Chapter 150
Lahirnya Sang Dewi Cahaya!
"Aku pulangg—"
Setelah
menyerahkan golem kepada Nona Idra, aku kembali ke penginapan kota
tempat teman-teman menunggu bersama Nona Idra yang sedang mengoperasikan tubuh
barunya itu.
Eh? Kalian
bingung kenapa aku bisa kembali ke kota secepat itu? Tenang saja, aku sudah memasang Penanda
Transfer di dekat kota ini. Dengan begitu, aku bisa berpindah kapan saja
menggunakan Gerbang Transfer dari kediamanku di ibu kota.
"Selamat
datang kembali, Kak!"
"Ara?
Siapa orang itu?"
Liliera-san
memiringkan kepalanya saat melihat golem Nona Idra.
Ah,
awalnya semua orang memang melihat proses pembuatan golem dengan penuh
minat, tapi di tengah jalan mereka mulai bosan dan pergi berburu monster atau
jalan-jalan di kota.
Hanya
Mina-san yang bertahan paling lama, tapi dia pun akhirnya lari keluar sambil
berseru, "Gawat, kalau aku melihat ini terus, kurasa ada sesuatu dalam
diriku yang akan hancur!"
"Ah,
dia adalah A—"
Belum
sempat aku menyelesaikan kalimatku, Nona Idra sudah melangkah maju memotong
perkataanku.
"Saya
Dora. Saya petualang pemula, tapi saya memiliki sedikit hubungan dengan Rex,
dan karena itulah dia mengajak saya ikut berpetualang."
"Hubungan
dengan Rex-san...?"
Mendengar
penjelasan Nona Idra, Liliera-san menatapku dengan mata menyelidik.
"Jangan-jangan
kamu berulah lagi?"
"Eh? Apa
maksudnya dengan 'lagi'!?"
"Yah, kalau
dibilang 'lagi' memang benar sih," sahut Mina-san.
Apanya yang benar, Mina-san!?
"Anu, A...
Dora, apa maksudmu..."
Saat aku berbisik
menanyakan niatnya, Nona Idra balas berbisik padaku.
"Tubuh ini
kan untuk penyamaran, jadi mari kita rahasiakan sampai mereka menyadarinya
sendiri. Ini kesempatan bagus untuk menguji apakah kenalan saya pun akan sadar
atau tidak."
"Yah, kalau
itu maumu..."
Hmm, tapi bagiku
dia terlihat seperti sedang menikmati permainan "kapan rahasiaku
terbongkar". Di kehidupanku yang dulu juga ada kenalanku yang suka jahil,
jadi entah kenapa aku bisa merasakannya dari atmosfer ini.
Tapi yah,
dibanding kejahilan kenalanku di masa lalu, ini benar-benar tidak berbahaya,
jadi biarkan saja lah.
"Jadi,
aku ingin mengajak Dora ikut dalam pembasmian monster kali ini, boleh
kan?"
"Panggil
nama langsung..."
"Eh?"
"Tidak,
bukan apa-apa."
Ada apa ya?
Tatapan Liliera-san terasa tajam sekali... Ah! Jangan-jangan dia sedang
mewaspadai kemampuan Nona Idra sebagai anggota baru!? Benar juga, Liliera-san
adalah petualang peringkat A. Dia pasti bisa melihat dari gerak-gerik Nona Idra
yang seorang putri bahwa Dora adalah amatir dalam bertarung.
"Aku sih
setuju saja! Salam kenal ya, Dora!"
"Yah, kalau Rex
yang mengajak, aku tidak keberatan."
Jairo-kun dan
yang lainnya sepertinya tidak masalah. Liliera-san pun...
"Terserah,
kalau Rex-san memang ingin begitu, aku tidak punya alasan untuk menolak."
Ada apa ya?
Kenapa kata-kata Liliera-san terasa agak ketus... Tapi ya sudahlah, kalau semua
tidak keberatan, itu sudah cukup!
"Kalau
begitu, ayo berangkat semuanya!"
""""Oooooh!""""
◆
"Lho?
Aneh ya."
Kami tiba
di Tanah Korosi menggunakan sihir terbang, tapi aku merasakan ada yang janggal
dengan pemandangan di bawah.
"Ada
apa, Rex?"
Nona Idra
yang berada di dekapanku bertanya sambil memiringkan kepala. Karena Nona Idra
belum bisa terbang, aku membawanya sambil terbang. Sebenarnya tubuh golem-nya
sudah dilengkapi fungsi terbang, tapi karena itu butuh latihan, kali ini aku
yang membawanya. Nanti aku
harus mengajarinya cara terbang.
"Sepertinya
Tanah Korosinya meluas..."
"Serius?"
"Iya, ini
bukan perasaanku saja. Lahan yang kemarin sudah kusucihkan sekarang
terkontaminasi lagi. Buktinya, lubang tempat aku menggali Giant Poison
Centipede sudah hilang."
"Kalau
dibilang begitu, memang benar lubangnya sudah tidak ada."
Hmm, aku memang
dengar kalau Tanah Korosi itu mengikis lahan sekitarnya, tapi ini di luar
dugaanku. Karena ada desa di dekat sini, lebih baik aku melakukan penyucian
sedikit.
"Semuanya,
rencana pembasmian monster hari ini agak kuubah sedikit. Kita akan berburu
monster sambil menyucikan Tanah Korosi."
"Kurasa itu
ide bagus. Mencegah perluasan wilayah berbahaya juga sangat dianjurkan di Hutan
Monster," kata Liliera-san yang dulu aktif di Hutan Monster, sepertinya
dia paham maksudku.
"Terima
kasih, Liliera-san."
"Bukan
masalah."
"Kami juga
setuju! Kalau Kakak merasa itu harus dilakukan, pasti ada alasannya, kan?"
"Kamu ini,
sesekali berpikirlah sendiri," tegur Mina-san.
"Urusan
sulit begitu kuserahkan padamu saja!"
"Haaah..."
Mina-san sabar
sekali ya.
"Aku juga
tidak keberatan. Sebagai
pendatang baru, aku akan mengikuti instruksi Rex."
"Terima
kasih semuanya. Kalau begitu, pertama-tama mari kita bagi menjadi dua tim. Kita
akan berpencar menyucikan Tanah Korosi."
"Eh? Tunggu
dulu, kami kan tidak bisa sihir penyucian!? Kalau pun ada yang bisa itu cuma
Norub, tapi dia kan tidak ikut kali ini..."
"Ah, tidak
apa-apa. Kalau cuma sihir penyucian, Dora bisa menggunakannya kok."
"Eh!?"
Mendengar itu,
Nona Idra menatapku dengan wajah terkejut seolah berkata "Aku
bisa!?".
"Tenang
saja, sama seperti Flame Inferno, cukup teriakkan nama mantranya dan sihirnya
akan aktif sendiri," bisikku pada Nona Idra.
"Be-begitu
ya?"
"Iya,
katakan saja High Area Purification, maka sihirnya akan aktif."
"Ba-baiklah."
"Untuk pembagian tim, aku dan..."
"Dan
aku," Liliera-san mengangkat tangan. "Jairo dan yang lainnya sudah
satu tim dari awal, peran mereka juga garis depan dan belakang. Untuk kerja
sama tim, lebih baik mereka yang sudah terbiasa satu sama lain."
"Tapi
bukannya kekuatannya jadi timpang kalau dibandingkan tim Kakak?"
"Makanya
ada Mofumofu. Kalau dia ikut dengan kalian, keseimbangannya tidak akan terlalu
buruk, kan?"
"Kyu?"
Mofumofu
yang sedang didekap Liliera-san memiringkan kepala seolah bertanya, "Ada
apa?".
"Ara,
Mofumofu-chan mau ikut dengan kami?"
"Kyu?
Kyuu!"
Begitu
dipanggil Nona Idra, Mofumofu dengan senang hati melompat ke arahnya. Meski ini tubuh golem, apa dia tahu
kalau isinya adalah Nona Idra?
"Dua lawan
empat, memang terasa seimbang. Bagaimana cara kita berkomunikasi saat ingin
menyudahi ini?"
"Ah, kalau
begitu bawa magic item komunikasi ini. Sesama pemegang alat ini bisa
saling berbicara."
"Lancar
sekali kamu mengeluarkan magic item ya."
"Yah, ini
cuma bisa untuk jarak pendek sih."
"Tetap saja
itu luar biasa..."
Nah, persiapan
sudah selesai, mari kita mulai Operasi Penyucian!
"Tapi aku
jadi agak gugup," kata Nona Idra yang mulai tegang menghadapi petualangan
sesungguhnya.
"Tenang
saja! Ada kami kok, kalau kamu gagal sedikit, kami akan membantumu!"
"Benar,
benar. Si bodoh ini saja sudah jadi peringkat C tapi masih sering melakukan
kesalahan konyol."
"Ber-berisik
kamu!"
"Fufu,
kalian berdua akrab sekali ya."
""
Ka-kami tidak akrab kok!""
Haha,
Jairo-kun dan yang lainnya sepertinya sudah mulai akrab.
"Tapi
hati-hati ya. Ini namanya Tanah Korosi, tempat yang sangat berbahaya di mana
monster beracun berkeliaran di mana-mana."
"Ara,
benarkah!?"
"Begitulah.
Tapi selama ada kami, kamu tidak perlu tak..."
"Ah!?" Mina-san tiba-tiba bersuara.
"Ada apa,
Mina-san?"
"Anu... Apa
tidak apa-apa membawa anak ini ke sini? Bukankah wilayah berbahaya hanya boleh
dimasuki oleh petualang peringkat tinggi saja...? Ditambah lagi, peringkat kami
juga kan..."
"""Ah!"""
"Eh?"
Benar juga.
Secara aturan, tempat ini terlalu berbahaya sehingga petualang peringkat rendah
tidak diizinkan masuk. Tapi menurutku, selama penanganan racunnya benar, tempat
ini tidak seseram itu.
"Liliera-san,
Anda tahu minimal peringkat berapa untuk masuk ke Tanah Korosi?"
"Hmm, kalau
tidak salah peringkat A. Karena ada risiko monster beracun dari Tanah Korosi
keluar, mereka ingin monster-monster itu diburu sebanyak mungkin, jadi
peringkatnya ditetapkan A. Tapi kalau mau masuk ke bagian yang lebih dalam,
dokumen Guild menyarankan peringkat S."
Peringkat A ya.
Berarti Liliera-san aman.
"Hei Mina,
kita kan..."
"Peringkat
C."
Benar, menurut
aturan Guild, Jairo-kun dan yang lainnya tidak diizinkan masuk ke Tanah Korosi.
"A-anu,
jangan-jangan aku tidak boleh ikut?"
Nona Idra tampak
bingung apakah dia boleh ikut atau tidak, tapi kekhawatiran itu tidak perlu.
Aku punya solusinya!
"Tidak
apa-apa kok. Yang dilarang itu kan masuk ke dalam Tanah Korosi. Tapi
kalau kita menggunakan sihir penyucian dan mengembalikannya menjadi tanah
biasa, berarti itu sudah di luar Tanah Korosi, kan!"
""""Argumen
yang sangat sesat!""""
Eh? Bukannya masalah wilayah itu memang
diselesaikan seperti ini ya?
Di kehidupan
sebelum-sebelumnya, masalah batas wilayah antar negara sering diselesaikan
begini.
"Batas
negaraku dan negaramu adalah di balik gunung ini kan?"
Begitu pihak
lawan mengangguk, sang raja tinggal memindahkan seluruh gunung itu dengan sihir
lalu berkata, "Kalau begitu, sekarang ini wilayahku!". Raja-raja
seperti itu dulu ada banyak. Malah ada yang lebih parah sampai mengubah garis
pantai.
◆Mina◆
"Kalau
begitu mari kita mulai dari sekitar sini."
Setelah berpisah
dengan Rex dan yang lainnya, kami pindah ke tempat yang pas dan memutuskan
untuk menyucikan Tanah Korosi... Tapi, apa benar boleh menyerahkan ini pada
Dora?
"Kalau
begitu, kami serahkan padamu ya, Dora."
"I-iya.
Serahkan padaku!"
Hmm, gadis yang
dibawa Rex ini entah kenapa terasa sangat amatir.
Kami pun dulunya
amatir, tapi setidaknya kami sudah menerima latihan tempur dari Kakek dan paman
di Guild desa, serta sudah terbiasa berburu.
Tapi dari
gadis ini, aku tidak merasakan aura orang yang biasa beraktivitas di alam liar.
Jangan-jangan,
dia ini putri bangsawan dari suatu tempat yang sedang dalam perlindungan
penyamaran?
Kalau itu
Rex yang peringkat S, hal itu mungkin saja terjadi, tapi kalau benar begitu,
tidak mungkin dia dibawa ke tempat berbahaya seperti ini, kan...
...Tapi
kalau dipikir-pikir, tempat ini benar-benar sangat berbahaya.
"Kalau begitu, aku mulai! High Area Purification!"
Tiba-tiba,
tubuh Dora bersinar dengan sangat terang.
"Kyaaa!?"
"Uwaa!?"
Lho?
Tunggu sebentar! Tadi aku
sama sekali tidak merasakan adanya pengumpulan kekuatan sihir sebelum mantra
itu aktif!? Ditambah lagi, tanpa rapalan!? Jangan-jangan gadis ini juga murid Rex!?
Tidak, meskipun
begitu, seharusnya ada pergerakan kekuatan sihir sebelum aktif. Berarti anak
ini jangan-jangan...!?
Selagi aku
berpikir begitu, cahayanya perlahan mulai meredup. Saat pandanganku kembali
normal, tempat yang tadinya merupakan rawa beracun telah berubah menjadi tanah
biasa yang bisa ditemukan di mana saja.
Yah, meskipun aku
ragu apakah tanah yang di atasnya ada monster yang terkubur separuh badan itu
bisa dibilang "biasa".
"Ara,
benar-benar jadi tanah biasa!"
Dan pelakunya
sendiri malah ikut terkejut.
"Hei,
ini..."
"Iya, pasti
ulah Rex... Mungkin tubuh orang itu adalah golem yang dia bicarakan
kemarin."
Kalau bukan
begitu, tidak mungkin dia bisa menggunakan sihir sehebat ini tanpa
ancang-ancang kekuatan sihir.
"Berarti!?
Di dalamnya jangan-jangan Tuan Putr—"
"Sst! Tubuh
itu adalah golem penyamaran, jadi jangan sebut nama itu. Kalau Rex tidak
mengatakan apa-apa, berarti kita harus diam."
Aku segera
membungkam mulut Jairo yang hampir berteriak karena terkejut.
"Be-begitu ya. Ngomong-ngomong, bagaimana soal gaya
bicara? Apa aku harus pakai bahasa formal?"
"Karena ini penyamaran, dan Rex juga bersikap biasa
saja, kurasa bahasa biasa juga tidak apa-apa. Penampilan golem itu tidak
jauh beda dengan kita, kalau kita bicara pakai bahasa formal malah bakal
dicurigai."
"O-oh begitu. Syukurlah kalau begitu!"
Sepertinya Jairo lebih mengkhawatirkan soal gaya bicara
daripada kenyataan bahwa isi Dora adalah Nona Idra. Yah, bagi Nona Idra,
mungkin lebih baik begini daripada diperlakukan dengan canggung.
"Kalian
berdua, bagaimana tadi?" tanya Nona Idra pada kami.
"Ouh! Hebat
sekali, Dora!"
"Iya, aku
terkejut."
Benar-benar terkejut, tahu.
◆Petani Tertentu◆
"A-aku baru saja melihat hal yang luar biasa..."
Kami adalah penduduk Desa Irunaga. Desa kami dekat dengan
Tanah Korosi, jadi setiap tahun kami rutin memantau seberapa jauh rawa-rawa itu
meluas mendekati desa.
Kalau
rawa itu terlalu dekat, monster-monster berbahaya akan meninggalkan rawa dan
menyerang desa.
Sebelum
desa tenggelam dalam rawa, kami harus meninggalkannya. Tugas kami sebagai pengawas adalah menentukan
kapan saat yang tepat untuk itu.
Meski begitu,
tidak ada yang mau melakukan pekerjaan berbahaya ini. "Aku tidak
mau", "Aku juga tidak mau", setelah saling lempar tanggung
jawab, akhirnya diputuskan untuk berjaga secara bergiliran.
Melihat rawa
terkutuk yang perlahan mendekati desa itu membuat hatiku terasa sangat berat,
tapi kali ini suasananya berbeda.
Saat kami datang
memantau rawa, muncul sekelompok anak muda yang membawa makhluk bulat berwarna
putih mendekati rawa.
Karena mereka
memakai pedang dan zirah, aku langsung tahu kalau mereka adalah petualang, tapi
kami berniat segera menghentikan mereka.
Soalnya, monster
di rawa itu sangat kuat, dan petugas pemerintah bilang hanya mereka yang punya
izin khusus yang boleh masuk.
Tapi anak-anak
muda itu sama sekali tidak terlihat seperti orang-orang hebat seperti itu.
Aku berniat
menghentikan mereka karena kupikir mereka tidak tahu apa-apa, tapi tiba-tiba
salah satu dari mereka bersinar terang seperti matahari.
Kami refleks
menutup mata karena silau, tapi saat kami membukanya, hal luar biasa telah
terjadi.
Tanah Korosi itu
lenyap, dan lahan itu berubah menjadi tanah biasa. Kami hanya bisa melongo
tidak percaya.
Tidak berhenti di
situ, anak-anak muda itu mulai membasmi monster-monster Tanah Korosi dengan
kecepatan seperti sedang memotong rumput liar.
Bahkan makhluk
bulat putih yang bersama mereka sanggup mengalahkan monster yang berkali-kali
lipat lebih besar dari dirinya.
Setelah membasmi
semua monster, mereka menuju ke bagian dalam Tanah Korosi, lalu setelah ada
kilatan cahaya lagi, rawa itu berubah menjadi tanah biasa. Aku sudah tidak
mengerti lagi apa yang terjadi...
"Hei,
jangan-jangan, orang itu adalah Sang Dewi?"
Saat kami masih
terpana, Yozak yang ikut bersamaku mengatakan hal konyol.
"Bicara apa
kamu, Yozak. Mana mungkin hal seperti itu terjadi."
"Tapi lihat
saja, bisa bersinar terang begitu dan mengubah rawa beracun jadi tanah biasa,
itu bukan hal yang bisa dilakukan manusia biasa."
Aku menatap
teman-teman lainnya, tapi sepertinya mereka juga menganggap kata-kata Yozak
serius. Mata mereka terpaku pada gadis yang bersinar itu.
"Mana
mungkin... tapi tetap saja..."
Kalau dipikir
secara normal, mana ada Dewi yang turun begitu saja.
Tapi hal seperti
ini pun mustahil dilakukan oleh para pendeta tinggi di gereja.
Para pendeta itu
bilang mereka hanya bisa menahan laju perluasan rawa, tapi tidak bisa
mengembalikannya seperti semula.
"Jadi benar-benar... Sang Dewi?"
"Dia
mengalahkan monster mengerikan dengan begitu mudah dan mengembalikan rawa yang
dibenci ini jadi seperti semula. Selain Sang Dewi, memangnya mereka itu siapa lagi?"
"Ja-jadi,
mereka berniat mengembalikan seluruh rawa ini seperti semula?"
"Pasti
begitu! Untuk menolong kita yang kesulitan, Sang Dewi datang membantu
kita!"
"Pasti
makhluk putih itu adalah Binatang Suci yang melayani Sang Dewi!"
"Anak mu...
bukan, maksudku, tuan-tuan itu pasti Utusan Dewa yang melayani Sang Dewi
juga!?"
"Dewi..."
"Dewi!!"
““““Sang Dewi!!””””
Tanpa sadar, kami
semua bersujud dalam-dalam ke arah Sang Dewi dan rombongannya. Oh Sang
Dewi, selamatkanlah kami!
◆Mina◆
"Hatchi!"
Saat sedang membasmi monster, Nona Idra tiba-tiba bersin.
"Oh? Kamu flu, Dora?" tanya Jairo.
"Entah
kenapa tiba-tiba hidungku terasa gatal."
Tapi tunggu dulu,
apa tubuh golem bisa kena flu?
"Hahaha,
jangan-jangan ada yang sedang membicarakan Dora?"
"Kira-kira
siapa yang membicarakanku ya?"
Kami membicarakan hal bodoh seperti itu, tanpa menyadari kalau beberapa hari kemudian, rumor luar biasa tentang "Dewi Cahaya yang bersinar terang telah turun di Tanah Korosi" mulai menyebar luas...



Post a Comment