Chapter 185
Pedagang dan Kapal Terbang
"Yah,
benar-benar sangat terbantu."
Di atas
kapal yang sudah babak belur, seorang pria yang tampak sangat kelelahan
menyampaikan rasa terima kasihnya kepadaku.
"Jika
Anda tidak lewat di sini, kami mungkin sudah menenggelamkan kapal ini tepat di
depan pelabuhan."
Benar
sekali. Kami sebenarnya sudah hampir sampai di pelabuhan Negeri Timur, tapi
kebetulan kami menemukan sebuah kapal yang saat itu juga nyaris tenggelam.
Apalagi
di sekeliling kapal tersebut, puluhan monster sedang berenang berputar-putar,
membuat mereka tidak punya jalan keluar untuk melarikan diri dari kapal.
Tentu saja,
melihat situasi seperti itu, aku tidak mungkin mengabaikannya.
Aku menyerahkan
kemudi kepada Kapten, lalu menyapu bersih para monster itu dengan sihir.
Setelah itu, aku segera membuat kapal mereka melayang ke udara dengan sihir.
Untungnya, karena
alat terbangku sudah selesai, kapal bajak laut yang kami tumpangi sudah bisa
bergerak sendiri meski tanpa kehadiranku.
"Tidak,
jangan terlalu dipikirkan. Sudah sewajarnya kita menolong orang yang sedang
kesulitan."
"Tidak,
tidak, membuat kapal yang hampir tenggelam melayang dengan sihir bukanlah hal
yang bisa dilakukan penyihir biasa! Bertemu dengan Anda pastilah petunjuk dari
Tuhan!"
"A-ahaha,
Anda berlebihan sekali."
Mendengar kata
'Tuhan', aku teringat pada para bajak laut yang salah paham dan mengira aku
sebagai Dewa Laut, yang membuatku hanya bisa tersenyum kecut.
"Nama saya
Seibei, saya berdagang di kota pelabuhan Hatoba yang ada di dekat sini."
"Nama saya
Rex. Saya datang ke negara ini untuk urusan pekerjaan."
"Ah,
ternyata benar Anda orang asing. Diselamatkan oleh orang seperti Anda,
sepertinya keberuntunganku memang sangat baik."
Seibei-san
mengangguk paham, sepertinya dia sudah menduga dari penampilanku bahwa aku
bukan orang dari negara ini.
"Pelabuhan
sudah sangat dekat, jadi aku akan membawa kapal ini sekalian ke sana ya."
Nah, tidak
mungkin kami terus berbincang di atas laut selamanya, jadi mari kita menuju
pelabuhan.
Untungnya, dengan
jarak pelabuhan yang sudah terlihat ini, aku bisa membawa kapalnya langsung
seperti ini.
"Ooh! Saya sangat berterima kasih, Rex-san!"
"Stream Control!"
Aku menggerakkan kapal yang melayang berkat pengurangan
gravitasi dari Float Control tersebut menggunakan sihir manipulasi arus udara.
Float Control memang bukan sihir untuk berpindah tempat,
tapi jika digabungkan dengan sihir angin, memindahkan benda dalam jarak pendek
sangatlah mungkin.
Jika ingin menggerakkannya dengan lebih presisi, sihir tipe manipulasi zat akan lebih baik, tapi jika ingin efisiensi konsumsi mana di tempat terbuka, sihir ini jauh lebih praktis.
Saat aku memindahkan kapal tersebut dengan sihir, kapal
bajak laut yang dikemudikan oleh Kapten juga mengikuti dari belakang. Tak sampai beberapa menit kemudian, kami
tiba di kota pelabuhan.
"!?
~~~~!?"
Semakin dekat
dengan pelabuhan, aku bisa melihat kerumunan orang yang sangat banyak sedang
membuat kegaduhan.
Mungkin mereka
heboh karena melihat kapal karam yang sedang dibawa terbang seperti ini.
Pemandangan pihak
berwenang yang berkumpul untuk penyelidikan atau evakuasi adalah hal yang biasa
kulihat di kehidupan sebelumnya.
"Tapi kalau
begini, aku tidak bisa menurunkan kapalnya."
Biasanya dalam
situasi seperti ini, sudah jadi aturan umum untuk mengosongkan area dermaga
agar kapal bisa berlabuh, lho.
"Permisiii!
Aku mau menurunkan kapal, tolong semuanya minggir!"
Begitu aku
mengeraskan suaraku dengan sihir angin ke arah orang-orang di bawah, kegaduhan
di daratan semakin menjadi-jadi.
Namun saat aku
menggerakkan kapal ke atas pelabuhan, orang-orang yang berkumpul serentak
menepi ke pinggir.
"Baiklah,
kita mendarat!"
Begitu kapal
mendekat tepat di atas tanah, aku merapalkan sihir es untuk mengunci posisinya.
"Frozen
Pillar!!"
Empat pilar es
yang tebal dan besar muncul, masing-masing dua di tiap sisi lambung kapal untuk
menyangganya.
Saat kapal
mendarat di pelabuhan, ia sedikit miring dan bersandar pada pilar-pilar es
tersebut.
"Kita sudah
sampai. Tolong segera turunkan muatan sebelum pilar es ini mencair."
"Ooh! Sampai
dipikirkan sejauh itu! Terima kasih banyak! Oi, kalian! Cepat turunkan
muatannya!"
""""Siap!!""""
Para kru kapal
segera memulai pekerjaan menurunkan muatan. Saat aku menoleh ke arah kapal
bajak laut, kapal itu sudah mendarat di air dan merapat di dermaga.
Syukurlah mereka
juga bisa berlabuh dengan benar. Padahal aku cuma mengajarkan cara
mengemudikannya secara mendadak tadi, untung saja tidak ada masalah.
"Oi! Siapa
penanggung jawab kapal ini!?"
Saat aku sedang
memastikan kapal bajak laut berlabuh dengan selamat, tiba-tiba sekelompok pria
asing naik ke atas kapal sambil berteriak. Dilihat dari pembawaannya, apa
mereka petugas resmi kota ini?
"Pemilik
kapal ini adalah saya, Kapten Penjaga," ujar Seibei-san sambil melangkah
maju.
"A-Anda!? ...A-apa maksudnya ini!? Kenapa kapal ini
bisa terbang di udara... tidak, bukan itu, kenapa Anda meletakkan kapal di atas
dermaga pelabuhan!?"
Awalnya petugas itu bertanya dengan nada tinggi dan
mengintimidasi, namun sikapnya langsung berubah drastis begitu melihat wajah
Seibei-san.
Melihat
reaksi ini, sepertinya Seibei-san benar-benar pemilik toko yang sangat
berpengaruh, ya?
"Nasib
buruk, kami terjebak badai aneh itu," jawab Seibei-san.
Mendengar
kata 'badai itu', ekspresi Kapten Penjaga langsung berubah.
"!? Badai
yang itu!? Tapi kenapa? Anda seharusnya tahu kalau melaut akan terjebak badai
itu, kan?"
"Kami sedang
sial. Kami mengubah jalur untuk menghindari gerombolan monster yang kebetulan
lewat, tapi saat sedang fokus menghadapi monster, sepertinya kami terbawa arus
laut. Saat kami menyadarinya, kami sudah tidak bisa melarikan diri."
"Begitu ya,
jadi monster penyebabnya."
"Gara-gara
itu, kapal kami hampir saja karam, tapi untungnya kami diselamatkan oleh
seorang penyihir hebat yang membawakan kapal kami sampai ke pelabuhan."
"Membawa
kapal dengan sihir!? Memangnya hal seperti itu mungkin!?"
"T-tidak
bisa dipercaya... aku belum pernah mendengar sihir semacam itu!?"
"Se-sebenarnya
siapa yang melakukannya!?"
Mendengar
kata-kata Kapten Penjaga, pandangan Seibei-san dan para kru kapal serentak
tertuju padaku.
"...Ah, iya.
Aku yang melakukannya dengan sihir angin."
"Eh?"
Kapten Penjaga
menatap Seibei-san seolah ingin bertanya, "Apa itu benar?". Seibei-san pun mengangguk dengan
ekspresi serius.
"Kamu...
ah, tidak, Anda yang membawa kapal ini?"
"Iya.
Aku menggunakan sihir melayang untuk mengangkat kapal yang hampir karam
ini."
"Ja-jadi,
kapal yang satunya lagi juga Anda terbangkan dengan sihir?"
Ah, maksudnya
kapal bajak laut itu ya.
"Tidak,
kalau yang itu bukan aku."
"Be-begitu ya. Benar juga. Mana mungkin satu orang bisa
menggerakkan dua kapal sekaligus dengan sihir!"
Wajar saja Kapten Penjaga bergumam setuju.
Menggunakan sihir angin yang tidak cocok untuk kontrol
presisi guna merapatkan kapal ke dermaga secara akurat itu cukup berbahaya
karena masalah ukuran. Apalagi kalau dua kapal sekaligus.
Kalau sampai meleset dan menghantam dermaga hingga hancur,
kan bisa gawat.
"Iya, kapal yang di sana itu sudah dipasangi Magic Item
yang memberikan fungsi terbang."
"Begitu ya, yang itu pakai Magic Item... eh?"
""""APA!? MAGIC
ITEM!?!?"""
Entah kenapa,
bukan cuma Kapten Penjaga, tapi Seibei-san pun ikut berteriak kaget.
"A-apa kapal itu dipasangi Magic Item!?"
"Ah, iya. Karena terjebak badai dan lambung kapalnya
berlubang banyak, aku membuatkan alat terbang darurat dengan cepat dan
memasangnya agar kami bisa mengungsi ke tempat aman."
""""Membuat Magic Item dengan
CEPAT!?!?"""
"Yah, karena itu barang yang dibuat untuk evakuasi
darurat, itu cuma alat seadanya yang hanya bisa digunakan untuk melayang dan
berpindah tempat sedikit saja, sih."
""""Tidak, tidak, tidak, itu sama sekali
tidak bisa dibilang 'cuma seadanya'...""""
"Ah, tapi kapal yang itu juga sudah cukup hancur karena
badai, jadi kalau tidak diperbaiki secara menyeluruh, air akan masuk lagi dan
mustahil bisa dipakai berlayar—"
"Uwaaa! Airnya masuk lagi!"
"Cepat apungkan kapalnya!"
Seolah membuktikan perkataanku, kapal bajak laut yang
kembali kemasukan air langsung terburu-buru melayang kembali.
"Nah,
kira-kira seperti itulah kondisinya."
""""......Haaaah.""""
Hmm, kapal itu
sepertinya lebih baik dibongkar saja, ya. Kalau cuma di perairan dekat mungkin
masih bisa, tapi kalau harus keluar ke samudra menuju benua lain, itu terlalu
berbahaya.
"A-aku
pikir aku bakal mati..."
Setelah
menurunkan muatan dan turun dari kapal, Kapten Bajak Laut dan anak buahnya juga
menurunkan kapal mereka ke daratan pelabuhan dan merangkak keluar dari kapal
yang terguling itu dengan susah payah.
"Kerja
bagus, Kapten."
"Ah,
ini kan Dewa La—eh, Tuan Rex."
Begitu
melihat wajahku, Kapten dan anak buahnya langsung menegakkan punggung dan
berbaris rapi di depanku.
"Sayang
sekali kapalnya jadi begitu, ya."
"Iya! Tapi
yang penting nyawa selamat, Tuan! Kalau bukan karena Tuan Rex, kami semua sudah
jadi buih di lautan!"
""""Benar
sekali, Tuan!""""
"Syukurlah
kalau kalian berpikir begitu. Berarti tidak masalah kalau kalian tidak bisa
naik kapal lagi, kan?"
"Iya! Tapi
tenang saja, kami akan segera mendapatkan kapal baru dan kembali ke
lautan!"
Meski kehilangan
kapal, Kapten dan yang lainnya tidak tampak patah semangat, malah menjawab
dengan tegas bahwa mereka pasti akan kembali ke laut.
"Berjuanglah.
Tapi sebelum itu, ada yang harus kalian lakukan, kan?"
"Yang harus
dilakukan... maksudnya?"
Kapten dan anak
buahnya memiringkan kepala mendengar kata-kataku.
"Kapten
Penjaga, orang-orang ini adalah bajak laut. Mereka mencoba menculikku dan rekan-rekanku."
""""Eh?""""
"A-apa itu
benar?"
Aku memberitahu
Kapten Penjaga bahwa Kapten Bajak Laut dan kawan-kawannya adalah bajak laut
yang mencoba menculik kami.
"Iya.
Jadi tolong tangkap mereka."
"B-baiklah.
O-oi kalian, tangkap orang-orang ini!"
"Siap!!"
Para
prajurit penjaga di pelabuhan segera meringkus para bajak laut yang masih
melongo kebingungan itu.
""""Eeeeeeeeeeehhhhhh!?!?""""
"D-Dewa
Laut!? Apa maksudnya semua ini!?"
Sang
Kapten Bajak Laut yang baru tersadar langsung berteriak menanyakan alasanku.
"Habisnya,
kalian kan bajak laut. Sebelum kembali ke laut, kalian harus menebus dosa
kalian dulu dengan benar, kan?"
"T-tidak
mungkin..."
Wajah
Kapten Bajak Laut menjadi pucat dan ia langsung terkulai lemas.
"Ah, jangan coba-mencoba kabur ya. Kalau kabur dan
tertangkap lagi, hukumannya bakal jauh lebih berat, lho."
""""Hiii!?_""""
Membayangkan hal itu, para bajak laut gemetar ketakutan
dengan wajah pucat pasi.
Kalau seorang kriminal yang sudah tertangkap mencoba kabur,
hukumannya memang akan bertambah berkali-kali lipat.
Apalagi biasanya kriminal yang tertangkap akan dipasangi
Magic Item dengan sihir pelacak, jadi kemungkinan kabur yang sukses itu sangat
rendah.
Kalau tertangkap dalam kondisi begitu, mereka bisa dipasangi
segel kutukan agar tidak bisa melawan, dan dipaksa bekerja secara paksa tanpa
henti sampai dosanya lunas.
Daripada mengalami hal semacam itu, lebih baik menebus dosa
dengan patuh.
"Kalian
mengerti, kan?"
""""Si-siap!!
Kami akan menebus dosa kami dengan sungguh-sungguh meski harus bertaruh
nyawa!!""""
Para
bajak laut itu menegakkan punggung dan dibawa pergi oleh para penjaga dengan
ekspresi yang sangat serius.
"Ya, kalau
kalian mengakui dosa dan menebusnya dengan tulus, suatu saat kalian pasti bisa
menjadi orang baik lagi."
Berjuanglah, para
bajak laut!
"Seibei-san,
anu... itu sama sekali tidak terlihat seperti pemandangan yang mengharukan bagi
saya..."
"Ssst...
Kapten Penjaga, di dunia ini ada hal-hal yang sebaiknya dibiarkan saja tanpa
perlu dipertanyakan."
"Haaaah..."



Post a Comment