NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kokou no Denpa Bishoujo To Koi de Tsunagattara Giga Omoi Volume 2 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2 

Hari Kusunoki Masaomi yang Terlalu Panjang

Hari Sabtu. Akhir pekan. Pagi hari di hari libur.


Bulan September pun mulai memasuki penghujungnya, masa ketika musim panas perlahan bergeser menuju musim gugur. Malam-malam ketika kalau tidur pakai baju lengan pendek sedikit saja, bisa terbangun karena udara yang dingin menusuk kulit mulai bertambah banyak, tapi siang hari masih menyisakan sisa-sisa panas musim panas. Meski awan cukup banyak, sinar matahari tetap cukup kuat, dan kalau berjalan sambil ehho ehho begitu, keringat pun muncul perlahan di kulit.


"Maaf sudah menunggu, Kusunoki-senpai!"


Saat Masaomi yang tiba lebih dulu di Starbucks dekat stasiun besar area rumah sakit—tempat janjian mereka—berdiri gelisah seperti anak kecil yang baru debut bersosialisasi, suara yang merdu dan enak didengar menyentuh telinganya.


Itu adalah Saeki Kanae (versi hari libur).


Dengan blus lengan panjang berwarna putih gading dengan ruffle manis di ujung lengan, dipadukan dengan jumper skirt bergaya klasik berwarna coklat sepanjang bawah lutut—penampilannya bagai seorang nona bangsawan yang menghabiskan waktu di kastil tua Eropa. Untuk pakaian sehari-hari seorang siswi SMA, itu sangat dewasa dan elegan, tapi sangat cocok dengan kesan lembut dan anggun Kanae. Selain itu, karena bagian siluet di dada agak menonjol, daya rusak dari kontras antara kesan seiso dan feminin itu cukup tinggi.


Kanae mengeluarkan ponsel dari tote bag biru muda tipisnya, mengecek waktu, lalu sedikit menunduk menyesal sambil berkata bahwa ia sedikit terlambat.


"Soalnya aku ingin kelihatan rapi waktu bertemu Kusunoki-senpai, jadi aku butuh waktu memilih pita rambut... Jadinya aku jadi lama bersiap. Maaf ya sudah kurang sopan pada yang lebih tua."


"Enggak, aku juga baru sampai kok. Lagian, di klub pulang cepat seperti ini mana ada senioritas begitu."


Pita yang ia tunjuk itu berwarna emas platinum, membuatnya terlihat semakin elegan. Entah mengapa, setiap perempuan yang berkaitan dengan Masaomi selalu memiliki aura kelas atas yang kuat. Ya, memang ada Kasuka sih, tapi Kasuka itu Kasuka—pakaian kasualnya kacau balau jadi itu juga semacam kelas bangsawan dengan cara yang berbeda.


"Caramu menerima keterlambatan orang lain dengan tenang seperti batang pohon willow itu... membuatmu terdengar terbiasa dengan dunia kencan. Hibari-senpai pasti iri."


Lagi, pikir Masaomi. Untuk sesaat, Kanae terlihat seperti kehilangan ekspresi.


"Ada apa, Senpai? Kalau menatapku sedekat itu dengan wajah serius, aku jadi malu…"


"...nggak, maaf. Nggak apa-apa kok."


Kanae kembali menampilkan senyum yang anggun seolah tidak terjadi apa-apa, lalu masuk ke dalam Starbucks. Masaomi buru-buru mengikutinya. Dia termasuk jenis manusia yang tidak paham sistem Starbucks, jadi kalau ketinggalan, ia bisa saja langsung berbalik pulang. Masaomi, sebagai lelaki, hanya tahu kopi instan. Tolong yang banyak gula dan susunya.


"Kusunoki-senpai mau pesan apa? Aku sepertinya mau pesan iced café mocha."

"Uuh… hmm… aa… kalau begitu aku sama saja kayak Saeki-san."


Berbeda dengan Hibari yang selalu pesan menu panas, kali ini Kanae memilih menu dingin, jadi Masaomi bisa aman ikut pesan yang sama.


Sebenarnya di rumah dia sudah dapat sedikit edukasi dari adiknya, Hinata, tentang ukuran dan custom minuman, tetapi akhirnya hanya ditendang sambil disuruh, “Udah, pesen aja yang sama kayak Hibari-san, bodoh.” Dan karena jeda reaksinya ketahuan, ia bahkan dihina, “...jangan bilang bukan Hibari-san. Mustahil. Musnah lah, dasar sampah.” Masaomi berniat membawa itu sampai mati. Ia sudah bilang kalau ini atas izin, tapi tetap tidak dipercaya. Hinata-sama adalah majelis hakim yang ganas dan putusannya selalu: bersalah.


"Kalau begitu aku yang pesan dua ya? Kusunoki-senpai tolong ambil tempat duduk."


"Oke. Nanti uangnya aku balikin."


Huh, Masaomi menghembuskan napas lega sambil mengambil tempat duduk terdekat. Ia berhasil melewati momen menakutkan: pemesanan. Tak lama, Kanae datang membawa dua gelas di atas nampan. Jadi ini café mocha. Kopi plus kopi…? Masaomi memutuskan untuk tidak memikirkan lebih jauh.


"Ini, silakan."


"Terima kasih. Ini uangnya."


"Aku yang mengundang, jadi simpan saja. Sebenarnya aku sedikit menyesal karena membuat senpai memaksa datang padahal mungkin ada jadwal lain. Maaf ya."


Kanae menunduk dengan wajah bersalah. Tapi Masaomi tidak bisa membiarkan itu.

"Enggak, aku nggak maksa kok. Kalau ada jadwal lain, aku pasti bilang. Lagian, jangan bikin aku punya reputasi jelek—masa senior membiarkan junior bayar. Sebenarnya aku yang harusnya mentraktir sih…"


"Terlepas dari senioritas, berarti ditraktir itu reputasi buruk, tapi mentraktir itu reputasi baik ya? Aneh ya tradisi laki-laki begitu. Baiklah, kalau begitu aku terima."


Karena uangnya diterima, harga diri kecilnya terselamatkan. Masaomi pun mencicipi minumannya.


"Enak banget…"


Tanpa sadar ia memakai logat bukan kampung halamannya. Ternyata selain kopi instan, ada kopi bernama café mocha. Masaomi naik satu anak tangga menuju kedewasaan. Asal bukan kopi hitam.


"Fufu, Kusunoki-senpai kelihatannya memang jarang ke Starbucks ya. Maaf, aku harusnya lebih mempertimbangkan waktu memilih tempat."


"Kamu cenayang ya, Kouhai. Aku udah berusaha pura-puranya sempurna loh."


"Soalnya, waktu pesan minuman, wajah senpai kelihatannya serius banget."


Memang benar, perempuan selalu memperhatikan hal-hal kecil. Hibari tentu saja, Kanae juga, bahkan Kasuka—ketiganya memperhatikan hal yang Masaomi dan Keiji sama sekali tidak pikirkan.


"Tapi memang kalau dipikir, laki-laki jarang ke Starbucks… atau ke kafe pada umumnya ya."


"Ya soalnya… kalo mikir cost performance…"

Walaupun enak, bukan berarti Masaomi akan datang lagi sendirian. Dia bukan putra sultan. Uang sakunya terbatas. Perut laki-laki SMA lebih percaya pada kuantitas daripada kualitas. Dengan uang yang sama, mereka cenderung memilih yang lebih mengenyangkan.


"Tapi biasanya orang yang punya pacar pasti pergi ke kafe juga ya? Menyesuaikan sama selera pacarnya. Hibari-senpai nggak suka nongkrong di kafe ya…?"


Masaomi sadar hubungan mereka memang tidak normal-normal amat, jadi ini menusuk telinganya.


"Hibari itu… gimana ya, dia tipe yang apa aja oke…"


Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi meskipun dia terlihat seperti putri keluarga kaya yang tidak pernah memegang benda lebih berat dari sumpit, dia suka cup noodle. Berkat itu, Masaomi si rakyat jelata yang hidup dari family restaurant dan McD masih bisa membuatnya senang. Karena itu pula pengalaman Starbucks-nya tidak bertambah—bukan karena ia malas. Mungkin. Tapi kalau hal itu umum bagi pasangan lain… jujur saja, itu membuatnya sedikit pedih. Pergi ke Starbucks dengan Hibari—ia masukkan ke daftar TODO. Masaomi telah belajar: café mocha.


"Senpai enak ya. Bisa menghabiskan waktu sehari-hari dengan Hibari-senpai begitu. Aku iri."


Mata biru navy itu menatap lurus dari bawah, tak menunjukkan emosi.

Kalau Hibari ada di sini, pasti dia bisa melihat apakah itu tulus atau bohong.


Masaomi sudah lama menghabiskan café mocha-nya, dan minuman Kanae juga mungkin sudah tinggal setengah.

Entah apa yang menyenangkan dari menghabiskan waktu di kafe bersama Masaomi yang bahkan tidak tahu apa itu café mocha, tetapi Kanae tetap tersenyum manis tanpa henti, sesekali memberi respons yang agak berlebihan, sesekali aktif melempar topik, dan membuat obrolan Masaomi yang sebenarnya tidak terlalu menarik terasa bergelombang dan hidup. Ia benar-benar junior yang sangat baik.


Baiklah, sudah saatnya masuk ke pokok pembicaraan, pikir Masaomi sembari meluruskan duduknya.


"Haah… waktu berlalu begitu cepat ya. Rasanya benar-benar menyenangkan, berkencan seperti ini dengan Kusunoki-senpai♪"


Entah ia menyadarinya atau apa, Kanae melepaskan senyum kelas atas yang tampaknya bisa menaklukkan satu jaringan laki-laki dalam radius beberapa meter.


"Bukan, Saeki-san, ini bukan kencan…"


"Kalau dua orang pergi keluar berdua saja, itu namanya kencan, tahu?"


Junior yang baik itu membalas dengan kata-kata yang menusuk rasa bersalah Masaomi dengan tepat sasaran.


"Kalau kita sudah sampai tahap berkencan begini, mending panggil aku ‘Kana’ saja."


"Apa yang ‘mending’-nya itu?"


"Kalau ‘Kana’, kan nggak mungkin keliru lagi penyebutannya."


Sepertinya ia sedikit menyimpan dendam dari kesalahan pemanggilan nama saat pertama bertemu. Dengan kanji dan furigana seaneh itu, salah baca mungkin sudah jadi makanan sehari-hari baginya dan wajar kalau ia tidak suka. Masaomi pun merasa bersalah saat itu… tapi ya tetap saja.


"Enggak, Saeki-sa—"


"Kana lebih bagus."


"Sae—"


"Aku nggak mau kalau bukan Kana. Kalau senpai nggak mau manggil begitu… sayang sih, tapi aku pulang aja ya~"


Itu bahaya, pikir Masaomi sambil panik dalam hati. Kalau mereka bubar di sini, maka benar-benar hari ini hanya akan berakhir sebagai kunjungan Starbucks untuk minum café mocha. Ia membayangkan masa depan ketika ia harus melapor pada Yang Mulia Hibari bahwa ia tidak membawa hasil apa pun—bayangan itu membuat bokongnya menegang. Ia punya firasat akan dimarahi habis-habisan.


"Ka… Kana."


Perlu sepuluh detik bagi Masaomi untuk memaksa kata itu keluar. Rasanya ia perlu minum jeli sebagai stamina potion setelah ini.


"Baik~♪ Ada apa, Masaomi-senpaai♪"


"……"


"Masaomi-senpai?"


Saking naturalnya, dan saking cerianya cara Kanae memanggil namanya, Masaomi sampai terdiam. Mereka baru dua kali benar-benar berbicara, tapi dia belum pernah sekalipun bisa mengambil alih kendali dari junior ini.


"Ah, atau jangan-jangan senpai nggak suka dipanggil nama tiba-tiba? Kalau begitu, panggil ‘Maa-kun’ saja lebih enak?"


"Ini sengaja ya, dasar junior penuh perhitungan. Dan jangan panggil aku Maa-kun, itu mengingatkanku pada nama panggilan waktu kecil."


Saat kecil, Masaomi sering main gim pertarungan dunia campur-aduk ala Spiritual World Astral Side begitu, dan ada temannya—entah siapa namanya, jarang sekali bisa ditemui—yang memanggilnya Maa-kun. Atau… sepertinya begitu.


Kurocomi—gim lawas di konsol lama. Kira-kira masih ada di rumah atau tidak.


“.....!”


Pada saat itu juga, rasa nyeri menusuk di daerah pinggangnya—yang biasa. Seolah ada valkyrie tertentu yang berkata dari belakang, 


『Jangan membiarkan dirimu dipermainkan oleh junior rendahan seperti ini. Cepat mulai masuk ke topik utamanya. Kamu ke sana buat apa, hah?』 sambil menusuk-nusuknya dengan ujung tombak besar. 


Tebakan Masaomi: kemungkinan besar sembilan puluh persen benar.


Saat ia sedikit mengangkat baju untuk mengecek bekasnya, Kanae mencondongkan tubuh dengan tatapan curiga.


"Senpai sebenarnya kenapa? Apa aku terlalu kelewatan? Atau karena tempatnya asing, perut senpai jadi sakit? Sedikit malu sih, tapi kalau perlu, boleh kok aku lihat lebih dekat lagi, coba buka bajunya sedikit—"


"Bukan itu maksudnya. Maksudku… soal Spiritual World Astral Side. Kamu bilang di ruang OSIS waktu itu."

"Senpai benar-benar baik-baik saja? …Iya, benar juga. Kita memang mau membicarakan itu hari ini."


Meski begitu, Kanae tetap terlihat sangat khawatir—atau entah kenapa, tatapannya ke arah pinggang Masaomi terasa agak terlalu… panas. Kata “Spiritual World Astral Side” tampaknya hanya separuh saja yang masuk ke telinganya.


"Lalu kenapa Masaomi-senpai ingin tahu soal itu?"


"Aku bilang terus terang karena ini ada hubungannya dengan Hibari.”


Dan sebelumnya aku juga sudah meminta izin pada Hibari. Kalau soal 'tahu tentang Astral Side' itu bohong, ya sudah, toh dia pasti tidak akan percaya kalau Hibari itu seorang Astral Diver.


"Jadi... memang begitu, ya. Senpai Hibari juga Astral Diver..."


Seolah mendapat titik terang, Kanae mengangguk.


"'Juga', maksudmu, Kana juga?"


Namun Kanae menggeleng pelan, entah kenapa dengan ekspresi benar-benar kecewa.


"Aku bukan Astral Diver. Tapi aku adalah 'Pengamat' Astral Side."


Karena itulah ia tahu banyak tentang Astral Side, begitu kata Kanae.


Mata biru navy milik Kanae sama sekali tidak bergetar, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Memang tidak ada alasan baginya untuk berbohong. Walaupun begitu, bahkan Masaomi yang belakangan ini merasa semakin dalam memahami Astral Side pun baru pertama kali mendengar istilah “Pengamat”.


"Benar. Apa perlu aku tunjukkan langsung? Biar lebih cepat."


Ia menepukkan kedua tangan dengan bunyi kecil yang renyah, lalu mengusulkan dengan ekspresi "ide bagus, kan?"


"Bisa dilakukan?"


"Bisa dong. Kurasa sekarang ada seseorang yang sedang dive... jadi, tolong jangan kaget ya?"


Skenario ini—berdua di dalam toko, Astral Side, dan lawan bicara yang hendak memperagakan sesuatu—menyebabkan sebuah déjà vu yang tidak menyenangkan menyelinap seperti sisa-sisa musim panas di belakang kepala Masaomi. Kanae mengusap punggung tangan kanannya. Tentu saja tidak seperti waktu itu, dan jelas tidak ada bekas memar yang muncul. Namun perubahan itu datang, seolah menelusuri permukaan ingatannya. Dengan gerakan perlahan, Kanae bersandar dalam-dalam ke sandaran kursi; rok jumpernya yang kusut sedikit terangkat, memperlihatkan lutut putih yang mulus.


Biasanya Masaomi, sebagai kaki-fetish, pasti langsung terpikat oleh pesona yang luar biasa itu, tapi sekarang ia tidak teralihkan, karena keadaan Kanae jelas jauh dari normal. Bibirnya yang indah terbuka sedikit, tatapannya kosong seperti kehilangan fokus, ekspresinya lenyap seakan ada sesuatu yang merasukinya. Kecantikan Kanae berubah seketika menjadi seperti boneka gagal, pikir Masaomi, mengikuti kesan nalurinya. Berbeda dari keadaan pingsan Hibari, ada rasa bersalah menusuk—apakah ia pantas melihat wajah selemah dan seterbukanya ini? 


Kanae, yang pasti terbiasa diperhatikan orang, sampai membiarkan wajah “untuk di luar rumah” hancur begini. Tak diragukan lagi, “pengamatan”—mirip dive—sedang berlangsung.


Aneh memang, manusia. Begitu Kanae “berubah”, Masaomi otomatis mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi berita. Kebiasaan refleks tak sadar yang terbentuk dari ulah Hibari berkali-kali.


Dengan Hibari, bahkan yang paling lama pun hanya sekitar tiga puluh menit. Kanae mungkin sama, pikirnya. Namun belum lima menit berlalu, mata Kanae kembali mendapat cahaya.


"Mm... nngh..."


Kenapa setiap orang setelah selesai dive selalu mengeluarkan napas yang terdengar begitu sensual. Ditambah suara manis khas Kanae, rasanya... ya, terlalu berbahaya bagi seorang remaja laki-laki normal. Apalagi penampilan Kanae saja sudah cukup menarik perhatian; atmosfer di sekitar Masaomi jadi entah bagaimana canggung.


"Masaomi-senpai... tadi lihat?"


"Kalau secara objektif, ekspresimu barusan lumayan... tidak pantas dilihat publik. Tapi tidak sampai bikin fans tergoda, kurasa."


Masaomi menggunakan seluruh kemampuan poker face-nya untuk menjelaskan dengan setenang mungkin. Kalau ia sampai terlihat tersenyum, bisa-bisa Kanae tersinggung. Dan jenis kepercayaan yang diberikan padanya—apa pun orangnya—adalah sesuatu yang tidak ingin ia khianati.


"Uuuh... walaupun aku tahu ini bakal terjadi, walaupun aku sudah pasrah... tetap saja memalukan. Aku cuma mau Senpai yang melihat, oke? Kamu kan nggak memotret tadi? Kan?!"


Dengan wajah merah padam ia berkata begitu. Padahal barusan begitu percaya diri bilang “Mari aku perlihatkan”, dan sekarang reaksinya malah begini—tapi ya, ini sangat Kanae. Reaksi yang tepat seperti yang diharapkan dari Saeki Kanae.

"Terus, barusan itu ada hubungannya apa dengan Pengamat?"


"Tadi aku sedang melihat Astral Side. Dengan meminjam sudut pandang salah satu Diver yang sedang dive saat ini."


"Aku tidak meragukanmu sih, tapi seperti apa dunia yang kamu lihat?"


"Ada dua matahari, dan para Diver dengan bentuk masing-masing terbagi dalam dua kubu—mereka berebut titik kontrol. Yang barusan kulihat adalah Diver dari pihak Selphy, kaum Ransemono. Di pihak Messian, kaum Kyuseisha, ada Diver yang sangat kuat. Titiknya cepat diambil alih, jadi rasanya seperti menyerah sebelum sempat bertarung."


"Begitu, ya."


Isinya tidak berbeda dari gambaran Astral Side yang sudah Masaomi ketahui. Setidaknya Kanae benar-benar memahami keberadaan Astral Side.


"Hm? Dari reaksimu, kamu sudah percaya hanya dengan ini?" tanya Kanae dengan nada terkejut. 


Tidak jelas apakah ia pernah membicarakan Astral Side pada orang lain, tapi bagi Masaomi—yang merupakan pelaku langsung—penjelasan itu sudah cukup untuk dijadikan bukti, dan ia pun bisa memahami posisi “pengamat” sebagai keadaan setengah-dive.


"Yah, buatku itu cerita yang tidak asing. Tidak jauh beda dari yang Hibari bilang. Dan tentu saja, kalau aku percaya pada Hibari, aku juga bisa percaya padamu."


—Sejujurnya, apakah Kanae benar-benar seorang Pengamat atau bukan itu tidak terlalu penting. Yang penting bagi Masaomi adalah: Kanae memahami dunia Astral Side—inti dari kenapa Hibari sampai disebut gadis penyiar gelombang aneh.


Dengan begini, ia cocok sebagai calon teman untuk Hibari—atau begitu ia pikir, tepat pada saat itu terjadi—


"Uu... uu... sniff..."


"Uwah, eh, apa-apaan sih Kana, kenapa?"


"Soalnyaaa... Masaomi-senpai... percaya sama aku... hiks..."


Seorang laki-laki berwajah datar yang membuat gadis cantik menangis di tengah Starbucks. Mustahil untuk tidak menarik perhatian. Sambil berusaha mengabaikan pandangan para pelanggan lain yang sesekali melirik sambil berbisik-bisik, Masaomi menyodorkan saputangan pada Kanae.


Setelah mengusap matanya, ia meniup hidung dengan suara yang sangat kencang—benar-benar tidak cocok dengan sikap anggun biasanya. Setelah sesenggukan beberapa saat, Kanae akhirnya tenang dan menghabiskan sisa caffe mocha-nya.


"Maaf. Hari ini aku malu-maluin terus. Biasanya aku nggak begini. Masaomi-senpai, kamu harus bertanggung jawab sama aku yang sudah jadi gadis rusak gini, oke?"


Matanya dan hidungnya memerah, dan suara manis yang sengau itu membuat pesonanya naik dua tingkat, tapi setidaknya ia sudah kembali seperti biasa. Soal 'tanggung jawab' itu mungkin hanya candaan untuk nutupin rasa malunya.


"Sebenarnya, sahabatku menderita penyakit yang namanya koma kronis."


"...Temanmu seorang Diver, ya. Kalau begitu, masuk akal."


Ia bisa memahami Astral Side, tentu saja. 


Jika ia menggabungkan hasil pengamatannya dan informasi dari friend-nya yang dive, mereka bisa saling mengonfirmasi bahwa dunia itu bukan sekadar mimpi atau delusi satu orang. Ternyata yang sedang diuji bukan hanya Kanae—Masaomi juga begitu.


"Masaomi-senpai, kamu memang paham banget ya. Aku ingin tahu lebih banyak soal penyakit sahabatku itu, dan kalau bisa, menyembuhkannya. Jadi aku mencari informasi tentang kondisi yang sama, membaca buku-buku dan jurnal yang sangat sedikit jumlahnya... dan tanpa sadar aku mendapatkan kemampuan untuk mengintip dunia itu. Pernah juga aku ceritakan ke teman sekelas dengan nada bercanda, tapi ya... seperti yang bisa diduga."


Hasilnya tidak perlu ditanyakan. Dan kini Masaomi mengerti kenapa Kanae punya hobi agak unik seperti membaca jurnal ilmiah. Kalau bukan karena hal seperti ini, seseorang tidak akan pernah menyentuh norma-norma “Astral Side” yang sebenarnya.


Jika semua orang seterbuka itu terhadap Astral Side, Hibari tidak akan bersikap sekeras itu. Dan Masaomi pun mungkin tidak akan menjadi kekasih Hibari.


"Begitu aku masuk SMA, aku mendengar sebuah rumor, dan benar-benar kaget. Aku selama ini takut dianggap aneh oleh orang-orang, jadi aku hanya bisa membungkus semuanya sebagai candaan untuk menggali reaksi mereka. Tapi ternyata ada orang yang mengakui hal itu terang-terangan—dan ada orang lain yang menerimanya dan bahkan menjadi kekasihnya."


Tatapan biru indah yang mengingatkan pada langit biru menatap langsung Masaomi. Tidak perlu dikatakan, rumor yang dimaksud tentu tentang Hibari dan Masaomi.


"Aku bisa melihat wujud asli Hibari-senpai. Jadi aku bisa menyaksikan perjuangan sunyi Diver seperti sahabatku. Dan Masaomi-senpai adalah kekasih Hibari-senpai. Artinya, kamu juga seorang yang memahami Astral Side. kata yang sederhana untuk menggambarkannya mungkin...teman seperjuangan. Begitulah pikirku."


Ketika menyebut kata “teman”, entah kenapa Kanae terlihat sangat terluka. Mungkin ada sesuatu yang terjadi di masa lalunya bersama sang sahabat.


"Itulah kenapa aku tertarik pada Masaomi-senpai. Sesuai harapanku, kamu menerima ceritaku yang terdengar seperti omong kosong ini... aku benar-benar senang."


Sebuah adegan muncul dalam ingatan Masaomi: masa itu, di restoran keluarga saat musim panas. Ketika Hibari menerima pengakuan cintanya yang berupa hukuman permainan, dan pada kencan pertama ia berkata bahwa ia percaya pada Hibari—wajah Hibari waktu itu.


Wajah cerah seperti bunga matahari besar yang baru saja mekar setelah ia tahu bahwa tidak apa-apa melepas topeng dinginnya yang selalu ia pakai di sekolah. Rasa lega dan bahagia karena diterima meski dirinya berbeda—Masaomi tahu betul rasanya. Hibari-lah yang dulu membasuh perasaannya bahwa ia harus hidup sebagai "orang normal" di dunia yang datar. Baru sekarang Masaomi merasa mengerti kenapa sejak awal Kanae tampak begitu akrab dengannya.


"Terima kasih sudah cerita banyak. Aku juga senang bisa ngobrol sama Kana."


Sudah hampir siang. Kanae bilang ia ada urusan sore nanti, jadi ini waktu yang pas untuk bubar. Masaomi sendiri juga punya “agenda utama” setelah ini.


"Lain kali aku kenalin kamu ke Hibari. Kalau awalnya dari rumor tentang dia, lebih baik kamu dengar langsung dari Hibari soal Astral Side."


Dengan keyakinan kuat bahwa Kanae pasti akan jadi teman yang baik untuk Hibari, Masaomi berdiri. Kanae berdeham kecil, lalu tersenyum nakal.


"Naah, semua itu cuma alasan supaya aku bisa mendekati Masaomi-senpai saja♪"


Ia benar-benar tidak membiarkan percakapan berakhir dengan mudah—lelaki itu menghadapi junior yang sempurna, penuh trik.


"Saputangannya bakal aku cuci dan balikin nanti—jadi pikirkan ya, mau ke mana buat kencan berikutnya!"


Kanae menjulurkan lidah manis sambil mengedip, lalu berputar pergi dengan ayunan rok yang indah. Masaomi hanya bisa terpaku menatap punggungnya.


Sambil berpikir, kira-kira bagaimana nanti reaksi tuannya yang mudah cemburu.


"Hmmm…………………………………………"


Hibari menyentuh jepit rambut sayap, dan ya—dia benar-benar sedang super bad mood. Entah kenapa rasa getir yang mengalun dari suaranya terasa dua kali lipat. Bahkan Masaomi pun langsung paham dalam sekejap bahwa ini bukan pertanda baik. 


Ah, apa aku bikin masalah lagi?


—sayangnya dia tidak bisa pura-pura bodoh. Itulah nasib dan sekaligus penderitaannya sebagai pacar.


"Um, Hibari-san? Kok rasanya di sudut ini gravitasi jadi lima kali lebih berat?"


"Itu cuma perasaanmu. Bumi berputar kayak biasa, kok."


Tidak mungkin cuma perasaan. Paling-paling sumbu bumi lagi bengkok lokal. Saat seperti ini, En Shūkaku sama sekali tidak berguna.


Hari ini, Masaomi baru saja melakukan debut Starbucks bareng Kanae. Setelah bubar, dia langsung menuju mal dekat Stasiun Kutsuna —tempat kencan pertama mereka (nama resmi: Kutsuna Radical Mall). Sesuai rencana, dia bertemu Hibari, lalu sambil menikmati kenangan lama, dia mengajaknya ke Starbucks dengan wajah penuh kemenangan. Namun entah kenapa, Hibari mendadak jadi super bad mood, jadi Masaomi panik dan banting setir. 


Sama seperti dulu, dia kabur ke family restaurant, menyeret tubuh yang sudah hancur mental. Setelah melapor tentang kejadian pagi tadi, mood Hibari justru naik ke level yang lebih berbahaya.


Next episode: “Masaomi, panik di depan gerbang neraka!”—sekian untuk kilas balik yang menyedihkan itu.


Seperti biasa, pelayan membawa teh panas untuk Hibari dan cola untuk Masaomi. Sampai hamburger lunch mereka tiba, Masaomi harus menahan badai mood buruk itu. Tenggorokannya terlalu kering, jadi ini sudah gelas kedua cola.

Hamburger panas yang disajikan di atas pelat besi terasa seperti penjelmaan dewa penyelamat. Setidaknya dia bisa fokus makan untuk beberapa saat. Yang bisa dia lakukan hanyalah bersyukur pada konsep convenient-nya “delapan juta dewa” negeri ini. Terima kasih, Dewa Hamburger. Harga makan siang: delapan ratus yen, murah untuk seorang dewa.


"Hey, Masaomi-kun. ———— Aaaannn."


"Geh! Uwegh! Ga—!"


Acara couple tiba-tiba muncul tanpa tanda-tanda, dan inersia mental Masaomi tidak sempat mengimbangi. Dia tersedak pada hamburger yang sedang dia kunyah sendiri. Tidak peduli wajahnya datar atau tidak, yang tersedak tetap tersedak. Kalau perempuan yang beberapa menit lalu super bad mood mendadak menyodorkan “aannn” dengan ekspresi menusuk begitu, wajar dia panik setengah mati.


Masaomi meneguk habis cola kedua, buru-buru mengelap mulut, tapi sesak napasnya tidak berhenti. Seperti heat shock di musim dingin yang bisa mematikan, efek “Hibari shock” juga sangat tidak baik untuk jantung.


"…E-eh, Hibari. Kok tiba-tiba?"


"Biasa saja. Ini cuma 'aaah'. Di rooftop kamu sendiri yang masang jebakan, tapi sekarang nggak mau makan?"


"Makan kok…"


Dengan hati-hati Masaomi menelan potongan yang disuapkan Hibari. Makanan restoran jelas mustahil beracun, tapi tekanan Hibari itu luar biasa—cukup untuk membuatnya berpikir begitu. Apalagi ekspresi Hibari lebih datar daripada wajah Masaomi yang biasanya datar.


"U… ehm… enak. Kalau disuapin pacar rasanya naik tiga level."


"Baguslah. Padahal tadi kamu kelihatannya ragu-ragu. Di depan orang lain kamu santai sekali, tapi kalau berdua saja kamu justru pemalu, ya."


"Walau nggak kelihatan, aku sebenarnya lumayan malu, tahu. Jangan disuruh ngomong gitu… malulah…"


Mendengar itu, Hibari langsung tersenyum cerah. Senyum yang begitu indah sampai malaikat pun kabur tanpa alas kaki. Perbedaan dari ekspresi datarnya barusan terlalu ekstrem. Masaomi sempat lengah, mengira Hibari sudah kembali normal. Tapi begitu dia memasukkan suapan hamburger berikutnya—


"Atau jangan-jangan kamu lagi sibuk mengurus adik kelas baru yang imut, Kana-chan itu, sampai minder sama ‘mantan’ perempuanmu?"


"Geh! Uwegh! Ga—!"


Tidak ada satu milimeter pun yang membaik. Malaikat yang tadi berbalik arah rupanya kembali dengan sprint dan menusuk jantungnya pakai tombak raksasa.


"…Aku cuma bercanda. Nih, sini aku lapin."


"Keren… sama sekali nggak kedengarannya kayak bercanda…"


Masaomi mengambil tisu yang disodorkan, membersihkan sisa-sisa tumpahan, lalu merapikan posisi duduknya. Memang jelas kenapa Hibari marah. Bahkan Masaomi pun paham. Meski dia berharap Hibari pura-pura tidak melihat kejadian pagi tadi, itu hanya harapan egois.


"Maaf, cuma bercanda kok. Aku memang nggak nyaman, tapi aku sendiri yang kasih izin. …Tapi meskipun begitu, tetap saja aku nggak nyaman, jadi rasanya pingin marah-marah sedikit. Maaf, ya."


Dia menunduk meminta maaf. 


Dari sudut pandang Hibari, wajar saja dia kesal: pacarnya pergi ke Starbucks—tempat yang bahkan mereka berdua belum pergi bersama —dengan adik kelas cantik, panggil-panggilan nama, bahkan mengatakan hal-hal seperti “Aku rasa aku bisa jadi teman baikmu.”


Kalau dipikir dengan pikiran dingin, Masaomi memang tampak seperti laki-laki yang lumayan brengsek. Jelas-jelas “tidak oke”-nya jatuh pada level tinggi.


"Hibari nggak perlu minta maaf. Aku yang kurang peka."


"Memang. Aku nggak salah kok. Aku tarik kembali permintaan maafku."


"…"


Ya sih, benar. Tapi kalau diucapkan langsung begitu, rasanya agak menusuk juga.


Karena gencatan senjata sudah diteken, Masaomi memutuskan masuk ke topik utama. Sepertinya dia mulai mengerti: demi menjaga hubungan, ritual semacam “pro-wrestling pasangan” seperti ini memang diperlukan.


"Jadi, soal Kana—eh, jangan melotot gitu. Saeki-san itu meneliti Astral Side sendiri, dan dia punya kenalan diver beneran? Dan dia perempuan juga, jadi pasti…"


"Pasti cocok diajak ngobrol, begitu maksudmu. …Apa pun niat adik kelasmu itu, aku tahu Masaomi-kun ngomong gitu demi aku. Terima kasih. Kadang aku memang kepingin punya satu atau dua teman dekat. Tapi itu keinginan yang agak mewah. Karena aku sudah punya Masaomi-kun. Cuma itu saja sudah cukup buat aku merasa bahagia, tahu?"


Reaksi Hibari sudah Masaomi duga. Dan intuisi Masaomi yang menganggap ini berbahaya… juga benar.


"Jadi aku cuma ikut campur ya…?"


"Benar juga. Mungkin begitu. Perasaannya membuat aku senang, tapi tetap saja… kalau di dekat Masaomi-kun ada perempuan lain—dan bahkan perempuan yang lucu—aku pasti bakal cemburu. Kalau dipikir, Tachibana-san juga sebenarnya begitu. Tapi Tachibana-san memang dari awal sudah teman Masaomi-kun, dan sifatnya seperti itu, jadi dia tidak mengusik rasa cemburuku terlalu parah… tapi Saeki-san itu, menakutkan. Gagasan bahwa Masaomi-kun memilih dia… itu menakutkan sampai ke hati terdalamku."


Hibari menyentuh penjepit rambutnya, memilih kata-kata perlahan, sambil mengungkapkan isi hatinya. Masaomi tidak menyimpan perasaan romantis apa pun pada Kanae, di luar fakta bahwa mereka bisa bicara soal Astral Side, dan kalau mereka harus berteman, orang yang cocok berteman dengannya adalah Hibari, bukan Masaomi ──sekalipun ia memaparkan logika-logika yang masuk akal seperti itu, pada akhirnya ada bagian dari perasaan yang tidak bisa dikalahkan oleh rasionalitas. Masaomi pun memahami itu. Kalau posisinya dibalik, ia juga pasti merasa begitu.


"Terima kasih. Maaf ya, bikin kamu khawatir. Aku bisa bilang seratus persen aku nggak akan pilih Saeki-san, tapi aku tahu itu tidak terlalu membuat Hibari tenang saat ini."


"Bukan begitu. Waktu Masaomi-kun ngomong itu, aku bisa lihat kalau wajahmu adalah wajah jujur dari hatimu. Tapi… boleh aku dive sebentar? Soalnya aku lagi ingin melampiaskan sedikit kekesalan."


"Silakan. Jangan sungkan, pakai Guardian sesukamu dan habiskan semua emosinya."


Barulah Hibari tersenyum seperti biasanya. Lalu, bersiap untuk dive, ia menyesap sedikit tehnya. Setelah bernapas sependek itu barusan, wajar bila tenggorokannya kering. Masaomi mengerti betul hal-hal kecil seperti itu. Hibari pasti juga begitu. Karena itulah, bagi pasangan yang baru menjalani kisah cinta kedua dalam hidupnya—bukan hukuman permainan—mengungkapkan perasaan lewat kata-kata atau sikap yang jelas itu sangat penting.


Aku menyukaimu.


Begitulah makna yang ingin ia sampaikan.


Ketika perasaan Masaomi sudah terkumpul rapi seperti itu, Hibari malah memasang wajah seperti kucing yang dipaksa masuk kamar mandi. Mungkin tehnya terlalu pahit? Tapi kemudian,


"Semoga aku nggak ketemu dia hari ini."


"Hah?"


"Akhir-akhir ini aku sering dikejar-kejar sama Pure Cure. Di Astral Side."


"...Pure Cure? Yang dari anime itu?"


Masaomi tidak terlalu paham anime anak perempuan yang bernama Pure Cure, tapi menurut Hibari, belakangan ini ada Diver yang sering ia temui dengan penampilan persis seperti karakter aslinya. Seperti cosplay tingkat dewa, atau benar-benar menyatu jadi karakternya—begitulah kira-kira.


"Dia itu nggak bisa diajak bertarung. Jadi nggak cocok buat pelampiasan stres. Padahal versi aslinya itu otot murni yang cuma tahu gebuk."


Untuk alasan kenapa stresnya menumpuk… Masaomi memutuskan untuk tidak menanyakannya. Sengaja.


"Jadi anime-nya lebih ideal, ya. Yah, kurasa begitu juga ada kan. Hibari juga kan beraksi pakai avatar game-mu."


"Jangan samakan aku dengannya… meski, ya, kami sih sejenis. Sama-sama Diver."


"By the way, tag khususnya apa?"


"'Suonare'. Mungkin dari kata-kata jurus si Pure Angel: 'Jadilah kamu yang jujur!'"


"Sunaonare" memang agak susah diucap, jadi mungkin benar berasal dari itu. Dan entah kenapa, kalau Hibari menirukan gaya anime dan bilang, "Jadilah kamu yang jujur!", efeknya lumayan kuat. Bikin hati meleleh. Bisa di-push.


"Yah, terlepas dari Pure Cure itu, aku mulai sekarang bakal mengurangi interaksi dengan Saeki-san. Setidaknya aku nggak akan mengundangnya, dan nggak akan bertemu berdua. Jadi pergilah dive dengan tenang."


Ia menegaskan lagi agar tak ada rasa tak puas sebelum Hibari dive. Karena untuk Masaomi, yang paling utama adalah Hibari—jadi ia memberikan ketulusan sebesar mungkin, dengan cara yang jelas terlihat. Seperti peringatan ayah Hibari dulu: laki-laki berwajah datar harus secara sadar menunjukkan perhatian.


Mungkin perasaan itu tersampaikan, sebab Hibari tersenyum getir, lalu tiba-tiba seperti teringat sesuatu:


"Masaomi-kun. Saeki-san itu, Kana… eh, Kanae-san, kan? Aku ingat namanya ‘Kanae’, tapi bukan dari ‘kanau (mengabulkan)’, kan?"


"Betul. '奏' yang artinya 'memainkan musik', dibaca Kanae. Dia bilang itu juga waktu pidato."


"Dia mengamati Astral Side. Tapi dia sendiri yakin tidak sedang dive, kan?"


Masaomi mengangguk sesuai pertanyaan.


"Pengamat. Dive. Sudut pandang. Tahap awal borderline? Rasanya aku pernah lihat thesis dengan kata-kata itu. Kalau begitu ‘Suonare’ itu mungkin… hmm, pada akhirnya aku akan melakukan itu sih… tapi informasinya belum cukup."


Entah bagian mana yang memicu Hibari, tapi ia mulai bergumam seperti detektif di novel misteri, sambil cek sesuatu di smartphone. Masaomi juga merasa mendengar kata yang cukup berbahaya. Atau mungkin ia berhalusinasi. Yang jelas: tingkat konsumsi jurnal akademik para gadis SMA di sekitarnya itu semakin hari terasa mencurigakan.


Setelah beberapa saat berpikir, Hibari mengangkat wajahnya, menggumamkan "Suonare", lalu—


"Aku cabut ucapanku tadi, Masaomi-kun. Selama kamu melapor sebelum dan sesudahnya, kamu boleh makin dekat dengan Saeki-san. Bahkan aku izinkan kalian pergi berdua. Tapi no skinship."

"?!?!?!?!?!?"


Masaomi tidak bisa memahami sepersekian pun dari apa yang baru saja terjadi.


"Kenapa?"


"Tentu ada alasannya," jawab Hibari sambil mengangguk mantap.


"Hal seperti ini percuma kalau cuma dipotong di permukaan. Kalau aku melarangnya, nanti kalian cuma bakal sembunyi-sembunyi. Lebih baik kubiarkan, supaya akar masalahnya kelihatan. Pengamat──bagus. Biar dia bergerak."


Masaomi tanpa sadar membayangkan Keiji versi biksu. Rambut panjangnya kini memang hilang, tapi otaknya tetap sama, dan cepat atau lambat rambut itu pasti tumbuh lagi seperti gulma. Karena akar dirinya tidak berubah.


"Tapi soal selingkuh tetap dilarang keras. Kalau kamu macam-macam di sana atau di sini, General-mu akan betul-betul hancur berkeping-keping."


"…Siap…"


Yang bisa ia lakukan hanyalah langsung patuh. Karena mata Hibari agak… menakutkan.


"Dan satu lagi, Masaomi-kun. Ingat ini baik-baik. Tidak ada pacar yang senang diajak ke tempat yang sebelumnya kamu kunjungi bersama perempuan lain. Lain kali, ajak aku ke kafe yang baru, bukan Starbucks itu."


Setelah berkata seenaknya sampai akhir, Hibari langsung melaksanakan dive. Masaomi, sambil mengeluarkan smartphone, hanya bisa menghela napas. 


Benar-benar… Hibari Shock itu terlalu ekstrem dan tidak ramah jantung.


Aku benci ruang yang putih bersih. Karena terasa seperti simbol dari tuntutan untuk jadilah bersih, jadilah suci, jadilah anggun. Seolah-olah itu adalah kutukan yang mengatakan jadilah putih murni seperti yang orang lain harapkan darimu. Namun—hanya satu tempat ini yang berbeda. Meskipun ini adalah ruang putih suci yang membuatku muak, di sinilah pintu yang terhubung menuju “kuil” yang sebenarnya berada.


“Ceritakan padaku, Tsubaki… sekarang kau sedang berada di dunia seperti apa? Kau bertemu dengan siapa saja di sana?”


Di samping tempat tidur tempat Kasugano Tsubaki tertidur, Kanae duduk di atas bangku kecil dan bertanya pada sahabatnya.


CCD—gangguan koma kronis.


Belakangan ini waktu bangun dan waktu komanya semakin tidak stabil, dan karena kehidupan sehari-harinya sudah dinilai sulit, Tsubaki harus menjalani rawat inap sejak awal semester baru. Padahal baru beberapa saat lalu ia masih ‘bangun’ dan mengobrol dengan ceria. Tapi kemudian ia mendadak kehilangan kesadaran dan menjadi seperti ini lagi. Sampai sekitar liburan musim panas, ia masih bisa tetap bangun selama Kanae menjenguknya. Sekarang, bahkan itu pun sudah tak mampu ia lakukan.


Napas Tsubaki yang dilihat dari tempat seperti ini selalu dangkal. Di atas linen rumah sakit yang tanpa noda, dadanya—yang mengenakan piyama rawat inap sederhana yang mudah dicuci dan dikenakan—terus naik turun tanpa henti. Seolah-olah itu adalah mesin tenaga yang mengangkatnya menuju tempat suci.


Astral Side, dunia spiritual.

Dunia ideal yang diinginkan para penderita CCD.

Dunia yang diinginkan Tsubaki.

Dan—dunia yang dilihat Kanae dengan meminjam sudut pandang Tsubaki.


Setiap kali datang ke tempat ini, percakapan mereka selalu kembali ke ingatan.


『Aku mungkin… suatu hari nanti akan benar-benar tak bisa bangun lagi. Tapi Kana-chan masih bisa melakukan apa saja mulai sekarang. Katanya tampang dan cara bicara itu menentukan kesan orang sembilan puluh persen, kan? Aku ingin melihat Kana-chan yang lebih aktif.』


Itulah yang Tsubaki katakan saat pertama kali ia melakukan dive. Waktu itu mereka masih belum lulus SMP. Sikapnya yang seolah telah menyerah pada masa depan itu terekam seperti foto yang sangat jelas dalam ingatan Kanae.


Jika itu yang Tsubaki inginkan, jawab Kanae. Kalau Tsubaki menginginkannya, maka ia akan menjadi diri yang diinginkan Tsubaki.


Cosplay seperti Tsubaki jelas terlalu memalukan, tapi selain itu, ia berniat berusaha. Ia tidak pandai berhubungan dengan orang lain selain Tsubaki, tapi jika ia menjadi gadis seperti Tsubaki, mungkin ia bisa memenuhi harapan orang lain juga. Jika itu bisa menjadi kekuatan bagi Tsubaki untuk melawan penyakitnya.


『Sudah ketemu belum sama kakak kelas super cantik yang pernah aku ceritain itu? Kana-chan pasti suka banget deh sama dia. Orang seindah itu pasti berkah banget. Kalau dia datang ke bangsal ini, berarti mungkin dia juga punya penyakit yang sama.』


Tsubaki selalu peduli pada penampilan.


Cosplay, jogging yang tak pernah ia lewatkan ketika masih sehat—semuanya demi mendekatkan dirinya pada sosok idealnya. Jika gadis yang ia sebut sebagai “kakak kelas super cantik” itu benar-benar penderita CCD, Kanae memang tidak bisa bilang ia tidak penasaran bagaimana wujud orang itu di Astral Side.


『Kana-chan, aku sebenarnya tidak terlalu menderita selama dive, kok. Jadi jangan khawatir. Jangan cuma memikirkan aku… kamu juga harus punya impian kamu sendiri, ya?』


Tsubaki tak pernah mengeluh, bahkan ketika bangun. Meski ia tahu dirinya makin melemah. Seakan ia punya keyakinan atas sesuatu yang menunggu di ujung perjalanan ini.


—Aku harus menyembuhkanmu.


Perasaan itu, tanpa keraguan, bukanlah kebohongan.


『Nee Kana-chan, menurutmu kalau di sekolah ada waktu untuk tidur sebentar, anak-anak seperti aku masih bisa bertahan nggak ya? Bisa sneak-in dive sebentar gitu. Gimana ya caranya?』


Itulah salah satu alasan Kanae masuk OSIS. Untuk menyediakan waktu istirahat singkat bagi penderita CCD. Meski hanya sebagai penghiburan, adanya waktu seperti itu mungkin bisa menurunkan hambatan psikologis mereka untuk datang ke sekolah.


Apakah itu demi masa depan Tsubaki yang sembuh, atau sekadar waktu istirahat bagi ‘malaikat’ itu—sekarang ia pun tak tahu lagi.


『Karena di dunia itu aku bisa jadi versi cosplay ideal, aku nggak benci-benci amat sama penyakit ini. Suatu hari aku ingin bikin Kana-chan berdiri di dunia itu juga. Kita bisa cosplay barengan. Tapi… kalau begitu Kana-chan juga harus sakit. Sampai ke situ… aku nggak bisa memintanya.』


Makanya, biarkan aku menjadi mata untukmu kapan saja, kata Tsubaki dengan mata sebening kristal.


Dunia ideal setelah meninggalkan kenyataan. Tempat di mana seseorang bisa menjadi diri sendiri. Kanae benar-benar ingin menyembuhkan Tsubaki. 


Belajar agar bisa masuk fakultas kedokteran, masuk OSIS, meningkatkan kemampuan komunikasi—semuanya ia lakukan karena ia percaya itu adalah jalan menjadi tenaga medis yang bisa menyelamatkan seseorang. Namun meski begitu, kontradiksi dalam dirinya semakin membengkak sedikit demi sedikit.


『Aku ingin lagi… seperti “malaikat” itu—pakai cosplay, difotoin… hal-hal seperti itu. Fotokan bisa disimpan selamanya, dan kenanganku dengan Kana-chan bisa hidup terus.』


Kanae sudah tidak tahu lagi apa isi hati Tsubaki.


Apakah Tsubaki ingin tetap tinggal di Astral Side, atau ingin sembuh dan kembali ke dunia nyata. Apa yang ia harapkan dari Kanae. Apa yang harus Kanae wujudkan.


—Dan pada saat yang sama…Kanae sendiri juga kehilangan jejak ke mana harus membawa perasaan yang membara seperti bara api di dalam dirinya.


Ia ingin diakui seseorang. Ingin seseorang berkata bahwa ia tidak salah.

—Tidak, bahkan kalau pun ia salah, ia ingin ada yang tetap mengakui dirinya. Maka itu. Tetap saja. Demi mencapai tujuan sekarang—untuk mendekati sang Guardian—


“Kalau ingin melihat kakak kelas ideal itu, aku hanya bisa meminjam matamu. Maaf ya… aku titipkan lagi padamu.”


Ia tidak bisa menolak kenyataan bahwa ada dirinya yang berharap penyakit Tsubaki tidak sembuh. Sebuah harapan yang seharusnya tidak ada—namun tetap muncul.


Harapan bukan karena tuntutan orang lain, melainkan berasal dari kedalaman dirinya sendiri. Tanpa tahu mengapa kini ia tersenyum dengan ekspresi seolah-olah sedang mabuk bahagia.


Dan dengan bunyi kasha! dari shutter, babak ketiga pun resmi dimulai.


“Sudah lama tidak bertemu, Masaomi-senpai!”


“…Yah, Saeki-san. Walaupun jujur aku tidak terlalu merasa ini lama, sih.”


‘Kana, tahu,’ ujar Kanae sambil menjauhkan wajah dari kamera besar yang cukup kokoh yang ia pegang, bibir merah mudanya mengerucut dengan lihai.


Mereka, secara mengejutkan, bertemu untuk kedua kalinya dalam hitungan jam. Bahkan novel picisan pun biasanya lebih memerhatikan pergantian adegan, pikir Masaomi, tapi sayangnya “jam operasional” hari ini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, seperti yang dikatakan Midou—rush time masih berlanjut.


Setelah Hibari bangun dari dive, katanya ia dipanggil keluarga, dan sambil menenangkan Hibari yang menggerutu minta “baca situasi dong”, Masaomi turun dari kereta di Stasiun Universitas Medis, berpisah dengan Hibari yang masih harus naik dua stasiun lagi. Karena waktu makan malam masih agak lama, ia mampir ke arcade di kawasan pertokoan, larut dalam keramaian turnamen game musik yang kebetulan sedang berlangsung, lalu saat ia keluar dan hendak pulang—di dekat pintu masuk, Kanae tiba-tiba membidiknya dengan kamera.


Begitulah kronologi kejadian sekitar pukul lima sore.


“Pertama-tama, boleh tahu kenapa aku difoto?”


“Fotografi adalah hobiku!”


Itu bukan jawaban, Masaomi menggerutu dalam hati, tapi ia memang ingat kalau itu adalah hobi Kanae. Padahal dengan penampilan seperti itu, dia akan jauh lebih menarik kalau yang memotretnya orang lain. Tapi ya, itu urusannya sendiri. Masaomi hanya ingin bilang satu hal: pilih objek yang tepat, dan minimal minta izin.


“Aku berhasil menangkap ekspresi natural Masaomi-senpai. Walaupun sama-sama muka datar, tapi ada sedikit… kelengahan. Karena ada perbedaannya, ini objektif yang bagus banget. Aku sampai ingin jadi fotografer pribadimu.”


Mendengar itu sambil melihat Kanae menatap foto wajahnya yang tampak bodoh dari layar kamera, Masaomi merasa malu luar biasa.


Candaan “Aduh, aku kan lagi bare face nih~” yang ia lontarkan pun langsung diabaikan.


“Tadi kamu tidak bawa kamera kan? Kamu balik dulu buat ambil?”


“Tidak, aku selalu bawa kamera di tas, kok. Soalnya kalau foto dari awal first date itu kan aneh banget. Jadi aku menahan diri. Heh-heh!”


Masaomi merasa penyebab “aneh” itu bukan foto atau tidak foto, tapi ia memilih tidak memperpanjang. Ia lalu memandang tote bag kecil itu—mirip keajaiban bagaimana kamera sebesar itu bisa muat di dalamnya.


Tas milik Hinata pun selalu penuh kekacauan tetapi entah bagaimana tetap dapat dikuasai pemiliknya. Mungkin para gadis memang mendapat pelatihan khusus soal tas.


“Tapi bisa ketemu lagi hari ini tuh keberuntungan banget. Cuma… maaf ya, saputangannya belum aku cuci, jadi untuk sementara masih aku simpan dulu.”


“Nggak masalah. Tapi jangan di depan toko gini, kita jalan sambil ngobrol aja?”


“Tentu saja~!”


Kanae menjawab dengan penuh manis, mengangkat dua jari membentuk peace ke samping.


Masaomi mulai pusing—dia sudah disuruh untuk “lebih akrab”, tapi baru beberapa jam lalu ia bilang tidak akan bertemu berdua lagi. Dengan kondisi seperti ini, citra diri Masaomi-senpai pasti anjlok.


“Anggap saja aku yang mengundang secara paksa, jadi senpai tidak perlu merasa sungkan.”


Seolah membaca pikirannya, Kanae memberi alasan pembenar agar ia tidak merasa bersalah. Cara membaca situasi seperti itu benar-benar jauh berbeda dibanding anak-anak klub pulang cepat. Mungkin gadis populer memang tumbuh dengan jalan hidup penuh intrik hubungan manusia.


“Jadi kamu masih mau pergi ke suatu tempat? Padahal aku tadinya mau pulang.”


“Sebenarnya… ada sesuatu yang ingin aku konsultasikan. Tentang Astral Side.”


Kata yang tidak bisa ia abaikan itu diucapkan begitu santai oleh si junior, dengan kemampuan hampir menakutkan dalam mengarahkan tindakan Masaomi.


Kalau saat kelas 1 SMA saja sudah begini, ia pasti akan tumbuh menjadi iblis kecil yang membuat para om-om terjerumus tanpa ampun. Cukup menyeramkan. 


Masaomi mengirim pesan pada Hibari dulu sebagai laporan. Hibari pasti bakal terkejut, tapi Masaomi sendiri sama bingungnya, jadi harap dimaklumi.


“Kafe… kayaknya sudah cukup hari ini. Yang penting tempat bisa ngobrol.”


“Maaf ya, mengganggu waktu istirahat…Apa sebelumnya Masaomi-senpai kencan sama Hibari-senpai?”


Pertanyaan itu diajukan dengan nada seperti menebak. Masaomi menjawab samar, “yah, semacam itu.”


“Kalau begitu, ayo kita ke tempat yang sama! Aku juga ingin pergi ke tempat itu bersama Masaomi-senpai.”


Dalam hati, Masaomi langsung mendengar suara Hibari menggerutu:

Bukannya kamu nggak mau pergi ke tempat yang pernah dipakai sama perempuan lain? Tapi bahkan hanya di dalam kepala, Hibari tetap terdengar super dry dengan pengucapan super dry yang sangat bagus.


“...Apa senpai sebenarnya capek ya? Maaf, aku terlalu senang sampai jadi heboh sendiri. Soalnya Masaomi-senpai sama sekali nggak berubah ekspresi, jadi aku merasa kayak semua yang aku lakukan bakal diterima aja gitu.”


Dengan lesu, alisnya turun seperti anak anjing yang merajuk. Rambut belakangnya yang diikat half-up ikut jatuh mengikuti gerakannya—sepertinya bukan cuma perasaanku saja. Kasuka juga begitu, tapi menurutku ada teori bahwa saraf emosi itu terhubung ke rambut.


“Kalau begitu bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Setidaknya temani aku di jalan pulang. Aku bakal ngomong sendiri terus, anggap saja kayak lagi dengar rekaman audio.”


Pulang dengan suara merdu yang bahkan seiyuu pun bakal kalah, dijadikan BGM perjalanan—betapa mewahnya itu.


“Boleh sih, tapi apa arah rumahmu sejalan?”


“Iya. Aku asli dari Kutsuna, jadi rumahku dekat sini.”


“Eh, jadi kita satu SMP... ya, kalau tinggal di daerah sini, kemungkinan besar bakal masuk SMP Fuzoku sih.”


Karena Kanae satu angkatan di bawah Masaomi, berarti dulu mereka mungkin pernah lewat satu sama lain di SMP. Dengan junior secantik ini, rasanya aneh juga kalau Masaomi tidak pernah dengar kabarnya. Tapi kalau dipikir lagi, Masaomi memang tidak punya teman dekat perempuan, dan beda angkatan itu rasanya nggak terlalu berpengaruh ke radar informasi. Itu bukan berarti aku dulu sudah jadi introver total sebelum kecelakaan, oke.


“Ahaha, agak malu sih, tapi aku ini tipe yang ‘debut di SMA’. Sekarang memang pakai kontak lensa, tapi dulu aku memakai kacamata hitam tebal banget, dan meski aku quarter, warna rambut ini menurun kuat sekali sampai-sampai aku malah mewarnainya hitam karena minder... Jadi waktu SMP, aku cuma sering foto-foto sama sahabatku saja. Suaraku yang aneh dan mataku yang mencolok ini bikin aku mungkin dipandang sebagai anak yang pendiam dan suram. Sampai sekarang pun teman SMP bilang aneh banget aku bisa jadi wakil ketua OSIS.”


Mungkin Masaomi terlihat kaget, karena Kanae cepat-cepat memberi penjelasan halus seakan bilang “wajar kok kalau senpai nggak tahu”. Melihat perhatian seorang junior yang sebegitu telitinya, Masaomi cuma bisa berterima kasih.


“Yang kamu sebut sahabat itu... dia juga Astral Diver kan?”


“Iya. Barusan aku juga habis menjenguk sahabatku—Tsubaki.”


Keluar dari arcade dan berjalan pulang di bawah langit senja yang mulai tertutup awan, Masaomi mendengarkan ceritanya.


Sahabat dekat Kanae, Kasugano Tsubaki, satu tahun lebih muda darinya—kelas tiga SMP, seumuran dengan Hinata. Setelah CCD-nya muncul, awalnya hanya kadang-kadang pingsan seperti Hibari, tetapi belakangan kondisinya memburuk dan ia bolak-balik dirawat di rumah sakit Fuzoku.


“Tsubaki itu teman masa kecilku. Adikku juga dulu sering main bareng kami bertiga. Setelah adikku masuk masa puber dan malu main dengan anak perempuan, aku dan Tsubaki tetap seperti kakak-adik sungguhan... mungkin bahkan lebih dari itu, kami selalu bersama.”


Bukan “dulu selalu bersama”, tetapi masih memakai bentuk sekarang—menunjukkan betapa kuatnya hubungan mereka.


“Dalam hubungan itu, aku yang jadi kakaknya, dan Tsubaki adiknya. Aku sering berpikir harus jadi panutan, harus mengajar banyak hal ke Tsubaki. Mungkin itu juga kenapa aku bisa sampai jadi bagian dari OSIS. Karena sejak dulu, kalau Tsubaki meminta sesuatu, aku akan mencoba memenuhi permintaannya meski agak memaksakan diri. Kalau seseorang membutuhkan sesuatu, aku sulit menolak. Tapi jadi seseorang yang bermanfaat untuk orang lain itu sudah seperti bagian dari diriku. Pada akhirnya... mungkin aku cuma ingin dipuji. Atau... mungkin aku cuma nggak mau dibenci.”


Dia tidak ingin menjadi “kakak” yang dikecewakan adiknya. Itulah sumber dari sifat Kanae yang selalu ramah dan tulus terhadap semua orang.


“Entah sejak kapan, Tsubaki mulai hobi cosplay, dan aku yang memotretnya—atau mungkin kebalikannya, aku duluan yang suka foto. Pokoknya masa SMP kami itu benar-benar seperti itu.”


Seakan menelusuri kenangan berharganya, Kanae berbicara lembut. Meski sekarang dia populer, aktif di OSIS, dan dikelilingi banyak orang, dunia kecil bersama sahabatnya itulah tempat di mana “dirinya yang sebenarnya” berada.


“Sejak Tsubaki jatuh ke koma kronis—menjadi Astral Diver—aku mati-matian mencari informasi tentang penyakit ini. Di internet sedikit sekali datanya, sampai-sampai aku baca jurnal medis open-access. Karena nenekku orang Inggris, aku minta tolong menerjemahkan jurnal berbahasa Inggris. Tapi meski menemukan kasus-kasus mirip, soal Astral Side hampir tidak ada yang diketahui. Hanya ada beberapa laporan dalam sepuluh tahun terakhir tentang orang yang mengucapkan kata-kata aneh saat kambuh. Itu saja. Karena itu aku masuk Iryoudai Fuzoku—aku ingin suatu hari bisa bekerja di dunia medis dan mempelajari penyakit ini lebih dalam.”


Nada suaranya menghangat dengan semangat yang jarang ia tunjukkan.


Untuk pertama kalinya, ia bicara bukan sebagai junior yang selalu sempurna, tetapi sebagai dirinya sendiri. Konsultasi tentang Astral Side mungkin hanya alasan agar ia bisa mengungkapkan hal yang sebenarnya ingin ia bagi. Ada kekuatan tulus dalam kata-katanya, tak seperti ketika ia menggoda Masaomi di Starbucks.


“Tapi aku merasa... Tsubaki jatuh sakit karena aku.”


“Kenapa bisa begitu?”


“Kemampuanku sebagai 'observer' itu... sepertinya aku mendapatkannya melalui sudut pandang Tsubaki. Setiap kali aku melihat Astral Side, mungkin otak Tsubaki ikut terbebani... mungkin itu yang sebenarnya merenggut masa depan Tsubaki. Tapi aku juga nggak bisa membuang kemampuan ini. Karena itu, sebagai penebusan... aku ingin memenuhi keinginan Tsubaki sebisa mungkin.”


Raut wajahnya berubah drastis, seperti seseorang yang hampir dihancurkan rasa bersalah. Banyak ekspresi Kanae, tapi ini—kesedihan yang murni—memukul dada Masaomi.


“Maaf... ngomong hal seberat ini tiba-tiba. Pasti bikin bingung, ya?”


“Nggak. Jujur saja, aku merasa kamu hebat. Kamu serius memikirkan masa depan... sedangkan aku malah jadi malu dengan betapa cerobohnya aku hidup selama ini.”


Itu memang benar-benar suara hatinya, tapi di sisi lain juga meninggalkan kesan sedikit berbahaya. Langkah dan cara berpikirnya terlalu ikut larut pada perasaan sahabatnya, sampai-sampai terasa seolah sedang menimpa dan menutupi keinginan Kanae sendiri.


— Masa depan, huh.


Rasanya menyilaukan, itu memang kenyataan. Terutama setelah kecelakaan lalu lintas, ia jadi cenderung berpikir optimis bahwa mimpi atau keinginan untuk melakukan sesuatu adalah hal yang suatu hari tiba-tiba saja jatuh ke telapak tangan. Namun di saat yang sama, kalau sampai detik-detik terakhir hidupnya ia tak pernah menemukannya, bagaimana? Kecemasan samar itu menempel seperti endapan yang tak pernah hilang.


Kalau ia tak menutup rapat kecemasan itu, pasti hidup akan terasa sesak. Jadi ia selalu menundanya untuk diri sendiri di masa depan. Dan pilihan masa depan… itu mungkin contoh yang paling jelas.


Bagaimana dengan Hibari? pikirnya, membayangkan gadis itu yang tak ada di sini sekarang. Hibari, yang begitu memprioritaskan Astral Side, apakah dia sudah membayangkan masa depan di mana ia harus berdamai dengan kenyataan dunia ini? Dalam bayangan masa depan itu, bagaimana caranya agar Guardian Masaomi tetap bisa berada di sana?


“—Pada akhirnya, menurutku para Astral Diver itu adalah orang-orang yang hidup di dunia mereka sendiri. Di dunia yang ada di dalam kepala mereka, dengan wujud mereka sendiri. Karena itulah dunia ini tidak punya banyak informasi tentang mereka. Karena tidak ada kebutuhan untuk saling berbagi—semua sudah selesai di dalam ideal mereka sendiri.”


Kesimpulan yang ia capai tak jauh berbeda dari kisah yang pernah didengar dari Keiji dan Hibari. Meski bukan pelaku langsung, ia tetap menelusurinya sejauh itu—pasti karena ia memikirkan Tsubaki. Masaomi bahkan tak bisa membayangkan seberapa besar usaha itu.


“Aku juga sudah mendengar banyak cerita dari Tsubaki tentang Astral Side, tentang faksi, atau tentang aturan Kuinya. Dan pada akhirnya aku juga menjadi seorang pengamat. Aku jadi sedikit mengerti alasan kenapa Tsubaki begitu terpikat pada dunia itu. Keinginan yang benar-benar murni, yang tak bisa dijamah siapa pun… Hibari-senpai juga begitu, kan?”


Sambil sedikit memperlambat langkahnya, ia menatap dengan sungguh-sungguh.


“Ya… benar juga. Hibari terlihat sangat hidup saat bicara soal Astral Side.”


“Kan?Pasti ada wujud kesendirian yang tak bisa dijangkau siapa pun—”


Membayangkan sosok valkyrie yang bebas terbang melintasi langit Astral Side, Masaomi tanpa sadar menatap ke atas. Tentu saja tidak ada dua matahari seperti di Astral Side. Yang ada, langit yang semakin dipenuhi awan hitam, menutupi cahaya dunia.


“Ah…”


Seolah menyelarasi suara Kanae, titik air dingin jatuh mengenai pipinya. Butiran hujan segera berkumpul dan turun semakin deras.


“Hujan mulai turun.”


“Di sana ada atap, kita berteduh dulu!”


Kebetulan ada halte bus dengan atap dan bangku tak jauh dari mereka, jadi mereka cepat-cepat menghindar. Padahal rumah Masaomi tinggal sedikit lagi, tapi tentu saja ia tak bisa membawa gadis selain Hibari masuk ke rumahnya—nanti ia bakal dibakar habis oleh tatapan meremehkan Hinata—jadi ia memutuskan untuk berteduh sebentar saja. Lagipula ini pasti cuma hujan kilat sisa-sisa musim panas.


“Kadang seperti ini juga tidak buruk. Kita jadi bisa ngobrol lebih banyak.”


Dalam redup cahaya dari iklan “Klinik Gigi Tokishima” yang familiar, sambil duduk ia menepuk-nepuk rambut dan pakaiannya yang agak basah. Tanpa sadar, tatapannya bertemu dengan Kanae.


“…Kalau ditatap begini terus aku jadi malu. Apa bajuku kelihatan tembus pandang, ya?”


“Ah, maaf. Aku bukan sengaja menatap. Soal tembus atau tidak… jujur saja terlalu gelap, jadi aku nggak bisa lihat.”


“Tak apa. Kalau Masaomi-senpai sih, aku nggak keberatan.”


“Sulit dipercaya itu keluar dari mantan anak yang super pemalu.”


“Betul. Aku lagi mengumpulkan banyak keberanian. Senpai tidak suka kalau junior seperti aku mendekat begini?”


Dengan sedikit malu, tapi juga tersenyum sempurna, ia mengeluarkan suara manis yang langsung mengguncang kepala. Hembusan napas hangat dan lembap itu tanpa suara mendekat, menyentuh pipi Masaomi. Kanae menyangkutkan lengannya pada lengan Masaomi—dan sentuhan lembut serta kenyal yang menekan lengan atasnya memberi tahu dengan jelas apa yang menempel padanya. Ia tak bisa merasakan detak jantung di balik kehangatan itu, tapi ia tahu itu ada.


“Saeki-san.”


Ia memanggil, seolah menanyakan jarak hati mereka. Ia bangga masih bisa tetap tenang dalam situasi seperti ini. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Seseorang yang percaya pada kestabilannya pernah mengajarkannya.


“Skinship itu nggak boleh.”—Ia tak mungkin lupa kata-kata Hibari.


“Hal seperti itu… nggak boleh.”


Ia melepaskan diri agak keras, lalu berdiri. Kalau Kanae berpikir ia bisa begitu saja menjebak Masaomi—yang punya pacar seperti Hibari—berarti ia meremehkannya. Bahkan ia sendiri tak yakin apakah Kanae benar-benar punya perasaan romantis padanya; justru ia merasakan sesuatu yang lebih bengkok dan rumit, sehingga ia otomatis menjaga jarak.


“Ya, maaf. Aku kelewatan. Tolong lupakan saja barusan.”


Kanae melepaskannya tanpa menunjukkan penyesalan yang berlebihan. Setelah diganggu seperti itu, Masaomi jelas tidak punya niat melanjutkan berteduh.


“Aku sudah dekat rumah, jadi aku lari saja dari sini. Kamu hati-hati pulang.”


“Baik. Selamat malam. Hari ini benar-benar menyenangkan.”


Hembusan napas panas yang tadi terasa kini larut dalam dingin hujan, kembali menjadi suara lembut seperti biasanya. Kanae melambaikan tangan.


Mata biru gelapnya, seperti menelan malam, tersembunyi di balik hujan senja yang kekuningan, jadi Masaomi tak bisa melihatnya jelas.


Hanya saja… entah kenapa, ia merasa bentuk mata itu sekarang jauh dari sebuah senyuman.


Masaomi melambaikan tangan seadanya, lalu seperti janjinya, berlari pulang. Ia bersumpah pada detak jantungnya sendiri: ia tidak akan menoleh pada Kanae.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close