NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 5

Chapter 184

Mereka yang Menuju Pelabuhan


Liliera

"Nah, sekarang apa yang harus kita lakukan ya?"

Aku dan Meguri, yang berhasil menolong para bajak laut yang terjatuh ke laut, entah bagaimana bisa mendarat di Negeri Timur.

Beruntungnya lagi, kami sampai di sebuah kota pelabuhan, tapi informasi mengenai Rex-san dan yang lainnya tidak ditemukan di mana pun.

"Apa kita sebaiknya menunggu di kota ini, atau mencari di kota pelabuhan lain?"

Saat ini, kami tidak punya sarana untuk menghubungi rekan-rekan kami. Pasalnya...

""Tak disangka ternyata tidak ada Guild Petualang di sini...""

Begitulah. Di Negeri Timur ini, organisasi bernama Guild Petualang itu tidak eksis.

Berkat itu, rencana untuk meminta bantuan guild guna mencari tahu keberadaan Rex-san di cabang lain jadi tidak bisa digunakan.

"Kalau begini, kita benar-benar buntu."

"Maafkan kami, Kak. Ini semua gara-gara menolong kami..."

"Maaf ya."

Dista dan Shitaba, dua bajak laut yang kami selamatkan, membungkuk meminta maaf.

"Tidak perlu dipikirkan. Ini adalah hasil dari keputusan dan tindakan kami sendiri untuk menolong kalian."

"Mm. Semua tindakan petualang adalah tanggung jawab pribadi. Itulah harga diri seorang petualang sebagai manusia bebas."

Benar, apa pun yang dilakukan adalah tanggung jawab sendiri. Itulah kebanggaan kami.

""K-keren baangeeet!!""

Bisa tidak ya, Dista dan Shitaba berhenti kegirangan sambil menatap kami dengan tatapan kagum begitu?

Orang-orang yang lewat jadi melihat ke arah sini dengan wajah heran. Karena pakaian di Negeri Timur memiliki desain yang unik, penampilan kami sebagai orang asing jadi semakin mencolok.

"Po-pokoknya, karena Rex-san tidak ada di kota ini, bukankah lebih baik kita pergi ke kota pelabuhan lain? Jika beruntung, mungkin kita bisa bertemu mereka di sepanjang jalan raya."

"Aku juga berpikir begitu. Aku sudah bertanya pada orang-orang di pelabuhan tentang arah datangnya badai, jadi aku tahu dari mana kita hanyut. Jika kita berjalan ke arah sana, kita seharusnya sampai di kota pelabuhan terdekat dari lokasi badai itu terjadi."

Luar biasa, Meguri. Dia benar-benar teliti soal hal semacam itu.

"Kalau begitu, mari kita segera berangkat."

"Mm."

""Siap!!""

Maka kami pun memutuskan untuk menuju kota pelabuhan lain, tapi...

"Hyahhaaa! Jika sayang nyawa, cepat lari sana! Meski begitu, aku tidak berniat membiarkan kalian lolos hidup-hidup!"

"Akan kami preteli semua barang bawaan kalian!"

Tak lama setelah meninggalkan kota dan berjalan kaki, kami malah berpapasan dengan bandit.

"Ah—pemandangan yang pernah kulihat di suatu tempat."

""Maaf ya.""

Omong-omong, yang diserang bukan kami, melainkan sebuah kereta kuda.

"Sepertinya bukan kereta pedagang biasa ya."

"Keretanya mewah, bukan kereta pos umum."

Intinya, itu kereta orang kaya. Masalahnya, kalau itu orang kaya, ada kemungkinan yang diserang adalah bangsawan.

Aku sering mendengar cerita petualang yang niatnya menolong malah jadi terseret masalah rumit dengan bangsawan, jadi bertindak gegabah itu berbahaya.

"Kak, coba lihat perlengkapan pengawalnya. Itu zirah Negeri Timur."

Mendengar ucapan Dista, aku melihat ke arah para pengawal yang sedang bertarung.

Apakah itu zirah kulit?

Berbeda dengan yang biasa digunakan petualang, desainnya terlihat sangat rumit dan penuh hiasan.

"Itu adalah zirah resmi ksatria Negeri Timur."

"Heh, ksatria Negeri Timur memakai zirah kulit ya?"

"Ksatria di sini menyesuaikan dengan iklim dan medan. Daripada full plate, mereka lebih suka memakai zirah kulit yang diperberat dengan hiasan mencolok dan cat warna-warni."

Begitu ya, karena faktor daerah, zirah kulit lebih mudah digunakan di sini.

"Lalu, zirah ksatria yang tumbang itu juga sama. Artinya, rombongan yang diserang ini adalah orang kaya yang sanggup menyediakan perlengkapan seragam seperti itu."

"Benar. Bangsawan yang sanggup memberikan perlengkapan bagus untuk semua anggotanya adalah orang kaya. Artinya, gelarnya tinggi."

"Ya, begitulah kira-kira."

Tak disangka para bajak laut ini cukup cerdas juga. Tidak, mungkin itu cuma keahlian mereka dalam menilai mangsa.

"Bagaimanapun, jika yang diserang adalah bangsawan tinggi, bukankah kita bisa membuat mereka berutang budi jika menolongnya?"

Mereka mungkin akan membantu kami untuk bertemu kembali dengan Rex-san.

"Liliera, ada satu hal lagi."

Meguri menarik lenganku.

"Apa?"

"Para bandit itu, meski perlengkapan mereka seadanya, mereka sanggup mendesak para pengawal berbaju zirah yang terlatih."

"Ah."

Sadar akan maksud Meguri, aku mengamati gerakan para bandit itu.

"Benar. Gerakan bandit-bandit itu jelas sangat bagus."

"Maksudnya bagaimana?"

Menjawab kebingungan Dista, aku menjelaskan maksud pemahamanku.

"Intinya, bandit-bandit itu lebih kuat daripada ksatria profesional yang dilatih secara khusus dan memiliki perlengkapan lebih baik."

"Berarti mereka cuma bandit yang kebetulan sangat kuat dan rombongan itu lagi sial?"

Hmm, sepertinya belum paham ya.

"Artinya, kemungkinan besar bandit-bandit itu adalah tentara profesional atau pembunuh bayaran ahli yang menyamar jadi bandit."

""Ooooh!!""

Mendengar jawaban Meguri, Dista dan Shitaba berseru paham.

"Kalau begitu, situasinya jadi mulai berbau amis ya."

"Tadi mereka bilang tidak berniat membiarkan lawan lolos hidup-hidup. Jika mereka tahu lawannya orang kaya, harusnya mereka meminta tebusan. Tidak melakukannya adalah hal yang mencurigakan."

Hmm, sudah jelas ini sebuah konspirasi.

"Bagaimana?"

Meguri menatapku, menunggu keputusan. Dia memintaku memutuskan sebagai pemimpin kelompok ini. Apa dia sedang menghormatiku sebagai petualang senior?

"Eh? Bukannya kita harus sembunyi dan membiarkan mereka lewat?"

"Lawannya adalah orang ahli yang bisa mengalahkan ksatria asli lho?"

Dista dan Shitaba tampak gemetar ketakutan, padahal kalian kan aslinya bajak laut.

"Menurutku, jika mereka bangsawan yang sampai diincar seperti itu, kemungkinan besar mereka punya posisi yang cukup penting. Jika kita menolong orang seperti itu, mereka pasti akan memberikan banyak kemudahan bagi kita nanti."

"Ta-tapi jumlah mereka lebih banyak dari kita!"

"Apalagi mereka kuat!"

"Tidak masalah. Aku sudah mengamati gerakan para bandit itu. Kalau cuma segitu, kita bisa menang."

Benar, kami tidak hanya sekadar menonton. Kami sudah memastikan apakah musuh-musuh itu bisa kami lawan atau tidak.

"Aku akan menyerang dengan sihir dari darat, Meguri lakukan serangan kejutan dari atas, oke?"

"Oke."

"Kalau begitu kami yang tidak berguna ini akan sembunyi agar tidak menghalangi ya..."

...Yah, kurasa itu lebih baik.

"Aku berangkat."

Meguri segera menghilang ke balik bayangan dan menjauh dariku. Setelah dia memastikan jarak yang cukup, aku merapalkan sihir ke arah para bandit.

"Ice Rush Arrow!"

Aku menembakkan sihir panah es tingkat rendah secara beruntun ke arah bandit.

Sebagai seorang pejuang, mana milikku tidak banyak sehingga aku tidak bisa menggunakan sihir yang spektakuler, tapi selama aku punya sarana serangan jarak jauh, cakupan taktikku akan meluas. Seperti untuk pengalih perhatian kali ini.

Meskipun begitu, karena lawan adalah pejuang berpengalaman, serangan kejutan tingkat ini mungkin tidak akan memberikan damage besar.

"A-apa ini?!"

"Guwaaaa?!"

"Gyaaaaa!!"

Eh? Ternyata cukup ampuh? Di saat aku terkejut, Meguri menyerbu para bandit dari atas.

"Gah?!"

"Da-dari mana—guakh?!"

"Di mana musuhnya?! Gofuh?!"

Meguri yang menyerbu dari atas langsung berjongkok di tanah memanfaatkan momentumnya, lalu segera terbang kembali ke langit menggunakan sihir terbang.

Saat melakukannya, dia menebas satu orang lagi dengan tebasan miring ke atas.

Karena musuh yang tiba-tiba masuk ke jarak dekat menghilang dalam sekejap, para bandit kehilangan jejak Meguri dan mencari ke sekeliling.

Manusia normal pasti tidak akan menyangka bakal diserang dari atas. Memanfaatkan kejutan psikologis itu, Meguri berkali-kali menyerang bandit dengan bergerak zig-zag berkecepatan tinggi antara langit dan bumi.

Namun, jika hal yang sama dilakukan berulang kali, wajar jika para bandit mulai terbiasa. Bagaimanapun, mereka adalah pembunuh bayaran ahli.

"Atas! Dia ada di atas!"

"Dia terbang?! Sihir?! Bukan, apa itu barang sihir?!"

Gaya bicara bandit yang setengah panik itu kembali ke asalnya untuk sesaat. Benar saja, mereka hanya berpura-pura jadi bandit.

"Tapi yah, mengabaikan keberadaanku adalah sebuah kecerobohan. Ice Rush Arrow!"

Aku menghantamkan sihir ke wajah para bandit yang sedang mendongak ke atas saat Meguri kabur ke langit.

""Guwaaaa!!""

Sihir yang mendarat telak memberikan luka berat pada para bandit, dan Meguri menghabisi sisa-sisa bandit yang masih bertahan.

"Selesai sudah."

Semua bandit telah dikalahkan, yang tersisa hanya kami dan para pengawal yang selamat.

"Kalian tidak apa-apa?"

Aku menyapa para pengawal yang masih terpana dengan nada suara yang tenang.

Namun, para pengawal itu segera tersadar dan menghunuskan pedang ke arah kami dengan tatapan waspada.

"Si-siapa kalian?!"

"Kami melihat kalian diserang dan datang untuk membantu. Buktinya, yang tumbang di sana hanyalah bandit-bandit yang menyerang kalian, kan?"

"Muuu..."

Para pengawal melirik ke arah bandit, tampak ragu bagaimana harus menilai situasi ini.

"Te-terima kasih atas bantuannya. Tapi bukan berarti kalian bukan kelompok penjahat lain. Jadi, jangan mendekat!"

Begitu ya, jadi mereka berpikir begitu. Mungkin mereka mengira para bandit tadi adalah pengalih perhatian, dan kamilah musuh yang sebenarnya. Hmm, ini di luar dugaan.

"Hentikan."

Saat aku sedang bingung bagaimana cara meyakinkan mereka, pintu kereta terbuka dan seorang lelaki tua dengan pakaian yang tidak biasa keluar.

"Tuan?! Di luar masih berbahaya! Mohon kembali ke dalam!"

"Jangan mempermalukan diri, dasar bodoh! Jika mereka adalah bawahan orang itu, mereka tidak perlu menolong kita. Cukup biarkan para pengejar yang menyamar jadi bandit itu menyerang kita. Tidak ada gunanya membunuh rekan mereka yang sedang unggul hanya untuk mendekatiku!"

Ah, syukurlah. Sepertinya ada orang yang bisa melihat situasi dengan kepala dingin.

"Maafkan mereka. Orang-orang ini hanya sedang panik demi melindungiku. Tolong jangan diambil hati."

"Tu-tuan?!"

Melihat tuan mereka meminta maaf, para pengawal itu menjadi pucat dan gelisah. Hmm, kalau mudah gelisah begitu, apa mereka benar-benar bisa jadi pengawal? Aku jadi sedikit khawatir.

"Tolong jangan dipikirkan. Mungkin mereka masih tegang setelah pertarungan tadi."

"Aku berterima kasih jika kau berkata begitu. Rasanya kurang pas jika kita bicara sambil berdiri di sini. Jika kalian berkenan, aku ingin mengundang kalian ke kediamanku. Aku ingin membalas budi secara resmi karena telah menyelamatkan nyawaku."

Aku dan Meguri saling bertukar pandang.

"Bagaimana?"

"Menurutku tidak apa-apa. Kita juga tidak sedang terburu-buru."

"Benar juga."

Tentu saja, diskusi barusan hanyalah akting. Kami memang sudah memutuskan sejak awal untuk bekerja sama dengan pihak yang kami tolong.

"Baiklah. Kalau begitu, kami akan menerima undangan Anda."

"Umu. Kalau begitu, ikutlah."

Meski kami tidak diperbolehkan naik ke dalam kereta, sebagai gantinya kami diperbolehkan menunggangi kuda milik para pengawal.

Sepertinya mereka khawatir akan adanya bala bantuan bandit, rombongan ini terus melaju tanpa berhenti di desa atau kota mana pun, melainkan hanya mengganti kuda di tengah jalan.

Dan saat tiba di sebuah kota tepat ketika matahari hampir terbenam, barulah langkah kuda mulai melambat.

"Apa kita akan menginap di kota ini?" tanyaku pada pengawal yang memboncengku.

"Bukan, kota ini adalah tujuan kami."

Begitu ya, karena sudah dekat dengan tujuan, mereka memutuskan untuk langsung menembusnya sekaligus. Kereta kuda terus melaju di dalam kota, memasuki kawasan yang tampaknya adalah distrik bangsawan.

Dan saat kami terus melaju ke bagian dalam, terlihat sebuah kediaman dengan tembok yang sangat tinggi.

"Tuan telah kembali! Buka gerbang!"

Atas perintah pengawal, gerbang terbuka, dan kereta beserta kuda yang kami tunggangi masuk ke dalam.

"U-uwaaaa..."

Aku tak sengaja mengeluarkan suara. Pasalnya, di balik gerbang itu terbentang rumah mewah yang jauh melampaui dugaanku.

"Ada hutan di dalam gerbang?!"

"Hahaha, itu adalah taman."

"Taman?!"

Di kedua sisi jalan yang kami lalui, pepohonan dan bunga-bunga yang tampak seperti hutan tumbuh dengan indahnya.

Jika diperhatikan baik-baik, tata letak dan bentuknya memang hasil sentuhan tangan manusia. Terlebih lagi, ada banyak dekorasi yang tidak kumengerti berdiri di sana-sini.

"Luar biasa..."

Meguri pun tampak terpukau, hal yang jarang terjadi kecuali pada harta karun.

"A-apa tidak apa-apa kami ikut masuk ke sini?"

"U-uhyaa..."

Dista dan yang lainnya yang ikut bersama kami juga tampak tertegun melihat pemandangan kediaman dan taman ini.

"Hahaha, taman ini adalah kebanggaan Tuan kami. Meski banyak kediaman ksatria di Amatsumine, tidak ada yang skalanya sebesar ini selain kediaman ini."

Itu artinya, orang tua yang kami tolong adalah orang yang memiliki kekuasaan sangat besar... kan?

Setelah menyusuri jalan di antara taman selama beberapa saat, akhirnya pintu masuk kediaman terlihat.

"Besar sekali..."

Dilihat dari dekat, rumah itu benar-benar raksasa. Karena hari sudah senja dan sekeliling agak gelap, sulit untuk memastikannya, tapi luasnya luar biasa.

Dan di depan rumah, puluhan orang yang tampaknya adalah pelayan berdiri berjajar di kedua sisi jalan.

Kuda dan kereta yang berada di depan berhenti, dan setelah kami turun dari kuda, pintu kereta terbuka dan lelaki tua tadi menampakkan dirinya.

"""""Selamat datang kembali, Tuan!!"""""

"Umu, maaf telah membuat kalian khawatir."

Lelaki tua itu menyapa para pelayan, lalu menoleh ke arah kami.

"Nah, meski tadi kalian telah menolongku, aku belum memperkenalkan diri ya," ucapnya tiba-tiba.

"Lagipula, tadi situasinya kita tidak tahu di mana pengejar bersembunyi. Aku tidak ingin memberikan kepastian pada lawan bahwa akulah target yang mereka incar."

Begitu ya, makanya tadi dia langsung masuk ke kereta tanpa memperkenalkan diri.

"Lalu, kurasa karena di sini sudah banyak pengawal, meski kalian mencoba lari, dia bisa mengirim pengejar untuk menangkap kalian," bisik Meguri pelan agar hanya aku yang mendengar.

Kakek ini ternyata cukup licik juga ya.

"Namaku Sanyozoji Sakyounosuke. Aku menjabat sebagai Kepala Penasihat (Hittou Karou) di negeri ini."

"Kepala Penasihat...?"

Itu apa?

""K-Kepala Penasihat?!""

Seolah menggantikan aku yang tidak mengerti arti kata tersebut, Dista dan yang lainnya berseru kaget. Sebagai pelaut, apa mereka berdua ternyata cukup berpengetahuan?

"Kalian tahu itu apa?"

"T-tahu katamu?! Itu bukan sekadar tahu lagi!"

"Kepala Penasihat itu, jika di negeri kita, setara dengan kedudukan Wali Raja (Regent)!!"

"Heh—Wali Raja ya."

Begitu ya, memang pantas jika Dista dan yang lainnya terkejut...

"Tunggu, WALI RAJA?!"

Aku menoleh dengan kaget ke arah lelaki tua yang menyebut dirinya Kepala Penasihat itu. Dia menyeringai tipis dengan tatapan sedikit jahil dan berkata:

"Kalian terkejut, wahai gadis-gadis asing?"

"..."

Bukan cuma terkejut lagi... sepertinya kami baru saja berkenalan dengan sosok yang luar biasa penting...



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close