NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 15

Chapter 194

Mereka yang Menunggu


Ronin yang Menunggu di Pos Pemeriksaan

"Hehe, jumlahnya luar biasa juga, ya."

Aku berada di satu-satunya pos pemeriksaan untuk memasuki wilayah klan yang terletak di kaki Gunung Amatsukami.

Di sekeliling pos tersebut, sudah berkumpul banyak sekali ronin selain diriku.

Tujuannya adalah menghabisi seorang bocah yang akan datang ke sini.

Ini memang pekerjaan kotor seperti pembunuhan berencana, tapi mungkin karena itulah imbalannya sangat menggiurkan. Namun, itu bukan satu-satunya alasanku menerima pekerjaan ini.

"Cuma membunuh satu bocah saja bisa langsung jadi pejabat resmi, pekerjaan yang sangat mudah," gumam seorang ronin di dekatku.

Ya, itulah alasan sebenarnya aku menerima permintaan ini. Katanya, jika berhasil menyelesaikan tugas ini, kami akan diangkat menjadi pejabat di departemen yang berada di bawah kendali langsung Keshogunan.

Buktinya, si pemberi tugas menunjukkan lambang yang tidak mungkin bisa digunakan kecuali oleh mereka yang melayani keluarga Shogun.

Menggunakan lambang itu tanpa izin akan membuat kepala melayang tanpa perlu diadili, jadi sudah pasti pemberi tugas ini bergerak atas perintah orang penting di Keshogunan.

"Kapan bocah yang jadi target itu sampai, ya?"

Persiapan untuk membunuh bocah target sudah matang.

Sesuai instruksi pemberi tugas, pembunuh bayaran lainnya menyamar sebagai pengembara dan pedagang yang sedang mengantre di pos pemeriksaan agar si bocah tidak bisa melarikan diri ke dalam wilayah klan.

Selain itu, kami berpura-pura menunggu antrean kosong sambil berakting makan atau beristirahat di sekitar sana, tersebar di berbagai titik.

Rencananya, saat bocah itu datang, kami akan berpura-pura ikut mengantre untuk mengepungnya, lalu membunuhnya sambil menutupi pandangan para petugas pos.

Dengan kata lain, mustahil bagi bocah itu untuk bisa masuk ke dalam wilayah klan, bagaimanapun dia berusaha.

Kami terus menunggu dengan tidak sabar kedatangan bocah yang menjadi target itu.

Saat itulah...

"Oi, o-oi, apa itu?"

Salah satu ronin yang sedang menyamar mendongak ke langit dan berseru.

"Apa?"




Terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya, aku ikut menengadah ke langit dan mendapati sesuatu yang janggal. Sesuatu yang berbentuk panjang, kecokelatan, dan terasa sangat asing berada di angkasa.

"Burung... bukan. Apa itu monster?"

"Mana ada monster yang tidak punya sayap."

Benar kata orang itu, makhluk apa pun yang terbang di langit seharusnya punya sayap.

Perlahan tapi pasti, benda itu semakin mendekat dan menampakkan wujud aslinya secara utuh.

"Apa... itu? Kapal?"

Ya, benda itu benar-benar sebuah kapal.

"""Tu-Tunggu, apa-apaan ituuuuuuuu!?"""

"Ka-Kapal terbang?"

"Kenapa ada kapal terbang di langit...? Bukannya kapal itu seharusnya mengapung di atas air!?"

"Mana aku tahu!"

Kapal itu sudah berada di jarak yang sangat dekat, hingga mustahil bagi kami untuk salah lihat lagi. Benar, itu benar-benar sebuah kapal.

"A-Apa itu!?"

"Ka-Kapal katanya!?"

Bukan hanya kami, para petugas pos pemeriksaan pun dibuat ternganga melihat kapal terbang tersebut. Kemudian, kapal itu melintasi bagian atas pos pemeriksaan dan terus terbang menuju Gunung Amatsukami.

"......Tadi itu apa sebenarnya?"

"Mana aku tahu."

Meski sempat bingung dengan pemandangan yang tidak masuk akal itu, kami berusaha menenangkan diri dan teringat akan tugas utama menunggu si bocah target. Kami pun kembali waspada ke arah sekeliling.

Namun, pada akhirnya, sampai kapan pun bocah yang menjadi target itu tidak pernah menampakkan batang hidungnya.


Ronin yang Menyusup ke Dalam Wilayah Klan

"Ada informasi masuk ke magic item yang kutitipkan. Katanya target sedang menuju ke sini menaiki kapal terbang."

Kontak dari pengawas sampai kepada kami yang sudah menyusup ke dalam wilayah klan dan bersiaga di dekat desa para pendeta.

"Kapal terbang? Apa-apaan itu?"

Salah satu dari kami mengernyit bingung mendengar laporan tersebut. Yah, aku bisa mengerti perasaannya.

"Aku juga tidak paham, tapi katanya itu sejenis magic item."

"Kapal magic item!? Ada-ada saja benda luar biasa seperti itu."

Orang itu berseru kaget, walau tidak terlihat terlalu serius. Lagipula, tugas kami tetap tidak berubah.

"Hei, bagaimana cara menyerang musuh yang ada di magic item terbang? Aku tidak pandai menggunakan panah."

"Jangan khawatir. Bukankah kita sudah meminjam magic item yang bisa melontarkan sihir dari majikan kita?"

Benar, kami telah dipinjami berbagai macam magic item oleh si pemberi tugas. Semuanya demi memastikan bocah target itu terbunuh.

"Oh, benar juga. Hahaha, majikan kita benar-benar dermawan sampai mau meminjamkan barang-barang ini."

"Hehe, kita ini berbeda dari para kroco yang menunggu di pos pemeriksaan."

"Ya, kita dipercaya karena kemampuan kita untuk menghadang mereka di sekitar desa ini."

Itu memang fakta. Kami adalah pembunuh bayaran ahli yang direkrut langsung oleh si pemberi tugas.

Semuanya adalah mantan pengabdi yang memiliki kemampuan mumpuni, baik yang pernah tergabung dalam pasukan Keshogunan maupun pelayan tuan tanah yang menguasai wilayah besar.

"Meski itu kapal terbang sekalipun, kalau aku menembakkan sihir api dengan tongkat sihir ini, benda itu akan langsung hangus dalam sekejap."

"Sayang sekali aku tidak bisa menebas bocah Yoren itu secara langsung."

Salah satu pembunuh menggumamkan nama sang target. Ya, aku... tidak, semua pembunuh yang ada di sini tahu bahwa identitas asli target kami adalah Yoren Yukinojo, penerus Shogun yang sah.

Meski tahu, kami tetap menerima tugas pembunuhan ini.

"Benar sekali! Padahal aku ingin sekali membantai bocah Yoren itu dengan tanganku sendiri!"

Kami semua dulunya melayani keluarga Shogun. Ada yang berasal dari klan pejabat penting, ada pula yang merupakan anggota keluarga atau pengabdi tuan tanah.

Jika ditanya mengapa orang-orang seperti kami berakhir menjadi pembunuh bayaran di tempat seperti ini, jawabannya sederhana.

Karena keluarga Shogun-lah kami kehilangan pekerjaan.

Ada yang jabatannya dicopot karena melakukan kesalahan besar, ada pula pengabdi tuan tanah yang wilayahnya disita karena berani menentang Shogun.

Alasannya beragam. Namun satu yang pasti, kami semua membenci keluarga Shogun.

Itulah alasan kami menerima pekerjaan untuk menghabisi Yoren Yukinojo, calon Shogun berikutnya.

Semuanya demi menggulingkan keluarga Shogun yang sekarang, agar sang pemberi tugas bisa menduduki takhta Shogun yang baru.

Dan jika hal itu tercapai, kami dijanjikan jalan untuk kembali menjadi pejabat resmi.

Klan tuan tanah yang wilayahnya dirampas dijanjikan wilayah mereka kembali, dan mereka yang diusir dari jabatan dijanjikan posisi mereka lagi.

Bahkan kami dijanjikan akan diberikan jabatan para pengabdi dan tuan tanah yang saat ini setia kepada keluarga Shogun.

Menghancurkan keluarga Shogun yang dibenci, lalu membiarkan keluarga Shogun baru menguasai Imperium Tenfeng ini.

Ah, rasanya seperti mimpi. Tidak sia-sia aku bertahan hidup di tempat kumuh seperti kotoran sampai hari ini!

"Oh, sepertinya mereka datang."

Salah satu pembunuh menunjuk ke langit. Di sana, gumpalan cokelat yang tampak tidak serasi dengan langit biru mulai terlihat.

"Wuaa, benar-benar terbang. Bagaimana cara kerjanya, ya!?"

"Mana peduli! Ayo, mati sana!"

"Mampuslah kau, keluarga Shogun!"

Tanpa sabar, mereka yang tidak bisa menahan diri mulai menembakkan api dari magic item ke arah kapal tersebut.

Sihir api menghantam bagian bawah kapal, membuatnya memerah.

"Hahahaha! Terbakarlah, terbakarlah!"

Ternyata menjatuhkan keluarga Shogun semudah ini! Rasanya sungguh menyenangkan!

"Hahahaha... hmm?"

Tiba-tiba aku merasakan kejanggalan. Aneh. Seharusnya kapal itu terbakar hebat setelah terkena telak tembakan dari tongkat sihir.

Tapi kenapa tidak jatuh? Kenapa tidak terbakar lebih besar?

Kenapa dia tetap terbang sambil mempertahankan ketinggiannya?

"Apa yang terjadi? Kenapa tidak hancur?"

"Kalau begitu tinggal hajar sekali lagi!"

Serangan magic item pun berlanjut, dan yang lainnya mulai ikut menyerang.

"Benar. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa bertahan, tapi kalau kita konsentrasikan serangan sebanyak ini, dia pasti akan hancur!"

Serangan dari magic item dalam jumlah besar dilepaskan ke arah kapal terbang itu.

"Hehe, kali ini kau benar-benar tamat!"

Namun, yang tamat justru adalah kami. Kapal yang tadinya hanya menerima serangan tanpa perlawanan itu tiba-tiba mulai memancarkan cahaya.

"A-Apa? Apa yang akan dia lakukan!?"

Detik berikutnya, cahaya yang menyilaukan meledak, dan ribuan kilatan cahaya menghujani permukaan tanah.

"Uwaaaaaaaaaaa!?"

"Gyaaaaaaaa!"

Mereka yang terkena telak cahaya itu terpental tanpa bisa berbuat apa-apa.

"Dia-Dia membalas menyerang!?"

"Guwaaaaaaa! Sakit! Sakit sekali!"

Mereka yang seharusnya berhasil menghindar pun jatuh tersungkur dan berguling-guling kesakitan di tanah.

"Mustahil!? Kita kan dilindungi oleh magic item pelindung yang dipinjamkan oleh majikan kita!?"

Namun, rekan-rekan yang terkena serangan terus merintih kesakitan seolah-olah mereka tidak memakai pelindung apa pun.

"Ja-Jangan gentar! Balas menyerang! Mereka sudah menerima serangan kita mentah-mentah. Tidak mungkin serangan kita tidak mempan!"

Benar, tidak mungkin mereka tidak terluka setelah menerima serangan sebanyak itu!

"Mati kau, oiiii!"

"Mampuslah, brengsek!"

Mereka yang masih selamat menahan rasa takut dengan amarah dan makian sambil mulai menyerang kembali.

Namun kapal terbang itu sama sekali tidak memedulikan serangan kami dan terus melancarkan serangan dari langit.

Serangan itu turun bagaikan hujan dari surga, mengempaskan orang-orang di sekitarnya satu demi satu.

"Ti-Tidak mungkin! Sama sekali tidak mempan!"

"A-Apa yang terjadi!?"

Permukaan tanah kini sudah berubah menjadi gambaran neraka. Semuanya terluka, tidak ada satu pun yang tidak tersentuh. Aku pun terkena cahaya yang jatuh dari langit, dan rasa sakit yang luar biasa menyerangku.

Apa yang sebenarnya terjadi!? Kenapa baju pelindung ini sama sekali tidak berguna!? Jangan-jangan kami diberikan barang rongsokan!?

"Sial, bukankah ini seharusnya tugas mudah cuma membunuh seorang bocah!? Aku tidak pernah dengar akan jadi seperti ini!"

"La-Lari! Lariiiii!"

Mereka yang hanya mengalami luka ringan bergegas melarikan diri, tapi itu sudah terlambat. Sejak awal, lawan berada di langit sedangkan kami berlari di darat, tentu saja ini bukan pertarungan yang seimbang.

"Hiii!? Dia mengejar kitaaaa!?"

Mereka yang melarikan diri langsung terkejar dan terpental oleh serangan cahaya.

"""Gyaaaaaaaaaaaaaaaa!!"""

"Ba-Bagaimana caranya mengalahkan hal seperti itu..."

Begitulah, kami yang seharusnya berada di posisi yang sangat menguntungkan, habis disapu bersih dalam sekejap mata.

Brukk.


Seorang Pendeta Tertentu

"Nah, kapan kiranya Tuan Muda Yoren akan sampai?"

Ada laporan dari utusan Nona Omitsu bahwa Tuan Muda Yoren akan datang untuk melaksanakan ritual penobatan Shogun. Namun, sepertinya Tuan Yamazakurakoji merencanakan pemberontakan dan sedang melakukan penghadangan.

"Hmm, Tuan Yamazakurakoji, ya... padahal kupikir orang itu tidak tertarik dengan posisi Shogun? Tidak, manusia bisa berubah. Jika terlalu lama terbuai dunia fana, garis keturunan pendeta pun bisa tercemar oleh keduniawian."

Tapi itu bukan urusan kami para pendeta. Siapa pun yang menjadi Shogun, kami hanya perlu menjalankan tugas kami.

Dan siapa pun yang menjadi Shogun akan menyadari kebenaran desa ini, sehingga mereka tidak punya pilihan selain menerima keberadaan kami.

Di saat yang sama, mereka akan mengerti alasan kami tidak ingin muncul ke permukaan, jadi mereka akan memutuskan bahwa membiarkan kami adalah pilihan terbaik.

Ya, sama seperti para perebut kekuasaan yang mengambil takhta Shogun sebelum-sebelumnya. Karena itu, bagi kami tidak masalah siapa pun yang duduk di kursi Shogun.

"A-Apa itu!?"

Tiba-tiba, seseorang berteriak dengan suara keras, sesuatu yang jarang terjadi. Di desa yang tertutup ini, jarang sekali ada orang selain anak-anak yang berteriak lantang.

Apa yang terjadi? Saat aku menoleh ke arah pandangan warga desa yang ketakutan, di sana...

""""Ka-Kapal terbang di langit!?""""

Ya, sebuah kapal raksasa sedang melayang di angkasa.

Tunggu, benda apa itu sebenarnya!?

Terlebih lagi, kapal itu tidak hanya melayang, tapi mulai menyerang ke arah daratan.

"Uwaa!? Dia menyerang!?"

Untungnya, serangan itu jatuh di daratan yang agak jauh dari desa, tapi kapal itu terus mendekat ke arah sini.

Kalau begini terus, serangan itu akan mencapai desa!

"Di-Dia mendekat ke sini!?"

"La-Lariiiiiiiiiiiii!!"

Warga desa lari kocar-kacir sambil berteriak ketakutan.

"Te-Tenanglah semuanya! Jangan panik! Jangan panik!"

Namun warga desa yang sudah terlanjur panik tidak mendengarkan. Semuanya berlarian ke segala arah tanpa tujuan.

"A-Apa yang akan terjadi dengan desa ini!?"

Wahai para dewa Puncak Langit! Tolonglah, selamatkan desa ini!!



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close