Chapter 147
Selingan: Ksatria Sang Putri?
◆ Pembunuh ◆
(Jadi ini
kamar Putri Pertama.)
Aku menyusup
melalui jendela dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang
jelas-jelas merupakan kamar seorang bangsawan tinggi.
Aku adalah
anggota pasukan khusus dari Kerajaan Rebellio, negara yang berjarak satu
kerajaan dari Kerajaan Tion ini.
Atasan kami
melihat rentetan kekacauan yang terjadi di Kerajaan Tion belakangan ini sebagai
peluang emas, dan aku diperintahkan untuk menculik Putri Idra. Saat ini,
Kerajaan Tion sedang sibuk menangani dan membereskan berbagai kekacauan
sehingga mereka kekurangan sumber daya manusia.
Secara resmi,
mereka mengumumkan bahwa masalah telah diselesaikan dengan cepat dan tidak ada
kekacauan yang terjadi.
Namun
kenyataannya, serangan Naga dan Venom Viper, serta kudeta ksatria telah terjadi
di sini. Negara ini pasti sedang melemah.
Jika sang putri
diculik dalam kondisi seperti ini, reputasi internasional Kerajaan Tion akan
hancur lebur.
Lalu, jika negara
tetangga yang memiliki hubungan buruk dengan Tion mengambil kesempatan ini
untuk memulai perang invasi, pihak Tion pasti akan mengira bahwa penculiknya
adalah negara tetangga tersebut dan akan membalas dengan kekuatan penuh.
Dengan begitu,
negaraku cukup memperhatikan dari tempat yang aman sementara kedua negara itu
saling melemahkan satu sama lain. Setelah waktunya tepat, kami akan mendekati
Kerajaan Tion dan menawarkan kerja sama.
Maka, negara
tetangga itu akan terjepit di antara negaraku dan Kerajaan Tion.
Hasilnya,
negaraku bisa memenangkan perang melawan negara tetangga dengan kerugian
minimal.
Setelah itu, kami
akan mengadakan konferensi pembagian wilayah negara tetangga bersama Kerajaan
Tion.
Di sana, kami
akan menjelaskan bahwa kami telah menyelamatkan Putri Idra dari tangan
bangsawan negara tetangga tersebut.
Kerajaan Tion
pasti akan merasa berutang budi dan memberikan sebagian besar wilayah jarahan
kepada kami.
Benar-benar
rencana yang menguntungkan. Jika misi ini berhasil, sudah dipastikan aku akan
mendapatkan gelar bangsawan beserta tanah di negara tetangga tersebut. Semakin
berbahaya misinya, semakin besar pula imbalannya.
Aku
memeriksa isi ruangan dengan saksama. Berkat Magic Item penghilang hawa
keberadaan dan peredam suara yang diberikan oleh atasan, aku bisa sampai sejauh
ini.
Pengawal
yang seharusnya berada di kamar sebelah pun tidak menyadariku.
Namun,
jika ada pengawal yang bersembunyi di dalam kamar, efek Magic Item ini akan
menjadi sia-sia.
Tetapi,
hawa keberadaan yang kurasakan di dalam ruangan ini hanya satu, yaitu sang
putri yang sedang terlelap di tempat tidur. Tidak ada bayangan mencurigakan di
dalam...
(Hm?
Apa itu?)
Di atas
meja, aku melihat gumpalan bulu putih berbentuk bulat.
Sejenak
aku panik mengira itu hewan peliharaan sang putri, tapi jika dipikir kembali,
tidak mungkin ada makhluk hidup dengan bentuk sekonyol itu. Mungkin itu hanya
boneka.
Aku
mengabaikan boneka itu dan mendekati tempat tidur sang putri. Tugasnya
sederhana. Beri dia obat tidur dosis tinggi agar dia tidak terbangun dalam
kondisi apa pun.
Masukkan
ke dalam karung, bawa keluar lewat jendela, bergabung dengan rekan yang sudah
menunggu, lalu kabur menuju kediaman bangsawan faksi anti-raja Kerajaan Tion
yang sudah bekerja sama dengan kami.
Pada jam
segini, gerbang utama ibu kota sudah ditutup, jadi kami tidak bisa keluar.
Namun jika
menunggu sampai pagi, penculikan putri akan segera disadari.
Karena itu, kami
telah mengatur rencana untuk keluar melalui saluran air bawah tanah dengan
bantuan organisasi bawah tanah yang bersarang di ibu kota.
Setelah itu, kami
akan naik kereta kuda bangsawan yang sudah disiapkan di hutan terdekat dan
menyeberangi perbatasan. Maka kemenangan akan ada di tangan kami.
Hanya keluarga
kerajaan yang berhak menghentikan kereta kuda bangsawan, tapi sebelum mereka
menyadari penculikan ini, kereta kami sudah berada jauh.
Selain itu, kami
akan berganti kereta kuda di setiap kota agar kuda-kuda bisa dipacu dengan
kecepatan penuh terus-menerus.
Yah, kuda-kuda
yang dipacu tanpa henti itu pasti akan menjadi tidak berguna nantinya, tapi toh
negara ini akan hancur. Kehilangan beberapa ekor kuda bukanlah masalah.
Dan tepat saat
aku mendekati tempat tidur tempat sang putri tidur...
(!?)
Tiba-tiba sesuatu
menyentuh kakiku. Aku
buru-buru melompat mundur.
(Pengawal!?
Apa dia bersembunyi di bawah tempat tidur!?)
Aku
segera mencabut pisau beracun dan mencari sosok musuh.
(Tidak
ada!?)
Namun,
tidak ada sosok manusia di dekat sang putri.
(Di
mana... hm? Itu!?)
Di tempat
aku berdiri tadi, gumpalan bulu putih tampak terguling. Aku merasa tidak yakin
dan melihat ke arah meja, boneka yang seharusnya ada di sana sudah menghilang.
(Cih,
jadi begitu rupanya.)
Sepertinya
boneka di atas meja itu terjatuh dan menyentuh kakiku. Dengan bentuk bulat
seperti itu, wajar jika dia menggelinding sendiri karena suatu guncangan.
Karena
merasa malu karena dikagetkan oleh sebuah boneka, aku lalai memikirkan
guncangan macam apa yang bisa membuatnya menggelinding.
Aku tidak
menyadari bahwa itu adalah kesalahan fatal yang akan menentukan akhir hidupku.
(Sialan!)
Aku merasa ingin
menendang boneka itu sekuat tenaga, tapi jika aku melakukan itu dan menimbulkan
suara, semuanya akan sia-sia.
Agar tidak
diganggu lagi, aku menendang pelan boneka itu hingga menggelinding ke sudut
ruangan, lalu aku kembali ke sisi tempat tidur sang putri.
(Waktuku
terbuang percuma. Sebaiknya aku bergegas.)
Aku
mengeluarkan obat tidur dari balik baju. Tepat saat aku hendak mendekatkannya
ke wajah sang putri, sesuatu kembali mengenai kakiku. Dan kali ini, benda itu
jelas-jelas bergerak.
(!?!?!)
Kali ini
aku benar-benar panik mengira pengawal muncul dan melompat mundur. Saat itulah,
aku melihatnya. Sosok gumpalan bulu putih itu.
(Harusnya
tadi sudah kutendang!? Apa dia memantul di dinding lalu kembali ke sini!?)
Amarah
yang kuat meluap dalam diriku karena dikagetkan lagi oleh gumpalan bulu itu.
(Beraninya
membuatku malu seperti ini!)
Meskipun tidak
ada yang melihat, aku tidak mungkin tidak marah setelah memperlihatkan tingkah
memalukan seperti ini dua kali.
(Setelah aku
mencekoki putri ini dengan obat tidur, akan kurobek-robek boneka itu dengan
pisau!)
Sambil
memantapkan tekad, aku mencoba untuk bangkit berdiri, namun entah kenapa aku
kehilangan keseimbangan dan jatuh kembali. Terlebih lagi, rasa panas dan nyeri
tumpul menjalar dari kakiku.
(Apa...!?)
Saat aku melihat
ke arah kaki, aku menyadari bagian bawahku sudah basah kuyup oleh sesuatu.
Sensasi lengket yang licin... tidak salah lagi, ini adalah darah. Dan saat aku
menyentuh darah itu, rasa sakit menusuk ke dalam daging di baliknya.
(Ada apa? Apa
yang terjadi? Musuh... tidak ada. Tapi kenapa aku terluka!?)
Aku tidak
mengerti. Jika itu pengawal yang melindungi sang putri, dia seharusnya sudah
menampakkan diri dan menangkapku sejak tadi.
(Lalu kenapa
dia tidak muncul!?)
Siapa!? Di mana!?
Apa tujuannya!? Di tengah kecemasan yang memuncak karena pertanyaan yang tidak
terjawab, benda itu perlahan-lahan menampakkan dirinya di depanku.
(Jadi itu
kamu...!?)
Itu adalah boneka gumpalan bulu putih tadi. Namun, itu sama sekali bukan boneka.
Kaki-kaki
kecilnya bergerak, dan bola matanya jelas-jelas menatap tajam ke arahku. Benar,
benda ini adalah makhluk hidup.
(...!!)
Namun, yang
paling membuatku ketakutan adalah mulutnya. Sebab, mulut makhluk itu kini telah
berlumuran warna merah pekat oleh darahku.
"Hiieee!?"
Tanpa sadar aku
menjerit, lalu buru-buru membekap mulutku sendiri. Magic Item peredam suara ini
hanya efektif untuk menghilangkan suara langkah kaki. Jika aku berteriak keras,
semuanya berakhir.
Gawat, makhluk
ini benar-benar gawat! Aku tidak tahu dia itu apa, tapi berurusan lebih jauh
dengannya adalah ide yang sangat buruk!
Karena rasa sakit
di kaki membuatku tak bisa berdiri, aku mencoba merangkak untuk melarikan diri
darinya. Namun, dengan kecepatan yang mengejutkan, dia sudah berdiri menghadang
di depanku sambil menyunggingkan seringai.
Ya, dia
tersenyum.
"Kyufuu."
Dan mulut merah
pekat itu terbuka lebar.
"U-uwaaaaaaaaaaaaaakh!!"
◆ Meguri ◆
"Apa itu!?"
Tengah malam, tiba-tiba jeritan seorang pria menggema dari
kamar Tuan Putri Idra. Suara tadi bukan milik Rex, Jairo, ataupun Norb.
Jangan-jangan ada penyusup di saat-saat genting seperti
ini!?
Secara
refleks, aku menyambar belati di samping bantal dan menarik pintu yang
terhubung ke kamar Tuan Putri Idra.
"Idra-sama!!"
Karena
situasi darurat, aku langsung menerobos masuk tanpa izin. Di sana, kulihat
seorang pria tergeletak dengan mulut berbusa.
"Eh?"
Aku belum
melakukan apa-apa. Tapi pria itu sudah tumbang. Apa mungkin Idra-sama yang melakukannya? Begitu
pikirku, tapi Idra-sama masih tertidur pulas di tempat tidur, jadi sepertinya
bukan beliau.
"Apa yang
terjadi, Idra-sama!?"
Para pengawal pun
ikut menerobos masuk ke kamar Idra-sama. Mereka menerangi ruangan dengan lampu
dan menemukan pria yang terkapar tersebut.
"Ini
adalah!?"
Begitu menyadari
keberadaanku, mereka segera memberi hormat.
"Apakah
Megurielna-dono yang telah meringkus penyusup ini!?"
"Eh?
Ti-tidak, bu—!?"
Bukan, saat aku
hendak membantah, aku menyadari keberadaan sesuatu di atas meja dan
langsung terdiam. Di sana, terlihat sosok Mofumofu yang sedang memakan camilan
pemberian Idra-sama dengan mulut yang merah padam.
"...Jadi
begitu rupanya."
Setelah menyadari
segalanya, aku segera bergeser ke depan meja dengan hati-hati agar tidak ada
yang menyadari keberadaan Mofumofu.
Jika sampai
ketahuan bahwa di dalam kamar sang putri ada anak monster yang bisa melumpuhkan
penyusup sendirian, urusannya bakal panjang.
"Penyusup
sudah diringkus, tapi lantainya jadi kotor. Segera beritahu para pelayan untuk
membawa karpet pengganti ke sini."
"Siap!"
Setelah para
penjaga mengikat dan membawa pria itu pergi, aku menggendong Mofumofu untuk
membersihkannya.
"Kurasa,
setidaknya aku harus berterima kasih padamu."
"Kyuu?"
Sambil mengunyah
camilannya, Mofumofu memiringkan kepalanya seolah bertanya "Ada
apa?". Tunggu, memiringkan kepala... memangnya dia punya leher?
Nah, aku harus
membawa anak ini ke kamar sebelah sebelum para pelayan datang.
Sesaat sebelum
keluar ruangan, aku melirik ke arah Idra-sama yang masih saja terlelap tanpa
terbangun sedikit pun.
"Bisa tetap
tidur di tengah keributan begini, entah beliau ini punya mental baja atau
memang tidak punya insting bahaya..."
Ya sudah, mari kita anggap saja beliau bermental baja.
"Selamat tidur, Idra-sama."
◆
Keesokan harinya, aku dipuji oleh Baginda Raja dan Ibu
karena telah melindungi Idra-sama dari penyusup.
"Kerja bagus telah melindungi Idra, aku berterima kasih
padamu, Megurielna."
"I-itu... tidak..."
"Penyusup itu membawa banyak Magic Item berharga untuk
mengelabui mata para penjaga dan pasukan rahasia. Namun, kamu berhasil
melindungi Idra-sama dengan luar biasa... Kamu benar-benar sudah tumbuh besar,
ya."
Ibu mengelus
kepalaku dengan perasaan yang sangat terharu. Aku tidak menyangka ibuku sendiri
bisa menunjukkan emosi sedalam ini, sehingga aku merasa sedikit kikuk.
"Benar-benar,
kamu telah tumbuh menjadi anak yang membanggakan."
"Umu,
benar sekali..."
"I-iya..."
Hanya
saja, bertolak belakang dengan para orang dewasa yang merasa haru, hatiku
merasa sangat tidak tenang karena tidak bisa mengatakan bahwa sebenarnya bukan
aku yang melakukannya...



Post a Comment