Chapter 162
Kepulangan Sang Pahlawan Muda
"Wah,
kali ini kami benar-benar terbantu. Aku tidak menyangka akan diserang Orc
sebanyak itu."
Setelah tiba
dengan selamat di Kota Togai, kami menerima ucapan terima kasih dari pemimpin
karavan sembari dia menandatangani dokumen penyelesaian tugas.
"Yah, tidak
sehebat itu juga, kok."
"Jangan
tinggi hati!"
Mina yang menegur
Jairo yang sedang kegirangan adalah pemandangan yang biasa.
"Kalau
begitu, mari kita pergi ke Serikat Petualang untuk melaporkan penyelesaian
tugas ini."
"Oh! Sudah
lama ya sejak terakhir kali aku ke gedung serikat di sini!"
"Benar,
rasanya sudah lama sekali."
Ya, di sinilah
tempat awal mula kami semua. Meski belum berlalu terlalu lama, rasanya sedikit
merindukan.
"Jadi kita
akan pergi ke gedung serikat tempat Rex-san dulu beraktivitas, ya."
"Iya,
orang-orang di sana semuanya baik!"
"Aku yakin
pasti banyak orang yang dulu dibuat pusing olehmu," ujar Liliera-san
sambil menghela napas. Apa maksudnya, ya?
◆
Begitu kami tiba
di Serikat Petualang Kota Togai setelah sekian lama, bagian dalamnya ternyata
sangat ramai di luar dugaan.
"Wah, padat
sekali ya."
"Apa-apaan
ini? Keramaiannya setara dengan gedung serikat di Ibu Kota saat jam sibuk!?
Bahkan gedung serikat di Kota Hekiji tidak pernah sepadat ini, tahu!?"
Seperti yang
dikatakan Liliera-san, bagian dalam gedung serikat penuh sesak dengan
orang-orang sampai sulit untuk berjalan.
"Hmm,
sepertinya lebih baik kita datang lagi nanti saja."
"Benar,
mustahil kita bisa sampai ke loket kalau keadaannya seperti ini."
"Setuju, ayo
kita cari penginapan dulu."
Karena pendapat
semuanya sama, kami memutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu dan
meninggalkan gedung serikat. Setelah makan siang dan menunggu waktu yang cukup
lama, kami kembali lagi ke sana...
"Seharusnya
jam segini sudah sepi—ternyata tidak juga, ya."
Meskipun kami
sudah menggeser waktu, gedung serikat masih saja ramai. Walaupun begitu,
setidaknya sekarang sedikit lebih baik dibanding tadi... mungkin?
"Se-selanjutnya...
haaa."
Elma-san, sang
staf loket, tampak sangat kelelahan saat melayani para petualang yang sedang
mengantre. Dilihat dari penampilannya, dia pasti sangat sibuk.
"Tapi,
mau tidak mau kita harus ikut mengantre, kan?"
Terpaksa kami pun
ikut berbaris dalam antrean.
"Siaaal, aku
kalah!"
Di belakangku,
Jairo-kun merajuk dengan wajah kesal. Sepertinya mereka menentukan siapa yang
mengantre lewat suit. Yah, meski kami menerima tugas sebagai satu kelompok,
memang tidak ada gunanya jika semuanya ikut berbaris.
Setelah menunggu
beberapa saat, tibalah giliranku.
"Selanjutnya..."
"Permisi,
aku datang untuk melaporkan penyelesaian tugas."
Itu Elma-san,
staf yang biasanya menanganiku di loket ini. Sudah lama tidak bertemu, tapi dia
terlihat sangat lelah.
"Baiklah...
saya periksa dulu dokumennya, ya..."
Elma-san menerima
dokumen dengan tangan yang lunglai lalu memeriksa isinya.
"Ya, tanda
tangan klien sudah dikonfirmasi. Yang menyelesaikan tugas adalah petualang Rank
S, Rex...-san?"
Tepat di situ,
Elma-san mendongakkan kepalanya perlahan.
"Sudah lama
tidak bertemu."
"..."
Namun, Elma-san
terdiam kaku.
"Elma-san?"
"Re..."
"Re?"
"REX-SANNNNNNNNNNN!?"
Teriakan
tiba-tiba Elma-san membuat orang-orang di seluruh gedung serikat menoleh untuk
melihat apa yang terjadi.
"Ke-ke-kenapa!?
Kenapa kamu ada di sini!?"
"Bukan
apa-apa, aku cuma menerima permintaan tugas dan kebetulan sampai ke kota
ini."
"Pe-permintaan
tugas!?"
"Iya.
Omong-omong, dalam waktu singkat aku tidak ada di sini, orang-orang di sini
jadi bertambah banyak ya. Apa telah terjadi sesuatu?"
Apa mungkin
ditemukan tanaman herbal yang menghasilkan banyak uang atau monster langka?
"A-apa yang
terjadi, katamu..."
Elma-san
menatapku dengan tajam sembari tubuhnya bergetar hebat. Eh? Apa aku baru saja
mengatakan sesuatu yang membuatnya marah?
"ITU KARENA
REX-SAN NAIK KE RANK S, TAHU! ITU PENYEBABNYAAAAAAA!!"
"Eeeh!?
Gara-gara aku!?"
Bagaimana bisa begitu!?
"Rank S!?"
"Siapa!?"
Mendengar
teriakan Elma-san, para petualang di sekitar mulai riuh.
"Apa bocah yang sedang bicara dengan Elma-san
itu?"
"Eh, tidak mungkin bocah seperti itu bisa jadi Rank S,
kan."
"Benar juga."
Wah, suasana di dalam gedung serikat jadi makin gaduh.
Sepertinya setelah menerima imbalan, lebih baik aku segera angkat kaki dari
sini.
"Oh!? Bukankah ini si Bocah Naga! Sudah lama ya!"
Di tengah kegaduhan itu, orang yang menyapaku adalah seorang
petualang yang dulu memberiku banyak pelajaran saat aku pertama kali datang ke
Serikat Petualang.
"Ah, sudah lama tidak bertemu."
"Ooh, aku senang kamu masih mengingat orang yang
selamanya Rank C sepertiku."
"Tentu saja aku ingat, Anda adalah orang yang
mengajariku banyak hal saat pertama kali aku datang ke sini."
"Hahaha! Meski sudah naik ke Rank S, kamu masih tetap
rendah hati seperti biasanya, ya!"
"Aku masih belum berpengalaman, kok."
Selagi aku berbincang dengan petualang kenalanku itu,
petualang-petualang lain ikut menyapa.
"Ooh,
ini benar-benar si Bocah Naga! Kudengar kamu beraksi gila-gilaan di Ibu Kota, ya!"
"Yo, Bocah
Naga. Rumormu sudah sampai ke kota ini, tahu!"
"Eh?
Benarkah!?"
Rasanya sedikit
memalukan. Aku jadi Rank S padahal tidak merasa melakukan pencapaian sehebat
itu. Semoga saja para petualang lain tidak merasa iri atau benci padaku.
"Jadi itu
'Sang Pembasmi Raksasa' yang asli... Dia benar-benar cuma bocah,
ya."
"Ternyata cerita bualan para veteran itu bukan omong
kosong."
"Katanya dia yang memburu naga di hari pertama
pendaftarannya..."
"Bukannya besoknya dia langsung memusnahkan sekawanan
Evil Boar?"
"Aku
dengar dia bahkan mengalahkan monster dari dunia iblis."
"Dia
juga yang membuka jalan di Hutan Magic Beast yang ditakuti karena semua
pohonnya adalah monster tumbuhan, kan?"
Tanpa kusadari,
para petualang di sekitar mulai memperhatikanku dari jauh sambil membicarakan
sesuatu.
""""Dilihat
dari mana pun dia cuma bocah biasa, itu malah membuatnya terasa ngeri...""""
"Rex-san..."
Liliera-san
menatapku dengan tatapan heran.
"I-itu,
sebenarnya aku tidak melakukan hal sehebat itu. Entah kenapa orang-orang jadi
melebih-lebihkannya saja!"
Dari dulu aku
selalu berpikir kalau para petualang ini terlalu berlebihan dalam menilai
sesuatu secara positif. Monster yang kukalahkan itu hanyalah monster biasa yang
di kehidupanku sebelumnya bisa dikalahkan siapa saja.
"Yah,
terserah saja. Tapi lebih baik kamu urusi orang yang satu ini dulu."
"Eh?"
Liliera-san
menunjuk ke arah loket. Di sana, Elma-san sedang gemetaran dengan mata
berkaca-kaca menatapku tajam.
"Kita masih
di tengah pelayanan loket, apakah obrolannya sudah selesai...?"
"Ma-maafkan
aku..."
Eh? Kenapa jadi
aku yang minta maaf?
◆
"Baiklah,
ini adalah imbalan pengawalannya."
Elma-san
menyodorkan imbalan sambil menggembungkan pipinya.
"Te-terima
kasih. Lalu, ini adalah surat dari Serikat Petualang Ibu Kota untuk diberikan
kepada Ketua Serikat di sini."
"Untuk Ketua
Serikat kami? Baiklah. Akan segera saya sampaikan."
Setelah itu,
Elma-san memanggil seorang staf yang lewat dan memintanya memberikan surat itu
kepada Ketua Serikat.
Fiuh, dengan ini
setengah dari tugas penunjukan dari Ketua Serikat Ibu Kota selesai. Sisanya
tinggal meminta Ketua Serikat di sini menulis surat balasan, lalu membawanya
kembali ke Ibu Kota. Selesai!
"Omong-omong,
apa maksud perkataan Elma-san tadi soal aku yang jadi penyebab keramaian karena
naik ke Rank S?"
Tiba-tiba saja
aku teringat ucapan Elma-san tadi dan mencoba menanyakannya... tapi.
"Deg!
..."
Seketika itu
juga, kilatan tajam kembali muncul di mata Elma-san.
"Ah, tidak.
Kalau tidak mau bilang juga tidak apa-apa."
"Tidak,
tidak. Saya sangat ingin Rex-san mendengarnya."
Gawat,
aku salah bicara!?
"Fu...
fufu... Rank S itu gelar yang sangat istimewa bagi para petualang,
lho."
"Istimewa... ya?"
Yah, karena itu peringkat tertinggi di dunia petualang, aku
bisa memahaminya. Tapi karena aku merasa jadi Rank S gara-gara penilaian
berlebih, aku merasa sedikit tidak enak.
"Karena itulah, para petualang di dunia ini beserta
orang-orang yang bercita-cita menjadi petualang, terkadang berkumpul di gedung
serikat tempat petualang Rank S bernaung karena ingin tertular
keberuntungannya."
"Eh? Tapi kalau begitu, bukannya mereka seharusnya
pergi ke Ibu Kota?"
Karena aku naik
ke Rank S di sana, dan sekarang markas kegiatanku juga ada di Ibu Kota.
"Nah, di
situlah poinnya. Di Ibu Kota itu banyak orang kuat, dan level permintaannya
juga banyak yang tinggi. Jadi, mereka pikir lebih baik mencari berkah di gedung
serikat tempat petualang Rank S itu pertama kali mendaftar."
Eh—apa-apaan itu?
Mencari berkah tapi logikanya agak terbalik, ya.
"Meskipun
begitu, di kota pinggiran seperti ini tidak banyak pekerjaan hebat. Seperti
yang kamu lihat, sekarang terjadi perebutan permintaan tugas, dan yang tersisa
hanyalah permintaan rutin yang murah. Orang-orang itu juga sebentar lagi akan
kehabisan uang dan pindah ke kota lain. Kita hanya perlu bersabar sampai saat
itu tiba."
Begitu ya. Jadi
ini cuma fenomena sementara.
"Tapi Anda
terlihat sudah terbiasa menanganinya, ya."
"Ya,
begitulah. Hal seperti ini sering terjadi jika ada petualang yang naik ke Rank
B atau lebih tinggi. Bisa dibilang ini seperti mencari peruntungan."
Begitu ya, jadi
suasananya mirip seperti pergi berdoa ke kuil atau tempat suci. Karena
petualang adalah dunia berbasis kemampuan di mana mereka bekerja sendiri,
mungkin mereka jadi lebih percaya pada takhayul atau keberuntungan. Namun, jika
begini jadinya, aku memang mengerti kenapa aku yang disalahkan. Rasanya jadi
tidak enak hati.
Tiba-tiba, gedung
serikat menjadi gaduh.
"Ada apa
ya?"
Sepertinya
kegaduhan terjadi di pintu masuk gedung serikat. Dan suasananya terasa seperti
sedang menuju ke arah sini...
"Oi, Elma-chan. Bisa bicara sebentar?"
Yang muncul di sana adalah seorang ksatria dengan pakaian
yang gagah.
"Lho?"
Anehnya,
aku merasa seperti pernah mengenal orang ini. Tapi tidak mungkin, kan? Dalam
kehidupanku yang sekarang, aku seharusnya tidak punya kenalan seorang ksatria.
"Aku ada
urusan dengan Ketua Serikat... eh? Kamu kan..."
Suara ini, aku
pasti pernah mendengarnya.
"Ah,
ternyata benar kamu, Rex! Sudah lama tidak bertemu!"
"Ja-jangan-jangan,
Aug...-san?"
"Yo, benar
sekali! Aku adalah mantan senior petualangmu yang bisa diandalkan, Aug!"
Benar!
Karena dia terlihat sangat rapi dan berpakaian bagus, aku sempat tidak
mengenalinya!
"Tapi,
'mantan'?"
Apa
maksudnya?
"Ah,
sekarang aku sudah pensiun jadi petualang dan menjadi ksatria! Mulai sekarang,
panggillah aku Ksatria Aug!"
Ksatria? Aug-san
jadi ksatria!? Jadi itu
alasan kenapa dia terlihat sangat bersih dan rapi!?
"Tunggu,
KSATRIAAAAAAAA!?"
Tu-tunggu sebentar!? Dibandingkan fakta aku jadi Rank S, bukankah ini berita yang jauh lebih menggemparkan!?



Post a Comment