Chapter 179
Kejayaan Aug
◆ Aug ◆
"Aku
kembali."
Setelah
entah bagaimana caranya berhasil memukul mundur gerombolan besar Orc, aku
mendatangi ruang kerja Tuan Feodal untuk memberikan laporan.
Padahal
urusan pembersihan bangkai Orc yang berserakan di luar kota saja belum selesai,
tapi aku sudah harus melapor juga. Jadi manajemen itu benar-benar merepotkan,
ya.
Meski
rasanya sangat malas, tetap saja aku sebagai orang dengan kedudukan tertinggi
di antara mereka yang terlibat tidak punya pilihan selain melapor.
Aduh,
aduh. Aku tidak menyangka menjadi ksatria bakal semerepotkan ini. Kupikir ini
pekerjaan yang lebih santai.
"Oh,
kau sudah kemba—"
Begitu
aku memasuki ruang kerja, Tuan Feodal dan Nona Selia menyambutku dengan
senyuman dan—
"Tuan
Ouuuggggg!!"
"O-oops!?"
Belum
sempat aku memberi salam pada Tuan Feodal, Nona Selia sudah menerjang masuk ke
pelukanku.
"Syukurlah!
Benar-benar syukurlah Aug-sama selamat!"
Nona Selia
merayakan kepulanganku dengan wajah cantiknya yang sembap karena tangisan.
Ah, yah,
disambut oleh gadis cantik yang mengkhawatirkanku begini rasanya tidak buruk
juga.
Tapi aku
bingung. Di saat seperti ini, ksatria yang baik seharusnya meminjamkan sapu
tangan kepada sang nona, tapi sayangnya aku tidak punya barang berkelas seperti
itu.
Bagaimanapun
juga, aku ini kan rakyat jelata...
(Aug-sama,
silakan pakai ini untuk menyeka air mata Nona.)
(Uwoh!?
Te-terima kasih.)
Saat aku sedang
kebingungan, Tuan John menyelipkan sebuah sapu tangan ke tanganku sambil
membisikkan saran tepat di telingaku.
Tapi
serius, dia membuatku kaget setengah mati. Bisa tidak sih berhenti mendekat
tanpa suara begitu?
Bagaimanapun,
sesuai saran Tuan John, aku menyeka air mata Nona Selia dengan lembut dan
memberikan senyuman padanya.
"Nona,
lihat, aku masih segar bugar seperti ini!"
Sambil
berkata begitu, aku memamerkan otot lenganku untuk menunjukkan bahwa aku
baik-baik saja.
...Aku
sudah memasang senyum yang tampak menyegarkan, kan?
"Aug-sama..."
Syukurlah, Nona Selia
akhirnya tersenyum. Soalnya, membiarkan gadis semanis ini menangis
terus-menerus bakal membuat rasa bersalahku menumpuk luar biasa.
"Ehem!
Eheeem!! Bagus sekali kau bisa kembali dengan selamat, Ksatria Aug."
Saat aku sedang
asyik sendiri, suara dehaman Tuan Feodal menggema di dalam ruangan.
Gawat! Aku lupa
ada Tuan Feodal di sini!
"Ah,
ha-hadir!"
Aku langsung
menegakkan postur tubuhku dan mencoba melepaskan Nona Selia... melepaskan...
tidak mau lepas... Karena tidak ada pilihan lain, aku berbalik menghadap Tuan
Feodal dengan Nona Selia yang masih memelukku erat.
Ugh, canggung
sekali... Perasaanku saja atau tatapan Tuan Feodal terasa tajam dan menusuk... Ya,
ini bukan sekadar perasaanku.
"...A-ah, berkat dirimu, kota ini terselamatkan dan
wilayah ini terhindar dari bencana besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebagai penguasa wilayah, kata-kata saja tidak cukup untuk mengungkapkan rasa
terima kasihku kepadamu."
"Ti-tidak, itu bukan apa-apa."
Aku mencoba melanjutkan percakapan, tapi karena Nona Selia
masih menempel padaku, rasa canggung ini tidak kunjung hilang. Hebat juga Tuan
Feodal bisa tetap bicara dalam situasi begini.
"Tapi yah, dengan ini tidak akan ada lagi orang yang
meragukan kemampuanmu."
Tuan Feodal tiba-tiba mengatakan sesuatu yang aneh.
"Eh? Apa maksudnya itu?"
"Ksatria Aug, kau adalah pria yang kompeten. Karena kau
mantan petualang peringkat A, kau tidak hanya hebat dalam ilmu pedang tapi juga
paham betul tentang seluk-beluk dunia. Oleh karena itu, kepercayaan rakyat
padamu sangatlah dalam. Aku bahkan merasa kau jauh lebih bisa diandalkan
daripada anak-anak bangsawan yang tidak becus."
"Hahaha,
Tuan. Anda terlalu berlebihan memuji saya."
Hahaha, Tuan
Feodal ini berlebihan sekali mengangkatku, ya?
Yah, memang benar
sih kalau aku ini pria yang bisa diandalkan!
"Bukan itu
saja. Saat menjalankan misi pengintaian, kau membiarkan bawahanmu melarikan
diri demi membawa informasi tanpa memedulikan keselamatan nyawamu sendiri. Tak
hanya itu, kau bahkan berhasil menumbangkan monster Orc raksasa yang tergeletak
di luar kota. Itu adalah pencapaian yang sangat layak disebut sebagai
pahlawan!"
"I-itu...
Aduh, saya jadi malu kalau dipuji setinggi itu."
Dipuji sebanyak
itu memang rasanya enak, tapi sejujurnya, menumbangkan para monster Orc itu
bukan cuma hasil usahaku sendiri, jadi aku merasa agak tidak enak hati...
Ya, lebih baik
aku meluruskan ini sekarang... Firasatku bilang kalau dibiarkan terus begini,
sesuatu yang gawat bakal terjadi.
Insting
mantan petualang peringkat A-ku berbisik demikian.
"Tuanku,
mengalahkan para monster Orc itu bukan hanya berkat usaha saya sendiri."
"Aku
tahu, aku tahu itu, Ksatria Aug," ujar Tuan Feodal sambil memberi isyarat
tangan agar aku berhenti bicara.
"Kau ingin
bilang kalau kau tidak bisa menerima semua pujian itu sendirian, kan? Aku
mengerti. Mereka yang bertarung bersamamu juga akan dievaluasi secara adil dan
diberikan hadiah. Karena mereka telah bertarung dengan kesiapan untuk membuang
nyawa demi kota ini dan demi rakyat."
Ooh! Seperti yang
diharapkan dari Tuan Feodal! Dia benar-benar mengerti apa yang ingin kukatakan!
"Karena
itulah, ini luar biasa! Sikap rendah hati itu benar-benar mencerminkan ksatria
sejati! Aku akan menilai secara adil hatimu yang tetap tulus dan tidak sombong
meski memiliki kekuatan yang luar biasa!"
Gawatttttt! Sama
sekali tidak tersampaikannnnnn!
Padahal justru
bagian itu yang paling ingin kusampaikan!!
Ti-tidak bisa
dibiarkan... Insting mantan petualang peringkat A-ku memberikan peringatan
keras dengan kecepatan luar biasa bahwa ini berbahaya.
Misalnya, kalau
aku disalahpahami sebagai pahlawan yang luar biasa hebat, lalu ada masalah
merepotkan yang muncul, semuanya bakal dilimpahkan padaku! Itu firasatku!
Celakanya,
firasat buruk seperti ini biasanya selalu jadi kenyataan!
Berkat
insting inilah aku bisa bertahan hidup sampai hari ini!
"Bukan,
bukan, sungguh, ini berbeda! Saya bisa mengalahkan Orc raksasa itu karena peralatan ini! Sebenarnya,
saya berbohong pada bawahan saya kalau ini adalah alat sihir yang ditemukan di dungeon,
padahal sebenarnya ini adalah peralatan baru buatan sang maestro, Goldov!
Berkat benda inilah saya bisa bertarung secara seimbang!"
Bagus, aku
mengatakannya! Sudah kusampaikan dengan jelas!
Mungkin
reputasiku akan turun kalau orang tahu aku menang berkat peralatan, tapi karena
aku sudah telanjur jadi ksatria, aku ingin menjalani hidup yang santai dan
nyaman!
Aku sama sekali
tidak mau dinilai terlalu tinggi lalu dipaksa mengurus tumpukan kasus berbahaya
seumur hidup!
"""Berkat
peralatan...?"""
Mendengar
pengakuanku, bukan hanya Tuan Feodal, tapi Nona Selia dan Tuan John juga
membelalakkan mata.
Yah, wajar saja
sih. Siapa pun pasti kecewa kalau diberi tahu kalau kekuatanku sebenarnya
berasal dari peralatan.
Ta-tapi tidak
apa-apa. Bagaimanapun juga, fakta kalau aku bisa jadi petualang peringkat A
adalah hasil kemampuanku sendiri, jadi kurasa aku tidak akan dipecat hanya
karena alasan ini.
Saat aku sudah
membulatkan tekad...
"""Hahahahahaha!"""
Entah kenapa,
Tuan Feodal dan yang lainnya malah tertawa geli.
"Eh?
Anu?"
"Hahahaha,
Ksatria Aug ternyata pintar bercanda juga ya. Aku tidak menyangka kau akan
menggunakan alasan seperti itu."
"Eh?"
"Benar
sekali. Mana mungkin aku bisa tertipu bahwa kau mengalahkan Orc yang mengerikan
itu hanya karena senjata, seberapa pun kurang pengalamannya aku tentang dunia
luar."
"Eh?
Eh?"
Ti-tidak,
ini serius lho.
"Haha,
benar sekali. Kalau kau bilang itu pedang suci legendaris atau pedang iblis
yang ditemukan di dasar labirin, mungkin aku masih bisa paham. Tapi kalau kau
bilang menang berkat pedang buatan pandai besi biasa, meskipun dia ahli, itu
terdengar seperti lelucon."
""Ya,
benar.""
...Ah,
ya, benar juga.
Kalau
dipikir-pikir, memang begitu. Aku pun tidak akan percaya kalau ada orang yang
bilang hal yang sama padaku.
Ya, aku yang
salah caraku menjelaskannyaaaaaa!!
"Haha, kau
benar-benar membuatku tertawa. Baiklah, mari kita kembali ke topik utama."
Tuan Feodal, yang
sepenuhnya menganggap penjelasanku sebagai lelucon, berdiri perlahan dari
kursinya dan berjalan ke hadapanku.
"Terlepas
dari apa pun perasaanmu, apa yang telah kau capai adalah pencapaian seorang
pahlawan. Orang-orang di sekitar pasti akan berpikir demikian. Oleh karena itu,
sebagai penguasa, aku harus menilaimu secara adil agar kau tidak direbut oleh
orang lain."
"Direbut?
Saya?"
Eh? Apa? Apa
maksudnya? Apa aku
akan diculik seperti seorang putri?
"Jika
kejadian ini menyebar ke publik—dan pastinya akan menyebar, karena mulut orang
tidak bisa dibendung, apalagi jika itu adalah kisah kepahlawanan. Orang-orang
akan dengan senang hati menyebarkan aksi hebatmu ke seluruh dunia."
Jangan
disebarkannnnnn! Tolong berhenti, seriusan!!
"Dan
jika namamu sudah dikenal luas, banyak orang berkuasa yang akan mencoba
menggodamu untuk menjadi bawahan mereka."
"Tidak,
tidak, tidak mungkin sampai begitu..."
"Itu
akan terjadi. Aku sebagai bangsawan menjaminnya."
Tuan Feodal
menegaskan hal itu sambil menatapku dengan mata penuh keyakinan.
"Tentu saja
aku akan membalas jasa-jasamu dengan menjanjikan kemajuan karier yang lebih
tinggi lagi. Sebuah jabatan di mana kau bisa mengerahkan kemampuanmu. ...Tapi,
itu saja tidak cukup."
"Tidak cukup... maksud Anda?"
Dia sudah menilaiku tinggi dan memberiku jabatan, lalu apa
lagi yang mau dia berikan padaku...?
Jujur saja, itu saja sudah lebih dari cukup menurutku.
"Ksatria
Aug, yang kurang darimu adalah otoritas. Atau bisa dikatakan, garis keturunan."
"Otoritas?
Garis keturunan?"
"Kau telah
dikenal sebagai pahlawan. Yang kau butuhkan sekarang adalah darah bangsawan.
Namun kau adalah rakyat jelata, darahmu tidak memiliki nilai seperti seorang
bangsawan. Lalu, apa yang harus dilakukan? Mudah saja. Campurkan darah
bangsawan ke dalam keturunanmu."
"Darah
bangsawan ke keturunan saya!?"
Eh? Eh? Eh? Apa
maksudnya itu!?
"Artinya,
jika kau menjadikan wanita bangsawan sebagai istrimu, maka anak-anakmu akan
diakui sebagai anggota kaum bangsawan."
"Sa-saya
menikah dengan bangsawaaaaannn!?"
Mendengar
pernyataan luar biasa dari Tuan Feodal, aku berteriak karena terkejut.
Tidak,
tidak, tidak mungkin aku menikah dengan wanita bangsawan! Aku kan rakyat
jelata!
"Tentu
saja pasangannya tidak boleh sembarang orang. Agar kau bisa mengabdi padaku
selamanya, wanita yang menjadi istrimu haruslah anggota keluargaku sendiri. Dan
untuk pasangan yang sepadan dengan pahlawan sepertimu, aku tidak bisa
menyerahkannya pada keluarga cabang tingkat bawah. Ya, tidak bisa!"
Di sana,
Tuanku mengepalkan tangannya dengan wajah yang tampak rumit.
"Oleh karena
itu, aku memutuskan untuk menjadikan putri dari keluarga utama sebagai
tunanganmu!"
"Pu-putri
dari keluarga utama!?"
"Ayah,
apakah itu berarti...!?"
Mendengar
kata-kata Tuan Feodal, Nona Selia bereaksi keras.
"Selia.
Sebagai bangsawan, aku harus mengikat bawahan yang kompeten di tanah ini. Untuk
itu, tugas seorang kepala keluarga adalah memanfaatkan bahkan putri tercintanya
sekalipun. Bisakah kau memaafkan aku yang mengambil keputusan kejam ini?"
Dengan
ekspresi serius, Tuan Feodal bertanya. Nona Selia melepaskan pelukannya dariku dan menatap Tuan Feodal.
"Tentu saja!
Demi keluarga, saya siap mengabdikan diri sebagai anggota bangsawan!"
Nona Selia
mengucapkan kata-kata yang penuh tekad tragis... tapi, tunggu dulu... kenapa
Nona bisa mengeluarkan suara seserius itu sambil memasang senyum selebar itu?
Maksudku, alur
ini jangan-jangan... Tidak,
tidak mungkin sejauh itu... kan?
"Tapi
kalau begitu, bagaimana dengan masalah penerus?"
Nona Selia
bertanya dengan wajah cemas, tapi Tuan Feodal menyatakan bahwa itu bukan
masalah.
"Mengenai
hal itu, kau tidak perlu khawatir. Sebenarnya... sepertinya kau akan segera
memiliki adik."
Wajah
Tuan Feodal memerah saat dia memasang ekspresi malu-malu.
Aduh, aku
tidak mau melihat wajah malu-malu bapak-bapak, tahu.
"Astaga!
Apakah itu benar!?"
Tapi Nona
Selia tidak terganggu sedikit pun dengan tingkah Tuan Feodal dan malah berseru
gembira.
"Anu, apa
maksudnya punya adik?"
"Istri Tuan
Feodal memiliki tubuh yang lemah, jadi beliau sedang beristirahat di kediaman
ibu kota. Dan karena Tuanku sangat mencintai istrinya, beliau rutin pergi ke
ibu kota. Jadi, begitulah maksudnya."
"Be-begitu
ya."
Setelah menerima
penjelasan Tuan John di telingaku, aku akhirnya memahami situasi keluarga
Baronet ini.
Intinya, hubungan
suami istri mereka sangat harmonis!
...Tapi, bisa
tidak sih berhenti berbisik-bisik di telingaku, Tuan John!?
"Karena itulah... Selia! Ayah sudah menyerah pada
banyak hal! Jadi lakukanlah
sesukamu! Tapi karena kekuatanmu sangat penting, jangan tinggalkan wilayah ini!
Aku juga akan membohongi diriku sendiri bahwa keinginanmu itu demi keuntungan
wilayah!"
Entah kenapa, aku
merasa ada nada kepasrahan dalam setiap kata-kata Tuan Feodal...
"Terima
kasih, Ayah! Karena aku akan bahagia bersama Aug-sama, aku ingin rumah tempat
kami tinggal berdua! Aku tidak akan pernah membiarkan Aug-sama kabur dari
wilayah ini!"
"Umu! Kau
bisa diandalkan, Selia!"
"Anu, ehem,
maksudnya bagaimana ya?"
Karena namaku
disebut-sebut, dugaan yang kupikir mustahil tadi mulai terasa nyata.
Tidak,
tidak, tidak, aku ini kan bapak-bapak yang sudah berumur!? Tidak mungkin
begitu, kan? Iya kan!?
"Selamat,
Aug-sama."
"U-untuk
apa!?"
Tuan John
mengucapkan selamat sambil menggosok-gosokkan tangannya. Kenapa orang ini juga
ikut-ikutan pasang senyum lebar!?
"Hahaha,
tentu saja untuk peresmian pertunangan Anda dengan Nona Selia."
"Ah, begitu
ya, pertunangan aku dengan Nona Seli... pertunangannnnnn!?"
Jadi ini
seriusan!?
"Jika Nyonya
memiliki anak, maka Nona tidak perlu lagi menjadi anak tunggal yang harus
meneruskan keluarga utama. Dan mengingat situasi Nona, daripada menikahkannya
dengan bangsawan lain, akan lebih menguntungkan bagi Tuanku jika beliau menikah
dengan bawahan sendiri."
"Situasi apa
itu!?"
Tuan Feodal juga
tadi bilang begitu, situasi apa sih!?
Apa situasinya
segawat itu sampai-sampai harus menikahkan putri berharga mereka dengan
bapak-bapak sepertiku!?
"Aug-sama."
"Eh? Ah,
iya. Ada apa, Nona?"
Nona Selia
menatapku dengan wajah memerah dan malu-malu.
Ini...
dia tidak terlihat keberatan... kan?
"Saya
masih kurang berpengalaman... mohon bimbingannya ya, Aug-sama!"
"Aku titip
putriku padamu, Aug-kun."
Di saat yang
sama, Tuan Feodal menepuk bahuku dengan kuat sambil tersenyum, menitipkan
putrinya padaku.
Maaf, tapi bahu
saya sakit sekali, Tuan...
"Ya...
dengan senang hati..."
Begitulah, tanpa
aku sadari sepenuhnya, aku akhirnya bertunangan dengan Nona Selia.
...Bagaimana bisa jadi begini!?
◆ Baron Grimoire ◆
Pertunangan
antara putriku, Selia, dan Ksatria Aug telah diputuskan. Lebih tepatnya, aku
yang memutuskannya.
Tentu saja muncul
pendapat keberatan dari sebagian bawahan, tapi aku mengabaikannya dan terus
melaju.
Bagi mereka yang
masih protes, aku hanya perlu bertanya apakah mereka sanggup mengalahkan
monster Orc yang sekarang sedang dimutilasi di luar kota itu sendirian, dan
mereka langsung bungkam.
Bagi mereka yang
hanya ingin menikahkan putra mereka dengan Selia, pertunangan dengan Ksatria Aug
ini pastilah sangat menyusahkan.
Ini adalah kisah
konspirasi klasik di mana keluarga cabang atau bangsawan lain ingin merebut
kekuasaan penguasa wilayah yang hanya memiliki anak perempuan.
Apalagi keluarga
Baronet Grimoire ini kekuatannya meningkat pesat dalam waktu singkat berkat
kekuatan ramalan Selia. Para kepala keluarga bangsawan lain pasti ingin tahu
alasan di balik pertumbuhan pesat ini.
Yah, mereka pasti
tidak menyangka kalau Selia, yang mereka anggap sebagai sarana untuk menyusup
ke keluarga ini, sebenarnya adalah rahasia keluarga itu sendiri.
Untungnya,
istriku sedang mengandung anak kedua, jadi masalah penerus sudah ada titik
terangnya.
Meski begitu,
jika posisi tunangan Selia tetap kosong, orang-orang berniat jahat mungkin akan
memaksa masuk dan mencoba merebut posisi penguasa dari anak yang akan lahir
nanti.
Oleh karena itu,
aku memutuskan untuk memilih pria yang jauh dari ambisi semacam itu sebagai
pasangan Selia.
Beruntung,
kandidatnya sudah ada di genggamanku, dan Selia sendiri menyukai pria itu.
Sebagai seorang ayah, aku harus bilang kalau aku sangat beruntung.
"Dulu aku
merekrutnya sebagai bentuk kompromi setelah kehilangan sosok hebat yang
menumbangkan naga... tapi aku tidak menyangka dia akan sehebat ini."
Benar-benar
barang temuan yang tidak terduga.
Memang
benar ada orang-orang dengan kemampuan tersembunyi seperti dia.
"Putri
dengan kekuatan ramalan yang hebat dan pahlawan yang menyelamatkan kota...
apakah mereka akan menjadi berkah bagi wilayahku, atau malah menjadi sumber
kekacauan... yang mana ya?"
Mungkin
keputusanku ini akan memicu kekacauan lebih lanjut di wilayah ini.
Namun,
lebih dari itu, berbagai insiden yang terjadi di dalam dan luar negeri selama
beberapa tahun terakhir ini terasa seperti pertanda akan datangnya bencana
besar.
"Demi
melindungi wilayah ini, aku harus mengumpulkan banyak orang hebat..."
Itulah tugasku
sebagai penguasa.
"Tapi ya
ampun... putriku akan menikah, ya..."
Ugh, bagaimana
aku menjelaskannya pada istriku nanti? "Demi kedamaian wilayah, aku
menjadikan putri kita tunangan bawahanku yang sudah berumur"?
Memang
benar begitu sih, tapi Selia juga menerimanya dengan senang hati...
"Tidak
bisa! Sebelum aku sempat menjelaskan dengan benar, tinju istriku pasti sudah
melayang! Uwooooh! Bagaimana cara menyampaikannya agar tetap tenang!?"
Sebagai penguasa, tidak, sebagai seorang ayah, masalah besarku baru saja dimulai...



Post a Comment