Chapter 141
Cari Meguri yang Menghilang!
"Lho?
Meguri-san belum pulang, ya?"
Saat aku sampai
di rumah, keadaan di dalam gelap gulita, dan sosok Meguri-san tidak ada di
sana. Padahal dia bilang akan pulang duluan karena merasa kurang enak badan.
"Jangan-jangan
dia pingsan di suatu tempat..."
Tepat ketika Liliera-san
berucap dengan nada cemas, Jairo dan yang lainnya kembali dari kamar belakang.
"Di kamarnya
juga tidak ada."
"Ini gawat,
kita harus segera mencari Meguri-san!"
"Ba-baiklah,
aku akan mencari di jalan besar, jadi Mina, tolong periksa toko-toko yang biasa
Meguri datangi!"
"Aku
mengerti."
"Kalau
begitu, aku akan menyusuri jalan yang biasa kita lewati menuju Guild. Hari ini
kami pulang lewat jalan lain untuk membeli makan malam, jadi mungkin saja kami
berpapasan."
"...Aku
sudah tahu di mana Meguri-san berada."
"Begitu ya,
kalau begitu Rex-san akan—"
"""Tunggu,
APAAA—!?"""
"Ba-bagaimana
kamu bisa tahu!?"
Semuanya
berseru kaget karena aku bisa langsung mendeteksi keberadaan Meguri-san.
"Aku
memeriksa gelombang mana dari perlengkapan yang dikenakan Meguri-san."
"Ge-gelombang
mana? Memangnya hal seperti
itu bisa dilakukan!?"
"Iya,
meskipun dia menyembunyikannya agar tidak terdeteksi musuh, aku sudah
mengaturnya agar memancarkan gelombang yang tersamar di antara mana tipis di
udara, yang hanya bisa kukenali sendiri."
"A-aku tidak tahu soal itu..."
"Magic Item
ternyata bisa melakukan hal seperti itu juga, ya..."
Jairo dan Mina
membelalakkan mata karena terkejut. Padahal bagi seorang teknisi Magic Item,
hal ini termasuk pengetahuan umum.
Ah, tapi mungkin
orang-orang selain penyihir yang ahli dalam deteksi memang tidak terlalu
mempedulikannya, ya? Di militer pun, bagian deteksi biasanya ditangani oleh
ahli sihir pelacak khusus.
"Memasang
fungsi pelacakan itu sendiri sebenarnya mudah. Yang agak sulit adalah mekanisme
penyamarannya agar gelombang itu tidak diketahui oleh musuh."
Ya, ini adalah
fungsi yang kubuat di kehidupanku yang sebelumnya lagi atas permintaan militer,
karena mereka ingin fungsi pelacakan untuk mencari rekan yang terpisah.
Yah, kenyataannya
fungsi ini justru lebih berguna untuk menangkap desertir atau pengkhianat,
sih...
"Menurutku
kata 'mudah' itu pasti sama sekali tidak mudah, dan lagipula, siapa yang
terpikir bakal ada fungsi seperti itu!?"
"Mungkin
mata-mata musuh?"
"Sebenarnya
Rex ini sedang bertarung melawan siapa sih..."
Mendengar
jawabanku, entah kenapa Mina langsung terkulai lemas sambil menjatuhkan
bahunya.
"Heheh, bisa
menemukannya semudah ini, memang hebat Kakak!"
"Kamu itu
terlalu cepat beradaptasi!"
"Kyu-kyuu!"
Lho? Mofumofu
juga mau ikut mencari Meguri-san.
"Begitu ya,
kamu juga mengkhawatirkan Meguri-san, ya."
"Kyu-guuu—"
Mendengar
suaranya yang seperti itu, sepertinya dia memang sangat khawatir. Ternyata
mereka berdua sudah jadi sangat akrab di tempat yang tidak kuketahui, ya.
"Guu—"
"Baiklah,
kalau begitu ayo kita jemput Meguri-san!"
"""Ooh—!"""
"Guu!"
◆
"Reaksi
Meguri-san ada di balik ini."
Setelah
mengikuti arah reaksi Meguri-san, langkah kami terhenti oleh sebuah tembok
besar.
"Bukankah
ini... kawasan bangsawan?"
Benar, di
depan sana adalah kawasan tempat tinggal para bangsawan, tempat yang tidak
boleh dimasuki oleh kami rakyat jelata tanpa izin.
Terlebih
lagi sekarang sudah malam, jadi akan semakin sulit bagi kami untuk masuk.
Kalau
kami memaksa masuk, kami akan langsung terdeteksi oleh sihir pelacak dan akan
dikepung oleh pasukan penjaga yang datang bergerombol.
"Meguri,
kenapa dia ada di tempat seperti ini...?"
"..."
Saat Liliera-san
memiringkan kepalanya dengan heran, wajah Jairo dan Mina tampak merasa tidak
enak.
"Kalian
berdua tahu sesuatu?"
"Ah, tidak,
bukan apa-apa, Kakak. Tapi kalau begini keadaannya..."
"Benar juga,
tembok ini menghalangi jalan kita."
"Eh? Pakai
saja sihir terbang."
""Ah.""
Keduanya berseru
seolah baru ingat, lalu menunjukkan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Hanya saja,
reaksidari mereka berdua sedikit membuatku penasaran. Rasanya seolah mereka
ragu untuk mencari Meguri-san...
"Anu, tapi
kalau kita terlihat sedang terbang di langit..."
Mina
mengkhawatirkan kemungkinan terlihat oleh penjaga saat terbang di langit, tapi
itu pun bukan masalah.
"Ada sihir
tembus pandang, jadi tidak apa-apa."
"Ah—benar
juga, ada sihir seperti itu ya."
Karena aku pernah
menggunakannya bersama Liliera-san sebelumnya. Selain itu, sihir pelacak juga
bisa dikelabui dengan sihir pengalihan yang kukembangkan untuk investigasi
penyusupan.
Sihir yang satu
ini sudah sering kugunakan berkali-kali di kehidupan sebelumnya dan sebelumnya
lagi untuk meningkatkan akurasi mantranya, jadi aku cukup percaya diri.
"Kalau
begitu ayo kita pergi, semuanya berpegangan tangan."
"A-ah. Baik,
Kakak."
"...Yah, mau
bagaimana lagi."
Hmm, memang aneh.
Padahal tadi mereka sangat mengkhawatirkan Meguri-san. Apa ada sesuatu yang
mengganggu pikiran mereka?
"Ayo
berangkat."
Setelah semua
berpegangan tangan, aku mengaktifkan sihir tembus pandang serta sihir
pengalihan, lalu terbang ke angkasa.
"A-apa benar
dengan begini kita tidak akan ketahuan?"
"Iya, bicara
pun tidak apa-apa. Asalkan jangan melepaskan tangan."
Liliera-san yang
sudah berpengalaman menjawab pertanyaan Mina yang terdengar cemas.
"Wuwu,
ra-rasanya agak sulit terbang sambil berpegangan tangan."
Jairo
yang belum terbiasa terbang dengan kecepatan yang disesuaikan tampak terbang
dengan goyah.
"Aduh,
sakit! Hei Jairo! Terbangnya pelan-pelan sedikit! Tanganku tertarik,
tahu!"
"Ma-maaf,
tapi aku tidak bisa menurunkan kecepatan dengan baik!"
Yah, pada
dasarnya terbang dengan menyesuaikan kecepatan itu biasanya dilakukan antar
pengguna atribut yang sama. Jika orang-orang dengan atribut berbeda mencoba
menyesuaikan kecepatan, itu akan lebih sulit karena cara terbang mereka
berbeda-beda.
"Kakak, apa
tidak bisa dilakukan sesuatu?"
"Hmm,
bagaimana kalau aku saja yang menggendong kalian semua lalu terbang?"
""Ditolak!!""
Liliera-san
dan Mina langsung menolak mentah-mentah.
"Mau
bagaimana lagi. Sepertinya kita yang harus menyesuaikan diri dengan
Jairo."
"Benar
juga, kalau sampai kita tidak sengaja melepaskan tangan, itu malah bisa jadi
keributan besar."
"Uu, maafkan
aku semuanya."
Jairo meminta
maaf dengan perasaan bersalah. Masalahnya, Jairo yang merupakan atribut api dan
terbang dengan menyemburkan api memang sangat mencolok bahkan di malam hari.
Kalau dia
terlihat terbang tepat di atas kawasan bangsawan, dalam sekejap pasti akan
terjadi kegemparan.
"Jangan
dipikirkan, Jairo. Kalau kamu lebih banyak berlatih sihir terbang, biarpun kamu
atribut api, kamu akan bisa terbang dengan tenang tanpa ketahuan."
"Apa benar,
Kakak!?"
"Iya, kalau
Jairo, aku yakin kamu akan segera bisa terbang dengan kecepatan yang melebihi
suara!"
"Uooo—!
Lebih cepat dari suara!? Kalau begitu, selain Jairo Si Api Biru, aku mungkin
akan dipanggil Jairo Si Kecepatan Suara!"
Mendengar dia
bisa mengeluarkan kecepatan melebihi suara, Jairo tersenyum lebar dengan penuh
semangat. Syukurlah, sepertinya dia sudah kembali ceria setelah tadi terlihat
murung.
"Hei...
terbang lebih cepat dari suara itu sih bagus, tapi apa tubuh Jairo akan
baik-baik saja?"
Mina yang
meragukan penerbangan dengan kecepatan suara mengajukan pertanyaan. Seperti
yang diharapkan dari Mina. Dia menyadari titik permasalahan dari terbang dengan
kecepatan suara menggunakan tubuh manusia biasa.
"Iya, kalau
melakukan Physical Reinforcement dengan benar, pasti tidak apa-apa."
"Begitu ya,
jadi kalau tidak melakukan Physical Reinforcement, tidak akan baik-baik saja
ya..."
"Wah,
sepertinya lokasi Meguri-san sudah dekat."
Setelah melewati
kawasan bangsawan, kami mengarahkan pandangan ke sebuah bangunan besar yang
terlihat di depan.
"Reaksi
Meguri-san ada di dalam bangunan itu."
"Eh? Tapi
bangunan itu kan..."
Liliera-san
berseru seolah tidak percaya mendengar kata-kataku. Ya, aku mengerti
perasaannya. Meskipun kami belum pernah masuk ke sana, kami tahu bangunan macam
apa itu. Di ujung pandangan kami, tempat Meguri-san berada. Itulah tempat
tinggal raja yang memerintah negeri ini.
"Iya, itu
adalah kastel kerajaan."
"Ke-kenapa
Meguri ada di kastel kerajaan!?"
Tentu saja,
karena aku pun sama sekali tidak menyangka kalau Meguri-san ada di kastel
kerajaan.
"Kalau
begitu, ayo kita masuk."
"Tunggu,
APAAA!?"
"Tu-tunggu
sebentar!"
"Itu
benar-benar gawat, Kakak!"
Saat aku hendak
maju menuju kastel, entah kenapa semuanya menghentikanku.
"Eh? Tapi
Meguri-san ada di dalam kastel ini, kalau tidak masuk kita tidak bisa
menemuinya, kan?"
"Se-setidaknya,
menyusup ke dalam kastel tanpa izin itu gawat. Kalau ketahuan, taruhannya
hukuman mati, tahu?"
Hmm, aku mengerti
apa yang ingin dikatakan Liliera-san. Masuk ke kastel sembarangan itu memang
gawat, baik di kehidupanku yang dulu maupun sekarang. Tapi...
"Meguri-san
yang kukenal adalah seorang petualang biasa. Fakta bahwa Meguri-san yang
seperti itu ada di tempat seperti ini, aku rasa kemungkinannya besar dia
terlibat dalam suatu masalah. Jika Meguri-san ditangkap atas tuduhan yang tidak
benar, bukankah kita harus segera pergi menyelamatkannya?"
"I-itu..."
Bangsawan bisa
saja dengan santainya menjatuhkan hukuman pada orang yang tidak bersalah demi
kepentingan mereka sendiri. Apalagi jika itu rakyat jelata yang tidak bisa
melawan mereka.
Karena aku tahu
dari pengalaman di kehidupanku sebelumnya bahwa situasi seperti itu sangat
mungkin terjadi, aku merasa penyelamatan Meguri-san adalah hal yang mendesak.
"Kita
sebagai petualang memiliki hak dan kewajiban untuk menjaga kebebasan. Kita
bekerja sama dengan negara mana pun, tapi tidak tunduk pada negara mana pun.
Kebebasan adalah jiwa petualang, itulah filosofi Guild Petualang, kalian semua
tahu itu, kan? Karena itu, jika rekan petualang kita terancam bahaya, kita
harus menolongnya."
Benar, petualang
adalah mereka yang mencintai kebebasan. Karena itu, petualang tidak akan
memaafkan siapa pun yang mencoba merenggut kebebasan itu.
"Anu, begini
ya. Aku rasa tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Lagipula, siapa tahu dia
datang ke sini karena suatu pekerjaan!"
"Be-benar
juga. Siapa tahu besok Meguri sudah pulang."
Sebenarnya ada
apa dengan mereka berdua?
"Kalau
memang begitu ya syukurlah. Kalau
dia ada di sana karena suatu alasan, dia bisa segera pulang... tapi..."
"Tapi?"
"Waktu itu,
Meguri-san terlihat sangat sedih."
"!!?"
Mendengar
kata-kataku, wajah mereka berdua tampak tersentak. Kemudian mereka saling
berpandangan dan mengangguk.
"...Mina."
"Iya, sudah
percuma bicara apa pun padanya."
"Maksudku,
aku merasa seperti orang bodoh."
Jairo memalingkan
wajahnya karena malu sambil bergumam dan menggaruk kepalanya.
"Iya,
sebenarnya itu adalah kata-kata yang harusnya kami ucapkan, dan tindakan yang
harusnya kami lakukan."
Mina juga
tampak merasa tidak enak sambil menggaruk pipinya. Setelah menghela napas
panjang, mereka berbalik ke arahku dengan wajah yang sudah memantapkan tekad.
"Maaf Kakak,
aku sudah sadar!"
"Ayo kita
pergi menemui Meguri!"
"Iya!"
Aku tidak tahu
apa itu, tapi syukurlah mereka berdua sudah mau berangkat. Ternyata mereka
berdua juga sangat mengkhawatirkan Meguri-san!
"Entahlah,
tapi rasanya cuma aku yang ditinggalkan sendirian."
"Kyuu!"
"""Ah."""
Saat kami
menoleh, Liliera-san dan Mofumofu yang ditinggalkan sendirian tampak sedang
merajuk.
"""Maafkan
kami."""
Na-nah, karena
semuanya sudah setuju, saatnya menyusup ke kastel!
◆
"Meguri-san
ada di balik ruangan ini."
Setelah
mendeteksi reaksi Meguri-san di dalam kastel, kami sampai di sebuah ruangan di
dekat jendela di lantai atas kastel. Sebenarnya reaksinya berasal dari ruangan
yang lebih dalam lagi dari sini.
"Ayo
masuk lewat jendela ini."
Kami
membuka jendela dan masuk ke dalam ruangan.
"Permisiii—"
"Aku masuk
ya—"
"Aaaaa...
kalau ketahuan ini pasti hukuman mati."
"Ja-jangan
lepaskan tangan, pasti tidak apa-apa."
Liliera-san
dan Mina yang tampak gelisah menggenggam tanganku dengan erat. Kalian berdua,
itu agak sakit, lho...
"Gelap
ya."
Di dalam
ruangan gelap dan tidak ada tanda-tanda kehadiran orang. Kami tidak boleh
menyalakan lampu. Saat aku melihat sekeliling menggunakan sihir penglihatan
malam, seluruh isi ruangan menjadi terlihat jelas.
"...Ruangan
yang biasa saja ya."
Yah, ada tempat
tidur besar dengan kelambu, meja berhias, serta lukisan dan pajangan yang
menghiasi dinding, benar-benar terasa seperti kamar bangsawan.
Semakin aku tidak
mengerti kenapa Meguri-san ada di tempat seperti ini.
"Lho? Meguri
tidak ada di sini?"
"Reaksi
Meguri-san ada di dalam sana, di balik pintu itu. Tapi sepertinya bukan cuma
Meguri-san saja."
Aku menunjuk
pintu yang menuju ke ruangan lebih dalam. Aku merasakan reaksi Meguri-san dari
ruangan itu, tapi aku juga merasakan reaksi seseorang yang lain.
"Kalau ada
orang lain, kita tidak bisa masuk sembarangan ya."
"Benar juga,
sepertinya kita harus menunggu sampai orang itu keluar."
"Kalau
begitu ayo kita tunggu di ruangan ini. Kalau ada tanda-tanda masalah, saat itu
juga kita akan menerjang masuk untuk menyelamatkan Meguri-san dan langsung
kabur dari ibu kota."
"Hmm, aku
rasa tidak perlu sampai sekhawatir itu, tapi baiklah."
Anehnya, Mina
tampak yakin kalau Meguri-san tidak dalam bahaya.
"Mina-san,
juga Jairo, apa kalian berdua tahu sesuatu tentang Meguri-san?"
Saat aku
bertanya, mereka berdua saling berpandangan. Ekspresi mereka tampak ragu apakah
boleh mengatakannya atau tidak.
"Begini,
Kakak. Meguri punya banyak urusan yang rumit. Jadi, itu, rasanya tidak sopan
kalau kami yang mengatakannya secara sembarangan..."
"Iya, kalau
dari kami rasanya kurang pas."
Ah, benar juga,
mereka berdua adalah rekan satu partinya. Lagipula, mencari tahu masa lalu
rekan sesama petualang adalah pelanggaran tata krama.
Seberapa pun
khawatirnya kita, jika orang yang bersangkutan tidak berniat mengatakannya,
maka membiarkannya adalah bentuk kehormatan petualang, bukankah Ryguard juga
pernah bilang begitu di dalam cerita?
"Aku
mengerti kalian berdua. Aku tidak akan bertanya apa-apa sampai Meguri-san
sendiri yang mengatakannya."
"Terima
kasih, Kakak."
"Kami sangat
terbantu kalau kamu berkata begitu."
"...Dan
juga, meskipun nanti kamu tahu tentang urusan Meguri, aku ingin kamu tetap
memperlakukannya seperti biasa."
"Hmm?
Aku tidak terlalu mengerti tapi baiklah."
Mendengar
kata-kataku, mereka berdua menunjukkan wajah lega. Begitu ya, ternyata rasa
hormat kepada Meguri-san dan rasa khawatir terhadap rekan saling bergejolak
dalam diri mereka, itulah yang membuat mereka menghentikanku tadi.
Kalau
dipikir-pikir begitu, mungkin Meguri-san memang benar-benar aman.
Hanya saja,
karena sudah telanjur sampai di sini, setidaknya aku ingin memastikan keamanan
Meguri-san sebelum pulang.
Kalau dia masih
kurang enak badan, aku ingin memulihkannya dengan sihir penyembuhan.
"Semuanya,
ada yang datang."
Liliera-san
menegur kami yang asyik mengobrol. Dan pada saat yang sama, suara pintu terbuka
bergema di ruangan yang tadinya tidak berpenghuni itu.
"Kalau
begitu, selamat tidur."
Orang
yang masuk ke ruangan itu mengucapkan salam selamat tidur kepada seseorang di
ruangan sebelah. Dilihat dari suaranya, sepertinya seorang wanita.
Karena
nadanya sangat lembut, sepertinya ditujukan kepada orang yang dekat dengannya. Sesaat kemudian, cahaya lampu menyala di
ruangan itu sehingga mataku sempat silau. Bersamaan dengan itu, aroma manis
yang lembut melintasi lubang hidungku.
"Kyu?"
Pada saat itu,
Mofumofu yang berada di bahuku bersuara dan melompat keluar.
"Ah,
Mofumofu!"
"Kyaa!? Eh?
Apa ini!?"
"Kyuu-kyuu!"
Mofumofu yang
terpisah dariku kehilangan efek sihir tembus pandangnya, sehingga sosoknya
terlihat jelas. Gawat, kalau tahu begini, seharusnya aku memasangkan tali pada
kalungnya tadi.
"Aidra-sama!
Ada apa!?"
Mungkin karena
bereaksi terhadap suara terkejut dari wanita yang dipanggil Aidra tadi,
seseorang menerjang masuk dari ruangan dalam.
"Kyuu!"
"Eh?
Mofumofu?"
Seseorang yang
masuk ke ruangan itu memanggil nama Mofumofu. Lho?
Dia tahu tentang Mofumofu?
Dan
suaranya juga terasa familier. Segera setelah mataku terbiasa dengan cahaya
lampu, aku bisa mengenali sosok Mofumofu dan yang lainnya.
Di sana
berdiri orang yang sangat kami kenal. Tidak, bukan orang, tapi 'orang-orang'
yang sangat kami kenal.
"Meguri-san..."
"Meguri..."
""Dua
orang—!?"""
Benar, di
sana, ada dua orang Meguri-san yang mengenakan gaun.
...Ini sebenarnya ada apa sih!?



Post a Comment