NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze Nigerun Dai? Boku no Shoukanjuu wa Kawaii yo Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Upacara Penerimaan Siswa Baru


Yo! Namaku Heresy! Berkat monster yang kupanggil waktu kecil dulu, bakatku sebagai Summoner akhirnya diakui. Mulai hari ini, aku resmi menjadi murid di Akademi Summoner Kerajaan Meilleur yang terkenal itu!

Profesi Summoner adalah impian semua orang! Mereka adalah sosok luar biasa yang membangun dan melindungi negara! Begitu membayangkan aku bisa menjadi salah satu dari mereka, rasa antusias dan gugup bercampur aduk sampai-sampai aku ketiduran dan hampir terlambat di pagi pertama ini!

"...Oleh karena itu, bagi kalian semua yang memikul masa depan Kerajaan Meilleur, kiprah kalian di masa depan akan—"

Di upacara penerimaan, aku mendengarkan pidato berharga dari perwakilan Kepala Sekolah! Katanya, Kepala Sekolah sendiri sedang tidak ada di tempat karena sibuk bekerja beberapa tahun terakhir ini. Orang hebat memang merepotkan, ya!

Isi pidatonya terasa hambar dan aku tidak terlalu paham, tapi murid-murid di sekitarku mendengarkan dengan serius! Sepertinya mereka sangat bersemangat membayangkan kehidupan sekolah mulai sekarang!

Kalau aku, membayangkan kehidupan sekolah mulai hari ini malah membuatku merasa cemas—mirip seperti saat aku memergoki monster panggilanku berlarian di kampung halaman tanpa melakukan kamuflase! Selain soal pelajaran, aku juga khawatir apakah aku bisa bergaul baik dengan para bangsawan!

Anu... perumpamaan itu bukannya agak keterlaluan...?

Ah, maaf, maaf! Tapi Kakek tukang roti yang pingsan melihat wujudmu waktu itu tidak bangun-bangun selama dua hari, lho? Itu fakta yang tak terbantahkan, jadi terimalah kenyataannya!

Selagi asyik mengobrol dalam pikiran dengan monster panggilanku seperti itu, upacara penerimaan pun berakhir! Kami kemudian dipandu menuju kelas oleh wali kelas yang terlihat sudah memasuki usia paruh baya.

Urutan tempat duduk sudah tertulis di papan tulis depan! Menurut penjelasan sebelumnya, sepertinya cuma aku rakyat jelata yang masuk kali ini. Tapi karena jarang-jarang orang seumuran berkumpul seperti ini, aku akan senang kalau bisa punya teman akrab tanpa memandang status sosial!

Saat aku sedang memperhatikan papan tulis demi menghafal nama teman sekelas agar proses mencari teman berjalan lancar, terdengar suara seseorang menarik kursi di sampingku! Karena aku akan sering berinteraksi dengan orang di sebelahku selama sekolah, semoga saja dia tipe orang yang asyik!

"Uwah... sebelahku rakyat jelata, ya. Kuharap ini tidak menjadi masalah yang merepotkan..."

Ah, sepertinya tidak mungkin! Setidaknya dia bukan tipe orang yang mudah diajak bicara! Ahaha!

Gadis yang menatapku dengan mata setengah tertutup penuh curiga itu memiliki rambut merah panjang yang tampak dirawat dengan biaya mahal! Sepertinya dia tipe yang menyebalkan karena langsung cari gara-gara sejak awal... Suasana hatinya sedang buruk, jadi menurutku lebih baik aku mengabaikannya saja untuk saat ini!

"Salam kenal ya~"

"...Hei, setidaknya tatap mataku kalau sedang menyapa."

"Salam kenal ya~"

"Responsnya sepuluh kali lipat lebih enteng dari dugaanku..."

Kehebatan akademi ini adalah tidak masalah meski aku tidak menggunakan bahasa formal kepada Tuan/Nyonya Bangsawan! Katanya, semua murid di sini diperlakukan dengan status yang setara, menciptakan lingkungan di mana kami bisa fokus belajar dan mengasah diri! Hal itu juga dijelaskan dalam pidato perwakilan Kepala Sekolah yang membosankan tadi!

"Oi rakyat jelata, apa yang kau lakukan! Jangan mendekati Leticia-ku!"

"Uwah, dia muncul."

Ah, lihat, lihat! Seorang bangsawan berambut pirang yang tampak kesal tiba-tiba menyela pembicaraan! Hari pertama masuk sekolah sudah ramai sekali ya! Aku senang sekali karena sepertinya kelas ini bakal seru!!

Laki-laki yang memakai seragam dengan sedikit berantakan agar terlihat keren... maksudku, bergaya ini, sepertinya kenalan dengan gadis di sebelahku! Karena dia bilang 'punyaku', ada kemungkinan mereka tunangan. Tapi urusan pernikahan bangsawan itu sama tidak pentingnya dengan hasil ramalan bintang kemarin, jadi aku tidak usah memikirkannya dalam-dalam!

"Jade... pertunangan kita seharusnya sudah dibatalkan. Tolong berhenti bicara seperti itu."

"Leticia, aku masih belum bisa menerima hal itu. Kita pasti bisa mengulanginya lagi seperti dulu."

"Itu hanya pertunangan yang ditentukan oleh orang tua dan dibatalkan oleh orang tua juga, kan? Dari awal sampai akhir tidak ada kehendak kita di dalamnya."

"Tidak, kau salah. Perasaanku padamu itu nyata. Kumohon pikirkanlah kembali. Kau juga harus bicara pada orang tuamu..."

"Inilah kenapa ini merepotkan... haah."

Ya... ya. Maaf nih memotong pembicaraan kalian yang sedang seru, tapi bisa tidak berhenti bicara sambil menjadikanku sebagai pembatas tengah? Aku juga ingin menggunakan waktu sebelum pengumuman kelas berakhir ini untuk mengobrol dengan orang di dekatku, tahu?

Sepertinya Tuan Bangsawan belagu bernama Jade ini masih menyimpan rasa cinta pada mantan tunangannya, Nona Bangsawan bernama Leticia yang duduk di sebelahku. Dan dia tidak suka melihatku berada di samping gadis itu!

Kalau begitu, tinggal cari alasan apa pun dan usulkan pada guru untuk pindah tempat duduk saja! Tolong lakukan secepat mungkin, ya!

"...Ah, benar juga. Hmm... bagaimana menurutmu, Heresy? Bukankah sebaiknya dia segera kembali ke kursinya?"

"Hah?"

"Leticia, tidak perlu memanggil nama orang lemah seperti ini. Oi rakyat jelata, bukankah sudah kukatakan untuk menjauh dari Leticia! Dia bukan wanita yang boleh diajak bicara oleh orang berstatus rendah sepertimu!"

Ah, aku kena imbasnya!

Bangsawan belagu ini memang gila, tapi gadis di sebelahku ini juga cukup gila! Pertanyaan yang bakal bikin aku dipelototi entah aku setuju atau tidak ini, orang yang punya akal sehat tidak akan menanyakannya padaku!

Yah, karena secara teknis di dalam akademi semua murid itu setara, mungkin ini tidak akan langsung jadi masalah besar. Tapi kalau aku tiba-tiba berhenti sekolah, ini salahmu ya!

"...Anu, kalau ada perselisihan, bukankah sebaiknya diselesaikan lewat duel secara jantan layaknya seorang Summoner?"

"Duel layaknya Summoner... maksudmu duel menggunakan monster panggilan? Kau ternyata tipe orang yang tidak ragu melakukan kekerasan, ya."

"Hou. Boleh juga, akan kuterima tantangan itu. Kalau aku menang, kau jangan pernah mendekati Leticia lagi. Begitu, kan?"

"Eh? Bukan, bukan, maksudku kalian berdua saja yang duel..."

"Fufu. Monster panggilan yang diwariskan turun-temurun di keluarga Grade memiliki banyak pengalaman tempur dan tidak bisa diremehkan. Kalau begitu, karena aku ada urusan setelah pulang sekolah, aku serahkan dia padamu ya."

Ah, lihat! Bangsawan di sebelahku tersenyum padaku! Manis sekali! Bisa melihat senyuman wanita cantik begini, aku benar-benar beruntung di awal masuk sekolah!

...Dasar cewek sialan!

Kenapa jadi aku yang harus duel dengan bangsawan yang baru pertama kali kutemui ini? Apa aku kalah hanya karena tidak mengabaikan sapaannya sepenuhnya? Mana ada hal tidak masuk akal seperti ini?

Aku bukan tipe orang yang mudah membenci orang lain, tapi sepertinya aku bakal bisa membenci gadis di sebelahku ini! Aku menemukan sisi baru dari diriku di hari pertama sekolah! Terima kasih atas pertemuannya! Akademi Summoner memang yang terbaik!!

Jangan-jangan, suatu saat nanti kamu juga bakal membenciku...?




"Sama sekali tidak? Bagiku, kau itu... bagaimana ya, kusebut wanita yang luar biasa menurut standar manusia, kecuali kalau soal penampilan luar, sih. Aku hanya ingin kamu lebih jago menyamar, soalnya orang yang tidak suka hal horor bisa jantungan kalau melihatmu!"

"Duel ini, aku, Jade dari keluarga Grade selaku penerus berikutnya, akan menerimanya. Aku akan menyuruh orang rumah menyiapkan arena pemanggilan, kita selesaikan sepulang sekolah nanti. Akan kuajari kau secara langsung supaya tidak berani meremehkanku lagi...!"

"Aduh, takutnya. Aku akan mendukungmu dari kejauhan, ya."

"...Besok ada pelajaran pertama untuk memanggil dan mengikat kontrak dengan partner di dalam akademi, kan? Daripada pakai monster panggilan yang sekarang—yang mungkin saja warisan keluarga—bukankah lebih terasa seperti adu kemampuan asli kalau kita duel pakai monster yang baru kita panggil sendiri?"

Sangat disayangkan, sepertinya duel ini tidak bisa dihindari. Jadi, setidaknya aku mencoba menggiring situasi agar aku tidak perlu memperlihatkan monster panggilanku yang sekarang!

Monster panggilanku memang benar-benar aku sendiri yang memanggilnya, tapi di mata lawan, mana dia tahu soal itu! Kalau dia bangsawan dengan harga diri tinggi, harusnya dia ingin menang karena kemampuannya sendiri, kan?

"Tidak bisa. Aku tidak bisa menunggu sampai besok. Aku tidak akan membiarkan pengaruh rakyat jelata meracuni Leticia meski hanya sehari."

"...Kalau begitu, mau tukar tempat duduk sekarang?"

"Hah? Hei, kau—"

"Jangan meremehkanku. Aku tidak butuh belas kasihan rakyat jelata. Kita baru akan tukar kursi setelah aku menang duel melawanmu! Tunggulah, Leticia. Mulai besok, aku yang akan berada di sisimu dan melindungimu...!"

"Kenapa jadi aku yang kena imbasnya lagi?"

Enak saja dia mau menonton dengan tenang setelah melempar masalah padaku! Prinsip ibuku adalah: kalau harus mati, seret orang sebanyak-banyaknya bersamamu!

Setelah mendeklarasikan duel, Tuan Bangsawan belagu itu kembali ke kursinya dan mulai berdiskusi dengan antek-antek sekelasnya. Kalau aku terus memperhatikannya, aku bisa kena masalah lagi, jadi lebih baik kuabaikan saja!

Sambil mengabaikan gerutuan dari kursi sebelah, wali kelas yang sedari tadi menulis di pojok kelas akhirnya naik ke podium dan memulai pengumuman akhir.

Isinya... hambar! Salam penutup yang sudah bisa ditebak! Selesai!

Nah, sekarang sudah jam pulang sekolah. Saat aku mencoba mengabaikan duel dan pulang ke asrama, Nona Bangsawan di sebelahku tiba-tiba menggandeng lenganku dengan erat dan menyeretku ke arah berlawanan!

Kalau dia sebegitu tidak sudi mantan tunangannya duduk di sebelahnya, harusnya dia jangan memancing keributan denganku sejak awal! Tolong hati-hati lain kali, ya!

Gadis yang ternyata tipe yang terlihat lebih kurus saat berpakaian ini membawaku ke arena pemanggilan yang agak jauh dari gedung sekolah. Di sana, hanya ada si Tuan Bangsawan belagu sendirian!

Aku tidak tahu kenapa dia tidak membawa orang rumah yang katanya menyiapkan arena atau antek-anteknya, tapi itu cukup jantan juga.

"Jade... di mana orang-orang rumahmu?"

"Aku hanya ingin kau yang menyaksikannya. Momen di mana aku meraih kemenangan pertamaku setelah masuk ke akademi ini."

"Eh...?"

Jade-kun, menurutku sikapmu yang mengejar estetika diri itu luar biasa, tapi kalau sampai membuat lawanmu kebingungan begitu, bukannya malah jadi bumerang? Tapi aku tidak benci gaya seperti itu, sih!

Meski situasinya berbeda dari bayanganku, kalau penonton duel ini cuma mereka berdua, mungkin tidak apa-apa kalau monster panggilanku keluar dengan terang-terangan.

Dia berani menantangku pasti karena percaya diri dengan latihan fisik dan mentalnya, jadi mungkin dia tidak akan kaget melihat dia!

"Rakyat jelata, kuberi kau giliran pertama. Panggillah monstermu. ...Muncullah! Silver!"

Saat Jade-kun mengarahkan tangannya ke depan, cahaya memancar dari lingkaran sihir di lantai, dan siluet seperti kadal besar muncul dari sana!

Jenis naga? Sepertinya naga!

Yang muncul adalah naga terbang berwarna perak! Sayap dan cakarnya terawat dengan baik, sisiknya yang terpoles juga berkilau sangat keren! Sejujurnya, aku agak berat harus bertarung melawan lawan yang dirawat dengan penuh kasih sayang begini!

Kita juga tidak boleh kalah. Mari kita tunjukkan pada mereka...!

Ooh, kau bersemangat sekali! Sebagai Summoner, aku sangat terbantu, tapi lawan sepertinya kuat jadi jangan lengah, ya! Semangat!

Siap! Aku akan berusaha! Bolehkah aku bermanifestasi sekarang?

Iya. Kalau begitu, mari kita mulai!

"Kemarilah, Happy!"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close