Chapter
15
Panduan
Audio Pendamping
"Anu... aku sudah punya janji
setelah ini, jadi..."
"Janji?
Hal seperti itu bisa kami bantu belakangan. Kami akan memberimu imbalan yang melimpah, kok."
"Benar,
benar, kami hanya minta kamu menemani kami sebentar saja. Ya, kan?"
Halo, namaku
Heresy!
Setelah
menelan kekalahan telak dalam simulasi pertarungan tanpa bisa menyentuh seujung
jari pun pada Leticia, aku mengadakan sesi evaluasi bersama Rachel-san di ruang
kelas pinjaman. Kami saling memuji perjuangan satu sama lain sambil bertukar
informasi!
Berdasarkan
informasi sangat rahasia yang kudapatkan, sepertinya Leticia memang sudah
unggul dalam manipulasi mana sejak dulu!
Lalu,
Rachel-san ternyata punya kecocokan dengan sihir api, senjata andalannya adalah
cambuk keras, punya kakak perempuan yang dia kagumi, hobinya latihan tempur dan
memasak, akhir-akhir ini lingkar dada pakaiannya terasa semakin sesak, dan
katanya tadi malam bintang-bintang terlihat sangat indah! Banyak sekali ya
informasi bonusnya!
Sekarang
adalah waktu pulang sekolah! Setelah mengantar beberapa teman sekelas yang
pulang bersama pengawal baru mereka, aku kembali ke asrama sendirian untuk
berganti pakaian, lalu pergi ke kota sendirian untuk mencari Savant-sensei!
Sendirian! Aneh, ya!
Seingatku
sebelum simulasi tadi, Eagas-sensei bilang akan memberiku pengawal... apa
mungkin karena kekuatan Hydra dinilai sangat tinggi, sehingga kemampuan bela
diri total-ku dianggap sudah cukup?
Kalau
benar begitu, sebagai Kontraktor aku sangat senang! Karena bagaimanapun juga,
aku merasa berkali-kali lipat lebih bahagia saat monster panggilanku yang
dipuji daripada diriku sendiri!
"Meski
kalian bilang begitu... umm, aku sedang kesulitan..."
"Tidak
masalah, kan? Cuma minta tolong ditunjukkan jalan sebentar. Kami juga baru saja
sampai di ibu kota dan sedang kebingungan, tahu?"
"Lihat,
barang bawaanmu biar kami yang bawakan. Boleh, kan? Ya? Sebentar saja
kok."
『Orang-orang di sana itu, bukankah
sepertinya sedang bertengkar...?』
Karena aku
penasaran dengan kedai makanan ringan yang kelihatannya enak yang kulihat
kemarin, aku berencana pergi ke sana hari ini! Berjalan dengan teliti di kota
itu menyenangkan karena selalu ada penemuan baru yang berbeda dari biasanya!
『Anu... Anda sudah masuk ke dalam jarak
pandang wanita itu. Jalannya juga sempit, jadi sepertinya sulit untuk
mengabaikan mereka...』
"Benarkah?"
Karena aku
sudah mulai terbiasa pergi ke jalan utama, aku mencoba mengambil jalan pintas
melalui gang belakang, tapi sepertinya aku salah memilih jalan!
Di depanku
ada satu wanita dan dua laki-laki! Kelihatannya seperti gangguan paksa terhadap
wanita, ternyata di kota besar hal seperti itu benar-benar ada ya!
Bisa melihat
langsung adegan yang mirip dengan pembukaan sandiwara murahan begini, aku
benar-benar bersyukur sudah datang jauh-jauh ke ibu kota!
Terima kasih
atas pengalaman berharganya! Sekarang, karena kalian menghalangi jalan, tolong
semuanya pergi ke suatu tempat sana!
『Mau aku muncul?』
Tidak, biar
aku tangani sendiri! Kalau aku meminta Happy keluar di sini, lalu Leticia
ketakutan lagi dan menerobos masuk ke kamarku seperti kemarin, kasihan dia,
kan!
Lagipula
kalau dipikir-pikir, ada kemungkinan laki-laki itu memang benar-benar tersesat!
Jika mereka
orang desa yang baru datang ke kota seperti kami, aku merasa sedikit simpati.
Kalau tujuannya dekat, mungkin aku bisa mengantar mereka!
"Maaf
mengganggu pembicaraan kalian, kalau kalian mau, biar aku saja yang
mengantar?"
"Siapa
bocah ini?"
"Cih,
padahal biasanya tidak ada orang lewat sini. Sial sekali."
"Ke mana
tujuan kalian? Sebenarnya begini-begini aku cukup paham seluk-beluk ibu kota.
Aku yakin bisa membantu."
"Kamu
bisa lihat sendiri, kan? Kami sedang asyik di sini, jadi pergilah sana."
"Menjijikkan
sekali anak ini."
Wah,
responnya lebih buruk dari bayanganku!
Aku mencoba
bergaya seperti senior yang sudah lebih dulu masuk ke ibu kota, tapi sepertinya
bagi junior hal seperti itu memang terasa menyebalkan ya? Jika nanti aku
berhasil naik kelas dan ada junior yang masuk, aku akan memanfaatkan pengalaman
ini agar tidak dibenci oleh mereka!
"Aku
kebetulan mau pergi ke jalan utama sekarang. Mau ikut bersamaku?"
"Berisik
sekali. Apa kamu berniat menolong gadis ini? Kalau meremehkan kami, kamu bisa
celaka, tahu? Ha?"
"Ada
saja ya, orang bodoh yang salah paham begini. Sekali pukul pasti langsung sadar. Seperti ini...
hyaa!"
Eh,
sepertinya aku mau dipukul? Di ibu kota ini, dibandingkan kota besar lainnya,
bangsawan dan orang-orang yang berhubungan dengan mereka sangat banyak, jadi
lebih baik jangan sembarangan menyerang orang yang tidak dikenal identitasnya!
『Tidak boleh.』
"...!?
A... apa-apaan ini!?"
Sambil
meniupkan "angin senior" tambahan di dalam hati saat melihat tinju
yang mengarah padaku, Happy mengeluarkan gumpalan daging lembut di depanku
untuk melindungiku! Kerja bagus, Happy!
Trik
mencurangi dunia dengan melakukan intervensi tanpa menampakkan diri sepenuhnya
ini membuatku terlihat seperti sedang menggunakan sihir, keren sekali ya!
Jadi teringat
saat kecil dulu aku sering bermain pura-pura jadi penyihir! Waktu aku pamerkan
ke orang-orang dewasa karena kupikir bakal sukses besar, ternyata malah garing
sekali sampai-sampai jadinya lucu!
『Itu memang lucu sekali... tapi
melakukannya di usia sekarang agak memalukan juga...』
Kita kan
masih muda, jadi tidak apa-apa! Menurutku tidak baik kalau hanya karena datang
ke kota besar kita jadi sok dewasa dan mencoba terlihat tenang! Begitu kembali
ke asrama, ayo kita mainkan lagi setelah sekian lama!
"Uwaaaa!
Darah, darahnya! C-cih, menjijikkan!"
Oho,
reaksinya bagus. Ternyata kalau lawannya orang muda, sensibilitasnya masih kaya
dan mudah memberikan respon ya! Di desa, selain teman sebaya, isinya cuma orang
tua saja jadi ini terasa segar!
『Bukankah itu... salah bicara...? Nanti
dimarahi Ibu lagi lho.』
Ah, Ibu itu
pengecualian! Ibu pengecualian! Wah, aku keceplosan! Karena Ibu muda dan
cantik, aku jadi menghitungnya sebagai teman sebaya! Oke, pembicaraan ini
selesai!
"Keparat,
apa-apaan ini! O-oi, anak ini gawat!"
"Jangan-jangan
dia penyihir kutukan...!? Kita bakal dikutuk, lari!"
"Oi, oi,
tunggu! Aku juga ikut! Jangan lari sendirian!"
"Mereka
pergi."
Padahal
mereka bilang tidak tahu jalan, apa tidak apa-apa lari begitu saja tanpa
bertanya? Menurutku kekerasan itu tidak baik, tapi daripada memaksakan diri di
depan wanita, lebih baik mereka minta tolong ditunjukkan jalan saja tadi!
Karena
awalnya semua orang itu tidak tahu apa-apa, menurutku cara hidup yang pintar
adalah dengan jujur meminta diajari oleh orang lain!
"Terima
kasih banyak. Anda sendiri yang sampai turun tangan membantu orang seperti
saya... ini adalah kehormatan yang teramat besar."
"He?
Umm...?"
Tanpa
kusadari, wanita itu sudah berlutut di kakiku. Ada apa ini? Yang melakukan
intervensi kan Happy, dan meskipun aku yang terlihat melakukannya, bukankah ini
terlalu formal? Orang yang sangat taat aturan ya!
"Utusan-sama...
kami sudah menunggu Anda. Saya sangat bahagia bisa mengukir wujud Anda di mata
saya di akhir hayat ini! Terima kasih... terima kasih banyak...!"
"Begitu
ya."
Ya, aku
mengerti. Ini tipe
orang yang agak gawat!
Intensitas
panas di tatapannya luar biasa, apa yang dia katakan tidak masuk akal, aku
bingung harus merespons apa karena dihormati secara aneh begini. Rasanya ini
jadi lebih merepotkan daripada menghadapi dua orang tadi!
Katanya
menolong orang tidak boleh mengharap imbalan, tapi aku sama sekali tidak
menyangka akan jadi begini! Hidup memang rangkaian pilihan yang sulit ya!
"Setelah
menerima pesan dari petinggi lain yang menyusup di akademi sampai kemarin, kami
mengubah rencana dengan lebih mementingkan kecepatan daripada kepastian. Berkat
itu, benda terkutuk yang dipenuhi doa, juga tumbal, jumlahnya sudah mencukupi. Alkitab yang dibawa dari perbatasan
beberapa tahun lalu... persiapan untuk melaksanakan ritual itu sudah selesai.
Sudikah Anda melakukan pemeriksaan?"
"Pemeriksaan...?"
"Benar.
Jika melihat sosok Anda, yang lain pun akan semakin bersemangat. Kumohon,
maukah Anda ikut bersama saya? Anda pasti lelah setelah berjalan sejauh ini,
jadi mari kita mampir dulu ke kafe terdekat untuk beristirahat..."
Ya,
sepertinya memang pembicaraan kami agak tidak nyambung! Dia bicara soal kafe
dan sebagainya, apa ini ajakan masuk sekte agama baru? Apa nanti orang yang
lebih ahli akan bergabung?
Aku ingin dia
berhenti karena kalau ada yang melihat wanita cantik berlutut di kakiku begini,
nanti disangka yang tidak-tidak.
Tapi apa ini
juga termasuk teknik negosiasi untuk membuat ajakannya sulit ditolak? Cara yang
mirip ancaman begini harusnya ditindak tegas oleh hukum!
"Berhentilah."
Hmm?
"...Siapa
Anda?"
"Dia
sudah punya janji denganku sekarang. Kalau mau mengajaknya berkencan malam,
lain kali saja ya."
"Be-begitukah...?"
Ah, Konko-san! Konko-san dalam wujud
manusia sempurna yang menyembunyikan telinga dan ekornya muncul! Halo!
Sepertinya dulu kamu juga muncul di
saat yang mirip begini, kebetulan yang luar biasa ya!
Aku sama
sekali tidak punya janji bertemu Konko-san, tapi sepertinya dia sedang
memberiku bantuan jadi mari aku ikuti saja alurnya! Kalau aku bilang jadwalku padat, orang sekte itu
pasti akan mundur, kan!
"Iya,
itu benar. Aku sudah punya janji dengannya sekarang. Maaf ya."
"Sekarang
kami akan berkencan berdua, dan terakhir rencananya kami akan menghabiskan
malam bersama di penginapan dengan pemandangan malam yang indah."
"Benar
sekali... hmm?"
"Oh,
barusan kamu mengiyakan, kan? Bukti ucapan sudah kudapatkan ya?"
"Be-begitukah.
Sayang sekali..."
Wanita di
kakiku sepertinya mengalah meski terlihat enggan, tapi sebagai gantinya aku
malah terjebak siasat Konko-san! Yah, mungkin dia tidak serius, tapi Konko-san
memang suka bercanda seperti ini ya. Padahal kalau diam dia terlihat
berwibawa...
"Kalau
begitu, saya akan kembali agar tidak mengganggu. Mohon bantuannya di hari
pelaksanaan nanti."
Wanita sekte
itu berdiri, membungkuk dalam, lalu pergi! Katanya pekerjaan seperti itu punya
target kuota anggota baru jadi pasti berat ya! Aku sama sekali tidak berniat
masuk sekte, tapi karena sepertinya aku bisa mendengar cerita menarik, mungkin
nanti kalau bertemu lagi di kota akan kuajak minum teh?
"Terima
kasih Konko-san. Kamu membantuku."
"Jangan
dipikirkan. Daripada itu, apa wanita tadi itu pengikutmu? Jika dia terlalu
merepotkan, sesekali memberinya instruksi yang jelas adalah tugas seorang
pemimpin, lho. Lagipula, bekas darah penuh kesialan di sana itu pasti perbuatan
kalian juga, kan? Kali ini akan aku bersihkan, tapi bertindaklah dengan sedikit
lebih sadar akan kedudukanmu sebagai atasan..."
"Maaf,
sebenarnya menurutmu aku ini makhluk apa?"
Bisa
berhenti menegurku sambil tersenyum tipis begitu tidak?
Kamu pasti
mengatakan itu karena merasa lucu, kan. Candaan seperti itu tidak baik karena
bisa saja ada orang yang benar-benar percaya!
"Yah,
soal cara berinteraksi dengan pengikut akan kita bahas lain kali. Ayo segera
pergi ke kota. Ada tempat yang ingin aku minta kamu periksa dengan
matamu."
"Ah,
jadi kencan itu benar-benar dilakukan ya."
"Tentu
saja. Atau kamu keberatan? Manusia biasa pasti akan menangis bahagia bisa
berkencan denganku, lho. Mungkin."
"Hee~. ...Mungkin?"
"Ya,
begitulah. Sampai sekarang aku tidak punya pengalaman mengajak seseorang
seperti ini. Aku tidak akan menyatakan hal yang tidak pasti secara tegas."
"Hee,
begitu ya. Aku
mengerti."
"Apa-apaan
tatapan seperti sedang melihat gadis polos itu. ...Ah, bukan begitu ya! Bukan! Kamu salah paham
besar!"
Sambil
mengobrol asyik seperti itu dengan Konko-san, tak lama kemudian dia berhenti di
depan sebuah bangunan besar! Apa tujuannya di sini? Dilihat dari bendera yang
berkibar, sepertinya ini gereja!
"—Sekadar
memberitahu saja, aku hanya belum punya perasaan seperti itu karena tidak ada
kesempatan sampai baru-baru ini. Jadi imajinasimu itu murni kesalahpahaman,
bukan berarti aku ini gadis polos tanpa pengalaman yang sok tahu... apa kamu
mendengarkanku!"
"Iya,
aku dengar, kok. Daripada itu, tempat tujuannya di sini, kan? Apa yang harus
kulihat?"
"Ups,
benar juga... ehem."
Saat aku
meminta penjelasan pada Konko-san yang masih bercerita dengan semangat, dia
berdehem sedikit lalu memperbaiki postur tubuhnya dan memancarkan atmosfer yang
suci!
Dia
menyebarkan apa yang disebut spiritual status seolah sedang
mengintimidasi, apa dia berniat bersaing dengan gereja? Jangan ya, itu
merepotkan!
"Ini
adalah gereja bagi orang-orang yang mengimani dewa bernama Elpis. Karena dia
adalah dewa yang menaungi teknik pemanggilan, kurasa orang sepertimu pun
setidaknya tahu namanya, kan?"
"Tentu
saja. Dia dewa yang istimewa di Meilleur."
Elpis-sama
adalah dewa pemanggilan, sosok hebat yang diimani oleh sebagian besar penduduk
negara ini!
Nenek penjaga
gerbang bilang, dulunya para prajurit yang melihat monster panggilan beraksi
tak terkalahkan di medan perang mulai mendewakan teknik pemanggilan itu
sendiri, itulah asal-usulnya!
"Gereja
ini skalanya kecil, tapi dalam ajaran Elpis, dipercaya bahwa di setiap gereja
bersemayam sesosok dewa. Karena dipercaya, artinya dia benar-benar ada."
"Hee~."
Kalau begitu
aku harus memberi salam dengan benar!
Namaku
Heresy!
Berkat
monster panggilan yang kupanggil saat aku masih kecil, bakatku sebagai
Pemanggil diakui. Sejak beberapa waktu lalu, aku masuk ke Akademi Pemanggil
Kerajaan Meilleur yang terkenal itu dan berjuang keras untuk menjadi seorang
Pemanggil!
"Ini
masih dalam tahap penyelidikan sih, tapi aku ingin mendengar penilaianmu yang
sekarang. Menurutmu, bagaimana sosok dewa ini?"
"Bagaimana
penilaianku...?"
Entah
kenapa... cara bicara Konko-san dari tadi terdengar mencurigakan, ya?
Lagipula apa
itu penilaian dewa?
Apa hal
seperti itu boleh dilakukan oleh manusia?
Saat aku
memandang gereja itu, memang terasa ada atmosfer suci yang sulit didekati! Ada
kemilau yang berbeda dengan apa yang kurasakan dari Konko-san!
"Bagaimana
ya... sedikit tipis, mungkin? Aku merasa dia benar-benar berbeda denganku, tapi
rasa waspadanya kecil."
"Fuu~n,
begitu ya, begitu ya. Sepertinya dugaanku benar. Keputusanku untuk datang
jauh-jauh ke Benua Tengah tidaklah sia-sia."
"Senyummu
itu membuatku cemas ya."
Aku tidak
tahu apa yang dia pikirkan tentang pendapat pribadiku, tapi aku hanya merasa
cemas melihat Konko-san menyipitkan mata sambil menutupi mulutnya! Aku takut
jika dibiarkan, suatu saat dia akan mulai melakukan hal yang gawat!
"Baguslah
kalau kamu senang, tapi jangan lakukan hal yang tidak sopan ya. Dia kan dewa
yang penting."
"Asal-usulnya
punya celah. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun, tapi jika aku membuat bentuk
kepercayaannya menjadi lebih kompleks sedikit demi sedikit lalu mengganti
pondasinya, sepertinya aku bisa memindahkan objek pemujaan mereka ke dewa yang
lain. Berkatmu aku sudah punya gambaran kasarnya, terima kasih."
"Kata
terima kasih yang paling tidak ingin kudengar saat ini."
Tolong
berhenti menggunakan cara jahat untuk menambah kaki tangan hanya dengan
menyampaikan terima kasih pada lawan bicaranya?
Aku ingin dia
dihukum atas suatu kejahatan di bawah undang-undang. Mungkin lebih baik aku
lapor pada Leticia sebelum Konko-san melakukan hal yang tidak perlu!
◆
"Lalu
Elpis-sama berkata. 'Akan kuberikan padamu cara untuk melawan kejahatan'."
Mumpung di
sini, kami masuk ke dalam gereja. Kebetulan sedang ada sesi pembacaan buku
cerita untuk anak-anak, jadi aku memutuskan untuk ikut serta sekalian belajar!
"Kemudian,
saat sang Raja yang menerima permata suci dari Elpis-sama pergi ke tempat yang
diberitahukan, di sana terdapat sebuah lingkaran sihir yang sangat besar."
(Begitu ya.
Jadi ini belajar sejarah lewat dongeng.)
Aku duduk di
kursi panjang barisan paling belakang agar tidak mengganggu, tapi entah kenapa
begitu cerita dimulai, aku ditarik untuk duduk di pangkuan Konko-san! Bisa
jelaskan alasan yang masuk akal padaku?
"Begini,
berbisik di telingaku itu geli, dan karena ini memalukan tolong turunkan
aku."
(Sst... kalau
suaramu keras nanti mengganggu anak-anak. Kamu harus duduk yang manis dan mendengarkan
ceritanya dengan tenang... kan?)
"..."
(Lihat,
aku memelukmu dari belakang seperti ini... hmmm? Sia-sia saja kalau kamu
mencoba kabur dengan kekuatan manusia yang lemah itu, tahu? Mari kita tempelkan kulit kita sampai
suhu tubuh kita bercampur, menguburnya rapat-rapat, dan membuatmu semakin
malu...)
Tombol
anehnya menyala lagi. Ini pasti balas dendam karena aku menggodanya saat
perjalanan ke gereja tadi, tapi memanfaatkan situasi pembacaan buku untuk
anak-anak demi menghentikan perlawananku itu bukankah caranya terlalu licik?
"Ketika sang Raja melakukan pemanggilan
menggunakan permata suci dan lingkaran sihir raksasa... apa yang terjadi? Seekor monster panggilan yang lebih besar dari istana pun muncul.
Monster itu adalah binatang suci yang melayani Elpis-sama. Sang Raja bersama
binatang suci itu mengalahkan musuh dan mendapatkan tanah yang damai."
(Sepertinya
ini fakta. Nifilas, raja pertama Meilleur, menggunakan kekuatan permata suci
dan lingkaran sihir besar untuk memanggil entitas tingkat tinggi dan
menundukkan negara-negara tetangga.)
Ah,
penjelasan tambahan di telingaku ini mungkin cukup membantu.
Meski agak
menakutkan karena Konko-san tahu banyak sekali tentang Elpis-sama, sepertinya
percuma saja kalau dipikirkan, jadi untuk sekarang aku akan mendengarkan
penjelasannya dengan rasa syukur!
"Permata
suci dan lingkaran sihir besar itu masih tersimpan dengan baik di Akademi
Pemanggil Kerajaan Meilleur hingga saat ini. Agar kita bisa meminjam kekuatan
Elpis-sama di saat darurat, kita tidak boleh melewatkan doa setiap hari,
ya."
(Aku sudah
memastikan bahwa permata suci disimpan di gedung utama sekolah. Lingkaran sihir
raksasa ada di menara yang dibangun di pinggiran akademi, tapi bagian itu belum
sempat kuselidiki. Kalau aku tahu sesuatu, akan kubagikan padamu.)
Hee, menarik
ya, barang-barang yang muncul di dongeng ternyata benar-benar ada dan masih
disimpan!
Meski aku
merasa terganggu karena Konko-san memperlakukanku sepenuhnya seperti kaki
tangan, aku punya ketertarikan seperti turis terhadap benda-benda seperti itu,
jadi kalau ada kabar selanjutnya aku pasti ingin dengar!
"—Demikianlah
kisah tentang permulaan segalanya. Kelanjutannya akan kuceritakan pada sesi
pembacaan berikutnya. Aku akan menyiapkan camilan, jadi pastikan kalian datang
lagi ya."
"Iyaaa!"
"Kami mengerti!"
(Oya,
ternyata berakhir begitu saja ya. Yah, mungkin tidak baik kalau mereka pulang
terlambat, dan mengingat daya konsentrasi anak-anak, durasi segini mungkin
memang pas.)
"Kurasa
sekarang sudah boleh bicara dengan suara normal. Terus, bisa turunkan
aku?"
"...Apa
boleh buat."
Sepertinya
sesi pembacaannya sudah selesai! Atmosfernya berbeda dengan pertemuan di desa, ini menarik juga!
"Yah,
menggendongmu secara mendadak tadi menurutku adalah ide cemerlang. Bisa
memberikan hukuman sekaligus memuaskan keinginan untuk melindungi, mungkinkah
ini yang disebut insting keibuan?"
"Itu
sih namanya iseng."
Tindakan
barbar seperti menekan orang lemah dengan kekuatan dan mempermalukannya itu
mana mungkin disebut sifat keibuan!
Sambil
mengantar kepergian anak-anak dan mengobrol santai seperti itu berdua, petugas
gereja yang tadi membacakan cerita mendekat dan berhenti di depan Konko-san!
Sepertinya ada yang ingin dia bicarakan!
"Anu...
boleh minta waktunya sebentar?"
"Ah,
aku mengerti. Fufu. Wibawa ilahi dan status spiritual ini memang tidak
bisa disembunyikan dari pemuka agama, ya. Tapi, betapa pun berkilaunya sosok
yang ada di depanmu, mencoba berkonsultasi di depan dewa yang kamu imani
sendiri itu tidak sopan, lho. Di sini ada dewa Elpis. Baik itu doa maupun
konsultasi, sebagai penganut, bukankah seharusnya kamu mengandalkannya
saja?"
"Saya
tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, tapi Anda salah besar. Saya datang untuk meminta kalian
bertobat."
"...?"
"Apa-apaan
sikap tidak serius kalian saat sesi pembacaan tadi. Ini adalah gereja suci,
sama sekali bukan tempat untuk melakukan tindakan tidak senonoh seperti itu.
Memang manusia adalah makhluk yang penuh nafsu. Namun, kalian tidak boleh lalai
dalam upaya mengendalikan hasrat tersebut."
"Eh, apa
jangan-jangan aku sedang diceramahi...?"
"Ini
nasihat yang berharga. Sebaiknya kamu dengarkan baik-baik."
Konko-san
yang mengerjapkan matanya dengan bingung itu memang terlihat manis, tapi fakta
bahwa dia melakukan hal tidak perlu untuk bermain-main saat sesi pembacaan itu
tidak terbantahkan, jadi wajar saja petugas gereja marah!
Karena pihak
lawan memperingatkan dengan niat baik, tidak boleh diabaikan! Bicaralah
baik-baik dan renungkan kesalahanmu, ya! Sana, berangkat!
"Kalau
begitu, kalian berdua silakan ikut saya. Tunjukkan jiwa kalian di hadapan dewa,
dan sampaikan dosa yang telah kalian perbuat masing-masing."
"Eh...
berdua?"
"Benar.
Kalian berdua."
"Aku
yang jadi korban juga harus mengaku dosa?"
"Kalian
berdua."
Eeeh...?
Apa perlakuan tidak adil seperti ini diizinkan di depan dewa...? Elpis-sama,
kamu tidak sedang membuang muka, kan?
"Kukuku...
karena sudah dibilang begitu, apa boleh buat. Ayo ikut denganku. Tenang, tidak
perlu khawatir. Aku akan memegang tanganmu erat-erat. Aku tahu kamu tidak akan
kabur, tapi ini hanya untuk berjaga-jaga."
"Maaf,
bisa dengarkan penjelasanku sebentar?"
"Tenanglah. Jika kalian menghadapi dosa sendiri dengan tulus, Elpis-sama pasti akan memaafkan kalian. Pemuda yang penuh semangat seperti kalian, selama hidup dengan lurus dan jujur, suatu saat pasti jalan akan terbuka dan kalian bisa bahagia. Saya juga akan mengawasi kalian, jadi mari kita berusaha ya."



Post a Comment