NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 6

Chapter 185

Pedagang dan Kapal Terbang


"Yah, benar-benar sangat terbantu."

Di atas kapal yang sudah babak belur, seorang pria yang tampak sangat kelelahan menyampaikan rasa terima kasihnya kepadaku.

"Jika Anda tidak lewat di sini, kami mungkin sudah menenggelamkan kapal ini tepat di depan pelabuhan."

Benar sekali. Kami sebenarnya sudah hampir sampai di pelabuhan Negeri Timur, tapi kebetulan kami menemukan sebuah kapal yang saat itu juga nyaris tenggelam.

Apalagi di sekeliling kapal tersebut, puluhan monster sedang berenang berputar-putar, membuat mereka tidak punya jalan keluar untuk melarikan diri dari kapal.

Tentu saja, melihat situasi seperti itu, aku tidak mungkin mengabaikannya.

Aku menyerahkan kemudi kepada Kapten, lalu menyapu bersih para monster itu dengan sihir. Setelah itu, aku segera membuat kapal mereka melayang ke udara dengan sihir.

Untungnya, karena alat terbangku sudah selesai, kapal bajak laut yang kami tumpangi sudah bisa bergerak sendiri meski tanpa kehadiranku.

"Tidak, jangan terlalu dipikirkan. Sudah sewajarnya kita menolong orang yang sedang kesulitan."

"Tidak, tidak, membuat kapal yang hampir tenggelam melayang dengan sihir bukanlah hal yang bisa dilakukan penyihir biasa! Bertemu dengan Anda pastilah petunjuk dari Tuhan!"

"A-ahaha, Anda berlebihan sekali."

Mendengar kata 'Tuhan', aku teringat pada para bajak laut yang salah paham dan mengira aku sebagai Dewa Laut, yang membuatku hanya bisa tersenyum kecut.

"Nama saya Seibei, saya berdagang di kota pelabuhan Hatoba yang ada di dekat sini."

"Nama saya Rex. Saya datang ke negara ini untuk urusan pekerjaan."

"Ah, ternyata benar Anda orang asing. Diselamatkan oleh orang seperti Anda, sepertinya keberuntunganku memang sangat baik."

Seibei-san mengangguk paham, sepertinya dia sudah menduga dari penampilanku bahwa aku bukan orang dari negara ini.

"Pelabuhan sudah sangat dekat, jadi aku akan membawa kapal ini sekalian ke sana ya."

Nah, tidak mungkin kami terus berbincang di atas laut selamanya, jadi mari kita menuju pelabuhan.

Untungnya, dengan jarak pelabuhan yang sudah terlihat ini, aku bisa membawa kapalnya langsung seperti ini.

"Ooh! Saya sangat berterima kasih, Rex-san!"

"Stream Control!"

Aku menggerakkan kapal yang melayang berkat pengurangan gravitasi dari Float Control tersebut menggunakan sihir manipulasi arus udara.

Float Control memang bukan sihir untuk berpindah tempat, tapi jika digabungkan dengan sihir angin, memindahkan benda dalam jarak pendek sangatlah mungkin.

Jika ingin menggerakkannya dengan lebih presisi, sihir tipe manipulasi zat akan lebih baik, tapi jika ingin efisiensi konsumsi mana di tempat terbuka, sihir ini jauh lebih praktis.




Saat aku memindahkan kapal tersebut dengan sihir, kapal bajak laut yang dikemudikan oleh Kapten juga mengikuti dari belakang. Tak sampai beberapa menit kemudian, kami tiba di kota pelabuhan.

"!? ~~~~!?"

Semakin dekat dengan pelabuhan, aku bisa melihat kerumunan orang yang sangat banyak sedang membuat kegaduhan.

Mungkin mereka heboh karena melihat kapal karam yang sedang dibawa terbang seperti ini.

Pemandangan pihak berwenang yang berkumpul untuk penyelidikan atau evakuasi adalah hal yang biasa kulihat di kehidupan sebelumnya.

"Tapi kalau begini, aku tidak bisa menurunkan kapalnya."

Biasanya dalam situasi seperti ini, sudah jadi aturan umum untuk mengosongkan area dermaga agar kapal bisa berlabuh, lho.

"Permisiii! Aku mau menurunkan kapal, tolong semuanya minggir!"

Begitu aku mengeraskan suaraku dengan sihir angin ke arah orang-orang di bawah, kegaduhan di daratan semakin menjadi-jadi.

Namun saat aku menggerakkan kapal ke atas pelabuhan, orang-orang yang berkumpul serentak menepi ke pinggir.

"Baiklah, kita mendarat!"

Begitu kapal mendekat tepat di atas tanah, aku merapalkan sihir es untuk mengunci posisinya.

"Frozen Pillar!!"

Empat pilar es yang tebal dan besar muncul, masing-masing dua di tiap sisi lambung kapal untuk menyangganya.

Saat kapal mendarat di pelabuhan, ia sedikit miring dan bersandar pada pilar-pilar es tersebut.

"Kita sudah sampai. Tolong segera turunkan muatan sebelum pilar es ini mencair."

"Ooh! Sampai dipikirkan sejauh itu! Terima kasih banyak! Oi, kalian! Cepat turunkan muatannya!"

""""Siap!!""""

Para kru kapal segera memulai pekerjaan menurunkan muatan. Saat aku menoleh ke arah kapal bajak laut, kapal itu sudah mendarat di air dan merapat di dermaga.

Syukurlah mereka juga bisa berlabuh dengan benar. Padahal aku cuma mengajarkan cara mengemudikannya secara mendadak tadi, untung saja tidak ada masalah.

"Oi! Siapa penanggung jawab kapal ini!?"

Saat aku sedang memastikan kapal bajak laut berlabuh dengan selamat, tiba-tiba sekelompok pria asing naik ke atas kapal sambil berteriak. Dilihat dari pembawaannya, apa mereka petugas resmi kota ini?

"Pemilik kapal ini adalah saya, Kapten Penjaga," ujar Seibei-san sambil melangkah maju.

"A-Anda!? ...A-apa maksudnya ini!? Kenapa kapal ini bisa terbang di udara... tidak, bukan itu, kenapa Anda meletakkan kapal di atas dermaga pelabuhan!?"

Awalnya petugas itu bertanya dengan nada tinggi dan mengintimidasi, namun sikapnya langsung berubah drastis begitu melihat wajah Seibei-san.

Melihat reaksi ini, sepertinya Seibei-san benar-benar pemilik toko yang sangat berpengaruh, ya?

"Nasib buruk, kami terjebak badai aneh itu," jawab Seibei-san.

Mendengar kata 'badai itu', ekspresi Kapten Penjaga langsung berubah.

"!? Badai yang itu!? Tapi kenapa? Anda seharusnya tahu kalau melaut akan terjebak badai itu, kan?"

"Kami sedang sial. Kami mengubah jalur untuk menghindari gerombolan monster yang kebetulan lewat, tapi saat sedang fokus menghadapi monster, sepertinya kami terbawa arus laut. Saat kami menyadarinya, kami sudah tidak bisa melarikan diri."

"Begitu ya, jadi monster penyebabnya."

"Gara-gara itu, kapal kami hampir saja karam, tapi untungnya kami diselamatkan oleh seorang penyihir hebat yang membawakan kapal kami sampai ke pelabuhan."

"Membawa kapal dengan sihir!? Memangnya hal seperti itu mungkin!?"

"T-tidak bisa dipercaya... aku belum pernah mendengar sihir semacam itu!?"

"Se-sebenarnya siapa yang melakukannya!?"

Mendengar kata-kata Kapten Penjaga, pandangan Seibei-san dan para kru kapal serentak tertuju padaku.

"...Ah, iya. Aku yang melakukannya dengan sihir angin."

"Eh?"

Kapten Penjaga menatap Seibei-san seolah ingin bertanya, "Apa itu benar?". Seibei-san pun mengangguk dengan ekspresi serius.

"Kamu... ah, tidak, Anda yang membawa kapal ini?"

"Iya. Aku menggunakan sihir melayang untuk mengangkat kapal yang hampir karam ini."

"Ja-jadi, kapal yang satunya lagi juga Anda terbangkan dengan sihir?"

Ah, maksudnya kapal bajak laut itu ya.

"Tidak, kalau yang itu bukan aku."

"Be-begitu ya. Benar juga. Mana mungkin satu orang bisa menggerakkan dua kapal sekaligus dengan sihir!"

Wajar saja Kapten Penjaga bergumam setuju.

Menggunakan sihir angin yang tidak cocok untuk kontrol presisi guna merapatkan kapal ke dermaga secara akurat itu cukup berbahaya karena masalah ukuran. Apalagi kalau dua kapal sekaligus.

Kalau sampai meleset dan menghantam dermaga hingga hancur, kan bisa gawat.

"Iya, kapal yang di sana itu sudah dipasangi Magic Item yang memberikan fungsi terbang."

"Begitu ya, yang itu pakai Magic Item... eh?"

""""APA!? MAGIC ITEM!?!?"""

Entah kenapa, bukan cuma Kapten Penjaga, tapi Seibei-san pun ikut berteriak kaget.

"A-apa kapal itu dipasangi Magic Item!?"

"Ah, iya. Karena terjebak badai dan lambung kapalnya berlubang banyak, aku membuatkan alat terbang darurat dengan cepat dan memasangnya agar kami bisa mengungsi ke tempat aman."

""""Membuat Magic Item dengan CEPAT!?!?"""

"Yah, karena itu barang yang dibuat untuk evakuasi darurat, itu cuma alat seadanya yang hanya bisa digunakan untuk melayang dan berpindah tempat sedikit saja, sih."

""""Tidak, tidak, tidak, itu sama sekali tidak bisa dibilang 'cuma seadanya'...""""

"Ah, tapi kapal yang itu juga sudah cukup hancur karena badai, jadi kalau tidak diperbaiki secara menyeluruh, air akan masuk lagi dan mustahil bisa dipakai berlayar—"

"Uwaaa! Airnya masuk lagi!"

"Cepat apungkan kapalnya!"

Seolah membuktikan perkataanku, kapal bajak laut yang kembali kemasukan air langsung terburu-buru melayang kembali.

"Nah, kira-kira seperti itulah kondisinya."

""""......Haaaah.""""

Hmm, kapal itu sepertinya lebih baik dibongkar saja, ya. Kalau cuma di perairan dekat mungkin masih bisa, tapi kalau harus keluar ke samudra menuju benua lain, itu terlalu berbahaya.

"A-aku pikir aku bakal mati..."

Setelah menurunkan muatan dan turun dari kapal, Kapten Bajak Laut dan anak buahnya juga menurunkan kapal mereka ke daratan pelabuhan dan merangkak keluar dari kapal yang terguling itu dengan susah payah.

"Kerja bagus, Kapten."

"Ah, ini kan Dewa La—eh, Tuan Rex."

Begitu melihat wajahku, Kapten dan anak buahnya langsung menegakkan punggung dan berbaris rapi di depanku.

"Sayang sekali kapalnya jadi begitu, ya."

"Iya! Tapi yang penting nyawa selamat, Tuan! Kalau bukan karena Tuan Rex, kami semua sudah jadi buih di lautan!"

""""Benar sekali, Tuan!""""

"Syukurlah kalau kalian berpikir begitu. Berarti tidak masalah kalau kalian tidak bisa naik kapal lagi, kan?"

"Iya! Tapi tenang saja, kami akan segera mendapatkan kapal baru dan kembali ke lautan!"

Meski kehilangan kapal, Kapten dan yang lainnya tidak tampak patah semangat, malah menjawab dengan tegas bahwa mereka pasti akan kembali ke laut.

"Berjuanglah. Tapi sebelum itu, ada yang harus kalian lakukan, kan?"

"Yang harus dilakukan... maksudnya?"

Kapten dan anak buahnya memiringkan kepala mendengar kata-kataku.

"Kapten Penjaga, orang-orang ini adalah bajak laut. Mereka mencoba menculikku dan rekan-rekanku."

""""Eh?""""

"A-apa itu benar?"

Aku memberitahu Kapten Penjaga bahwa Kapten Bajak Laut dan kawan-kawannya adalah bajak laut yang mencoba menculik kami.

"Iya. Jadi tolong tangkap mereka."

"B-baiklah. O-oi kalian, tangkap orang-orang ini!"

"Siap!!"

Para prajurit penjaga di pelabuhan segera meringkus para bajak laut yang masih melongo kebingungan itu.

""""Eeeeeeeeeeehhhhhh!?!?""""

"D-Dewa Laut!? Apa maksudnya semua ini!?"

Sang Kapten Bajak Laut yang baru tersadar langsung berteriak menanyakan alasanku.

"Habisnya, kalian kan bajak laut. Sebelum kembali ke laut, kalian harus menebus dosa kalian dulu dengan benar, kan?"

"T-tidak mungkin..."

Wajah Kapten Bajak Laut menjadi pucat dan ia langsung terkulai lemas.

"Ah, jangan coba-mencoba kabur ya. Kalau kabur dan tertangkap lagi, hukumannya bakal jauh lebih berat, lho."

""""Hiii!?_""""

Membayangkan hal itu, para bajak laut gemetar ketakutan dengan wajah pucat pasi.

Kalau seorang kriminal yang sudah tertangkap mencoba kabur, hukumannya memang akan bertambah berkali-kali lipat.

Apalagi biasanya kriminal yang tertangkap akan dipasangi Magic Item dengan sihir pelacak, jadi kemungkinan kabur yang sukses itu sangat rendah.

Kalau tertangkap dalam kondisi begitu, mereka bisa dipasangi segel kutukan agar tidak bisa melawan, dan dipaksa bekerja secara paksa tanpa henti sampai dosanya lunas.

Daripada mengalami hal semacam itu, lebih baik menebus dosa dengan patuh.

"Kalian mengerti, kan?"

""""Si-siap!! Kami akan menebus dosa kami dengan sungguh-sungguh meski harus bertaruh nyawa!!""""

Para bajak laut itu menegakkan punggung dan dibawa pergi oleh para penjaga dengan ekspresi yang sangat serius.

"Ya, kalau kalian mengakui dosa dan menebusnya dengan tulus, suatu saat kalian pasti bisa menjadi orang baik lagi."

Berjuanglah, para bajak laut!

"Seibei-san, anu... itu sama sekali tidak terlihat seperti pemandangan yang mengharukan bagi saya..."

"Ssst... Kapten Penjaga, di dunia ini ada hal-hal yang sebaiknya dibiarkan saja tanpa perlu dipertanyakan."

"Haaaah..."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close