NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 4

Chapter 141

Cari Meguri yang Menghilang!


"Lho? Meguri-san belum pulang, ya?"

Saat aku sampai di rumah, keadaan di dalam gelap gulita, dan sosok Meguri-san tidak ada di sana. Padahal dia bilang akan pulang duluan karena merasa kurang enak badan.

"Jangan-jangan dia pingsan di suatu tempat..."

Tepat ketika Liliera-san berucap dengan nada cemas, Jairo dan yang lainnya kembali dari kamar belakang.

"Di kamarnya juga tidak ada."

"Ini gawat, kita harus segera mencari Meguri-san!"

"Ba-baiklah, aku akan mencari di jalan besar, jadi Mina, tolong periksa toko-toko yang biasa Meguri datangi!"

"Aku mengerti."

"Kalau begitu, aku akan menyusuri jalan yang biasa kita lewati menuju Guild. Hari ini kami pulang lewat jalan lain untuk membeli makan malam, jadi mungkin saja kami berpapasan."

"...Aku sudah tahu di mana Meguri-san berada."

"Begitu ya, kalau begitu Rex-san akan—"

"""Tunggu, APAAA—!?"""

"Ba-bagaimana kamu bisa tahu!?"

Semuanya berseru kaget karena aku bisa langsung mendeteksi keberadaan Meguri-san.

"Aku memeriksa gelombang mana dari perlengkapan yang dikenakan Meguri-san."

"Ge-gelombang mana? Memangnya hal seperti itu bisa dilakukan!?"

"Iya, meskipun dia menyembunyikannya agar tidak terdeteksi musuh, aku sudah mengaturnya agar memancarkan gelombang yang tersamar di antara mana tipis di udara, yang hanya bisa kukenali sendiri."

"A-aku tidak tahu soal itu..."

"Magic Item ternyata bisa melakukan hal seperti itu juga, ya..."

Jairo dan Mina membelalakkan mata karena terkejut. Padahal bagi seorang teknisi Magic Item, hal ini termasuk pengetahuan umum.

Ah, tapi mungkin orang-orang selain penyihir yang ahli dalam deteksi memang tidak terlalu mempedulikannya, ya? Di militer pun, bagian deteksi biasanya ditangani oleh ahli sihir pelacak khusus.

"Memasang fungsi pelacakan itu sendiri sebenarnya mudah. Yang agak sulit adalah mekanisme penyamarannya agar gelombang itu tidak diketahui oleh musuh."

Ya, ini adalah fungsi yang kubuat di kehidupanku yang sebelumnya lagi atas permintaan militer, karena mereka ingin fungsi pelacakan untuk mencari rekan yang terpisah.

Yah, kenyataannya fungsi ini justru lebih berguna untuk menangkap desertir atau pengkhianat, sih...

"Menurutku kata 'mudah' itu pasti sama sekali tidak mudah, dan lagipula, siapa yang terpikir bakal ada fungsi seperti itu!?"

"Mungkin mata-mata musuh?"

"Sebenarnya Rex ini sedang bertarung melawan siapa sih..."

Mendengar jawabanku, entah kenapa Mina langsung terkulai lemas sambil menjatuhkan bahunya.

"Heheh, bisa menemukannya semudah ini, memang hebat Kakak!"

"Kamu itu terlalu cepat beradaptasi!"

"Kyu-kyuu!"

Lho? Mofumofu juga mau ikut mencari Meguri-san.

"Begitu ya, kamu juga mengkhawatirkan Meguri-san, ya."

"Kyu-guuu—"

Mendengar suaranya yang seperti itu, sepertinya dia memang sangat khawatir. Ternyata mereka berdua sudah jadi sangat akrab di tempat yang tidak kuketahui, ya.

"Guu—"

"Baiklah, kalau begitu ayo kita jemput Meguri-san!"

"""Ooh—!"""

"Guu!"

"Reaksi Meguri-san ada di balik ini."

Setelah mengikuti arah reaksi Meguri-san, langkah kami terhenti oleh sebuah tembok besar.

"Bukankah ini... kawasan bangsawan?"

Benar, di depan sana adalah kawasan tempat tinggal para bangsawan, tempat yang tidak boleh dimasuki oleh kami rakyat jelata tanpa izin.

Terlebih lagi sekarang sudah malam, jadi akan semakin sulit bagi kami untuk masuk.

Kalau kami memaksa masuk, kami akan langsung terdeteksi oleh sihir pelacak dan akan dikepung oleh pasukan penjaga yang datang bergerombol.

"Meguri, kenapa dia ada di tempat seperti ini...?"

"..."

Saat Liliera-san memiringkan kepalanya dengan heran, wajah Jairo dan Mina tampak merasa tidak enak.

"Kalian berdua tahu sesuatu?"

"Ah, tidak, bukan apa-apa, Kakak. Tapi kalau begini keadaannya..."

"Benar juga, tembok ini menghalangi jalan kita."

"Eh? Pakai saja sihir terbang."

""Ah.""

Keduanya berseru seolah baru ingat, lalu menunjukkan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Hanya saja, reaksidari mereka berdua sedikit membuatku penasaran. Rasanya seolah mereka ragu untuk mencari Meguri-san...

"Anu, tapi kalau kita terlihat sedang terbang di langit..."

Mina mengkhawatirkan kemungkinan terlihat oleh penjaga saat terbang di langit, tapi itu pun bukan masalah.

"Ada sihir tembus pandang, jadi tidak apa-apa."

"Ah—benar juga, ada sihir seperti itu ya."

Karena aku pernah menggunakannya bersama Liliera-san sebelumnya. Selain itu, sihir pelacak juga bisa dikelabui dengan sihir pengalihan yang kukembangkan untuk investigasi penyusupan.

Sihir yang satu ini sudah sering kugunakan berkali-kali di kehidupan sebelumnya dan sebelumnya lagi untuk meningkatkan akurasi mantranya, jadi aku cukup percaya diri.

"Kalau begitu ayo kita pergi, semuanya berpegangan tangan."

"A-ah. Baik, Kakak."

"...Yah, mau bagaimana lagi."

Hmm, memang aneh. Padahal tadi mereka sangat mengkhawatirkan Meguri-san. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mereka?

"Ayo berangkat."

Setelah semua berpegangan tangan, aku mengaktifkan sihir tembus pandang serta sihir pengalihan, lalu terbang ke angkasa.

"A-apa benar dengan begini kita tidak akan ketahuan?"

"Iya, bicara pun tidak apa-apa. Asalkan jangan melepaskan tangan."

Liliera-san yang sudah berpengalaman menjawab pertanyaan Mina yang terdengar cemas.

"Wuwu, ra-rasanya agak sulit terbang sambil berpegangan tangan."

Jairo yang belum terbiasa terbang dengan kecepatan yang disesuaikan tampak terbang dengan goyah.

"Aduh, sakit! Hei Jairo! Terbangnya pelan-pelan sedikit! Tanganku tertarik, tahu!"

"Ma-maaf, tapi aku tidak bisa menurunkan kecepatan dengan baik!"

Yah, pada dasarnya terbang dengan menyesuaikan kecepatan itu biasanya dilakukan antar pengguna atribut yang sama. Jika orang-orang dengan atribut berbeda mencoba menyesuaikan kecepatan, itu akan lebih sulit karena cara terbang mereka berbeda-beda.

"Kakak, apa tidak bisa dilakukan sesuatu?"

"Hmm, bagaimana kalau aku saja yang menggendong kalian semua lalu terbang?"

""Ditolak!!""

Liliera-san dan Mina langsung menolak mentah-mentah.

"Mau bagaimana lagi. Sepertinya kita yang harus menyesuaikan diri dengan Jairo."

"Benar juga, kalau sampai kita tidak sengaja melepaskan tangan, itu malah bisa jadi keributan besar."

"Uu, maafkan aku semuanya."

Jairo meminta maaf dengan perasaan bersalah. Masalahnya, Jairo yang merupakan atribut api dan terbang dengan menyemburkan api memang sangat mencolok bahkan di malam hari.

Kalau dia terlihat terbang tepat di atas kawasan bangsawan, dalam sekejap pasti akan terjadi kegemparan.

"Jangan dipikirkan, Jairo. Kalau kamu lebih banyak berlatih sihir terbang, biarpun kamu atribut api, kamu akan bisa terbang dengan tenang tanpa ketahuan."

"Apa benar, Kakak!?"

"Iya, kalau Jairo, aku yakin kamu akan segera bisa terbang dengan kecepatan yang melebihi suara!"

"Uooo—! Lebih cepat dari suara!? Kalau begitu, selain Jairo Si Api Biru, aku mungkin akan dipanggil Jairo Si Kecepatan Suara!"

Mendengar dia bisa mengeluarkan kecepatan melebihi suara, Jairo tersenyum lebar dengan penuh semangat. Syukurlah, sepertinya dia sudah kembali ceria setelah tadi terlihat murung.

"Hei... terbang lebih cepat dari suara itu sih bagus, tapi apa tubuh Jairo akan baik-baik saja?"

Mina yang meragukan penerbangan dengan kecepatan suara mengajukan pertanyaan. Seperti yang diharapkan dari Mina. Dia menyadari titik permasalahan dari terbang dengan kecepatan suara menggunakan tubuh manusia biasa.

"Iya, kalau melakukan Physical Reinforcement dengan benar, pasti tidak apa-apa."

"Begitu ya, jadi kalau tidak melakukan Physical Reinforcement, tidak akan baik-baik saja ya..."

"Wah, sepertinya lokasi Meguri-san sudah dekat."

Setelah melewati kawasan bangsawan, kami mengarahkan pandangan ke sebuah bangunan besar yang terlihat di depan.

"Reaksi Meguri-san ada di dalam bangunan itu."

"Eh? Tapi bangunan itu kan..."

Liliera-san berseru seolah tidak percaya mendengar kata-kataku. Ya, aku mengerti perasaannya. Meskipun kami belum pernah masuk ke sana, kami tahu bangunan macam apa itu. Di ujung pandangan kami, tempat Meguri-san berada. Itulah tempat tinggal raja yang memerintah negeri ini.

"Iya, itu adalah kastel kerajaan."

"Ke-kenapa Meguri ada di kastel kerajaan!?"

Tentu saja, karena aku pun sama sekali tidak menyangka kalau Meguri-san ada di kastel kerajaan.

"Kalau begitu, ayo kita masuk."

"Tunggu, APAAA!?"

"Tu-tunggu sebentar!"

"Itu benar-benar gawat, Kakak!"

Saat aku hendak maju menuju kastel, entah kenapa semuanya menghentikanku.

"Eh? Tapi Meguri-san ada di dalam kastel ini, kalau tidak masuk kita tidak bisa menemuinya, kan?"

"Se-setidaknya, menyusup ke dalam kastel tanpa izin itu gawat. Kalau ketahuan, taruhannya hukuman mati, tahu?"

Hmm, aku mengerti apa yang ingin dikatakan Liliera-san. Masuk ke kastel sembarangan itu memang gawat, baik di kehidupanku yang dulu maupun sekarang. Tapi...

"Meguri-san yang kukenal adalah seorang petualang biasa. Fakta bahwa Meguri-san yang seperti itu ada di tempat seperti ini, aku rasa kemungkinannya besar dia terlibat dalam suatu masalah. Jika Meguri-san ditangkap atas tuduhan yang tidak benar, bukankah kita harus segera pergi menyelamatkannya?"

"I-itu..."

Bangsawan bisa saja dengan santainya menjatuhkan hukuman pada orang yang tidak bersalah demi kepentingan mereka sendiri. Apalagi jika itu rakyat jelata yang tidak bisa melawan mereka.

Karena aku tahu dari pengalaman di kehidupanku sebelumnya bahwa situasi seperti itu sangat mungkin terjadi, aku merasa penyelamatan Meguri-san adalah hal yang mendesak.

"Kita sebagai petualang memiliki hak dan kewajiban untuk menjaga kebebasan. Kita bekerja sama dengan negara mana pun, tapi tidak tunduk pada negara mana pun. Kebebasan adalah jiwa petualang, itulah filosofi Guild Petualang, kalian semua tahu itu, kan? Karena itu, jika rekan petualang kita terancam bahaya, kita harus menolongnya."

Benar, petualang adalah mereka yang mencintai kebebasan. Karena itu, petualang tidak akan memaafkan siapa pun yang mencoba merenggut kebebasan itu.

"Anu, begini ya. Aku rasa tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Lagipula, siapa tahu dia datang ke sini karena suatu pekerjaan!"

"Be-benar juga. Siapa tahu besok Meguri sudah pulang."

Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua?

"Kalau memang begitu ya syukurlah. Kalau dia ada di sana karena suatu alasan, dia bisa segera pulang... tapi..."

"Tapi?"

"Waktu itu, Meguri-san terlihat sangat sedih."

"!!?"

Mendengar kata-kataku, wajah mereka berdua tampak tersentak. Kemudian mereka saling berpandangan dan mengangguk.

"...Mina."

"Iya, sudah percuma bicara apa pun padanya."

"Maksudku, aku merasa seperti orang bodoh."

Jairo memalingkan wajahnya karena malu sambil bergumam dan menggaruk kepalanya.

"Iya, sebenarnya itu adalah kata-kata yang harusnya kami ucapkan, dan tindakan yang harusnya kami lakukan."

Mina juga tampak merasa tidak enak sambil menggaruk pipinya. Setelah menghela napas panjang, mereka berbalik ke arahku dengan wajah yang sudah memantapkan tekad.

"Maaf Kakak, aku sudah sadar!"

"Ayo kita pergi menemui Meguri!"

"Iya!"

Aku tidak tahu apa itu, tapi syukurlah mereka berdua sudah mau berangkat. Ternyata mereka berdua juga sangat mengkhawatirkan Meguri-san!

"Entahlah, tapi rasanya cuma aku yang ditinggalkan sendirian."

"Kyuu!"

"""Ah."""

Saat kami menoleh, Liliera-san dan Mofumofu yang ditinggalkan sendirian tampak sedang merajuk.

"""Maafkan kami."""

Na-nah, karena semuanya sudah setuju, saatnya menyusup ke kastel!

"Meguri-san ada di balik ruangan ini."

Setelah mendeteksi reaksi Meguri-san di dalam kastel, kami sampai di sebuah ruangan di dekat jendela di lantai atas kastel. Sebenarnya reaksinya berasal dari ruangan yang lebih dalam lagi dari sini.

"Ayo masuk lewat jendela ini."

Kami membuka jendela dan masuk ke dalam ruangan.

"Permisiii—"

"Aku masuk ya—"

"Aaaaa... kalau ketahuan ini pasti hukuman mati."

"Ja-jangan lepaskan tangan, pasti tidak apa-apa."

Liliera-san dan Mina yang tampak gelisah menggenggam tanganku dengan erat. Kalian berdua, itu agak sakit, lho...

"Gelap ya."

Di dalam ruangan gelap dan tidak ada tanda-tanda kehadiran orang. Kami tidak boleh menyalakan lampu. Saat aku melihat sekeliling menggunakan sihir penglihatan malam, seluruh isi ruangan menjadi terlihat jelas.

"...Ruangan yang biasa saja ya."

Yah, ada tempat tidur besar dengan kelambu, meja berhias, serta lukisan dan pajangan yang menghiasi dinding, benar-benar terasa seperti kamar bangsawan.

Semakin aku tidak mengerti kenapa Meguri-san ada di tempat seperti ini.

"Lho? Meguri tidak ada di sini?"

"Reaksi Meguri-san ada di dalam sana, di balik pintu itu. Tapi sepertinya bukan cuma Meguri-san saja."

Aku menunjuk pintu yang menuju ke ruangan lebih dalam. Aku merasakan reaksi Meguri-san dari ruangan itu, tapi aku juga merasakan reaksi seseorang yang lain.

"Kalau ada orang lain, kita tidak bisa masuk sembarangan ya."

"Benar juga, sepertinya kita harus menunggu sampai orang itu keluar."

"Kalau begitu ayo kita tunggu di ruangan ini. Kalau ada tanda-tanda masalah, saat itu juga kita akan menerjang masuk untuk menyelamatkan Meguri-san dan langsung kabur dari ibu kota."

"Hmm, aku rasa tidak perlu sampai sekhawatir itu, tapi baiklah."

Anehnya, Mina tampak yakin kalau Meguri-san tidak dalam bahaya.

"Mina-san, juga Jairo, apa kalian berdua tahu sesuatu tentang Meguri-san?"

Saat aku bertanya, mereka berdua saling berpandangan. Ekspresi mereka tampak ragu apakah boleh mengatakannya atau tidak.

"Begini, Kakak. Meguri punya banyak urusan yang rumit. Jadi, itu, rasanya tidak sopan kalau kami yang mengatakannya secara sembarangan..."

"Iya, kalau dari kami rasanya kurang pas."

Ah, benar juga, mereka berdua adalah rekan satu partinya. Lagipula, mencari tahu masa lalu rekan sesama petualang adalah pelanggaran tata krama.

Seberapa pun khawatirnya kita, jika orang yang bersangkutan tidak berniat mengatakannya, maka membiarkannya adalah bentuk kehormatan petualang, bukankah Ryguard juga pernah bilang begitu di dalam cerita?

"Aku mengerti kalian berdua. Aku tidak akan bertanya apa-apa sampai Meguri-san sendiri yang mengatakannya."

"Terima kasih, Kakak."

"Kami sangat terbantu kalau kamu berkata begitu."

"...Dan juga, meskipun nanti kamu tahu tentang urusan Meguri, aku ingin kamu tetap memperlakukannya seperti biasa."

"Hmm? Aku tidak terlalu mengerti tapi baiklah."

Mendengar kata-kataku, mereka berdua menunjukkan wajah lega. Begitu ya, ternyata rasa hormat kepada Meguri-san dan rasa khawatir terhadap rekan saling bergejolak dalam diri mereka, itulah yang membuat mereka menghentikanku tadi.

Kalau dipikir-pikir begitu, mungkin Meguri-san memang benar-benar aman.

Hanya saja, karena sudah telanjur sampai di sini, setidaknya aku ingin memastikan keamanan Meguri-san sebelum pulang.

Kalau dia masih kurang enak badan, aku ingin memulihkannya dengan sihir penyembuhan.

"Semuanya, ada yang datang."

Liliera-san menegur kami yang asyik mengobrol. Dan pada saat yang sama, suara pintu terbuka bergema di ruangan yang tadinya tidak berpenghuni itu.

"Kalau begitu, selamat tidur."

Orang yang masuk ke ruangan itu mengucapkan salam selamat tidur kepada seseorang di ruangan sebelah. Dilihat dari suaranya, sepertinya seorang wanita.

Karena nadanya sangat lembut, sepertinya ditujukan kepada orang yang dekat dengannya. Sesaat kemudian, cahaya lampu menyala di ruangan itu sehingga mataku sempat silau. Bersamaan dengan itu, aroma manis yang lembut melintasi lubang hidungku.

"Kyu?"

Pada saat itu, Mofumofu yang berada di bahuku bersuara dan melompat keluar.

"Ah, Mofumofu!"

"Kyaa!? Eh? Apa ini!?"

"Kyuu-kyuu!"

Mofumofu yang terpisah dariku kehilangan efek sihir tembus pandangnya, sehingga sosoknya terlihat jelas. Gawat, kalau tahu begini, seharusnya aku memasangkan tali pada kalungnya tadi.

"Aidra-sama! Ada apa!?"

Mungkin karena bereaksi terhadap suara terkejut dari wanita yang dipanggil Aidra tadi, seseorang menerjang masuk dari ruangan dalam.

"Kyuu!"

"Eh? Mofumofu?"

Seseorang yang masuk ke ruangan itu memanggil nama Mofumofu. Lho?

Dia tahu tentang Mofumofu?

Dan suaranya juga terasa familier. Segera setelah mataku terbiasa dengan cahaya lampu, aku bisa mengenali sosok Mofumofu dan yang lainnya.

Di sana berdiri orang yang sangat kami kenal. Tidak, bukan orang, tapi 'orang-orang' yang sangat kami kenal.

"Meguri-san..."

"Meguri..."

""Dua orang—!?"""

Benar, di sana, ada dua orang Meguri-san yang mengenakan gaun.

...Ini sebenarnya ada apa sih!?



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close