Chapter 195
Monolog Haruomi dan Bayangan Iblis Putih
"Aduh,
saya benar-benar mengira dunia akan kiamat tadi."
Setelah
pertempuran dengan para ronin berakhir, kami tiba di desa para pendeta.
Namun,
situasi di dalam desa sedang kacau balau akibat dampak pertempuran tadi.
Sepertinya pertarungan kami dengan para ronin benar-benar mengejutkan
mereka, aku jadi merasa tidak enak.
Setelah
kami semua menenangkan warga, dan ditambah penjelasan dari Yukinojo-san serta
Haruomi-san sebagai pihak yang berkepentingan, barulah mereka akhirnya memahami
situasinya.
"Selama
ini memang sering ada penyusup yang mengincar nyawa calon Shogun dan membuat
keributan di wilayah klan ini, tapi kekacauan luar biasa seperti ini baru
pertama kali terjadi dalam sejarah."
"Ahaha,
maafkan kami..."
Untungnya, para
pendeta memaafkan kami karena tidak ada kerusakan pada desa. Ya, mereka
benar-benar orang baik.
"Kami sudah
mendengar perihal Tuan Yamazakurakoji dari Nona Omitsu. Saya tidak menyangka
beliau akan melakukan tindakan seberani itu... Saya benar-benar minta
maaf."
Entah kenapa,
pendeta itu meminta maaf atas perbuatan sang Kepala Penasihat.
"Tidak
apa-apa. Memang benar dalam tubuh Yamazakurakoji mengalir darah pendeta, tapi
itu tidak ada hubungannya dengan kalian. Kejadian ini murni tindakan pribadi
Yamazakurakoji."
"Kami sangat
tertolong jika Anda berkata demikian."
Begitu rupanya,
Kepala Penasihat yang memberontak itu masih berkerabat dengan para pendeta di
desa ini. Pantas saja mereka merasa tidak tenang.
Namun
Yukinojo-san memaafkan mereka begitu saja, seraya menegaskan bahwa Kepala
Penasihat adalah Kepala Penasihat, dan pendeta adalah pendeta.
Memaafkan kerabat
dari orang yang mengincar nyawanya tanpa rasa benci... itu bukan hal yang mudah
dilakukan.
Yukinojo-san
mungkin akan menjadi raja yang cukup hebat nanti.
"Waktu
sangat berharga. Aku ingin segera melaksanakan ritual penobatan Shogun."
"Kami
mengerti."
Saat Yukinojo-san
berkata tidak butuh istirahat, sang pendeta memandu kami menuju sebuah kediaman
besar di bagian dalam desa.
Bangunannya
sangat besar, saking luasnya aku merasa sepertiga desa ini adalah bagian dari
kediaman tersebut. Rumah-rumah di negeri ini memang sangat melebar, mungkin
karena ada tamannya.
"Kalau
begitu, Tuan Yukinojo, silakan maju ke sini."
"Umu."
Saat Yukinojo-san
melangkah maju, Haruomi-san hendak mengikuti, namun sang pendeta
menghentikannya.
"Mohon maaf,
bagi para pengiring diharapkan menunggu di sini."
"Apa!? Aku
ini pengawal Tuan Muda!"
Haruomi-san
membentak, merasa tidak mungkin membiarkan Yukinojo-san sendirian.
"Ini adalah
adat istiadat penobatan Shogun. Karena itu, siapapun yang bukan calon Shogun
tidak diizinkan masuk lebih jauh."
"...-!!"
Wajah Haruomi-san
menegang saat diberi tahu bahwa pihak luar tidak boleh masuk.
"Tempat di
depan ini adalah wilayah Kaisar, sang pemimpin sejati Tenfeng. Meski Anda
sekalian berasal dari keluarga Shogun, Anda tetap harus mematuhi adat
istiadat."
"...-!"
Seketika nama
Kaisar disebut, tubuh Haruomi-san kaku. Kalau tidak salah, di negeri ini memang
Kaisar adalah raja yang sesungguhnya.
Menyadari tidak
ada yang bisa dilakukan jika nama itu sudah disebut, Haruomi-san mengertakkan
gigi dan mengepalkan tinjunya kuat-kuat, lalu mematuhi perkataan pendeta itu.
"Tenanglah
Haruomi. Ini adalah tanah yang dipimpin Kaisar. Tidak mungkin ada bahaya yang
mengancamku di sini."
"Tuan
Muda..."
"Jangan
khawatir. Aku akan segera dinobatkan menjadi Shogun dan kembali."
"Saya...
mengerti."
Mungkin dia
merasa tidak berdaya karena tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Haruomi-san
menghela napas panjang dan melemaskan kepalan tangannya, lalu berlutut dan
menundukkan kepala kepada Yukinojo-san.
"Tuan Muda,
selamat berjuang."
"Umu! Kalau
begitu aku pergi dulu. Mina, Rex, terima kasih sudah mengawal sampai ke sini.
Selama aku belum kembali, beristirahatlah dengan santai di desa."
"Semangat
ya—!"
"Hahahaha,
serahkan padaku!"
Setelah berkata
demikian, Yukinojo-san masuk ke bagian dalam bangunan bersama sang pendeta.
"Apa anak
itu sedikit berubah?"
Tiba-tiba
Mina-san bergumam sambil menatap kepergian Yukinojo-san.
"Benarkah?"
"Iya. Saat
pertama bertemu denganku, dia itu anak yang tidak bisa diam. Ah, setelah
bertemu Rex pun sama saja. Tapi sejak sampai di desa ini, dia terlihat cukup
tenang."
Heh, apa terjadi
sesuatu ya?
"...Tuan
Muda datang ke tempat ini sebagai calon Shogun. Karena itu, saat ini beliau
sedang mendisiplinkan dirinya sebagai anggota keluarga Shogun."
Saat kami sedang
membicarakan Yukinojo-san, Haruomi-san menyahut dengan suara rendah.
"Sebagai
anggota keluarga Shogun?"
"Benar. Tuan
Muda adalah putra Shogun yang memimpin tanah Tenfeng. Karena itu, di acara
resmi seperti ini, beliau dididik dengan keras untuk bertingkah laku layaknya
putra Shogun agar tidak mempermalukan nama besar ayahnya."
Oh, semacam tata
krama bangsawan, ya?
"Tuan Muda
memang sudah tumbuh menjadi putra calon Shogun yang luar biasa. Melalui
perjalanan ini pun, beliau mendapatkan banyak pengalaman yang tidak mungkin
didapat jika hanya berdiam diri di dalam kastil."
"Memang
banyak pengalaman luar biasa sih. Pengalaman gila yang biasanya tidak akan
dialami orang normal."
Tunggu, Mina-san?
Kenapa Anda melihat ke arahku saat mengatakan itu?
"Tapi tetap
saja, Tuan Muda masih kurang pengalaman. Kehilangan Shogun sebelumnya membuat
beliau tidak sempat mewarisi kebijaksanaan dan kesiapan mental sebagai
penguasa, itu adalah hal yang sangat merugikan."
Bagi bangsawan,
melihat pekerjaan orang tua adalah pelajaran penting. Haruomi-san sepertinya
sangat khawatir karena Yukinojo-san tidak sempat merasakannya.
Seperti anak
pedagang yang baru mulai bekerja kasar tapi tiba-tiba diserahi bisnis orang
tuanya, pasti dia tidak akan bisa apa-apa.
"Tapi
bukankah itu gunanya kalian sebagai pengabdi?"
Apa yang
dikatakan Mina-san benar. Di saat seperti inilah pengabdi bertugas menyokong tuannya.
"Benar,
tapi Kepala Penasihat Yamazakurakoji yang merupakan pemimpin para pengabdi
justru berkhianat. Terlebih lagi, banyak penguasa wilayah yang mengikutinya
untuk menghalangi kami. Meski
sudah dinobatkan sebagai Shogun, pemerintahan Tuan Muda pasti akan sangat
berat."
Begitu rupanya.
Kepala Penasihat pasti akan dicopot dari jabatannya, dan tergantung situasinya,
gelar bangsawan serta wilayahnya pun bisa disita.
Para penguasa
wilayah yang membantunya juga pasti akan dihukum. Jika itu terjadi,
Yukinojo-san harus memerintah negara tanpa pengabdi berpengalaman tinggi
seperti Kepala Penasihat.
Artinya, dia
harus memulai semuanya dengan bawahan yang kurang pengalaman atau kurang
berkemampuan. Itu memang terdengar sangat sulit.
"Apalagi
setelah kejadian ini, para pengabdi dari pemberontak seperti Kepala Penasihat
pasti akan menjadi ronin."
Benar juga.
Karena mereka adalah bawahan pemberontak, mereka yang tidak terlibat langsung
mungkin tidak akan dieksekusi, tapi mereka pasti akan kehilangan pekerjaan.
"Jika itu
terjadi, jumlah ronin yang menyimpan dendam tidak masuk akal kepada
keluarga Shogun akan semakin bertambah."
"Entah harus
disebut menuai apa yang ditanam, atau mengabdi pada majikan yang salah..."
Mina-san
mengerang sambil mengernyitkan dahi. Di saat seperti ini, menjadi bawahan orang berkuasa itu memang sulit,
karena mereka tidak bisa menentang perintah atasan.
Di kehidupan
sebelumnya, aku juga sering melihat ksatria yang terpaksa mematuhi perintah
tidak masuk akal, bahkan aku sendiri juga sering dimanfaatkan dengan alasan
demi melindungi dunia.
"Namun yang
lebih menakutkan adalah apakah Tuan Muda sendiri akan mengulangi kesalahan yang
sama dengan orang-orang itu."
"Yukinojo-san?"
Eh?
Apa maksudnya?
Bukankah
Yukinojo-san akan menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini?
Kurasa tidak ada
lagi pihak yang akan memberontak demi kekuasaan atau hak istimewa.
Satu-satunya
saingan adalah Kaisar, tapi kabarnya Kaisar tidak mencampuri politik, jadi
tidak ada untungnya bermusuhan.
"Dalam
sejarah negeri ini pun pernah terjadi. Ada Shogun yang mempercayai hasutan
pengabdi licik dan menghukum pengabdi yang tidak bersalah tanpa menyelidikinya
terlebih dahulu."
Ah, itu cerita
yang sering kudengar juga di benua kami. Shogun pada masa itu pasti
dimanfaatkan dengan cerdik oleh orang jahat.
"Yang
terburuk adalah saat dia jatuh ke dalam paranoia dan menjauhkan bawahan yang
berani memberikan pendapat jujur. Kalau cuma dijauhkan masih mending, tapi
dalam kasus terburuk, seluruh klan pengabdi itu sampai dieksekusi."
"Itu kejam
sekali."
Di zaman manapun,
raja yang pengecut memang selalu ada.
"Faktanya,
pada masa pemerintahan Shogun sebelumnya pun terjadi peristiwa di mana Shogun
sendiri menghukum pejabat pentingnya."
"Waktu itu
bagaimana? Apa pejabat itu benar-benar melakukan kejahatan?"
"Entahlah.
Mengenai detail kejadian itu telah diberlakukan perintah tutup mulut. Waktu itu
aku masih kecil, jadi tidak bisa mendapatkan informasi yang mendalam."
Sampai
diberlakukan perintah tutup mulut, itu pasti bukan masalah sembarangan.
Mungkinkah telah terjadi peristiwa yang sangat besar?
"Tapi...
karena pihak yang dihukum bukan orang sembarangan, sepertinya identitas siapa
yang dihukum tidak bisa disembunyikan."
"Siapa orang
itu?"
"Huh, kan
sudah kukatakan ada perintah tutup mulut. Kalau klan prajurit yang sudah
rahasia umum sih tidak masalah, tapi kenapa aku harus memberi tahu kalian yang
orang asing?"
Ah, benar juga.
Tentu saja hal seperti itu biasanya tidak akan diberitahukan.
"Bagaimanapun
juga, Tuan Muda punya banyak musuh. Karena itulah aku ingin Nona Omitsu menjadi
pendukungnya dan ingin Tuan Muda belajar banyak tentang kesiapan mental
penguasa sebelum dinobatkan... tapi dunia memang tidak selalu berjalan sesuai
keinginan. Yamazakurakoji benar-benar membuat keadaan jadi sulit."
Setelah berkata
sejauh itu, Haruomi-san berdiri dan menghadap ke arah kami.
"Aku akan
menunggu kembalinya Tuan Muda di sini. Kalian beristirahatlah seperti yang
diperintahkan beliau."
"Baiklah.
Untuk berjaga-jaga, kami akan berkeliling desa dulu untuk memastikan tidak ada
sisa-sisa ronin yang menyusup sebelum kami beristirahat."
"Umu."
Sebenarnya aku
sudah tahu tidak ada ronin melalui sihir deteksi. Tapi aku harus
memberikan rasa aman kepada Haruomi-san agar dia bisa menunggu dengan tenang.
"Ayo
berangkat."
"Iya."
Kami pun
berkeliling desa sambil menyapa warga yang berpapasan.
"Meski ini
desa para pendeta, tapi rasanya..."
"Ya,
desa yang sangat normal."
Sambil berjalan,
aku menyuarakan apa yang ada di pikiranku. Benar, desa ini terlihat seperti
desa biasa di manapun.
Karena ini desa
pendeta, kukira akan mirip dengan kuil-kuil di negeri kami, tapi pakaian mereka
pun (kecuali sebagian orang) terlihat seperti penduduk desa normal.
Orang-orang
itu bahkan sedang menuju ladang sambil membawa cangkul.
Sesampainya
di gerbang masuk desa, aku melihat para penjaga gerbang dan beberapa orang yang
tampak seperti pemburu sedang berbicara dengan wajah serius.
"Anu,
apa terjadi sesuatu?"
Saat aku
menyapa, para penjaga gerbang menoleh ke arah kami.
"Kalian
ini... ah, tamu luar biasa yang tadi ya."
"Ahaha,
maaf soal keterkejutan yang tadi."
Untungnya penjaga
gerbang itu mau menjelaskan situasinya kepada kami.
"Begini,
monster-monster mulai terlalu banyak dan berbahaya, jadi kami sedang
membicarakan apakah sebaiknya dilakukan pembasmian lebih awal dari
jadwal."
"Pembasmian?"
"Ya,
akhir-akhir ini ada monster yang belum pernah kami lihat tinggal di hutan
sekitar sini. Sepertinya
monster itulah penyebab monster-monster lain dari sekitar berkumpul ke dalam
hutan."
"Monster
yang belum pernah dilihat, ya..."
Hmm,
monster apa itu? Tapi kalau monster-monster sampai berkumpul, ada kemungkinan
itu adalah monster jenis varian. Jika benar, akan berbahaya jika dibiarkan.
"Tapi,
apa tidak terlalu sedikit jumlah orang untuk melakukan pembasmian? Seharusnya
kalian mengumpulkan lebih banyak orang."
Benar
kata Mina-san, tenaga mereka terlalu sedikit. Cuma ada dua penjaga
gerbang dan satu pemburu.
"Kami sudah meminta penguasa wilayah untuk mengirimkan
personel pembasmi monster. Tapi selama menunggu, jumlah monster terus
bertambah. Lagipula, ini bukannya tidak ada hubungannya dengan kalian."
Penjaga gerbang itu mengatakan sesuatu yang menarik
perhatianku.
"Kalian datang ke desa ini untuk ritual yang diadakan
puluhan tahun sekali itu, kan? Tapi untuk melaksanakan ritual itu, kalian harus
pergi ke situs kuno di luar desa. Dan
untuk mencapai situs itu, kalian harus melewati hutan."
Ah, begitu
rupanya. Benar, ini bukan lagi urusan orang lain bagi kami.
"Selain itu,
agar warga desa bisa mengambil hasil hutan dengan tenang, kami ingin mengurangi
jumlah monster sebanyak mungkin mulai dari sekarang."
Memang
benar, hutan adalah tempat penting yang memberikan banyak berkah. Mereka tidak
mungkin tidak mendekatinya hanya karena berbahaya. Wajar jika mereka ingin
mengurangi jumlah monster demi menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.
Terlebih jika ini berkaitan dengan ritual Yukinojo-san, tidak ada alasan bagi
kami untuk tidak membantu.
"Kalau
begitu, kami akan bantu."
"Eh!? Boleh
kah!?"
Pemburu itu
berseru kaget mendengar tawaran kami.
"Pekerjaan
utama kami adalah membasmi monster, jadi kami punya cukup kekuatan tempur. Kami
juga bisa menggunakan sihir serangan tingkat tertentu."
"Bukan cuma
'tingkat tertentu' lagi, tahu. Tapi yah, kami sudah mengawal tamu yang punya
urusan di desa ini sampai ke sini. Kalian boleh menaruh harapan pada
kami."
Mina-san ikut
menawarkan bantuan sambil mengedipkan mata padaku. Ya, perasaan saling mengerti
tanpa perlu kata-kata ini... rasanya seperti rekan sejati yang menyenangkan.
"Heh, di
usia semuda itu sudah jadi pengawal, hebat juga."
Pemburu itu
memuji dengan kagum setelah mendengar kami adalah pengawal.
"Hanya saja,
kami tidak punya uang untuk membayar kalian..."
Penjaga gerbang
terlihat bingung karena tidak bisa memberikan imbalan atas bantuan kami.
"Eeto,
begini saja. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena tadi sudah
mengejutkan kalian saat kami tiba."
Ya, tadi mereka
pasti sangat kaget melihat pertempuran dengan para ronin.
"Ah— soal
itu. Tadi benar-benar membuat kaget, ya."
"Ya, kukira
dunia sudah mau kiamat."
Eeto, aku
benar-benar minta maaf.
"Tapi yah,
karena kalian pemilik kapal luar biasa itu, sepertinya kami memang bisa
berharap banyak!"
"Tapi apa
benar tidak apa-apa membantu kami?"
"Serahkan
saja pada kami. Lagipula kami sedang senggang sampai urusan Yukinojo-san
selesai."
Aku menepuk
dadaku untuk meyakinkan mereka. Kenalan di kehidupan sebelumnya pernah bilang,
di saat seperti ini kita harus terlihat penuh percaya diri agar keraguan lawan
bicara hilang.
"Begitu ya,
kalau begitu kami sangat mengharapkan kerja samanya."
"Baik,
serahkan pada kami!"
"Benar-benar
sangat membantu."
Begitulah,
akhirnya kami memutuskan untuk membantu pembasmian monster yang menghuni hutan.
"Omong-omong,
monster yang belum pernah dilihat itu seperti apa wujudnya?"
Untuk
berjaga-jaga, aku menanyakan informasi tentang monster penyebab keributan
tersebut.
Karena
kemungkinan besar itu adalah monster varian, informasi sekecil apapun akan
sangat berguna. Namun pemburu itu menggaruk kepalanya dengan bingung.
"Masalahnya,
tempatnya agak gelap di dalam hutan, dan monster itu sangat cepat serta
berbahaya, jadi aku hanya melihatnya dari kejauhan."
"Tidak
apa-apa, katakan saja."
"Baiklah.
Monster yang kulihat itu seluruh tubuhnya berwarna putih bersih. Pokoknya dia
sangat cepat dan kuat, dia bertarung tanpa rasa takut melawan monster yang
ukurannya jauh lebih besar darinya. Bahkan dia berhasil mengalahkan Great Magic
Bear yang merupakan penguasa terkuat di daerah sini."
Great Magic Bear, apa itu monster khas negeri ini?
Dari namanya
sepertinya besar dan bisa memakai sihir.
Tapi tetap saja,
monster putih dan kecil namun punya semangat juang tinggi... informasinya masih
terlalu sedikit untuk menebak jenisnya. Namun yang pasti, dia adalah lawan yang
berbahaya.
"Putih,
kecil... rasanya aku pernah dengar tapi lupa..."
Mina-san
sepertinya juga tidak terpikir monster apa itu, sehingga kami belum bisa
mengidentifikasinya.
Yah, di alam
liar, memiliki warna putih itu sama saja dengan memberitahu lokasi diri sendiri
kepada musuh, kecuali di daerah bersalju di utara.
"Ayo
berangkat, Mina-san."
"Ayo, kita
kalahkan mereka dengan cepat supaya Yukinojo bisa segera pergi melaksanakan
ritualnya!"
◆Monster Misterius◆
—Grrrrrrrrrrrr—
Di bawah pandanganku, terdapat ratusan monster berkumpul.
Ada monster kuat, monster lemah, dan monster dengan berbagai kemampuan khusus.
Terlebih lagi, mereka bukan dari satu ras saja. Ada banyak
ras yang biasanya bermusuhan, ada pula yang memiliki hubungan predator dan
mangsa.
Namun, monster-monster itu tidak berkelahi satu sama lain
dan hanya menunggu perintahku dengan tenang.
Menunggu perintah dariku, sang Raja Monster! Hu, huhuhu, huhahahahahahahaha!
Benar, aku telah
mendirikan Kerajaan Monster di sini! Tidak hanya monster di hutan ini saja.
Monster
dari gunung, sungai, dataran, bahkan dari hutan lain pun sudah kutundukkan dan
kupimpin menjadi satu pasukan besar yang mengabdi padaku!
Adapun
orang-orang bodoh yang melawan, sudah kubasmi dengan cepat dan kunikmati dengan
lezat. Hmm, monster di tanah ini terasa berempah dan enak sekali.
Cita rasa
oriental! Rasa enak, kekuatan oke, loyalitas mantap—monster negeri ini
benar-benar kompeten.
Dengan ini,
mereka akan menjadi pasukan elit yang patuh pada perintahku! Fufufu, tidak ada Tuan Besar,
hidup ini terasa paling mantap!
Apa aku
tinggal di hutan ini saja ya, tanpa perlu berpikir untuk mengkhianati Tuan
Besar? K-A-N-A!
BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOMMM!!
Baru saja
aku berpikir demikian, tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat dan pasukanku
lenyap seketika. Lenyap bersih tanpa sisa.
Aku yang
sedang memantau dari atas pohon, terjatuh dari dahan yang hancur dan mendarat
di atas tanah yang kini sudah rata.
...Haaaaaaaaaaaaaaa!?
Apa-apaan ini!?
Apa yang baru
saja terjadi!?
Kenapa
sekelilingku jadi tanah rata!?
Mana hutan
tempatku tadi!?
Mana pasukan
besarku!?
Mana
bawahan-bawahanku yang gagah!?
Apa yang
sebenarnya terjadi!?
Namun sejauh mata
memandang, tidak ada satu pun bulu bawahanku yang tersisa.
Eh, tunggu, ada!
Dari kejauhan tanah rata itu, dua bayangan sedang mendekat ke sini. Apa ada yang selamat!?
Hm? Eh?
Itu bukan... monster... kan...
"※※※※?"
GEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!! Tuan Besarrrrrrrrrrrrr!?
Kenapa!?
Kenapa Tuan Besar ada di tempat seperti ini!?
"※※※※※!"
Awawawawa,
aku harus lari tapi tubuhku gemetar dan tidak bisa digerakkan. Jangan-jangan
ketahuan!? Rencana masa depanku yang agung untuk menguasai tanah ini dengan
pasukan monster!?
"※※※※"
Gyaaaaa!
Aku tertangkaaaaaap! Kenapa!?
Padahal
aku sudah menjauh dari pesisir pantai dan lari sampai ke pelosok gunung supaya
tidak ketemu Tuan Besar!
Kupikir ini
kesempatan emas untuk kabur dari Tuan Besar!
Ya, aku memang
tidak menyangka Tuan Besar akan mati hanya karena badai selevel itu sih!
Sialaaaaan!
"※※※※"
Tangan Tuan Besar
diletakkan di atas kepalaku. Awawawawa, apa Anda berniat meremukkan kepalaku!?
I-Ini
salah paham, Tuan Besar!
Aku sama sekali
tidak punya niat sedikit pun untuk memberontak!
Crrrttttt
Ouf, aku mengompol.
◆Mina◆
"Wah, jumlah monsternya banyak sekali."
Rex yang
sedang mencari monster tersebut menggunakan sihir deteksi berseru kaget.
"Maksudku,
tanpa pakai sihir deteksi pun kita sudah tahu, kan."
Karena pepohonan di sekitar sini sangat tinggi, kami mencari dari udara menggunakan kombinasi sihir terbang dan sihir deteksi, tapi ternyata itu tidak perlu karena lokasi monster tersebut segera diketahui.
Sebab, monster
dalam jumlah yang luar biasa telah berkumpul di salah satu sudut hutan. Bahkan
meski tersembunyi di balik pepohonan yang tinggi, kawanan monster itu sangat
banyak hingga terlihat jelas dari atas.
Hmm, untung saja
kami mencarinya dari angkasa. Kalau kami mencarinya sambil berjalan di darat,
kami pasti sudah berpapasan dengan kawanan itu tanpa persiapan sama sekali.
"Tunggu,
jumlahnya bukan cuma monster dari hutan ini saja, kan? Sebenarnya ada berapa
banyak itu...?"
Meskipun
pepohonan tinggi menyulitkan pengamatan dari udara, aku bisa memastikan bahwa
kawanan monster itu tersebar di sebagian besar area hutan. Aku sampai takut
membayangkan jumlah pastinya...
"Hmm,
sepertinya ada beberapa ribu ekor," sahut Rex.
"Beberapa
ribu!?"
Apa-apaan!?
Bukankah itu berarti hampir seluruh monster di negeri ini berkumpul di sini!?
"Ba-Bagaimana
ini!? Kalau monster sebanyak itu menyerang, desa tidak akan mungkin bisa
bertahan!?"
Dinding
pertahanan desa itu tidak akan sanggup menahan serangan pengepungan.
Kami mungkin bisa
membawa lari Yukinojo dan yang lain, tapi mustahil menyelamatkan para pendeta
sambil melarikan diri.
Kalau menggunakan
kapal terbang Rex... jika tanpa barang bawaan, mungkin semua orang bisa dipaksa
masuk?
"Begitu ya.
Karena merepotkan, bagaimana kalau kita basmi semuanya di sini saja?" ucap
Rex santai.
"Basmi!?
Semuanya!?"
"Iya, kita
habisi sekaligus dengan sihir area."
"Sihir area
katamu, tapi kan ada ribuan!?
Ah, tapi kalau
itu kau, mungkin saja bisa?
Tapi bagaimana
caranya?
Awalnya mungkin
berhasil, tapi mereka pasti akan langsung kocar-kacir. Kalau bos yang memimpin
mereka kabur, urusannya akan jadi lebih sulit nanti."
Sihir Rex memang
hebat, tapi kurasa mustahil menghabisi ribuan monster sekaligus dalam satu
waktu. Setidaknya harus dibagi dalam puluhan kali serangan.
Jika begitu,
pertama-tama kami harus memastikan di mana letak bosnya. Sebab, ada monster
yang jauh lebih cerdas dari yang dibayangkan manusia.
Terutama bos yang
memimpin kawanan besar, biasanya mereka tidak hanya unggul dalam kekuatan, tapi
juga licik.
"Ya, aku
mengerti. Karena itulah..."
Rex menjawab
seolah sudah paham segalanya. Apa dia punya rencana bagus untuk menyelesaikan
masalah ini?
Tentu saja, pasti
karena punya rencana itulah dia berani melakukan hal senekat itu.
"Aku akan
memasukkan seluruh monster ke dalam jangkauan serangan dan menyapu bersih
mereka dalam satu tarikan napas!"
"Ternyata
strateginya jauh lebih mengandalkan otot daripada yang kukiraaaaa!"
A-Apa benar
bisa!? Mengalahkan ribuan monster sekaligus!?
Dalam ingatanku,
sihir-sihir yang digunakan Rex memang luar biasa.
Tapi aku belum
pernah melihat sihir gila yang bisa membasmi ribuan monster dalam sekali tebas.
Sihir yang hanya
muncul di dalam mitologi seperti itu, apa benar-benar ada!?
"Ta-Tapi,
membunuh monster sebanyak itu, apa hutannya akan baik-baik saja!?"
"Benar juga.
Memang agak merepotkan kalau harus membunuh monster sebanyak ini tanpa merusak
sekitar. Jadi, mari kita ratakan saja hutannya dengan cepat, lalu kita gunakan
sihir tanaman dan pupuk khusus untuk melakukan restorasi instan—bukan pertumbuhan
instan, tapi regenerasi instan."
Ternyata
solusinya pun mengandalkan kekuatan kasar!?
"Ah, tenang
saja. Aku akan memasang sihir deteksi supaya tidak ada manusia yang terkena
dampaknya."
"A-Ah, iya. Benar juga. Itu bagian yang penting."
"Mumpung monsternya sedang berkumpul di satu titik,
sekarang adalah saat terbaik untuk menekan kerusakan pada tanah di sekitarnya
seminimal mungkin."
Oalah, ternyata
dia tetap memikirkan hal itu saat hendak menyapu bersih mereka.
"Selain itu,
aku akan mempersempit radius pemusnahan hingga batas maksimal."
Begitu Rex
berkata demikian dan mulai memfokuskan kesadarannya, energi sihir yang sangat
pekat mulai berkumpul di sekelilingnya.
Srak srak srak
srak!!
Bahkan aku yang
tidak memiliki kemampuan deteksi hawa keberadaan sehebat pencuri pun bisa
menyadari hewan-hewan hutan yang panik dan mulai melarikan diri karena
merasakan firasat buruk.
"Hei,
bukankah para monster juga akan menyadarinya?"
"Jarak kita
cukup jauh dari kawanan itu, jadi tidak apa-apa. Mungkin monster di lingkar
luar yang paling dekat akan sadar, tapi aku sudah memasang penghalang di
sekeliling kawanan itu, jadi mustahil bagi mereka untuk kabur."
"Eh!? Sejak
kapan!?"
Bukan cuma
berniat membunuh, dia bahkan sudah menyiapkan penghalang agar tidak ada yang
lolos!?
"Baiklah, aku mulai! Inferno Country!"
Sihir yang dikeluarkan Rex ternyata hanyalah sebuah bola api
yang tampak sangat biasa. Bola api
itu meluncur ke arah daratan lalu meledak pelan.
Apa dia gagal?
Baru saja aku berpikir begitu...
BOOOOOOOOOOOOOOOMMM!!
"!!!!!?"
Bersamaan dengan
suara ledakan dahsyat, api menyebar ke seluruh hutan dalam sekejap, membentuk
lingkaran raksasa yang tidak beraturan.
"Hah!?"
Itu benar-benar
terjadi dalam sekejap mata. Bola api kecil tadi menelan seluruh monster yang
berkumpul di hutan dalam satu kedipan.
"A-A-Apa-apaan
itu tadi?"
"Itu sihir pemusnahan area luas, Inferno Country. Kalau
Flame Inferno itu sihir 'pembersih rumput' untuk membakar jalur lurus, yang ini
adalah sihir 'pembersih rumput' tipe penentuan area untuk membasmi hama dan
hewan liar di jangkauan yang luas."
"Sihir pembersih rumput tipe penentuan area!?"
"Iya, agar bisa membersihkan tanah atau ladang yang
bentuknya tidak beraturan, aku bisa membakar hanya pada bagian yang aku
tentukan saja. Lihat itu, kalau diperhatikan baik-baik, di dalam radiusnya
masih ada pepohonan yang tersisa, kan? Itu adalah titik di mana tidak ada
monster atau bagian yang memang ingin kusisakan pohonnya."
Setelah diperhatikan, memang benar ada pepohonan dan area
yang tidak terbakar meskipun berada di dalam radius serangan.
"Sebenarnya sihir ini saja sudah cukup, tapi hutan ini
adalah sumber pangan penting bagi para pendeta dan hewan hutan. Jadi aku
melindungi bagian itu dengan sihir penghalang tadi. Ah, aku juga melindungi
hewan liar biasa yang terlambat kabur supaya tidak ikut terkena dampak."
"Bukankah
pelayananmu ini terlalu berlebihan!?"
Tunggu sebentar!?
Apa-apaan itu!?
Bukan hanya
menyerang area yang sangat luas, tapi dia juga bisa mengecualikan bagian-bagian
tertentu dari jangkauan serangan!?
Terlebih lagi,
dia mengaktifkan sihir penghalang dengan skala yang sama secara bersamaan!?
Bagaimana cara
melakukannyaaaaa!?
"Meski
begitu, aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap tanaman yang ada di bawah kaki
para monster itu."
"Itu sudah
lebih dari cukup, tahu!"
Skala
perhatiannya benar-benar di luar nalar!
"Ah, sudah
selesai. Eh, tunggu? Ada satu yang selamat?"
"Eh?"
Mendengar suara
Rex yang kebingungan, aku merasakan firasat buruk.
Jangan-jangan ada
monster yang berhasil bertahan hidup dari serangan tadi!?
Monster macam apa
yang bisa selamat dari sihir monster seperti itu!?
"Ayo pergi.
Kemungkinan besar itu adalah bos kawanan yang dibicarakan para pendeta."
"...Baiklah."
Mendengar
perkataan Rex, aku mengaktifkan sihir penguatan tubuh hingga batas maksimal.
Monster
yang tahan terhadap sihir Rex... monster mengerikan seperti apa yang akan kami
lawan nanti?
Aku
mencoba sekuat tenaga menekan rasa takut di dalam hati sambil mengikuti Rex.
Kami
tidak turun tepat di depan musuh, melainkan mendarat di daratan yang agak jauh.
Rex memimpin di depan, sementara aku sebagai pendukung mengikuti dari belakang
dengan jarak tertentu.
"Mungkin
aku tidak akan banyak membantu, tapi setidaknya aku akan berusaha memberikan
gangguan!"
Merasakan firasat
akan pertarungan sengit yang akan terjadi, tanpa sadar aku menelan ludah.
"Lho?"
Tiba-tiba Rex
mengeluarkan suara aneh. Kemudian dia melangkah santai mendekati satu-satunya
monster yang tersisa.
"Hei,
bukankah kau terlalu tidak waspada!?"
Namun Rex
mengabaikan kekhawatiranku dan terus mendekat. Justru monster itulah yang
terlihat bingung melihat sikap Rex. Kemudian, Rex berhadapan dengan monster
tersebut.
...Tunggu, eh?
Dibandingkan dengan Rex, monster itu kecil sekali...?
"Ternyata
benar, bukankah kau si Mofumofu!"
"Eh!?
Mofumofu!?"
Apa!? Monster
yang dirumorkan itu ternyata si Mofumofu!?
"Begitu ya,
sihir pertahanan yang tertanam di gelang tanduk yang kuberikan aktif dan
melindungimu dari Inferno Country, ya."
"Kyu,
kyukyuu..."
Mofumofu
gemetar mendengar perkataan Rex.
"Begitu
ya, jadi kau dikejar-kejar dan lari tunggang langgang dari monster-monster
tadi. Sekarang sudah aman, kok."
Rex
menggendong Mofumofu dengan lembut.
"Kyu!?"
Mofumofu
yang diangkat mengeluarkan suara ketakutan.
"Tidak
apa-apa, Mofumofu. Semua hal
menakutkan sudah kuusir jauh-jauh."
"Kyufuu~"
Rex mengelus
kepala Mofumofu dengan lembut. Merasa sangat lega, Mofumofu mengeluarkan suara
lemas seolah seluruh kekuatannya hilang...
Crrrttttt...
Dia mengompol.
"Uwah!? Ada
apa, Mofumofu!?"
"Yah, wajar
saja sih. Kalau tiba-tiba monster di sekitarmu terbakar mati, pasti menakutkan
sekali."
Aku sendiri pun
merasa kalau berada di posisi yang sama, aku pasti akan mengompol juga. Tapi,
aku memutuskan untuk menyimpannya di dalam hati saja.
◆
"Tapi
syukurlah Mofumofu berhasil ditemukan. Bisa dibilang, mencari Mofumofu adalah
bagian yang paling sulit."
"Kyukyuu~"
Mungkin karena
sangat lega bisa bertemu kembali dengan kami, Mofumofu terkulai lemas di
pelukan Rex.
"Benar juga
ya. Kalau Jairo dan yang lain, kita bisa mencari mereka di kota atau mereka
sendiri yang akan mencari kita. Tapi bagi anak ini, itu tidak mungkin."
"Benar.
Selain itu, dalam kasus terburuk, dia bisa saja diserang manusia karena
dianggap monster, atau ditangkap untuk dijadikan tontonan."
"Ah, iya.
Tapi dalam kasus itu, pihak yang menangkapnya yang akan berada dalam
bahaya."
Bagaimanapun
juga, aku sangat senang bisa bertemu dengannya lagi. Sambil merayakan reuni
dengan Mofumofu, kami menuju ke desa. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan
beberapa penduduk desa yang bersenjata.
"Eh? Ada
apa, semuanya?"
Di antara
penduduk desa, terlihat para penjaga gerbang yang tadi mengobrol dengan kami di
pintu masuk.
"Oh, kalian
selamat! Tiba-tiba terdengar suara ledakan besar, kami khawatir dan datang
untuk membantu!"
Melihat kami
baik-baik saja, penjaga gerbang menghela napas lega.
"Maaf sudah
membuat kalian khawatir. Monster yang memimpin kawanan itu sudah kami basmi
beserta seluruh kelompoknya, jadi tidak perlu khawatir lagi."
"Apa!? Sudah
kalian basmi!?"
"Bahkan
seluruh kawanannya!?"
"Iya."
"Kalian
hebat sekali!"
Para penjaga
gerbang memuji kami dengan penuh semangat dan rasa kagum yang mendalam.
"Kami tidak
melakukan hal yang istimewa, kok."
"Bahkan aku
tidak melakukan apa-apa."
"Tidak,
tidak, jangan rendah hati begitu. Bagi kami, mengusir satu atau dua ekor
monster saja sudah mati-matian. Berkat kalian, seluruh warga desa bisa tidur
dengan tenang."
"Ahaha, kami
senang kalau usaha kami bisa berguna."
"Bukan
'kami'. Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa kali ini."
Setelah
menjelaskan kepada para penjaga gerbang bahwa monster-monster itu sudah tidak
ada, kami semua kembali ke desa bersama-sama. Seharusnya ritual penobatan
Shogun Yukinojo-san juga sudah hampir selesai.
Tepat saat aku
berpikir demikian...
Tiba-tiba
terdengar suara ledakan dari arah desa.
"A-Apa
itu!?"
"Lihat! Ada
asap dari arah desa!"
Melihat asap
hitam yang membumbung tinggi secara tiba-tiba, para penduduk desa berteriak
panik.
"Mina-san!"
"Iya!"
"Semuanya,
kami akan kembali ke desa duluan!"
Tanpa menunggu
jawaban, kami segera menggunakan sihir terbang untuk bergegas menuju desa.
Begitu desa terlihat, kami menyadari asap itu berasal dari salah satu sudut
kediaman besar yang terletak di bagian dalam.
"T-Tuan Rex!
Nona Mina!"
Melihat
ke bawah, para pendeta yang menyambut kami tadi sedang melambai. Kami pun mendarat untuk menanyakan apa
yang terjadi.
"Apa yang
terjadi!?"
Para pendeta
terlihat sangat panik. Sudah pasti telah terjadi peristiwa yang tidak biasa.
"I-Ini
gawat! Tuan Yukinojo diserang oleh Majin dan ada korban luka-luka!"
"A-Apa
katamu!?"
Begitulah, kami
yang baru saja menyelesaikan satu pekerjaan, langsung terseret ke dalam insiden
berikutnya tanpa sempat beristirahat.



Post a Comment