NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mizu Zokusei no Mahoutsukai V1 Part 1 Chapter 12

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 12

Menuju Dungeon

Hari kelima, sekaligus hari terakhir dari kursus dasar penjelajahan dungeon. Pagi hari diisi dengan sesi tanya jawab di ruang kuliah, sementara pada siang harinya, seluruh peserta akan masuk ke lantai pertama dungeon secara langsung. 

Sampai hari keempat, informasi dasar yang diperlukan untuk memasuki dungeon telah disampaikan. Struktur dungeon, jebakan yang perlu diwaspadai, musuh yang berbahaya, serta peralatan penting untuk eksplorasi. 

Sebagai catatan, pada praktik siang hari di hari kelima ini, peralatan minimum yang diperlukan untuk eksplorasi—seperti ramuan penyembuh atau obat penawar racun—akan disediakan langsung oleh guild. Hal ini sungguh sangat membantu bagi para pemula dalam penjelajahan dungeon. 

Sebagian besar pemula di dungeon adalah pemula juga sebagai petualang.

Tentu saja, pengecualian berlaku bagi mereka yang datang dari negara lain atau kota lain. Namun, bagi mereka yang baru mendaftar sebagai petualang di Kota Lung, biasanya langkah awal adalah mengasah kemampuan di lantai-lantai atas dungeon. Mereka menjual batu sihir atau material yang didapat dari dungeon kepada guild untuk mendapatkan uang sekaligus catatan prestasi, sambil menerima misi di permukaan demi meningkatkan peringkat petualang. 

Dengan cara itu—menggabungkan misi di dungeon dan di permukaan—para petualang di Lung menaikkan level mereka. Misalnya, Nils dan Eto, yang sekamar dengan Ryo, menjalani jadwal tetap: Senin, Rabu, Jumat untuk dungeon; Selasa, Kamis untuk misi di permukaan; Sabtu dan Minggu libur. 

Mau tidak mau, di dalam dungeon mereka akan mengumpulkan pengalaman tempur nyata. Karena berulang kali melakukannya sejak awal, petualang dari Lung dikenal lebih mahir bertarung dibanding petualang dari kota lain. 

Lalu, ketika sudah mencapai level tertentu dan mulai mendapatkan misi dengan bayaran besar di permukaan, kebanyakan dari mereka tak lagi masuk dungeon sesering sebelumnya. Tidak perlu lagi mempertaruhkan nyawa di kedalaman dungeon jika misi di permukaan sudah mencukupi. 

Akibatnya, bagian dalam dungeon hampir tak pernah dijelajahi.

Rekor terdalam yang tercatat adalah lantai 38. Mengingat bahwa melewati lantai 30 saja sudah cukup untuk membuat kelompok peringkat B kewalahan, wajar bila eksplorasi dungeon tak bisa berjalan lebih jauh. 

“Jadi akhirnya siang ini kita benar-benar masuk dungeon. Aku mulai tegang,” bisik Amon pada Ryo. 

“Sekarang masih pagi, Amon. Kalau dari sekarang sudah tegang, nanti siang pasti kamu sudah kehabisan tenaga,” jawab Ryou dengan senyum getir. 

“Aku tahu, tapi tetap saja...” 

Di samping percakapan lirih itu, sesi tanya jawab masih berlanjut. Para peserta menyampaikan pertanyaan yang belum sempat dibahas dalam kuliah, dan instruktur yang merupakan staf guild sekaligus mantan petualang menjawab satu per satu. 

Namun, tak ada satu pun yang menanyakan hal yang ingin Ryo ketahui. 

Hmm, sebaiknya aku yang bertanya langsung. Memang memalukan, tapi... Bertanya hanya malu sesaat, tidak bertanya malu seumur hidup. 

“Ada pertanyaan lain?” 

Ryo pun mengangkat tangan. 

“Baik, Ryo, silakan.” 

“Ya. Mungkin ini tidak ada hubungannya dengan dungeon di Kota Lung, tapi apa tidak ada semacam fungsi teleportasi ke lantai yang sudah pernah diselesaikan sebelumnya?” 

Begitu pertanyaan itu dilontarkan, seluruh peserta—kecuali instruktur—terpaku. Bahkan Amon, yang duduk di sebelah Ryo, ikut terdiam bingung. 

Ya, itu sudah sesuai perkiraannya. 

“Oh, Ryo, kamu tahu banyak juga. Memang ada dungeon yang memiliki mekanisme seperti itu. Untuk memperjelas, misalnya setelah menyelesaikan sampai lantai 10, maka saat masuk kembali kamu bisa langsung melanjutkan dari lantai 10. Memang ada dungeon yang demikian.” 

Mendengar itu, seluruh peserta tampak terkejut. Wajar saja. Dengan fungsi semacam itu, para petualang bisa pulang setiap hari untuk beristirahat lalu melanjutkan eksplorasi dari titik terakhir. Tak ada hal yang lebih praktis bagi petualang dungeon. 

Namun... 

“Sayangnya, dungeon di Lung ini tidak punya itu. Katanya, dungeon di negeri-negeri barat ada yang begitu, tapi aku pun hanya mendengar rumornya. Jadi detail atau mekanismenya aku tidak tahu.” 

“Baik, terima kasih.” 

Jadi benar, dungeon di Lung tidak punya fungsi itu. Yah, aku memang hanya ingin mencoba masuk sedikit saja, bukan berniat serius menaklukkannya, jadi tak masalah. 

Saat dia berpikir begitu, Amon berbisik penuh kekaguman.

“Ryo, kamu tahu hal yang luar biasa! Pantas saja kamu seorang petualang peringkat D.” 

Memang, sejak hari pertama masuk asrama, Ryo sudah memberi tahu tiga teman sekamarnya—Nils, Eto, dan Amon—bahwa dia terdaftar sebagai petualang peringkat D. Tentu saja, karena Nils dan Eto lebih dulu jadi petualang, dia tidak pernah berbuat sesuatu yang bisa menjatuhkan nama mereka. 

“Ah, itu cuma pengetahuan yang kudengar sepintas...” 

Namun mata Amon yang berbinar-binar justru menjadi tekanan tersendiri bagi Ryo.


Siang harinya, seluruh peserta bergerak bersama menuju dungeon.

Dungeon Lung terletak tepat di tengah kota. Lebih tepatnya, kota ini memang dibangun dengan dungeon sebagai pusatnya. Kota ini dikelilingi tembok besar, sementara pintu masuk dungeon dijaga oleh dua lapis benteng pertahanan raksasa. 

“Seperti yang dijelaskan di kuliah, setiap beberapa tahun sekali terjadi ledakan populasi monster di dalam dungeon. Dan sering kali mereka sampai muncul ke permukaan. Untuk mencegah mereka menyebar ke dalam kota, benteng ganda ini dibangun agar bisa menghadang mereka di sini.” 

Tembok kota berfungsi untuk menahan serangan dari luar, sedangkan benteng di pintu masuk dungeon dibangun untuk menahan monster yang keluar dari dalam. 

Di samping gerbang dungeon berdiri pos cabang guild. Setiap kali ada yang masuk dungeon, nama dan waktunya akan dicatat. Jika terlalu lama tak kembali, maka dalam catatan guild statusnya dianggap hilang atau tak diketahui. 

Selain itu, saat kembali dari dungeon, para petualang bisa menjual batu sihir maupun material mereka di pos tersebut. 

“Hari ini semua peserta sudah tercatat, jadi langsung saja kita masuk dungeon.” 

Begitu suara instruktur terdengar, ketegangan menyebar di antara para peserta. 

Termasuk Ryo dan Amon. Khususnya Amon, tubuhnya kaku seperti batu. 

“Amon... Coba lebih rileks. Ayo, tarik napas dalam.” 

Suu-haa, suu-haa. 

“Sedikit lebih baik...”

Tidak juga, kelihatannya sama saja. Ryo berpikir begitu, tapi tak tega mengatakannya. 

“Ya, tenang saja. Ada yang lain juga bersama kita.” 

“Iya.” 

Dengan begitu, keduanya mengikuti rombongan peserta di barisan paling belakang, lalu melangkah melewati pintu ganda dungeon, masuk ke dalam.


“Cukup luas juga ya.” 

Melewati pintu dan menuruni sekitar seratus anak tangga, tibalah mereka di lantai pertama dungeon. Tempat itu berupa sebuah aula besar, begitu luas hingga dinding seberang pun tak terlihat. 

“Seperti yang sudah dijelaskan dalam kuliah, di lantai pertama ini tidak muncul monster berbahaya. Kalian boleh bergerak bebas, tapi tetap berada dalam jarak pandang aula ini. Dua jam lagi kita keluar. Kalau saat itu ada yang belum kembali, akan kami tinggal dan mengajukan permintaan penyelamatan ke guild. Kalau sampai itu terjadi, anggap saja kalian tidak akan bisa masuk dungeon untuk sementara waktu!” 

Ryo dan Amon berjalan berpasangan menyusuri aula. 

Amon adalah seorang ahli pedang, tapi baru kemarin dia meninggalkan desa, sehingga belum punya banyak pengalaman bertarung. Katanya dia sempat berlatih bersama petualang pensiunan di desa, tapi itu pun baru setengah tahun. Karena itu, posisi mereka bukan formasi ahli pedang di garis depan, melainkan berjalan sejajar berdampingan. 

“Hmm? Ada sesuatu di depan.”

Ryo berbisik pada Amon. 

“Eh? Di mana?”

Amon buru-buru celingukan ke sekeliling. 

“Tidak, di depan sana. Masih agak jauh. Mungkin sekitar 1 menit lagi kita akan berhadapan dengannya. Aku akan menghentikan gerakannya dengan sihir air. Setelah itu, kamu serang dengan pedang.” 

“B-Baik, dimengerti!”

Amon terlihat sangat gugup, sampai-sampai orang lain pun bisa menebaknya sekilas. 

Yah, kalau aku benar-benar menghentikan gerakannya, pasti tidak ada masalah. 

Dan benar saja, 1 menit kemudian mereka bisa melihat wujud monsternya. 

“Soldier Ant. Semut prajurit. Tidak seperti jenis semut lain, dia tidak menyemburkan asam semut. Cara termudah adalah menebas pangkal lehernya.” 

Itu adalah monster tingkat pemula yang juga tercantum dalam Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula pemberian Michael palsu. Panjang tubuhnya sekitar 1 meter. Rupanya dia memang muncul di dungeon. 

“Oke, aku mengerti.”

Amon yang masih tegang mengangguk kaku. 

“Kalau begitu, aku hentikan gerakannya. Wahai es, dengan kekuatan dinginmu, tembuslah musuhku! Icicle Lance, 8!” 

Dari tangan kiri Ryo, 8 tombak es meluncur, membentuk lintasan sebelum menancap dari udara dan menghunjam tubuh Soldier Ant. 

“Giiiiiiiiii!” 

Jeritan nyaring menggema dari monster itu. 

8 tombak es tersebut menancap menembus enam kakinya, perut, dan tubuhnya, membuatnya terikat ke tanah. 

“Amon, dekati dari samping lalu tebas lehernya.” 

“Oke!” 

Amon menghunus pedangnya, bergerak membentuk setengah lingkaran berlawanan arah jarum jam, lalu dengan teriakan penuh semangat menebas dari atas. 

“Haaah!” 

Chop! 

Kepala Soldier Ant terpisah dari tubuhnya. Monster itu langsung terkulai mati. 

“Luar biasa!”

Ryo mendekat sambil bertepuk tangan. 

“Haa, haa, haa...”

Amon masih terengah, wajahnya penuh emosi. 

Namun setelah beberapa kali menarik napas dalam, dia kembali tenang. 

“Kita berhasil, Ryo.” 

“Ya, yang tadi bagus sekali. Bahannya sulit diambil, tapi batu sihirnya bisa kita bawa pulang. Anggap saja ini sebagai kenangan perburuan pertamamu di dungeon.”

Ryo tersenyum saat berkata begitu. 

“Eh? Kamu yakin?” 

“Kita ini petualang. Di dungeon, yang penting adalah hasil yang bisa menghasilkan uang.” 

Setelah berkata begitu, Ryo menghunus pisau buatan Michael palsu dan menancapkannya ke kepala Soldier Ant yang sudah terpenggal. Untuk monster hewan, batu sihir biasanya ada di dekat jantung. Namun, untuk monster jenis serangga, kebanyakan batu sihirnya terletak di kepala. Dalam buku itu pun tertulis, Soldier Ant menyimpan batu sihir di kepalanya. 

Tak lama kemudian, dia berhasil mengeluarkan batu sihir kecil seukuran ujung kelingking. 

“Air, keluarlah.” 

Dengan air, dia mencucinya. Batu sihir itu kini bersih, berwarna kuning pucat, sepertinya beratribut tanah. 

Ryo menyerahkannya pada Amon. 

“Sebagai kenang-kenangan.” 

“Baik...”

Amon menerima batu itu, hampir menangis. Padahal monster itu bukan lawan yang punya makna khusus, dan pertarungan pun berjalan mulus. Tapi entah mengapa, air matanya hampir tumpah. Meski begitu, dia menahannya dengan sekuat tenaga. 

“Kalau begitu, ayo kembali perlahan ke titik kumpul. Bangkai ini nanti akan dibereskan slime di dalam dungeon. Benar-benar praktis, ya, dungeon ini.” 

Ryo berkata sambil berjalan di sisi Amon, yang tampak gembira menatap batu sihir di tangannya. 

Untuk menumbuhkan kepercayaan diri, yang terpenting adalah membangun pengalaman dari keberhasilan. 

Amon, yang tadinya begitu kaku saat pertama masuk dungeon... Kini tak ada lagi ketegangan itu yang terlihat di wajahnya. 


“Baiklah, mari kita bersulang untuk merayakan keberhasilan Ryo dan Amon menyelesaikan kursus!” 

Di ruang makan yang terhubung dengan guild, keempat penghuni Kamar 10 mengadakan pesta kecil. 

Tentu saja, di ruang makan itu tidak ada alkohol, dan membawanya sendiri pun dilarang. Lagi pula, Amon masih di bawah umur, jadi memang tidak bisa minum. Karena itu, keempatnya hanya memesan jus. Nils dan Ryo minum jus yang diperas dari buah rindo yang rasanya mirip apel, sedangkan Eto dan Amon memesan jus jeruk. Keduanya sehat dan populer di kalangan petualang, baik laki-laki maupun perempuan. 

“Meski hanya dari praktik kursus, kalian bisa membunuh Soldier Ant di dungeon pertama kalian... Hebat sekali, kalian berdua.”

Eto berbicara sambil tersenyum. 

“Tidak, aku hanya memberi serangan penutup. Semuanya berkat Ryo yang menghentikan gerakannya,” ujar Amon dengan wajah malu, sambil memegang daging ayam goreng. 

“Kamu berhasil menebas dengan baik, itulah yang membuat kita menang. Tidak perlu merendahkan diri,” kata Ryo sambil memakan steak daging sapi. 

“Bagaimanapun, yang penting kita dapat batu sihir. Itu sudah cukup jadi alasan untuk bersyukur, bukan?”

Nils tertawa terbahak-bahak, sambil menggenggam dua potong besar ayam panggang bertulang di tangannya. 

Masakan ruang makan guild memang lezat, dan porsinya besar. Tempat itu tidak hanya untuk petualang, tapi juga bisa dipakai warga Lung. Namun, karena pelanggan utama adalah para petualang, porsi standar pun jauh lebih banyak. 

“Kelompok kami libur besok dan lusa. Bagaimana dengan kalian berdua?”

Eto bertanya pada Ryo dan Amon sambil meneguk jus isi ulangnya. Malam itu adalah Jumat, dan kelompok Nils biasanya libur di akhir pekan. 

“Aku ingin mencoba masuk lagi... Tapi masuk sendirian agak sulit... Apa sebaiknya aku mencari kelompok liar?”

Amon, yang tak ingin melupakan sensasi hari itu, tampak bersemangat. 

“Wah, semangat juga kamu! Memang harus begitu kalau jadi petarung garis depan!” kata Nils, yang sesama ahli pedang merasa simpati padanya. 

“Aku mengerti perasaanmu, tapi kelompok liar itu untung-untungan. Bisa bagus, bisa juga berantakan...” Eto tidak menganjurkannya. 

“Kalau begitu, mau masuk dungeon bersamaku? Aku berniat sekadar melihat-lihat sampai lantai 3.” 

“Benarkah!? Tolong, aku sangat ingin!”

Amon menerima tawaran Ryo tanpa pikir panjang. 

“Entah kenapa, aku merasa aneh dengan keberadaan semut di lantai 1.” 

“Oh ya, seharusnya lantai 1 hanya ada kelelawar. Ngomong-ngomong, bukannya kita juga pernah bertemu Soldier Ant di sana?” 

“Benar. Katanya, selama setengah tahun terakhir, ada beberapa laporan ditemukannya Soldier Ant di lantai 1 dan 2.”

Eto sudah sempat menanyakannya pada guild. 

“Kenapa ya, semut yang seharusnya tidak ada malah muncul di sini?” 

“Itu karena semut-semut itu menggali lubang vertikal hingga mencapai lantai 1.” 

“!”

Suara tiba-tiba itu membuat Nils, Eto, dan Amon terkejut lalu menoleh ke arah sumber suara. 

“Abel, tak pantas rasanya seorang veteran mengusik para pemula.”

Hanya Ryo yang tidak terkejut, karena dia sudah merasakan kehadiran Abel yang mendekat. 

“Ngusik apanya... Aku cuma menjawab pertanyaan para pemula dengan tepat, kan.”

Abel berwajah masam sambil menghela napas, lalu melanjutkan. 

“Kalian ini teman sekamarnya Ryo, kan? Aku Abel. Ryo memang tidak lemah, tapi orangnya agak bermasalah. Jadi, tolong jaga dia.” 

“Abel, kalau mau cari ribut, aku siap meladeni.”

Abel sengaja memancing. Ryo pun menyambutnya. Tentu saja, itu hanya gurauan di antara keduanya. 

“Ah, Abel... Bukannya kamu Abel si Pedang Merah!? Aku ini juga ahli pedang, namaku Nils! Aku masih peringkat F dan baru saja sampai di Lung, tapi aku sangat mengagumimu! Kalau boleh, bisakah aku berjabat tangan...?” 

Saking gugupnya, Nils berdiri kaku dalam posisi tegak lurus dan memperkenalkan diri pada Abel. 

“Oh, tentu saja.”

Abel menjabat tangannya sambil berkata, “Berjuanglah sekuat tenaga. Tapi jangan pernah memaksakan diri. Bagi petualang—terutama di dalam dungeon—hal yang paling penting adalah bertahan hidup.” 

Bisa mengucapkan kata-kata seperti itu dengan santai, lalu menjabat tangan begitu saja... Mungkin itulah alasan kenapa dia begitu populer.

Ryo berpikir begitu. 

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di guild pada jam segini?”

Padahal waktu sudah hampir pukul 20.00. 

Biasanya laporan ke guild selesai sekitar pukul 18.00, lalu para petualang pulang ke rumah atau minum-minum. Kalau begitu, tak banyak alasan bagi seseorang untuk masih berada di guild pada jam segini, selain makan malam. 

“Ah, soalnya misi yang kumainkan tadi molor cukup lama. Baru saja selesai, jadi aku baru bisa kembali.” 

Abel baru mengatakan itu, ketika suara terdengar dari belakangnya. 

“Ah! Abel, kamu ada di sini rupanya!”

Itu adalah Lynn, penyihir dari kelompoknya. 

“Abel, bukannya aku sudah bilang kamu harus melapor pada guildmaster? Jangan coba-coba kabur.”

Menyusul dari belakang, suara Rihya, sang pendeta. 

“Eh, aku kan cuma memberi sedikit nasihat pada para pemula, sebagai veteran...”

“Ryo, maaf ya. Kami pinjam Abel sebentar. Warren, angkat dia.”

Begitu Lynn berkata begitu, Warren sang perisai pun dengan mudah mengangkat Abel ke bahunya. 

Padahal tinggi Abel sekitar 190 sentimeter, tubuhnya juga besar. Tapi bagi Warren yang tingginya lebih dari 2 meter, seorang raksasa sejati, Abel terasa begitu ringan. 

“Eh, tunggu, Warren! Aku bisa jalan sendiri! Hei, turunkan aku, cepat turunkan!” 

Melihat itu, orang-orang di sekitarnya pun tertawa. 

“Ryo, maaf ya. Kami harus melapor ke guildmaster, jadi kami pinjam Abel dulu.”

Suara Rihya tetap seindah dentingan lonceng. 

“Tidak masalah. Dia kan pemimpin Pedang Merah. Silakan dibawa, mau direbus atau dipanggang sesuka kalian.” 

“Ryo, dasar pengkhianat! Warren, turunkan aku sekarang juga!” 

Kelompok Pedang Merah pun pergi secepat badai menerjang. 

“...Barusan pemandangan yang luar biasa ya,”

Amon berkomentar dengan tenang. 

“Ahh, Rihya, sungguh malaikat...”

Eto bergumam entah pada siapa. 

“Abel, dia keren banget sih.”

Nils berucap penuh kagum. 

Padahal, entah bagian mana dari kejadian barusan yang bisa disebut keren...


Ryo dan Amon berada di lantai 2 dungeon Lung. Di lantai ini, terdapat monster-monster jenis serigala, seperti Lesser Wolf. 

“Wahai es, tembuslah. Icicle Lance 4.” 

Tombak-tombak es menancap pada kaki belakang dua ekor Lesser Wolf, menjepit mereka ke tanah dan membuat mereka tak bisa melompat. Amon segera menyerang salah satunya. Lesser Wolf itu melawan dengan kaki depannya yang masih sehat dan rahangnya yang buas. Amon terus melancarkan serangan lalu mundur dengan langkah-langkah kecil, mengulanginya berkali-kali, menumpuk luka pada serigala itu tanpa memberi kesempatan dirinya terkena serangan. 

Melawan musuhnya yang terhenti langkahnya memang sangat efektif. Tapi bagaimana dengan musuh yang tidak bisa dihentikan geraknya...? 

Dengan beberapa serangan, Amon berhasil membuat kedua kaki depan serigala itu lumpuh. 

“Haaah!” 

Akhirnya dia menghunuskan pedangnya ke leher serigala dan mengakhiri hidupnya. Satu ekor lainnya, yang kakinya masih terpaku oleh tombak es, juga dia habisi dengan cara yang sama. 

“Luar biasa.” 

“Ya, terima kasih.” 

Wajah Amon memerah ketika menjawab. Tak seintens kemarin, tapi tetap saja, setelah bertarung dan menang dia terlihat terbakar semangat. 

Ryo mengambil batu sihir dari monster pertama yang dibunuh Amon. 

Sudah enam Lesser Wolf yang mereka temui sejak mereka masuk ke lantai 2. Empat sebelumnya, sama seperti kemarin ketika melawan semut, Ryo menjepit keempat kaki monster itu dengan tombak es hingga mereka tak bisa bergerak, lalu Amon yang memberi serangan terakhir. Dua yang barusan, Ryo hanya menjepit kaki belakangnya, lalu membiarkan Amon berduel langsung. 

“Amon, bagaimana kalau berikutnya kita coba satu lawan satu? Lawan yang tidak bisa dilumpuhkan total memang agak merepotkan, jadi bagaimana kalau kamu melawan seekor serigala yang sudah cedera di satu kaki depan?” 

Lebih mirip pelatihan tempur bagi Amon daripada eksplorasi dungeon. 

“Tolong ajari aku!” 

“Jawaban yang bagus.” 

Siapa pun pasti senang melihat semangat seorang pemuda. Begitu pun Ryo. Walaupun dari penampilan, dirinya pun masih belia, tak lebih dari akhir belasan tahun. 

“Tapi, Ryo, kamu yakin?” 

“Hmm?” 

“Maksudku... Aku sangat berterima kasih karena bisa mendapat berlatih bertarung sekaligus eksplorasi dungeon, tapi... Aku khawatir mungkin tidak bisa membuatmu puas nantinya...” 

Sambil membilas batu sihir dari serigala dengan air, Amon mengajukan pertanyaan itu. Seharusnya air adalah barang berharga di dungeon, tetapi dengan adanya penyihir air, mereka bisa memakainya sesuka hati. 

“Tidak usah dipikirkan. Membantu rekan sekamar menjadi lebih kuat adalah hal yang wajar. Ngomong-ngomong, Amon, gaya pedangmu—atau lebih tepatnya, gerakanmu—mirip dengan Abel. Katanya kamu belajar dari mantan petualang desa, kan?” 

“Abel...! Ah, iya. Aku belajar dari Kakek Kiro... Walau disebut kakek, beliau punya tubuh yang tegap dan masih kuat bekerja di ladang. Katanya dulu dia pernah belajar di dojo besar di ibu kota, mengikuti aliran yang cukup terkenal... Kalau tidak salah namanya aliran Hume.” 

“Maaf, aku kurang ingat detailnya,” tambah Amon dengan wajah agak sungkan. 

“Begitu rupanya. Kalau dasar-dasarnya sudah kokoh, pasti kamu bisa jadi sangat kuat. Abel juga gitu. Baiklah, ayo kita lanjut.” 

Mereka pun berjalan berdampingan lagi, sama seperti kemarin. 

“Ryo, aku kira kamu seorang penyihir... Tapi kamu juga paham soal pedang?” 

“Dulu aku pernah dilatih oleh guruku... Walau pada dasarnya hanya dengan gaya sendiri, jadi tidak bisa dibilang benar-benar ahli pedang.” 

Sambil berkata begitu, pandangan Ryo menerawang jauh. Dalam benaknya, sosok sang Raja Peri, Dullahan, kembali muncul setelah sekian lama. 

“Hebat sekali! Seorang penyihir yang bisa pedang juga... Eh, tapi biasanya kamu tidak membawa pedang, kan?” 

Rasanya baru-baru ini ada percakapan serupa... 

Sambil mengingat itu, Ryo menjawab. 

“Ini pedangku.” 

Dia mengeluarkan Murasame dari ikat pinggangnya, lalu memunculkan bilah es darinya. 

“A-A-Apa itu...?” 

Mata Amon membelalak, wajahnya terlihat kocak. Tapi memang wajar, siapa pun yang baru pertama kali melihat pedang—atau lebih tepatnya katana, karena sedikit melengkung—dengan bilah es yang muncul begitu saja, pasti bereaksi seperti itu. 

“Ini hadiah dari guruku. Pedang khusus untuk penyihir air.” 

“Bilah es... Ah, benar juga. Tanpa bisa mengendalikan sihir air, tak mungkin bisa membentuknya. Tapi ini baru pertama kalinya aku melihat hal seperti ini.” 

Saat itu, Ryo bereaksi cepat. 

“Dua Lesser Wolf, datang dari depan.” 

“Ah, baik!” 

Sedikit terbuai karena penasaran dengan Murasame, Amon segera mencabut pedangnya dan menyiapkan diri. 

“Baiklah, seperti yang kubilang tadi. Aku akan melukai satu kakinya, lalu kamu bertarung dengannya.” 

“Ya!” 

“Icicle Lance 2. Water Jet.” 

Dua tombak es menancap pada kaki belakang seekor serigala, menjepitnya ke tanah. Sementara itu, Water Jet menembus kaki depan kiri serigala lainnya. 

“Auuuuuunngg!” 

Serigala itu menjerit, lalu bangkit dengan tiga kaki tersisa dan menghadapi Amon yang sudah siap. 

Batu sihir milik Lesser Wolf adalah batu kecil berwarna hijau, jadi kemungkinan besar mereka monster atribut angin. Namun, tak seperti beberapa monster angin lain, mereka tak bisa melancarkan serangan jarak jauh seperti Air Slash, juga tidak punya kecepatan suara seperti Assassin Hawk. 

Mereka hanya Lesser, monster lantai 2, jadi tentu tak terlalu kuat. Meski begitu, bagi Amon yang baru saja terdaftar sebagai petualang peringkat F, seekor saja sudah bisa disebut lawan yang berat. 

Sebagai jaga-jaga, Ryo telah menyalurkan Ice Armor tipis yang melapisi tubuh mereka berdua. Karena sama sekali tidak menghambat pergerakan, Amon bahkan sudah tak memikirkannya lagi. 

Untuk pelatihan, justru itu lebih baik, pikir Ryo. 

Cara bertarung Amon pun sama seperti sebelumnya saat melawan serigala yang kakinya dijepit tombak es. Dia terus bergerak maju-mundur, menyerang lalu mundur. Hit and run. Bedanya, kali ini serigala itu kadang masih mampu menyerbu meski kakinya cedera, jadi Amon sering menghindar ke arah serong belakang. 

Menarik. Dengan begini dia jarang sekali kena serangan fatal. Yang perlu dikhawatirkan hanya stamina... Ya, stamina bisa ditempa dengan latihan rutin... Kalau kupikir-pikir, sudah lama aku tidak lari pagi... 

Ryo teringat masa-masa di Hutan Rondo, ketika dia berlatih mengendalikan sihir sambil berlari setiap pagi. Sejak meninggalkan hutan dan memulai perjalanan bersama Abel, kebiasaan itu terhenti. Dia sempat berpikir, kalau di kamar berempat, apa tidak akan membangunkan yang lain kalau dia berlari di pagi hari? Sambil memikirkan itu, Amon akhirnya berhasil menumbangkan serigala. 

“Luar biasa.” 

Namun kali ini wajah Amon pucat, tubuhnya gemetar kelelahan. Dia bahkan menumpukan tubuh pada pedangnya. 

“Amon, duduklah dan istirahat dulu.” 

Ryo segera menebas leher serigala lain yang masih terjepit, lalu mengambil batu sihir dengan pisau buatan Michael. Dia juga mengambil batu dari serigala yang dibunuh Amon, lalu kembali menghampirinya. 

“Ice Wall All-Around.” 

Es menjulang dari empat sisi dan bagian atas, membentuk dinding kubus selebar lima meter, sebuah area aman. 

“Dinding es ini tak mudah ditembus. Istirahatlah dengan tenang.” 

“Maaf...” 

Amon terjatuh telentang dengan kedua tangan terbuka lebar, napasnya masih memburu. 

Jika ingin benar-benar aman, harusnya kubuat juga Ice Wall di lantai... Tapi tanahnya tidak rata, jadi Ice Wall tak cocok... Mungkin Ice Burn bisa? Itu cukup kuat, tapi ya, karena es, tentu bakalan jadi dingin... Kalau kubuat 5 milimeter di bawah tanah, mungkin tidak dingin di permukaan... Tapi apa aku bisa membuat Ice Burn di dalam tanah...? Hmm, ini harus kucoba nanti di permukaan. 

Sambil memikirkan eksperimen itu, Ryo melihat Amon mulai bangkit setelah napasnya sedikit pulih. 

“Maaf, aku sekarang sudah agak bisa bergerak.” 

Namun dari wajahnya, jelas dia memaksakan diri. 

“Tidak perlu dipaksa. Ini bukan situasi genting, jadi gunakan waktumu untuk pulih. Minumlah air dulu.” 

Amon menuruti perkataannya, meneguk air dari kantung minum.

Karena ada kemungkinan sesuatu terjadi dan mereka terpisah, masing-masing membawa perlengkapan dasar untuk eksplorasi dungeon. Seperti kantung air, ramuan, dan obat penawar racun. 

“Fuuuh.” 

Amon benar-benar menghela napas panjang. 

“Ngomong-ngomong, dinding es ini luar biasa, ya. Benar-benar transparan. Es yang bening begini, aku belum pernah lihat sebelumnya. Biasanya kan putih.” 

“Itu karena ada kotoran dan udara yang terperangkap di dalam air. Kalau semuanya dihilangkan, bahkan tanpa sihir pun bisa dibuat es yang transparan. Tapi ini sihir, jadi hasilnya benar-benar bening sempurna.” 

Ryo tersenyum sambil menjelaskan. 

Bahkan di Bumi modern, es hampir bening sempurna bisa dibuat. Tapi bukan dengan kulkas rumah tangga atau mesin pembuat es biasa. Perlu usaha dan waktu lebih dari 48 jam di tangan para profesional. Es semacam itu biasanya dipakai untuk seni ukir es. 

Sesuatu yang di bumi membutuhkan waktu dan tenaga besar, di dunia Phi bisa diciptakan dalam sekejap... Sihir memang luar biasa! 

“Sihir atribut air hebat sekali!” 

Amon menatap Ryo dan dinding es itu dengan penuh kekaguman. 

Bagus, sedikit demi sedikit aku sudah membantu meningkatkan martabat penyihir air. 

Ryo mengangguk dalam hati. 

“Meski begitu, melawan musuh yang masih bisa bergerak ternyata sangat menguras tenaga...” 

Nada suara Amon sedikit merendah. 

“Waktu di desa dulu, kamu tidak pernah bertarung melawan monster?” 

“Pernah, tapi hanya dengan beberapa orang melawan satu ekor. Tidak pernah sendirian.” 

Bertarung satu lawan satu jelas sangat berbeda dibanding mengeroyok ramai-ramai. Beban mentalnya pun jauh lebih besar. 

“Cara bertarungmu memang mudah membuat lelah.” 

Hit and run memang terdengar keren, tapi intinya hanya sering keluar-masuk. Itu artinya kaki harus terus bergerak, dan akhirnya membuat tubuh cepat lelah. 

“Begitu, ya...” 

Amon kembali terlihat murung. 

“Tapi kalau ditekuni, itu justru gaya bertarung yang meminimalkan luka serius. Yang kamu butuhkan hanyalah stamina. Dan stamina bisa dilatih siapa saja.” 

“Benarkah!?” 

Mata Amon bersinar, menatap Ryo dengan penuh harap. 

“Cukup dengan berlari. Itu saja sudah bisa melatih stamina. Membuat tubuh tak mudah lelah. Kekuatan itu berguna di situasi apa pun, bisa dibilang kemampuan serba guna.” 

“Aku mengerti!” 

“Selain itu, untuk melatih ketahanan otot di lengan dan bahu, latihan ayunan pedang juga penting. Kamu pasti sudah diajarkan di desa, kan?” 

Tak ada aliran ilmu pedang di dunia mana pun yang tidak menekankan latihan ayunan dan pola gerakan. 

“Ya. Aku belajar pola latihan yang harus dilakukan setiap hari.” 

“Terus lakukan itu dengan benar. Itulah jalan progresif. Aku pernah bepergian bersama Abel cukup lama, dan bahkan dia setiap pagi tetap berlatih pola dasar.” 

“Abel juga!?” 

“Abel memang jenius pedang, tapi bahkan seorang jenius pun tetap berlatih.” 

“Aku... Aku mungkin tidak punya bakat pedang.” 

Nada Amon kembali menurun. Negatif seperti biasa. 

“Amon, kesatria terkuat yang kukenal pernah ditanya apa itu bakat, dan dia menjawab begini: ‘Bakat adalah kemampuan untuk terus melanjutkan.’ Konsistensi adalah kekuatan.” 

Amon terperanjat, menegakkan wajah dan menatap Ryo. 

“Amon, kamu tidak bisa terus berusaha?” 

“Bukan begitu... Aku bisa! Aku akan melakukannya!” 

Ryo mengangguk pelan, melihat Amon berteriak penuh semangat di sisinya. 

Memotivasi orang ternyata sulit sekali... Kemampuan untuk membakar semangat orang lain... Aku mau punya itu. 

Padahal dia sendiri sangat ahli memprovokasi Abel... Dunia ini memang aneh.


Hari berikutnya adalah hari Minggu. 

Mereka memutuskan untuk tidak masuk dungeon dua hari berturut-turut. Amon pun segera mulai berlatih. 

Pagi-pagi, sebelum sarapan, dia berlatih ayunan pedang. Setelah sarapan, dia berlari di arena latihan luar ruangan milik guild, sepanjang pagi. Tentu saja, tenaganya belum cukup banyak, jadi dia berlari pelan. Kadang melambat sampai berjalan, tapi dia tidak pernah berhenti bergerak. Persis seperti yang dulu Ryo lakukan di Hutan Rondo. 

Semangat pemula yang begitu tinggi pun memberi pengaruh baik bagi rekan-rekan lainnya. Melihat Amon berlari, Nils dan Eto pun ikut-ikutan. Meskipun, sebagai seorang pendeta yang fisiknya lemah, Eto cepat sekali menyerah. 

Namun, di antara mereka, tidak ada sosok Ryo. 

Bukan karena dia khawatir kekuatan fisiknya yang tak terbatas akan membuat yang lain kehilangan motivasi. Dia hanya punya hal lain yang ingin dilakukan. 

Yakni, mempelajari alkimia.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close