Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Epilogue
Di sana terbentang dunia putih.
Michael palsu hari ini pun tengah melakukan pengelolaan atas beberapa dunia.
Di tangannya ada sebuah batu tulis tablet, seperti biasa.
“Mihara Ryo, akhirnya Anda meninggalkan kehidupan santai, ya. Entah itu baik atau buruk... Ah... Ini bisa dibilang jalan yang disebut shura… Kalau tidak salah, ada sebuah dunia yang menggunakan istilah itu. Berdasarkan prediksi ini... Apakah manusia ini akan menjadi lawan yang merepotkan... Oscar Lusca... Penyihir Ledakan Api. Kalau air melawan api, tampaknya kecocokannya pun buruk... Kuharap Mihara Ryo tidak sampai mati... Tapi jika melihat lebih jauh ke depan... Oh? Prediksinya terdistorsi? Apa artinya ini...? Ah... Ini masalah besar... Hanya menghadapi Oscar Lusca saja sudah cukup menyulitkan... Bagaimana nanti...”
Michael menggeser batu tulis itu, mencoba melihat masa lalu Oscar Lusca.
“Masa depan Mihara Ryo memang tampak berat, tapi masa lalu Oscar ini juga sungguh luar biasa keras... Kalau orang seperti ini jadi musuh, memang menyusahkan... Ya, aku mengerti.”
Michael palsu mengangguk beberapa kali, lalu meletakkan batu tulis itu di atas meja sambil bergumam.
“Prediksi hanyalah prediksi. Masa depan tidaklah pasti... Semoga banyak keberkahan menyertai masa depan Mihara Ryo.”
Desa Fost
Inilah kisah tentang seorang laki-laki yang kelak dikenal dengan sebutan Penyihir Ledakan Api—Oscar.
Oscar adalah seorang bocah berambut merah menyala, seolah api yang terbakar.
Dia lahir di sebuah desa kecil, atau lebih tepatnya sebuah perkampungan, yang hanya terdiri dari delapan rumah. Mereka menyebut tempat itu Desa Fost.
Hingga berusia 6 tahun, Oscar hidup tanpa banyak kekurangan... Tentu saja, desa itu miskin dan pada dasarnya bergantung pada swasembada, sehingga secara fisik banyak yang serba kurang. Namun secara batin, hidup mereka terasa cukup dan penuh.
“Oscar, besok kita akan menempa besi yang sedang dilelehkan. Mau bantu?”
“Iya, aku bantu.”
“Bagus, bilang pada ayahmu, ya. Kita mulai dari pagi.”
“Baik.”
Karena hidup swasembada, pisau, parang, hingga peralatan pertanian di desa itu semua dibuat oleh satu-satunya pandai besi desa, Rasan.
Kebanggaan Desa Fost adalah pegunungan di dekatnya yang menghasilkan garam batu dan bijih besi. Bisa dibilang, desa itu ada karena kedua sumber daya itu, ditambah sungai besar yang mengalir deras di sisinya.
Dan murid utama—sekaligus satu-satunya dari Rasan adalah Oscar yang baru berusia 6 tahun.
Tentu, pekerjaan menempa tidak dilakukan setiap hari. Dengan hanya delapan rumah, tidak ada kebutuhan sebanyak itu.
Sekitar tiga bulan sekali, mereka melebur bijih besi menjadi besi, lalu mengolahnya menjadi alat-alat logam.
Selama tiga bulan itu, barang-barang rusak diperbaiki, atau dibuatkan alat baru sesuai permintaan penduduk desa.
Di waktu lain, para pria desa bekerja sama menggarap ladang atau berburu di hutan.
Dengan jumlah orang yang sedikit, tidak ada ruang untuk saling bermusuhan.
Karena itu, hubungan antarpenduduk sangatlah baik.
Anak-anak pun sejak kecil sudah terbiasa membantu orang dewasa, sehingga cepat menumpuk pengalaman.
Dalam hal berburu, Oscar juga ikut dengan membawa busur. Meski tubuhnya kecil, panahnya tetap bisa mematikan jika tepat sasaran.
Saat itu, Oscar adalah anak paling muda di desa.
Dua tahun sebelumnya, istri kepala desa, Shulast, sempat melahirkan bayi, namun lahir mati. Oscar sempat bergembira karena mengira akan mendapat adik, namun harapannya pupus.
Shulast, yang mestinya paling berduka, malah memeluk kepala Oscar yang murung, mencoba menghiburnya.
Ya, begitulah baiknya hubungan antarpenduduk desa itu.
“Ayah, Ibu, aku pulang.”
“Oh, Oscar, selamat datang.”
Suara Oscar disambut oleh ayahnya, Suna, yang sedang membelah kayu di halaman.
“Ayah, besok Guru Rasan akan menempa, jadi aku mau bantu.”
“Begitu ya, jadi kamu tak ikut berburu besok.”
Dalam hal berburu, Oscar juga diperhitungkan sebagai tenaga penuh. Bagi bocah seusianya, itu adalah kebanggaan yang besar.
“Oscar, Ibumu sebentar lagi mau menyiapkan makan malam. Tolong bantu, ya.”
“Baik.”
Oscar pun masuk ke dapur.
Persiapan makan malam hampir selesai, tinggal menyalakan api di tungku.
“Ibu, aku pulang. Aku nyalakan apinya, ya.”
“Selamat datang, Oscar. Tolong, ya.”
Atas permintaan ibunya, Skoty, Oscar membayangkan api dalam benaknya lalu mengucap,
“Menyala.”
Sekejap kemudian, api membara di tungku.
Oscar adalah satu-satunya penyihir di desa itu.
Keesokan harinya.
Oscar pergi ke bengkel pandai besi Rasan sejak pagi.
Di sana ada sebuah “cerobong” bata, yang selalu dibuat setiap kali mereka mengekstrak besi dari bijih. Dari puncaknya yang setinggi dua meter, api menyembur keluar.
Singkatnya, arang dan bijih besi yang sudah dihancurkan dimasukkan dari atas cerobong, lalu dinyalakan. Api terus dijaga dengan tiupan udara, membakar dalam suhu tinggi selama berjam-jam.
Lamanya waktu bergantung bahan, namun Rasan biasa mempertahankan api selama dua belas jam.
Pada dasarnya, besi murni adalah logam yang lunak.
Namun ketika bijih besi dipanaskan, karbon dari arang menyusup di antara atom-atom besi, membuat strukturnya lebih keras.
Itulah yang disebut baja.
Hasil dari cerobong bata tidak banyak, namun cukup untuk kebutuhan delapan rumah. Kadang, jika berlebih, bisa dijual di kota.
Namun kota terdekat pun berjarak dua hari perjalanan sekali jalan, sehingga mereka hanya pergi sekitar tiga kali setahun.
Barang yang dibeli pun biasanya hanya kain, benang, dan kebutuhan menjahit.
Meski begitu, peralatan besi dari Desa Fost terkenal berkualitas tinggi di kota. Setiap kali dibawa, selalu ludes terjual.
Dari bawah cerobong, keluar gumpalan baja mentah yang masih penuh kotoran. Itulah yang harus ditempa.
Oscar pun ikut membantu.
Dengan palu besar, dia memukul baja itu dengan lembut dan ringan.
Setiap kali dipukul, percikan api beterbangan, percikan yang membawa keluar kotoran dari logam.
Makin lama, gumpalan itu mengecil, hingga tinggal sebesar kepalan tangan.
Sementara Oscar memukul, Rasan membongkar cerobong bata, mengeluarkan baja mentah yang tak bisa diambil dari bawah. Itu pun ditempa jadi bahan alat.
Meski sudah menghabiskan tenaga 12 jam penuh meniup api, wajah Rasan tak menunjukkan sedikit pun lelah di mata Oscar.
Dia terus bekerja dengan senyum lebar, seolah benar-benar menikmati setiap detiknya.
“Kalau mau membuat sesuatu yang bagus, kamu harus terus berusaha tanpa henti.”
Itulah kalimat yang selalu diulang oleh Rasan. Karena itulah, tak ada sedikit pun ketergesaan atau asal-asalan dalam setiap karyanya.
Semua penduduk desa tahu itu, maka kepercayaan mereka pada peralatan buatannya sungguh tak tergoyahkan.
Penduduk desa berburu binatang.
Kadang harus melawan monster.
Sesekali, perampok juga datang menyerang.
Maka, tentu saja, senjata pun dibuat oleh Rasan. Dan kali ini, penempaan mereka memang ditujukan terutama untuk membuat senjata.
Kadang, Oscar membantu dengan sihir apinya untuk memperkuat bara yang mulai melemah.
Dia juga bisa memaksa arah asap berubah, agar tidak mengganggu dirinya atau Rasan.
Di bengkel itu, Oscar benar-benar banyak membantu.
Memukul, menempa, memanjangkan logam, menindih dengan lapisan lain, memanaskannya di tungku, lalu kembali menempa...
Seperti proses membuat katana Jepang, yang ditempa berulang kali. Bedanya, hanya kekuatan pukulannya yang berbeda...
Di Eropa pada masa Bumi, dari Abad Pertengahan hingga awal zaman modern, hal serupa juga dilakukan.
Bahkan, baju zirah Barat yang kini tersisa di museum bukanlah lempengan baja tunggal yang dipipihkan, melainkan hasil dari tempa berulang kali yang dilapisi dan dilas berlapis-lapis.
Proses menguatkan besi atau logam lain dengan cara ditempa disebut penempaan. Di Bumi, teknik ini sudah ada bahkan sebelum 4000 SM. Kisah tentang bangsa Het pada sekitar abad ke-18 SM yang menaklukkan dunia dengan senjata besi sangat terkenal, dan pasti keluar di pelajaran sejarah dunia di SMA.
Namun kenyataannya, kebanyakan orang modern tidak menyadari betapa kunonya teknologi itu... Tentu saja, Oscar pun tak mungkin mengetahuinya.
Dia hanya tahu satu hal: logam harus ditempa berkali-kali, dan harus ditempa dengan lembut serta ringan... Begitulah cara menciptakan perkakas baja yang kokoh.
Dasar-dasar itulah yang dipelajari Oscar.
Dipanaskan berulang kali, ditempa berulang kali.
Setiap kali, baja itu menyusut, karena kotorannya terbuang.
Namun sekaligus, itulah proses yang diperlukan agar dia mengeras.
Segala sesuatu sama adanya... Butuh waktu, butuh ketekunan tanpa henti, barulah sesuatu yang baik tercipta.
Akhirnya, dilakukan proses pengerasan dengan pendinginan cepat. Baja dipanaskan, karbon ditambahkan ke bagian yang masih rendah karbon, lalu didinginkan mendadak agar karbon itu terkunci di dalamnya.
Namun jika berhenti di sini, hasilnya memang keras, tetapi juga rapuh.
Karena itu, baja kembali dipanaskan, sedikit dilunakkan, hingga menjadi keras sekaligus lentur.
Beberapa hari kemudian, tiga bilah pedang dan sebilah pisau akhirnya selesai.
“Suna, kalau boleh, satu pedang ini ingin kuberikan pada Oscar.”
Pandai besi Rasan menyerahkan salah satunya pada Suna, ayah Oscar.
“Memangnya aman?”
“Oscar sudah 6 tahun, sebentar lagi dia ulang tahun. Dia juga sudah berlatih pedang. Kurasa waktunya dia memiliki pedang sendiri. Pedang ini kubuat sedikit lebih pendek dan ramping daripada ukuran orang dewasa, agar lebih ringan.”
Hari itu, untuk pertama kalinya, Oscar memiliki pedang miliknya sendiri.
Di wilayah perbatasan utara tempat Desa Fost berada, itu adalah salah satu bentuk upacara pengakuan seorang anak laki-laki sebagai pria.
Bukan berarti dia sudah dewasa, tapi baginya, itu tetaplah sebuah kebanggaan besar.
Dalam hati Oscar, dia merasa akhirnya benar-benar menjadi bagian dari desa.
Keesokan harinya, diadakan perburuan besar yang diikuti setengah penduduk desa.
Mangsa mereka adalah seekor babi hutan raksasa. Bukan monster boar, melainkan binatang biasa.
Babi hutan atau beruang yang ditangkap pada musim gugur menjadi sumber protein penting untuk bertahan di musim dingin.
Karena itu, tak hanya kaum pria, bahkan hampir sepertiga kaum wanita ikut serta memanah.
Sebagian memburu, sebagian lagi menyiapkan pesta di desa.
Penduduk desa punya keterampilan yang tinggi; jika mereka berkata akan membawa pulang buruan, maka pasti akan pulang dengan hasil besar.
Suna, ayah Oscar, yang menjadi pemimpin rombongan pemburu, adalah pria yang menepati kata-katanya.
Malam itu, pesta diadakan di alun-alun desa.
Oscar, yang untuk pertama kalinya berhasil menembakkan panah dalam perburuan, banyak dipuji penduduk.
Namun di sudut lain, kepala desa Shulast dan Suna berbicara dengan wajah tegang.
“Shu, benarkah itu?”
“Ya. Bassa yang melihatnya. Sepertinya itu pengintai dari kawanan bandit.”
Keduanya berkerut wajah.
Di perbatasan, selain monster, ancaman terbesar adalah bandit. Banyak dari mereka adalah mantan prajurit atau petualang yang gugur, sehingga kemampuan bertarung mereka jauh di atas petani biasa.
“Itu sudah lebih dari 5 tahun lalu sejak terakhir kali kita diserang, ya?”
“Benar. Saat Oscar baru lahir.”
Mereka mengingat kembali kejadian kala desa pernah diserang bandit.
“Waktu itu jumlah mereka sedikit, dan tak ada yang ahli. Kita bisa mengusir mereka dengan mudah...”
“Namun kali ini mereka bahkan mengirim pengintai. Itu artinya kelompok besar yang dipimpin orang yang hati-hati... Akan sangat merepotkan.”
Umumnya, bandit hanyalah kumpulan orang yang bertindak tanpa rencana.
Karena itu mereka jatuh ke jalan sesat...
Namun kelompok kali ini berbeda.
Mereka punya kehati-hatian, kecerdikan, bahkan melakukan pengintaian sebelum bergerak.
“Bagaimanapun juga, kita tak punya tempat lari, dan tak mungkin bantuan datang tepat waktu... Pada akhirnya kita harus melawan sendiri.”
“Benar.”
Suna mengangguk pada kata-kata Shulast.
Mereka adalah sahabat masa kecil, terbiasa menghadapi berbagai kesulitan bersama.
Masalah kali ini memang tidak kecil, tapi mereka juga pernah menghadapi hal-hal berat sebelumnya.
Bahkan pembangunan desa ini pun penuh rintangan.
Mundur bukan pilihan.
Keesokan harinya, semua penduduk desa berkumpul untuk membicarakan masalah itu.
Mereka memutuskan bersama untuk menghadapi kelompok bandit.
Sejak hari itu, seluruh desa terjun membuat panah dalam jumlah besar.
Dalam pertahanan, senjata paling efektif adalah busur panah.
Apalagi di Desa Fost, baik pria, wanita, orang tua, bahkan anak-anak bisa memanah. Meski tak selalu tepat sasaran, itu tetap menjadi kekuatan besar.
Sebuah panah anak kecil pun bisa merenggut nyawa seorang pria dewasa.
Dalam situasi seperti ini, di mana jumlah musuh tak diketahui, pertempuran jarak dekat berisiko tinggi, memakan banyak korban, jadi mereka ingin menghindarinya sebisa mungkin.
Jika tak bisa dihindari, mereka ingin menundanya selama mungkin.
Karena itu, kehabisan panah adalah kondisi yang tidak boleh sampai terjadi.
Kekuatan terbesar Desa Fost ada pada garam batu dan bijih besi yang melimpah dari gunung.
Garam menjamin kemandirian desa, sementara besi menjamin pertahanannya.
Ciri khas panah Desa Fost adalah ujungnya diberi kepala panah kecil dari besi. Di desa perbatasan lain, ujung panah sering hanya dipertajam dari kayu.
Ini memang barang produksi massal, tetapi memiliki atau tidak memilikinya akan memberikan hasil yang sangat berbeda dalam hal jarak jangkauan dan akurasi. Dibandingkan dengan mengikirnya hingga runcing, metode ini justru tidak merepotkan; cukup dipasang dan dipalu agar tidak mudah lepas.
Inilah keunggulan besar mereka.
Sekeliling desa pun dipagari penghalang dari kayu gelondongan. Itu didirikan setelah serangan lima tahun lalu.
Meski kala itu mereka menang mudah, pagar itu dibangun agar serangan yang lebih besar bisa ditahan.
Kayu pagar itu dilapisi cairan kesemek, yang juga disebut tanin di Bumi modern, serta bahan anti lapuk, agar awet dan tahan lama. Dengan begitu, jalur masuk musuh bisa dipaksa mengikuti pola tertentu.
Maka, posisi pemanah bisa diatur lebih mudah.
Serangan itu dipastikan terjadi pada malam hari. Jika demikian, maka perlu diatur penempatan pasukan di lokasi yang dekat dengan setiap rumah dan mudah untuk bergerak. Seandainya tanggal serangannya diketahui, atau diketahui akan terjadi dalam dua tiga hari, mungkin kita bisa berjaga tanpa tidur. Namun kenyataannya tidak demikian.
Mereka tidak tahu kapan serangan akan datang, jadi tidak ada yang mereka bisa lakukan.
Namun kabar terbaru datang...
“Bassa melihat bandit. Sepertinya mereka akan menyerang malam ini.”
“Hebat memang, mata seorang mantan petualang pengintai.”
Kepala desa Shulast dan Suna saling mengangguk, lalu mulai mengatur penempatan warga. Pola dasarnya tetap mengacu pada rencana sebelumnya—di lokasi-lokasi dekat setiap rumah. Namun, berkat kemampuan memastikan tanggal serangan, mereka memutuskan untuk menempatkan warga di posisi yang lebih strategis.
Bersama dengan perkiraan tanggal serangan, Bassa juga mendapatkan informasi yang tidak mengenakkan:
Tentang skala perampok tersebut. Ternyata, mereka adalah gerombolan perampok berjumlah lebih dari lima puluh orang.
Lima puluh orang—jumlah itu melebihi total seluruh penduduk Desa Fost.
Tentu saja, informasi ini telah dibagikan kepada semua warga.
Tak ada satu pun yang berniat kabur hanya karena jumlah musuh banyak... Bagaimanapun juga, tidak ada tempat untuk mengungsi.
Justru banyaknya jumlah perampok itu semakin mengukuhkan tekad mereka.
Tekad untuk mengusir para perampok itu, bagaimanapun caranya.
Malam terpanjang dalam sejarah Desa Fost pun dimulai.
* * *
Pemimpin gerombolan bandit Serigala Malam Kelam, Posch, merasakan keganjilan.
Rasa itu pertama kali muncul lima hari yang lalu.
Saat salah satu pengintai kelompok melapor, ada kemungkinan dirinya telah terlihat oleh seseorang. Meskipun hanya sebuah desa di perbatasan, terkadang ada mantan petualang yang memilih pensiun dan tinggal di sana. Karena itu, Posch tidak pernah mengabaikan pengamatan awal yang cermat.
Akibatnya, bukan hal aneh bila pengintai mereka terlihat oleh penduduk desa.
Posch pun sempat mengira kali ini juga hal yang sama, namun laporan yang diterimanya berbeda. “Ada kemungkinan aku terlihat, tapi aku sama sekali tidak tahu orang macam apa dia.”
Para pengintai bandit semuanya sudah cukup berpengalaman... Jarang sekali ada kejadian di mana mereka tidak bisa memastikan siapa yang melihat mereka.
Apa mungkin pengintai desa itu benar-benar sehebat itu?
Tanpa mengubah sedikit pun ekspresi wajahnya, Posch mendengarkan laporan itu, sementara di dalam hati dia mulai berpikir demikian.
Mungkin desa ini bukan tempat yang pantas untuk diserang... Sekelebat pikiran itu melintas di benaknya.
Namun, musim dingin segera tiba.
Sekalipun mereka adalah bandit, bukan berarti mereka bisa terus menyerang sepanjang tahun. Musim dingin dengan salju yang menumpuk akan sangat membatasi gerakan mereka. Mereka butuh persediaan sebanyak mungkin—makanan dan minuman keras, terutama—untuk melewati musim itu.
Diliputi keraguan, akhirnya Posch tetap memberi perintah: serangan dilakukan lima hari kemudian, pada malam hari.
Lalu tibalah siang di hari penyerangan.
Sekali lagi, laporan datang dari pengintai. “Ada kemungkinan markas besar kita telah terlihat oleh seseorang.”
Hal itu tidak bisa dihindari. Malam ini mereka akan menyerang, dan berbagai persiapan memang sedang dilakukan. Meskipun begitu, sekalipun laporan itu masuk, keputusan menyerang tidak berubah.
Namun, keganjilan yang sesungguhnya dia rasakan datang pada saat itu juga—malam ini, ketika serangan benar-benar dimulai.
Meski ada kemungkinan mereka terlihat siang tadi, seluruh desa justru sunyi senyap... Seakan semua penduduk sedang tertidur.
Jika memang ada yang melihat para bandit mempersiapkan diri di siang hari, bukankah seharusnya desa menambah jumlah penjaga, menyalakan lebih banyak api unggun untuk penerangan?
Ataukah laporan siang tadi hanyalah salah paham belaka?
Dengan perasaan yang tercampur antara keganjilan dan kecurigaan yang samar, Posch tidak mampu mengambil keputusan untuk membatalkan rencana.
Akhirnya, gerombolan itu tetap melancarkan serangan sesuai rencana, menerjang desa dari dua arah.
* * *
Mereka datang!
Oscar menegakkan tubuhnya, bersiap siaga.
Seluruh badannya menegang kaku, tak lagi terasa seperti dirinya yang biasa.
Namun, dia tidak boleh peduli pada hal itu.
“Jika kalah, kamu akan mati.”
Siang tadi, ayahnya, Suna, menatap lurus ke mata Oscar dan dengan tegas mengucapkan kata-kata itu. Bagi anak berusia 6 tahun, ucapan itu terdengar terlalu cepat, terlalu kejam. Namun, di tanah perbatasan, itu sama sekali tidak terlalu dini.
Sebanyak apa pun kata-kata indah dirangkai, kenyataannya tetap satu: yang lemah akan mati.
Di bahu Oscar yang tegang, Suna dan ibunya, Scorti, meletakkan tangan masing-masing.
Tak ada sepatah kata pun diucapkan.
Namun hanya itu saja sudah cukup untuk melepaskan ketegangan yang tak perlu dari tubuh Oscar.
Lalu, terdengar derap kuda dan langkah kaki mendekat.
Suna segera memasang anak panah pada busurnya.
Melihat itu, Scorti dan Oscar pun melakukan hal yang sama. Sasaran sudah mereka bidik.
Tanpa sepatah kata, Suna melepaskan panahnya.
Panah itu melesat dengan kekuatan busur perkasa, menembus rantai zirah yang dikenakan bandit berkuda, lalu menancap tepat di jantungnya.
Itu menjadi isyarat—dan panah mulai berterbangan dari berbagai penjuru desa.
Scorti dan Oscar pun melepaskan panah ke arah sasaran masing-masing.
Panah Scorti menancap di leher seorang bandit rendahan yang berjalan kaki, tanpa pelindung rantai, dan merenggut nyawanya dalam sekali tebas.
Panah Oscar ditujukan pada bandit lain di sebelahnya, namun bidikannya meleset sedikit.
Meski begitu, tanpa sempat larut dalam kecewa, dia segera menyiapkan tembakan kedua.
Bandit-bandit itu dilanda kebingungan, tapi semua itu tak lagi masuk dalam kesadaran Oscar.
Pasang panah, bidik, lepaskan.
Pasang panah, bidik, lepaskan.
Tanpa berpikir, dia hanya melakukan gerakan yang telah diajarkan, diulang, dan tertanam dalam tubuhnya.
Namun, dibandingkan tembakan pertama ke arah lawan yang lengah, peluang panah kedua dan seterusnya untuk menumbangkan musuh dalam sekali tembak mulai menurun.
Pertempuran berlangsung hanya di bawah cahaya bulan, tanpa satu pun api penerang.
Bagi para bandit, panah yang melesat tanpa suara dalam gelap malam adalah teror yang nyata.
Namun, setelah menerima beberapa tembakan, mereka akhirnya mulai bisa menebak dari arah mana panah-panah itu datang.
Dan jika arah diketahui, mereka bisa berlindung.
Namun... Desa ini hanya terdiri dari delapan rumah...
Ada beberapa gudang dan bangunan bersama, tapi jumlah tempat bersembunyi tak banyak.
Dari kerumunan bandit terdengar teriakan perintah, “Dekati mereka dan bertarung dari jarak dekat!”
Mendengar itu, Suna berdecak kecil.
Jadi pemimpinnya cukup tenang dan cerdik... Berapa banyak yang sudah berhasil kita tumbangkan dengan panah, aku tak tahu. Tapi, mau tak mau, inilah saatnya.
Suna memberi isyarat pada Scorti dan Oscar di sampingnya. Setelah keduanya mengangguk, mereka bertiga bergerak, Suna di depan sebagai pemimpin.
Karena arah tembakan sudah diketahui, para bandit mulai bergerak menuju ke sana.
Jika tidak segera berpindah, mereka bisa terkepung.
Oscar, Suna, dan Scorti cepat-cepat bergerak dan bergabung dengan pasangan kepala desa, Shulast dan istrinya, di pusat desa.
Saat itu, suara benturan pedang dan teriakan kematian sudah menggema di berbagai penjuru desa.
Dari titik pertemuan, mereka melihat ke arah utara, di mana pandai besi Rasan tengah bertarung melawan tiga bandit sekaligus.
Suna segera memasang panah dan, tanpa ragu sedikit pun, melepaskannya.
Panah itu menembus dada salah seorang bandit.
Bandit lain yang kaget langsung ditebas lehernya oleh Rasan dengan pedang.
Satu orang terakhir ketakutan dan berlari terbirit-birit melarikan diri.
Rasan bergabung, kini jumlah mereka menjadi enam orang.
Kepala desa dan istrinya, juga Scorti dan Oscar, masing-masing diberi tombak dari persediaan di rumah kepala desa.
Tombak memang menyulitkan bila melawan ahli pedang kelas tinggi karena mudah dijangkau, tapi melawan bandit biasa, keunggulan jarak justru membuat hati penggunanya lebih mantap.
Terlebih lagi, bila digunakan dalam kelompok, kekuatannya berlipat ganda. Dalam pertempuran jarak dekat melawan bandit, tombak dinilai sangat efektif.
Sejujurnya, Oscar lebih ingin menggunakan pedang barunya. Namun dia tahu, ini bukan saatnya bersikap keras kepala.
“Apa suara pertempuran hanya terdengar dari arah barat...?” gumam kepala desa Shulast.
“Mungkin para bandit sudah berkumpul di sana. Shu, bisa aku titipkan tempat ini padamu? Aku dan Rasan akan pergi. Ada Bassa di sana. Aku yakin mereka masih bertahan sampai kami tiba.”
“Oke. Hati-hati dalam perjalanan.”
Suna dan Shulast saling bertukar anggukan.
Lalu Suna menoleh pada Oscar.
“Oscar, jagalah ibumu dan yang lain.”
“Baik.” Oscar mengangguk tegas.
“Scorti, aku pergi.”
“Ya, hati-hati.”
Hanya itu, dan Scorti sudah mengerti segalanya dari raut wajah suaminya.
Namun, tak seorang pun dari mereka menyadari tatapan yang mengintai dari kegelapan.
Tak sampai satu menit setelah Suna dan Rasan berpisah, sebuah panah kuat melesat menyerang kelompok empat orang yang tersisa.
“Guh!”
Panah itu menancap cepat dan kuat, menghantam tepat di tubuh kepala desa Shulast.
Dia terbatuk darah dari mulutnya lalu roboh ke tanah.
“Kyyaaaaaaa!”
Istrinya menjerit histeris.
Pemandangan mendadak itu membuat bukan hanya Oscar, bahkan Scorti pun terpaku tak mampu bergerak.
Dari balik bayangan, seseorang muncul. Dia telah membuang busurnya dan kini menggenggam pedang raksasa.
Tinggi badannya sekitar 190 sentimeter, dengan berat mungkin mencapai 90 kilo.
Tubuhnya seluruhnya berotot.
Hanya otot, julukan yang cocok untuknya.
Wajahnya menampilkan kebengisan yang membuat siapa pun merasa tidak nyaman, namun yang paling mencolok adalah bekas luka besar di pipi kanannya.
Luka sayatan pedang itu tampak jelas, membentang dari bawah telinga hingga rahang.
Di dunia ini, di mana ada sihir penyembuhan dan ramuan penyembuh, bekas luka sebesar itu sangat jarang terlihat. Memang, pemulihan organ dalam bisa sulit dilakukan dengan ramuan tingkat rendah. Namun, setidaknya luka kulit seharusnya bisa disembuhkan oleh ramuan mana pun.
Namun jika luka dibiarkan menutup dan waktu berlalu, baik sihir maupun ramuan tak lagi dapat memperbaikinya.
Itu berarti, pria ini pernah bertarung dalam keadaan tanpa sihir atau ramuan penyembuh, dan bertahan hidup... Dengan kata lain, dia adalah seorang pejuang sejati, yang pernah melewati neraka.
“Masih ada satu pria yang tersisa rupanya. Kalau begitu, kalau kubunuh dia lebih dulu, semuanya selesai. Keberuntungan berpihak padaku malam ini.”
Begitu ucap pria dengan bekas luka itu, lalu dia berlari secepat kilat ke arah tiga orang yang tersisa.
Scorti, yang sempat membeku, tersadar kembali karena kata-katanya.
Dia segera menodongkan tombaknya ke arah pria itu.
Dalam jarak tempur melawan bandit, tombak seharusnya menjadi senjata unggul. Namun, pria itu berbeda.
Begitu ujung tombak menusuk ke arahnya, dia mengayunkan pedangnya, membelokkan jalurnya, dan langsung menerobos masuk ke dalam jangkauan.
Dengan sekali tebas, dia mengiris arteri di leher Scorti.
Di bawah cahaya bulan, darah menyembur deras.
Pria dengan bekas luka itu membiarkan tubuhnya mandi dalam semburan darah, sambil menyeringai bengkok.
Pemandangan itu... Begitu mengerikan, begitu jahat.
Dia merentangkan tangannya, seakan menikmati pancuran darah sebagai hujan yang memberkatinya.
Melihat semua itu, tubuh Oscar membeku, pikiran dan geraknya mati seketika.
Entah itu hanya beberapa detik, atau satu menit penuh, dia tidak tahu lagi.
Tiba-tiba Oscar tersadar kembali.
Ibunya terbunuh... Akhirnya otaknya menerima kenyataan itu.
Pada saat itulah, sesuatu dalam dirinya pecah.
“Menyala!”
Dari tangannya, semburan api meledak.
Selama ini, paling jauh dia hanya bisa menyalakan api perapian, namun seolah penghalang dalam kepalanya runtuh, nyala yang muncul kali ini jelas begitu kuat.
Dari jarak tak sampai 5 meter, sihir api yang menggelegar menghantam musuh.
Namun...
Pria dengan bekas luka itu, yang masih berlumuran darah dan tersenyum mabuk kenikmatan, menepis api itu dengan ayunan pedangnya, tanpa mengubah ekspresi di wajahnya.
Tapi Oscar tidak berhenti.
Dia melemparkan tombak yang digenggamnya. Lagi-lagi pedang musuh berkilat, membelokkan senjata yang meluncur itu.
Pada saat yang sama, Oscar sudah menerobos masuk dengan pedang terhunus di tangan.
Sabetan menyilang!
Klang!
“Eh...?”
Pedangnya, yang sempat menancap ke sisi tubuh musuh, terpental mentah-mentah oleh rantai zirah yang tersembunyi di balik pakaiannya.
“Sayang sekali, bocah. Pedangmu memang bagus, tapi lenganmu belum pantas memegangnya.”
Dengan nada mengejek, pria itu mengayunkan pedangnya perlahan.
Oscar melompat mundur, berhasil menghindar, tapi ujung pedang itu tetap menyayat sedikit pundaknya.
Gerakan lamban itu memang disengaja, untuk membuat Oscar berpikir dia bisa menghindar.
Dia lengah.
Di hadapannya hanya ada seorang anak kecil dengan pedang bagus namun tangan lemah.
Seorang perempuan yang meratap karena kekasihnya tewas tertembak panah.
Bagi pria itu, tak ada alasan untuk waspada.
Namun ini adalah medan perang.
Musuh tak selalu hanya yang ada di depan mata.
Tubuhnya berbalik tiba-tiba, digerakkan hanya oleh naluri.
Dum.
Dia merasakan hawa membunuh dari belakang, dan meski mencoba menghindar, pedang yang ditebaskan tetap membelah rantai zirahnya.
“Ugh!”
Pengalaman itu mengejutkannya.
Benar, rantai zirah bisa ditembus pedang. Namun itu hanya teori belaka, bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh kesatria kelas menengah.
Bahwa hal itu benar-benar terjadi di desa pinggiran ini, di luar semua dugaan pria itu.
Dan di hadapannya berdiri Suna, dengan wajah garang bak iblis.
Di tangannya, pedang besar yang dipegang dengan kedua tangan, sebuah mahakarya.
Pedang Oscar memang luar biasa, tapi milik Suna tak kalah hebat.
Bukan pedang suci, bukan pula pedang sihir, melainkan karya murni seorang pandai besi ulung.
Menghadapi pedang semacam itu, ditambah amarah membara seorang suami yang istrinya baru saja dibunuh, jelas bukan perkara ringan. Namun pria dengan bekas luka itu itu, tanpa ragu sedikit pun, menerjang Suna.
Oscar bahkan tak lagi dipandangnya.
Dalam hal teknik pedang, pria itu jauh lebih unggul.
Namun tekad mereka berbeda.
Suna bertarung dengan hidupnya, menuntut balas untuk istrinya. Sedangkan pria itu hanya bertarung demi kesenangan membunuh. Mereka berdua siap dengan niat masing-masing.
Tekanan dan amarah Suna mulai menekan pria itu.
Pria itu sadar akan sesuatu.
Setelah beberapa benturan besar, dia mundur selangkah jauh untuk memperlebar jarak.
Saat itulah, empat anak panah menghujani Suna.
Satu berhasil dihindari, satu ditebas pedangnya, tapi dua sisanya menancapnya.
Satu di lengan kanan, satu lagi di kaki kanan.
Kesempatan emas itu tentu tidak dilewatkan.
Hanya sekejap Suna terhenti, namun cukup bagi pria dengan bekas luka itu untuk menerobos masuk. Dengan sekali tebas, lengan kanan Suna terpotong, dan pedang yang sama langsung menusuk dadanya.
“Guh!”
Darah memancar dari mulut Suna.
Oscar hanya bisa menatapnya.
Dia tak bisa bergerak.
Dia tak bisa bersuara.
...Dia tak bisa melakukan apa pun.
Pria itu memungut lengan Suna yang tertebas, merampas pedang yang masih tergenggam di dalamnya, lalu menatapnya dengan puas.
Suara keras memotong suasana.
“Boscona, mundur sekarang.”
“Hah? Posch, terlalu cepat, bukan?”
“Cepat! Mereka akan segera datang.”
“Cih.”
Pria itu—Boscona—mengklik lidahnya dengan kesal, lalu menatap sekilas Oscar, bocah berambut merah menyala yang berdiri terpaku, dan berbalik pergi.
Gerombolan bandit Serigala Malam Kelam meninggalkan Desa Fost.
Mereka telah merenggut terlalu banyak dari desa itu, dan dari Oscar sendiri.
Namun... Malam terpanjang Desa Fost belumlah berakhir.
Tak lama, pandai besi Rasan berlari dan mendapati pemandangan itu.
Kepala desa Shulast tumbang oleh panah, istrinya menangis meraung di sisinya.
Suna dan Scorti tergeletak berlumuran darah, dan Oscar hanya berdiri menatap mereka dengan pandangan kosong.
Butuh waktu lama hingga Rasan benar-benar memahami apa yang dia lihat.
Dia jatuh berlutut, lalu terduduk dengan posisi bersila, tak lagi mampu berdiri.
Bandit-bandit itu telah pergi.
Mereka bahkan tidak sempat membawa kabur persediaan pangan desa.
Namun kehilangan yang tersisa terlalu besar untuk ditanggung.
Kepala desa Shulast adalah pusat dan otak desa itu.
Suna, ayah Oscar, adalah sahabat masa kecil Shulast, penopang jiwa desa, sekaligus pemburu terpenting.
Mereka berdua, bersama dengan pandai besi Rasan, adalah orang-orang pertama yang membangun desa ini dari awal.
Ketika masih tinggal di kota, Rasan kehilangan istri yang baru saja dinikahinya, dan dirinya terpuruk menjadi sekadar cangkang kosong. Saat itulah Shulast mengajaknya bergabung dalam mendirikan desa.
Shulast-lah yang menentukan lokasi desa, berpusat di tempat ditemukannya bijih besi.
Suna, dengan menyerahkan putra tunggalnya, Oscar, untuk menjadi murid Rasan, memberinya kembali harapan untuk hidup.
Bagi Rasan, desa ini, Shuulast, dan Suna—semuanya adalah hidupnya.
Dan kini, Shulast dan Suna terbujur kaku, tak bernyawa, tepat di hadapan matanya.
Saat benar-benar menyadari hal itu, dia tak mampu lagi berdiri. Kakinya lemas, tubuhnya jatuh terduduk. Dia berharap semua ini hanyalah kesalahan... Atau sekadar mimpi buruk.
Saat istrinya meninggal dulu, dia sempat yakin tidak akan pernah lagi merasakan kehilangan yang begitu besar.
Namun dia salah.
Kini dia diterjang kembali oleh kehilangan yang sama... Atau mungkin jauh lebih dahsyat.
Untuk waktu lama, Rasan tak bisa melepaskan pandangannya dari dua jasad itu.
Namun akhirnya, matanya bergeser ke samping.
Di sana berdiri Oscar, masih menggenggam pedang terhunus, terdiam tak bergerak, wajahnya kosong.
Rasan berpikir.
Dia menyadari sesuatu.
Bahwa tidak segalanya hilang. Masih ada Oscar. Dia harus melindunginya.
Desa ini memang telah kehilangan pemimpin dan penopang jiwanya. Lebih dari separuh penduduknya terbunuh dalam serangan ini.
Namun masih ada yang hidup. Masih ada yang tersisa.
Dia sendiri. Dan juga Oscar.
Selama masih hidup, mereka harus terus bertahan.
Itulah cara mereka memberi penghormatan bagi yang telah gugur.
Namun...
Dia terlambat menyadari langkah kaki yang menuruni bukit.
Saat mendongak, dia sudah bisa melihat dengan jelas apa yang datang.
“Kawanan Warwolf...”
Mereka adalah monster yang menyerupai serigala.
Namun mereka bukan serigala, mereka adalah monster sungguhan.
Seekor saja mungkin tak begitu kuat.
Jika dibandingkan dengan monster berbentuk babi hutan, Lesser Boar, kekuatan mereka bahkan lebih lemah.
Namun, ketika dalam kawanan, Warwolf menjadi momok yang mematikan.
Mereka bertarung bak pasukan terlatih, seolah mampu berkomunikasi tanpa kata dan tanpa isyarat, saling mendukung dengan sempurna untuk memastikan mangsa mereka jatuh. Dan mangsa itu, tentu saja termasuk manusia...
Sebelum menghadapi kawanan itu, Rasan tahu ada yang harus dia lakukan lebih dulu.
Dia bergegas ke depan Oscar yang masih berdiri bengong, lalu mengguncang bahunya.
“Oscar! Sadar, bangunlah!”
Dia mengguncangnya keras, berteriak penuh amarah.
Namun Oscar tak merespons.
Rasan pun mengangkat tangan kanannya dan menampar pipi Oscar sekuat tenaga.
“Guru...?”
Barulah Oscar tersadar.
“Oscar, dengar aku baik-baik. Karena bau darah, monster-monster itu datang. Kita harus lari.”
“Tidak ada gunanya lagi...”
“Tidak! Kamu tidak boleh mati di sini.”
“Ayah dan Ibu sudah tiada. Aku juga ingin mati...”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Oscar, untuk pertama kalinya.
Rasan merasakan sakitnya, dia paham betul perasaan itu.
Namun dia tidak boleh ikut larut.
“Oscar, kamu harus hidup.”
“Kenapa!?”
“Karena Suna dan Scorti ingin kamu tetap hidup!”
Itulah kata-kata yang dulu Suna ucapkan pada Rasan, ketika dia sendiri nyaris hancur setelah kematian istrinya.
“Guru tidak bisa tahu itu...”
“Aku tahu! Aku benar-benar tahu. Karena itu, kamu harus hidup, Oscar!”
Saat itu juga, jeritan kematian menggema dari arah lain desa.
Dan satu-satunya manusia di desa ini hanyalah para penduduknya sendiri... Artinya, itu adalah suara mereka yang sedang dibantai...
Lalu, tepat di hadapan Rasan dan Oscar...
Rasan mendorong Oscar ke belakang, lalu menebaskan pedangnya.
Satu ekor Warwolf terbelah.
Sekejap, semua mata kawanan itu tertuju pada Rasan.
Itu memang tujuan Rasan.
“Oscar, lari ke sungai! Serigala benci air!”
“Guru...”
“Pergilah!”
Dengan teriakan itu, Rasan menubruk Warwolf yang ada di depannya.
Melihatnya, Oscar pun berlari menuju sungai.
Desa Fost berdiri tepat di tepi sungai besar dengan aliran deras.
Jaraknya memang dekat, tapi... Jumlah Warwolf-nya terlalu banyak.
Begitu tiba di tepian, dua ekor langsung menerkamnya.
Oscar berhasil menangkis satu dengan pedangnya, tapi cakar yang lain sempat menggores punggungnya.
“Gyaa!”
Jeritan keluar dari mulutnya.
Saat bertarung dengan pria dengan bekas luka sebelumnya, dia tak sempat merasakan sakit karena adrenalinnya meluap. Namun kali ini berbeda. Rasa sakit itu membuat pandangannya berkunang-kunang.
Terlalu berat bagi seorang anak 6 tahun.
Namun Oscar tetap maju selangkah demi selangkah, mundur sambil menghadap dua Warwolf yang mengepungnya, mendekati sungai sedikit demi sedikit.
Tinggal beberapa langkah lagi...
Seketika, kedua Warwolf itu melompat bersamaan, hendak mengoyaknya dari kiri dan kanan.
Oscar membuat keputusan. Dia mengorbankan lengan kirinya.
Dengan tangan kanan, dia menebas yang datang dari kanan.
Yang dari kiri dia biarkan menggigit lengannya.
Dengan tubuh tergenggam musuh, Oscar menerjunkan diri ke dalam sungai.
Dan saat itulah, dia tahu bahwa Warwolf tetaplah serigala, karena mereka terguncang oleh air... Namun Oscar masih tergigit.
Sesaat monster itu tertegun, dan dalam kesempatan singkat itu, Oscar menghujamkan pedangnya ke leher Warwolf.
Sesudah itu, kesadarannya hilang.
* * *
“Ada apa, Kohn?”
“Ayah, apa itu manusia di sana?”
Sambil mendorong gerobak barang, Kohn menunjuk ke arah tepi sungai.
“Benar juga... Kohn, cepat pergi ke kediaman, panggil Tuan Bellrock atau kepala desa yang pensiun. Aku akan turun ke tepi sungai.”
“Baik, Ayah.”
Jantung anak itu masih berdetak. Dia tak sadarkan diri, tapi napasnya masih ada—lemah, namun pasti.
Anak laki-laki itu tampak berumur 6 atau 7 tahun, dengan rambut merah menyala seperti kobaran api. Di pelukannya, dia memegang erat sebuah pedang, seolah itu satu-satunya hal berharga yang tersisa di dunia.
Ratato, ayah Kohn, segera menutupi tubuh anak itu dengan karung rami kosong yang dia bawa.
Pakaian anak itu basah kuyup, dan Ratato berpikir dia harus dijaga agar tetap hangat.
Tak lama kemudian, Kohn kembali berlari sambil membawa Bellrock, sang kepala pelayan rumah bangsawan.
“Bagaimana keadaannya, Ratato?”
“Jantungnya masih berdetak. Dia juga masih bernapas, meski hanya sedikit,” jawab Ratato pada Bellrock.
Itulah satu-satunya hal yang bisa dia pastikan, karena dia tak punya pengetahuan medis apa pun.
Namun bagi Bellrock, itu sudah cukup.
“Baik, kalau dia masih hidup, kita bisa menyelamatkannya. Cepat, bawa dia ke kediaman.”
Dan demikianlah, Oscar memulai perjalanan menuju kehidupan keduanya.
Tuan Purnabakti
Oscar membuka matanya.
Langit-langit yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sebuah ruangan yang asing. Dan juga, kasur yang belum pernah dia lihat?
Oscar bahkan tidak tahu apa itu “kasur”.
Dia lahir dan tumbuh di Desa Fost, dan karena usianya baru 6 tahun, belum pernah sekalipun diajak ke kota untuk berbelanja. Jadi wajar saja bila dia tak mengenalnya.
Namun, rasanya sangat nyaman. Karena itu, dia kembali terlelap.
Ketika Oscar terbangun untuk kedua kalinya, dia segera merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.
Masih berbaring di ranjang, dia hanya memiringkan kepala ke arah sumber suara.
“Oh, kamu sudah sadar rupanya.”
Yang berbicara adalah seorang lelaki tua dengan rambut dan janggut putih lebat, mata yang lembut, dan wajah penuh kebijaksanaan.
“U-Umm...”
Oscar berusaha membuka mulut, tapi tak tahu harus berkata apa. Kata-katanya pun terhenti di tenggorokan.
Melihat itu, lelaki tua tersebut tersenyum ramah dan berkata, “Tempat ini adalah Desa Shuke, yang terletak tak jauh dari Kota Matthew. Kamu ditemukan terdampar di tepi sungai oleh penduduk desa. Sekarang kamu berada di tempat yang aman.”
Mendengar penjelasan itu, Oscar tidak menunjukkan reaksi apa pun pada awalnya... Namun lima detik kemudian, air mata mulai menetes perlahan dari kedua matanya.
Selama itu, sang lelaki tua tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya membiarkan Oscar menangis sesukanya.
Setelah tangisnya mereda, Oscar menundukkan kepala.
“Terima kasih telah menyelamatkan saya.”
“Hmm. Tak perlu kamu pikirkan,” jawab sang kakek, tersenyum lembut.
Saat itu, terdengar ketukan di pintu. Seorang pria berusia sekitar 50-an masuk ke dalam ruangan.
Rambutnya mulai beruban, namun janggutnya tercukur rapi. Dari ujung kepala hingga kaki, dia tampak bersih dan terawat.
“Tuan, makan malam sudah siap. Untuk sementara sudah saya siapkan di ruang makan, tapi apa perlu saya bawa ke sini?”
“Hmm... Anak muda, ah, belum kutanyakan namamu ya. Aku Luke Roschko. Sekarang aku sudah pensiun, jadi mereka memanggilku Tuan Purnabakti. Dan yang barusan masuk itu adalah Bellrock, orang kepercayaanku yang mengurus segala kebutuhanku.”
“Ah, saya Oscar, dari Desa Fost.”
Oscar menunduk sopan sebisanya.
Dia memberi salam dengan cara yang diajarkan oleh Kepala Desa Shulast, yang selalu berkata, “Kamu tidak akan tahu kapan hal itu berguna nanti.”
“Wah, kamu bisa memberi salam dengan baik. Hebat sekali. Desa Fost, ya... Kalau tidak salah itu salah satu desa baru di wilayah tetangga, di bawah kekuasaan Bangsawan Hunt, bukan?”
“Ya. Karena jauh dari kota, kami hidup dengan cara mandiri. Tapi saya pernah mendengar kalau kadang ada pedagang yang datang menjual perkakas pandai besi yang bagus.”
Sang Tuan Purnabakti berkata sambil mengingat-ingat, dan Bellrock menambahkan penjelasan itu.
“Begitu. Jadi ini pedang yang kamu peluk erat saat ditemukan itu, ya.”
Ucap Tuan Purnabakti sambil memandang pedang yang bersandar di sisi ranjang Oscar.
“Ah...”
Barulah saat itu Oscar menyadarinya. Bahwa pedangnya ada di sana.
Dan air matanya kembali mengalir.
“Itu pedang yang ditempa oleh guruku...”
Hanya beberapa tetes air mata yang jatuh kali ini.
Gurunya, sang pandai besi Rasan, telah berkata kepadanya untuk hidup.
Menangis bukanlah tanda hidup, hanya tanda bahwa seseorang belum mati.
Mengingat hal itu, Oscar mengusap air matanya.
“Hm. Sepertinya banyak hal yang telah kamu lalui, tapi itu bisa kita bicarakan nanti. Bagaimana, mau makan dulu? Apa pun yang terjadi, kamu harus isi perutmu dulu.”
“Saya juga boleh makan?”
“Tentu saja. Kita makan bertiga.”
“Baik.”
Hidangan di hadapannya adalah makanan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Bukan berarti makanan di desanya buruk atau membosankan. Dia hanya tidak tahu ada rasa lain di dunia ini, karena sejak lahir, hanya itulah makanan yang dia kenal.
Hari ini adalah pertama kalinya dia mencicipi makanan dari luar desa.
Dan rasanya luar biasa lezat...
Oscar makan dengan penuh semangat.
Dia tak tahu sudah berapa hari tidak makan, tapi perutnya terasa kosong sekali. Dia makan banyak—lebih dari yang pernah dia bayangkan. Sebagian besar makanan itu telah disiapkan oleh Bellrock agar mudah dicerna, sesuatu yang belum terpikirkan oleh Oscar sama sekali.
Setelah makan.
Oscar duduk bersama Tuan Purnabakti di ruang tamu, di atas sofa empuk. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia meminum sesuatu yang disebut kopi.
Tegukan pertama terasa pahit.
Melihat ekspresinya, Tuan Purnabakti menyodorkan bubuk putih.
Oscar menjilat sedikit, dan dia terkejut rasanya manis sekali!
“Itu namanya gula. Dihasilkan dari tanaman bit. Konon, dulu ada seorang raja dari negeri jauh yang memperkenalkannya ke dunia.”
Ketika dia menambahkan cukup banyak gula ke dalam kopinya, rasanya menjadi jauh lebih enak.
Oscar meminumnya dengan wajah bahagia.
“Sekarang, Oscar.”
“Ya, Tuan,” jawab Oscar patuh pada panggilan itu.
“Apa kamu punya tempat tujuan?”
“Eh?”
“Entahlah, aku hanya bertanya saja... Tapi jika kamu tidak punya tempat untuk pergi, bagaimana kalau tinggal di sini?”
Nada suara sang Tuan Purnabakti lembut, tanpa paksaan. Dia tahu, jika anak itu punya tempat yang ingin dia tuju, maka dia akan mengizinkannya. Tapi dalam hati, dia sudah bisa menebak, keluarga Oscar mungkin sudah tiada.
Oscar terdiam selama sepuluh detik penuh, lalu menjawab, “Anda menduga bahwa ayah dan ibu saya sudah meninggal, bukan?”
“Ah...”
“Tidak apa-apa. Anda benar.”
Ketika sang Tuan Purnabakti hendak membantah dengan gugup, Oscar menggeleng dan mengakui kebenarannya.
“Saya melihat Ayah dan Ibu di depan saya...”
“Ketika kamu ditemukan, tubuhmu penuh luka. Beberapa bekas cakar dan gigitan itu dari Warwolf... Tapi luka di bahumu, itu bekas tebasan pedang...”
Sang Tuan Purnabakti sempat ragu untuk mengatakannya, tapi dia tahu—anak ini bukan sekadar anak kecil. Dia telah melalui sesuatu yang berat, dan harus diperlakukan bukan sebagai bocah biasa.
“Luka di bahu ini, dari orang yang membunuh Ayah dan Ibu...”
Kata-kata Oscar berhenti di situ.
Dia menunduk, tapi tak ada air mata lagi.
Karena dia telah memutuskan untuk hidup. Dan menangis bukanlah hidup.
Jadi dia tidak akan menangis lagi, pikirnya.
“Tuan. Saya tidak punya tempat lain untuk pergi. Tolong biarkan saya tinggal di rumah ini. Saya bisa bekerja. Saya belajar pandai besi dari guru saya. Memang, saya belum bisa menempanya dengan sempurna, tapi saya bisa mengasahnya. Dan saya juga bisa menyalakan api di tungku.”
“Menyalakan api di tungku? Jangan-jangan, Oscar, kamu pengguna sihir atribut api?”
“Atribut api? Penyihir? Saya kurang paham maksudnya...”
“Oh begitu. Bisa kamu nyalakan perapian di sana?”
Sang Tuan Purnabakti menunjuk ke perapian di samping.
Pada saat yang sama, Bellrock masuk ke ruangan dengan membawa kayu bakar dan meletakkannya di dalam perapian.
Oscar mengangkat tangannya dan berkata, “Menyala.”
Sekejap, api kecil muncul dari telapak tangannya, melompat ke kayu bakar, dan berkobar terang.
“Ohh...”
“Luar biasa...”
Baik Bellrock maupun sang Tuan Purnabakti sama-sama terpana.
“Tanpa mantra...”
“Seperti yang kuduga.”
“Seperti yang Anda duga?”
Bellrock terkejut dengan sihir tanpa mantra, dan Tuan Purnabakti membalas dengan anggukan, sehingga Oscar sedikit memiringkan kepalanya.
“Ketika pertama kali melihat rambutmu, aku langsung teringat pada Legenda Rambut Merah.”
“Legenda Rambut Merah?”
“Rambut merah menyala, tanda kasih Sang Dewa Api,” ucap Tuan Purnabakti dengan nada seperti melantunkan puisi.
“Konon, mereka yang terlahir dengan rambut merah menyala adalah anak-anak yang diberkahi oleh Dewa Api. Itu legenda kuno sekali, bahkan kuil pun mungkin sudah lupa akan kisah itu.”
Dia terdiam sejenak, tampak berpikir, lalu tersenyum.
“Baiklah, sudah kuputuskan. Bellrock, mulai hari ini Oscar akan tinggal di rumah ini. Oscar, kalau kamu tinggal di sini, kamu harus belajar dasar-dasar ilmu pengetahuan. Mulai besok pagi, setiap hari kamu akan belajar membaca, menulis, dan berhitung.”
“Eh...”
Bagi Oscar, yang lahir dan besar di desa terpencil, itulah awal dari sesuatu yang benar-benar baru, hari pertamanya “belajar”.
Pelajaran dasar membaca, menulis, dan berhitung diajarkan oleh Bellrock.
Sementara itu, sejarah negara-negara di wilayah tengah, kondisi politik antarnegara, serta geografi diajarkan langsung oleh Tuan Purnabakti.
Pagi hari diisi dengan pelajaran teori semacam itu, dan pada sore hari Bellrock menjadi pengajar untuk pelatihan menggunakan pedang. Itu semua atas keinginan Oscar sendiri.
“Aku ingin menjadi kuat,” katanya.
Oscar memiliki seorang teman yang belajar bersamanya.
Anak itu adalah Kohn, bocah yang menemukan Oscar terdampar di tepi sungai tempo hari.
Tuan Purnabakti-lah yang mengatur agar Kohn ikut belajar, dengan pertimbangan bahwa akan lebih baik jika Oscar memiliki teman sebaya untuk belajar bersama.
Ayah Kohn, Ratato, adalah seorang pedagang yang memiliki toko di Desa Shuke, tempat rumah besar itu berdiri.
Kohn adalah anak keempat dari keluarga itu, dan tugasnya adalah mengantarkan barang-barang pesanan dari toko ayahnya ke rumah besar.
Sehari-hari, Kohn sering berkata, “Kalau aku besar nanti, aku akan menjadi petualang.” Dan ayahnya, Ratato, menyetujui niat itu.
Sebagai anak keempat, Kohn tidak mungkin mewarisi toko keluarga, apalagi membuka cabang baru di bawah nama keluarganya.
Tuan Purnabakti menilai bahwa Kohn adalah anak yang cerdas dan cepat tanggap, sehingga memiliki potensi besar di masa depan.
Karena itu, beliau sendiri yang mendatangi Ratato dan mengajukan tawaran.
“Maukah kamu membiarkan Kohn bekerja sebagai teman belajar untuk Oscar?”
Jika Kohn benar-benar ingin menjadi petualang kelak, maka kemampuan membaca, menulis, dan berhitung tentu akan sangat berguna. Lagipula, bila kelak dia naik peringkat dan berinteraksi dengan kaum bangsawan, kemampuan itu akan menjadi bekal yang berharga.
Selain itu, dia bisa berlatih pedang juga.
Dan karena ini dianggap sebagai “pekerjaan”, dia pun akan menerima bayaran...
Bagi Ratato maupun Kohn, tidak ada alasan untuk menolak.
Sebaliknya, tawaran itu begitu baik hingga Ratato sendiri merasa sungkan menerimanya.
Kohn, di sisi lain, begitu bersemangat hingga dia berteriak, “Ini dia, waktuku telah tiba!”
Kemudian, tentu saja, dia mendapat bogem mentah dari ayahnya—itu rahasia kecil antara mereka.
Saat itu Kohn berusia 12 tahun.
Dia belajar dengan sungguh-sungguh.
Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia menekuni pelajaran dengan sepenuh hati.
Bahkan sepulang ke rumah pun, dia selalu mengulang kembali pelajaran hari itu.
Di antara anak-anak seusianya, tak diragukan lagi, Kohn adalah yang paling rajin dan berbakat.
Namun... Dia tetap tidak bisa melampaui Oscar yang baru berumur 6 tahun.
Sederhananya, Oscar adalah anak yang jenius dalam segala hal.
Begitu diajarkan membaca, menulis, dan berhitung satu kali saja, semuanya langsung dia kuasai. Sejarah negara-negara tengah, kondisi negara-negara lain, geografi—semua diserapnya seolah tanah kering yang meneguk air hujan.
Bahkan Tuan Purnabakti yang mengajarnya pun sampai tercengang.
Sebelum pensiun, beliau telah melihat banyak murid jenius dan berbakat, namun dia sadar: kemampuan Oscar tidak kalah dari siapa pun di antara mereka.
Kohn, tentu saja, tampak malang di perbandingan itu.
Namun dia tetap belajar dengan tekun, tanpa iri dan tanpa menyerah.
Bahwa Oscar adalah seorang jenius bukanlah alasan baginya untuk berhenti melangkah.
Kohn telah memutuskan menjadi petualang, dan untuk itu, dia harus menyerap sebanyak mungkin ilmu di tempat ini.
Karena itu dia terus belajar dengan sungguh-sungguh. Hanya itu saja.
Tak ada yang lebih kuat daripada seseorang yang memiliki tujuan dan tidak goyah di jalan yang dia pilih.
Oscar pun, mungkin, merasakan sesuatu dari keteguhan hati Kohn itu.
Anak yang awalnya nyaris tidak mau berinteraksi, kini—6 bulan kemudian—telah menjadi sahabat karibnya.
Sore hari diisi dengan latihan pedang, tetapi dua hari dalam seminggu adalah waktu bebas.
Biasanya, Oscar menggunakan waktu itu untuk berlatih sihir api, sementara Kohn mengulang pelajaran.
Namun belakangan, Kohn mulai menyadari bahwa Oscar sering menghilang dari kediaman pada waktu-waktu itu.
Dan hari ini, akhirnya dia menemukannya.
Oscar sedang mengasah pisau di bekas bengkel pandai besi yang berdiri di sebelah kediaman, meski jaraknya sekitar 500 meter.
“Oscar, kamu lagi ngapain?”
“Kohn? Seperti yang kamu lihat, aku sedang mengasah pisau milik rumah.”
“O-Oh...”
Oscar tengah mengasah sebilah pisau dapur dengan batu asah berukuran kecil di tangannya.
Padahal di bengkel itu juga ada batu asah besar yang bisa berputar, namun tampaknya sudah tidak terawat sehingga tak bisa berputar mulus.
“Bukanya bengkel ini dulunya milik Kakek Basan? Orang tua yang meninggal tahun lalu itu.”
“Sepertinya begitu. Katanya tidak ada yang mewarisinya, jadi sekarang menjadi bengkel bersama milik desa. Tuan mengizinkanku menggunakannya, jadi aku ke sini untuk mengasah. Batu asahnya lengkap, dari yang kasar sampai halus, jadi sangat nyaman digunakan.”
Sambil berkata demikian, Oscar memperlihatkan pisau yang baru saja selesai diasahnya kepada Kohn.
“Wah, kinclong banget... Oscar, kamu hebat juga!”
“Guruku dulu yang mengajarkan cara mengasah seperti ini,” kata Oscar, dengan sedikit senyum bernuansa rindu. Lalu dia mengambil pisau kedua untuk diasah.
“Oscar, kamu bisa menempa juga?” tanya Kohn dengan hati-hati.
“Tidak... Aku hanya sering melihat guruku melakukannya, itu saja... Kenapa?”
“Ah, tadi aku cuma kepikiran. Setelah kakek itu meninggal, tak ada satu pun di desa yang bisa menempa besi lagi. Karena itu bengkelnya dijadikan milik bersama. Kalau butuh sesuatu, kami harus pergi ke Kota Matthew, setengah hari perjalanan dari sini. Tapi ya, katanya rasanya tetap beda. Sejak kakek pandai besi meninggal, tak ada yang bisa mengasah sebagus dia... Semua orang dulu bergantung padanya.”
“Begitu, ya...”
Oscar memang sering merasa heran.
Kenapa Bellrock, yang bisa melakukan hampir segala hal, justru buruk dalam mengasah pisau.
Setelah mendengar penjelasan Kohn, semuanya menjadi masuk akal.
Ternyata urusan pandai besi dan pengasahan di desa ini dulu sepenuhnya diurus oleh Kakek Basan itu.
“Kalau begitu... Kalau Tuan mengizinkan, aku ingin mulai berlatih pandai besi sedikit demi sedikit.”
“Oh! Aku dukung itu!”
Kohn bersorak senang. Dan Oscar pun, di lubuk hatinya, merasa gembira karena dipercaya.
Setiap manusia senang ketika dibutuhkan.
Meski, tentu saja, terlalu banyak harapan juga bisa melelahkan... Namun Oscar belum pernah merasakannya.
Selain mengunjungi bengkel itu, Oscar biasanya menghabiskan sore tanpa latihan pedang dengan berlatih sihir.
Bellrock sendiri mampu menggunakan sihir atribut tanah, tapi dia tetap membutuhkan mantra untuk mengaktifkannya.
Sedangkan Tuan Purnabakti sama sekali tidak bisa menggunakan sihir.
Karena itu, seorang guru sihir pribadi dipanggil ke kediaman.
Faktanya, ketika guru itu tidak bisa datang, Oscar biasanya memanfaatkan waktu itu untuk pergi ke bengkel.
Nama guru itu adalah Asser, seorang penyihir yang tinggal di Kota Matthew.
“Guru Asser, mohon bimbingannya hari ini.”
“Baiklah, Oscar. Mari kita berlatih sungguh-sungguh hari ini.”
Asser adalah pria berusia sekitar 50 tahun dengan watak ceria.
Kohn, yang sebelumnya mengira semua penyihir pasti muram dan menyeramkan, sangat terkejut melihat betapa ramahnya Asser.
“Baik, kita mulai dengan latihan ulang. Coba bentangkan penghalangmu.”
“Siap.”
Oscar menjawab tegas, lalu memunculkan dua lapisan pelindung sekaligus—penghalang sihir dan penghalang fisik—di hadapannya.
Asser menepuk permukaannya dengan kepalan tangan, lalu menembakkan sihir api kecil untuk menguji kekuatannya.
“Ya, bagus sekali. Sepertinya kamu benar-benar berlatih setiap hari. Lebih kuat dari sebelumnya. Hebat sekali.”
Asser memujinya dengan senyum puas.
Oscar merasa senang, sangat senang.
Ketika masih tinggal di desa, kemampuan sihirnya tak lebih berguna dari sekadar menyalakan api di tungku.
Terutama sihir atribut api, sihir itu hampir tak ada gunanya untuk berburu. Sebab, jika digunakan dengan ceroboh, mangsa akan hangus seluruhnya. Padahal, tujuan berburu adalah mendapatkan daging dan kulit; bila semuanya menjadi abu, maka hasilnya nihil.
Karena itulah, selama di desa, Oscar lebih giat mengasah kemampuan memanah daripada berlatih sihir.
Namun di tempat ini, keadaannya berbeda.
Memang, sihir “api” masih agak sulit dikendalikan, tetapi sihir “tanpa atribut” tidaklah demikian.
Di desa dulu, tak ada seorang pun yang benar-benar mengajarkan sihir kepadanya. Tak seorang pun memiliki pengetahuan yang cukup tentangnya.
Karena itu, Oscar bahkan tidak tahu mengenai sihir penghalang tanpa atribut, mantra dasar yang biasanya pertama kali diajarkan kepada para penyihir pemula.
Begitu mengetahui hal itu, Asser segera mengajarkan dua jenis penghalang kepadanya: penghalang fisik untuk menahan serangan nyata, dan penghalang sihir untuk menahan serangan magis.
“Penghalang adalah semacam perisai,” jelas Asser. “Bersama dengan pedang sihir penyerang, penghalang ini akan melindungi hidupmu dan teman-temanmu. Karena itu, berlatihlah setiap hari.”
Asser sendiri adalah penyihir atribut api, dan seperti para penyihir lain di negeri-negeri tengah, dia menggunakan mantra untuk membangkitkan sihir.
Oleh sebab itu, meski dia sudah mendengar desas-desus sebelumnya, dia tetap terkejut setengah mati ketika menyaksikan Oscar menciptakan sihir tanpa mengucapkan mantra sedikit pun.
Dia benar-benar bersyukur atas pertemuan ini.
Setelah mendengar penjelasan Oscar tentang bagaimana dia membentuk sihir, melihat langsung bagaimana dia mengatur kekuatan dan bentuknya, Asser pun yakin...
“Anak ini membentuk sihir dari bayangan yang dia ciptakan di dalam hatinya.”
Asser mencoba menirunya sendiri, namun gagal total. Meski itu membuatnya sedikit kecewa, dia juga memahami satu hal. Kekuatan sihir Oscar bisa ditingkatkan dengan mudah.
Dia menunjukkan hasil sihir yang telah dia ciptakan sempurna.
Kemudian menyuruh Oscar membayangkan bentuk yang sama di dalam pikirannya.
Tanpa mantra.
Dan benar saja, hanya dalam waktu singkat, Oscar berhasil menciptakan kedua penghalang itu dengan sempurna.
Atribu api, tanpa atribut, semuanya tak lagi menjadi batasan baginya.
Lebih dari itu, semakin sering dia mengulang proses penciptaan sihir yang sama, semakin cepat dan kuat pula hasilnya.
Mungkin, tak ada murid lain yang membuat proses mengajar semenyenangkan ini.
Asser merasa bahagia.
Selama hidupnya, Asser telah membimbing banyak penyihir.
Sebelum pensiun, dia adalah kepala penyihir wilayah Matthew. Dari posisi itu, dia membina banyak murid dan bawahan, namun tidak satu pun dari mereka mampu membangkitkan sihir tanpa mantra.
Setiap penyihir memiliki keunikan, kelebihan dan kelemahannya masing-masing.
Dan Asser tahu, hasil pembelajaran akan meningkat pesat jika metode pengajaran disesuaikan dengan watak muridnya. Sebaliknya, jika tidak cocok, kemampuan mereka akan sulit berkembang.
Karena itulah, dia benar-benar memahami pentingnya peran seorang pengajar.
“Sihir atribut api memang lemah dalam pertahanan,” ujar Asser. “Api tidak bisa dijadikan keras atau padat. Karena itu, penting bagi penyihir api untuk memanfaatkan dua penghalang ini dengan baik. Dengan mantra, penghalang fisik cenderung lemah... Tapi sihirmu, Oscar, tidak punya kelemahan itu.”
“Baik, Guru.”
Sama seperti Tuan Purnabakti, Guru Asser juga tipe pengajar yang menumbuhkan kemampuan dengan pujian.
“Namun tetap saja, dunia ini sedang mengeluarkan bau mesiu,” gumam Tuan Purnabakti sambil menatap berkas-berkas di tangannya.
“Apakah Anda berbicara tentang wilayah tetangga, Hunt?” tanya Bellrock sambil menuangkan kopi untuknya.
“Ya. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa dalam waktu dekat... Tapi ika perluasan aliansi itu berlanjut, cepat atau lambat wilayah kita pun akan terseret juga.”
Tuan Purnabakti menggeleng pelan dan menghela napas kecil.
“Saat ini bukan waktunya untuk berperang.”
* * *
Empat tahun telah berlalu sejak Oscar datang ke kediaman.
Kini, di usianya yang 10 tahun, Oscar rutin pergi seminggu sekali ke kota tetangga, Matthew.
Kota Matthew adalah ibu kota wilayah Baron Roschko, tempat markas besar pasukan kesatria berada. Di sanalah Oscar berlatih seni pedang.
Dia berangkat dari rumah bangsawan setiap Selasa pagi dan tiba di Matthew menjelang siang. Setelah itu, dia langsung berlatih di lapangan latihan para kesatria, bermalam di barak, lalu berangkat pulang Rabu siang dan tiba di rumah menjelang sore.
Itulah jadwal rutinnya.
Tentu saja, demi latihan fisik, seluruh perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki.
Dan tentu saja, Kohn—sahabat sekaligus rekan latihannya yang kini berusia enam belas tahun—selalu menemaninya.
“Seperti biasa, Tuan Grone memang luar biasa kuat... Sampai sekarang pun aku belum bisa mendaratkan satu tebasan pun padanya.”
“Wajar saja. Beliau kan kapten pasukan kesatria. Bukan hanya Grone, semua anggota Zirah Merah itu memang hebat.”
Begitulah, dalam perjalanan pulang dari Matthew, Kohn dan Oscar selalu berbincang seperti itu.
Mereka kembali ke kediaman, menganalisis apa yang bisa mereka perbaiki, apa yang bisa dilakukan lebih baik saat latihan.
Mereka berjalan, berlatih, berjalan lagi, tanpa sadar stamina mereka terus terasah.
Empat tahun di kediaman telah mengubah mereka.
Oscar sudah lulus dari pelajaran membaca, menulis, dan berhitung yang diajarkan oleh Bellrock.
Pelajaran tata krama dan pengetahuan umum dari Tuan Purnabakti juga telah diselesaikannya tahun lalu.
Bahkan, dalam hal ilmu pedang, baik Oscar maupun Kohn kini telah melampaui gurunya, Bellrock. Karena itu, mereka mulai berlatih langsung di bawah bimbingan para kesatria di kota Matthew.
Namun hari itu, sesuatu yang ganjil menarik perhatian Kohn ketika mereka sudah hampir tiba di Desa Shuke.
“Hei, Oscar. Lihat asap itu, aneh bukan?”
Asap hitam pekat membumbung tinggi dari arah Desa Shuke.
Biasanya, di desa pertanian, asap sering terlihat karena pembakaran rumput kering. Namun, itu selalu berupa asap putih atau abu-abu muda.
Asap sehitam itu hanya muncul bila sesuatu yang lain—seperti rumah atau barang-barang—ikut terbakar...
“Kohn, cepat! Kita lari!”
Begitu berkata, Oscar langsung berlari.
Kohn pun segera menyusul.
Asap juga tampak naik dari arah kantor desa, tapi keduanya tak memedulikannya.
Tujuan mereka hanya satu, rumah kediaman.
Di depan gerbang rumah itu, pertempuran tengah berlangsung.
“Uoooh!”
Oscar berteriak keras sambil mendekat, dengan sengaja menarik perhatian para bandit.
Teriakan itu membuat para bandit sedikit ragu sejenak. Dalam jeda sesingkat itu, Bellrock menebas salah satu dari mereka.
Para bandit pun kehilangan keseimbangan.
Lalu semuanya berakhir dalam sekejap. Oscar menerobos ke tengah, menebas leher salah satu bandit yang mengepung Bellrock, lalu menusuk dada yang lainnya dalam satu gerakan.
Begitu melihat Oscar, Bellrock tampak lega dan jatuh tersungkur ke depan.
“Bellrock!”
Oscar segera berlari menghampiri.
Beberapa saat kemudian, Kohn yang tertinggal akhirnya tiba.
Luka Bellrock sangat dalam dan banyak.
Jelas, dia telah bertarung sengit sebelum mereka tiba.
Namun meski begitu, Bellrock masih sadar.
“Oscar... Tuan masih ada di dalam...”
“Aku mengerti. Aku akan pergi. Kohn, tolong jaga Bellrock.”
Oscar berkata demikian, lalu segera menerobos pintu rumah dan menaiki tangga ke lantai dua secepat mungkin.
Dari aula lantai dua, suara benturan pedang terdengar jelas.
Namun begitu dia tiba di sana...
Matanya menangkap pemandangan itu.
Saat pedang milik bandit itu menembus tubuh Tuan Purnabakti.
Sesaat, Oscar terpaku.
Dalam sekejap, seluruh pikirannya memutih.
Dia melihat tubuh sang Tuan perlahan roboh ke lantai... Dia benar-benar melihatnya.
Namun akal sehatnya telah lenyap.
“Keparat!!”
Oscar meraung, mencabut pedangnya, dan menerjang sang pembunuh.
Hanya ada satu orang musuh, tapi mungkin Oscar bahkan tak menyadarinya. Pikirannya berhenti bekerja, tubuhnya hanya bergerak mengikuti naluri.
Pikiran Oscar bergerak cepat walau kosong, pedangnya berkilat penuh.
Diia hanya bergerak seperti tubuhnya yang mengendalikannya, tanpa keraguan
Bandit itu tampak meremehkannya, mencoba menghindar dengan mencondongkan tubuh, tapi gagal total. Pedang Oscar membelah pipinya dalam-dalam.
Luka itu membuat si bandit murka.
“Bocah sialan!”
Dengan satu gerakan cepat, dia menangkis serangan Oscar dan membalas dengan tusukan yang menembus perut bagian samping.
“Gahh!!”
Darah memancar dari mulut Oscar; dia bisa merasakan organ dalamnya sobek.
Tak cukup sampai di situ, bandit itu mengayunkan pedangnya lagi, kali ini dari arah punggung dengan menebas miring.
Oscar yang sudah kehilangan keseimbangan tak mampu menahan diri dan jatuh tersungkur dalam genangan darahnya sendiri.
“Pedangmu bagus, tapi sayang, tanganmu belum pantas memegangnya.”
Bandit itu mengangkat pedangnya, hendak menghabisi Oscar.
Namun saat itu, suara dari pintu terdengar.
“Cepat, Boscona! Pasukan kesatria sudah datang! Kita harus kabur!”
“Kamu terlalu panik, Posch.”
Boscona... Posch...
Dalam kabut kesadarannya yang menipis, Oscar memaksa matanya tetap terbuka.
Dan saat itulah dia melihat wajah pria itu dengan jelas untuk pertama kalinya.
Luka panjang di pipi kanan, membentang dari telinga hingga ke dagu...
Dan di tangannya, pedang yang ditempa oleh gurunya, pedang milik ayahnya sendiri...
Tidak... Tidak mungkin...
Air mata jatuh perlahan dari sudut matanya.
Orang yang telah membunuh ayah dan ibunya kini juga membunuh Tuan Purnabakti.
Dan dirinya, bahkan tak mampu membalas. Dia kalah, dengan cara yang paling menyedihkan.
Air mata penyesalan.
Sesudahnya, kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan.
* * *
Nyawa Bellrock berhasil diselamatkan.
Ramuan penyembuh yang selalu dibawa Kohn atas perintah Tuan Purnabakti ketika pergi ke Kota Matthew kali ini sangat berguna.
Namun luka Oscar jauh lebih parah.
Begitu menerima sinyal asap dari serangan terhadap Desa Shuke, pasukan kesatria dari Matthew segera datang membantu.
Mereka membawa serta seorang pendeta, tapi sayangnya, pendeta itu tidak mampu menggunakan sihir penyembuhan tingkat tinggi, Extra Heal.
Atau lebih tepatnya, di seluruh daerah sekitar sini, tidak ada pendeta berpangkat tinggi yang bisa melakukannya.
Untuk sementara, luka dalam Oscar disembuhkan dengan berulang kali menggunakan Heal, namun karena terlalu banyak darah yang telah hilang, dia baru sadar tiga hari kemudian.
Karena alasan musim yang tidak memungkinkan untuk menunggu lebih lama, upacara pemakaman Tuan Purnabakti telah selesai dilaksanakan.
Nama asli Tuan Purnabakti adalah Baron Luke Roschko, mantan penguasa wilayah Matthew.
Istri penguasa Matthew yang sekarang adalah putri sulungnya.
Karena hubungan itu pula, upacara pemakaman tidak bisa ditunda hanya demi menunggu Oscar sadar... Bellrock menjelaskan hal itu dengan wajah penuh rasa bersalah, sementara Oscar hanya mendengarkan tanpa benar-benar mendengar.
Bellrock juga memberitahu bahwa sebelumnya Tuan Purnabakti sempat membicarakan kemungkinan wilayah Hunt menyewa bandit untuk menyerang dan menjarah negara-negara tetangga.
Dan besar kemungkinan, serangan kali ini adalah bagian dari rencana itu.
Semua kata-kata itu masuk ke telinga Oscar, namun tak ada satu pun yang menggugah reaksinya.
Sejak sadar, adegan saat kedua orang tuanya dibunuh mulai kembali menghantui pikirannya.
Pemandangan yang selama ini tidak pernah terlintas sekalipun sejak dia hanyut dan tiba di Desa Shuke.
Kini, setiap kali memejamkan mata, dia juga melihat kembali saat Tuan Purnabakti terbunuh di hadapannya.
Oscar mulai terlihat semakin kurus dan pucat, kehilangan semangat hidupnya... Dan yang paling mencolok, rambutnya berubah menjadi putih.
Rambut merah menyala yang dulu tampak seperti api, kini sepenuhnya memutih.
Tentu saja, orang-orang di sekitarnya sangat mengkhawatirkan keadaannya.
Bellrock, Guru Asser, juga Kohn.
Namun, tak ada satu pun kata mereka yang sampai ke hati Oscar.
Bukan karena dia berubah menjadi liar atau pemarah.
Bukan pula karena dia berhenti melakukan hal-hal yang biasa dia lakukan setiap hari.
Hanya saja... Dia tidak pernah tersenyum lagi.
Bahkan, seolah seluruh emosinya telah lenyap dari dirinya...
Sebulan setelah dia sadar, Oscar tiba-tiba menghilang dari kediaman.
Penduduk desa mencari ke mana-mana.
Pasukan kesatria di kota Matthew pun dikerahkan untuk mencarinya.
Semua orang di pasukan tahu betapa Tuan Purnabakti menyayangi Oscar, dan betapa rajinnya anak itu datang berlatih.
Namun, ke mana pun mereka mencari, tak ada satu pun jejak yang ditemukan.
Dua tahun kemudian, sebuah rumor mulai menyebar, tentang seorang penyihir beratribut api yang memburu para bandit di seluruh negeri.




Post a Comment