Chapter 183
Mina Menginjakkan Kaki di Tanah Negeri Timur
◆Mina◆
"Nah,
sekarang apa yang harus kulakukan, ya?"
Setelah
menyelamatkan bajak laut yang terjatuh ke laut, aku entah bagaimana berhasil
melewati badai dan tiba di pesisir Negeri Timur.
Namun sepertinya
aku hanyut cukup jauh, karena rupa kapal yang kami tumpangi tidak terlihat di
mana pun.
"Untuk
sementara, bagaimana kalau kita menuju kota pelabuhan saja, Kak? Lagipula sejak
awal kami juga memang mengincar pelabuhan," usul bajak laut yang
kuselamatkan itu sambil membungkuk-bungkuk dengan aneh.
"Benar juga.
Kalau begitu, mari kita menuju kota pelabuhan terdekat."
Pertama-tama, aku
menggunakan sihir terbang untuk membubung ke langit guna memastikan geografi
sekitar.
Saat aku melihat
sekeliling, yang paling mencolok adalah gunung raksasa itu. Lalu, aku melihat
jalan raya yang melintasi area dekat pesisir.
"Di sana
kelihatan ada jalan raya. Ayo ke sana."
Setelah turun
kembali ke tanah, aku menginstruksikan arah tujuan kami kepada si bajak laut.
"Wah, sihir
terbang itu benar-benar hebat, ya. Tapi kalau begitu, bukankah lebih baik kita
terbang saja daripada repot-repot lewat jalan seperti ini?"
"Kamu
kan tidak bisa terbang."
Kalau cuma aku
sendiri sih bisa saja.
"Kalau
begitu aku tinggal berpegangan pada Kak—ah, tidak, lupakan saja."
Aku membungkam si
bajak laut yang hendak mengatakan hal bodoh itu dengan tatapanku, lalu kami
menembus hutan menuju jalan raya.
"Dengar ya,
untuk sementara kita anggap saja kita adalah pengelana yang terlempar dari
kapal karena badai. Kamu adalah kru kapal itu, tapi sekarang kamu menjadi
pengawalku."
"Kenapa
harus pakai skenario yang merepotkan begitu?"
Orang ini, dia
lupa siapa dirinya sendiri ya?
"Kamu itu
bajak laut, kan?"
"Oh, benar
juga."
Begitu
diingatkan, dia baru sadar dan menggaruk kepalanya sambil meminta maaf.
"Nah,
sebentar lagi sampai di jalan ra—apa?"
Tepat saat itu. Dari arah jalan raya terdengar
suara ging, ging, seperti suara logam yang saling berbenturan.
"..."
Kami
saling bertukar pandang, lalu perlahan-lahan mengintip situasi di jalan raya
dari balik pepohonan. Di seberang jalan, terlihat seseorang tengah mengayunkan
pedang dalam sebuah pertarungan.
"Sepertinya
ada yang sedang bertarung."
Yang
bertarung adalah sepasang laki-laki muda melawan sekelompok pria. Pasangan itu
berada dalam posisi terdesak, dan pria yang lebih tua tampak melindungi remaja
laki-laki yang lebih muda. Remaja
itu sepertinya sedikit lebih muda dariku atau Jairo?
"Mari kita
pantau situasinya dulu. Kalau kelihatannya berbahaya, kita sebaiknya tidak ikut
campur."
"Setuju,
Kak."
Mungkin terdengar
kejam, tapi karena bajak laut ini tidak membawa senjata akibat terlempar ke
laut di tengah badai, hanya aku satu-satunya yang bisa bertarung.
Melibatkan diri
dalam masalah dalam situasi begini hanyalah perbuatan orang yang bosan hidup.
"Jangan
bunuh bocah itu! Tapi selama dia masih hidup, aku tidak peduli meski dia
kehilangan tangan atau kakinya!"
"Kh, jangan
mendekati Tuan Muda, kau bajingan!"
Sepertinya
kelompok yang jumlahnya banyak itu memang mengincar anak laki-laki itu.
Apakah mereka
penculik yang mengincar uang tebusan, atau ingin menjadikannya sandera?
"Hmm,
jelas-jelas ini masalah merepotkan."
Pasti ada
orang-orang berbahaya di belakang mereka.
"Benar, Kak.
Bagaimana kalau kita bersembunyi saja sampai mereka lewat?"
"Yah, benar
juga sih..."
Meski berkata
begitu, rasanya sedikit tidak enak di hati jika meninggalkan orang yang hampir
diculik begitu saja.
Tapi
memang benar aku juga tidak ingin terlibat. Dalam saat seperti ini, apa yang akan dilakukan
Jairo?
Ya, tanpa perlu
berpikir dia pasti akan langsung pergi menolong. Norb juga pasti akan pergi
menolong.
Meguri... kalau
tidak menghasilkan uang, dia pasti akan membiarkannya. Sedangkan aku... apa
yang harus kulakukan...
"Tuan Muda!
Di sini biar aku yang mengulur waktu! Anda segeralah lari!"
"Jangan
bicara bodoh! Mana mungkin aku bisa lari dan meninggalkanmu!"
Selagi aku
merenung dan merasa bimbang, pasangan itu malah mulai berdebat soal siapa yang
harus lari.
"Jangan
manja! Di pundak Anda terpikul nyawa rakyat Kekaisaran Amatsumine!"
"Kh!"
Karena ditegur
oleh pria pengawalnya, anak laki-laki itu terdiam.
"Sekarang,
pergilah!"
"...Maafkan
aku!"
Setelah
memantapkan hati, anak laki-laki itu mulai berlari ke arah persembunyian kami.
"Dia
datang ke arah sini."
"Iya
ya."
Kalau dia
melewati depan kami begitu saja, para penyerang pasti akan mengejarnya, jadi
kami bisa pergi ke arah berlawanan dengan aman. Dalam kasus itu, kedua orang ini akan kami
telantarkan, tapi...
"Jangan
biarkan dia lolos! Incar kakinya!"
Tiba-tiba, si
penyerang melepaskan anak panah ke arah anak laki-laki itu.
"Gawat! Tuan
Muda!"
"Kh!"
Anak laki-laki
itu melompat ke samping untuk menghindari anak panah... tapi.
"Kyaa?!"
"Uwaaa?!"
Kebetulan yang
sungguh luar biasa. Anak laki-laki yang menghindari anak panah itu justru
terjun ke semak-semak tempat kami bersembunyi.
Tentu saja kami
yang sedang bersembunyi sambil berjongkok tidak sempat menghindar, dan akhirnya
tertindih olehnya.
"Duh, jangan
tiba-tiba menabrak, dong!"
"Ma-maaf?!"
"I-itu bukan
masalah utamanya sekarang, Kak!"
"Eh?
Apa yan—?"
Saat aku
melihat ke depan, si pengawal dan para penyerang tengah menatap kami dengan
heran.
"...Ah."
Gawat, kami
ketahuan! Situasi ini benar-benar buruk!
"Ha-habisi
mereka bersama saksi matanya!"
Setelah memahami
situasinya, para penyerang kembali menyiapkan anak panah ke arah kami.
"Gawat,
nih."
Ah, aku
benar-benar terseret ke dalam masalah. Ini buruk.
"G-gawat!
Cepat lari, kalian!"
Anak
laki-laki itu berteriak menyuruh kami lari sambil masih menindihku.
"Heh,
dalam situasi begini kamu masih sempat mengkhawatirkan kami ya."
Meski nyawanya
sendiri terancam, dia malah mengkhawatirkan orang lain. Benar-benar orang yang terlalu
baik. Persis seperti orang-orang itu. Tapi... kalau memang harus terseret
masalah, lebih baik bersama orang baik seperti ini.
"Anu, kenapa
Kakak malah kelihatan senang begitu?"
"Berisik."
Mengabaikan
komentar si bajak laut, aku menyiapkan tongkat sihirku.
"Baiklah.
Lagipula aku sudah terlanjur terlibat. Anggap saja ini takdir."
"Tunggu,
Kak, cepat la—"
Si bajak
laut tampak panik dan gelisah, tapi mustahil bisa lari dalam situasi begini.
"Serang!"
Anak
panah dilepaskan secara bersamaan ke arah kami. Namun dengan tenang aku berkata
pada anak laki-laki itu.
"Akan
kubantu sedikit."
Aku hanya
perlu melepaskan mana yang sudah kususun sebelumnya.
"Flame
Burst!"
Tirai api
muncul di hadapan kami, menangkis anak-anak panah yang melesat, lalu langsung
menerjang para penyerang yang memanah tadi.
""""Guwaaaaa!!!!""""
Para
penyerang yang diselimuti api itu berteriak histeris dan berguling-guling.
"S-sihir macam apa yang begitu kuat ini?!"
Anak laki-laki yang masih menindihku itu membelalakkan mata
dan berseru kaget. Fufu, rasanya
lumayan enak. Aku merasa seperti menjadi Rex.
"Kh! Mu-mundur! Mundur!"
Para
penyerang yang masih selamat segera melarikan diri dengan panik.
"Pe-pengejarnya
lari..."
"Itu
bagus sih, tapi bisa tidak kamu segera minggir?"
Aku
mengeluh pada anak laki-laki yang masih terpana menatap pengejarnya yang lari
agar dia segera menjauh dariku.
"Eh?
Ah, maafkan aku!"
Setelah
tersadar, anak laki-laki itu buru-buru berdiri dan mundur. Wajahnya memerah,
apakah aku boleh sedikit merasa percaya diri?
"Fuu."
"Tuan Muda!
Apa Anda selamat?!"
Bersamaan
dengan aku berdiri, pria pengawal itu berlari mendekat.
"Ya, aku
tidak apa-apa."
"Sekali lagi
aku ucapkan terima kasih, gadis asing. Namaku Yukino... panggil saja Yukitaka.
Dan orang ini adalah Haruomi."
"Terima
kasih banyak karena telah menolong Tuan Muda."
Setelah anak
laki-laki bernama Yukitaka itu berterima kasih, si pengawal yang dipanggil
Haruomi membungkuk dalam-dalam.
Meski begitu,
sepertinya mereka masih waspada. Hmm, anak laki-laki ini meralat namanya
sendiri, sudah jelas itu nama samaran.
Tapi kalau aku
mengungkitnya sekarang hanya akan menimbulkan masalah, lebih baik kubiarkan
saja.
"Kak,
jangan-jangan bocah ini pakai nama sam—gofuh!"
"Jangan
bicara yang tidak perlu!"
Aku
membungkam bajak laut yang hendak mencampuri masalah dengan serangan siku.
"Ada
apa?"
"Bukan
apa-apa. Sepertinya dia cuma kelelahan."
Aku membersihkan
debu di bajuku, lalu kembali menyapa Yukitaka.
"Salam
kenal, aku Mina."
"Nama saya
Gobun."
Ah, ternyata nama
bajak laut ini Gobun.
"Mina dan
Gobun, ya. Sekali lagi aku berterima kasih. Seharusnya aku mengundang kalian ke
kediaman untuk pesta sambutan, tapi sayangnya dalam kondisiku sekarang, hal itu
tidak memungkinkan."
Yah, jelas-jelas
kalian sedang dikejar sih.
"Jangan
dipikirkan."
"Tidak bisa
begitu. Sebagai kesatria Amatsumine, aku tidak boleh melupakan etika terhadap
penyelamatku."
Hmm, melihat
sikapnya, sepertinya dia anak dari seseorang yang berhubungan dengan ksatria di
negara ini?
"Kalian juga
punya alasan kenapa tidak bisa membalas budi, kan? Kalau begitu menurutku lebih
baik kita anggap saja tidak pernah bertemu dan berpisah di sini,
bagaimana?"
Ya, aku memang
menolong mereka, tapi lebih baik tidak terlibat lebih jauh. Kalau tidak, aku
akan berakhir seperti Rex atau Jairo.
"Mengenai
hal itu, aku ingin meminta kalian menjadi pengawal kami."
"Pengawal?"
Apa-apaan orang
ini? Bukannya kamu tidak punya uang?
"Tuan Muda,
apa yang Anda katakan?!"
Seperti dugaanku,
Haruomi-san berusaha menghentikan Yukitaka.
"Haruomi,
kau juga sudah melihat kemampuan mereka, kan? Jika kita hanya berdua dan
diserang pengejar lagi, kita tidak akan selamat. Bukankah lebih baik kita
dikawal sampai ke wilayah paman?"
"Itu..."
Oi, oi, jangan
sampai terbujuk di situ, dong.
"Tunggu sebentar, tolong jangan abaikan keinginanku.
Kami harus pergi ke kota pelabuhan untuk bertemu kembali dengan rekan-rekan
kami, jadi kami tidak punya waktu untuk mengawal kalian."
Saat aku
menjelaskan situasiku dan menolak, Yukitaka entah kenapa malah menyeringai.
"Ho, itu
kebetulan sekali. Tempat yang ingin kuminta kalian kawal juga adalah kota
pelabuhan Omitsu."
"Eh?
Benarkah?"
Aku sedikit
terkejut dengan kebetulan bahwa tujuan kami ternyata sama.
"Ya, jika
sampai di sana, aku bisa meminta bantuan pada pamanku yang menguasai kota
tersebut. Dengan begitu aku bisa memberikan imbalan kepada kalian."
"Jadi
intinya mengandalkan pamanmu, ya."
Nah, bagaimana
sekarang. Ini jelas-jelas masalah yang merepotkan, dan aku ingin segera pergi
menjauh, tapi kenyataan bahwa tujuan kami sama itu merepotkan.
Selain itu, jika
penguasa kota tujuan kami adalah pamannya, kalau aku menolak sekarang, itu
berarti aku menolak permintaan bangsawan.
Aku tidak ingin
memancing ketidaksukaan bangsawan setempat, tapi kalau berhubungan dengan
bangsawan, musuh mereka juga kemungkinan adalah bangsawan. Mana pun yang
kupilih, keduanya merepotkan.
"Kak,
Kak."
"Apa."
Saat aku sedang
bimbang, Gobun berbisik padaku.
"Terima
saja, Kak. Lagipula tujuannya sama, dan kita tidak tahu kapan akan bertemu
dengan Tuan Rex dan yang lainnya. Mempertimbangkan kemungkinan kita harus
tinggal lama di sini, akan lebih menguntungkan jika kita membuat bocah ini
berutang budi."
Hmm, sekilas dia
seperti tergiur imbalan—ya, sebenarnya dia memang tergiur—tapi apa yang
dikatakannya tidak salah.
Aku memang
terseret dalam masalah merepotkan, tapi ini negeri asing, dan jika ada
bangsawan yang bisa dijadikan sekutu, itu pasti akan menjadi keuntungan bagi
kami.
"...Baiklah.
Jadi aku hanya perlu mengawal sampai ke kota pelabuhan itu, kan?"
"Ooh, jadi
kau menerimanya!"
Sebenarnya aku
tidak ingin menambah beban masalah di negeri asing, apalagi saat tidak ada yang
lainnya.
Namun, memang
benar bahwa kami butuh uang, dan memiliki sekutu orang lokal yang paham daerah
sini akan lebih baik.
"Mohon
bantuannya ya, Yukitaka."
Aku sengaja
memanggil namanya tanpa gelar sambil mengulurkan tangan.
Dia sepertinya
bangsawan, tapi dalam situasi ini, kalau aku berbicara terlalu formal, itu sama
saja memberitahu para pengejar bahwa mangsa mereka ada di sini.
"?! Y-ya!
Mohon bantuannya juga, Mina!"
Entah apa yang
membuatnya senang, Yukitaka menjabat tanganku dengan tampak sangat gembira.
"Ayo! Kita
berangkat ke kota pelabuhan Omitsu!"
"Iya,
iya."
Begitulah, setelah tiba di Negeri Timur... Kekaisaran Amatsumine, alih-alih bertemu rekan-rekan yang terpisah, aku malah terlibat dengan bangsawan-bangsawan aneh.



Post a Comment