Chapter 157
Liliera Bertarung
Melawan Majin!
Pertarungan melawan Venom Beet yang kupikir akan menjadi
pertempuran sengit, ternyata berakhir dengan sangat antiklimaks di luar dugaan.
"Tak
kusangka bisa dikalahkan semudah ini..."
Karena
perlawanannya yang hampir tidak ada, aku merasa seperti memukul angin. Namun,
di sana aku terpikir akan sebuah kemungkinan.
"Jangan-jangan,
segel itu sebenarnya dimaksudkan untuk terus mengikis kekuatan Venom Beet mutan
ini!"
Begitu ya!
Walaupun kadar racunnya tinggi, aku sempat heran kenapa mereka harus
repot-repot menyegelnya. Ternyata itu alasannya!
"Artinya
makhluk ini dulu sangat kuat sampai-sampai tidak bisa dilemahkan jika tidak
menggunakan cara seperti itu."
Orang-orang yang
terlibat kala itu pasti sangat khawatir meninggalkan benih kecemasan bagi masa
depan. Tapi berkat itu, kami berhasil mengalahkannya!
"... Entah kenapa ya. 'Bukan, bukan itu alasannya, tahu!' Begitulah rasanya sesuatu di dalam
diriku sedang berteriak," gumam Liliera-san.
Oya? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati Liliera-san?
"Dan
yang lebih penting, aku harus membereskan bangkai Venom Beet ini. Kalau tidak segera ditangani, meskipun
tanahnya sudah dimurnikan, area ini akan terkontaminasi lagi."
"High Area
Purification!"
Setelah
merapalkan sihir pemurnian area luas, aku mendekati Venom Beet sambil
menggunakan sihir angin sebagai pencegahan untuk membuang udara beracun yang
baru keluar.
"Hup!"
Lalu, aku
memasukkan bangkai Venom Beet ke dalam kantong sihir.
"Dengan ini,
sumber polusi tanah sudah disingkirkan."
Sisanya, aku
hanya perlu memurnikan kembali tanah yang sudah tercemar. Dengan begitu,
orang-orang yang tinggal di dekat Tanah Korosi tidak perlu lagi dipusingkan
oleh perluasan rawa beracun.
Tiba-tiba,
terjadi ledakan hebat di udara.
"Sepertinya
di sana juga sudah mendekati klimaks."
◆ Liliera ◆
Selagi aku menghadapi sang Majin, Rex-san berhasil
mengalahkan Venom Beet dengan sangat mudah.
Sejujurnya aku pikir itu akan memakan waktu lebih lama, tapi
dia menyelesaikannya lebih cepat dari perkiraan.
Yah, karena itu Rex-san, kurasa itu hal yang wajar, tapi dia
tampak sedang mengangguk-angguk paham setelah memikirkan alasan kenapa Venom
Beet itu bisa kalah dengan gampang.
Ya, aku merasa
dia pasti salah paham.
"U-Uoooooooohhh!
Beraninya kau melakukan itu pada Venom Beet-kuuuuu!!"
Saat aku sedang
terpana dengan keajaiban Rex-san, sang Majin yang tadi sempat bengong karena
Venom Beet dikalahkan dengan mudah, akhirnya tersadar kembali. Gawat,
seharusnya aku menyerangnya saat dia sedang syok tadi. Aku malah ikut-ikutan
ingin melontarkan komedi situasi (tsukkomi).
"Tak akan
kumaafkan! Tak akan kumaafkan kalian, sampah-sampah!! Kalian tak akan lolos
begitu saja! Akan kubunuh kalian setelah kuseksa dengan penderitaan yang tiada
taranyaaaaa!!"
Sang Majin
mengamuk hebat karena Venom Beet yang merupakan inti dari rencana mereka telah
dibasmi.
Yah, memang benar
sih, monster raksasa yang menyebarkan racun mematikan bahkan bagi seorang Majin
adalah senjata yang bisa menghancurkan dunia.
Tapi bagaimana
cara mereka berencana mengendalikannya?
"Pertama-tama
adalah kauuuu! Akan kupamerkan kepala rekanmu itu pada bocah itu!"
Majin itu
menusukkan tombak yang terbuat dari energi sihir ke arahku. Dia tampak
kehilangan akal sehat karena amarah, tapi gerakan tombaknya tetap stabil. Dia
membidik bahuku.
Biasanya, dasar
serangan dalam situasi seperti ini adalah membidik kaki untuk melambatkan
pergerakan, tapi karena kami berdua bisa terbang, cedera di kaki tidak akan
memengaruhi kemampuan menghindar.
Majin itu paham
akan hal tersebut, makanya dia mengincar lengan yang memegang senjata.
"Tapi aku
tidak berniat membiarkannya kena, tahu!"
Bukan hal mudah
untuk mendaratkan serangan dalam pertarungan udara yang melibatkan pergerakan
kecepatan tinggi.
Meskipun bisa
terbang bebas, rasanya sulit karena tidak ada pijakan tanah untuk menumpu
kekuatan saat menyerang.
Menurut Rex-san,
jika aku membuat pijakan dari energi sihir di bawah telapak kaki sesaat sebelum
menyerang, itu akan mempermudah tumpuan, tapi aku masih belum terbiasa.
Karena itu, gaya
bertarung udaraku pada dasarnya fokus pada menghindar, dan baru menyerang saat
menemukan celah.
Serius, memotong
musuh dengan lincah di udara seperti yang dilakukan Rex-san itu bukan lagi di
level sulit, tapi mustahil!
Aku menghindari
serangan sang Majin setipis mungkin. Pada saat itulah, sang Majin sedikit
menyeringai melihatku berhasil menghindar.
"…!"
Rasa dingin
merayapi punggungku, instingku berteriak agar aku segera menghindar.
Sambil mundur
sekuat tenaga ke arah belakang diagonal, aku mengikuti suara insting yang
bilang itu pun belum cukup dan melentingkan tubuhku ke belakang.
Detik itu
juga, ujung tombak di tangan sang Majin meledak.
Secara
tidak masuk akal, ujung tombak itu memanjang ke arah samping, menembus tempat
di mana kepalaku berada sesaat yang lalu.
"Cih,
meleset ya."
"...
Ngomong-ngomong, tombak itu terbuat dari energi sihir ya. Aku tidak
menyangka kau bisa merubah bentuknya dengan bebas."
"Hmph, apa
manusia bahkan tidak bisa melakukan hal sepele seperti ini?"
Boleh juga
provokasinya.
Tapi ini tetap
menjadi masalah yang merepotkan.
Jika lawan bisa
merubah bentuk tombaknya dengan bebas, pertarungan jarak dekat menjadi sangat
berbahaya.
"Tapi aku
tidak bisa terus-menerus menjadi beban, tahu! Ice Rush!"
Aku melancarkan
bongkahan es yang tercipta dari sihir secara bertubi-tubi untuk menyerang sang
Majin, tapi dia menerjang ke arahku tanpa memedulikannya.
"Fuhahahahaha!
Mainan apa ini!? Apa kau menyebut ini sihir serangan?"
Tapi, aku sudah
tahu hal itu sedari tadi!
"Water
Blast!"
"Uoah!?"
Setelah merebut
pandangan sang Majin dengan rentetan es, aku merubah posisiku dan menghantamkan
gumpalan air besar ke arahnya.
"Sudah
kubilang ini tidak mempan—"
Dan kemudian, aku
melepaskan serangan intinya.
"Blizzard
Breath!"
"Nuuuh!"
Badai salju sihir
yang kulepaskan menerjang sang Majin.
"Hmph!
Dibandingkan main air tadi, ini sedikit lebih baik, tapi tetap saja bagi diriku
yang— Apa!?"
Baru pada titik
ini sang Majin menyadari fenomena yang terjadi pada tubuhnya.
"Tu-Tubuhku
membeku...!? Jangan-jangan serangan tadi adalah untuk ini!?"
"Kau
terlambat menyadarinya!"
Benar, es pertama
dan air berikutnya bukanlah sekadar pengalih perhatian. Itu semua adalah
persiapan untuk meningkatkan efek sihir badai salju ini!
"Aku belajar
bahwa menggabungkan sihir dari elemen yang sama bisa meningkatkan kekuatannya!
Jika kau terkena badai salju setelah baru saja disiram air dan es dalam jumlah
banyak secara berturut-turut, tentu saja kecepatan tubuhmu membeku akan meningkat!"
Dengan ini,
meskipun aku bukan penyihir tulen, aku bisa mengeluarkan kekuatan yang tidak
kalah dari Mina!
... Walaupun
referensi yang ditunjukkan Rex-san sepertinya hanya bisa dilakukan oleh Rex-san
sendiri, jadi ini adalah versi reproduksi yang bisa kulakukan dengan caraku
sendiri.
Makanya, ini hanya bisa berhasil dengan sihir elemen es yang
merupakan bakatku.
"O-Onoreeee!!"
Sang Majin
meronta-ronta berusaha lepas dari es, tapi tubuhnya semakin membeku dan dia
kehilangan kemampuan bergerak.
"Eeei!
Menyebalkan sekali!"
Sang Majin
mengeluarkan api dari kedua tangannya dan mulai mencairkan es.
"Fuhahahahaha!
Pada akhirnya sihir manusia hanya di level ini!"
"Ya, level ini sudah lebih dari cukup."
"Apa!?"
Cukup untuk memberiku celah untuk merangsek ke dalam
jangkauanku!
Selagi sang Majin meronta-ronta mencairkan es, aku sudah
berada tepat di depannya.
"Selama kau
mengeluarkan api itu, kau tidak bisa menggunakan tombak itu, kan?"
"Si-Sial!?"
Benar, tombak
merah kehitaman itu adalah tombak yang terbuat dari sihir.
Jika begitu, dia
tidak bisa menggunakannya selagi menggunakan sihir lain.
"Rasakan
ini!"
Tombak yang
dilapisi es melalui penguatan elemen menembus dada sang Majin.
"Guha!?"
Lalu, energi
sihir es yang meresap ke dalam tubuh membekukan sang Majin dari dalam.
"Hup!"
Dengan kekuatan
otot yang ditingkatkan melalui penguatan fisik, aku mengayunkan tombakku ke
samping.
Tombak itu
terlepas sambil menghancurkan tubuh sang Majin yang membeku. Dan begitu saja,
tubuh sang Majin jatuh terhempas ke daratan.
"Fuu,
sepertinya entah bagaimana aku berhasil."
Aku turun ke
daratan untuk memberikan serangan terakhir pada sang Majin.
"Kerja
bagus, Liliera-san!"
Saat mendarat,
Rex-san menyambutku.
"Terima
kasih, Rex-san. Tapi
aku belum memberikan serangan terakhir."
Akan
sia-sia jika aku lengah di sini dan terkena serangan balik dari sang Majin.
Karena
aku sudah menyatakan dialah lawan yang kuhadapi, aku harus menyelesaikannya
dengan benar sampai akhir.
"U-Uuu..."
Namun,
sang Majin tidak menunjukkan tanda-tanda akan membalas serangan. Dia hanya
tergeletak di tanah sambil mengerang.
Mengingat
dia jatuh dalam kondisi tidak bisa terbang dengan benar, kerusakannya
sepertinya nyata.
"Setidaknya
aku akan memberimu serangan terakhir agar kau tidak menderita lebih lama."
Aku juga
tidak punya hobi menyiksa lawan.
"Ku...
kukuku..."
Namun, entah
kenapa sang Majin malah tertawa. Meski menderita kesakitan, sang Majin
benar-benar tertawa.
"Kau pasti
merasa sangat senang karena telah mengalahkanku... Tapi, jangan pikir ini semua
sudah berakhir!"
Mengulur waktu?
Bukan, suasananya tidak terasa seperti itu. Rasanya ada sesuatu yang mengerikan.
"Memang
aku telah kalah darimu... Da-Dan Venom Beet juga telah dibasmi oleh bocah di
sana... Aku tidak mau mengakuinya, tapi aku terpaksa mengakuinya."
Anehnya, sang
Majin tampak menerima kekalahannya dari kami dengan jujur.
"Tapi, ini
bukan akhirnya! Ya, bencana Venom Beet yang sesungguhnya baru akan dimulai
sekarang!"
"A-Apa
maksudmu!?"
"Telur."
"Telur...?"
"Benar,
sebelum disegel di tanah ini, Venom Beet telah mengeluarkan telur dalam jumlah
banyak di Tanah Korosi! Dan telur-telur itu telah tumbuh besar dengan menyerap
nutrisi dari sekian banyak nyawa yang mati di rawa beracun yang luas ini,
menunggu saat untuk dilahirkan!"
"A-Apa
katamu!?"
Telur Venom Beet
dalam jumlah tak terbatas!? Jika itu menetas, situasinya akan menjadi sangat
gawat!
"Telur yang
telah menyimpan nutrisi cukup akan segera terbangun merespons kebangkitan sang
induk! Saksikanlah momen saat serangga beracun tak terhitung jumlahnya yang
akan menghancurkan dunia dilepaskan!"
"Ba-Bagaimana ini Rex-san!?"
"Tenanglah,
Liliera-san. Aku akan mencari reaksi anak-anak Venom Beet yang menetas
menggunakan sihir deteksi!"
"Ta-Tapi,
Tanah Korosi ini sangat luas! Jika dia mengeluarkan telur di sini, kita tidak
tahu seberapa luas area penyebarannya!?"
"Tepat
sekali! Dan sekuat apa pun kalian bisa membasmi Venom Beet, tidak mungkin
kalian bisa membasmi seluruh larva Venom Beet yang menetas di Tanah Korosi yang
luas ini! Selagi kalian bertarung, larva-larva yang melarikan diri akan
menciptakan Tanah Korosi yang baru!"
Gawat! Ini
terlalu gawat! Tak disangka di detik-detik terakhir malah jadi kacau begini! Jika
dibiarkan, kota dan desa di sekitar sini akan menjadi korban Venom Beet!
"... Eh?"
Namun, entah kenapa suara yang dikeluarkan Rex-san bukan
suara panik, melainkan lebih ke arah bingung.
"Ada apa, Rex-san?"
"Anu, itu, tadi aku mencoba memindai radius 100
kilometer dengan sihir deteksi, tapi tidak ada reaksi monster yang memiliki
kekuatan besar."
"Eh? Apa maksudnya?"
"Hmm, ada reaksi yang mirip dengan Giant Poison
Centipede yang kita lawan sebelumnya, tapi tidak ada reaksi yang sepertinya
adalah larva Venom Beet."
"Kalau begitu, apa telurnya diletakkan di tempat yang
lebih jauh lagi?"
Jika begitu, kita
tidak akan tahu di mana telurnya berada!
"Tidak,
kurasa bukan begitu."
"Eh?
Kenapa?"
"Karena
Venom Beet meletakkan telurnya sudah sangat lama sekali, kurasa saat itu Tanah
Korosi masih jauh lebih sempit. Faktanya, ada cerita bahwa para pendeta Gereja
terus menekan penyebaran Tanah Korosi ini."
"Ah."
Kalau
dipikir-pikir, benar juga. Seperti yang dikatakan Rex-san, lebih masuk akal
jika berpikir bahwa Tanah Korosi saat penyegelan dulu jauh lebih sempit.
"Tapi kalau
begitu, di mana larva-larva Venom Beet itu?"
"Karena ini
spesies mutan, mungkin mereka bersembunyi di dalam tanah. Mari coba kita gali
tanahnya dengan sihir untuk memeriksanya."
"Menggali
tanah?"
Bagaimana
caranya? Belum sempat aku bertanya, Rex-san sudah mengaktifkan sihirnya.
"High Area
Earthquake!!"
Detik berikutnya,
tanah mulai berguncang dengan kekuatan yang dahsyat.
"Kyaa!?"
"Uwoooooh!?"
Aku terburu-buru
terbang ke udara dengan sihir terbang, lalu aku melihat pemandangan daratan
yang bergejolak layaknya makhluk hidup.
"Ini semua
dilakukan dengan sihir Rex-san!?"
"Ah, ada
sesuatu."
"Eh?"
"Lihat, di
sebelah sana."
Melihat ke arah
yang ditunjuk Rex-san, di tempat yang agak jauh dari posisi kami, muncul
benda-benda bulat putih dalam jumlah banyak.
"Ayo kita
lihat."
Rex-san
menghentikan sihirnya, lalu sambil mencengkeram sang Majin yang sekarat, dia
turun menuju gumpalan bulat yang muncul di daratan.
"Ooh,
ukurannya lumayan besar ya."
"Benar,
ukurannya hampir sama dengan kita."
"Sepertinya
ini adalah telur Venom Beet."
Seperti yang
dikatakan Rex-san, yang muncul di daratan adalah telur-telur besar.
Saat aku mencoba
menusuknya dengan tombak dengan ragu-ragu, teksturnya cukup lunak hingga ujung
tombak perlahan menusuk masuk.
Sepertinya ini
bukan telur seperti burung atau reptil, melainkan telur lunak seperti telur
serangga atau ikan.
"Tapi
bukankah telurnya akan segera menetas? Apa mereka baru akan lahir? Ah, kalau
begitu lebih baik segera kita hancurkan!"
"Tidak,
sepertinya tidak perlu. Telur-telur ini sudah mati."
"Eh?"
Saat aku terburu-buru ingin menghancurkannya, Rex-san
menahanku dengan perkataan itu.
"Apa
maksudnya sudah mati?"
"Sihir
deteksiku tidak merasakan hawa kehidupan sama sekali dari telur-telur
ini."
"Benarkah?"
"Iya, jika
perkataan Majin itu benar, di dalam telur ini seharusnya ada larva Venom Beet
yang siap lahir. Tapi sihirku tidak mendeteksi hawa kehidupan maupun energi
sihir dari larva tersebut."
"Jadi karena
itulah kau bilang mereka mati?"
"Benar,"
Rex-san menegaskan dengan yakin.
"Mustahil!
Tidak mungkin mereka mati! Di Tanah Korosi ini tenggelam banyak mayat, dan
nutrisi yang mengalir dari sana seharusnya telah membesarkan telur-telur ini!
Tanpa ada musuh alami, tidak mungkin mereka mati!"
Sang
Majin yang sekarat berteriak menyangkal, bersikeras bahwa itu mustahil.
"Kalau
begitu mari kita pastikan."
Segera setelah
mengatakannya, Rex-san menyabetkan senjatanya pada telur Venom Beet. Dalam
sekejap, cangkang telur terbelah menjadi dua dan memperlihatkan isinya.
"Ah, ternyata benar-benar sudah mati."
Dilihat dari dalam telur, ada seekor Venom Beet
kecil—walaupun bagi kami ukurannya sudah lebih dari cukup besar. Namun, sama
seperti induknya, ia dalam posisi meringkuk.
"Benar-benar sudah mati ya."
Aku tidak tahu alasannya, tapi sepertinya larva-larva Venom
Beet ini memang sudah mati sejak lama.
"Tapi kenapa
mereka mati? Jika perkataan Majin itu benar, seharusnya mereka tidak mudah
mati, kan? Apa mereka diserang pemangsa?"
"Mustahil!
Telur Venom Beet tenggelam di dasar Tanah Korosi! Tak akan ada makhluk bernyawa
yang cukup gila untuk mengincar telur yang dilindungi oleh racun!"
Yah, sepertinya
ada orang yang mengincar induknya dan mengalahkannya dengan mudah sih.
"Ah...
mungkinkah karena aku merapalkan sihir pemurnian area luas, nutrisi yang sudah
teracuni itu ikut termurnikan."
"Eh? Apa
itu?"
"A-Apa
maksudnya!?"
"Eeto, ini
kemungkinan saja, tapi kurasa telur Venom Beet menyerap nutrisi dari air yang
terkandung dalam lumpur beracun di Tanah Korosi. Karena dilindungi oleh racun,
telur ini tidak perlu membuat cangkangnya menjadi keras. Sebagai gantinya,
mereka memiliki sistem untuk menyerap nutrisi secara efisien dari air di lumpur
tersebut."
Namun, Rex-san
melanjutkan dengan nada yang agak sungkan.
"Tapi karena
lumpur di sekitarnya dimurnikan oleh sihir pemurnian dan kembali menjadi tanah
biasa, lumpur beracun yang mengandung nutrisi itu menghilang dan mereka tidak
bisa lagi menyerap nutrisi. Makhluk hidup biasa biasanya menyimpan nutrisi yang
diperlukan di dalam telur atau cangkangnya sendiri yang menjadi makanan, tapi
bagi makhluk sebesar Venom Beet, sepertinya itu saja tidak cukup."
Rex-san
menjelaskan bahwa untuk menjaga tubuh yang sudah cukup besar sejak lahir,
sepertinya mereka memiliki ekologi yang membutuhkan nutrisi terus-menerus.
"Eeto,
singkatnya, karena tanahnya dimurnikan, mereka jadi tidak bisa mendapat nutrisi
dan telur-telur ini mati kelaparan?"
"Jadinya
begitu."
"Ma-Mati
kelaparaaaaaannn!!??"
Tak
menyangka bahwa telur-telur Venom Beet ternyata kering kerontang karena kurang
gizi, sang Majin berteriak histeris.
"Ja-Jangan
bercanda! Mana mungkin telur Venom Beet mati karena alasan konyol seperti
itu... kukh."
Namun, di sana
sepertinya kekuatannya sudah habis, sang Majin akhirnya jatuh pingsan.
... Bagaimana ya bilangnya, dia benar-benar bertemu lawan yang salah.



Post a Comment