NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 21

Chapter 158

Di Tempat yang Akhirnya Mereka Capai


Setelah membasmi Venom Beet dan Majin, kami saling berdiskusi mengenai langkah selanjutnya.

"Karena Venom Beet sudah dikalahkan, kita tidak perlu khawatir lagi Tanah Korosi akan meluas," ucapku.

"Benar. Majin yang merencanakan konspirasi ini juga sudah tamat, sekarang kita bisa bernapas lega," sahut Liliera-san.

"Sisanya, kita hanya perlu memurnikan area Tanah Korosi yang sudah terlanjur meluas, maka semua masalah akan tuntas."

"Eh, apa masih perlu pemurnian padahal Venom Beet sudah mati?" Liliera-san memiringkan kepalanya, seolah mengira semuanya otomatis berakhir dengan kematian sang monster.

"Iya. Meskipun penyebab perluasannya adalah Venom Beet, rawa beracun yang tersisa tidak akan hilang begitu saja. Jika tidak dimurnikan, monster beracun lain akan menjadikannya sarang."

"Begitu ya. Gawat juga kalau sampai ada telur Venom Beet yang tertinggal dan menetas," Liliera-san mengangguk paham.

"Tepat sekali."

Telur-telur Venom Beet yang tadinya ingin ditetaskan oleh sang Majin telah mati karena pasokan nutrisinya terputus akibat pemurnian kami.

Namun, tetap ada kemungkinan masih ada telur yang tersisa di lahan yang belum terjamah.

Jika itu terjadi, Venom Beet mutan bisa kembali mengacaukan dunia. Itulah sebabnya Tanah Korosi harus dimurnikan sepenuhnya.

"Oooiii, Kakak!"

Tiba-tiba, Jairo dan yang lainnya datang sambil berseru.

"Tadi aku merasakan energi sihir yang luar biasa besar, apa terjadi sesuatu?" Jairo sepertinya merasakan sisa-sisa pertarungan melawan Venom Beet dan bergegas datang.

"Tidak apa-apa. Semuanya sudah selesai kok."

"Seriusan!?" Jairo menggeram kesal mendengar pertarungan sudah berakhir. "Sialan! Padahal aku sudah berharap bisa bertarung bareng Kakak!"

"Maaf, maaf. Lain kali aku akan menyisakan musuh untukmu."

"Janji ya, Kak!"

"Duh, kalian ini bicara musuh seperti sedang menyisakan jatah makanan saja," gumam Mina dengan wajah lelah.

"Ara? Jadi pertarungannya sudah selesai ya?" Idola-sama ikut muncul dari belakang mereka.

"Jadi, kali ini kalian melawan apa?"

"Iya! Beritahu aku, Kak!"

"Hmm, sebenarnya begini..."

Aku pun menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi di sini kepada Jairo dan yang lainnya.

"... Jadi, Kakak sudah mengalahkan penyebab utama Tanah Korosi!?"

"Dan lagi-lagi ada Majin yang terlibat!?"

"Begitulah."

"Ngomong-ngomong, mayat Majin-nya ada di sini lho," tambah Liliera-san.

"Uwooh!? Benar! Berarti Kak Liliera benar-benar mengalahkan seorang Majin sendirian!?"

"Fufu, yah, begitulah," jawab Liliera-san dengan nada sedikit bangga.

"Kyu!"

Si Mofumofu mendadak mencoba menggigit sayap sang Majin, tapi aku segera menghalanginya.

"Kyu kyuu!?" Dia menatapku seolah bertanya kenapa aku menghalanginya.

"Tidak boleh. Ini hasil buruan Liliera-san, jadi jangan dimakan."

"Kyuuu~... Cih!" Mofumofu menendang kepala sang Majin dengan ekspresi malas, lalu beralih menuju bangkai Giant Poison Centipede yang terkubur di tanah. Yah, kalau yang itu sih silakan saja.

"Sial! Aku juga ingin duel satu lawan satu dengan Majin!"

"Dengan kemampuanmu, yang ada kau malah jadi korban," ejek Mina.

"Enak saja! Kalau aku yang sekarang pasti bisa!"

"Sudah-sudah. Mengalahkan Majin legendaris... Liliera, kau hebat sekali ya," puji Idola-sama dengan suara lembut.

"... Dora, apa reaksimu tidak terlalu santai?" Jairo tampak bingung melihat Idola-sama yang bersikap tenang sambil menatap mayat Majin. Reaksi yang sangat santai, benar-benar ciri khas seorang putri.

"Tapi Rex benar-benar hebat. Masalah Tanah Korosi ini bukan hanya membuat pusing negara-negara tetangga, tapi juga pihak Gereja. Ini layak mendapatkan medali penghargaan. Negara-negara pasti akan berebut untuk menjadikanmu bangsawan."

Baru saja aku mengira dia santai, Idola-sama malah mengatakan hal yang merepotkan.

"Anu, soal itu... bisakah kita rahasiakan saja? Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Lagipula, aku bisa mengalahkan Venom Beet berkat bantuan segel khusus dari orang-orang zaman dahulu yang sudah melemahkan kekuatannya. Kalau tidak, aku pasti akan sangat kesulitan."

"Kalau itu sih, menurutku tidak mungkin," celetuk Jairo.

"Kebetulan sekali, aku juga berpikir begitu," sahut Liliera-san.

Tidak, tidak, kalian berdua, ini benar-benar bukan hanya kekuatanku sendiri tahu.

"Tapi yah, aku mengerti perasaan Rex. Kalian adalah... teman-temanku yang berharga. Jika kau tidak menginginkannya, aku akan menghargai keputusanmu. Lagipula aku sudah sangat berhutang budi padamu."

"Terima kasih, Dora."

Fuh, syukurlah Idola-sama orang yang pengertian. Dia memang pantas menjadi putri yang dilayani oleh Meguri-san.

"Nah, ayo kita lanjutkan pemurnian Tanah Korosi! Ada kemungkinan anak-anak Venom Beet masih ada yang hidup, jadi kalau kalian menemukannya, bertarunglah dari jarak jauh dan jangan mendekat ya."

""""Baik!""""

"Ah, berkat Go... maksudku Rex, aku punya ketahanan racun, jadi kalau tidak sengaja mendekat pun tidak apa-apa kan."

"Ah, Dora curang! Kakak, beri aku ketahanan racun juga dong!"

"Kau ini, ini bukan mainan anak-anak tahu..."

"Mofumofu juga ayo pergi!"

"Kyu kyuu!"

Tiba-tiba Mofumofu kembali sambil menggigit sesuatu yang putih dan bulat.

"Tunggu, itu kan telur Venom Beet!"

Ternyata Mofumofu membawa salah satu telur yang tadi kugali dari tanah.

"Kyu!" Mofumofu mulai mengunyah telur itu dengan lahap. "Kyu~uu."

Eeto... sepertinya dia suka rasa telur Venom Beet ya?


Meguri

Saat masih kecil, Ibu pernah membawaku melihat Tanah Korosi. Itu dilakukan agar aku memahami misiku di masa depan.

Sambil menunjuk rawa beracun mengerikan yang merenggut nyawa siapa pun yang mendekat, Ibu berkata:

"Dengarkan, Megurielna. Di masa depan, kau akan menyerahkan nyawamu untuk melindungi orang-orang dari neraka itu. Itulah misi yang kau bawa sejak lahir."

Ibu mengatakannya dengan tegas. Sejujurnya, aku merasa itu bukan hal yang pantas dikatakan kepada seorang anak kecil.

Namun sejak kecil, aku selalu dicekoki bahwa menyerahkan nyawa demi negara dan keluarga kerajaan adalah tugas kami, orang-orang di balik layar.

Ibu adalah orang yang keras, tapi dia juga penyayang, jadi aku tidak pernah membencinya. Begitu juga dengan Ayah.

Aku paham bahwa Ayah memiliki posisi yang membuatnya tidak bisa mengakui keberadaanku secara resmi.

Terlebih lagi, aku pernah melihat mereka berdua tampak akrab saat aku masih kecil, jadi aku tahu betul bahwa aku lahir karena diinginkan.

Karena itu, aku tidak merasa perlu membenci siapa pun.

Ayah adalah orang yang terkadang berpura-pura bertemu denganku secara tidak sengaja dan memberiku camilan sambil berakting seolah dia kebetulan saja membawanya.

Karena Ayah yang kaku tapi perhatian itulah, aku ingin menjadi berguna.

Selain itu, aku juga menyayangi kakak kandungku yang memperlakukanku seperti adik sendiri meski aku hanya ditempatkan sebagai bayangannya.

Aku tidak pernah merasa iri pada Kakak yang menjadi putri tanpa tahu apa-apa, atau berpikir bahwa seharusnya akulah sang putri.

Melalui latihan sebagai bayangan sang putri, aku tahu betul betapa merepotkan, terkekang, dan berbahayanya posisi seorang putri mahkota.

Aku harus menjalani latihan tempur, yang artinya aku bisa sering pergi ke desa tempat Kakek tinggal—itu salah satu alasan kenapa aku tidak iri.

Kenangan bersama teman-teman yang kutemui di sana sangat berharga bagiku.

Hanya saja, aku merasa sedikit bersalah pada Norb yang ikut menjadi korban bersamaku.

Namun sepertinya Norb merasakan hal yang sama. Sebelum perjalanan ziarah ini dimulai, dia berkata padaku:

"Maafkan saya, pihak Gereja kami sangat tidak berdaya."

Ah, dia benar-benar orang yang serius. Norb begitu baik hati hingga aku merasa kasihan padanya.

Padahal Norb sama sekali tidak bersalah soal Tanah Korosi. Begitu juga dengan Baharun dan yang lainnya.

Meskipun sisa umur mereka tidak lama lagi, tidak ada kewajiban bagi mereka untuk pergi dalam perjalanan yang tidak akan pernah kembali.

Karena itu, setidaknya aku bertekad untuk menjalankan kewajibanku dengan benar.

Aku berpikir bahwa itulah cara untuk melindungi orang-orang terkasih dan tidak menyia-nyiakan perasaan mereka yang rela berkorban bersamaku... tapi...

"Kuilnya... menghilang..."

Berdasarkan informasi yang kuterima sebelumnya, seharusnya ada bukit kecil di area ini dengan kuil di puncaknya.

Namun, sejauh mata memandang, aku tidak melihat apa pun yang menyerupai bukit.

Yang ada hanyalah tumpukan tanah besar seolah-olah ada sesuatu yang baru saja runtuh.

"Apa... yang sebenarnya terjadi?"

Saat tiba di Tanah Korosi, wujud rawa beracun itu sudah tidak berbekas sama sekali.

Terlebih lagi, penduduk desa di sekitar gempar membicarakan tentang sang Dewi yang telah memurnikan Tanah Korosi.

Dan ketika kami datang ke kedalaman Tanah Korosi seolah dibimbing oleh cahaya misterius, kuil penyegelan yang seharusnya ada di sini telah lenyap.

"Putri Megurielna! Lihat ini!"

Saat aku sedang terpana, Baharun yang sepertinya menemukan sesuatu dari balik tanah memanggilku.

"Apa kau menemukan sesuatu?"

Begitu aku menghampiri Baharun, aku melihat bongkahan batu yang sepertinya adalah reruntuhan bangunan terkubur di dalam tanah.

"Kemungkinan besar ini adalah sisa dari Kuil Penyegelan..."

"Kalau begitu, tumpukan tanah yang runtuh ini adalah bukit tempat kuil itu berada?"

"Sepertinya jumlah tanahnya agak kurang untuk disebut sebuah bukit."

"Benar juga."

"Lupakan soal itu, di mana segelnya? Kita harus mencari segelnya."

Yang terpenting saat ini bukanlah menyelidiki keadaan, melainkan menyegel kembali segel tersebut. Kami pun mulai menggali tanah untuk mencari segel itu.

"Aduh, tidak kusangka di usia senja begini aku malah bermain tanah di tempat seperti ini."

"Hahaha, rasanya seperti kembali menjadi anak kecil ya."

"Kalian berdua, seriuslah sedikit."

"Kami tahu kok."

Meskipun terlihat seperti sedang bercanda, Baron Kehormatan Albrea menggunakan sihirnya dengan benar untuk menggali tanah dalam jumlah banyak.

"Putri Megurielna! Ini!"

Mendengar suara Norb, kami semua berkumpul dan menemukan bongkahan batu besar yang terpahat bulat.

"Ada lingkaran sihir yang terukir dalam bahasa kuno, sepertinya ini adalah segelnya."

"Tapi ini..."

Lingkaran sihir penyegel yang ditemukan Norb telah hancur dan terkelupas akibat luka goresan yang besar.

"Tuan Norb, kami tidak terlalu paham soal sihir, tapi apakah ini baik-baik saja?" tanya mantan Count Russell.

Namun Norb menggelengkan kepalanya dengan wajah pahit.

"Tidak, segel ini sudah tidak ada artinya lagi. Tidak ada reaksi energi sihir, segel ini sudah rusak total."

"Jadi segelnya sudah terlepas!?"

"Kemungkinan besar..."

"Putri Megurielna, apa yang akan terjadi jika segelnya terlepas?" tanya Baron Kehormatan Albrea. Sebagai mantan kepala penyihir istana dan ahli sihir, dia tahu tentang keberadaan segel ini, namun detail tentang apa yang ada di dalamnya dirahasiakan sebagai rahasia tertinggi keluarga kerajaan. Aku ingat Ibu pernah bilang bahwa ada instansi khusus yang meneliti segel ini karena sifatnya yang rahasia.

"Menurut cerita Ibu, jika segel terlepas, entitas yang menciptakan Tanah Korosi akan bebas. Dan racun mematikan dari iblis pencipta Tanah Korosi akan menyebar dengan sangat cepat, menutupi tidak hanya negara kita, tapi seluruh dunia."

"Apa!?" Mereka semua berseru kaget mendengar penjelasanku.

"Ta-Tapi, bukankah ini aneh? Jika segelnya hancur, racun mematikan iblis itu tidak terlihat meluap, dan yang terpenting, Tanah Korosi justru menghilang."

Ya, aku pun memikirkan hal yang sama. Masalah Tanah Korosi adalah masalah besar yang telah memusingkan keluarga kerajaan berbagai negara dan Gereja sejak zaman kuno.

Aku tidak percaya masalah itu bisa hilang begitu saja dalam semalam.

"Mungkinkah karena segelnya hancur, sesuatu yang tersegel itu pergi ke suatu tempat?"

"Tidak, seandainya pun begitu, itu tidak menjelaskan kenapa Tanah Korosi menghilang. Aku merasakan adanya campur tangan pihak ketiga di sini," ujar Norb.

Benar kata Norb. Hilangnya Tanah Korosi benar-benar tidak alami.

"Hmm, meskipun alasannya tidak diketahui, bukankah hilangnya Tanah Korosi adalah hal yang patut disyukuri? Terutama karena kalian berdua tidak perlu menjadi korban."

"Eh?"

"Benar sekali. Apa pun alasannya, yang terpenting nyawa anak muda tidak perlu hilang."

"Kalau dipikir-pikir, mungkin ini juga perbuatan sang Dewi Misterius. Tidak hanya memurnikan Tanah Korosi, dia bahkan melenyapkan penyebab yang tersegel. Ini benar-benar kebaikan yang luar biasa."

Dewi Misterius... ya. Tapi, siapakah dia sebenarnya?

Karena saksi mata bilang dia seorang wanita, sepertinya itu bukan Rex.

Aku sempat terpikir Liliera atau Mina, tapi mereka berdua seharusnya tidak bisa menggunakan sihir pemurnian, dan penampilan mereka juga berbeda dari laporan saksi mata.

Saat ini, sosok itu benar-benar misteri. Apa dia benar-benar seorang Dewi?

"Benar. Kita harus berterima kasih pada sang Dewi. Melihat dia memurnikan Tanah Korosi, dia pasti bukan sosok yang jahat."

"Mu-Mungkin begitu, tapi bukankah kalian semua menganggap ini terlalu enteng?" Norb tampak bingung melihat betapa mudahnya mereka semua menerima keadaan.

"Hahaha, Nak Norb, kau terlalu serius. Dalam saat seperti ini, lebih baik berpikir santai saja. Memusingkan hal yang tidak kita ketahui tidak akan memberikan jawaban."

"Itu benar juga."

"Ya, terima kasih pada sang Dewi Misterius!"

"""""Hahaha!"""""

"Haa..."

Norb yang serius sepertinya benar-benar kalah bicara oleh lima orang veteran ini.

Yah, memang benar Tanah Korosi sudah hilang, jadi itu adalah hal yang patut disyukuri, tapi...

"Tapi, misiku jadi menghilang..."

Alasan yang telah mengisi sebagian besar hidupku tiba-tiba lenyap, dan aku jadi tidak tahu harus berbuat apa.

Tentu saja aku senang bisa bertahan hidup padahal sudah datang untuk dikorbankan, tapi tetap saja ada perasaan mengganjal yang tidak bisa kujelaskan.

"Dewi... sebenarnya siapa dia...?"

Setelah itu, di berbagai negara yang sebelumnya terancam oleh perluasan Tanah Korosi, rumor tentang cahaya misterius yang memurnikan Tanah Korosi pun menjadi pembicaraan hangat di seluruh dunia.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close