Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Epilogue
Pertemuan Para Malaikat
『Atas kejadian kali ini yang telah menimbulkan kekacauan besar di dalam lingkungan sekolah, aku memohon maaf yang sebesar-besarnya.』
Awal minggu, pada Senin pagi, kegiatan OSIS dibuka dengan “konferensi permintaan maaf” seperti itu.
Pemeran utamanya adalah Wakil Ketua OSIS kelas 2, Saeki Kanae.
Isi permintaan maafnya jika diringkas: demi memberikan kesan yang kuat sebagai wakil ketua baru, ia bertindak gegabah dan memanfaatkan rumor yang beredar di sekitarnya, lalu menulis seolah-olah ada drama rumit berbentuk cinta segitiga. Isi siaran pada hari itu sepenuhnya dipercayakan kepadanya, jadi anggota OSIS lainnya tidak bertanggung jawab.
Lalu, ia juga meminta maaf karena melakukan siaran itu tanpa izin dari pihak terkait, yaitu Masaomi dan Hibari. Pengakuan cintanya, juga rumor perselingkuhan yang menjadi sumbernya, semuanya dibantah habis-habisan. Itu jelas upaya pemadaman kebakaran, tetapi sikap Kanae yang menunduk penuh rasa bersalah itu cukup meyakinkan dan berhasil meniup padam api masalah tersebut. Secara umum, orang-orang menerimanya apa adanya.
Saat siaran berlangsung, Masaomi, yang diseret duduk di sudut ruang siaran, sudah bisa menebak apa yang akan Kanae lakukan selanjutnya. Karena itu ia sudah meminta Keiji bergerak sesuai rencana.
Cara yang paling mudah dipahami semua orang untuk bertanggung jawab—yakni pengunduran diri dari jabatan wakil ketua. Namun, skenario itu diganggu oleh sang ketua OSIS, Sou.
『Itu bukan penyalahgunaan wewenang atau semacamnya. Kalau hal begitu layak dihukum, aku sudah lama dikeluarkan dari OSIS. Menyimpulkan masalah memalukan seperti ini sebagai kesalahan jabatan justru naskah ala tiga-kelas-bawah. Yang memutuskan kau pantas atau tidak sebagai anggota OSIS bukan dirimu. Jadi perlihatkan saja rasa malumu sepuasnya, jadikan itu penebusan, dan biarkan seluruh siswa menilainya. Hei, Orito, adakan polling komentar langsung soal kelangsungan jabatan Wakil Ketua Saeki.』
Dengan culas ia memposisikan diri di sudut frame yang paling membuatnya terlihat paling keren, dan mengucapkan sesuatu yang benar-benar seperti ketua OSIS, menghancurkan suasana tegang itu sekaligus.
Hasil akhirnya, Kanae kembali dipercaya. Komentar siswa sangat dominan mendukungnya. Bagi siswa biasa, masalah seperti ini sama seperti rumor perselingkuhan—sekadar hiburan tanpa tanggung jawab. Selama menarik, itu sudah cukup. Kesimpulannya, sungguh sesuatu yang membuat orang merasa konyol jika terlalu dipikirkan. Tapi, Masaomi merasa bahwa semua itu terjadi karena kerja keras Kanae selama ini—berusaha berkeringat demi orang lain. Usahanya agar tidak dibenci juga merupakan bentuk kepercayaan agar bisa disukai.
Dengan begitu, siaran darurat episode kedua kanal OSIS pun berakhir. Proses pembongkaran peralatan dimulai.
Sou kemudian mendekati Kanae yang wajahnya jelas-jelas menunjukkan, “Ini semua tidak sesuai rencana.”
"Konferensi permintaan maaf tepat setelah masa jabatan dimulai… tambah prestise, ya."
"… Aku benar-benar minta maaf."
"Aku memujimu, tahu?" kata Sou, sambil melirik Keiji yang dari tadi dengan patuh memainkan peran sebagai “si bayangan gelap”.
"Dengan ini, sebagian borok yang menempel pada OSIS baru sudah keluar. OSIS-ku ini, yang penting adalah tampil mencolok. Termasuk penampilanmu, kau sudah banyak berkontribusi. Tidak usah terlalu terbebani, setidaknya di sini."
Ia tersenyum penuh percaya diri, seolah sedang menyemangati Kanae—mungkin.
"Lagi pula, melakukan hal sebesar ini tepat setelah pengangkatan jabatan… dibandingkan versi dirimu yang diharapkan orang lain, versi dirimu yang sekarang jauh lebih baik. Tetaplah seperti itu. Kalau ada yang macam-macam mengomentari kejadian ini, bilang padaku. Tak akan kubiarkan mereka macam-macam."
Respons yang terlalu tak terduga itu membuat semua orang kecuali Midou membelalakkan mata. “Apa-apaan itu, dia benar-benar seperti ketua OSIS…” pikir mereka. Masaomi pun setuju.
"Soal OSIS segitu saja. Tapi untuk Magaomi-Kouhai, dan juga Sasuga-kouhai, kau harus meminta maaf dengan tulus. Aku tak akan menanyakan alasanmu memilih skenario itu, tapi itu adalah hal yang harus kau lakukan."
"…Baik. Aku akan menuruti satu permintaan Masaomi-senpai."
Sou tertawa keras—meski bagi Masaomi, itu bukan hal yang lucu sama sekali. Tapi sepertinya itu adalah cara Sou untuk memberi tanda “sudah cukup, masalah ditutup.”
Kemudian, setelah proses pembongkaran selesai, Sou mendekati Masaomi:
"Kali ini kuampuni karena kau memberi ide untuk rapat umum, tapi mulai sekarang jangan lagi merencanakan skema diam-diam untuk mempengaruhi orang. Datang dan bicaralah langsung denganku. Seperti yang kukatakan pada Wakil Ketua Saeki, aku takkan berbuat jahat padamu."
Ia rupanya tahu bahwa Masaomi menggunakan Keiji untuk membebaskan Kanae dari beban tugas OSIS dan ekspektasi massa.
Jadi ketahuan juga.
"…Ketahuan, ya. Ternyata kau bukan ketua OSIS yang cuma gimmick ya."
"Jelas," kata Sou sambil tertawa lebar, lalu menepuk pundak kiri Masaomi dua kali sebelum pergi dengan langkah ringan. Punggungnya terlihat se-segar namanya—bahkan sedikit keren.
"Baiklah, demi merayakan debut OSIS baru yang meriah, ikuti aku! Fu-ru-o-ya Sou!!"
"Haaai!!"
Kali ini, Masaomi tak punya pilihan selain ikut berteriak bersama anggota OSIS lain. Pria bernama Furuoya Sou itu, rupanya memang layak disebut ketua OSIS.
“Sedikit mengganggu ya, Kouhai.”
Dengan wajah yang sudah sangat akrab, ia masuk ke kamar rawat pasien CCD. Melakukan hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan baginya.
“…Ah, hari ini kau bukan dokter palsu ya. Padahal cosplay jas putih itu lumayan cocok lho.”
“Bukan cosplay. Sekarang posisiku semacam dokter sementara aja.”
Nama pasien yang dirawat di kamar ini adalah Kasugano Tsubaki. Aslinya ia ditempatkan di ruang rawat umum, tetapi karena ia baru saja sadar dari koma panjang seolah-olah itu semua hanya bohong, ia dipindahkan sementara ke kamar pribadi demi penjadwalan pemeriksaan lanjutan. Keiji tentu saja tahu semua itu.
Tsubaki bangkit dari posisi tidurnya tanpa berniat merapikan baju pemeriksaan yang kusut. Dengan wajah jengkel menatap selang infus, ia mengikat rambutnya menjadi dua ekor. Keiji sempat berpikir ia akan menolak, tapi tampaknya gadis itu punya sedikit niat untuk meladeninya. Kebetulan yang bagus.
“Sekalian, bisa tolong tutup tirainya? Cahaya matahari dari barat agak menyilaukan.”
“Apa yang ‘kebetulan’ dari itu? Menyuruh senior besar seenaknya…”
“Kau sendiri yang bilang, kan? Walaupun cuma dokter sementara, masak menolak permintaan pasien~”
Keiji mengangkat bahu dan melakukan apa yang diminta. Memang, karena matahari sekarang terbenam lebih cepat, waktu pulang sekolah membuat cahaya barat menyeruak dalam-dalam ke kamar. Demi kesehatan pasien, menjaga pencahayaan yang terlalu kuat adalah hal yang wajar dilakukan tenaga medis.
Begitu tirai ditutup, bayangan jatuh ke wajah Tsubaki. Saat Keiji melihatnya lagi, meski wajahnya tetap kekanak-kanakan—sesuai usianya yang baru kelas tiga SMP—tubuhnya tampak lebih kurus dan ringkih dibanding awal ia dirawat.
Keiji sering mengintip kartu medisnya, dan dari sifat CCD, berat badan pasien memang cenderung turun, bukan naik. Tsubaki tidak terkecuali.
Ini adalah kunjungan ketiga Keiji ke kamar Tsubaki.
Pertama, sekitar awal musim panas, saat ia ikut mendampingi dokter utama untuk memastikan kedalaman CCD. Kedua, saat Masaomi meminta bantuannya—Keiji hanya mengantar Masaomi sebagai staf rumah sakit dan hampir tidak berbicara dengan Tsubaki. Namun kali ini berbeda. Keiji datang karena minat pribadi pada gadis bernama Kasugano Tsubaki ini.
“Jadi, apa yang mau kau tanyakan? Aku terbangun tanpa keinginan, tapi sebagai ucapan terima kasih karena sudah menutup tirai, aku kasih sedikit waktu deh.”
“Cepat mengerti, baguslah.”
“Kau itu anggota OSIS bareng Kana-chan, kan? Hmm… siapa namanya ya…”
“Keiji. Orito Keiji.”
“Oke, Keiji-kun ya.”
Meski tidak akrab, gadis itu berbicara seenaknya pada senior yang bahkan belum memperkenalkan diri dengan benar. Anehnya, gaya seperti itu sangat cocok untuknya—rasanya seperti melihat sumber asli dari “kelucuan” yang ditiru Kanae.
“Jadi Keiji-kun mau nanya apa? Tiga ukuran? Aduh, selain dada aku lumayan percaya diri lho~”
“Apa sih sebenarnya yang mau kau lakukan?”
"Hmmm?" Tsubaki menanggapi dengan suara menggoda, seperti sedang menilai isi kepala Keiji.
Keiji sudah tahu garis besar cerita dari Masaomi. Setelah semua drama di Astral Side, Keiji, Midou, dan Akiyama membantu membawa pulang tubuh tiga orang yang kelelahan di ruang OSIS. Kanae dibaringkan dengan selimut, dan butuh penjelasan panjang bahwa itu bukan akibat hubungan terlarang—jika bukan karena Midou membantu menjelaskan, situasinya mungkin lebih runyam.
Soal tujuan Kanae, Keiji bisa mengerti meski tidak setuju. Intinya, Kanae ingin menjaga Hibari tetap anggun dan tak tersentuh—dan menganggap Masaomi sebagai ancaman yang perlu disingkirkan. Meski pada akhirnya, ia menyadari bahwa keberadaan Masaomi justru memperkuat cahaya Hibari, bukan merusaknya.
Tapi yang menjadi masalah adalah Kasugano Tsubaki. Gadis ini, demi membantu Kanae, memaksa tubuhnya sendiri untuk masuk dalam kondisi berbahaya, menjadi mata Kanae di Astral Side, lalu di saat terakhir berbalik dan membantu Masaomi mengirim Kanae kembali.
Motivasinya tidak jelas. Itu yang ingin Keiji ketahui. Hal yang paling Keiji yakini adalah satu:
“Pada akhirnya, keinginanmu terkabul, kan? Kanae dipaksa sampai mentalnya meledak, lalu jadi CCD—Astral Diver atau apa itu namanya.”
“Benar. Susah banget loh. Kana-chan itu anaknya gigih banget, kuat menahan diri.”
Tsubaki mengaku tanpa beban bahwa ia sengaja memicu tanda-tanda awal CCD dan menjerumuskan Kanae ke sana.
“Aku ingin Kana-chan melihat dunia yang sama denganku. Aku ingin dia melihat aku juga. Lagipula, versi “diriku” di sana itu… cosplay Pure Angel yang paling sempurna~”
“Kalau begitu kenapa kau berkhianat di akhir? Kalian berdua bisa saja hidup enak di Astral Side, kan?”
“Aku nggak berkhianat kok. Hanya saja aku sadar… ideal yang bisa terpenuhi di sana hanyalah penjumlahan ideal milik masing-masing orang. Ideal punyaku dan ideal punya Kana-chan, meski digabung, tidak berubah menjadi ‘ideal terbaik’. Hmm… gampangnya… penampilan Kana-chan di sana tidak sesuai seleraku.”
Keiji yakin wajahnya jadi benar-benar bodoh saat itu. Sebegitu banyak kekacauan, manipulasi, dan intrik yang mereka sebabkan… tapi alasan terakhirnya adalah “nggak sesuai selera.”
“Kana-chan kan berbody fantastis ya? Aku tuh sudah lama ingin dia jadi partner cosplay, tapi dia kan orangnya begitu… ada aku, dia pasti jadi fotografer. Pastinya jadi mikir dua kali. Makanya aku pikir kalau di Astral Side, dia pasti berani tampil sesuai selera. Tapi ternyata… dia malah mengecilkan dadanya, pakai baju yang tertutup, tampil anggun dan cantik… lebih mirip malaikat dunia nyata—Hibari-san—daripada karakter angel yang aku bayangkan. Sama sekali bukan tipeku.”
“Hah? Bukannya kau itu simp-nya Hibari?”
“Untuk dijadikan motif cosplay iya. Soalnya tingkat kecantikannya itu udah nggak manusiawi. Untuk konsep karakter malaikat, dia itu yang terbaik. Tapi bukan berarti aku suka dia secara pribadi.”
“Yang kusukai untuk cosplay belum tentu kusukai sebagai manusia”
—Keiji benar-benar tidak mengerti logika macam apa itu. Tapi ya begitulah otaku—mereka punya wilayah sensitif yang tak mungkin disentuh logika umum. Dan tampaknya… Tsubaki benar-benar serius.
“Melihat Kana-chan cuma bisa memandangi idolanya sambil menggigit jari itu bener-bener yang paling terbaik, tahu. Dia nggak bisa mengumpulkan keberanian, cuma bisa mengagumi dengan polos dan tulus. Dasar dari seluruh kegiatan cosplay-ku juga ujung-ujungnya balik ke situ. Kalau aku berubah jadi sosok yang Kana-chan kagumi, Kana-chan bakal terus melihatku.”
Katanya, itulah kenapa dia memperkenalkan Hibari yang secara kebetulan dia lihat di rumah sakit. Kalau dijual sebagai “citra malaikat,” pasti Kanae akan terjerat rasa kagum pada Hibari. Dan kalau Kanae mengejar ideal yang tak bisa diraih, cepat atau lambat itu akan mengarah ke CCD. Lalu kalau memanfaatkan rasa bersalah Kanae karena Tsubaki sudah lebih dulu mengalami gejalanya, peluangnya bukan taruhan yang buruk.
Entah kenapa, Keiji mulai merasa paham warna asli dari emosi dasar yang merembes lewat cara Tsubaki bicara. Bukan kekaguman seperti yang Kanae rasakan pada Hibari—tapi sesuatu yang lebih pekat, lebih lengket, dan jauh lebih melekat.
“Aku mendorong Kana-chan karena aku cinta dia. Bukan kayak fans mabuk atau obsesi aneh gitu, tapi… secara seksual.”
Dengan lidah menjulur nakal, dia bilang, “Aku udah ‘jujur’ kepada diri sendiri.” Tapi ekspresinya sama sekali bukan malu atau menyesal. Malah kayak seseorang yang akhirnya bisa mengucapkan hal yang ingin diucap sejak lama.
“Makanya aku ngerti banget perasaan pengen idola tetap jadi idola. Aku juga pengen Kana-chan tetap jadi Kana-chan. Ya, bedanya aku tipe yang agresif, yang nempel lengket ke idolanya.”
“…Jadi itu dalang di balik kekusutan perasaan Saeki. Gila, busuk juga ya.”
“Yang mengutuk Kana-chan itu aku. Perasaan bahwa dia harus memenuhi ekspektasi orang lain itu kan cuma wujud kebalikannya aja. Kasih sayang ke adik, gitu. Gadis itu serius banget. Itulah yang bikin aku cinta.”
“Kenapa kamu ngelakuin hal kayak gitu?”
“Karena wajar aja kalau anak kecil pengen mewarnai orang yang dia suka dengan warna dirinya sendiri, lalu memilikinya sepenuhnya. Kakak kesayangan yang kusuka, Kana-chan yang kucinta—aku mau semuanya, dan aku mau memberikan semuanya.”
Dengan wajah mabuk kepayang, dia mengatakannya tanpa ragu. Pada titik itu, Keiji tidak punya kata balasan. Dalam urusan cinta, siapa pun akan terlihat bodoh kalau ikut campur terlalu jauh.
“Kana-chan itu dari dulu malaikatku sendiri. Sampai aku mikir, aku pengen kita jadi satu tubuh dan satu hati. Iya sih, Kana-chan yang dulu pemalu itu bagus. Tapi waktu dia coba mengisi kekosongan karena aku nggak ada, terus dia berusaha pura-pura jadi orang yang sama kayak aku… ya ampun, dia terlalu sayang sama aku sampai bikin aku pusing sendiri. Aku pengen dia mencintaiku secara aktif, bukan cuma pasif. Makanya aku pikir sudah waktunya dia berhenti jadi robot yang cuma menurut. Soalnya penyakit ini… bisa saja membuatku nggak bisa balik lagi. Jadi kupikir, sebelum aku hilang, kubuat aja cerita indah: meski aku mati, Kana-chan akan baik-baik saja.”
Dia bicara lancar seperti keran air yang rusak, atau lebih tepatnya seperti api di atas minyak. Logikanya memang jauh dari “normal,” tapi cintanya pada Kanae itu nyata. Seperti otaku yang kalau sudah bicara soal idola bisa ngomong selamanya, Tsubaki membombardir semuanya dengan hasrat tanpa sisa.
Dari sudut pandang putra seorang dokter seperti Keiji, kata "ketergantungan" sempat melintas di benaknya. Tapi mungkin begitulah cinta yang diasah di usia remaja: tajam, obsesif, dan tak berbentuk.
“Tapi ya, aku dapat sesuatu juga kok dari Astral Side. Dan itu juga alasan kenapa aku udah nggak peduli lagi sama dunia itu.”
Dia tersenyum tipis—senyum yang jujur saja membuat bulu kuduk berdiri—dan mengenang dunia lain itu.
“Soalnya di sana, meski penampilannya beda, Kana-chan punya tag khusus: “Camellia”. Sebutan itu artinya camellia—Tsubaki. Jadi aku pikir: ya sudah, cukup. Kalau bukan “Lark”, berarti… aku menang dari malaikat Hibari-san, kan? Dalam ideal Kana-chan, aku bakal hidup selamanya. Kayak foto—jadi kutukan abadi.”
Dia mengatakannya serius: dengan itu saja, dia merasa sudah bisa mati kapan pun.
Kalau dalam dunia ideal seseorang, sosok yang muncul memakai nama dirimu sendiri, wajar kalau ia merasa setinggi itu. Keiji tidak mengerti cinta yang mengorbankan hidup—tapi bagi Tsubaki, itu nilai yang setimpal.
“Jadi intinya, Masaomi dan yang lain cuma kejebak dalam drama, mimpi, dan masalah kalian bertiga? Sial bener, peluru nyasar kelas berat.”
“Haha, kalau dari sudut pandang orang luar, ya memang begitu. Tapi manusia kan selalu saling terlibat dalam cerita satu sama lain. Keiji-kun juga pasti tipe yang suka menyeret orang masuk ceritamu sendiri, kan?”
“Aku… nggak bisa bantah sih.”
“Tapi tetap saja, Hibari-san itu salah satu ideal Kana-chan. Dalam hati, dia pasti ingin berteman. Aku cuma mau lihat wajah bahagia Kana-chan. Semoga semuanya lancar. Beneran, lho? Kalau Kana-chan ngejar ideal lain setelah jadi idealku, itu bukan selingkuh. Itu sifat bawaan bunga camellia: tetap kuat meski cinta menyebar.”
Keiji pun tahu bahwa perasaannya pada Masaomi tak bisa dirangkum dalam satu kata. Tapi sekarang, setelah Masaomi terseret jauh, Keiji merasa Masaomi seharusnya mendapatkan sesuatu yang setimpal. Namun Keiji tidak akan pernah mengatakannya secara langsung pada Masaomi. Tsubaki mengatakannya terang-terangan. Pemikiran dan logikanya aneh, tapi tegas dan jujur.
“Lucu juga kamu. Jauh lebih mirip aku daripada Saeki.”
“Hah? Kamu dengar cerita sepanjang itu lalu bilangnya begitu? Aku barusan bilang “kalau bisa mati dan jadi ideal seumur hidup orang yang kusuka, itu udah cukup”… tapi kamu santai aja? Aku kira kamu bakal jijik.”
“Mau jijik kenapa? Orang aneh udah banyak dalam lingkaranku. Aku nggak ngejudge orang dari “paham-tidaknya” aku. Aku bukan dewa atau malaikat—meski tampangku kayak buddha sekarang—tapi aku nggak punya waktu buat ngurus kelahiran kembali orang lain. Nikmati hidupmu di dunia nyata sini. Nabung pahala yang banyak, oke?”
Sepertinya Tsubaki tidak menyangka Keiji akan bercanda. Untuk pertama kalinya dia tersenyum tulus.
“…Oh, ngomong-ngomong soal Buddha, aku jadi ingat. Kana-chan bilang ada senior yankee yang digundulin waktu pemilihan. Itu kamu, kan? Yang gundulin itu si kakak berwajah dingin itu? Kamu diancam apa?”
“Untuk alasan praktis juga, itu bagian dari tobat dan tanggung jawabku sendiri. Gak usah diomongin. Simpan rahasia ini.”
“Hee, kamu ngasih rahasia duluan biar aku wajib jaga rahasia balik, ya? Gaya bisnis yang jujur juga. Agak di luar dugaan. Nah—jadi apa permintaan aslimu buat aku, gadis yang gagal mati ini?”
Gadis ini benar-benar tajam. Dia sudah membaca situasi, tahu peran yang diharapkan darinya, dan tahu batasan yang bisa dia junjung. Untuk seseorang yang pernah menjadi Astral Diver, kontrol diri dan pemahamannya soal “ketidaklengkapan dunia ideal” cukup luar biasa. Dan bagi Keiji—ini adalah talenta yang dia butuhkan untuk mengobati Nagi, setara pentingnya dengan Masaomi.
“Kamu bakal masuk sekolah kami tahun depan, kan? Masuklah ke OSIS.”
“Kana-chan ada di sana sih… tapi kenapa?”
“Karena aku ketuanya. Kugandeng langsung kamu.”
Tsubaki menatap mata Keiji selama tiga detik, lalu mengangkat bahu seolah berkata “ketahuan, deh.”
“Ngaku aja, kamu mau memanipulasiku pelan-pelan buat keperluan uji klinismu, kan? Laki-laki emang ya… niat tersembunyi kelihatan banget.”
“Iya. Kamu berharga. Kamu satu-satunya kasus CCD yang bisa balik sendiri. Gak buruk kan? Aku juga bisa bantu soal hubunganmu dengan Saeki. Masa depanmu bakal cerah, percaya deh.”
“Bilangnya harus “masa depan berwarna Tsubaki”, dong. …Yah, intinya kamu bilang ke aku: jangan mati. Dokter gadungan ala kamu gitu.”
“Kalau kamu dengarnya begitu, ya silakan. Aku bilang tadi kan? Kamu berharga.”
Tsubaki tersenyum getir dan berkata:
“Sama-sama nggak jujur ya kita ini, Suonare.”
Lalu dia berbisik, seolah mengutip dirinya sendiri:
“Kalau begitu, aku akan manja sedikit dan hidup lebih lama. Soalnya aku berhasil pulang ke Kana-chan dengan kepala waras. Idola itu harus dipush selagi masih bisa dipush, kan?”
Setelah konferensi pers permintaan maaf oleh OSIS baru berakhir, siang harinya, Masaomi membawa Kanae berjalan menyusuri lorong sekolah dengan langkah mantap.
“Eh, Kanae, soal girls’ gathering yang berikutnya—”
“Saeki, kamu kapan bisa bantu aku belajar lagi?”
“Kanae-chan, sebenarnya aku punya sesuatu yang ingin dikonsultasikan…”
“Hei Saekicchi!”
““““Maaf! Lagi ramai sekarang, lain kali ya!””””
Di sepanjang jalan, seperti biasa banyak yang memanggil Kanae, tapi meski ia terlihat merasa bersalah, dia kini tampaknya sudah mulai mengubah pendekatannya—tak lagi meladeni tiap orang satu per satu seperti sebelumnya. Lagipula, saat itu justru sampai membuatnya stres berlebihan, jadi sekarang saat ia sudah bisa sedikit santai, ini malah terasa lebih pas.
Para siswa yang memanggilnya juga—mungkin karena konferensi pers sebelumnya—tidak ada yang menunjukkan wajah tidak puas. Komentar real-time dari siswa saat konferensi pers kemarin juga menunjukkan hal sama: kepercayaan yang selama ini Kanae bangun tidak mudah goyah.
…Meski begitu, rasa penasaran “Lho, habis minta maaf begitu, kok dua orang itu sudah jalan bareng lagi?” jelas sekali terlihat dari tatapan para siswa. Sayangnya, itu sama sekali tidak tersembunyi.
“Um… apa benar-benar… kita mau melakukan ini, Masaomi-senpai?”
“Ketua OSIS sudah bilang, kan? Wakil ketua harus menepati janji. Lagipula aku ini sedang mendorong perasaan murni dan imut dari adik kelas, jadi bukannya minta maaf, kamu harusnya berterima kasih. Apa sih, ‘jadilah jujur’, gitu kan?”
“……Sifatmu itu memang buruk banget, Mouu.”
Mungkin karena kepribadian asli Kanae mulai muncul ke permukaan, ia terus menggerutu kesal. Masaomi mengabaikannya dan terus berjalan—dan tujuan mereka adalah atap sekolah.
Selesai dengan dialog rutin “Kenapa Senpai punya kunci area terlarang atap sekolah?”, mereka membuka pintu, dan di sana tampak sosok seorang gadis berdiri sendirian.
Masaomi bisa merasakan tubuh Kanae tegang di sampingnya. Ia pun mendorong punggung Kanae pelan, menyuruhnya maju.
Atap sekolah yang mereka pijak, seperti biasa, cerah. Namun anginnya sejuk, dan lantai yang pada awal libur musim panas terasa seperti pelat besi panas, kini hanya terasa hangat. Aroma musim gugur sudah terasa.
Dalam cahaya satu-satunya matahari, orang yang menunggu itu menoleh. Seorang siswi dengan rambut coklat muda yang berkilau diterpa cahaya.
Sasuga Hibari.
Berapa kali pun melihatnya, gadis itu tetap saja menakjubkan. Bahkan Kanae pun tak bisa menahan napas kagumnya.
“Masaomi-kun… jadi kamu memang merencanakan ini, ya.”
Namun Hibari juga menghela napas—dengan arti yang berbeda.
“Saeki-san, aku tak tahu apa yang Masaomi-kun bilang padamu, tapi kamu pasti dibujuk olehnya, kan? Dia ini laki-laki jahat yang bermuka datar sambil mempermainkan anak perempuan. Aku tahu kamu tidak tertarik padanya, makanya aku ingatkan dengan lembut: jangan pernah dekat-dekat dengan Masaomi-kun. Terutama dadamu yang visualnya punya tekanan tinggi itu, tolong jaga baik-baik. Biar dia tidak tergoda atau tersesat pikirannya, harus betul-betul dikendalikan.”
“Ah, um… maaf. Dada aku yang besar benar-benar banyak… menyusahkan…”
“Memang. Cukup mengganggu.”
“H–hii…!”
Kanae ciut oleh aura dingin Hibari. Bagi Masaomi ini sudah biasa, tapi bagi Kanae, diserang dengan attitude sedingin es dari idolanya sendiri mungkin adalah damage yang luar biasa.
“Jangan mengintimidasi gitu dong. Kana juga sudah menyangkal rumor itu, sudah refleksi diri juga. Menurutku, asal masalah di antara kalian selesai, semuanya akan kembali normal.”
Masaomi menambahkan sedikit pembelaan karena ekspresi Kanae sudah terlalu kasihan.
“Dia sampai tersadar jadi Diver gara-gara mentalnya berantakan, itu Hibari juga sudah ngerti kan? Urusan skenario yang kamu pasang buat aku sudah kuselesaikan tuntas di sana, katanya kamu juga mau anggap semua beres.”
“Memang sih… tapi terus, ini apa maksudnya? Saeki-san sudah sadar, aku dan Masaomi-kun sudah kembali ke keseharian normal kita, dan harusnya selesai di situ.”
“Iya, tapi setelah ini semacam additional time lah. Atau bisa dibilang… keinginanku pribadi.”
“Dan lagi, kamu diam-diam bisa dive tapi tidak bilang padaku. Karena kamu berhenti dive, kupikir efek obat barunya sudah habis. Kalau aku tahu kamu masih bisa, aku pasti sudah ngajak kamu pair dive—”
“U-um!”
Mungkin karena kedua orang itu mau lanjut ngobrol dengan ritme seperti biasa, Kanae memotong pembicaraan dengan suara yang cukup keras.
Suara Kanae yang jernih itu langsung menghentikan pembicaraan mereka berdua, dan ketenangan seperti hutan sunyi menyelimuti atap.
Pipi Kanae memerah, wajahnya gelisah, bahunya bergetar menahan tegang—siapa pun bisa melihat jelas bahwa ia sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya.
“Hibari-senpai, hari ini pun Anda tetap begitu cantik, anggun, dan laksana malaikat yang agung!”
“Mengagungkan sesama siswa sekolah sendiri kedengaran berlebihan… bikin geli, tahu.”
“Aku memang sangat lancang, tapi… aku punya satu permintaan!!”
“Katakan,” jawab Hibari dengan angkuh seperti seorang ratu, mengangkat dagu seolah menunjukkan bahwa atap sekolah ini berada sepenuhnya dalam genggamannya.
Jangan lupa, kunci atap itu sebenarnya hasil Masaomi meminjamkannya.
“A-aku… mohon… j-j-jadilah temanku! Dan kalau bisa… foto berdua dan… jabat tangan!”
“Itu tiga permintaan sekaligus. Dan cukup lancang.”
“Ugh…”
Kanae mengeluarkan suara seperti lupa cara bernapas, menciut seperti balon kempes. Bayangan gadis sempurna menghilang hilang sudah; yang ada hanya manusia biasa yang terus-menerus mental break karena ditolak idolanya.
“T-t, tetap saja tidak boleh ya…? Setelah semua── aku sampai melakukan hal memalukan seperti mencoba menggoda pacar Hibari-senpai dengan kekerasan… ehm, dengan serangan dada, betapa hinanya diriku. Dan ternyata Masaomi-senpai sama sekali tidak tertarik pada si besar itu, jadi aku benar-benar merasa bodoh dan menyesal. Memang benar ya, zaman sekarang lebih baik ukuran yang tidak terlalu menonjol. Dalam hal itu, Hibari-senpai benar-benar sosok ideal…”
“Kamu beneran menyesal? Dan Masaomi-kun, kamu juga harus menyesal lebih dalam.”
Masaomi mendapat tembakan nyasar yang tak terduga. Tentu saja dia menyesal. Kalau dia bukan penggemar kaki, dia pasti sudah mati seketika.
“Aku dulu yakin… Hibari-senpai punya pacar── Guardian. Aku benar-benar percaya itu. Tapi setelah masuk ke dunia spiritual, Astral Side, aku sadar bahwa kenyataan bahwa Hibari-senpai itu malaikat tidak pernah berubah. Meski begitu, aku tetap mengagumi Senpai… dan apa yang kulakukan sebenarnya tidak punya arti. Tapi Tsubaki memaafkanku, jadi… um, yang ingin aku katakan adalah…”
Seorang Saeki Kanae yang biasanya sangat lancar berbicara, kini tersendat-sendat. Tanpa sadar menunduk, wajahnya memerah sampai ke leher. Seolah-olah otaknya sudah tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
Pengakuan itu pertarungan serius. Masaomi, yang sudah pernah merasakannya, tahu bahwa itu memang seperti itu. Meski terbata-bata dan tidak rapi, seseorang harus mengungkapkan isi hati dengan kata-kata. Itulah sebabnya Masaomi, ketika menggunakan “hak memerintah” terhadap Kanae, menyuruhnya untuk mengatakan “ingin berteman dengan Hibari”.
Bukan hubungan tidak terlibat sama sekali, tapi juga bukan hubungan tidak enak karena hanya saling mengawasi dari kejauhan. Hibari tidak menginginkan hubungan seperti itu dengan orang lain. Namun jika seseorang datang dengan ketulusan, ia akan merespons sewajarnya. Ia memahami prinsip dunia di mana manusia saling berhubungan── bukan malaikat dan manusia, tapi sesama manusia.
Walaupun lawannya adalah idolanya, pada akhirnya mereka sama-sama manusia. Hanya senior dan junior. Jika bisa saling berbicara dengan jujur, mereka pun bisa bicara santai, bisa saling menyentuh tangan.
Masaomi berpikir── itu hubungan yang berarti untuk keduanya.
“Sudah semua yang ingin kamu katakan? Kalau tidak ada lagi, aku akan mempertimbangkannya.”
Hibari menunggu Kanae berbicara lebih jauh, tapi ketika menyadari tidak akan keluar apa-apa lagi, ia menghela napas kecil dan berkata, “Ya sudah, mau bagaimana.”
“Dalam kasus ini… apa pun bentuk kekagumanmu padaku, atau apa pun yang dibisikkan Suonare padamu, aku sama sekali tidak tertarik. Aku hanya… tidak terima kalau wilayah kekuasaanku disentuh.”
“Itu… sebagai Messiah, penyelamat?”
“Tidak── sebagai pacarnya Masaomi-kun.”
Kata-kata yang diucapkan begitu datar itu membuat Masaomi tanpa suara merasa terharu.
Masaomi tahu. Cara bicara tidak lugas itu justru tanda kompromi dari Hibari. Sebuah pose yang mengatakan: “aku tidak masalah dengan tindakanmu sekarang.” Betul-betul cara orang yang tidak bisa jujur.
“Tadi Masaomi-kun bilang, kan? Aku sudah menganggap masalah ini selesai. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah atau rendah diri. Tidak perlu mengagung-agungkan aku secara berlebihan. Tapi pikirkan baik-baik. Seperti yang kamu lihat, aku sedikit… terasing dari lingkungan. Jadi tidak ada keuntungan bagimu berteman denganku. Sebagai sesama siswa, sebagai manusia biasa, aku tidak yakin percakapan kita nanti bisa nyambung. Tapi… tetap ingin?”
“Tentu. Karena itu keinginan tulusku sendiri.”
“Begitu ya… aneh sekali seleramu.”
Hibari berkata dengan nada sedikit jahat, dewasa, dan Masaomi hanya tersenyum tipis. Jika Hibari sudah mengatakan “aku selesaikan masalahnya”, dia tidak akan menarik kata-katanya.
Setelah tahu bahwa Kanae bukanlah pesaing cinta yang menargetkan Masaomi, setengah dendamnya lenyap. Setengah lagi hilang lewat pelampiasan emosi di Astral Side. Dengan itu, Hibari sudah tidak menganggap Kanae sebagai kompetitor.
Yang tersisa hanya── apakah ia bisa tertarik pada Kanae sebagai teman.
Sengaja, ia bersikap dingin. Sengaja, ia menguji ketulusan itu── tapi di sisi lain, seolah ada tangan yang diam-diam terulur, menunggu disentuh.
Masaomi, yang mengenal Hibari di dunia nyata, tahu betul kehausan yang tersembunyi itu. Keinginan untuk “dipahami”. Sesuatu yang dimiliki semua manusia── bukan malaikat.
Hibari tidak bisa langsung menjadi “pure cure”, dan tidak bisa memakai topeng kesempurnaan seperti Kanae.
“Aku ini, kata seseorang, seperti paket data yang berat. Jadi hubungan sosial itu biayanya mahal bagiku. Jujur, aku tidak merekomendasikan diriku pada siapa pun.”
Ia mendengar itu ya, maki Masaomi dalam hati. Padahal itu perkataannya sendiri.
“Meski begitu?”
Kanae menatap Hibari dengan mata yang berkilat terkena matahari, seolah memandang malaikat yang benar-benar turun dari langit.
“Meski begitu, iya. Aku suka Hibari-senpai, dan aku ingin mengejar Senpai. Baik Astral Side maupun Material Side… aku ingin bukan sekadar memandang, tapi berbicara, bermain, dan punya hubungan seperti itu.”
“Kamu kena pengaruh aneh dari Masaomi-kun ya,” kata Hibari tepat sasaran.
“Kalau begitu, mulai hari ini, kamu boleh menjadi teman dari aku── Noburu Lark, Peringkat Keempat dari Fuuka Shitensen.”
“Haha.”
Masaomi tidak bisa menahan tawa. Hibari dan Kanae menatapnya seolah melihat sesuatu yang berbahaya.
Bagaimana ia tidak tertawa? Hibari akhirnya punya teman── teman yang memahami dirinya beserta Astral Side-nya. Sebagai pacarnya, sebagai sesama penggemar Hibari── Masaomi merasa bahagia.
“Kalau begitu, mari kita kabulkan semua permintaan si teman yang tebal muka ini. Kanae, gitu.”
Berkata begitu saja, dan komentar dua gadis── “sia-sia ya / iya sih”── diabaikan. Masaomi menggenggam kedua tangan mereka dan memaksa mereka berjabat tangan.
“Fuooh!?” Kanae mengangkat tangan yang menjabat itu seperti sedang memegang artefak suci, menjerit aneh. Masaomi menariknya ke samping Hibari, lalu berdiri di sisi lain.
Kanae akhirnya sadar tujuan Masaomi, dan sedikit kecewa karena bukan foto berdua. Tapi Masaomi tak memberi kesempatan protes. Ia mendekatkan tubuh mereka bertiga, membuka kamera depan, dan klik── foto bertiga pun diambil.
Hibari dan Kanae, dengan jabat tangan kikuk seolah sedang menyentuh sesuatu yang rapuh. Masaomi tahu ia tidak akan pernah melupakan momen itu.
Sampai sekarang, foto di mana ketiganya memasang senyum canggung itu, masih disimpan dengan hati-hati oleh mereka bertiga.
── Hei, apakah kamu punya sebuah “ideal”?
Di aula utama Kuil Yurigiyama, tepat di hadapan patung naga putih—Dewa Naga—Kasuka mendengar suara itu.
Suara yang terdengar seolah-olah arwah sedang merasukinya itu bergema langsung di dalam kepalanya. Sensasi tidak nyaman seperti otak mereka berdua saling berkomunikasi lewat gelombang listrik, bercampur dengan rasa lega karena perasaan mereka tersambung lurus tanpa hambatan.
Setiap kali Kasuka mencoba memikirkan dirinya sendiri, suara jijijiji seperti derit noise listrik menyambar otaknya. Seolah rasa sakit itu berputar-putar untuk menahan dunia mentalnya agar tidak hancur dari dalam.
Kasuka ingin berubah. Dari awal, satu per satu.
Seperti apa yang Masaomi bangun bersama Hibari. Seperti apa yang Keiji akan coba bangun mulai sekarang. Namun perubahan itu… sedang mendorong seseorang di dalam kepalanya ke dalam kegelapan.
Suara jijijiji itu makin lama makin keras. Napasnya menjadi berat, pandangannya berputar seperti dilanda pusing hebat. Tubuhnya yang bergoyang lemas akhirnya ambruk ke lantai.
Aku… kakakku… masa kecil… Kurokomi… bendungan itu… yang diciptakan… ah, Ma-kun…
Dunia Spiritual—Astral Side. Dunia tempat ideal menjadi kenyataan. Dan juga—ujung dari ideal seseorang yang sudah terwujud.
Dulu, Kasuka menciptakan hal itu, “Dunia di mana seseorang bisa terhubung dengan yang lain—Cross Communication Dive”, dunia yang ia bangun dengan menggunakan sebagian besar otak kakaknya sebagai resource.
── Hei, apakah kamu punya sebuah ideal?
“Ideal milikku adalah…”
Afterword
Bagi kamu yang sudah membaca sejak jilid pertama—lama tidak berjumpa.
Bagi kamu yang, karena suatu wahyu mendadak dari dewa, hanya membeli jilid kedua saja—senang berkenalan.
Bagi kamu yang membeli jilid satu dan dua sekaligus, tetapi memutuskan membaca catatan penutup jilid dua terlebih dahulu—senang berkenalan juga, wahai pemilik ritual baca yang sangat unik.
Perkenalkan lagi, aku Jinguji Fumitaka. Terima kasih sudah membaca jilid kedua “Jika Aku Terhubung Lewat Cinta dengan Si Gadis Elektromagnetik yang Overload Giga”.
Seri ini, dengan keberanian yang luar biasa, tetap pada prinsip bahwa meskipun ada heroine baru, bayangannya saja tidak muncul di cover. Seperti yang kukatakan di catatan penutup jilid pertama, karya ini adalah tentang heroine utama. Berapa pun karakter yang muncul, posisi Main Heroine milik Hibari tidak akan tergoyahkan—itulah prinsip teguh seri ini. Kuudere menaklukkan semua heroine lain.
Biarkan saja semua ini dicatat sebagai strategi yang dihasilkan dari riset sampel super ketat (n=1 orang).
Setelah terbitnya jilid pertama, aku mendapat banyak pengalaman baru: terhubung dengan sesama penulis, berceloteh di SNS, dan banyak hal lain yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Ada yang kirim surat penggemar, aku juga diminta tanda tangan! Setiap hari rasanya aneh, seperti… “Eh, aku ini benar-benar kayak penulis, ya…?”
Seumur hidup—dan ini tanpa sedikit pun melebih-lebihkan—aku sudah menjalani hidup penuh malu… tapi sekarang aku merasa meninggalkan jejak aib dalam wujud baru di internet, dan setiap detik aku hidup dalam kekhawatiran. Senjata pamungkas penyelamat bumi dari pemanasan global mungkin adalah jejak memalukanku. Tapi kalau itu membuat namaku dikenal, dan tangan kalian terulur ke bukuku—
maka biarkan aku menjadi iblis yang berkeliling sambil berkata, “Maukah kau membeli gigaomo juga?”
Sekalian bumi ikut mendingin, ya.
Nah, kali ini ada heroine junior yang muncul. Dengan visual yang menyaingi Hibari, dicintai semua orang, dan menggoda Masaomi-kun—
sebuah THE ROMCOM klasik.
Tidak peduli orang bilang apa, harusnya ceritanya begitu.
Iya, sampai pertengahan cerita, sih… (suara ominous) Karena ceritanya melibatkan Masaomi dan Hibari, ya jelas tidak akan berjalan mulus.
Tema jilid kedua adalah “Dunia selain dirimu.”
Masaomi-kun berusaha memperluas dunia nyata Hibari yang gigaomo, jadi tolong lihat juga sisi-sisi baik Masaomi sebagai pacarnya.
Di kalangan pembaca katanya, yang paling ‘denpa’ (aneh sinyalnya) itu bukan heroine tapi justru protagonis.
Betul sekali.
Gelombangnya memang cocok. Wajar, kan? Dan untuk kamu yang bertanya, “Hei, apa-apaan adegan menggantung di akhir itu!?”
Silakan baca jilid berikutnya juga ya (senyum marketing).
Sekarang waktunya ucapan terima kasih.
Untuk editor penanggung jawab, Kunishige-sama dan Suzuki-sama.
Pria bernama Jinguji menepati janji. Ini heroine big-boobs-nya! Kali ini juga sudah banyak merepotkan kalian.
Urusan SNS biar aku yang tangani (kapal karam).
Untuk ilustrator MAIRO-sama.
Desain Kanae juga sangat imut, tapi yang paling kusukai tetap cover ini! (kosakata nol) Aku akan mengikutimu bahkan di kehidupan berikutnya. Cuma fans, kok.
Untuk mangaka Jako-sama.
Terima kasih sudah menggambar empat-koma gigaomo dengan sangat lucu! Yang paling menikmati setiap episodenya itu… sudah pasti aku sendiri. Cuma fans, kok.
Untuk VTuber Yakumo Beni-sama.
Terima kasih atas narasi PV/CM dan kata rekomendasinya. Suaranya yang seperti Hibari keluar dari dalam cerita membuatku mendengarnya berulang kali. Cuma fans, kok.
Untuk keluargaku.
…Oke, sip! Makasih (ringan banget).
Dan tentu saja, untuk para pembaca yang mengambil buku ini. Tolong sebarkan ke mana-mana ya (percaya diri). Soalnya Hibari di cover jilid ini imutnya sampai bisa bikin pingsan, dan jelas ultimate-oshi, kalian tahu kan—(pemotongan karena terlalu panjang)
Selanjutnya—
Dunia antara Masaomi dan Hibari akan menuju sebuah penyelesaian.
Tunggu ya.
Jinguji Fumitaka




Post a Comment