Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 9
Pertarungan Kaiju
Ryo dan Abel sedang berada dalam situasi yang sulit.
“Abel, itu apa...?”
Agak jauh di depan sana, tampak sesuatu yang amat besar sedang berbaring di tepi sungai.
“Seekor kuda nil raksasa...?”
“Memang mirip kuda nil raksasa, tapi... Aku juga baru pertama kali melihatnya. Kemungkinan besar, itu Behemoth.”
Ryo dan Abel berbicara dengan suara nyaris berbisik.
Padahal, dengan jarak sejauh itu, jelas suara normal pun tidak akan sampai. Namun entah mengapa, keduanya merasa harus menahan suara serendah mungkin.
Kalau sampai terjadi sesuatu yang memancing makhluk itu menyerang...
“Kelihatannya kamu ingin memburunya, ya?”
“Mana mungkin!”
Seekor monster raksasa dengan panjang tubuh yang jelas melampaui 100 meter.
Dan bila itu benar-benar Behemoth, meskipun tidak selegenda naga, sudah lebih dari 100 tahun tak pernah ada laporan manusia yang bersentuhan dengannya. Setidaknya, di Kerajaan Knightley, tak ada satu pun catatan resmi soal itu.
“Dengan tubuh sebesar itu, bahkan kalau dijatuhkan 10 lapis Ice Wall seperti waktu melawan Rock Golem, sepertinya ia masih bisa menahannya dengan mudah, ya.”
Berbeda dengan Abel yang berbisik sambil bercucuran keringat dingin, Ryo justru terlihat sedikit menikmati situasi itu.
Bagi Ryo, ini adalah pemandangan yang mustahil dia lihat di Bumi. Sebuah makhluk yang sama sekali tidak ada dalam dunia lamanya. Dia paham betul ada bahaya yang mengancam nyawa, namun dia tak bisa menolak rasa berdebar penuh kegembiraan yang menyertainya.
“Yang jelas, itu tak akan mempan. Ryo, jangan coba-coba, ya?”
“Jangan begitu, Abel. Apa kamu benar-benar menganggapku orang yang tak tahu batasanku?”
“Aku memang menganggapnya begitu.”
Abel mengangguk mantap.
Ryo melongo, terdiam tak percaya. Namun seketika dia sadar—dari arah langit utara, ada sesuatu yang mendekat.
“Abel, ada sesuatu datang dari sana.”
Abel segera menoleh ke utara.
Bahkan dengan penglihatan tajamnya, dia hanya bisa memastikan ada sesuatu yang terbang mendekat, tapi bentuknya belum jelas.
Namun bila dari jarak sejauh itu saja bisa kelihatan, jelas bukan burung biasa.
“Naga...?”
“Bukan. Sayapnya adalah tangan, berarti itu wyvern.”
“Ah, versi downgrade dari naga!”
Sebuah komentar yang sungguh kejam.
“Ada 6 ekor...”
Wyvern sering terlihat di negara-negara tengah. Kepalanya mirip kadal, dengan leher panjang, dan tubuhnya memanjang disertai ekor yang sama panjangnya. Sepasang kakinya bercakar, dan kedua lengannya menjelma sayap. Berbeda dengan naga yang memiliki tangan dan sayap yang terpisah, itulah ciri utama yang membedakan keduanya... Namun, naga sendiri dalam pemahaman umum sudah dianggap makhluk legenda.
Wyvern memang tak sebanding dengan naga, tetapi tetap bukan musuh yang bisa dihadapi hanya dengan segelintir petualang atau kesatria. Bahkan melawannya satu ekor sudah menyulitkan.
Apalagi enam sekaligus...
“Wyvern-wyvern itu... Target mereka pasti...”
“Ya. Behemoth itu.”
“Wah, ini akan jadi pertarungan besar ala kaiju!”
“Tidak... Behemoth akan berada di pihak yang kesulitan...”
Abel mengungkapkan pendapatnya.
Dia pernah beberapa kali ikut serta dalam penaklukan wyvern, jadi dia tahu betul kekuatan dan kerepotan menghadapi mereka.
“Aku yakin Behi-chan tidak akan kalah semudah itu!”
Entah sejak kapan, Ryo sudah menjulukinya “Behi-chan.”
Kalau mengabaikan ukuran tubuhnya, memang ada kemiripan dengan kuda nil bermata bulat besar, sehingga bisa dianggap imut... Mungkin... Atau tidak juga.
“Enam lawan satu, itu pengecut! Tidak pantas disebut jalan kesatria naga!”
“Jalan kesatria naga...? Yah, bagaimanapun juga, serangan dari udara jelas lebih menguntungkan. Wyvern punya sihir angin. Yang paling merepotkan adalah Air Slash, serangan tak kasatmata, dan lebih berbahaya lagi sihir tingkat atas Sonic Blade.”
“Sonic Blade! Bayangkan tiga bayangan tubuh palsu, lalu menyerbu dengan Sonic Blade serentak!”
Itulah salah satu taktik khayalan favorit Ryo, semacam strategi penuh romansa yang dia sebut Serbuan Breakdown.
“Bayangan tubuh itu jelas mustahil... Bahkan serangan gabungan dengan Sonic Blade serentak pun aku belum pernah dengar.”
Abel tetap menanggapi omong kosong Ryo dengan serius. Dia memang orang yang baik.
Behemoth yang tadinya berbaring kini bangkit, bersiap menghadapi ancaman. Dia hanya berdiri dengan keempat kakinya, tapi auranya berubah drastis.
Di darat berdiri Behemoth, di udara enam wyvern melayang setinggi 40 meter.
Serangan pertama datang dari wyvern.
Dengan kepakan sayap, mereka melancarkan Air Slash. Ryo dan Abel tidak bisa melihatnya dari kejauhan, karena hanya berupa distorsi tipis di udara, dan tak terdengar suara...
Namun Behemoth menangkap jumlah dan lintasannya dengan tepat. Seketika, enam bongkahan batu sebesar kepala manusia muncul di sekelilingnya. Batu-batu itu melesat, tepat menyambut semua Air Slash dan menghancurkannya.
“Ohh...”
“Seperti yang kuduga dari Behi-chan!”
“Selanjutnya, pasti serangan area luas, Sonic Blade.”
Abel, berdasarkan pengalamannya, bisa membaca langkah berikutnya.
“Yang merepotkan dari Sonic Blade adalah, setelah dilepaskan, ia akan terpecah menjadi banyak.”
“Serangan saturasi dengan jumlah! Sihir angin memang kejam!”
Bagi pihak yang harus bertahan, menghadapi sihir yang membelah diri sebelum menghantam adalah mimpi buruk.
Sesuai dugaan Abel, enam wyvern melepaskan enam Sonic Blade. Berbeda dengan Air Slash, serangan ini berbentuk jelas—pedang-pedang angin yang melesat menuju Behemoth.
Namun sebelum mencapai setengah jarak, tiap pedang terbelah menjadi puluhan bilah kecil.
Behemoth tak lagi mengandalkan bongkahan batu. Sebagai gantinya, dari tanah menjulang dinding batu raksasa, melindungi seluruh tubuhnya. Semua bilah angin terhenti di sana.
“Behemoth memang disebut monster tanah. Rupanya ia benar-benar menguasai sihir tanah.”
“Aku kira ini akan jadi duel adu fisik, ternyata malah perang sihir.”
“Meski begitu, tetap belum ada pukulan penentu.”
Wyvern yang semula menyerang dalam satu arah kini menyebar, membentuk formasi mengepung Behemoth.
“Dari segala arah, tembok batu tadi tak akan cukup menahannya.”
“Tahanlah, Behi-chan...”
Saat lingkaran kepungan itu selesai terbentuk dan para wyvern bersiap menembakkan Sonic Blade, Ryo merasakan sesuatu yang janggal.
Ada keanehan di sekitar Behemoth.
Dia tak tahu alasan atau penyebabnya.
Itulah mengapa dia menyebutnya keanehan.
Namun, dia pernah merasakannya sekali sebelumnya.
Keanehan itu menyebar cepat dari Behemoth, meliputi para wyvern. Begitu masuk dalam jangkauan itu, Sonic Blade yang hampir ditembakkan lenyap begitu saja, dan keenam wyvern langsung jatuh.
Dari posisi melayang, seolah-olah mereka tiba-tiba kehilangan daya angkat.
“Kelumpuhan? Dan mencakup semua arah?”
“Tidak... Sepertinya bukan itu.”
Abel menoleh. Wajah Ryo tampak agak pucat.
“Itu kemungkinan besar penetral sihir.”
Ya. Keanehan itu sama dengan yang pernah Ryo rasakan sebelumnya, dari Assassin Hawk bermata satu setelah berevolusi—kemampuan menetralkan sihir.
Wyvern tampaknya terbang dengan bantuan sihir. Tanpanya, mustahil tubuh sebesar itu bisa melayang diam di udara. Jika hanya meluncur turun, mungkin masih bisa. Namun melayang di satu titik jelas mustahil.
Dan kini, dengan sihir itu disegel oleh Behemoth, mereka terjatuh.
Dengan sihir tersegel, mereka tak lagi bisa terbang, juga tak mampu menyerang dengan sihir angin.
Namun, bila bukan kelumpuhan, berarti tubuh mereka masih bisa bergerak.
Saat dia berpikir begitu sambil mengamati, di antara para wyvern yang jatuh, ada beberapa yang bangkit kembali, masih menunjukkan sikap hendak bertarung.
“Penetral sihir? Maksudmu, mereka dibuat tidak bisa menggunakan sihir? Apa itu mungkin? Aku belum pernah dengar, baik dari penyihir manusia maupun dari makhluk sihir, tentang hal semacam itu. Sepertinya mustahil.”
“Lihatlah. Wyvern yang jatuh itu bisa bangkit kembali. Kalau benar lumpuh, mestinya setelah jatuh mereka tak bisa bergerak sama sekali, bukan?”
“Hmm, benar juga. Tapi penetral sihir... Apa mungkin ada hal semacam itu... Kalau berupa perangkap di dalam dungeon, memang kudengar ada...”
“Dungeon!”
Benar-benar, ciri khas sebuah fantasi!
“Di Kerajaan Knightley ada dungeon?”
“Ya, ada. Satu-satunya dungeon di negeri-negeri tengah.”
Mendengar itu, semangat Ryo seketika melonjak.
“Luar biasa! Jadi di dalam dungeon itu ada perangkap penetral sihir.”
“Tidak. Di dungeon milik kerajaan, aku belum pernah mendengar ada yang begitu. Katanya di dungeon di negeri-negeri barat, ada ruang dengan perangkap semacam itu. Ruangan yang menjadi ruang pentral sihir.”
“Hohoh. Kalau itu ada di dungeon, maka tak aneh bila seekor makhluk bisa melakukannya juga.”
“Tidak, tetap saja itu sudah sangat aneh...”
Abel mengernyitkan wajahnya sambil menggeleng pelan.
“Ryo, kamu tertarik dengan dungeon?”
“Tentu saja. Suatu hari nanti, aku ingin sekali menjelajahinya.”
“Kalau begitu, mungkin kebetulan yang baik. Dungeon satu-satunya di negeri tengah itu terletak di kota Lung, tujuan perjalanan kita.”
Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Ryo terperanjat.
“Apa...? Kenapa kamu selama ini diam saja tidak memberitahuku soal itu!”
“Eh, meski kamu bilang begitu... Aku kan tidak tahu kalau kamu tertarik dengan dungeon sampai sebegitunya...”
Sementara keduanya berbincang, di medan pertempuran, pertarungan masih berlanjut. Namun, itu tak lagi pantas disebut pertempuran, melainkan sudah menjadi pembantaian sepihak.
Wyvern kehilangan keunggulan mutlak mereka di udara, tak bisa menggunakan sihir serangan, dan tak bisa terbang. Sementara itu, Behemoth, dengan tubuhnya saja sudah merupakan ancaman besar. Serangan fisik apa pun yang dilakukan wyvern, tidak meninggalkan satu luka pun pada Behemoth. Lebih buruk lagi, meski wyvern tak bisa memakai sihir, Behemoth masih bisa memakainya tanpa kendala. Saat ia menginjak salah satu wyvern dengan kakinya, ia juga melemparkan batu besar ke arah yang lain di belakangnya untuk mencegahnya melarikan diri.
Pembantaian itu berakhir tak sampai lima menit. Yang tersisa hanyalah enam bangkai wyvern bergelimpangan di tanah.
“Kita baru saja menyaksikan sesuatu yang benar-benar mengerikan.”
“Ya, Behemoth benar-benar menakutkan.”
Sebelum pertempuran, Abel yakin wyvern-lah yang memiliki keunggulan mutlak. Tak pernah dia bayangkan pertarungan akan berakhir begitu sepihak.
Dalam hatinya, Abel bersumpah keras kalau dia takkan pernah mau berhadapan dengan makhluk semacam itu.
“Baiklah, sekarang babak kedua. Abel melawan Behi-chan, ya.”
“Jangan bercanda!”
Mereka pun mengambil jalan memutar jauh, menghindari Behemoth yang sedang lahap melahap daging wyvern, dan melanjutkan perjalanan.
Mereka berdua berkeliling jauh ke timur, menjauhi medan pertempuran Behemoth dan wyvern, lalu kembali menempuh jalan ke utara.
Setelah berjalan beberapa lama, Abel membuka percakapan.
“Hei, Ryo, kalau mataku tidak salah lihat, di depan sana ada deretan gunung yang luar biasa tinggi.”
“Kebetulan sekali. Aku juga bisa melihat deretan gunung yang luar biasa tinggi itu.”
Masih cukup jauh jaraknya, namun mereka bisa melihat pegunungan bersalju yang menjulang hingga menembus awan. Jika diukur dengan satuan di Bumi, tingginya mungkin 6.000, bahkan 7.000 meter.
“Itu pegunungan yang menjadi penutup jalan...?”
“Sepertinya begitu.”
Ryo sendiri tak menyangka ukurannya akan sebesar itu.
“Sebelum kita menyeberanginya... Sebaiknya kita menyiapkan daging kering saat masih di kaki gunung. Mungkin awalnya kita masih bisa berburu untuk makan sehari-hari, tapi setelah separuh perjalanan lebih, sepertinya akan sulit.”
“Ya... Kalau sudah tertutup salju, pasti begitu jadinya.”
“Sungguh menyebalkan... Kalau saja ada penyihir atribut angin, gunung seperti itu bisa sekali loncat dengan sihir!”
Mendengar ucapan Ryo, di kepala Abel terlintas bayangan Lynn, rekannya yang seorang penyihir angin, mencoba melompati pegunungan itu dengan sihirnya, dan gagal total.
“Mustahil.”
Abel menepis bayangan itu sambil menolak fantasi Ryo.
Mereka terus melangkah masuk ke hutan di utara.
“Ngomong-ngomong, Abel, apa kamu pernah mengalahkan seekor wyvern?”
“Hmm? Aku pernah ikut serta dalam beberapa penaklukan wyvern. Memangnya kenapa?”
“Begini, wyvern yang muncul tadi saat Behi-chan bertarung, datangnya dari arah pegunungan utara, kan?”
Mendengar itu, Abel perlahan menoleh pada Ryo yang berjalan di sampingnya, seolah-olah kepalanya berderit keras.
“Jangan bilang ada wyvern di depan sana...?”
“Ya, hampir pasti ada.”
Wajah Abel tertegun, berlawanan dengan wajah Ryo yang justru tampak riang.
Sebenarnya, Ryo memang ingin melihat wyvern dari jarak lebih dekat. Saat pertarungan dengan Behemoth tadi, dia hanya bisa menyaksikannya dari jauh.
“Wyvern itu bukan lawan yang bisa ditangani hanya dengan dua orang. Faktanya, dalam penaklukan wyvern, biasanya minimal 20 petualang peringkat C ke atas diturunkan. Bahkan meski sudah sebanyak itu, tetap ada korban jiwa di pihak petualang.”
Abel sudah berkali-kali menyaksikan bagaimana para petualang terluka, bahkan tewas dalam penaklukan wyvern. Maka sebisa mungkin dia ingin menghindarinya.
“Kalau begitu, bagaimana biasanya kalian melawan mereka? Mereka kan di udara, jurus-jurusmu tidak akan sampai.”
“Kalau lawannya wyvern, para ahli pedang seperti kami biasanya bertugas sebagai pengalih perhatian dan penyelesai setelah mereka dijatuhkan ke tanah. Panah pun tak berguna melawan wyvern kelas itu, jadi serangan utama harus dilakukan oleh para penyihir.”
“Ohh, hidup para penyihir!”
Ryo mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil berseru.
“Jangan salah. Satu atau dua penyihir saja takkan cukup. Selama masih hidup, wyvern melindungi tubuhnya dengan sihir angin. Jadi serangan api pun nyaris tak memberi luka bagi mereka.”
Abel menjelaskan sambil mengingat pengalaman dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perburuan wyvern.
“Penyihir api itu ternyata tidak hebat, ya.”
Sebagai penyihir air, Ryo terang-terangan menunjukkan rasa saingnya, sambil meremehkan elemen api.
Padahal sejak dia bereinkarnasi di Phi, dia bahkan belum pernah bertemu penyihir lain selain dirinya sendiri, apalagi penyihir api.
“Meski begitu, dalam hal daya serang, sihir api tetap yang terkuat. Lagipula, wyvern menggunakan sihir angin, jadi serangan dari penyihir angin sama sekali tidak mempan.”
“Benarkah?”
“Benar. Bahkan kalau ditembak dengan Air Slash, katanya tak akan kena.”
Di benak Ryo muncul bayangan bola umpan dan Kraken yang pernah dia jumpai di lautan.
Mungkin seperti makhluk yang bisa merebut kendali sihir. Jadi kalau sihirnya sesama elemen, bisa saja kendalinya direbut...
“Itulah sebabnya, penyihir api harus terus-menerus melontarkan Fireball atau Fire Lance. Dengan begitu stamina wyvern akan terkuras. Kalau beruntung, saat pertahanan anginnya melemah, salah satu serangan bisa masuk, lalu mereka bisa dijatuhkan ke tanah. Tapi akibat serangan api itu, sering kali wyvern mengamuk dan menyeruduk, menyebabkan korban di pihak kita.”
Abel menjawab sambil mengangkat bahunya.
“Yah, menurutku manusia sebaiknya berhenti melawan wyvern.”
“Itu tidak bisa. Kalau mereka muncul di jalur rombongan dan perdagangan terhenti, masalah besar akan terjadi. Saat itulah tuan tanah atau raja memerintahkan guild petualang untuk melakukan penaklukan.”
Saat mengucapkan itu, tiba-tiba Abel menegang.
Ada yang tidak beres.
Ryo pun, sama seperti Abel, merasakan sesuatu yang ganjil.
“Tanaman... Ada yang aneh dengan tanaman di sekitar kita.” bisiknya pada Abel.
Artinya, ini bukanlah monster dari golongan hewan. Keanehan itu datang dari tumbuhan di sekeliling mereka.
Namun, tidak ada sesuatu pun yang menyerang. Tidak ada apa pun yang datang menyerang... Setidaknya dalam jarak yang bisa terlihat oleh mata.
Tiba-tiba Abel berlutut dengan satu kaki.
“Abel!”
“Aku tak apa-apa. Ada semacam racun, tapi aku akan segera pulih.”
Begitu dia berkata demikian, Abel benar-benar bangkit kembali seolah-olah racun itu tak lagi berpengaruh, lalu mencabut pedangnya dan bersiap siaga.
Ryo membayangkan seluruh molekul air yang melayang di udara dalam radius 20 meter di sekitarnya, lalu melafalkan mantra.
Active Sonar.
Sekejap saja, informasi yang terlalu besar jumlahnya menyerbu kepalanya hingga dia merasa pening. Namun kini tak ada pilihan lain.
Rangsangan yang dia lepaskan menyebar lewat molekul-molekul air di sekelilingnya, merambat keluar layaknya riak di permukaan air saat sebuah batu dijatuhkan.
Di tengah penyebaran itu, dia menangkap adanya benda asing yang melayang.
Sensasi ini, racun lumpuh.
Berdasarkan pantulan rangsangan dari benda asing itu, dia membandingkan dengan pengalamannya di masa lalu untuk menentukan identitasnya.
Arah dengan konsentrasi paling pekat... Kanan... Aku tak bisa melihat apa pun... Tidak, ada sedikit getaran.
“Squall.”
Dengan hujan deras yang nyaris kejam, dia menghantamkan racun lumpuh yang mengambang di udara hingga jatuh ke tanah.
“Peti Es.”
Dia membekukan seluruh sumber racun lumpuh itu.
Dulu, dia tidak bisa mengendalikan sihir air sampai sejauh 10 sentimeter dari permukaan tubuh makhluk hidup. Namun berkat latihan kerasnya, kini dia bahkan mampu membekukan udara di sekitarnya bersama-sama dengan target.
“Gumpalan es itu...”
“Tumbuhan itu yang menyebarkan racun lumpuh. Kalau dibekukan sepenuhnya, racunnya takkan sempat menyebar.”
“Tapi... Makhluk macam apa ini...”
Abel pun terperangah melihat monster yang belum pernah dia jumpai.
Mungkin karena sudah beku dan indeks biasnya berubah, kini mereka bisa melihat wujudnya—sebuah monster tumbuhan yang bentuknya nyaris persis bunga Rafflesia.
“Sepertinya ia memiliki kemampuan memantulkan cahaya seperti cermin, lalu berbaur dengan sekitarnyay.”
“Jadi itu sebabnya ia tidak terlihat...”
Abel memang sudah merasakan ada yang aneh di sekitarnya, namun dia tak mampu menentukan sumbernya. Dan wajar saja, karena makhluk itu benar-benar tak kasat mata.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan bongkahan es ini?”
“Biarkan saja begitu. Setelah kita pergi cukup jauh, baru nanti kucairkan. Kalau tumbuhan, setelah dicairkan dia akan tetap hidup. Lebih baik biarkan dia melanjutkan hidupnya dengan damai, jauh dari kita.”
“Apa yang terjadi kalau mereka bukan tumbuhan...?”
“Ya pastinya mereka mati. Aku sudah mencoba berbagai cara—seperti menjaga jantung dan sirkulasi darah tetap berjalan meski di dalam es, atau sebaliknya membuat pembekuan instan seolah dalam keadaan mati suri... Tapi sejauh ini belum berhasil. Aku masih harus lebih giat berlatih.”
“O-Oh...”
Abel menelan ludah.
Benar, dia tanpa sadar membayangkan kemungkinan dirinya sendiri dibekukan.
Tentu saja Ryo takkan pernah melakukan hal semacam itu. Namun jika berbicara dalam kasus mungkin atau tidak mungkin, maka jawabannya mungkin saja... Jadi wajar dia terpikirkan hal itu.
Dan di saat itulah, suara Ryo menusuk pikirannya.
“Abel... Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan!”
“A-Apa!?”
Bahkan Abel pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Kamu pikir pasti Peti Es akan terasa sejuk dan menyenangkan, bukan? Duh, duh, kamu ini menyusahkan.”
“Y-Yah... Sekarang aku merasa lega.”
Meskipun sedikit terkulai, entah kenapa Abel merasa agak senang karenanya.
* * *
Makan malam telah usai, dan tibalah saat bersantai.
Meski dalam perjalanan, bila terus-menerus tegang, saraf tak akan mampu bertahan. Ada saatnya melonggarkan, ada saatnya mengencangkan. Itulah yang terpenting.
“Monster tumbuhan yang menyemburkan racun lumpuh... Dan bahkan tak terlihat pula... Aku baru pertama kali mendengar makhluk semacam itu.”
Monster mirip Rafflesia yang mereka temui siang tadi, bahkan bagi Abel yang cukup berpengalaman sebagai petualang, adalah sesuatu yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
“Di daerah tempat tinggalku dulu, kalau dipikir-pikir, memang tak ada monster tumbuhan sama sekali.”
“Monster tumbuhan itu hanya muncul di wilayah tertentu, dan berbeda dengan monster hewan, mereka jarang berpindah tempat. Jadi memang tidak mudah ditemui. Tapi ada juga petualang yang khusus memburu monster tumbuhan saja.”
“Hoho. Apa mereka menjatuhkan bahan-bahan yang berharga?”
“Ya. Bahan alkimia, atau material untuk peralatan alkimia, misalnya.”
“Alkimia, ya, aku benar-benar tertarik sekali dengan itu!”
Ryo bersinar matanya, meluapkan kekaguman pada alkimia yang belum pernah dia lihat secara langsung.
“Katanya, untuk jadi alkemis yang layak disebut ahli, jalan yang ditempuh sangat berat.”
“Itu justru yang kuinginkan! Practice makes perfect!”
Abel tidak begitu memahami maksud pepatah itu, tetapi memilih untuk tidak menanyakannya.
“Ngomong-ngomong, Ryo, bagaimana kamu bisa menahan racun lumpuh dari monster tadi?”
Itulah yang sejak tadi mengganjal hati Abel. Dia sendiri memiliki peralatan yang bisa menyembuhkan status abnormal. Racun biasa pun akan langsung terdetoksifikasi olehnya.
Namun racun lumpuh kali ini cukup kuat, hingga meski hanya sesaat, membuatnya berlutut. Dan tetap saja, Ryo terlihat sama sekali tidak terpengaruh.
“Tidak, aku tidak melakukan apa pun.”
Benar, Ryo memang tidak melakukan apa pun.
Bukan pula karena dia pernah berlatih membangun ketahanan terhadap racun. Lagipula, di sekitar rumahnya dulu, dia bahkan tidak pernah menemukan tumbuhan obat penawar racun.
Aku juga penasaran kenapa tidak terpengaruh. Apakah ini perlindungan dari Raja Peri Air... Tidak, aku tak merasa dunia ini punya hal semacam itu... Atau mungkin...
“Mungkin ini efek dari jubahku?”
Dia mengucapkannya begitu saja, sekadar perkiraan. Bagaimanapun, dia tak punya cara untuk membuktikannya. Setidaknya dia bisa mensyukuri pemberian orang itu.
Terima kasih, Guru.
“Ah, bisa jadi begitu. Jubah itu jelas bukan barang biasa.”
“Abel, jubah ini tidak akan kuberikan padamu.”
“Memangnya aku mau itu?”
“Baru saja aku mengucapkan terima kasih dalam hati pada guruku yang memberikannya padaku.”
“Baguslah. Rasa syukur itu penting.”
Saat mendengar itu, wajah Ryo dipenuhi keterkejutan.
“Abel, tumben kamu nyambung...”
“Hei, aku kalau ngomong selalu nyambung!”
“Kayaknya kamu aja yang berpikir begitu.”
“Aku gak mau dengar itu dari kamu!”
Keesokan harinya, mereka mulai membuat daging kering sebagai persiapan menyeberangi pegunungan.
“Abel, mari kita buru babi hutan juga. Memang daging kelinci lebih enak, tapi kita tetap harus buru babi. Kalau bisa, babi terbesar—Greater Boar—yang paling ideal.”
Saat Abel bertanya daging apa yang akan mereka gunakan untuk membuat persediaan, Ryo langsung menjawab demikian.
“Babi sih tidak masalah, tapi... Greater Boar itu merepotkan, dan ukurannya terlalu besar, bukan?”
“Lebih besar lebih baik. Bukannya lebih gampang kalau kita memburu yang besar daripada repot-repot berburu banyak yang kecil? Lagipula, kalau kita ngomongin kemungkinan harus memburu wyvern, masa iya hanya Greater Boar saja kita tidak bisa buru?”
“Tidak, aku bisa mengerti kalau soal wyvern kita terpaksa. Meski aku tak bisa setuju sepenuhnya. Tapi Greater Boar juga bukan lawan yang bisa dianggap enteng...”
“Belum mencoba udah pesimis! Nama baik Abel akan ternoda!”
“Nama baik macam apa yang kamu bicarakan...”
Perdebatan sengit pun terjadi antara Ryo dan Abel. Pada akhirnya mereka memutuskan akan memburu lima ekor kelinci, lima ekor babi hutan... Dan yang terakhir seekor Greater Boar.
Sebagai catatan, kesimpulan yang Abel dapat dari perdebatan panjang itu adalah Ryo sama sekali tidak akan mengalah...
* * *
Mereka berhasil memburu lima ekor Lesser Rabbit dan empat ekor Lesser Boar dengan lancar. Dagingnya dipotong-potong, lalu untuk sementara Ryo menyimpannya dengan sihir pembekuan.
Dan tibalah giliran yang terakhir.
Dengan kemampuan Passive Sonar miliknya, menemukan Greater Boar bukanlah hal sulit bagi Ryo.
“Ryo, sesuai rencana, aku minta kamu menahannya dengan tembok es dan tombak es itu.”
“Meledaklah, Ice Wall 5 lapis! Tembuslah, Icicle Lance, 4!”
Ryo melafalkan sihirnya dengan mantra yang sangat asal-asalan.
Abel sudah tidak memberi komentar apa pun lagi... Dia paham betul bahwa mantra Ryo sama sekali tidak berpengaruh, ada atau tidaknya tetap sama saja.
Dia hanya menggeleng kecil.
Meski begitu, walau mantranya asal-asalan, sihir Ryo tetaplah membentuk tembok es persis seperti yang ia bayangkan.
Clang!
Greater Boar yang berlari menerjang tanpa sempat melemparkan batu, menabrak keras tembok es itu dengan suara menggelegar dan berhenti di tempat.
Keempat kakinya langsung ditembus oleh empat tombak es yang meluncur tanpa jeda.
“Gugyaaaaaahh!”
Terdengar pekikan memilukan dari sang Greater Boar.
Namun jeritan itu tak berlangsung lama.
Di saat yang sama, Abel yang telah menyiapkan pedangnya, sudah muncul di sisi kiri kepala monster itu.
“Jurus: Tusukan Penuh.”
Pedang sihirnya berpendar samar dengan cahaya merah, lalu menusuk masuk melalui telinga si Greater Boar.
Tubuh raksasa itu hanya sempat bergetar sesaat.
Kemudian segera kehilangan seluruh tenaganya, dan ambruk ke tanah.
“Haa...”
Abel menghela napas kecil.
Yang ida lakukan hanyalah berputar ke sisi kiri monster itu dan menusukkan pedangnya melalui telinga dengan jurus. Namun tetap saja, urat tegangnya ikut tertarik.
Cakar seekor Greater Boar mampu merobek manusia layaknya kertas hanya dengan sekali ayunan.
Meskipun sudah terpasung oleh tombak es, masuk ke jarak jangkauan serangannya tetap membuatnya menegang.
“Mantap Abel, itu sungguh luar biasa.”
Ryo memuji dengan tulus.
Dia benar-benar kagum karena Abel mampu menjatuhkan monster itu hanya dengan sekali tusukan.
Terlebih lagi, luka yang ditimbulkan hanya ada pada ujung-ujung kaki dan telinganya.
Untuk tujuan mereka berikutnya, ini sungguh pencapaian yang luar biasa.
“Oke, Abel, sekarang kulit Greater Boar ini harus kamu kupas dengan hati-hati.”
“Apa?”
“Dari kulit ini kita akan membuat tas untuk menyimpan daging kering, lalu pakaian untukku, dan mantel untukmu. Setelah disamak, kulit Greater Boar jauh lebih kuat sekaligus lebih lembut daripada kulit Lesser Boar.”
“Ahh... Jadi itu alasanmu ingin memburu Greater Boar sebesar ini, ya. Bilang dari tadi, dong.”
Abel menggeleng kecil sambil bergumam.
Memang, dengan ukuran sebesar ini, satu kulitnya saja cukup untuk membuat dua tas, satu set pakaian, dan sebuah mantel.
Dagingnya tentu akan dijadikan daging kering, dan jika kulitnya pun dimanfaatkan, jelas itu menguntungkan mereka dua kali lipat.
“Kalau kuberitahu sebelumnya, siapa tahu kamu melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Jadi lebih baik tidak kuceritakan.”
“Melakukan sesuatu yang aneh-aneh...?”
“Seperti sengaja menusuk-nusuk kulitnya dengan pedang hanya untuk menggangguku, membuat kulitnya penuh lubang.”
“Kenapa pula! Dalam pandanganmu itu, aku ini manusia macam apa sebenarnya?”
“Kamu pasti akan berkata begini, ‘Aku sengaja membuatnya berlubang supaya kamu bisa meningkatkan kemampuan menyamaknya ke tingkat yang lebih tinggi.’”
Ryo berkata demikian sambil mengatupkan bibir rapat-rapat, lalu menggeleng berulang kali.
“Itu bukan usil... Itu namanya meragukan kemanusiaanmu.”
“Tepat sekali! Kamu memang sosok yang patut dipertanyakan sebagai seorang manusia!”
Ryo berseru sambil menunjuk Abel dengan tegas, seakan menunggu momen itu untuk melancarkan tuduhannya.
“...”
Abel yang ditunjuk hanya terdiam.
Dia berkedip beberapa kali.
Lalu berkata, “Pertama-tama, mari kita buang darahnya dulu.”
Tuduhan penuh tenaga dari Ryo pun dengan mudah diabaikan begitu saja.
“Ugh... Meski begitu, aku tidak akan kalah!”
Namun gumaman Ryo itu sama sekali tidak sampai ke telinga Abel.
* * *
Setelah proses pengeluaran darah selesai dengan baik.
“Aku yang akan menguliti.”
Abel berkata demikian.
Sebagai seorang petualang, dia sudah berpengalaman mengolah banyak sekali babi hutan.
Dia pun percaya diri dalam hal itu.
“A-Apa itu karena kamu yakin lebih terampil dalam menguliti daripada aku?”
“Bukan, tadi kamu sendiri yang bilang kulitnya harus dikupas dengan hati-hati, kan, Ryo?”
“...Aku tidak yakin aku sempat bilang begitu.”
“Kamu jelas-jelas bilang begitu tadi.”
Abel menghela napas kecil sambil menjawab.
Ryo manyun, lalu dengan sengaja menunjukkan ketidakpuasannya.
“Terkadang aku berpikir. Kamu itu usil.”
“Kenapa pula!”
“Ah, salah. Sering kali aku berpikir. Kamu itu sering usil.”
“Makanya kenapa begitu!”
“Baiklah, kukoreksi lagi. Aku selalu berpikir kamu itu selalu usil.”
“Menurutku justru kamu yang lebih usil, Ryo...”
Sepertinya setelah ketiga kalinya, Abel mulai lelah untuk terus menyangkal.
“Aku ini sedang serius menguliti, tahu.”
“Ah... Soal itu aku akui. Ya, melihatmu serius memang luar biasa. Aku harus memujinya dengan jujur.”
“Uh, oke...”
Mungkin karena dipuji tiba-tiba oleh Ryo, Abel menjawab sambil agak tersipu.
“Melihat pedangmu, aku bisa merasakan sesuatu. Kamu tidak pernah terlena dengan bakat alami yang kamu miliki, melainkan terus menumpuk usaha setiap hari dengan ketekunan, hingga akhirnya mampu mencapai puncak yang begitu tinggi.”
“B-Benarkah?”
Abel makin tersipu, wajahnya mulai memerah.
“Menurutku, terus berusaha bukanlah hal yang bisa dilakukan semua orang. Kalau ada jaminan imbalan atau kesuksesan yang pasti, itu lain cerita. Tapi jalan pedang tidaklah demikian. Berusaha tanpa henti memang suatu keharusan, namun keberhasilan tidak pernah terjamin. Pertanyaannya adalah, apa kamu masih bisa terus berusaha meski tak ada kepastian... Dan Abel, kamu sudah melakukannya selama ini. Itu luar biasa.”
“N-Nggak juga sih...”
Abel tetap melanjutkan pekerjaannya menguliti, namun wajahnya kini sudah benar-benar merah padam.
“Tapi ya, meski kamu serius, sifat burukmu udah ga ketolong lagi.”
“Kenapa kamu balik ke topik itu lagi!”
Mereka berdua terus berbincang tanpa henti, namun tangan mereka tak pernah berhenti bekerja.
Abel tekun menguliti dan memotong daging.
Sementara Ryo menata kulit dan daging yang sudah terpotong di atas meja es.
Setelah semua kulit dan daging selesai diolah, akhirnya mereka beralih pada pekerjaan menyamak.
Pertama-tama, kulit yang sudah dikupas harus dicuci dengan teliti.
“Abel, jangan main-main, cepat cuci itu.”
Sihir air menciptakan sebuah bak es raksasa yang penuh air, tempat kulit harus dicuci.
“Kenapa aku...”
“Sejak dulu, pekerjaan fisik memang tugas barisan depan!”
“Tidak ada aturan macam itu...”
Meski menggerutu, Abel tetap menggulung ujung celananya, masuk ke dalam bak, dan mencuci kulit dengan sungguh-sungguh.
Pada dasarnya, Abel memang orang yang baik.
Berikutnya, mereka mengupas lapisan dermis.
“Ayo, Abel, kupas saja dengan tangan, robek-robek begitu.”
Sang penyihir atribut air menunjuk kulit yang terbentang di atas meja es raksasa, memerintahkan agar lapisan dermis dikupas.
“Lagi-lagi aku...”
“Aku menyerahkannya karena percaya padamu kalau kamu pasti bisa melakukannya!”
“Tidak perlu repot-repot menyerahkannya padaku...”
Meski menggerutu, sang ahli pedang tetap mengupas dermis dari kulit yang sudah dipotong-potong sebelumnya.
Abel memang, pada dasarnya, orang baik.
Lalu, mereka membakar rumput dan daun hingga menghasilkan asap tebal... Proses penyamakan dengan pengasapan.
“Ayo, Abel, kumpulkan lebih banyak ranting dan daun.”
Dengan kulit yang digantung pada jemuran es di belakangnya, penyihir atribut air itu memerintahkan agar bahan bakar dikumpulkan.
“Ini mah aku terus...”
“Aku membaginya karena hanya kamu yang bisa melakukan itu.”
“Mana mungkin! Kamu juga pasti bisa melakukannya, Ryo!”
Meski menggerutu, sang ahli pedang tetap pergi mengumpulkan ranting kering dan daun, lalu menambahkannya ke dalam api.
Abel memang, orang yang sangat baik.
Setelah setengah hari penuh dengan asap, kulit dicuci dengan air, lalu terakhir diratakan dengan tipis dan rata menggunakan Ice Roller.
“Ice Roller terpaksa akan kukerjakan sendiri. Nih, jangan sampai salah paham, bukan berarti aku bermalas-malasan, ya?”
“O-Oke.”
Mungkin karena sudah lelah untuk membantah, Abel hanya menjawab singkat.
Namun, dia segera mendongak dan berkata, “Ryo.”
“Ya, ada monster yang mendekat. Normal Boar dan Kitesnake. Normal Boar akan tiba sebentar lagi, sedangkan Kitesnake mungkin sekitar satu menit lagi.”
“Kitesnake itu merepotkan. Gerakannya cepat, serangan ekornya berbahaya, dan yang paling buruk adalah kabut racunnya.”
“Aku pernah memburunya sekali di Hutan Rondo, dan ular itu memang meresahkan.”
Ryo mengingat kembali pertempuran pertamanya melawan Kitesnake, saat ida harus bersusah payah.
Entah sudah berapa kali Ice Wall miliknya dihancurkan.
Namun...!
“Kali ini akan kutunjukkan, bahwa aku sudah berbeda dari saat itu!”
“S-Semangat sekali kamu...”
“Lagipula kulitnya sudah cukup. Jadi habisi saja sesukamu. Lagi pula, kulit ular tidak kita perlukan kali ini!”
“...Pada akhirnya, masih aku yang harus menghadapinya.”
Abel menggeleng kecil saat mengatakannya.
“Seperti yang kamu lihat, aku sibuk menggunakan penggiling untuk kulit ini. Jadi aku hanya akan mengaturnya dengan Ice Wall.”
“Mengatur?”
“Agar kamu selalu bisa bertarung satu lawan satu. Satunya lagi akan kutahan.”
“Hooh, itu memang sangat membantu. Kalau begitu, aku akan...”
“Ya. Mulailah dari Normal Boar.”
“Baiklah.”
Setelah mengucapkan itu, Abel pun maju menghadapi Normal Boar.
* * *
Dalam pandangan Ryo, Kitesnake belum terlihat.
Namun dengan Passive Sonar, dia dapat menangkap posisi dan pergerakan ular itu dengan tepat.
“Makhluk itu akan sangat merepotkan kalau dibiarkan mendekat, dan aku harus menghindarinya agar barang-barang kulit yang sedang kita buat tidak hancur berantakan.”
Ryo bergumam demikian, lalu melafalkan mantra.
“Ice Wall Package.”
Dia mencoba menghentikan pergerakan Kite Snake dengan menjebaknya dari atas menggunakan kotak es. Namun...
“Gerakannya terlalu cepat!”
Mekanisme Ice Wall Package milik Ryo tercipta hanya dalam sepersekian detik, namun tetap tak mampu menangkapnya.
Mungkin karena ular itu, sebagaimana ular sungguhan, tidak hanya mengandalkan penglihatan manusia, melainkan juga indera lain untuk menangkap perubahan di sekitarnya.
Jika ular biasa memiliki organ pit yang dapat mendeteksi sinar inframerah... Bisa jadi Kitesnake pun memiliki kemampuan serupa, dan justru lebih peka terhadap sesuatu yang dingin seperti es...
Walau begitu, Ryo sudah berjanji akan menangkapnya, maka dia harus melakukannya!
“Waktu itu... Aku menjatuhkannya dengan Squall, lalu menjadikannya air mendidih... Cukup dengan itu sih dia bisa mati.”
Ryo tetap bersikeras hanya akan menangkap, dan membiarkan Abel yang menghabisinya.
Seandainya Abel mendengar itu, pasti dia akan berseru, “Hei, kamu saja yang bunuh sekalian!” tanpa ragu.
“Baiklah, kalau begitu aku coba cara sebaliknya.”
Ryo bergumam, lalu melafalkan mantra.
“Ice Wall 5 lapis, All-Around Package.”
Mengitari Kitesnake dengan jarak sekitar 20 meter, Ryo membentuk Ice Wall 5 lapis. Dia bahkan menambahkan atap es agar makhluk itu tidak bisa melompat melewati dinding.
Dia masih mengingat betul bagaimana Kitesnake pernah melompat dan menembus Ice Wall sebelumnya.
“Penyusutan Ice Wall.”
Ice Wall 5 Lapis itu perlahan mengecil konsentris.
Dari radius 20 meter, menjadi 15 meter, lalu 10 meter, dan akhirnya jadi 5 meter.
Clang. Clang!
Menyadari dirinya terperangkap, Kitesnake mulai menghantamkan ekornya ke dinding es, berusaha memecahkannya.
“Untuk jaga-jaga. Ice Wall 5 Lapis.”
Ryo menambahkan lagi satu lapis benteng es.
“Lalu, berikutnya. Squall.”
Tubuh Kitesnake yang terperangkap dalam dinding es disiram air hingga basah kuyup.
“Peti Es.”
Air yang menempel di tubuhnya membeku, uap air di sekelilingnya pun membeku.
Dalam benteng es itu, Kitesnake akhirnya benar-benar membeku sepenuhnya.
“Bagus, berhasil!”
Abel, yang baru saja kembali setelah mengalahkan Normal Boar, menatap Kitesnake yang kini terkurung es, lalu berkata, “Kayaknya aku gak perlu menghabisinya.”
* * *
Lima ekor Lesser Rabbit, empat ekor Lesser Boar, dan satu ekor Greater Boar. Jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk dua orang dalam bentuk daging kering.
Garam, yang mutlak diperlukan untuk membuat daging kering, tersedia dalam jumlah lumayan banyak.
Sebenarnya, dia mau merendam daging dengan kecap asin atau semacamnya... Namun barang itu tidak ada di tangan.
Akhirnya, mereka hanya menaburkan garam dan lada hitam pada potongan daging, lalu mengeringkannya selama kurang lebih tiga hari.
Selesai.
“Lumayan sederhana juga, ya.”
“Ya, karena ini cara membuat daging kering yang sederhana, seperti biasa dilakukan para petualang di lapangan. Kalau lagi sulit, bahkan hanya dengan garam pun cukup. Jadi bisa dibilang kita sangat beruntung karena punya lada hitam.”
“Syukurlah Hutan Rondo punya tanaman lada.”
Ryo mengangguk-angguk kecil sambil berkata demikian.
Potongan daging kering ditusukkan pada jemuran es buatan Ryo, sambil menunggu kering, keduanya pun bergerak ke utara, menuju pegunungan.
Sementara itu, kulit yang tersisa setelah pemotongan—dengan kata lain, kulit binatang-binatang yang mereka kalahkan—telah selesai disamak, dan sesuai rencana, dijadikan mantel untuk Abel, pakaian untuk Ryo, serta dua buah tas.
Hanya dengan mantel saja, kemampuan untuk menahan dingin meningkat pesat.
Sedangkan pakaian Ryo... Berupa semacam jubah sederhana... Dibuat dari kulit Greater Boar yang panjang disamak, dilubangi di bagian tengah untuk kepala, lalu dikenakan seperti baju terusan.
Karena Ryo sudah memakai jubah pemberian Dullahan, dia tidak membutuhkan mantel. Sebagai gantinya, dia membuat jubah terusan untuk dikenakan di bawah jubah, sehingga kehangatan pun berlipat ganda.
Dengan itu, kemampuan keduanya untuk menahan dingin meningkat drastis.
“Eh, Ryo, tas yang kamu buat bersamaan dengan mantel itu, maksudmu yang ini kan...”
“Ya, daging kering ini akan kita simpan di dalamnya dan dibawa.”
Tas selempang itu berukuran standar.
“Kalau lebih besar lagi, bukannya bikin kamu repot saat bertarung?”
“Y-Ya, iya sih... Tapi, bahkan kalau digabungkan, dua tas ini rasanya tetap tak cukup untuk menampung semua daging kering.”
“Ya, memang tidak bisa dipaksakan. Kalau tidak muat, ya...”
“Ah, kalau begitu mau tak mau, ya.”
Membuangnya memang sayang, tapi tak ada pilihan lain pikir Abel.
“Untuk sisanya, kita bawa dengan tangan.”
“...Hah?”
“Kita makan setiap hari, jadi semakin lama persediaan kita akan semakin berkurang, kan? Pada akhirnya, semua yang dibawa dengan tangan pun akan habis.”
Abel hanya bisa tertegun.
“Tidak, kalau aku memegang sesuatu dengan tangan, aku tak bisa bertarung...”
“Untuk sementara, aku yang akan bertarung.”
Dengan ekspresi seakan-akan menanggung penderitaan besar, Ryo mengangguk penuh tekad.
Pada kenyataannya, setelah semua daging kering selesai dimasukkan ke dalam tas, sisa yang perlu dibawa dengan tangan hanya cukup untuk persediaan satu hari saja.
Tak perlu dikatakan lagi, Abel sangat merasa lega dengan hasil itu.




Post a Comment