NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 10

Chapter 147

Selingan: Ksatria Sang Putri?


Pembunuh

(Jadi ini kamar Putri Pertama.)

Aku menyusup melalui jendela dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang jelas-jelas merupakan kamar seorang bangsawan tinggi.

Aku adalah anggota pasukan khusus dari Kerajaan Rebellio, negara yang berjarak satu kerajaan dari Kerajaan Tion ini.

Atasan kami melihat rentetan kekacauan yang terjadi di Kerajaan Tion belakangan ini sebagai peluang emas, dan aku diperintahkan untuk menculik Putri Idra. Saat ini, Kerajaan Tion sedang sibuk menangani dan membereskan berbagai kekacauan sehingga mereka kekurangan sumber daya manusia.

Secara resmi, mereka mengumumkan bahwa masalah telah diselesaikan dengan cepat dan tidak ada kekacauan yang terjadi.

Namun kenyataannya, serangan Naga dan Venom Viper, serta kudeta ksatria telah terjadi di sini. Negara ini pasti sedang melemah.

Jika sang putri diculik dalam kondisi seperti ini, reputasi internasional Kerajaan Tion akan hancur lebur.

Lalu, jika negara tetangga yang memiliki hubungan buruk dengan Tion mengambil kesempatan ini untuk memulai perang invasi, pihak Tion pasti akan mengira bahwa penculiknya adalah negara tetangga tersebut dan akan membalas dengan kekuatan penuh.

Dengan begitu, negaraku cukup memperhatikan dari tempat yang aman sementara kedua negara itu saling melemahkan satu sama lain. Setelah waktunya tepat, kami akan mendekati Kerajaan Tion dan menawarkan kerja sama.

Maka, negara tetangga itu akan terjepit di antara negaraku dan Kerajaan Tion.

Hasilnya, negaraku bisa memenangkan perang melawan negara tetangga dengan kerugian minimal.

Setelah itu, kami akan mengadakan konferensi pembagian wilayah negara tetangga bersama Kerajaan Tion.

Di sana, kami akan menjelaskan bahwa kami telah menyelamatkan Putri Idra dari tangan bangsawan negara tetangga tersebut.

Kerajaan Tion pasti akan merasa berutang budi dan memberikan sebagian besar wilayah jarahan kepada kami.

Benar-benar rencana yang menguntungkan. Jika misi ini berhasil, sudah dipastikan aku akan mendapatkan gelar bangsawan beserta tanah di negara tetangga tersebut. Semakin berbahaya misinya, semakin besar pula imbalannya.

Aku memeriksa isi ruangan dengan saksama. Berkat Magic Item penghilang hawa keberadaan dan peredam suara yang diberikan oleh atasan, aku bisa sampai sejauh ini.

Pengawal yang seharusnya berada di kamar sebelah pun tidak menyadariku.

Namun, jika ada pengawal yang bersembunyi di dalam kamar, efek Magic Item ini akan menjadi sia-sia.

Tetapi, hawa keberadaan yang kurasakan di dalam ruangan ini hanya satu, yaitu sang putri yang sedang terlelap di tempat tidur. Tidak ada bayangan mencurigakan di dalam...

(Hm? Apa itu?)

Di atas meja, aku melihat gumpalan bulu putih berbentuk bulat.

Sejenak aku panik mengira itu hewan peliharaan sang putri, tapi jika dipikir kembali, tidak mungkin ada makhluk hidup dengan bentuk sekonyol itu. Mungkin itu hanya boneka.

Aku mengabaikan boneka itu dan mendekati tempat tidur sang putri. Tugasnya sederhana. Beri dia obat tidur dosis tinggi agar dia tidak terbangun dalam kondisi apa pun.

Masukkan ke dalam karung, bawa keluar lewat jendela, bergabung dengan rekan yang sudah menunggu, lalu kabur menuju kediaman bangsawan faksi anti-raja Kerajaan Tion yang sudah bekerja sama dengan kami.

Pada jam segini, gerbang utama ibu kota sudah ditutup, jadi kami tidak bisa keluar.

Namun jika menunggu sampai pagi, penculikan putri akan segera disadari.

Karena itu, kami telah mengatur rencana untuk keluar melalui saluran air bawah tanah dengan bantuan organisasi bawah tanah yang bersarang di ibu kota.

Setelah itu, kami akan naik kereta kuda bangsawan yang sudah disiapkan di hutan terdekat dan menyeberangi perbatasan. Maka kemenangan akan ada di tangan kami.

Hanya keluarga kerajaan yang berhak menghentikan kereta kuda bangsawan, tapi sebelum mereka menyadari penculikan ini, kereta kami sudah berada jauh.

Selain itu, kami akan berganti kereta kuda di setiap kota agar kuda-kuda bisa dipacu dengan kecepatan penuh terus-menerus.

Yah, kuda-kuda yang dipacu tanpa henti itu pasti akan menjadi tidak berguna nantinya, tapi toh negara ini akan hancur. Kehilangan beberapa ekor kuda bukanlah masalah.

Dan tepat saat aku mendekati tempat tidur tempat sang putri tidur...

(!?)

Tiba-tiba sesuatu menyentuh kakiku. Aku buru-buru melompat mundur.

(Pengawal!? Apa dia bersembunyi di bawah tempat tidur!?)

Aku segera mencabut pisau beracun dan mencari sosok musuh.

(Tidak ada!?)

Namun, tidak ada sosok manusia di dekat sang putri.

(Di mana... hm? Itu!?)

Di tempat aku berdiri tadi, gumpalan bulu putih tampak terguling. Aku merasa tidak yakin dan melihat ke arah meja, boneka yang seharusnya ada di sana sudah menghilang.

(Cih, jadi begitu rupanya.)

Sepertinya boneka di atas meja itu terjatuh dan menyentuh kakiku. Dengan bentuk bulat seperti itu, wajar jika dia menggelinding sendiri karena suatu guncangan.

Karena merasa malu karena dikagetkan oleh sebuah boneka, aku lalai memikirkan guncangan macam apa yang bisa membuatnya menggelinding.

Aku tidak menyadari bahwa itu adalah kesalahan fatal yang akan menentukan akhir hidupku.

(Sialan!)

Aku merasa ingin menendang boneka itu sekuat tenaga, tapi jika aku melakukan itu dan menimbulkan suara, semuanya akan sia-sia.

Agar tidak diganggu lagi, aku menendang pelan boneka itu hingga menggelinding ke sudut ruangan, lalu aku kembali ke sisi tempat tidur sang putri.

(Waktuku terbuang percuma. Sebaiknya aku bergegas.)

Aku mengeluarkan obat tidur dari balik baju. Tepat saat aku hendak mendekatkannya ke wajah sang putri, sesuatu kembali mengenai kakiku. Dan kali ini, benda itu jelas-jelas bergerak.

(!?!?!)

Kali ini aku benar-benar panik mengira pengawal muncul dan melompat mundur. Saat itulah, aku melihatnya. Sosok gumpalan bulu putih itu.

(Harusnya tadi sudah kutendang!? Apa dia memantul di dinding lalu kembali ke sini!?)

Amarah yang kuat meluap dalam diriku karena dikagetkan lagi oleh gumpalan bulu itu.

(Beraninya membuatku malu seperti ini!)

Meskipun tidak ada yang melihat, aku tidak mungkin tidak marah setelah memperlihatkan tingkah memalukan seperti ini dua kali.

(Setelah aku mencekoki putri ini dengan obat tidur, akan kurobek-robek boneka itu dengan pisau!)

Sambil memantapkan tekad, aku mencoba untuk bangkit berdiri, namun entah kenapa aku kehilangan keseimbangan dan jatuh kembali. Terlebih lagi, rasa panas dan nyeri tumpul menjalar dari kakiku.

(Apa...!?)

Saat aku melihat ke arah kaki, aku menyadari bagian bawahku sudah basah kuyup oleh sesuatu. Sensasi lengket yang licin... tidak salah lagi, ini adalah darah. Dan saat aku menyentuh darah itu, rasa sakit menusuk ke dalam daging di baliknya.

(Ada apa? Apa yang terjadi? Musuh... tidak ada. Tapi kenapa aku terluka!?)

Aku tidak mengerti. Jika itu pengawal yang melindungi sang putri, dia seharusnya sudah menampakkan diri dan menangkapku sejak tadi.

(Lalu kenapa dia tidak muncul!?)

Siapa!? Di mana!? Apa tujuannya!? Di tengah kecemasan yang memuncak karena pertanyaan yang tidak terjawab, benda itu perlahan-lahan menampakkan dirinya di depanku.

(Jadi itu kamu...!?)

Itu adalah boneka gumpalan bulu putih tadi. Namun, itu sama sekali bukan boneka.




Kaki-kaki kecilnya bergerak, dan bola matanya jelas-jelas menatap tajam ke arahku. Benar, benda ini adalah makhluk hidup.

(...!!)

Namun, yang paling membuatku ketakutan adalah mulutnya. Sebab, mulut makhluk itu kini telah berlumuran warna merah pekat oleh darahku.

"Hiieee!?"

Tanpa sadar aku menjerit, lalu buru-buru membekap mulutku sendiri. Magic Item peredam suara ini hanya efektif untuk menghilangkan suara langkah kaki. Jika aku berteriak keras, semuanya berakhir.

Gawat, makhluk ini benar-benar gawat! Aku tidak tahu dia itu apa, tapi berurusan lebih jauh dengannya adalah ide yang sangat buruk!

Karena rasa sakit di kaki membuatku tak bisa berdiri, aku mencoba merangkak untuk melarikan diri darinya. Namun, dengan kecepatan yang mengejutkan, dia sudah berdiri menghadang di depanku sambil menyunggingkan seringai.

Ya, dia tersenyum.

"Kyufuu."

Dan mulut merah pekat itu terbuka lebar.

"U-uwaaaaaaaaaaaaaakh!!"


Meguri

"Apa itu!?"

Tengah malam, tiba-tiba jeritan seorang pria menggema dari kamar Tuan Putri Idra. Suara tadi bukan milik Rex, Jairo, ataupun Norb.

Jangan-jangan ada penyusup di saat-saat genting seperti ini!?

Secara refleks, aku menyambar belati di samping bantal dan menarik pintu yang terhubung ke kamar Tuan Putri Idra.

"Idra-sama!!"

Karena situasi darurat, aku langsung menerobos masuk tanpa izin. Di sana, kulihat seorang pria tergeletak dengan mulut berbusa.

"Eh?"

Aku belum melakukan apa-apa. Tapi pria itu sudah tumbang. Apa mungkin Idra-sama yang melakukannya? Begitu pikirku, tapi Idra-sama masih tertidur pulas di tempat tidur, jadi sepertinya bukan beliau.

"Apa yang terjadi, Idra-sama!?"

Para pengawal pun ikut menerobos masuk ke kamar Idra-sama. Mereka menerangi ruangan dengan lampu dan menemukan pria yang terkapar tersebut.

"Ini adalah!?"

Begitu menyadari keberadaanku, mereka segera memberi hormat.

"Apakah Megurielna-dono yang telah meringkus penyusup ini!?"

"Eh? Ti-tidak, bu—!?"

Bukan, saat aku hendak membantah, aku menyadari keberadaan sesuatu di atas meja dan langsung terdiam. Di sana, terlihat sosok Mofumofu yang sedang memakan camilan pemberian Idra-sama dengan mulut yang merah padam.

"...Jadi begitu rupanya."

Setelah menyadari segalanya, aku segera bergeser ke depan meja dengan hati-hati agar tidak ada yang menyadari keberadaan Mofumofu.

Jika sampai ketahuan bahwa di dalam kamar sang putri ada anak monster yang bisa melumpuhkan penyusup sendirian, urusannya bakal panjang.

"Penyusup sudah diringkus, tapi lantainya jadi kotor. Segera beritahu para pelayan untuk membawa karpet pengganti ke sini."

"Siap!"

Setelah para penjaga mengikat dan membawa pria itu pergi, aku menggendong Mofumofu untuk membersihkannya.

"Kurasa, setidaknya aku harus berterima kasih padamu."

"Kyuu?"

Sambil mengunyah camilannya, Mofumofu memiringkan kepalanya seolah bertanya "Ada apa?". Tunggu, memiringkan kepala... memangnya dia punya leher?

Nah, aku harus membawa anak ini ke kamar sebelah sebelum para pelayan datang.

Sesaat sebelum keluar ruangan, aku melirik ke arah Idra-sama yang masih saja terlelap tanpa terbangun sedikit pun.

"Bisa tetap tidur di tengah keributan begini, entah beliau ini punya mental baja atau memang tidak punya insting bahaya..."

Ya sudah, mari kita anggap saja beliau bermental baja.

"Selamat tidur, Idra-sama."

Keesokan harinya, aku dipuji oleh Baginda Raja dan Ibu karena telah melindungi Idra-sama dari penyusup.

"Kerja bagus telah melindungi Idra, aku berterima kasih padamu, Megurielna."

"I-itu... tidak..."

"Penyusup itu membawa banyak Magic Item berharga untuk mengelabui mata para penjaga dan pasukan rahasia. Namun, kamu berhasil melindungi Idra-sama dengan luar biasa... Kamu benar-benar sudah tumbuh besar, ya."

Ibu mengelus kepalaku dengan perasaan yang sangat terharu. Aku tidak menyangka ibuku sendiri bisa menunjukkan emosi sedalam ini, sehingga aku merasa sedikit kikuk.

"Benar-benar, kamu telah tumbuh menjadi anak yang membanggakan."

"Umu, benar sekali..."

"I-iya..."

Hanya saja, bertolak belakang dengan para orang dewasa yang merasa haru, hatiku merasa sangat tidak tenang karena tidak bisa mengatakan bahwa sebenarnya bukan aku yang melakukannya...



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close