NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 1

Chapter 180

Berlayar Menuju Negeri Timur


Setelah menyelesaikan penyebab kekacauan Chimera Orc, kami pun kembali ke ibu kota setelah sekian lama.

"Pakai Gate Transfer memang praktis ya, bisa langsung sampai dalam sekejap."

"Benar-benar cuma sekejap, sampai aku hampir lupa kalau jarak dari Kota Togai ke ibu kota itu sebenarnya lumayan jauh."

Yah, itu memang hal yang biasa dirasakan pengguna Gate Transfer.

"Meski sudah sampai di ibu kota... ini kan masih pagi, jadi apa rencana kita sekarang?" Norb-san menanyakan jadwal kami selanjutnya.

"Tentu saja petualangan! Kita harus cepat-cepat mengumpulkan prestasi supaya bisa jadi petualang peringkat B!" Jairo-kun mengusulkan untuk mengambil misi demi menaikkan peringkat.

"Terlepas dari kenaikan peringkat, mencari misi memang ide bagus," sahut Mina-san.

"Nn. Lebih baik mencari uang selagi bisa."

Sepertinya pendapat semua orang sudah bulat setelah Meguri-san juga setuju.

"Baiklah! Ayo ke aula Guild dan cari misi!"

"""Oooo!"""

Begitu sampai di Guild Petualang, tempat itu sudah penuh sesak oleh orang-orang seperti biasanya.

"Kepadatan penduduk di ibu kota memang beda, ya," ujar Liliera-san.

"Benar. Kota Togai juga cukup ramai, tapi ibu kota memang selalu sibuk dengan orang yang datang dan pergi sepanjang hari." Norb-san menyetujui perkataan Liliera-san.

Karena jumlah misi di ibu kota jauh lebih banyak, atmosfer di Guild-nya pun terasa lebih hidup.

"Kalau begitu, mari kita cari misinya."

Kami pun membaur ke dalam kerumunan untuk mencari misi. Rasanya sudah agak lama tidak berdesakan seperti ini untuk mencari misi di pagi buta.

"Eh? Rex-san, coba lihat misi yang ini..."

Tiba-tiba, Liliera-san menunjuk ke selembar kertas misi di bagian paling atas papan pengumuman.

"Apakah itu misi peringkat S?"

"Tapi isinya agak aneh."

Penasaran dengan keraguan Liliera-san, aku pun membaca kertas misi tersebut.

"Pengadaan barang di Negeri Timur yang ada di seberang laut? Kelihatannya seperti misi biasa saja."

"Justru itu yang aneh. Kenapa isinya biasa saja?"

"Apa maksudmu?"

Bukankah tidak ada masalah kalau misinya biasa saja?

"Tidakkah aneh jika mereka menetapkan peringkat S sebagai syarat, padahal isinya cuma pengadaan barang biasa? Kalau misinya mengambil bahan langka sih aku paham. Tapi kalau cuma ini, rasanya lebih cocok untuk peringkat D atau C."

"Seandainya ada masalah dalam pengadaannya, biasanya misinya akan berfokus pada penyelesaian masalah tersebut," tambah Meguri-san yang ikut bergabung dalam percakapan.

Ah, benar juga. Itu masuk akal.

"Kalau dipikir-pikir, benar juga ya."

Hmm, semakin dipikirkan, semakin aku tidak mengerti. Kalau begini...

"Mari kita tanya alasannya di resepsionis. Karena Guild sudah menerimanya, pasti ada alasan kuat kenapa ini jadi misi peringkat S."

Ya, bertanya langsung adalah jalan terbaik!

"Benar juga."

"Permisi—"

Kami mencabut kertas misi tersebut dan membawanya ke loket resepsionis.

"Ah, Rex-san. Sudah lama tidak bertemu." Resepsionis menyapaku saat melihat wajahku.

"Halo. Saya ingin bertanya soal misi ini."

"Oh, misi itu ya."

Begitu melihat kertas misinya, entah kenapa wajah sang resepsionis tampak agak bingung. Apa jangan-jangan ini misi yang merepotkan?

"Kenapa misi pengadaan barang seperti ini syaratnya peringkat S?"

"Itulah masalahnya. Kami juga penasaran dan sudah memastikannya. Sepertinya penyebabnya adalah kapal-kapal yang pergi ke Negeri Timur tidak ada yang kembali."

Informasi mengejutkan keluar dari mulut sang resepsionis.

"Kapalnya tidak kembali?! Bukankah itu masalah besar?!" Liliera-san sampai terbelalak mendengarnya.

"Memang benar. Kami sudah mengusulkan kepada klien agar menunggu pihak kerajaan bertindak sampai masalahnya selesai. Namun, klien bilang dia harus segera melakukan pengadaan karena masalah transaksi. Jadi, dia bersikeras bahwa jika petualang peringkat S yang pergi, mereka pasti bisa mengatasi apa pun penyebab hilangnya kapal-kapal itu dengan kekuatan fisik."

Heh, sampai sebegitunya ingin mendapatkan barang tersebut. Klien ini pasti sedang sangat terburu-buru.

"Tapi apa sepadan menyewa peringkat S? Biaya misi peringkat S itu sangat mahal, belum lagi biaya perjalanannya. Barang macam apa yang bisa memberikan keuntungan sebesar itu setelah dipotong biaya-biaya tadi?"

"Jika dilihat dari sisi bisnis murni mungkin aneh, tapi untuk hal yang menyangkut nyawa seperti bahan obat, mengutamakan waktu dan mengabaikan biaya bukanlah hal yang langka."

"Ah, benar juga. Jika itu bahan obat, petualang peringkat S bisa dianggap sebagai penjaga yang menyingkirkan hambatan di jalan."

Bahan obat, ya. Di kehidupanku yang sebelumnya, aku juga sering menerima pekerjaan karena alasan seperti itu. Meski setelahnya biasanya banyak masalah merepotkan yang mengekor.

"Lagi pula, biaya misi dan administrasinya sudah dibayar di muka, jadi ini bukan sekadar iseng. Memang ada kemungkinan informasi disembunyikan dengan niat jahat, tapi mengingat rata-rata imbalan peringkat S, kurasa Anda tidak akan rugi."

Begitu ya, ternyata untuk mengajukan misi ke Guild Petualang, imbalan dan biayanya harus dibayar lebih dulu.

"Hanya saja, kebetulan semua petualang peringkat S lainnya sedang pergi menjalankan misi di tempat jauh. Kami bingung karena tidak ada yang bisa menerima misi ini, jadi saya senang sekali Rex-san tertarik."

Resepsionis itu tersenyum manis, tapi secara tersirat dia memintaku untuk menerimanya.

"Hmm, meski agak tidak biasa, ini tetap misi peringkat S. Imbalannya sudah ada di Guild, jadi tidak perlu khawatir soal penipuan."

"Tapi Negeri Timur itu jauh sekali, kan? Perjalanan pulang-perginya akan memakan banyak waktu. Karena naik kapal, kita bergantung pada angin. Masalahnya, kita tidak bisa mengambil pekerjaan lain selama itu."

Ah, benar. Karena tujuannya jauh, anggarannya juga pasti besar. Bagaimana soal itu? Apa kami harus membayar sendiri? Atau biayanya bisa diklaim belakangan?

"Mengenai hal itu, biaya penginapan, makan, kereta kuda, hingga biaya kapal selama di sana sudah dititipkan sebagai biaya operasional. Sisa uangnya pun boleh diambil sebagai tambahan imbalan."

Bisa mengambil sisa uangnya juga?! Luar biasa.

"Wah, dermawan sekali. Mungkin kliennya bangsawan kaya raya." Mendengar sisa uang bisa diambil, Meguri-san mulai berimajinasi bahwa kliennya adalah orang yang sangat kaya.

"Saya tidak berwenang menjawab soal itu... Selain itu, karena masalah pengadaan, ada kemungkinan butuh waktu sampai barangnya diterima di sana. Biaya penginapan yang dititipkan sudah termasuk biaya tambahan jika terjadi keterlambatan."

"Terlalu sempurna sampai-sampai malah jadi mencurigakan," gumam Liliera-san.

"Mengingat ini misi peringkat S, aku mencium bau masalah."

Karena fasilitasnya terlalu bagus, semua orang malah jadi waspada. Memang sih, kalau dipikir-pikir ini terlalu menguntungkan.

"Memang benar. Tapi ini kan misi untuk peringkat S..."

"""Peringkat S..."""

Eh? Kenapa semua orang menatap wajahku?

"Kalau peringkat S yang itu, kurasa meski ada rahasia pun pasti bakal tetap beres."

"Kebetulan sekali. Aku juga merasa kalau peringkat S yang itu, meski kliennya merencanakan sesuatu, pasti akan baik-baik saja."

Peringkat S yang itu? Apa maksud mereka Rody-san dan kawan-kawan yang hebat dalam kerja sama tim? Atau Ramis-san yang ahli sihir?

"""Boleh juga kan?"""

Aku tidak terlalu paham, tapi sepertinya semua orang bersemangat untuk menerima misi ini. Syaratnya bagus, dan aku pun tidak punya alasan khusus untuk menolaknya.

"Ah!"

Tiba-tiba Jairo-kun berteriak keras.

"Ada apa, Jairo-kun?"

"Setelah kupikir lagi, ini kan misi peringkat S, jadi kami tidak bisa ikut!"

"""Ah..."""

Benar juga. Petualang tidak boleh mengambil misi yang peringkatnya terlalu jauh di atas peringkat mereka sendiri.

Bahkan jika didampingi petualang peringkat tinggi, terkadang ada batas peringkat minimum seperti saat di reruntuhan tambang waktu itu.

"Oh, soal itu tidak masalah. Syarat misi ini hanyalah harus ada petualang peringkat S di dalam anggota tim."

"Eh?"

"Ah, benar. Tertulis di sini: syaratnya minimal ada satu petualang peringkat S di dalam anggota, dan diharapkan anggota lainnya juga berperingkat tinggi."

"Kalau cuma 'diharapkan', berarti tidak harus kan! Berarti tidak masalah!" Mata Jairo-kun berbinar setelah memastikan detail syaratnya bahwa mereka bisa ikut pergi bersama.

"Ayo pergi, Kak! Kalau misi khusus peringkat S, pasti hebat! Aku ingin melihat Kakak bertarung dari dekat!"

"Melihatku bertarung? Tapi bukannya kalian selalu melihatnya?"

"Beda, Kak! Ini misi yang ditujukan langsung untuk peringkat S! Bukan misi paksaan dari Guild atau kejadian yang kebetulan kita temui di tengah jalan seperti biasanya!"

"Eh? Ah, benar juga."

Memang benar, sejak menjadi peringkat S, pekerjaan atau pertarungan yang kulakukan semuanya adalah permintaan langsung dari Guild atau karena kebetulan terlibat dalam perjalanan.

Ini mungkin pertama kalinya aku menerima misi yang memang sejak awal kliennya menentukan syarat peringkat S.

"Benar. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku melihat misi dengan standar penerimaan peringkat S."

"Kan? Makanya kalau kita ambil misi ini, kita bisa tahu seperti apa pekerjaan petualang peringkat S biasanya! Melihat cara kerja Kakak akan jadi referensi buatku saat aku jadi peringkat S nanti!"

Begitu ya, kalau dipikir seperti itu, menerima misi ini mungkin ada gunanya.

Aku bisa merasakan pengalaman misi peringkat S yang normal, dan jika itu bisa jadi pelajaran buat Jairo-kun, maka misi ini layak diambil. Lagipula, perjalanan kapal dengan biaya ditanggung itu tidak buruk.

"Ya, boleh juga."

Habisnya, di kehidupanku yang dulu-dulu, perjalanan jauh biasanya menggunakan kapal terbang atau Gate Transfer. Perjalanan laut yang memakan waktu lama hanyalah hobi mewah bagi segelintir orang kaya.

Aku memang pernah naik kapal Good Loser, tapi itu kapal perang murni yang jauh dari kata kapal penumpang, apalagi waktu itu aku sedang bekerja untuk menyelidiki monster.

Tapi kali ini, meski tetap dalam rangka misi, jika kami naik kapal penumpang maka urusan pertarungan akan ditangani oleh kru kapal atau penjaga khusus. Sebagai penumpang, kami tidak perlu bertarung.

Ya, sepertinya aku bisa menikmati perjalanan laut ini dengan tenang! Mengingat ini mendesak, perjalanan berangkat mungkin tidak bisa dihindari, tapi saat pulang kita bisa pakai Gate Transfer untuk memangkas waktu.

"Perjalanan laut, aku jadi tidak sabar."

"Entah kenapa, aku baru saja merasakan firasat buruk soal bencana."

"Aku juga."

"Aku juga."

"Aku juga."

"Saya juga."

"Kyu-kyuu!"

Eh? Kenapa sih?

"Pokoknya, aku putuskan untuk menerima misi ini!" Aku menyatakan penerimaan misi tersebut kepada resepsionis.

"Baik, penerimaan misi telah dikonfirmasi."

Baiklah! Ayo berpetualang ke seberang lautan!

Setelah tiba di pelabuhan menggunakan sihir terbang, kami segera mencari kapal yang menuju ke Negeri Timur.

"Permisi, saya sedang mencari kapal yang menuju ke Negeri Timur."

Pertama-tama, aku mencoba bertanya pada kru kapal yang sedang bekerja di dekat sana.

"Hah? Negeri Timur?"

Kru kapal itu menatap kami dengan tatapan curiga, tapi kemudian menyeringai.

"Kalian petualang?"

"Iya!"

"Kalau begitu, kapal ketiga di sebelah sana. Bilang saja kalian dapat info dari Sigu."

"Terima kasih!"

"Berhati-hatilah—"

Setelah berterima kasih, kami menuju dermaga.

"Untung orangnya baik ya."

"Tapi, bagaimana ya, seringainya tadi terasa tidak enak," ujar Liliera-san.

"Ah, aku paham. Rasanya mereka menatap kita dengan pandangan yang aneh."

"..."

Entah kenapa Liliera-san dan Mina-san memberikan penilaian buruk pada mereka.

"Pria laut memang sering terlihat galak karena ditempa oleh pekerjaan mereka. Lagipula, mereka perlu bersikap tegas agar tidak diremehkan oleh bajak laut atau monster."

Benar juga, kapten kapal yang kukenal di kehidupanku sebelumnya sering mengeluh karena wajahnya terlalu seram sampai sering disangka bajak laut.

Padahal aslinya dia orang yang sangat sederhana dan suka bunga. Dia bahkan punya kebun botani yang berisi bunga-bunga langka dari seluruh dunia di markasnya.

Yah, gara-gara hobi itu dia sampai mengoleksi tanaman berbahaya dan hampir saja ditangkap sih. Entah bagaimana nasib kebun itu sekarang.

Sesuai instruksi Sigu-san, aku sampai di kapal ketiga dan menyapa kru yang sedang bekerja di dekat sana.

"Permisi. Saya direkomendasikan oleh seseorang bernama Sigu-san. Apa benar ini kapal yang menuju Negeri Timur?"

"Dari Sigu?"

Begitu mendengar nama Sigu-san, para kru saling pandang lalu mengangguk dengan senyum yang terasa mengintimidasi.

"Ouh! Benar, ini kapal yang menuju Negeri Timur!"

"Kami juga ingin ke Negeri Timur, apa masih bisa naik?"

"Oh, tentu saja. Kalian beruntung."

"Beruntung?" Aku memiringkan kepala mendengar kata beruntung itu.

"Ya, sebenarnya kami baru saja akan berlayar. Negeri Timur itu jauh, jadi jarang ada kapal yang ke sana. Kalau ketinggalan kapal ini, entah kapan lagi ada kapal lain yang menuju ke sana."

Begitu ya, ternyata bukan jadwal pelayaran reguler. Hmm, kalau begitu benar-benar pilihan tepat untuk langsung terbang ke sini.

"Kalau mau naik, bayar sepuluh keping perak."

"Baiklah."

Kami membayar sepuluh keping perak kepada kru tersebut lalu naik ke atas geladak.

"Kapten, ada penumpang."

Dipanggil oleh kru, seorang pria berpakaian kapten yang berdiri di geladak menoleh ke arah kami. Ohh, penampilannya benar-benar terasa seperti seorang kapten. Badannya kekar khas pria laut.

"Hoo, jarang sekali. Penumpang ya?"

"Mereka bilang ingin ke Negeri Timur bersama kita."

"Ke Negeri Timur? Berani sekali kalian!"

"Berani... maksudnya?"

"Ya, belakangan ini di kalangan pelaut sedang ramai dibicarakan soal kapal-kapal yang ke sana tidak pernah kembali."

Ah, itu berita yang kami dengar di Guild tadi.

"Ingin pergi ke laut berbahaya seperti itu, kalian benar-benar tidak sayang nyawa ya."

"Ini adalah misi dari Guild Petualang."

"Misi?" Kapten itu memandang kami satu per satu.

"Begitu ya, memang pakaian petualang. Yah, selama kalian percaya diri dengan kemampuan kalian sih boleh saja. Tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Kalau kalian jatuh dari kapal, aku tidak akan menolong kalian!"

"Heh, itu kalimat kami! Paman sendiri jangan sampai diserang monster lalu jatuh ke laut ya! Yah, kalau jatuh sih pasti bakal kami tolong!" Jairo-kun membalas provokasi sang kapten.

"Hahahaha! Menolong pria laut sepertiku?! Aku suka gayamu, Bocah!"

Aku sempat merasa was-was, tapi sepertinya kapten itu menyukai sikap Jairo-kun dan tertawa terbahak-bahak.

"Kapten, persiapan berlayar sudah selesai!"

"Baik! Ayo berangkat—!"

Kapal mulai menurunkan layar dan bergerak meninggalkan pelabuhan. Namun, melihat pemandangan itu, aku merasakan sesuatu yang janggal.

"Eh? Layar paling depan kok tidak diturunkan?"

Kenapa ya? Apa ada peraturan di dekat pelabuhan tidak boleh berlayar dengan semua layar diturunkan?

Kapal perlahan meninggalkan daratan dan semakin jauh menuju laut lepas. Hmm, suasana santai ini... benar-benar tidak bisa dirasakan kalau sedang bertugas waspada di perjalanan kapal biasanya!

"Nah, kurasa sudah cukup."

Begitu daratan sudah terlihat sangat kecil, sang kapten bergumam.

"Hehehehehe."

Entah kenapa para kru di sekitar mulai tertawa senang.

"Ada apa?"

"Hehehe, sepertinya kalian belum sadar juga."

Belum sadar? Soal apa?

"Akan kuberitahu! Hei kalian, turunkan layarnya!"

"""Oooo!!"""

Atas perintah kapten, layar depan diturunkan, dan dari balik kain putih bersih itu muncul gambar tengkorak berwarna hitam pekat.

"G-Gambar tengkorak?!"

Melihat gambar tengkorak yang terlukis di sana, semua orang berteriak kaget.

"Gahahaha! Selamat datang di kapal Kelompok Bajak Laut Doreld! Bocah-bocah bodoh!"

Di saat yang sama, para kru yang memegang pedang mengepung kami.

"Bajak laut? Kapten, apa maksudnya ini?"

"Gahahaha, kalian sudah diculik oleh bajak laut tahu!"

"Diculik?!" Kapten memanggul pedangnya di bahu sambil menyeringai senang.

"Anda menipu kami?!"

"Tepat sekali. Apa kau pikir tugas bajak laut cuma menyerang kapal lain? Bocah."

D-Dan orang yang muncul di sana adalah kru yang tadi memberi tahu kami lokasi kapal, kalau tidak salah namanya Sigu-san.

"Anda juga komplotannya?"

"Hehe, tugas bajak laut itu termasuk menculik bocah-bocah naif seperti kalian."

"Kukuku, maaf ya kalian baru saja jadi petualang dengan mimpi dan harapan besar, tapi petualangan kalian berakhir di sini!"

Para kru mulai mendekat perlahan sambil menyiapkan senjata dan mengoceh sesuka hati.

"Jadi soal pergi ke Negeri Timur itu bohong ya."

"Tentu saja! Siapa yang mau pergi ke tempat dengan rumor mengerikan seperti itu? Lebih menghasilkan uang menculik orang dan membajak di perairan dekat sini!"

Gawat, ternyata bahkan soal ke Negeri Timur pun bohong.

"Buang senjata kalian dan menyerahlah dengan tenang. Dengan begitu kalian tidak perlu merasakan sakit."

"Hehe, peralatan mereka lumayan bagus juga. Jangan-jangan mereka anak bangsawan?"

"Kalau begitu uang tebusannya bakal banyak nih. Yah, meski dapat uangnya sih aku tidak berniat mengembalikan mereka."

"Setelah itu kita jual jadi budak!"

"Tenang saja, nona-nona cantik di sana kalau menurut pasti akan disayang oleh majikan barunya. Kalian para bocah laki-laki juga bakal berguna sebagai tenaga kerja muda."

Sepertinya mereka berniat menjual kami sebagai budak.

"Oh, bocah yang di sana itu laki-laki tapi sepertinya bakal laku dibeli tuan-tuan yang punya selera khusus?"

"Hiiii!" Norb-san memekik ngeri karena ditatap dengan pandangan menjijikkan oleh salah satu bajak laut.

"Semuanya, hati-hati!" Aku memperingatkan teman-temanku.

Berani menunjukkan identitas asli di tempat yang masih dekat dengan daratan seperti ini, para bajak laut ini pasti sangat percaya diri dengan kemampuan mereka.

Biasanya, kalau menyerang mangsa di tempat yang masih terlihat daratan, orang akan mengirim sinyal sihir ke darat dan langsung ketahuan oleh ksatria.

Lalu para ksatria akan menyerang dari udara dan laut, melubangi lambung kapal agar tidak bisa kabur, lalu menangkap mereka. Bahkan jika menyandera orang, tanpa kapal mereka harus kembali ke darat, dan sebelum itu biasanya sudah dilumpuhkan dengan sihir.

Tapi karena mereka berani mengabaikan teori dasar itu, masuk akal untuk menganggap bahwa kecuali mereka benar-benar bodoh, mereka pasti punya cara untuk mengatasi hal-hal tersebut.

Aku tidak tahu trik apa yang akan mereka gunakan. Ini berbahaya kalau tidak bertarung dengan waspada!

"...Kami minta maaf."

"Tolong ampuni nyawa kami."

"""Mohon bantuannya!"""

"Gaji-gaji kyuuu!"

"Terus, tolong bilangin makhluk ini buat berhenti gigit kakiku dong..."

Kira-kira begitulah, tapi ternyata pertarungannya berakhir jauh lebih cepat dari dugaan. Malah, salah satu dari mereka menangis karena kakinya digigiti oleh si makhluk berbulu.

"Eh? Lho?"

Apa orang-orang ini benar-benar menyerah?

"Kami akan antar kalian ke Negeri Timur atau ke mana pun, jadi tolong ampuni kami."

Melihat sikap kapten dan krunya, mereka sepertinya tidak sedang pura-pura lemah untuk menjebak kami. Lagi pula kalau mau menjebak, kenapa harus repot-repot membongkar identitas asli sejak awal?

"Sudah kuduga bakal begini."

Aku terkejut mendengar Meguri-san bergumam pelan.

"Eh?! Apa Meguri-san sudah sadar dari tadi?"

Apa Meguri-san tahu mereka bajak laut tapi diam saja?! Kenapa?!

"Ano, Begitu lihat wajah kru-nya, langsung tahu. Wajah penjahat. Tapi karena sudah kelihatan bakal berakhir begini, dan kupikir kalau kita main cantik kita bisa dapat tumpangan kapal gratis, jadi aku diam saja."




"Jadi gara-gara itu kamu diam saja?! Mau bagaimanapun, itu terlalu berbahaya, tahu!"

"Benar, Meguri. Meskipun kita bisa terbang, tidak memberi tahu rekan sendiri itu benar-benar keterlaluan," tambah Liliera-san.

"Betul! Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada kami atau kapalnya?!" seru Mina-san.

Eh, tunggu sebentar? Kok rasanya kekhawatiran Liliera-san dan Mina-san agak sedikit melenceng ya?

"Padahal aku berharap mereka bisa memberi perlawanan yang lebih seru," keluh Jairo-kun.

"Jairo-kun, masalahnya bukan di situ!"

Sengaja diam saat akan diserang hanya demi menghemat biaya kapal... itu benar-benar terlalu berisiko. Semuanya ikut menyalahkan Meguri-san, tapi yang bersangkutan malah tampak cuek saja.

"Lagipula, mana mungkin Rex kalah dari bajak laut biasa. Kalau mereka sanggup mengalahkan Rex yang bisa membantai naga dan iblis sendirian, lebih baik mereka jadi petualang peringkat S saja dengan kekuatan itu. Penghasilannya jauh lebih besar."

Tidak, tidak, itu berlebihan! Tidak mungkin semua orang bakal setuju dengan alasan seperti itu!

"""Ah—ada benarnya juga."""

...Eh, kupikir tidak bakal berhasil, tapi entah kenapa semuanya malah manggut-manggut setuju dengan logika aneh Meguri-san.

"Tunggu dulu! Kenapa kalian semua malah setuju dengan alasan itu sih—?!"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close