NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 9 Chapter 2

Chapter 162

Kepulangan Sang Pahlawan Muda


"Wah, kali ini kami benar-benar terbantu. Aku tidak menyangka akan diserang Orc sebanyak itu."

Setelah tiba dengan selamat di Kota Togai, kami menerima ucapan terima kasih dari pemimpin karavan sembari dia menandatangani dokumen penyelesaian tugas.

"Yah, tidak sehebat itu juga, kok."

"Jangan tinggi hati!"

Mina yang menegur Jairo yang sedang kegirangan adalah pemandangan yang biasa.

"Kalau begitu, mari kita pergi ke Serikat Petualang untuk melaporkan penyelesaian tugas ini."

"Oh! Sudah lama ya sejak terakhir kali aku ke gedung serikat di sini!"

"Benar, rasanya sudah lama sekali."

Ya, di sinilah tempat awal mula kami semua. Meski belum berlalu terlalu lama, rasanya sedikit merindukan.

"Jadi kita akan pergi ke gedung serikat tempat Rex-san dulu beraktivitas, ya."

"Iya, orang-orang di sana semuanya baik!"

"Aku yakin pasti banyak orang yang dulu dibuat pusing olehmu," ujar Liliera-san sambil menghela napas. Apa maksudnya, ya?

Begitu kami tiba di Serikat Petualang Kota Togai setelah sekian lama, bagian dalamnya ternyata sangat ramai di luar dugaan.

"Wah, padat sekali ya."

"Apa-apaan ini? Keramaiannya setara dengan gedung serikat di Ibu Kota saat jam sibuk!? Bahkan gedung serikat di Kota Hekiji tidak pernah sepadat ini, tahu!?"

Seperti yang dikatakan Liliera-san, bagian dalam gedung serikat penuh sesak dengan orang-orang sampai sulit untuk berjalan.

"Hmm, sepertinya lebih baik kita datang lagi nanti saja."

"Benar, mustahil kita bisa sampai ke loket kalau keadaannya seperti ini."

"Setuju, ayo kita cari penginapan dulu."

Karena pendapat semuanya sama, kami memutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu dan meninggalkan gedung serikat. Setelah makan siang dan menunggu waktu yang cukup lama, kami kembali lagi ke sana...

"Seharusnya jam segini sudah sepi—ternyata tidak juga, ya."

Meskipun kami sudah menggeser waktu, gedung serikat masih saja ramai. Walaupun begitu, setidaknya sekarang sedikit lebih baik dibanding tadi... mungkin?

"Se-selanjutnya... haaa."

Elma-san, sang staf loket, tampak sangat kelelahan saat melayani para petualang yang sedang mengantre. Dilihat dari penampilannya, dia pasti sangat sibuk.

"Tapi, mau tidak mau kita harus ikut mengantre, kan?"

Terpaksa kami pun ikut berbaris dalam antrean.

"Siaaal, aku kalah!"

Di belakangku, Jairo-kun merajuk dengan wajah kesal. Sepertinya mereka menentukan siapa yang mengantre lewat suit. Yah, meski kami menerima tugas sebagai satu kelompok, memang tidak ada gunanya jika semuanya ikut berbaris.

Setelah menunggu beberapa saat, tibalah giliranku.

"Selanjutnya..."

"Permisi, aku datang untuk melaporkan penyelesaian tugas."

Itu Elma-san, staf yang biasanya menanganiku di loket ini. Sudah lama tidak bertemu, tapi dia terlihat sangat lelah.

"Baiklah... saya periksa dulu dokumennya, ya..."

Elma-san menerima dokumen dengan tangan yang lunglai lalu memeriksa isinya.

"Ya, tanda tangan klien sudah dikonfirmasi. Yang menyelesaikan tugas adalah petualang Rank S, Rex...-san?"

Tepat di situ, Elma-san mendongakkan kepalanya perlahan.

"Sudah lama tidak bertemu."

"..."

Namun, Elma-san terdiam kaku.

"Elma-san?"

"Re..."

"Re?"

"REX-SANNNNNNNNNNN!?"

Teriakan tiba-tiba Elma-san membuat orang-orang di seluruh gedung serikat menoleh untuk melihat apa yang terjadi.

"Ke-ke-kenapa!? Kenapa kamu ada di sini!?"

"Bukan apa-apa, aku cuma menerima permintaan tugas dan kebetulan sampai ke kota ini."

"Pe-permintaan tugas!?"

"Iya. Omong-omong, dalam waktu singkat aku tidak ada di sini, orang-orang di sini jadi bertambah banyak ya. Apa telah terjadi sesuatu?"

Apa mungkin ditemukan tanaman herbal yang menghasilkan banyak uang atau monster langka?

"A-apa yang terjadi, katamu..."

Elma-san menatapku dengan tajam sembari tubuhnya bergetar hebat. Eh? Apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang membuatnya marah?

"ITU KARENA REX-SAN NAIK KE RANK S, TAHU! ITU PENYEBABNYAAAAAAA!!"

"Eeeh!? Gara-gara aku!?"

Bagaimana bisa begitu!?

"Rank S!?"

"Siapa!?"

Mendengar teriakan Elma-san, para petualang di sekitar mulai riuh.

"Apa bocah yang sedang bicara dengan Elma-san itu?"

"Eh, tidak mungkin bocah seperti itu bisa jadi Rank S, kan."

"Benar juga."

Wah, suasana di dalam gedung serikat jadi makin gaduh. Sepertinya setelah menerima imbalan, lebih baik aku segera angkat kaki dari sini.

"Oh!? Bukankah ini si Bocah Naga! Sudah lama ya!"

Di tengah kegaduhan itu, orang yang menyapaku adalah seorang petualang yang dulu memberiku banyak pelajaran saat aku pertama kali datang ke Serikat Petualang.

"Ah, sudah lama tidak bertemu."

"Ooh, aku senang kamu masih mengingat orang yang selamanya Rank C sepertiku."

"Tentu saja aku ingat, Anda adalah orang yang mengajariku banyak hal saat pertama kali aku datang ke sini."

"Hahaha! Meski sudah naik ke Rank S, kamu masih tetap rendah hati seperti biasanya, ya!"

"Aku masih belum berpengalaman, kok."

Selagi aku berbincang dengan petualang kenalanku itu, petualang-petualang lain ikut menyapa.

"Ooh, ini benar-benar si Bocah Naga! Kudengar kamu beraksi gila-gilaan di Ibu Kota, ya!"

"Yo, Bocah Naga. Rumormu sudah sampai ke kota ini, tahu!"

"Eh? Benarkah!?"

Rasanya sedikit memalukan. Aku jadi Rank S padahal tidak merasa melakukan pencapaian sehebat itu. Semoga saja para petualang lain tidak merasa iri atau benci padaku.

"Jadi itu 'Sang Pembasmi Raksasa' yang asli... Dia benar-benar cuma bocah, ya."

"Ternyata cerita bualan para veteran itu bukan omong kosong."

"Katanya dia yang memburu naga di hari pertama pendaftarannya..."

"Bukannya besoknya dia langsung memusnahkan sekawanan Evil Boar?"

"Aku dengar dia bahkan mengalahkan monster dari dunia iblis."

"Dia juga yang membuka jalan di Hutan Magic Beast yang ditakuti karena semua pohonnya adalah monster tumbuhan, kan?"

Tanpa kusadari, para petualang di sekitar mulai memperhatikanku dari jauh sambil membicarakan sesuatu.

""""Dilihat dari mana pun dia cuma bocah biasa, itu malah membuatnya terasa ngeri...""""

"Rex-san..."

Liliera-san menatapku dengan tatapan heran.

"I-itu, sebenarnya aku tidak melakukan hal sehebat itu. Entah kenapa orang-orang jadi melebih-lebihkannya saja!"

Dari dulu aku selalu berpikir kalau para petualang ini terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu secara positif. Monster yang kukalahkan itu hanyalah monster biasa yang di kehidupanku sebelumnya bisa dikalahkan siapa saja.

"Yah, terserah saja. Tapi lebih baik kamu urusi orang yang satu ini dulu."

"Eh?"

Liliera-san menunjuk ke arah loket. Di sana, Elma-san sedang gemetaran dengan mata berkaca-kaca menatapku tajam.

"Kita masih di tengah pelayanan loket, apakah obrolannya sudah selesai...?"

"Ma-maafkan aku..."

Eh? Kenapa jadi aku yang minta maaf?

"Baiklah, ini adalah imbalan pengawalannya."

Elma-san menyodorkan imbalan sambil menggembungkan pipinya.

"Te-terima kasih. Lalu, ini adalah surat dari Serikat Petualang Ibu Kota untuk diberikan kepada Ketua Serikat di sini."

"Untuk Ketua Serikat kami? Baiklah. Akan segera saya sampaikan."

Setelah itu, Elma-san memanggil seorang staf yang lewat dan memintanya memberikan surat itu kepada Ketua Serikat.

Fiuh, dengan ini setengah dari tugas penunjukan dari Ketua Serikat Ibu Kota selesai. Sisanya tinggal meminta Ketua Serikat di sini menulis surat balasan, lalu membawanya kembali ke Ibu Kota. Selesai!

"Omong-omong, apa maksud perkataan Elma-san tadi soal aku yang jadi penyebab keramaian karena naik ke Rank S?"

Tiba-tiba saja aku teringat ucapan Elma-san tadi dan mencoba menanyakannya... tapi.

"Deg! ..."

Seketika itu juga, kilatan tajam kembali muncul di mata Elma-san.

"Ah, tidak. Kalau tidak mau bilang juga tidak apa-apa."

"Tidak, tidak. Saya sangat ingin Rex-san mendengarnya."

Gawat, aku salah bicara!?

"Fu... fufu... Rank S itu gelar yang sangat istimewa bagi para petualang, lho."

"Istimewa... ya?"

Yah, karena itu peringkat tertinggi di dunia petualang, aku bisa memahaminya. Tapi karena aku merasa jadi Rank S gara-gara penilaian berlebih, aku merasa sedikit tidak enak.

"Karena itulah, para petualang di dunia ini beserta orang-orang yang bercita-cita menjadi petualang, terkadang berkumpul di gedung serikat tempat petualang Rank S bernaung karena ingin tertular keberuntungannya."

"Eh? Tapi kalau begitu, bukannya mereka seharusnya pergi ke Ibu Kota?"

Karena aku naik ke Rank S di sana, dan sekarang markas kegiatanku juga ada di Ibu Kota.

"Nah, di situlah poinnya. Di Ibu Kota itu banyak orang kuat, dan level permintaannya juga banyak yang tinggi. Jadi, mereka pikir lebih baik mencari berkah di gedung serikat tempat petualang Rank S itu pertama kali mendaftar."

Eh—apa-apaan itu? Mencari berkah tapi logikanya agak terbalik, ya.

"Meskipun begitu, di kota pinggiran seperti ini tidak banyak pekerjaan hebat. Seperti yang kamu lihat, sekarang terjadi perebutan permintaan tugas, dan yang tersisa hanyalah permintaan rutin yang murah. Orang-orang itu juga sebentar lagi akan kehabisan uang dan pindah ke kota lain. Kita hanya perlu bersabar sampai saat itu tiba."

Begitu ya. Jadi ini cuma fenomena sementara.

"Tapi Anda terlihat sudah terbiasa menanganinya, ya."

"Ya, begitulah. Hal seperti ini sering terjadi jika ada petualang yang naik ke Rank B atau lebih tinggi. Bisa dibilang ini seperti mencari peruntungan."

Begitu ya, jadi suasananya mirip seperti pergi berdoa ke kuil atau tempat suci. Karena petualang adalah dunia berbasis kemampuan di mana mereka bekerja sendiri, mungkin mereka jadi lebih percaya pada takhayul atau keberuntungan. Namun, jika begini jadinya, aku memang mengerti kenapa aku yang disalahkan. Rasanya jadi tidak enak hati.

Tiba-tiba, gedung serikat menjadi gaduh.

"Ada apa ya?"

Sepertinya kegaduhan terjadi di pintu masuk gedung serikat. Dan suasananya terasa seperti sedang menuju ke arah sini...

"Oi, Elma-chan. Bisa bicara sebentar?"

Yang muncul di sana adalah seorang ksatria dengan pakaian yang gagah.

"Lho?"

Anehnya, aku merasa seperti pernah mengenal orang ini. Tapi tidak mungkin, kan? Dalam kehidupanku yang sekarang, aku seharusnya tidak punya kenalan seorang ksatria.

"Aku ada urusan dengan Ketua Serikat... eh? Kamu kan..."

Suara ini, aku pasti pernah mendengarnya.

"Ah, ternyata benar kamu, Rex! Sudah lama tidak bertemu!"

"Ja-jangan-jangan, Aug...-san?"

"Yo, benar sekali! Aku adalah mantan senior petualangmu yang bisa diandalkan, Aug!"

Benar! Karena dia terlihat sangat rapi dan berpakaian bagus, aku sempat tidak mengenalinya!

"Tapi, 'mantan'?"

Apa maksudnya?

"Ah, sekarang aku sudah pensiun jadi petualang dan menjadi ksatria! Mulai sekarang, panggillah aku Ksatria Aug!"

Ksatria? Aug-san jadi ksatria!? Jadi itu alasan kenapa dia terlihat sangat bersih dan rapi!?

"Tunggu, KSATRIAAAAAAAA!?"

Tu-tunggu sebentar!? Dibandingkan fakta aku jadi Rank S, bukankah ini berita yang jauh lebih menggemparkan!?



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close