lembaga pelatihan hunter yang bergengsi.

Hunter—Sekitar setengah abad yang lalu, sebuah dungeon mendadak muncul di tengah kota New York, disusul oleh kemunculan dungeon-dungeon lain yang tak terhitung jumlahnya di seluruh negara, membuat monster-monster mulai bermunculan di berbagai tempat.

Seolah merespons fenomena tersebut, orang-orang dengan bakat kekuatan gaib dan sihir yang selama ini dianggap hanya fiksi belaka mulai lahir di berbagai belahan dunia.

Tentu saja, pada saat itu dunia sempat mengalami kekacauan besar. Diskriminasi dan konflik bersenjata pun pecah di mana-mana.

Namun, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kekuatan super seperti sihir dan Skill sebenarnya adalah kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Seakan membuktikan hal tersebut, orang-orang yang mewarisi ilmu sihir dan Skill secara turun-temurun pun mulai menampakkan diri.

Ada banyak alasan mengapa mereka mengungkapkan identitas mereka ke publik, tapi kemungkinan besar alasan utamanya adalah agar mereka bisa memonopoli keuntungan dari dungeon.

Berbagai niat saling bersilangan, dan pada akhirnya dunia pun perlahan mulai menerima konsep kekuatan super seperti sihir dan Skill. Hasil dari penerimaan tersebut adalah terciptanya profesi pemburu monster yang disebut sebagai hunter.

Sekolah ini adalah tempat belajar bagi para calon hunter, dan sejarah berdirinya bisa ditarik kembali hingga sekitar empat puluh tahun yang lalu.

Kemudian, lima tahun yang lalu, monster jenis baru yang berbeda dari sebelumnya muncul di dunia. Mereka adalah vampir.

Senjata modern sama sekali tidak mempan terhadap mereka, dan para hunter yang menjadi tumpuan harapan manusia bahkan tidak mampu menggores kulit mereka sedikit pun.

Umat manusia dihadapkan pada ancaman kepunahan akibat ulah para vampir, namun di saat itulah sebuah keajaiban terjadi.

Tiba-tiba, sebuah dinding menjulang tinggi memisahkan antara manusia dan vampir.

Pada dasarnya para vampir tidak bisa melewati dinding yang melindungi umat manusia tersebut, dan dinding itu hanya akan runtuh jika syarat tertentu terpenuhi.

Berkat dinding inilah umat manusia masih bisa bertahan dan menjalani kehidupan mereka seperti biasa.

Singkatnya, sekolah ini adalah tempat untuk mendidik para hunter yang menjadi harapan umat manusia. Oleh karena itu, hanya orang-orang berstatus elit super yang bisa masuk ke sini.

Aku sendiri tidak punya sihir atau Skill tempur yang berguna, sehingga dari sudut pandang ini aku sama sekali tidak bisa diandalkan dalam pertarungan melawan para monster.

Namun, karena Skill yang kumiliki berhubungan dengan transportasi, aku pun bisa bersekolah di sini sebagai personel unit logistik.

Saat aku melewati gerbang sekolah, memasuki area masuk, dan mengganti sepatuku dengan sepatu dalam ruangan di loker sepatu—

"Kai Heinemann! Keparat! Kenapa kau ada di sini!?"

Mendengar bentakan marah seorang perempuan dari arah belakangku, aku sontak menoleh ke belakang bahuku.

Di sana, seorang gadis berambut hitam berkilau menatapku tajam dengan mata yang dipenuhi niat bermusuhan.

"Eh? Hah?"

Tentu saja aku tidak bisa memikirkan satu alasan pun kenapa seorang siswi yang baru pertama kali kutemui tiba-tiba memakiku.

Lagipula, dia pasti salah mengira aku sebagai orang lain yang bernama Kai Heinemann.

"Jawab pertanyaanku!"

Menanggapi gadis berambut hitam yang tiba-tiba mencengkeram kerah bajuku dan berteriak dengan ekspresi mengerikan itu—

"T-Tunggu sebentar, aku tidak mengerti apa maksudmu—"




Saat aku membuka mulut untuk meluruskan kesalahpahaman...

"Lepaskan tanganmu dari Kain!"

Seorang pemuda berambut merah dengan potongan two-block dan tatapan tajam membentak. Dia mencengkeram pergelangan tangan kanan gadis berambut hitam itu. Orang ini... uhm.

"..."

Benar juga, dia Akutsu Arata. Sahabat berandalanku sejak SMP.

Sepertinya aku mirip dengan mendiang adiknya yang tewas dalam serangan vampir lima tahun lalu. Karena itulah, dia selalu bertingkah layaknya kakak yang overprotektif kepadaku.

Kemunculan Arata yang tiba-tiba membuat gadis berambut hitam itu membelalakkan matanya.

Dia menatap Arata dan aku secara bergantian, lalu melepaskan cengkeramannya dari kerah bajuku.

"Kamu kenal laki-laki ini?"

Tanyanya kepada Arata dengan suara bergetar.

"Tentu saja, Kain adalah sahabatku dari dulu!"

Mendengar jawaban Arata yang tanpa ragu, aku pun ikut menimpali.

"Namaku Tsukishiro Kanon. Karena warna rambutku, aku sering disalahpahami, tapi aku orang Jepang asli."

"Tsukishiro Kanon..."

Gumamnya pelan. Sambil terus menatapku lekat-lekat, dia menutup mulutnya sendiri dengan tangan.

"Maaf. Aku salah orang..."

Gadis berambut hitam itu melangkah gontai dan berjalan terhuyung-huyung memasuki gedung sekolah.

"Terima kasih. Kamu sangat membantu, Arata."

Aku mengucapkan rasa terima kasihku kepada sahabat penolongku itu.

"Bukan masalah."

Arata menyeringai bangga, memamerkan gigi putihnya sambil mengacungkan jempol kepadaku.

"Gadis itu... murid kelas Khusus yang sama denganmu, kan, Arata?"

"Yah, mungkin saja dia anak baru yang masuk hari ini. Pantas saja dari kemarin orang-orang pada heboh."

Sudah kuduga. Lagipula, ada lambang kelas Khusus di seragamnya.

Kelas di akademi ini terbagi menjadi kelas Khusus, Komando Strategis, Taktik Tempur, dan Dukungan Tempur. Kecuali kelas Dukungan Tempur, semuanya adalah kadet calon petinggi Asosiasi Hunter.

Di antara mereka, kelas Khusus adalah kelas super elite yang membina senjata hidup untuk melawan vampir.

Arata adalah anggota kelas tersebut, dan di masa depan, dia akan menjadi pusat kekuatan dalam membasmi vampir di negara ini.

"Kalau begitu, Arata, ayo kita makan di luar saat hari libur nanti!"

"Pasti!"

Aku melambaikan tangan kananku pada Arata, lalu mulai berjalan menuju ruang kelas Dukungan Tempur.

◇◆◇

Aku, Mikage Mashiro, memiliki seorang adik laki-laki angkat. Dia itu lemah dan cengeng, tapi sangat baik hati.

Namun, di saat krisis, dia mampu menunjukkan kemampuan bertindak dan pengambilan keputusan yang luar biasa.

Setiap hari, kami belajar ilmu pedang dan bela diri bersama dari ayahku yang seorang Hunter. Kami tidur berdampingan, dan makan masakan ibu bersama.

Kehidupan itu terasa biasa dan membosankan, tapi kurasa saat-saat itulah masa yang paling menyenangkan dan bahagia dalam hidupku.

Kehidupan yang damai itu hancur berkeping-keping dengan cara terburuk pada hari penentuan tersebut.

Hari itu adalah hari ulang tahunku. Ayah, ibu, dan dia pergi ke restoran di depan stasiun bersama-sama.

Di sana, dia memberiku jepit rambut buatan tangannya yang berbentuk kelinci. Aku sangat senang, saking senangnya aku rasanya ingin melompat. Namun—

"Bentuknya jelek. Tapi, karena kamu sudah repot-repot, akan kupakai."

Karena aku tidak pandai jujur, aku malah melontarkan kata-kata pedas seperti biasa.

"Uhm, terima kasih."

Dia menggaruk pipinya dengan sedikit tersipu.

"Ini, kuberikan padamu."

Karena tidak ingin memperlihatkan wajahku yang merona, aku memaksa memberikan sebuah kotak berpita putih kepadanya.

"Ini... untukku?"

Mendengar suaranya yang penuh haru, aku menjawab dengan cepat.

"Tentu saja!"

"Boleh kubuka!?"

"Kuizinkan!"

Dia melepas kertas pembungkusnya dengan hati-hati dan membuka kotak itu. Saat dia mengambil sapu tangan putih dengan sulaman kelinci di dalamnya, wajahnya berbinar.

"Wah! Terima kasih, Mashiro!"

Dengan senyum lebar yang bahagia, dia memelukku erat. Aku sadar wajahku pasti sudah merah padam.

Puncak kebahagiaanku hanya sampai di titik ini. Mimpi buruk terburuk dimulai setelahnya.

Saat kami dalam perjalanan pulang, diiringi tatapan menggoda dari kedua orang tua kami, tiba-tiba matahari hitam jatuh dari langit.

Detik berikutnya, seluruh area di sekitar kami berubah menjadi tempat makan bagi monster-monster yang muncul secara mendadak.

Ayah dan ibu yang merupakan Hunter peringkat A mulai melarikan diri sambil menuntun warga. Di tengah kekacauan itu, aku dan dia terpisah dari ayah dan ibu.

Aku terus-menerus menangis dan merengek, tapi dia tak henti-hentinya menyemangatiku. Dia menarik tanganku dan kami terus berlari.

Lalu, kami berpapasan dengan monster berwujud setengah manusia dan setengah ular itu.

Seakan mengejek perjuangan mati-matian kami, monster itu membiarkan pengikutnya memangsa orang-orang yang lari bersama kami satu per satu.

Pada akhirnya, hanya tersisa aku dan dia.

Napas kami berdua tersengal-sengal, kami bahkan tidak bisa berlari dengan benar. Batas kemampuan kami sudah sangat jelas.

"Ayo, ayo, serangga manusia. Kalau kalian tidak lari lebih cepat, kalian akan kumakan~"

Mendengar suara monster ular yang seolah sedang bermain-main itu, dia melepaskan genggaman tangannya dariku.

"Mashiro! Larilah ke arah sana!"

Dia mendorong punggungku dan memberi perintah dengan nada tegas.

"T-Tapi..."

"Cepat!"

Mendengar suara kerasnya yang belum pernah kudengar sebelumnya, aku pun berlari tanpa memahami apa yang terjadi.

Saat aku menoleh ke belakang, aku melihat sosoknya yang berteriak lantang dan semakin menjauh dariku.

Saat itulah aku menyadari, dia mempertaruhkan nyawanya untuk memancing perhatian monster-monster itu agar aku bisa kabur.

Monster ular mengerumuni sosoknya. Bagaikan sudah ditargetkan, sebuah gedung runtuh tepat di atas kepalanya dan menciptakan gemuruh hebat.

Aku meneriakkan namanya berulang kali dengan putus asa.

"Mashiro! Kamu tidak apa-apa!? Syukurlah! Ayo kita lari!"

Di saat seperti itu, bawahan ayahku yang juga seorang Hunter mendekat, menghela napas lega, dan langsung menggendongku.

"Tunggu! Umi masih di sana!"

Aku terus meneriakkan namanya sampai suaraku serak.

Aku dilindungi oleh Asosiasi Hunter. Namun, ayah, ibu, dan dia dinyatakan hilang dalam neraka hari itu.

Kehilangan keluarga secara tiba-tiba membuatku dititipkan di panti asuhan. Saat itu informasi sangat dibatasi sehingga aku tidak tahu detail pastinya.

Meski begitu, amarah dan kebencianku terhadap monster ular yang telah merenggut segalanya dariku terus membengkak setiap harinya.

Di tengah situasi itu, setelah dua minggu tinggal di panti asuhan, aku dipanggil ke dunia lain, Lemuria, oleh Saint Rosemary Loto Amelia.

Yang dipanggil bukan hanya aku, melainkan ada juga dua remaja laki-laki bernama Hijiri dan Satoru.

Hijiri kehilangan temannya dalam serangan monster itu, sementara Satoru kehilangan orang tuanya dan terpaksa berpisah dengan adik perempuannya.

Kami bertiga bersumpah untuk membasmi ras iblis dan monster, demi membangun dunia di mana manusia bisa hidup damai. Kami terus mengasah diri tanpa henti untuk tujuan itu.

Namun, pada akhirnya semua itu runtuh begitu saja dengan kemunculan satu monster bernama Kai Heineman.

Dari semua hal yang bisa dilakukannya, dia malah mendirikan Faesta, negara bagi monster dan ras iblis.

Dia juga membebaskan markas besar Gereja Pusat, Embraid, yang sebelumnya dikuasai dewa jahat.

Hebatnya, dia bahkan berhasil mendapatkan dukungan dari Gereja Pusat yang sebelumnya sangat membenci monster dan ras iblis.

Monster dan ras iblis... mereka adalah pihak yang telah merenggut segalanya dariku. Aku sangat tahu betapa jahatnya eksistensi mereka.

Karena krisis itulah aku bergerak, tapi Hijiri dan Satoru malah mengabaikanku dan pergi meninggalkanku.

Dan pada akhirnya, aku berujung sendirian seperti ini.

—Aku tidak mau sendirian—.

—Ayah, Ibu—.

"Umi!"

Sambil berteriak, aku terbangun secara tiba-tiba dan mendapati diriku berada di gang yang remang-remang.

"Eh?"

Suara konyol keluar dari mulutku. Wajar saja.

Dinding beton, jalanan aspal, dan botol plastik kosong yang berserakan. Semua ini jelas tidak ada di dunia Lemuria.

"Jangan-jangan, tempat ini!"

Dengan pikiran yang masih kacau, aku menggenggam pedang suci yang jatuh di tanah dan berlari keluar gang.

Pemandangan yang menyambutku adalah kampung halamanku yang telah hancur. Gedung-gedung setengah runtuh, aspal jalan raya retak parah, serta bus dan mobil terguling di mana-mana.

"Apa maksudnya ini!? Apa yang sebenarnya terjadi!?"

Aku mencoba bertanya pada diri sendiri, tapi tentu saja tidak ada jawaban.

Sambil menyeka keringat yang terus bercucuran di dahi, aku memeriksa keadaan sekitarku.

Dari kedalaman gedung di depanku, terdengar suara raungan monster, gemuruh tanah, dan suara tembakan. Suara-suara itu semakin mendekat ke arahku.

Akhirnya, sekelompok pria dan wanita yang bersenjata api, pedang, dan zirah muncul dalam pandanganku.

 Mereka dikejar oleh dua monster raksasa setinggi tiga meter berwajah mirip lamprey dengan leher yang panjang.

Dilihat dari persenjataan khas itu, mereka pasti adalah Hunter dari dunia ini.

Orang-orang yang kutebak sebagai Hunter itu menembakkan sihir dan senjata api ke arah monster lamprey tersebut. Sayangnya, serangan mereka sama sekali tidak terlihat berdampak.

Kalau terus begini mereka akan musnah. Apa yang harus kulakukan?

Di Lemuria, aku ingat menerima luka fatal dari monster ular itu karena kecerobohanku. Tapi anehnya, sekarang tidak ada satu pun luka di tubuhku, dan pedang suci andalanku pun ada di tanganku.

(Kalau begitu...!)

Tidak ada waktu untuk ragu.

Aku menggenggam erat pedang suciku, membidik monster lamprey itu, dan menjejak tanah dengan kuat.

Monster-monster itu bergerak lambat. Dalam sekejap, aku sudah masuk ke dalam jangkauan serangan monster lamprey tersebut.

"Holy Blade!"

Aku mengaktifkan skill Holy Blade dan mengayunkan pedang suci yang dipenuhi elemen cahaya dengan kekuatan penuh.

Teknik ini adalah serangan tebasan berelemen suci yang memiliki daya hancur luar biasa terhadap monster dan iblis.

Pedang suci itu menciptakan tebasan tak kasat mata yang memenggal leher monster lamprey itu dengan sangat mudah.

Di tengah rintik darah merah pekat yang menghujani tanah, aku kembali menjejak bumi dengan sekuat tenaga.

Aku langsung tiba di atas kepala monster lamprey kedua. Memanfaatkan putaran tubuh, aku menancapkan pedang suciku dalam-dalam ke ubun-ubunnya.

"Gyaaakhhhh!"

Dengan jeritan kematian yang melengking, monster itu tumbang ke tanah dan menciptakan gemuruh hebat.

Aku menghampiri para Hunter yang terduduk lemas di tanah dengan tubuh penuh luka.

"Kalian tidak apa-apa?"

Tanyaku memastikan keadaan mereka.

Kalau ini memang Bumi kampung halamanku, tidak mungkin hanya ada monster kroco tak berakal seperti ini.

Pasti ada banyak monster ular berwujud manusia yang benar-benar mengerikan berkeliaran, jadi kami harus segera pergi ke tempat aman.

"Ya... terima kasih banyak."

Saat seorang wanita berjubah putih mengucapkan terima kasih, sebuah mobil jip tiba-tiba muncul dari balik gedung dan mengerem mendadak di dekat kami.

Kemudian, seorang paman paruh baya dengan cambang yang belum dicukur melompat turun dari jip tersebut.

"Paman Amagi!?"

Tanpa sadar aku meninggikan suaraku. Benar, aku sangat mengenal orang ini.

Paman Amagi membelalakkan matanya dan menatapku lekat-lekat.

"Jangan-jangan... Mashiro!?"

Bagaikan tersengat listrik, dia mencengkeram kedua bahuku dan berseru kaget.

Mantan Hunter peringkat A, Amagi Tokisada. Dia adalah anggota klan yang sama dengan ayahku, Mikage Takeru, sekaligus Hunter yang menyelamatkanku saat insiden penyerangan monster dulu.

Mobil jip yang kutumpangi melaju melintasi jalan raya kota yang penuh puing-puing, hingga tiba di depan pintu raksasa pada dinding putih kokoh di ujung jalan.

Saat kami mendekat, pintu itu terbuka perlahan, membiarkan jip kami masuk.

"Tidak hancur? Tempat ini adalah Tokyo..."

Pemandangan di dalam sana adalah lanskap kota Tokyo yang dulu sering kulihat.

"Mereka tidak bisa masuk melewati dinding putih ini. Ini adalah zona aman umat manusia."

Paman memberitahuku sambil mengedipkan sebelah mata saat menyetir.

Setelah itu, aku dibawa ke sebuah ruangan di dalam gedung pencakar langit Cabang Jepang Asosiasi Hunter di Shinjuku.

Di sana, aku mendapatkan informasi yang selama ini sangat kuinginkan dari paman.

Itu adalah... keadaan kampung halaman kami setelah kami diteleportasi paksa ke dunia lain, Lemuria.

Tidak lama setelah aku meninggalkan Bumi, Asosiasi Hunter Dunia mengumumkan bahwa Bumi sedang diinvasi oleh musuh alami umat manusia, yakni monster vampir.

Awalnya, seluruh dunia bersatu dalam menghadapi krisis kepunahan ini dan meluncurkan beberapa serangan untuk membasmi vampir, namun semuanya berujung pada kekalahan. Kekuatan monster yang menyebut diri mereka vampir itu sungguh di luar nalar.

Hunter peringkat S terkuat di dunia beserta Hunter tingkat tinggi lainnya gugur satu per satu. Umat manusia pun menyadari bahwa kemenangan melawan vampir saat ini mustahil dicapai.

Vampir adalah monster yang menganggap manusia sebagai hewan ternak dan memangsa mereka.

Tidak ada cara untuk melawan monster semacam itu, dan fakta ini sudah cukup untuk menghancurkan tatanan serta keseimbangan dunia yang ada.

Dalam sekejap, keamanan runtuh. Terorisme dan kerusuhan menjadi makanan sehari-hari di berbagai belahan dunia.

Di tengah kekacauan itu, keluarga Akizuki dari Jepang, yang merupakan garis keturunan penyihir tradisional, menggunakan kartu as terakhir mereka untuk menahan invasi para monster.

Kartu as itu adalah dinding pelindung luar biasa kuat yang tak bisa diaktifkan oleh ilmu sihir manusia modern.

Dengan membangun dinding ini di bawah syarat-syarat tertentu, mereka mencegah masuknya monster-monster itu.

Berkat kekuatan pelindung inilah umat manusia saat ini nyaris berhasil mencegah kepunahan akibat invasi vampir.

Pelindung dinding yang menjadi garis hidup umat manusia itu berdiri di atas beberapa aturan ketat. Dengan memanfaatkannya sebaik mungkin, manusia bisa menikmati kedamaian sementara ini.

"Mikage Mashiro, kami ingin kamu bergabung dengan Asosiasi Hunter."

Seorang Hunter bertubuh raksasa dengan banyak luka di sekujur tubuhnya, yang dibawa oleh Paman Amagi, meminta hal itu kepadaku.

Dari nada bicaranya yang tidak menerima penolakan, aku yakin ini adalah sebuah paksaan.

Meski begitu, aku tidak pernah bermimpi akan menjadi Hunter seperti ayahku. Tentu saja, saat masih kecil, aku dan dia pernah berjanji untuk menjadi Hunter di masa depan.

Namun, pada akhirnya, semuanya telah direnggut dariku.

Dulu, Hunter adalah simbol keadilan bagiku, jalan mimpi yang kuikrarkan bersamanya.

Tapi sejak hari mimpi buruk itu, Hunter telah jatuh menjadi eksistensi tak bisa diandalkan yang sama sekali gagal melindungi kami dari serangan monster.

Itulah sebabnya, aku tidak pernah bergabung dengan Guild Hunter di Lemuria, meski organisasi itu memiliki nama yang sama.

"Lima tahun lalu, pihak yang merenggut segalanya dari kami adalah vampir, kan?"

"Benar. Merebut kembali wilayah kehidupan manusia dari para vampir itu adalah tujuan kami."

"Aku akan membantu."

Dengan ini, aku bisa membasmi habis semua makhluk yang telah menghancurkan kebahagiaan kami tanpa sisa.

Pria raksasa penuh luka itu sepertinya sudah menduga jawabanku. Tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, dia berbalik.

"Terima kasih sudah menerima tawaran ini. Kalau begitu, kamu akan segera mempelajari semua hal yang diperlukan sebagai Hunter di SMA Kagetsu."

Setelah menyatakan hal itu secara sepihak, dia memerintahkan bawahannya untuk mengantarku ke asrama siswa.

Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke SMA Kagetsu.

Akhirnya, aku menemukan target yang tepat untuk melampiaskan kebencian ini.

Aku tidak bodoh. Aku sangat mengerti apa yang dikatakan Hijiri dan Satoru, bahwa melampiaskan kebencian pada ras iblis dan monster di Lemuria adalah tindakan salah sasaran.

Meski begitu, fakta bahwa ras iblis dan monster adalah makhluk yang sangat berbahaya bagi umat manusia tetap tidak berubah. Aku sudah merasakannya secara langsung di kampung halamanku ini.

Itulah mengapa aku menjadikan pemusnahan ras iblis dan monster sebagai takdirku, agar tidak ada lagi yang mengalami penderitaan sepertiku.

Oleh karena itu, sampai detik ini pun, aku tidak merasa tindakanku salah, dan aku sama sekali tidak menyesal.

Namun, bohong besar jika aku bilang aku sama sekali tidak merasa bersalah karena telah melampiaskan kemarahan dan kebencian pada target yang salah.

Justru karena itulah, aku merasa sangat gembira ketika akhirnya bisa bertemu dengan musuh dari hari itu, musuh yang selama ini tak pernah bisa kugapai betapa pun aku berusaha.

Dengan semangat membara, aku melangkah menuju akademi yang ditunjuk. Namun, di area loker sepatu itulah aku berpapasan dengan sosok yang tak pernah kuduga.

Dia adalah Kai Heineman, musuh umat manusia yang telah mendirikan negara monster dan ras iblis di dunia Lemuria!

"Kai Heineman! Keparat! Kenapa kamu ada di sini!?"

Aku membentaknya dengan amarah yang meledak-ledak.

"T-Tunggu sebentar, ada apa ini sebenarnya—"

Reaksi paniknya—yang sangat berbeda dari sosoknya yang biasanya menjengkelkan dan dewasa—membuatku merasakan sedikit kejanggalan. Namun, tepat saat aku hendak mencekik kerahnya lebih kuat...

"Lepaskan tanganmu dari Kain!"

Seorang pemuda berambut merah dengan potongan two-block menahan pergelangan tangan kananku yang sedang mencengkeram kerah jaketnya.

Kain? Bukan Kai? Tunggu, sebelum itu, kenapa pria berambut merah ini mengenal Kai Heineman?

Dilihat dari situasinya, hanya aku dan Kai Heineman yang terlempar dari dunia Lemuria ke dunia ini. Pria ini seharusnya tidak ada hubungannya dengan Lemuria.

"Kamu kenal orang ini?"

Menanggapi pertanyaanku...

"Tentu saja, Kain adalah sahabatku dari dulu!"

Pemuda berambut merah itu langsung menjawab dengan nada tegas. Amarah dan permusuhan yang terpancar di matanya sama sekali tidak terlihat seperti sebuah kebohongan.

"..."

Karena bingung harus bereaksi seperti apa, aku mengalihkan pandanganku pada pemuda berambut abu-abu yang dipanggil Kain itu.

"Namaku Tsukishiro Kanon. Karena warna rambutku, aku sering disalahpahami, tapi aku orang Jepang asli."

Dia memberikan balasan seperti itu kepadaku.

"Tsukishiro Kanon..."

Dari warna rambut hingga fisiknya, penampilannya adalah Kai Heineman yang sempurna. Tapi baru saja, pemuda ini menyebut dirinya orang Jepang bernama Tsukishiro Kanon.

Aku juga baru menyadari, dia tidak berbicara dalam bahasa Lemuria, melainkan bahasa Jepang yang sangat fasih. Sangat mustahil untuk menguasai pelafalan sesempurna itu hanya dalam beberapa hari.

Lagipula, permusuhan pemuda berambut merah itu terhadapku adalah asli. Setidaknya, dia tidak terlihat sedang berakting.

Itu artinya, tidak diragukan lagi bahwa Tsukishiro Kanon dan pemuda berambut merah ini adalah sahabat sungguhan.

Segala situasi ini menunjukkan bahwa pemuda yang mengaku sebagai Tsukishiro Kanon ini adalah orang Bumi, dan bukan Kai Heineman.

Namun, aku tetap tidak bisa menepisnya begitu saja sebagai sekadar kemiripan belaka. Karena itulah—

"Maaf. Aku salah orang..."

Dengan suara serak, aku hanya bisa mengatakan hal itu dan langsung pergi dari sana seolah melarikan diri.

—Inilah pertemuanku yang menyedihkan dan terburuk dengan Tsukishiro Kanon.

Kurasa pada saat itu, entah bagaimana aku sudah mendapat firasat. Firasat bahwa jalan yang kutempuh selama ini, demi mempertahankan eksistensiku dan menuntaskan keyakinan mutlakku, pada akhirnya akan terbukti sebagai sebuah kesalahan fatal.

Justru karena itulah, sosok Kai Heineman terasa sangat menakutkan dan kubenci.

◇◆◇

—Cabang Jepang Asosiasi Hunter Shinjuku.

Tempat ini adalah salah satu dari Delapan Cabang Utama Asosiasi Hunter Dunia.

Ini merupakan garis depan perlawanan terhadap vampir, tempat bernaungnya para Hunter kelas atas.

Belasan petinggi sedang duduk mengelilingi meja bundar di sebuah ruangan di lantai teratas gedung pencakar langit.

"Kita kalah lagi... akhir-akhir ini kekalahan kita terus beruntun."

Pria plontos bertubuh besar dengan banyak luka membuang dokumen ke atas meja. Dia mengeluh sambil memijat sudut matanya dengan jari kiri.

"Benar. Dengan kekalahan kali ini, secara praktis hampir separuh Distrik Katsushika telah lepas dari kendali manusia. Melihat kondisi saat ini, hampir dapat dipastikan wilayah itu akan menjadi milik mereka."

Pemuda berkacamata yang memberikan laporan membalas dengan ekspresi suram.

"Mereka pasti cuma mempermainkan kita!"

Salah satu petinggi mengerutkan wajahnya dengan frustrasi dan menggebrak meja dengan tinju kanannya.

"Kemungkinan besar. Perbedaan kekuatan kita dan mereka ibarat gajah dan semut."

"Jika situasi ini terus berlanjut, dalam waktu 30 tahun ke depan, Bumi akan sepenuhnya menjadi wilayah kekuasaan mereka."

Pria plontos besar itu berbicara dengan wajah masam, seolah baru saja menelan pil pahit.

"..."

Ada yang menunduk, ada yang menggertakkan gigi karena frustrasi. Ekspresi semua orang di ruangan itu diwarnai oleh keputusasaan.

Di tengah suasana itu, pria plontos besar menatap seorang pria paruh baya dengan rambut abu-abu panjang yang diikat di belakang, dengan wajah penuh tekad.

"Tuan Atom, apakah tidak mungkin menambahkan aturan baru dengan kekuatan Anda?"

Tanyanya dengan nada kaku.

"Mustahil. Kemampuanku tidak sepraktis itu. Untuk mengubah aturan, aku harus mengatur ulang semuanya, tapi belum tentu aturan yang baru akan lebih menguntungkan dari sekarang."

"Terlebih lagi, untuk mengatur ulang aturan, pelindungnya sendiri harus dilepaskan terlebih dahulu. Jika pelindungnya dilepas sekarang, kalian yang cerdas pasti tahu apa jadinya, kan?"

Pria paruh baya berambut abu-abu bernama Atom itu menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan tenang.

"Begitu... ya..."

Pria plontos besar itu menundukkan bahunya lesu.

"Maaf aku tidak bisa membantu..."

Atom mengucapkan permintaan maaf dengan nada menyesal.

"Tidak, kamilah yang minta maaf karena telah menuntut hal yang tidak masuk akal. Tanpa Anda, umat manusia pasti sudah menjadi hewan ternak mereka sejak lama."

Pria plontos besar itu meletakkan tangannya di atas meja dan menunduk dalam-dalam.

"Hari ini kita bisa bertahan murni karena jasa Anda."

"Tidak perlu berterima kasih. Pada akhirnya, yang kulakukan hanyalah mengulur waktu. Ini bukanlah solusi akar masalah sama sekali."

"Meskipun hanya mengulur waktu, berkat andalah kami bisa menjalani kehidupan normal layaknya manusia."

Pria plontos besar itu berkata dengan penuh penekanan.

"Itu pun tidak akan bertahan lama. Seandainya saja Susanoo ada di tempat ini, kelelawar-kelelawar itu bukan ancaman yang berarti..."

Atom menggumamkan hal itu dengan wajah serius sambil melipat tangannya.

"Apakah sosok bernama Susanoo itu adalah sang penyelamat yang sering Anda bicarakan?"

"Benar. Jika dia ada, dia tidak akan pernah membiarkan anak-anak tak berdosa menangis tersiksa."

"Begitu dia kembali ke tempat ini, hama kelelawar itu pasti bisa dimusnahkan."

Mendengar jawaban Atom, pemuda berkacamata langsung mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Seberapa besar kemungkinan Tuan Susanoo kembali!?"

"Entahlah. Lagipula, alasan kepergiannya saja tidak diketahui. Dia bisa saja kembali besok, atau mungkin tidak kembali meski puluhan tahun berlalu."

"Dan itulah letak kesalahan terbesarku kali ini."

Atom perlahan menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi.

"Ternyata... tidak bisa, ya..."

Pria plontos besar itu merosotkan bahunya dan menghela napas panjang.

"Kalian tidak perlu seputus asa itu. Harapan masih ada."

Atom mendeklarasikannya dengan nada tegas.

"Masih ada harapan?"

"Ya. Walau bukan Susanoo sendiri, sisa-sisa energi sihirnya bisa terpantau di dunia ini. Artinya, ada pihak yang berhubungan dengan Susanoo yang datang ke dunia ini."

"Meski hanya bawahannya, mereka sudah lebih dari cukup untuk menghadapi kelelawar-kelelawar itu."

Pernyataan Atom tersebut disambut sorakan gembira dari para petinggi yang hadir dalam rapat.

"Apakah Anda mengetahui lokasi orang yang memiliki hubungan dengan Tuan Susanoo itu?"

"Kemampuan deteksiku tidak terlalu kuat. Jika aku bisa memantaunya dengan sejelas ini, itu berarti dia tidak jauh dari sini."

"Tanpa diragukan lagi, dia pasti ada di negara ini. Lacak semua orang yang datang ke negara ini dalam beberapa hari terakhir secara menyeluruh. Kalian pasti akan menemukannya."

"Jika kami menemukannya, apa yang harus kami lakukan?"

"Untuk saat ini, awasi saja."

"Kenapa begitu?"

"Hanya karena ada jejak sisa sihir Susanoo, bukan berarti orang itu adalah sekutu. Ada kemungkinan besar mereka justru pernah bermusuhan."

"Menambah musuh dalam situasi seperti ini bukanlah langkah yang bijak."

"Jadi maksud Anda, kami harus mendekatinya dan mengawasinya?"

"Ya. Setelah kalian membangun hubungan saling percaya, kalian bisa menanyakannya secara perlahan. Kita masih punya cukup waktu untuk itu."

"Dimengerti. Kami akan melaksanakannya sesuai instruksi."

Pria plontos besar itu memberi isyarat dagu kepada pemuda berkacamata.

Pemuda berkacamata itu mengangguk tegas dalam diam, memberi hormat, lalu meninggalkan ruangan.

"Pertarungan sesungguhnya baru dimulai. Entah baik atau buruk, semuanya akan segera mencapai titik akhir."

Pria plontos besar menatap Atom sejenak.

"Tuan Atom, mengapa Anda mau sejauh ini berjuang untuk kami umat manusia?"

Tanyanya dengan ekspresi serius.

Atom menatap ke kejauhan dengan pandangan menerawang.

"Mungkin... ini adalah bentuk penebusan dosaku pada seorang pemuda di masa lalu, yang telah kuseret dalam kekacauan dan kuhancurkan perasaannya..."

Dia menjawab dengan tenang dan penuh penghayatan.

◇◆◇

—Adachi-ku, Tokyo, Bumi — Vlad Palace.

Wilayah ini dikuasai oleh Vlad, yang dianggap sebagai raja terkuat di antara para vampir yang muncul di Bumi.

Vlad Palace, istana sang raja, terletak di pusat Adachi-ku.

Di sekelilingnya, membentang secara konsentris distrik bangsawan untuk tempat tinggal para petinggi, distrik rakyat jelata untuk kaum vampir biasa, distrik budak untuk bawahan non-vampir, dan fasilitas penampungan manusia yang menjadi persediaan makanan.

Karpet merah membentang membelah bagian tengah ruangan luas di dalam bangunan yang menyerupai istana abad pertengahan tersebut, berujung langsung ke singgasana di bagian terdalam.

Di sisi kiri dan kanan karpet, para bangsawan vampir yang mengenakan pakaian merah mewah berdiri tegak dan teratur. Di atas singgasana itu, Vlad, sang Raja Merah, duduk bersandar dengan angkuh.

"Berkat para budak yang melancarkan invasi, manusia-manusia itu akhirnya menyerahkan tanah mereka, YO! Dengan ini, separuh dari Distrik Katsushika telah jatuh ke tangan kita, YO!"

Seorang pemuda vampir berambut pirang dengan tato semanggi di punggung tangan kanannya melaporkan hal itu dengan penuh semangat.

Dia mengenakan jaket kulit hitam, kacamata hitam mencolok, dan headphone, membuatnya terlihat seperti seorang DJ di klub.

"Pelindung yang menghalangi kita ras darah murni untuk masuk benar-benar merepotkan. Karena itulah, kita butuh waktu lama hanya untuk menaklukkan para hewan ternak itu."

Seorang pria vampir dengan kantung mata hitam menggerutu seolah meludah. Di pipinya terdapat tato bergambar sekop dan pedang.

"Pelindung itu diciptakan oleh Atom. Dia salah satu dari monster generasi lama, kan..."

"Entah benar atau tidak, kabarnya dia juga berteman baik dengan mendiang Raja Iblis, Beelzebub, dan Thor, kan?"

Vampir berambut pendek dengan tato wajik dan koin di dahinya—yang mengenakan pakaian mewah berlebihan layaknya bangsawan agung abad pertengahan dalam buku cerita anak—melontarkan pertanyaan itu dengan nada jemu.

Kecemasan yang luar biasa seketika menyebar di wajah para vampir yang memiliki harga diri tinggi tersebut.

"Tidak boleh, tidak boleh. Kita adalah ras vampir, ras yang terkuat."

"Aku tidak butuh bawahan pengecut yang gemetar ketakutan pada legenda yang belum pernah mereka temui. Kalian paham, kan?"

Vlad tersenyum memperingatkan, menolehkan kepalanya untuk menatap sekeliling pada bawahan-bawahannya.

"""""Siap!"""""

Semua vampir di sana seketika menegang, membenarkan postur mereka, dan berseru lantang.

"Lagi pula, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang merepotkan dari Atom hanyalah kemampuannya, sementara kekuatan tempurnya sendiri tidak seberapa."

"Lagipula, karena suatu sumpah perjanjian, dia tidak bisa menggunakan kekuatannya secara langsung di dunia ini. Hal terbaik yang bisa dilakukannya hanyalah menetapkan aturan mengganggu semacam itu."

Vlad menyesap cairan merah pekat di dalam gelas yang dipegang tangan kanannya, lalu menggoyangkan gelasnya perlahan sambil memberikan tanggapannya.

"Sedikit lagi... seluruh wilayah ini akan jatuh ke tangan kita!"

Vampir berambut pendek dengan pakaian bangsawan agung mengepalkan tangan kanannya dengan kuat dan berseru gembira.

"Namun, Rajaku, bagaimana dengan Susanoo?"

Begitu mendengar nama Susanoo, senyum yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajah Vlad seketika berubah menjadi raut kebencian yang mendalam.

"Ya, tepat di situ masalahnya! Penghalang sejati kita hanyalah Susanoo seorang! Dia benar-benar di level yang berbeda dalam segala hal."

"Jika dia kembali ke dunia ini, aku sekalipun tidak akan bisa mengalahkannya. Itulah sebabnya, kita butuh kartu truf. Hei, Spade, sudah ada kemajuan mengenai urusan itu, kan?"

"Siap. Bawahan saya yang ahli dalam pelacakan telah mendeteksi sebuah fakta penting. Nero, kuizinkan kau menampakkan diri!"

Vampir dengan kantung mata hitam yang dipanggil Spade berseru lantang.

"Siap!"

Detik berikutnya, diiringi suaranya, seorang pemuda berambut hitam asimetris muncul. Dia berlutut dan menundukkan kepalanya di hadapan Vlad.

"Rajaku, ini adalah Nero, iblis yang telah menjadi bawahan saya sejak lama. Nero pernah bertemu dengan dia lima tahun lalu, sehingga dia bisa mengidentifikasinya."

"Nero akan menjelaskan detailnya kepada Anda!"

"Aroma jiwa orang itu muncul di wilayah ini sejak tiga hari yang lalu. Itu artinya—"

"Lokasi Behemoth itu akhirnya ketahuan, ya!"

Vlad memotong ucapan Nero dengan suara emosional, sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya kegirangan.

Mata Vlad berubah menjadi merah darah, sementara sudut bibirnya robek dan tertarik ke atas hingga mencapai telinga. Saat semua orang menahan napas melihat wujudnya yang sama sekali tidak mencerminkan sikap tenang seorang raja...

"Lalu, di mana Leluhur Sejati kita itu berada sekarang?"

Seorang wanita berbaju putih dengan tato hati dan burung di lengan kanannya bertanya pada Nero dengan suara teredam dari balik maskernya.

"Saya belum bisa melacak lokasi pastinya, tapi jiwa orang itu benar-benar berada dalam wilayah kekuasaan manusia."

Nero menjawab dengan penuh penekanan.

"Akhirnya kutemukan! Sesuai dugaanku, dia bersembunyi di antara manusia! Selama wanita itu ada di pihak kita, aku sudah yakin dia pasti ada di dunia ini!"

Vlad mencondongkan tubuhnya ke depan dan berseru penuh sukacita.

"Namun, lima tahun lalu sosoknya terlihat benar-benar seperti manusia biasa, ZEI! Apakah dia benar-benar Behemoth yang legendaris itu, YO?"

Pria vampir berambut pirang dengan penampilan DJ melontarkan pertanyaan yang mengganjal di benak semua orang kepada Vlad.

"Ya, dia memang cukup melemah. Namun, dia tetaplah Behemoth. Dia adalah nenek moyang kita para vampir, sang Vampir Pertama!"

"Ini bukan soal logika, darah di dalam tubuhkulah yang memahaminya!"

Mendengar penegasan Vlad...

"Tapi... jika dia benar-benar Behemoth, bukankah ini terlalu berbahaya!?"

Pemuda petinggi itu bertanya pada Vlad dengan ragu dan raut wajah penuh kecemasan.

"Berbahaya!? Biarpun sedang melemah, dia tetaplah Behemoth! Tentu saja risiko itu sudah pasti ada!"

"Justru karena itulah, ini sangat sepadan dengan risikonya! Lagipula, kita punya kartu truf!"

"Kalau kita memanfaatkan wanita itu dengan baik, dia akan jadi boneka kita! Setelah itu, aku akan merebut tubuh monster terkuat dari generasi lama itu! Jika itu berhasil—!"

Vlad berteriak lantang dengan sangat antusias, hingga semburan api kecil keluar dari mulutnya.

"Tuan Vlad akan menjadi eksistensi terkuat di dunia ini!"

Spade mengepalkan tangan kanannya dengan erat, suaranya bergetar.

"Tepat sekali! Kalau aku mendapatkan kekuatan Behemoth, Susanoo, atau bahkan para dewa dan tentara iblis tidak akan bisa melawanku!"

"Benar! Aku akan menguasai seluruh dunia ini!"

Vlad merentangkan kedua tangannya ke arah langit-langit dan mendeklarasikan hal tersebut dengan penuh ekstase.

"Selamat, Rajaku!"

Vampir berambut pendek dengan tato wajik dan koin menyatukan tangannya, dan para vampir lainnya pun mengikutinya.

"Bawa Behemoth ke hadapanku! Apapun caranya!"

Mata Vlad bersinar penuh ancaman. Aura merah pekat yang sangat jahat menguar dari tubuhnya dan bergerak menuju Spade, perlahan mulai menyelimuti pria itu.

"Sesuai kehendak Anda!"

Spade langsung berlutut refleks dan menggosokkan dahinya ke lantai. Dalam situasi ini, sekecil apa pun bentuk penolakan, bisa dipastikan nyawanya akan langsung melayang tak peduli siapa pun dia.

"Dengan begini—akulah makhluk terkuat di dunia ini!"

Vlad merentangkan kedua tangannya dan meledak dalam kegembiraan.

◇◆◇

—Atap sebuah gedung terbengkalai di Distrik Katsushika, Jepang, Bumi.

Di atap gedung yang terbengkalai itu, dewa jahat berwujud gajah Girimehkala, Raja Lalat Beelzebub, dewi Nemesis, serta Astaroth yang mengaku sebagai ajudan Kai, sedang mengamati proyeksi visual singgasana Vlad Palace yang melayang di udara.

"Konyol! Sungguh konyol! Mereka bahkan tidak sadar bahwa para kelelawar itu tidak lebih dari sekadar pengganggu dalam ujian kali ini, tapi mereka malah menari-nari dengan memalukan!"

Tatapan Girimehkala terhadap para vampir itu tidak lebih berharga dari sekadar sampah.

Alasan dari hal ini jelas terikat kuat pada keyakinan mutlak yang membangun sosok pria sejati bernama Girimehkala saat ini.

Namun, sangat kontras dengan Girimehkala yang begitu percaya diri...

"Beelze, rival menjijikkan yang kau maksud itu adalah Behemoth, kan?"

Asta memastikan kepada Beelzebub dengan ekspresi tegang.

"Benal cekali."

Beelzebub mengiyakan dengan nada ceria dan suara yang riang.

Berbeda dengan Girimehkala dan Beelzebub yang sama sekali tidak gentar, sebaliknya, pusaran emosi yang kuat dan kompleks bergolak di kedalaman mata Asta.

Dia pasti memahami skala dan bahaya dari ujian kali ini dengan sangat baik. Itu hal yang wajar.

Hampir tidak ada dewa ternama yang tidak mengenal nama Behemoth.

Bersama Beelzebub, dia adalah salah satu monster legendaris yang membuat para petarung terkuat dari generasi lama gemetar ketakutan, sekaligus menjadi salah satu wujud bencana di dunia ini.

Jika Beelzebub biasanya bergerak dalam kawanan, Behemoth selalu bertindak sendirian atau hanya membawa beberapa bawahan saja.

Dia menghancurkan musuhnya hanya dengan satu tinju. Oleh karena itu, dia dijuluki sebagai Dewa Super Behemoth.

"Sebagai syarat mutlak, jika Behemoth benar-benar bangkit, ingatan Master akan kembali, kan?"

Asta bertanya dengan nada bicara yang tidak selembut biasanya kepada Girimehkala, yang bertindak sebagai penyelenggara rencana ini.

"Tentu saja, memang begitu rencananya. Benar kan, Nemesis?"

"Iya."

Kilatan kesedihan sekilas melintas di mata Nemesis yang mengangguk pelan. Alis kanan Asta yang indah langsung berkedut melihatnya.

"Nemesis, aku tanya sekali lagi. Ingatan Master pasti akan kembali dalam situasi yang paling optimal, kan?"

Asta menuntut jawaban dari Nemesis dengan nada tajam yang tidak biasa ia tunjukkan.

"Aku berjanji padamu."

Nemesis mempertahankan senyum tipisnya dan menjawab dengan penuh keyakinan. Asta menatap wajah Nemesis dengan saksama.

"...Baiklah. Aku percaya padamu."

Ketegangan dan kewaspadaan kuat dari Asta pun akhirnya mereda.

Girimehkala dan Beelzebub mencoba membaca niat dari tuan mereka, Kai Heineman, dan berusaha mengeksekusinya dengan setia.

Di sisi lain, Nemesis dan Aliansi Dewi bertindak liar demi mewujudkan perasaan terpendam dari para wanita di sekitar Kai Heineman terhadap tuan mereka.

Meskipun ketiganya bertindak demi kepentingan tuan mereka, Kai Heineman, hasil akhirnya belum tentu menguntungkan pria tersebut.

Ketiga pihak tersebut memiliki bahaya masing-masing; jika itu demi tuan mereka, Kai Heineman, mereka akan mengikuti keyakinan masing-masing dan menjalankannya, meskipun rencana itu merusak dan berbahaya.

Karena itulah, deklarasi tentang kembalinya ingatan Kai Heineman dari kelompok Girimehkala adalah prasyarat mutlak bagi Asta agar dia bisa fokus pada ujian ini.

"Omong-omong, bagaimana kabar Asura?"

"Dia sudah masuk ke sekolah yang sama dengan Tuan kita."

Girimehkala membalas dengan senyuman yang menyeramkan.

"Sepertinya ini berjalan terlalu lancar sampai terasa menjijikkan."

"Tentu saja! Awal yang sempurna tanpa celah sedikit pun! Seperti yang diharapkan dari Dewa kita yang agung!"

Girimehkala menatap langit dan mengaum kegirangan hingga menggetarkan udara.

"Jika nyawa Master benar-benar berada dalam bahaya, aku akan langsung ikut campur, mengerti?"

"Lakukan saja sesukamu! Itu juga pasti bagian dari kehendak Dewa kita!"

Tanpa memedulikan peringatan Asta sama sekali, Girimehkala berteriak.

"Kalau begitu, Aliansi Dewi juga akan mulai bergerak secara terpisah dari sekarang."

Setelah mendeklarasikan hal itu, Nemesis pun menghilang dari pandangan.

Detik berikutnya, Asta dan Beelzebub juga memudar bagaikan asap dan menghilang dari tempat itu.

"Nah, mari kita mulai! Festival besar yang diselenggarakan oleh Dewa kita!"

Girimehkala mengumumkannya pada dunia, layaknya seorang penyair jalanan.



Illustrasi | ToC | Chapter 1

Post a Comment

Post a Comment

close