Chapter 145
Tiba Tanah Korosi
◆ Liliera ◆
Kami sedang
menuju Tanah Korosi untuk mengumpulkan bahan pembuatan Golem pesanan Putri Idra.
Karena kami semua
bisa menggunakan sihir terbang, kami memutuskan untuk pergi lewat jalur udara
bersama-sama, alih-alih menggunakan kereta kuda yang lambat dan memakan biaya.
Ngomong-ngomong,
aku yang terbang paling depan untuk mengatur ritme kecepatan kelompok.
Kalau Rex-san
yang memimpin, pasti bakal terlalu cepat, sementara kalau Jairo, dia pasti
bakal terlalu bersemangat dan kehabisan mana di tengah jalan—sudah terbaca.
Karena Mina juga
lebih mahir menggunakan sihir dibanding kami, akhirnya diputuskan kalau aku,
sang pejuang, yang akan mengatur pembagian tempo perjalanan.
Selain itu, aku
juga yang sudah mempelajari rute menuju lokasi tujuan.
"Tanah
Korosi berjarak sekitar dua minggu perjalanan dengan kereta kuda ke arah
selatan dari ibu kota. Kalau pakai sihir terbang, mungkin cuma
separuhnya."
"Hee, Kak Liliera
tahu banyak, ya," ucap Jairo dengan nada kagum, tapi sebagai senior, aku
harus memberinya sedikit wejangan.
"Informasi
semacam ini bisa didapat dengan mudah kalau kamu mengajukan permohonan
penggunaan ruang arsip di bagian resepsionis Guild Petualang, tahu?"
Benar, seorang
petualang yang menjadikan tubuhnya sendiri sebagai senjata tidak boleh
melupakan pengumpulan informasi.
Dalam sebuah
parti, biasanya ada anggota yang khusus bertugas mengumpulkan informasi, tapi
hari ini informan di partinya sedang tidak ada di sini.
Terlebih lagi, parti kami dan parti Jairo
adalah dua kelompok yang berbeda.
Sudah sewajarnya
bagi petualang untuk mengumpulkan informasi secara mandiri demi berjaga-jaga
jika terjadi sesuatu.
Kurangnya
pemikiran sampai ke sana menunjukkan bahwa dia masih kurang pengalaman.
"I-iya
sih... habisnya aku tidak terlalu suka membaca buku."
"Karena
Meguri sudah keluar dari parti, sudah jadi tugasmu sebagai pemimpin untuk
mengumpulkan informasi. Kamu bukannya tidak bisa baca tulis, kan?"
"T-tentu
saja! Aku bisa membaca huruf dengan benar, kok!"
"Kami sudah
mengajarinya soal itu. Soalnya kalau dia jadi pemimpin, kami bakal repot kalau
dia tidak bisa baca tulis setidaknya pada tingkat minimal," tambah Mina.
Ucapan Mina
benar. Di dunia petualang yang penuh dengan orang kasar atau buangan, orang
yang tidak bisa baca tulis itu sangat umum.
Dan
memang ada saja klien yang menipu petualang yang buta huruf. Mulai dari membuat
surat kontrak yang tidak adil dengan berbagai alasan, sampai informasi target
yang berbeda antara ucapan lisan dan lembar permintaan.
Tentu
saja klien yang melakukan hal itu berulang kali akan masuk daftar hitam Guild
dan tidak bisa lagi mengajukan permintaan.
"Kamu
tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di tempat yang baru pertama kali
didatangi. Mulai sekarang, selidiki sendiri dengan benar. Ini nasihat dari
seniormu sesama petualang."
"A-aku
pa—"
"Aku
mengerti, Liliera-san!"
Entah
kenapa, malah Rex-san yang menjawab dengan penuh semangat.
"...Rex-san
sih... kurasa tidak perlu terlalu diperingatkan."
"Eh? Kenapa?
Aku kan angkatan yang sama dengan Jairo, jadi aku ini junior Liliera-san,
lho?"
Yah, secara
teknis memang benar sih... tapi kalau Rex-san, masalah tak terduga apa pun
rasanya bakal dia selesaikan dengan kekuatan murni...
◆
"Oh!?
Sesuatu mulai kelihatan! Apa itu yang namanya Tanah Korosi?"
Pagi hari kelima.
Kami yang melakukan perjalanan sambil menginap di kota atau desa yang dilewati,
menyadari adanya hamparan tanah berwarna ungu yang terlihat di balik cakrawala.
"Ternyata
lebih cepat dari perkiraan. Memang pakai sihir terbang jadi cepat karena kita
bisa mengabaikan rintangan jalan."
"Tapi ini
terlalu cepat. Baru hari kelima, lho?"
Sampai dua hari
lebih awal dari jadwal memang agak mengganjal bagiku.
"Mungkin
kita saja yang terbangnya terlalu cepat? Kan kita lewat jalur udara?"
sahut Jairo.
"Hmm, tapi
aku memilih rute di mana kita selalu bisa memantau jalan utama agar tidak salah
tujuan. Jadi ini bukan jalur terpendek juga. Lagipula, sampai dalam seminggu
saja sudah termasuk cepat, kalau lima hari itu benar-benar terlalu..."
"Tapi
buktinya kita sudah sampai, kan? Ya sudah, tidak apa-apa, kan?"
"Hmm..."
Menurut informasi
dari Guild, seharusnya letaknya masih agak jauh di depan...
"Tapi warna
ungu yang beracun itu bukan tanah biasa. Kalau begitu, itu pasti Tanah Korosi
yang dimaksud, kan?" ucap Mina.
Mina
benar, tempat itu memang tidak terlihat seperti tempat normal...
"Kalau
begitu ayo cepat ke sana! Lalu kita kumpulkan bahan Golem-nya cepat-cepat! Dengan begitu Meguri tidak perlu
lagi jadi pemeran pengganti!"
"!?"
Ah, benar
juga. Bagi anak ini, hal itulah yang paling penting.
"Baiklah.
Kalau sudah sampai lebih cepat ya mau bagaimana lagi."
"Heheh, nah
begitu! Ayo jalan!"
"Tunggu
sebentar!"
"Uwaaa!?"
Tepat saat Jairo
hendak melesat menuju Tanah Korosi, Rex-san menghentikannya.
"Ada apa
tiba-tiba, Kakak!?"
"Maaf,
Jairo. Tapi sebelum masuk ke Tanah Korosi, aku ingin kalian semua memakai ini
dulu."
"""Perlengkapan?"""
Rex-san
menyodorkan tiga buah kalung.
"Rex-san,
ini apa?"
Karena ini barang
yang disiapkan Rex-san, aku tidak yakin kalau ini cuma kalung biasa...
"Ini adalah Kalung Penawar Racun. Dengan memakai ini,
semua racun lemah akan menjadi tidak berpengaruh."
"""Kalung Penawar Racun!?"""
Eh!? Apa itu!? Penawar racun!?
"Ini sama dengan yang kuberikan kepada Ryune-san di
Dragonia."
Ah—kalau dipikir-pikir, sepertinya dia pernah memberikan
benda semacam itu... Waktu itu aku cuma terpikir soal membatalkan penobatan
Putri Naga, sih...
"Yah, karena ini bukan perlengkapan yang sekuat itu,
anggap saja ini setingkat Antidote Low yang tidak perlu diminum."
"""Itu
bukan lagi level 'setingkat' tahu!"""
Bahkan
ramuan Antidote Low saja sudah cukup hebat, tapi mengeluarkan Magic Item dengan
efek yang sama dengan santainya itu benar-benar tidak masuk akal! Lagipula,
kalau ada kalung ini, bukankah ramuan penawar racunnya sendiri jadi tidak
perlu!?
"Kapan kamu
membuat barang seperti ini..."
"Aku
menyiapkannya malam itu juga saat kita memutuskan pergi ke Tanah Korosi."
""Kamu
membuat Magic Item seperti menyiapkan bekal makan siang!? Boy!""
...Yah,
aku tahu Rex-san itu luar biasa, tapi cakupan kemampuannya benar-benar terlalu
luas... Malah, apa sih yang tidak bisa dilakukan orang ini!?
"Bagaimana
cara membuat Magic Item penawar racun... Bagaimana caramu memasukkan formula
sihir ke dalam kalung sekecil ini!?"
Aduh, Mina jadi
tampak depresi.
"Ooo!
Bisa membuat benda begini, memang hebat Kakak! Memang Kakak luar biasa!"
Jairo
yang bukan penyihir tampak senang dengan polosnya, tapi Jairo, benda yang kamu
ayun-ayunkan dengan riang itu mungkin nilainya setara 3000 koin emas, lho?
Tidak, mungkin malah lebih...
"Oi,
sudahlah, ayo cepat jalan!"
Saat aku
sedang melamunkan hal itu, Jairo yang sudah tidak sabar mendesak kami.
"Ah—maaf.
Kalau begitu, ayo kita pergi."
"Iya!"
"Benar.
Karena kita sudah sampai lebih cepat, kita harus mengumpulkan banyak
material!"
Kami mengalungkan
Magic Item penawar racun itu di leher, lalu turun menuju Tanah Korosi. Hah,
kalau sudah begini, aku hanya bisa menerimanya sebagai fasilitas barang praktis
yang sudah disiapkan.
◆
"Dilihat
dari dekat, tempat ini terasa jauh lebih mengerikan."
Saat kami turun
mendekati permukaan tanah, pemandangan detail dari Tanah Korosi mulai terlihat.
Meskipun tempat ini disebut 'Tanah', kenyataannya ini adalah sebuah rawa-rawa.
Rawa berwarna
ungu yang jelas-jelas penuh dengan racun. Di permukaannya, gelembung-gelembung
besar meletup-letup mengeluarkan suara.
"Baunya agak
aneh, ya."
Seperti kata
Jairo, udara di Tanah Korosi dipenuhi bau yang sulit dijelaskan.
"...Ini
karena udara beracun yang merembes dari rawa memenuhi area sekitar."
"Udara
beracun!?"
"Iya,
mungkin cuma menghirup udara ini saja sudah buruk bagi tubuh. Yah, karena
kelihatannya ini racun yang lemah, sepertinya Kalung Penawar Racun ini sudah
cukup untuk menanganinya."
"...Untung saja Magic Item ini sudah disiapkan."
""Sangat
setuju.""
Kalau begini,
jangan-jangan tanpa sadar kita bisa mati kalau tidak memakai ini?
Dalam dokumen
tertulis bahwa Tanah Korosi tidak bisa ditinggali dalam waktu lama, ternyata
udara beracun inilah penyebabnya. Ini mungkin tempat yang jauh lebih berbahaya
dari perkiraan.
Seperti yang
diharapkan dari Area Berbahaya yang hanya boleh dimasuki oleh mereka yang
ahli...
"Bahaya!"
"Eh?"
Tepat saat itu, Rex-san tiba-tiba berteriak, dan sesuatu melompat dari dalam rawa menuju ke arahku.
"Hiaaat!"
Pedang Rex-san
melindungi diriku yang sempat mematung karena kejadian mendadak itu.
"Apa Kamu
baik-baik saja, Liliera-san!?"
"Eh!? I-iya,
aku tidak apa-apa! Lebih dari itu, apa itu tadi!?"
"Lihat ke
sana."
Atas arahan
Rex-san, aku melihat ke arah rawa-rawa dan di sanalah aku melihat wujud asli
dari sesuatu yang menyerangku.
"Itu...
monster!?"
Benar, di sana
tergeletak sosok monster yang telah terbelah dua oleh pedang Rex-san. Wujudnya
menyerupai lipan, tapi ukurannya jauh lebih besar—tidak bisa dibandingkan
dengan lipan biasa.
"Itu adalah Giant Poison Centipede. Sepertinya mereka
menjadikan rawa beracun ini sebagai tempat tinggal."
"Benda seperti itu bersembunyi di dalam rawa!?"
Aku benar-benar lengah. Kalau tadi kami berjalan kaki
membelah rawa-rawa ini, mau beracun atau tidak, tubuhku pasti sudah terpotong
jadi dua oleh rahang raksasa itu, kan?
Seberapa kuat pun aku memperkuat pertahanan dengan sihir
penguatan tubuh, aku tidak bisa mengaktifkannya setiap saat tanpa henti...
Apalagi kalau diserang dari bawah permukaan air yang jarak
pandangnya nol tepat saat aku sedang lengah setelah pertempuran berakhir...
Benar-benar untung kami bisa menggunakan sihir terbang...
"Berbeda dengan lipan biasa, jenis ini bisa
beraktivitas lama di dalam air, jadi sepertinya dia mengintai di dalam rawa
menunggu mangsa mendekat."
"Mengintai, ya... memangnya berapa banyak monster yang
bersembunyi di rawa ini?"
"...Anu, kalau dihitung yang besar dan kecil, kira-kira
ada sekitar dua ribu ekor."
"""Dua ribu!?"""
Mungkin dia menggunakan sihir deteksi, tapi tetap saja dua
ribu itu terlalu banyak!
"Bahkan monster biasa saja sudah banyak, apalagi
monster beracun sebanyak dua ribu... Ini sih sama saja datang untuk mati!"
"Eh? Tapi
kan kita punya Kalung Penawar Racun."
"""Ah..."""
Benar juga. Kami kan memakai Magic Item penawar racun.
"Kalau begitu..."
"Aku rasa sebaiknya kita bergerak di atas rawa sambil
terbang, lalu bertarung sedemikian rupa agar tidak terkena serangan dari
monster yang melompat keluar."
"..."
Kalau dipikir-pikir, kami kan bisa terbang. Berarti, asalkan
kami menjaga ketinggian, monster-monster beracun itu tidak terlalu menakutkan?
"L-lho? Aneh ya. Padahal harusnya kita datang ke Area
Berbahaya peringkat S yang dipenuhi monster sangat beracun."
"Kebetulan sekali, ingatanku juga bilang begitu,"
timpal Mina.
"Hah-hah-hah! Rasakan ini, monster-monster sialan!
Pangganglah kalian dengan api keadilanku!"
Kulihat Jairo terbang naik-turun memancing monster, lalu
menebas monster-monster yang terpancing melompat keluar. Karena tidak perlu takut terkena racun, dia
terlihat sangat bersemangat.
"Anu... kita
ikut juga?"
"Ah—iya.
Benar juga."
Setelah
memantapkan hati, kami pun memutuskan untuk ikut berpartisipasi membasmi
monster.
◆
"Tapi ya,
repot juga kalau harus memunguti monster yang sudah dikalahkan satu per
satu."
Sambil membasmi
monster, Jairo menggumamkan hal itu.
"Eh?
Kenapa?"
"Habisnya di
bawah ini kan rawa. Kalau
dibiarkan, mereka bakal tenggelam, kan? Jadi harus segera diambil, kalau tidak
kita terpaksa harus menyelam ke rawa. Meskipun racunnya tidak mempan karena
kalung ini, tapi berlumuran racun itu agak gimana gitu..."
Ah, aku
mengerti maksudnya.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau monster-monster itu dimasukkan ke Kantong Sihir saat
masih di udara sebelum jatuh ke rawa? Dengan begitu kita tidak perlu peduli
soal rawa beracunnya, kan?"
Rex-san
memasukkan monster yang baru saja dia belah dua ke dalam Kantong Sihir saat
masih di udara, seolah-olah itu hal yang sangat lumrah.
"Tidak,
Kakak... kalau itu sih tingkat kesulitannya terlalu tinggi buat kami..."
"Kalau
sudah tahu triknya, mudah kok."
Tidak,
tidak, aku pun merasa tidak bisa melakukan itu. Lihat, Mina juga mengangguk
setuju.
"Begitu
ya. Kalau begitu, bagaimana
kalau kita murnikan saja rawa-rawanya?"
"""Eh?"""
Mendengar ucapan aneh Rex-san, kami serentak bertanya balik.
"Full Clean Purification!"
"""Hah?"""
Tiba-tiba Rex-san merapalkan sihir, dan seketika area
sekeliling kami diselimuti oleh cahaya.
"Eh? Apa?
Ada apa ini?"
Aku bersiap siaga
mengira sesuatu terjadi, tapi cahaya itu segera meredup.
"A-apa yang
kamu lakukan, Rex-sa—"
"AAAAAAAAKH!?"
Tepat saat aku
hendak bertanya, teriakan Mina menggema.
"Ada apa
lagi!?"
"Ra-rawa!
Rawanya...!"
"Apa? Ada
apa dengan rawanya?"
Mendengar ucapan
Mina, aku melihat ke bawah. Yang ada di sana adalah tanah biasa yang tidak ada
aneh-anehnya. Benar-benar tanah biasa, jadi apa yang harus dipusingkan... eh?
Aneh. Kami
seharusnya berada di Tanah Korosi. Tapi kenapa ada tanah biasa di sana...?
"Lho?
Rawanya pergi ke mana?"
Benar, seperti
kata Jairo, rawanya hilang. Rawa korosi yang seharusnya ada di sana sudah
lenyap.
"Re-Rex-san?
Apa sebenarnya yang kamu lakukan?"
Aku mengerahkan
seluruh ketenanganku untuk bertanya pada Rex-san. Situasi ini pasti ada
hubungannya dengan sihir yang baru saja dirapalkan Rex-san.
"Iya! Karena
merepotkan kalau materialnya tenggelam ke rawa beracun, aku pikir murnikan saja
racunnya agar jadi tanah biasa! Jadi aku menggunakan sihir pemurnian area luas
untuk memurnikan rawa beracun di sekitar sini menjadi tanah biasa! Jangkauannya
cuma di sekitar sini saja sih, tapi dengan begini kita tidak perlu khawatir
materialnya tenggelam!"
"Ooh!
Memang Kakak luar biasa! Tunggu, ini kan sihir yang waktu itu dipakai untuk
membersihkan selokan!"
Membersihkan
selokan!? Sihir macam apa yang kalian pakai buat membersihkan selokan!?
"Iya,
iya, kamu ingat dengan baik ya, Jairo."
"Heheh,
mana mungkin aku lupa soal membersihkan selokan yang sampai mengalahkan Dark
Blob."
Membersihkan
selokan sampai mengalahkan Dark Blob!? Sebenarnya apa yang terjadi saat kalian membersihkan selokan!?
"Heheh,
tanahnya juga sudah padat jadi tidak perlu khawatir soal pijakan, dan tidak
perlu takut racun lagi! Hebat benar Kakak!"
"Ah tidak,
itu pujian yang berlebihan, Jairo."
Jairo menatap
Rex-san dengan penuh kekaguman, sementara Rex-san memasang wajah seolah dia
baru saja melakukan pekerjaan yang bagus.
Maksudku, anu...
apa tidak apa-apa rawa beracun yang sampai dianggap sebagai Area Berbahaya
dimurnikan dengan sihir yang dipakai buat menguras selokan?
"Ah, lihat
Jairo! Monster yang tadi bersembunyi di rawa sekarang terjebak dalam kondisi
terkubur setengah badan! Ini kesempatan!"
"Wah! Benar! ...Tapi kenapa mereka cuma terkubur
setengah?"
"Mungkin karena mereka kaget dengan sihirku lalu
melompat keluar dari rawa, tapi sebelum seluruh tubuhnya keluar, rawanya sudah
termurnikan dan berubah jadi tanah padat."
"Begitu ya.
Beruntung sekali kita! Soalnya mereka hampir tidak bisa bergerak sama
sekali."
"Iya!"
"Oi kalian
berdua! Jangan bengong saja! Ini kesempatan! Mari kita bantai mereka
sekaligus!"
Mereka berdua
mendesak kami sambil kegirangan dengan polosnya, tapi kami berdua benar-benar
tidak bisa merasakan kegembiraan yang sama.
"..."
"Liliera-san?"
"Hmm? Ada
apa, Mina?"
Menyadari sikap
kami, mereka berdua bertanya dengan heran. Iya, kalian tidak paham ya, memang
tidak bakal paham...
"..."
"..."
Aku dan Mina
saling bertukar pandang dan mengangguk satu sama lain. Lalu kami berbalik ke
arah mereka dan berteriak.
""Pokoknya!
Semuanya jadi tidak ada harganya lagi tahu!!""
Ini sudah bukan Area Berbahaya lagi, tapi salah nama jadi Area Aman, kan!?



Post a Comment