NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze Nigerun Dai? Boku no Shoukanjuu wa Kawaii yo Volume 1 Chapter 10

Chapter 10

Shuttle Run, Sihir Misterius


"Hari ini, aku akan memeriksa sejauh mana kalian bisa menguasai sihir. Sebagai orang yang memiliki bakat Summoner, tidak diragukan lagi bahwa kapasitas Mana kalian berada di tingkat atas umat manusia. Namun, teknik pengendalian adalah bagian yang paling menunjukkan perbedaan individu, bahkan di antara Summoner yang sudah berpengalaman di medan tempur."

Halo, namaku Heresy!

Setelah mengantar kepergian Wakil Kepala Sekolah yang pergi sambil marah-marah kemarin, aku ditraktir makan malam oleh Konko-san.

Aku pun tertidur sambil terus memikirkan angka fantastis yang kudengar saat pembayaran tadi!

Sekarang, kami berkumpul di tempat pelatihan sihir yang sedikit lebih sempit daripada lapangan pemanggilan untuk mendengarkan penjelasan Sensei!

Aku sempat membayangkan kalau pelajaran akademi itu hanya duduk di kelas sambil memegang buku teks, tapi mungkin karena baru saja masuk, sejauh ini isinya praktikum terus, ya!

Omong-omong, Jade-kun absen lagi! Aku mulai khawatir kalau keluarganya akan memanggilku dalam waktu dekat, tapi untungnya belum ada tuntutan apa pun! Mungkin saja dia cuma sedang sibuk dengan urusan keluarganya!

"Seorang Summon Beast dapat beraksi melampaui kemampuan aslinya berkat arahan dan sihir pendukung dari tuannya. Tergantung kemampuan si pengguna, tidak jarang hasil pertempuran bisa berbeda berkali-kali lipat. Dengan kata lain, Summoner yang hebat juga merupakan Mage yang hebat. Savant di sana juga seorang ahli yang mampu menguasai berbagai sihir tingkat tinggi."

"Mohon bantuannya untuk hari ini juga."

Lalu, Savant-sensei yang belakangan ini kucurigai sebagai orang kurang kerjaan, datang lagi untuk menonton!

Aku merasa terganggu dengan caranya menatapku—seperti sedang melihat bom yang bisa meledak kapan saja—tapi dia orang baik yang selalu membantuku dalam berbagai hal, kan!

"Kecuali sihir penyerang yang membutuhkan spesialisasi, sihir pendukung adalah mata pelajaran wajib di Akademi Summoner dan memiliki bobot nilai yang besar. Tentu saja, karena ini adalah bidang yang baru akan kalian pelajari, aku tidak mengharapkan hasil setingkat Summoner garis depan. Namun, karena ini akan dicatat sebagai nilai awal kalian, fokuslah dalam mengerjakannya. Sebelumnya aku ingin bertanya, apakah ada di antara kalian yang merasa sangat payah dalam sihir?"

"Cih, rakyat jelata itu pasti tidak bisa menggunakan sihir yang hebat."

"Bagaimana kalau kita suruh dia mencoba sihir tingkat dasar... tidak, tingkat pemula di depan semua orang?"

"Hahaha, pasti tontonan yang menarik melihatnya mempermalukan diri sendiri!"

Mendengar pertanyaan Sensei, teman-teman sekelas sepertinya mulai menebak-nebak kemampuanku... Maaf, ya. Aku akan melangkah jauh di "atas" dugaan kalian...!

"Tidak ada...? Hm? Heresy, ada apa kau mengangkat tangan?"

"Aku tidak bisa pakainya."

"...Apa maksudmu? Apa yang ingin kau katakan?"

"Aku tidak bisa menggunakan sihir."

"!?"

Ya, aku tidak bisa menggunakan sihir!

Wali kelas kami sampai menunjukkan ekspresi terkejut yang luar biasa, tapi bukankah sihir itu hanya bisa digunakan oleh segelintir orang—walau masih lebih baik daripada teknik pemanggilan?

Jadi tidak aneh kan kalau aku tidak bisa?

Orang-orang bangsawan mungkin sudah tahu bakat mereka sejak awal, jadi mereka dilatih di rumah sejak kecil!

Aku juga pernah mencoba belajar sihir dari nenek penjaga gerbang gadungan itu, tapi aku menyerah karena tidak bisa menangkap sensasi pengendalian Mana!

"Runcingkan resistansi dalam tubuh, lalu kalau perasaanmu sudah mulai memerah, berarti itu sudah datang"—apaan coba? "Sudah datang" itu apa? Cara mengajarnya terlalu berdasarkan insting.

"Rakyat jelata itu... tidak kusangka sampai separah ini..."

"Luar biasa. Ini benar-benar melampaui dugaan kami...!"

"Bukankah demi kebaikannya sendiri sebaiknya dia mulai dari alat peraga latihan anak-anak saja...?"

Ah, karena aku berada terlalu jauh di "atas", teman-teman sekelas sampai kebingungan!

"Semakin kuat Summon Beast-mu, maka peningkatan dari sihir pendukung tidak bisa diabaikan. Itu juga cara bagi Summoner untuk melindungi dirinya sendiri. Penguasaan sihir hampir menjadi kewajiban dalam pertempuran modern..."

Egas-sensei, wali kelas kami, menjelaskan pentingnya sihir dengan wajah serius! Alasan kenapa hampir setengah dari soal ujian masuk berhubungan dengan sihir akhirnya terungkap dan membuat perasaanku lega.

Tapi, kalau itu kemampuan yang sangat penting, bukankah pihak akademi juga bersalah karena meloloskan murid tanpa memastikan apakah dia bisa memakai sihir atau tidak?

"...Baiklah kalau begitu, silakan masing-masing dari kalian menggunakan sihir pendukung pada Summon Beast kalian. Jenis sihirnya bebas. Urutannya bisa dimulai dari yang paling dekat denganku."

Sensei yang tadinya memegang pangkal hidungnya sambil menatap langit, mulai memberikan instruksi dengan nada pasrah seolah baru saja melepaskan beban pikiran! Apa perkataanku tadi dianggap tidak pernah ada? Bagaimana kalau giliranku tiba?

"Ini dia! Hiaaa! Magic Veil!"

Karena posisi berdirinya hari ini, Leticia sepertinya tidak menjadi yang pertama. Murid yang berada di dekat Sensei mulai memamerkan sihir mereka satu per satu.

Saat seorang anak laki-laki sekelas mengerahkan tenaganya, sebuah lapisan transparan menyelimuti Summon Beast yang dia panggil dan mengeras!

Meskipun aku tidak bisa sihir, aku tetap rajin belajar dari buku teks supaya tidak malas-malas amat. Aku tahu itu adalah sihir pertahanan untuk mengurangi dampak sihir lawan!

Aku bahkan sudah menghafal bentuk Mana yang harus dijalin saat menggunakannya! Tapi karena tidak tahu cara melakukannya, ya percuma saja!

"Hah... hah... bagaimana...!"

"Luar biasa, kau sudah bisa menstabilkan sihir tingkat menengah...!"

"Kekerasannya juga cukup. Dengan itu, sihir penyerang tanggung pasti akan terhapus."

"Umu. Summon Beast-mu juga mempercayaimu dan menerima sihirnya. Sepertinya kalian sudah membangun hubungan yang baik. Akan kuberi nilai tambahan."

Ooh, nilainya tinggi. Bagi aku yang bahkan tidak bisa melakukan sihir pemula sama sekali, apa yang mereka lakukan terasa seperti di dimensi lain sehingga tidak bisa dijadikan referensi!

Mereka tampak mengerahkan tenaga sampai tubuhnya tegang, tapi apakah gerakan itu memang diperlukan untuk pengendalian Mana?

Murid kedua dan seterusnya terus memamerkan sihir mereka. Aku pun menyadari sekali lagi bahwa aku telah tersesat ke dalam kelas luar biasa yang tidak hanya hebat dalam pemanggilan tapi juga ahli dalam sihir!

Sensei bilang kemampuan mereka dalam menangani sihir setara dengan murid-murid dari Akademi Mage. Memang benar, kaum bangsawan itu isinya elit semua, ya!

Saat aku menonton yang lain dengan wajah penonton, mataku beradu dengan Egas-sensei yang sedang menggoreskan pena di buku nilai. Dia sempat menundukkan pandangannya sejenak dengan aura seolah berkata... "Yah, menunda-nunda juga ada batasnya, mari kita selesaikan sekarang"... tapi itu cuma perasaanku saja, kan!

"............Selanjutnya, Heresy. Meskipun kau bilang tidak bisa sihir, setidaknya kau sudah membaca buku teks yang diberikan, kan?"

"Sudah."

"Bagus. Kalau begitu, coba gunakan Healing. Itu sihir dasar untuk memulihkan Summon Beast. Aku ingin memastikan apakah yang kau katakan... itu, soal kau tidak bisa sihir, benar-benar nyata."

Ah, sepertinya aku tetap harus melakukannya! Tampaknya Sensei masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ada manusia yang bisa memanggil monster tapi tidak bisa memakai sihir! Terimalah kenyataan!

Healing adalah sihir untuk memulihkan luka lawan! Karena ini ada di buku teks, aku sudah menghafal pola jalinan Mana-nya.

Aku juga ingat sensasinya karena pernah beberapa kali diobati saat terluka sewaktu membasmi hama... tapi yah, kalau tidak bisa ya tidak bisa!

"Jangan khawatir. Dulu aku juga pernah mengalami masa di mana pengendalian Mana-ku menjadi tidak stabil karena tekanan dari orang tua. Saat itu yang menyelamatkanku adalah Summon Beast-ku—"

"Hydra, bisa ke sini sebentar?"

"! ...Nn... baik! Saya sudah menunggu Anda!"

Karena Sensei masuk ke mode nostalgia, aku memutuskan untuk memanggil Hydra selagi menunggu! Mulut Hydra yang datang tampak komat-kamit, jangan-jangan dia sedang makan tadi? Maaf ya, waktunya tidak tepat!

Setelah kujelaskan isi pelajarannya, Hydra menerima permintaan untuk mencoba sihir itu dengan senang hati.

Tapi menunjukkan sisi payahku pada dia yang bisa memakai sihir rasanya agak berat bagi seorang tuan!

Kalau dengan Happy sih tidak masalah karena kami tidak perlu lagi jaim satu sama lain, tapi dengan Hydra, setidaknya aku ingin terlihat keren di awal... ya, kan?

Anu... saya sampai sekarang pun tetap berhati-hati dalam banyak hal. Sebelum bermanifestasi, saya berusaha sebisa mungkin menyatukan tubuh saya atau meningkatkan kepadatan supaya tidak terlalu terpencar...

Ah, belakangan ini aku merasa wujud Happy jadi lebih jelas dan keimutannya bertambah, ternyata karena itu ya. Dia berusaha menekan pengaruhnya terhadap sekitar! Hebat!

Ka-Kawaii (Imut), ya...? T-Terima kasih banyak...

Ini yang namanya "Meskipun sangat akrab, tetap harus ada tata krama"! Mungkin lain kali saat memanggil Happy, aku harus merapikan penampilanku juga?

"Kalau begitu Hydra, aku akan mencoba sihirnya, jadi aku akan menyentuh tubuhmu sebentar. Mungkin tidak akan berhasil, sih."

"Baik, silakan! Gunakan bagian mana pun yang Anda suka!"

"E-er... kalau begitu tentakel yang ini saja. Healing."

Dari Hydra yang menyodorkan kepala bersama beberapa tentakelnya, aku memegang satu tentakel saja dan segera mencoba sihirnya!

Aku tidak paham prinsip sihir sama sekali jadi aku cuma menghafal buku teks.

Katanya, sihir adalah teknik mewujudkan keajaiban dengan menyusun pola jalinan dalam pikiran secara berlapis untuk menciptakan struktur tiga dimensi, lalu mengalirkan Mana ke sana... benarkah ini membicarakan dunia yang sama?

Bahkan di buku teks yang paling mudah pun tidak ada tips yang tertulis.

Tidak adanya panduan untuk pemula seperti itu menurutku adalah penyebab utama sedikitnya jumlah Mage di negara ini!

Untuk hal itu, menurutku lebih baik mencontoh negara tetangga saja! Meskipun semuanya musuh kecuali satu negara netral, jadi mereka tidak akan memberi tahu apa-apa!

Yah, mengeluh pada buku teks juga tidak ada gunanya, jadi aku tidak punya pilihan selain mencoba meraba-raba sebisaku. Membayangkan pola dalam pikiran, lalu terakhir mengerahkan tenaga...?

"...Cukup, hentikan dulu. Sepertinya kau sama sekali tidak bisa melakukan pengendalian Mana. Padahal kau bisa memanggil Summon Beast ukuran besar dengan santai, sungguh aneh."

"Kejadian seperti itu ada beberapa kasusnya, Egas-sensei. Sudahlah. Dia tidak istimewa."

"Savant...? Ada apa tiba-tiba. Jangan ikut campur dalam pelajaranku."

Entah kenapa Savant-sensei yang mendekat sambil berlari kecil langsung ditegur. Padahal kemarin dia membantuku, kok sekarang tiba-tiba menjatuhkanku begitu.

Tapi, bisa bicara seperti itu kepada Savant-sensei yang katanya orang hebat yang menjanjikan, apa wali kelas kami... Egas-sensei, sebenarnya orang yang cukup hebat? Mungkin wajar saja kalau mengingat dia menangani anak-anak bangsawan.

"Sekali lagi. Berikutnya aku ingin menguji dengan mengurangi elemennya lebih banyak lagi. Coba gunakan Sympathy."

"Sim...?"

"Sympathy. Karena sempat ada perdebatan saat pendefinisiannya, sihir ini tidak tercantum dalam buku teks sekarang. Ini adalah sihir mudah yang bertujuan untuk bersentuhan dengan Summon Beast, menghubungkan hati, dan memeriksa kondisi kesehatan mereka."

Hee, sihir bisa diperdebatkan soal definisinya, ya. Aku pernah dengar dari Pak Kades kalau pemberian definisi dan sistematisasi itu sebenarnya penting! Meski aku tidak terlalu paham, sih!

"Konsumsi Mana-nya sangat sedikit. Sampai beberapa tahun lalu, bahkan penggunaannya pun tidak bisa terdeteksi. Dan tentu saja, sihir ini tidak memerlukan penyusunan pola. Sihir ini akan tercipta asalkan Mana mengalir ke target."

"Itu... sepertinya praktis, ya."

"Aku juga berpikir begitu. Namun, untuk berhasil, Summon Beast harus mempercayai tuannya dan menerimanya dari lubuk hati. Banyak juga Summon Beast yang membenci hal ini karena menganggap mengandalkan sihir untuk berkomunikasi adalah tindakan yang meragukan hubungan kepercayaan. Belakangan ini, kecenderungan itu semakin kuat seiring dengan meningkatnya peringkat Summon Beast. Di antara Summoner muda, bahkan ada yang menyebutnya sebagai sihir untuk orang amatir. Dulu, saat aku ingin menggunakannya untuk penelitian, aku juga kesulitan. Partnerku tidak setuju aku menggunakannya pada Summon Beast yang baru saja berkontrak—"

Ah, mode nostalgia! Selagi Sensei memberikan wejangan yang berharga, mari kita coba sihirnya!

"Hydra, boleh aku mencobanya? Katanya kalau berhasil, hati kita akan terhubung."

"Tentu saja! Tapi soal hati yang terhubung itu, anu, maksudnya... apakah itu berarti hal itu!?"

"Hal itu...?"

"Ah, tentu saja kalau itu Heresy-san, saya malah ingin meminta Anda melakukannya! S-saya masih kurang berpengalaman, mohon bimbingannya...!"

"Ah, iya."

Reaksinya agak misterius tapi karena dia tidak keberatan ya sudahlah!

Hanya menyentuh lawan dan mengalirkan Mana, ini sihir luar biasa yang sepertinya bisa digunakan bahkan oleh pemula sepertiku! Cukup alirkan Mana... alirkan Mana...

"Sympathy!"

"! ...?"

"..."

"..."

Iya, makanya mengalirkan Mana itu bagaimana? Bukankah ini sama seperti kasus tidak tahu cara menggerakkan telinga, atau tidak tahu rasanya bahu kaku? Bukankah ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan hanya dengan berusaha keras?

Benar juga, bagaimana kalau aku mencoba mengerahkan tenaga seperti yang dilakukan murid-murid lain? Karena sihir adalah teknologi misterius yang penjelasannya di buku teks saja sudah tidak jelas, mungkin saja teori semangat bisa berhasil? Entahlah.

Eit, hah, fuh! Mana, keluarlah! Tidak keluar? Keluar sekali saja dong! Hiaaa!

Logika dan rasa terdistorsi, pemurnian yang kejam menekan ego yang membara. Memeluk kegelapan, menggosok jaring semesta, membakar rasa takut dalam perut yang bundar. Belas kasihan yang membeku, kecepatan merah yang melampaui hambatan, buah dari kupu-kupu yang menarik diri. Tanah subur yang haus, lampu yang berlari, melanggar batas dalam kabut ilusi yang mengerikan.

"Apa itu. Sesuatu, jatuh..."

"Ini... spiral... cahayanya!"

"A... a...! Aaah!"

Ah, bukan, bukan begitu. Jadi aneh begini. Memang tidak baik kalau dipaksakan. Teori semangat itu pemikiran kuno. Menurutku sudah tidak cocok dengan zaman sekarang!

Selagi aku memalingkan wajah dari kenyataan bahwa aku gagal sihir dan juga dari tatapan penuh harap Hydra, Savant-sensei yang ada di belakang tiba-tiba maju ke depan dengan panik sambil merentangkan kedua tangannya! Hari ini dia aktif sekali, ya!

"T-tunggu! Yang baru saja dia aktifkan adalah... teknik ramalan yang berasal dari Benua Timur! Sering terjadi kasus di mana kegagalan aktivasi sihir malah memicu teknik lain yang berbeda dari tujuannya!"

"Eh... yang tadi itu teknik ramalan...?"

"Bahkan sampai menguasai teknik dari Benua Timur, memang sehebat yang diduga dari Savant-sensei...!"

Menurut Savant-sensei yang entah kenapa matanya melirik ke sana kemari, sepertinya aku gagal mengendalikan Mana dan malah mengaktifkan teknik ramalan Benua Timur! Masa siiiih?

Melihat Konko-san yang menggelengkan kepalanya kuat-kuat sepertinya itu jawabannya, tapi karena teman-teman sekelas sepertinya percaya, ya sudahlah anggap saja begitu!

"Maaf, tolong ke sini sebentar."




Saat aku tengah mengagumi fleksibilitas cara berpikir teman-teman sekelasku, tiba-tiba Savant-sensei mendekat dengan wajah yang tidak menerima bantahan, lalu menarik tanganku dan membawaku ke sudut tempat latihan sihir!

Di akademi ini sepertinya banyak sekali orang yang suka memindahkan orang lain secara paksa, ya.

"Anu, ada apa dengan saya?"

"Ya, ya. Tidak perlu khawatir. Saya sudah memahami segalanya. Termasuk fakta bahwa Anda belum lama tiba di negeri ini. Namun, saya mohon, tolong tahan diri sedikit."

"Tahan diri...?"

"Benar. Bersikaplah dengan rasa solidaritas. Membaurlah dengan lingkungan. Hal-hal semacam itu."

Ini... apa dia secara tidak langsung bilang kalau aku dikucilkan di kelas? Adanya sedikit dinding pembatas antara aku dan teman-teman sekelas itu kan karena ulah Leticia dan Jade-kun di hari pertama. Lagipula, aku kan baru saja masuk, kurasa terlalu dini untuk memberiku cap sebagai anak penyendiri!

"Mereka yang unggul dan menonjol akan dicurigai. Saya pun demikian, di sini saya sedang dalam posisi diwaspadai oleh pria bernama Kedel itu. Berhati-hatilah, pria itu bergerak dengan motif tertentu."

"Kedel... ah, Wakil Kepala Sekolah. Kalau tidak salah kemarin dia mengajakku bicara dan memberiku peringatan..."

"Apa!? Dia sudah mulai menyelidiki Anda juga...!? Pria itu, sebenarnya sudah sejauh mana dia tahu...? ...Kalau sudah begini, tidak ada waktu lagi. Mulai sekarang saya juga akan meninggalkan akademi ini untuk ikut dalam persiapan. Selama itu, tolong jangan lupakan apa yang baru saja saya sampaikan kepada Anda."

"Hah... baiklah..."

"Ini diperlukan agar Anda tidak semakin diincar. Saya mohon."

Setelah selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya, entah kenapa Savant-sensei mulai berjalan menuju pintu keluar tempat latihan! Padahal kan masih jam pelajaran...?

Karena tidak ada pilihan lain, aku kembali ke tempat semula. Egas-sensei pun tampak sedang memiringkan kepala sambil menatap punggung Savant-sensei!

Tapi sepertinya dia tidak berniat menghentikannya! Benar-benar budaya sekolah yang bebas.

"Sepertinya Savant pulang... kalian berdua sebenarnya membicarakan apa?"

"Beliau bilang aku harus punya rasa solidaritas yang lebih tinggi."

"Bimbingan mental...? ...Yah, sudahlah. Heresy, aku ingin kau mencoba sihir sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Jenisnya bebas. Aku ingin meniadakan kemungkinan lain dalam mencari penyebabnya."

"Sekali lagi... baiklah."

Tampaknya Sensei ingin melihat sihirku sekali lagi untuk terakhir kalinya! Karena jenisnya bebas, kali ini aku akan mencoba sihir pertahanan yang digunakan teman sekelasku tadi!

Aku sudah menghafal polanya di luar kepala berkat buku teks, kok! Cuma polanya saja, sih!

"Magic Veil."

Kali ini aku tidak akan mengandalkan teori semangat, aku akan tetap tenang... tapi, kira-kira seberapa banyak Mana yang dibutuhkan untuk mengaktifkan sihir tingkat menengah, ya?

Anak laki-laki yang memakai sihir yang sama tadi terlihat sangat kelelahan, jadi mungkin sihir ini tidak akan aktif kalau aku tidak mengerahkan seluruh kekuatanku!

Eit, hah, fuh! Mana, keluarlah! Tidak keluar? Sebentar! Keluar sebentar saja, dong!

Puluhan ribu persimpangan melemah, kotak pengganti tegak berdiri dalam kelonggaran. Guncangan di depan monumen, ketenangan dermaga yang terombang-ambing oleh provokasi. Otak yang jernih dalam kecemasan, tombak yang membenci jurang badai yang tertekan. Keyakinan yang membumbung di langit palsu hingga dinding belerang yang memuai.

"Persilangan fenomena dan... perluasan!"

"A... a... a... mencakup segalanya! Di lautan!" "Kilauan ini... inikah teknik ramalan Benua Timur...!?"

Ah, tidak bisa, tidak bisa. Memang benar kalau teori semangat itu sudah kuno. Sekarang ini zamannya sihir yang logis.

Savant-sensei yang tadinya sudah hampir keluar dari tempat latihan, sekarang malah berlari sekuat tenaga ke arah sini. Seram sekali, ya!



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close