NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze Nigerun Dai? Boku no Shoukanjuu wa Kawaii yo Volume 1 Chapter 8

Chapter 8

Gelembung yang Menghilang


"Ini adalah wilayah pengelolaan Institut Sihir yang aku jelaskan tadi. Kalian semua akan menggunakan monster panggilan yang baru dikontrak kemarin untuk melakukan pembasmi monster liar."

Halo, namaku Heresy!

Setelah kejadian itu, entah bagaimana caranya aku berhasil membujuk dan merayu Leticia agar membawa pulang Konko-san.

Berkat itu, aku bisa menyambut pagi dengan segar setelah tidur nyenyak di atas kasur dan bantal empuk yang entah kenapa aromanya sangat wangi!

Sekarang aku sedang mendengarkan penjelasan dari wali kelas di sebuah hutan yang agak jauh dari ibu kota!

Di balik pagar tinggi yang dilapisi sihir perlindungan berlapis-lapis, terdapat sebuah area terbuka luas di tengah pepohonan.

Katanya, seluruh area ini adalah wilayah pengelolaan milik organisasi yang disebut Institut Sihir!

Ada beberapa bangunan kotak yang terlihat kaku berjejer di sana, suasananya benar-benar terasa seperti fasilitas penelitian!

Saat mendengar penjelasannya di kelas, aku sempat berpikir apa mereka sudah tidak waras mengadakan pelajaran luar ruangan di hari ketiga masuk sekolah.

Tapi sepertinya aliran mana di sektor ini sudah diatur dan dikelola sedemikian rupa agar jenis monster tertentu hanya muncul di lokasi yang sudah ditentukan! Mereka benar-benar menantang hukum alam secara terang-terangan ya.

Selera moral yang sepertinya juga melakukan banyak hal gelap lainnya ini terasa sangat pas dengan suasana masa perang, keren sekali!

"Kalian semua... atau hampir semuanya adalah bangsawan. Terlepas dari besar kecilnya keluarga kalian, kalian pasti punya pengalaman membasmi monster dalam latihan pemanggilan atau sihir. Tetaplah tenang dan kerjakan dengan pasti seperti biasanya. Jika terjadi masalah, aku yang akan menanganinya. Hari ini Savant juga mengajukan diri untuk ikut mendampingi."

"Kemarin aku sudah melihat bakat kalian yang luar biasa. Hari ini pun mohon bantuannya."

Guru pendamping... Savant-sensei hari ini juga datang! Berbeda dengan kemarin, kali ini tidak ada Tuan Putri.

Mungkin karena ini pelajaran di luar akademi, dia mengajukan diri ikut sebagai pengawal? Rasanya risi karena setiap kali aku menoleh, mata kami selalu bertemu!

Ngomong-ngomong, Jade-kun hari ini juga absen! Aku bersumpah tidak memberinya luka luar sama sekali, jadi kalau dia tidak segera masuk, orang-orang akan menganggapku sebagai orang yang benar-benar berbahaya!

"Sudah kujelaskan di kelas, tapi pembasmian ini bukan hanya untuk memahami kemampuan monster panggilan baru kalian. Ada banyak makna ritual yang terkandung di dalamnya. Bisa dibilang ini adalah sebuah tradisi."

Menurut cerita dari wali kelas sebelum berangkat, sepertinya di kalangan Summoner ibu kota ada semacam kepercayaan untuk membawa keberuntungan yang berbunyi: 'Melakukan pertempuran sungguhan pada instruksi pertama setelah kontrak dan memenangkannya'.

Katanya itu didasarkan pada mitos pendirian negara. Inti dari kegiatan hari ini adalah untuk menyelesaikan ritual itu sambil memeriksa kemampuan monster panggilan yang baru!

Menelusuri jejak agar bisa menjadi partner terbaik seperti Raja Pertama dan Binatang Suci, cerita yang sangat romantis ya!

"Kebiasaan yang tidak berguna. Menghabiskan monster penelitian hanya demi mencari keberuntungan bukan hanya membahayakan murid, tapi juga menambah beban pengelolaan. Ditambah lagi, informasi yang didapat jadi tidak konsisten karena perbedaan individu pada monster tersebut. Akan jauh lebih aman dan efisien jika melakukan latihan tempur menggunakan boneka sihir di dalam akademi."

Ah, jadi begitu pandangannya? Dari perilaku Jade-kun terhadap Leticia, kukira orang kota itu banyak yang romantis, ternyata wali kelas kami tipe yang cukup realistis, aku terkejut!

Guru itu kemudian masuk ke dalam gedung untuk menyiapkan monster, jadi selagi menunggu, para murid diminta untuk memanggil monster mereka dan bersiap-siap!

"Hydra, ada waktu sebentar—"

"Ya! Aku sudah menunggu!"

Melihat yang lain memanggil monster mereka, aku pun memanggil Hydra. Tapi sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, dia sudah merangkak keluar dari pusaran hitam, membuatku kaget! Apa jangan-jangan dia terus menungguku memanggilnya? Apa di bawah laut itu membosankan?

"Gaa! Gaa!"

"Hei, sudah kubilang tidak boleh...! Kemarin kau sudah dimarahi guru, kan...!"

"...Ga..."

Melihat sosok Hydra yang muncul dengan penuh semangat, burung yang kemarin itu jadi heboh lagi! Burung ukuran menengah ke atas biasanya suka makanan laut, apa karena itu ya?

Tentakel Hydra terlihat punya kenyalan yang pas dan sepertinya lezat, jadi aku paham perasaannya! Walaupun bagi kekuatan gigitan manusia, itu benar-benar tidak akan mempan.

Guru belum kembali, dan lagipula giliranku pasti yang terakhir, jadi sebaiknya aku berdiskusi matang-matang dengan Hydra tentang isi pelajaran ini!

"—begitulah alurnya, katanya kita akan bertarung melawan monster sekarang. Ada yang tidak kau mengerti? Tanya saja apa pun ya."

"Anu, maafkan kebodohanku. Sebenarnya monster itu... makhluk seperti apa ya...?"

"Eh...? Ah, benar juga. Maaf, maaf."

Ini kesalahanku! Kakek di toko senjata pernah bilang, tidak baik bicara dengan asumsi bahwa lawan bicara punya pemahaman yang sama dengan kita! Katanya dalam komedi pun, kalau lelucon internal seperti itu gagal, rasanya bakal canggung sekali!

"Monster itu adalah hama yang merusak ladang. Ukuran, sifat, dan jumlahnya bermacam-macam. Di kampung halamanku, mereka sering membuat kami kesulitan."

"Merusak ladang... itu merepotkan ya."

"Iya, kalau hasil panen berkurang dan tidak bisa bayar pajak, bisa gawat."

Kalau pembayaran pajak macet, kepala desa yang datang sebagai perwakilan tuan tanah akan memasang wajah seolah dunia mau kiamat, dan susah sekali untuk menyemangatinya kembali! Kepala desa yang sekarang punya penyakit lambung kronis, jadi aku khawatir!

"Tidak ada yang pernah melihat bayi monster, dan kalau dibedah pun struktur tubuhnya berantakan dan aneh. Di kota sebelah, mereka bahkan disebut sebagai amarah dewa."

"Begitu ya, rupanya seperti itu."

"Itu pemahaman yang agak kuno. Monster adalah eksistensi yang tidak memiliki pohon filogenetik—sebutan umum untuk 'Memori Bintang'."

"Hii...!?"

Saat aku sedang memamerkan pengetahuan pada Hydra selayaknya seorang Summoner, Leticia tiba-tiba muncul dari belakang dan menyanggah ceritaku dengan gaya bicara yang terasa cerdas!

Aku hampir tidak percaya dia adalah gadis yang sama dengan yang merengek tidak mau pulang ke kediaman tadi malam! Bisa tidak jangan tiba-tiba ikut campur, Hydra jadi kaget, lho?

Konko-san dalam wujud rubah yang ada di kaki Leticia menatapku tajam dengan mata setengah terbuka, tapi kalau soal kejadian kemarin, itu adalah pertahanan diri, jadi aku tidak menerima protes ya!

"Struktur tubuh monster hampir sama dengan makhluk hidup pada umumnya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mereka muncul bukan melalui reproduksi, melainkan dari kumpulan mana di udara. Meski begitu, adalah hal alami jika manusia mencoba memahami fenomena yang tidak diketahui dengan mengaitkannya pada dewa. Lagipula, informasi ini tidak dipublikasikan secara umum, jadi bisa dibilang pemahaman yang kau jelaskan tadi adalah yang paling umum di masyarakat."

"Begitu ya."

"Begitu ya."

Terlepas dari benar tidaknya tindakan Leticia yang membeberkan informasi yang harusnya rahasia, aku sangat bersyukur tidak jadi memberikan pengetahuan yang salah pada Hydra! Soalnya sumber informasiku kan kebanyakan dari orang-orang tua di desa...

Tapi soal struktur tubuh monster yang katanya mirip makhluk hidup biasa... bagaimana ya?

Monster yang ada di kampung halamanku rasanya punya bentuk yang jelas-jelas berbeda dari makhluk hidup yang ada.

Bukankah malah lebih menakutkan jika makhluk yang menyerang kita punya rupa seperti hewan biasa?

"Maaf menunggu lama. Inilah monster yang akan kalian basmi sekarang."

Sambil memperhatikan Hydra dan Konko-san yang saling menyapa seperti keluarga yang bertemu di pinggir sumur, wali kelas kembali dengan membawa beberapa kandang menggunakan sihir!

Di dalam kandang itu, ada seekor kura-kura besar setinggi anak kecil dengan tempurung di punggungnya. Kesan beratnya yang seperti batu hidup terlihat sangat keren!

Aku kaget karena monster di sekitar ibu kota benar-benar mirip makhluk hidup yang sudah ada. Kalau begitu, hama ladang di desaku itu sebenarnya apa ya! Ahaha!

"Leticia-sama. Bisa minta tolong beri contoh kepada yang lain?"

"Ya. Konko, tolong ya."

"Kon."

Sama seperti kemarin, hari ini pun Leticia yang menjadi pembuka! Begitu Leticia dan Konko-san yang sudah berpindah ke area bekas eksperimen memberi tanda siap, seekor kura-kura dilepaskan dari kandang dan langsung menuju ke arah mereka!

Konko-san, yang sepertinya bersikeras hanya akan bersuara 'kon-kon' dalam wujud rubah, didekati oleh kura-kura itu.

Dengan momentum larinya, si kura-kura mencoba menyeruduk dan menggigit, tapi... rasanya bukan seperti serangannya dihindari, melainkan serangannya memang tidak bisa kena!

Melihat kura-kura yang berusaha keras menyerang dan Konko-san yang mengamatinya sambil berjalan santai di sekelilingnya, aku merasakan sesuatu yang jauh melampaui perbedaan ras!

Setelah kondisi seimbang (?) itu berlanjut sampai Leticia mengganti tumpuan kakinya, Konko-san yang sepertinya sudah puas mengamati akhirnya mulai bergerak!

"Kon."

"Eh...? Apa yang..."

"Monsternya... menghilang...?"

Begitu Konko-san menyentuh kura-kura itu dengan kaki depannya dan mengerahkan kekuatan sucinya yang luar biasa, dari bagian yang disentuh, kura-kura itu berubah menjadi partikel biru seperti benang kain yang terurai dan larut ke udara!

Monster yang baru saja bergerak itu lenyap tanpa sisa seolah-olah memang tidak pernah ada dari awal! Hebat, hebat!

...Tidak, ini mengerikan. Di desa pun aku sering melihat monster yang sudah mati lalu lenyap seperti itu, tapi memaksa hal itu terjadi hanya dengan sentuhan adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

"Egas, sudah selesai."

"Mengurai mana secara langsung dari monster yang masih aktif...? Leticia-sama, ini mungkin akan membawa kemajuan besar bagi penelitian monster...!"

"Hebat, penilaian yang sangat tinggi!"

"Tentu saja, itu monster panggilan Leticia-sama!"

Mendengar perkataan Leticia yang entah kenapa memanggil wali kelas tanpa gelar, guru itu menulis di buku catatannya dengan sangat antusias!

Teman-teman sekelas juga ikut heboh dengan mata berbinar seperti anak kecil yang pertama kali melihat pertunjukan teater di kota... tapi, apa reaksi seperti itu sudah tepat untuk apa yang baru saja terjadi?

Selagi aku ditinggal sendirian dengan kebingunganku, pertarungan melawan monster dimulai kembali, dan pembasmian terus berlanjut satu per satu!

Tadinya aku ingin memahami situasi ini satu-satu, tapi sepertinya sudah tidak mungkin, jadi aku menyerah dan memutuskan untuk tidak memikirkannya!

Akhirnya giliranku tiba! Aku sendiri tidak terlalu tertarik membasmi monster, tapi kalau katanya ini untuk keberuntungan, tidak ada ruginya ikut mencoba, kan!

"Hydra, sebentar lagi giliran kita, apa kau siap? ...Hydra?"

"...Eh? I-iya! Ayo kita lakukan! Aku siap!"

Ternyata Hydra telat merespons karena sedang melamun! Walaupun ini pelajaran, pada akhirnya ini kan hanya demi kepentingan manusia. Menurutku keinginan pribadinya jauh lebih penting, jadi kalau dia tidak bersemangat, aku tidak keberatan sama sekali kalau kami harus mundur!

Sambil berhati-hati agar tidak terlilit tentakel Hydra yang bergerak licin seolah ingin menutupi ekspresi muramnya, aku berlari kecil dan akhirnya kami berhadapan dengan si monster!

"Kashu, kashu."

"Ooh, dilihat dari dekat ternyata gagah juga ya."

Kura-kura yang kami hadapi ternyata lebih besar dari bayanganku.

Kesan berat yang menggetarkan tanah setiap kali dia melangkah terasa sampai ke tulang!

Kaki dan tangannya yang terpasang simetris juga membuatnya terlihat seimbang!

Keberaniannya yang nekat untuk menghadapi Hydra yang jelas-jelas lebih besar darinya juga luar biasa! Sikap yang lebih mengutamakan menyakiti sesuatu daripada bertahan hidup atau berkembang biak benar-benar terasa seperti monster!

"Kashu."

"Ugh, Aqua Veil!"

Menghadapi kura-kura yang menyeruduk dengan kecepatan yang tak terbayangkan dari bentuk tubuhnya, Hydra mengeluarkan bola air sihir dan mengurung lawannya! Bola air sihir... sihir air...?

Terjebak dalam aliran air di bagian dalam dan tidak bisa bergerak, Hydra kemudian memberikan serangan lanjutan kepada kura-kura itu... tidak, dia tidak melakukannya! Sepertinya dia tidak akan menyerang lagi! Tidak apa-apa! Aku menghargai pilihannya!

"Apa yang dilakukan orang itu...? Kenapa dia tidak menyerang titik lemah yang terbuka?"

"Punya bakat Summoner pun kalau rakyat jelata tetap saja rakyat jelata. Dia tidak punya insting bertarung. Medan perang yang megah memang hanya milik para bangsawan terpilih."

"Monster panggilan itu juga, seperti kata Savant-sensei, sepertinya jenis yang tidak punya kemampuan menyerang."

Teman-teman sekelas di belakang mulai bicara macam-macam, dan Savant-sensei memasang wajah seperti orang tua yang memperhatikan bayinya belajar berdiri, tapi sekarang ada hal yang jauh lebih penting dan membuatku penasaran!

Jika Hydra bisa menggunakan sihir air, dan jika air itu bukan air laut... mungkin aku bisa menanam tanaman dengan stabil meskipun kemarau panjang! Aku bahkan mungkin bisa bolos dari rutinitas mengambil air setiap hari!

Apakah air yang dia keluarkan dengan sihir itu asin atau tidak? Ini adalah pilihan nasib yang akan sangat memengaruhi masa depanku!

"Hydra, ada yang sangat ingin kutanyakan..."

"Benar juga ya. Begini saja tidak cukup, kan. Harus... dilakukan, kan. Maafkan aku, monster itu mengingatkanku pada diriku yang dulu..."

"...?"

"Ditangkap, dikepung, diserang... aku hanya beruntung bisa bertemu dengan Heresy-san, tapi bukankah aku sama saja dengan monster itu? Aku juga makhluk yang bisa melukai orang lain, dan tidak ada perbedaan apa pun di antara kami... aku sempat berpikir begitu."

"Hmm...?"

Maksudnya Hydra dan monster itu mungkin mirip? Karena dia bisa dipanggil, menurutku mereka adalah eksistensi yang sepenuhnya berbeda. Apa maksudnya dia bersimpati pada nasib atau situasinya?

Karena aku sudah berkali-kali menjadi korban di kampung halaman, aku sama sekali tidak bisa bersimpati pada monster dan punya kepercayaan diri untuk membasmi mereka tanpa perasaan.

Tapi aku tidak berniat memaksakan pola pikir itu pada monster panggilanku! Sebelum Hydra merasa semakin sedih, sebaiknya kita hentikan saja ini dan pergi makan sesuatu yang enak!

Lagipula, pemikiran soal mengikuti jejak pahlawan kuno demi keberuntungan itu sudah kuno, kan! Seperti kata wali kelas tadi, Summoner zaman sekarang harusnya bertindak dengan lebih rasional!

"Aku mengerti. Aku dan monster panggilanku dulu juga begitu."

Guru...?

"Dia monster panggilan yang baik hati dan tidak suka pertikaian. Tapi dia memiliki aturan rasnya sendiri. Pengalaman melewati berbagai ujian bersama-sama adalah hal yang sangat penting dalam membangun hubungan kami setelahnya. Ya, itu terjadi di tengah memuncaknya konflik dengan negara musuh... Slava—"

Kenapa tiba-tiba wali kelas datang ke sampingku dan mulai bercerita tentang masa lalu?

Tiba-tiba mulai bercerita panjang lebar begini, mengingatkanku pada orang-orang tua di desa. Mereka semua bukan orang jahat, tapi ceritanya itu lho, panjang sekali...

"—karena itulah, kau tidak perlu khawatir jika tidak bisa membasmi monster di sini sekarang. Aku memang tidak bisa memberimu nilai tambahan, tapi kau bisa tumbuh bersama monster panggilanmu mulai sekarang. Karena seorang Summoner bukan hanya soal kemampuan tempur, tapi juga soal memupuk ikatan dengan monster panggilannya."

"Ah, iya."

Sepertinya ceritanya sudah selesai! Syukurlah dia mendarat sebelum matahari terbenam!

Ada bagian yang tidak sempat kudengar, tapi intinya sepertinya tidak apa-apa kalau tidak membasmi monsternya. Ayo segera hentikan pertarungan ini dan—eh.

"...Shi... u..."

Kura-kura itu berubah menjadi partikel mana dan mulai menghilang! Karena terus terkurung di dalam bola air, sepertinya dia mati lemas selama cerita panjang tadi! Ini adalah kecelakaan yang malang!

"Ah... eeitu, soal itu..."

"..."

Hydra yang akhirnya tetap membasmi kura-kura padahal sudah dibela oleh guru, dan sang guru yang cerita mengharukannya jadi sia-sia, keduanya terlihat sama-sama canggung!

Di desa pun, aku sering dimarahi karena tertawa saat pertemuan atau ritual serius. Tapi entah kenapa, di saat suasana dilarang tertawa seperti ini, semuanya malah terasa jadi lucu ya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close