NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 2 Chapter 9

Chapter 29

Ibu Kota Kerajaan dan Petualang Peringkat S


"Ibu kota kerajaan sudah terlihat,"

Saat Ketua berseru, para petualang yang ikut dalam pengawalan serentak melihat ke arah yang sama.

"Itu ibu kota kerajaan? Kok cuma kelihatan temboknya saja, ya?"

"Bodoh kamu, itu tembok benteng yang melindungi ibu kota kerajaan."

"Oh, begitu ya."

Terlihat jelas para petualang yang baru pertama kali ke ibu kota kerajaan merasa sangat bersemangat.

"Liliera, apa kamu pernah ke ibu kota kerajaan?"

"Enggak, aku biasanya beraktivitas di sekitar Kota Hexy, jadi ini pertama kalinya aku ke sana. Kalau Leks?"

"Aku juga baru pertama kali."

Ya, ini adalah ibu kota kerajaan pertama dalam hidupku yang sekarang. Makanya, aku juga cukup bersemangat. Aku penasaran, perkembangan seperti apa yang telah dicapai ibu kota kerajaan di era ini.

"Wah, ini dia ibu kota kerajaan!"

"Hebat! Banyak sekali orang dan tokonya juga berjejal!"

Begitu kami tiba dan masuk ke ibu kota kerajaan, para petualang yang menemani kami langsung berseru.

"Aku memang sudah dengar rumornya, tapi melihatnya secara langsung benar-benar mengagumkan."

Liliera juga tampak terkesima oleh banyaknya orang di ibu kota kerajaan.

"Gimana, Nak? Ibu kota kerajaan hebat, kan?"

Ketua menyapaku dari atas kursi kusir.

"Eh, i-iya, benar."

"Hm? Tapi kenapa kamu sepertinya tidak terlalu terkejut?"

"Bukan, bukan, aku cuma terlalu terkejut sampai tidak bisa bersuara."

"Gahahaha, tentu saja!"

Ketua tertawa dengan riang, tapi sejujurnya, aku tidak terlalu terkejut.

Itu karena ibu kota kerajaan negara ini tidak sebesar yang kubayangkan.

Ibu kota kerajaan dari negara-negara besar dalam ingatanku di kehidupan yang lalu dan sebelumnya jauh lebih besar, bahkan benar-benar dipenuhi oleh manusia.

Dibandingkan dengan ibu kota kerajaan dalam ingatanku di masa lalu, yang ini ukurannya "ya, segini saja".

Yah, aku tidak berniat merusak kekaguman semua orang, jadi aku diam saja.

"Baiklah, karena kita sudah masuk ibu kota kerajaan, tugas pengawalan ini selesai. Nih, Surat Penyelesaian Misi."

Ketua menyerahkan selembar kertas kepada kami.

"Surat Penyelesaian Misi?"

"Itu kertas yang membuktikan bahwa misi telah selesai. Untuk pekerjaan yang melibatkan klien, kamu menyerahkan kertas ini untuk menyelesaikan misi dan mendapatkan hadiahnya."

Liliera, yang sudah pulih dari rasa kagumnya terhadap ibu kota kerajaan, menjelaskan tentang Surat Penyelesaian Misi.

"Oh, jadi benda seperti ini bisa didapatkan?"

"Seharusnya semua orang mendapatkannya setelah menyelesaikan misi, kan?"

"E-eto, pada dasarnya aku mendapatkan hadiah dari menaklukkan monster atau misi langsung dari Guild, jadi aku belum pernah mengambil pekerjaan yang mengharuskan bertemu klien."

"Itu juga termasuk hal yang jarang, ya."

Dalam artian itu, pekerjaan yang mengharuskan bertemu klien memang baru kali ini, yaitu misi pengawalan ini.

"Kami sangat berutang budi padamu. Bukan hanya nyawa kami diselamatkan, tapi masalah yang kami timbulkan pun kamu bantu selesaikan."

Ketua membungkuk dalam-dalam.

"Hei, kamu juga, cepat tundukkan kepalamu!"

Ketua menangkap Boz yang berada di dekatnya dan memaksanya membungkuk.

"M-maafkan aku!"

"Tidak, tidak, jangan khawatir. Aku tidak melakukan hal yang terlalu hebat, kok."

"Mungkin bagimu itu bukan apa-apa, tapi bagi kami, itu semua adalah masalah besar yang bisa membuat kami kehilangan segalanya. Karena itu, kami benar-benar berterima kasih. Ini bukan barang yang istimewa, tapi terimalah sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan anak bodoh ini."

Sambil berkata begitu, Ketua menyerahkan sebuah kotak kayu kecil kepadaku.

"Ini apa?"

"Ini adalah magic item, barang andalan kami. Coba buka."

"Ayah, i-itu!? Serius!?"

Melihat kotak yang diserahkan oleh Ketua, Boz berseru kaget.

Rupanya itu adalah barang yang sangat berharga.

"Ini..."

Isi di dalam kotak kayu itu adalah sebuah liontin kecil.

Namun, liontin itu bukan sekadar perhiasan biasa. Sebab, cahaya misterius memancar dari permata merah yang tertanam di tengahnya.

"Jimat Pelindung. Ini adalah benda sihir yang akan melindungi nyawa pemiliknya sekali saja. Konon, di masa lalu, para putri dan istri bangsawan menggunakan ini untuk melindungi diri mereka sendiri."

"Hei, Ayah! Ini kan barang andalan kita!? Apa tidak apa-apa memberikannya!?"

"Bocah bodoh! Nyawa kita sudah diselamatkan! Bahkan urusan memalukanmu pun dia yang membereskannya. Ini masih kurang untuk membalas kebaikannya, dasar bodoh!"

"Aduh!"

Boz dipukul kepalanya lagi oleh Ketua.

"Oleh karena itu, terimalah tanpa sungkan."

"...Kalau begitu."

Aku menerima liontin itu tanpa ragu.

"Kalau begitu, sampai di sini perpisahan kita. Kami akan pergi menyelesaikan kekacauan yang dibuat si bodoh ini."

Yang dimaksud Ketua pasti masalah magic weed.

Karena sudah pernah terlibat dalam pekerjaan dunia bawah, nyawa mereka akan terancam jika tidak menyelesaikannya. Maka dari itu, Ketua dan yang lain pergi untuk mengantarkan paket yang sudah mereka terima. Kami tidak bisa ikut campur lebih jauh lagi.

"Leks, apa mereka akan baik-baik saja?"

Liliera, yang mengkhawatirkan Boz dan yang lain, bertanya kepadaku.

"Mereka tidak perlu dikhawatirkan, kok. Terlepas dari isinya, pekerjaan yang diterima Boz itu hanyalah pengiriman. Orang-orang di sana tidak akan berbuat macam-macam pada kurir biasa yang tidak tahu-menahu soal isinya. Sebab, kalau mereka menyingkirkan siapa pun, nanti tidak akan ada lagi orang yang mau mengantar barang, kan?"

"Memangnya begitu?"

"Ya, memang begitu."

Yah, ini sih cerita yang kudengar dari orang-orang dunia bawah yang kukenal di kehidupan sebelumnya.

Pada dasarnya, mereka tidak akan menyentuh orang biasa selama orang itu tidak memusuhi mereka. Jika mereka macam-macam dengan orang biasa dan masalahnya jadi besar, ada kemungkinan besar Korps Polisi Militer atau Ksatria akan turun tangan. Lebih baik tidak usah cari masalah. Penjahat, tidak seperti bandit, tidak akan menyerang secara membabi buta, begitulah katanya.

"Kalau begitu, kurasa kita tidak perlu khawatir, ya."

Syukurlah kekhawatiran Liliera juga sudah terselesaikan.

"Oi, apa kalian akan pergi ke Guild Petualang sekarang?"

Para petualang yang ikut dalam pengawalan menyapa kami.

"Ya, untuk melaporkan penyelesaian misi, dan juga ada kiriman untuk urusan lain."

Aku harus menyerahkan surat dari Milisha tentang urusan lelang Ancient Plant.

"Begitu, kami akan mencari penginapan dan beristirahat hari ini. Besok baru kami lapor sambil mencari pekerjaan di ibu kota kerajaan."

"Kalau begitu, sampai jumpa."

"Ya."

Tepat saat kami hendak berpisah, Liliera berbicara kepada para petualang itu.

"Hei, apa kalian tidak apa-apa dengan akhir dari kejadian ini?"

"Akhir seperti apa yang kamu maksud?"

"Penyebab masalah serangan monster itu. Kalian juga ikut terseret, kan?"

Liliera berkata begitu sambil memanggil kami ke sudut jalan.

Kemudian, dia mulai membicarakan masalah ini dengan suara pelan.

"Untuk kejadian ini, kita memang sudah sampai di ibu kota kerajaan dengan selamat, tapi 'benda' itu kan pada akhirnya tetap terkirim. Apalagi kalian tidak dilibatkan sama sekali. Aku ingin tahu, apa pendapat kalian tentang masalah ini?"

Liliera menanyakan pendapat mereka tentang magic weed.

Meskipun begitu, aku penasaran apa yang ingin dia lakukan dengan mengungkit-ungkit masalah itu di sini.

"Kalau soal itu, kami pura-pura tidak melihat apa-apa."

"Pura-pura tidak melihat apa-apa?"

Kenapa begitu?

"Sejak awal, masalah itu di luar kemampuan kami. Apalagi kalau tidak ada 'Kakak' di sana, kami pasti sudah mati di serangan pertama."

"Benar. Makanya, kami tidak menyadari apa-apa tentang masalah itu. Kami bilang kami fokus pada pengawalan, jadi kami tidak peduli apa yang terjadi."

O, oh... Mereka orang baik. Mungkin Liliera khawatir orang-orang ini akan menceritakan masalah magic weed itu kepada orang lain. Tapi ternyata kekhawatiran itu sama sekali tidak beralasan.

"Lagipula, berkat kalian, kami bisa mengalahkan monster lebih banyak dari biasanya dan mendapatkan banyak material. Kami justru berterima kasih, tidak ada niat sedikit pun untuk mengadu domba atau berbicara yang tidak-tidak."

Sambil berkata begitu, para petualang itu mengatakan bahwa mereka akan menganggap kejadian ini tidak pernah ada.

"Apalagi, kalau kami gegabah membuat keributan dan menjadikan kalian musuh, justru nyawa kami yang hilang. Kami akan menjaga nyawa yang sudah diselamatkan ini baik-baik."

"Hahahahaha, benar juga!"

Setelah mendengar ucapan para petualang yang tertawa itu, Liliera tampak puas dan mengakhiri pembicaraan hanya dengan mengatakan, "Aku mengerti."

"Kalau begitu, sampai jumpa!"

"Ya, kalian semua juga jaga diri baik-baik."

"Ini dia Guild Petualang di ibu kota kerajaan. Besar sekali, ya."

"Benar, lebih besar dari Guild di Kota Hexy."

Setelah berpisah dengan para petualang yang ikut melakukan perjalanan, kami terus berjalan sambil menyusuri ibu kota kerajaan, dan akhirnya menemukan Guild Petualang.

Guild Petualang di ibu kota kerajaan sangat besar, kami terkejut melihat bangunannya yang hampir dua kali lipat ukuran Guild di Kota Hexy.

Begitu besar, aku jadi penasaran berapa banyak petualang yang ada di dalamnya.

"Kalau begitu, mari kita masuk."

"Ya."

Dengan dada yang berdebar karena bersemangat, kami memasuki Guild Petualang.

"Wah..."

"Ini..."

Begitu masuk ke Guild Petualang, hal pertama yang mengejutkan kami adalah banyaknya orang.

Aku sudah menduga akan banyak sejak melihat bangunannya, tapi ini melebihi perkiraan.

"Aku tidak menyangka bagian dalamnya juga luas."

Benar, seperti yang dikatakan Liliera, Guild Petualang di ibu kota kerajaan juga luas ke dalam. Aku pikir ukurannya hanya sekitar dua kali lipat Guild di Kota Hexy, tapi jika dihitung dengan kedalamannya, mungkin sekitar empat kali lipat?

"Y-ya, bagaimanapun juga, mari kita laporkan penyelesaian misi di loket."

"B-benar."

Kami menuju loket, masih dalam kondisi terkejut dan bersemangat.

"Loketnya juga banyak, ya."

"Banyak sekali."

Bangunannya luas, dan jumlah loketnya juga banyak. Mungkin sekitar dua kali lipat dari Kota Hexy. Dan jumlah petualang yang mengantre juga sangat banyak.

"Selamat datang di Guild Petualang."

Kami mengantre, dan setelah giliran kami tiba, kami menyerahkan Surat Penyelesaian Misi.

"...Baik, sudah dikonfirmasi. Ini adalah hadiahnya."

Setelah menerima hadiah yang diberikan oleh petugas loket, aku tidak lupa menyerahkan surat yang dititipkan oleh Milisha.

"Lalu, ini, titipan dari Guild Petualang Kota Hexy."

"Saya terima."

Petugas loket menerima surat itu, lalu membalik amplopnya dan memeriksa sesuatu.

"Tidak ada nama penerima? Saya akan melihat isinya."

Setelah berkata begitu, dia membuka segel dengan pisau kertas, lalu mulai membaca surat di dalamnya.

"...Baiklah, isi surat sudah saya konfirmasi. Kalau urusan ini sudah selesai, kami akan menghubungi Leks."

"Terima kasih."

"Sesuai isi surat, apakah Leks akan tinggal di ibu kota kerajaan untuk sementara? Atau, apakah kamu akan mengambil misi menginap di sekitar ibu kota kerajaan? Jika lelang selesai saat kamu tidak berada di ibu kota kerajaan, penyerahan hadiah akan dilakukan setelah kamu kembali."

Benar juga, aku tidak akan bisa menerima laporan jika meninggalkan kota untuk berpetualang.

"Aku mengerti. Saat ini aku belum memutuskan apa-apa, jadi aku akan melihat papan misi nanti dan memikirkannya."

"Begitu, ya. Untungnya, di ibu kota kerajaan, misi untuk Peringkat-A lebih banyak daripada kota lain, jadi Leks bisa memperluas jenis pekerjaan yang kamu ambil."

"Sebanyak itu?"

Ketika aku bertanya, petugas loket itu tersenyum dan mengangguk.

"Ya, karena ibu kota kerajaan memiliki banyak penduduk, jumlah orang yang mengajukan misi juga banyak. Banyaknya orang berarti jenis misinya juga beragam, mulai dari Peringkat-F sampai Peringkat-S."

"Peringkat-S!?"

Peringkat-S, itu adalah peringkat tertinggi di antara para petualang. Ada juga misi untuk petualang seperti itu di ibu kota kerajaan.

"Jangan-jangan, ada petualang Peringkat-S di ibu kota kerajaan!?"

Petugas loket itu juga tersenyum simpul.

"Kalian berdua beruntung. Kebetulan sekali, saat ini ada salah satu dari sedikit petualang Peringkat-S yang sedang menginap di ibu kota kerajaan."

"Ooooh!"

"Biasanya mereka berkelana dari satu negara ke negara lain, jadi tidak diketahui keberadaannya, tapi sepertinya kali ini mereka datang ke negara kita karena urusan pekerjaan."

Wah! Petualang Peringkat-S datang untuk bekerja!

"Hari ini mereka sedang berada di luar ibu kota kerajaan untuk bekerja, tapi kurasa mereka akan kembali dalam beberapa hari."

Wah, rasanya mendebarkan sekali mengetahui ada petualang Peringkat-S!

"Aku jadi bersemangat, Liliera!"

"Eh? Begitu?"

Namun, entah kenapa Liliera terlihat tidak tertarik pada petualang Peringkat-S.

"Loh? Liliera tidak bersemangat dengan petualang Peringkat-S?"

"Aku biasa saja. Toh, keberadaan petualang Peringkat-S juga tidak ada hubungannya dengan kita."

Itu pendapat yang cerdas, ya.

"Sudah, jangan banyak mengobrol lagi, nanti mengganggu orang-orang yang mengantre di belakang. Ayo pergi."

"Ah, ya."

Kami beranjak dari loket setelah didesak oleh Liliera.

"Lagi pula, di sini kan sudah ada yang setara Peringkat-S, jadi tidak perlu terlalu terkejut."

"Eh? Kamu bilang sesuatu?"

Di tengah Guild yang ramai dengan banyak orang, Liliera tersenyum lebar sambil bergumam pelan. Namun, suaranya sangat kecil, aku tidak bisa mendengarnya.

"Bukan apa-apa."

Eh!? Kalau dirahasiakan begitu, aku jadi penasaran, lho.

"Nah, misi kita cari besok saja, sekarang mari kita cari penginapan."

Liliera menyarankan begitu.

"Loh? Kita tidak mengecek papan misi? Padahal kita sudah jauh-jauh datang ke Guild ibu kota kerajaan."

"Lagipula, di jam-jam seperti ini tidak ada misi bagus. Mencari penginapan lebih penting. Oh, dan aku peringatkan, jangan pilih penginapan yang terlalu murah karena berbahaya. Kita akan menginap di tempat yang lumayan bagus."

"Kamu tidak menghabiskan uang untuk peralatan, tapi kenapa untuk penginapan malah mau menghabiskan uang?"

Itu perkataan yang agak mengejutkan.

"Penginapan yang terlalu murah itu rentan diserang pencuri atau perampok. Jadi, meskipun sedikit mahal, kita akan menginap di tempat yang setidaknya menjamin keamanan."

Benar, kita memang tidak berdaya saat sedang tidur.

Ngomong-ngomong soal tidak berdaya...

"Oh, iya, Liliera. Aku akan memberimu ini."

Sambil berkata begitu, aku menyerahkan Jimat Pelindung yang kuambil dari kotak kayu kepada Liliera.

"Eh? Ini yang tadi..."

"Ya. Aku tidak menggunakannya, jadi aku memberikannya kepada Liliera."

"M-memberikannya? Leks, bukankah ini magic item?"

Yah, memang begitu, sih.

"Untukku yang laki-laki, ini agak... aneh. Jadi aku memberikannya pada Liliera."

Aku mencoba memberikannya, tapi Liliera menolak keras.

"T-tidak boleh! Ini magic item, kan!? Kamu pikir harganya berapa, sih!?"

"Memangnya harganya berapa?"

"E-eto, aku tidak tahu harga pastinya, tapi ini magic item meskipun sekali pakai, jadi harganya pasti ratusan koin emas!"

"Ratusan koin emas!?"

Benda ini!?

"Tidak, tidak, tidak mungkin harganya sampai segitu."

Soalnya cuma ini, lho?

"Apa yang kamu katakan? Itu harga magic item. Bahkan yang sekali pakai pun minimal harganya pasti di level seratus koin emas, kan?"

Itu konyol, ini kan alat pelindung diri untuk anak-anak?

Ini adalah magic item pengasuh yang dibuat agar anak yang pergi entah ke mana saat orang tuanya lengah tidak terluka. Kenapa aku tahu? Ya, karena akulah yang membuatnya.

Meskipun yang membuatnya adalah aku di kehidupan yang sebelum sebelumnya, sih. Atasan di kehidupan yang sebelum sebelumnya memintaku membuatkannya karena anaknya sering pergi ke mana-mana.

Namun, sungguh mengejutkan benda ini berputar-putar hingga kembali padaku di kehidupan ini. Padahal ini bisa dibuat hanya dengan satu koin perak, bukan ratusan koin emas. Bahkan aku bisa membuatnya lagi sekarang.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula, aku ingin Liliera yang menggunakannya. Lihat, ini sangat cocok untuk Liliera."

Sambil berkata begitu, aku mengambil kesempatan dan mengalungkan liontin itu ke leher Liliera.

"C-cocok, katamu!?"

"Sangat cocok. Yang paling penting, jika benda seperti ini bisa melindungi Liliera, ratusan koin emas pun tidak sebanding harganya."

"...Baiklah, aku mengerti. Aku akan menerimanya dengan senang hati. Memang aku yang lebih membutuhkannya, karena aku tidak sekuat kamu."

Aku tidak bilang begitu, lho?

"Huh, kalau kamu dengan santai melakukan hal seperti ini, aku bisa-bisa tidak kuat dalam berbagai hal."

"Maksudmu?"

"Bukan apa-apa!"

Liliera, yang wajahnya memerah, tiba-tiba berlari.




"Ah, tunggu aku!"

"Aku tidak akan menunggu!"

Baik di kehidupan yang sebelum sebelumnya maupun yang lalu, sungguh, aku tidak pernah mengerti apa yang dipikirkan wanita.

"Haa, lelah sekali."

Setelah itu, kami berhasil menemukan penginapan yang layak sambil menghindari pertanyaan dari Leks.

"Meskipun begitu, aku tidak pernah menyangka bahwa hanya datang ke ibu kota kerajaan saja sudah bisa terseret ke dalam insiden seperti tadi."

Awalnya, aku hanya menerima pekerjaan pengawalan ini karena aku tidak suka rasa tidak aman saat terbang di udara, tapi ternyata terseret ke dalam insiden yang melibatkan barang berbahaya seperti magic weed.

"Yah, semuanya terselesaikan berkat Leks, sih."

Jika Leks tidak ada, kami memang tidak akan terseret dalam insiden itu, tapi sebagai gantinya, para pedagang itu pasti akan musnah.

"Dan aku juga tidak akan mendapatkan ini..."

Aku menyentuh jimat yang tergantung di leherku.

Sebuah magic item berharga yang diterima Leks sebagai hadiah dari para pedagang. Leks memberikannya kepadaku karena dia merasa tidak membutuhkannya.

"Wajar enggak, sih, orang memberikan barang yang harganya ratusan koin emas begitu saja karena tidak butuh?"

Ya, kalau dipikir-pikir, tidak wajar.

"Apalagi dengan desainnya ini..."

Ya, desain jimat ini juga menjadi masalah. Karena tidak seperti jimat penangkal nasib buruk biasa, liontin ini begitu indah sampai sekilas hanya terlihat seperti perhiasan.

"Ini seperti hadiah, ya."

Pipiku memanas setelah mengatakannya dengan jelas.

"Ugh, bukankah ini seperti aku mengatakan kalau aku 'memikirkannya'!?"

Tidak, bukan! Aku ada di sini murni untuk membalas budi Leks!

"...Tapi mau bagaimana lagi? Ini pertama kalinya aku menerima hadiah dari seorang laki-laki."

Ya, aku menjadi petualang untuk menyelamatkan kampung halaman, dan aku telah mati-matian menyelesaikan misi. Oleh karena itu, aku hanya berinteraksi dengan orang dewasa.

Anak-anak seusiaku pergi ke kota lain mencari tempat yang lebih menguntungkan atau misi yang bisa memberi ketenaran agar bisa sukses sebagai petualang.

Makanya, menerima hadiah dari lawan jenis adalah pengalaman pertamaku.

"Yah, aku memang pernah ditraktir makan oleh para paman senior yang membentuk party sementara denganku untuk merayakan kenaikan peringkat, tapi itu tidak dihitung, kan?"

Ya, itu pasti tidak dihitung karena setelah itu berubah menjadi pesta yang melibatkan petualang lain. Aku bertekad untuk tidak menganggap itu sebagai hadiah dari seorang laki-laki.

"Ah, bukan itu..."

Aku tidak boleh membiarkan pikiranku melayang ke mana-mana.

"Bagaimanapun, benda ini terlalu berat bagiku."

Bagi Leks, dia memberikannya murni karena kebaikan hati, dan dia pasti berpikir ini adalah barang yang bisa melindungiku. Aku tahu itu, tapi...

"Entah kenapa, aku merasa kesal jika harus bergantung pada ini."

Ya, aku adalah rekan Leks, dan aku tidak boleh menjadi seseorang yang harus dilindungi.

"Lagi pula, aku merasa jika aku berharap dilindungi oleh ini, aku tidak akan pernah bisa menjadi petualang sejati."

Kalau begitu, aku tidak punya hak untuk berdiri di samping Leks.

"Aku putuskan! Aku akan menyimpannya sampai aku menjadi petualang sejati!"

Lagipula, jika aku memamerkannya secara terang-terangan, itu bisa dicuri oleh perampok.

"Jadi, aku akan menyimpannya dengan baik sampai saat itu tiba, Leks."

"Fwaah, tidur nyenyak."

Ah, ranjang setelah terus-terusan tidur di luar selama perjalanan panjang memang nyaman.

Meskipun petualanganku kebanyakan di Hutan Monster, bukan berarti aku tidak pernah punya kesempatan pergi ke kota lain karena permintaan dari petualang yang kukenal.

Tapi, aku tidak pernah mengambil misi yang mengharuskanku meninggalkan Kota Hexy begitu lama, jadi aku tidak menyangka akan selelah ini.

"Nah, kalau begitu, mari kita mulai petualangan di ibu kota kerajaan!"

Dipikir-pikir, ini mungkin akan menjadi petualangan pertamaku sebagai petualang sejati.

"Ya, kalau dipikir-pikir begitu, rasa terima kasihku pada Leks tidak terhingga."

Aku berganti pakaian, merapikan rambut, bersiap dengan peralatan, dan keluar dari kamar.

"Ah, selamat pagi, Liliera."

Saat keluar kamar, aku kebetulan bertemu dengan Leks.

"Selamat pagi, Leks. Apa kamu juga mau sarapan?"

"Ya, Liliera mau ikut makan bersama?"

"Ya, aku mau saja."

Memang tidak perlu makan di meja terpisah saat jam sarapan sedang ramai seperti ini. Kami duduk di meja yang kebetulan kosong, lalu memesan makanan kepada pelayan.

"...Eh?"

Saat itu, Leks melihatku dan memiringkan kepalanya.

"Ada apa, Leks?"

"Ah, tidak... aku cuma berpikir kamu tidak memakai jimat yang kamu dapatkan dari Ketua pedagang kemarin."

"Eh!?"

Sial, dia sudah menyadarinya!? Leks ternyata diam-diam mengamati orang lain. Tapi, apa yang harus kulakukan!? Memikirkannya lagi, rasanya tidak sopan tidak memakai barang mahal yang sudah diberikan kepadaku. Alasan yang bagus... Benar!

"Oh, itu. Ya, meskipun itu adalah hadiah yang berharga, aku rasa jika aku memakainya terang-terangan di kota, aku akan lebih mudah menjadi sasaran pencuri. Jadi, aku memutuskan untuk memakainya saat pergi berpetualang saja."

Bagus! Bagus sekali, aku! Dengan ini, aku tidak akan menyakiti perasaan Leks!

"Ah, begitu, ya. Aku tidak memikirkan sampai sejauh itu, ternyata."

Bagus, Leks pun mengerti. Tidak apa-apa, aku akan segera membuktikan kemampuan yang pantas untuk kalung ini!

"Ah, kalau begitu, mau aku tambahkan formula sihir agar benda itu kembali jika terpisah dalam jarak tertentu dari pemiliknya, jadi tidak akan dicuri?"

"Bukankah itu namanya item terkutuk!?"

Meskipun praktis, itu menyeramkan! Ya, tentu saja aku menolaknya dengan sopan.

"Nah, ini misi pertama kita di ibu kota kerajaan."

Keesokan paginya, kami kembali datang ke Guild Petualang di ibu kota kerajaan.

"Misi apa yang harus kita ambil, ya?"

"Ya, karena kita belum tahu wilayah dan keamanan ibu kota kerajaan, aku rasa sebaiknya kita tidak mengambil misi pengawalan di area perkotaan dulu. Jika iya, mungkin misi di luar ibu kota kerajaan yang lebih fleksibel?"

Liliera yang terlihat gelisah saat sarapan, kini sudah benar-benar fokus ketika saatnya bekerja. Ya, memang pantas jadi petualang senior!

"Kalau begitu, misi menaklukkan monster?"

"Atau, kenapa misi penaklukkan jadi banyak sekali?"

Benar, kami melihat sekeliling papan misi, dan sebagian besar papan misi itu dipenuhi oleh misi menaklukkan monster. Sisanya hanyalah misi pengawalan atau misi rutin lainnya.

"Jenis monsternya juga banyak. Dengan begini, meskipun kita tidak menentukan monster apa, kalau kita mengalahkan monster di dekat ibu kota kerajaan, pasti ada salah satu misi yang terselesaikan, kan?"

Misi menaklukkan monster memang sangat banyak, sampai Liliera bisa bercanda seperti itu.

"Mari kita ambil misi penaklukkan Peringkat-B saja. Tujuannya adalah untuk memahami geografi dan distribusi monster di sekitar ibu kota kerajaan."

Begitu, ya. Jadi kami mengumpulkan informasi sambil menyelesaikan misi. Itu adalah kebijaksanaan petualang.

"Kalau begitu, mari kita ambil misi ini."

Mengikuti saran Liliera, kami memutuskan untuk mengambil misi penaklukkan monster Peringkat-B.

"CYClONE BREAK!" (Badai Penghancur)

Tornado mini yang dikompresi hingga sangat kecil mengenai monster di udara dan menjatuhkannya ke tanah.

Monster yang terkena sihir itu sudah mati, dan aku menyimpannya di dalam tas sihir sebelum jatuh ke tanah. Aku terus menembak jatuh monster dengan cara ini berkali-kali.

"Hmm, entah kenapa monsternya banyak sekali, ya."

Aku bergumam sambil melihat monster yang telah kutaklukkan.

"Kamu juga merasakannya?"

"Ya. Di Hutan Monster juga banyak, tapi di sini lebih banyak lagi."

Kami sedang mencari monster target di padang rumput dekat ibu kota kerajaan. Namun, karena berbagai monster menyerang saat kami mencarinya, pencarian kami jadi terhambat.

"Menurutku tempat itu pengecualian, karena semua pohon di sekitarnya juga monster."

"Memang, meskipun ini terlihat seperti padang rumput, jumlah monsternya luar biasa banyak. Wyvern juga merepotkan sejak tadi."

"...Barusan aku mendengar pernyataan yang tidak bisa kuabaikan."

Liliera berbalik menatapku dengan mata sinis sambil membedah monster.

"Ya, Wyvern yang bersembunyi di balik batu tiba-tiba melompat dan menyerang, jadi aku menembak jatuh mereka sesekali. Aku rasa ada sarang Wyvern di sekitar sini."

"Suara keras 'DOGON DOGON' yang terdengar sejak tadi, itu sebabnya!?"

Liliera menatapku dengan ekspresi terkejut.

"Ah, maaf, apa suaranya mengganggu?"

Sial, apa itu mengganggu pertarungannya?

"Tidak, tidak apa-apa karena kamu sudah membantu. Tapi, Wyvern itu kan spesies naga, jadi bahkan party Peringkat-B juga kesulitan, lho. Berapa banyak yang kamu kalahkan?"

"Eto, Wyvern ada... sekitar 10 ekor, ya. Lalu ada satu yang besar. Aku langsung memasukkannya ke dalam tas sihir setelah mengalahkannya, jadi aku tidak tahu monster apa itu, tapi itu bukan monster yang hebat, kok."

"Hmm. Kurasa itu tidak benar, tapi sudahlah."

Liliera membakar bangkai monster yang sudah dibedah dan tidak terpakai dengan sihir tanpa mantra. Ini juga bagian dari latihan sihir tanpa mantra.

"Monster target sudah berhasil dikalahkan, jadi mari kita kembali ke ibu kota kerajaan."

"Benar."

Jika kami terlalu lambat, gerbang ibu kota kerajaan akan ditutup, dan kami tidak bisa masuk. Maka, kami sedikit bergegas kembali menuju ibu kota kerajaan.

Ketika kami kembali ke Guild Petualang, kami menyadari bahwa di dalam Guild terasa anehnya ramai.

"Apa terjadi sesuatu?"

Aku melihat sekeliling, dan melihat ada kerumunan di salah satu sudut loket.

"Ada apa, ya?"

Saat mendekati kerumunan, aku melihat bangkai monster berukuran besar diletakkan di lantai Guild.

"Ah, itu Wyvern."

Ya, yang diletakkan di lantai Guild adalah bangkai Wyvern. Bukan hanya satu. Mungkin ada sekitar 10 ekor.

"Hebat sekali. Memang Peringkat-S."

"Peringkat-S?"

Percakapan para petualang di dekatku terdengar, dan aku tanpa sengaja berseru.

"Petualang Peringkat-S yang menaklukkan Wyvern itu?"

"Hm? Ah, sepertinya begitu. Katanya party petualang Cyclone yang dipimpin oleh petualang Peringkat-S, Roddy, menaklukkan kawanan Wyvern itu."

Wow, party petualang Peringkat-S datang!

"Katanya sebagian besar anggotanya Peringkat-A, dan tidak akan bisa masuk party kalau bukan minimal Peringkat-B."

Wah, benar-benar terasa seperti party peringkat tinggi, ya.

"Oh, lihat, bukankah itu Roddy?"

Seorang petualang berambut pirang muncul dari bagian belakang Guild.

"Itu Petualang Peringkat-S..."

Petualang Peringkat-S, Roddy, mengenakan zirah yang sangat berhias dan berkilauan perak. Dekorasi sarung pedang dan jubah yang dia kenakan juga luar biasa.

Pasti sangat mahal. Petualang Peringkat-S juga memperhatikan penampilan, ya. Dan dari belakang Roddy, beberapa wanita cantik muncul. Semua orang mengenakan zirah atau jubah, jadi mereka pasti anggota party Roddy.

"Wah, memang Peringkat-S, ya. Kualitas wanita yang mengikutinya juga Peringkat-S."

"Hah, meskipun kamu jadi Peringkat-S, kamu tidak akan bisa punya wanita secantik itu."

"Diam!"

Wajar saja para petualang berkata begitu. Mereka semua memang sangat cantik.

"Hei, ayo cepat ke loket."

Saat aku terpukau melihat Roddy dan yang lain, Liliera menarik lenganku.

"Ah, maaf."

"Sungguh, kamu malah mesra-mesraan dengan wanita lain."

"Eh?"

"Bukan apa-apa! Cepat!"

Aku dibawa oleh Liliera yang entah kenapa terlihat marah, dan kami menuju loket.

"Maaf, kami ingin konfirmasi misi penaklukkan."

"Baik. Silakan letakkan materialnya di meja penilaian ini."

"OOOOHHH!!!"

Tiba-tiba terdengar sorakan dari samping.

"Ada apa?"

Kulihat Petualang Peringkat-S Roddy mengangkat tangan ke langit dan menyatakan sesuatu.




"Dengarkan, semua! Wyvern ini hanyalah makanan pembuka! Target kita adalah penguasa padang rumput, monster Peringkat-S yang tiba-tiba bersarang di sana, yaitu Kaiser Hawk!"

"OOOOHHH!!!"

Kaiser Hawk, seingatku, itu adalah monster elang super besar, puluhan kali lebih besar dari elang biasa. Tidak hanya besar, ia juga buas, memangsa monster besar seperti Wyvern, dan bahkan berkelahi dengan naga.

"Tapi aneh, seharusnya Kaiser Hawk tidak muncul di dekat pemukiman manusia."

Ah, jadi itu sebabnya Roddy datang untuk mengalahkan Kaiser Hawk. Memang bagi orang biasa, monster yang melawan naga itu berbahaya. Pasti bagi Roddy, kekuatan monster tidak penting. Dia bertarung demi kedamaian semua orang, monster apa pun lawannya. Sama seperti Pendekar Pedang Agung Ryguard, dia memikirkan orang-orang yang tidak bisa bertarung!

"Karena itu, kalian semua jangan khawatir! Dalam beberapa hari, Cyclone akan melindungi ibu kota kerajaan dari ancaman Kaiser Hawk!"

"Bagus, Roddy!"

"Kami menantimu, Peringkat-S!"

Semua orang sangat gembira dengan pernyataan Roddy.

"Permisi, bisakah Anda mengeluarkan materialnya?"

Aku ditegur oleh petugas loket dari belakang. Aduh, aduh, aku terlalu asyik mendengarkan pembicaraan.

"Ah, ya, maaf."

Aku mengeluarkan banyak material dari tas sihirku.

"Ah, benar. Karena aku juga mengalahkan monster di luar target misi, bisakah sekalian dibeli termasuk pembedahannya?"

"Dimengerti."

"Karena tidak muat di meja penilaian, aku akan meletakkannya di lantai, ya."

Aku meletakkan Wyvern yang baru saja kutaklukkan di lantai. Satu, dua, dan seterusnya, sampai semua monster berjejer.

"O-oi. Itu bukannya Wyvern?"

"Bukankah itu yang dikalahkan Peringkat-S?"

Entah kenapa, para petualang di sekitar mulai ribut dan melihat ke arahku.

"Oh, ada party lain yang bisa memburu Wyvern. Petualang di negara ini lumayan juga, ya."

Roddy, yang tadinya ada di sana, menghampiriku.

Tidak, tidak, siapa pun bisa memburu Wyvern!

"Kalian yang mengalahkannya?"

"Y-ya. Kami menembaknya saat ia melompat dari tebing."

Setelah aku menjelaskan situasi saat aku menembak jatuh Wyvern, Roddy mengangguk penuh kekaguman.

"Oh, biasanya mereka dibasmi sebelum melompat, ya. Tapi, kamu mengincar saat kecepatannya menurun, yaitu sesaat ketika ia selesai melompat dan hendak berganti arah. Itu cara mengalahkan yang cukup unik."

"A-terima kasih."

Sebenarnya aku hanya menembak jatuh secara acak, tapi... tunggu sebentar? Jadi begitu, orang ini melihat kondisi Wyvern yang kukalahkan dan memberitahuku bahwa ada cara mengalahkan seperti itu! Maksudnya, aku harus mencari cara bertarung yang lebih efisien dan cara bertarung yang sesuai dengan berbagai situasi! Memang Petualang Peringkat-S!

"Namun, jangan memaksakan diri. Jika terlalu percaya diri dengan kemampuan sendiri, petualang mana pun akan cepat mati."

"Aku mengerti, Roddy!"

"Hmph, anak yang jujur."

Memang Petualang Peringkat-S. Semangatnya tidak mengenal kata lengah!

"Umm..."

Tiba-tiba, petugas loket yang sedang menilai berbicara kepadaku.

"Ya, ada apa?"

"I-itu, bangkai monster yang ini..."

Petugas itu menunjuk bangkai monster yang terakhir kutaklukkan. Aku tidak ingat monster apa yang kukalahkan karena aku memasukkannya secara acak. Eto, yang ini...

"I-ini!?"

"O-oi, jangan-jangan itu..."

"Bohong, kan!?"

Roddy berseru kaget, dan para petualang di sekitarku mulai heboh.

"Ah, itu Kaiser Hawk. Ternyata terselip di antara Wyvern yang baru saja kutembak jatuh."

Pantas saja ada satu yang besar sekali. Mungkinkah, Wyvern ada di tebing karena bersembunyi darinya? Ah, detailnya tidak penting. Toh, itu cuma Wyvern dan Kaiser Hawk.

"Kalau begitu, ini juga mohon dibeli, ya."

""""TIDAK HANYA ITU SAJA REAKSIMU!?""""

Entah kenapa, aku mendapat kecaman serentak dari semua orang di sekitarku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close