Chapter 9
Cara Memuji Seorang Wanita
"Hei,
rakyat jelata! Di mana kau sembunyikan Tuan Jade! Percuma saja kau mencoba
menutup-nutupinya!"
"Hati-hati.
Dia itu tipe orang yang memenangkan duel dengan cara yang licik, dia tidak akan
ragu untuk membunuh orang."
Halo, namaku
Heresy!
Setelah
kejadian itu, dengan dipandu oleh Sensei yang tampak agak merasa tidak enak,
kami kembali ke akademi. Kami menyelesaikan rangkuman materi pelajaran di
kelas, lalu bubar saat jam pulang sekolah tiba!
Sekarang, aku
sedang dipanggil ke belakang gedung sekolah dan dikepung oleh tiga laki-laki
yang sepertinya adalah pengikut Jade-kun! Sejak mereka mengajakku bicara, aku
sudah punya firasat buruk, tapi karena kami adalah teman sekolah yang akan
bertemu setiap hari, kupikir lebih baik segera meluruskan kesalahpahaman jika
memang ada. Makanya aku datang!
Mengingat
besarnya kemungkinan mereka menganggapku sebagai orang berbahaya yang
mencelakai Jade-kun, aku perlu menunjukkan sikap yang tidak berbahaya dan
bersahabat!
Pertama-tama,
mari kita cairkan kewaspadaan lawan dengan senyuman!
"Sial,
apa-apaan ekspresimu itu!? Kami tidak akan tunduk pada ancaman seperti
itu!"
"Beraninya
rakyat jelata meremehkan kami...!"
Bukan, ini
senyuman, lho. Senyuman tanda persahabatan.
Ah, benar
juga! Karena ini kesempatan langka, bagaimana kalau mereka bertiga sekalian
jadi temanku saja? Kami punya kenalan yang sama, yaitu Jade-kun, jadi aku
merasa kalau kesalahpahaman ini lurus, kami bisa akrab!
"Hei,
suaramu terlalu keras. Kita sudah diperingatkan untuk tidak memprovokasinya
sampai bukti-buktinya terkumpul untuk dilaporkan. Kalau sampai ada yang tahu
dan jadi keributan, posisi kita yang akan sulit."
"Peringatan
itu pasti cuma konspirasi dari faksi lain! Selagi kita begini, mungkin saja
Tuan Jade sedang menderita!? Kita tidak punya waktu untuk bersantai!"
Faksi,
ya, faksi. ...Aku agak tidak mengerti soal itu! Maaf ya, tapi aku juga tidak
tertarik!
Ibu
kota kerajaan itu seperti tempat berkumpulnya para bangsawan, jadi wajar saja
hal-hal seperti itu ada. Status, keuntungan, tawar-menawar... bersosialisasi
sambil memikirkan banyak hal seperti itu sepertinya sangat merepotkan...
maksudku, sangat berbudaya, ya!
Ngomong-ngomong,
aku belum pernah benar-benar memikirkannya, tapi sebenarnya seberapa tinggi
derajat kebangsawanan Jade-kun? Kelas menengah?
"Summon
Beast mengerikan yang dia kontrak itu tidak punya kemampuan tempur yang
berarti. Aku tidak tahu dia punya Summon Beast lain atau tidak, tapi kalau
digabungkan dengan Summon Beast baru yang baru saja kami jinakkan, tidak
mungkin kami kalah. Kita hajar dia sampai babak belur dan paksa dia membocorkan
semuanya!"
"Tidak,
menggunakan Summon Beast itu agak bahaya. Kalau ada yang melihat, kita tidak
akan bisa mengelak lagi."
"Kalau
begitu, tinggal bilang saja kalau Summon Beast miliknya yang menyerang duluan! Tidak akan ada yang mau mendengarkan
kata-kata rakyat jelata seperti dia!"
"...Begitu
ya, benar juga."
Selagi aku
memikirkan latar belakang keluarga Jade-kun, pembicaraan mereka jadi agak
mengerikan. Apa situasinya memungkinkan mereka untuk mendengarkan pembelaanku?
Sepertinya
tidak bisa?
Mungkin lebih
baik aku mengikuti kemauan mereka dulu untuk sementara, baru kemudian
melanjutkan pembicaraan! Kakek pemilik toko senjata di kampung halamanku juga
pernah bilang, "Laki-laki bisa berdamai setelah saling adu jotos,"
jadi mungkin saja persahabatan kami akan langsung bersemi setelah ini!
"Hentikan."
Hm?
"Siapa
wanita ini? ...C-Cantik sekali..."
"Siapa...
wanita... ini...?"
"Entahlah,
siapa ya?"
Itu
Konko-san! Konko-san muncul dalam wujud manusianya! Halo! Kebetulan sekali ya
bertemu di tempat seperti ini!
Sepertinya
tiga pengikut Jade-kun itu terkejut melihat wajahnya yang begitu cantik sampai
bisa salah dikira sebagai karya seni! Selama dia tidak melakukan hal-hal aneh,
dia memang orang yang sangat cantik, jadi aku bisa mengerti perasaan mereka!
"Telinga
itu, ekor itu... apa, seorang Summon Beast? ...Tapi tetap saja, cantik
sekali... siapa tuannya...?"
"Jadi dia seorang Summon Beast...
tapi, fisiknya sungguh sempurna... entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan
pandangan..."
"Naluri
lelakiku terangsang secara paksa... aromanya... membuatku gila..."
"Hm...? Ah, begitu ya. Hehe."
Lucu juga
melihat Konko-san dikomentari macam-macam seperti itu!
Melihat
reaksi mereka bertiga, Konko-san melipat tangan sambil membusungkan dada dengan
ekspresi yang seolah berkata "itu sudah sewajarnya," lalu dia melirik
ke arahku... apa?
Aku juga
harus mengatakan hal seperti itu?
"Ooh,
betapa cantiknya... dan senyum mencurigakanmu itu juga manis."
"Bukan
begitu, tahu."
Sepertinya
salah! Memuji wanita ternyata jauh lebih sulit dari yang kukira. Kalau Happy,
kami sudah berteman lama, jadi aku tahu persis kata-kata apa yang akan
membuatnya senang.
『Benarkah begitu...?』
"Aroma
yang manis... pikiranku jadi kacau... sial, aku tidak bisa memikirkan hal
lain..."
"Aku
menginginkannya... aku benar-benar menginginkan Summon Beast ini... tidak
bisakah kontraknya dipindahkan padaku...?"
"Kalau
tuannya cuma rakyat jelata, masih ada kemungkinan... dengan uang, atau
memberinya status..."
Bukankah
mereka bertiga jadi agak aneh? Aku memang tidak terlalu paham, tapi bukankah
ini bukan reaksi yang wajar, bahkan untuk tuan bangsawan sekalipun?
Melihat
situasinya, sepertinya mereka terkena semacam pengaruh dari Konko-san. Gangguan
mental seperti ini biasanya akan jadi masalah besar nantinya... yah, karena
tidak ada hubungannya denganku, biarlah!
Daripada itu,
yang menarik dari pembicaraan mereka adalah bahwa kontrak dengan Summon Beast
sepertinya bisa dipindahkan ke Summoner lain! Aku pernah dengar kalau Summon
Beast bisa diwariskan dalam keluarga seperti kasus Jade-kun, tapi aku tidak
pernah terpikir untuk melakukan kontrak ulang dengan orang lain yang bahkan
tidak punya hubungan darah!
Memang benar
kalau setelah kontrak kita mungkin saja menemukan partner yang lebih
diinginkan, jadi mungkin akan lebih menenangkan bagi kedua belah pihak jika ada
semacam masa percobaan!
Apa aku sudah
bersikap tidak sopan pada Hydra?
"Hei,
Summon Beast. Anda... bukan, kau, siapa namamu? Siapa tuanmu? Kalau denganku,
aku bisa menjamin hidupmu tidak akan pernah kekurangan selamanya. Apa kau tidak berniat melakukan
kontrak ulang?"
"Tidak,
tunggu dulu! Aku bisa menyiapkan uang lebih banyak! Maukah kau berkontrak
denganku!"
"Keluargaku
adalah yang punya relasi paling luas di kalangan sosial! Berkontraklah
denganku!"
"Aku
adalah yang paling ahli dalam menggunakan alat tani!"
Karena sesi
promosi diri tiba-tiba dimulai, aku ikut nimbrung saja! Kata-kata ajakan yang
sangat bersemangat saling bersahutan, tapi melihat kasus Jade-kun, apa cara
pendekatan bangsawan memang dasarnya seperti ini?
Rasanya
menarik seperti sedang menonton sandiwara!
Jadwal
tahunan akademi mencantumkan cukup banyak hari untuk pelajaran tata krama
sosial dan aku sempat berpikir itu akan merepotkan, tapi kalau aku
menganggapnya sebagai sandiwara atau komedi seperti ini, sepertinya aku bisa
menikmati pelajarannya!
Memang benar,
cara berpikir itu yang paling penting!
Di kalangan
sosial nanti, Leticia juga pasti akan didekati oleh seseorang seperti ini. Dia
sangat cantik, status bangsawannya juga sepertinya tinggi, pasti dia sangat
populer di kalangan semua usia... ah, ada Jade-kun, ya...
"Eh,
kalau begitu bagaimana kalau aku memilihmu saja, kamu yang ahli pakai alat
tani? Kamu ikut bicara karena sudah paham alurnya, kan? Kamu mau berkontrak
denganku, kan? Aku pegang kata-katamu, ya?"
"Eh, ya
tidak mungkin lah. Cuma bercanda, bercanda. Aku sudah punya Happy dan Hydra.
Lagipula, bukannya kamu juga cukup menyukai Leticia? Kamu tidak berniat
mengganti tuanmu, kan?"
"..."
Dari wajah
menyeringai penuh percaya diri, ekspresi Konko-san berubah drastis menjadi
sesuatu yang sulit dijelaskan. Dia langsung menarik lenganku dan mulai berjalan dengan langkah cepat!
Seperti
biasa, ketika dia menempel begitu, tekanannya terasa luar biasa!
Ketiga
pengikut Jade-kun itu sampai mematung dengan mata terbelalak melihat aura
Konko-san yang tidak menerima bantahan!
Ini
suasananya sepertinya kami tidak akan kembali lagi ke sana! Selamat tinggal!
◆
"Eh...
yang tadi itu... ilusi...?"
"Bukan...
aku tidak salah lihat. Ada wanita yang luar biasa cantik sedang berjalan."
"Apa di
akademi ini ada wanita seperti itu...? Tidak, apa dia
Summon Beast...?"
"Cantik
sekali... kosmetik apa yang dia pakai, ya."
Selama kami
meninggalkan area belakang gedung sekolah, Konko-san tetap diam dan pura-pura
merajuk, tapi di tengah jalan saat aku mengajaknya makan malam, dia langsung
ceria kembali!
Gampang
baikan... maksudku, dia orang yang jujur dan mudah diajak berteman, ya!
Tapi
melihat bagaimana Konko-san menarik perhatian semua orang sampai mereka menoleh
setiap kali kami berpapasan, aku jadi merasa khawatir apakah tidak apa-apa jika
kami pergi ke kota bersama-sama seperti ini!
Sudah pasti
akan mengganggu lalu lintas!
"Berbeda
dengan tadi, meskipun aku sudah menekan daya pikatku sepenuhnya, sepertinya aku
masih tetap menarik perhatian. Maaf ya karena aku ini murni terlalu
cantik?"
"Meskipun
itu fakta, berani sekali ya kamu mengatakannya sendiri."
Memang bagus
bisa menilai diri sendiri secara objektif, tapi menurutku terkadang kerendahan
hati itu juga perlu!
Omong-omong,
dari cara bicara Konko-san, sepertinya tiga pengikut Jade-kun tadi memang
benar-benar terkena pengaruh darinya!
Ini sih
namanya kriminal.
"Kalau
bisa ditekan, harusnya kamu lakukan itu sejak di belakang gedung tadi. Aku akan
repot kalau mereka bertiga terus-terusan seperti itu."
"Tenang
saja, tenang saja. Aku sudah sangat menahan diri, jadi sekarang mereka pasti
sudah kembali normal. Lagipula, yang tadi itu hanyalah hasil dari melemahnya
akal sehat mereka sendiri. Keinginan untuk memilikiku dan melakukan sesuka hati
pada kulit lembutku yang terhimpit pakaian ini adalah hasrat yang muncul dari
diri mereka sendiri secara spontan. Maaf ya karena tubuhku terlalu
menggoda?"
"Iya,
iya."
"Bisa
tolong katakan dengan perasaan?"
Dia agak
merepotkan kalau sudah begini... karena aku lelah sehabis pelajaran, maaf ya
kalau jawabanku jadi seadanya!
Aku tidak
terlalu paham, tapi kejahatan yang mengganggu mental sepertinya hukumannya
berat, jadi menurutku sebaiknya kamu memeriksa hukum yang berlaku kapan-kapan!
"Sekadar
mengingatkan, jangan gunakan kekuatan seperti itu pada Leticia, ya? Entah
kenapa, aku merasa dia agak lemah terhadap hal-hal seperti itu."
"Begitu
ya... itu sepertinya menarik juga."
"Apa
kita ini sedang mengobrol?"
Bukan begitu,
tidak boleh. Niatku ingin memperingatkannya tapi malah jadi bumerang! Apa lebih
baik aku diam saja?
"Lagipula,
menurutku yang harus berhati-hati dalam menggunakan kekuatan itu kalian, bukan
aku. Meskipun aku begini, aku merasa tingkatanku cukup tinggi di permukaan
tanah, tapi membuatku pingsan hanya dengan satu serangan meskipun dalam wujud
Summon Beast itu sungguh tidak normal. Perbuatan yang bahkan tidak takut pada
Tuhan itu benar-benar membuatku kagum."
"Kalau
soal kejadian kemarin, kupikir itu salahmu sendiri..."
"Yah,
karena bidang kita sepertinya berbeda, aku tidak berniat mencampuri kalian ini
sebenarnya apa. Mari kita tidak saling ikut campur terlalu dalam dan rukun
saja, ya."
Konko-san
mengedipkan mata dengan suasana seolah dia baru saja menemukan kawan sejenis di
negeri asing, tapi aku ini cuma rakyat jelata yang ingin bertani di kampung
halaman setelah lulus akademi, jadi tolong jangan berpikiran yang aneh-aneh!
Sambil
ditarik lengannya dan melihat senyum ceria Konko-san yang merasa sudah punya
kawan, kami sampai di area yang seperti taman alam tapi tidak ada orang!
Di akademi
ini, ada banyak tempat yang tersebar yang sepertinya sangat jarang digunakan
seperti taman ini! Dari mana ya biaya perawatan untuk area-area seperti ini
berasal!
Selagi aku
memikirkan ke mana perginya pajak yang kubayar dengan susah payah, satu sosok
manusia mendekat dari arah depan!
Dia pendek,
secara keseluruhan agak bulat, dan bagian atas kepalanya licin mengkilap... itu
kan Wakil Kepala Sekolah! Aku mengingatnya karena dia berpidato saat upacara
penerimaan siswa baru! Halo!
Melihat
wajahnya yang cemberut dan tampak sangat tidak senang, mungkin dia sedang
jalan-jalan untuk menyegarkan pikirannya?
Orang yang
suasana hatinya sedang buruk begini, kalau sembarangan ditegur bisa-bisa malah
disemprot, jadi menurutku cara bersikap yang bijak adalah dengan memberikan
anggukan kecil saja lalu lewat dengan tenang!
"Kau
yang bernama Heresy, kan?"
Ah,
namaku dipanggil! Aku tidak menyentuhnya tapi rasanya tetap kena semprot!
Ahaha!
"Aku
sudah melihat buku daftar siswa. Kau berasal dari desa itu, kan? Apa yang kau
rencanakan sampai jauh-jauh datang ke ibu kota? Berhentilah menggangguku, dasar
rakyat jelata desa!"
"Ya...?"
Sepertinya
dia marah soal kampung halamanku? Tapi kepala desa yang sekarang bilang kalau
desa kami adalah desa teladan yang selalu membayar pajak tepat waktu setiap
tahun...?
Saat
aku sedang memiringkan kepala karena tiba-tiba diteriaki, entah kapan dia
melakukannya, Konko-san sudah berada di belakangku dan bersandar sambil memeluk
kepalaku!
Aku
berterima kasih karena dia menahan berat badannya supaya aku tidak gepeng, tapi
bercanda di depan pemegang kekuasaan tertinggi di akademi itu sepertinya akan
berdampak buruk nantinya, jadi hentikan saja!
"Pria
paruh baya ini adalah Wakil Kepala Sekolah, Kedel Ostinato. Bangsawan yang
dirumorkan mendapatkan posisi wakil ini setelah menjilat Kepala Sekolah dengan
kata-kata manisnya. Sekarang sepertinya putri kandungnya yang mengelola wilayah
sebagai kepala keluarga."
"...Konko-san,
kenapa kamu tahu banyak soal urusan di ibu kota? Kamu kan baru dipanggil kemarin?"
"Tidak,
aku hanya menggeledah perpustakaan di kediaman tadi. Bukankah mengumpulkan
informasi itu dasar dari segala hal? Meski ini semacam taruhan, aku beruntung
dipanggil oleh bangsawan berpangkat tinggi."
"Summon
Beast yang menakutkan, ya."
Aku
tidak tahu kontrak macam apa yang dibuat Konko-san dengan Leticia, tapi apa
wajar di kalangan bangsawan kalau Summon Beast yang baru saja dipanggil bisa
berbuat sesukanya seperti ini?
Hatinya
lapang sekali ya.
"Apa-apaan
Summon Beast tidak sopan ini!? ...Eh? Magic Tool perlindungan mental milikku
terkuras...!? Hei, Summon Beast, hentikan gangguan mental itu sekarang juga!
Magic Tool ini bukan disiapkan untuk menghadapi hal semacam dirimu! Sekarang
aku sedang bicara dengan si bodoh ini! Pergilah ke suatu tempat!"
"Ah,
maaf, maaf. ...Maaf ya Heresy. Aku tidak bisa membuatnya diam."
"Aku
tidak tahu apa yang ingin kamu lakukan, tapi tolong jangan bicara seolah-olah
aku yang menyuruhmu."
Hee,
ternyata ada Magic Tool yang bisa melindungi mental, ya! Aku tidak tahu kenapa
Wakil Kepala Sekolah yang datang untuk bicara denganku memakai barang seperti
itu, tapi aku sangat ingin merekomendasikannya pada pengikut Jade-kun!
"Aku
tidak menyangka akan melihat nama desa terkutuk itu di ibu kota, apalagi di
akademiku sendiri. Dulu aku dibuat menderita begitu hebat, dan saat kupikir
akhirnya aku bebas setelah pindah ke ibu kota, malah muncul ini! Benar-benar
sangat tidak menyenangkan, dan sejujurnya aku ragu apakah benar-benar ada orang
yang punya bakat sihir pemanggilan dari antara orang-orang desa sinting itu.
Kau, jangan-jangan kau masuk lewat jalur ilegal hanya untuk
menggangguku!?"
Hmm... itu,
ya. Kesan pertamanya sepertinya agak buruk?
Padahal ini
seharusnya pertama kalinya aku bertemu langsung dengan Wakil Kepala Sekolah,
apa mungkin aku pernah membuat masalah soal desa di masa lalu?
Ngomong-ngomong,
Ostinato rasanya seperti nama yang pernah kudengar...
『Itu adalah Tuan Tanah. Kita memang tidak pernah bertemu
langsung sebelumnya...』
...Oh
iya, benar juga! Biasanya hanya orang dari kantor perwakilan saja yang datang
ke desa saat ada pengumuman, dan urusan yang sulit ditangani oleh para tetua,
jadi aku tidak bisa mengingatnya!
"Aku
bisa saja mengeluarkanmu menggunakan wewenangku, tapi aku akan repot kalau kau
kembali ke kampung halaman dan menyusahkan putriku. Kalau kau memang
benar-benar tidak melakukan kecurangan saat ujian masuk, setidaknya milikilah
akal sehat selama kehidupan akademimu. Lalu setelah kau pulang, sampaikan itu
pada orang-orang bodoh di desa. Dengan begitu beban putriku mungkin akan
sedikit berkurang."
"Saya
mengerti...?"
"Dengar
ya, aku paling benci orang yang membuat masalah yang tidak bisa ditulis di
laporan. Orang bodoh seperti penduduk desa itu, orang yang tidak tahu tata
krama, dan orang yang tidak memikirkan apa-apa sepertimu! Kalau kau sampai
membuat masalah di akademi ini, aku sendiri yang akan menghajarmu sampai
sifatmu berubah...!? Hei, Summon Beast! Sudah kubilang hentikan gangguan mental
itu! Sialan, mengisi ulang mana untuk Magic Tool ini sangat merepotkan,
tahu!?"
"Maaf,
maaf, karena bicaramu sepertinya bakal panjang, aku jadi tidak sengaja
melakukannya. ...Heresy, maaf tapi sepertinya aku gagal lagi. Padahal kau sudah
susah-susah memberi instruksi."
"Kan
sudah kubilang jangan bicara seolah aku yang menyuruhmu?"
Bermain-main
dengan Wakil Kepala Sekolah itu benar-benar tidak baik! Tapi, meskipun dia
terkena jahilan tingkat kriminal begini dan hanya memberi peringatan saja,
sejujurnya dia cukup toleran, ya!
Sama
seperti teman sekelas lainnya, para bangsawan ini kalau diajak bicara langsung
ternyata jauh lebih asyik dan mudah didekati daripada yang kudengar di desa!
Sepertinya mereka tidak memikirkan hal-hal terlalu dalam, atau mungkin bicara hanya berdasarkan refleks saraf tulang belakang... ah, maksudku dalam artian yang positif! Dalam artian positif, ya!



Post a Comment