Arc Modern
Catatan Petualangan Sang Putri
"Meminta saya untuk memperingatkan Dora-san...
begitu?"
Setelah kembali dari Dataran Korosi, aku segera mendatangi
gedung serikat karena menerima panggilan darurat dari mereka.
Di dalam ruang tamu, seorang staf serikat menjelaskan
situasinya kepadaku mengenai "Dora", sebuah golem berbentuk
manusia yang dikendalikan dari jarak jauh oleh Idra-sama.
"Sebenarnya, akhir-akhir ini dia terus-menerus terlibat
masalah dengan orang-orang dari dunia bawah," ujar staf itu.
"Dunia bawah?"
Aku merasa bingung mendengar nama kelompok yang sepertinya
sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Idra-sama. Apa sebenarnya yang telah
terjadi?
"Benar, dunia bawah. Apalagi mereka itu kelompok yang
cukup berbahaya."
"Jadi, permintaan untuk memperingatkan Dora-san ini
maksudnya adalah meminta aku untuk diam-diam membantunya melarikan diri dari
kota, begitu?"
Berurusan
dengan orang-orang dunia bawah itu sangat merepotkan. Sekali terlibat dengan
mereka, mereka akan terus menyerang tanpa henti.
Aku
teringat dulu pernah melepaskan sihir serangan penjerat yang hanya bereaksi
terhadap orang dengan niat jahat demi menyapu bersih organisasi musuh, tapi
malah berakhir memusnahkan organisasi lain yang tidak bersangkutan.
Gara-gara itu,
aku sempat kesulitan karena mendapat balasan dari cabang di kota lain.
Bagaimanapun,
sepertinya Idra-sama sedang berselisih dengan orang-orang seperti itu.
Karena
Dora hanyalah sebuah golem, Idra-sama sebagai pengendali memang tidak
berada dalam bahaya fisik, tapi jika Dora terlalu mencolok, itu akan berdampak
buruk bagi kehidupan keseharian Idra-sama sebagai Dora.
"Tidak,
tidak perlu melarikannya. Organisasi itu sudah hancur," jawab staf itu.
"Eh?
Hancur?"
"Ya,
organisasi yang berselisih dengan Dora-san sudah dihancurkan oleh tangannya
sendiri, jadi hampir tidak ada kekhawatiran soal balas dendam. Hanya
saja..."
"Hanya
saja, apa?"
Saat aku
mendesaknya, staf serikat itu mengeluarkan suara yang terdengar seperti antara
tawa getir dan helaan napas.
"Masalahnya,
dia sudah menghancurkan beberapa organisasi dengan cara yang sama. Itu
benar-benar gawat."
"Hah!?
Apa yang sebenarnya dilakukan Dora-san!?"
Tunggu
dulu, menghancurkan beberapa organisasi!? Apa yang dia pikirkan sebenarnya!?
"Yah,
begitulah. Kami tahu seberapa kuat dia dari insiden-insiden sebelumnya, tapi
jika dia terus menghancurkan organisasi satu demi satu, organisasi lain yang
tersisa di ibu kota mungkin akan menyerangnya duluan sebelum mereka sendiri
dihancurkan. Jika itu terjadi, hasilnya pasti tidak akan baik."
Begitu
ya, itu masuk akal. Meski Idra-sama sendiri tidak dalam bahaya, orang-orang di
sekitarnya bisa saja terkena dampaknya.
Lagipula,
bagi orang-orang serikat yang tidak tahu identitas asli Dora, wajar saja jika
mereka mengkhawatirkan keselamatannya. Jadi, itu sebabnya dia terus terlibat
masalah dengan dunia bawah.
"Karena
itulah, sebagai orang yang membawanya ke sini, aku ingin kamu menasihati
Dora-san."
Ya, ini
memang menjadi tanggung jawabku juga. Karena aku yang memperkenalkan Idra-sama
ke serikat, meskipun kegiatan petualang adalah tanggung jawab pribadi, aku
tetap harus memenuhi kewajiban moralku sebagai perantara.
Aku
pernah dengar bahwa menimbulkan masalah bisa merusak reputasi orang yang
memperkenalkan kita, tapi ini pertama kalinya aku diminta menghentikan
seseorang justru karena dia terlalu banyak menimbulkan masalah.
Meski
begitu, memang benar kalau ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Baiklah,
aku akan bicara baik-baik dengan Dora-san."
"Terima
kasih. Kami juga akan mencoba menengahi dari sisi kami."
Pernyataan itu
mungkin berarti pihak serikat akan menggunakan koneksi mereka untuk
memperingatkan orang-orang dunia bawah agar tidak mengganggu Dora lagi.
Baik pihak
serikat maupun dunia bawah pasti tidak ingin menciptakan konflik besar di
antara mereka.
Kalau begitu,
sebaiknya aku segera pergi memperingatkan Idra-sama.
◆
"Begitulah
situasinya."
Untuk menemui
Idra-sama, pertama-tama aku memutuskan untuk menjelaskan keadaannya kepada
Meguri-san yang memiliki hubungan sangat dekat dengannya.
"---!?"
Wajah Meguri-san
langsung memucat. Dia terburu-buru menarik lenganku dan membawaku menemui
Idra-sama.
Yah, karena aku
bukan bangsawan, kami harus menyelinap masuk melalui jendela saat malam hari.
"Ya ampun,
jadi begitu ya ceritanya."
Namun, Idra-sama
yang diberi penjelasan justru tampak tidak memahami gawatnya situasi ini sama
sekali.
Dia menanggapi
hal itu seolah-olah merupakan urusan orang lain. Yah, dalam arti tertentu, mereka memang sosok
yang berbeda, sih.
"Kalau sudah
begini, kita tidak punya pilihan selain menyita golem itu!"
Namun, yang tidak
bisa membiarkannya begitu saja adalah Meguri-san. Suasana tenang yang biasanya
menyelimuti dirinya telah hilang, dan dia tampak sangat marah.
Lebih tepatnya,
dia benar-benar murka kali ini. Tapi itu wajar saja.
Sebagai pemeran
pengganti Idra-sama, dia harus memastikan tidak ada bahaya yang mengancam
keselamatan sang putri, sekecil apa pun itu.
Mendengar kata
"penyitaan", Idra-sama sepertinya baru menyadari gawatnya situasi dan
mulai panik.
Yah, mungkin dia
hanya tidak mau kehilangan mainannya itu.
"Tu-tunggu,
Megurielna! Rasanya tidak perlu sampai sejauh itu, kan?"
"Sangat
perlu! Bagaimana kalau identitas asli Idra-sama terbongkar karena golem
itu? Lagipula, golem itu seharusnya digunakan untuk menikmati dunia
luar, bukan untuk membuat keributan."
Mendengar
argumen masuk akal dari Meguri-san, Idra-sama menjadi terbata-bata.
"Ta-tapi,
aku tidak bisa membiarkan begitu saja orang-orang yang berbuat jahat,
kan?"
"Meskipun
begitu, Idra-sama tidak perlu turun tangan langsung. Bukankah lebih baik
melapor pada penjaga kota saja?"
"I-itu
memang benar, sih..."
Ya, sepertinya
Idra-sama kalah telak.
"Jika Anda
sudah mengerti, maka golem itu akan saya sita."
"Jangan yang
ituuu!"
Ternyata dia
masih belum menyerah. Idra-sama memeluk Meguri-san sambil memohon dengan
sangat.
Biasanya
Idra-sama terlihat seperti seorang kakak, tapi sekarang Meguri-san malah
terlihat seperti kakak yang tegas. Atau mungkin adik yang sangat dewasa?
"Kumohon!
Aku akan jadi anak baik! Jangan yang itu saja!"
Malah terlihat
seperti ibu dan anak, ya?
"Meskipun
Anda bilang begitu, golem itu sudah terlalu mencolok. Mengubah sikap
sekarang pun tidak akan menghapus fakta bahwa dia telah diincar oleh dunia
bawah!"
"Tolong lakukan sesuatu... Ah! Rex, bukankah kamu bisa melakukan sesuatu!?"
Tiba-tiba,
pandangan Idra-sama beralih kepadaku.
"Eh!?
Aku!?"
"Kumohon!
Tolong bantu supaya tidak disita!"
Meski diminta
tolong begitu...
"Hmm...
begini ya..."
"Rex, kamu
tidak perlu memanjakan Idra-sama."
"Tega
sekali~"
Wah, itu
benar-benar kalimat seorang ibu. Meguri-san pasti akan menjadi istri yang sangat tegas nanti.
Di saat seperti
ini, bicara sembarangan hanya akan membuatku dimarahi seperti paman-paman
tetangga yang ditegur oleh ibu rumah tangga, tapi mengabaikan pandangan memohon
Idra-sama juga membuatku merasa tidak enak.
Begitu ya, jadi
ini alasan kenapa paman-paman itu akhirnya malah membela anak perempuan mereka
dan berakhir dimarahi bersama...
"Anu, kalau
begitu bagaimana kalau kita ubah penampilannya saja?"
Akhirnya aku
mengusulkan solusi yang sederhana namun mendasar.
"Mengubah
penampilan?" tanya mereka serempak.
"Iya. Jika
penampilan Dora sudah terlalu mencolok, kita tinggal mengubah tampilannya dan
menjadi orang lain."
"Apa hal
seperti itu bisa dilakukan!?"
"Pada
dasarnya penampilan itu hanya buatan. Mengubahnya dengan sihir bukan hal yang
sulit, kok."
Benar, bagian
luar golem itu hanyalah kerangka buatan. Mengubah desainnya jauh lebih
mudah daripada memodifikasi struktur internalnya.
"Kalau
begitu, kumohon lakukan itu!"
"Tapi karena
Anda akan menjadi orang lain, semua prestasi petualang yang telah diraih
sebagai Dora akan hilang."
Ya, karena
identitasnya akan dibuat ulang sepenuhnya, syarat ini harus diterima.
"Itu...
sayang sekali, tapi aku menyerah soal itu. Lebih baik begitu daripada aku tidak
bisa keluar rumah sama sekali."
Idra-sama setuju
dengan syarat itu.
"Begitu
keputusannya, bagaimana menurutmu, Meguri-san?"
"...Hah, mau
bagaimana lagi."
Meguri-san
mengangkat bahu sambil menghela napas panjang, lalu kembali menatap Idra-sama
dengan wajah serius.
"Baiklah.
Kali ini saya akan memaafkan Anda. Tapi, Anda dilarang menjadi petualang lagi."
"Eeh!?"
Idra-sama berseru tidak puas saat dilarang menjadi petualang.
"Idra-sama?"
"...Ba-baiklah."
Ahaha, dia
terlihat sangat terpaksa.
"Lalu Rex,
apakah mengubah tampilan golem itu hanya sebatas wajah saja?" tanya
Meguri-san setelah kesepakatan tercapai.
"Tidak, aku
juga bisa mengubah bentuk tubuhnya."
Bagian paling
rumit dari golem adalah sistem penggerak dan sumber tenaganya.
Bagian luar dan
kerangkanya bisa diubah bentuknya menggunakan sihir pembentuk, jadi memperkecil
ukurannya cukup mudah dengan membuang bahan yang tidak perlu.
"Begitu ya.
Kalau begitu, bisakah kamu mengubah golem Idra-sama menjadi bentuk
seorang anak kecil?"
"Eeeh!?"
"Anak kecil?
Untuk apa?" tanya Idra-sama bingung.
"Sebab
jika dalam bentuk anak kecil, Anda tidak akan bisa diam-diam menjadi petualang
lagi, kan?"
"..."
"A-Ah..."
Kalau alasannya
begitu, aku tidak punya pilihan selain menyetujuinya. Lagipula, orang dewasa
yang mengendalikan golem tipe anak kecil sebenarnya bukan hal yang aneh.
Ada orang tua
yang khawatir apakah anak mereka yang pemalu bisa berteman dengan baik, lalu
menggunakan golem tipe anak kecil untuk mengawasi mereka secara
diam-diam.
Ada juga orang
yang masa kecilnya terlalu sibuk atau dididik terlalu keras sehingga tidak
sempat bermain, lalu mereka berpura-pura menjadi anak kecil untuk bergabung
bermain dengan anak-anak lain demi menebus masa kecil mereka.
Karena sempat ada
orang yang menyalahgunakan bentuk anak kecil untuk tujuan jahat, sekarang
diperlukan izin khusus bagi orang dewasa untuk membeli golem tipe
tersebut.
Singkat cerita,
mengubahnya menjadi golem tipe anak kecil tidaklah sulit.
"Kalau
begitu, tolong kerjakan, ya. Ah, tentu saja aku akan membayar imbalannya. Dari
uang saku Idra-sama."
"Tega
sekali~!"
Maka dari itu,
aku pun memodifikasi Dora menjadi bentuk anak kecil.
Dengan ini,
permintaan serikat agar Dora tidak lagi terlibat masalah dengan dunia bawah
seharusnya terpenuhi.
Idra-sama juga
tidak akan bisa terlibat dalam hal-hal berbahaya dalam wujud anak kecil, dan
kekhawatiran Meguri-san pun akan sirna!
Setidaknya,
begitulah pikirku saat itu...
◆
"Rex, aku
ada permintaan."
Beberapa hari
setelah aku memodifikasi golem Idra-sama, Meguri-san datang menemuiku
dengan wajah yang tampak sangat lelah.
"Tolong
buat agar golem Idra-sama tidak bisa digunakan lagi."
"Eh?
Dilarang digunakan? Padahal golem Idra-sama baru saja diperbarui,
kan?"
Aku menanyakan
alasannya. Dan ternyata...
"Kali ini
dia memimpin anak-anak di lingkungan sekitar dan membentuk 'Pasukan Ksatria
Cilik', lalu mulai menyerang para penjahat di daerah pinggiran kota..."
"Apa-apaan
itu?"
Kenapa bisa jadi
seperti itu?
"Sepertinya
ada anak-anak di daerah pinggiran dan daerah kumuh yang menjadi korban, dan
saat dia menolong mereka, entah bagaimana tahu-tahu sebuah pasukan sudah
terbentuk..."
Yah, aku bisa
mengerti perasaannya, tapi bukankah lebih baik kalau dia melapor ke pos penjaga
saja...
Akhirnya, karena
mengubah penampilan pun terbukti tidak ada gunanya, golem tipe gadis
kecil milik Idra-sama yang bernama 'Little Dora' pun diputuskan untuk disita.
Namun...
"Aku tidak
akan mengulanginya lagiii!"
Idra-sama yang
tahu golem-nya akan disita langsung melakukan perlawanan sengit, atau
lebih tepatnya, dia terus bergelantungan memohon-mohon.
"Tidak
boleh."
Namun,
kepercayaan Meguri-san kepada Idra-sama yang sudah berbuat ulah dua kali sudah
berada di titik terendah, dan tatapannya terasa sangat dingin.
"Kumo-hooo-nnn."
Setelah
perdebatan panjang antara menyita atau tidak, akhirnya Meguri-san yang tidak
tahan dengan permohonan Idra-sama pun luluh.
Sebagai jalan
tengah, diputuskan untuk membuat golem tipe hewan kecil yang benar-benar
tidak bisa menimbulkan keributan.
Yah, pada
akhirnya Meguri-san memang sangat memanjakan Idra-sama.
"Jika
bentuknya burung kecil, dia tidak bisa bicara sembarangan apalagi bertarung.
Kali ini pasti aman!"
Meguri-san
menegaskan hal itu dengan nada yang sedikit putus asa.
"Eeh,
membosankan~"
"Glek."
(Meguri menatap tajam)
"Ma-maaf..."
Maka dari itu,
aku pun ditugaskan untuk membuat golem berbentuk burung kecil sebagai golem
terakhir Idra-sama.
"Rex,
jangan pasang fungsi bertarung, ya!"
"Eh?
Tapi setidaknya sihir serangan sederhana untuk melindungi diri..."
"Idra-sama,
sepertinya Anda tidak butuh dibuatkan lagi, ya?"
"Baik!
Tanpa fungsi serangan pun tidak apa-apa!"
Menerima tatapan
dingin dari Meguri-san, Idra-sama akhirnya menyerah. Karena itulah aku
memutuskan untuk membuat golem hewan yang benar-benar biasa saja.
Tapi...
"Nah, kalau
tidak ada fungsi bertarung, berarti bakal banyak ruang kosong untuk fungsi
lainnya. Terus karena bentuknya burung kecil, kalau desainnya begitu-begitu
saja, dia bakal gampang hancur kalau tidak dibuat sangat kokoh."
Ya, jika
bentuknya hewan besar, aku bisa menyiapkan rangka dan pelindung yang cukup
besar untuk menjaga kekuatannya. Tapi untuk burung kecil, justru akan muncul
masalah pada daya tahannya.
Kalau begitu, aku
butuh bahan yang menggabungkan kekerasan, kelenturan, dan keringanan, serta
desain yang memastikan kekuatan strukturnya, ditambah lagi dengan pemberian
sihir penguat.
"Ah benar
juga. Kalau untuk terbang, aku harus memasang sihir penerbang. Karena fungsi
bertarung ditiadakan, lebih baik aku buat supaya dia bisa terbang dengan sangat
cepat. Dengan begitu Idra-sama bisa jalan-jalan sampai jauh. Mungkin terbang
dengan kecepatan suara saja sudah cukup, kan?"
Ya, mencoba
mencapai performa maksimal untuk barang non-tempur sepertinya menarik juga.
◆
"Fiuh,
dengan ini sepertinya tidak perlu dibuat ulang lagi, kan?"
Setelah
semalaman begadang menyelesaikan golem burung kecil tersebut, aku segera
menyerahkannya kepada Meguri-san. Dengan ini, Idra-sama pasti akan puas.
"Hoaam...
aku benar-benar lelah. Hari ini aku tidur saja tanpa mengambil permintaan
tugas."
Istirahat yang
cukup juga merupakan bagian dari pekerjaan seorang petualang. ...Zzz.
"Aku
pulang~"
Kesadaranku
terbangun mendengar suara seseorang yang baru kembali. Saat melihat ke luar,
langit sudah berwarna oranye.
Sepertinya aku
sudah tidur lebih dari setengah hari. Karena merasa sedikit lapar, aku pergi ke
ruang tengah dan melihat Liliera-san serta yang lainnya yang baru pulang sedang
bersantai di sofa.
"Selamat
datang kembali, semuanya."
"Selamat
datang kembali. Hei, Rex-san, sudah dengar rumor itu?"
"Rumor?"
Rumor macam apa itu?
"Begini, katanya tadi siang ada penangkapan
besar-besaran di tengah kota. Saat
itu ada penjahat yang melarikan diri dan mencoba menjadikan anak-anak sebagai
sandera."
"Eeh!? Apa
hal semacam itu terjadi!? Apa anak-anaknya baik-baik saja!?"
Menjadikan
anak kecil sebagai sandera adalah insiden yang sangat besar!
"Iya,
dan para penjaga kota pun tidak berani bertindak gegabah. Tapi katanya
tiba-tiba muncul seekor burung kecil yang dalam sekejap berhasil mengalahkan
para penjahat itu."
"Heh, seekor burung... hmm? Burung kecil?"
Tunggu sebentar. Burung kecil? Rasanya ada yang
mengganjal...
"Yah, syukurlah anak itu selamat, tapi karena seekor
burung yang bisa mengalahkan manusia itu tidak wajar, orang-orang mulai heboh
menganggapnya sebagai monster."
Monster, burung kecil... Kalau dipikir-pikir, burung kecil
itu, sepertinya aku memasang berbagai fungsi karena terbawa suasana saat
mengerjakannya larut malam...
Tentu saja aku tidak memasang fungsi bertarung sesuai
permintaan, tapi jika dipikir secara jernih, aku sepertinya memasukkan banyak
sekali fungsi yang jika digunakan dengan benar bisa sangat efektif untuk
bertarung...
"Be-begitu ya..."
Aku perlahan berdiri dan melangkah menuju pintu depan.
"Lho? Rex-san mau keluar?"
"Iya,
ada urusan sebentar."
"Begitu
ya, hati-hati di jalan~"
Begitu
keluar rumah, aku segera menghilangkan keberadaanku dengan sihir dan langsung
berlari sekencang mungkin.
Dan
kemudian, terdengar suara yang sudah tidak asing lagi dari arah rumah...
"DI
MANA KAUUUUU REX!"
...Ya, sepertinya aku akan mengambil permintaan misi yang memakan waktu satu bulan di kota tetangga, atau mungkin di kota perbatasan saja!



Post a Comment