NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 3

Chapter 140

Penaklukan Iblis Racun dan Kenaikan Peringkat


"Hyaaah!"

Menerima tebasanku, seekor monster laba-laba berwarna merah pekat seperti darah terbelah menjadi dua.

Monster ini adalah Inferno Spider. Meski racunnya tergolong lemah, dia termasuk monster merepotkan yang bisa mengancam nyawa jika tidak segera diobati dengan benar.

Yah, karena sebagian besar tubuhnya tidak bisa dijadikan bahan baku, dia adalah tipe monster yang bisa dikalahkan tanpa perlu merasa sungkan.

Lagipula, jika diolah, cairan racunnya bisa menjadi bahan untuk obat penurun panas. Jadi, bagi kami para pemburu, monster ini cukup menguntungkan karena kami hanya perlu mengambil racunnya saja setelah dikalahkan tanpa harus memikirkan bagian tubuh lainnya.

"Tapi tetap saja, banyak sekali ya monster yang memiliki racun."

Sesampainya di hutan dekat ibu kota, kami berfokus membasmi monster-monster beracun yang biasanya tidak ada di sini. Hal ini dikarenakan pihak Guild Petualang meminta kami untuk memprioritaskan pembasmian monster yang memiliki racun.

"Benar. Jarang sekali monster dengan racun berbahaya sebanyak ini muncul di dekat ibu kota," ucap LiLiliera-san sambil menghela napas, sembari menusuk monster-monster yang menyerang dengan tombaknya.

"Berkat Antidote Low Universal yang disiapkan Rex-san, kita tidak perlu khawatir akan situasi terburuk. Tapi tetap saja, kita tidak tahu di mana monster beracun itu bersembunyi, jadi ini cukup menguras saraf."

Memang benar, racun itu menakutkan. Di kehidupanku yang sebelumnya, jangankan lengah, mati seketika karena racun ganas yang tersebar di udara hanya dengan sedikit mendekat saja sudah menjadi hal yang biasa.

"Hah-hah-haaa! Rasakan ini, dasar monster! Kalau kalian tidak takut dengan apiku—aduh, sakit!"

Ah, Jairo-kun yang tadi sedang bertarung dengan riang, digigit oleh monster yang muncul dari semak-semak.

"Sakiiiit, panaaaasss!!"

Sepertinya yang menggigitnya adalah monster beracun. Jairo-kun berguling-guling kesakitan.

"Sudah kubilang jangan lengah, bodoh! Meguri, tolong lindungi kami!"

Mina-san segera meminumkan Antidote Low Universal kepada Jairo-kun. Dan untuk menutupi celah itu, seharusnya Meguri-san... eh?

Entah kenapa Meguri-san tetap menghadapi monster di depannya dan tidak mencoba memberikan dukungan kepada Mina-san.

"Meguri-san!"

Aku memanggil Meguri-san sambil menahan monster yang hendak menyerang Mina-san dan yang lainnya dengan sihir.

"Ah, maaf."

Begitu aku memanggilnya, Meguri-san bergegas membantu Mina-san. Hmm, jarang sekali Meguri-san menjadi seperti itu. Apa dia sedang tidak enak badan?

"Hah!"

Bilah angin tak kasat mata melesat dari pisau pendek yang diayunkan Meguri-san, memotong monster-monster yang mendekat. Agar tidak terkena racun, Meguri-san bertarung dengan menjaga jarak menengah menggunakan penguatan atribut dengan mahir.

Hmm, tapi dia bertarung dengan menjaga jarak dan kewaspadaan yang baik. Apa tadi itu hanya kebetulan saja?

"Yoossh, bangkit kembali! Berkat Kakak, aku tidak takut lagi dengan racun! Beraninya kau melakukan itu padaku, keparat!"

Setelah khasiat Antidote Low Universal bekerja, Jairo-kun segera kembali bertarung.

"Aduh, sakit!"

Ah, kali ini dia digigit monster beracun yang lain.

"Dasar bodoh! Biar murah, obat itu tetap pakai uang, tahu!"

"Sialan! Kalau ada Norubu, pasti lebih mudah dengan sihir penawar racun!"

"Mau bagaimana lagi, Norubu dipanggil ke Gereja dan tidak ada sejak pagi."

Sambil membicarakan Norubu-san yang hari ini tidak ada, Mina-san meminumkan Antidote Low Universal lagi kepada Jairo-kun.

"Fiuh, sepertinya monster beracun di sekitar sini sudah habis kita kalahkan."

Setelah serangan monster mereda, kami beristirahat sejenak.

"Berkat itu, kita mengumpulkan banyak bahan baku. Kalau tidak ada Magic Bag milik Rex-san, kita pasti sudah berhenti dari tadi."

"Benar juga. Tapi kalau sudah mengalahkan sebanyak ini, kurasa Guild Petualang akan puas."

Ya, kami membasmi monster beracun ini di luar permintaan awal yang kami terima.

Karena sebagai permintaan prioritas dari Guild, kami diminta untuk membasmi monster-monster yang datang dari Tanah Pembusukan.

Itu terjadi pagi tadi, saat kami sedang melihat papan permintaan di Guild Petualang untuk mencari pekerjaan.

"Permintaan prioritas?"

Kepada kami yang sedang memilih permintaan, resepsionis Guild meminta kami untuk membasmi monster.

"Iya. Ini adalah permintaan khusus yang muncul berdasarkan pemberitahuan dari Guild. Tidak sedarurat permintaan darurat, tapi jika tidak ada urusan mendesak, petualang diharapkan memprioritaskan permintaan ini."

Heh, ada permintaan seperti itu juga ya.

"Isinya adalah pembasmian monster beracun yang keluar dari Tanah Pembusukan."

"Tanah Pembusukan?!"

Mendengar kata-kata resepsionis, Meguri-san berseru, hal yang jarang dia lakukan.

"Ada apa, Meguri-san?"

"Ah, tidak... aku hanya terkejut karena nama tempat yang cukup berbahaya disebutkan... ya."

Tempat berbahaya, ya. Memang, mendengar namanya saja, Tanah Pembusukan terdengar seperti tempat yang sangat berbahaya.

"Anu, jadi, wilayah permintaannya adalah lahan di sekitar Tanah Pembusukan serta wilayah di mana terdeteksi adanya monster beracun yang biasanya tidak terlihat di waktu normal. Jangkauan waktunya adalah sampai monster beracun tersebut tidak terlihat lagi."

Bisa dibilang, ini permintaan yang sangat umum dan kasar.

"Meski dibilang prioritas, apa itu berarti selama periode ini kami tidak boleh menerima permintaan lain?"

"Tidak, karena isinya adalah pembasmian monster, tidak masalah jika kalian menerima permintaan lain sambil mengalahkan monster beracun yang kalian temukan. Pihak Guild hanya ingin jumlah mereka dikurangi sebanyak mungkin. Namun, jika kalian menemukannya tapi tidak dalam kondisi bisa bertarung, tolong laporkan lokasinya ke Guild sesegera mungkin."

Begitu ya, anggap saja ini sebagai Permintaan Biasa + Pembasmian.

"Saya mengerti. Ngomong-ngomong, apa itu Tanah Pembusukan?"

Saat aku bertanya pada resepsionis, dia memiringkan kepalanya dengan heran.

"Eh? Rex-san tidak tahu tentang Tanah Pembusukan?"

"Saya ingat pernah mendengar namanya, tapi tidak tahu detailnya."

"Begitu ya. Kalau begitu, izinkan saya menjelaskannya."

Begitu aku bilang tidak tahu, resepsionis itu menegakkan posisinya dan mulai bercerita tentang Tanah Pembusukan.

"Tanah Pembusukan adalah wilayah rawa beracun yang muncul sekitar seribu tahun yang lalu."

"Rawa beracun?"

"Benar. Rawa itu sedikit demi sedikit mencemari tanah di sekitarnya, memperluas wilayah yang terjangkit racun."

Mencemari sekitar dan meluas...

"Mirip seperti Hutan Binatang Buas ya."

Ya, Hutan Binatang Buas yang terdiri dari monster pepohonan juga sedikit demi sedikit mengikis tanah di sekitarnya, hingga menelan desa asal LiLiliera-san.

"Tepat sekali! Tanah Pembusukan juga merupakan Danger Zone yang sama seperti Hutan Binatang Buas!"

"Danger Zone?!"

Mendengar nama itu, aku teringat kapan aku pernah mendengar nama Tanah Pembusukan. Benar, itu saat aku naik ke peringkat B di kota Togai, aku mendengarnya dari Ketua Guild.

Danger Zone, tempat yang sangat berbahaya di mana hanya petualang dengan peringkat tertentu ke atas yang diizinkan masuk. Tanah Pembusukan adalah salah satu dari tempat berbahaya itu.

"Ada teori yang mengatakan bahwa Tanah Pembusukan diciptakan oleh iblis. Di sana, kira-kira setiap seratus tahun sekali, terjadi ledakan populasi monster beracun yang hidup di dalamnya. Kemudian, monster-monster yang terusir dari Tanah Pembusukan akan menetap di lahan sekitarnya."

Resepsionis itu merentangkan kedua tangannya, menggambarkan bagaimana monster yang terusir dari rawa mulai menyebar.

"Itu sebabnya akhir-akhir ini banyak permintaan pembasmian monster beracun ya."

Mendengar penjelasan resepsionis, LiLiliera-san menyahut dengan nada paham.

"Benar. Terlebih lagi, kali ini baru sekitar 50 tahun sejak luapan monster terakhir, jadi Guild juga merasa kewalahan karena ini di luar dugaan. Biasanya, kami mengumpulkan bahan ramuan penawar racun sesuai musim kawin mereka untuk menyiapkan stok yang cukup. Tapi kali ini tanda-tanda musim kawin muncul lebih cepat dari perkiraan, jadi persiapannya terlambat."

Lalu, resepsionis itu menunjukkan senyum manis.

"Namun, masalah itu bisa teratasi berkat Antidote Low Universal milik Rex-san! Untuk beberapa monster dengan racun yang sangat kuat, kami sedang mengumpulkan bahan-bahannya dengan segera. Tapi untuk monster beracun lainnya, berkat penawar racun ini, stok bisa segera tersedia dan itu sangat membantu! Lagipula, obat itu terbukti efektif bahkan terhadap racun Inferno Spider yang berperingkat B!"

"Inferno Spider?!"

Mendengar nama itu, Mina-san berseru terkejut.

"Kau tahu itu, Mina?"

Jairo-kun bertanya sambil memiringkan kepala karena tidak mengerti, sementara Mina-san mengangguk dengan wajah pucat.

"Itu monster dengan racun yang sangat jahat dan menjijikkan. Ukurannya sebesar anjing, jadi terlepas dari racunnya pun, dia sudah menjadi ancaman biasa."

"Benar. Kekuatan murni Inferno Spider setara dengan peringkat D, namun karena tingkat bahaya racunnya yang tinggi, dia ditetapkan sebagai peringkat B," tambah resepsionis melengkapi penjelasan Mina-san.

"Apa-apaan, kalau cuma peringkat D sih bukan masalah besar. Apalagi ada obatnya, pasti gampang kan."

"Dengar ya, bahan dari Inferno Spider itu tidak bisa jadi uang. Kekuatan setara peringkat D berarti cangkang dan taringnya pun hanya selevel itu. Padahal dia punya racun yang mengangkat tingkat bahayanya ke peringkat B. Satu-satunya yang berharga adalah cairan racunnya, tapi biaya penawar racun yang harus disiapkan untuk bertarung itu lebih mahal. Makanya Inferno Spider... atau lebih tepatnya, bertarung dengan sebagian besar monster beracun itu dibenci karena biaya pengeluarannya lebih tinggi daripada hasilnya."

Memang benar, di kehidupanku yang sebelumnya pun, kecuali dalam situasi di mana kota diserang dan monster itu harus dikalahkan, monster dengan racun kuat biasanya dibiarkan saja, atau disapu bersih beserta tanahnya dari jarak jauh.

"Oleh karena itu, meski bahaya pembasmian sudah jauh berkurang, ancaman monster yang keluar dari rawa menyerang warga sipil tetap tidak berubah. Jadi, kami ingin kalian memprioritaskan pembasmian monster beracun sampai musim kawin di Tanah Pembusukan mereda dan monster yang keluar habis diburu. Sebagai gantinya, selama permintaan prioritas ini berlangsung, Guild akan menaikkan harga beli bahan baku monster beracun dan memberikan diskon untuk berbagai macam penawar racun. Selain itu, semakin banyak monster beracun yang dikalahkan, kontribusi terhadap Guild akan dianggap tinggi dan menjadi bahan evaluasi dalam pemeriksaan kenaikan peringkat."

"Ooh! Jadi kalau mengalahkan monster beracun, peringkat bisa naik!"

"Bukan kepastian, tapi akan menguntungkan dalam pemeriksaan. Meski begitu, tidak diragukan lagi ini akan membuatmu lebih dekat dengan kenaikan peringkat dibanding mereka yang tidak berpartisipasi."

"Eh? Ngomong-ngomong, bagaimana dengan promosi peringkat S LiLiliera-san? Kalau tidak salah, sudah ada janji rekomendasi ke peringkat S dari Ketua Guild di kota Tatsutron."

"Iya, mengenai hal itu, kami sudah menerima kontak dari pihak sana. Itu sudah dihitung sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk pemeriksaan kenaikan peringkat S LiLiliera-san."

Saat aku teringat kejadian di kota Tatsutron dan bertanya, resepsionis menjawab seperti itu.

"Apa dia tidak bisa langsung jadi peringkat S?"

"Anu, begini, kenaikan ke peringkat atas bagi petualang itu berbeda dengan peringkat bawah; diperlukan beberapa tahap pemeriksaan. Tidak cukup hanya dengan menjadi kuat saja."

"Eh? Tapi saya langsung jadi peringkat S, kan?"

"Begini ya, kenaikan ke peringkat atas itu, selain kekuatan murni yang sudah jelas, kami juga harus mempertimbangkan kerja sama, kepribadian, serta kontribusi terhadap Guild dan negara. Terutama soal kepribadian, itu adalah hal yang tidak bisa diketahui tanpa pemantauan seksama dalam waktu lama."

Iya, aku mengerti apa yang ingin dikatakannya. Tapi kalau begitu, dalam kasusku bukankah waktu pemeriksaannya tetap saja kurang...?

"Hanya saja untuk kasus Rex-san, prestasi terhadap negara dan Guild sudah terlalu banyak..."

"Eh? Perasaan saya tidak melakukan hal yang sehebat itu?"

Benaran, aku merasa tidak melakukan hal yang istimewa?

"Dengan rekam jejak membasmi monster kuat termasuk Naga, soal kekuatan tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Ditambah pembangunan jalan raya yang menembus Hutan Binatang Buas, serta pemasangan penghalang yang memungkinkan istirahat di dalam jalan raya tersebut. Terlebih lagi dengan penjualan ramuan pengusir monster, banyak orang kini bisa melakukan perjalanan dengan aman. Manfaat yang didapat masyarakat dari prestasi-prestasi tersebut tidak terukur. Selain itu, prestasi di luar tindakan pertempuran tersebut menjadi jaminan atas kepribadian Rex-san. Sejujurnya, saking banyaknya, sampai-sampai di rapat kenaikan peringkat ada yang bilang, 'Setelah melakukan sejauh ini, apa lagi yang mau diperiksa?'"

Kenapa pemeriksanya jadi putus asa begitu... Padahal menurutku masih banyak hal lain yang bisa diselidiki.

"Yah, karena alasan itulah, LiLiliera-san tidak bisa langsung naik peringkat begitu saja."

Begitu ya. Sayang sekali.

"Tapi, jika dibandingkan dengan petualang peringkat A lainnya, tidak diragukan lagi dia sudah sangat dekat dengan peringkat S. Mengingat masa aktif LiLiliera-san sebagai petualang, ini adalah kecepatan yang sangat luar biasa."

"Bukannya itu bagus, Kak! Kalau kita ambil permintaan ini dan membasmi monster sebanyak-banyaknya, peringkatmu akan naik dalam sekejap!" ucap Jairo-kun yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kami.

"Kalau orang-orang hebat itu butuh waktu untuk menyelidiki, ya biarkan saja. Apalagi kali ini harga beli bahan baku juga naik. Selain peringkat cepat naik, dapat banyak uang juga, kan untung!"

Ooh, benar-benar Jairo-kun. Cara berpikirnya sangat positif.

"Jadi! Ayo segera beli penawar racun universal itu dan buru monster beracun sebanyak-banyaknya!"

Jairo-kun sangat bersemangat karena ingin segera naik peringkat.

"Ternyata pendatang baru semangat sekali ya. Aku juga tidak boleh kalah."

Sepertinya terpacu oleh Jairo-kun, LiLiliera-san juga ikut bersemangat.

"Mau bagaimana lagi ya. Tapi benar juga, kalau bisa mempercepat kenaikan peringkat, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya."

Tidak mau kalah dari keduanya, Mina-san pun menunjukkan semangatnya.

"..."

Namun di tengah semua itu, hanya Meguri-san yang tampak melamun.

Meguri

"Heh-heh! Hari ini hasil buruannya banyak!"

Setelah kembali dari pembasmian monster, kami memasuki Guild Petualang. Di dalam Guild sudah banyak petualang lain, dan sepertinya penjualan bahan baku akan memakan waktu lama.

"Nah, kira-kira hari ini bakal jadi berapa ya!"

Tapi Jairo yang punya harapan besar untuk naik peringkat, tampak tidak peduli dengan panjangnya antrean dan mengantre dengan riang.

"Hei, bolehkah aku pulang duluan?"

"Hm? Ada apa, Meguri? Mau ke toilet?"

"Dasar bodoh!"

"Aduh!"

Mina memukul Jairo dengan keras karena mengatakan hal bodoh. Pemandangan yang biasa terjadi ini sedikit menenangkan hatiku.

"Meguri, apa kau merasa kurang sehat? Hari ini kau tampak melamun terus."

Hm, ternyata Mina menyadarinya ya.

"Hm, tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah."

"Begitu? Yah, lagipula penjualannya bakal lama, kau boleh pulang duluan."

"Terima kasih."

Setelah berpisah dengan Mina yang tampak khawatir, aku meninggalkan Guild Petualang.

"...Ternyata benar."

Saat aku tiba lebih dulu di kediaman Rex, sebuah kereta kuda berhenti di depan gerbang. Dan di samping kereta itu, terlihat sosok pria berambut putih yang tertata rapi.

Sekilas pakaiannya tampak biasa, namun bahan kain yang digunakan jelas berkualitas tinggi, secara tersirat menunjukkan bahwa orang tersebut berasal dari keluarga kaya. Atau lebih tepatnya, aku tahu siapa orang itu.

"Lama tidak berjumpa."

Orang yang menyadari kehadiranku itu menyapa.

"Bahalun..."

Aku menyebut namanya. Nama orang yang dulu mengantarku sampai ke kota Togai.

"Kedatanganmu berarti... benar-benar..."

Bahalun mengangguk dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Iya, saatnya... untuk menjalankan tugas Anda telah tiba."

"Hm, aku mengerti."

Aku menerima semuanya, lalu menyambut tangannya.

"Kalau begitu, mari kita pergi... Putri Megurielna."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close