Chapter 196
Upacara Pelantikan Jenderal
◆Yukinojo◆
"Silakan
masuk."
Pendeta itu
memanduku ke sebuah ruangan yang terletak di bagian tengah kediaman.
"Apa ritual
penobatan Shogun akan dilakukan di sini?"
"Benar
sekali. Mari, silakan."
"Umu."
Atas
desakan sang pendeta, aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Namun, begitu
melihat isinya, aku malah menjadi bingung.
"Apa
ini? Bukankah ini hanya
ruangan biasa?"
Ya, ruangan yang
ditunjukkan pendeta itu hanyalah sebuah kamar biasa yang bisa ditemukan di mana
saja. Sama sekali tidak terlihat seperti tempat suci untuk melaksanakan ritual
penobatan Shogun yang sakral.
"Oh, kau
sudah datang?"
Mendengar suara
dari sudut ruangan, aku baru menyadari bahwa sudah ada tamu lain yang menunggu.
Tadinya kukira
pendeta yang akan memimpin ritual penobatan itulah yang menunggu, namun saat
melihat sosok orang tersebut, aku kembali dibuat bingung.
"......Siapa
kau?"
Wajar jika aku
bertanya demikian. Pasalnya, penampilan pria itu sama sekali tidak terlihat
seperti seorang pendeta, melainkan tampak kumal dan kotor.
Ia tidak memakai kinagashi
seperti rakyat biasa, tidak pula berpakaian seperti prajurit.
Jika harus
digambarkan, ia mengenakan pakaian gaya asing yang warna atasan dan bawahannya
serasi.
Namun, aku merasa
itu bukan pakaian dari luar negeri karena corak pada pakaiannya memiliki desain
khas Tenfeng.
"Hahahaha,
kau tidak tahu siapa aku, ya?"
Meskipun aku
terang-terangan mengaku tidak mengenalnya, pria itu malah tertawa geli.
Siapa dia
sebenarnya?
Mengingat dia
berada di sini, apakah dia salah satu pihak yang terlibat dalam ritual
penobatan Shogun?
Namun, segala
keraguanku sirna oleh pernyataan tidak masuk akal yang ia lontarkan berikutnya.
"Aku adalah
Kaisar. Penguasa yang memimpin negeri ini...... lho."
"Haa!?"
Ya, tanpa
diduga-duga, pria ini mengaku-ngaku sebagai Kaisar. Karena pernyataannya yang
terlalu lancang, aku sampai mengeluarkan suara yang aneh.
"Jangan
bicara sembarangan! Mana mungkin Kaisar adalah pria kumal sepertimu!"
Benar,
Kaisar adalah simbol negeri ini dan sosok yang paling mulia. Beliau jelas bukan pria kotor seperti ini.
"Hahahahaha!
Pria kotor, katanya!"
Namun pria itu
terus tertawa tanpa menunjukkan rasa malu sedikit pun atas ucapannya yang tidak
sopan.
"Berani-beraninya
memalsukan nama Kaisar, itu benar-benar penghinaan besar! Aku sendiri yang akan
menghukummu!"
Sebagai prajurit
yang melayani Kaisar dan sebagai calon Shogun, aku tidak bisa membiarkan orang
kurang ajar semacam ini bebas berkeliaran!
"Mohon
tenang, Tuan Yukinojo."
Tetapi entah
mengapa, sang pendeta berdiri menghalangiku dan menghentikan langkahku.
"Kenapa kau
menghentikanku!? Pria ini adalah kriminal besar yang memalsukan nama
Kaisar!"
Ya, memalsukan
nama Kaisar adalah kejahatan besar yang tak terbayangkan, bukan? Namun, kenapa
pendeta yang melayani Kaisar justru menghentikanku!?
"Beliau
tidak memalsukan nama."
"Apa?"
"Pria kumal
ini memang benar-benar Kaisar-sama, pemegang kekuasaan tertinggi di negeri
kita."
"Haa!?"
Mendengar
kata-kata yang tak masuk akal dari sang pendeta, mataku membelalak. Pria kumal ini benar-benar Kaisar!?
"Saya sangat
mengerti perasaan Anda, namun itu adalah kenyataan."
"Oi, oi.
Sampai kau pun memperlakukanku seperti bapak-bapak kotor, ya."
"Itu adalah fakta."
"Tidak...... tapi......"
Sulit dipercaya. Pria dengan pakaian kotor ini benar-benar
Kaisar-sama yang memimpin para prajurit Tenfeng!?
Namun, ini adalah
perkataan pendeta dari tempat ritual penobatan Shogun dilaksanakan. Aku
harus...... percaya, bukan?
"Sudah saya
katakan, Kaisar-sama. Setidaknya pakailah pakaian yang lebih layak saat
mengadakan audiensi."
"Apa-apaan
'Kaisar-sama' itu. Lagipula
itu hanya gelar kosong. Bocah ini juga akan langsung paham kenapa aku
berpakaian seperti ini setelah mendengar alasannya."
"Alasan?"
Aku hanya bisa
memiringkan kepala mendengar percakapan aneh antara pendeta dan
Kaisar......-sama ini.
"Benar,
Nak. Seperti kata orang ini, aku adalah Kaisar yang asli."
"......Hah!?
Mo-Mohon maafkan aku, Yang Mulia Kaisar! Namaku Yukinojo, putra tunggal dari
Yoren Natsunori. Terhadap Yang Mulia Kaisar, aku telah......"
Aku masih belum
yakin apakah pria kotor...... ah, maksudku orang di depanku ini benar-benar Kaisar.
Namun selama
pendeta memberikan kesaksian, aku tidak punya pilihan selain memercayainya.
Jika benar, maka
sikapku tadi sangatlah buruk.
Malahan, bukankah
aku harus melakukan seppuku karena penghinaan ini!?
Aku pun bergegas
berlutut dan menundukkan kepalaku.
"Ah—sudahlah,
tidak apa-apa. Aku sudah tahu kau putra Natsunori dari surat Omitsu."
Namun Kaisar-sama
mengibaskan tangannya dengan malas, menyuruhku berhenti seolah-olah itu bukan
masalah besar baginya.
"Kalau
begitu—!"
Mendengar
perkataan Kaisar-sama, aku mengangkat wajahku sambil memanjatkan rasa terima
kasih kepada paman.
"Tunggu
dulu. Dengarkan ceritaku. Ini masalah penting. Sekalian saja, cerita ini juga
menjadi alasan kenapa aku berpakaian kumal begini."
"Artinya!?
Itu karena pakaian Anda!?"
Kalau
dipikir-pikir, beliau sempat mengatakan hal serupa tadi. Tapi, apakah pakaian
itu benar-benar memiliki makna tertentu?
"Tepat
sekali. Sebab, Kaisar bukanlah nama bagi raja yang memerintah negeri ini. Gelar
Kaisar itu adalah nama bagi pengelola perangkat sihir—bukan, Magic Item yang
melindungi negeri ini dari bencana!"
"Pe-Pengelola
perangkat sihir!? Kaisar!?"
Kaisar-sama
adalah pengelola perangkat sihir!? Apa maksudnya itu!?
"Begitulah.
Segalanya bermula dari ribuan tahun yang lalu. Peradaban sihir kuno yang dulu
makmur di dunia ini hancur karena sebuah insiden. Yah, kami juga tidak terlalu
paham insiden itu sebenarnya apa. Ada yang bilang itu pertarungan melawan Majin
legendaris, ada yang bilang kegagalan eksperimen sihir skala besar, bahkan ada
yang bilang karena bencana alam besar."
"Haa."
Aku memang pernah
mendengar cerita itu. Kisah tentang bencana dahsyat di masa lampau yang
mengacaukan dunia adalah dongeng yang diketahui oleh setiap anak di Tenfeng.
"Nah, di
sinilah masalahnya. Tanah Tenfeng tempat kita tinggal ini juga terkena dampak
langsung dari bencana besar itu. Sebagian besar wilayah Tenfeng yang dulu jauh
lebih luas tenggelam ke dasar laut, dan kabarnya langit, bumi, serta laut
mengamuk seolah-olah dunia akan kiamat."
"Dunia akan
kiamat......"
Dongeng yang
kudengar dari inang pengasuh dan para pelayan tua bahasanya sedikit lebih
halus, namun Kaisar-sama menegaskan skala bencana itu dengan sangat jelas.
"Dalam
kondisi seperti itu, mustahil untuk melarikan diri ke benua luar menggunakan
kapal. Karena itulah, orang-orang dari peradaban sihir kuno yang selamat
menciptakan sebuah Magic Item raksasa untuk menghentikan bencana di tanah
Tenfeng. Berkat itulah bencana yang menyerang Tenfeng mereda, dan tanah Tenfeng
menjadi seperti yang kau ketahui sekarang."
"Oh!"
Luar biasa!
Ternyata ada sejarah seperti itu di masa lalu Tenfeng!
"Orang-orang
memuji pencipta Magic Item yang berhasil menghentikan bencana itu sebagai
pahlawan. Dan mereka meminta sang pahlawan untuk menjadi raja yang memimpin
mereka."
"Jadi itu
adalah awal mula dari garis keturunan Kaisar...... begitu?"
"Iya. Tapi
itulah yang membuat leluhurku pusing."
Namun kemudian
Kaisar-sama mengangkat bahunya sambil menghela napas panjang berkali-kali.
"Kenapa
pusing? Bukankah wajar jika pahlawan yang menyelamatkan negara menjadi
raja?"
Kisah pahlawan
yang mendirikan negara adalah hal yang lumrah didengar. Baik dalam cerita dari
luar negeri maupun mitos pendirian negara, kisahnya seringkali serupa.
"Yah, dalam
cerita memang sering begitu. Tapi leluhurku merasa itu tidak boleh terjadi. Memang benar tanah Tenfeng dan
rakyatnya terselamatkan berkat Magic Item raksasa itu. Tapi Magic Item hanyalah
sebuah alat. Harus ada manusia yang merawatnya. Mereka tidak bisa asyik bermain
raja-rajaan sambil membiarkan sebuah benda yang tidak tahu kapan akan malfungsi
atau rusak."
"Itu......"
Kalau
dipikir-pikir, itu benar. Bukan hanya senjata, alat yang digunakan sehari-hari
pun suatu saat pasti akan rusak.
Tidak ada jaminan
bahwa perangkat sihir tidak akan pernah rusak.
"Lagipula,
jika seandainya mereka dibunuh oleh orang-orang yang mengincar takhta, maka
saat Magic Item itu rusak suatu hari nanti, negeri ini akan musnah tanpa bisa
berbuat apa-apa. Hal itu harus dicegah bagaimanapun caranya."
Mumu, benar juga.
Meski cara untuk menyelamatkan negara ada di depan mata, jika inti
terpentingnya rusak, maka semuanya akan sia-sia.
"Karena
itulah leluhurku memutuskan. Mereka menyerahkan kekuasaan politik kepada orang
lain, dan menjadikan diri mereka sebagai simbol belaka."
"Apakah
karena itu negeri ini dipimpin oleh Shogun?"
"Iya. Kami,
garis keturunan Kaisar, mewarisi pengetahuan dan teknik Magic Item, dan tugas
kami hanyalah memperbaiki Magic Item yang mulai aus. Lalu kami memutuskan untuk
hanya memberitahukan fakta ini kepada orang-orang yang akan menjadi Shogun dari
generasi ke generasi. Inilah kebenaran dari penobatan Shogun."
Begitu rupanya.
Jika memang ada keadaan seperti itu, aku bisa memahami alasan Kaisar
menyerahkan pemerintahan kepada Shogun.
"Kenapa
hanya Shogun saja? Mengapa tidak memberitahukan hal ini kepada orang
lain?"
Umu, aku
penasaran soal itu setelah mendengar penjelasannya tadi.
Jika itu adalah
perangkat sihir yang bisa menentukan kelangsungan hidup negara, bukankah
seluruh rakyat Tenfeng perlu bersatu untuk melindunginya?
Namun, mendengar
itu Kaisar hanya tertawa kecut sambil menggaruk kepalanya.
"Yah,
begitulah."
"Jika
dikatakan dengan cara yang kasar, itu supaya keluarga Shogun bisa menjadi
tameng," tambah sang pendeta.
"Menjadi
tameng?"
"Benar. Jika
kebenaran tentang peran Kaisar diketahui, pasti akan muncul orang-orang yang
mengincar teknik Kaisar dan Magic Item raksasa tersebut. Dan ada risiko mereka
akan dipaksa tunduk dengan menggunakan kedamaian negeri ini sebagai jaminan."
"Uu,
itu memang masuk akal."
Ah, kalau
dipikir-pikir benar juga. Jika itu adalah perangkat sihir untuk melindungi
negara, maka wajar jika perangkat itu bisa disalahgunakan sebagai alat untuk
menguasai negara.
"Meski
begitu, perangkat sihir itu tidak bisa digunakan semudah itu. Orang jahat
mungkin berpikir tinggal mengeluarkan wilayah klan musuh dari perlindungan
Magic Item, tapi kenyataannya seluruh negeri dan laut di sekelilingnya berada
dalam satu cakupan radius Magic Item. Jika perangkat dihentikan untuk mengancam
orang lain, ada kemungkinan tempat tinggal si pengancam sendiri akan musnah
dalam semalam."
"Itu
namanya, memanen apa yang ditanam sendiri."
Jika
seseorang mengancam karena merasa sudah mendapatkan segalanya, namun malah
klannya sendiri yang musnah, itu bahkan tidak lucu untuk dijadikan bahan
tertawaan.
"Kenyataannya,
dulu kabarnya ada cukup banyak orang bodoh yang benar-benar mencoba
melakukannya. Akhirnya berakhir dengan kegagalan total, dan sejak saat itu para
penguasa wilayah lainnya ikut membantu menjaga rahasia ini karena mereka tidak
mau ikut menanggung akibatnya."
"Dan
jadilah seperti sekarang ini."
"Begitulah."
Begitu
rupanya. Perangkat sihir untuk melindungi negara tidak bisa digunakan demi
kepentingan pribadi semudah itu, tapi meski dijelaskan, mungkin ada orang yang
tidak akan percaya sampai mereka mencobanya sendiri.
Lagipula,
jika alat itu bisa digunakan semudah itu, pasti para Kaisar atau Shogun dari
generasi ke generasi sudah memanfaatkannya.
Fakta
bahwa mereka tidak melakukannya adalah bukti bahwa perkataan Kaisar benar.
"Tapi apa
hubungannya antara cerita tadi dengan pakaian ini?"
"Itu mudah
saja. Seperti yang kukatakan tadi, aku adalah penerus teknisi Magic Item yang
diwariskan turun-temurun. Jadi, sepanjang hari aku merawat Magic Item raksasa
demi menjaga kedamaian negeri ini. Singkatnya, ini adalah baju kerjaku."
"Baju
kerja!?"
Ah, kalau
dipikir-pikir, pakaian ini mirip dengan gaya asing tapi tidak memiliki hiasan
yang menjuntai, memang bisa terlihat seperti baju kerja.
"Padahal
saya ingin setidaknya saat audiensi beliau memakai pakaian yang layak,"
keluh sang pendeta agar Kaisar bertindak sepantasnya di acara resmi.
Sepertinya
Kaisar-sama adalah orang yang cukup cerob... maksudku orang yang berjiwa bebas.
"Jangan
bicara sembarangan. Apa orang akan percaya kalau aku bilang aku adalah teknisi
Magic Item sambil memakai baju yang menjuntai-juntai begitu?"
Yah, itu juga benar, sih......
"Tetapi dengan penampilan itu pun Anda tetap tidak
dipercayai sebagai Kaisar, bukan?"
Benar juga. Kenyataannya aku pun tadi tidak percaya.
"Ah—sudahlah. Hasilnya kan dia sekarang percaya!"
"Ya, meski dengan berat hati, biarlah saya yang menjadi
saksinya."
Tapi, siapa
sangka identitas asli Kaisar adalah seorang teknisi perangkat sihir. Cerita
yang sulit dipercaya, tapi aku tidak merasa mereka sengaja membawa calon Shogun
ke sini hanya untuk melakukan sandiwara. Segala hal yang dikatakan tadi pasti
adalah kebenaran.
"Sip. Karena
ceritanya sudah begitu, pemerintahan kuserahkan padamu! Dengan ini penobatan
Shogun selesai!"
"Eeeh!?
Semudah itu tidak apa-apa!?"
Kaisar-sama yang
tadi sempat berdebat dengan pendeta, kini menunjukku sebagai Shogun dengan nada
santai seolah-olah sedang menyampaikan pesan singkat.
"Tentu saja!
Karena aku, sang Kaisar, yang mengizinkannya, jadi tidak masalah!"
Se-Begitu
mudahnya...... lalu apa gunanya semua perjuanganku sampai bisa sampai ke sini?
"Tunggu
sebentar. Anda belum menyampaikan hal yang paling penting."
Tiba-tiba
sang pendeta menghentikan Kaisar-sama yang hendak keluar dari ruangan.
"Ah,
benar juga. Oi, Nak. Pinjamkan pedang di pinggangmu itu."
"Pedang?"
Meski
tidak terlalu paham, aku menyerahkan pedangku sesuai perintah. Kaisar kemudian
memegang sarung pedang tersebut, dan tanpa mencabut bilahnya, ia menatap bagian
gagangnya.
"Bagus,
bagus, ternyata diwariskan dengan benar."
"Diwariskan?
Ini hanyalah pedang biasa yang kuterima dari ayah sebagai hadiah perayaan
kedewasaan?"
"Ya,
bilahnya memang begitu. Tapi bagian ini berbeda."
Sambil
berkata demikian, Kaisar membongkar gagang pedang tersebut dan mengeluarkan tsuba
(pelindung tangan) dari bilahnya.
"Ini......
tsuba pedang?"
"Benar,
benda inilah yang penting. Inilah kunci untuk mengaktifkan Magic Item raksasa
yang melindungi negara."
"Tsuba
adalah kunci perangkat sihir!?"
Apa!? Apa
maksudnya ini!?
"Begitulah.
Kunci untuk mengaktifkan Magic Item raksasa dibuat dalam bentuk tsuba
dari dua pedang, pedang panjang dan pedang pendek, yang masing-masing dipegang
oleh Kaisar dan Shogun secara turun-temurun. Kunci milik Kaisar sudah terpasang
di dalam mesin agar Magic Item raksasa bisa aktif terus-menerus. Kuncimu itu
adalah cadangan seandainya terjadi sesuatu pada kunci utama."
"Ternyata tsuba
ini memiliki makna seperti itu......"
Ti-Tidak disangka
pedang yang kuterima dari Ayahanda memiliki rahasia semacam itu...... uuumu,
benar-benar sebuah keberuntungan aku membawa pedang ini saat melarikan diri
dari kastil......
"Bawa itu,
kita akan pergi ke tempat Magic Item raksasa berada. Di sana, kita akan
mendaftarkanmu sebagai pemilik kunci tersebut, maka penobatan Shogun-mu akan
selesai......"
"Begitu
rupanya, jadi di sini toh kunci cadangannya berada."
Tepat pada saat
itu. Sesaat setelah Kaisar hendak berdiri, tiba-tiba dinding kediaman itu
hancur meledak.
"Guaaa!"
"Saburo!?"
Sambil menahan
terpaan angin ledakan, aku mengalihkan pandangan ke arah asal teriakan, dan
melihat sang pendeta terluka karena melindungi Kaisar. Terlebih lagi, ada bahan
bangunan yang patah menusuk punggungnya dengan menyedihkan.
"Bukan hanya
berhasil menyusup ke desa, aku bahkan bisa mengetahui keberadaan kunci
cadangan. Benar-benar keberuntungan yang bagus."
Dari balik
kepulan debu, terdengar suara pria asing dibarengi suara sesuatu yang diseret.
"Siapa
kau!"
"Oh, maafkan
ketidaksopananku. Namaku Zalcul, seorang Majin bernama Zalcul."
Sosok yang muncul itu memiliki kulit cokelat kehitaman,
rambut perak, dan sayap kelelawar yang tumbuh dari punggungnya—seorang makhluk
iblis. Ia adalah rekan dari Majin mengerikan yang pernah menyerangku
sebelumnya.
"Seorang
Majin!?"
Tidak kusangka
mereka akan muncul sampai ke tempat seperti ini!
"Mustahil!?
Majin!? Padahal desa ini dipasangi penghalang yang mencegah siapapun yang
berniat jahat untuk masuk!?"
Namun Kaisar
berseru kaget lebih keras dariku. Lagipula, ternyata desa ini dipasangi
penghalang? Namun sang Majin membantahnya sambil tertawa, menyatakan bahwa
penghalang itu tidak ada artinya.
"Kukukuku,
penghalang semacam itu tidak ada gunanya bagiku. Nah, serahkan kunci itu.
Kecuali kau ingin berakhir seperti pria ini."
"Uuuh."
Saat sang Majin
mengangkat satu tangannya dari balik kepulan debu, terlihatlah sosok Haruomi
yang terluka parah.
"Haruomi!?"
"Tu-Tuan
Muda...... mohon larilah......"
Haruomi
memberi tahu agar aku melarikan diri dengan suara yang lemah.
"Keparat,
apa yang kau lakukan pada Haruomi!?"
"Bukan
apa-apa, dia tadi cuma diam mematung seperti anjing di depan kediaman. Jadi aku
cuma bermain-main sebentar dengannya."
Aku gemetar
karena marah mendengar sang Majin menjawab seolah-olah itu bukan hal penting.
"Bajingan
kau!"
"Ayo,
serahkan benda itu. Jika tidak, pria ini akan......"
Sambil berkata
demikian, sang Majin menarik lengan Haruomi dengan kasar hingga lengan bajunya
robek dan teriakan kesakitan terdengar.
"Guaaaaa!"
"Haruomi!"
"Kenapa?
Jika tidak cepat, lengan pria ini akan tercabut, lho?"
"Gaaaa!"
Sang
Majin memamerkan sosok Haruomi yang menderita sambil menyeringai senang.
"Tu-Tunggu!"
"Ja-Jangan.
Jika Anda menyerahkannya, tanah Tenfeng akan......"
"Diam, kau
kakek tua!"
""Uwah!?
Baik Kaisar maupun pendeta terempas saat sang Majin mengayunkan
lengannya.""
Gawat, jika
begini terus bukan hanya Haruomi, tapi nyawa Kaisar dan pendeta juga dalam
bahaya!
"Ba-Baiklah.
Kunci itu akan kuberikan. Karena itu, kembalikan Haruomi!"
Saat aku
melemparkan tsuba pedang itu ke arah sang Majin, ia melepaskan Haruomi
dan menangkap tsuba tersebut.
"Khahahaha,
sekarang kunci ini sudah ada di tanganku! Nih, kuberikan kembali orang ini
padamu!"
"Gua!?"
Sang
Majin tertawa riang sambil menendang Haruomi dengan kasar ke arahku.
"Haruomi!"
Aku
mendekap Haruomi yang terluka dan memastikan keadaannya. Syukurlah, meski
terluka, pendarahannya sedikit dan sepertinya tidak ada luka yang terlalu
dalam.
"Mo-Mohon
maafkan saya. Gara-gara saya, kuncinya......"
Meskipun begitu,
Haruomi tetap meminta maaf padaku dengan ekspresi penuh penyesalan.
"Tidak
apa-apa! Itu tidak sebanding dengan nyawamu!"
Benar.
Bagiku, Haruomi yang merupakan pengabdi berharga jauh lebih penting daripada
kunci perangkat sihir yang tidak terlalu kupahami itu.
"Tuan
Muda!? Benar-benar sebuah......"
Mendengar
itu, wajah Haruomi berkerut penuh penyesalan......
"Benar-benar
pria yang bodoh!"
Tiba-tiba,
tanpa kuduga ia mendorongku, lalu menindihku ke tanah dan mendudukiku.
"Apa!?
Guh!?"
"Hahahaha,
meninggalkan negara dan rakyat demi keuntungan sesaat, ternyata kau memang
tidak punya bakat untuk menjadi Shogun!"
Haruomi
mencaciku dengan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Apa yang
sebenarnya terjadi!?
"Ha-Haruomi...... kembalilah sadar."
"....."
Pada saat itu, gerakan Haruomi terhenti.
Apa kata-kataku
tadi benar-benar sampai kepadanya!?
"Aku bukan
Haruomi."
"Apa?"
"Namaku
bukan Haruomi! Nama asliku adalah Shun-ou!"
"Shun...
ou?"
Aku kebingungan
mendengar nama yang belum pernah kudengar itu. Nama asli Haruomi?
"Benar. Nama
seorang raja yang menyandang karakter 'Musim Semi' pembawa kabar. Nama sejati
yang telah dirampas oleh ayahmu!"
Dirampas!? Oleh
Ayahanda!?
"Dirampas,
katamu? Jangan-jangan kau adalah anak dari Nona Yume!"
Mendengar
perkataan Haruomi, Kaisar bertanya dengan nada terguncang.
"Hou, jadi
Anda tahu ya. Memang
pantas disebut Yang Mulia Kaisar."
"Nona Yume?
Siapa itu?"
Itu nama yang
asing. Apakah dia istri dari salah satu penguasa wilayah?
"Cih, jadi
kau bahkan tidak tahu nama istri sah Shogun, ya."
Istri sah
Ayahanda? Tidak, itu salah. Istri sah Ayahanda adalah...
"Istri sah
Ayahanda adalah Ibundaku! Apa yang kau bicarakan, Haruomi!?"
Benar. Istri sah
Ayahanda adalah Ibundaku, Nona Koyoi. Jelas bukan wanita bernama Nona Yume itu.
"Ternyata
kau benar-benar tidak diberitahu apa-apa. Muak aku mendengarnya! Setelah
merampas segalanya dariku!"
Namun Haruomi
bersikeras bahwa aku tidak tahu apa-apa. Apa benar Ayahanda punya istri sah
selain Ibunda? Itukah alasan Kaisar begitu terkejut?
"Apa
maksudnya ini!? Apa yang tidak kuberitahu padaku!?"
"Hmph,
sebenarnya aku ingin memberitahumu segalanya lalu membunuhmu dalam
keputusasaan, tapi bocah-bocah itu bisa kembali kapan saja. Matilah tanpa tahu
apa-apa!"
Haruomi mencabut
pedangnya dan menusukkan bilahnya ke arahku.
"Apa—!?"
Namun, bukannya
rasa sakit, yang terdengar justru suara kaget Haruomi. Pedang Haruomi terpental
oleh sebuah dinding cahaya.
"Ini
sebenarnya apa!?"
"Apa-apaan
ini!?"
"Cahaya
melindungi bocah Yoren itu? Apa itu sebenarnya?"
Kaisar pun
berseru kaget karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Lalu, sebenarnya siapa
yang melindungiku!?
"Hmph, apa
yang kau mainkan. Dasar manusia rendah!"
Di atas tangan
sang Majin, cahaya merah kehitaman yang jahat berkumpul dan ditembakkan ke
arahku.
"Cih!"
Haruomi buru-buru
melompat mundur agar tidak terkena dampaknya. Gawat, aku juga harus lari! Tapi
serangan Majin itu datang sebelum aku sempat berdiri.
"Uwahhh!?"
Suara ledakan
menggelegar, tubuhku pasti akan hancur berkeping-keping... hancur... eh?
"A-Apa
katanya!?"
Saat membuka
mata, aku melihat wajah terkejut sang Majin dan Haruomi. Dan di depanku berdiri dinding
cahaya yang tadi. Ternyata dinding ini benar-benar melindungiku?
"Eeei!
Dasar cerdik! Kalau ini bagaimana!"
Sang
Majin menciptakan sejumlah besar cahaya merah kehitaman dan menembakkan
semuanya ke arahku.
"Ini
adalah rentetan serangan yang bahkan Naga pun tidak akan sanggup menahannya!
Lenyaplah!"
Gawat!
Kalau ini benar-benar berbahaya!? Tapi di dalam ruangan tidak ada celah untuk
menghindar!? Aku harus lari keluar...
"Akh!?
Jangan!"
Aku yang
hendak lari teringat bahwa Kaisar dan yang lainnya ada di dekat sini. Jika
hanya aku yang lari, Kaisar dan yang lainnya akan terbunuh sebagai gantinya!
"Kh!"
Aku
memantapkan hati dan tetap di tempat. Tolonglah, dinding cahaya! Lindungi aku
dan Yang Mulia Kaisar! Dan
seketika itu juga, seluruh pandanganku tertelan oleh ledakan merah kehitaman.
"Uwooooohhh!?"
Kumohon!
Bertahanlah!
"Khahahahahahaha!
Menghilanglah tanpa sisa menjadi debu!"
Tawa keras sang
Majin dan suara ledakan menguasai dunia. Getaran dahsyat mengguncang bumi,
benturan yang begitu kuat seolah akan menghancurkan dunia terus berkecamuk.
"Huh, aku
sampai terbawa suasana dan melakukannya sedikit berlebihan."
"Benar
sekali. Hampir saja aku ikut terkena dampaknya."
"Fuhahaha,
jangan berkata begitu. Nah, mari kita lihat musuh benci—mu yang sudah menjadi
gumpalan daging......-kah."
Debu mulai
menipis, dan tatapan kami saling bersilangan.
"......Eeto,
aku masih hidup."
Umu, aku masih
hidup. Kaisar dan yang lainnya juga hidup. Meski wajah mereka tampak seperti
akan pingsan.
""KENAPA
KAU MASIH HIDUUUUPPPP!?""
Melihatku masih
hidup, sang Majin dan Haruomi berteriak serempak. Ah, ya, meski aku berdoa agar
bisa bertahan, aku sendiri juga kaget bisa benar-benar selamat. Sebenarnya apa
dinding cahaya ini?
"Kh!
Benar-benar orang yang ulet dan memuakkan!"
Haruomi melotot
ke arahku sambil melontarkan kata-kata penuh kebencian.
"Haruomi..."
Kenapa. Kenapa
kau begitu membenciku...
"Guh!"
Tepat saat itu,
suara rintihan pendeta yang melindungi Kaisar bergema di ruangan.
"Gawat! Harus segera dibawa ke
tabib!"
Benar.
Jika dibiarkan, sang pendeta akan mati!
"Hm?
Begitu rupanya. Oi, serang dua orang itu. Jika kau menyerang dua orang itu
secara langsung, dinding cahaya aneh itu tidak akan muncul."
"Hou?"
Mendengar
kata-kata Haruomi, sang Majin menyeringai senang.
"Apa yang
kau katakan, Haruomi!? Beliau adalah Yang Mulia Kaisar!"
Mencoba membunuh
Kaisar yang melindungi negeri ini adalah kejahatan yang tak termaafkan!
"Lalu
kenapa! Aku tidak peduli pada Kaisar yang membiarkanku mati! Justru dengan
membunuh mereka, aku bisa melihat wajahmu yang menderita, aku akan melakukannya
dengan senang hati!"
"Teganya
kau!"
"Jika kau
ingin melindungi mereka, lindungi saja sendiri! Tapi sampai kapan dinding aneh
itu bisa bertahan?"
"Kh!"
Memang benar aku
tidak tahu kenapa dinding cahaya ini melindungiku. Mungkin saja dinding ini
akan segera kehilangan kekuatan dan menghilang. Tapi...
"Tapi, aku
tidak bisa membiarkan mereka!"
Aku memasang
kuda-kuda pedang dan maju ke arah musuh untuk mengalihkan perhatian dari
Kaisar.
"Selagi
sempat, bawalah pendeta itu lari, Yang Mulia Kaisar! Aku tidak bisa membiarkan
Anda yang mampu memperbaiki perangkat sihir mati di sini!"
Aku adalah calon
Shogun pelindung negeri ini! Meski harus mati, aku akan melindungi Kaisar!
"Haaaaaaa!"
"Opsi
seranganmu adalah aku!"
Saat aku
mencoba menyerang sang Majin, Haruomi berdiri menghalangiku.
"Haruomi!"
Cih!
Karena pedang ini dibongkar untuk melepas tsuba, kekuatannya tidak bisa
tersalurkan dengan benar hanya dengan bilahnya saja!
"Ayo,
habisi mereka!"
"Kukuku,
saling membenci antar sesama klan, manusia memang benar-benar makhluk
bodoh."
Cahaya
yang diangkat sang Majin ditembakkan ke arah Kaisar. Namun, Kaisar yang sedang
mendekap pendeta yang terluka parah tidak akan mungkin bisa menghindar.
"Yang
Mulia!"
Aku
melangkah maju untuk melindungi Kaisar, tapi Haruomi menghalangiku.
"Hahaha!
Sudah kukatakan tidak akan kubiarkan!"
"Haruomiii!"
Sial! Tidak akan
sempat!
"Tidak
apa-apa!"
Tepat saat itu,
suara seorang gadis muda menggema di ruangan yang telah menjadi medan perang.
Di saat yang sama, sesuatu menabrak cahaya merah kehitaman milik sang Majin dan
meledakkannya.
"Uwoh!?"
"Rock
Wall!"
Lebih jauh lagi,
tanah di depan Kaisar dan yang lainnya melonjak naik, melindungi mereka dari
ledakan cahaya merah kehitaman tadi.
"Ooh!?
I-Ini!?"
"Apa yang
terjadi!?"
Sang Majin pun
tampak bingung karena tidak memahami situasinya.
"Aku tidak
tahu kenapa ada Majin di sini, tapi karena kami sudah datang, jangan harap kau
bisa berbuat semaumu."
Seolah
mengabaikan kami yang sedang bingung, seorang gadis muda muncul bersamaan
dengan suara yang tadi terdengar.
"Siapa
kau!?"
Sang Majin
berseru waspada dan mencoba menembakkan cahaya merah kehitaman tadi ke arah
sang gadis. Namun, bayangan lain muncul dari belakang sang Majin.
"Bukan cuma Liliera
saja."
"Guoh!? Kh,
bala bantuan!?"
Yang menebas sang
Majin dari belakang adalah seorang gadis muda lainnya.
"Si-Siapa
kalian sebenarnya...!?"
"Norb,
tolong obati paman-paman di sana."
"Baik.
Tenang saja. Aku akan segera mengobati mereka."
Saat
menoleh ke arah suara ketiga, seorang pemuda asing sedang merapal sihir
penyembuhan pada sang pendeta. Sihir penyembuhan pemuda itu sangat hebat, luka
parah sang pendeta menutup dalam sekejap mata.
"O-Oh!? Rasa
sakitnya!?"
"Saburo!
Syukurlah..."
Merasa lega
melihat pemandangan itu, aku kembali menatap ke arah para gadis yang berhadapan
dengan sang Majin.
"Penampilan
itu, kalian juga orang asing ya!"
Mendengar
kata-kata Haruomi, aku tersentak. Benar. Penampilan itu, pakaian itu, mereka pasti orang dari luar negeri.
"Jangan-jangan
kalian adalah rekan Mina!?"
"Ara, kau
kenal Mina?"
Gadis itu menoleh
ke arahku saat mendengar nama Mina. Namun itu adalah kesalahan. Sang Majin dan
Haruomi menyerang gadis yang sedang memalingkan wajahnya itu.
"HAAAA!!"
"Gawat!"
Bagaimana ini!
Bisa-bisanya dia kehilangan konsentrasi di tengah pertempuran! Aku bergegas
mencoba mengejar Haruomi, tapi dari sini tidak akan mungkin sempat!
"Ups, tidak
akan kubiarkan."
Namun, gadis yang
satunya lagi menghalangi serangan itu, dan dengan memanfaatkan celah yang
tercipta, mereka berhasil menghindar sepenuhnya.
"Cih!"
"Di sana
sepertinya orang negeri ini, tapi apakah kau juga rekan sang Majin?"
Gadis yang
diserang tidak tampak panik sedikit pun, malah menatap Haruomi yang menyerang
bersama sang Majin dengan tatapan heran.
"Kh."
"Sudahlah. Barang incaran sudah didapat. Kita
mundur."
"...Dimengerti."
Mendengar ajakan mundur dari sang Majin, Haruomi pun ikut
mundur.
"Tunggu, Haruomi!"
Aku mencoba menghentikan Haruomi. Aku belum mendengar niat sejatinya yang
sebenarnya!
"...Namaku
adalah Shun-ou! Aku bukan abdimu!"
Tubuhku membeku
mendengar kata-kata penolakan dari Haruomi. Di saat yang sama, sebuah bola
hitam besar tercipta di belakang sang Majin.
"Itu...
jangan-jangan Transfer Gate!?"
Salah satu gadis
yang membantu kami berseru panik untuk pertama kalinya. Sang Majin masuk ke
dalamnya, diikuti oleh Haruomi. Namun sebelum tubuhnya tenggelam sepenuhnya,
Haruomi membuka mulutnya.
"Yukinojo,
kami akan menghancurkan negeri ini. Menghancurkan segala hal di negeri ini yang
telah merampas segalanya dariku!"
"Kenapa,
Haruomi!"
"Jika ingin
menghentikannya, datanglah ke bawah perangkat sihir!"
"Haruomi!"
"Selamat
tinggal, Yukinojo!"
"Tungg—"
Begitu tubuh
Haruomi tenggelam sepenuhnya dalam bola hitam, bola itu mengecil dalam sekejap
dan menghilang. Tidak ada lagi jejak sang Majin maupun Haruomi.
"Achaa,
mereka kabur."
"Baguslah
kita tidak masuk. Kita tidak tahu akan dikirim ke mana jika masuk ke Gate milik
Majin."
Orang-orang yang
membantu kami membicarakan sesuatu, tapi kata-kata itu tidak masuk ke
telingaku. Karena bagiku, hilangnya Haruomi adalah hal yang jauh lebih berat.
"Kenapa.
Kenapa Haruomi, HARUOMIIIIII!!"
Dengan kemarahan
di dada yang tidak terjawab oleh siapa pun, aku hanya bisa menghantamkan
tinjuku ke tanah...
Post: (Ini Haruomi Cewek apa cowok sih?)



Post a Comment