Chapter 2
Kulit Terkelupas, Dada, dan Ciuman Maut
1
PILIH:
① Jatuh cinta pada Chocolat
② Jatuh cinta pada Ouka
③ Jatuh cinta pada Furano
"Apa-apaan
pilihan ini...?"
Satu minggu telah
berlalu sejak misi itu muncul. Hari ini adalah hari pertama libur musim panas.
Sebuah pilihan yang sangat menyesakkan mendadak muncul di dalam otakku.
Aku tidak tahu
kenapa harus mereka bertiga, tapi mana mungkin aku bisa memilih salah satu dari
mereka... Mau tidak mau, aku terpaksa menggunakan Hak Tolak.
Ugh... Padahal
seminggu ini aku sudah berjuang mati-matian agar tidak memakai Hak Tolak... Aku
sudah melakukan 'Ikut pelajaran renang memakai baju renang tipe boomerang',
'Bersujud di depan gadis-gadis sambil memohon agar diizinkan menjilat sepatu
mereka', sampai 'Bolak-balik dari rumah ke sekolah tengah malam dengan kondisi
telanjang hanya memakai apron'.
...Ah, kalau
diingat-ingat lagi, air mataku jadi mau keluar.
Sisa Hak Tolak-ku
tinggal delapan kali. Karena hari ini tanggal dua puluh tiga... jika memikirkan
sisa waktu misi sekitar satu minggu lagi, sebenarnya jumlah itu masih lumayan
aman.
Tapi, karena belakangan ini pilihan yang
muncul makin lama makin sadis, aku sama sekali tidak boleh lengah.
"Haaa..."
Payah.
Membayangkan kondisi yang tidak tenang ini bakal terus berlanjut selama
seminggu ke depan saja sudah membuat kepalaku pening...
"Kanade-saaan!"
Tanpa
mempedulikan kegundahanku, suara riang Chocolat terdengar saat dia tiba-tiba
saja menerjang dan menempel di punggungku dari belakang.
"Ehehe~."
"Chocolat...
jangan menempel begitu di siang bolong."
Di musim
sepanas ini, ditempeli sedekat ini rasanya gerah bukan main. Memang sih aku
menyalakan AC, tapi karena aku memasang suhu yang hemat energi, kami berdua
jadi agak berkeringat.
"Habisnya,
ini kan libur musim panas yang berharga. Libur musim panas yang
terus-terus-terusan bareng Kanade-san, lho! Mana mungkin aku nggak
nempel!"
"Nggak,
aku benar-benar nggak paham logikamu..."
"Kanade-saaan~!"
...Dia
sama sekali tidak mendengarkan. Yah, meski agak berkeringat, entah kenapa aroma
manis menguar dari tubuh Chocolat, jadi dipeluk seperti ini sebenarnya tidak
terlalu buruk... Tapi untuk
saat ini, aku ingin sendirian dulu untuk berpikir.
"Sudahlah,
lepas sebentar."
Tepat saat aku
mencoba melepaskan diri dengan paksa—
"Lho?"
Chocolat
mengeluarkan suara keheranan.
"Ada
apa?"
"Kanade-san,
badanmu rasanya panas sekali."
"Ya iyalah,
suhu udara setinggi ini, wajar kalau badan terasa panas."
"Bukan
itu... rasanya seperti Anda sedang demam?"
"Demam?"
Secara
refleks, aku menempelkan telapak tangan ke dahiku sendiri.
"Hmm,
kalau dipikir-pikir... memang agak sedikit meriang, sih."
Untuk
memastikan, aku mengambil termometer dan mencoba mengukur suhu tubuhku.
"36,9
derajat, ya..."
Bagi
sebagian orang mungkin ini tidak seberapa, tapi bagi aku yang suhu normalnya
ada di kisaran 35 derajat, ini sudah masuk kategori demam yang lumayan tinggi.
Rasa pening yang
kurasakan tadi mungkin bukan karena masalah psikologis akibat misi, tapi memang
karena sakit.
Meski begitu, ini
bukan level sakit yang sampai membuatku terkapar di tempat tidur, jadi kalau
istirahat sebentar di sofa mungkin bakal sembuh.
"Fiuh... Urusan pekerjaan rumah aku tunda dulu saja,
deh."
Mendengar
itu, bulu ekor Chocolat langsung berdiri tegak.
"Serahkan
padaku! Biar aku yang selesaikan semua pekerjaan rumah!"
"Nggak usah,
nanti kalau sudah mendingan aku sendiri yang—"
"Kanade-san
pokoknya harus istirahat dengan tenang!"
Chocolat langsung
berlari pergi tanpa mempedulikan laranganku. Hingga hari ini aku sudah
mengajarinya secara intensif, jadi kemampuannya memang sudah sedikit meningkat,
tapi tetap saja membiarkannya bekerja sendirian membuatku was-was... Namun.
"...Yah,
sudahlah."
Mungkin karena
aku baru menyadari kalau aku memang sedang sakit, badanku terasa sangat lemas
dan aku tidak punya tenaga untuk bangkit menghentikannya.
"Huaaa..."
Tiba-tiba rasa
kantuk yang hebat menyerang.
"Khuaaa..."
Sepertinya
tubuhku sedang menuntut haknya untuk istirahat. Karena tidak mampu melawan rasa
kantuk yang semakin kuat, kelopak mataku pun perlahan-lahan tertutup rapat.
◆◇◆
"Ngh..."
Aku terbangun.
Secara refleks aku melihat jam dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul
lima sore lewat.
"A-aku tidur
selama itu? Aku harus segera menyiapkan makan malam."
Sesaat
setelah aku bergumam sambil bangkit dari sofa,
"Lho?"
Kepalaku
kliyengan, dan aku kembali jatuh terduduk di sofa. Di saat itulah, Chocolat yang mengenakan apron
masuk ke ruang tamu.
"Ah, Kanade-san, Anda sudah bangun... Eh, tapi wajahmu
jadi jauh lebih merah dari yang tadi!"
Chocolat berlari menghampiriku dan menempelkan tangannya di
dahiku.
"Gawat! Ini panas banget!"
Setelah Chocolat mengambilkan termometer dan aku mengukurnya
lagi, angkanya menunjukkan 38,7 derajat.
Tidak peduli berapa
suhu tubuh normalmu, ini sih namanya sudah benar-benar demam tinggi.
Untungnya ada stok obat penurun panas, jadi aku langsung
meminumnya.
"Kalau dibawa tidur sebentar lagi mungkin bakal
membaik... Maaf ya Chocolat... Aku ke kamar dulu."
Aku mencoba bangkit, tapi kepalaku kembali berputar dan aku
tidak bisa berjalan dengan tegak. Dasarnya fisikku memang lumayan kuat, jadi
sudah lama sekali aku tidak jatuh sakit sampai separah ini. Apa demam memang
serasa sesakit ini, ya?
"Anda tidak apa-apa...?"
Chocolat memapah tubuhku dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Jangan
dekat-dekat, nanti tertular."
"Nggak
apa-apa! Orang bodoh kan nggak bisa kena flu!"
"Bukan
hal yang patut dibanggakan dengan wajah pede begitu, tahu."
Meski
sudah dilarang berkali-kali, Chocolat tetap tidak mau menjauh dariku.
Sambil
dipapah olehnya, aku menaiki tangga dengan susah payah hingga akhirnya sampai
di kamarku.
Begitu
aku berbaring di tempat tidur dan sedikit tenang, rasa menggigil yang khas saat
demam tinggi mulai menyerang.
"Ugh...
dingin..."
"Kanade-san..."
Chocolat
menatapku yang sedang meringkuk dengan wajah cemas, tapi tiba-tiba dia
menepukkan kedua tangannya seolah baru saja mendapatkan ide cemerlang.
"Ah,
aku akan membuatkan bubur, ya!"
Bubur, ya... Aku sama sekali tidak nafsu makan, tapi memang
sebaiknya ada sesuatu yang masuk ke perut. Masalah terbesarnya adalah—
"...Bisa buatnya?"
"Eh? Tinggal
merebus air terus disiram ke nasi, kan?"
"Bukan! Itu namanya cuma nasi siram air panas! Tekstur
lembeknya nggak bakal jadi bubur kalau cuma begitu!"
Memasak bubur itu kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya
punya teknik yang cukup dalam.
Aku ragu Chocolat dengan kemampuannya sekarang bisa membuat
bubur yang layak... Tapi, Chocolat yang sedang semangat-semangatnya itu sama
sekali tidak mau mendengar.
"Ah benar, sambil menunggu, silakan baca buku ini
dulu."
Chocolat sempat keluar kamar sebentar dan kembali membawa
sebuah buku berjudul—
'10 Cara Dirawat oleh Gadis Saat Sakit ~Dengan Ini
Kamu Juga Bisa Jadi Raja Batuk-Batuk~'
...Setiap saat aku selalu berpikir, kenapa sih selalu muncul
buku yang situasinya sangat pas dengan kondisiku sekarang?
"Kalau
begitu, tunggu sebentar, ya!"
"Ah,
woi..."
Tanpa sempat
kuhentikan, Chocolat sudah lari ke bawah. Yang tersisa hanyalah aku dan buku yang
diletakkan di samping bantal itu. Sudah jelas isinya pasti nggak bakal bener,
tapi... daripada cuma tiduran menahan rasa menggigil, lebih baik aku membaca
ini buat mengalihkan perhatian. Seperti biasa, aku langsung membuka halaman
yang merangkum poin-poin pentingnya.
《① Yah, paling-paling cuma emakmu doang yang mau merawatmu pas lagi
sakit.》 Dasar penolakan dari akar permasalahannya!
《② Kamu nggak bakal dirawat kalau nggak sakit. Jadi sebagai syarat utama, pakailah alasan
sakit bohong-bohongan.》 ...Sangat rendah.
《Penjelasan: Aku bilang ke gebitanku kalau aku kena
penyakit kutu air dan minta dirawat, eh dia malah kabur.》 Kenapa juga milih penyakit model begitu?!
《Tambahan: Padahal aku sudah bilang dengan gaya
imut, 'Kalau kamu tertular, berarti kita jadi pasangan serasi, lho ♡', tapi tetap gagal.》 Ya iyalah!
《③ Terhadap orang sakit, biasanya sikap siapa pun bakal melunak. Manfaatkan
itu untuk bermanja-manja ria sepuas hati.》 ...Manja gimana yang kau maksud, hah?
《Penjelasan: Kalau lagi sakit, biarpun kamu meremas
dada si gadis, kamu nggak bakal dimarahi.》 NGGAK MUNGKIN BEGITU, KAN!
《④ Pura-puralah mengigau karena demam, lalu remas dadanya.》 Sebenarnya seberapa ngebet sih kau mau
megang dada!
《Penjelasan: Kemarin aku gagal, malah nggak sengaja
meremas dada emakku sendiri.》 Ujung-ujungnya emakmu lagi yang muncul!
《Tambahan: Malam itu, dari kamar orang tuaku
terdengar suara sesuatu yang berderit—》 STOP! JANGAN LANJUTIN! AKU NGGAK MAU
DENGER!
《⑤ Mintalah untuk dilap tubuhnya.》 Ah, di musim panas begini ini memang perlu, sih.
Kenyataannya sekarang aku memang berkeringat banyak dan rasanya tidak nyaman.
《Penjelasan: Ngomong-ngomong, penulis bakal merasa
sangat terangsang kalau bagian sekitar putingnya ditiup pelan.》 KOSAKATANYA JADI MESUM BEGITU! Aku nggak
peduli sama fetishmu!
《⑥ Minta makananmu ditiup-tiup (fuu-fuu) biar dingin.》 Memang sih, kalau lagi lemas begini terus
ada gadis yang melakukan itu, rasanya pasti senang banget.
《Penjelasan: Aku merasa sangat terobati. Terima
kasih... Ayah.》 KELUARGA LAGI YANG MUNCUL!
《Tambahan: Malam itu, dari kamar
orang tuaku terdengar suara sesuatu yang berderit—》
SEBENARNYA APA SIH YANG BIKIN AYAHMU TERANGSANG?!
《⑦ Belakangan
ini penglihatanku lagi nggak enak, sepertinya aku harus ke dokter mata.》
Woi, nggak butuh laporan aktivitas sehari-harimu!
《Penjelasan: Semua wanita yang
usianya di atas sepuluh tahun kelihatan seperti nenek-nenek di mataku.》
Itu mah penyakit hati! Salah dokter, woi!
《⑧ Manusia itu
lahir sampai mati selalu sendirian. Interaksi dengan orang lain hanyalah bentuk
kepuasan diri sendiri semata. Karena itu, dirawat saat sakit itu tidak perlu.》
Apa-apaan gaya chuunibyou ini... lagipula, jangan membantah tema utama
bukunya sendiri, dong...
《Penjelasan: Tapi aku tetap mau
megang dada.》 INI UDAH NGGAK ADA HUBUNGANNYA SAMA DIRAWAT PAS
SAKIT!
《⑨ ... Karena
idenya habis, boleh nggak kalau aku cerita soal lobak kering (Kanpyou)?》
JELAS NGGAK BOLEH!
《Penjelasan: Padahal tadinya aku
mau cerita begitu, tapi ternyata aku nggak punya hal menarik buat diceritain
soal lobak kering.》 Gak jelasnya sudah
kelewatan!
《⑩ Ada pepatah
bilang 'orang anu nggak bisa kena flu'... Ah! ... Ternyata nggak ada gunanya ya
kau baca buku ini...》 INI MAH NGAJAK BERANTEM!
"Uhuk! Uhuk!"
Padahal aku tidak melontarkan tsukkomi dengan suara
keras, tapi mungkin karena terlalu emosi, aku malah jadi batuk-batuk hebat. Memang benar kalau sedang tidak
enak badan itu rasanya menderita—
PILIH:
① Tubuhmu langsung sembuh seketika
② Kena penyakit 'Bakal mati kalau pantatmu tidak kelihatan separuh'
Ini... Seketika pikiranku membeku. Ya, tentu saja pilihan
nomor dua itu sudah di luar nalar, jadi seharusnya aku pilih nomor satu saja...
Kenyataannya, kalau itu aku yang dulu, mungkin aku bakal langsung memilihnya
tanpa ragu.
Tapi, karena
keberadaan "Hak Tolak", aku jadi berpikir sejenak. Menyembuhkan
penyakit dengan kekuatan yang melampaui logika manusia... apakah itu
benar-benar hal yang baik?
Mungkin aku
terlalu berlebihan, tapi aku merasa pilihan ini ada di garis batas yang tidak
boleh dilangkahi. Aku mencoba membayangkan sisi lain dari garis itu.
Bagaimana kalau
pilihannya adalah 'Penyakit mematikan langsung sembuh total'? Bagaimana
kalau 'Mendapatkan tubuh abadi'? Atau... 'Membangkitkan orang mati'?
".........."
Setelah bimbang,
aku memutuskan untuk menggunakan Hak Tolak... Dengan ini, sisanya tinggal tujuh
kali.
Rasanya ini
keputusan yang benar, tapi di sisi lain aku merasa baru saja menyia-nyiakan
satu kesempatan berharga.
Di saat aku
sedang merana karena perasaan yang tidak menentu, pintu kamarku diketuk.
"Chocolat?"
"Iya, buburnya sudah jadi!"
Chocolat masuk ke kamar sambil membawa baki. Tidak seperti
skenario siram air panas tadi, tampilannya benar-benar terlihat seperti bubur,
tapi...
"Ugh..."
Rasanya tetap
saja ajaib.
"Ini... kamu
masukin apa saja?"
"Anu... saus
tomat, tinta cumi, bubuk kari, pasta bayam, terus rahasianya pakai cokelat sama
minyak zaitun!"
"KOK BISA
WARNANYA TETAP PUTIH?! INI KEAJAIBAN APA BUKAN?!"
Sekali lagi aku tegaskan, tampilannya benar-benar seperti
bubur putih biasa... Reaksi kimia macam apa yang terjadi di dalam panci sampai
bisa jadi begini?
Terus tolong itu
minyak zaitunnya dikondisikan. Tapi, mau rasanya seperti apa pun, aku tidak
boleh menyisakan makanan yang sudah dibuatkan dengan susah payah untukku...
Lagipula, rasanya tidak seburuk itu sampai tidak bisa dimakan...
"...Ambilkan
sisanya juga."
"Baik!"
Tepat saat
Chocolat dengan riang memindahkan bubur dari panci ke mangkuk,
"He... he..."
"Eh?"
"Hek-syu!"
"PANAAASSS!"
Bersamaan dengan bersin yang luar biasa dahsyat, mangkuk di
tangan Chocolat terlepas, dan bubur yang melayang di udara sukses mendarat
telak di wajahku.
"UOOOOOOOH!"
Saking panasnya, aku sampai berguling-guling di atas kasur.
"Ma-maafkan aku..."
"To-tolong
ambilkan handuk yang diperas pakai air es!"
"Ba-baik!"
Chocolat yang panik langsung lari keluar kamar. Dua atau tiga menit kemudian—
"Ini
handuknya!"
Mungkin karena
terlalu terburu-buru, dia membawa baskom yang penuh dengan air es beserta
handuk yang masih terendam di dalamnya.
"Bagus, sekarang peras handuknya dan—eh?"
"He... he... hek-syu!"
"DINGIIIIIINNN!"
Bersamaan dengan bersin dahsyat lainnya, baskom di tangan
Chocolat jatuh, dan air es beserta es batunya tumpah ruah di wajahku.
"UOOOOOOOH!"
Saking
dinginnya, kali ini aku berguling-guling lagi di atas kasur.
"A... a... maafkan aku."
Chocolat tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa berdiri
gemetaran dengan wajah pucat.
◆◇◆
"U-ugh... dingin..."
Beberapa menit kemudian, setelah mengelap tubuh dan
mengganti baju seadanya, aku kembali ke kasur sambil menggigil hebat karena
rasa dingin yang makin menjadi-jadi. Chocolat mendekat dan berkata dengan suara
yang hampir menghilang.
"A-anu... apa ada yang bisa aku lakukan..."
"Enggak... untuk sekarang nggak usah dulu."
"Ta-tapi,
aku mau berguna buat Kanade-san—"
"Maaf, tapi
tolong jangan lakukan apa pun dulu."
"...Uuu."
Kesadaranku mulai
kabur dan aku tidak punya tenaga untuk bersikap ramah, jadi kata-kataku
terdengar sangat ketus.
Chocolat tampak
lesu dan bahunya merosot saat dia berjalan keluar kamar.
...Mungkin tadi
aku agak keterlaluan. Tadinya aku mau memanggilnya lagi untuk menghibur, tapi
rasa lemas yang luar biasa kembali menyerang.
"Yah, ini kan Chocolat, besok pasti dia sudah ceria
lagi..."
Sambil memikirkan
hal itu, kesadaranku pun mulai tenggelam ke dalam alam mimpi.
◆◇◆
"...Ngh."
Aku terbangun.
Hal pertama yang kulihat adalah sosok Chocolat yang sedang menatapku
lekat-lekat.
"Ah...
Kanade-san!"
Wajahnya langsung
merekah penuh kegembiraan.
"Chocolat... Eh, ini sinar matahari pagi?"
Cahaya matahari sudah masuk melalui jendela. Wah, apa aku tidur semalaman sejak kejadian itu?
"...Hm?"
Kalau
diperhatikan baik-baik, kelopak mata Chocolat tampak sangat sembap. Warnanya
juga agak menghitam.
"Kamu
jangan-jangan... begadang semalaman?"
Chocolat
mengangguk pelan.
"Hanya ini
yang bisa aku lakukan."
Handuk basah di
dahiku terasa masih dingin. Sepertinya dia benar-benar bangun sepanjang malam
dan rutin menggantinya.
"Anu... maaf
soal yang kemarin."
Chocolat
menatapku dengan tatapan penuh rasa bersalah. Aku pun mengacak-acak rambutnya dengan gemas.
"Enggak,
aku juga tadi bicaranya agak kasar... Terima kasih, ya."
"Ehehe."
Chocolat
tersenyum manis. Melihat wajahnya yang begini, aku pun jadi ikut merasa senang.
"Ah, mau
coba ukur suhunya lagi?"
"Ah, benar
juga."
Sesuai saran
Chocolat, aku mengukur suhu tubuhku. Hasilnya 37,8 derajat.
Masih kategori
demam, sih, tapi rasa menggigilnya sudah hampir hilang dan badanku terasa jauh
lebih ringan dibanding kemarin.
"Chocolat,
kamu tidur saja di kamarmu."
"Tapi... Kanade-san masih..."
Wajahnya tampak
cemas.
"Nggak
apa-apa. Aku sudah bisa bangun seperti biasa, kok. Kalau kamu memaksakan diri
lebih dari ini, nanti malah kamu yang jatuh sakit."
"...Baiklah,
kalau itu kata Kanade-san."
Melihat
punggungnya yang berjalan agak lunglai, aku pun memanggilnya.
"Chocolat."
"Ada
apa?"
"Kalau aku
sudah sembuh, ayo kita makan enak berdua."
"Makan
enak?!"
Mata
Chocolat langsung berbinar seketika. Bulu ekornya berdiri tegak.
"Kalau
begitu, aku akan reservasi sushi kualitas super!"
"Tunggu
dulu!"
...Kenapa sih
anak ini selalu ekstrem kalau soal pilihan?
"Ah,
Kanade-san. Kalau sudah sembuh, aku punya satu permintaan lagi, boleh?"
"Apa
itu?"
"Aku mau
kita pergi ke festival bareng!"
"Festival?
Ah, acara yang di sekitar kuil itu, ya?"
Itu adalah acara
rutin yang diadakan setiap akhir bulan Juli. Belakangan ini aku sudah jarang
datang, tapi waktu kecil aku sering ke sana bareng teman atau orang tua.
"Oke, ayo
kita pergi ke sana lagi setelah sekian lama."
"Benarkah?!"
Aku agak khawatir
karena waktunya bentrok dengan tenggat misi, tapi bukan berarti kalau aku diam
di rumah aku bakal aman dari gangguan, sih... Mengingat pilihan 'Jatuh cinta
pada salah satu dari trio Chocolat' kemarin, atau 'Pergi ke sekolah cuma pakai
apron' sebelumnya.
"Asyik~!
Festival dan sushi~!"
"KUBILANG
NGGAK ADA SUSHI!"
Anak ini... kalau
dibiarkan, dia bisa-bisa beneran memesannya sendiri. Aku harus mengalihkan
perhatiannya ke makanan lain.
"Di
rak ada kaleng biskuit istimewa, kan? Kita buka itu kalau kamu sudah bangun tidur nanti."
Tadinya aku pikir
dia bakal senang banget, tapi reaksi Chocolat ternyata di luar dugaanku.
"......Glek."
Chocolat
mendadak mematung.
"Kamu
barusan... bilang 'glek', kan?"
"E-eh? Nggak
tahu maksudnya apa, tuh~."
Pandangan
Chocolat melayang ke mana-mana sambil mencoba bersiul pelan. Reaksi ini...
sudah jelas dia sudah memakannya diam-diam.
"...Aku
nggak bakal marah, jujur saja."
"Bu-bukan
aku pelakunya... perutku yang melakukannya!"
"ITU KAN
KAMU JUGA!"
"A-aku
ngantuk, mau tidur dulu!"
"Ah, woi,
tunggu!"
Chocolat melesat
pergi secepat kilat, persis seperti kelinci yang kabur dari pemburu.
"Dasar..."
Sifat pemalasnya
memang sudah mendingan, tapi kalau soal nafsu makan, dia masih sama saja
seperti dulu. Yah, berhubung kali ini dia sudah merawatku dengan penuh
pengabdian, aku maafkan saja, deh.
"Nah,
sekarang..."
Begitu aku
mencoba berdiri, tubuhku masih terasa lemas dan kepalaku agak pening saat
berjalan. Sambil
berpegangan pada pagar tangga, aku turun ke lantai bawah dengan hati-hati.
"Stok
obat penurun panasnya... sepertinya sudah habis, ya."
Obat yang
kuminum kemarin adalah butir terakhir di dalam kotaknya. Aku mencoba
mengubek-ubek tempat penyimpanan obat, tapi hasilnya nihil.
"Mau
bagaimana lagi, beli dulu saja, deh..."
Yah, kalau cuma
ke apotek terdekat sepertinya tidak masalah. Dengan langkah kaki yang masih
agak gontai, aku menuju ke pintu depan.
"Ugh,
lemas banget..."
Aku
bergumam sendiri sambil membuka pintu depan.
"...Eh?"
"...He?"
Sosok yang berdiri di sana adalah—
"...Furano?"
Itu adalah teman
sekelasku yang wajahnya sudah sangat kukenal.
"A-Amakusa-ku—ka,
kenapa?"
Bukannya
"kenapa", ya jelas saja aku ada di sini, kan ini rumahku sendiri.
"Ada
apa?"
"Ti-tidak,
itu, anu... aku bukan orang mencurigakan, kok!"
Furano mendadak
menggoyangkan tangannya dengan panik dan mulai bertingkah sangat mencurigakan (kyodoru).
"Kamu
kenapa? Pokoknya tenang dulu dan cerit—"
Baru sampai di
situ ucapanku, tiba-tiba kakiku terasa lemas.
"Uwaa!"
Aku kehilangan
keseimbangan dan ambruk tepat ke arah Furano.
"He? He?
HYAAAAAAA—?!"
Furano memekik
dengan suara melengking tinggi, sesuatu yang mustahil keluar darinya dalam
kondisi normal.
"Ma-maaf...
eh?"
Detik berikutnya,
sebuah hantaman dahsyat menghujam daguku—dan kesadaranku pun terputus.
◆◇◆
Mari kita putar
balik waktu sedikit.
Yukihira Furano
sedang berjalan mondar-mandir sendirian di sekitar rumah Amakusa Kanade.
(Duh, aku
sudah telanjur sampai di sini karena terbawa suasana... tapi aku nggak berani
pencet belnya.)
Furano merasakan
firasat bahaya yang luar biasa setelah melihat gerak-gerik Chocolat di kelas
belakangan ini. Sebelumnya, Chocolat memang sangat menyukai Kanade seperti
seekor anjing peliharaan yang manja, tapi sejak acara Cosplay Mixer itu,
sikapnya jelas berubah.
...Itu adalah wajah seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Karena Furano sendiri merasakan hal yang
sama, dia yakin tidak salah lihat.
Melihat kondisi
Chocolat yang tinggal berdua saja dengan Kanade... berbagai bayangan buruk
melintas di kepalanya. Furano menghabiskan hari pertama libur musim panasnya
dengan perasaan gundah gulana, hingga akhirnya hari ini dia tidak tahan lagi
dan nekat datang ke sini secara impulsif.
(Se-sekalian
saja, apa aku sampaikan hal yang nggak bisa kuucapkan sebelum libur musim panas
kemarin, ya...)
Festival Musim
Panas yang akan diadakan di dekat sini pada tanggal 31 Juli. Furano sudah
memantapkan hati bahwa target akhirnya hari ini adalah mengajak Kanade pergi ke
sana.
(Kalau
bisa pergi ke festival bareng... pasti bakal seru banget.)
Wajah
Furano memerah membayangkan dirinya mengenakan yukata sambil berjalan
berdampingan dengan Kanade.
Namun, untuk itu
dia harus masuk ke rumah Kanade dulu. Dia paham itu, tapi... dia tidak kunjung
berani dan sudah mondar-mandir di sana selama hampir tiga puluh menit. Kalau begini terus, dia
benar-benar terlihat seperti orang mesum mencurigakan.
...Sudah
saatnya memantapkan tekad.
"Suuu~
haaa~."
Setelah
menarik napas dalam-dalam berkali-kali, dia berdiri di depan pintu.
"...N-nggak
bisaaa~."
Tetap
saja, jarinya tidak sanggup menekan tombol bel.
(Kenapa
sih aku begini...)
Tepat
saat dia kembali jatuh dalam lubang kebencian pada diri sendiri dan menunduk
lesu—
"...Eh?"
"...He?"
Pintu
mendadak terbuka, dan sosok Amakusa Kanade muncul di hadapannya.
◆◇◆
"Uuu...
ngh?"
Aku
terbangun.
Di
sini... ruang tamu?
Dan aku
tidur di atas kasur lantai (futon)?
Kenapa?
Siapa
yang melakukannya?
Dalam
sekejap, berbagai pertanyaan muncul di kepala.
Oke,
memori terakhirku adalah... ah, benar, waktu aku mau pergi beli obat penurun
panas, Furano ada di depan pintu—
"Benar
juga, Furano."
Saat aku
bangkit dan melihat sekeliling, terdengar suara dari arah dapur.
"Fura... no?"
"Oh, kamu sudah bangun."
Furano menoleh dengan suara datar seperti biasanya.
"Maaf ya, aku meminjam apronmu tanpa izin."
Furano berjalan ke arahku sambil mengelap tangannya pada
bagian depan apron.
"Sepertinya demammu sudah lumayan turun, tapi lebih
baik kamu jangan memaksakan diri dan tetap berbaring saja."
"Kasur ini... kamu yang menyiapkannya?"
"Iya, soalnya aku tidak kuat menggendongmu sampai ke
kamar lantai dua, jadi aku pakai kasur yang sepertinya untuk tamu."
"Itu sangat
membantu, tapi... eh?"
Satu pertanyaan
lain muncul di benakku.
"Anu, boleh
aku tanya satu hal?"
"Apa?"
"Kenapa aku tadi pingsan, ya?"
Meskipun aku
masih demam, seharusnya tidak sampai membuatku pingsan mendadak. Aku cuma
merasa sedikit kliyengan, lalu ambruk ke arah Furano... dan setelah itu
memoriku kosong.
"...Aku
tidak tahu."
"Nggak
mungkin tidak tahu, kan aneh."
"..."
Furano hanya
menatapku tajam dalam diam.
"Soalnya
seingatku setelah aku ambruk ke arahmu—fugah!"
Pipiku dicubit
dengan sangat keras.
"A.
Ku. Ti. Dak. Ta. Hu."
"O-oh,
begitu ya..."
Seram...
sepertinya lebih baik aku tidak membahas hal ini lebih jauh.
"Lagipula,
daguku sakit sekali seolah mau retak..."
"Kamu... bilang sesuatu?"
"...Tidak."
...Sepertinya
untuk yang ini juga lebih baik tidak diperpanjang.
"Ah,
ngomong-ngomong, aku sudah menyelesaikan cucianmu dan melipatnya di sana."
"Eh?"
Saat aku melihat,
di sudut ruang tamu sudah ada tumpukan pakaian yang terlipat rapi. Bahkan dari
jauh pun terlihat betapa rapinya lipatan itu, benar-benar presisi.
"Tadinya aku
ragu apa boleh memakai mesin cucimu tanpa izin, tapi karena cuacanya sangat
bagus dan sayang kalau tidak menjemur apa pun, jadi aku melakukannya."
"A-aku jadi
merasa tidak enak..."
"Jangan
dipikirkan. Lagipula, aku tidak mungkin meninggalkan orang sakit sendirian,
anggap saja itu buat mengisi waktu luang."
Furano bicara
dengan datar seolah itu bukan masalah besar. Maksudku, sebenarnya sudah berapa
lama aku pingsan...?
Gara-gara kondisi
fisikku (meski yang terakhir rasanya bukan salah demam), sejak kemarin
kejadiannya begini terus.
"Lalu,
karena aku pikir kamu akan segera bangun, aku sedang membuat bubur. Bisa tunggu
sebentar?"
Ucapnya sambil
kembali menuju dapur. Setelah menunggu beberapa menit, dia membawakan bubur
telur yang aromanya sangat menggugah selera.
"Kamu
ternyata jago urusan rumah tangga, ya."
"...Apa
tidak boleh?"
"Ti-tidak,
bukan begitu maksudku."
Jujur
saja, melihat sikapnya di kelas, aku punya gambaran kalau dia sama sekali tidak
bisa melakukan hal-hal seperti ini, jadi ini cukup mengejutkan.
"Kalau
begitu, selamat makan."
"...Silakan."
Aku menyendok
bubur itu ke mulutku.
"...Enak."
Itu bukan
sekadar basa-basi, tapi benar-benar enak. Tekstur telur yang lembut memanjakan
lidah, ditambah aksen tekstur dari daun bawang.
Aroma
kecap asinnya juga sangat pas, ini bukan cuma sekadar makanan orang sakit, tapi
hidangan yang tetap ingin kumakan dalam kondisi sehat sekalipun.
"...Terima
kasih kalau begitu."
Furano
yang duduk bersimpuh di samping bantal tetap memasang wajah tanpa ekspresi,
tapi hidungnya kembang kempis tidak keruan. Ini... dia lagi senang, ya?
"Tapi
agak panas, ya. Aku dinginkan sebentar baru kumakan."
"Oh,
ternyata lidahmu sensitif panas (nekojita), ya."
"Yah,
mungkin sedikit begitu."
Aku meletakkan
mangkuknya kembali ke atas baki.
"Hm? Ada
apa?"
Tiba-tiba Furano
mulai terlihat gelisah.
"Bukan
apa-apa."
Nggak, kamu
menggerak-gerakkan kakimu dengan gelisah begitu, jelas-jelas ada apa-apa...
"Anu...
itu..."
Dia menunduk
melihat ke arah bubur.
"Kalau
Amakusa-kun tidak keberatan, aku bisa membantu meniupnya 'fuu-fuu' lalu
menyuapimu... kalau kamu mau."
"Eh? Fuu-apa
tadi?"
"Makanya,
aku mau 'fuu-fuu' buburnya buatmu..."
"Eh? Maaf,
bisa tolong suaranya diperkeras sedikit?"
"...Fuu-fuu."
"Eh? Fuufu?
(Suami Istri?)" [T/N: Fuu-fuu berarti meniup, sedangkan Fuufu berarti
suami istri dalam bahasa Jepang].
"?!"
Wajah Furano
seketika berubah merah padam.
"Ke-kenapa?"
"N-nggak ada
apa-apa, dasar brengsek mesum tidak tahu malu!"
"Kok malah
dimarahin?!"
Tiba-tiba aku
dihina dengan sangat kasar. Eh, kalau bicara soal tidak tahu malu, bukannya
kamu yang biasanya lebih parah...?
"Yah, sudahlah. Ngomong-ngomong."
"Apa?"
Berhubung aku belum selesai makan, tapi kalau Furano mulai
bercanda terus, aku bakal kehilangan momentum, jadi lebih baik aku ucapkan
sekarang.
"Anu...
terima kasih, ya."
"...Eh?"
"Iya, soal
cucian, masakan... dalam kondisi baru sembuh begini, aku pasti nggak bakal bisa
melakukannya sendiri. Meskipun kamu bilang cuma buat mengisi waktu luang, ini
benar-benar sangat membantu."
"A-apa yang
kamu bicarakan. A-aku kan cuma... melakukannya karena aku ingin, atau lebih
tepatnya ini semacam hadiah buatku..."
Bagian
terakhirnya terdengar seperti gumaman tidak jelas, tapi aku kembali tersenyum
sambil mengutarakan rasa terima kasihku sekali lagi.
"Furano,
terima kasih ya."
"A...
u..."
Entah kenapa
Furano mendadak kehilangan kata-kata dan menunduk.
Kenapa? Rasanya
aku tidak mengatakan hal yang aneh. Di saat itulah, sebuah pertanyaan lain
terlintas di benakku.
"Ah, benar
juga. Ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di depan rumahku?"
"?!"
Seketika itu
juga, tubuh Furano tersentak. Karena dia ada tepat di depan pintu saat aku
membukanya, sudah pasti tujuannya adalah rumah ini.
"................
Ehem."
Setelah hening
cukup lama, Furano mendongak, berdehem, lalu mulai bicara dengan gaya bahasa
seperti biasanya.
"Tadinya aku
berencana menyebar sampah organik dalam jumlah yang bikin merinding di depan
pintu rumahmu."
"Itu mah
bukan level jahil lagi, tahu!"
"Bercanda.
Sebenarnya aku mau melakukan 'Permainan Para Dewa', yaitu menekan bagian
tonjolan pada pagar pintumu dengan ujung jari telunjuk, lalu lari secepat
kelinci diiringi gema suara bel yang kudus."
"Intinya
kamu mau main 'Pencet-Lari' (Pinpon Dash), kan!"
"Apa
salahnya dengan pencet-lari?!"
"Kok malah
sewot?!"
"Lalu,
emangnya harus lari gaya apa biar boleh?!"
"Hah? Bukan,
masalahnya bukan di gaya larinya—"
"Gaya Rampas
Uang Tunai."
"Itu mah
kriminal biasa!"
"Gaya Nontan
Berminyak-Gish."
"Bisa dimarahi penciptanya, lho!"
"Dancan dan Darvish."
"Kamu cuma pengen ngomong kata yang bunyinya mirip,
kan!"
"Darvish itu
Stylis-sh."
"Itu cuma pelesetan kata!"
"Dancan itu tidak Stylis-sh."
"Kubilang nanti kamu dimarahi!"
"Putri Bos itu Trish." [T/N: Referensi JoJo's
Bizarre Adventure].
"SPICE GIRL!"
"Tisu Frekuensi Tinggi."
"Itu mah orang yang lagi alergi serbuk
bunga biasa!"
"Alergi?
Salah, maksudku aku mengatakannya untuk penggunaan yang lebih mesum."
"Kamu
benar-benar parah!"
Mengerikan...
seperti biasa, candaan Furano benar-benar keterlaluan.
"Tadi itu
semua cuma bercanda. Sebenarnya... aku ingin datang ke rumahmu."
"...Eh?"
Ucapannya terasa
seperti serangan kejutan. Furano yang menatap lurus ke arahku menunjukkan
ekspresi yang sangat serius.
"Apa...
tidak boleh?"
"Ti-tidak,
bukan tidak boleh, sih..."
Furano
menatapku dari atas dengan mata yang sedikit basah.
"Datang
ke rumahmu..."
"Datang
ke rumahku?"
Ekspresinya
terlihat sangat sensual, membuatku tanpa sadar menahan napas. Furano memastikan
reaksiku itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Aku ingin
mendapatkan ini."
"...Apa
itu?"
Furano segera
menyembunyikannya di balik punggung, jadi aku tidak bisa melihat benda apa itu
sebenarnya.
"Omong-omong
Amakusa-kun, bank utamamu adalah Bank Mizuho, kan?"
"A-ah. Iya,
tapi kenapa?"
Sesaat aku heran
kenapa Furano bisa tahu, tapi di atas kotak dokumen memang ada surat dari
Mizuho, jadi tidak aneh kalau dia tahu. Furano kembali menyodorkan benda
persegi panjang berwarna biru ke depanku.
"Buku
tabungan ini ada di tanganku sekarang."
"KOK
BISA?!"
Yang ada di
tangan Furano adalah buku tabungan biru milik Bank Mizuho.
"Padahal
sudah kusimpan di dasar laci yang berlapis dua, bagaimana bisa..."
Di saat itu juga,
sudut bibir Furano menyeringai.
"Fu... kamu
terpancing, ya."
"Hah?"
"Ini cuma
replika yang kubuat dari kertas saat kamu sedang tidur tadi."
Begitu
kuperhatikan baik-baik, benda yang dipegang Furano hanyalah kertas lipat...
Sial, prasangka itu memang mengerikan.
"Fu...
dengan ini lokasi aslinya jadi ketahuan, deh."
"Ugh..."
...Nggak bermutu
banget. Demi hal sepele begini dia sampai niat membuat replikanya.
Tapi, kalau dia
bilang datang untuk mencuri buku tabungan, itu pasti cuma bercanda (aku harap
begitu), jadi sebenarnya untuk apa dia datang ke sini?
Saat aku sedang
berpikir, Furano kembali terlihat gelisah.
"Anu..."
"Ada
apa?"
"Kalau
boleh... mau aku lap punggungmu pakai handuk?"
Kalau
dipikir-pikir, punggungku memang sudah basah kuyup karena keringat.
"Apa aku
bau?"
"Nggak, bau
apa pun dari Amakusa-kun bagiku... maksudku... iya, lebih bau daripada ikan
asin busuk (Kusaya)."
"Serius?!"
"Bercanda.
Lebih bau daripada ikan asin busuk yang sudah basi."
"Malah makin
bau, woi!"
"Itu juga
bercanda. Kenyataannya baumu itu seperti 'Bau Badan Pak Kusaya (45 thn) yang
hatinya busuk karena dimutasi ke jabatan nggak jelas'."
"Malah makin nggak paham!"
Yah, mau
bagaimana pun, memang benar aku berkeringat dan bau... Tapi, kalau punggungku
dilap oleh Furano, itu rasanya terlalu memalukan, jadi aku tolak—
PILIH:
① Minta Furano mengelap punggungmu
② Minta Furano menguliti punggungmu
"ITU MAH
JADI BENCANA BESAR!"
"...Tiba-tiba
kenapa?"
"Ti-tidak...
bukan apa-apa."
Yah, ini kan
bukan dipaksa oleh pilihan, tapi aku cuma menerima tawaran dari orangnya
langsung, jadi tidak masalah, kan?
"...Maaf ya,
tolong lap punggungku."
"Baiklah."
Furano
menjawab dengan datar dan pergi ke dapur. Beberapa menit kemudian, dia kembali membawa
handuk.
"Hm? Kenapa
bawa dua?"
"Ada 'Handuk
Hangat Biasa' dan 'Handuk Super Panas yang Bikin Komedian Pucat Pasi', kamu mau
yang mana?"
...Aku tidak
paham maksudnya. Lagipula dia memegang salah satunya pakai sarung tangan
karet... seberapa panas sih itu?
"Ya yang hangat biasa lah!"
"Eh?... Eh?"
"Reaksimu aneh banget, woi!"
Kenapa dia memasang wajah seolah-olah 'Duh, nggak habis
pikir deh'?
"...Lelaki
yang membosankan."
Kenapa juga aku
harus dihina di bagian itu... Sambil merasa lelah, tepat saat aku melepas baju
atasanku—
"Ah..."
Furano
mengeluarkan suara seolah dia baru saja melakukan kesalahan—
"GYAAAAAAAAAA—!"
Sesuatu yang luar
biasa panas mendarat di punggungku.
"GUAKH!"
Saking panasnya,
aku sampai berguling-guling di tempat.
"...Maaf,
tanganku tadi 'sengaja' terpeleset."
"Bahasa Jepang
macam apa itu?!"
"Bercanda,
tanganku tadi benar-benar terpeleset, maaf. Tapi jujur, perasaan hatiku sekarang cuma
'syukurin'."
"APA PERLU
BAGIAN TERAKHIRNYA DIUCAPKAN?!"
Untungnya karena
aku segera menyingkirkannya, sepertinya tidak sampai melepuh.
"...Fiuh,
kalau begitu aku lap sendiri dulu bagian depan, tolong kasih handuk yang
biasa."
"Eh?...
Ja-jadi selain punggung mau dilap sendiri..."
"Eh?"
"Bukan
apa-apa..."
Furano memberikan
handuk dengan ekspresi yang sedikit kesal... Seperti biasa, aku tidak pernah
paham kapan waktu perasaannya berubah.
◆◇◆
"...Oke,
sepertinya sudah cukup."
Beberapa menit
kemudian, aku selesai mengelap tubuh.
"...Kalau
begitu, kita mulai, ya."
Furano
memegang handuk, terlihat sangat siap. Maksudku, kenapa juga dia ngebet sekali ingin mengelap punggungku? Mungkin
dia mau melakukan hal konyol lagi, tapi karena aku sudah memilihnya tadi, tidak
ada jalan untuk kabur.
"...Bagaimana?"
"Ah, iya.
Nggak apa-apa, rasanya enak."
Tekanan tangan
Furano sangat pas dan terasa sangat nyaman.
Di luar
dugaan, dia tidak melakukan hal-hal aneh, dia mengelap punggungku dengan
sentuhan yang lembut. Yah, bagian yang kena handuk super panas tadi masih
terasa agak perih, sih.
"Tadi
aku juga sempat terpikir... kamu ternyata mahir ya dalam urusan domestik
begini."
Gerakan Furano
mendadak terhenti.
"...Apa ada
masalah?"
"Enggak,
cuma kalau melihatmu di kelas, rasanya ini cukup mengejutkan."
"Ja-jadi
memang selama ini aku dianggap seperti itu, ya..."
Furano
menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Lalu, aku
pun menggumamkan kata-kata secara spontan.
"Furano itu,
sepertinya bakal jadi istri yang baik, ya."
"?!"
Detik berikutnya
setelah aku mendengar Furano menarik napas kaget—
"GYAAAAAAAAA—!"
Punggungku
digosok dengan handuk sekuat tenaga.
"I-i-i-istri
katanya?!"
"SAKIIIIITTTTT!"
"I-itu
berarti Pro... Pro... PROPO—!"
Furano
menggosok punggungku membabi buta sambil meneriakkan sesuatu, tapi suaranya
tenggelam oleh teriakanku sendiri yang jauh lebih kencang, jadi aku tidak
dengar dia bilang apa.
"Hah...
hah...!"
Setelah
berhasil berguling dan lolos dari "Neraka Gosokan", aku mengguncang
bahu Furano yang entah kenapa sedang meniru suara ayam.
"...Oi,
Furano."
"Ke-kekko...
kekko... KEKKO!...Ah!"
Begitu dia
akhirnya tersadar kembali, Furano menatap punggungku yang sepertinya sudah
merah padam, lalu berkata dengan nada datar yang mantap.
"...Apa yang
kau lakukan, Amakusa-kun. Luka di punggung adalah aib bagi seorang
pendekar."
"Padahal ini
semua gara-gara kamu, tahu!"
Pilih:
① "Bisa tolong lap dadaku
juga?"
② "Bisa tolong lap pantatku juga?"
"NGAPAIN
MUNCUL DI SAAT SEPERTI INI, SIH?!"
Tanpa
sadar aku berteriak kencang.
"Ada
apa?"
"E-Eh, bukan
apa-apa, jangan dipikirkan."
...Yah, lagipula
pilihan ini tidak memaksaku untuk bergerak, cuma menyuruhku bicara saja. Kalau
aku segera meralatnya, harusnya tidak masalah, kan? ...Nggak deng, masalah
banget malah. Rasanya isinya cuma masalah, tapi aku tidak boleh menyia-nyiakan
Hak Penolakan yang berharga di sini.
"B-Bisa
tolong... l-lap pantatku juga?"
"H-Hah?!
..."
Furano
membelalakkan matanya tanpa sepatah kata pun. Yah, wajar saja dia kaget kalau
tiba-tiba ditembak permintaan seperti itu. Aku harus cepat-cepat
meralatnya.
"B-Bercanda kok, cuma bercanda! Jadi jangan—"
"...Akan
kulakukan."
"......Hah?"
"Kalau itu
keinginan Amakusa-kun... akan kulakukan."
"Anu...
Furano-san?"
"Kalau
begitu... bisa tolong tengkurap sebentar?"
"E-Eh,
dibilang cuma bercanda—UWAHH!"
Furano yang
tampak seperti sedang kerasukan sesuatu sama sekali tidak mendengarkanku. Aku
pun dipaksa terguling.
"Pantat... Amakusa-kun..."
"H-Hentikan!"
Tenaga Furano memang tidak seberapa, tapi karena kondisiku
sedang tidak fit, aku tidak punya tenaga sama sekali untuk melawan.
Tangannya mulai menyentuh pinggiran ban celanaku.
Padahal ini cuma gara-gara dialog tadi, harusnya tidak ada
kekuatan pemaksa di baliknya, tapi sejak tadi suasananya jadi aneh. Mungkin ada semacam saklar
yang tidak sengaja tertekan di dalam dirinya.
"A-Aduh, tung-henti—hm?"
Tiba-tiba, pegangan tangan Furano melonggar.
"Hah!
A-Aku... apa yang kulakukan..."
Furano tampak
kembali sadar. Dan yang terbentang tepat di depan matanya adalah... pantatku.
"KYAAAAAAAAAAAAAA!"
"GYAAAAAAAAAAAAAAA!"
KENAPA PUNGGUNGKU
MALAH DICAKAR?!
◆◇◆
Beberapa menit
kemudian.
"Aku
dibenci, aku dibenci, aku dibenci... Uuuh, kepalaku tadi mendadak kosong sampai
melakukan hal aneh... Aku pasti dibenci, nih."
Furano meringkuk
di pojokan kamar sambil memeluk lutut, tampak sangat depresi.
"W-Woi,
Furano."
Saat aku mencoba
memanggilnya dengan ragu-ragu, dia menoleh dengan raut wajah yang mengerikan.
"......Apa."
"Ugh..."
Serem banget... Tatapannya seperti sedang melihat musuh
bebuyutan orang tuanya saja.
"M-Maaf ya, sudah membuatmu terlibat dalam candaan
bodohku."
"......Eh?"
Kalau dipikir-pikir dengan tenang, sikap Furano tadi
jelas-jelas aneh. Harusnya kuanggap saja dia cuma ingin meladeni candaan
mesumku soal minta dilap pantat itu.
"Kamu sengaja melakukan itu supaya suasananya nggak
jadi canggung, kan?"
"......U-Untuk
kali ini, ketidaka pekaanmu benar-benar menyelamatkanku."
Entah kenapa
wajah Furano tampak lega sekejap. Dia lalu berdiri dan berjalan ke arahku.
Kemudian, dengan
nada datar seperti biasanya, dia berkata:
"Yah, untuk
ukuran Amakusa-kun, itu lelucon yang lumayan. Tapi kalau cuma pantat sih masih
kurang greget. Harusnya kamu sekalian bilang 'tolong lap dadaku' saja
tadi."
"Kamu punya
ESP, ya?!"
"?"
...Yah, aku tahu
itu cuma kebetulan, sih.
"Tapi kamu
ini, biar bagaimanapun ini keterlaluan tahu..."
Aku
memperlihatkan punggungku yang pasti sudah bengkak merah padam.
"Maaf... Kali ini saja... Kali ini saja... Kali ini
saja, aku mengaku kalau aku sedikit salah."
"Berapa kali
kamu mau menjustifikasi diri sendiri, hah! Kamu sadar nggak sih sudah berapa
banyak hal kejam yang kamu lakukan padaku selama ini?!"
"Maaf...
beneran deh."
"Eh?"
Furano mendadak
memasang ekspresi serius seolah melakukan serangan kejutan. Setelah bergumam dengan suara yang
hampir menghilang, dia berbalik dan berjalan menuju dapur.
Pa-Padahal aku cuma bercanda...
"......Benar-benar nggak paham apa yang ada di pikiran
anak itu."
Aku
bergumam sambil menatap punggungnya. Seandainya Furano menikah nanti, suaminya
pasti harus orang yang punya hati seluas samudera untuk menghadapi dia... Aku sama sekali tidak bisa membayangkan
orang seperti apa itu.
◆◇◆
"Nah, cucian
piringnya sudah selesai."
Furano yang sudah
melepas celemeknya duduk di samping bantal tempat tidurku. Aku bangkit dan
menundukkan kepala padanya.
"Furano,
terima kasih banyak untuk hari ini. Kamu sangat membantu."
"Aduh,
formal sekali sih. Bukannya hubungan kita itu tipe yang saling menancapkan paku
ke boneka jerami kutukan satu sama lain?"
"Kamu
beneran melakukan itu?!"
"Cuma
bercanda. Sudah kubilang kan ini cuma untuk membunuh waktu. Nggak usah terlalu
dipikirkan."
"Tapi, aku
nggak enak kalau sudah dibantu sampai begini tapi nggak memberi balasan... Ada
yang bisa kubantu?"
"Sesuatu yang bisa kamu bantu... Ah."
Sepertinya Furano
memikirkan sesuatu.
"K-Kalau
begitu... anu..."
"Ada apa?
Katakan saja, jangan sungkan."
"M-Maukah
kamu... per-pergi ke pes... pesta..."
"Pesta?"
Suaranya semakin
mengecil sampai bagian akhirnya tidak terdengar.
"Maksudku...
pes... maukah kamu pergi ke festival bersamaku..."
"Apa?"
"Apa...
APA-APAAN KAMU?! AKU CUMA MAU MEMAKANMU TAHU!"
...Kenapa malah
jadi Serigala di cerita si Kerudung Merah?
"......Intinya,
kamu ingin aku mati, ya?"
"MAU BANGET
YA?!"
Nggak gitu juga
kali, meski aku bilang jangan sungkan... Tapi ini keterlaluan.
Sepertinya itu
memang bukan keinginan aslinya (ya iyalah). Furano pun menggumamkan sesuatu
lagi dengan malu-malu.
"Fes................tival."
"Festival? Oh, festival musim panas ya. Memangnya
kenapa?"
"Itu... lagipula Amakusa-kun pasti bakal sangat
menganggur sampai kerjaanmu cuma mencari Waldo seharian... jadi... kalau
kamu mau... aku bisa... pergi bersamamu."
Woi, aku masih
punya kegiatan lain kok selain itu...
"Jadi,
intinya aku cukup pergi ke festival bersamamu, kan?"
"............"
Furano mengangguk
pelan tanpa suara. Kalau cuma itu bisa melunasi hutang budiku hari ini,
hitungannya murah banget.
"Oke, kalau
begitu ayo pergi."
"Yah, kalau
Amakusa-kun sampai memohon begitu, mau bagaimana lagi..."
Kulihat hidungnya
kembang kempis kegirangan.
"Ah, tapi
aku sudah ada janji sama Chocolat juga, jadi kita perginya bareng-bareng ya.
Nggak apa-apa kan?"
"——?!"
Wajah Furano
langsung kaku seketika.
"......Kalau
begitu, nggak usah saja."
"Eh?
Kenapa?"
"......Mendingan
kamu dimakan Waldo saja sana sampai mati."
"Malah
dicampur-campur?!"
Ke-Kenapa dia
tiba-tiba jadi galak begitu? Memangnya hubungan Chocolat dan Furano
seburuk itu, ya?
"......Terlepas dari itu Amakusa-kun, kondisi tubuhmu
memang mulai membaik, tapi belum sembuh total. Lebih baik kamu tidur lagi
saja."
"A-Ah, iya sih, mungkin benar... Tapi kenapa
tiba-tiba?"
Ekspresi Furano datar seperti topeng Noh, tapi aku bisa
melihat dengan jelas ada kemarahan luar biasa yang tersembunyi di baliknya.
"Aku bicara
demi kebaikanmu sendiri tahu. Soalnya kalau kamu bangun, suara dan
gerak-gerikmu itu sangat tidak menyenangkan sampai-sampai aku ingin membuatmu tidur
selamanya."
"SEREM
BANGET!"
"Sekarang
pilih, mau tidur sendiri atau mau kutidurkan selamanya?"
"KUBILANG
SEREM BANGET TAHU!"
"Kalau nggak
cepat tidur, akan kulingkari semua gambar Waldo di bukumu!"
"Woi, itu
namanya kriminal!"
...Di tengah
liburan musim panas yang harusnya menyenangkan, aku malah diancam 'tidur atau
mati' oleh teman sekelasku sendiri... Apa aku sudah melakukan kesalahan fatal,
ya?
◆◇◆
"Zzz...
zzz..."
Setelah
memastikan Kanade akhirnya tertidur, Furano menghela napas panjang di dalam
hatinya.
(Haahhhhhhhhhh...)
Padahal...
padahal susah payah aku mengajaknya ke festival musim panas, tapi ternyata dia
sudah janji duluan dengan Chocolat.
Tadi aku terpaksa
menyuruhnya tidur dengan alasan yang masuk akal, tapi kalau bicara lebih lama
lagi dengannya, aku mungkin bakal menangis.
(Uuuh...
sepertinya aku memang nggak bisa menang terhadap Chocolat-chan. Dia
imut, dan yang terpenting, mereka tinggal serumah... Nggak, sebelum
membandingkan diri dengan orang lain, aku sendiri sudah melakukan hal-hal kejam
pada Amakusa-kun.)
Selain lidah tajamku yang biasanya, hari ini aku bahkan
sampai memberikan luka fisik berupa cakaran di punggungnya.
(Maaf ya...
maaf, Amakusa-kun.)
Aku selalu
bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa mengungkapkan perasaan ini dengan jujur. Begitu berada di depan Kanade, aku
benar-benar tidak bisa menjadi diriku sendiri.
Meskipun
aku sudah memutuskan untuk tidak terburu-buru dan melakukannya perlahan, kalau
begini terus, bukankah aku ini gagal total sebagai seorang gadis?
(Tapi,
setidaknya dia jadi tahu kalau aku bisa mengurus rumah dan memasak... Dia
juga bilang aku bakal jadi istri yang baik... Aku senang.)
Tentu saja, aku tahu kalimat itu tidak dibarengi dengan
embel-embel 'istrinya Kanade', tapi tetap saja Furano tidak bisa menyembunyikan
kegembiraannya.
Setelah bergumul sendiri dengan pikirannya, Furano kembali
menatap wajah Kanade yang sedang tidur.
(......Imutnya.)
Kanade aslinya punya fitur wajah yang sangat rapi dan
cenderung baby face. Saat sedang tidur nyenyak begini, dia terlihat
beberapa tahun lebih muda dari usia aslinya.
(Ja-Jangan sampai membangunkannya...)
Dengan lembut, dia mencolek pipi Kanade dengan telunjuknya.
"Nng...
uun..."
Kulitnya terasa
sangat lembut dan halus, hampir tidak percaya kalau ini kulit laki-laki.
(K-Kenyal
banget~)
Wajah Furano
langsung meleleh saking senangnya.
(M-Mungkin aku
coba lihat wajahnya lebih dekat lagi, ya.)
Tepat saat Furano
mendekatkan wajahnya dalam posisi seolah-olah menindih Kanade—
"Kanade-san, apa sudah sembuh? Ayo kita makan makanan en—"
Furano bergetar
karena terkejut mendengar suara yang tiba-tiba itu, dan sedetik kemudian,
bibirnya menyentuh pipi Kanade meski hanya sedikit.
"Ah..."
"Eh...?"
Si pemilik suara
yang baru saja masuk ke kamar itu berdiri mematung dengan tatapan kosong
melihat pemandangan di depannya.
"Sh-Chocolat... chan."
"Ka-Kanade-san dan Furano-san... sedang
berciuman."
"B-Bukan... itu..."
Wajah Chocolat menunjukkan ekspresi syok yang luar biasa.
"Kanade-san... Kanade-san..."
"Bukan begitu, Chocolat-chan! In-ini bukan seperti yang
kamu lihat—"
"Nng... uun?"
Dan di
saat yang paling buruk, Kanade terbangun.
◆◇◆
Begitu
aku membuka mata, di sana sudah ada gadis berambut pirang yang sangat kukenal.
"Oh,
Chocolat, kamu sudah bangun juga... hm?"
Ada apa
ini? Chocolat berdiri mematung dengan ekspresi kosong. Kenapa dia? Ini pertama kalinya aku melihat
Chocolat memasang wajah seperti itu.
Di sisi lain,
wajah Furano pucat pasi... Sebenarnya apa yang terjadi saat aku sedang tidur
tadi?
"Woi,
Chocolat, ada apa?"
"Ka...
Ka..."
"Ka?"
"KANADE-SAN
DASAR MESUMMMMM!"
Sesaat setelah
meneriakkan itu, Chocolat langsung lari terbirit-birit menuju lantai dua.
"......Eh?"
...Aku sama
sekali tidak paham maksudnya. Untuk memastikan situasinya, aku pun menoleh ke
arah Furano.
"Furano,
sebenarnya apa yang terjadi?"
"E-Eh...
nggak ada apa-apa kok."
"Nggak
mungkin, kalau situasinya begini mana mungkin dibilang nggak ada apa-apa?"
"......Cuma
ada kecelakaan kecil saja."
"Kecelakaan?
Kecelakaan apa?"
"......Nggak
usah dibahas kenapa, sih!"
"Woi,
wajahmu itu pucat pasi tahu, jelas ini ada apa-apa!"
Kalau ini
menyangkut masalah kesehatan atau hal serius, aku harus memaksanya bicara. Saat
aku sedikit mendesaknya, Furano akhirnya membuka mulut dengan ragu-ragu.
"I-Itu...
tadi aku... kepada Amakusa-kun... Ci... Ci..."
"Ci?"
"Ci... Ci..."
"Ci?"
Karena suara Furano semakin mengecil dan hampir hilang, aku
mencondongkan tubuhku ke arahnya agar tidak melewatkan sepatah kata pun. Dan di
saat itulah—
Pilih:
① Dipaksa mencium Ikan Kisu oleh Furano, lalu diceburkan ke laut
bersama-sama.
② Dipaksa mencium Daiko-san oleh Furano, lalu diceburkan ke laut
bersama-sama.
"MANA BISA
DIPILIH!... Eh, UWAAHH!"
Gawat,
berteriak kencang dengan posisi tubuh yang tidak seimbang adalah ide buruk. Aku
kehilangan keseimbangan, kakiku terpeleset dan—
G-Gawat!
Kalau sudutnya begini, wajahku bakal menabrak wajah Furano—
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
Bersamaan dengan teriakan histeris Furano yang terdengar seperti kiamat sudah tiba, kesadaranku pun terputus.



Post a Comment