Chapter 143
Pemeran Pengganti dari Pemeran Pengganti!?
Atas
permintaan Idra-sama, kami pun menceritakan kisah pertemuan kami dengan
Meguri-san serta berbagai petualangan yang telah kami lalui sejak menjadi
petualang.
"Luar
biasa! Megurielna, ternyata kamu sudah melewati petualangan sehebat itu!
Mengagumkan! Bertarung melawan monster raksasa yang mengerikan, lalu pergi
berpetualang ke pulau yang melayang di angkasa... itu benar-benar terdengar
seperti dunia di dalam dongeng!"
Mendengar
cerita kami, Idra-sama menatap Meguri-san dengan binar mata yang tampak sangat
ceria sekaligus iri.
"Tapi,
kenapa kamu menjadi petualang? Jika pekerjaanmu adalah menjadi pemeran
penggantiku, bukankah tidak perlu sampai menjadi petualang?"
"Saya
diperintahkan oleh ibu untuk menjadi petualang. Beliau berkata bahwa sebelum
saya resmi mengabdi sebagai pemeran pengganti, saya harus menimba pengalaman
dalam pertarungan sungguhan."
Begitu
ya, itu memang masuk akal. Lagipula, tidak akan ada yang menyangka kalau
pemeran pengganti sang tuan putri ternyata sedang bekerja sebagai petualang.
"Selain
itu, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, status sebagai petualang akan
sangat berguna."
Ah,
memang sering terjadi anggota keluarga kerajaan menjadi petualang untuk membuat
identitas samaran.
Dalam
kisah petualangan Pendekar Pedang Agung Ryguard pun, ada cerita tentang seorang
pangeran yang menyamar jadi petualang dan menghajar para penjahat bersama
Ryguard.
Tapi
cerita itu jadi terlalu populer, sampai-sampai muncul seri spin-off yang
menjadikan pangeran itu sebagai tokoh utamanya.
"Aah,
senangnya. Aku juga ingin mencoba petualangan hebat seperti itu."
"Idra-sama,
kalau itu... rasanya tidak mungkin..."
"Aku
tahu. Hal itu memang tidak diperbolehkan, kan."
Suasana ceria
tadi seketika berubah. Idra-sama menundukkan pandangannya dengan raut kecewa.
Sebagai gantinya, Meguri-san mengalihkan pandangannya kepada kami.
"Semuanya,
atas perintah ibu, aku harus menjalankan tugasku sebagai pemeran pengganti Idra-sama.
Karena itu, aku tidak bisa lagi bersama kalian sebagai petualang."
"...Yah, mau bagaimana lagi."
"Benar. Sejak awal memang begini rencananya, kan."
Sepertinya
Jairo dan Mina sudah membicarakan hal ini sebelumnya, sehingga mereka menerima
keputusan Meguri-san dengan tenang.
"Apa benar
tidak apa-apa?"
Sebaliknya, Liliera-san
bertanya kepada mereka berdua. Liliera-san mungkin mengerti situasinya, tapi
dia tetap merasa harus menanyakannya.
Bagaimanapun,
meski mereka tidak berada dalam satu parti yang sama, mereka adalah rekan
petualang yang pernah berjuang bersama. Tentu saja sedih rasanya jika mendengar
rekan sendiri akan berpisah jauh.
"Terima
kasih, Liliera. Tapi aku harus selalu berada di sisi Idra-sama agar bisa
menjadi pemeran penggantinya kapan pun dibutuhkan. Jika aku pergi berpetualang,
aku mungkin tidak akan sempat kembali saat keadaan darurat. Kalau begitu,
peranku sebagai Kagemusha jadi tidak ada artinya."
"...Kamu
benar."
Ini
memang masalah yang sulit. Bagi seorang pemeran pengganti bangsawan, karena
kita tidak pernah tahu kapan sesuatu akan terjadi, biasanya disiapkan beberapa
orang pengganti sekaligus. Bahkan ada negara yang sampai menggunakan Golem
super canggih sebagai pemeran pengganti.
"Ah,
benar juga. Bagaimana kalau kita siapkan pemeran pengganti berupa Golem
saja?"
Tiba-tiba aku
teringat hal itu dan mengusulkannya kepada semua orang.
"""""Eh?"""""
"Anu,
Rex-sama. Apa yang Anda maksud dengan pemeran pengganti Golem?"
Idra-sama
bertanya dengan wajah bengong setelah mendengar perkataanku. Kurasa penggunaan
Golem sebagai pemeran pengganti cukup terkenal di kalangan bangsawan... ah, Idra-sama
adalah putri yang selalu dilindungi, jadi mungkin dia justru tidak tahu soal
itu.
"Di antara
para Golem, ada jenis yang sangat halus dan presisi yang biasa digunakan
sebagai pemeran pengganti kaum bangsawan."
"Be-benarkah ada yang seperti itu!?"
"Tunggu!? Aku tidak pernah dengar ada Golem semacam
itu!? Apa itu jauh lebih canggih daripada Golem tempo hari!?"
Mina bertanya dengan tubuh condong ke depan. Aduh, biarpun
kamu tertarik dengan teknologi sihir baru, jangan terlalu bersemangat begitu
dong.
"Iya, meski butuh bahan langka dan sedikit usaha lebih,
membuat Golem yang bisa bergerak semirip aslinya untuk menjadi pemeran
pengganti itu sangat mungkin dilakukan."
""""Itu pasti tidak 'sedikit' atau
'sekadar usaha' saja bagi orang normal!""""
Ahaha, tidak juga, kok.
"Ta-tapi, kurasa mustahil membuat Golem yang bisa
bertingkah laku persis sepertiku... maksudku Idra-sama. Kurasa Golem tidak akan bisa melakukan percakapan
yang rumit."
Itu ada benarnya.
Jika ada bahan dan waktu, hal itu mungkin saja dilakukan, tapi saat ini aku
tidak punya bahan yang cukup untuk itu.
"Ah, tapi
kalau tidak harus tipe mandiri, aku bisa membuatkan tipe Golem yang
dikendalikan oleh pengguna melalui Magic Item."
"""""Magic
Item untuk pengendalian?"""""
"Iya. Golem
yang bisa digerakkan persis seperti tubuh sendiri, seolah-olah penggunanya
benar-benar berada di tempat Golem itu berada."
""""Teknologi
super macam apa itu!? Boy!""""
"Anu,
begini saja. Kebetulan aku masih punya sisa bahan Golem yang kubuat di Dragonia
tempo hari, ayo kita coba sedikit eksperimen."
""""Sisa
bahan!? Kamu pikir itu sisa makan malam!? Boy!""""
Aku mengeluarkan
Golem tipe zirah dari kantong sihir, bersama dengan alat penghenti darurat.
Golem ini kubuat karena kualitas bahannya agak kurang bagus, jadi alat ini
disiapkan untuk berjaga-jaga seandainya dia mengamuk.
"Aku akan
memodifikasi alat penghenti darurat ini menjadi alat pengendali. Untuk
penglihatannya... pakai bongkahan permata mentah dari Megalo Whale saja, ya.
Tinggal dipahat sedikit... hmm, yah, karena ini cuma percobaan, bagian ini
dikerjakan seadanya saja."
"Ma-Magic Item sedang dibuat dengan 'seadanya'..."
"Te-tenanglah,
Mina. Inilah 'Kualitas Rex-san'. Jika kita membandingkannya dengan akal sehat
kita, kita hanya akan lelah sendiri..."
"Ooh, hebat
benar Kakak! Aku tidak mengerti apa yang kamu lakukan, tapi bisa memodifikasi
Magic Item semudah itu benar-benar hebat!"
"Wah, ternyata memodifikasi Magic Item itu mudah,
ya."
"Idra-sama,
itu terlihat mudah hanya karena dilakukan oleh Rex. Biasanya itu
mustahil."
"Nah, sudah
jadi! Silakan Idra-sama, coba gunakan ini untuk menggerakkan Golem-nya."
Karena Magic Item
pengendali untuk uji coba sudah selesai, mari kita minta Idra-sama mencobanya.
"Bagaimana
cara menggunakannya?"
"Pertama,
pasangkan kristal visual dari permata mentah ini di kepala Anda. Lalu, tekan
bagian ini pada alat pengendalinya..."
"Ya ampun!
Ada diriku di depanku!?"
Begitu Golem
diaktifkan, Idra-sama terkejut karena bisa melihat sosok dirinya sendiri. Ya,
soalnya aku menempatkan Golem itu tepat di depan Idra-sama.
"Silakan
coba gerakkan Golem-nya. Jika Anda menggerakkan bagian ini, dia akan bergerak
ke kiri dan ke kanan."
"Be-begini,
ya!"
Setelah aku
ajarkan cara pengoperasiannya, Idra-sama mulai menggerakkan Golem tersebut
dengan kaku.
"He-hebat!
Rasanya seperti punya dua tubuh!"
Idra-sama berseru
kegirangan saat pertama kali mengendalikan Golem.
"Ini cuma
barang darurat untuk percobaan, tapi jika Anda memberiku sedikit waktu lagi,
aku bisa membuatnya bergerak dengan sensasi yang jauh lebih mendekati tubuh
asli."
"Luar biasa,
Rex-sama! Anu, misalnya, ini cuma permisalan saja, tapi apakah mungkin
membuatkan Golem untuk 'penyamaran' agar aku bisa berjalan-jalan di dunia luar
sementara diriku yang asli tetap berada di kastel!?"
Idra-sama yang
mulai tertarik dengan Golem tipe kendali ini tampak sangat antusias.
"Iya. Jika
alat pemancar pengendalinya diganti dengan tipe jarak jauh, itu sangat mungkin
dilakukan."
"Ka-kalau
begitu, tolong buatkan untukku! Golem pemeran penggantiku dan Golem untuk penyamaranku! Ah, untuk Golem
penyamaran, tolong buat wajahnya berbeda dariku, ya."
Idra-sama
yang sudah jatuh hati pada pesona Golem langsung memberikan pesanannya. Sebagai
putri yang biasanya tidak bisa keluar, dia pasti sangat penasaran dengan dunia
luar.
"Baiklah. Jadi dua unit Golem, ya."
Membuat Golem dengan gerakan alami yang bisa menyamar jadi
manusia, ya... sudah lama sekali, aku jadi bersemangat! Benar juga! Karena
Golem ini untuk menikmati dunia luar, aku harus memberinya ketahanan dan
kekuatan tertentu untuk perlindungan diri!
"Aku akan
memberimu imbalan apa pun yang kamu mau. Tentu saja biaya bahan di luar itu.
Benar juga! Jika mau, aku bahkan bisa memberimu gelar bangsawan!"
Idra-sama yang
tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya menyuruhku meminta apa pun selain uang
sebagai imbalan, tapi kurasa aku tidak butuh hal seperti itu.
"Tidak,
aku tidak butuh gelar bangsawan. Cukup bayar harga Golem-nya saja."
"Kenapa!? Jika kamu bisa membuat Golem sehebat itu,
negara akan menyambutmu dengan tangan terbuka!"
Justru
itu yang tidak kumau. Karena hal itulah, di kehidupanku yang sebelumnya lagi,
aku dipaksa mengerjakan tumpukan pekerjaan merepotkan sampai muak.
"Aku
tidak terlalu ingin terlibat dengan kekuasaan. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa menarik
perhatian."
Lagipula, itulah
alasanku menjadi petualang.
""""Tidak,
kurasa itu mustahil.""""
"Kyuuuu—"
Tunggu, kenapa
kalian semua langsung menyangkalnya!? Bahkan Mofumofu juga ikut-ikutan!
"Te-terlepas
dari itu, petualang adalah mereka yang mencintai kebebasan, jadi seberapa
berharga pun imbalannya, kami tidak tertarik pada hal-hal yang mengekang
kebebasan kami."
"Ya ampun!?
Rex-sama ternyata orang yang sangat rendah hati, ya!"
Idra-sama
menatapku seolah tidak percaya, namun dia menghela napas pendek dan membetulkan
sikap duduknya sambil menatapku.
"Baiklah.
Jika aku terus memaksamu menerima imbalan, itu hanya akan memperburuk kesanmu
terhadapku. Meski begitu, jika aku hanya membayar harganya saja, itu akan
memalukan nama keluarga kerajaan. Aku akan memberi bonus yang melimpah, dan aku
akan menyiapkan barang berharga yang tidak akan menjadi beban bagi Rex-sama.
Bagaimana?"
"Iya, kalau
begitu tidak apa-apa."
Negosiasi
selesai. Syukurlah tuan putrinya pengertian.
"Ah benar
juga, ada satu permintaan lagi."
"Iya,
katakan saja apa pun."
Ya, hal ini harus
kukatakan.
"Tolong
rahasiakan tentang kami, ya? Soalnya hari ini kami masuk tanpa izin."
"Oh,
benarkah? Ah, benar juga, kalian tadi masuk sambil menghilang, ya."
""""Maafkan
kami karena masuk tanpa izin.""""
Liliera-san dan
yang lainnya menundukkan kepala di sampingku.
"Fufu,
jangan dipikirkan. Kalian kan teman-temannya Megurielna. Aku tidak akan
mempermasalahkan fakta bahwa kalian telah menyusup ke kamar putri yang belum
menikah di tengah malam."
"...Lho?
Jangan-jangan kita tadi melakukan sesuatu yang sangat berbahaya?"
"Bukan cuma
sangat, tapi luar biasa berbahaya. Menyusup saja sudah parah, tapi kalau
ketahuan ada laki-laki seperti Rex dan Jairo yang masuk ke kamar tidur putri
yang belum menikah, itu sudah pasti hukumannya eksekusi mati."
Uwah, seram juga.
Ngomong-ngomong, di kehidupanku yang dulu, aku justru sering dipaksa masuk
dengan sengaja.
"Ka-kalau
begitu, ayo kita segera pulang! Kita juga sudah memastikan Meguri baik-baik
saja."
"Wah, kalian
sudah mau pulang?"
Saat kami pamit,
wajah Idra-sama tampak kesepian.
"Tujuan kami
datang ke sini karena mengkhawatirkan Meguri-san. Karena kami tahu Meguri-san
tidak dalam bahaya, kami mohon pamit. Tidak enak juga kalau kami berlama-lama
di sini."
Kalau kami
terlalu gaduh dan para ksatria penjaga menerjang masuk, itu bisa jadi gawat.
"Baiklah.
Tidak sopan juga kalau aku menahan kalian terlalu lama."
"Kalau
begitu, aku akan datang lagi setelah Golem-nya selesai."
"Iya,
aku akan menantinya."
"Meguri,
lain kali kalau mau pergi, tinggalkan pesan tertulis yang benar dulu sebelum
berangkat."
"Hm,
maaf."
"Tapi
ya sudahlah, aku lega melihat Meguri baik-baik saja."
"Benar, kami
semua sangat khawatir, tahu."
"Aku
menyesal."
Setelah selesai
berpamitan, kami pergi ke arah jendela dan saling berpegangan tangan.
"Kalau
begitu Meguri-san, jika terjadi sesuatu, datanglah kepada kami kapan
saja."
"Iya, kalau
saat itu tiba, aku mohon bantuannya."
Setelah
percakapan singkat itu, aku mengaktifkan sihir tembus pandang.
"Megurielna,
mereka menghilang lagi!"
"Iya, itu
sihir Rex."
"Sihir
memang luar biasa, ya."
Meskipun kami
masih berada tepat di depan mereka, Idra-sama membelalakkan mata karena
terkejut.
"Ayo pulang,
semuanya."
"Iya,
ayo."
Kami mengaktifkan
sihir terbang dan meluncur keluar dari jendela.
"Malam sudah benar-benar larut, ya."
"Benar, setelah merasa lega, aku jadi lapar."
"Aku juga, aku juga! Kakak, ayo kita makan sesuatu sebelum sampai rumah!"
"Boleh juga,
aku juga sudah lapar."
...Lho? Bicara
soal lapar, rasanya aku melupakan sesuatu...?
◆ Meguri ◆
"Fufu, menyusup ke kastel demi teman, mereka
benar-benar anak-anak yang hebat ya, Megurielna."
Idra-sama
bergumam riang sambil menatap ke luar jendela.
"Rex
dan yang lainnya... memang sedikit unik..."
Mendengar
ucapanku, Idra-sama berbalik dan tersenyum simpul.
"Tenang
saja. Aku akan merahasiakan tentang mereka dengan baik."
Idra-sama
melenyapkan kekhawatiranku dengan tawa. Aku harus bersyukur karena beliaulah
orang yang harus kulindungi.
"Kalau
begitu, mari kita istirahat juga."
"Kyuu!"
Tiba-tiba,
Mofumofu yang berada dalam pelukan Idra-sama meronta dan menjulurkan tubuhnya
ke arah meja. Ah, ternyata tubuh Mofumofu bisa memanjang seperti kucing.
"Lho?
Mofumofu-chan masih ingin makan camilan?"
"Kyu-kyuu!!"
Mofumofu
mengangguk setuju, lalu Idra-sama mengambil camilan dari meja dan
mendekatkannya ke mulut Mofumofu.
"Kyufuu!"
"Fufu,
makanlah yang banyak agar cepat besar, ya."
Senyum itu tampak
penuh kasih sayang layaknya seorang ibu suci, membuat hatiku terasa hangat.
"...Lho?"
Di sana, aku
menyadari ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang selama ini kulupakan karena dia
selalu ada di dekat kami.
"Mofumofu-nya
ketinggalan!"
Benar, Rex pulang
tanpa membawa kembali Mofumofu.
"Kyuu!"
◆
"Fuuh..."
Setelah keluar
dari kamar Idra-sama, aku kembali ke kamarku sendiri.
"Tidak
kusangka Jairo dan yang lainnya akan datang ke sini..."
Sejujurnya,
aku telah meremehkan betapa nekatnya Rex. Memikirkan dia berani menyusup
ke kastel tanpa mempedulikan bahaya... Yah, bukan berarti aku tidak senang,
sih... Lalu soal Mofumofu juga di luar dugaan.
Untuk sementara, karena Idra-sama sangat menyukainya, aku
akan mengirim pesan untuk memberitahu mereka agar Mofumofu tinggal di kastel
sebentar.
Nanti aku akan
mengembalikannya saat membawa Golem untuk pemeran pengganti. Yah... mungkin
Mofumofu yang sudah dimanjakan oleh Idra-sama malah tidak mau pulang.
Idra-sama tampak
sangat gembira karena masalah Golem itu, tapi aku justru merasa murung saat
memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.
"Tapi, kalau
ada Golem buatan Rex, sepertinya masalah pemeran pengganti Idra-sama akan
baik-baik saja. Walaupun Golem untuk penyamaran itu sepertinya bakal memicu
kekacauan."
Memikirkan hal
itu membuatku merasa lega sekaligus sedikit khawatir. Tapi yah, itu bukan
sesuatu yang harus kupikirkan sekarang.
Tiba-tiba, pintu
kamarku diketuk. Namun
itu bukan berasal dari kamar Idra-sama yang ada di sebelah.
Melainkan dari
pintu yang satunya lagi. Pintu yang hanya dibuka oleh orang yang memiliki
urusan denganku sebagai seorang Kagemusha.
"Silakan
masuk."
Sebelum aku
selesai menjawab, pintu sudah terbuka. Orang yang masuk adalah seseorang yang sangat
kukenal.
"Ibu..."
Sosok
yang masuk adalah ibuku. Dan,
orang ini adalah pemimpin dari para mata-mata di negara ini. Kepada Rex dan
kawan-kawan aku bilang aku adalah pengawal, tapi sebenarnya aku adalah
mata-mata.
Ibu tidak
mengatakan apa-apa dan menyentuh permata kecil yang dia keluarkan dari balik
bajunya. Itu adalah Magic Item kedap suara.
Jika alat itu
digunakan, suara tidak akan bocor ke luar radius dua meter dari alat tersebut.
Menggunakan benda itu berarti pembicaraan ini adalah sesuatu yang tidak boleh
didengar oleh Idra-sama.
"Megurielna,
tanggal untuk ritualnya sudah ditetapkan."
"!!?"
Aku sudah
tahu hal ini akan datang. Tapi tetap saja, mendengarnya secara langsung
membuatku sedikit terguncang.
"Satu minggu
lagi. Pada hari itu, semua persiapan akan selesai."
Satu minggu. Aku
tidak tahu apakah itu waktu yang lama atau singkat.
"Maafkan
aku. Kamu harus menjadi korban."
"...!?"
Aku terkejut.
Kupikir orang ini tidak punya perasaan kasih sayang antara orang tua dan anak.
Aku tidak
menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu darinya, dan sekali lagi aku
merasa terguncang.
"Saya
mengerti. Semua ini demi negara ini... kan?"
Tapi, apa
yang harus kulakukan... apa yang seharusnya kulakukan tidak akan berubah.
"Benar. Demi
menyelamatkan negara ini, tidak, demi menyelamatkan dunia. Kamu akan menjadi
tumbal untuk menyegel iblis. Karena itulah tugasmu sebagai pemilik darah
bangsawan."
"...Baik."
Benar, namaku
adalah Meguri. Tapi nama asliku adalah Megurielna... Megurielna Terra Sierra
Tion. Putri raja yang keberadaannya dihapus sejak hari dia dilahirkan hanya
untuk menjadi tumbal. Itulah identitas asliku yang sebenarnya.



Post a Comment