NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 5

Chapter 142

Putri Itu Meguri!?


"Kenapa Mofumofu bisa ada di sini..."

Aku terkejut melihat ada dua orang Meguri-san sampai-sampai suaraku nyaris keluar, namun berkat sihir tembus pandang, identitas kami masih belum terbongkar. Hanya Mofumofu saja yang sudah ketahuan karena dia melompat keluar duluan.

"Megurielna, apa anak ini temanmu?"

Kemudian, Meguri-san yang pertama kali masuk ke ruangan ini bertanya kepada Meguri-san yang dipanggil Megurielna sambil menggendong Mofumofu.

Anu, kalau aku memercayai ucapan Meguri-san yang baru masuk tadi, berarti Meguri-san yang ini adalah Idra-sama, kan? Mungkin. Hmm, membingungkan sekali.

"I-iya... ini adalah hewan peliharaan milik kenalanku."

Sepertinya dia mengenali Mofumofu, jadi Megurielna-san inilah Meguri-san yang kami kenal, ya?

"Ya ampun, milik temanmu? Mereka pasti sangat mengkhawatirkannya. Kita harus segera mengembalikannya."

"Lebih dari itu, kenapa Mofumofu bisa ada di tempat seperti ini..."

"Manis sekali, namamu Mofumofu, ya?"

"Kyuu!"

"Kya!"

Idra-sama sempat terkejut karena Mofumofu mendadak melompat ke arahnya, namun dia segera mendekapnya kembali dan mulai mengelusnya dengan lembut.

"Kyu-kyuu!"

Mofumofu yang dielus mengeluarkan suara manja dan merapat ke arah Idra-sama. Padahal penyusupan kita ke kastel sudah ketahuan, santai sekali kamu ini.

"Fufuh, lucu sekali. Mau makan camilan?"

"Kyuu!"

Begitu Idra-sama menyodorkan camilan dari atas meja, Mofumofu dengan gembira memakan camilan yang terlihat mahal itu.

"Lihat Megurielna, dia manis sekali!"

Kriuk kriuk

"Sebenarnya dia makhluk yang sangat berbahaya, tapi..."

"Masa sih? Kamu anak yang baik dan lembut, kan?"

"Kyuu!"

"...Dia sedang pura-pura manis."

Sambil diberi camilan oleh Idra-sama, Mofumofu terus pasrah saat dielus. Tidak ada sedikit pun aura liar yang terlihat, dia benar-benar menunjukkan sosok manja layaknya kucing peliharaan. Yah, Mofumofu kan masih bayi yang baru lahir. Walaupun dia monster, dia tidak akan dianggap sebagai ancaman.

"..."

Berbeda dengan keceriaan mereka berdua, Meguri-san tampak celingukan memperhatikan seisi ruangan. Ada apa, ya?

"Ada apa, Megurielna?"

Idra-sama yang menyadari keanehan sikap Meguri-san pun bertanya padanya.

"Idra-sama, sepertinya Anda akan sedikit terkejut setelah ini, tapi bisakah Anda berjanji untuk tidak berteriak?"

"E-eh? Aku kurang mengerti, tapi baiklah."

Idra-sama memiringkan kepalanya dengan heran, namun karena dia memercayai Meguri-san, dia tetap mengangguk meski bingung.

"Terima kasih."

Meguri-san berdiri membelakangi Idra-sama dan menghadap ke arah jendela—dengan kata lain, tepat ke arah kami berada—lalu berkata.

"Rex, tidak, semuanya ada di sana, kan?"

Kepastian dalam suaranya menunjukkan kalau Meguri-san yakin kami ada di sini.

"Sepertinya gara-gara Mofumofu kita jadi ketahuan, ya."

"Sepertinya begitu."

"Bagaimana, semuanya?"

Aku menoleh ke arah Jairo dan yang lainnya untuk meminta keputusan. Kali ini, kurasa lebih baik mengikuti pendapat Jairo dan kawan-kawan.

"Boleh saja, kan? Lagipula sepertinya kita sudah ketahuan."

"Benar juga, lagipula sejak awal tujuan kita memang mencari Meguri."

"Baiklah kalau begitu."

Setelah mendapat persetujuan dari Jairo dan yang lainnya, aku tetap membiarkan sihir pengalihan aktif untuk menangkal deteksi, namun aku membatalkan sihir tembus pandang kami.

"Eh!? Orang!? Dari mana datangnya!?"

Idra-sama berseru kaget karena kami mendadak muncul. Namun, mungkin karena sudah diperingatkan oleh Meguri-san sebelumnya agar tidak terkejut, dia tidak sampai panik berlebihan.

"Megurielna, siapa sebenarnya orang-orang ini?"

Idra-sama bertanya kepada Meguri-san yang mengetahui situasinya.

"Idra-sama, mereka adalah teman-teman saya, para petualang."

"Wah! Petualang!"

Mata Idra-sama tampak berbinar penuh rasa ingin tahu setelah kami diperkenalkan.

"Muncul tiba-tiba dari ruang hampa, hebat sekali ya yang namanya petualang!"

"Bukan, itu karena dia adalah Rex... haah. Dari kanan ini adalah Jairo, Mina, Rex, dan Liliera."

"Ah, salam kenal."

"Sa-salam kenal!"

"Senang bertemu dengan Anda, nama saya Rex, Idra-sama."

"Na-nama saya Liliera!"

Saat kami memberi salam, Idra-sama tersenyum sambil membetulkan sikap duduknya.

"Salam kenal, saya Idra. Idra Sel Iska Tion."

Idra-sama menjepit ujung roknya dan membalas hormat dengan anggun, selayaknya seorang putri bangsawan. Kalau tidak salah, itu disebut curtsey, ya?

"Aku yakin kalian pasti sudah paham, tapi beliau adalah tuan putri dari Kerajaan Tion ini."

"Be-begitu ya... Tunggu, TUAN PUTRIIII!?"

Mendengar Idra-sama adalah seorang putri, Liliera-san langsung berteriak kaget.

"Tenanglah sedikit, Kak Liliera."

"Benar, kalau terlalu berisik nanti orang-orang akan datang."

"Eh? Ah, maaf."

"Ah, kalau soal itu tidak apa-apa. Sekarang aku menggunakan sihir angin agar suaranya tidak bocor keluar."

"Wah, benarkah? Kalau begitu tidak apa-apa meski kita bicara dengan suara keras, ya."

"Tu-tunggu!? Kenapa kalian semua bisa setenang itu!?"

Liliera-san merasa kebingungan melihat ketenangan kami.

"Yah, sejak tahu dia tinggal di kastel, aku sudah menduga kalau dia adalah seorang putri."

Di kehidupanku yang dulu dan yang sebelumnya lagi, aku sering punya kesempatan masuk ke kastel. Banyak anggota keluarga kerajaan yang mengundangku ke ruangan mereka agar aku, sang orang bijak atau pahlawan, mau berbincang dengan mereka. ...Yah, berbincang itu cuma alasan saja, lebih banyak lagi orang yang memanggilku untuk tujuan lain di luar itu.

"Yah, kami sudah dengar sedikit banyak dari Meguri sebelumnya..."

"Ma-maaf ya. Karena situasinya memang rumit."

"Ja-jadi, cuma aku saja yang tidak tahu kalau Meguri adalah seorang putri!?"

Bukan, aku juga tidak tahu soal itu, kok.

"Salah."

Yang menyangkal hal itu adalah Meguri-san.

"Aku bukan putri. Aku adalah Kagemusha (pemeran pengganti) bagi Idra-sama."

""Kagemusha!?""

"Benar sekali. Megurielna adalah pemeran penggantiku."

Idra-sama ikut menyambung percakapan seolah melanjutkan penjelasan Meguri-san.

"Mumpung kalian sudah datang jauh-jauh, silakan duduk di sini. Megurielna, bisakah kamu membuatkan teh?"

"Baik, saya mengerti."

Idra-sama mengajak kami duduk di meja. Saat aku melihat Meguri-san, dia mengangguk tanpa suara, jadi aku duduk terlebih dahulu di kursi.

Seolah mengikuti jejakku, Jairo dan yang lainnya juga duduk, dan terakhir Liliera-san duduk dengan ragu-ragu. Setelah Meguri-san menyajikan teh untuk semua orang, Idra-sama mulai bicara.

"Fufufu, aku tidak menyangka Megurielna akan membawa teman sebanyak ini."

"Mo-mohon maafkan saya."

"Tidak apa-apa. Aku tidak marah. Justru aku merasa senang. Karena dengan peranmu itu, kamu jadi tidak bisa berhubungan terlalu dalam dengan orang lain, kan?"

"Begitukah?"

"Tunggu, Rex-san!?"

Begitu aku ikut menimpali percakapan, Liliera-san tampak panik dan mencoba menghentikanku.

"Tidak apa-apa, Liliera-sama. Anda juga bicaralah dengan santai saja."

"Ba-baik!"

Hmm, sepertinya Liliera-san terlalu gugup untuk bisa bicara dengan normal.

Saat menghadapi Raja Langit dulu dia tampak lebih berani, tapi kalau berhadapan dengan putri asli dari negaranya sendiri, mungkin perasaannya jadi berbeda.

Namun, biasanya anak-anak orang hebat itu sangat mendambakan cerita tentang dunia luar.

Karena status mereka, mereka sulit untuk pergi ke luar, dan meski bisa pun, mereka akan dikelilingi pengawal sehingga tidak bisa benar-benar menikmatinya.

Itulah sebabnya banyak dari mereka yang senang jika diajak bicara dengan santai.

Yah, ada juga sih yang bakal marah kalau diperlakukan begitu, tapi orang tipe seperti itu biasanya langsung terlihat dari sikap dan sorot matanya.

"Bolehkah aku mendengar cerita tentang kalian dan Megurielna? Aku hanya tahu sosok Megurielna yang kutemui di ruangan ini dan ruangan dalam saja."

Hal pertama yang diminta Idra-sama adalah cerita tentang Meguri-san. Tapi cerita tentang Meguri-san, ya. Apa yang sebaiknya kuceritakan?

"Kalian semua adalah petualang, tapi apa hubungan kalian dengan Megurielna?"

Seolah menyadari kebingungan kami tentang apa yang harus diceritakan, Idra-sama mempersempit topik pembicaraan ke hubungan kami. Orang ini benar-benar pintar mengarahkan percakapan.

"Anu, kami... maksudku aku dan Mina, adalah... Meguri... bukan, Megurie... ee—"

"Jairo, panggil Meguri saja tidak apa-apa."

"O-oh! Baiklah. Anu, benar, kami adalah teman masa kecil Meguri!"

"Teman masa kecil Megurielna?"

Idra-sama memiringkan kepalanya dengan heran.

"Idra-sama, sebelum diputuskan untuk bekerja sebagai pemeran pengganti Anda, saya menjalani pelatihan untuk menjadi pengawal. Saat itulah saya tinggal di sebuah desa yang letaknya jauh dari ibu kota."

"Wah, ternyata begitu!"

Heh, jadi begitulah cara Meguri-san mengenal Jairo dan yang lainnya.

"Be-benar sekali! Kakek Mina dan kakek di rumah Meguri saling kenal, lalu para kakek itu membawa Meguri ke tempat kami dan menyuruh kami untuk berteman dengannya."

"Ya ampun, pertemuan yang manis sekali!"

"Heheh."

"Jadi kalian bertiga adalah sahabat karib, ya."

"Ah, tidak, kami berempat. Ada satu lagi anak bernama Norb, tapi dia sedang ada urusan di tempat lain," Mina menambahkan penjelasan pada ucapan Idra-sama.

"Begitu ya. Aku juga ingin bertemu dengan Norb-sama itu."

Kalau dipikir-pikir, Norb-san juga belum pulang ke rumah. Semoga dia tidak khawatir karena tidak ada siapa-siapa di rumah.

"Lho? Tapi kalau begitu, kenapa kalian bisa tahu identitas asli Meguri? Bukankah gawat kalau identitas Meguri sebagai pemeran pengganti Idra-sama terbongkar?"

Liliera-san menyuarakan keraguan yang muncul di benaknya. Ah, benar juga kalau dipikir-pikir.

"Ugh..."

Meguri-san sempat mengeluarkan suara erangan sejenak, namun dia segera bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ah—soal itu. Dulu waktu kami main bersama, kami membuat hukuman kalau siapa yang kalah dalam permainan harus memberitahu rahasianya. Nah, saat itu Meguri kalah dan dia memberitahu kami."

""Apa rahasia seperti itu boleh diberitahu!?""

Aku dan Liliera-san berseru bersamaan saking tidak percayanya.

"...I-itu kan cuma ucapan anak kecil."

Anu, Meguri-san, itu benar-benar tidak bisa dijadikan alasan untuk mengelak, lho. Keringat dinginnya bercucuran deras.

"Karena isinya memang gawat, aku juga sempat mengira dia cuma bercanda. Tapi sejak dulu Meguri memang sering bolak-balik antara desa dan ibu kota secara rutin, dan kakek-kakek kami berulang kali memperingatkan agar kami menjaga Meguri baik-baik. Jadi, untuk berjaga-jaga kalau itu benar, aku menyuruh Jairo dan yang lainnya untuk tutup mulut. Tapi menyuruh orang ini untuk diam itu benar-benarrrr sulit sekali!"

"Habisnya, mana mungkin orang bakal mengira itu beneran, kan?"

"..."

Wajah Meguri-san menjadi tanpa ekspresi, lebih dari biasanya. Tidak, tidak, dengan wajah seperti itu, alih-alih menyembunyikan kegelisahan, dia justru terlihat sangat gelisah!?

"Pffft... Ahahahahaha!!"

Idra-sama yang mendengarkan cerita Jairo dan kawan-kawan mulai tertawa terbahak-bahak.

"Ahaha, Megurielna! Ternyata kamu pernah melakukan hal seperti itu, ya! Ahahaha!"

"I-itu karena saat itu saya masih anak-anak yang belum bisa berpikir jernih..."

Meski berkata begitu, wajah Meguri-san memerah padam. Meskipun wajahnya kaku, mungkin ini pertama kalinya aku melihat Meguri-san dengan ekspresi sekaya ini.

"Fufufu, itu manis sekali! Ceritakan lebih banyak lagi tentang kalian!"

Begitulah, atas desakan Idra-sama, kami pun menceritakan tentang pertemuan kami dengan Meguri-san hingga hari-hari kami setelah menjadi petualang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close