NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 19

Chapter 156

Raungan Venom Beat!


Begitu Venom Beet yang telah bangkit itu berdiri perlahan, gundukan tanah raksasa yang menutupi tubuhnya runtuh dengan kekuatan dahsyat layaknya tanah longsor.

Di saat yang sama, gas berwarna ungu yang mengerikan menyembur keluar dari bagian bawah tubuh Venom Beet. Seketika itu juga, rawa beracun di sekitarnya berubah warna menjadi semakin pekat dan mengerikan.

"Liliera-san, jangan mendekati gas beracun itu!"

"Aku mengerti!"

Venom Beet itu adalah spesies mutan yang memiliki racun mematikan yang belum diketahui. Jika mendekat dengan ceroboh, ada kemungkinan dia akan mengeluarkan racun berbahaya yang bahkan tidak bisa dinetralkan oleh sihir penawar racunku.

"Pertama-tama, aku akan menghentikan pergerakannya lalu memasang kembali segelnya!"

"Tidak akan kubiarkan!"

Tepat saat aku hendak menghentikan pergerakan Venom Beet, sebuah kilatan petir dari sihir berwarna merah kehitaman menyerang dengan suara yang tajam.

"...!?"

Kami segera menghindari kilatan petir sihir itu dan berbalik ke arah datangnya serangan.

"Kau...!?"

Siapa sangka, yang melancarkan serangan itu adalah si Majin yang tadi menghancurkan segel. Dia seharusnya sudah sangat lemah, dan aku benar-benar mengira dia tidak akan bisa lari dari semburan racun mematikan saat segel pecah tadi—aku pikir dia sudah tamat tergulung racun itu...

"Kau masih hidup!?"

Namun yang aneh adalah, Majin itu tidak hanya sekadar bertahan hidup, tapi dia terlihat sangat sehat. Begitu sehat sampai-sampai sulit dipercaya bahwa dia hampir mati beberapa saat yang lalu.

"Bagaimana bisa...?"

Padahal Majin yang terinfeksi racun mematikan itu bilang bahwa rekan-rekannya yang dimintai tolong pun sudah angkat tangan. Kondisinya yang sekarat tadi benar-benar tidak terlihat seperti kebohongan.

"Heh, kau tampak bingung ya."

Majin yang sudah segar bugar itu menyunggingkan senyum licik.

"Akan kuberitahu. Jawabannya adalah... dirimu sendiri, Bocah!"

"A-Aku!?"

Aku terperangah saat diberitahu bahwa akulah alasan kenapa dia kembali sehat. Apa sebenarnya maksudnya!?

"Saat segelnya lepas tadi, berkat sihir penawar racun yang kau lepaskan, racun yang menggerogoti tubuhku pun ikut ternetralkan!"

""...!? A-Aaaaaahhh!!??""

Ja-Jadi begitu alasannya!

Sial, aku teledor. Aku sama sekali tidak menyangka kalau sihir penawar racun area yang kurapalkan untuk melindungi diri dari racun mematikan Venom Beet justru akan menyembuhkan racun di tubuh si Majin juga!

"Aku berterima kasih padamu, Bocah! Berkat kau, aku bisa bangkit kembali!"

Sambil menyeringai, Majin itu membentuk energi sihir merah kehitaman dari tangannya menjadi bentuk tombak dan memasang kuda-kuda.

"Sebagai imbalannya, akan kubunuh kalian dengan cepat agar tidak perlu menderita."

Majin itu meledakkan energi sihir yang terkumpul di sayapnya dan melesat menyerang kami dengan kecepatan tinggi.

"Tidak akan kubiarkan!"

Liliera-san adalah orang yang menahan serangan itu. Energi sihir yang dialirkan ke tombak Liliera-san beradu sengit dengan tombak sihir milik si Majin.

"Rex-san! Biarkan aku yang menghadapi Majin ini! Rex-san, fokuslah pada penyegelan Venom Beet!"

"Tidak, aku sudah memasang penghalang agar racunnya tidak bocor, jadi mari kita fokus mengalahkan Majin ini dulu."

Baru saja si Majin ini hampir menghancurkan segel dan mengganggu pemasangan penghalang. Akan lebih baik jika kita membereskannya sampai tuntas.

Namun, Liliera-san menyahut dengan tegas.

"Aku adalah rekan Rex-san! Kalau begitu, mengalahkan seorang Majin sendirian seharusnya bisa kulakukan... tidak, jika aku tidak bisa melakukannya, maka aku tidak layak disebut rekanmu!"

"Bicara besar juga kau, Gadis Kecil!"

Keduanya terpental mundur akibat efek benturan dari tombak masing-masing.

"Karena itu, biarkan aku yang melakukannya! Sebagai pasanganmu, aku akan membuktikan bahwa aku bukanlah beban!"

"...!"

Aku bisa merasakan tekad yang kuat dari kata-kata Liliera-san. Itu pasti kata-kata yang lahir dari harga dirinya sebagai seorang petualang. Kalau begitu, akan terasa tidak sopan jika aku merusak tekadnya itu.

"Baiklah. Majin itu aku serahkan padamu!"

"Ya! Serahkan padaku!"




"Ah, Liliera-san!"

Aku memanggil Liliera-san yang baru saja akan kembali menerjang ke arah si Majin.

"Terima kasih sudah menahan serangan Majin itu tadi! Berkat bantuanmu, aku bisa memasang penghalangnya tepat waktu!"

"...!? ……Fufu, ayo kita mulai!"

"Hmph! Akan kubuat kau menyesal karena berani menantangku sendirian!"

Sekali lagi, Liliera-san dan si Majin saling menerjang dengan tombak di tangan masing-masing.

"Cyclone Burst!"

"Arrogant Burst!"

Sihir yang mereka lepaskan berbenturan di tengah dan meledak.

"Taaaaaaa!!"

"Zeyaaaaaaaa!!"

Keduanya menggunakan ledakan sihir tersebut sebagai pengalih perhatian untuk merangsek maju dan saling mengadu ujung tombak.

Mereka berdua menghindari serangan lawan di saat-saat terakhir, terus bertukar posisi sambil melancarkan serangan balasan berkali-kali.

Baiklah, biarkan Liliera-san yang mengurus si Majin, aku harus fokus untuk menyegel kembali Venom Beet.

"Untuk itu, pertama-tama aku harus menyiapkan lingkaran sihir penyegelnya."

Jika menggunakan sihir dasar untuk menyegel, biasanya merapalkan sihir penyegel saja sudah cukup.

Untuk lawan yang kuat, terkadang kita menggunakan magic item atau lingkaran sihir untuk meningkatkan tingkat keberhasilan dan kekuatannya, tapi secara teknis sihir itu sendiri bisa diaktifkan secara normal.

Namun, ceritanya akan berbeda jika lawannya adalah monster dengan ukuran raksasa seperti Venom Beet.

Sihir penyegel adalah salah satu jenis penghalang, jadi ia memiliki jangkauan efek.

Saat sihir penyegel diaktifkan, target yang berada dalam area tertentu akan tersegel. Tapi, jika targetnya terlalu besar hingga melampaui jangkauan sihir, maka sihir itu akan gagal.

Karena itu, untuk menyegel target berukuran besar, aku perlu menggambar lingkaran sihir yang cukup besar untuk menampung seluruh tubuh raksasanya.

Atau, menempatkan magic item tipe penghalang untuk mengelilinginya.

Sebenarnya aku berniat menyiapkan itu semua sebelum segelnya terlepas, tapi karena si Majin menghancurkan segelnya lebih dulu, persiapanku jadi berantakan.

"Yah, mau bagaimana lagi, aku harus melakukannya sekarang."

Untungnya lawannya sangat besar. Karena baru saja bangkit, dia mungkin belum menyadari keberadaan kami.

Tepat saat aku berpikir begitu...

Suara gesekan logam yang memekakkan telinga bergema dari daratan. Saat aku melihat ke bawah, Venom Beet itu sudah mengarahkan tanduk panjangnya ke arah kami.

Detik berikutnya, gumpalan ungu ditembakkan dengan kecepatan tinggi dari tanduknya.

"Liliera-san! Serangan racun Venom Beet datang! Itu dikompresi dengan kepadatan tinggi, kekuatannya cukup untuk menghancurkan tembok benteng, jadi tolong hindari!"

Aku memberi peringatan kepada Liliera-san yang sedang bertarung dengan si Majin.

Sepertinya makhluk itu mengira benturan sihir antara Liliera-san dan si Majin tadi sebagai serangan terhadap dirinya.

"Hah!? Serangan macam apa yang tidak masuk akal itu!?"

"Cih, bodoh! Apa kau tidak tahu siapa yang sudah membebaskanmu dari segel!"

Liliera-san dan si Majin berusaha menghindar di detik terakhir dari peluru racun yang mendekat dengan kecepatan tinggi.

"Ah, tidak boleh! Kalian harus menghindar lebih jauh lagi!"

""Eh?""

Gawat, aku lupa memberitahu Liliera-san!

"Venom Beet bisa meledakkan peluru racunnya sendiri dengan menembakkan gelombang ultrasonik ke arahnya!"

"Eeeehh!?"

Bersamaan dengan peringatanku, telingaku mulai berdenging tajam. Di bawah sana, Venom Beet mengepakkan sayapnya dengan kecepatan tinggi untuk menghasilkan gelombang ultrasonik. Jika aku berada dalam jarak dekat, gelombang itu saja sudah cukup untuk memberikan kerusakan.

"Kuh!"

"Cih!"

Sesaat setelah Liliera-san dan si Majin terburu-buru menjauh, peluru racun itu bergejolak seperti air mendidih, lalu meledak dan menyebarkan cairannya ke sekeliling.

"Se-Selamat... terima kasih, Rex-san..."

"Hindari peluru racun Venom Beet sejauh mungkin agar tidak terkena percikan ledakannya, atau gunakan sihir pertahanan tipe pelindung. Cara bertarungnya pada dasarnya adalah melemahkan lawan dengan racun."

"Badan saja yang besar, tapi cara bertarungnya licik sekali ya."

Ahaha, benar juga kalau dibilang begitu. Dia sangat merepotkan karena aktif menggunakan racun sambil memanfaatkan ukuran tubuhnya yang raksasa.

"Karena dia sudah menganggap kita musuh, mematikan gerakannya adalah prioritas utama."

Tadinya aku ingin mendekat diam-diam untuk menyegelnya, tapi sepertinya tidak akan semudah itu.

"Kalau begitu, izinkan aku menghentikan gerakanmu! Grand Geo Lancer!"

Aku menggunakan sihir pemusnah area luas untuk menusuk seluruh tubuh Venom Beet dan mengunci gerakannya. Untungnya dia masih lamban karena baru saja bangkit.

"A-Apa-apaaaaaaaaaannn!!??"

Terdengar suara teriakan kaget dari si Majin di sana. Dia pasti terkejut melihat kehebatan Liliera-san (dan sihirku). Ya, rasanya menyenangkan memiliki rekan yang bisa dipercaya untuk menjaga punggungku!

"Nah, sekarang gerakannya sudah terkunci, ayo kita mulai penyegelannya!"

Selagi Venom Beet tidak bisa bergerak, aku mulai menyiapkan penyegelan ulang.

Dari atas langit, aku menggunakan sihir tanah untuk menggambar lingkaran sempurna yang mengelilingi Venom Beet dan mulai menyiapkan penulisan lingkaran sihirnya.

Tapi kalau dipikir-pikir, Venom Beet ini sama sekali tidak melawan ya.

Venom Beet yang kulawan di kehidupan sebelumnya jauh lebih bersemangat. Makhluk ini tampak lunglai, seolah-olah sedang luka parah dan sekarat.

Tidak... mungkinkah dia sedang pura-pura mati?

Dia adalah spesies mutan, mungkin saja dia memiliki kecerdasan yang tinggi.

Begitu ya, dia sedang menungguku turun ke daratan untuk mengukir lingkaran sihir raksasa. Lalu saat aku lengah dan membelakanginya, dia berniat menyerangku.

Tapi karena aku sudah menyadarinya, aku tidak akan membiarkan diriku diserang begitu saja.

"Cocytus Pillar!"

Agar tidak memberinya celah untuk membalas, aku menusuk tubuh Venom Beet dengan pilar-pilar es berduri. Pilar es yang menembus tubuhnya membekukan seluruh cairan tubuh beracun yang meluap dari luka-lukanya.

Sadar kalau akting pura-pura matinya ketahuan, Venom Beet menggeliat kesakitan dengan kaki yang kejang-kejang lalu terguling telentang.

Sepertinya dia berniat mengarahkan lubang penyembur kabut racunnya ke arahku untuk melakukan serangan area!

"Tidak akan kubiarkan! Erosion Freeze!"

Energi sihir es yang kurapalkan membekukan banyak lubang penyembur kabut racun di perut Venom Beet.

Karena kabut racunnya telah diblokir, Venom Beet meringkuk dan menekuk kakinya seperti posisi melindungi diri.

Ya, justru lebih menguntungkan bagiku jika dia mengambil posisi bertahan.

"Baiklah, selagi sempat, aku akan mengukir lingkaran sihir penyegelnya—!"

"Anu~~ Rex-san?"

Tiba-tiba, terdengar suara ragu-ragu dari Liliera-san yang seharusnya masih bertarung dengan si Majin.

"Ada apa, Liliera-san?"

Selama itu pun aku tidak mengalihkan pandanganku dari Venom Beet.

Dia adalah pemilik kecerdasan yang bahkan mencoba memancing kelengahanku untuk serangan mendadak, jadi aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

"Eeto, sepertinya Venom Beet itu benar-benar sekarat, bukankah lebih cepat jika kita langsung menghabisinya saja daripada repot-repot menyegelnya?"

"Eh?"

Mendengar ucapan Liliera-san, aku memperhatikan Venom Beet itu baik-baik. Makhluk itu tampak lunglai dengan kaki yang bergetar sedikit karena kejang.

"Lho?"

Aneh ya, bukankah Venom Beet ini adalah individu spesial yang berevolusi secara unik?

Saat aku sedang memperhatikannya, kepala Venom Beet itu terkulai lemas, dan dia berhenti bergerak sama sekali dengan posisi kaki yang masih meringkuk.

"Kalau serangga mati memang jadinya seperti itu, kan?"

Ya, kalau dipikir-pikir, dia memang terlihat seperti serangga mati yang sering kulihat di pinggir jalan saat musim panas.

"Eeto, mungkinkah... dia benar-benar mati karena serangan tadi?"

Eeeehh!? Tunggu sebentar! Padahal tadi itu cuma serangan gertakan untuk mengunci gerakan dan racunnya lho!? Mana mungkin bisa dikalahkan semudah ini!?

Aku buru-buru menggunakan sihir deteksi pada Venom Beet, tapi aku sama sekali tidak merasakan hawa kehidupan dari tubuhnya.

"Eeeehhh!?"

A-Aku benar-benar sudah mengalahkannya!?



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close