Chapter 13
BUKAN Fasilitas Umum
Halo, namaku
Heresy! Setelah mendengar laporan dari Lapica-san yang baru saja kembali bahwa
tidak ada Relic di dalam Guild Pembasmi, aku memutuskan untuk menyimpan belati
pemberian Maritta-san dan meninggalkan tempat itu!
Saat kami
bertiga turun ke lantai satu, sempat ada insiden kecil di mana kami dikepung
oleh para pembasmi, tapi berkat penjelasan cerdik dari Maritta-san, kami tidak
sampai diseret oleh penjaga!
Sekarang, aku
sedang mengobrol dengan Lapica-san di sebuah gang sepi di tengah kota!
Karena kami
sudah memeriksa tiga organisasi yang sebelumnya dicurigai menyimpan Relic, aku
mencoba bertanya padanya—yang punya penciuman lebih tajam dariku—mengenai
kesannya!
"Sekarang
kita sudah melihat ketiga organisasi itu... bagaimana menurutmu, Lapica-san?
Mana yang paling mencurigakan?"
"Pertama,
markas pusat Gereja Elpis. Sangat mencurigakan. Memaksa minum obat sebelum
negosiasi, mengepung dengan Ksatria Kuil... mereka terlalu terbiasa dengan
negosiasi kotor. Kardinal sendiri mengisyaratkan bahwa mereka menyimpan
barang-barang berbahaya selain batu yang kumurnikan. Itu bukan organisasi yang
lurus. Statusnya: Hitam."
"Kurasa
itu agak berlebihan, tapi... bagaimana dengan Madouin (Institut Sihir)?"
"Institut
Sihir bahkan tidak membiarkan kita masuk untuk menyelidikinya. Mereka mencuri
informasi dari pelayanku sehari sebelumnya, merencanakan rapat palsu untuk
menghindari penyelidikan, dan mengumpulkan begitu banyak bangsawan di satu
ruangan di dalam kastil hanya dalam waktu setengah hari... itu hal yang
mustahil dilakukan organisasi biasa. Orang-orang Institut Sihir pasti sudah
menyusup ke bagian terdalam negara ini dan memiliki kekuatan absolut yang
bahkan bisa menggerakkan keluarga kerajaan. Statusnya: Hitam."
"……Begitu
ya. Lalu terakhir, Guild Pembasmi?"
"Kita
bisa memeriksa bangunannya, dan aku tidak merasakan aura mencurigakan atau ada
yang disembunyikan oleh penanggung jawab yang lebih pendek dariku itu.
Setidaknya untuk saat ini, bangunan itu bersih. Namun, fakta bahwa Master Guild
yang seharusnya menjadi penanggung jawab tertinggi tidak ada di tempat, itu
mencurigakan. Statusnya: Abu-abu."
"Abu-abu
ya. Guild Pembasmi... maksudku Maritta-san, kurasa dia sudah cukup
kooperatif."
"Justru
itu yang mencurigakan. Lagipula, perempuan itu beraninya menggoda Heresy-san
saat aku tidak ada dan minta dipuji sebanyak itu..."
"Itu
sih... kurasa cuma reaksi balik dari stres atau semacamnya."
Di usia
semuda itu sudah menjadi wakil penanggung jawab guild, berarti dia sudah
membantu pekerjaan orang tuanya sejak kecil.
Belum lagi
dia sekolah di Akademi Sihir dan jadi lulusan terbaik, dia benar-benar orang
yang hebat!
Meskipun
sepertinya dia harus memikirkan cara yang lebih baik untuk melepas penat!
"Mari
segera rapat strategi untuk langkah selanjutnya. Sebaiknya di tempat yang
tenang dan tidak ada risiko penyadapan. Bagaimana kalau di kamarmu,
Heresy-san?"
"Boleh,
kalau begitu ayo beli camilan dulu... hmm?"
Sambil
mencoba mengingat lokasi toko camilan, aku tidak sengaja melirik ke arah jalan
besar.
Di
sana, aku melihat seseorang yang sedang mengintip dari balik bayangan bangunan
segera menarik kepalanya kembali!
"Ada
apa? Jangan-jangan pembunuh bayaran yang mencoba melindungi Relic...?"
"Bukan,
itu..."
Aku
mengejar bayangan itu ke jalan besar, tapi tidak ada orang mencurigakan di
sekitar. Namun, dari gang tepat di sebelahku, terdengar suara denting logam
yang berisik!
Di titik itu,
aku yakin siapa identitas penyusupnya. Aku pun mendapat sebuah ide bagus dan
memutuskan untuk mengejarnya!
"Permisiii,
boleh bicara sebentar~?"
"Hah,
hah...!"
『Belok kanan di pojokan itu... lalu
belok kiri di pojokan berikutnya. Sepertinya benar orang yang Heresy-san
pikirkan.』
Setelah
berlari melewati beberapa gang, akhirnya di sebuah gang sempit, aku menemukan
seseorang dengan baju zirah lengkap sedang terduduk kelelahan dengan visor
pelindung kepala yang terbuka!
Ngomong-ngomong,
Lapica-san mengikuti tepat di belakang kami tanpa napasnya tersengal sedikit
pun! Dia benar-benar monster secara fisik.
"Hah, hah... Tsk... ternyata aku
tidak bisa kabur ya..."
"Seorang pembunuh. Heresy-san,
perlukah aku membunuhnya?"
"Dia
anak dari rumah temanku kok. Saat aku sedang di kota, terkadang dia mengamatiku
dari jauh secara sembunyi-sembunyi begini. Karena aku tidak enak mengganggu
pekerjaannya, biasanya aku tidak menyapanya."
"Tsk...
ternyata... sejak awal... aku sudah ketahuan ya...?"
"Berarti
dia penguntit. Heresy-san, perlukah aku membunuhnya?"
"Sudah
kubilang dia anak dari rumah temanku."
Benar! Yang
kutemukan adalah gadis dari keluarga Creserize yang dulu pernah disuruh berjaga
di lorong asrama!
Dia adalah
orang yang pekerjaannya tidak bisa memilih—mulai dari berdiri di lorong hanya
untuk melaporkan apakah aku sudah kembali ke kamar, sampai mengawasiku di kota
begini!
Aku sudah
tidak melihatnya selama beberapa hari, tapi bisa bertemu dengannya sekarang
adalah berkah! Dia mungkin bisa menjadi kunci untuk menyelesaikan masalahku
saat ini!
"Eee,
apa hari ini Leticia ada di rumah?"
"……Tunggu
sebentar, aku dengar Heresy-san tidak punya ketahanan sihir, tapi bagaimana
bisa kamu menyadarinya sejak awal...?"
"Sebenarnya
aku ingin bicara dengan Konko-san."
"Ini
harus kulaporkan pada Nona Muda... ah, pekerjaanku jadi bertambah lagi..."
"Rasanya
jadi tidak enak mau minta tolong..."
Benar!
Melihat gadis nyentrik yang menjalankan tugas pengawasan dengan baju zirah
lengkap ini, aku terpikir rencana: 'Minta tolong Konko-san untuk mengembalikan
Kiseki yang menghitam ini menjadi normal'!
Karena Happy
dan Firiel-san tidak sanggup, niatku adalah meminta Konko-san—yang merupakan
'Dewa'... eh, makhluk panggilan di dunia ini—untuk memeriksanya!
Meskipun
tidak enak meminta tolong pada gadis yang sedang meratapi beban kerjanya,
tolong maafkan aku ya, karena situasi soal Kiseki ini benar-benar gawat!
Beginilah
cara kesialan terjadi secara beruntun!
"……Saat
ini Leticia-sama tidak ada di kediaman, tapi Konko-sama ada. Saya sudah
diperintahkan untuk mengizinkan Heresy-sama masuk kapan pun, jadi dengan senang
hati saya akan mengundang Anda. Ya, dengan sangat senang hati."
"Cara
bicaranya sinis sekali ya."
Abaikan fakta
bahwa aku sekarang bebas keluar masuk keluarga Creserize tanpa izin, situasi di
mana Leticia tidak ada dan Konko-san ada di rumah adalah kesempatan emas!
Aku tidak
boleh membawa lebih banyak masalah lagi kepada Leticia yang sudah sibuk
gara-gara urusan Menara Pertahanan tempo hari!
"Heresy-san...
kamu mau bertemu orang sekarang?"
"Ah,
iya. Maaf ya, aku tiba-tiba ingat ada urusan mendesak. Tenang saja, lawannya
adalah bangsawan yang sangat hebat di Meilleur kok. Lapica... maksudku Sang
Orang Suci, aku akan menghubungimu setelah urusanku selesai—"
"Tidak,
aku juga ingin ikut. Sarang kelas istimewa di Meilleur... mungkin aku bisa
menemukan dokumen mengenai eksistensi jahat yang bermanifestasi di negara ini
hari itu. Jika itu rumah bangsawan tingkat tinggi, kemungkinan mereka
menyembunyikan Relic juga sangat besar. Aku akan melakukan penyelidikan
paksa."
"Ah...
jadi begitu ya. Bakal jadi begitu ya."
Padahal
niatku adalah berkonsultasi dengan Konko-san untuk menutupi masalah Kiseki,
tapi kalau Lapica-san ikut, ceritanya bakal jadi kacau!
Tapi
membiarkan Lapica-san sendirian di kota orang juga rasanya tidak enak... yah,
semoga saja lancar!
"Begitu
situasinya, apa tidak apa-apa jika Sang Orang Suci ikut berkunjung?"
"Soal
keikutsertaan Sang Orang Suci... yah, kita minta instruksi setelah sampai di
kediaman saja. Dengan begitu, itu bukan menjadi keputusanku. Lewat sini, tolong
ikuti saya."
Hmm, etos
kerjanya patut dicontoh ya.
Setelah
mengikuti gadis berbaju zirah itu dan menyeberangi beberapa jembatan, di sisi
paling utara distrik bangsawan, terlihat sebuah bangunan besar yang ukurannya
sebesar gedung sekolah!
Gerbangnya
saja lebih besar dari rumah orang tuaku!
"Aku
pernah melihatnya dari jauh, tapi ternyata ini bukan fasilitas umum ya."
"I-ini
rumah pribadi...? Sekarang aku paham seberapa banyak bangsawan korup dari
negara korup ini memperkaya diri sendiri."
"Sang
Orang Suci, maaf saja, tapi mengingat peran keluarga Creserize, tempat ini
sebenarnya tergolong sempit. Saya akan mengonfirmasi dulu, jadi tolong tunggu
di sini dan jangan menyentuh barang sembarangan."
"Apa
bagian ini perlu dihiasi dengan emas dan perak...? Maaf saja, bukankah ini
hanya pamer kekayaan saja?"
"Saya
ulangi sekali lagi. Tolong tunggu di sini dan jangan menyentuh barang
sembarangan."
Setelah
menegur Lapica-san yang langsung memegang gagang pintu dan mulai mengeluh,
gadis berbaju zirah itu masuk ke dalam rumah dan kembali bersama seorang
pelayan wanita!
Dia adalah
Kepala Pelayan, dan dialah yang akan memandu kami mulai dari sini!
Bagian dalam
rumah yang ditunjukkan benar-benar luas, skalanya membuatku sulit percaya kalau
ini adalah tempat tinggal!
"Selamat
datang. Anda teman dari Leticia-sama, kan? Saya sudah sering mendengar cerita
tentang Anda."
Ada
belasan pelayan wanita yang berbaris rapi di lobi dan membungkuk dalam
menyambut kami! Selain mereka, katanya masih banyak pelayan lain yang sedang
bekerja, jadi populasi di dalam rumah ini saja pasti jauh lebih banyak dari
desa kami!
『Populasi Desa Shiawase kan
berkurang drastis waktu itu. Seperti nenek penjual bunga……』
Benar
juga ya. Kalau mau memulihkan populasi desa sekarang, rasanya akan berat kalau
tidak membawa banyak anak muda dari luar!
Masalah
populasi yang berkala berkurang itu harus segera dibereskan!
"Apa dia
orang yang dirumorkan Nona Muda itu...?"
"Kunjungan
pertama tapi malah bawa perempuan lain... aku jadi khawatir pada Nona
Muda."
"Tapi
wajahnya memang tipe yang bikin ingin dimanja ya."
"Setuju.
Setuju banget."
"……"
Kepala
Pelayan memberikan tatapan tajam pada para pelayan yang berbisik-bisik itu
sebelum mulai berjalan.
Kami melewati
lorong yang semewah lorong di istana raja, sampai akhirnya Kepala Pelayan
berhenti di depan sebuah ruangan!
Dari pintunya
saja sudah kelihatan ini ruangan spesial, semacam ruang tamu untuk menjamu
orang penting!
Saat masuk
dengan perasaan agak tegang, di dalam sana ada Konko-san dengan senyum
mencurigakan seperti biasanya. Ia bangkit dari sofa mewah bertempat duduk
tunggal untuk menyambut kami!
"Yo,
Heresy. Aku sudah menunggumu. Tadinya aku ingin mengundangmu kapan-kapan, tapi
tak disangka kamu sendiri yang datang."
"Halo,
Konko-san. Maaf ya, datang tiba-tiba begini."
"Tidak
perlu dipikirkan. Bagiku, bisa bertemu denganmu saja sudah membuatku senang.
Jadi, dia siapa?"
"Aku La
Pyualiere dari High Stella. Kamu... kamu bukan eksistensi dari dunia atas, kan?
Sebenarnya siapa kamu?"
"Aku
makhluk panggilan. Cuma makhluk panggilan biasa. Namaku Konko, salam kenal ya.
Ngomong-ngomong Heresy, aku sudah dengar ceritanya dari Leticia, tapi akhirnya
kamu sampai pada posisi di mana kamu dipercaya memegang inti diplomasi ya. Apalagi
lawan bicaranya adalah juru bicara Dewa Bintang... Aku sudah tahu kamu akan
jadi orang besar, tapi ini benar-benar mengejutkan."
"Bisa berhenti bicara begitu
dengan wajah serius? Nanti
orang yang dengar jadi percaya, tahu."
Tuh
kan, Kepala Pelayan yang tadi mengantar kami dan sedang menyiapkan teh langsung
mematung. Berbeda dengan Leticia, Konko-san ini sengaja bicara dengan nada
bercanda yang menyesatkan, jadi orang yang tidak terbiasa pasti bakal salah
paham!
"La
Pyualiere... rumor tentangmu sudah sampai ke Benua Timur. Kabarnya meskipun
Orang Suci generasi baru yang dinanti-nanti telah lahir, tapi anak itu tidak
bisa mendengar suara Tuhan."
"Ah,
itu cerita lama. Aku sudah mendengar suara Tuhan, dan datang ke sini mengikuti
wahyu-Nya."
"Hm...?
Alasan melemahnya kekuatan Dewa Bintang adalah karena jumlah penganut High
Stella berkurang akibat invasi. Kamu memang punya wadah yang cukup besar untuk
menyemayamkan Dewa, tapi selama masalah mendasar itu tidak selesai, Dewa tidak
akan bisa mendapatkan kekuatannya kembali. Mana mungkin ada wahyu yang bisa
didapat."
"Itu
tidak mungkin. Hari
itu, Dewa benar-benar menyampaikan suara-Nya padaku."
"Fuuun.
Yah, kalau kamu bilang begitu, ya sudahlah. Silakan duduk. Sepertinya tehnya
sudah siap."
Seolah
kehilangan minat, Konko-san mengganti topik pembicaraan. Aku duduk di
hadapannya dan menyesap teh harum yang mungkin rakyat jelata sepertiku tidak
akan pernah punya kesempatan meminumnya seumur hidup. Saat itulah Lapica-san
yang sejak tadi memasang ekspresi sulit di sampingku mendekatkan wajahnya!
"……Sebenarnya
siapa orang itu? Bukankah dia terlihat sangat mencurigakan?"
"Konko-san
ini memang benar-benar makhluk panggilan kok. Dia terikat kontrak dengan
temanku yang bernama Leticia. Faktanya cuma sebatas itu yang kutahu, jadi
anggap saja begitu. Lagipula sepertinya tidak ada yang keberatan."
"Apa
kontrak Pemanggil sampai bisa mengikat eksistensi seperti itu...!? Kekuatan
yang mengerikan. Tapi sekarang aku paham. Karena negara ini memiliki banyak
Pemanggil dengan kekuatan istimewa seperti itu, makanya kalian sampai bisa
memanggil eksistensi jahat itu turun ke dunia ya."
"Eksistensi
jahat? Heresy, apa maksudnya... Ah."
"Jangan
bilang 'Ah' ya."
Berbahaya
kalau Lapica-san sampai menghubungkan titik-titik yang seharusnya tidak
terhubung! Lagipula
kudengar soal insiden Menara Pertahanan itu, Konko-san dan Leticia juga ada
sangkut pautnya, kan?
Kalau
mati, kita mati bareng-bareng!
Setelah
itu, pembasalan berlanjut dengan seru, mulai dari Lapica-san yang menceritakan
ketidakpercayaannya pada bangsawan negara ini, sampai Konko-san yang
menggodanya menggunakan aku. Saat aku sedang berpikir bagaimana cara
berkonsultasi soal Kiseki pada Konko-san, dia tiba-tiba memanas-manasi
Lapica-san.
"Begini
saja. La Pyualiere-san, jika kamu begitu curiga pada bangsawan, bagaimana kalau
kamu coba jelajahi bagian dalam rumah ini? Selagi pemilik rumahnya tidak ada,
tidak ada yang akan mengganggumu. Siapa tahu kamu menemukan sesuatu yang kamu
cari?"
Konko-san
melepaskan Lapica-san ke dalam rumah dengan didampingi Kepala Pelayan!
"Nah,
sekarang mari kita ke topik utama. Kamu punya urusan denganku, kan?"
"Iya...
benar sih aku ingin bicara berdua saja, tapi apa tidak keterlaluan mengusir
orang dengan membiarkan orang asing menjelajahi rumahmu sendiri...? Meski aku
ragu Sang Orang Suci akan menyalahgunakan informasi yang dia dapat."
"Aku
juga berpikir begitu, makanya aku tawarkan. Lagipula anak itu kelihatannya
dalam kondisi yang cukup sulit. Tidak ada yang akan protes kalau gadis yang
terus terikat lingkungan seperti dia diberikan sedikit kebebasan."
Sambil
berterima kasih dalam hati atas perhatian Konko-san yang bicara dengan ekspresi
penuh kasih sayang keibuan itu, aku segera mengeluarkan Kiseki yang baru saja
kuterima dari Lapica-san tapi sudah menghitam total, lalu meletakkannya di atas
meja!
"Uwa...
apa-apaan... apa-apaan ini?"
"Katanya
ini Kiseki penting dari High Stella. Salah satu bagian dari liontin yang bisa
memperkuat kekuatan suci dan mengangkat kesadaran ke tingkat yang lebih
tinggi."
"Kekuatan
suci... benda ini?"
"Aku
menerimanya sebagai kenang-kenangan pertemanan kami. Awalnya benda ini bersinar
sangat terang, tapi tepat saat aku memegangnya, jadi begini. Aku sudah
menunjukkannya pada Happy dan Firiel-san tapi mereka tidak bisa mengintervensi,
jadi aku ingin Konko-san juga memeriksanya. Kalau tidak bisa kembali
sepenuhnya, setidaknya warnanya hilang sedikit saja aku sudah senang..."
"Eksistensi
dari dimensi lain saja tidak bisa, lalu kamu minta padaku yang merupakan
eksistensi dunia bawah ini...?"
"Justru
karena itulah."
Konko-san
yang tadinya selalu terlihat santai, tiba-tiba semangat dan telinganya langsung
layu. Dia mendekatkan wajahnya ke Kiseki di meja, lalu mengendus baunya. Setelah mengamati beberapa saat,
dia mendongak dengan ekspresi yang sulit dijelaskan!
"Sepertinya
kekuatan suci yang aslinya ada di sana telah tererosi oleh... kekuatan lain
milikmu yang masuk dari luar. Liontin ini sendiri sepertinya tipe yang harusnya
diisi sedikit demi sedikit oleh kekuatan pemiliknya untuk kemudian diperkuat.
Mirip bumbu rahasia yang terus ditambah secara turun-temurun."
"Perumpamaannya
terlalu merakyat..."
"Ini
sih aku juga takut mau menyentuhnya, jadi akan kucoba menimpanya secara tidak
langsung. Seperti saat
aku menjadikan persembahan ajaran sesat di Menara Pertahanan waktu itu."
Sambil
berkata begitu, Konko-san mengarahkan telapak tangannya ke arah Kiseki, dan
dari sana mulai terpancar cahaya yang murni!
Kiseki yang
hitam itu menyerap cahaya tersebut, lalu bercampur dengan sesuatu yang hitam
pekat yang berputar-putar di dalamnya...
"Oh?
Ooh? Lumayan juga, kan? Warnanya sepertinya bisa hilang?"
"Tidak,
coba lihat. Cahaya putihnya perlahan menghilang... dan kabut hitamnya malah
jadi makin pekat."
"Benar
juga."
"Sebenarnya
apa yang terjadi denganmu ini? Benar-benar tidak masuk akal. Coba miliki akal sehat sedikit,
dong."
"Sampai
segitunya ya?"
『Dia benar-benar sudah angkat tangan
ya……』
Konko-san
mencoba hal yang sama beberapa kali lagi, tapi setelah sadar hasilnya tidak
berubah, dia mengangkat bahu dan mulai memijat bahunya sendiri seolah ingin
menunjukkan betapa lelahnya dia!
"Ah,
capeknya. Aku baru saja melihat sesuatu yang menakutkan. Meskipun hasilnya begini, menurutku aku sudah berusaha
sekuat tenaga. Jadi...
kamu tidak berniat menyuruhku bekerja gratis, kan?"
"Tentu
saja tidak. Lain kali aku
akan memberimu ucapan terima kasih secara resmi..."
"Tidak
perlu terlalu formal begitu. Aku cuma ingin kamu menemaniku bermain sebentar."
"Bermain?"
"Hup."
Sambil
berdiri dengan senyum nakal, Konko-san mendekat lalu tanpa sungkan langsung
duduk di atas pangkuanku!
Karena
Konko-san jauh lebih tinggi dariku dan sekarang dia duduk di atasku,
pandanganku tertutup total, gelap dan aku tidak bisa melihat apa-apa!
Di sisi kiri
dan kananku ada sandaran sofa, dan aku terjepit di antara dudukan sofa yang
melesak dalam dengan tubuh Konko-san, benar-benar tidak bisa bergerak!
"Hmm...
ternyata duduk di sini tidak buruk juga. Menempel erat denganku begini,
dikelilingi wangi yang manis sambil merasakan seluruh tubuh yang lembut ini...
kalau manusia biasa pasti sudah gila, tapi kalau kamu pasti tidak apa-apa.
Dengan begini aku akan menyembunyikanmu di bawahku, lalu kita tunggu Sang Orang
Suci kembali dan mengejutkannya."
"Ide
yang... ide yang menarik ya."
"Barusan
kamu mau bilang 'berat', ya?"
"Menurutku
ini... percobaan yang elegan."
"Tadi
mau bilang 'sesak napas', kan! Astaga, kamu pikir perasaan gadis itu apa sih...! Karena kalau kita duduk
berhadapan kamu pasti bakal sesak napas karena dadaku, makanya aku sudah
berbaik hati memberikan pertimbangan ini, jadi hargailah kesopananku! Aku tidak
keberatan lho kalau harus duduk berhadapan sekarang!"
"Kalimat
ancamannya inovatif sekali."
Di tengah
kegelapan sambil mendengarkan suara marah Konko-san yang menggemaskan,
terdengar suara pintu terbuka dan seseorang masuk!
"Maaf menunggu. Kesimpulannya,
keluarga Creserize itu... Heresy-san?"
Dilihat dari suara langkah kakinya,
sepertinya yang masuk hanya Lapica-san sendirian! Dia sepertinya merasa aneh karena aku sudah tidak ada di
ruangan itu!
Tadinya aku
hanya memandang ulah nakal Konko-san dengan senyum maklum, tapi setelah menahan
napas dan bersembunyi begini, lama-lama rasanya jadi seru juga!
Ternyata
menjadi pihak yang melakukan prank itu menyenangkan ya!
『……Kelihatannya kamu senang sekali ya. Padahal kalau aku yang mau naik ke atasmu begitu pasti kamu larang……』
Eh?
Tidak, begini lho, kalau kita mau melakukan hal yang
sama, kan banyak hal yang harus dipastikan dulu?
Apa kursinya tidak akan patah, apa ada baju ganti,
atau jangan-jangan lantai ruangannya bakal jebol.
『……』
Iya, iya, aku
mengerti, kapan-kapan kita lakukan! Kita main prank yang sama ke para
"Botai" (Induk), oke? Oke!
"Anu,
Heresy-san ada di mana?"
"Heresy
baru saja keluar sebentar tadi. Bukan urusan penting kok, kuduga dia akan
segera kembali. Silakan duduk dan tunggu di situ."
"Begitu ya... Kalau begitu,
permisi. ……Hm?"
"Rumah
ini luas, kamu pasti lelah menjelajahinya. Ngomong-ngomong, Kepala Pelayan
sepertinya tidak bersamamu, apa kalian terpisah di tengah jalan?"
"Eeto...
iya, begitulah. Terlepas dari itu... Heresy-san, kamu ada di sana, kan? Di
bawahmu itu, aku bisa melihat ada empat kaki."
"……"
"……"
Ketahuan
dalam sekejap. Prank-nya berakhir bahkan sebelum aku sempat menikmati
bagian yang paling seru.
Dulu aku
pernah bilang kalau melakukan prank itu butuh usaha dari sisi pelakunya,
dan sekarang aku benar-benar merasakan betapa sulitnya hal itu secara langsung.
Aku dan
Konko-san, sambil menekan berbagai emosi yang bercampur aduk, berpisah tanpa
suara, dan Konko-san kembali ke kursinya semula tanpa menimbulkan bunyi sedikit
pun!
"Aku
tidak tahu apa maksud dari tindakan barusan, tapi... tolong dengarkan. Aku
sudah memeriksa ruang kerja, perpustakaan, dan gudang. Kesimpulannya, keluarga
Creserize itu statusnya abu-abu yang cenderung ke arah putih."
"Eeeh...
meski sudah diperlihatkan sampai ke bagian dalam begini, statusnya masih
abu-abu...?"
"Tidak,
dikatakan 'cenderung putih' olehnya itu sudah pencapaian luar biasa, lho."
"Dan
inilah poin utamanya. Dari laporan di ruang kerja, terungkap bahwa Madouin
(Institut Sihir) ternyata melakukan eksperimen berulang-ulang menggunakan tubuh
Bintang Buas. Di rapat laporan tempo hari, bagian ini sama sekali tidak
disinggung. Ini adalah tindakan penyembunyian informasi yang disengaja terhadap
High Stella. Isi eksperimennya pun pasti merupakan tindakan keji yang tidak
bisa diungkapkan dengan kata-kata!"
"Ah,
memang benar sih Institut Sihir itu meneliti tentang monster. Dulu aku pernah
pergi ke fasilitas riset mereka saat jam pelajaran."
"Ternyata
benar ya. Ini benar-benar tidak bisa dimaafkan. Pasti mereka juga menyembunyikan Relic di sana...
……Heresy-san, kamu sudah tahu kalau Institut Sihir melakukan riset tentang
Bintang Buas? Dan kamu menyembunyikannya dariku?"
"Waduh, gawat."
"Heresy-san?"
Gawat, gawat banget. Aku benar-benar
lupa. Atau lebih tepatnya, otakku tidak sampai ke sana.
"Maaf,
maaf, aku baru ingat sekarang. Sumpah, aku tidak bermaksud menyembunyikannya...
maaf ya?"
"……Yah,
kalau kamu yang mengatakannya, aku akan percaya."
Setelah aku
meminta maaf habis-habisan dan menenangkannya, Lapica-san yang sempat
mendekatiku dengan wajah kesal akhirnya menyipitkan mata dengan tidak puas
namun mau duduk kembali di sofa!
Selamat,
nyawaku nyaris melayang tadi!
"Pokoknya,
karena situasinya begitu, selanjutnya kita akan melakukan penyelidikan langsung
ke fasilitas riset Institut Sihir tanpa izin. Hal ini jangan dibocorkan kepada
siapa pun. Untuk mencegah kebocoran informasi seperti tempo hari, kita akan menyusup
dengan jumlah orang yang sedikit."
"Heh,
fasilitas riset yang pakai monster kura-kura untuk cari keberuntungan itu ya...
Aku juga tertarik dan ingin ikut sih, tapi sebagai makhluk panggilan yang
serius, Konko-san tidak boleh mengambil tindakan yang membuat keluarga
Creserize dicurigai terlibat. Aku juga tidak mau merusak makna dari kalian yang
menyelidiki berdua saja, jadi aku akan menunggu laporannya saja nanti."
"Iya,
kurasa begitu lebih baik. Konko-san itu mau bagaimanapun pasti bakal menarik
perhatian."
"Itu
boleh kuanggap sebagai pujian, kan?"
"Memang
orang ini kelihatannya bakal menarik perhatian ya. Soalnya banyak bagian yang
ukurannya terlalu besar secara sia-sia."
"Itu
boleh kuanggap sebagai pujian juga, kan?"
Fasilitas
riset Institut Sihir yang pernah kudatangi saat jam pelajaran dulu, tempat itu
memang terlihat seperti organisasi yang melakukan hal-hal gelap, jadi aku jadi
tidak sabar untuk pergi ke sana sekarang!
Meski statusku hanya rakyat jelata yang akan menyusup ke organisasi yang merupakan bagian gelap dari negara, tapi karena aku sudah sampai melakukan penyerbuan ke Guild Pembasmi, mentalku sudah benar-benar siap dan pasrah!
Chapter 14
Cain Shiedia
"Ah, Papa. Selamat datang kembali.
Akhir-akhir ini Papa pulang larut terus, apa urusannya sudah hampir
selesai?"
"Urusan? Ah, urusan ya... Maaf,
tapi sepertinya masih butuh sedikit waktu lagi..."
Aku kembali ke Guild Pembasmi sambil
ketakutan pada tatapan di sekelilingku, membungkukkan punggungku dengan
gemetar.
Dulu tidak
ada satu pun hal yang kutakuti, tapi sekarang aku sangat takut kehilangan satu
benda itu. Sejak saat itu, aku mulai menganggap semua orang adalah musuh yang
mencoba merampasnya dariku.
"Begitu...
tapi tidak apa-apa kok. Meski aku sedikit kesepian karena belakangan ini kita
tidak pernah makan bersama. Serahkan saja urusan guild padaku sampai urusan
Papa selesai. Aku akan berjuang keras."
"……Maafkan
aku."
Meskipun
putri tercintaku menatapku dengan wajah muram di depan mata, kepalaku telah
dikuasai oleh hal penting lainnya. Namun, rasanya nikmat. Hanya itu yang
kubutuhkan.
Di saat
gairah akan kenikmatan gelap itu sedang meluap, putriku menyampaikan sebuah
fakta yang mengejutkan.
"Ngomong-ngomong
soal laporan, hari ini Orang Suci dari High Stella datang ke sini, lho."
"……Apa
katamu……!?"
"Dia
bilang sedang menyelidiki sesuatu dan mencari-cari di sekitar sini. Padahal di
sini tidak ada barang mencurigakan sama sekali, kan?"
"Tsk……"
(Mencari
sesuatu……!? Dari mana dia mencium keberadaan benda ini……?)
Jelas
ini bukan sekadar tebakan asal. Sang Orang Suci pasti datang menggeledah guild
ini karena meyakini sesuatu. Ini benar-benar kebetulan, tapi fakta bahwa aku
sedang tidak ada di tempat tadi adalah sebuah keberuntungan besar.
(Jika
mereka sampai menodongkan pedang ke leherku... tidak, belum saatnya. Institut
Sihir bilang mereka sudah membersihkan kecurigaan. Aku hanya perlu bersembunyi
di sana sampai Sang Orang Suci pulang ke negaranya.)
Aku
tidak perlu secara agresif melenyapkan ancaman itu. Cukup tidak menampakkan
diri sampai waktu mereka habis.
"Ah,
benar juga Papa. Aku mau cerita soal anak baru yang menarik yang baru masuk
belakangan ini... Apa Papa sibuk?"
"……Maaf.
Aku ingin berpikir sebentar. Tolong biarkan aku sendiri."
Aku
masuk ke ruang Master Guild seolah lari dari putri tercintaku, lalu mengunci
pintu dari dalam.
Kemudian,
aku mengeluarkan sesuatu dari balik jubahku; sebuah kandil (tempat lilin) yang
terbuat dari bahan makhluk hidup yang tak dikenal.
Begitu
benda itu masuk ke dalam pandanganku, dunia seakan menjadi penuh warna.
Hasrat
untuk melindungi dan memilikinya meluap hingga aku rela membuang segalanya demi
tetap menggenggam benda ini.
(Benda ini
tak akan pernah kuberikan pada siapa pun. Tidak kepada siapa pun. Ini milikku.
Hanya milikku……)
Aku
meletakkan kandil itu di atas meja, menatapnya dalam-dalam seolah sedang
memastikan setiap lekuk bentuknya.
Hal-hal yang dulu pernah menjadi yang paling berharga bagiku, kini sudah tak lagi terlihat.
Chapter 15
Laboratorium
Halo, namaku Heresy! Setelah bertemu
dengan Konko-san di kediaman Creserize, aku kembali ke asrama berpapasan dengan
Leticia yang baru pulang.
Aku pun memakan camilan pemberian
mereka—yang rasanya sangat luar biasa—lalu tertidur lelap!
"Itukah... laboratorium Institut
Sihir? Ternyata ada di dalam hutan seperti ini ya."
"Kalau tidak tahu lokasinya, kau
tidak akan bisa menemukannya. Kudengar fasilitas ini dilapisi sihir penyamar,
jadi tidak akan terlihat dari langit."
"Begitu
ya. Malah jadi semakin mencurigakan."
Sekarang,
seperti pembicaraan kemarin, aku sudah tiba di laboratorium Institut Sihir
bersama Lapica-san!
Di kedalaman
hutan yang lembap dan sunyi ini, terdapat lahan luas yang dikelilingi tembok
dan pagar.
Selain pintu
masuknya yang sulit ditemukan, Pak Guru pernah bilang kalau mencoba masuk
paksa, sihir serangan yang kuat akan aktif!
Dibanding
organisasi lain yang pernah kami datangi, keamanan di sini paling ketat... atau
lebih tepatnya, gila-gilaan. Mungkin saja terlepas dari urusan Relic, mereka
memang sedang melakukan hal yang sangat berbahaya!
"Ngomong-ngomong,
bahan temboknya... yah, sepertinya tidak akan mudah dihancurkan."
"Meski
lahannya luas, temboknya sepertinya tidak terlalu tebal, tapi ketahanannya
ditingkatkan dengan sihir pertahanan."
"Bagian
pagar atau pintu depan sepertinya lebih tipis, tapi bagaimanapun juga, pasti
ada mekanisme sihir yang aktif jika terkena benturan."
Aku tidak
tahu ada berapa banyak orang di dalam laboratorium sekarang, tapi setidaknya
pasti ada satu atau dua penjaga. Kalau alarm berbunyi saja, penyelidikan yang
normal akan jadi mustahil!
Ditangkap dan
diusir sih masih mending, yang terburuk nyawa kita bisa melayang, kan?
『Menyusup ke fasilitas negara itu,
aslinya memang kejahatan seberat itu ya……』
Kita ini
hanya berani karena ada orang penting di balik layar yang akan menolong kalau
terjadi masalah, tapi soal "pengadilan jalanan" di lokasi kejadian,
tidak ada yang akan melindungi kita!
Mari
bertindak sangat hati-hati!
"Cara
masuk tanpa menyentuh pagar atau tembok... Aha, bagaimana kalau kita menggali lubang dan menyusup
dari bawah? Jika berhasil, kita bisa melewati sensor sihirnya, kan?"
Ini ide yang
bagus menurutku! Kalau di dalam tanah juga dipasang sihir sih berabe, tapi jika
Lapica-san bisa mendeteksi kekuatan sihir sambil menggali, kita bisa bergerak
dengan aman!
"Hei,
Lapica-san, apa kau bisa mendeteksi kekuatan sihir di dalam tanah—eh?"
"Ya?"
Tepat saat
aku berbalik untuk berbagi strategi, yang kulihat adalah puing-puing pintu
depan yang hancur berkeping-keping, dan sosok Lapica-san yang berdiri gagah
sambil memiringkan kepala seperti hewan kecil, perlahan menurunkan kepalan
tangannya yang baru saja memukul!
Dia menerima
rentetan sihir serangan yang terpasang di pintu itu dengan fisiknya saja tanpa
luka sedikit pun. Aura orang besarnya benar-benar terasa!
"Sepertinya
mereka tidak memperhitungkan serangan dari orang High Stella ya. Mari
masuk."
Di tengah
suara alarm yang memekakkan telinga, punggung Lapica-san yang mulai berjalan
gagah di atas puing-puing pintu terlihat berkali-kali lipat lebih besar dari
biasanya!
Keberanian
untuk memutuskan sesuatu secara instan tanpa ragu meski tidak bisa kembali
lagi! Mungkin kualitas seperti inilah yang dibutuhkan oleh pemimpin sebuah
negara!
◆
Gedung
riset terbesar Institut Sihir—Gedung Riset Bintang Buas. Di tengah halaman luas
gedung itu, Master Guild Pembasmi, Cain Shiedia, sedang meringkuk seolah
melindungi sesuatu di balik jubahnya.
Berdiri
di sampingnya adalah penanggung jawab laboratorium ini, Alzion Falgor.
Dengan
senyum cerah yang tidak cocok dengan suasana laboratorium yang suram, Alzion
menunjuk ke arah monster chimera raksasa yang dirantai di tengah
halaman.
"Lihatlah,
itu adalah Bintang Buas yang kukembangkan kali ini. Bagaimana menurutmu? Aku
sengaja mengumpulkan Bintang Buas dengan tingkat adaptasi rendah dan memicu
reaksi penolakan untuk mencapai wujud itu. Tidakkah itu luar biasa, Tuan
Cain?"
Cain
hendak mengangguk, tapi berhenti. Bukan karena dia menolak setuju dengan
Alzion, tapi karena kecemasan yang menghimpit seluruh tubuhnya menghalangi
pikiran warasnya.
Sosok
Master Guild yang dulu gagah bertarung dengan kapak perang, atau yang bertarung
di pengadilan demi para korban monster, kini telah sirna.
Sejak
dia mendapatkan Relic secara tidak sengaja dari seorang klien—sebuah kandil
yang terbuat dari bahan makhluk hidup misterius—dia menjadi terobsesi, sangat
posesif, dan menjadi pengecut karena takut kehilangannya.
Akhir-akhir
ini, Cain merasa tidak yakin apakah dirinya masih waras. Sejak mendapatkan
kandil aneh ini, dia bahkan tidak pernah menyapa putrinya yang selama ini
mendukung pekerjaannya.
"Institut
Sihir sudah membersihkan kecurigaan Sang Orang Suci lewat rapat laporan
kemarin. Laboratorium ini dikelilingi penghalang sihir, penyelidikan mereka
tidak akan sampai ke sini."
"Apa...
itu pasti?"
"Tentu
saja. Lagipula, jika mereka sampai ke sini pun, selama ada monster chimera ini,
mereka tidak akan bisa melakukan penyelidikan paksa. Sehebat apa pun Sang Orang
Suci sebagai orang High Stella—justru karena dia orang High Stella, dia tidak
akan bisa menyerang Bintang Buas. Tidakkah menurutmu menarik untuk menangkap
Sang Orang Suci di celah itu dan menjadikannya bahan penelitian?"
Laboratorium
ini adalah fasilitas paling penting di negara ini yang menyimpan informasi
rahasia yang bahkan bisa mengubah hasil perang.
Jangankan
mengendus lokasinya, mengetahui eksistensinya saja seharusnya sulit bagi Sang
Orang Suci dari negara lain.
Alzion bilang
meski mereka sampai ke sini secara tidak sengaja, pertahanan fasilitas ini
berlapis-lapis dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, kecemasan Cain
tetap tidak hilang.
"Tetap
saja... bagiku Relic ini adalah segalanya. Aku tidak akan memberikannya. Aku
tidak ingin dirampas oleh siapa pun……"
Cahaya hitam
pekat yang kental bocor dari kandil yang dipeluk Cain. Alzion merasakan sesuatu
dari cahaya itu, dan senyumnya semakin lebar penuh kegembiraan.
"Tenang
saja. Monster ini adalah yang terkuat. Seberapa kuat pun pengawal yang dibawa
Sang Orang Suci, mereka tidak akan menang."
"……Tapi,
jika……"
"Kau
terlalu pencemas ya. Bukankah selama ini kita sudah membangun hubungan kerja
sama yang baik? Berkat Bintang Buas yang dipasok oleh Guild Pembasmi, riset
monster kita berkembang pesat. Semuanya sesuai rencana kita. Dengar baik-baik:
'Sang Orang Suci tidak akan datang ke sini selama kunjungannya'. Ulangi."
"Sang
Orang Suci... tidak akan datang ke sini... selama kunjungannya."
Kali
ini Cain mengangguk, menarik napas dalam untuk melarikan diri dari ketegangan.
Seolah
menyayat keheningan sesaat itu, suara alarm yang memekakkan telinga bergema di
seluruh fasilitas.
◆
Di
tengah suara alarm yang bergema dari segala penjuru fasilitas, aku mengikuti
Lapica-san berjalan gagah di dalam area laboratorium.
Mengikuti
ingatanku saat datang untuk jam pelajaran dulu, akhirnya kami sampai di gedung
tujuan!
Ini
adalah gedung tempat Pak Guru Eagas keluar masuk untuk menyiapkan monster
seperti kura-kura itu!
Dilihat
dari dekat, dinding gedung ini memiliki tekstur seperti cermin yang licin,
cahayanya redup, dan udara di sini terasa dingin!
Samar-samar
terdengar suara seperti lenguhan hewan dari dalam, suasananya benar-benar
menunjukkan kalau mereka sedang melakukan hal gelap!
"Kalau tidak salah... Pak Guru
membawa monster dari gedung ini. Di antara yang terlihat, ini gedung paling besar, jadi pasti ini
fasilitas riset monster."
"Kalau
begitu mari segera masuk. Pintu masuknya... tidak bisa dibuka ya."
"Mungkin
biasanya memang tertutup, atau terkunci otomatis gara-gara alarm. Apa ada pintu
belakang ya?"
Karena tidak
ada pilihan, aku melangkah ke arah belakang gedung untuk mencari pintu lain.
Tepat pada saat itu, terdengar suara langkah kaki banyak orang dari sekeliling
kami!
"Penyusup!
Di sana!"
"Penjahat
keji yang datang mencuri rahasia negara!"
"Tangkap
tanpa membunuhnya! Ada perintah kalau mereka yang 'dihilangkan' boleh dijadikan
bahan eksperimen!"
Orang-orang
yang tampak tidak sehat yang berkumpul di depan pintu laboratorium ini
sepertinya adalah anggota Institut Sihir!
Mereka
mengepung kami dalam sekejap sambil memegang tongkat sihir atau buku,
sepertinya mereka tidak punya niat untuk mengobrol!
Namun meski
menghadapi situasi itu, Lapica-san tetap tenang, bahkan dia malah melangkah
maju dan mulai memancing emosi lawan! Kenapa sih?
"Hoh.
Kalian pikir spesies rendahan punya kekuatan tempur yang sanggup melawan La
Pyualiere? Lelucon yang menarik."
Hmm, sikapnya
sama sekali tidak seperti penyusup. Meski di balik layar kita terhubung dengan
Yang Mulia Raja, tapi faktanya kitalah yang melanggar hukum, jadi aku tidak
ingin membuat keributan besar.
Saat aku
sedang berpikir cara melewati situasi ini, orang-orang yang mengepung kami
tiba-tiba terbelah ke kiri dan kanan!
Melangkah
perlahan dari jalan yang terbentuk itu, muncul seseorang yang wajah
mencurigakannya tidak asing bagiku... Ah, ini kan Kardinal Gereja Elpis.
"Eee,
kenapa Kardinal ada di sini……?"
"Sudah
aturannya kalau aku harus datang saat keadaan darurat. Sesuai janji, aku datang
untuk membalas 'hutang' kemarin pada kalian. Aku sudah bilang, kan? 'Harap
diingat baik-baik'."
"Kardinal
Gereja Elpis……! Tsk, ternyata Anda juga orang di sisi sana……!"
"Tuan
Ilius, Anda datang!"
"Penyusupnya
adalah mereka!"
Sepertinya
Kardinal datang untuk membalas hutang saat Lapica-san memurnikan batu kemarin!
Orang-orang Institut Sihir sangat gembira, sepertinya Kardinal adalah kekuatan
tempur yang sangat bisa diandalkan!
"Tidak
perlu takut. Ini hanya sebentar kok."
Kardinal yang
memegang gada (mace) mendekat ke arah kami!
Dia mendekat
sangat dekat dengan kami yang sudah waspada, lalu dengan mata yang melihat kami
seolah benda mati, dia mengangkat gadanya tinggi-tinggi—dan langsung
menghantamkannya ke pintu masuk gedung riset hingga hancur total!
Eeeh……?
"Tu-Tuan Ilius…… apa yang Anda
lakukan……?"
Di tengah debu dan puing-puing yang
berterbangan serta suara hantaman yang berat, orang-orang Institut Sihir
kehilangan kata-kata dan ternganga!
Ngomong-ngomong, reaksiku juga sama!
Setelah jeda beberapa detik sampai debu
dan puing-puing mereda, Kardinal membelakangi kami dan berhadapan dengan
orang-orang Institut Sihir! Apa maksudnya……?
"Cepatlah
pergi. Aku akan menahan mereka di sini."
"Kardinal……?
Bukannya Anda musuh kami……"
"Aku
tidak tahu kenapa Anda menyebutku musuh, tapi ini adalah balas budi. Kemarin
aku berjanji akan membalas hutang, kan? Terima kasih sudah memurnikan barang
berbahaya itu waktu itu."
『Eeeeh……』
"Ternyata
ada ya, orang yang beneran melakukan 'balas budi' sesuai arti harfiahnya."
E-eh…… sepertinya Kardinal benar-benar
merasa berhutang budi karena Lapica-san memurnikan batu di markas gereja, dan
dia membantu kami untuk membalasnya! Ada ya hal seperti itu?
"Ta-tapi
Heresy-san! Orang ini memaksa kita minum obat aneh sebelum negosiasi! Dia tidak
bisa dipercaya!"
"Itu teh
impor dari Benua Utara. Aku menyajikannya karena punya efek menenangkan
pikiran. Itu barang mewah, lho."
"Waktu
aku memurnikan batu, Anda bilang 'Apa Anda pikir bisa selamat setelah melakukan
ini'!"
"Karena
Sang Orang Suci menyentuh batu itu secara langsung, aku khawatir apa tidak
apa-apa melakukan hal itu. Tapi sepertinya kekhawatiranku berlebihan ya. Senang
melihat Anda sehat-sehat saja."
"Tidak
mungkin... ternyata dia memang orang yang cara bicara dan gerak-geriknya saja
yang mencurigakan……!"
Lapica-san
tampak sangat terguncang dan syok tidak seperti biasanya! Aku mengerti rasanya
sulit percaya kalau Kardinal yang sangat mencurigakan itu sebenarnya bicara
jujur sesuai arti harfiahnya!
『Memang kalau dipikir-pikir lagi ucapan
Kardinal waktu itu... yang mencurigakan hanya cara bicara dan ekspresinya saja,
isinya sih sebenarnya biasa saja ya……』
Kalau
dipikir-pikir benar juga sih! Semua kata-kata Kardinal waktu itu murni...
tidak, tapi tetap aneh. Cara bicaranya tetap tidak normal. Reaksi Lapica-san
sudah benar kok.
Di saat kami
sedang bingung dengan bantuan mendadak ini, Kardinal terus merapal sihir
penguat diri berkali-kali. Saat tubuhnya mulai berpendar tipis, dia kembali
mengarahkan gadanya ke orang-orang Institut Sihir!
"Eee,
kalau begitu... kami titipkan tempat ini padamu ya?"
"Ya,
tapi berhati-hatilah. Di dalam sana ada Bintang Buas kuat yang diciptakan lewat
eksperimen. Dan kemungkinan, ada juga Dr. Alzion yang mengembangkannya."
"Kalau
Anda bohong, akan kujadikan masalah internasional ya!"
Setelah
menyampaikan "terima kasih" ala High Stella kepada Kardinal, kami
berlari masuk ke lubang besar di pintu masuk yang sudah hancur!
Orang-orang
Institut Sihir masih kebingungan dengan situasi ini, tapi tak lama kemudian
terdengar suara pertempuran, sepertinya mereka memutuskan untuk melumpuhkan
Kardinal!
Di dalam
laboratorium cahayanya minim, ditambah suara lenguhan makhluk yang tidak
dikenal membuat suasananya sangat aneh!
Saat aku
melihat kandang yang dulu digunakan saat jam pelajaran dan merasa sedikit
bernostalgia, Lapica-san merasakan "aura tidak menyenangkan", jadi
kami memutuskan untuk mengeceknya!
Menyusuri
lorong panjang menuju pusat gedung, di sana terbentang halaman tengah yang
terbuka dengan cahaya matahari yang masuk dari atas!
"Ooh,
luas sekali. Ternyata ada tempat seperti ini ya. ……Benda di tengah itu, apa?"
"Apa-apaan
itu……"
Di
halaman tengah yang dikelilingi tembok tanpa jendela, yang menunggu kami adalah
tumpukan daging merah muda raksasa yang dirantai ke tembok... daging?
Wujudnya
seperti gabungan dari banyak tubuh Bintang Buas yang dijahit menjadi satu,
darah dan nanah merembes keluar dari celah-celah dagingnya yang terbuka lebar!
Rasanya... mirip seseorang yang kukenal!
『Mirip……? Eh……?』
"Kejam
sekali. Bintang Buas diperlakukan seperti ini……"
"Hahaha!
Hahahahaha!"
Tiba-tiba
terdengar suara tawa mengejek yang bergema di tembok halaman tengah. Mengikuti
suara itu, aku mempertajam penglihatan ke arah belakang tumpukan daging itu dan
melihat dua pria berpakaian rapi di sisi tembok paling ujung!
Satu
orang tertawa terbahak-bahak seolah merasa sangat senang, sementara satu lagi
tampak ketakutan dan waspada dengan sekelilingnya!
"Tak
kusangka kalian bisa sampai ke sini, Sang Orang Suci dari High Stella.
Menghancurkan pintu masuk laboratorium, bukankah itu tindakan yang sangat
barbar?"
"Apa
kalian yang menodai Bintang Buas dengan mengubahnya menjadi wujud seperti ini?
Sebutkan nama kalian."
"Siapa...
yah, tidak apalah. Toh setelah ini Anda akan 'dihilangkan'. Aku adalah Alzion
Falgor dari faksi Seidou-ha Institut Sihir. Pahlawan di balik layar yang
membawa kejayaan bagi Meilleur lewat pengembangan teknologi. Kita harusnya sudah pernah bertemu
sekali di rapat laporan tempo hari."
"Ah,
penyelenggara rapat laporan yang tidak berguna itu ya. Maaf kalau begitu. Aku
tidak bisa mengingat satu per satu spesies rendahan yang memusuhi alam meski
sudah menerima anugerahnya."
"Ternyata
penduduk asli pemakan rumput memang berpandangan sempit ya. Bukankah luar biasa
jika Bintang Buas yang muncul otomatis dan merugikan manusia bisa diubah
menjadi senjata seperti ini? Ini adalah pengembangan teknologi untuk melindungi
negara, tahu."
Lapica-san
mulai berdebat dengan orang bernama Alzion yang ada di rapat laporan Institut
Sihir itu! Sepertinya Lapica-san tidak bisa memaafkan Institut Sihir yang
meneliti... atau lebih tepatnya menodai Bintang Buas, sementara Tuan Alzion
merasa risetnya adalah bentuk keadilan versinya sendiri!
Dalam hal ini
kurasa keduanya tidak akan mau mengalah, apa hubungan diplomatik Meilleur dan
High Stella bakal baik-baik saja ke depannya?
"Nah,
karena sudah begini apa boleh buat. Karena orang luar sudah mengetahui rahasia
ini, Anda harus 'dihilangkan' di sini. Benar-benar luar biasa bisa menjadikan
ras berharga yang sulit didapat bahkan di zaman perintisan sebagai bahan
eksperimen!"
Tuan Alzion
yang menunjukkan "mode tak terkalahkan" dengan mengumumkan penculikan
dan penyekapan terhadap ratu dari negara lain itu mengoperasikan sesuatu di
tangannya. Rantai yang menjulur dari tembok halaman ke arah monster itu pun
terlepas, dan tumpukan daging merah muda itu terbebas!
Melihat tubuh
yang seperti kumpulan banyak monster yang meleleh dan berbunyi
"guji-guji" itu, aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat!
"Itu adalah hasil risetku—Monster
Chimera. Bentuknya mungkin terlihat mengerikan, tapi itu adalah bentuk rasional
yang kurancang berdasarkan sketsa yang digambar oleh pengikut ajaran sesat di
insiden Menara Pertahanan."
"Sketsa ajaran sesat……?
……Ah……"
Itu
pasti Happy. Sketsa yang digambar orang-orang ajaran sesat yang kemudian
disita, kan.
Aku
sempat merasa itu mirip, tapi tak disangka itu adalah monster yang sengaja
dibuat agar menyerupai Happy!
Memang
bagian tubuh yang tercampur aduk, atau daging merah muda yang imut, ada banyak
bagian yang terasa mirip sih!
『Sama sekali tidak mirip tahu……!』
Saat aku
sedang berdebat dengan Happy di dalam kepala soal selera desain monster,
monster itu berjalan (?) ke arah kami sambil memanjang dan memendek seolah
ingin menghentikan diskusi tanpa kehadiran subjeknya itu!
Aku tidak
menyangka monster akan patuh pada perintah manusia, tapi gerakannya jelas-jelas
menunjukkan dia menganggap kami sebagai musuh!
"Aku
sudah menanamkan sihir kepatuhan paksa pada monster chimera ini, tapi untuk
jaga-jaga aku akan pergi ke ruang kontrol. Aku serahkan tempat ini padamu, Tuan
Cain. Meski sudah jadi Master Guild Pembasmi, kemampuanmu belum tumpul,
kan?"
"Alzion…… apa kau menyuruhku
membunuh anak-anak itu?"
"Dengar, karena sudah jadi begini,
satu-satunya cara kita menjaga rahasia adalah dengan melenyapkan mereka. Kalau
tidak melawan, semuanya akan dirampas darimu."
"Dirampas…… oleh mereka……"
Selagi memperhatikan gerakan monster,
Tuan Alzion sudah menghilang masuk ke dalam gedung, dan Master Guild Pembasmi
bernama Tuan Cain—ayah Maritta-san—menyiapkan kapak perangnya di belakang
monster itu!
Aku tidak tahu kenapa pimpinan Guild
Pembasmi ada di sini, tapi... ini adalah situasi yang butuh pembagian tugas!
"Heresy-san,
aku……"
"Tenang
saja. Biar aku yang mengurus monster dan Master Guild itu. Lapica-san kejar
saja orang Institut Sihir yang masuk ke dalam gedung tadi, ya?"
"Aku
tidak bisa melakukan apa pun pada pengguna sihir, dan dia juga orang yang
dibilang kemungkinan membawa Relic, kan."
"Maaf. ……Tapi, apa tidak apa-apa
sendirian di sini?"
"Tidak
apa-apa kok. Di sini ada yang 'asli', dan aku punya teman-teman lain."
"Begitu
ya, eksistensi suci yang kamu kendalikan itu ya. Kalau begitu, aku akan kembali
ke dalam laboratorium dan menangkap pria itu."
"Iya.
Aku juga akan berjuang di sini."
Lapica-san
menerima usulanku dan berbalik masuk kembali ke dalam gedung!
Mengingat
Lapica-san adalah spesies unggul, dia pasti bisa melumpuhkannya dengan cepat.
Aku juga harus menyelesaikannya dengan cepat agar dia tidak menunggu lama!
『Kalau begitu... apa kita akan
mewujudkan diri?』
Benar juga!
Karena halaman tengah dikelilingi tembok, Lapica-san tidak akan melihat Happy,
dan ayahnya Maritta-san juga jelas-jelas datang untuk membunuh kami, jadi tidak
perlu terlalu sungkan!
Meski begitu,
jangan berlebihan. Menghabisi monster sih tidak apa-apa, tapi kalau membunuh
Master Guild, bakal gawat secara sosial maupun pribadi! Biar bagaimanapun,
meski ini pertemuan pertama, dia adalah atasan di tempat kerjaku!
『Kalau begitu boleh aku minta tolong
pada Hydra-san juga? Dia sudah melakukan pekerjaan luar biasa di Menara
Pertahanan.』
Ooh, benar
juga. Di Menara Pertahanan dia berhasil menahan dan menangkap Jade dengan
sempurna. Dan berkat dia mencuci bersih darah Happy dan para "Botai"
(Induk), dosaku jadi terasa sedikit lebih ringan!
Kalau di sini
setelah bertarung dia membersihkan tempat ini, mungkin dosaku juga akan sedikit
berkurang!
"Hydra,
ada waktu sebentar?"
"Ya!
Saya sudah menunggu Anda!"
Setelah
melihat Happy yang terjatuh bebas dari celah ruang, aku memanggil Hydra. Sebuah
genangan air hitam muncul di tanah dan Hydra melompat keluar dengan penuh
semangat!
Lama tidak
bertemu! Responnya selalu cepat dan sangat membantu!
Monster lawan
sepertinya terkejut dengan kemunculan mendadak Happy dan Hydra. Ia menghentikan
banyak kakinya (?) dan mengintimidasi kami sambil tetap waspada!
Aku tidak
tahu monster mana yang menjadi pusat dari sekian banyak monster yang tercampur
itu, tapi sepertinya ada satu kesadaran yang sama?
"Saya,
si Hydra yang tak berguna ini, benar-benar menunggu Anda memanggil saya. Ya,
saya sudah menunggu lama sekali……! ……Ah, selamat pagi, Senior Happy."
『Lama tidak bertemu ya. Selamat pagi.』
"E-eh,
maaf, maaf banget. Sejak hari itu akademi diliburkan dan
semua kelas dibatalkan. Ditambah lagi, belakangan ini aku sedang bersama orang
dari negara lain, jadi aku pikir kamu mungkin tidak mau menampakkan diri."
Rasanya sudah
lama sekali aku tidak memanggil Hydra, tapi sumpah aku tidak lupa! Benaran!
Oleh-oleh yang kuterima dari keluarga Creserize kemarin juga sudah kusisihkan
kok bagian untuk Hydra!
"Benarkah...?
Aku pikir, jangan-jangan Heresy-san sudah melupakanku..."
"Ingat kok, ingat banget! ……Ah,
benar juga! Aku memanggilmu karena ingin kamu membantuku mengalahkan orang yang
membawa kapak itu dan monster di sana. Hydra, bisa minta tolong?"
"Ah, iya! Tentu saja! Meski aku
sempat ragu soal bertarung dengan Bintang Buas, sekarang aku sudah tidak
apa-apa! ……Heresy-san, apa jangan-jangan Anda sedang mencoba mengalihkan
pembicaraan?"
『Dia jadi sangat curiga……』
Hubungan
kepercayaanku dengan makhluk panggilan yang baru saja bertemu lagi ini
sepertinya mulai goyah, tapi bagaimanapun juga, persiapan tempur sudah selesai!
Rasanya sudah lama ya tidak melakukan hal seperti ini sejak akademi libur!
"Jangan
rampas dariku……! Ini milikkuuuuuu!"
"GYAgi……ya
GYA, Gya!"
"Mereka
datang!"
Hydra menahan
terjangan monster itu dengan tentakelnya. Memanfaatkan celah itu, sang Master
Guild bergerak gesit memutar, mendekatiku, dan mengayunkan kapak perangnya! Aku
kira pemimpin organisasi seperti dia sudah kaku karena jarang terjun ke
lapangan, tapi ternyata gerakannya masih tajam. Mengejutkan!
『Tidak boleh』
Happy
meluncurkan tubuhnya untuk melindungiku dari kapak itu. Dengan ribuan
lengannya, ia mencengkeram kepala Master Guild, lalu menjejalkan saluran
dagingnya ke dalam mulut pria itu!
Tunggu, apa
itu tindakan yang boleh dilakukan kepada manusia?
"Vu……gh,
gu, aaa……!"
『Ah, mumpung cengkeramannya pas,
sekalian saya lumpuhkan saja ya. Saya akan hati-hati agar tidak sampai
membunuhnya……』
Aku sempat
waswas dia akan menusuknya dari dalam seperti biasa, tapi sepertinya dia
menuruti perintahku. Setelah mengangkat tubuh Master Guild dari dalam, dia
membantingnya ke tanah sampai tidak bisa berkutik!
Bagus, Happy!
Tapi sekali lagi, apa itu tindakan yang boleh dilakukan kepada manusia?
"Eeto,
kalau begitu aku juga akan melakukan hal yang sama pada yang ini..."
"─A─AA,
gi! GiY!!"
Melihat cara
kerja Happy, Hydra mengganti targetnya. Dia menggunakan tentakel besar
lainnya—selain yang menahan monster—seperti cambuk dan menghantamkannya
keras-keras ke tubuh utama monster itu!
Meskipun
lawannya adalah Bintang Buas spesial, melihat kekuatan yang sanggup
mencabik-cabik tubuh dalam satu serangan membuatku berpikir bahwa di zaman di
mana sihir semakin praktis ini, serangan fisik tetap akan memiliki nilai
tersendiri!
Normalnya,
monster yang hancur berkeping-keping akan lenyap menjadi partikel biru, tapi
karena individu ini (?) adalah campuran dari banyak monster, bagian-bagian yang
terpotong masih menggeliat!
"Uhuk, hoekk……!? ……Sial,
kenapa……!? Bukankah monster chimera Institut Sihir adalah mahakarya
terbaik……!?"
Master Guild yang baru saja lepas dari
saluran daging Happy merintih sambil merangkak!
Aku masih tidak mengerti kenapa
pemimpin Guild Pembasmi ada di laboratorium Institut Sihir, tapi mumpung
ketemu, mari kita periksa saja sekalian!
"Hup.
Maaf ya, aku akan segera pergi setelah menemukan apa yang kucari."
"Tsk,
jadi benar ini tujuan penyeranganmu……! Tidak akan kuberikan, tidak akan
kuberikan benda ini pada siapa pun……!"
"Bukan begitu, sungguh maaf. Ini
bagian dari pekerjaan…… eh, Relic?"
"Ini
milikku. Tidak akan kuberikan pada siapa pun. Ini milikku……
ini MILIKKUUUUUUUUUUUUUU!!"
"Eh, apa-apaan ini!?"
Tadinya aku cuma ingin melakukan
pemeriksaan barang bawaan secara singkat, tapi tiba-tiba sang Master Guild
mengaku sendiri kalau dia membawa Relic dan mengeluarkan sebuah kandil yang tak
asing dari balik jubahnya!
Sesaat kemudian, api hitam pekat
menyembur dari kandil itu dan menyelimuti area sekitar—dan entah bagaimana,
Master Guild dan sisa-sisa monster chimera itu menyatu, lalu membesar hingga
setinggi atap gedung!
Apa-apaan
ini?
『Lihat, kekuatan ini... Inilah
kekuatan Relic... Haha, HAHAHAHA!』
"Tsk…… Heresy-san, sebenarnya ini
apa……!?"
Ya itu dia,
apa-apaan ini? Menjadi kuat dan raksasa saat terdesak... ini bukan penjahat di
pertunjukan sandiwara boneka, tahu.
『Ngomong-ngomong, nenek penjaga gerbang
yang mengaku-aku itu pernah bilang kalau musuh yang dikalahkan dengan mudah
biasanya punya wujud kedua……』
Ah,
dia memang pernah bilang begitu. Waktu itu aku cuma mendengarkannya setengah
hati karena kupikir itu cuma klise cerita dongeng, tapi melihat ada orang yang
beneran berubah wujud begini, mau tidak mau aku harus percaya!
『Ini kekuatan Relic. Tidak akan
Kuberikan. Aku telah terlahir kembali. Aku Tak Terkalahkan.』
Master
Guild yang sekarang terlihat seperti korban yang ditelan tumpukan daging
monster itu mulai mengamuk. Lengannya yang raksasa menghantam tembok gedung
hingga berlubang, membuat bagian dalam laboratorium terlihat jelas!
Meski
dia sudah melewati batas kemanusiaan dengan menyatu bersama monster, untungnya
dia hanya menyerang secara fisik. Tapi kalau tembok laboratorium terus
dihancurkan, ini gawat!
Kalau
bagian dalam laboratorium terlihat dari halaman, berarti Lapica-san yang ada di
dalam juga bisa melihat sosok Happy!
『Eeto……
kalau begitu sebaiknya saya kembali saja? Apa tidak apa-apa kalau saya tidak ada?』
Hmm…… ah, tidak apa-apa! Aku bawa barang yang pas kok! Itu
lho, barang yang "itu"!
『Barang yang pas... Ah,
begitu ya. Baiklah, saya kembali dulu ya.』
Sip, terima
kasih! Tolong bantu lagi kalau ada apa-apa!
Setelah
mengantar Happy yang kembali ke celah dimensi dengan lompatan melawan
gravitasi, aku mengembalikan kesadaranku ke lapangan.
Hydra
yang melihat itu segera mendekat sambil membentuk perisai dari tentakelnya!
"Heresy-san…… orang yang menyatu
itu, bagaimana sebaiknya? Tubuh manusianya tertanam di dalam tubuh monster dan
batasnya tidak jelas, aku takut tidak sengaja menyerang bagian
manusianya..."
"Itu memang masalahnya. Tapi
tenang saja, aku punya barang bagus di sini!"
Aku merogoh
saku dan mengeluarkan—Ya! Belati pemberian Maritta-san! Katanya ini belati
spesial yang punya efek mengacaukan mana pada Bintang Buas, jadi pasti bisa
memberikan kerusakan hanya pada bagian monsternya saja!
"Wah…… belati yang cantik ya! Apa itu senjata bela diri
Heresy-san?"
"Bukan,
ini pemberian... gimana ya, aku menerimanya dari seorang perempuan."
"Eh."
『Apa……!? GUOOH, GUAAAAAA!!』
Lho,
entah kenapa Master Guild langsung mengerang kesakitan begitu melihat belati
itu! Aku tahu ini berkhasiat pada monster, tapi masa cuma dilihat saja sudah
berefek begini……!?
『KENAPA kau memegang belati
pertunangan itu……!? Itu adalah benda yang kuberikan pada putriku dengan pesan
"Berikan pada pasangan yang baik"……!』
"Ah,
beda. Dia menderita karena alasan yang berbeda dari perkiraanku."
『Masa putriku jatuh hati pada pria
berwajah bodoh seperti ini…… Tak puas merampas
Relic, kau juga mau merampas putriku dariku……? Tak akan kumaafkan…… tak akan
pernah kumaafkan……』
"Be-benarkah itu……!?
Heresy-san……?"
『Tunangan
putriku…… kalau bukan pria yang bisa mengalahkanku, selamanya TIDAK AKAN PERNAH
KURESTUIIIIII!!』
『Sepertinya
dia salah paham ke arah yang benar-benar melenceng ya?』
"Hal
yang kukhawatirkan jadi kenyataan ya."
Memanfaatkan
celah saat Master Guild (dan entah kenapa Hydra juga) sedang menderita, aku
memperpendek jarak dan menghunuskan belati itu.
Master Guild
yang menyadarinya segera menghindar dengan gerakan yang tak terduga ringan,
lalu menembakkan gumpalan daging monster dari atas kepala dengan kecepatan
peluru meriam!
Aku berhasil
menghindar karena refleks mundur, tapi kalau kena, nyawaku mungkin sudah hilang
tiga kali saking kuatnya!
『HAHAHA! Belati pertunangan itu
memang punya efek fatal bagi Bintang Buas! Tapi kalau begitu, aku tinggal TIDAK
MEMBIARKANMU mendekat!』
『Dia malah membocorkan sendiri kalau
belatinya berkhasiat……』
Tadi
juga dia mengaku sendiri soal Relic, mungkin aslinya dia orang yang jujur tapi
jadi aneh karena pengaruh Relic?
Kalau
begitu aku benar-benar ingin mengembalikannya seperti semula! Maritta-san pasti
syok kalau melihat ayahnya jadi begini!
Setelah
itu aku mencoba menyerang beberapa kali, tapi meski badannya besar, gerakannya
cepat.
Aku
kewalahan menghindari gumpalan daging yang dia tembakkan dan sama sekali tidak
bisa mendekat!
『Bagaimana? Kau tidak bisa mendekat!
Dasar bajingan yang berani menggoda putriku, akan kusiksa kau sampai mati di
sini!』
"Yah, memang sepertinya sulit
untuk mendekat. ……Tapi, fakta bahwa aku tidak bisa mendekat dengan fakta bahwa
belati ini tidak bisa mengenaimu itu dua hal yang berbeda, kan? Benar kan,
Hydra?"
『Apa
maksud omong kosongmu itu……!?』
Aku meletakkan belati di telapak
tanganku dan memberi aba-aba pada Hydra.
Seketika, tentakel yang tadi menggeliat
santai langsung menyambar belati itu, memanjang dengan kecepatan yang tak
tertangkap mata, dan menusukkan belati itu beserta tentakelnya tepat ke tubuh
lunak monster itu!
『O...
OH……!! Kau…… memberikan belati pertunangan itu kepada Makhluk Panggilan……』
"Sejak
dulu aku selalu berpikir. Senjata kuat milik pahlawan atau legenda dalam cerita
itu, bukankah makhluk panggilan bisa menggunakannya dengan lebih baik daripada
manusia?"
『Terkuat……
tubuh terkuatku…… lenyap…… GUAAAAAAA!!』
Bersamaan dengan jeritan kematian
Master Guild yang dramatis, tubuh monsternya hancur berantakan. Partikel biru
yang muncul saat monster mati bertebaran di sekitar dan menghilang!
Seiring dengan itu, Master Guild yang
ada di dalam terjatuh dari ketinggian yang lumayan.
Aku buru-buru melihatnya, dan menemukan
dia tergeletak tak jauh dari kandilnya, sudah kembali ke wujud manusia!
"Licik…… kau orang licik…… Pria
sepertimu…… tidak akan kurestui berhubungan dengan putriku……"
"Heresy-san, soal itu, aku juga
ingin bicara dengan perempuan yang dimaksud……"
"Bisa-bisanya
itu hal pertama yang kita bicarakan setelah bertarung."
Sudah salah paham total ya! Master
Guild sih aku paham, tapi kenapa Hydra juga ikut-ikutan cemburu?
"Eeto,
Ayahnya Maritta-san? Soal itu sebenarnya cuma salah paham—"
"Aku
tidak sudi dipanggil Ayah olehmu! Uhuk……!"
"Eh……? ……Anda baik-baik
saja?"
"……"
"Lho……"
Apa
jangan-jangan dia ma—tidak, dia hi—hidup kan? ……Mati?
『Akhirnya Anda melakukannya juga ya……』
"Eh, masa sih…… Eh, beneran?"
"Biar aku periksa. Napasnya……
masih ada. Sepertinya
cuma pingsan."
"Terima
kasih banyak, Hydra. Beneran."
Sungguh.
Beneran. Keringat dinginku tidak mau berhenti barusan. Untuk jaga-jaga, aku
memindahkan Master Guild ke tempat teduh dan mengatur posisinya agar
pernapasannya lancar…… Nah. Sip, di sini sudah tenang untuk sementara!
Bagaimana dengan Lapica-san ya?
◆
"……Tidak
mungkin…… Heresy-san, mana mungkin……"
Aku—La
Pyualiere Lapica—yang berpisah dengan rekanku di halaman tengah dan menuju
lantai atas laboratorium, baru saja melumpuhkan pemimpin Institut Sihir di
ruangannya.
Sekarang
aku sedang menatap ke halaman tengah dari lubang besar di tembok dengan suara
penuh keputusasaan.
Pemuda
yang berdiri di halaman itu sekarang memang hanya terlihat membawa satu makhluk
panggilan aneh, tapi saat aku sedang mengejar target tadi, tembok di depanku
hancur dan aku sempat melihat situasi di bawah—dan di sanalah aku melihatnya.
Sosok
yang persis dengan eksistensi jahat yang kurasakan di langit utara High Stella
yang jauh.
Tumpukan
daging aneh yang mengerikan, menyebarkan kecemasan dan kegilaan hingga
mendistorsi udara.
Dan
sosok itu sedang dikendalikan oleh pemuda yang merupakan wadah Dewa yang suci,
sama sepertiku.
Kenyataan
bahwa teman yang selama ini kupercayai sebagai rekan seperjuangan ternyata
adalah dalang yang mengendalikan eksistensi yang membawa dunia menuju
kehancuran, menusuk dadaku. Tubuhku kaku dengan mata terbelalak karena syok,
jantungku berdegap kencang.
"Tak
kusangka dia adalah musuh dunia yang memimpin kejahatan……! ……! Kalau begitu,
aku tidak boleh membiarkan Relic jatuh ke tangannya……!"
Di
halaman tengah, Relic yang tadi dipegang Master Guild tergeletak di tanah.
Jika
Heresy-san benar-benar musuh bintang yang akan menghancurkan dunia, aku tidak
boleh membiarkan Relic yang diinginkan Dewa Suci diambil olehnya.
Aku
melompat dari lubang tembok, mendarat di halaman tengah sambil menggunakan
mukjizat untuk meringankan tubuh.
Aku
berlari melewati Heresy-san yang melambaikan tangan padaku, lalu segera
memungut Relic itu dan menyembunyikannya di balik punggung.
"Heresy-san,
apa Anda terluka? Penumpasan di dalam fasilitas sudah selesai."
"Eh……
iya. Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong, Relic itu—"
"Relic
ini dipenuhi kekuatan jahat. Hanya dengan memegangnya saja bisa mengakibatkan
kerusakan mental yang serius pada pemiliknya, jadi kondisinya berbahaya. Aku
akan menyimpannya dulu dan memurnikannya dengan kekuatan suci."
"Eh,
begitu ya? Kalau memang begitu aku sangat berterima kasih, tapi aku ingin
menyerahkannya dulu ke atasan untuk melaporkan semuanya dan minta instruksi.
Bisa diberikan padaku sebentar?"
"Tidak
boleh."
"Oh,
tidak boleh ya."
Senyum lembutnya saat menggaruk pipi karena bingung. Mata yang ramah seperti biasanya. Namun bagiku sekarang, itu semua terlihat seperti lubang hampa tanpa dasar.
Chapter 16
Penyelamatan: Lapica
"Fuu.
Dengan ini..."
Malam hari.
Kastel Raja Meilleur. Sebuah ruangan di lantai atas yang menghadap ke arah ibu
kota adalah kamar tamu sementara yang disediakan untukku sebagai tamu negara.
Di dalam
ruangan, perabotan dan kain tenun berkualitas tinggi memenuhi pandangan, namun
interior yang megah itu tidak cukup untuk membasuh kekosongan di hatiku saat
ini.
Aku menatap
kandil yang baru saja selesai kumurnikan. Ini adalah hasil yang kudapatkan di
laboratorium Institut Sihir, bukti bahwa aku telah memenuhi misi dari Dewa.
Pada hari aku
menerima wahyu itu, inilah benda yang sangat kuinginkan hingga aku berani
menyeberang ke negara tetangga sendirian.
Namun, yang
ada di dadaku sekarang hanyalah rasa kehilangan yang menyayat hati, dan
penderitaan yang menyerupai penyesalan yang tak terbendung.
Aku teringat
pemandangan di laboratorium. Tumpukan daging mengerikan yang berlumuran
kejahatan dan kenajisan, serta sosok tentakel yang aneh. Itu adalah miniatur
masa depan yang mungkin akan dialami dunia ini.
Jika kekuatan
jahat yang dia miliki digunakan untuk melawan bintang ini, dunia ini akan
dengan mudah berubah bentuk dan tenggelam ke dasar keputusasaan.
"Apa...
yang harus kulakukan……"
Kebimbangan
yang seharusnya tidak perlu ada.
Jika aku
adalah diriku yang dulu, diriku sebelum bertemu dengannya, aku pasti akan
langsung memutuskan untuk bertarung dengan pemuda itu, menantangnya demi
menghalau kejahatan.
Atau mungkin,
di saat dia membelakangiku, aku akan merenggut nyawanya secara sepihak.
Namun, di
saat itu, aku tidak bisa melakukannya. Itu karena hubungan yang telah kami
bangun, dan kelemahanku sendiri yang telah mengenal kehangatannya.
『……Ka, apakah kau mendengar suara-Ku?』
"!? Dewi
Bintang……!"
『Kau telah mendapatkan Relic itu. Kerja
bagus untuk sebuah wadah yang bukan anak manusia.』
Di
tengah kegalauanku, suara Dewi Bintang terdengar. Suara
yang membimbingku hari itu. Suara yang memberiku makna hidup.
Sejak datang ke negara ini, suara itu
tak terdengar lagi, tapi apakah karena aku mendapatkan Relic ini, Beliau
terbangun kembali?
Namun, wahyu yang diberikan
kepadaku—yang tadinya kuharap bisa menghapus keraguanku—ternyata adalah sesuatu
yang sama sekali tidak kubayangkan.
『Dengan
ini, Aku bisa memanggil pengikut-Ku ke dunia bawah. Turunkan malaikat, bunuhlah
tubuh fisiknya, dan bebaskan jiwanya yang terperangkap di dunia ini.』
"Eh, anu... membunuh...? Yang Anda
maksud 'dia' adalah……"
『Sang
"Anak Pertama". Kita sudah membicarakannya saat kau mendapatkan Relic. Kau harus
membebaskan jiwa dari tubuh fisiknya dan menyelamatkannya.』
"Maksud
Anda Heresy-san……? Tapi, mungkin ada alasan kenapa dia sampai terlibat dengan
perbuatan jahat seperti itu……"
『Bukankah kau eksistensi yang ada untuk
melindungi bintang dan menghalau kejahatan? Baginya, dunia ini adalah benda
asing yang sempurna. Apa yang perlu kau ragukan untuk menyingkirkannya?』
"Itu……"
Benda
asing bagi dunia. Musuh bintang. Instingku sebagai La Pyualiere yang telah
melindungi bintang sejak zaman kuno memberitahuku bahwa makhluk panggilan yang
kulihat di halaman tengah memanglah eksistensi jahat yang memiliki kekuatan
tersebut.
Namun,
meskipun begitu, aku tidak bisa membuang perasaan yang ada di dalam diriku.
Kehangatan
tangan yang kugenggam hari itu, dan mata tulus yang menatapku hanya sebagai
"Lapica", sudah cukup untuk menggerakkan kembali hati yang telah
terbiasa dengan kekecewaan dan penghinaan ini.
"Aku...
ingin memastikan niat aslinya. Memang benar dia memiliki kekuatan jahat dan
menggunakannya dengan santai tanpa keraguan sedikit pun. Jika ujung kekuatan
itu diarahkan ke bintang, dia bisa menghancurkan dunia ini kapan saja.
……Tetapi, belum tentu niat asli Heresy-san juga seperti itu. Aku percaya dia
bukan orang yang akan salah menggunakan kekuatan itu."
『Ini bukan masalah cara menggunakan
kekuatan. Cara berpikirmu tidak akan menyelesaikan apa pun.』
"Jika
saat itu tiba, aku... aku sendiri yang akan menghentikan Heresy-san dengan
tanganku ini."
Dia pasti
punya alasan kenapa mengendalikan eksistensi jahat itu. Dia mungkin tidak tahu
pengaruh apa yang akan diberikan eksistensi tersebut terhadap bintang.
Itu adalah
harapan kosong yang bisa disebut iman buta.
Penipuan diri
yang terlalu berbahaya untuk mempertaruhkan nasib dunia.
Sebuah
kontradiksi di mana pelindung bintang yang disebut terkuat sepanjang sejarah,
akan melakukan taruhan paling berbahaya sepanjang sejarah.
Meski begitu.
"Aku
pasti akan menghentikannya. Aku percaya kekuatanku ada untuk saat-saat seperti
ini."
Berlawanan
dengan kata-kataku yang kuat, pandanganku mengabur karena air mata yang
perlahan merembes.
Kami pasti
akan bertarung. Kami akan saling melukai dengan kekuatan yang melampaui akal
manusia hingga salah satu dari kami tumbang.
Untuk menarik
kembali pikiranku dari masa depan yang tragis ke kenyataan, aku menyentuh
kandil itu untuk mencari sensasi dingin.
Jika aku
menghancurkan Relic ini sekarang, apakah aku bisa kembali ke hari-hari mencari
Relic lagi?
Kembali ke
hari-hari menyenangkan saat kami bisa tertawa bersama dari lubuk hati untuk
pertama kalinya dalam hidupku.
"Dewi……"
Aku
menggenggam liontin yang membantu hubunganku dengan Dewa, menangkupkan tangan
di dada, dan berdoa.
Di saat kegelapan malam mengalir dari jendela, aku hanya bisa menunggu pagi tiba sambil mendekap tekad yang terus goyah.



Post a Comment