Chapter 155
Kebangkitan Sang Great Demon Beast!?
Tepat saat aku
hendak menyegel kembali segel yang melemah di Tanah Korosi, pelaku yang merusak
segel itu menampakkan diri di hadapan kami... tapi...
"Benar
sekali, akulah orang yang telah menghancurkan segel Tanah Korosi ini— Geho!
Goho! Gaho!!"
Sang dalang yang
merupakan seorang Majin itu entah kenapa tampak sedang sekarat.
"Tunggu,
kenapa si Majin itu malah sekarat!?"
"Ku...
kukuku... Sayang sekali, wahai manusia. Kalian pasti datang untuk
memasang kembali segelnya, tapi segel ini sudah berada di ambang
kehancuran!"
"Bukannya
justru kau yang sedang berada di ambang kehancuran?"
Seperti yang
dikatakan Liliera-san, Majin itu sudah berada di sisa-sisa napas terakhirnya.
Seluruh tubuhnya mulai mengalami kejang-kejang, jelas sekali dia telah
terinfeksi oleh Miasma Poison. Jika bukan karena tubuh kuat seorang Majin, dia
pasti sudah mati sedari tadi.
Tapi, kenapa
seorang Majin bisa terkena Miasma Poison?
Seingatku di
kehidupan sebelumnya, kaum Majin seharusnya sangat kebal terhadap racun, bahkan
berada di level yang mampu menetralkan hampir semua jenis racun... mungkinkah!?
"Berhati-hatilah, Liliera-san."
"Rex-san?"
"Ini adalah racun yang sangat mematikan sampai bisa
membuat seorang Majin sekarat. Entitas yang tersegel di sini mungkin jauh
melampaui imajinasiku."
Seolah membenarkan kekhawatiran yang kurasakan, Majin itu
menyunggingkan senyum yang mengerikan.
"Ku, kukukuk... Tepat sekali! Yang tersegel di tanah ini adalah si Goho!
Goho! Goho!... Great Demon Beast, Venom Beet! Serangga beracun yang konon
bisa dengan mudah memenuhi satu benua dengan racunnya!"
"Great Demon Beast Venom Beet!? Si legenda itu!?"
Sudah
kuduga. Miasma Poison adalah racun mematikan yang disebarkan oleh Venom Beet.
Jika begitu, yang tersegel di sini tidak salah lagi adalah Venom Beet.
Namun,
bagian yang paling merepotkan bukanlah itu. Seharusnya, racun Venom Beet biasa
tidak akan mampu menginfeksi seorang Majin!
Artinya,
Venom Beet yang tersegel di tempat ini jauh lebih berbahaya daripada Venom Beet
yang kukenal. Kemungkinan besar ini adalah individu spesial yang lahir dari
mutasi, atau senjata biologis yang dimodifikasi oleh para penyihir kuno.
Pantas
saja mereka sampai harus menggunakan metode merepotkan seperti penyegelan.
Di
kehidupan sebelum-sebelumnya, aku sering mendengar cerita tentang bagaimana
mereka berhasil memodifikasi sesuatu namun akhirnya tidak bisa
mengendalikannya, sehingga terpaksa menyegelnya.
"Aku
tak menyangka hanya dengan memberi retakan pada segelnya saja sudah cukup untuk
membuat tubuhku terinfeksi racun ini... tapi dengan ini, kehancuran dunia
manusia sudah pasti! Setelah umat manusia binasa oleh racun Venom Beet, kamilah
yang akan menguasai dunia ini— Goho! Geho! Gaho!"
"Anu,
boleh aku bertanya sesuatu?"
Liliera-san
mengangkat tangannya ke arah Majin tersebut.
"Huh, ada
apa gadis manusia? Apa kau ingin menanyakan cara memohon ampun?"
"Bukan itu.
Maksudku, kalau dunia ini tertutup racun mematikan yang bahkan kau sendiri
sebagai Majin tidak bisa menahannya, bukankah kalian sendiri juga tidak akan
bisa tinggal di sini?"
"..."
"..."
"..."
"... Ah."
""Ternyata
kau belum memikirkannya!?""
Tunggu, tunggu
sebentar! Apa Majin ini benar-benar tidak memikirkan apa pun!?
"Ma-Mau
bagaimana lagi! Aku pun tidak menyangka kalau racunnya bakal semematikan ini— Geho!
Goho! Gaho!"
Meski Majin itu
berusaha membela diri sambil memuntahkan darah, tapi ini benar-benar rencana
yang sangat tidak matang.
"Bukannya
lebih baik kau menyerah saja dan pulang untuk diobati?"
"Ku,
kukukuku... Sayang sekali, rekan-rekanku sudah angkat tangan dan bilang kalau
aku sudah tidak bisa diselamatkan. Dan jika rencana ini tidak berhasil,
aku tidak punya tempat untuk kembali! Karena itu, apa pun yang terjadi, rencana ini harus berhasil!"
Hmm, sepertinya
dia hanya sedang nekat karena sudah putus asa akibat terkena racun mematikan
itu.
"Meski dia
musuh, hidupnya terasa sangat getir ya..."
"Aku
mengerti situasimu, tapi tetap saja kami tidak bisa membiarkan Venom Beet
bangkit."
Individu
spesial dengan racun mematikan yang hanya bisa ditangani dengan cara disegel.
Jika
makhluk itu bangkit, aku tidak tahu seberapa besar kerusakan yang akan
ditimbulkan. Estimasi
kerusakan yang kujelaskan pada Liliera-san tadi tidak akan ada apa-apanya
dibanding ini.
"Aku akan
mengalahkanmu dan memasang kembali segelnya!"
"Ku,
kukuku... kita lihat saja nanti."
Namun,
sang Majin masih tetap memasang senyum menantang.
"Kau
tidak hanya kalah jumlah dua lawan satu, tapi kau juga sedang sekarat karena
racun. Percaya diri sekali ya."
"Huh,
memang benar. Tapi bukankah sudah kukatakan? Segel ini sudah di ambang
kehancuran karena tanganku. Itu artinya, hanya dengan sedikit pemicu saja,
segel ini akan hancur sepenuhnya! Haaaaaaaaaaaa!!"
Tepat
saat Majin itu mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya dan hendak memulai
pertarungan dengan kami—
"Cukup
dengan ini saja."
Saat
Majin itu menyeringai, terdengar suara pakin, suara segel yang pecah
dari belakang.
"Gawat!"
Aku tidak
menyangka segelnya sudah selemah itu!
"Penghalang—!"
"Jangan
harap!!"
Sesaat
ketika aku terburu-buru hendak memasang penghalang, sang Majin melompat
menerjangku.
Apa dia
berniat menghalangiku tanpa memedulikan nyawanya sendiri!?
Aku
merasa bingung dengan tindakannya yang sama sekali tidak ragu. Menahan serangan
dari Majin yang sudah selemah ini sebenarnya mudah.
Tapi jika
aku melakukannya, aku akan terlambat sekejap saja untuk membendung racun
mematikan yang meluap dari segel yang pecah!
Jika itu
terjadi, penduduk yang tinggal di sekitar sini akan menjadi korban racun
mematikan Venom Beet!
"Tidak
akan kubiarkan!"
Pada saat
itulah, Liliera-san berdiri menghadang seolah menghalangi jalan sang Majin.
"Hah!"
Liliera-san
menangkis serangan Majin tersebut, mengalihkan kekuatannya, dan
menghempaskannya hingga terpental.
"Guh!!"
Bersamaan
dengan itu, sihir penghalangku berhasil diaktifkan tepat waktu.
"Grand
Area Sanctuary!"
Penghalang
skala besar yang kurapalkan berhasil mengurung racun mematikan yang menyembur
keluar sebelum sempat menyebar ke area sekitar.
"Ta-Tapi
jika kau memasang penghalang, kali ini kalianlah yang akan mati karena racun
itu!"
Aku tahu itu!
Segera kurapalkan sihir penawar racun.
"High Grand
Antidote!"
Aku merapalkan
sihir penawar racun tingkat tertinggi untuk segera menetralkan racun mematikan
yang menyerang kami.
Angin beracun
berwarna mengerikan yang mendekat dari segala arah itu seketika dimurnikan
menjadi udara bersih dalam sekejap.
"A-Apa-apaan!?
Bagaimana mungkin!?"
"Liliera-san,
kita mengungsi ke atas!"
"Ba-Baiklah!"
Kami segera
mengungsi ke langit untuk menghindari udara beracun.
Seberapa banyak
pun aku memurnikan udaranya, itu akan menjadi permainan kucing-kucingan yang
tak ada habisnya kecuali kami membereskan sumbernya, yaitu Venom Beet.
Bersamaan dengan
kami mencapai ketinggian yang cukup, bukit kecil tempat kuil penyegelan itu
berdiri mulai bergetar.
"Apa? Gempa
bumi?"
"Bukan, itu
bukan gempa. Dia akan bangkit."
Dilihat dari
langit, pemandangan kebangkitannya terlihat dengan jelas.
Tujuh puncak yang
membentang secara radial dari bukit berbentuk oval itu runtuh, dan dari
dalamnya muncul kaki-kaki raksasa yang berkilau tipis, yang bisa saja salah
dikira sebagai pilar logam.
Kaki-kaki itu
menancap ke tanah dan mengangkat bukit yang berada di tengah.
"Gunungnya...
bergerak..."
Kuil yang
dibangun di atas bukit itu hancur total. Rumput dan tanah yang menumpuk di
permukaan gunung berguguran, menampakkan sosok sesuatu yang selama ini tertidur
di bawahnya.
Warnanya hitam
seperti kegelapan, dengan cangkang luar keras yang seolah menyatakan bahwa
Mithril sekalipun tidak akan bisa memotongnya.
Yang paling
menarik perhatian adalah satu tanduk panjang yang menjulang tinggi ke arah
langit.
"Itukah Great Demon Beast yang tersegel di tanah
ini..."
"Benar. Raja monster serangga dengan racun mematikan terkuat, sang transenden racun dan miasma... yang juga dikenal sebagai Sang Raja Kumbang, Venom Beet!"



Post a Comment