NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kokou no Denpa Bishoujo To Koi de Tsunagattara Giga Omoi Volume 2 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3 

Apa yang Disembunyikan di Balik Topeng

“Pasti itu bahan peledak! Kayak pahlawan super sentai yang meledak babaan! di lapangan!”


“Makanya saya bilang, ‘kan? Karena ketua pakai uangnya sampai habis, kita nggak punya anggaran buat itu.”


“Betul betul. Soalnya waktu festival olahraga musim semi, kita sampai pakai kembang api. Padahal nggak ada yang nonton, tapi tetap hambur-hamburkan uang. Waktu lihat buku kas kemarin, saya sampai pusing. Setidaknya untuk rapat umum siswa nanti, ayo kita santai saja, ya?”


“Naa, Kouhai Berwajah Datar, kenapa sih Orito, para pengurus, sama Wakil Ketua Saeki pada dingin sama aku? Tolong hiburlah aku sebagai orang luar.”


“Untuk permulaan, hormati dulu suara asli para siswa yang beberapa waktu lalu juga cuma siswa biasa seperti kita?”


Seperti biasa, ketua OSIS sekolah kami berteriak, “Sepertinya musim dingin tahun ini bakal sangat dingin!”. Ruang OSIS setelah jam pelajaran selesai. Menjelang rapat umum siswa tanggal 10 Oktober yang diadakan tiap tahun, anggota OSIS sedang berdebat tanpa henti tentang bagaimana cara melaksanakan acara perkenalan “OSIS baru.”


Mengapa Masaomi berada di ruangan itu padahal tak ada hubungannya? — Itu juga sesuatu yang ingin Masaomi ketahui.


“Cepat tentukan, wahai para pengurus. Sudah berapa hari aku lembur tanpa bayaran sebagai pembina? Aku harus cepat pulang dan memanggil gadis favoritku hari ini. Fufufu, Senin nanti kerjaanku pasti lancar.”


“Jou itu apa?”


“Hey berhenti, pembina sampah. Kenapa ngomong begitu ke anak di bawah umur pada hari Senin siang bolong.”


“Hmm, Orito. Kamu terdengar sangat paham, ya? Hmm? Jangan-jangan kamu sudah cukup lancar juga?”


“Berisik…”


“Orito, jangan sembarangan menyentuh kehidupan pribadi sang gadis suci yang mendamba kesucian. Nanti prinsip kesuciannya terbakar habis. Dan itu jauh lebih penting daripada apa pun. Ngomong-ngomong, ayo tampilkan FES (Furuoya • Endless • Sou) bareng aku di rapat umum siswa! Main gitar, dong. Kamu kan dulu rambutnya gondrong, jadi pasti bisa main gitar. Nggak bisa pun nggak apa-apa, pokoknya main gitar.”


“Berisik…”


Kanae memandangi adegan itu dengan bingung, sementara Keiji—meski biasanya cool—berperan sebagai penengah agar tidak terbawa arus. Selain mereka, ada juga calon ketua OSIS tahun depan, wakil ketua kelas dua, bendahara, sekretaris—semua wajah penting berkumpul. Lalu di antara semua itu, mengapa pembina dan ketua OSIS yang paling sinting justru berada di posisi paling menonjol? Atau jangan-jangan pembina itu bukan guru—melainkan makhluk misterius yang menyamar sebagai staf sekolah?


Setidaknya, dari posisi orang luar, ini cukup menghibur, pikir Masaomi sambil duduk di kursi pipa di pojokan, menonton seperti sedang nonton film sambil makan popcorn. 


Ruangan sempit yang bahkan jendelanya cuma seadanya. AC yang jelas baru dipasang menyala mencolok. Kalau ada yang bilang ruangan ini tadinya gudang, Masaomi pasti percaya. Namun semangat para pengurus yang membara memenuhi ruangan, dan kalau Masaomi menaruh kamera di atas loker pembersih di seberang sana, pasti bisa merekam dokumenter anak muda yang cukup apik.


Itulah sebabnya, dalam situasi seperti ini, menjadi orang luar itu penting. Orang bijak menjauhi bahaya. Itu kata-kata En Shuukaku ketika ia pulang ke kampung halamannya.


“Hey Masaomi, jangan cuma jadi pajangan dengan muka datar itu. Kamu juga kasih usulan.”


“Sudah kubilang aku ini orang luar…”


“Kouhai Berwajah Datar, jangan terlalu defensif. Kami menyambutmu dengan tangan terbuka. OSIS selalu berpihak pada siswa. Dan siswa sudah sewajarnya menjadi budak—”


“Sebagai siswa biasa, saya dengan tegas menolak pendapat itu.”


“Kalau begitu tunjukkan penolakanmu sepuasnya.”


Masaomi spontan menyela, lalu sadar dirinya sudah ditarik masuk ke percakapan.


“Siswa dan OSIS itu bukan atas-bawah, tapi sekutu. Sebagai siswa biasa, kalau sekutumu sedang kesulitan, bantulah mereka. Nanti pasti akan tiba hari ketika kami membantu kamu. Dan itu akan segera terjadi.”


Wajah sok-tahu itu benar-benar menyebalkan. Mungkin sebenarnya dia cukup licik.


“Benar, Masaomi-senpai. Anda ini produser hebat yang memoles kepala Orito-senpai menjadi bulat sempurna. Pasti punya ide bagus, bukan?”


Kanae ikut-ikutan menyemangati tanpa tanggung jawab. Para senior maupun junior di ruangan ini benar-benar seenaknya. 


Padahal Masaomi ada di ruangan itu karena separuh salah Keiji, dan separuh salah Kanae. Keiji bilang ingin ke OSIS, Masaomi bercanda bilang mau ikut buat iseng. Keiji malah menyeretnya masuk. Dan tepat saat Masaomi ingin kabur di depan pintu, Kanae muncul sambil berkata, “Masaomi-senpai datang membantu! Wah, syukurlah!” Karena ucapannya itu, semua orang menatap Masaomi—dan ia pun terjebak. Dan, pikir Masaomi, meski Kanae pada hari Sabtu melakukan hal sejauh itu, sekarang dia sudah kembali normal seolah tak terjadi apa-apa.


Begitu melihat wajah Kanae, adegan di halte bus seketika muncul dalam benaknya. Tapi karena Masaomi sudah melapor ke Hibari seperti biasa, dan sudah menjalani hujan tatapan tajam di atap sekolah saat istirahat tadi, ia masih bisa bertahan dengan kondisi mental yang stabil.


“Magaomi kouhai, aku izinkan. Berikan pendapatmu tanpa ragu.”


“Siapa itu Magaomi…”


Muka Datar + Masaomi = Magaomi. Kepaduan kata itu justru membuat Masaomi makin kesal. Pandangan semua anggota OSIS tertuju pada Masaomi. Sepertinya kalau dia tidak memberi ide, dia tidak akan boleh meninggalkan ruangan ini.


“Yah, menurutku… siswa yang peduli pada rapat umum itu hampir nggak ada. Apa pun yang kalian lakukan, hasilnya sama saja, bukan?”


“Wah, itu benar-benar tanpa tedeng aling-aling.”


Begitulah kenyataannya. Dan menutupi kenyataan tidak akan menghasilkan kemajuan. Masaomi pun dengan santai memberi masukan.


“Karena itu, jawabannya adalah… baumkuchen.”


“Mungkin maksudnya Aufheben, Masaomi-senpai.”


Masaomi dengan penuh percaya diri mengabaikan koreksi sempurna dari kouhai tercintanya.


"Jadi bagaimana kalau sekalian saja kita nggak usah ngapa-ngapain? Ya, lebih tepatnya dijadikan waktu belajar mandiri. Biar saja OSIS bebas melakukan apa pun yang mereka mau, nanti tinggal buat laporan, toh secara formal tetap kelihatan bagus."


Disuruh berbondong-bondong berkumpul di aula, lalu dijamu dengan semacam solo stage-nya Kanae pun Masaomi masih bisa terima. Tapi kalau cuma mendengar perkenalan para pengurus OSIS yang sama sekali tidak menarik minatnya, ya… begitu deh. Mending sekalian dibuat partisipasi sukarela, bebas mau belajar, tidur siang, atau apa pun.


Midou mengernyit. Wajar saja. Dari posisi sebagai guru, tentu saja ia tidak bisa menyetujui usulan semacam itu.


── atau seharusnya begitu.


"Ketua, Masaomi bilang begitu, tapi kalau cara promonya digarap bagus, lumayan berdampak, nggak sih? Bahkan ketua tahun lalu pun nggak berani menghapus salah satu acara rutin sekolah seketat ini."


"Hmm, impact bagus. Masaomi-kouhai. Tak disangka, ide itu lumayan. Bahkan lumayan banget."


"Seperti yang diharapkan dari ide cemerlang Masaomi-senpai! Kalau begitu, sekalian kita jadikan rapat umum itu siaran saja! Aku sudah terbiasa mengurus ruang siaran, jadi prosedurnya biar aku yang urus!"


Reaksi para anggota OSIS ternyata jauh lebih positif dari yang Masaomi bayangkan.


"Kalau nggak ada venue, kita juga nggak perlu repot pasang ini-itu. Hemat biaya juga. Dan untuk formalitas, tinggal bilang saja ini uji coba janji kampanye Saeki. Dia kan mau bikin kerajaan tidur siang, ya kan?"


"Namanya bukan kerajaan tidur siang, tapi 'siesta time'! Tapi oke semuanya! Dengan begini kita bisa jelasin ke para guru. Kelihatannya juga seperti acara perkenalan kebijakan OSIS baru!"


Keiji dan Kanae mulai mengatur langkah-langkahnya dengan sigap. Anggota OSIS lain sepertinya setuju, tapi bahkan tidak menemukan celah untuk menyelutuk. Ketua OSIS hanya mengangguk-angguk puas. Pembina OSIS mengorek telinga sambil memasang wajah “ya sudah lah, cepat kelarin biar bisa pulang.” Dan sebenarnya, Masaomi ingin memasukkan ke daftar pembahasan fakta bahwa Kanae juga ikut-ikutan memanggilnya "Magaomi", tapi tidak ada satu pun yang tampak mau mendengarnya.


"Siapa tahu siaran Kanae cukup banyak peminatnya. Bahkan bisa lebih dilirik daripada acara di aula. Atau malah dijadikan video streaming sekalian. Toh sebagai pengurus OSIS, kita mesti nunjukin muka setidaknya sekali. Dan kalau kita arsipkan di intranet, laporan kegiatan nanti jadi lebih gampang."


"Peralatan ruang siaran memang bukan untuk video… tapi ya bisa pakai HP siapa saja buat live streaming. Sensei, OSIS nggak punya tablet atau semacamnya?"


"Ada. Itu barang pribadiku, tapi kalau kuselamatkan dulu data pengetahuan rahasiaku, bisa kita pakai."


Ucapan "bisa dipakai" dari guru Midou itu otomatis dianggap sebagai persetujuan. Dengan itu, arus pembicaraan sudah mengunci.

Sisanya… ya terserah para anggota OSIS yang lebih pandai.


"Kalau begitu tugasku sudah selesai, aku pulang dulu."


"Oi, Masaomi, besok kumpul di sini lagi."


"Jangan asal-asalan menjadikan aku anggota OSIS."


"Masaomi-senpai! Sampai ketemu nanti!"


"Kapan kamu rencananya mau ketemu aku lagi, sih?"


"Masaomi-kouhai. Kata sandinya selalu satu. Fu-ru-o-ya—souッ──"


Tentu saja Masaomi langsung membatalkan kata sandinya dan keluar dari ruangan. Amit-amit jauh-jauh.


"Masaomi-senpaaai♪ Maaf bikin nunggu!"


"Aku nggak nunggu, dan kita juga nggak janjian."


"Kita baru saja janji, lho? Di dalam hati aku sudah selesai pinky promise sama senpai!"


"Jangan bikin-bikin janji di udara kayak habis mampir ke toilet."


“Jangan pelit-pelit begitu dong~,” kata Kanae—kouhai yang selalu tersenyum—menekan Masaomi. Lokasinya, tentu saja, game center langganan.


Senin sepulang sekolah. Masih panjang minggu ini. Tapi energi tak terbatas dari usia muda selalu mencari pelampiasan, dan Masaomi pun tanpa tujuan memutar arah pulang. Bukan karena benci rumah, hanya saja kalau sendirian tidak banyak yang bisa ia lakukan—dan sejak mulai pacaran dengan Hibari, ia semakin mudah merasa jenuh kalau pulang sendiri.


Ngomong-ngomong tentang Hibari—sekarang status mereka semacam pasangan yang diakui publik—Masaomi pernah mengusulkan, "Kalau gitu, kenapa nggak kita berangkat dan pulang sekolah bareng saja?" Namun ia ditolak mentah-mentah dengan alasan seperti heroine gim galge zaman baheula:


"Pulang bareng nanti malah jadi bahan gosip… aku malu…"


Masaomi ingin berkata, “Tapi kamu nggak punya teman, kan?” namun tentu saja itu hanya untuk konsumsi batinnya sendiri. Ia mengerti maksud Hibari—bayangkan seorang perempuan yang biasanya menjaga jarak dengan lingkungan, tiba-tiba mulai mesra-mesraan setelah punya pacar; apa kesan yang muncul di mata orang lain?


Buat pasangan itu sih urusan mereka dan orang lain bisa pilih untuk tidak melihat. Tapi tidak ada alasan untuk memperjelas keberadaan musuh potensial secara suka rela. Apalagi kalau armor dingin Hibari kebetulan lepas di depan seorang murid lain, lalu disalahartikan:


"Hah? Jadi Sasuga-san bisa semanis itu kalau pacaran? Sayang banget disia-siain sama si muka-datar itu. Lebih bagus aku aja yang ngerebut!"


Kalau hal begitu sampai terjadi, masalah bakal tambah panjang. 

Baiklah, Masaomi menerima kalau ia memang insan dengan over self-awareness. Jadi ia pun mampir ke game center sendirian dan bersenang-senang bermain crane game. Lalu entah mengapa, Kanae—yang seharusnya baru selesai urusan OSIS—menyusul masuk.


"Orito-senpai bilang, ‘kalau Senin, kemungkinan Masaomi muncul di game center lumayan tinggi, coba saja.’ Sabtu kemarin aku ketemu senpai di sini juga, jadi kupikir kayaknya bisa ketemu lagi. Dan ternyata benar!"


Dasar marimo keras kepala itu, Masaomi mendengus dalam hati. Keluhan akan disampaikan langsung besok.


"Ah! Ano! Mumpung kita ketemu, tolong ambilin akrilik Pure Angel yang di mesin itu! Dan tolong bayarin! Dan bilang ‘Kana memang yang terbaik!’"


"Kenapa?! Beneran kenapa?! Kenapa?!"


Masaomi reflek membalas dalam pola lima-tujuh-lima. 


Kouhai satu ini, kalau melihat celah sedikit saja, langsung menekan gas penuh. Rasanya keberadaan dia seperti berserker yang tugasnya adalah menghabisi waktu, uang, dan harga diri target.


"Soalnya aku nge-push Pure Angel! Jaman SMP aku sampai nabung buat datang ke talk live para seiyu-nya, tahu! Tapi aku nggak bisa menangin sendiri, dan kalau beli dari toko barang bekas itu mahal, dan ini seri lama pula! Bisa-bisa nggak ada kesempatan kedua! Ini versi musim sebelumnya yang langka banget!"


"Ya ya, aku ngerti, aku ngerti…" Masaomi akhirnya menyerah. Bicara cepat sepanjang itu jelas menunjukkan betapa inginnya Kanae. Ya beginilah para otaku.


"Hmmh! Terhadap permintaan imut nan polos dari kouhai yang kelihatannya bersih dan suci seperti aku, responmu kok setengah hati sekali? Benar-benar deh Masaomi-senpai. Ya sudah, uangnya aku yang keluar, tapi tolong ambilin ya."


"Itu kewajiban minimal, bukan kebaikan hati… dan kamu sendiri yang bilang kamu ‘kelihatannya suci’, lho."


Masaomi tentu saja tidak mengingat kembali apa pun tentang “kelembutan penuh volume” yang sempat menempel padanya beberapa waktu lalu.


“Kan ini oshi aku?”


“Iya iya… kouhai yang perihal oshi saja bisa jadi super agresif, ya.”


Masaomi sendiri kalau menyangkut oshi-nya (Hibari), memang berubah total, jadi ia paham. Karena ia tidak punya tujuan khusus, Masaomi mengincar akrilik yang ditunjuk Kanae. Mesin itu adalah campuran karakter populer lama dan baru, dipajang tanpa visi seperti, “Yang penting masukin banyak, pasti ada yang mau beli.” Targetnya: sosok seperti malaikat dengan senjata menyerupai morning star—yang mengingatkannya pada Hibari. Kalau Hibari, mungkin pilihannya Pu-sama atau Kasumi-sumi, gumam Masaomi, lalu teringat cerita absurd bahwa di Astral Side, Hibari pernah dikejar-kejar Pure Cure. Benar-benar takdir aneh.


“Hmm, dilihatin begini bikin jadi agak susah…”


“…Senpai nggak pernah main bareng Hibari-senpai?”


Nada Kanae sedikit menurun, mungkin karena berusaha memberi ruang fokus untuk Masaomi.


“Pernah sekali. Tapi habis itu dia minta hadiah bertubi-tubi sampai uang sakuku hampir koma. Jadi aku berhenti ngajak.”


Mata Hibari waktu itu betul-betul berubah warna—bukan karena masuk Astral Side, tapi karena keserakahan murni terhadap merchandise. Suara “Pu~ Pu~” yang keluar darinya seperti panggilan iblis dari kedalaman neraka. Masaomi masih bangga karena tangannya tidak gemetar kala itu.


“Nah, posisinya begini harusnya dua atau tiga kali percobaan cukup.”


“Wah, kelihatan profesional ya, senpai. Keren banget.”


Kebiasaan nongkrong tanpa tujuan di game center akhirnya memberi Masaomi skill tertentu—campuran bakat terpendam dan kesedihan hidup tanpa klub. Keiji mungkin tidak punya pengalaman ke game center, tapi Kasuka justru pernah beberapa kali ikut, dan siapa sangka, bocah itu jago banget dalam segala jenis game. Memang benar, penampilan bukan segalanya.


“Oke, tinggal satu dorongan terakhir… hai!”


Saat Masaomi melepaskan tombol, terdengar bunyi kasha! Ia refleks menoleh. Kanae memegang kamera favoritnya—ia baru saja menekan tombol shutter.


"Ekspresi terakhir tadi bagus banget, Masaomi-senpai. Kayak wajah seorang laki-laki yang lagi serius. Keren banget."


"Padahal cuma crane game…"


Meski Masaomi berhasil menjatuhkan Pure Cure dan menjaga kehormatannya, tetap saja terasa agak memalukan disebut sedang "bertarung sungguhan."


Saat ia menyerahkan akrilik itu, Kanae berseri-seri seperti anak kecil dapat hadiah ulang tahun. Senyum tulus seperti itu membuat Masaomi merasa tak apa-apa tertipu sedikit oleh rayuan perempuan.


“Oh ya, itu tadi namanya ngambil gambar diam-diam, tahu. Setidaknya minta izin dulu.”


“Kalau minta izin, aku nggak bisa menangkap ekspresi asli Masaomi-senpai. Foto yang bagus itu harus curian.”


Dengan santai ia mengatakannya.


“Aku selalu memperhatikan kemampuan Masaomi-senpai dalam difoto. Rasanya kayak… aku harus banget menangkap ekspresi terbaik senpai. Jadi… silakan biarkan aku foto diam-diam sesering mungkin ya♪”


Dia benar-benar mengatakannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.


“Yah, itu separuh alasannya. Sebenarnya, alasan utama aku datang ke tempat Masaomi-senpai adalah… aku ingin mengucapkan terima kasih.”


“Terima kasih? Karena nyolong foto?”


“Bukan, lah.”


Kanae memonyongkan bibir, menatap Masaomi dari bawah sambil pura-pura cemberut. Dengan penampilan elegan ala putri bangsawan, ekspresi seperti itu terlihat sangat tidak seimbang… tapi Masaomi mendapati dirinya berpikir, ini justru tipe ekspresi yang bakal bikin fans bertambah. 


Entah kenapa pikirannya langsung ke hal tidak penting seperti itu. Mungkin karena ia mulai memahami pola Kouhai ini sedikit demi sedikit.


“Tentang yang tadi di ruang OSIS. Itu permintaan yang konyol, tapi Masaomi-senpai tetap kasih ide.”


“Aku kan nggak bilang hal luar biasa. Lagian itu usulan super pesimis, kan?”


Jujur saja, Masaomi masih heran kenapa ide itu sampai disetujui. Pengurus OSIS periode ini—kalau ini disebut fleksibel, itu sudah lewat dari fleksibel.


“Sejak hari pertama OSIS baru dilantik, kami selalu bahas acara perkenalan. Tapi mulai dari wakil ketua kelas dua ke bawah yang punya jabatan, semuanya tidak terlalu semangat. Jadi pada akhirnya cuma aku dan Orito-senpai yang muter otak cari ide. Kalau kami mau menyerah dan nyontek acara tahun lalu saja, ketua malah bilang, ‘Gahhahhah! Apa kalian puas dengan hal sepasif itu, kalian semua!’ dan nggak kasih lampu hijau. Orangnya cuma mau hal yang impactful, jadi usulan yang keluar itu semuanya mahal. Jujur saja, kami sudah benar-benar mentok.”


Jadi bukan fleksibel—tapi lebih ke nggak ada kemampuan mengambil keputusan. Dan Masaomi harus mengakui, tiruan suara ketua yang dilakukan Kanae lumayan mirip. Bahkan cukup lucu. Gadis ini diam-diam punya bakat akting.


“Dan kemudian ketua malah terpancing dengan ide ‘acara yang nggak dilakukan’. Impact yang belum pernah ada sebelumnya, katanya. Jadi setelah itu, aku dan Orito-senpai langsung percepat semua proses biar bisa segera ditutup. Sungguh, kami terbantu banget!”


“Oh begitu,” Masaomi mengangguk.


Baik Keiji maupun Kanae, alasan mereka menyeret Masaomi—seorang non-anggota—ke ruang OSIS akhirnya masuk akal. Mereka butuh batu lemparan dari luar.


Keiji langsung menangkap maksud itu dan mempermainkan suasana, lalu menyeret Masaomi masuk sebelum sempat kabur. Kanae sebagai wakil ketua kemudian menyempurnakan argumen tersebut sehingga terlihat meyakinkan di mata ketua. Mereka berdua benar-benar paham bagaimana menggerakkan situasi. Dan tetap tidak melupakan untuk memperhatikan Masaomi sampai sejauh ini… mungkin itu bakat alami Kanae dalam menjaga keseimbangan.


Kalau dari awal ia bilang ingin berterima kasih secara langsung, Masaomi pasti akan menolak. Tapi dengan menciptakan kondisi seolah-olah kebetulan bertemu, lalu mengalir sampai tahap ini, ia bisa mengutarakan semuanya tanpa membuat suasana canggung.


“Benar-benar aktris hebat, kamu ini.”


“Ah tidak, aku ini bukan siapa-siapa. Tapi ketika aku bilang mau mengucapkan terima kasih kepada Masaomi-senpai, Orito-senpai langsung kasih tahu lokasinya. Beruntung sekali, ya? Rezeki nomplok.”


“……Benar-benar aktris hebat.”


Masaomi menghela napas. Tepat saat itu, ia merasakan getaran ponsel di sakunya.


“Hm? …Hibari bilang dia mau ke sini.”


“……………Begitu, ya?”


“Ini pasti sama seperti ‘seseorang’ tadi. Mau bikin skenario pertemuan kebetulan.”


Sebagai pacarnya, Masaomi merasa tingkah seperti itu manis juga. Ia ingin percaya bahwa ini bukan tindakan pencegahan karena Hibari merasa ada hawa-hawa perselingkuhan. Ya. Ia percaya.


“Kalau begitu, kenapa kamu nggak sekalian berpapasan saja dengannya?”


“Kalau sekalian sih iya, tapi… aku harus pulang sekarang. Jadi aku permisi dulu, ya.”


Kanae berkata begitu dalam satu napas, lalu buru-buru menyimpan kameranya. Ia membungkuk sopan sekali seperti seorang pelayan hotel, lalu—


“Terima kasih untuk akustanya! Hoho, ada baiknya juga foto-foto begini. Hobi dan manfaat sekaligus! Nanti aku ambil foto Masaomi-senpai lagi ya! Kalau begitu!”


Dengan seenaknya mengumumkan akan memotret lagi, Kanae kabur meninggalkan toko begitu saja. Tak lama setelah itu, tepat seperti pergantian pemain, Hibari masuk ke toko.


“……Ada bau perempuan.”


“Kalau kamu bilang itu dengan muka serius, rasanya serem banget.”


“Aku selalu serius.”


Masaomi hanya bisa mengeluh wajar mendengar bantahan itu, lalu segera melaporkan interaksi barusan dengan Kanae sebelum lupa.


“『Dengan kasih sayang penuh keanggunan sang malaikat, Pure Angel! Dengan berkahku ini, jadilah kalian semua anak-anak baik dan jujur♪』”


Seperti yang diduga, Masaomi harus mendengar mantra transformasi itu setiap kali. Ia mulai sedikit lelah dengan cutscene transformasi paksa yang tak pernah bisa di-skip itu. Dan seperti biasa hari ini, Noble Lark, peringkat ketiga dari Fuuka Shitensen, sedang menyerang basis para “Pengacau Zaman”—kaum Selfie—sebagai gadis perang yang menurunkan hujan bom ke medan tempur.


Tentu saja ini karena dialah yang ditunjuk memegang peran tersebut oleh rekan-rekannya, bukan karena ia sendiri memilih gaya bertarung destruktif tersebut. Walau begitu, ada semacam sensasi memuaskan di baliknya, jadi ketika hobi dan hasil sama-sama tercapai… ya, hasilnya seperti ini. Fakta bahwa rekan-rekannya bahkan pernah berkata, “Sudah, biarin dia aja sendirian,” sengaja tidak ia pikirkan.


“Eh, eh, kenapa sih kamu selalu bawa ‘Guardian’?”


“Kenapa, ya… lebih tepatnya, kenapa kamu nggak bawa Guardian? Mau bertarung, mau kabur, mau pasang pasak buat jadikan tempat ini markas—punya satu orang tambahan itu tidak pernah merugikan, tahu?”


Akhir-akhir ini, setiap kali Noble Lark selesai menancapkan pasak dan menjadikan tempat itu titik kontrol, suara Suonare selalu mengikuti dari belakang. Para sesama Messian sudah menganggap mereka teman dekat, jadi mereka malah mendorongnya cepat-cepat pergi dari medan perang dan menuju “Great Theatre of the Yellow Twilight.”


Padahal tempat itu bukan ruang pesta ataupun markas rahasia, tapi semua orang memperlakukannya seperti itu saja—dari kanan ke kiri, tanpa pikir panjang. Dan kali ini, mereka “ditembakkan” dari kota saudari Musha, yaitu kota kuno hiburan Lunasole, dengan menggunakan fungsi meriam raksasa dari “Menara Astra”.


Kalau dianggap seperti naik roller coaster, pemandangan dari udara lumayan bagus… tapi entah kenapa ia merasa diperlakukan seperti misil gratisan, dan itu membuatnya agak tidak puas.


“Aku sih, nggak apa-apa sendirian. Soalnya aku sudah jadi diriku yang ingin aku jadi. Selain itu, rasanya malah ribet kalau bawa orang lain. Guardian itu sering jadi tameng kan? Rasanya ragu kalau menjadikan orang yang kusukai sebagai tameng.”


Ia mengatakan itu tanpa sedikit pun rasa sungkan kepada seseorang yang tidak pernah sekali pun ragu menjadikan pasangannya sebagai Guardian.


“Aku nggak akan menyalahkan cara berpikirmu. Tapi aku percaya pada Guardian-ku. Kalau kehadirannya bisa membuatku semakin kuat, ya kenapa tidak?”


Walaupun itu bukan alasan paling penting bagi Noble Lark, ia sengaja menyebut alasan yang paling mudah dipahami. Bagi seorang Diver, menjadi kuat adalah hal yang wajar diinginkan. Kalau bisa jadi lebih kuat, tentu itu pilihan yang lebih baik.


“Hmm~ pacar, maksudnya?”


“Benar.”


Di antara para Messian, fakta itu sudah semakin tersebar, jadi ia tidak perlu menutup-nutupinya. Bahkan ia merasa cukup bangga.

Dengan tembok baja bernama General di sampingnya, Noble Lark bisa terbang setinggi dan setajam apa pun yang ia mau. Fakta itu tak tergoyahkan. Tidak ada alasan untuk ragu sama sekali.


Suonare memutar-mutar morning star di tangannya seperti mainan sambil menatapnya penasaran. Tolonglah, senjata itu berbahaya, jadi taruh dulu.


“Pacarmu dijadikan Guardian dan dive bersamamu ya… yah, memang kamu itu kelihatan gila-gilaan kuatnya, dan si General itu kerasnya sampai bikin orang curiga dia pakai cheat.”

“Kamu sedang cari ribut? Mau aku kirim balik ke atas sana?”


“Aduh~ serem~” katanya, pura-pura mengangkat tangan menyerah.

Benarkah boleh superhero se-pure itu bersikap seperti ini?


“Cuma mau bilang… sepertinya memang benar kalau Guardian yang dekat secara emosional itu bikin lebih kuat, ya?”


“Sejauh ini tidak ada bukti untuk menyangkalnya. Aku beruntung punya pasangan yang pengertian.”


“Karena dua anak panah kalau digabung tidak patah? Eh, atau tiga ya?”


“Aku tidak peduli anak panah. Bahkan kalau aku patah, aku lebih suka menjadi tombak yang bisa menembus apa pun hanya dengan memanfaatkan pecahannya. Selama aku punya Guardian yang akan memegangku dan mengarahkan tombakku, bahkan ketika aku rapuh sekalipun… itu sudah cukup.”


Suonare memicingkan mata.


“Aduh, pamer. Nggak nyangka juga. Kukira malaikat itu lebih… bijak dan jauh dari duniawi.”


“Maaf kalau tidak memenuhi ekspektasimu. Kebetulan aku menyukai diriku yang seperti ini.”


Noble Lark terlihat sedikit bangga. Suonare tersenyum nakal, lalu sedikit menurunkan pandangan ke arah dada Lark—


“Tapi pacarmu itu kelihatannya puas banget ya… bisa megang payudara besar?”


“…Aku tidak tahu kamu bicara apa.”


Dua makna sekaligus: ia menahan diri untuk tidak meledak. Ia ingin memuji dirinya sendiri karena berhasil menahan amarah.


“Hm? Oh, kamu nggak tahu?” 


Suonare memiringkan kepala.


Tangan Lark menggenggam gagang tombaknya begitu keras sampai rasanya bisa berubah bentuk. Kalau ia lemparkan tombak itu sekarang, mungkin lubang menuju Material Side akan langsung terbuka. Dan tolong, berhenti menatap dadaku seolah-olah ingin membedah anatomi, pikirnya. Itu tidak menyenangkan.


“Bukan kamu kecil sih. Cuma tidak besar juga. Tapi kan anak laki-laki suka yang besar, kan? Jadi ya, mau gimana lagi~?”


“Aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba bicara soal payudara. Ukuranku memang tidak besar, tapi apa hubungannya dengan kepercayaanku pada Guardian-ku?”


“Ah, jadi kamu beneran nggak tahu,” Suonare tampak benar-benar paham sekarang.


Ia bicara agak cepat, tapi untung tidak menyadari bahwa Noble Lark sedang menghubungkan ini dengan laporan-laporan yang seharusnya rahasia.


“Soalnya aku kenal seseorang di atas sana yang punya wajah mirip si General. Dan aku dengar orang itu digoda sama perempuan imut beropai besar… dan dia langsung meleleh mukanya.”


“Heee…”


“Aah, jangan salah paham ya. Aku bukannya mau memisahkan hubungan kalian atau semacamnya. Bahkan dengan orang yang kamu percaya sekalipun, tetap ada banyak hal yang nggak kamu tahu kan? Apalagi kalau itu lawan jenis, makin besar risiko terjadinya masalah begituan, dan kalau pas saat penting kamu jadi nggak bisa percaya lagi, bukannya menakutkan?”


“……Itu cerita yang sudah lewat.”


“Ah, itu jawaban yang kedengaran sangat berpengalaman banget. Pacarmu tipe yang gampang selingkuh ya? Kamu sudah kebal dan pasrah gitu?”


“Bukan begitu,” aku menatap tajam si malaikat tak murni yang sama sekali tidak berjiwa suci, Pure Cure.


“Soal bisa dipercaya atau tidak bisa dipercaya, hal seperti itu sudah kami reset sekali, dan dari situlah hubungan kami sekarang ada. Jadi topik begitu sudah nggak relevan.”


“Tapi kamu nggak bisa bikin dadamu jadi lebih besar, loh?”


“Kamu itu… nggak bisa ngomong hal lain selain soal dada, ya?”


Noble Lark mulai terlihat semakin kesal. 


Sebenarnya aku bisa saja menuruti godaan manis dalam hati yang berkata nggak usah menahan diri segala, tapi aku menekannya kembali. Aku sudah tahu suatu saat percakapan seperti ini bisa terjadi. Apalagi Masaomi juga tidak pernah benar-benar menolak, dan Hibari malah bilang bahwa ia lebih bersemangat jika seperti ini. Dan di Astral Side, sang “Guardian”, “General”, memiliki wajah yang sama dengan Masaomi. Sama seperti “Oracle” dari “Wind”──Keiji, jika seseorang yang mengenal mereka di dunia nyata menjadi Diver, maka keterkaitan dengan tubuh asli di Material Side akan ikut terbaca.


“Setidaknya dengan adanya ‘Guardian’, aku bisa merasakan Astral Side dengan lebih pekat, lebih dalam, lebih nyaman. Dan aku punya seseorang yang bisa berbagi itu denganku, seseorang yang ada di Material Side. Karena itu aku bisa mencintai kedua dunia itu secara setara. Karena aku ingin begitu, maka aku melakukannya.”


“Begitu ya. Mungkin itulah yang namanya saling percaya—karena kalian nggak bisa diputus begitu saja dari dua arah. Hubungan kayak gitu… aku agak iri juga sih.”


Nada ringan biasanya hilang, ekspresi “Suonare” berubah serius.

Saat ini, aku merasa boleh sedikit menginjak lebih dalam.


“Hal yang ingin kamu lakukan di dunia ini… memang cuma itu?”


Suonare memegangi dadanya dramatis, seakan tertusuk tepat di ulu hati. Sayap kecil di punggungnya yang biasanya tegak kini tampak merosot, kehilangan tenaga.


“Wah gila… serangan mental di Astral Side itu pedes juga ya? Bahkan aku bisa nangis.”


“Kamu yang mulai duluan. Karma itu wajar.”


“Ya sih. Hmm… kalau cuma satu hal yang bisa kukatakan, mungkin tujuanku sekarang adalah untuk tetap menjadi diriku sendiri. Kayak lagi kumpulin foreshadowing buat final episode? Pure Cure juga gitu kan?”


“Kalau kamu mau, aku bisa bikin series-mu tamat paksa sekarang juga. Lalu kita berharap musim berikutnya.”


Aku mengacungkan lance panjangku. “Suonare” langsung mengangkat kedua tangan di samping lingkaran halo-nya.


“Baik-baik menyerah! Kalau season ini tamat sekarang aku yang repot! Oke, hari ini sampai sini!”


Ia menutup pembicaraan dengan cepat dan tidak alami, tapi aku tidak keberatan. Toh dia yang mulai menyenggol dulu. “Noble Lark” tidak punya alasan untuk menahannya. Lagipula, aku sudah mendapatkan panen yang cukup.


“Lain kali main lagi ya. Bawain cerita yang lebih seru.”


Setelah mengangkat bahu, “Suonare” tertawa nihihi tanpa elegansi sedikit pun, lalu menghilang tanpa suara. Melihat caranya kabur, sepertinya kekalahan mental barusan memang benar.


──Baiklah. 


Menurut cerita Masaomi, kouhai yang bernama Saeki Kanae itu tiba-tiba memaksanya untuk bergandengan lengan. Dengan kata lain, ia menekan dadanya ke Masaomi. Aku rasa barusan aku mendengar bunyi tch, tapi karena “Noble Lark” adalah Valkyrie yang elegan, pasti itu hanya halusinasi.


Untuk soal apakah dia “memanjangkan hidungnya” atau tidak, nanti aku akan interogasi Masaomi lebih lanjut. Dada itu hal yang sangat sensitif, tidak boleh terjebak pada konsep besar atau kecil. Aku harus benar-benar memberikan pencerahan padanya.


“Kuncinya adalah… manusia yang memiliki akses ke informasi itu, ya.”


Kejadian yang terjadi di hari libur itu. Begitu menerima laporan, mood-ku langsung merosot seperti jatuh ke neraka. Tapi Masaomi berusaha sebisa mungkin untuk jujur dan menceritakan semuanya apa adanya. Dia benar-benar mengkhawatirkan Hibari dan berharap Hibari mendapat teman. Hanya saja mungkin ia tidak mengerti bahwa, karena kondisi Hibari sendiri, itu hanyalah ideal yang sangat jauh.


──Teman, ya.


Aku menghela napas kecil yang membawa sisa kekesalanku pergi. Kalau memang benar mereka bisa menjadi teman, aku ingin mereka meluruskan kusut belitan tali ini seperti pesulap yang memisahkan simpul dalam sekejap.


Siapa yang menginginkan komedi sandiwara ini──di mana letak niat yang mengatur semua ini?


Aku bisa merasakannya samar-samar, sisa-sisa keberadaan bernama Saeki Kanae, yang bergetar di balik punggung “Suonare”.


“Kanae! Toko yang kamu bilang tempo hari! Pancakenya bener-bener terhebat! Girls’ gathering-nya pecah banget! Makasih ya! Kasih rekomendasi lagi ya nanti!”


“Yang dekat Stasiun Habaki itu ya. Senang bisa membantu! Ditunggu kunjungan berikutnyaー”


“Saeki, soal PR kemarin ada bagian yang aku nggak ngerti, boleh lihat jawabannya?”


“Kalau begitu, aku rekomendasikan buku referensi ‘Marumaru Bun’. Soal-soalnya memang standar, tapi penjelasannya detail, jadi berguna buat siapa pun. Lagipula, PR itu nggak ada artinya kalau nggak kamu kerjakan sendiri, kan?”


“Kanae-chan, soal surat cinta buat senpai itu……”


“Sudah aku edit sebisaku ya. Akan kukirim nanti. Topik tentang kehidupan setelah menikah itu terlalu berat untuk pemula, jadi kupikir lebih baik tetap pertahankan perasaan tulus tapi dengan pendekatan yang lebih ringan.”


“Hey Saekicchi! Dua bulan lagi battle kita, dilema aku yo! Pegang mic langsung grogi, always say OH NO! Tapi pegang shower head, riff-ku unstoppable!”


“Hey performer! Patos berkobar, rhyme yang mantap, mega rap battle, aku cheer total!”


Saat sedang pindah kelas menuju gedung ruang khusus, Masaomi kebetulan melihat Kanae di lorong.


Tanpa ada celah buat menyapa, Kanae terus diserbu berbagai siswa, berbicara dengan gaya berbeda-beda tergantung lawan bicaranya. Semua terlihat benar-benar menikmati percakapan dengannya; tingkat popularitasnya sangat jelas terlihat. Entah bagus atau tidak, faktanya dia bahkan bisa meladeni orang yang rap-nya kacau begitu.


Biasanya Kanae yang aktif mendekatinya lebih dulu, tapi kalau dia tidak ada maksud begitu, mungkin memang tidak ada waktu untuk Masaomi. Melihat sekilas potongan kehidupan sehari-hari Kanae seperti ini terasa menyegarkan.


“Haa……”


Kerumunan akhirnya bubar. Kanae memijat kedua pelipisnya. 


Wajar kalau dia terlihat kelelahan.


Masaomi berniat lewat begitu saja karena Kanae masih tampak sibuk──namun di saat itu:


“Oh, Saeki-san ya. Lama tak lihat. Kamu masuk OSIS kan? Pidatomu kemarin bagus lho.”


“Ah, sudah lama tidak bertemu. Saya sangat malu sebenarnya, tapi beruntung dipercaya.”


Seorang kakak kelas ber-dasi hijau──kelas tiga──berdiri di samping Kanae. Masaomi punya penglihatan bagus. Dari kejauhan saja ia bisa melihat ekspresi yang jarang terlihat dari Kanae: sepertinya dia agak tidak nyaman dengan kakak kelas yang jangkung itu.


“Waktu SMP kamu bukan tipe yang mencolok, tapi sekarang… ya ampun, imut banget. Rambutmu memang warnanya begitu, ya? Andai aku tahu dari dulu. Pasti aku lebih sering ngajak ngobrol deh.”


“Pujian Anda saya terima dengan senang hati, tapi Kijima-senpai, kalau Anda besar kepala nanti saya disuruh-suruh lagi. Ingat SMP? Semua kerjaan saya yang kerjakan, lho. Susah sekali rasanya waktu itu.”


“Ahahaha, galak banget. Itu namanya kasih sayang untuk adik kelas. Aku memang butuh manajer waktu itu.”


Masaomi memperlambat langkahnya, lalu masuk ke dalam salah satu kelas kosong. Ia sendiri tidak tahu kenapa melakukan ini, tetapi tetap menajamkan telinga untuk menguping percakapan di lorong.


“Ngomong-ngomong, film yang kamu rekomendasikan itu pacarku suka banget. Kasih rekomendasi lain dong. Atau kita cek bareng? Aku anak klub terus jadi nggak update begituan.”


“Ahaha, nanti pacar Anda marah besar lho. Itu tragedi akhir cerita.”


Kijima-senpai tertawa enteng, entah bercanda sungguh-sungguh atau tidak.


“Film cuma bercanda sih, tapi aku mau balas budi.”


“Ah, tidak perlu begitu. Itu cuma obrolan biasa.”


“Tetap saja, kamu kan masuk OSIS. Aku perwakilan klub, jadi nanti pasti ada urusan soal anggaran. Kita makan bareng aja, aku yang traktir. Nggak cuma berdua kok. Aku ajak pacarku juga, sama perwakilan klub lain. Anggap aja koordinasi awal? Jadi kegiatan OSIS kan.”


“Tentu, soal anggaran saya akan dengarkan, tapi bukan saya yang bisa memutuskan.”


“Santai aja. Intinya aku mau traktir. Suaramu bagus banget soalnya, aku pengen dengar kamu nyanyi di karaoke. Urusan anggaran ikut saja sekalian.”


“Terima kasih atas pujiannya, tapi……”


“Tenang, nggak harus hari OSIS. Aku juga sibuk klub. Sabtu minggu ini pas aku kosong. OSIS kan libur kalau hari libur?”


“Ya, itu memang……”


Kanae tetap tersenyum seperti biasa, tapi tampak sedikit kewalahan. Dia bisa menolak dengan halus pada kebanyakan orang, tapi ini senior. Tidak mungkin dia menolak terlalu keras.


“Apa kamu keberatan?”


“Tidak sejauh itu. Hanya saja,”


“Kalau begitu sudah diputuskan, ya! Kasih tahu aku LINE-nya Saeki-san. Waktu SMP aku lupa nanya, tapi nanti kita bakal sering kontak, kan.”


Atau lebih tepatnya, kalau lawannya Masaomi, level cara memaksa orang itu bahkan jauh lebih kuat daripada si senior tadi—langsung menggasak informasi pribadi dan jadwal orang lain. Namun entah kenapa, Kanae tampak kurang tegas. Apa dia tipe yang lemah kalau diserang duluan? Tidak mungkin sesederhana itu.


—Benar-benar junior yang sempurna, ya.


Masaomi mulai menangkap gambaran persoalannya dan berkata,


“Kalau gitu ini LINE-ku.”


“Uh… iya.”


“Oi, Kana, jangan bilang kamu lupa janji sama aku?”


Momen ketika Kanae nyaris menyerah karena didesak senior itu untuk tukar LINE, Masaomi memutuskan untuk ikut campur—meski ini jelas terlihat seperti sok ikut campur.


“Eh? Ah, Masaomi-senpai.”


“Hm? Kamu siapa? Kana itu—”


“Saya Kusunoki dari kelas dua. Kebetulan lewat, tapi saya dengar Kana bilang dia mau isi jadwal hari Sabtu, jadi refleks saja manggil. Maaf.”


Senior itu menatap Masaomi dengan wajah curiga. Wajar saja. Di saat dia merasa hampir berhasil mengatur janji untuk jalan dengan junior imutnya, tiba-tiba ada laki-laki berwajah serius mengganggu dari samping. Wajahnya benar-benar seperti anak burung yang direbut makanannya saat dia lagi lahap-lahapnya.


“Kana, aku sudah bikin rencana untuk ‘Pertemuan Keakraban OSIS’ hari Sabtu, tapi kamu mau buang itu begitu saja demi menerima sogokan dari para perwakilan klub nakal itu?”


“So—sogokan!? Aku nggak maksud begitu!”


“—Ahaha, Masaomi-senpai, ketahuan ya? Tolong tetap rahasiakan dari ketua OSIS yaa, aku juga bercita-cita menjaga OSIS yang bersih~”


Seperti dugaan, Kanae memang cerdas. Entah dia memahami maksud Masaomi atau sekadar menemukan alasan bagus untuk menghindari ajakan tukar kontak yang tidak ia inginkan, ia langsung mengikuti alur pembicaraan dengan lancar meski tanpa persiapan.


Orang yang pernah membuat Keiji berkata, “Saeki itu kompeten. Skill-nya jauh lebih berharga dari penampilan atau suaranya. Sense keseimbangannya sangat bisa dipercaya,” memang beda kelas.


“Saeki-san!? Aku tuh nggak—nggak bilang soal yang kayak gitu—”


“Kalau itu benar, kayaknya urusan anggaran klub-klub yang terlibat bakal jadi masalah besar, kan?”


Wajah senior itu langsung pucat. Mungkin ajakannya tadi hanya basa-basi, tapi dia sudah salah ucap kata yang mematikan: “konsultasi anggaran OSIS.”


Kalau sampai kena imbas tanggung jawab dan anggaran klubnya dipotong, dia pasti akan digantung sama teman satu klubnya.


“Ma—maksudku, ya cuma obrolan santai aja kan? Ya kan, Kijima-senpai? Urusan penting kayak anggaran klub nggak mungkin dibahas seenaknya di hari libur. Traktir aku juga cuma bercanda, kan?”


“Eh? A—ah, ya… maksudku, bukan sogokan atau apa. Seperti yang Saeki-san bilang, cuma obrolan iseng dan bercanda. Iya, iya. Nggak ada apa-apa. Saeki-san, silakan nikmati acara keakraban OSIS kalian.”


Senior itu sudah benar-benar kehilangan gaungnya, menggaruk kepala lalu pergi. Cukup dengan menyiratkan ‘ini bisa jadi masalah tanggung jawab’, dia pasti tidak akan sengaja menancapkan tangan ke dalam semak berduri itu.


Apakah OSIS benar-benar punya wewenang sejauh itu atau tidak, Masaomi sendiri tidak tahu.


Setelah memastikan punggung senior itu menghilang dari pandangan, Masaomi melirik jam. Sisa waktu untuk berpindah lokasi sudah tidak banyak.


“Kalau begitu aku pergi dulu. Kamu pasti ngerti kan soal hari Sabtu itu.”


“Iya. Itu cuma obrolan yang berdasarkan ‘andai saja ada acara begitu’, kan? Lagipula aku ada rencana jenguk Tsubaki, jadi sepertinya memang bakal izin juga.”


Kalau dari awal dia bilang begitu, senior itu mungkin tidak akan memaksa sejauh itu. Mungkin dia takut kalau alasan terlalu nyata justru membuatnya tampak seperti alasan palsu untuk menolak. Atau mungkin dia merasa kalau dia menunjukkan ada waktu kosong, senior itu akan terus mengejar sampai dia kehabisan tempat untuk lari. Apa pun alasannya, bagian follow-up setelahnya pasti bisa Kanae tangani sendiri. Masaomi tidak berniat mengurus sejauh itu.


“Masaomi-senpai punya ekspresi datar dan nada bicara yang tenang banget, jadi terdengar super meyakinkan. Benar-benar penipu alami!”


Komentarnya benar-benar keterlaluan. Masaomi sendiri bukan alami—dia belajar jadi seperti ini.


“Tapi, terima kasih. Aku benar-benar kebantu.”


Kanae membungkuk dalam-dalam. Sebegitu sopan begitu justru membuat Masaomi sedikit tidak nyaman. Ini benar-benar hanya bantuan kecil untuk junior yang mulai sering bicara dengannya.


“Senior itu sedikit… maksa. Waktu SMP aku diminta jadi manajer klub basket sebentar, tapi dia benar-benar suka nyuruh-nyuruh orang. Kalau ditolak dia langsung bad mood, itu sudah terkenal.”


Kalau Kanae bilang begitu, berarti rekam jejaknya memang jelek. Waktu itu Kanae belum melakukan ‘debut SMA’, dan belum dikenal sebagai gadis cantik berpendar seperti sekarang, jadi mungkin dia dianggap sekadar tangan tambahan yang gampang disuruh. Rasanya benar-benar menyebalkan.


“LINE-ku dulu juga dia nggak minat, tapi akhir-akhir ini dia pakai alasan ‘kita kan kenal’ buat ngajak ketemuan tiap libur. Aku tahu itu bentuk perhatiannya, jadi nggak enak juga menolak. Tapi aku juga nggak ada perasaan, jadi membiarkan dia salah paham juga nggak enak… haha, ngomong kayak gini ke Masaomi-senpai kok rasanya malah kehilangan bobotnya, ya.”


— Jadi ini soal ikut campur, ya.


Kalau begitu, Masaomi memutuskan memberi satu saran dari sudut pandangnya sebagai senior.


“...Kalau kamu terlalu berusaha bikin semua orang senang, nanti kamu sendiri yang tercekik. Kalau nggak suka, ya bilang nggak suka.”


Sedetik itu saja, senyum Kanae terlihat seperti terserempet noise.

Seolah dia baru menyadari dirinya memperlihatkan sesuatu yang seharusnya tak boleh terlihat, ia menoleh menjauh.


Wajah sampingnya sama sekali bukan marah atau sedih—hanya datar.

Masaomi pun yakin bahwa firasatnya mengenai Kanae tepat sasaran.


— Mungkin… aku cuma nggak mau dibenci.


Kata-kata yang mungkin merupakan suara hati Kanae itu kembali terngiang di benak Masaomi.


Adiknya, Hinata, dengan kepribadiannya yang begitu khas, akan langsung melakukan apa pun yang ingin ia lakukan, dan langsung mengucapkan apa pun yang ingin ia katakan. Ia juga punya sifat “pengasuh” yang kuat; bukan hanya rajin mengurus orang-orang di sekitarnya, ia bahkan dengan aktif ikut campur dalam urusan teman-temannya.


Sifat itu adalah bentuk paling ekstrem dari tukang ikut campur, dan dari caranya bersedia menjadi penasihat cinta Masaomi dengan tarif sangat murah, hal itu sudah cukup terlihat. Tentu saja orang yang tidak suka dicampuri akan menolaknya, tetapi karena ia tidak pernah punya dua wajah, orang hanya bisa menggeleng melihatnya—dan pada umumnya ia hidup dalam lingkaran pertemanan yang hangat. Berbanding terbalik dengan si kakak yang biasa-biasa saja.


Sebaliknya, Kanae—meski sama-sama populer—terlihat seperti tipe yang menanggapi kalau diminta. Titik mulainya pasif. Ia bukan tipe yang memperluas pergaulan dengan aktif mencampuri urusan orang lain. Ia jadi menonjol hanya karena kebetulan bagian dari OSIS—sejenis kecelakaan sosial, dalam arti tertentu.


Karena itu Masaomi merasa, mungkin—seperti ekspresi tanpa emosi tadi—dia sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk ikut campur dalam urusan orang lain. Hanya saja, kalau dia mengungkapkan isi hatinya, pasti ada ketakutan akan merusak hubungan yang sudah ada. Ia mengenakan topeng ramah yang mudah dipahami orang lain, sementara hal-hal rapuh dan sensitif ia sembunyikan jauh di bawahnya. Dan Masaomi sudah mengenal paling tidak satu gadis lain yang hidup dengan cara yang canggung seperti itu.


Bagi seseorang seperti Masaomi, yang tidak punya banyak naik-turun emosi, setiap kali ia melihat senyum “sempurna” milik Kanae, rasanya seperti ada wajah kedua yang samar-samar menempel di atas wajahnya. Mungkin itu sebabnya.


Yang aneh adalah—entah kenapa, dialah satu-satunya yang Kanae hampiri duluan. Itu sudah cukup menimbulkan rasa janggal.


“...Akan kuingat.”


Perubahan pada ekspresi Kanae memang hilang sekejap, tetapi nampaknya kata-kata itu cukup menancap dalam dirinya.


Ucapan ‘akan kuingat’ itu terasa berbeda warnanya dibanding suara cerianya yang biasa. Tapi bagi Masaomi, suara yang sedikit lebih lembut dan lebih jujur itu… tidak buruk sama sekali.


Kanae menarik napas kecil, seolah membuang sisa ketegangan, dan Masaomi pun hendak pergi.


“Kalau begitu, sampai nanti.”


“Ya. —Oh ya, sepulang sekolah nanti, sebagai ucapan terima kasih, aku datang untuk sesi foto ya♪”


Kelihatannya Kanae sudah berhasil memulihkan keseimbangan emosinya dalam sekejap. Nada suaranya kembali ke mode biasanya, dan kalau ini komik, kacamatanya pasti ikut melorot—sayangnya ini bukan komik dan dia tidak pakai kacamata, jadi ekspresi datar Masaomi hanya sedikit berkedut.


Memang seperti biasanya. Tapi Masaomi tahu, kira-kira 70% dari ini pasti cuma malu-malu yang disembunyikan. Sebagai senior yang baik, sudah seharusnya ia menanggapi dengan tepat.


“…Kamu baru saja kesusahan barusan karena seseorang memakai taktik itu ke kamu, ingat tidak?”


“Fufufu, aku sudah naik satu tingkat. Kadang kita harus menerima sedikit ‘kekotoran’ untuk menjadi wakil ketua OSIS yang lihai, yang bisa menelan bersih dan keruh sekaligus. Aku juga bakal traktir Masaomi-senpai di Starbucks, jadi dompet aman, kan?”


Masaomi tidak bisa menahan rasa iba pada senior tadi—yang hanya mengajak gadis junior imut ke karaoke tapi langsung dianggap ‘kotor’. Namun, kalau dia sudah punya pacar tapi masih berusaha mendekati perempuan cantik lain, ya tidak perlu dikasihani, memang pantas.


—Hm? Terdengar suara halus seperti gadis ksatria berperang sambil mengayunkan tombak.


Sebagai catatan tambahan: sepulang sekolah, Masaomi menantang diri memesan Frappuccino dengan tekad penuh, tetapi ia belepotan saat mengucapkan pesanan, dan sepanjang waktu ia jadi bahan tawa Kanae.


"Aku tanya saja sih, apa sesibuk itu sih kerjaan OSIS?"


"Enggak begitu juga, kok? Kami juga ada persiapan untuk rapat umum. Hanya saja aku menyempatkan waktu sebisa mungkin untuk bertemu dengan Masaomi-senpai. Soalnya aku ini, lumayan satu tujuan orangnya."


Satu tujuan… atau lebih mirip babi hutan yang cuma tahu maju, sih. Sama seperti dia yang itu, jelas sekali kalau gadis ini jauh dari gambaran putri kalem yang sesuai penampilannya. Mungkin gadis yang benar-benar terlihat maupun berperilaku lembut itu, makhluk ideal yang cocok untuk fantasi laki-laki, hanya ada di fiksi atau di Astral Side saja.


Dimulai dari Senin di game center, dan sekarang Kamis. Entah bagaimana, ini sudah empat hari berturut-turut dia menemuiku sepulang sekolah. Alasan formal untuk mengucapkan terima kasih soal urusan OSIS entah ke mana. Itu memang setengah dari alasan hari itu, tapi sisanya cuma karena dia ingin sekali memotretku, dan setiap hari dia muncul dengan langkah cepat penuh semangat. Pada titik ini, jelas sekali bahwa motifnya sudah sangat… strategis.


"Meski begitu, kalau dilakukan, ya tetap ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jujur saja aku memang agak lelah."


Ton, ton, ton—dia menepuk-nepuk pundaknya seolah menghilangkan rasa pegal. Ketika aku memandangi itu tanpa banyak berpikir, Kanae menyadarinya dan tertawa nakal. Tapi senyum itu menyimpan sedikit kelelahan. Katanya ‘sedikit’, tapi mengejarku setiap hari pasti ada bebannya juga.


"Tapi demi bertemu Masaomi-senpai, tubuh ini tidak akan aku sayangkan. Mohon berikanlah waktumu kepadaku sampai waktu janji temu. Aku janji tidak akan membuatmu bosan."


Hari ini, karena suatu alasan, aku keluar dari rutinitas biasa dan datang ke taman kecil dekat rumah untuk bertemu adikku, Hinata. Tapi itu hanya kusebut sekilas saat pulang sekolah tadi. Kalau Kanae tahu soal itu, berarti ada seseorang yang mendengar pembicaraan itu, dan orang itu dengan ringan hati membocorkannya pada Kanae. Dengan kata lain, fungsi homing missile—ketepatan pelacakan Kanae—pasti ada hubungannya dengan satu orang keras kepala tertentu. Rupanya dia belum jera dari kejadian musim panas lalu, jadi mungkin perlu aku minta si badai kecil—adik perempuanku—untuk mengeksekusinya di Astral Side dengan “Hukuman Guardian Terkoyak”.


Kanae cepat-cepat mengeluarkan kamera dan mulai memotret pemandangan taman. Cahaya matahari senja menembus rambutnya dan berkilau seperti emas. Rasanya seperti sedang menonton satu adegan film remaja.


Memang, memandangi Kanae seperti itu… tidak bisa dibilang membosankan.


"Menurutku, foto itu sesuatu yang indah. Seperti memotong dan menyimpan bentuk asli dari apa yang kita lihat. Aku suka begitu. Dunia yang dimiliki oleh objek foto… entah itu nyata atau tidak, mungkin memang begitulah adanya."


Kalau aku bilang itu terdengar seperti saat dive, mungkin dia bakal cemberut. Tapi siluet Kanae yang berdiri dalam cahaya senja, larut dalam dunianya sendiri, terlihat seolah pikirannya melayang jauh. Sama persis seperti ekspresi tanpa emosi—seperti noise—yang kulihat kemarin di koridor. Mungkin itu inti dari diri Kanae.


"Kau melihat Astral Side?"


"……Tidak. Bukan begitu maksudku. Aku sedang melihat foto Masaomi-senpai yang tadi aku ambil."


Aku sedikit panik—bagaimana kalau ternyata ada hidungku yang kacau atau semacamnya—dan mendorongnya untuk melanjutkan karena ucapannya terasa janggal.

"‘Guardian’. Di Astral Side milik Hibari-senpai, Masaomi-senpai melindunginya… tapi kenapa?"


"Kenapa, ya…"


Sebenarnya Hibari yang menetapkan Masaomi sebagai Guardian, dan keputusan itu tidak ada hubungannya dengan kesukaan Masaomi. Kebetulan saja Masaomi menerima keadaan itu. Bahkan Diver lain pun bisa menjadikannya Guardian kalau mau.


"Hibari-senpai itu cukup kuat meski sendirian."


Dengan kepastian yang terasa meyakinkan, Kanae berkata begitu.


Dia benar. Seperti yang pernah dia bilang: dia memahami Hibari di Astral Side. Masaomi pun tidak menyangkal. Fuuka Shitensen—peringkat ketiga: Noble Lark. Tanpa Masaomi sebagai Guardian sekalipun, Hibari tidak akan kesulitan terbang bebas di Astral Side.

Tapi tidak sulit bukan berarti bebas.


"Kalau keberadaanku sebagai Guardian punya makna, mungkin itu supaya Hibari bisa mengejar ideal dalam dirinya tanpa terikat hal-hal yang tidak perlu. Seperti…menahan keseimbangan Diver yang cenderung terlalu condong ke Astral Side. Menjadi penopang, seperti rumah tempat kembali."


"Aku tidak paham. Orang yang bisa kuat sendirian… kenapa memilih berdua? Bagaimana bisa itu membuat seseorang lebih ideal? Bahkan ketika mereka bisa mengabaikan pandangan orang, reputasi buruk, bahkan kesepian? Kalau suatu hari aku benar-benar menjadi Diver… apakah aku bisa memahami kekuatan itu?"


Aku tidak tahu apa yang dimaksud Kanae dengan kuat dan lemah, tapi dari sudut pandang Masaomi, hanya ada satu jawaban.


"Bukan soal kuat berdua atau semacamnya. Kalian bersama hanya karena kalian ingin bersama. Kembali ke satu orang… cuma memikirkannya saja rasanya menyayat."


"—Tidak terlalu kusuka, jawabanmu yang terdengar seperti generalisasi itu."


Kanae memotong dengan nada tajam yang jarang kudengar.


Itu dia, pikir Masaomi. Bagian lunak dalam hati Kanae—sesuatu yang tak akan dia tunjukkan pada siapa pun. Akar dari cara pikirnya. Mungkin ujungnya terhubung dengan Astral Side yang ia amati.


"Ah, bukan begitu. Maksudku… aku iri saja karena Masaomi-senpai bisa berada di sisi Hibari-senpai seperti itu."


Seketika wajahnya kembali ceria. Seperti trik sulap, tanpa jeda. Seolah itu reaksi otomatis. Seperti Hibari yang menghilangkan senyumnya di sekolah untuk menyembunyikan diri, Kanae menutupi dirinya dengan terus tersenyum.


"Yah, bagaimanapun juga, baik di sini maupun di sana, Hibari-senpai itu bagaikan malaikat~"


Kata-kata itu… membuatku sedikit merasa janggal.


"Hei, Kana… maksudmu malaikat itu—"


"Oi, Onii! Ngapain bengong di situ! Mana tugasmu sebagai pengawal terhormatku, hah?"


Suara yang sangat kukenal memotong percakapan, menggema di taman senja itu.


Saat kami berdua menoleh, dari pintu masuk taman terlihat seorang gadis berbaju training—adikku, Hinata—mendekat sambil menatap kami dengan pandangan agak curiga. Jam sudah hampir setengah enam. Rupanya waktu berjalan lebih cepat dari yang kupikir.


"Oh, sepertinya tugasku sudah selesai dengan baik, ya."


"Kau cuma sibuk memotret hal-hal yang kau suka, kan…"


Tanpa peduli komentar kecilku, dia melambaikan tangan dengan santai seperti biasa.


"Adik perempuan Masaomi-senpai, kan? Salam kenal. Aku Saeki Kanae. Masaomi-senpai selalu sangat membantu aku. Senang berkenalan denganmu."


"Halo, salam kenal. Aku Kusunoki Hinata. Terima kasih sudah mengurus kakakku yang tidak jelas ini. Dengan wajah seperti itu mungkin sulit memahami apa yang dia pikirkan, tapi sebagai adiknya, aku bisa menjamin dia tidak berbahaya. Jadi tolong perlakukan dia dengan jarak yang tepat, ya."


Ohh… aku sampai ingin bersiul kagum. Gerak-gerik perkenalan Hinata sangat rapi dan terlatih.


Di rumah, mulutnya seperti senapan mesin tanpa sopan santun, tapi ketika sedang ‘mode keluar’, ternyata bisa berbeda sejauh ini. Hebat juga dia bisa tidak keseleo lidah. Seperti yang diharapkan dari sang Starbucks Master — merapal mantra pun pasti jagonya.


"Fufufu. Tenang saja. Aku bukan berniat untuk menguasai Masaomi-senpai kok."


"Saeki-senpai, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemani kakak saya meskipun sedang lelah. Kami sebenarnya sudah berjanji untuk pergi berbelanja setelah ini. Bolehkah saya membawanya sekarang?"


Kalau dipikir-pikir lagi, Hinata itu anak klub atletik. Dunia olahraga pasti sudah menggemblengnya soal etika. Hanya terhadap kakaknya dia seperti orang barbar; sisanya dia sebenarnya ramah. Memiliki adik yang begitu kompeten membuat sang kakak jadi tidak punya tempat. Mana yang kakak, mana yang adik, jadi tidak jelas.


"Ah tidak, justru aku yang sudah meminjam waktu Masaomi-senpai. ──Kalau begitu, Masaomi-senpai, Hinata-chan, aku pamit dulu ya. Masaomi-senpai, punya adik manis dan akrab seperti ini benar-benar keberuntungan."


Aku mengangguk asal-asalan. Sudah jelas setelah ini Hinata bakal pesta wajah puas, jadi lebih baik kabur cepat-cepat.


Kanae, tanpa tersinggung sedikit pun oleh sikapku yang cuek, memberi satu salam elegan lalu mulai berjalan keluar taman—namun hanya beberapa langkah.


"Ah…"


Kakinya tersandung dan tubuhnya goyah seolah hendak jatuh.


"Kau baik-baik saja? Kelihatannya cukup capek."


"Cuma tersandung sedikit, tak usah khawatir! Tapi kalau Masaomi-senpai begitu khawatir sampai memelukku lalu menciumku, wah, aku juga merasa sangat beruntung~ Untuk hadiahnya silakan pilih paket Matsutake-Ume! Paket ‘Matsu’ itu… kya, Masaomi-senpai, berani juga ya~"


"Cuma kepalamu yang sedikit bermasalah ternyata. Aku lega."


Dia langsung kembali ke mode kabur antara serius dan bercanda seperti biasa. Itu pasti caranya bilang ‘jangan khawatir’. Langkahnya terlihat stabil, jadi mungkin tidak apa-apa.


"Lalu, kalau bisa, acara ‘Perjalanan Akrab OSIS’ beneran terlaksana ya! Namanya memang agak aneh sih! Nanti aku coba bicarakan dengan Orito-senpai!"


Karena sudah tenang, aku membalas lagi dengan anggukan asal. Entah sejak kapan aku dianggap anggota OSIS, itu masih tanda tanya. Tapi yah… melihat punggung junior secantik itu, kupikir hubungan seperti ini tidak buruk juga.


"Oi, Onii. Berhenti senyum-senyum sendiri dan cepat sini. Para assorted box sudah berjajar memanggil namaku."


Sang adik yang sejak tadi sudah melepas topeng formal, kini tampak sangat bersemangat. Sepertinya aku harus menaikkan sedikit level persembahan untuknya hari ini.


"Padahal kamu sudah punya pacar bernama Hibari-san, tapi masih sempat-sempatnya menggoda perempuan blasteran begitu. Bener-bener sampah. Rendah banget. Jijik."


"Dia bukan blasteran, tapi kuarter."


"Siapa yang peduli!" Hinata menendangku sekali. Memang tidak penting, jadi aku tak bisa membalas.


"Jadi si pirang cantik itu sumber masalahmu. Lelaki memang sampah. Lihat dada besar dikit langsung begitu. O-chan juga bilang, pacarnya kalau sedang kencan dan ada perempuan berdada besar lewat, dia langsung ngiler ngeliatin. Nyebelin. Dari sudut pandangku, dengar cerita pacaran O-chan aja udah nyebelin sih?"


"Aku nggak tahu. …Ya, soal ukuran dada sih terlepas dari itu, tapi memang benar junior itu akhir-akhir ini bikin kepalaku penuh."


Setelah mengorbankan dua kotak Haagen-Dazs assorted (!!!)—lalu sebagai alasan absurd “mumpung sekalian”, aku juga dipaksa beli satu es loli semangka—aku berjalan di trotoar yang mulai diselimuti malam, berdampingan dengan Hinata. 


Ngomong-ngomong, O-chan adalah teman masa kecil Hinata sejak taman kanak-kanak dan sahabat terbaiknya. Buatku dia juga seperti adik sendiri, tapi mendengar dia punya pacar…entah kenapa “naluri ayah” yang tak mungkin kupunya menusuk jantungku seperti lima paku besi. 


Aku menarik napas panjang dan menengadah, mencoba menata diri. Udara peralihan antara panas yang memudar dan dingin yang mulai datang, khas akhir musim panas. Udara itu larut ke dalam malam, berubah menjadi angin ringan yang sejuk tapi lembap. Sebentar lagi, pasti mengalir menuju langit musim gugur.


Hinata yang tadinya menjilati es semangkanya berkata “dingin…” sambil menarik kembali lengan panjang jaket training-nya. Isi dompet kakaknya jauh lebih dingin, jadi ini jelas karma.


"Ramah, kuarter, dan berdada besar. Sementara Hibari-san itu tinggi dan tipe cantik dingin. Mau cobain tipe lain atau apa sih? Sejak kapan kamu jadi orang sehebat itu?"


"Aku nggak hebat, dan nggak mau ‘coba-coba’. Aku cuma jatuh hati sama Hibari saja."


"Ih, norak banget… jijik…" Tatapannya datar. 

Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap.


Sejak perjalanan menuju supermarket sampai sekarang, aku sudah menjelaskan rangkaian kejadian sejak pemilihan OSIS—apa saja yang Kanae lakukan padaku, sikap-sikapnya yang terasa menggoda, minus detail-detail soal fisiknya (sengaja kuhindari). Bukan karena merasa bersalah, tapi karena Hinata tampaknya punya dendam personal terhadap “dada besar.” Jadi ya, kuhindari pemicu itu. Sengaja.


"Hmm," gumam Hinata yang sejak tadi memasang wajah masam, entah sedang berpihak pada siapa. Lalu dia menyampaikan teorinya tentang kenapa Saeki Kanae begitu sering ‘menggangguku’.


"Normalnya, nggak mungkin ada perempuan yang naksir kamu. Apalagi sampai berani rebut pacar hyper-ultimate-beauty kayak Hibari-san. Perempuan normal nggak akan kepikiran. Singkatnya: dia pasti ada rusaknya."


Tepat sasaran. Tapi ya, memang begitu adanya. Fakta bahwa aku akhirnya jadian dengan Hibari adalah semacam keberuntungan absurd satu banding berjuta—dan keajaiban seperti itu tidak terjadi dua kali. Tetap saja, aku tidak bisa menutup pembicaraan begitu saja. Dompetku sudah sangat ringan; setidaknya aku ingin mendapat kesimpulan yang sepadan.


"Mungkin bukan sebagai lawan jenis. Mungkin dia cuma ingin dekat dengan senior yang dia kagumi gitu."


"NGGAK ADA."


Ya tidak ada. 


"Atau mungkin dia suka wajahku? Bukan mau pacaran, tapi cuma mau berada dekat-dekat…"


"TIDAK ADA. Kamu baik-baik saja?"


Memang tidak ada, dan aku pun tidak baik-baik saja.


"Makanya kubilang aku nggak ngerti. Nggak ada satu pun alasan dia harus memperhatikanku. Keiji masuk OSIS jadi aku akhirnya sering ketemu anggota OSIS, tapi itu pun bukan alasan Kana mendekatiku."


Mengucapkan itu saja rasanya menyedihkan, tapi aku juga tidak bisa memelintir kenyataan.


"Kamu manggil dia Kana!? Hibari-san bisa-bisanya ngizinin!? Malaikat bener tuh perempuan."


Hinata memandangku jijik, di topik yang sama sekali tidak relevan. Kesalahan lisanku sendiri. Memang sebenarnya tidak diizinkan. Aku harus hati-hati. Di sisi lain, Kanae sendiri sulit diajak bicara kalau tidak kupanggil “Kana.” Sangat merepotkan. Dua gadis cantik, dua masalah berbeda—terlalu mewah untuk hidupku.


"Kanae bilang dia bercita-cita jadi tenaga medis. Dia juga tahu soal penyakit Hibari. Jadi mungkin itu alasannya."


"Kalau gitu ya dia langsung aja ke Hibari-san. Meski Hibari-san mau buka hati atau tidak itu soal lain sih."


Tidak bisa dibantah. Hinata sendiri tidak tahu detail penyakit Hibari. Yang kukatakan hanya: Hibari itu mengidap penyakit kronis dan “kadang sering ketiduran.”


"Aku juga nggak ngerti. Yang jelas itu sia-sia. Kalau cuma mau jadi teman sih mungkin… tapi kalau sampai bikin kamu salah paham? Perempuan waras nggak akan lakukan itu. Nggak ada untungnya bikin yang beginian jatuh cinta."


"Ada kok satu gadis cantik yang saling jatuh cinta denganku. Namanya Sasuga Hibari. Keren kan? Bisa di-‘push’ ya."


Hinata memukul pinggangku pakai kepalan tangan. Rasanya lebih seperti tradisi daripada kekerasan.


Tetap saja, perasaanku cukup lega. Kalau Hinata saja tidak mengerti, berarti aku juga tidak mungkin mengerti. Setidaknya aku tahu masalahnya bukan semata-mata karena kebodohanku sendiri—itu sudah cukup sebagai hasil.


"Yah, tapi yang itu memang berat sih. Dia cantik tingkat dewa, punya aura ramah, tapi kelihatannya tipe yang nggak gampang buka hati. Para laki-laki-laki bodoh pasti kalah sama kombinasi wajah-dan-dada itu. Tapi buatku dia kebangetan tingkat advanced. Ya meski Hibari-san juga sulit sih kalau soal tingkat kesulitan."


Aku mengangguk setuju, tapi menegur Hinata karena menunjuk wajahku saat bilang “laki-laki bodoh.”


"Dia bahkan sadar aku lagi mengintimidasi, terus ngelewatin itu kayak angin. Kayaknya dia itu tipe manusia pro dalam hubungan sosial. Nggak tahu disengaja atau refleks, tapi dia pintar banget memastikan nggak perlu ‘berantem’ dengan siapa pun."


Saat kami tiba di depan rumah, Hinata yang masih menggigiti sisa es semangka menutup analisanya tentang Saeki Kanae seperti itu.


──Cara hidup tanpa perlu bertarung dengan siapa pun, huh.


Sifat yang selalu berusaha memberi respons baik saat dimintai tolong… mungkin juga bisa dilihat sebagai gaya hidup begitu.


"Oh iya Onii, ini sisa buat kamu. Dingin. Makan aja."


"Ini bukan es semangka lagi, ini kulit semangka es."


Aku menerima batang es yang hanya menyisakan bagian hijau dan memasukkannya ke mulut. Manisnya masih enak, tapi rasanya seperti cuma makan kerucut es krim.


"Ngomong-ngomong, dia tadi bilang namanya Saeki Kanae ya?"


Saat aku sedang mengunyah bagian terakhir es-nya, Hinata bertanya begitu saja.


"Iya, memang. Kenapa?"


"Ngerasa pernah dengar nama itu di suatu tempat."


"Dia dari sekolah yang sama dengan kita di Kusuna. Mungkin kamu pernah dengar namanya."


Ucapan dari orang yang sama sekali tidak punya ingatan soal itu memang kurang meyakinkan, tapi Hinata yang bergaul luas bisa saja mengenal kakak kelas satu tahun di atas.


"Ya, kalau nggak kepikiran berarti dia cuma di lingkaran ‘temannya teman’. Nanti kutanya O-chan aja."


Dengan cepat ia menyerah mencari ingatan itu dan masuk rumah sambil berteriak, “Makan malam! Makan malam!”


Kemampuannya mengingat semua teman dari teman-temannya saja sudah terdengar seperti kemampuan Astral Diver, sampai-sampai aku sendiri merinding melihat betapa kuatnya hubungan sosial adikku itu.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close