NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mizu Zokusei no Mahoutsukai V1 Part 1 Chapter 13

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 13

Leonore

Di kota Lung, ada dua perpustakaan besar, masing-masing di utara dan selatan.

Perpustakaan selatan, yang terletak cukup dekat dengan guild petualang, lebih banyak menyediakan buku untuk umum dan juga bagi para pemula. Karena sudah mendengar hal itu, Ryo memutuskan untuk pergi ke perpustakaan selatan terlebih dahulu. 

Di depan perpustakaan terbentang sebuah alun-alun besar, dan di sampingnya berdiri sebuah toko buku yang ukurannya cukup besar.

Karena perpustakaan di sini melarang peminjaman buku, jadilah muncul bisnis seperti ini. Orang mencari buku di perpustakaan, lalu membelinya di toko sebelah... Gaya dagang seperti ini tak akan pernah terpikirkan di Bumi. 

Ryo mengangguk dalam-dalam, terkesan. 

Perpustakaan selatan itu, dilihat dari luar saja, sudah terlihat sangat megah. Dibangun dengan batu kokoh, tingginya kira-kira setara dengan bangunan lima lantai. Pintu masuknya terbuat dari kayu berat, tingginya tiga kali lipat manusia biasa. Biaya masuk ke perpustakaan adalah dua ribu Florin. Selama tidak membuat masalah, ketika keluar nanti, seribu Florin akan dikembalikan. 

Bagian dalamnya... Begitu luas hingga membuat Ryo terperanjat. Luasnya mungkin setara dengan stadion kubah di Bumi. Dari pintu masuk, menuruni satu undakan, tampak ruang yang begitu lapang dipenuhi rak buku terbuka, jumlahnya begitu banyak sampai terasa sia-sia untuk dihitung. 

“Kalau begini... Sepertinya mustahil aku bisa mencarinya sendiri.” 

Dia kembali ke meja depan dan menanyakan letak buku-buku pengantar alkimia. 

“Silakan ikut saya.” 

Seorang wanita, tampaknya pustakawan, yang sedang bekerja di dekat meja, menawarkan diri untuk memandu. Rupanya letaknya cukup jauh dari meja utama. 

Mereka berjalan lebih dari lima menit sebelum akhirnya sampai. 

“Jika benar-benar pemula, saya sarankan membaca buku ini dan buku yang ini terlebih dahulu. Lalu, untuk resep tingkat dasar... Saya rasa yang ini cocok.” 

Sambil berkata demikian, pustakawan itu mengambilkan tiga buah buku untuk Ryo. 

Dasar-Dasar Alkimia.

Alkimia untuk Pemula.

Kumpulan Resep Pertama Alkimia.

Ketiganya ditulis oleh orang yang sama, Neil Andersen. 

Setelah mengucapkan terima kasih, Ryo membawa ketiga buku itu ke meja kosong. Meski disebut kosong, pengunjung perpustakaan sebenarnya tidak banyak. Bagaimanapun juga, seribu Florin bukanlah jumlah kecil bagi rakyat biasa.


Alkimia adalah seni membuat alat alkimia, yang digunakan untuk memunculkan fenomena sihir dengan memanfaatkan lingkaran sihir atau formula sihir.

Hal yang berlaku untuk semua alkimia adalah lingkaran sihir atau formula sihir mutlak diperlukan.

Tidak ada batasan mengenai bahan apa yang digunakan untuk menggambar lingkaran atau formula sihir.

Lingkaran sihir baru akan aktif setelah dialiri energi sihir. Pada saat itu, fenomena sihir yang tertera pada lingkaran akan terwujud, tanpa terikat pada atribut sihir yang dipakai.

Batu sihir memiliki kecocokan sangat baik dengan lingkaran maupun formula sihir. Dengan menghubungkannya, kadang fenomena sihir dapat diwujudkan tanpa harus mengalirkan energi dari manusia.

Secara teori, jika alkimia dikuasai sampai tingkat tertinggi, maka melalui alat alkimia, segala macam fenomena sihir dapat diwujudkan.


Dan seterusnya. 

Di Bumi, alkimia lebih banyak berurusan dengan upaya mengubah logam biasa menjadi logam mulia, mencari jalan menuju keabadian, atau menciptakan batu filsuf yang hampir serba bisa... Tujuannya berbeda dengan alkimia di dunia Phi. Jika batu filsuf dianggap sebagai alat alkimia, mungkin ada benang merahnya... 

Namun, di dunia Phi, alkimia bertujuan untuk menciptakan alat alkimia itu sendiri. Misalnya, ramuan pun bisa dipandang sebagai salah satu alat alkimia. Sebagai pemula, mempelajari penggunaan lingkaran sihir menjadi langkah awal. 

“Bagaimanapun juga, kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dunia sungguh sesuatu yang membuatku kagum.” 

Perasaan Ryo dipenuhi dengan gairah, sama seperti saat pertama kali mengetahui dirinya bisa menggunakan sihir. 

Dasar-Dasar Alkimia dan Alkimia untuk Pemula lebih menekankan pada penjelasan teori: mengapa alkimia bisa dilakukan, apa keunggulannya, dan apa kelemahannya.

Sedangkan Kumpulan Resep Pertama Alkimia berisi berbagai resep beserta lingkaran sihir sederhana. Di bagian akhir, ada beberapa resep ramuan lengkap dengan lingkaran sihirnya. 

Namun, terdapat catatan peringatan:

“Karena berisiko besar menyebabkan kehabisan energi sihir, siapa pun di bawah tingkat penyihir berpengalaman dilarang melakukannya.” 

Ah, pantas saja tak banyak orang membuat ramuan sendiri... 

Ryo tidak tahu seberapa besar energi sihir yang dimiliki penyihir berpengalaman. Namun, jika membuat sebotol ramuan saja sudah menguras begitu banyak energi, tentu wajar bila para petualang berpikir, “Lebih cepat beli saja.” 

Lagipula, untuk latihan alkimia, lebih baik membuat sesuatu yang memang dibutuhkan dalam petualangan daripada barang yang tidak berguna. 

Ryo cukup senang ketika menemukan resep obat penawar racun juga ada di dalamnya. Ramuan biasa pun ternyata bisa dibuat dengan beberapa cara berbeda, bahkan ada resep yang hanya memerlukan bahan-bahan yang mudah didapat di dungeon. 

Bahan-bahan yang sulit ditemukan di permukaan, tapi bisa didapat hanya sampai lantai 5 dungeon... Ini lumayan menguntungkan. 

Saat itu juga, Ryo sudah memutuskan: setelah keluar dari perpustakaan, dia akan membeli Kumpulan Resep Pertama Alkimia di toko sebelah. Namun, karena sudah membayar dua ribu Florin untuk masuk, dia memutuskan untuk mencari informasi lebih banyak dulu. 


Akhirnya, Ryo baru keluar dari perpustakaan dua jam kemudian. Dia langsung menuju toko buku di sampingnya dan menemukan buku Kumpulan Resep Pertama Alkimia dijual di sana.

Namun... Harganya seratus ribu Florin... Sepuluh keping koin emas...

Mahal banget... Tapi ya, mungkin wajar untuk sebuah buku... Sayangnya, uangku tidak cukup. 

Sambil pusing memikirkan cara, dia teringat sesuatu.

Guildmaster pernah bilang, batu sihir wyvern kemungkinan besar akan dibeli oleh penguasa setempat. Kalau begitu, pembayaran untuk itu pasti sudah masuk ke rekeningku sekarang. 

Dengan pemikiran itu, Ryo berjalan menuju guild petualang yang hanya satu blok di utara.

 

Dan benar saja, uang hasil penjualan batu sihir wyvern sudah masuk ke rekeningnya—jumlahnya begitu besar hingga membuat Ryo terkejut. Dengan uang sebanyak itu, dia tak perlu lagi bekerja demi uang untuk waktu yang sangat lama. Tidak perlu repot mencari nafkah... Betapa indahnya kata-kata itu! 

Hidup sambil melakukan apa yang disenangi... Hidup Wyvern! 

Dia pun mengambil sekitar 15 keping koin emas dan menuju toko buku. 

Namun, baru saja keluar dari guild, dia sadar akan sesuatu.

Eh? Kenapa terasa agak gelap? 

Matahari masih ada di langit. Namun, perlahan cahaya tampak meredup.

Gerhana matahari...? 

Orang-orang di jalanan kota Lung pun menatap langit dengan wajah cemas.


Saat Ryo tiba kembali di alun-alun depan perpustakaan, matahari sudah tertutup sepenuhnya oleh bulan.

Dan seketika, dunia berubah. 

Dunia seperti terbalik. Hanya itu yang bisa Ryo pikirkan. 

Seluruh keberadaan manusia di sekitarnya menghilang. Namun, pemandangan tetap sama. Misalnya, jalan berbatu di bawah kakinya masihlah jalanan kota Lung. 

Apa aku masuk ke ruang tersembunyi atau semacamnya? Memang dunia fantasi, ya... 

Meski begitu, Ryo merasakan aura bahaya yang menusuk. Ada sesuatu selain dirinya di ruang ini. Dia bisa merasakannya, tapi tak tahu apa. 

Jika aku bergerak untuk mencari tahu, pasti akan ketahuan. Tapi tak ada pilihan lain...

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membayangkan.

Active Sonar. 

Sekejap kemudian, getaran menyebar dari tubuh Ryo melalui uap air di udara sekitar. 

Dapat. Sekitar 200 meter di depan. Ukurannya hampir sama dengan manusia... Tapi pantulannya aneh... 

Baru saja menganalisis, dia sudah merasakan sesuatu yang janggal dari depan.

Ice Wall, 10 Lapis. 

Serangan sihir api, mirip Sonic Blade yang terbelah di akhir, menghantam dinding esnya dan terpental. 

Kemampuan macam apa ini... 

Selama ini Ryo sudah menahan banyak serangan monster dengan Ice Wall. Namun, yang barusan jelas memiliki daya hancur paling tinggi. 

“Hmm? Jadi ada manusia yang ikut terseret, rupanya?” 

Suara itu terdengar dari arah yang tak begitu jauh. Padahal menurut Active Sonar, jaraknya sekitar 200 meter, tapi suara itu jelas datang lebih dekat. 

Dan suara itu makin lama makin dekat... Hingga akhirnya Ryo melihat sosoknya. 

Tingginya hampir sama dengan Ryo, sekitar 175 sentimeter. Berjalan dengan dua kaki. Memiliki dua lengan. 

Sekilas tampak seperti manusia berpakaian. Namun, jika diperhatikan, ada ekor tipis di belakangnya. Lalu, di kepalanya, sepasang tanduk kecil tumbuh. 

Tubuhnya menyerupai perempuan bila dibandingkan ukuran manusia, karena dadanya lebih menonjol dari laki-laki. 

Wajahnya... Cantik. Bahkan sangat cantik... Tapi Ryo sama sekali tidak merasa tertarik. Kesan pertama yang muncul saat mengenali sosok itu hanyalah satu hal... 

...Iblis?


Dalam buku Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula, ada satu bagian tentang akuma yang tampaknya sengaja ditambahkan oleh Michael palsu.

Catatan: Berdoalah agar tidak pernah bertemu mereka. 

Ya, aku pertama kali bertemu iblis... Dan lebih parahnya lagi, di ruang yang tidak normal ini... 

Keberadaan iblis (untuk sementara) itu benar-benar luar biasa. Mungkin sebanding dengan Behi-chan atau kelas Griffon. Bila pertemuan ini terjadi di ruang normal, Ryo pasti sudah kabur secepat kelinci yang benar-benar lari tanpa menoleh ke belakang. 

Namun, di ruang ini, tampaknya mustahil untuk melarikan diri.

Punggung Ryo sudah basah oleh keringat dingin. 

“Ah, sudahlah. Kalau kulenyapkan, takkan ada masalah.” 

Iblis (sementara) itu bergumam pelan. Di tangannya, energi sihir yang sangat besar mulai terkumpul. 

Sial, sial, sial! Ice Wall 10 Lapis!

Di hadapan Ryo, dinding-dinding es mulai terbentuk, bertumpuk lapis demi lapis, sepuluh, dua puluh, dan terus bertambah, mengarah ke iblis (sementara) itu. 

Api neraka yang dilepaskan iblis (sementara) menghantam rangkaian dinding es itu. Nyaris tanpa kehilangan tenaga, api tersebut terus melahap lapisan-lapisan es, menerobos lurus ke arah Ryo. 

Apa ini akan berhenti...? 

Sambil terus bermandikan keringat dingin, Ryo mengalirkan lebih banyak energi sihir untuk memperkuat dinding es yang bertumpuk. 

Setengahnya sudah habis dimakan api. Kecepatan serangan itu sedikit melambat.

Setengah lagi kembali dilahap. Kecepatannya jauh lebih berkurang.

Di dinding terakhir... Barulah api neraka iblis (sementara) itu akhirnya padam. 

Berhenti... 

Ryo pun merasa lega.

Terlalu lega. 

Pada detik itu... 

Dinding es terakhir pecah dalam sekejap. Mengikuti instingnya, Ryo memutar tubuhnya sekuat tenaga, menghindari tombak angin yang menukik lurus ke jantungnya. 

Namun, dia terlambat. 

Tombak itu memang tidak menembus jantungnya, tapi menghantam bahu kirinya. Tidak menusuk, melainkan hancur berkeping-keping begitu saja. Kendati demikian, tenaga dari tombak itu cukup untuk melemparkan tubuh Ryo berputar di udara, terhempas ke belakang. 

“Tidak mungkin... Tombak anginku tidak menembusnya...?” 

Iblis (sementara) itu bergumam terkejut. 

“Menahan api nerakaku saja sudah mengejutkan. Tapi kamu juga bisa melawan tombak anginku? Tidak, jubahmu itu... Itu jubah Raja Peri!” 

Iblis (sementara) itu menyipitkan mata, menatap jubah Ryo yang telah melindunginya dari serangan. 

“Jadi itu memang Jubah Raja Peri... Pantas saja. Kalau begitu, tak ada pilihan selain menebasmu langsung.” 

Meski terlempar, Ryo berhasil memutar tubuh dan mendarat dengan teknik penerimaan jatuh, sehingga nyaris tidak mengalami luka berarti. 

Ice Armor. 

Entah seberapa besar gunanya, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. 

“Pokoknya, kamu harus mati.”


Iblis itu menggenggam pedang yang entah muncul dari mana, lalu dalam sekejap menutup jarak hingga nol, langsung menerjang Ryo.

Ryo pun menghunus Murasame, siap menyambutnya. 

Tebasan miring, sabetan horizontal, lalu tebasan ke atas... Iblis itu melancarkan serangan beruntun dengan variasi yang luas tanpa sedikit pun jeda.

Ryo menerima setiap tebasan itu. Satu per satu dia hadapi dengan hati-hati—menangkis, mengalihkan, atau menghindari. Sesekali, dia membalas dengan serangan balik berupa tusukan dan sabetan horizontal. Namun, itu hanya sekadar serangan pengalih perhatian. 

Soal kekuatan, mungkin bisa diimbangi. Tetapi perbedaan kecepatannya begitu mencolok.

Kecepatan ayunan pedang tak jauh berbeda, namun gerakan iblis itu jauh lebih cepat dari perkiraan. 

Apa dia tidak hanya mengandalkan gerakan kaki, tapi juga memperkuatnya dengan sihir angin?

Sambil bertahan, Ryo menganalisis. Tapi dia tidak tenggelam dalam analisis itu. Jika pikirannya terlalu terpaku pada satu hal, justru akan menjadi penghambat. 

Analisis hanya sebatas yang diperlukan.

Sebagian besar pikirannya difokuskan pada pertahanan.

Mengutamakan bertahan sepenuhnya. 

Selama dia mengutamakan pertahanan, Ryo tak mudah dikalahkan.

Dulu, saat melawan Assassin Hawk bermata satu yang berevolusi, dia juga menang karena terus bertahan sampai lawannya runtuh. Dalam latihannya bersama Dullahan sang Raja Peri, dia pun tahu bahwa bertahan penuh membuatnya tak mudah ditembus. 

Pertahanan Ryo dalam berpedang benar-benar sekuat tembok besi.

Dan dia punya stamina tanpa batas. 

Puluhan kali benturan terjadi—serangan iblis melawan pertahanan Ryo.

Namun, setelah sekian lama menyerang tanpa hasil, iblis itu mulai menampakkan rasa kesal. Dia bergumam dengan nada marah. 

“Pedang itu juga pedangnya Raja Peri... Siapa kamu sebenarnya...?” 

Sambil terus menyerang dengan pedang di tangan kanan, iblis itu mengumpulkan sedikit energi sihir di tangan kiri. 

Namun...

Icicle Lance. 

Sebelum sihir iblis itu sempurna, Ryo menciptakan sebuah Icicle Lance di udara dan melancarkannya, menetralkan sihir tersebut. 

“Bagaimana bisa kecepatan manifestasi seperti itu... Kamu monster...”

“Jangan panggil aku monster.” 

Disebut begitu, Ryo secara refleks menyahut. 

“Hmm... Jadi kamu mengerti bahasaku? Memang merepotkan. Kamu harus mati.” 

“Dari tadi kamu memang berniat membunuhku, kan...”

Tebasan pedang semakin sengit.

Namun, Ryo kini punya sedikit kelonggaran dibanding awal. Itu karena dia mulai terbiasa dengan pola serangan lawannya. 

Iblis itu pun menyadari hal tersebut. Maka dia mundur sejenak, hendak mengatur ulang tempo. 

Sekarang! Icicle Lance 32! 

Begitu lawan mundur, Ryo meluncurkan 32 tombak es dari arah depan.

Lalu melanjutkan mantra, 

Icicle Lance 64. Icicle Lance 256.

32 tombak pertama, iblis itu hanya melambaikan tangan dan semuanya lenyap.

Kemudian, 64 tombak es tambahan terbentuk, menyebar bagaikan kipas lalu menyempit ke arahnya. Itu pun dia lenyapkan dengan satu gerakan tangan. 

“Itu saja yang bisa kamu lakukan?” 

Tepat saat dia mengucapkan itu, serangan utama datang—256 tombak es jatuh dari atas kepala iblis itu.

Pandangannya sempat teralihkan ke depan, lalu serangan tanpa suara datang dari titik buta. Bahkan dia terlambat bereaksi. 

“Tch.” 

Namun Ryo tahu, tombak es sebanyak itu takkan cukup menjatuhkannya. 

Icicle Lance 32. 

Begitu iblis itu mendongak, Ryo kembali menyerang dari depan dengan tombak es.

Iblis itu menciptakan dinding tanah untuk menahannya. 

Abrasive Jet 256.

Dan inilah serangan sebenarnya. Di balik dinding tanah yang diciptakan iblis itu, Ryo meluncurkan 256 garis air bercampur butiran es tajam, meluncur dengan lintasan acak.

Garis-garis air itu menari liar, mencincang iblis itu beserta dinding tanahnya. 

Dinding tanah yang dia ciptakan pun terkoyak oleh Abrasive Jet dan runtuh.

Ryo segera menerjang dengan Murasame di tangan. 

Namun...

Hanya sepersekian detik terlambat. 

Memang benar, Abrasive Jet sempat melukai iblis itu. Tapi saat Ryo menyerbu, tubuhnya sudah hampir selesai beregenerasi. 

“Regenerasinya cepat sekali!?” 

“Jangan remehkan aku, manusia!” 

Ryo menebas lurus dari depan, dengan serangan tercepatnya.

Iblis itu mengangkat pedang untuk menahannya. 

Ryo tak memaksa untuk lanjut, dia segera mundur dengan langkah mundur dan kembali memasang kuda-kuda. 

Tubuh iblis itu masih mendesis di permukaan. 

Itu bagian yang baru beregenerasi... Serangan langsung tidak cukup... Tunggu, mendesis? Kalau begitu...

Icicle Lance 32. Squall. 

Ryo meluncurkan 32 tombak es dari depan, sambil menutupi dengan hujan deras lokal di sekitar iblis itu.

Iblis itu tak peduli dengan hujan, sekali ayunan tangan dan semua tombak es lenyap. Namun, tubuhnya kini basah kuyup. 

Tentu saja, 32 tombak es hanyalah umpan. Yang utama adalah hujan deras! 

“Mendidihlah.” 

Seperti saat dia pernah merebus hidup-hidup Kitesnake, kombinasi Squall dan Mendidihlah langsung mengubah air di tubuh lawan menjadi air mendidih. 

“Gyaaaaaaaahhh!” 

Jeritan melengking keluar dari mulut iblis itu. Kulitnya melepuh dan hangus. 

Namun... 

“Cih... Wahai tanah!” 

Sekejap kemudian, seluruh tubuhnya tertutup lapisan tanah. Tanah itu menyerap air di permukaan tubuh, memutuskan efek Mendidihlah.

Lalu tubuhnya pun mulai beregenerasi lagi. 

“Lenyaplah, manusia!” 

Tanah yang sudah menyerap air mendadak mengeras menjadi dinding besar dan meluncur menghantam Ryo.

Di saat yang sama, dinding tanah lain terbentuk di belakangnya. 

Dan lalu... 

Bang! 

Kedua dinding tanah bertumbukan, suara berat menggema, debu tanah beterbangan.

Di tengah asap itu, atau mungkin memanfaatkannya sebagai pengalih... 

Tombak-tombak es menghujani iblis itu. 

Namun, seolah sudah menduganya, dia langsung melompat mundur lebih dari 20 meter, menghindar dari serangan. 

Dari udara, Ryo turun seperti mendarat darurat.

Dia menggunakanWater Jet dari telapak kaki untuk terbang ke atas, menghindari dinding tanah, lalu meluncurkanIcicle Lance dari udara. 

Namun iblis itu tetap waspada, menghindari semuanya. Dalam pertarungan ini, dia menaikkan penilaiannya terhadap Ryo. 

Kini jarak antara keduanya lebih dari 20 meter.

Ryo tak punya cara untuk menutup jarak itu sekejap.

Sebaliknya, iblis itu bisa. 

Apa ini akan kembali jadi perang sihir? Kalau soal kekuatan sihir, dia lebih unggul... Aku yang rugi. 

Saat Ryo berpikir begitu, suara iblis itu terdengar. 

“Fuuuh... Sayang sekali waktuku habis. Pertarungan sehebat ini, sudah berapa lama aku tak mengalaminya? Kamu cukup menghiburku, manusia.” 

“Kalau begitu, cepatlah pergi...” 

Mendengar itu, iblis itu terkekeh lirih dengan tawa iblis. 

“Kamu sendiri terlihat menikmatinya. Aku pun ingin lanjut bertarung, tapi sayangnya ruang segel kali ini adalah dimensi khusus. Ada batasan yang bahkan aku tak bisa langgar. Namaku Leonore Urraca Albuquerque. Siapa namamu?” 

Ryo sempat ragu untuk menjawab.

Nama adalah cerminan diri—atau mungkin karena dia tumbuh di negeri yang percaya pada kekuatan kata. Dia khawatir, bila menyebutkan nama, dirinya akan terikat. 

“Apa? Manusia bahkan tak bisa menyebutkan namanya sendiri?” 

Leonore tertawa seolah mengejek. 

“Namaku Ryo. Wahai iblis.” 

Mendengar itu, Leonore terbelalak. 

“Iblis... Jadi kamu tahu siapa kami... Seharusnya kupaksakan saja membunuhmu tadi...”

Namun dia menggelengkan kepala. 

“Waktuku habis, dan kamu jelas bukan lawan yang mudah. Tak ada pilihan. Baiklah, Ryo, kita akan bertemu lagi.” 

“Tidak, sekali ini saja sudah cukup...” 

Sekali lagi Leonore tertawa kecil, tawa yang hanya bisa disebut iblis. 

“Jangan begitu. Dengan kekuatanmu, mau tak mau kita akan bertemu lagi. Entah denganku, atau dengan salah satu dari kami. Pastikan kamu tidak mati di tangan orang lain. Ryo, hanya aku yang berhak membunuhmu. Saat kita bertemu lagi, aku pun akan lebih kuat daripada sekarang. Jadi, sampai jumpa.” 

Begitu ucapnya, lalu keberadaan Leonore pun lenyap.


Dan dunia pun kembali berwarna.


“Aku berhasil selamat...”

Terakhir kali dia hampir mati dalam pertarungan... Mungkin saat melawan Assassin Hawk bermata satu.

Berdiri sendirian di alun-alun depan perpustakaan hanya akan menarik perhatian, jadi untuk sementara dia duduk di bangku. 

Sejak Assassin Hawk bermata satu... Oh iya, makhluk itu juga menggunakan penetral sihir. Lalu Behi-chan, itu di dalam ruang anti-sihir. Dan sekarang, iblis bernama Leonore bisa menghapus Icicle Lance hanya dengan melambaikan tangan... Baik 32 atau 64 tombak es, semuanya lenyap dalam sekejap... 

“Ugh...”

Rasa sakit menjalar di bahu kirinya. Tempat di mana tombak angin Leonore menghantamnya. Tidak ada tulang yang patah. Hanya memar, mungkin. Bukti bahwa pertarungan tadi jelas bukan mimpi belaka.

Namun, yang lebih mengejutkan adalah jubahnya sama sekali tak robek. 

Kalau bukan karena jubah ini, bahuku pasti sudah bolong besar... Terima kasih, Guru...

Ryo membayangkan wajah Dullahan dalam benaknya, lalu menundukkan kepala penuh rasa syukur. 

Sihir Leonore... Itu kan sihir, ya? Kekuatannya luar biasa... Tapi, yang lebih gawat adalah kecepatannya. Maju dalam sekejap, mundur pun dalam sekejap... Kurasa itu bukan teleportasi, melainkan semacam sihir atribut angin. Semacam tebasan kilat mendobrak... Ugh, dasar sihir angin sialan! 

Begitulah refleksi Ryo yang entah bagaimana terdengar seperti kampanye hitam terhadap sihir angin. 

Ngomong-ngomong, dia tadi bilang waktu habis...

Gerhana matahari sudah berlalu. Ryo menyimpulkan sendiri bahwa gerhana itu pasti ada hubungannya.

Meski banyak orang berada di sekitarnya, hanya dia dan Leonore yang masuk ke ruang itu. 

Banyak hal yang tidak kupahami. Yang tak kupahami, tak perlu kupikirkan sekarang! Untuk sementara, tugasku adalah membeli buku alkimia dan mengumpulkan informasi tentang iblis sepulang nanti... Tapi kalau Abel saja tidak tahu, sepertinya memang sulit dapat informasi... 

Dalam perjalanan menuju Lung, Ryo pernah bertanya pada Abel apakah dia tahu tentang iblis. Jawabannya, Abel mengenal devil, tapi tidak tahu soal iblis.

Kalau begitu, Abel—yang kurasa anak ketiga keluarga bangsawan atau semacamnya... Bahkan tak tahu apa-apa. Itu berarti kalangan berpendidikan pun tak mengenalnya. Tidak mudah untuk mencari informasi. 

Ryo menarik napas panjang, lalu berdiri.

“Baiklah, beli buku lalu pulang.”


Kamar 10 di asrama kosong.

Dari jendela kamar itu, terlihat arena latihan luar milik guild petualang.

“Eh? Mereka masih latihan, ya?”


Di antara beberapa orang di arena latihan, ada tiga penghuni Kamar 10.

“Kalau saja aku masih punya tenaga, pasti kubikin kalian babak belur...”

Nils bergumam penuh penyesalan.

Di sana ada Nils, Eto, dan Amon yang tergeletak kalah, sementara lima pria berdiri di atas mereka dengan tatapan merendahkan. 

“Hah! Kalau sampai kalah pun masih bisa ngeles, itu malah keren, tahu.”

Kelima pria itu penghuni Kamar 1. Sepertinya mereka baru saja melakukan sparing lalu kalah. 

“Berani bilang begitu padahal menyerang tiba-tiba...”

Eto mendesis pahit. 

“Hei, hei. Jadi maksudmu kalau di dungeon, kamu berharap monster itu ngomong dulu sebelum menyerangmu? Atau bilang: ‘Tolong jangan serang sekarang, aku lagi capek?’ Dasar omong kosong.”

Pria dari Kamar 1, Dan, mengejek sinis. 

“Benar sekali. Yang lengah itu salah sendiri.” 

Begitu suara itu bergema di arena, empat orang dari Kamar 1—kecuali Dan—langsung terhantam tombak es di ulu hati. Ujung tombaknya sudah ditumpulkan, jadi tak ada luka, hanya membuat mereka tersiksa menahan sakit. 

“Apa...” 

“Ada apa? Empat orang barusan kena tombak es di perut.” 

Sambil berkata begitu, Ryo menampakkan diri di arena. 

“Ryo!”

Ketiga penghuni Kamar 10 yang masih tergeletak serentak memanggil namanya. 

“Kamu...”

“Jangan lengah. Tadi kamu bilang sesuatu yang bagus. Kamu tanya, apa monster akan bilang sebelum menyerang? Jelas tidak. Nils dan yang lain juga terlalu lengah.” 

Setelah itu, Ryo segera menyuapkan ramuan ke mulut Eto. Jika sang pendeta pulih, dia bisa menyembuhkan dua temannya. 

“Maaf banget...”

Nils bergumam kecil. 

“Tak apa. Dari pagi kalian sudah berlari terus, jadi wajar tubuh kalian sampai batasnya. Mulai sekarang, di akhir pekan kalian harus lebih fokus memperkuat fisik.” 

“Eh...”

Keluhan keluar dari mulut Eto, yang paling lemah secara fisik.

Sebenarnya Amon—yang baru saja keluar dari desa—punya stamina lebih buruk. Tapi Amon tampak sanggup mengatasinya dengan semangat. 

“Dan kamu, yang berdiri di sana...”

“Itu Dan, dari Kamar 1,” ujar Nils memberi tahu Ryo. 

“Ah, jadi kamu Dan. Bagaimana? Setelah teman-temanmu kena serangan mendadak, mau coba kabur?” 

“Jangan main-main!”

Dan langsung mencabut pedang dan menyerang Ryo. 

Terlalu lambat...

Ayunan besar dari atas, tebasan lurus.

Ryo menghindar dengan melangkah ke depan kiri, memindahkan pusat berat ke kaki kiri. Dengan tangan kiri, dia menggenggam gagang Murasame yang belum menyalakan bilah, mencabutnya cepat dari sabuk, lalu menghantamkan gagang itu ke sisi kanan perut Dan. 

Seperti pukulan liver blow dalam tinju—hantaman telak ke hati.

Dia bahkan menambahkan kekuatan dengan putaran kaki dan pinggang dari bawah. Zirah kulit Dan tak sanggup meredamnya. 

“Ughh...”

Dan roboh ke tanah, berguling menahan sakit. 

Kusangka zirah kulit bikin sakit kalau dipukul tangan kosong, jadi kugunakan gagang Murasame. Tapi memang beda dengan tinju... Hanya perbedaan putaran pergelangan tangan saja, hasilnya sejauh ini? 

Ryo tak peduli pada Dan yang merintih, sibuk mengutak-atik teknik pukulannya dalam pikiran. 

“Itu pasti sangat menyiksa...”

Nils menatap Dan dengan iba. 

“Tadi aku hampir mati, jadi aku mungkin masih kebawa suasana.” 

Ucapan itu mengejutkan baik penghuni Kamar 10 maupun Kamar 1. Hanya Dan yang sudah tak sanggup mendengar apa pun. 

“Oh iya, Eto, sekalian obati bahuku, bisa?”

Ryo menunjukkan bahu kirinya. 

“Ini parah! Memang bahumu tidak patah, tapi ini jelas kena benturan keras... Kalau kena jantung, bisa bahaya!”

Eto langsung mengucapkan mantra penyembuhan. 

“Ibu Pertiwi, ulurkanlah tangan penyembuhmu. Lesser Heal.”

Dalam sekejap, memar menghilang, begitu juga rasa sakitnya. 

“Hantaman itu tadinya mengarah ke jantung. Untung bisa kuhindari, jadinya hanya begini. Syukurlah aku masih hidup.” 

“Memangnya kamu lawan apa tadi!?”

Nils, Eto, dan Amon serempak berteriak. 

Seorang penyihir yang bisa mengalahkan ahli pedang dengan teknik tubuh, nyaris mati dalam pertarungan... Lawannya pasti bukan sembarangan. 

“Nanti saja kalau ada kesempatan, aku ceritakan.”

Ryo tersenyum menutup pembicaraan. 

Ditekan Leonore sampai ke ujung tanduk, tapi di sini memamerkan kekuatan di hadapan petualang peringkat F... Sama sekali tidak keren... 

Di tanah, empat orang Kamar 1 tergeletak bersama Dan yang masih merintih kesakitan.


Nils, Eto, Amon, dan Ryo berempat, setelah melalui berbagai hal hingga tubuh mereka kotor sekali, akhirnya berjalan bersama menuju pemandian umum.

Tentu saja, tidak setiap rumah memiliki kamar mandi, tetapi di kota terdapat puluhan pemandian umum. Semacam sento di Jepang yang dikelola secara pribadi.

Semua itu mungkin karena di sisi utara kota mengalir sungai besar, dari sanalah air dialirkan untuk sistem air bersih, ditambah saluran pembuangan yang teratur di bawah jalan.

Itu jelas melampaui kota-kota Abad Pertengahan, lebih mirip peradaban awal zaman modern... Ryo berpikir begitu sambil membandingkan dengan klasifikasi sejarah di Bumi. 

“Terima kasih, Ryo. Kalau kamu tidak datang, kami pasti hanya akan berakhir jadi bahan ejekan Dan dan gengnya,” ucap Nils dengan tawa getir, berterima kasih pada Ryo. 

“Tapi tetap saja, gerakanmu luar biasa, Ryo! Padahal kamu seorang penyihir.”

Amon menimpali dengan penuh kekaguman. 

“Amon, penyihir zaman sekarang memang bisa melakukan hal semacam itu.”

“Tidak mungkin begitu!”

Amon kagum, Ryo melontarkan gurauan, dan Nils langsung menegurnya. Eto hanya terkekeh pelan menahan tawa. 

Sungguh, kedamaian sore hari di hari Minggu itu membuat pertemuan Ryo dengan iblis di alun-alun depan perpustakaan tadi terasa seakan hanya sebuah kesalahan belaka.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close