Chapter 180
Berlayar Menuju
Negeri Timur
Setelah menyelesaikan penyebab kekacauan Chimera Orc, kami
pun kembali ke ibu kota setelah sekian lama.
"Pakai
Gate Transfer memang praktis ya, bisa langsung sampai dalam sekejap."
"Benar-benar
cuma sekejap, sampai aku hampir lupa kalau jarak dari Kota Togai ke ibu kota
itu sebenarnya lumayan jauh."
Yah, itu
memang hal yang biasa dirasakan pengguna Gate Transfer.
"Meski
sudah sampai di ibu kota... ini kan masih pagi, jadi apa rencana kita
sekarang?" Norb-san menanyakan jadwal kami selanjutnya.
"Tentu
saja petualangan! Kita harus cepat-cepat mengumpulkan prestasi supaya bisa jadi
petualang peringkat B!" Jairo-kun mengusulkan untuk mengambil misi demi menaikkan peringkat.
"Terlepas
dari kenaikan peringkat, mencari misi memang ide bagus," sahut Mina-san.
"Nn.
Lebih baik mencari uang selagi bisa."
Sepertinya
pendapat semua orang sudah bulat setelah Meguri-san juga setuju.
"Baiklah! Ayo ke aula Guild dan cari misi!"
"""Oooo!"""
◆
Begitu sampai di Guild Petualang, tempat itu sudah penuh
sesak oleh orang-orang seperti biasanya.
"Kepadatan penduduk di ibu kota memang beda, ya,"
ujar Liliera-san.
"Benar. Kota Togai juga cukup ramai, tapi ibu kota
memang selalu sibuk dengan orang yang datang dan pergi sepanjang hari." Norb-san
menyetujui perkataan Liliera-san.
Karena jumlah misi di ibu kota jauh lebih banyak, atmosfer
di Guild-nya pun terasa lebih hidup.
"Kalau
begitu, mari kita cari misinya."
Kami pun membaur
ke dalam kerumunan untuk mencari misi. Rasanya sudah agak lama tidak berdesakan
seperti ini untuk mencari misi di pagi buta.
"Eh? Rex-san, coba lihat misi yang ini..."
Tiba-tiba, Liliera-san menunjuk ke selembar kertas misi di
bagian paling atas papan pengumuman.
"Apakah itu misi peringkat S?"
"Tapi isinya agak aneh."
Penasaran dengan keraguan Liliera-san, aku pun membaca
kertas misi tersebut.
"Pengadaan
barang di Negeri Timur yang ada di seberang laut? Kelihatannya seperti misi biasa saja."
"Justru itu
yang aneh. Kenapa isinya biasa saja?"
"Apa
maksudmu?"
Bukankah tidak
ada masalah kalau misinya biasa saja?
"Tidakkah
aneh jika mereka menetapkan peringkat S sebagai syarat, padahal isinya cuma
pengadaan barang biasa? Kalau misinya mengambil bahan langka sih aku paham.
Tapi kalau cuma ini, rasanya lebih cocok untuk peringkat D atau C."
"Seandainya
ada masalah dalam pengadaannya, biasanya misinya akan berfokus pada
penyelesaian masalah tersebut," tambah Meguri-san yang ikut bergabung
dalam percakapan.
Ah, benar juga.
Itu masuk akal.
"Kalau
dipikir-pikir, benar juga ya."
Hmm, semakin
dipikirkan, semakin aku tidak mengerti. Kalau begini...
"Mari kita
tanya alasannya di resepsionis. Karena Guild sudah menerimanya, pasti ada
alasan kuat kenapa ini jadi misi peringkat S."
Ya,
bertanya langsung adalah jalan terbaik!
"Benar
juga."
"Permisi—"
Kami
mencabut kertas misi tersebut dan membawanya ke loket resepsionis.
"Ah, Rex-san. Sudah lama tidak bertemu." Resepsionis menyapaku saat melihat
wajahku.
"Halo. Saya ingin bertanya soal misi ini."
"Oh, misi itu ya."
Begitu melihat kertas misinya, entah kenapa wajah sang
resepsionis tampak agak bingung. Apa
jangan-jangan ini misi yang merepotkan?
"Kenapa misi
pengadaan barang seperti ini syaratnya peringkat S?"
"Itulah
masalahnya. Kami juga penasaran dan sudah memastikannya. Sepertinya penyebabnya
adalah kapal-kapal yang pergi ke Negeri Timur tidak ada yang kembali."
Informasi
mengejutkan keluar dari mulut sang resepsionis.
"Kapalnya
tidak kembali?! Bukankah itu masalah besar?!" Liliera-san sampai terbelalak mendengarnya.
"Memang
benar. Kami sudah mengusulkan kepada klien agar menunggu pihak kerajaan
bertindak sampai masalahnya selesai. Namun, klien bilang dia harus segera
melakukan pengadaan karena masalah transaksi. Jadi, dia bersikeras bahwa jika
petualang peringkat S yang pergi, mereka pasti bisa mengatasi apa pun penyebab
hilangnya kapal-kapal itu dengan kekuatan fisik."
Heh,
sampai sebegitunya ingin mendapatkan barang tersebut. Klien ini pasti sedang
sangat terburu-buru.
"Tapi
apa sepadan menyewa peringkat S? Biaya misi peringkat S itu sangat mahal, belum
lagi biaya perjalanannya. Barang macam apa yang bisa memberikan keuntungan
sebesar itu setelah dipotong biaya-biaya tadi?"
"Jika
dilihat dari sisi bisnis murni mungkin aneh, tapi untuk hal yang menyangkut
nyawa seperti bahan obat, mengutamakan waktu dan mengabaikan biaya bukanlah hal
yang langka."
"Ah,
benar juga. Jika itu bahan obat, petualang peringkat S bisa dianggap sebagai
penjaga yang menyingkirkan hambatan di jalan."
Bahan obat, ya.
Di kehidupanku yang sebelumnya, aku juga sering menerima pekerjaan karena
alasan seperti itu. Meski setelahnya biasanya banyak masalah merepotkan yang
mengekor.
"Lagi pula,
biaya misi dan administrasinya sudah dibayar di muka, jadi ini bukan sekadar
iseng. Memang ada kemungkinan informasi disembunyikan dengan niat jahat, tapi
mengingat rata-rata imbalan peringkat S, kurasa Anda tidak akan rugi."
Begitu ya,
ternyata untuk mengajukan misi ke Guild Petualang, imbalan dan biayanya harus
dibayar lebih dulu.
"Hanya saja,
kebetulan semua petualang peringkat S lainnya sedang pergi menjalankan misi di
tempat jauh. Kami bingung karena tidak ada yang bisa menerima misi ini, jadi
saya senang sekali Rex-san tertarik."
Resepsionis itu
tersenyum manis, tapi secara tersirat dia memintaku untuk menerimanya.
"Hmm, meski
agak tidak biasa, ini tetap misi peringkat S. Imbalannya sudah ada di Guild,
jadi tidak perlu khawatir soal penipuan."
"Tapi Negeri
Timur itu jauh sekali, kan? Perjalanan pulang-perginya akan memakan banyak
waktu. Karena naik kapal, kita bergantung pada angin. Masalahnya, kita tidak
bisa mengambil pekerjaan lain selama itu."
Ah, benar. Karena
tujuannya jauh, anggarannya juga pasti besar. Bagaimana soal itu? Apa
kami harus membayar sendiri? Atau biayanya bisa diklaim belakangan?
"Mengenai hal itu, biaya penginapan, makan, kereta
kuda, hingga biaya kapal selama di sana sudah dititipkan sebagai biaya
operasional. Sisa uangnya pun boleh diambil sebagai tambahan imbalan."
Bisa mengambil sisa uangnya juga?! Luar biasa.
"Wah, dermawan sekali. Mungkin kliennya bangsawan kaya
raya." Mendengar sisa uang bisa diambil, Meguri-san mulai berimajinasi
bahwa kliennya adalah orang yang sangat kaya.
"Saya tidak berwenang menjawab soal itu... Selain itu, karena masalah pengadaan, ada
kemungkinan butuh waktu sampai barangnya diterima di sana. Biaya
penginapan yang dititipkan sudah termasuk biaya tambahan jika terjadi
keterlambatan."
"Terlalu sempurna sampai-sampai malah jadi
mencurigakan," gumam Liliera-san.
"Mengingat
ini misi peringkat S, aku mencium bau masalah."
Karena
fasilitasnya terlalu bagus, semua orang malah jadi waspada. Memang sih, kalau
dipikir-pikir ini terlalu menguntungkan.
"Memang
benar. Tapi ini kan misi untuk peringkat S..."
"""Peringkat
S..."""
Eh? Kenapa semua
orang menatap wajahku?
"Kalau
peringkat S yang itu, kurasa meski ada rahasia pun pasti bakal tetap
beres."
"Kebetulan
sekali. Aku juga merasa kalau peringkat S yang itu, meski kliennya
merencanakan sesuatu, pasti akan baik-baik saja."
Peringkat S yang itu?
Apa maksud mereka Rody-san dan kawan-kawan yang hebat dalam kerja sama tim?
Atau Ramis-san yang ahli sihir?
"""Boleh
juga kan?"""
Aku tidak terlalu
paham, tapi sepertinya semua orang bersemangat untuk menerima misi ini.
Syaratnya bagus, dan aku pun tidak punya alasan khusus untuk menolaknya.
"Ah!"
Tiba-tiba
Jairo-kun berteriak keras.
"Ada apa,
Jairo-kun?"
"Setelah
kupikir lagi, ini kan misi peringkat S, jadi kami tidak bisa ikut!"
"""Ah..."""
Benar juga.
Petualang tidak boleh mengambil misi yang peringkatnya terlalu jauh di atas
peringkat mereka sendiri.
Bahkan jika
didampingi petualang peringkat tinggi, terkadang ada batas peringkat minimum
seperti saat di reruntuhan tambang waktu itu.
"Oh, soal itu tidak masalah. Syarat misi ini hanyalah
harus ada petualang peringkat S di dalam anggota tim."
"Eh?"
"Ah, benar. Tertulis di sini: syaratnya minimal ada
satu petualang peringkat S di dalam anggota, dan diharapkan anggota lainnya
juga berperingkat tinggi."
"Kalau
cuma 'diharapkan', berarti tidak harus kan! Berarti tidak masalah!" Mata
Jairo-kun berbinar setelah memastikan detail syaratnya bahwa mereka bisa ikut
pergi bersama.
"Ayo pergi,
Kak! Kalau misi khusus peringkat S, pasti hebat! Aku ingin melihat Kakak bertarung dari
dekat!"
"Melihatku
bertarung? Tapi bukannya kalian selalu melihatnya?"
"Beda,
Kak! Ini misi yang ditujukan langsung untuk peringkat S! Bukan misi paksaan dari Guild atau kejadian yang
kebetulan kita temui di tengah jalan seperti biasanya!"
"Eh? Ah,
benar juga."
Memang benar,
sejak menjadi peringkat S, pekerjaan atau pertarungan yang kulakukan semuanya
adalah permintaan langsung dari Guild atau karena kebetulan terlibat dalam
perjalanan.
Ini mungkin
pertama kalinya aku menerima misi yang memang sejak awal kliennya menentukan
syarat peringkat S.
"Benar.
Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku melihat misi dengan standar
penerimaan peringkat S."
"Kan?
Makanya kalau kita ambil misi ini, kita bisa tahu seperti apa pekerjaan
petualang peringkat S biasanya! Melihat cara kerja Kakak akan jadi referensi
buatku saat aku jadi peringkat S nanti!"
Begitu ya, kalau
dipikir seperti itu, menerima misi ini mungkin ada gunanya.
Aku bisa
merasakan pengalaman misi peringkat S yang normal, dan jika itu bisa jadi
pelajaran buat Jairo-kun, maka misi ini layak diambil. Lagipula, perjalanan
kapal dengan biaya ditanggung itu tidak buruk.
"Ya, boleh
juga."
Habisnya, di
kehidupanku yang dulu-dulu, perjalanan jauh biasanya menggunakan kapal terbang
atau Gate Transfer. Perjalanan laut yang memakan waktu lama hanyalah hobi mewah
bagi segelintir orang kaya.
Aku memang pernah
naik kapal Good Loser, tapi itu kapal perang murni yang jauh dari kata kapal
penumpang, apalagi waktu itu aku sedang bekerja untuk menyelidiki monster.
Tapi kali ini,
meski tetap dalam rangka misi, jika kami naik kapal penumpang maka urusan
pertarungan akan ditangani oleh kru kapal atau penjaga khusus. Sebagai
penumpang, kami tidak perlu bertarung.
Ya, sepertinya
aku bisa menikmati perjalanan laut ini dengan tenang! Mengingat ini mendesak,
perjalanan berangkat mungkin tidak bisa dihindari, tapi saat pulang kita bisa
pakai Gate Transfer untuk memangkas waktu.
"Perjalanan
laut, aku jadi tidak sabar."
"Entah
kenapa, aku baru saja merasakan firasat buruk soal bencana."
"Aku
juga."
"Aku
juga."
"Aku
juga."
"Saya
juga."
"Kyu-kyuu!"
Eh? Kenapa sih?
"Pokoknya,
aku putuskan untuk menerima misi ini!" Aku menyatakan penerimaan misi
tersebut kepada resepsionis.
"Baik,
penerimaan misi telah dikonfirmasi."
Baiklah! Ayo
berpetualang ke seberang lautan!
◆
Setelah tiba di
pelabuhan menggunakan sihir terbang, kami segera mencari kapal yang menuju ke
Negeri Timur.
"Permisi,
saya sedang mencari kapal yang menuju ke Negeri Timur."
Pertama-tama, aku
mencoba bertanya pada kru kapal yang sedang bekerja di dekat sana.
"Hah? Negeri
Timur?"
Kru kapal itu
menatap kami dengan tatapan curiga, tapi kemudian menyeringai.
"Kalian
petualang?"
"Iya!"
"Kalau
begitu, kapal ketiga di sebelah sana. Bilang saja kalian dapat info dari Sigu."
"Terima
kasih!"
"Berhati-hatilah—"
Setelah
berterima kasih, kami menuju dermaga.
"Untung
orangnya baik ya."
"Tapi,
bagaimana ya, seringainya tadi terasa tidak enak," ujar Liliera-san.
"Ah,
aku paham. Rasanya mereka menatap kita dengan pandangan yang aneh."
"..."
Entah kenapa Liliera-san
dan Mina-san memberikan penilaian buruk pada mereka.
"Pria laut
memang sering terlihat galak karena ditempa oleh pekerjaan mereka. Lagipula,
mereka perlu bersikap tegas agar tidak diremehkan oleh bajak laut atau
monster."
Benar juga,
kapten kapal yang kukenal di kehidupanku sebelumnya sering mengeluh karena
wajahnya terlalu seram sampai sering disangka bajak laut.
Padahal aslinya
dia orang yang sangat sederhana dan suka bunga. Dia bahkan punya kebun botani
yang berisi bunga-bunga langka dari seluruh dunia di markasnya.
Yah, gara-gara
hobi itu dia sampai mengoleksi tanaman berbahaya dan hampir saja ditangkap sih.
Entah bagaimana nasib kebun itu sekarang.
Sesuai instruksi
Sigu-san, aku sampai di kapal ketiga dan menyapa kru yang sedang bekerja di
dekat sana.
"Permisi.
Saya direkomendasikan oleh seseorang bernama Sigu-san. Apa benar ini kapal yang
menuju Negeri Timur?"
"Dari
Sigu?"
Begitu mendengar
nama Sigu-san, para kru saling pandang lalu mengangguk dengan senyum yang
terasa mengintimidasi.
"Ouh!
Benar, ini kapal yang menuju Negeri Timur!"
"Kami juga
ingin ke Negeri Timur, apa masih bisa naik?"
"Oh, tentu
saja. Kalian beruntung."
"Beruntung?"
Aku memiringkan kepala mendengar kata beruntung itu.
"Ya,
sebenarnya kami baru saja akan berlayar. Negeri Timur itu jauh, jadi jarang ada
kapal yang ke sana. Kalau ketinggalan kapal ini, entah kapan lagi ada kapal
lain yang menuju ke sana."
Begitu
ya, ternyata bukan jadwal pelayaran reguler. Hmm, kalau begitu benar-benar
pilihan tepat untuk langsung terbang ke sini.
"Kalau
mau naik, bayar sepuluh keping perak."
"Baiklah."
Kami
membayar sepuluh keping perak kepada kru tersebut lalu naik ke atas geladak.
"Kapten,
ada penumpang."
Dipanggil
oleh kru, seorang pria berpakaian kapten yang berdiri di geladak menoleh ke
arah kami. Ohh, penampilannya benar-benar terasa seperti seorang kapten.
Badannya kekar khas pria laut.
"Hoo,
jarang sekali. Penumpang ya?"
"Mereka
bilang ingin ke Negeri Timur bersama kita."
"Ke
Negeri Timur? Berani sekali kalian!"
"Berani...
maksudnya?"
"Ya,
belakangan ini di kalangan pelaut sedang ramai dibicarakan soal kapal-kapal
yang ke sana tidak pernah kembali."
Ah, itu
berita yang kami dengar di Guild tadi.
"Ingin
pergi ke laut berbahaya seperti itu, kalian benar-benar tidak sayang nyawa
ya."
"Ini adalah misi dari Guild Petualang."
"Misi?" Kapten itu memandang kami satu per satu.
"Begitu
ya, memang pakaian petualang. Yah, selama kalian percaya diri dengan kemampuan kalian sih boleh saja.
Tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Kalau kalian jatuh dari
kapal, aku tidak akan menolong kalian!"
"Heh, itu
kalimat kami! Paman sendiri jangan sampai diserang monster lalu jatuh ke laut
ya! Yah, kalau jatuh sih pasti bakal kami tolong!" Jairo-kun membalas
provokasi sang kapten.
"Hahahaha!
Menolong pria laut sepertiku?! Aku suka gayamu, Bocah!"
Aku sempat merasa
was-was, tapi sepertinya kapten itu menyukai sikap Jairo-kun dan tertawa
terbahak-bahak.
"Kapten,
persiapan berlayar sudah selesai!"
"Baik! Ayo
berangkat—!"
Kapal
mulai menurunkan layar dan bergerak meninggalkan pelabuhan. Namun, melihat
pemandangan itu, aku merasakan sesuatu yang janggal.
"Eh?
Layar paling depan kok tidak diturunkan?"
Kenapa
ya? Apa ada peraturan di dekat pelabuhan tidak boleh berlayar dengan semua
layar diturunkan?
◆
Kapal perlahan
meninggalkan daratan dan semakin jauh menuju laut lepas. Hmm, suasana santai
ini... benar-benar tidak bisa dirasakan kalau sedang bertugas waspada di
perjalanan kapal biasanya!
"Nah, kurasa
sudah cukup."
Begitu daratan
sudah terlihat sangat kecil, sang kapten bergumam.
"Hehehehehe."
Entah kenapa para
kru di sekitar mulai tertawa senang.
"Ada
apa?"
"Hehehe,
sepertinya kalian belum sadar juga."
Belum sadar? Soal
apa?
"Akan
kuberitahu! Hei kalian, turunkan layarnya!"
"""Oooo!!"""
Atas perintah
kapten, layar depan diturunkan, dan dari balik kain putih bersih itu muncul
gambar tengkorak berwarna hitam pekat.
"G-Gambar
tengkorak?!"
Melihat
gambar tengkorak yang terlukis di sana, semua orang berteriak kaget.
"Gahahaha!
Selamat datang di kapal Kelompok Bajak Laut Doreld! Bocah-bocah bodoh!"
Di saat
yang sama, para kru yang memegang pedang mengepung kami.
"Bajak laut?
Kapten, apa maksudnya ini?"
"Gahahaha,
kalian sudah diculik oleh bajak laut tahu!"
"Diculik?!"
Kapten memanggul pedangnya di bahu sambil menyeringai senang.
"Anda menipu
kami?!"
"Tepat
sekali. Apa kau pikir tugas bajak laut cuma menyerang kapal lain? Bocah."
D-Dan orang yang
muncul di sana adalah kru yang tadi memberi tahu kami lokasi kapal, kalau tidak
salah namanya Sigu-san.
"Anda juga
komplotannya?"
"Hehe, tugas
bajak laut itu termasuk menculik bocah-bocah naif seperti kalian."
"Kukuku,
maaf ya kalian baru saja jadi petualang dengan mimpi dan harapan besar, tapi
petualangan kalian berakhir di sini!"
Para kru mulai
mendekat perlahan sambil menyiapkan senjata dan mengoceh sesuka hati.
"Jadi soal
pergi ke Negeri Timur itu bohong ya."
"Tentu saja!
Siapa yang mau pergi ke tempat dengan rumor mengerikan seperti itu? Lebih
menghasilkan uang menculik orang dan membajak di perairan dekat sini!"
Gawat,
ternyata bahkan soal ke Negeri Timur pun bohong.
"Buang
senjata kalian dan menyerahlah dengan tenang. Dengan begitu kalian tidak perlu merasakan
sakit."
"Hehe,
peralatan mereka lumayan bagus juga. Jangan-jangan mereka anak bangsawan?"
"Kalau
begitu uang tebusannya bakal banyak nih. Yah, meski dapat uangnya sih aku tidak
berniat mengembalikan mereka."
"Setelah itu
kita jual jadi budak!"
"Tenang
saja, nona-nona cantik di sana kalau menurut pasti akan disayang oleh majikan
barunya. Kalian para bocah laki-laki juga bakal berguna sebagai tenaga kerja
muda."
Sepertinya
mereka berniat menjual kami sebagai budak.
"Oh,
bocah yang di sana itu laki-laki tapi sepertinya bakal laku dibeli tuan-tuan
yang punya selera khusus?"
"Hiiii!"
Norb-san memekik ngeri karena ditatap dengan pandangan menjijikkan oleh salah
satu bajak laut.
"Semuanya,
hati-hati!" Aku memperingatkan teman-temanku.
Berani
menunjukkan identitas asli di tempat yang masih dekat dengan daratan seperti
ini, para bajak laut ini pasti sangat percaya diri dengan kemampuan mereka.
Biasanya, kalau
menyerang mangsa di tempat yang masih terlihat daratan, orang akan mengirim
sinyal sihir ke darat dan langsung ketahuan oleh ksatria.
Lalu para ksatria
akan menyerang dari udara dan laut, melubangi lambung kapal agar tidak bisa
kabur, lalu menangkap mereka. Bahkan jika menyandera orang, tanpa kapal mereka
harus kembali ke darat, dan sebelum itu biasanya sudah dilumpuhkan dengan
sihir.
Tapi karena
mereka berani mengabaikan teori dasar itu, masuk akal untuk menganggap bahwa
kecuali mereka benar-benar bodoh, mereka pasti punya cara untuk mengatasi
hal-hal tersebut.
Aku tidak tahu
trik apa yang akan mereka gunakan. Ini berbahaya kalau tidak bertarung dengan
waspada!
◆
"...Kami
minta maaf."
"Tolong
ampuni nyawa kami."
"""Mohon
bantuannya!"""
"Gaji-gaji
kyuuu!"
"Terus,
tolong bilangin makhluk ini buat berhenti gigit kakiku dong..."
Kira-kira
begitulah, tapi ternyata pertarungannya berakhir jauh lebih cepat dari dugaan. Malah, salah satu dari mereka menangis
karena kakinya digigiti oleh si makhluk berbulu.
"Eh?
Lho?"
Apa
orang-orang ini benar-benar menyerah?
"Kami akan
antar kalian ke Negeri Timur atau ke mana pun, jadi tolong ampuni kami."
Melihat sikap
kapten dan krunya, mereka sepertinya tidak sedang pura-pura lemah untuk
menjebak kami. Lagi pula kalau mau menjebak, kenapa harus repot-repot
membongkar identitas asli sejak awal?
"Sudah
kuduga bakal begini."
Aku terkejut
mendengar Meguri-san bergumam pelan.
"Eh?! Apa
Meguri-san sudah sadar dari tadi?"
Apa Meguri-san
tahu mereka bajak laut tapi diam saja?! Kenapa?!
"Ano, Begitu lihat wajah kru-nya, langsung tahu. Wajah penjahat. Tapi karena sudah kelihatan bakal berakhir begini, dan kupikir kalau kita main cantik kita bisa dapat tumpangan kapal gratis, jadi aku diam saja."
"Jadi
gara-gara itu kamu diam saja?! Mau bagaimanapun, itu terlalu berbahaya, tahu!"
"Benar,
Meguri. Meskipun kita bisa terbang, tidak memberi tahu rekan sendiri itu
benar-benar keterlaluan," tambah Liliera-san.
"Betul!
Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada kami atau kapalnya?!" seru
Mina-san.
Eh, tunggu
sebentar? Kok rasanya kekhawatiran Liliera-san dan Mina-san agak sedikit
melenceng ya?
"Padahal aku
berharap mereka bisa memberi perlawanan yang lebih seru," keluh Jairo-kun.
"Jairo-kun,
masalahnya bukan di situ!"
Sengaja
diam saat akan diserang hanya demi menghemat biaya kapal... itu benar-benar
terlalu berisiko. Semuanya ikut menyalahkan Meguri-san, tapi yang bersangkutan
malah tampak cuek saja.
"Lagipula,
mana mungkin Rex kalah dari bajak laut biasa. Kalau mereka sanggup mengalahkan
Rex yang bisa membantai naga dan iblis sendirian, lebih baik mereka jadi
petualang peringkat S saja dengan kekuatan itu. Penghasilannya jauh lebih
besar."
Tidak, tidak, itu
berlebihan! Tidak mungkin semua orang bakal setuju dengan alasan seperti itu!
"""Ah—ada
benarnya juga."""
...Eh, kupikir
tidak bakal berhasil, tapi entah kenapa semuanya malah manggut-manggut setuju
dengan logika aneh Meguri-san.
"Tunggu dulu! Kenapa kalian semua malah setuju dengan alasan itu sih—?!"



Post a Comment