NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 9 Chapter 19

Chapter 179

Kejayaan Aug


Aug

"Aku kembali."

Setelah entah bagaimana caranya berhasil memukul mundur gerombolan besar Orc, aku mendatangi ruang kerja Tuan Feodal untuk memberikan laporan.

Padahal urusan pembersihan bangkai Orc yang berserakan di luar kota saja belum selesai, tapi aku sudah harus melapor juga. Jadi manajemen itu benar-benar merepotkan, ya.

Meski rasanya sangat malas, tetap saja aku sebagai orang dengan kedudukan tertinggi di antara mereka yang terlibat tidak punya pilihan selain melapor.

Aduh, aduh. Aku tidak menyangka menjadi ksatria bakal semerepotkan ini. Kupikir ini pekerjaan yang lebih santai.

"Oh, kau sudah kemba—"

Begitu aku memasuki ruang kerja, Tuan Feodal dan Nona Selia menyambutku dengan senyuman dan—

"Tuan Ouuuggggg!!"

"O-oops!?"

Belum sempat aku memberi salam pada Tuan Feodal, Nona Selia sudah menerjang masuk ke pelukanku.

"Syukurlah! Benar-benar syukurlah Aug-sama selamat!"

Nona Selia merayakan kepulanganku dengan wajah cantiknya yang sembap karena tangisan.

Ah, yah, disambut oleh gadis cantik yang mengkhawatirkanku begini rasanya tidak buruk juga.

Tapi aku bingung. Di saat seperti ini, ksatria yang baik seharusnya meminjamkan sapu tangan kepada sang nona, tapi sayangnya aku tidak punya barang berkelas seperti itu.

Bagaimanapun juga, aku ini kan rakyat jelata...

(Aug-sama, silakan pakai ini untuk menyeka air mata Nona.)

(Uwoh!? Te-terima kasih.)

Saat aku sedang kebingungan, Tuan John menyelipkan sebuah sapu tangan ke tanganku sambil membisikkan saran tepat di telingaku.

Tapi serius, dia membuatku kaget setengah mati. Bisa tidak sih berhenti mendekat tanpa suara begitu?

Bagaimanapun, sesuai saran Tuan John, aku menyeka air mata Nona Selia dengan lembut dan memberikan senyuman padanya.

"Nona, lihat, aku masih segar bugar seperti ini!"

Sambil berkata begitu, aku memamerkan otot lenganku untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja.

...Aku sudah memasang senyum yang tampak menyegarkan, kan?

"Aug-sama..."

Syukurlah, Nona Selia akhirnya tersenyum. Soalnya, membiarkan gadis semanis ini menangis terus-menerus bakal membuat rasa bersalahku menumpuk luar biasa.

"Ehem! Eheeem!! Bagus sekali kau bisa kembali dengan selamat, Ksatria Aug."

Saat aku sedang asyik sendiri, suara dehaman Tuan Feodal menggema di dalam ruangan.

Gawat! Aku lupa ada Tuan Feodal di sini!

"Ah, ha-hadir!"

Aku langsung menegakkan postur tubuhku dan mencoba melepaskan Nona Selia... melepaskan... tidak mau lepas... Karena tidak ada pilihan lain, aku berbalik menghadap Tuan Feodal dengan Nona Selia yang masih memelukku erat.

Ugh, canggung sekali... Perasaanku saja atau tatapan Tuan Feodal terasa tajam dan menusuk... Ya, ini bukan sekadar perasaanku.

"...A-ah, berkat dirimu, kota ini terselamatkan dan wilayah ini terhindar dari bencana besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai penguasa wilayah, kata-kata saja tidak cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasihku kepadamu."

"Ti-tidak, itu bukan apa-apa."

Aku mencoba melanjutkan percakapan, tapi karena Nona Selia masih menempel padaku, rasa canggung ini tidak kunjung hilang. Hebat juga Tuan Feodal bisa tetap bicara dalam situasi begini.

"Tapi yah, dengan ini tidak akan ada lagi orang yang meragukan kemampuanmu."

Tuan Feodal tiba-tiba mengatakan sesuatu yang aneh.

"Eh? Apa maksudnya itu?"

"Ksatria Aug, kau adalah pria yang kompeten. Karena kau mantan petualang peringkat A, kau tidak hanya hebat dalam ilmu pedang tapi juga paham betul tentang seluk-beluk dunia. Oleh karena itu, kepercayaan rakyat padamu sangatlah dalam. Aku bahkan merasa kau jauh lebih bisa diandalkan daripada anak-anak bangsawan yang tidak becus."

"Hahaha, Tuan. Anda terlalu berlebihan memuji saya."

Hahaha, Tuan Feodal ini berlebihan sekali mengangkatku, ya?

Yah, memang benar sih kalau aku ini pria yang bisa diandalkan!

"Bukan itu saja. Saat menjalankan misi pengintaian, kau membiarkan bawahanmu melarikan diri demi membawa informasi tanpa memedulikan keselamatan nyawamu sendiri. Tak hanya itu, kau bahkan berhasil menumbangkan monster Orc raksasa yang tergeletak di luar kota. Itu adalah pencapaian yang sangat layak disebut sebagai pahlawan!"

"I-itu... Aduh, saya jadi malu kalau dipuji setinggi itu."

Dipuji sebanyak itu memang rasanya enak, tapi sejujurnya, menumbangkan para monster Orc itu bukan cuma hasil usahaku sendiri, jadi aku merasa agak tidak enak hati...

Ya, lebih baik aku meluruskan ini sekarang... Firasatku bilang kalau dibiarkan terus begini, sesuatu yang gawat bakal terjadi.

Insting mantan petualang peringkat A-ku berbisik demikian.

"Tuanku, mengalahkan para monster Orc itu bukan hanya berkat usaha saya sendiri."

"Aku tahu, aku tahu itu, Ksatria Aug," ujar Tuan Feodal sambil memberi isyarat tangan agar aku berhenti bicara.

"Kau ingin bilang kalau kau tidak bisa menerima semua pujian itu sendirian, kan? Aku mengerti. Mereka yang bertarung bersamamu juga akan dievaluasi secara adil dan diberikan hadiah. Karena mereka telah bertarung dengan kesiapan untuk membuang nyawa demi kota ini dan demi rakyat."

Ooh! Seperti yang diharapkan dari Tuan Feodal! Dia benar-benar mengerti apa yang ingin kukatakan!

"Karena itulah, ini luar biasa! Sikap rendah hati itu benar-benar mencerminkan ksatria sejati! Aku akan menilai secara adil hatimu yang tetap tulus dan tidak sombong meski memiliki kekuatan yang luar biasa!"

Gawatttttt! Sama sekali tidak tersampaikannnnnn!

Padahal justru bagian itu yang paling ingin kusampaikan!!

Ti-tidak bisa dibiarkan... Insting mantan petualang peringkat A-ku memberikan peringatan keras dengan kecepatan luar biasa bahwa ini berbahaya.

Misalnya, kalau aku disalahpahami sebagai pahlawan yang luar biasa hebat, lalu ada masalah merepotkan yang muncul, semuanya bakal dilimpahkan padaku! Itu firasatku!

Celakanya, firasat buruk seperti ini biasanya selalu jadi kenyataan!

Berkat insting inilah aku bisa bertahan hidup sampai hari ini!

"Bukan, bukan, sungguh, ini berbeda! Saya bisa mengalahkan Orc raksasa itu karena peralatan ini! Sebenarnya, saya berbohong pada bawahan saya kalau ini adalah alat sihir yang ditemukan di dungeon, padahal sebenarnya ini adalah peralatan baru buatan sang maestro, Goldov! Berkat benda inilah saya bisa bertarung secara seimbang!"

Bagus, aku mengatakannya! Sudah kusampaikan dengan jelas!

Mungkin reputasiku akan turun kalau orang tahu aku menang berkat peralatan, tapi karena aku sudah telanjur jadi ksatria, aku ingin menjalani hidup yang santai dan nyaman!

Aku sama sekali tidak mau dinilai terlalu tinggi lalu dipaksa mengurus tumpukan kasus berbahaya seumur hidup!

"""Berkat peralatan...?"""

Mendengar pengakuanku, bukan hanya Tuan Feodal, tapi Nona Selia dan Tuan John juga membelalakkan mata.

Yah, wajar saja sih. Siapa pun pasti kecewa kalau diberi tahu kalau kekuatanku sebenarnya berasal dari peralatan.

Ta-tapi tidak apa-apa. Bagaimanapun juga, fakta kalau aku bisa jadi petualang peringkat A adalah hasil kemampuanku sendiri, jadi kurasa aku tidak akan dipecat hanya karena alasan ini.

Saat aku sudah membulatkan tekad...

"""Hahahahahaha!"""

Entah kenapa, Tuan Feodal dan yang lainnya malah tertawa geli.

"Eh? Anu?"

"Hahahaha, Ksatria Aug ternyata pintar bercanda juga ya. Aku tidak menyangka kau akan menggunakan alasan seperti itu."

"Eh?"

"Benar sekali. Mana mungkin aku bisa tertipu bahwa kau mengalahkan Orc yang mengerikan itu hanya karena senjata, seberapa pun kurang pengalamannya aku tentang dunia luar."

"Eh? Eh?"

Ti-tidak, ini serius lho.

"Haha, benar sekali. Kalau kau bilang itu pedang suci legendaris atau pedang iblis yang ditemukan di dasar labirin, mungkin aku masih bisa paham. Tapi kalau kau bilang menang berkat pedang buatan pandai besi biasa, meskipun dia ahli, itu terdengar seperti lelucon."

""Ya, benar.""

...Ah, ya, benar juga.

Kalau dipikir-pikir, memang begitu. Aku pun tidak akan percaya kalau ada orang yang bilang hal yang sama padaku.

Ya, aku yang salah caraku menjelaskannyaaaaaa!!

"Haha, kau benar-benar membuatku tertawa. Baiklah, mari kita kembali ke topik utama."

Tuan Feodal, yang sepenuhnya menganggap penjelasanku sebagai lelucon, berdiri perlahan dari kursinya dan berjalan ke hadapanku.

"Terlepas dari apa pun perasaanmu, apa yang telah kau capai adalah pencapaian seorang pahlawan. Orang-orang di sekitar pasti akan berpikir demikian. Oleh karena itu, sebagai penguasa, aku harus menilaimu secara adil agar kau tidak direbut oleh orang lain."

"Direbut? Saya?"

Eh? Apa? Apa maksudnya? Apa aku akan diculik seperti seorang putri?

"Jika kejadian ini menyebar ke publik—dan pastinya akan menyebar, karena mulut orang tidak bisa dibendung, apalagi jika itu adalah kisah kepahlawanan. Orang-orang akan dengan senang hati menyebarkan aksi hebatmu ke seluruh dunia."

Jangan disebarkannnnnn! Tolong berhenti, seriusan!!

"Dan jika namamu sudah dikenal luas, banyak orang berkuasa yang akan mencoba menggodamu untuk menjadi bawahan mereka."

"Tidak, tidak, tidak mungkin sampai begitu..."

"Itu akan terjadi. Aku sebagai bangsawan menjaminnya."

Tuan Feodal menegaskan hal itu sambil menatapku dengan mata penuh keyakinan.

"Tentu saja aku akan membalas jasa-jasamu dengan menjanjikan kemajuan karier yang lebih tinggi lagi. Sebuah jabatan di mana kau bisa mengerahkan kemampuanmu. ...Tapi, itu saja tidak cukup."

"Tidak cukup... maksud Anda?"

Dia sudah menilaiku tinggi dan memberiku jabatan, lalu apa lagi yang mau dia berikan padaku...?

Jujur saja, itu saja sudah lebih dari cukup menurutku.

"Ksatria Aug, yang kurang darimu adalah otoritas. Atau bisa dikatakan, garis keturunan."

"Otoritas? Garis keturunan?"

"Kau telah dikenal sebagai pahlawan. Yang kau butuhkan sekarang adalah darah bangsawan. Namun kau adalah rakyat jelata, darahmu tidak memiliki nilai seperti seorang bangsawan. Lalu, apa yang harus dilakukan? Mudah saja. Campurkan darah bangsawan ke dalam keturunanmu."

"Darah bangsawan ke keturunan saya!?"

Eh? Eh? Eh? Apa maksudnya itu!?

"Artinya, jika kau menjadikan wanita bangsawan sebagai istrimu, maka anak-anakmu akan diakui sebagai anggota kaum bangsawan."

"Sa-saya menikah dengan bangsawaaaaannn!?"

Mendengar pernyataan luar biasa dari Tuan Feodal, aku berteriak karena terkejut.

Tidak, tidak, tidak mungkin aku menikah dengan wanita bangsawan! Aku kan rakyat jelata!

"Tentu saja pasangannya tidak boleh sembarang orang. Agar kau bisa mengabdi padaku selamanya, wanita yang menjadi istrimu haruslah anggota keluargaku sendiri. Dan untuk pasangan yang sepadan dengan pahlawan sepertimu, aku tidak bisa menyerahkannya pada keluarga cabang tingkat bawah. Ya, tidak bisa!"

Di sana, Tuanku mengepalkan tangannya dengan wajah yang tampak rumit.

"Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menjadikan putri dari keluarga utama sebagai tunanganmu!"

"Pu-putri dari keluarga utama!?"

"Ayah, apakah itu berarti...!?"

Mendengar kata-kata Tuan Feodal, Nona Selia bereaksi keras.

"Selia. Sebagai bangsawan, aku harus mengikat bawahan yang kompeten di tanah ini. Untuk itu, tugas seorang kepala keluarga adalah memanfaatkan bahkan putri tercintanya sekalipun. Bisakah kau memaafkan aku yang mengambil keputusan kejam ini?"

Dengan ekspresi serius, Tuan Feodal bertanya. Nona Selia melepaskan pelukannya dariku dan menatap Tuan Feodal.

"Tentu saja! Demi keluarga, saya siap mengabdikan diri sebagai anggota bangsawan!"

Nona Selia mengucapkan kata-kata yang penuh tekad tragis... tapi, tunggu dulu... kenapa Nona bisa mengeluarkan suara seserius itu sambil memasang senyum selebar itu?

Maksudku, alur ini jangan-jangan... Tidak, tidak mungkin sejauh itu... kan?

"Tapi kalau begitu, bagaimana dengan masalah penerus?"

Nona Selia bertanya dengan wajah cemas, tapi Tuan Feodal menyatakan bahwa itu bukan masalah.

"Mengenai hal itu, kau tidak perlu khawatir. Sebenarnya... sepertinya kau akan segera memiliki adik."

Wajah Tuan Feodal memerah saat dia memasang ekspresi malu-malu.

Aduh, aku tidak mau melihat wajah malu-malu bapak-bapak, tahu.

"Astaga! Apakah itu benar!?"

Tapi Nona Selia tidak terganggu sedikit pun dengan tingkah Tuan Feodal dan malah berseru gembira.

"Anu, apa maksudnya punya adik?"

"Istri Tuan Feodal memiliki tubuh yang lemah, jadi beliau sedang beristirahat di kediaman ibu kota. Dan karena Tuanku sangat mencintai istrinya, beliau rutin pergi ke ibu kota. Jadi, begitulah maksudnya."

"Be-begitu ya."

Setelah menerima penjelasan Tuan John di telingaku, aku akhirnya memahami situasi keluarga Baronet ini.

Intinya, hubungan suami istri mereka sangat harmonis!

...Tapi, bisa tidak sih berhenti berbisik-bisik di telingaku, Tuan John!?

"Karena itulah... Selia! Ayah sudah menyerah pada banyak hal! Jadi lakukanlah sesukamu! Tapi karena kekuatanmu sangat penting, jangan tinggalkan wilayah ini! Aku juga akan membohongi diriku sendiri bahwa keinginanmu itu demi keuntungan wilayah!"

Entah kenapa, aku merasa ada nada kepasrahan dalam setiap kata-kata Tuan Feodal...

"Terima kasih, Ayah! Karena aku akan bahagia bersama Aug-sama, aku ingin rumah tempat kami tinggal berdua! Aku tidak akan pernah membiarkan Aug-sama kabur dari wilayah ini!"

"Umu! Kau bisa diandalkan, Selia!"

"Anu, ehem, maksudnya bagaimana ya?"

Karena namaku disebut-sebut, dugaan yang kupikir mustahil tadi mulai terasa nyata.

Tidak, tidak, tidak, aku ini kan bapak-bapak yang sudah berumur!? Tidak mungkin begitu, kan? Iya kan!?

"Selamat, Aug-sama."

"U-untuk apa!?"

Tuan John mengucapkan selamat sambil menggosok-gosokkan tangannya. Kenapa orang ini juga ikut-ikutan pasang senyum lebar!?

"Hahaha, tentu saja untuk peresmian pertunangan Anda dengan Nona Selia."

"Ah, begitu ya, pertunangan aku dengan Nona Seli... pertunangannnnnn!?"

Jadi ini seriusan!?

"Jika Nyonya memiliki anak, maka Nona tidak perlu lagi menjadi anak tunggal yang harus meneruskan keluarga utama. Dan mengingat situasi Nona, daripada menikahkannya dengan bangsawan lain, akan lebih menguntungkan bagi Tuanku jika beliau menikah dengan bawahan sendiri."

"Situasi apa itu!?"

Tuan Feodal juga tadi bilang begitu, situasi apa sih!?

Apa situasinya segawat itu sampai-sampai harus menikahkan putri berharga mereka dengan bapak-bapak sepertiku!?

"Aug-sama."

"Eh? Ah, iya. Ada apa, Nona?"

Nona Selia menatapku dengan wajah memerah dan malu-malu.

Ini... dia tidak terlihat keberatan... kan?

"Saya masih kurang berpengalaman... mohon bimbingannya ya, Aug-sama!"

"Aku titip putriku padamu, Aug-kun."

Di saat yang sama, Tuan Feodal menepuk bahuku dengan kuat sambil tersenyum, menitipkan putrinya padaku.

Maaf, tapi bahu saya sakit sekali, Tuan...

"Ya... dengan senang hati..."

Begitulah, tanpa aku sadari sepenuhnya, aku akhirnya bertunangan dengan Nona Selia.

...Bagaimana bisa jadi begini!?


Baron Grimoire

Pertunangan antara putriku, Selia, dan Ksatria Aug telah diputuskan. Lebih tepatnya, aku yang memutuskannya.

Tentu saja muncul pendapat keberatan dari sebagian bawahan, tapi aku mengabaikannya dan terus melaju.

Bagi mereka yang masih protes, aku hanya perlu bertanya apakah mereka sanggup mengalahkan monster Orc yang sekarang sedang dimutilasi di luar kota itu sendirian, dan mereka langsung bungkam.

Bagi mereka yang hanya ingin menikahkan putra mereka dengan Selia, pertunangan dengan Ksatria Aug ini pastilah sangat menyusahkan.

Ini adalah kisah konspirasi klasik di mana keluarga cabang atau bangsawan lain ingin merebut kekuasaan penguasa wilayah yang hanya memiliki anak perempuan.

Apalagi keluarga Baronet Grimoire ini kekuatannya meningkat pesat dalam waktu singkat berkat kekuatan ramalan Selia. Para kepala keluarga bangsawan lain pasti ingin tahu alasan di balik pertumbuhan pesat ini.

Yah, mereka pasti tidak menyangka kalau Selia, yang mereka anggap sebagai sarana untuk menyusup ke keluarga ini, sebenarnya adalah rahasia keluarga itu sendiri.

Untungnya, istriku sedang mengandung anak kedua, jadi masalah penerus sudah ada titik terangnya.

Meski begitu, jika posisi tunangan Selia tetap kosong, orang-orang berniat jahat mungkin akan memaksa masuk dan mencoba merebut posisi penguasa dari anak yang akan lahir nanti.

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk memilih pria yang jauh dari ambisi semacam itu sebagai pasangan Selia.

Beruntung, kandidatnya sudah ada di genggamanku, dan Selia sendiri menyukai pria itu. Sebagai seorang ayah, aku harus bilang kalau aku sangat beruntung.

"Dulu aku merekrutnya sebagai bentuk kompromi setelah kehilangan sosok hebat yang menumbangkan naga... tapi aku tidak menyangka dia akan sehebat ini."

Benar-benar barang temuan yang tidak terduga.

Memang benar ada orang-orang dengan kemampuan tersembunyi seperti dia.

"Putri dengan kekuatan ramalan yang hebat dan pahlawan yang menyelamatkan kota... apakah mereka akan menjadi berkah bagi wilayahku, atau malah menjadi sumber kekacauan... yang mana ya?"

Mungkin keputusanku ini akan memicu kekacauan lebih lanjut di wilayah ini.

Namun, lebih dari itu, berbagai insiden yang terjadi di dalam dan luar negeri selama beberapa tahun terakhir ini terasa seperti pertanda akan datangnya bencana besar.

"Demi melindungi wilayah ini, aku harus mengumpulkan banyak orang hebat..."

Itulah tugasku sebagai penguasa.

"Tapi ya ampun... putriku akan menikah, ya..."

Ugh, bagaimana aku menjelaskannya pada istriku nanti? "Demi kedamaian wilayah, aku menjadikan putri kita tunangan bawahanku yang sudah berumur"?

Memang benar begitu sih, tapi Selia juga menerimanya dengan senang hati...

"Tidak bisa! Sebelum aku sempat menjelaskan dengan benar, tinju istriku pasti sudah melayang! Uwooooh! Bagaimana cara menyampaikannya agar tetap tenang!?"

Sebagai penguasa, tidak, sebagai seorang ayah, masalah besarku baru saja dimulai...



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close