Chapter 17
Arena Warna Berbeda
Halo,
namaku Heresy! Kemarin, setelah menyerang laboratorium Institut Sihir dari
depan, membuat pingsan perwakilan Guild Pembasmi, dan merampas barang miliknya,
aku dibawa ke sel tahanan bersama Kardinal yang mengamuk di pintu masuk
laboratorium!
Aku
merasakan kegelapan politik saat melihat para Ksatria Istana yang menyerbu
masuk dengan wajah menyeramkan, namun bersikap seolah-olah Lapica-san sama
sekali tidak ada di sana!
Setelah
menghabiskan satu malam di sel bersama Tuan Ilius sang Kardinal dan menjadi
cukup akrab, keesokan paginya aku akhirnya bisa kembali ke asrama berkat orang
dari keluarga Creserize yang datang terengah-engah.
Belum
sempat ganti baju atau mandi dengan benar, aku sudah dipanggil menghadap ke
istana oleh Wakil Kepala Sekolah!
Begitu
dipandu masuk ke sebuah ruangan di lantai atas, di sana sudah berkumpul
Lapica-san, Wakil Kepala Sekolah, Leticia, dan Konko-san!
Ekspresi
yang mereka tujukan padaku lebih banyak mengandung rasa lega daripada
kemarahan, dan suasana di dalam ruangan ternyata lebih tenang dari dugaanku!
"Eeto,
sebenarnya ini perkumpulan dalam rangka apa? Bukan untuk memarahiku, kan?"
"Tidak
bisa dibilang begitu juga. Kau dan Sang Orang Suci telah menyelidiki tiga
organisasi dalam beberapa hari terakhir, kan? Laporkan secara detail apa yang
kalian lakukan dan apa yang terjadi. Pihak Institut Sihir melayangkan protes
keras atas insiden penyerangan laboratorium kemarin. Ini juga demi menyusun
laporan untuk mereka."
"Kenapa
Wakil Kepala Sekolah yang tidak terlibat langsung kemarin yang harus menyusun
laporan……?"
"Karena
atas instruksi Yang Mulia Raja, aku dijadikan semacam pengawasmu! Kalau bukan
karena itu, mana ada yang mau berurusan dengan orang bodoh sepertimu!"
Sambil
berteriak hingga ludahnya muncrat, Wakil Kepala Sekolah berkali-kali memukul
tumpukan dokumen di atas meja, mengeluhkan beban kerjanya!
Sepertinya
Yang Mulia memerintahkannya untuk merangkum laporan ini, tapi bukankah ini
sisa-sisa dari saat dia membantuku waktu insiden Menara Pertahanan hingga dia
sekarang dianggap sebagai penanggung jawabku?
Begitu
sekali saja menangani pekerjaan yang tak dikenal, langsung dianggap sebagai
penanggung jawab selamanya; itu benar-benar tidak adil bagi yang bersangkutan,
jadi tolong hentikan ya!
Aku
duduk di samping Lapica-san dan memutuskan untuk menjelaskan kejadian beberapa
hari terakhir secara singkat!
Gereja Elpis, Guild Pembasmi, dan
Institut Sihir. Hasil
dari penyelidikan sambil merepotkan sana-sini adalah sekarang semua organisasi
mulai waspada terhadap kami!
Lalu soal Relic…… soal Relic……?
『Heresy-san……
bagaimana cara menjelaskannya? Benda itu kan sudah diambil oleh Lapica-san……』
Benar juga. Leticia menyuruhku untuk
mengambilnya, tapi Lapica-san menolak mentah-mentah dan aku belum berhasil
mengambilnya kembali.
Apakah aku
boleh mengatakannya sekarang di tempat ini…… sejujurnya itu sulit. Melihat cara
bicara Lapica-san kemarin, dia pasti tidak akan mengembalikannya meski diminta
baik-baik.
Pada
akhirnya, Meilleur mungkin akan menggunakan cara kasar untuk mengambilnya, tapi
kalau membicarakan hal itu di depan orangnya langsung, dia pasti akan waspada.
Sebaiknya aku berbagi informasi saat Lapica-san tidak ada saja, ya?
"E-eh…… sekian dari saya."
"Tunggu."
Begitu aku mengakhiri ceritaku dengan
ragu setelah lama berpikir, Wakil Kepala Sekolah yang mendengarkan sambil
bersedekap tidak puas mengangkat wajahnya seolah ingin mengatakan sesuatu!
"Aku
tahu. Menyebalkan sekali karena aku bisa tahu, tapi aku mengerti. Kau……
menyembunyikan sesuatu, kan?"
"Eh, seram……"
"Ini adalah pertanyaan demi
menyusun laporan, tapi ini juga pertanyaan demi melindungi dirimu sendiri. Katakan, apa yang kau sembunyikan di
mana!?"
Tolong
berhenti menjadi sangat tajam di saat aku ingin kau mengabaikannya.
Saat aku
sedang berpikir bagaimana cara menjelaskannya sambil terkejut melihat urat yang
muncul di pelipis Wakil Kepala Sekolah yang memukul meja, Lapica-san yang sejak
tadi duduk diam akhirnya membuka suara!
"Menyembunyikan
sesuatu, ya. Jika Anda berkata begitu, bukankah kalian juga menyembunyikan
sesuatu dariku?"
"Sang
Orang Suci……? Apa maksudnya—"
"Aku
sudah menyelidiki bahwa Heresy-san, sang Pemanggil tingkat pahlawan yang
mewakili Meilleur, memiliki kekuatan jahat. Meilleur berniat membuat Heresy-san
menggunakan kekuatan itu ke jalan yang salah—demi merencanakan kehancuran
dunia."
"……?"
"Hari
itu, eksistensi jahat yang turun ke tanah ini adalah bagian dari rencana yang
dipimpin oleh negara ini, kan? Heresy-san bukan tipe orang yang akan mengotori tangannya sendiri
dengan perbuatan jahat seperti itu."
"Apa
yang kau bicarakan……? Oi, kau! Apa yang kau bisikkan pada Sang Orang Suci!?
Katakan!"
Menanggapi
drama deduksi Lapica-san yang dimulai tiba-tiba, Wakil Kepala Sekolah marah
besar…… tapi sungguh, aku tidak tahu apa-apa.
Leticia dan
Konko-san juga menatapku dengan wajah penuh tanda tanya, tapi aku benar-benar
tidak tahu. Rakyat jelata desa mau menghancurkan dunia? Yang benar saja.
Aku sedikit
menunduk menahan tawa karena mendadak dianggap sebagai dalang kejahatan, tapi
melihat itu, Lapica-san dengan wajah pedih malah menatap tajam ke arah Leticia
dan yang lainnya!
"Ternyata…… benar begitu ya.
Kekuatan yang dimiliki Heresy-san, sifat buruk dari makhluk-makhluk aneh yang
dia panggil, kalian juga pasti sudah tahu, kan?"
"Itu……"
"Meilleur
membiarkannya meski mengetahuinya. Itulah kebenarannya."
Menerima
kata-kata tuduhan (?) dari Lapica-san, Leticia, Konko-san, dan Wakil Kepala
Sekolah saling pandang!
Maaf kalau
aku merusak suasana saat kalian bereaksi seolah "skakmat", tapi
setidaknya Leticia dan Konko-san sudah pernah bertemu Happy, kan?
Tolong
bela aku dan bilang kalau dia sama sekali tidak punya sifat buruk!
"Aku
mengerti. Jadi negara ini seperti itu ya. Heresy-san dijadikan pahlawan untuk
memikul peran tersebut. Begitu rupanya. Kalau begitu, setidaknya aku akan
menyelamatkan Heresy-san. Aku akan membebaskannya dari eksistensi jahat itu,
dan kami akan melangkah bersama sebagai wadah Dewa yang Suci."
Tampaknya
telah mencapai kesimpulan sendiri, Lapica-san melepas tudungnya dan berdiri
tegak sambil memancarkan aura intimidasi yang sunyi!
Kami
berempat saling lirik menyadari aura berbahaya jika dia dibiarkan saja, tapi
karena pembicaraan (?) tidak mencapai titik temu, aku memutuskan untuk meminta
waktu diskusi secara jujur!
"Eeto…… maaf, boleh beri kami
waktu sebentar untuk rapat strategi?"
"Aku mengerti. Heresy-san…… sedang
meminta bantuan kepada seseorang."
"Kau mengerti……?"
"Kau sedang kebingungan dan
meronta dalam kekuatan jahatmu sendiri. Kau menderita. Kemarilah, genggamlah tanganku seperti hari kita pertama
kali bertemu. Dengan begitu, kau pasti akan mengerti bahwa apa yang kukatakan
adalah kebenaran. Benar kan—Dewi?"
Sambil
berbicara, warna mata Lapica-san perlahan berubah, dan dia mengulurkan
tangannya secara sepihak padaku.
Terpaku pada
perubahan auranya yang drastis hingga tidak mendengarkan pembicaraannya dengan
benar, aku secara tidak sadar mengikuti suasana dan menyambut tangan itu!
『—Ya, benar sekali. Dan di dunia
ini, senang bertemu denganmu, Sang "Anak Pertama"』
Detik
berikutnya, sebuah suara yang bukan miliknya keluar dari mulut Lapica-san.
Cahaya
putih memancar dari tangan kami yang bertautan memenuhi sekeliling, dan dunia
berubah seiring dengan sensasi tubuh yang melayang!
"Eh,
apa-apaan ini……"
Ruang
putih luas yang tak berujung, dengan lantai yang bergelombang seperti permukaan
air.
Yang jelas
aku tahu ini bukan di istana raja. Tempat ini terasa mirip dengan ruang gelap
gulita yang disediakan oleh "Botai" (Induk) dan "Kogai"
(Piaraan)!
Berbeda
dengan di sana yang dipenuhi kegelapan kental dan lengket, di sini dipenuhi
oleh kesucian kaku yang bahkan terasa berat! Di sekeliling juga menari-nari
butiran cahaya yang bersinar!
Lapica-san di
depanku juga memiliki aura yang sangat berbeda. Rambutnya yang berpendar emas
melambai pelan meski tidak ada angin, dan wajahnya yang seumuran denganku
sekarang memancarkan wibawa seperti Bunda Suci yang penuh kasih!
Suaranya
terdengar seperti berlapis dengan suara tenang milik orang lain!
"Leticia……?
Lalu Wakil Kepala Sekolah……?"
『Ini adalah ruang yang disiapkan untuk
menyelamatkanmu dari tubuh itu, ruang di mana hanya Dewa dan pengikutnya yang
diizinkan ada. Aku membentangkannya agar anak manusia yang ada di dekatmu tidak
terlibat dalam pertempuran.』
"Itu…… terima kasih?"
Gaya bahasa yang asing, dan perubahan
suara yang mendadak. Cara berdirinya pun berubah menjadi kaku tanpa sisi
kemanusiaan sedikit pun…… ini, jelas bukan dia, kan? Ada orang lain di
dalamnya, kan?
Apa ini penyebab sikap Lapica-san jadi
agak asing sejak pertengahan hari kemarin?
"Lapica-san…… kamu baik-baik saja?
Jangan-jangan tubuhmu diambil alih?"
"Aku sudah mendengar dari Dewi. Tentang dirimu, dan tentang
penderitaan yang kau alami…… Aku ingin menolongmu. Sebagai seorang
teman……!"
"Kata-katanya
mirip seperti yang pernah kudengar di suatu tempat……"
Suara
Lapica-san barusan tidak berlapis, tapi isi omongannya yang tidak banyak
berubah malah menunjukkan betapa gawatnya situasi ini! Apa dia tidak sedang
dicuci otak?
Aku
senang dia mau menolongku sebagai teman, tapi justru Lapica-san yang sekarang
yang kelihatannya butuh pertolongan!
『—Datanglah, Zenafim.』
Lalu,
Lapica-san (bukan Lapica-san) mengeluarkan Relic dari sakunya, mengangkatnya
tinggi-tinggi sambil memanggil seseorang!
Memang
benar itu barang penting, tapi ini pertama kalinya aku melihat orang menyimpan
kandil di dalam saku baju.
『Heresy-san,
berhati-hatilah. Itu musuh.』
Baru saja kupikir api menyala di kandil
yang diangkat Lapica-san (bukan Lapica-san), api itu langsung membesar dengan
cepat.
Setelah api yang seolah membakar langit
itu mereda, muncul sesosok bersayap di udara! Kalau Happy bilang itu musuh……
yah, sepertinya memang begitu.
Rambut biru transparan sebahu, wajah
yang tampan. Jubah putih bersih dan sayap…… ini malaikat.
"Ja──ja──ja…… Ya, Dewi, saya di
sini."
Malaikat yang dipanggil Zenafim itu
perlahan turun ke samping Lapica-san dan menerima kandil itu dengan tenang!
Kandil itu paling panjang hanya seukuran belati, tapi dia mengayunkannya
sebagai senjata besar seolah ada bilah pedang panjang di ujungnya. Itu sangat
berkesan!
『Wadah,
pengikut, dan Aku. Kekuatan ini terlalu berlebih untuk menghadapi satu prajurit
garis depan saja. Memang Firiel memihak Sang "Anak Pertama", tapi
karena dia sudah kehilangan hubungannya dengan-Ku, dia bukan lagi ancaman.』
"Benar.
Saya, Zenafim, pasti akan menghabisi pengkhianat itu untuk Anda."
"—Heh?
Oi, oi, berani sekali kau bicara sesuka hati."
Sebuah suara
kasar turun menanggapi percakapan Lapica-san (bukan Lapica-san) dan Zenafim,
dan bersamaan dengan itu, Firiel-san muncul dari pilar cahaya! Lama
tidak bertemu!
"Senpa…… kau, beraninya
menampakkan diri di depanku……!"
"Yo. Aku jadi penasaran karena ada
adik kelas yang bicara besar."
Sepertinya mereka saling kenal! Atau
lebih tepatnya, malaikat juga punya hubungan senior-junior ya?
Membandingkan Firiel-san dan
Zenafim-san, wajah Firiel-san terlihat lebih dewasa, pakaian Zenafim-san
terlihat lebih aktif, dan meski sama-sama memiliki aura suci, perbedaan
penampilan mereka cukup banyak!
『Saya
juga akan mewujudkan diri.』
Lalu Happy juga jatuh dari celah ruang,
mendarat tepat di sampingku sambil memuncratkan daging dan darah!
Kontras antara Firiel-san yang hanya
sedikit mengernyitkan dahi dengan Zenafim-san yang mengepakkan sayap lebar
karena waspada sangat menarik untuk dilihat! Memang benar kebiasaan itu
menakutkan ya.
"Bagaimana dengan Hydra ya? Bisa
dengar—? ……Sepertinya di ruang ini tidak bisa ya."
『Tadi
dibilang hanya Dewa dan pengikutnya yang diizinkan ada di sini…… Hydra-san
mungkin akan merajuk lagi……』
Waktu melumpuhkan Firiel-san saja kami
masih kewalahan meski sudah dibantu "Botai" (Induk), jadi kalau bisa
aku ingin memanggil Hydra juga, tapi ternyata tidak bisa ya.
Tubuh Lapica-san (bukan Lapica-san)
setidaknya masih berasal dari dunia ini, jadi kupikir serangan seperti
pencekikan akan efektif, tapi sayang sekali.
"Kalau begitu…… bagaimana dengan
'Botai' dan 'Kogai'? Mereka mungkin akan datang kalau sedang senggang, tapi aku
tidak tahu situasi di sana dari sini."
"Di
dunia atas, sedang berlangsung operasi besar-besaran perebutan kembali 'Pusar
Dunia'. Tenang saja, 'Botai' dan 'Kogai' yang merupakan target serangan utama
kami para malaikat seharusnya sudah dimurnikan dan musnah sekarang."
『Ternyata Botai-san dan yang lainnya
dianggap seperti itu ya bagi malaikat……』
Reaksi
Firiel-san saat melihat mereka di Menara Pertahanan memang luar biasa sih,
seolah mereka adalah target penaklukan yang harus dihadapi banyak orang. ……Semacam
Raid Boss?
"Operasi perebutan kembali ya……
kau tidak perlu ikut dalam operasi itu? Zenafim."
"Diam……! Aku hanya mengikuti misi
dari Dewi. Berbeda denganmu yang berkhianat tanpa mengatakan apa pun!"
Sepertinya Zenafim-san adalah tipe yang
bisa menyesuaikan kata ganti orang pertama tergantung lawan bicaranya,
sementara Firiel-san mungkin tidak.
Tampaknya
mereka dulu rekan kerja di tempat yang sama ya! Meski itu pembelaan diri, aku
merasa sangat tidak enak karena menjadi salah satu penyebab perpecahan mereka!
『Firiel. "Prajurit garis
depan" di sana adalah pengikut Dewa Jahat—musuh kita. Kenapa kau berdiri
di sampingnya?』
"Berisik.
Yang kudoakan hanyalah bocah ini. Yang kupercayai hanyalah diriku sendiri. Aku
tidak ada urusan lagi denganmu."
『—Zenafim.』
"Tsk……
Baik, Dewi. 【Berikan Api Suci Berkah pada Utusan
yang Jatuh】!"
Zenafim-san
yang sempat memasang ekspresi rindu saat mendengar kata-kata Firiel-san
langsung tersadar setelah menerima instruksi Lapica-san (bukan Lapica-san), dan
segera merapalkan semacam doa! Menanggapi doa tersebut, api di kandil berkobar tinggi, membentuk
siluet seperti pedang besar!
Tanpa
membuang waktu, Zenafim-san mengepakkan sayapnya dan menerjang dengan kecepatan
yang tak terlihat, menebas Firiel-san dengan momentum penuh, dan keduanya
terbang menjauh sambil saling bergulat!
"Dengan ini jadi dua lawan dua……
jumlahnya pas. Aku
dan Dewi, Heresy-san dan makhluk aneh itu. Mari kita tentukan siapa yang benar. Dan aku pasti akan
menyelamatkan Heresy-san dari makhluk aneh itu."
『Tujuan kita sama, yaitu menyelamatkan
Sang "Anak Pertama". Meskipun harus melalui tubuhmu, Aku akan
membantu.』
Di depan aku
dan Happy yang terpaku melihat Firiel-san dan Zenafim-san yang menghilang dalam
sekejap, Lapica-san menciptakan tongkat panjang bercahaya dan mengangkatnya!
Di
punggungnya, entah itu kekuatan Lapica-san (bukan Lapica-san) atau bukan,
banyak pilar cahaya terbentang seperti sayap, seolah-olah Lapica-san telah
menjadi eksistensi yang selangkah keluar dari dunia ini!
Yah, dari awal dia memang agak seperti
itu sih!
『Lapica-san……
Saya merasa agak tidak enak, tapi sepertinya tidak ada pilihan lain.』
Benar! Meski aku agak khawatir karena
secara teknis kami kalah jumlah gara-gara aku tidak berguna dalam tempur, tapi
karena pihak sana sudah siap bertarung, mari kita hadapi!
Targetnya adalah membebaskan Lapica-san
dari eksistensi mirip Dewa yang merasukinya dan mengembalikannya ke kesadaran
semula!
"Pokoknya hati-hati dengan skala
serangan agar tubuh asli Lapica-san tidak mati…… hm?"
『Lho……
sepertinya ada orang lain di sini.』
Saat aku sedang menimbang-nimbang
seberapa jauh serangan yang diperbolehkan tanpa membunuh tubuh fisik
Lapica-san, aku menyadari ada sesosok bayangan yang berjalan ke arah kami dari
kejauhan!
Siapa ya? Sosok yang tinggi, ada bagian
tubuh yang berbulu lembut, dan kelihatannya akan bersikeras mengaku sebagai
Makhluk Panggilan…… siluet itu……
"Eeto…… apa keterlibatanku di sini
adalah semacam kesalahan?"
Di tengah suasana tegang di mana
pertarungan bisa pecah kapan saja, sosok yang menatapku dan Lapica-san
bergantian sambil menjatuhkan ekornya dengan lemas adalah—Konko-san, yang
jelas-jelas hanya terlibat karena suatu kesalahan.
◆
"—Lalu, begitu aku sadar, aku
sudah ada di ruang putih ini."
"Sial banget ya."
Di depan mata kami, Happy yang
berpindah di dalam ruang menyembur dari tanah seperti geyser, lalu meteor emas
menebas ruang tersebut.
Saat gelombang besar daging yang seolah
membalikkan seluruh lautan memenuhi langit, butiran cahaya yang tersebar seolah
menutupi angkasa memicu ledakan putih besar yang mengikis ruang.
Melihat pemandangan itu, Konko-san yang
merasa ngeri memberiku lapisan sihir pertahanan berkali-kali, lalu berpindah ke
posisi yang sedikit menjauh agar bisa melihat pertarungan Happy dan Lapica-san
(bukan Lapica-san) sebelum mendekatkan wajahnya padaku dan menceritakan
kronologinya!
Sepertinya Konko-san juga memenuhi
syarat untuk ditarik ke ruang ini oleh Lapica-san (bukan Lapica-san), makanya
dia ikut terlibat! Nasib buruk ya!
"Jangan cuma dibilang 'sial
banget' dong……! Dari ceritanya, bukankah kau penyebab utamanya?"
"Eh, benarkah……?"
"Aku sudah pernah bilang sekali
sebelumnya, Dewa yang bersemayam di tubuh Sang Orang Suci sekarang bukanlah
Dewa asli High Stella—Dewa Bintang. Dewa Bintang secara alami adalah Dewa yang
memiliki kekuatan sangat besar, tapi setelah jumlah penduduk asli High Stella
berkurang drastis akibat pembukaan lahan di Benua Tengah, kekuatannya melemah
hingga tak mampu lagi menyampaikan suara kepada wadahnya."
Ini cerita yang dia sampaikan saat aku
berkunjung ke kediaman Creserize!
Bagiku ini hal yang tidak bisa
kupastikan kebenarannya, tapi kalau Konko-san yang juga merupakan eksistensi
mirip Dewa berkata begitu, mungkin memang benar!
"Pada saat itulah, lahir seorang
wadah dengan kualitas terbaik sepanjang sejarah. Tapi dia tidak bisa menerima
wahyu yang merupakan peran Sang Orang Suci. Karena Dewa Bintang sudah melemah.
Jadi, wadah terkuat dalam sejarah dengan kapasitas terbesar di dunia—yang
seharusnya bisa mengubah sejarah manusia secara besar-besaran—jadi
menganggur."
"Ooh."
Kenapa kau
tahu sih?
Seram tahu.
Waktu dia menyelidiki tentang Tuan Elpis saja aku sudah merasa dia berbahaya,
tapi ternyata dia tidak cuma tahu soal Dewa negara lain, tapi sampai ke urusan
internalnya. Gila.
"Lalu,
yang sekarang bersemayam di wadah itu kemungkinan besar bukanlah Dewa dunia
ini. Melainkan Dewa tingkat tinggi…… atau bisa dibilang Dewa
dimensi tinggi. Biasanya tidak ada manusia yang bisa mendengar suara eksistensi
di luar standar seperti itu, tapi kebetulan di era ini ada Sang Orang Suci
terkuat sepanjang sejarah."
Tiga anak panah cahaya yang sepertinya
milik Lapica-san (tubuh asli) terbang bersamaan, menembus satu lapisan sihir
pertahanan Konko-san sebelum berhenti.
Bukankah dia
jelas-jelas ingin membunuhku? Aku merasa harus segera menyadarkan Lapica-san
dari cuci otak ini sebelum terlambat!
"Intinya,
dia membiarkan eksistensi tingkat tinggi itu bersemayam di tubuhnya. Sehebat
apa pun kualitasnya sebagai wadah, itu tetap diukur berdasarkan standar dunia
ini. Jika Dewa itu dalam kondisi tidur mungkin tidak masalah, tapi dalam
kondisi dia mengayunkan kekuatan dahsyat tanpa batas seperti itu, beban bagi
Sang Orang Suci sendiri tidak terbayangkan. Baik secara fisik maupun
mental."
"Ah,
karena itu ya cara berpikirnya jadi terbawa oleh Sang Dewa dan dia jadi salah
paham yang aneh-aneh. Sekarang aku jadi paham. Apa kita bisa
membantunya……?"
"Aku
punya rencana."
Begitu aku
menggumamkan pertanyaan itu, Konko-san mengangkat ekor dan telunjuknya seolah
sudah menantinya! Itu pose apa sih?
"Kau
punya batu cahaya yang kau terima darinya lalu kau rusak seketika itu, kan? Gunakan
itu."
"Merusak…… yah, bisa dibilang
begitu sih."
"Kau bilang batu cahaya itu adalah
bagian dari liontin yang dibawa Sang Orang Suci, kan? Dan liontin itu berfungsi
untuk meningkatkan kekuatan suci serta menarik kesadaran ke tingkat yang lebih
tinggi."
"Iya.
Aku mendengarnya langsung dari mulutnya, jadi tingkat akurasinya tinggi."
"Liontin
seperti itu sekarang setengahnya berfungsi normal, dan setengahnya lagi sudah
kau rusak. Kembalikan ke bentuk semula…… lalu buat
mereka saling meniadakan (Annihilation)."
"Ah, jadi kalau bantuan dari
liontin itu hilang, Dewa dari dunia atas tidak akan bisa turun lagi?"
"Tepat
sekali."
Aku sudah
menangkap intinya! Singkatnya, aku harus menabrakkan batu cahayaku yang hitam
pekat ke batu cahaya Lapica-san yang cantik untuk menghapus pengaruhnya!
"Ini
semacam taruhan, tapi layak dicoba. Lagipula kalau dia terus membiarkan Dewa
dunia atas bersemayam di tubuhnya, dia akan mati karena beban yang
berlebihan."
"Benar
juga. Kalau begitu mari kita coba. Masalahnya adalah bagaimana cara mendekat
dan menyentuh liontin itu……"
"Kalau
itu sih……"
"Ahahahaha!!
Kau jadi semakin lemah ya, Senior!"
"Hm?"
Saat aku dan
Konko-san sedang rapat strategi sambil menyemangati Happy yang sedang berjuang
keras, api merah terang mengamuk dari arah belakang, membakar segalanya hingga
ke ujung cakrawala!
Konko-san
yang segera memperkuat pertahanan sambil memeluk dan melindungiku baik-baik
saja, tapi Happy yang sedang bertarung dengan Lapica-san (Dewi) menguap, dan
Lapica-san sendiri sepertinya terkena serangan mendadak hingga lengan bajunya
terbakar dan tangannya mengalami luka bakar!
Firiel-san
dan Zenafim-san bertarung di tempat yang cukup jauh, tapi skala serangan yang
mereka gunakan terlalu besar sampai peluru nyasar (?) sampai ke sini! Ini
kerugian dari medan perang yang terlihat terpisah tapi sebenarnya tidak!
Kira-kira apa solusi terbaik untuk situasi ini……? Apa kita harus bertarung sambil saling peka dengan keadaan sekitar?
Chapter 18
Utusan Langit
"Oi,
Bodoh! Apinya sampai ke tempat bocah itu, tahu!"
"Senior,
apa Anda punya waktu untuk melihat ke arah lain!? Musuh Anda ada di sini!"
"Cih!
Benar-benar mengganggu, sialan……!"
Sebuah
ruang dimensi putih yang dibentangkan oleh Dewi dari dunia atas. Di sana, di
tempat yang dipersiapkan untuk menghalau kejahatan, dua malaikat yang hingga
baru-baru ini berdiri di medan perang sebagai kawan, kini saling berhadapan.
Salah satunya
adalah Throne (Malaikat Takhta) Firiel. Dia terengah-engah kesakitan,
meregenerasi satu sayapnya yang baru saja terbakar, sambil sekuat tenaga
menangkis serangan bertubi-tubi dari musuh yang terus memperpendek jarak.
Di arah
pandangannya yang penuh kekhawatiran, seorang pemuda diserang oleh kobaran api,
namun berhasil dilindungi tepat pada waktunya oleh Dewa dunia bawah (Konko).
Di hadapan
Firiel, yang melancarkan serangan ganas seolah menegaskan keberadaannya, adalah
Throne Zenafim.
Setiap kali
dia mengayunkan kandil di tangannya, ledakan api yang menyembur meliuk-liuk
seperti cambuk raksasa, menghantam Firiel yang tidak bisa mengeluarkan kekuatan
aslinya karena kehilangan hubungan dengan Dewa Utama.
"Sial,
tidak ada ujungnya……! 【Ubahlah Cahaya Diriku Menjadi Api
Berkah】!"
Metode bagi
Firiel yang sekarang—yang telah kehilangan hubungan dengan Dewa Utama dan
menolak berkah yang diberikan—untuk mengeluarkan kekuatan sangatlah sedikit.
Demi memukul mundur Zenafim yang mendekat, yang dia doakan bukanlah mantan Dewa
Utamanya, melainkan dirinya sendiri.
Kekuatan
besar yang tercipta dari doa itu menghasilkan api dengan panas dan cahaya yang
luar biasa, membakar sekeliling.
Menggunakan
celah sempit yang tercipta secara paksa itu, Firiel mengambil jarak. Dia
mendecakkan lidah tanpa menyembunyikan rasa lelahnya saat melihat Zenafim
berjalan perlahan keluar dari dalam api.
"Cih…… bahkan tidak memberiku
waktu untuk regenerasi ya. Memang
beda kalau sudah jadi 'Tuan Malaikat Takhta Kesayangan Dewa'."
"Senior
yang sekarang sudah tidak ada sisa-sisa kehebatannya ya. Bahkan
serangan main-mainku saja harus kau tahan dengan mengorbankan diri sendiri……
Padahal aku belum serius sama sekali, lho."
"Heh,
hebat banget. Iri aku. Mulai
hari ini, kaulah nomor satu di jajaran Throne."
"Hah……!?
Hal seperti itu tidak ada artinya kalau tidak ada Senior……! Agh, sudahlah!
Berhenti mengejekku terus! Apa kau masih bisa bicara besar setelah melihat
ini!?"
──Regression.
Zenafim yang
berteriak meluapkan kekesalan dan emosinya, mengerahkan sejumlah besar berkah
untuk memanggil "dirinya yang lain". Wujud asli sekaligus belahan
jiwa seorang Throne: Roda Ganda Raksasa yang membara.
Dua roda yang
berputar silang itu memerangkap panas yang luar biasa di dalamnya, memadatkan
ruang, dan di pusatnya tercipta setetes cairan dengan densitas ultra-tinggi
yang jatuh untuk menerangi dunia dengan cahaya pijar.
"Ayo,
mari kita adu kekuatan, Senior……!"
"Sialan,
sudah kubilang jangan gunakan serangan yang melibatkan bocah itu, kan……!"
Demi
menetralisir tetesan cairan Zenafim yang diciptakan tanpa memedulikan dewa-dewa
atau makhluk lain di sekitar, Firiel juga memanggil Roda Ganda yang sama dan
melepaskan serangan.
Namun,
tetesan yang tercipta jauh lebih kecil dibandingkan saat insiden Menara
Pertahanan.
"Kh…… dengan ini saja tidak akan
bisa menetralkannya—【Jadikan
Cahayaku Sayap Pelindung Sang Tuan】……!"
Demi melindungi pemuda yang berada di
ruang yang sama dari serangan Zenafim, Firiel mempertaruhkan tekad dan
nyawanya.
Dengan kekuatan yang diperas dari
mengorbankan dirinya sendiri sekali lagi, dia memperkuat sayapnya,
membentangkannya seperti tembok raksasa untuk melindungi sang pemuda di
belakangnya.
Tepat setelah itu, ledakan tetesan
Zenafim melepaskan gelombang panas ekstrem, dan Firiel menerimanya langsung
dari depan tanpa menghindar sedikit pun.
Meski sayapnya menguap terkena api dan
separuh tubuhnya menghitam terbakar, dia berhasil menahannya. Firiel, meski
telah kehilangan hubungan dengan Dewa Utama, tetap menyimpan cinta dan
pengabdian di dalam jiwanya.
"Ahaha…… ahahaha. Ahahahahaha! Lihat itu! Aku, akulah
yang terkuat! Tidak ada lagi yang bisa menandingiku! Dewa Jahat sekalipun bukan
tandinganku! Benar kan!?"
"Kh──,
……"
"Jangan
cuma diam jadi arang di sana, katakan sesuatu! Hei! HEI!!"
"……Kh…… gu, ah……!"
Zenafim menginjak bagian belakang
kepala Firiel yang tersungkur di lantai sambil berteriak kasar, mencoba
meregenerasi separuh tubuhnya yang hilang. Di wajah Zenafim yang tak terlihat
oleh Firiel, terpancar gairah yang tidak terwakili oleh nada suaranya.
Rintihan serak Firiel baru berhenti
setelah perutnya yang belum pulih ditendang, membuatnya berguling di lantai
seperti bola.
"Hah…… hah……! Bagaimana!? Kalau begini terus kau
benar-benar akan mati!"
"Ugh…… uhuk, hoekk…… Aku tadi
ingin mencoba seberapa jauh aku bisa bertahan sendirian…… tapi ternyata lebih
parah dari dugaanku. Jadi,
kau sendiri ingin bagaimana? Kalau mau membunuhku, sekaranglah kesempatan
terbaikmu."
"Aku……
tsk. Aku ingin melampaui Senior. Aku bertarung hanya dengan tujuan itu,
terobsesi hanya pada hal itu. Karena itu sekarang, rasanya seperti beban berat telah terangkat."
"Begitu
ya. Baguslah kalau
begitu."
"—Tapi,
aku sama sekali tidak senang."
Kata-kata
Zenafim yang diucapkan pelan namun pasti itu entah bagaimana terdengar jernih
di telinga Firiel, meski bercampur dengan suara pertempuran yang terjadi di
tempat jauh.
"Senior…… tunjukkanlah wajah tidak
senangmu yang seperti biasanya. Kalau adik kelasmu ini sombong karena merasa
paling kuat, tegurlah. Kalau aku sombong merasa Dewa Jahat bukan tandingan,
kalahkanlah aku dengan kekuatan yang tidak masuk akal."
"……"
"Kalau
begini, ini sama sekali tidak menyenangkan!"
Zenafim
berteriak membiarkan emosinya meluap seperti bendungan yang jebol, lalu
mengarahkan ujung kandilnya ke leher Firiel.
"Aku
membencimu, Senior. Fakta bahwa kau bertindak bersama pengikut Dewa Jahat,
mengkhianati perintah Dewa Utama, dan meninggalkanku dengan cara seperti ini.
Aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Tidak ada
keraguan dalam tindakannya. Sejak awal. Apa yang diucapkan Zenafim hanyalah
luapan rasa frustrasi, pernyataan tekad, dan kata-kata perpisahan.
"Senior…… selamat tinggal."
Khawatir akan kata-kata berikutnya dari
Firiel yang mengambil napas pelan di bawah kakinya—takut akan kelembutan yang
mungkin ditunjukkan—Zenafim menyalakan api ekstrem pada kandilnya, dan
mengayunkannya turun──.
"Maafkan aku."
──Dan, api ekstrem itu padam, tergulung
oleh api hitam yang tiba-tiba membumbung dari tubuh Firiel.
"Ha—"
Apa yang dilihat Zenafim adalah sosok
asing Firiel yang diselimuti api hitam namun tetap mempertahankan aura sucinya.
Di depan Zenafim yang terpana, bagian
tubuh dan pakaian Firiel yang hilang beregenerasi seolah waktu berputar balik,
dan kekuatan yang meluap-luap terpancar dari seluruh tubuhnya, menyebarkan
kilau hitam pekat ke udara.
"Maaf.
Aku tahu kau selalu mengejar punggungku. Aku pikir setidaknya di saat terakhir,
ini bisa sedikit menghiburmu. Tapi, sepertinya kau bukan lagi anak kecil
seperti saat kita pertama kali bertemu."
Api hitam
yang menyelimuti Firiel bukanlah kekuatan jatuh yang dipenuhi kejahatan.
Meski tetap
sebagai malaikat yang baik, meski tetap sebagai eksistensi yang murni dan suci,
itu adalah kekuatan hitam transparan yang tidak memerlukan berkah Dewa.
Kekuatan itu meluap tanpa batas dari dalam tubuhnya, meningkatkan eksistensinya
tanpa henti.
"A-apa
ini! Dari mana kekuatan seperti ini tersisa……!?"
"Ah—……
begitulah. Malu sebenarnya mengatakannya, tapi yah, cuma ada satu hal yang bisa
dilakukan malaikat, kan? ……Aku berdoa, kepada
Tuanku."
"Eh…… tapi! Senior kan sudah tidak dengan
Dewi-sama……!"
"Bocah.
Manusia di sana itulah Tuanku yang sekarang. ……Jangan bilang padanya, ya. Aku
berdoa padanya tanpa izin."
"Ha, eh? ……Senior?"
"Cuma
rahasia kita saja, aku ingin menjadi sosok seperti kakak perempuan baginya. Karena
itu aku ingin menjadikannya pilihan terakhir untuk bersandar…… Zenafim, kau
benar-benar sudah menjadi kuat ya."
"Senior,
kata-katamu sama sekali tidak masuk ke hatiku."
Terkejut
dengan apa yang dikatakan Firiel, Zenafim melangkah mundur dengan terhuyung.
Senior yang
selama ini dia jadikan tujuan ternyata telah "jatuh" ke tangan
manusia. Senior yang dulu mengajarinya bahwa prajurit garis depan harus punya
harga diri dan insting malaikat—bahwa mereka tidak boleh terlena dengan
memanjakan manusia—kini justru memuja manusia itu sebagai Tuannya, bahkan
bilang ingin menjadi sosok kakak perempuan baginya.
"Entahlah…… aku juga perempuan. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan
cinta……"
"Senior
yang kuhormati ternyata jadi budak cinta……!? Tsk, aku harus melaporkannya pada
Dewi-sama……!"
"Tidak
akan kubiarkan. Kau ingin bertarung denganku yang serius, kan? Akan kuajarkan
padamu seberapa hebat kekuatan cinta itu."
Firiel
yang memikul Roda Ganda yang telah menghitam berdiri menghadang Zenafim yang
mengacungkan kandil dengan pilar api raksasa seperti pedang besar.
Meski sudah bersiap untuk mati, ekspresi Zenafim saat menghadapi mantan seniornya itu sudah tidak lagi menunjukkan keraguan atau kesedihan seperti sebelumnya.
Chapter 19
Suara:
Pilar-pilar
cahaya yang dibentangkan oleh Sang Dewi membentuk busur di sekeliling Lapica,
menahan terjangan tumpukan daging yang mengerikan.
Mengambil
celah itu, sebuah lengan raksasa muncul dari tanah mencoba mencengkeramnya,
namun ia menghindar dengan melayang ke udara, lalu memurnikan cairan daging
bernajis yang longsor dari langit dengan kekuatan mukjizat.
Berkah
dan mukjizat yang dijalankan Sang Dewi secara langsung menggunakan tubuh Lapica
sangatlah kuat.
Meski
Lapica dilanda ketakutan saat melihat monster mengerikan yang sulit dipandang
mata, Sang Dewi tidak membiarkan kakinya goyah dan memaksanya menghadapi
kejahatan tersebut.
Cahaya
suci yang terbentang seperti sayap menjauhkan kegilaan yang mencoba merasuki
kesadaran, sementara peluru cahaya emas yang meledak membakar tubuh sang
"Prajurit Garis Depan".
Namun,
dari daging yang terbakar itu, bola mata terus membelah diri dan bertambah
banyak, membentuk bagian-bagian menyerupai tenggorokan atau usus yang
menjuntai, lalu menyatu kembali dengan suara yang menjijikkan.
"Prajurit
Garis Depan" yang merasuki pemuda yang harus diselamatkan Lapica itu
memiliki kelincahan yang kontras dengan penampilannya, serta kesadaran diri
yang nyata.
Setiap
potongan daging, organ tubuh, dan saluran daging memiliki nyawa, berdenyut dan
bergerak sebagai satu kesatuan yang koheren.
Keanehan
dan kengerian itu seolah menertawakan logika dunia ini, cukup untuk membuat
bulu kuduk Lapica berdiri.
Jika Sang
Dewi tidak mengendalikan tubuhnya, Lapica pasti sudah kehilangan kesadaran
karena rasa takut dan kegilaan sekarang juga.
"Wah…… Heresy, apa Happy baik-baik
saja? Dalam berbagai hal."
"Iya. Sebenarnya, daging Happy
yang terbakar itu…… bisa dimakan, lho."
"Sepertinya yang tidak baik-baik
saja itu justru dirimu ya."
Bersembunyi di balik "Prajurit
Garis Depan" yang terus menunjukkan wujud gila, Heresy dan Konko mengamati
jalannya pertarungan.
Menghadapi eksistensi mengerikan yang
jelas-jelas tidak boleh ada sebagai makhluk hidup, Heresy tampak tidak
menyimpan keraguan sedikit pun. Di titik itulah terlihat bahwa pemuda itu sudah
tidak waras.
"Heresy-san…… kumohon……
sadarlah……!"
『【Saint
Nova】』
Sebuah bola cahaya raksasa naik tinggi
ke langit, berdenyut memancarkan kesucian yang luar biasa, lalu meledak
melibatkan segala sesuatu di sekitarnya.
Bahkan getaran yang mencapai tanah
setelahnya pun cukup kuat untuk melontarkan orang yang berdiri.
Ledakan cahaya yang pasti akan
memurnikan dan memusnahkan bahkan konsep entitas dunia atas itu mewarnai
seluruh area menjadi putih bersih dalam waktu lama sambil menyucikan arus darah
dan daging yang menyerang.
"Kh, ugh……"
Mukjizat kuat yang dikhususkan untuk
menghalau kejahatan ini adalah jenis mukjizat yang tidak bisa diwujudkan tanpa
memberikan beban pada otak hingga membakar saraf, bahkan bagi orang High Stella
yang memiliki mental dan fisik kuat sekalipun.
Normalnya ini bukan sesuatu yang bisa
digunakan terus-menerus, namun dalam pertarungan melawan "Prajurit Garis
Depan", Lapica menyerahkan kendali tubuhnya pada Sang Dewi.
Karena Sang Dewi tidak memiliki tubuh
fisik di dunia ini, hanya Lapica yang bisa menanggung bayaran kekuatannya.
Setiap kali menjalankan mukjizat,
setiap kali menggunakan sihir yang tidak dikenal, kepalanya terasa sakit seolah
akan pecah.
Meski Lapica disebut sebagai wadah
terbaik sepanjang sejarah—bukan, justru karena dia Lapica-lah dia sanggup
menahan beban ini. Dia terpaksa sanggup menahannya.
『【Barrier
Sacris】』
(──Kh,
hah…… ugh!)
Mental kuat yang tidak mudah hancur,
serta mana berlimpah yang bisa dikeluarkan tanpa batas, justru berfungsi
sebagai kutukan yang membelenggu Lapica pada kursi penyiksaan yang tak
berakhir.
Tak peduli seberapa banyak
"Prajurit Garis Depan" dimurnikan, dagingnya seolah tak pernah habis,
dan Heresy terus bersuara seolah menyemangati makhluk itu.
(Tapi……
meskipun begitu……)
Tubuh dan mentalnya sendiri
terkikis—itulah bayaran bagi Lapica, yang hanyalah eksistensi dunia bawah,
untuk menghadapi pengikut Dewa Jahat.
Namun, demi menyelamatkan Heresy, Sang
Orang Suci mati-matian memperkuat tekadnya dan menahan hatinya agar tidak
menjadi lemah.
Seolah menertawakan niat baik dan kasih
sayang Lapica, bentuk "Prajurit Garis Depan" berubah-ubah setiap kali
dilihat.
Sejak awal makhluk itu memang tidak
berniat mengikuti hukum dunia ini.
Tumpukan daging yang berkali-kali
dibakar cahaya mukjizat itu justru menyimpan kegilaan dan kekacauan yang lebih
dalam setiap kali permukaannya melepuh, lalu meledak terpental dengan suara
berderit seolah sedang menguji keadilan dan kewarasan Lapica.
Di
belakangnya, Heresy berdiri dengan senyum tenang. Seolah telah menjadi bagian
dari inkarnasi kegilaan itu, menunggu saat di mana hati Lapica hancur bersama
Dewa dunia bawah di sampingnya.
Meski
tidak berpartisipasi langsung dalam pertempuran, sosoknya yang tidak goyah oleh
apa pun itu memancarkan aura dominasi yang aneh dan mengerikan.
(Dewi-sama
pasti tidak akan kalah. Tapi, jika ini terus berlanjut…… aku tidak akan kuat.
Sesuatu harus……)
Didera
kecemasan karena perlahan terdesak, Lapica memalingkan wajah dari monster
mengerikan itu dan mengarahkan kesadarannya ke sekeliling.
Lalu, di
ujung ruang putih yang luas tak berujung itu—ia melihat sebuah api hitam kecil
menyala.
"Ini
akhirnya, Zenafim. 【Wahai Keadilan, Wahai Berkah, Lihatlah
Cahayaku】."
"Tsk…… 【Wahai
Kejahatan, Wahai Kenajisan, Lihatlah Cahayaku】!"
Para malaikat yang bertarung di
kejauhan masing-masing memanjatkan doa kepada tuannya, menciptakan bola cahaya
di depan mata mereka. Yang satu bersinar putih perak, namun yang satunya
berwarna hitam.
Cahaya suci yang meledak bersamaan itu
tadinya dikira akan saling meniadakan, namun saat api hitam yang menyelimuti
salah satu bola cahaya mulai menelan cahaya lainnya, perlahan seluruh area
terbungkus api hitam dan berkobar.
"Hei, lihat itu. Api milik
Firiel-san dan yang lainnya itu…… apa akan sampai ke sini lagi?"
"……Benar.
Tapi api hitam apa itu? Berbeda lagi dengan yang tadi…… Gawat gawat gawat."
Api
hitam yang menelan cahaya suci perak itu terus membesar secara eksponensial
sambil membungkus seluruh ruang dengan panas membara.
Bersamaan
dengan Konko yang menjalankan sihir pertahanan demi melindungi Heresy, Sang
Dewi juga melakukan mukjizat untuk melindungi tubuh Lapica.
"【Barrier Sacris】"
(……!
Ugh…… kh!)
Di dalam api hitam yang menyapu lewat,
Lapica akhirnya memekik dari lubuk jiwanya akibat beban yang bertubi-tubi.
Ia diserang sensasi seolah ada sesuatu
yang putus di dalam otaknya, namun mental kuat sebagai Orang Suci tetap tidak
membiarkannya pingsan.
Lautan api hitam menyapu dan
melenyapkan segalanya, berlari dengan percepatan tanpa batas hingga ke ujung
ruang yang seharusnya tidak ada.
(Hah,
hah…… hah……)
Pandangannya goyah. Air mata merembes.
Bahkan dalam kondisi ekstrem seperti itu, Lapica mengangkat wajahnya demi
mengkhawatirkan keadaan temannya.
Di sana, ia melihat sosok
"Prajurit Garis Depan" yang tadi melindunginya kini terpanggang
seluruh tubuhnya oleh api hitam, permukaan dagingnya yang mengerut berbuih dan
membuatnya tidak bisa bergerak.
Mumpung "Prajurit Garis
Depan" yang mengerikan itu tidak ada, mungkin ia bisa menyelamatkan
Heresy.
Mungkin ia
bisa menyadarkannya. Tidak perlu menyerahkan pertempuran pada Sang Dewi.
Inilah
satu-satunya saat ia bisa menyampaikan perasaannya pada Heresy dengan kehendak
dan kata-katanya sendiri.
『Apa yang kau lakukan? Berbahaya.
Serahkan tubuhmu pada-Ku.』
"Heresy-san,
Heresy-san……!"
Saat Lapica
mencari temannya dengan mata yang buram, ia menemukan sosok yang ia cari di
dekat bangkai "Prajurit Garis Depan". Mengabaikan suara bising yang
bergema di otaknya, ia berlari tanpa menoleh, dan saat ia mencoba meraih tangan
hangat itu, entah kenapa pemuda itu justru menyerang Lapica seolah menolak
bantuan.
"Heresy-san, tenanglah! Ini aku!
Lapica!"
Apakah dia bingung karena pengaruh cuci
otaknya mulai luntur?
Menghadapi perlawanan yang secara
mengejutkan sangat kuat, Lapica yang kebingungan menciptakan benang mukjizat.
Meski berat hati, ia merasa perlu menahannya untuk sementara.
Benang yang berenang lurus di udara itu
menangkap batang tubuh sang pemuda, melilitnya berkali-kali seperti jerat.
Terakhir, saat Lapica menarik ujung
benang untuk mengencangkan lilitannya—tubuh pemuda itu terbelah menjadi dua
dengan sangat mudah.
"……Eh?"
Seketika,
bagian atas tubuh pemuda itu merosot jatuh ke lantai. Seperti memotong boneka
kertas, tanpa ada perlawanan sedikit pun.
Lapica hanya
bisa menahan napas karena kejadian itu terasa begitu hampa.
Fakta bahwa
pemuda itu bahkan tidak mencoba fokus pada pertahanan terasa ganjil, namun yang
terpenting, kenyataan bahwa ia telah membunuh temannya dengan tangannya sendiri
menyayat hati gadis berusia lima belas tahun itu dan membuatnya membeku.
"Bohong…… tidak mungkin……"
Air mata menggenang di matanya yang
sayu, memandangi potongan tubuh yang terjatuh di lantai dengan pandangan yang
buram.
Penampang potongan yang sangat rata
secara tidak alami itu mungkin karena ia memotongnya dengan benang, alat
khusus, dan bukan pedang.
"Pe-pengobatan…… sihir
penyembuhan……"
『Maaf
ya, saya akan berusaha sedikit lebih keras lagi.』
"He? Ugh……!"
Di tengah kekacauan itu, sebuah lengan
raksasa yang terbuat dari tumpukan daging keluar dari celah dimensi yang muncul
tanpa suara di udara.
Lengan itu meremas dan menahan seluruh
bagian bawah dada Lapica, mencengkeram kuat gadis yang mencoba meronta karena
refleks.
"Jangan,
lepaskan……!"
Tangan dan
kakinya tidak bisa digerakkan, bahkan suaranya pun tertahan akibat kekuatan
remasan lengan raksasa tersebut.
Di tengah
situasi krisis di mana ia tidak mungkin bisa lolos dengan kekuatannya sendiri,
suara pemuda yang ia kenal terdengar dari belakangnya.
"Wah,
bukankah ini pertama kalinya ada orang yang benar-benar salah mengira
penyamaran Happy sebagai diriku? Ternyata tidak sia-sia aku diajari triknya!
Tidak berlebihan kalau kubilang dia adalah Master Penyamaran."
『Tak disangka ini benar-benar akan
berhasil……』
"Bukan…… eh? Karena dia bilang
bisa menyamar sebagai dirimu, aku bahkan berniat mempertaruhkan nyawaku untuk
mempercayakannya…… tapi bukankah itu sama sekali tidak mirip……? Aku hanya bisa
berpikir ada debu yang masuk ke matamu sampai bisa tertipu. Atau, penglihatanmu
menurun drastis dalam waktu singkat ini."
Yang mendekat dari belakang Lapica
adalah Heresy yang sedang bertepuk tangan merayakan kesuksesan makhluk
panggilannya, serta Konko yang mengerutkan dahi seolah tidak bisa menerima
situasi tersebut.
"……Yah, karena penyamarannya
terbukti manjur, aku tidak akan protes lebih jauh. Sekarang, mari kita coba
ideku."
Sambil berkata begitu, Konko
mengulurkan tangan ke dada Lapica yang hanya bisa meronta, dan mengeluarkan
liontin dari balik pakaiannya.
Pada liontin putih itu hanya terpasang
satu batu cahaya berbentuk setengah lingkaran, sementara sisi lainnya kosong.
"Lapica-san.
Masih ingat batu yang kamu pinjamkan padaku kemarin?"
Yang
dikeluarkan Heresy dari sakunya adalah batu cahaya yang diberikan Lapica untuk
melindunginya dari eksistensi jahat.
Namun, cahaya
asli batu itu telah hilang, dan di dalam batu itu berputar sesuatu yang tampak
seperti alam semesta hitam.
Benda itu
sudah sangat berbeda dengan batu cahaya saat Lapica memberikannya pada Heresy,
hingga sulit baginya untuk mengangguk ketika ditanya apakah ia ingat.
"Batu
ini sekarang warnanya jadi begini, tapi kalau kita kembalikan ke semula,
mungkin aku bisa menolongmu."
"Ugh…… menolong,
maksudnya……?"
"Biar aku jelaskan singkat saja.
Dewa yang bersemayam di tubuhmu sekarang bukanlah Dewa Bintang yang aslinya
disembah oleh orang High Stella."
"Apa yang kau bicarakan……"
"Bukankah kau sendiri juga mulai
menyadarinya? Apakah Dewa
High Stella memiliki kekuatan yang se-abnormal itu? Pernahkah kau bertanya
sekali saja, 'Apakah Anda adalah Dewa Bintang'?"
"Tapi……"
"Apakah
Dewa yang kalian sembah adalah eksistensi yang akan membuatmu menderita seperti
ini?"
"……"
Memang
benar, ini berbeda dengan cerita yang pernah ia dengar. Ia tidak pernah
mendengar bahwa Dewa Bintang akan mengendalikan tubuh La Pyualiere dan
menggunakan sihir atau mukjizat yang tidak dikenal.
Keraguan
yang sempat muncul mulai menciptakan retakan kecil di celah hatinya.
"Katanya
kalau batu cahaya ini dipasang kembali ke liontin untuk menetralkan
kekuatannya, Dewa dunia atas yang kekuatannya terlalu besar tidak akan bisa
lagi bersemayam di tubuhmu dan kamu bisa kembali seperti semula. Mau coba? Kamu terlihat sangat
menderita sejak tadi."
"Kembali
seperti semula……? Apakah aku bisa berjalan-jalan di kota lagi bersama
Heresy-san? Apakah aku bisa berhenti membunuh Heresy-san……?"
"Tentu
saja. Kalau begitu, segera kupasang batu cahaya ini ke liontin—"
『Hentikan pembicaraan tidak berguna ini.
Sampai pertempuran berakhir, tubuh ini akan berada dalam kendali-Ku. ──【Saint Nova】.』
Ledakan
benda langit yang suci. Gelombang kejut yang menghantam bumi. Sambil melihat
lengan raksasa yang menahan tubuhnya, Dewa bertelinga rubah, serta teman
berharganya terhempas seperti kilasan balik kehidupan, Lapica merasa putus asa
menyadari bahwa pemandangan di depan matanya diciptakan oleh kekuatannya
sendiri.
(Kh……!? Suaraku……!)
Di
tengah keputusasaan itu, Lapica menyadari bahwa ia kehilangan kendali atas
tubuhnya lagi. Sensasi di mana dirinya bukan lagi dirinya sendiri.
Kesadarannya
dicat ulang oleh sesuatu yang sangat murni, dan bahkan rasa kehilangan karena
tidak bisa kembali lagi pun tertutup oleh warna putih bersih.
Bahkan rasa
sakit yang seolah menyobek kepala akibat penggunaan mukjizat pun terasa tumpul
dan jauh.
『Jangan dengarkan suara kejahatan. Kita
harus menghalau kegelapan. Jika tidak, dunia bawah ini akan musnah dengan
mudah. Itu pasti bukan hal yang kau inginkan.』
(Dunia
akan musnah, kekuatan yang berbahaya……)
『Benar sekali. Kau ingin melindungi
dunia ini, melindungi bintang ini, kan? Tujuan kita sama. Tujuan itu bisa tercapai dengan kau
meminjamkan tubuhmu, dan Aku meminjamkan kekuatan-Ku.』
Mungkin
memang benar begitu. Heresy memiliki kekuatan yang jahat dan mematikan.
Insting, naluri, dan intuisi sebagai Orang Suci, segalanya dalam dirinya
mengatakan demikian.
(……)
Namun Lapica
tidak bisa memaksa dirinya untuk berpikir bahwa Heresy adalah tipe orang yang
akan salah menggunakan kekuatannya.
Keraguan dan
kecurigaan yang terus membara sejak hari pertama ia mendengar suara Dewa ini.
Perasaan
sebagai manusia biasa yang selama ini ia tekan dalam-dalam di lubuk hatinya
sambil meyakinkan diri bahwa memercayai dan menaati Dewa adalah misinya.
"Aduh-duh……"
Pemuda yang
sempat terjatuh akibat gelombang kejut tadi perlahan berdiri sambil memeriksa
kondisi tubuhnya.
Di tangannya
tergenggam batu cahaya hitam yang tadi berada dalam jangkauan tangannya.
"Lapica-san,
kamu kelihatannya menderita banget ya. Ini, akan kubawa ke sana. Kalau ini
dikembalikan ke asalnya, tubuhmu pasti akan bebas."
(Eh……
tunggu, jangan……!)
『【Shining
Arrow Rain】』
Anak panah cahaya yang tak terhitung
jumlahnya ditembakkan oleh Sang Dewi, menciptakan banyak luka di tubuh pemuda
yang berjalan menuju Lapica.
Anak panah yang mengenai sasaran yang
buruk merobek pundaknya dalam-dalam, membuat bagian bawah pakaiannya yang sobek
berubah menjadi merah pekat.
(Kenapa,
padahal kamu sudah terluka separah itu…… demi aku……)
Berbagai bagian tubuhnya
tercabik-cabik, tidak tahu kapan ia akan menerima luka fatal—meskipun dalam
kondisi seperti itu, Heresy tetap menatap lurus ke arah Lapica dan melangkah
maju satu demi satu.
(Berhenti,
jangan ke sini……!)
Ia akan
membunuh teman berharganya dengan tangannya sendiri. Meski Lapica berteriak
mati-matian membayangkan momen itu, ia tidak bisa merebut kembali kendali
tubuhnya yang dirampas Sang Dewi.
Setiap kali
anak panah cahaya melukai tubuh Heresy, setiap kali anak panah itu menancap
dalam, saat itu semakin mendekat dari detik ke detik. Bahkan memalingkan wajah
dari kenyataan yang tidak ingin dilihat pun tidak diizinkan bagi Lapica
sekarang.
(Jangan……
berhenti, kumohon……!)
Melihat Heresy yang terluka parah dan
akhirnya tersungkur di lantai, Lapica merasakan sesuatu yang panas membuncah
dari dasar jiwanya.
Itu bukanlah emosi seperti kemarahan
atau kesedihan, melainkan tekad untuk mempertahankan kehendaknya sendiri yang
selama ini ia ragukan namun tak sanggup ia percayai sepenuhnya.
Itu adalah tekad untuk membuang iman
buta pada Dewa yang membelenggunya.
"Berhenti!"
『!?
Kendali tubuhnya……』
Kesadaran yang sempat memutih kabur
berubah menjadi jernih kembali. Kekuatan mengalir masuk ke tubuhnya.
"Dewi-sama, tubuhku adalah
milikku. Aku tidak
akan menjalankan misi Dewa, aku akan melakukan apa yang ingin kulakukan."
Yang berdiri
di sana bukanlah Orang Suci High Stella, La Pyualiere.
Yang berdiri
di sana adalah seorang gadis bernama Lapica, yang memikirkan rakyatnya,
menyayangi temannya, dan menyukai hidangan daging.
Setelah
membuang iman buta pada Dewa dan merebut kembali kendali tubuh dengan
kehendaknya sendiri, ia justru memancarkan aura yang lebih agung dari
sebelumnya saat melangkah untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Lapica
berlutut di samping temannya yang akhirnya ia capai, lalu mewujudkan mukjizat
kuat yang tidak kalah dengan yang dijalankan Sang Dewi hanya dengan kekuatannya
sendiri, dan menyembuhkan pemuda itu sepenuhnya.
"……Lho,
sudah tidak sakit?"
『Kau, yang seharusnya hanyalah wadah
kosong, bagaimana bisa menyentuh kekuatan di ranah Dewa……? ……Mungkinkah kau
justru mengendalikan kekuatan-Ku yang bersemayam di dalam dirimu……!?』
Menggunakan
kekuatan yang ada di dalam tubuh dengan kehendak sendiri.
Lapica yang
sekarang mampu melakukan hal yang biasa dilakukan oleh manusia normal mana pun.
Bahkan suara
Sang Dewi yang tadi menggema begitu keras hingga menutupi pikirannya, kini
Lapica memiliki keleluasaan untuk memilih apakah akan mendengarkannya atau
tidak.
"Heresy-san,
maafkan aku. Karena kekuatanku—bukan, karena hatiku yang lemah, aku membuatmu
berada dalam bahaya."
"Eh,
tidak apa-apa kok. ……Hm? Lapica-san, auramu agak
berubah ya?"
"Begitukah……? Aku sendiri tidak
tahu, tapi rasanya seperti sudah berdamai dengan sesuatu, atau seperti beban
sudah terangkat…… yang pasti aku merasa seperti telah terlahir kembali."
"Ooh, begitu ya. Selamat! Kalau
Lapica-san sudah sadar sepenuhnya meski masih ada Dewa di dalam tubuhmu, apa
aku sudah tidak perlu mengembalikan batu cahaya ini ke liontin?"
"Perlu. Aku tidak ingin terjadi
sesuatu lagi dari dalam diriku, jadi mari kita kembalikan batu cahaya ini ke
liontin dan minta Sang Dewi untuk pergi. Lagipula ini benda yang kuberikan
dengan janji akan dikembalikan, dan tindakan memasang batu cahaya ke liontin
itu sendiri memiliki…… banyak arti."
Lapica
teringat peran liontin di High Stella, dan meski pipinya sedikit merona, ia
memegang liontin di dadanya.
Perasaannya
yang tertuju pada lubang setengah kosong yang menanti batu cahaya itu terus
memuncak, bahkan di saat mereka berada berdampingan seperti sekarang.
『Tunggu sebentar. Kau sendiri tidak akan
bisa memusnahkan pengikut Dewa Jahat. Kau ingin menyelamatkan dunia bawah, kan?
Kita harus bekerja sama.』
"Ya.
Aku ingin melindungi bintang ini. Aku ingin menyelamatkan rakyat High Stella. Itu tidak berubah sampai
sekarang. Dan hal itu tidak bertentangan dengan kepulangan Dewi-sama. Aku telah
memutuskan untuk percaya bahwa temanku bukan orang yang akan salah dalam
menggunakan kekuatannya."
『Kau tidak tahu kekuatan Dewa Jahat. Kau
tidak tahu kengerian pengikut Dewa Jahat. Dari dunia bawah, kalian tidak akan
pernah bisa mengamati kebenaran.』
"Dewi-sama.
Anda memang bukan Dewa yang kami sembah di High Stella, tapi aku sangat
berterima kasih. Terima kasih karena hari itu telah memberiku alasan untuk
keluar dari gereja, dan membiarkanku menemukan hal yang berharga…… terima
kasih."
『Tungg—』
"Batu
cahayanya dipasang dengan posisi begini, ya? Hap."
Heresy
menahan liontin yang disodorkan Lapica dengan membusungkan dada, lalu sepasang
batu cahaya yang sempat terpisah itu pun terpasang kembali.
Dari titik
temu kedua batu cahaya itu, warna masing-masing mulai mengalir, bercampur, dan
saling meniadakan—hingga keduanya menjadi bening tanpa warna.
Detik
berikutnya, ruang putih yang diciptakan Sang Dewi lenyap seketika seolah
semuanya hanyalah mimpi.
Yang kembali
ke dunia nyata adalah sepasang pemuda-pemudi yang berbincang dengan senyum
tulus, seorang Dewa kesuburan bertelinga rubah yang sempat merasa canggung
karena tidak bisa ikut mengobrol, serta dua malaikat yang masih terus berdebat
meski segalanya sudah berakhir.
Itu adalah hari yang tenang, di mana cuaca yang mengingatkan pada kabut bunga sakura sangat cocok dengan birunya langit.
Chapter 20
Hasil Akhir: Sang Ksatria
Laporan
Hasil Investigasi Disusun
oleh: Kapten Pasukan Ksatria
Laporan ini
menunjukkan hasil investigasi melalui wawancara dengan pihak-pihak terkait
mengenai "Serangan terhadap berbagai fasilitas dalam negeri dan bantuan
pelarian, pembunuhan monster penelitian, serta pemanggilan beberapa makhluk
panggilan tanpa kepemilikan lisensi" yang dilakukan oleh Heresy dari Desa
Shiawase, seorang rakyat jelata yang baru saja masuk ke Akademi Pemanggil.
Sebagai latar
belakang, Sang Orang Suci La Pyualiere yang berkunjung dari High Stella dan
menetap di ibu kota merasa sangat terkesan setelah bersentuhan dengan teknologi
dan budaya tingkat tinggi negara kita, sehingga diputuskan untuk melakukan
peninjauan ke organisasi-organisasi utama yang menjadi fondasi negara.
Yang
mendampingi beliau dalam kegiatan ini adalah Heresy dari Desa Shiawase, pelaku
utama dalam insiden ini.
Heresy dari
Desa Shiawase menyerang markas besar Gereja Elpis sehari setelah diputuskan
menjadi pendamping Sang Orang Suci.
Ia
menyalahgunakan posisi Sang Orang Suci sebagai perwakilan negara untuk menyusup
ke fasilitas tersebut, merusak barang-barang yang disimpan di dalamnya, lalu
melarikan diri.
Dua hari
kemudian, kali ini ia menyerang Guild Pembasmi. Ia menyandera Maritta Shiedia,
putri dari Ketua Guild sekaligus siswi tahun ketiga Akademi Sihir, lalu
menggeledah gudang di dalam fasilitas serta brankas di ruang Master Guild.
Selain
melakukan gangguan operasional dengan cara penyanderaan, ia juga melakukan
kejahatan berat berupa pemberian penderitaan mental pada sandera sebelum
akhirnya melarikan diri.
Keesokan
harinya, ia akhirnya menyerang laboratorium Institut Sihir, yang merupakan
fasilitas paling krusial yang mengatur pengembangan teknologi negara kita.
Setelah
menghancurkan pintu masuk area penelitian, ia menuju blok penelitian monster
dan menghancurkan pintu masuknya juga.
Kardinal
Ilius dari Gereja Elpis yang kebetulan berada di sana mencoba melakukan
negosiasi, namun ia mengabaikannya dan masuk ke dalam laboratorium.
Ia membunuh
monster sintesis yang merupakan hasil penelitian berharga, lalu melumpuhkan
Algyon Fagol, penanggung jawab fasilitas tersebut.
Selain itu,
ia juga melakukan kejahatan berat dengan membuat pingsan Cain Shiedia, Ketua
Guild Pembasmi yang sedang berkunjung ke fasilitas tersebut, dan merampas
beberapa barang miliknya.
Lalu hari
berikutnya, di tengah pengawasan pasca-penyerangan Institut Sihir, ia justru
melakukan insiden lagi di dalam Kastel Raja.
Ketika
ksatria yang sedang berpatroli menyadari adanya keributan dan bergegas menuju
ruang rapat kecil di lantai tiga, ditemukan tiga makhluk panggilan yang telah
dipanggil di dalam ruangan tersebut.
Satu
teridentifikasi sebagai makhluk panggilan kontrak milik Leticia Creserize,
namun karena rincian dua makhluk sisanya yang bersayap putih tidak diketahui,
ksatria meminta penjelasan. Terungkap bahwa keduanya adalah makhluk panggilan
kontrak milik Heresy dari Desa Shiawase.
Mengingat
Heresy adalah seorang siswa yang belum memiliki lisensi pemanggil dan sudah
terdaftar memiliki dua makhluk panggilan, hal ini dianggap sebagai pelanggaran
berat sehingga ia ditangkap di tempat kejadian (tangkap tangan).
Demikian
laporan investigasi ini disusun. Namun, terdapat informasi bahwa dalam insiden
kultus sesat sebelumnya, terdapat perbedaan antara laporan ksatria dengan
laporan akhir yang disampaikan kepada Yang Mulia Raja.
Agar isi
laporan ini tidak mengalami pemanipulasian, kami mengharapkan penanganan yang
adil dan tegas.
Demi
kemakmuran Meilleur yang lebih besar. Hidup Nifirerika-sama.
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment