NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Anokoro ii Kanjidatta Joshi-tachi to Onaji Kurasu ni Narimashita Volume 3 Chapter 11

 Penerjemah: Arif77

Proffreader: Arif77


Chapter 11

Satu-satunya Matahari - Hitori no Taiyou

Yuzuha meninggalkan tempat itu dan berlari menyusuri lorong yang sepi.

Dulu, aku dan Remi pasti saling menyukai.

Beberapa bulan lalu, aku memastikan bahwa ingatanku tentang “hubunganku berjalan baik dengan Remi” bukanlah kebohongan.

Kalau perasaan Remi tidak pernah berubah, dan hanya aku seorang yang berubah… kira-kira sebesar apa kekecewaan yang dia rasakan?

Tidak, Remi bukan tipe yang akan kecewa. Dia pasti akan menganggap tahun-tahun yang berlalu sebagai alasan yang tak terhindarkan, dan berusaha mengubah perasaannya menjadi dukungan untukku.

Meski itu bertentangan dengan perasaannya sendiri dan seberapa pun rasa sedih yang muncul, jika dia tahu aku menyukai Hanazono, dia akan membantuku latihan kencan. Dan kalau dia tahu aku mendapat pengakuan dari Yuzuha, dia pasti akan mendukung jalan cintaku.

—Bagiku, Remi adalah matahari yang hanya memancarkan sinarnya untukku.

Ketika aku membuka pintu kelas dengan keras, Takeru terlonjak kaget sampai tubuhnya melengkung ke belakang.

“Uwoa!? Ngapain buru-buru begitu, bahaya tau! Ah, soal tadi gimana—”

“Takeru! Remi di mana!?”

“Hah? Kalau nggak salah dia bilang ada urusan di lantai dua atau semacamnya, terus pergi dan belum balik. Dia bawa tas juga… mungkin pulang?”

“Pulang? Dia, pulang di tengah jalan?”

“Nggak tahu pasti sih.”

Takeru menjawab dengan bingung, lalu mengernyitkan kening.

Kemudian ia menarikku ke lorong yang sepi sebelum melanjutkan bicara.

Aku menekankan bibir, menghadapi rasa tidak nyaman itu.

Padahal aku punya hal penting yang harus kubicarakan dengannya.

Kalau Remi pulang, itu berarti aku satu-satunya panitia kelas yang tersisa.

Dengan kata lain, hari ini aku tidak bisa mencarinya sama sekali.

“Yoshiki, bukannya rumahmu dekat sama Nikaidou? Kalau mau ketemu kan gampang. Kenapa sekarang buru-buru banget?”

“...Yah, banyak hal terjadi.”

“Banyak hal ya. Terus gimana soal Yuzuha tadi?”

“...Pembicaraan itu dibatalkan. Maaf.”

Takeru menatapku dengan ekspresi tak percaya.

“Serius? Kenapa? Padahal dari luar sih kalian udah mau jadian.”

“...Itu termasuk ‘banyak hal’. Ada seseorang dari masa SMP-ku, yang dulu hubunganku buruk dengannya. Dia yang jadi alasan utamanya.”

Kalau kusebut nama Seto, Takeru tak akan mengerti karena kami beda SMP. Saat aku masih bingung menjelaskannya, rupanya Takeru juga merasa sama.

“Sekarang aku sadar, ya… aku nggak tahu apa-apa tentang masa SMP-mu.”

“...Iya juga. Selama ini aku nggak mau ada yang tahu. Itu kenangan yang ingin kulupakan, dan aku ingin memulai dari nol saat masuk SMA.”

Tapi untuk mengatasi masa lalu, memulai dari nol bukan satu-satunya jalan.

Berbicara dengan teman baru, membuat mereka tahu masa laluku, lalu menerimanya—memang sedikit egois, dan tergantung orangnya mungkin justru bikin mereka repot.

Tapi orang yang bisa kupercaya untuk menerima itu… dialah teman sejati. Dan orang yang ingin kuberitahu masa laluku… dialah orang yang ingin kujadikan teman.

Saat berbicara dengan Takeru, aku bisa merasakan itu.

“Nanti akan kuceritakan. Tidak… tolong biarkan aku menceritakannya suatu saat nanti.”

“Beneran? Boleh aku nunggu?”

“Aku pasti cerita. Saat cuma ada kita berdua. Karena kita teman.”

Ketika kukatakan langsung begitu, Takeru mengedipkan mata.

“Kalau gitu… sebagai teman, boleh aku ngasih pendapat egois?”

“Boleh.”

“Aku pengen kalian berdua—kamu sama Yuzuha—yang mutusin jawabannya, berdua. Bukannya karena orang lain.”

“...Maaf.”

“Nggak apa-apa kok, aku ngerti.”

Tidak, ini salahku juga. Dari sudut pandang Takeru, itu wajar.

Walaupun dia bisa saja marah-marah, dia tetap memikirkan perasaanku. Karena itu aku pun ingin memberi jawaban yang layak, dan tanpa sadar aku membuka mulut.

“...Jawabanku sebenarnya sudah ada.”

“Hah?”

“Jawabanku sudah diputuskan. Bukan karena aku ketemu orang itu lalu berubah pikiran. Karena itu sekarang aku akan bertindak untuk membuat masa depan jadi lebih baik. Menurutku… itu tanggung jawabku.”

“...Begitu ya. aku ngerti. Yang penting lu beneran serius mikirinnya.”

Takeru terlihat cukup puas.

Sepertinya dia lebih ingin memastikan kesungguhanku daripada jawabannya.

“Yoshiki.”

Aku menoleh. Takano dan Sudo menatapku dengan wajah serius.

Takano mengangkat satu tangan, memberi isyarat maaf.

“Maaf ya, kami nyolong dengar. Kamu tahu Yui sekarang di mana? Belum balik?”

“Ah… nggak, aku nggak tahu.”

Aku menjawab kaku.

Mereka berdua adalah teman Yuzuha.

Meski ada insiden di pertemuan kelas, mereka tetap percaya pada Yuzuha.

Siang tadi saat masuk ke Ciel, mereka bahkan bercanda sambil mendorongku mendekati Yuzuha. Jelas mereka mendukung hubungan itu.

Dan sekarang, apa yang mereka rasakan pada cowok yang baru saja menolak teman mereka… sudah bisa ditebak.

Aku tak tahu harus bicara apa. Meski ingin menjelaskan, hasil akhirnya sama saja. Dan aku tak mau membohongi diriku sendiri.

“...Maaf.”

Jadi yang bisa kulakukan hanyalah meminta maaf.

Jika mereka marah pun, aku menerimanya. Aku telah menyakiti teman mereka.

Takano justru tersenyum sedih dan memegang bahuku.

“Kamu nggak perlu minta maaf. Pada akhirnya, yang bisa kami lakukan cuma… ngelihat dari jauh.”

Sudou menambahkan.

“Yoshiki nggak usah mikirin kami. Kalau itu pilihan Yui, kami dukung. Dan itu juga berlaku buat kamu. Kita kan temenan juga?”

“Betul! Kita tahu kamu mikirinnya serius kok.”

“...Kalian berdua…”

Mereka bisa saja membenciku.

Tapi aku lupa satu hal.

Mereka adalah teman Yuzuha.

Tentu saja mereka orang baik.

Menyalahkanku? Itu bukan sifat mereka sama sekali. Justru aku yang bersalah karena sempat meragukannya.

“Kalau gitu, sebagai teman, boleh tanya satu hal? Yoshiki mau apa sekarang? Mau cari Remi kan? Jujur aja, tadi Remi juga keliatan aneh banget.”

“...Tidak. Pertama kita beresin sisa pekerjaan budaya. Hasegawa-sensei juga bilang, ‘Bersih-bersih sampai selesai itu bagian dari festival.’”

“Haaa!? Serius banget! Udah sana kejar Remi!”

Takano memukul punggungku keras-keras, sampai aku batuk.

“Tapi beneran, harus ada satu orang panitia, kan! Mungkin dia balik!”

Meski kubilang begitu… aku juga tahu kemungkinan itu kecil.

Remi yang kukenal tidak akan pergi di tengah-tengah kerja.

Karena dia membawa tasnya… berarti dia tidak akan kembali.

Takano mengerutkan kening, tapi akhirnya menghela napas.

“Ya… masuk akal sih. Tapi tanggung jawabmu gede banget ya. Kalau aku sih udah kabur dari tadi.”

“...Emangnya dalam situasi kayak gini, tanggung jawab perlu?”

Takeru ikut nyelutuk, dan Sudou langsung mendorongnya ke arah kelas.

“GYAA!!”

Suara barang jatuh terdengar keras. Sepertinya dia benar-benar jatuh parah.

“...Dia masih hidup kan?”

“Haha, pasti lah. Nanti dia muncul lagi sambil bawa barang.”

“Barang?”

Saat aku menoleh, Takeru kembali sambil membawa tasku.

“Nih, sana pergi! Di sini biar kami yang urus! Tanpa panitia juga bisa kok!”

“Bener tuh! Dadah Yoshiki!”

“Jangan balik ya! Balik juga bakal gue usir bareng Maki!”

Mereka bertiga memaksakan tasku ke tanganku dan menutup pintu kelas.

Aku terdorong keluar dari kelas 2-2 dan hanya bisa berdiri bengong.

…Apa aku pantas diperlakukan sebaik ini?

Dan kalau aku pergi, panitia kelas tinggal Hanazono seorang. Lalu siapa yang akan menyusun daftar pengembalian barang atau laporan ke guru?

Kalau panitia menghilang seenaknya, bisa-bisa tahun depan festival budaya kelas kami dapat masalah.

“Pergilah.”

“Hah?”

Aku menoleh. Hanazono bersandar pada loker.

Ia berdiri diam, tenang, seolah tidak terpengaruh keributan kelas.

Cahaya senja memantul di permukaan logam dan menerangi wajahnya dengan lembut.

“...Kapan kamu datang?”

“Saat kamu ngobrol sama Takeru.”

“Dari awal banget!?”

Hanazono tersenyum kecil dan berdiri tegak.

“Pekerjaan panitia itu memang penting, tapi selama ada anggota OSIS, semuanya bisa di-handle.”

Dengan kata-kata itu, aku langsung mengerti kenapa tiga orang tadi begitu percaya diri mengusirku.

Kelas 2-2 punya Hanazono Yuuka.

Satu-satunya orang kelas satu yang punya wewenang untuk menggantikan panitia.

“...Apa nggak apa-apa?”

“Tidak apa-apa. Kalau kamu jadian sama orang itu, aku jadi lebih nyaman bergerak.”

Hanazono tersenyum tipis.

Aku terdiam, tak memahami maksudnya.

“Apa maksudnya lebih nyaman?”

“Hmm? Tidak seperti Yuzuha, kalau sama dia aku nggak akan merasa bersalah kalau harus mengganggu.”

Saat aku bingung mau bilang apa, dia melanjutkan.

“Nikaidou itu manja ya. Disayang keluarga, disayang teman, disukai lawan jenis. Tapi dia sendiri nggak sadar. Aku paling benci orang begitu.”

Jika dibandingkan dengan cerita masa lalu Remi, perkataan Hanazono tidak terasa bohong.

“Kalau nggak ada satu pengganggu, dia akan lupa rasanya bersyukur, kan?”

Ia berbicara lembut, seperti bernyanyi.

Cahaya senja menerangi pipinya, memberi kesan hangat.

Aku membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Daripada menanggapi isi ucapannya… ada hal lain yang ingin kusampaikan.

“Entah kenapa… aku senang.”

“Eh?”

Hanazono mengedip, tampak tidak menyangka.

“Aku senang bisa menyentuh sisi hatimu. Kamu bilang kamu tidak mengerti dirimu sendiri, tapi bagiku, mendengar suara jujurmu… itu membuatku senang. Kamu sudah menjadi… sosok seperti itu bagiku.”

“Kamu lagi ngerayu?”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Itu pasti bukan semua alasannya. Masih ada satu lagi, kan?”

Saat aku bertanya dengan nada menggoda, ia membelalakkan mata.

Kemudian ia menggaruk pipinya, tampak gelisah.

Dari ekspresi aslinya, suara hatinya pun keluar.

“...Karena aku diselamatkan sama kamu. Meskipun caranya… sangat bengkok. Tapi aku tetap merasa diselamatkan. Jadi ini balas budinya.”

“...Padahal kita putus dengan cara seperti itu?”

“Justru karena itu. Aku senang karena aku tahu aku ini orang yang bisa membuat pilihan seperti ini. Jadi jangan pikirkan aku. Pergilah. Kalau itu hal yang kamu inginkan… aku akan dukung semuanya.”

Ia menepuk dadaku perlahan.

Keraguanku lenyap seketika.

Aku mengucapkan terima kasih, lalu berlari di sepanjang lorong.

*** 

Aku melewati lorong dan mendorong pintu ruang ganti sepatu.

Sepertinya Remi sudah pulang, jadi aku harus cepat.

Aku mengirim pesan LINE, “Kamu di mana?” tapi belum terbaca.

Di ujung jalan sempit yang menuju gerbang sekolah, sekelebat sosok dari belakang yang familiar melintas di pinggir pandanganku.

Hanya bagian sekitar bahunya yang terpotong cahaya matahari senja, membuat setengah tubuhnya terlihat jelas.

Dia berdiri seakan bersembunyi di balik mesin penjual minuman, tapi aku tidak mungkin salah mengenalinya. Itu Remi.

Dadaku berdegup, dan kakiku melangkah maju tanpa diperintah.

Saat aku mendekat, samar-samar terdengar suara.

Itu suara laki-laki.

Nada suaranya tenang, dan entah kenapa sangat familiar.

“Maaf, terima kasih banyak.”

“Nggak apa-apa sama sekali. Kalau Sakashita datang lagi, bilang aja, ya? Kali ini bakal gue hajar habis-habisan.”

Ketika aku mengintip sedikit, yang berdiri di hadapan Remi adalah Mitani-senpai.

Kupikir akhir-akhir ini mereka sering bicara karena hubungan di klub handball, tapi ternyata ada apa?

“Nanti malah bikin senpai repot.”

“Nggak, emang dasarnya dia orangnya ngeselin. Di latihan sepak bola juga dia selalu asal-asalan, seakan menikmati merusak suasana. Masa depannya bakal suram banget sumpah.”

“Begitu, ya… Kalau dia mau nggak usaha itu urusan dia, tapi jangan sampai nyusahin orang lain. Tadi saja, kami hampir dibuat kacau lebih parah.”

“Wah, maaf banget. Harusnya begitu dapet kabar dari temen yang lihat kejadian itu, aku langsung nyamperin dan nyetopin. Nggak nyangka dia bakal datang ganggu Nikaidou lagi.”

Kurang lebih aku sudah bisa memahami situasinya.

Senpai yang datang ke Ciel dulu—Sakashita—mendekati Remi lagi. Sepertinya Mitani-senpai yang menghentikan dia.

Remi bilang ada urusan dan keluar kelas tadi… pasti untuk mencegah Sakashita datang ke kelas kami.

Kalau begitu, aku juga harus mengucapkan terima kasih pada Mitani-senpai.

—Tapi tubuhku tak bergerak.

Mungkin karena aku merasakan sesuatu yang berbeda dari suasana itu.

Suara Mitani-senpai memang tenang.

Namun di baliknya, ada nada tegang.

Aku pernah mendengar suara seperti itu.

Saat dia menyatakan perasaan pada Hanazono—

“Jadi, sudah kamu pikirkan jawabannya?”

Aku terbelalak.

Dugaan itu berubah menjadi kepastian.

Ini… pengakuan cinta.

Mitani-senpai hendak menyatakan cinta pada Remi.

Memang dia sempat ditolak Hanazono beberapa bulan lalu, tapi sudah lebih dari tiga bulan sejak Remi jadi manajer klub. Waktu itu cukup bagi siapa pun untuk jatuh cinta.

Aku refleks melangkah, tapi menghentikan diri.

…Aku tidak boleh muncul sekarang.

Waktu Yuzuha ingin menyatakan perasaan padaku, apa yang aku rasakan? Hanya karena ini bukan Yuzuha, bukan berarti aku boleh mengganggu momen orang lain.

Yang bisa kulakukan hanya berdoa.

Setidaknya, izinkan aku melakukan itu.

Berdoa supaya Remi tidak membalas perasaan Mitani-senpai—

“Iya.”

Remi menghela napas pelan.

Lalu—

“Aku mau kok, pacaran dengan senpai. Kalau aku memang tidak masalah bagi senpai.”

Dalam sekejap, fokusku hilang.

Sudut pandangku kabur seperti memakai kacamata yang lensanya tidak sesuai.

Meski begitu, mataku terpaku pada mereka berdua, tak bisa bergerak sedikit pun.

“YES!!”

Gerakan Mitani-senpai membuat fokusku kembali.

Remi tersenyum lembut.

Mitani-senpai mengepalkan tangan dengan bangga.

…Apa?

Rasanya tidak nyata.

Benar, mereka memang sering bicara.

Benar, mereka sering tertawa bersama.

Tapi, meskipun begitu…

Dengan langkah terhuyung, aku kabur dari tempat itu.

Seolah berusaha agar kenyataan tidak sempat menyusulku.

***

Kabarnya persiapan setelah festival budaya berjalan lancar.

Hanazono katanya sudah mengatasinya dengan baik, dan hanya mengirim pesan singkat: “Sudah selesai ya.”

—Namun.

Aku pulang dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya, dan membuka pintu rumah.

Saat masuk ruang keluarga, Seira sedang menonton TV.

“Oh, Onii pul—”

“...Aku pulang…”

Jawabku pelan.

Saat menaiki tangga, kakiku terasa berat. Seperti bukan kakiku sendiri.

Ketika membuka pintu kamar, angin bertiup masuk.

Rupanya aku lupa menutup jendela, tirai berkibar besar dan menimbulkan suara kain kering yang keras.

Ketika menyalakan lampu, selembar kertas di meja terangkat oleh angin dan jatuh ke lantai.

…Saat ini aku bahkan tak punya tenaga untuk memungutnya.

Aku rebah di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kosong.

—Besok, semua orang akan kembali ke hari-hari biasa sambil membawa sisa-sisa suasana festival.

Hanya aku yang mungkin tidak bisa meninggalkan hari ini dalam waktu dekat.

Aku pikir aku memahami perasaan Remi.

Padahal aku tahu.

“Terserah yang penting aku merasa paham,” adalah pemicu terbesar untuk jatuh tersandung.

Mulai sekarang aku pasti akan menyalahkan diriku sendiri.

Orang-orang baik di sekitarku pasti akan bilang waktu akan menyembuhkan. Tapi bagiku saat ini, itu hanya terdengar sebagai kebisingan.

Seperti yang Takeru bilang, rumahku dan rumah Remi sangat dekat.

Dan sekarang jarak itu tidak lagi berarti apa-apa.

Malah mulai terasa sebagai dinding bahkan lebih tinggi daripada sebelumnya.

Padahal semua orang sudah mendorongku untuk maju.

“…Sial…”

Aku bangkit, dan lembaran kertas tadi terselip ke celah antara lantai dan lemari.

Entah kenapa pemandangan itu membuat hatiku tak tenang.

Saat hendak memungutnya, aku membuka pintu lemari.

Kertas itu tersangkut pada kotak harta karunku.

Kenangan lama kembali menggugah ingatan.

“…Oh iya, aku…”

Aku berbisik.

Sesuatu yang telah lama terlupakan tiba-tiba seperti didorong oleh suara angin.

Di dalam kotak itu ada kenangan masa kecilku.

Namun kali ini bukan soal nostalgia—aku merasa sesuatu yang penting untuk sekarang ada di dalamnya.

Aku membuka tutupnya.

Ada medali tiruan pemberian ayah, gelang benang yang warnanya telah pudar. Di antara barang-barang itu, ada kantong kecil berwarna biru keunguan.

Saat memegangnya, dadaku terasa gelisah. Sejak kapan aku punya ini?

Mulut kantong itu terbuka, tidak terikat sama sekali.

…Seolah-olah seseorang pernah mengambil sesuatu dari dalamnya.

“Apa ini?”

Jari-jariku terasa lembap oleh keringat saat memeriksa isinya lagi.

Hanya ruang kosong yang tersisa.

“…Apa yang dulu ada di dalam sini?”

Aku tak bisa mengingatnya.

Namun aku yakin satu hal:

Ini pasti ada kaitannya dengan alasan Remi tiba-tiba diam waktu di perkemahan.

Aku turun ke bawah sambil membawa kantong itu.

Seira yang sedang berbaring di sofa sambil menonton video di ponselnya langsung mendongak saat mendengar kakiku.

“Onii, kenapa mukanya gitu? Dari tadi juga aneh banget. Ada apa?”

“Enggak… ya begitulah. Tapi aku mau nanya sesuatu, boleh?”

“Hm?”

Aku duduk di sampingnya dan menunjukkan kantong kecil itu.

“Kamu ingat kotak harta karunku, 'kan?”

“Oh iya, yang pernah aku isengin terus Onii marah besar.”

“Itu. Di dalam itu ada ini, tapi aku nggak bisa ingat apa isinya dulu.”

Seira mengangkat alis, menatap kantong itu lama.

“Kayaknya pernah lihat deh. Bukannya ini waktu camping? Kakak sempat suka banget main treasure hunt, kan?”

“…Benar juga, pasti waktu camping. Tapi aku sama sekali nggak ingat detailnya.”

Saat aku menghela napas, Seira menurunkan alis dengan ekspresi pasrah.

“Dengerin deh, kalau Onii aja lupa begitu, ya aku juga lupa. Aku dua tahun lebih muda lho.”

“...Iya juga. Maaf.”

“…….Onii barusan minta maaf??”

Mungkin karena aku terlalu jujur, Seira malah terlihat makin curiga.

Kemudian dia berdiri seperti menyadari sesuatu.

“Tunggu. Kayaknya ada fotonya di album. Aku ambilin ya. Di rak sana.”

Seira bergerak cepat, mengambil album foto dari rak, lalu kembali.

Kami menunduk bersama, melihat halaman demi halaman.

Foto-foto lama yang nostalgia muncul bergantian.

Kami main di sungai.

Kami menginap bersama.

Semakin menyusuri memori samar itu, dadaku terasa hangat… namun juga membuat pikiranku jernih.

—Apa yang sedang kulakukan ini.

Sampai sejauh ini, rasanya seperti kabur dari kenyataan.

Kalau aku sampai segini terpukul karena Remi punya pacar…

Seharusnya aku menyatakan perasaan sejak awal.

Kenapa aku tidak sadar?

Kenapa baru ketika membayangkan dia menjadi milik orang lain, perasaanku baru meledak?

Terlambat. Bahkan aku sendiri merasa ini menyedihkan.

“Ini kayaknya.”

Tangan Seira menghentikan lembar album.

Itu foto saat kami kelas tiga SD.

Dalam foto di perkemahan keluarga, tampak dua anak kecil.

Dengan cahaya senja dari tepi sungai di belakang mereka, seorang anak laki-laki dan perempuan tertawa bersama.

Mereka menangkupkan tangan, memperlihatkan sebuah batu kecil berwarna biru yang berkilau.

Itu aku dan Remi.

Saat melihat batu itu, ingatan masa kecilku seketika kembali.

Tanpa sadar, aku berdiri.

—Bagaimana mungkin aku lupa.

“Maaf!”

Aku buru-buru naik ke kamar, dan membalikkan kotak harta karun di atas kasur.

Medali, gelang tali, dan barang-barang masa kecil lainnya berserakan.

Seperti dugaanku, batu kecil berwarna biru itu tidak ada.

…Hanazono datang ke kamarku beberapa hari sebelum kami mulai pacaran.

Tapi waktu itu kotaknya tertutup rapat.

Aku mungkin lupa soal batu itu, tapi aku tidak pernah membiarkan siapa pun mengambilnya, dan Hanazono bukan tipe yang akan mencuri.

Tentu Remi juga tidak.

Saat pikiranku mencari kemungkinan lain, sebuah adegan muncul di kepalaku.

—“Kamu mungkin ingin mengambilnya kembali suatu hari nanti.”

Saat Remi datang waktu aku baru jadian dengan Hanazono, dia mengatakan itu di kamarku.

Kalau dia mengingat janji itu…

“...Aku harus pergi.”

Tenggorokanku terasa perih.

Saat aku berbisik begitu, terdengar suara dari belakang.

“Mau ke mana?”

Seira bersandar di kusen pintu.

“Kalau Onii mau ke rumah Remi-nee, mau aku tanyain dulu dia ada di mana?”

Aku hanya bisa tersenyum kecut.

Tidak kusangka adikku bisa membaca situasiku sejauh itu.

Tanpa bicara banyak, aku berdiri dan berkata, “Makasih.”

“Tapi nggak apa-apa. Hal kayak gitu Onii sendiri yang harus lakukan.”

“Ya.”

Seira keluar ke lorong untuk memberi jalan.

Saat aku melewati pintu, dia menepuk punggungku pelan.

“Semangat, Onii!”

“…Iya!”

Suara Seira terdengar sangat lurus dan tulus.

Didorong oleh suara itu, aku berlari keluar dari rumah.

*** 

Taman pada malam hari terasa lebih luas dari biasanya.

Di bawah cahaya lampu jalan yang menerangi kegelapan, aku berlari mengelilingi area itu.

Taman kenangan kami berdua.

Di tempat ini pula aku diberi tahu soal kepindahannya.

Bahkan setelah Remi pindah sekolah, aku berkali-kali datang ke sini.

Entah kenapa rasanya suatu hari Remi akan muncul begitu saja, jadi aku sering pergi ke rumahnya lalu setelah itu mencarinya sampai ke taman.

Saat aku berlari seperti ini, perasaan gelisah dari masa itu kembali muncul.

Walau seakrab apa pun, manusia pada akhirnya bisa pergi dari hidup kita.

Orang pertama yang mengajariku hal itu adalah teman masa kecilku, Remi.

Akhirnya aku melihat sosok seseorang dan perlahan menghentikan langkah.

Mendengar suara langkahku, Remi menoleh.

“...Ryouta. Ada apa? Katanya kau mau bicara?”

“Remi. Maaf aku memanggilmu malam-malam begini.”

Ia mengenakan pakaian kasual. Di dunia malam yang remang, sosoknya terlihat begitu indah seakan tidak menyatu dengan sekeliling.

Aku sampai terpaku beberapa detik, dan Remi tersenyum canggung.

“Tidak apa-apa kok. ...Apa ini soal aku kabur tadi?”

“...Itu juga.”

Ketika aku menjawab setenang mungkin, Remi menunduk dan meminta maaf.

“Maaf sudah merepotkan.”

“Bukan itu masalahnya. Tapi kenapa kau pergi begitu saja?”

“...Sepertinya aku terlalu memaksakan diri dengan pekerjaan panitia. Tiba-tiba aku merasa nggak sanggup.”

...Ternyata benar.

Kalau aku tidak menyinggungnya, Remi pasti akan tetap menjadikan pekerjaan panitia sebagai alasan.

Mungkin selama ini aku hidup tanpa pernah diberi tahu hal penting darinya.

“Sebelum masuk ke topik utama, ada sesuatu yang mau aku bilang.”

“Kenapa sih? Dari tadi kamu serius banget.”

Remi sedikit mengernyit.

“Aku sudah selesai bicara dengan Yuzuha. Kami nggak jadi jadian.”

Remi ternganga.

Itu begitu mengejutkan sampai ia langsung bicara tanpa jeda.

“...Hah? Kenapa? Kamu melakukan sesuatu, ya?”

“Kenapa kamu langsung menyimpulkan begitu?”

Karena dikhawatirkan seperti biasa, aku refleks membalas cepat.

“Yang kamu lihat itu momen terakhir kami sebelum berpisah.”

Remi berkedip, lalu menunduk.

“Tapi... aku nggak paham. Kalian terlihat begitu...”

“...Kau tahu soal Seto, kan? Cewek yang nindas aku waktu SMP.”

“Ya, aku ingat.”

“Yuzuha ingin berteman lagi dengan dia. Dan keputusan kali ini adalah bentuk tanggung jawabnya sendiri.”

“...Itu artinya...”

Wajah Remi menegang, jadi aku mendahuluinya bicara.

“Ya, itu cuma alasan di permukaan. Aku tahu perasaannya yang sebenarnya. Karena itu aku tetap memberi jawaban: aku tidak bisa pacaran dengannya.”

Jika aku melangkah lebih jauh, aku tak tahu apa yang akan terjadi.

Tapi meski pun hasilnya buruk, semuanya tetap harus dimulai dari aku menyampaikannya.

“Batu biru yang hilang dari kotak harta karun. Kau yang ambil, kan?”

Sejenak ada keheningan.

Remi menjawab dengan sedikit tegang.

“Batu...?”

“Aku sudah ingat. Kita pernah buat janji waktu kecil, kan?”

Kenangan itu terasa memalukan untuk dikatakan di usia segini.

Terlebih, Yuzuha baru saja menembakku sebelumnya.

Walau kata-kata hampir tersendat, aku memaksa diri untuk melanjutkan.

“...Kita pakai batu itu sebagai pengganti cincin, bersumpah soal masa depan, ingat?”

Remi terdiam, hanya berkedip pelan.

“Aku menyimpan batu itu baik-baik. Tapi karena tidak pernah menunjukkannya pada siapa pun, lama-lama aku sibuk dengan hal lain dan bahkan tidak pernah membuka kotaknya lagi. Sampai akhirnya lupa total. Jadi aku paham, mungkin ini semua memang wajar terjadi.”

Remi masih mendengarkan tanpa berkata apa-apa.

Aku menunduk sedikit.

Entah ia terkejut karena aku baru mengingatnya sekarang, sedih karena aku melupakannya, atau justru sedang menahan diri agar tidak menyakitiku…

Mungkin semuanya bercampur. Atau mungkin ia bahkan merasa iba melihatku bergantung pada janji masa kecil.

Aku tidak tahu isi hati Remi.

“Tapi aku tetap ingin kau mendengarkan.”

Kalau seluruh kantong kecil itu ikut diambil, aku mungkin tak akan pernah mengingat janji itu lagi.

Karena itulah kantong kecil yang tersisa itu adalah tanda keraguannya.

Sekurang-kurangnya, saat itu aku masih ada dalam dirinya.

Saat aku mendongak, aku melihat ekspresi yang tidak terduga.

Remi sedang menatapku tajam.

“...Kalau kamu datang ke aku hanya karena janji itu, pergi sana. Temui Yuzuha.”

“Hah?”

Remi mendekat dan berbicara dengan wajah tegang.

“Aku memang pernah merasa sedih karena kamu lupa. Tapi aku sudah lama berdamai dengan itu. Kalau aku harus memegang teguh ucapan masa kecil, aku nggak akan masuk SMA sekarang. Kamu tahu aku bukan tipe yang begitu, kan?”

“Aku tahu. Tapi—”

“Tidak ada tapi. Orang berubah. Menjaga janji bukan satu-satunya hal baik. Justru karena orang berubah, itu jadi indah. Jadi aku nggak peduli kamu lupa janji itu. Waktu itu memang menyedihkan, tapi aku juga merasa bahagia karena artinya kamu tumbuh.”

Remi menggigit bibir.

“...Kalau dari sisi itu, justru aku yang belum dewasa. Tapi bukan berarti kamu harus balik ke aku. Kamu nggak perlu menepati janji itu. Justru akan menyakitkan buatku kalau kamu datang karena merasa punya kewajiban.”

“Entah itu jatuh atau nggak, itu cuma pendapatmu. Aku nggak merasa begitu. Dan kapan aku bilang aku ke sini untuk menepati janji?”

Aku meletakkan kedua tangan di bahunya.

Jantungku berdebar keras, tenggorokan kering, suara hampir serak. Kata-kata saling bertabrakan di dadaku, tapi aku memaksakan diri untuk mengatakannya.

“Yang mau aku sampaikan adalah—perasaan aku sekarang. Sekarang, aku suka sama kamu, Remi! Meskipun kamu sudah punya pacar!”

Remi terbelalak.

Seolah mencari kata-kata, tapi tak ada yang keluar.

Dalam keheningan yang tipis itu, aku hanya mendengar ia menarik napas kecil.

Akhirnya bibirnya bergetar perlahan, lalu ia menjawab:

“...Hah? Pacar?”

“Iya. Meskipun pacarmu Mitani-senpai, sampai kamu sendiri bilang menolak, aku nggak akan menyerah. Jadi—”

“...Tunggu. Barusan... kamu barusan nembak aku?”

“Iya.”

Aku menjawab meski bingung dengan reaksi Remi.

“...Sepertinya kamu salah paham, jadi aku jelasin. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Mitani-senpai.”

Aku mematung.

Lalu tanpa sadar bicara lagi.

“Hah? Tapi waktu itu kamu bilang mau jadian...”

“Oh... kamu juga lihat kami bicara waktu itu?”

Mungkin karena aku diam saja, Remi menyipitkan mata.

“Itu tentang Hanazono-san. Senpai cuma minta aku menemani karena dia mau mengungkapkan perasaan sekali lagi.”

Kepalaku seperti korsleting.

Saat pikiranku akhirnya beres sedikit, seluruh tenaga rasanya lepas.

“A–ah...? Jadi cuma timing yang buruk ya...”

“Jangan lemes dulu! Kamu itu lagi nembak seseorang, sadar nggak!?”

“Soalnya... ya lega aja.”

“A–apa itu!? Kamu nggak bisa lebih serius!? Waktu kamu nembak Hanazono-san juga gitu!?”

“Waktu itu aku lebih serius.”

“Lalu sekarang harusnya lebih serius, dasar bodoh!”

“Kalau kamu di posisiku, kamu juga bakal lemes tahu! Aku kira kamu beneran jadian sama orang lain!”

Remi memerah, lalu bergumam, “Apa-apaan sih rasa ingin memilikinya itu... belum pernah kamu tunjukkan sebelumnya.”

Lalu ia kembali menatapku.

“...Tapi, kenapa kamu suka sama aku? Alasannya apa?”

“Perlu alasan?”

“Perlu.”

Jawab Remi cepat.

“Kamu sudah menolak Yuzuha kan? ...Berarti kamu punya tanggung jawab.”

Aku terdiam sejenak.

Karena apa yang ia katakan persis dengan yang kupikirkan.

“...Iya ya. Kita mirip juga di sisi aneh kayak gini.”

Tentu saja kami teman masa kecil.

Hanya orang yang cara berpikirnya ribet bisa cocok begini.

“Mirip gimana?”

“Aku juga pikir hal yang sama. Bahwa aku punya tanggung jawab.”

“...Kita cocok di bagian aneh, ya.”

“Yup. Dan aku sudah tahu gimana cara menanggung tanggung jawab itu.”

Remi diam menunggu.

Apakah ia berharap? Atau cemas? Mungkin keduanya.

Aku menarik napas.

“...Caranya adalah jadi bahagia. Itu bentuk tanggung jawabku.”

“Hah? Sesederhana itu?”

“Iya. Coba pikir. Kalau suatu hari aku pacaran sama orang lain, apa kamu nggak ingin aku bahagia?”

Mendengar itu, Remi menunduk.

“...Aku nggak bisa bilang ‘aku ingin kamu bahagia’. Aku nggak bisa.”

Jawaban itu di luar dugaanku.

“Aku tadi mencoba membayangkan kamu jadi pacarnya Yui. Aku mencoba berkata dalam hati, ‘Aku ingin kamu bahagia.’ Tapi aku nggak bisa.”

Per kata jatuh seperti tetesan air ke tanah.

“Pacaran anak SMA biasanya putus pada akhirnya. Kalau begitu, punya hubungan sebentar tapi menderita itu lebih buruk daripada kamu bahagia sama orang lain. Aku bisa menikmati waktu hanya dengan berada di dekatmu. Aku bilang begitu ke diriku sendiri. Tapi pada akhirnya aku tahu aku bohong.”

Remi menatap langit malam. Mata itu dipenuhi nada mengejek diri sendiri.

“Aku nggak dewasa. Aku masih seperti teman kecilmu yang kamu kenal dulu. Aku menolak cowok lain demi diriku, tapi ke kamu... aku berbeda. Dari luar mungkin aku terlihat egois dan manja. Sama saja seperti dulu.”

Ia tersenyum kecil, lalu menunduk lagi.

“Kamu ngerti? Cuma membayangkan kamu pacaran sama cewek lain saja sudah bikin aku kesal dan rapuh. Waktu kamu dan Hanazono-san kelihatan dekat, sekolah rasanya nggak menyenangkan. Waktu kamu dekat dengan Yui, dadaku sakit sampai aku ingin lari. Jadi sebenarnya... aku nggak bisa mendoakan kebahagiaanmu bersama orang lain.”

Itulah isi hatinya yang paling jujur.

Pengakuan cinta adalah tindakan membuka bagian terdalam diri seseorang. Remi melakukan hal yang sama, membiarkan kata-kata aslinya keluar.

“Dengan segala sikap egois itu... kamu masih bilang kamu suka aku?”

“Aku suka kamu.”

Tanpa ragu, aku menjawab.

Remi terbelalak.

Barangkali ia masih punya banyak alasan untuk menolak.

Tapi aku tetap harus mengatakannya sampai benar-benar tersampaikan.

Mungkin karena kami teman masa kecil—anehnya aku tidak gugup. Keinginan menyampaikan mengalahkan rasa takut.

“Aku mau pacaran sama kamu. Waktu aku mengira kamu pacarnya senpai itu, dunia rasanya gelap. Aku bahkan nggak ingat bagaimana pulang. Satu-satunya hal yang terpikir hanya janji masa kecil itu. Aku tahu janji itu tidak berlaku lagi. Tapi sebagai pegangan terakhir... aku nggak bisa berhenti.”

Ekspresi Remi bergetar.

“...Tapi kalau aku memang pacarnya senpai, bukankah kamu akan tetap ingin aku bahagia? Tapi kenyataannya kamu malah nembak aku. Kenapa?”

“Karena kalau ditolak, aku ingin ditolak secara langsung. Itu ego murni. Kalau kamu menolak, aku akan berusaha menerima dan setelah itu benar-benar mendoakan kebahagiaanmu. Karena kamu orang yang penting buat aku.”

Remi menunduk.

Lalu beberapa detik kemudian, ia kembali menatap langit.

Aku meniru gerakannya—dan nyaris terkejut.

Langit malam dipenuhi cahaya bintang, seakan menatap kami dari atas.

Lalu ia berbisik pelan:

“...Kamu curang. Nggak ada celah buat aku jawab lagi.”

Suaranya terdengar pasrah.

Saat aku melihatnya, ia masih menatap langit.

“Kalau aku nggak nutup semua celah, kamu nggak akan mau menatapku.”

“...Diam.”

Dengan suara kesal, Remi menatap padaku.

Bibirnya sedikit bergetar, seolah masih mencari bantahan, namun akhirnya terkatup lemah. Bulu matanya yang panjang bergetar, dan di matanya ada kilau tipis air mata.

Dalam ekspresi itu ada kelegaan—seakan perasaannya yang selama ini terkunci perlahan diterangi cahaya bulan.

“Yui harus bagaimana nanti ya... dan Hanazono-san juga...”

“Kamu serius banget. Tapi itu juga salah satu alasan aku suka kamu.”

“...Diam. Jangan bilang ‘suka’ terus. Aku belum terbiasa, jadi pelan-pelan dong.”

“Tidak, tidak bisa. Aku—mmgh!”

Mulutku langsung ditutup oleh Remi.

“Dan tunggu dulu! Aku juga masih punya hal yang ingin aku katakan!”

“Kamu, Remi?”

“Tentu saja! Kamu seenaknya bicara panjang lebar, sekarang giliran aku. Dengarkan baik-baik!”

“Ba—baik, baik! Aku dengar!”

Remi menghela napas, bahunya naik turun karena emosi, lalu mengambil satu tarikan napas panjang untuk menenangkan diri.

Dan seakan mengeluarkan semua perasaan yang bergemuruh di dalam dirinya, Remi mulai berbicara.

“Kamu masih ingat kan? Waktu aku mulai jadi ketua kelompok.”

“...Aku ingat. Rasanya itu terjadi secara alami.”

“Ya, aku kira kamu memang melihatnya begitu. Tapi itu bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Sama seperti teori kepemimpinan Yuzuha yang tadi Ryota bilang.”

“Eh?”

“Maksudnya begini.”

Pipi Remi memerah.

“Aku ingin dilihat olehmu. Makanya aku berusaha jadi pusat perhatian semua orang. Waktu itu aku lumayan memaksakan diri.”

“...Serius!?”

Mendengar reaksiku, Remi menyisir rambutnya. Meski sebenarnya tidak banyak rambut yang tersangkut di jarinya.

“Ya. Waktu itu aku bahkan berkata hal-hal kejam pada anak laki-laki yang nembak aku, kan? Pasti aku dibenci. Dan memang, dukungan dari anak perempuan juga nggak sebanyak itu.”

“Itu benar sih.”

“Setidaknya kasih aku sedikit pembelaan!”

Remi mendelik padaku dengan suara kesal. Ekspresinya yang tadi tegang kini menghilang, membuatku refleks mengendurkan bahu. Melihat itu, Remi semakin manyun dan mendesah panjang.

“Aku pikir kalau aku jadi ketua, aku akan terlihat keren. Kekanak-kanakan memang. Waktu itu memang terasa nyaman, tapi aku nggak mau lagi. Bahkan jadi panitia festival pun sebenarnya bukan hal yang ingin aku lakukan. Jadi waktu aku bilang aku memaksakan diri, itu nggak sepenuhnya bohong.”

Setelah mengatakan itu, Remi menatapku lagi.

“Kamu paham? Itu aku. Sama seperti tadi, dan seperti sekarang, ada banyak bagian dari diriku yang nggak pernah kamu tahu. Bayanganmu tentang aku adalah Remi yang kamu lihat selama ini sebagai teman masa kecil. Tapi sebenarnya aku seperti ini. Lebih buruknya lagi… bagian lemahnya aku, bagian buruknya aku, itu semua mendambakan kehadiranmu.”

“Tidak apa-apa.”

Remi mengatupkan bibir, menghela napas pelan.

“...Aku tahu. Karena itu—ya. ........Artinya aku juga suka kamu. Tolong… jadilah pacarku.”

Pengakuan cinta dari sahabat masa kecil itu keluar dengan suara lembut yang sedikit bergetar.

Kepalaku terasa hangat, dan perasaan bahagia memenuhi dadaku.

“Dan sebenarnya, akulah yang paling suka. Tadi kamu bicara seolah kamu yang paling punya perasaan besar, tapi kenyataannya aku jauh lebih suka darimu. Jangan bercanda.”

“...Hah? Kok jadi begitu!? Jelas aku yang lebih suka!”

“Harusnya kamu merespons kata ‘aku suka kamu’, bukan bantah-bantah begitu!?”

“Kamu yang nambahin hal aneh di akhir!”

Remi menggelengkan kepala dengan gaya dramatis.

“Dengar sini? Berbeda dengan kamu yang gampang goyah, aku nggak begitu. Kamu itu meremehkan perasaanku, dasar pria yang baru belakangan ini sadar!”

“Sakit banget omongannya!”

“Coba pikir! Apa kamu tahu gimana rasanya aku melihat semuanya selama ini? Duh, kasihan banget diri aku. Kasihan banget!”

“Maaf! Maaf!”

Begitu aku minta maaf, sebuah bunyi plak kering mendarat di kepalaku.

Sambil mengelus dahiku yang perih, aku mendongak. Remi sedang terengah-engah.

“Serius deh… ada urutan dan langkah yang seharusnya terjadi.”

“Yah… tapi rasanya janji masa kecil kita juga masuk ke dalam urutan itu deh.”

“Lupakan janji itu. Yang seperti itu harus kita bangun mulai sekarang.”

“...Tapi itu terdengar hampir sama.”

“Kalau aku yang bilang, itu beda!”

Setelah membalas seenaknya, Remi menatapku lagi.

“Tapi kalau kita mulai pacaran, hubungan sebagai teman masa kecil tidak akan sama lagi. Kita tidak bisa kembali. Apa kamu benar-benar oke dengan itu?”

“Tentu saja. Itu justru hal bagus.”

“...Kenapa begitu?”

“Karena aku ingin hubungan kita berubah. Kamu juga bilang tadi, kan? Perubahan itu justru hal yang baik.”

Remi berkedip beberapa kali.

“Selama ini aku pikir teman masa kecil itu saling mengerti tanpa banyak kata, dan memang kadang kita cocok banget. Tapi pada akhirnya tetap berbeda. Dan saat aku menemukan perbedaan itu… rasanya menyenangkan. Itu bikin aku sadar kalau aku memang suka sama kamu.”

“Tunggu dulu, itu terlalu blak-blakan.”

“Ya wajar. Bekas mood waktu aku lagi ngegombal tadi masih tersisa.”

Remi memicingkan mata tipis-tipis.

“...Waktu kamu bingung soal ‘perasaan yang bagus’ itu, kamu sering mengabaikan aku. Kalau aku jadi pacarmu, bukankah hal-hal seperti itu bakal hilang? Tidak ada lagi sesuatu yang baru.”

“Oh ya. Pernah ada kejadian aku nggak sengaja menjatuhkanmu waktu itu. Aku kira itu salahku sepenuhnya, tapi… apa itu sebenarnya kamu sengaja?”

“...No comment.”

Remi langsung memalingkan wajah dengan pipi memerah.

Gestur kekanak-kanakan itu membuatku tertawa kecil.

“Hahaha, jadi begitu ya.”

“Ma—maafkan aku! Itu satu-satunya pendekatan yang terpikir saat itu, ke seseorang yang sedang menyukai gadis lain!”

Remi merengut lagi lalu menghela napas kecil.

“...Pertanyaanku yang terakhir. Ryota, kamu benar-benar serius dengan semua yang kamu katakan tadi?”

“Hm. Kalau kata-kata saja tidak cukup, gimana kalau aku buktikan?”

“Dengan cara apa?”

Aku menarik lembut bahu Remi mendekat, memutarnya menghadapku.

Remi tidak melawan. Mata indahnya merendah, ujungnya sedikit turun.

“...Aku sudah tahu kamu makin kuat. Masih remaja, tapi tubuhmu berubah.”

“Iya, aku kan sudah SMA.”

“Kalau begitu, aku nggak bisa melawan apa pun yang kamu lakukan.”

“Benar juga.”

“Begitu ya… kalau begitu, aku cuma bisa pasrah.”

Dengan suara lirih seolah menyerah, Remi menutup matanya perlahan.

Berkebalikan dengan kata-kata kuatnya, ekspresinya lembut. Pipi merah muda, keheningan mengental.

Aku mendekat, hingga napas kami bersentuhan. Di sana aku berhenti sejenak.

“...Aku cinta kamu, Remi.”

“...Aku juga cinta kamu. Dari dulu, selalu.”

Dan tepat setelah itu, bibir kami bersentuhan.


Bibir Remi lembut, dan perlahan menempel lebih dalam seolah saling mencari.

Ujung jariku bergetar saat menyentuh pipinya. Tubuhnya sempat menegang, tapi perlahan melunak.

Dalam keheningan pekat, suara jantung kami bertalu, dan hanya kehangatan serta perasaan kami yang saling bersatu.

Begitu kami saling menjauh, napas kami bersilangan.

Remi membuka mata perlahan—bening, berkilau lembap—menatapku lurus.

Pipinya merah, ekspresinya campuran gugup dan manis yang membuatku tanpa sadar menahan napas.

Dan aku tiba-tiba merasakannya.

Waktu yang terlewat. Jarak yang pernah ada. Semuanya terasa seolah mengarah ke momen ini.

“Aku… senang sudah kembali.”

“...Kita punya pikiran yang sama rupanya.”

Padahal begitu mirip, tapi dulu aku tidak menyadarinya.

Dan bahkan kesadaran ini pun, mungkin saja besok akan terguling terbalik.

…Itu justru yang kuinginkan.

Tidak peduli seberapa tidak menyenangkan kenyataannya, atau seberapa jauh hati kami tersesat satu sama lain.

Setelah melihat seluruh diri Remi, aku tetap akan mengatakan bahwa aku menyukainya.

Itulah cinta. Itulah makna mendekatkan dua hati.

Saat aku tanpa sadar tersenyum, Remi juga ikut mengangkat bahunya sambil tertawa kecil.

Dua orang tertawa bersama di taman malam hari.

—Dalam hidup, ada saat-saat ketika seseorang bisa menerima masa lalunya.

Saat ketika semua kegagalan dan jalan memutar terasa seperti bagian yang diperlukan.

Untuk merasakan hal itu, kita terus melangkah melewati waktu yang menyakitkan.

Meski tahu masalah tak akan langsung selesai, kita percaya bahwa suatu hari kebahagiaan akan datang.

Dan mulai sekarang, kurasa aku bisa mempercayai hal-hal indah seperti itu.

Karena simbol kebahagiaan itu sedang berdiri tepat di depanku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close