Chapter 3
Bagian Bawah
Tubuh, Sang Penerima, dan Pantat
1
Chocolat sedang aneh.
"Chocolat, ada apa?"
"…… Tidak ada apa-apa."
Meskipun menjawab begitu, pipi Chocolat menggembung lebar
karena merajuk.
"Kamu... tidak mungkin dibilang tidak ada apa-apa kalau
wajahmu begitu."
"Kanade-san cerewet! Sudah kubilang tidak ada
apa-apa!"
Pagi ini saat bangun, aku sudah berbaring rapi di atas kasur
lipat. Seingatku, aku mencoba menjatuhkan diri ke arah Furano lalu dipukul
(rahangku masih terasa sakit sekali), dan sepertinya aku pingsan setelah itu.
Yah, kalau soal itu sih sudahlah (sebenarnya nggak 'sudah'
juga sih), yang jadi masalah adalah kejadian kemarin saat aku sedang tidur.
"Hmph!"
Aku mencoba menelepon Furano tapi tidak diangkat, dan
satu-satunya orang yang seharusnya tahu jawabannya malah dalam kondisi seperti
ini.
"Woi, kalau ada sesuatu yang tidak kamu sukai, bilang
saja terus terang."
"Sudah kubilang tidak ada apa-apa,
kok..................... tapi nasi ini enak sekali."
Meski masih
merajuk, dia tetap melahap makanannya dengan kecepatan yang sama seperti
biasanya.
"Ooh,
syukurlah kalau begitu. Mau tambah?"
"Iya,
mau!"
"Ini. Terus,
kamu sebenarnya marah kenapa?"
"Itu karena
Kanade-san dan Fu—Hah?!"
Chocolat
buru-buru membekap mulutnya sendiri. Sayang sekali, padahal sedikit lagi...
"Ka-Kamu
menjebakku ya!"
"Bukan
menjebak, sih..."
"Tidak
dimaafkan, licik sekali..."
"Nggak,
kamunya saja yang terlalu polos..."
"Jangan cari
alasan! Aku itu sedang... anu... sedang dongkol-dongkolnya!"
Mungkin karena
tidak bisa memikirkan kata lain, Chocolat menggunakan ekspresi yang terdengar
sangat bodoh.
"Begitu ya.
Jadi kamu sudah membenciku sekarang?"
"Aku
suka banget, kok—Hah?!"
Dia
kembali membekap mulutnya dengan panik.
"D-Dari tadi
kamu mainnya kotor terus! A-Aku tidak menyangka Kanade-san adalah orang yang
selicik ini."
"Licik itu
agak keterlaluan, tahu..."
"Pokoknya
aku tidak mau tahu lagi!"
Chocolat
memalingkan wajahnya dan merengut.
"Yah, mau
bagaimana lagi..."
Karena rasanya
percuma bertanya lebih jauh, aku memutuskan untuk mendiamkannya saja sementara
waktu. Kami berdua lanjut makan dalam diam selama beberapa menit.
"…………"
Chocolat perlahan
menyodorkan tangannya yang memegang mangkuk nasi.
"Tangan itu
maksudnya apa?"
"Uu...
itu..."
Chocolat bergumam dengan suara yang sangat pelan.
"…… Mau tambah lagi."
Sisi di mana
nafsu makannya mengalahkan rasa amarahnya benar-benar ciri khas Chocolat
sekali.
"…………"
"…… Anu."
Aku tidak boleh
melewatkan kesempatan ini. Meski agak kasihan, aku memutuskan untuk pura-pura
mengabaikannya.
"…………"
"Kanade-san,
mau tambah..."
Dengan mata yang
sedikit berkaca-kaca, dia menatapku dengan tatapan memelas. Rasanya hampir saja
aku mengambilkan nasi untuknya, tapi... tidak, aku harus menahannya sedikit
lagi.
"…………"
"…… Tolong... tambahkan nasinya."
Baiklah, penantiannya sudah cukup sampai di sini. Sebagai ganti nasi tambahan ini, aku akan
memaksanya menceritakan kejadian kemarin—
Kruyuuuuuuuuuuk.
Tepat di saat
itu, suara perut Chocolat berbunyi dengan sangat nyaring.
"Pfft,
Hahahaha!"
Aku tidak tahan
lagi dan tertawa terbahak-bahak. Chocolat langsung melotot ke arahku.
"A-Apa-apaan!
Kenapa Kanade-san tertawa padahal orang sedang marah serius begini!"
"Ah, tidak,
maaf, maaf."
"Na-Nada
bicaramu sama sekali tidak menunjukkan kalau kamu merasa bersalah!"
Yah, memang benar
sih, jadi mau bagaimana lagi.
"Kamu
mengerti tidak?! Aku ini sedang... anu... sedang benar-benar murka!"
...Kosakatanya
bisa tidak sih diperbaiki sedikit? Karena taktik 'nasi tambahan' gagal, aku
mencoba menyerang dari sudut lain.
"Begitu ya.
Jadi kamu sudah membenciku sekarang?"
"Aku
suka banget, kok—Hah?!"
Dia
membekap mulutnya lagi seolah baru teringat. ...Chocolat-san, apakah kemampuan
belajarmu itu memang tidak eksis?
"Iih,
dasar!"
Chocolat
mengayunkan tangannya dengan gemas dan meronta-ronta kesal.
"Mana
mungkin aku bisa benci sama Kanade-san... Tapi... tapi..."
"Tapi?"
Chocolat menatap
mataku lekat-lekat.
"Kanade-san... Kanade-san itu... BODOH! Tahu!"
Dia meletakkan mangkuknya dan berlari keluar dari ruang tamu
dengan kecepatan tinggi.
"Maksudnya apa, sih..."
Benar-benar tidak mengerti situasinya sama sekali. Apakah
perasaan orang tua yang punya anak di masa puber seperti ini ya?
Dan sore harinya.
"Sret—"
(Tatapan tajam)
Aku bisa
merasakan tatapan yang sangat jelas dari belakangku. Namun, saat aku menoleh—
"Hmph."
Dia langsung
memalingkan wajah. Saat aku kembali memiringkan kepala dan menatap televisi—
"Sret—"
Hal itu
terus berulang. Kupikir kekesalannya yang tanpa sebab itu akan mereda seiring
berjalannya waktu, tapi tidak ada tanda-tanda seperti itu sama sekali. Malah,
sepertinya semakin parah.
"Sreeet—"
...Pertama-tama,
menurutku lebih baik kamu berhenti mengucapkan efek suara itu dengan mulutmu
karena itu terlihat sangat konyol.
"Chocolat,
kalau ada yang ingin kamu katakan, bilang saja dengan jelas."
"Ingin
kukatakan? Entah apa
yang sedang kamu bicarakan ya."
"Nggak, dari
tadi kamu terus-terusan melotot ke arahku, kan."
"Itu cuma
perasaanmu saja yang kepedean. Aku sama sekali tidak memikirkan tentang
Kanade-san... Aku juga tidak memikirkan sama sekali kalau aku senang karena
kondisimu sudah membaik."
Berarti kamu memikirkannya, kan...
"Kalau tidak memikirkannya, jangan merengut terus
begitu dong."
"Aku
tidak merengut, kok!"
Sambil
berkata begitu, dia menggembungkan pipinya lebar-lebar.
"Hoo~"
Aku
mendekat ke arah Chocolat dan menusuk pipinya yang menggembung itu dengan jari.
"A-Auh!"
Pshuuuu— Udara keluar dari mulutnya dan
Chocolat sedikit terhuyung.
"H-Hei!"
Cara
marah yang kaku macam apa itu... Begini ya jadinya kalau orang yang tidak biasa
marah malah memaksakan diri untuk marah.
"Ah, maaf,
maaf."
Kataku sambil
mengelus kepalanya.
"Ehehe... Hah?!"
Setelah memasang senyum lebar, Chocolat langsung melompat
mundur satu langkah.
"A-Apa yang
kamu lakukan! Kalau kepalaku dielus begitu, ya sudah pasti aku bakal senang,
tahu!"
"Kalau
senang kan tidak apa-apa?"
"Ah,
benar juga ya... BUKAN BEGITU! Aku ini sekarang sedang murka-murkanya!"
...Entah
dia ini gampang ditangani atau tidak. Pokoknya, kalau begini terus tidak akan
ada ujungnya. Mau bagaimana lagi, biarlah aku yang mengalah.
"Chocolat,
aku benar-benar tidak punya gambaran sama sekali. Kalau aku melakukan kesalahan, aku minta maaf,
jadi tolong beri tahu aku ya?"
Wajah Chocolat
seketika diliputi rasa bersalah.
"Uu... kalau
kamu bersikap begitu, nanti jadi terlihat kalau aku ini cuma sedang ngambek
sendiri tanpa alasan..."
Ternyata kamu
sadar juga ya...
"Pokoknya,
beri tahu aku apa yang membuatmu kesal."
"Ka-Kalau
kamu memaksa sampai begitu, akan kuberi tahu."
Chocolat membuka
mulutnya dengan ragu-ragu dan tampak sulit mengatakannya.
"Itu... kemarin Kanade-san dengan Furano-san..."
"Memangnya Furano kenapa?"
Yah, sikap Furano juga aneh, jadi sudah pasti ada sesuatu di
sana.
"Kanade-san dan Furano-san... itu... C-Ci...
Ci..."
"Ci?"
Sepertinya Furano
kemarin juga sempat mau mengatakan hal yang sama.
"Uuu..."
Chocolat yang
tidak sanggup melanjutkan kalimatnya mengambil napas panjang.
"Anu... Aku
ingin kamu melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan dengan Furano-san
kemarin..."
"Hal yang
sama?"
Meskipun kamu
bilang begitu, kalau tidak dikasih tahu apa yang kami lakukan, aku juga tidak
bisa apa-apa. Eeeh, hal yang kulakukan dengan Furano yang kira-kira bisa
membuat Chocolat marah adalah...
"Ah, yang
itu ya."
Aku terpikirkan
satu hal.
"Kalau
begitu, aku persiapan sebentar ya."
"E-Eh!
B-Benaran mau melakukannya?"
Chocolat menarik
tubuhnya seolah terkejut.
"Lah,
bukannya kamu sendiri yang menyuruhku melakukannya..."
"I-Itu
memang benar, sih..."
"Kalau
begitu, tunggu sepuluh menit ya."
"Sepuluh
menit? A-Ah, iya benar. Untuk persiapan mental, waktu segitu memang dibutuhkan
ya."
Aku meninggalkan
Chocolat yang menggumamkan hal-hal tidak jelas itu dan berdiri untuk
bersiap-siap. Dan sepuluh menit kemudian.
"Maaf
menunggu, persiapannya sudah selesai... hm?"
Entah kenapa,
Chocolat duduk di sofa sambil memejamkan matanya... Apa dia menunggu dalam
posisi ini terus dari tadi? Wajahnya juga entah kenapa memerah, aku benar-benar
tidak paham apa yang dia pikirkan.
"S-Silakan
kapan saja!"
Aku tidak
mengerti kenapa dia sampai sebersemangat itu, tapi kalau ini bisa memperbaiki
suasana hatinya, ya sudahlah.
"Oke, tolong
buka mulutmu sedikit."
"I-Iya...
anu... tolong lakukan dengan lembut ya."
Lembut? Maksudnya
apa? Disuruh pelan-pelan? Aku tidak terlalu paham, tapi aku perlahan memasukkan
benda itu ke dalam mulut Chocolat.
"Nggh?"
Seketika,
Chocolat mengeluarkan suara terkejut dan membuka matanya.
"…… Ini apa?"
"Apa
lagi kalau bukan Bubur Telur?"
"…………"
Dalam
sekejap, rona merah di wajah Chocolat langsung menghilang. Lho? Apa aku salah?
Kupikir dia kesal karena kemarin aku makan bubur telur enak tanpa dia, makanya
tadi aku buru-buru membuatnya... Ah, tapi kalau dipikir tenang, kejadian yang
disaksikan Chocolat kan bukan bagian itu ya.
"Nggak,
kupikir kalau kamu marah, alasannya pasti cuma soal makanan..."
"Ka-Kanade-san... Kanade-san..."
Wajah Chocolat kembali memerah padam.
"BODOH! TAHU!"
Sambil matanya berkaca-kaca, Chocolat berlari naik ke lantai
dua.
"O-Oi..."
Aku pun ditinggal sendirian di sana. Enak saja dia
mengataiku bodoh tanpa alasan yang jelas begitu—
Pilih:
① Muncul Kuda (Uma) dan Rusa
(Shika), lalu kamu dijilati terus-menerus.
② Muncul Kuda dan Rusa, lalu kamu digigit terus-menerus sampai babak
belur.
③ Muncul Kuda dan Gajah, lalu kamu diinjak-injak sampai gepeng.
...Apakah ini
lelucon? Apa aku anak SD? Ini kan cuma permainan kata (Pun)! (T/N: Permainan
kata "Umajika" dari kata "Bakayaro/Bodoh")
Kalau pilih nomor
dua bisa mati tahu! Kalau nomor tiga sih sudah pasti mati!
Yah, mau protes
pun, pilihan yang sudah muncul tidak bisa diapa-apakan lagi. Pertama-tama mari
rapikan situasinya. Hari ini tanggal dua puluh lima, jadi sisa waktu misi
tinggal enam hari. Sisa Hak Penolakan tinggal enam kali. Karena aku harus
menyisakan setidaknya satu kali, berarti yang bisa kugunakan tinggal lima
kali... Tentu saja aku tidak boleh membuangnya di tempat seperti ini.
Sambil gemetaran
aku memilih nomor satu, dan saat berikutnya—
"Kudanya
gede banget! Rusanya juga ternyata gede!"
Serius, seekor
kuda dan seekor rusa benar-benar muncul di ruang tamu keluarga Amakusa... Hukum
fisika sudah tidak ada harganya lagi.
"Hah! ... Hah!"
Duh, nafas mereka berdua buru-buru banget, sih... Kuda dan
rusa itu mendekat seolah ingin menjepitku.
"E-Eh, tenang dulu kalian. Aku juga butuh persiapan
mental..."
"HAH!! ... HAH!!"
Aduh, mereka nafsu banget... Ti-Tidak bisa, aku harus pasrah
sekarang.
"Mo-Mohon bantuannya ya—Uwah, tunggu, sebentar...
AAAAAAAAAAAAA!"
...Keduanya
ternyata benar-benar ahli dalam teknik menjilat.
Dan,
keesokan paginya.
"Uugh...
rasanya seluruh badanku masih terasa lengket..."
Sambil menderita
karena efek samping kejadian kemarin, aku turun ke ruang tamu—
"Hm?"
Ada sebuah
catatan di atas meja.
《 Jangan cari aku......
Kanade-san bodoh 》
"Apa-apaan ini?"
Kalau dipikir secara normal, ini adalah catatan orang yang
kabur dari rumah...
"?"
Karena aku
melihat ada tulisan di balik kertasnya, aku membaliknya.
《 Tapi sebenarnya aku ingin kamu mencari aku...... di
sekitar area perbelanjaan 》
"...Apa sih
yang dipikirkan anak itu."
Ujung-ujungnya,
aku masih belum tahu alasan kenapa dia merajuk. ...Benar-benar ya. Karena
kondisiku juga sudah hampir pulih total, sepertinya aku akan keluar rumah
setelah beberapa hari ini mengurung diri.
2
"Fuiii~."
Luar ruangan
setelah sekian lama memang terasa menyegarkan, sampai-sampai tanpa sadar aku
mendesah layaknya suara penyihir dari antah berantah.
Meski panasnya
minta ampun, mungkin karena efek serangan balik setelah beberapa hari tidak
bisa keluar rumah, hawa gerah ini pun terasa nyaman di kulit.
"Nah,
sekarang apa ya...."
Bukannya aku
punya petunjuk ke mana harus mencari Chocolat. Lagipula, kalau dia lapar juga
bakal balik sendiri, jadi rasanya tidak perlu seserius itu mencarinya.
"Hm?"
Baru melangkah
sedikit di area pertokoan, aku melihat ada kerumunan orang.
"Kyaaa~!"
"Lucunyaaa~!"
Saat aku
mengintip, ternyata anak-anak sedang mengerumuni sebuah maskot kostum.
Sepertinya sedang ada acara kecil-kecilan di sana.
Ah, aku tahu
karakter itu. Kalau tidak salah... namanya Kire-tanu-kun.
Berbanding
terbalik dengan penampilannya yang menggemaskan bermotif tanuki, karakter ini
punya tiga paket lengkap yang mengerikan: bicaranya kasar, pemikirannya
radikal, dan ringan tangan. Kalau mau digambarkan secara spesifik, kira-kira
begini—
"JANGAN
LIHAT-LIHAT GUE, WOY!"
"JANGAN ASAL ELUS KEPALA GUE, LU!"
"MAU GUE HAJAR, HAH?!"
Seperti itulah, Kire-tanu-kun adalah karakter dengan
pengaturan tidak masuk akal yang selalu marah-marah pada apa pun.
Karena dia mengucapkannya dengan ekspresi wajah yang tetap
tersenyum ramah, suasananya jadi makin surealis. Tapi, reaksi anak-anak di sana
justru—
"Kyaaa~!"
"Lucunyaaa~!"
...Apanya yang lucu, coba? Katanya sih gap itu yang
bikin gemas... tapi selera anak zaman sekarang benar-benar sulit dimengerti.
Yah, terlepas dari perdebatan apakah Kire-tanu-kun itu lucu
atau tidak... ada sesuatu yang harus kupastikan.
Aku mendekati
Kire-tanu-kun, lalu memanggilnya pelan dari belakang.
"...Ibu
Guru, apa yang sedang Ibu lakukan?"
Mendengar
itu, Kire-tanu-kun langsung berbalik ke arahku.
"Hm?
Oh, Amakusa toh."
...Ternyata
benar Sensei Utage.
Meski
suaranya diproses jadi sangat tinggi lewat alat pengubah suara, mustahil aku
salah mengenali gaya bicara kasarnya itu.
"Kenapa Ibu
bisa ada di tempat seperti ini?"
Sensei bicara
padaku dengan suara asli yang pelan supaya tidak terdengar anak-anak.
"Lah, kalau
ditanya kenapa, kan rumahku dekat sini. Justru Ibu sendiri ngapain di
sini?"
Aku melontarkan
balik pertanyaan yang sama.
"Relawan."
"Hah?"
"Tadi pas
aku lagi ngehajar berandalan yang belagu, ada yang manggil. Katanya, aku jauh
lebih menjiwai jadi Kire-tanu-kun dibanding orang di dalamnya yang asli, jadi
dia minta aku bantu acaranya."
Ada ya
rekrutmen model begitu... Yah, aku juga pernah sih masuk ke dalam kostum maskot
lain.
"Lalu,
Ibu setuju?"
"Iya.
Lagipula melihat senyum anak-anak itu lebih menyenangkan dari apa pun."
"...Ibu,
kok tumben ngomongnya kayak guru beneran?"
"...Lu
mau ngajak berantem, hah?"
"Ma-maaf...
soalnya agak beda dari bayanganku... Ibu suka anak kecil ya?"
"Iya, kalau
nanti menikah aku mau punya tiga an—EH, NGOMONG APAAN SIH GUE!"
"Ibu
sendiri yang bilang, tahu!"
"Kire-tanu-kun,
ada apa?"
"Kakak itu
siapa?"
Anak-anak menatap
kami dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.
"Waduh,
gawat."
"Kalau
begitu aku pergi dulu ya."
"...Tunggu
bentar. Lu sekalian bantuin gue."
"Bantu?"
Kire-tanu-kun
mengangguk mantap, lalu berbalik menghadap anak-anak dan berteriak lewat alat
pengubah suara.
"Denger ya,
bocah! Sekarang gue bakal kasih unjuk hal yang bagus!"
"Ehh~?"
"Apaan,
apaannn?"
Lalu, dia
menunjuk ke arahku dengan santai.
"SEKARANG
GUE BAKAL BANTAI KOPLAK INI!"
...Eh? Apa-apaan
sih tanuki satu ini?
Aku
benar-benar tidak paham, tapi reaksi anak-anak adalah—
"Kyaaa~!"
"Lucunyaaa~!"
...Enggak,
selera kalian benar-benar sudah rusak ya.
"Amakusa, lu
tahu jurus maut Kire-tanu-kun?"
Sensei kembali
berbisik dengan suara aslinya.
"Enggak,
mana saya tahu..."
"Pukul perut
sekuat tenaga, lalu pas muntahannya mau keluar, cekik lehernya biar itu
muntahan balik masuk ke dalam perut secara paksa. Itu namanya kombo."
"SADIS
BANGET WOY!"
"Makanya,
bersiaplah!"
"Hah? Eh,
bentar, tunggu—"
"KIRE-TANU
BLOWWW!"
"Gofuh!"
Tinju
Kire-tanu-kun menghunjam telak ke ulu hatiku.
"Kyaaa~!"
"Lucunyaaa~!"
APANYA YANG
LUCU?!
Selanjutnya,
Kire-tanu-kun mencengkeram leherku dan mencekiknya sekuat tenaga.
"KIRE-TANU
CHOKEEE!"
"Gueeehhhh!"
"Kyaaa~!"
"Lucunyaaa~!"
Mata kalian sudah
katarak apa gimana?!
"Uhuk,
uhuk... huek..."
Aku berjongkok
sambil terbatuk-batuk menahan sakit.
"Sori
Amakusa, gue terlalu nahan diri jadi muntahannya nggak keluar."
"Salah
sasaran kalau mau minta maaf soal itu!"
Aku
berdiri dengan kaki yang masih gemetaran.
"Ke-kenapa aku harus mengalami hal seperti ini—"
Pilih:
① Elus kepala Kire-tanu-kun. (Anak-anak: "Kyaaa!"
"Lucunyaaa!")
② Pamerkan alat kelamin. (Anak-anak: "Kyaaa!"
"Lucunyaaa!")
③ Meniru gaya pemain bunt profesional. (Anak-anak: "Kyaaa!"
"Kawaii-nyaaa!")
Nomor dua
itu gila ya?!
Mana ada lucunya!
Malah jadi adegan mesum! Anak-anak bakal nangis, tahu!
...Maaf,
aku bohong, mungkin itu malah masuk kategori lucu (?). Nomor tiga juga... anak
zaman sekarang mana tahu soal pemain legendaris Kawai. Aku sih suka banget,
gaya mainnya yang efisien itu paling keren.
Tapi
tumben sekali, ada dua pilihan yang kelihatannya tidak terlalu membawa petaka.
Yah, mending pilih yang paling aman saja.
Aku
mengelus kepala Kire-tanu-kun dari belakang.
"Kyaaa~!"
"Lucunyaaa~!"
Sesuai
pilihan tadi, anak-anak memberikan reaksi yang sangat antusias. Nah, begini
dong reaksi yang normal.
Dari balik
kostum, aku bisa merasakan suasana seolah Sensei Utage juga merasa puas.
"Amakusa,
meski demi senyum para bocah ini, sori ya soal tiba-tiba mukul dan nyekik lu
ta—"
"Ah..."
Karena dia
tiba-tiba berbalik, tanganku yang tadinya mengelus kepalanya jadi terpeleset...
dan menyentuh bagian dada Kire-tanu-kun.
"Ugh..."
Sentuhan yang
terasa adalah sebuah tonjolan yang sangat, sangat tipis... itu artinya...
"Bu-Bu
Guru, i-ini tidak sengaja..."
"............"
Tanpa
kata, tubuh Kire-tanu-kun bergetar hebat sambil melangkah mendekatiku. Ko-kok
kayak ada aura hitam pekat yang keluar... apakah ini............ HAWA
MEMBUNUH?
"MATI... LU SEKARANG JUGAAAAAA!"
"UGYAAAAAA!"
Woy! ...Aduh! ...Gueh! ...Hiii! ...Ja-jangan mukanya...
Sakit!! ...Hebuh! ...Ma-maafkan... Ke-kesadaranku mulai...
"Kyaaa~!"
"Lucunyaaa~!"
KALIAN BERHENTI MENYORAKI INI SEBAGAI HAL LUCU, WOY!
3
Chocolat yang memutuskan kabur dari rumah, sedang berjalan
menyusuri pertokoan sambil menggembungkan pipinya.
"Dasar,
Kanade-san... bener-bener... ih, menyebalkan de-su!"
Dia ingin sekali
mengumpat, tapi karena tidak menemukan kata-kata yang pas, dia hanya bisa
mengerang kesal. Untuk beberapa saat, Chocolat terus berjalan sambil
bersungut-sungut, tapi kemudian....
"Apa mungkin
Kanade-san memang tidak bisa menyukaiku, ya...?"
Kemarahan—emosi
yang tidak biasa dia rasakan—tidak bertahan lama, dan seketika semangatnya
layu.
"Aku...
aku cuma cemburu sendirian saja de-su..."
Sama
seperti Chocolat yang menyukai Kanade, siapa pun yang disukai Kanade adalah hak
pribadinya sendiri.
"Tapi...
tapi... uuuu~, de-su!"
Membayangkan
Kanade dan Furano berciuman membuat dadanya terasa sesak dan perasaannya jadi
tak karuan.
"Jadi gadis
yang sedang jatuh cinta itu berat ya...."
Setelah
pergulatan batin antara rasa suka pada Kanade dan rasa tidak terima padanya,
otak Chocolat akhirnya menarik satu kesimpulan—
"Tetap
saja... aku ingin bertemu Kanade-san."
Chocolat pun
berbalik badan dan mulai mencari sosok Kanade.
4
"D-Duh,
apes banget nasibku..."
Aku berjalan
menyusuri pertokoan sambil sedikit menyeret kakiku.
Kalau
diingat-ingat, saat dihajar Kire-tanu-kun (Sensei Utage) tadi, di tengah
kesadaranku yang mulai memudar, sepertinya aku sempat mendengar suara yang
sangat imut bergumam, "Aku sudah tidak bisa jadi pengantin lagi,"
tapi itu suara siapa ya?
Ah, sudahlah.
Lebih baik fokus mencari Chocolat. Namun....
"............Nggak
ada, ya."
Di tengah panas
yang membakar ini (rasa nyaman tadi cuma bertahan di awal saja), aku sudah
berjalan cukup lama tapi belum melihat batang hidungnya sama sekali.
Mengingat dia
meninggalkan surat wasiat—maksudku pesan tertulis—dia pasti ada di sekitar
sini, tapi... aku jadi berpikir. Apa perlu aku mencarinya?
Kalau seandainya
aku melakukan hal kejam padanya lalu dia kabur, itu masalah lain. Tapi ini kan
dia merajuk sendiri lalu kabur sendiri. Apa aku harus mencarinya di bawah terik
matahari begini...? Yah, mungkin saja aku melakukan kesalahan tanpa sadar, tapi
kalau dia tidak memberi tahu alasannya, aku juga tidak bisa minta maaf.
Lagipula seperti
yang kupikirkan tadi, kalau lapar juga dia bakal pulang. Mending aku tunggu di
rumah sa—
"Ah,
Kanade-chi!"
Mendengar suara
yang familier, aku menoleh dan mendapati Ouka di sana. Dia berlari kencang
mendekatiku.
"Ada apa,
kok di sini?"
"Kebetulan
banget, aku baru mau main ke rumah Kanade-chi!"
"Ke
rumahku?"
"Hehe,
soalnya ada sesuatu yang mau kuminta."
"Kalau kamu
yang minta, perasaanku kok nggak enak ya... Hm? Rambutmu kenapa?"
Aku baru
menyadarinya di tengah obrolan. Biasanya Ouka membiarkan rambutnya terurai
lurus, tapi sekarang rambutnya diikat gaya ponytail.
"Oh, ini?
Hikaru-chi yang bilang sesekali harus ganti gaya rambut, terus dia yang
buatkan."
"Hikaru-chi?"
"Iya,
pelayan di rumahku, dia yang bertugas mendidikku."
Guru didiknya Ouka, ya... Membayangkannya saja sudah membuat
lambungku perih. Kalau aku, mau digaji setinggi apa pun ogah deh jadi guru
didiknya.
"Gimana,
gimana? Nggak aneh, kan?"
"A-Ah, iya, cocok kok."
"Benaran? Makasih ya!"
Ouka berputar dengan riang di tempatnya. Ikatan rambutnya
ikut berayun membentuk lengkungan yang cantik. Gaya rambut ini memang cocok
untuk Ouka yang enerjik.
"Ah, jadi melantur deh. Jadi, permintaanku itu..."
Ouka mendadak
bergumam malu-malu. Sepertinya sesuatu yang sulit dikatakan.
"Kenapa?"
"Itu...
festival di akhir bulan ini... mau nggak pergi bareng?"
"Festival?
Kamu juga?"
"Eh?...
'Kamu juga'?"
"Iya,
soalnya kemarin lusa Furano juga bilang hal yang sama."
"Fu-Furano-chi
juga?"
Entah kenapa,
wajah Ouka langsung mendung seketika.
"Iya.
Tapi dia langsung bilang nggak jadi, jadi ya batal."
"O-Oh...
begitu ya."
Ekspresi Ouka
tampak sedikit lega.
"Terus...
gimana?"
"Eh? Oh,
kalau pergi bareng sih aku nggak keberatan."
"Yesss!"
Wajah
Ouka langsung berseri-seri. Kegembiraannya
murni sekali seperti anak kecil.
"Ah, tapi
Chocolat juga ikut, nggak apa-apa kan?"
"......Eh?"
Seketika itu
juga, ekspresi Ouka membeku.
"Aku sudah
janji duluan sama dia. Furano
juga pas dengar itu langsung bilang nggak jadi."
"......Kanade-chi,
apa kamu sudah bilang ke Chocolat-chi kalau bakal ada orang lain yang
ikut?"
"Enggak sih?
Tapi kan kalau ramai-ramai makin seru, apa ada masalah?"
"............"
Mendengar
kalimatku, Ouka terdiam kaku sejenak sebelum akhirnya menunjukkan senyum yang
dipaksakan.
"A-Ahaha,
ma-maaf ya. Aku juga nggak jadi deh kalau gitu..."
Ada apa sih
sebenarnya? Furano juga begitu, kenapa mereka semua tidak mau kalau ada
Chocolat?
"Apa kamu
ada masalah sama Chocolat?"
"Bukan soal
aku sama Chocolat-chi sih, tapi..."
Aku tidak
mengerti, tapi semangat Ouka jelas-jelas terjun bebas.
"Ka-Kanade-chi.
Aku... ada urusan, jadi aku pulang dulu ya."
"Hah?"
Dia langsung
berbalik, bahunya merosot lesu, lalu mulai berjalan pergi. Urusan apa...
bukannya tadi katanya mau ke rumahku?
"Ouka,
tunggu sebentar."
Aku
menghampirinya dan memegang bahunya.
"......Ada
apa?"
"Ya
habisnya, mana bisa aku membiarkanmu pergi dengan wajah sedih begitu."
"Wajah
begini... apa aku kelihatan sedih banget?"
"Iya, kelihatan banget... Kamu pengin banget ya pergi
ke festival?"
"I-Iya... yah, itu... sebenarnya bukan soal festivalnya
sih... tapi... aku pengin... main sama Kanade-chi..."
Main... Perasaan kita sering main bareng deh. Aku nggak
paham kenapa Chocolat nggak boleh ada di sana, tapi kalau dia sampai sesedih
ini, mungkin ada alasan yang hanya dia yang tahu.
"Kalau gitu,
mau main sekarang sebentar?"
"......Eh?
Boleh?"
"Iya,
kebetulan aku juga lagi jalan-jalan di pertokoan."
Yah, sebenarnya
aku tadi niatnya mau pulang, tapi mana tega meninggalkan Ouka dalam kondisi
begini.
"......Cuma
berdua?"
"Yah,
jadinya begitu kan?"
"ASIKKK!"
Ouka kembali
menunjukkan senyum tulusnya yang seperti anak kecil.
◆◇◆
Aku dan Ouka
berjalan berdampingan menyusuri pertokoan.
"Hum
humm~♪"
"Senang
banget kelihatannya."
Berbanding
terbalik dengan tadi, sekarang dia tersenyum lebar.
"Habisnya,
aku senang bisa main sama Kanade-chi!"
"Ugh..."
Senyum Ouka di
bawah sinar matahari musim panas itu benar-benar menyilaukan... sampai-sampai
aku tanpa sadar membuang muka.
"Kenapa,
Kanade-chi?"
"Enggak...
kamu itu memang cocok banget sama suasana musim panas ya."
"Ahaha,
makasih!"
Ouka tersenyum
lepas. Di sana, selain daya tarik yang sehat, ada semacam aura kedewasaan yang
aneh juga yang bercampur... Memang anak ini ada yang berubah ya.
"Ah,
ngomong-ngomong Kanade-chi."
"Kenapa?"
"Pas kencan
simulasi kemarin, aku pernah menginjak Kanade-chi, kan?"
"Ah, iya,
pernah..."
Padahal waktu itu
aku cuma mau bilang kalau berlagak dewasa itu nggak ada gunanya... Yah,
pesannya sih sampai, tapi caranya itu lho bermasalah banget...
"Sejak saat
itu..."
Ouka menatapku
dengan mata yang berbinar-binar.
"Aku jadi
merasa berdebar-debar setiap melihat orang kesakitan atau menderita."
"......Hah?
Apa katanya?"
...Aku
benar-benar tidak paham dia ngomong apa.
"Aku
bilang, aku jadi berdebar-debar setiap melihat orang kesakitan atau
menderita."
"WOY, ORANG INI NGOMONG APAAN SIH?!"
Meskipun
sudah diperhalus, aku tetap tidak mengerti apa yang dia bicarakan.
"Terus
ya, kalau di acara TV aku melihat ada orang yang ditetesi lilin panas, atau
jatuh ke air mendidih sambil menjerit-jerit, rasanya... wah, mendebarkan
sekali!"
"Kalimat
itu tidak seharusnya diucapkan dengan wajah secerah anak SD yang mau piknik,
tahu!"
Gawat...
di kelas aku memang sempat khawatir, tapi ini sih dia sudah benar-benar
terbangun ke arah yang sangat berbahaya.
"Tunggu,
tunggu, tunggu. Mari kita tenang dulu, Ouka-san."
"Hm?"
"Dengar
ya... aku tidak berniat mencampuri hobi pribadimu, tapi itu bukan hal yang
baik, jadi sebaiknya kamu melakukan sesuatu untuk memperbaikinya."
"Eh, tapi
pas aku cerita ke Mama, dia malah senang dan memasak nasi merah buat
merayakannya, lho?"
"Reaksi
macam apa itu!"
"Terus
beliau bilang, 'Coba deh sekarang kamu injak Mama sebentar'."
"Keluarga
kalian sakit, ya!"
"Terus ya,
pas aku lagi menginjak Mama, Papa cuma bisa gigit jari sambil menatap iri
gitu."
"Sudah tidak
tertolong! Keluarga ini sudah tamat!"
...Keluarga
Presiden UOG yang tersohor itu ternyata sudah dalam kondisi yang mengerikan.
"Jadi,
intinya boleh kan aku menginjak Kanade-chi?"
"Penggunaan
kata hubungnya aneh banget!"
"Ngomong-ngomong,
boleh kan aku menginjak Kanade-chi?"
"Ini
bukan level pengalihan topik lagi, woy!"
"Singkatnya,
boleh kan aku menginjak Kanade-chi?"
"Kamu
cuma pengen ngomong itu doang, kan!"
"Tenang
saja. Aku juga tidak suka melakukan hal yang benar-benar jahat, kok. Aku cuma suka melihat Kanade-chi kesakitan
sedikit, atau pas muka kamu kayak mau nangis gitu!"
"Bisa
jelaskan di bagian mana kata 'tenang saja' itu berlaku?!"
"Ah, bangku
di sana kelihatannya pas, ya."
"Kenapa kamu
sudah menganggap aku setuju?!"
"...Nggak boleh?"
"Ugh..."
A-Apa-apaan anak ini... Sejak kapan dia bisa memasang
ekspresi seimut itu? Tanpa sadar aku hampir saja menganggukkan kepala.
"Ayolah Kanade-chi... Nggak boleh?"
"O-Oi..."
Ouka tiba-tiba bersandar manja ke tubuhku. A-Aneh... Aura
kedewasaan apa ini... Lalu, dia membisikkan sesuatu tepat di telingaku sambil
meniupnya pelan.
"Hyau!"
"Pasti
rasanya enak kok... ya?"
A-Aku
tidak boleh mengakui hal seperti itu—
Pilih:
① Menerima tawaran Ouka
② Menjadi pihak bawah dan menerima dimasukkan
...Nomor dua itu
maksudnya siapa memasukkan apa ke mana, hah?!
Mungkin itu jenis
lelucon yang bakal disukai Chocolat...
Tapi kalau aku
tidak mau kehilangan kehormatan bagian belakangku, aku terpaksa memilih nomor
satu...
Meski itu artinya
aku harus melakukan permainan sesat di depan umum... Apa aku pakai hak veto
saja?
Tidak, kalau aku
pakai sekarang dan di kesempatan terakhir nanti kedua pilihannya malah sejenis
nomor dua, aku bakal menyesal tujuh turunan... Sial... Akhirnya, dengan
berat hati aku membuka mulut.
"...Cuma
kali ini saja, ya."
"Horeee!"
Seketika, Ouka
kembali ke senyum cerianya yang seperti anak kecil.
"Tadi
itu... kamu nggak lagi akting, kan?"
"He?
Apaan?"
Yah, dia
memang bukan tipe orang yang bisa merencanakan godaan sedewasa tadi sih... Ouka
yang secara alami membangkitkan sisi S-nya sekaligus aura kedewasaan yang
aneh... sepertinya aku sudah tidak bisa menghentikannya lagi.
Aku
ditarik oleh Ouka menuju bangku, lalu berbaring di sana. Ouka berdiri
menatapku dari atas... Benar-benar deh, apa yang sedang kulakukan sekarang...
Serius.
"Ugh..."
Tak lama kemudian, Ouka yang sudah melepas alas kakinya
mulai menginjak bagian sekitar pusarku dengan kaki telanjangnya.
"Uli-uli~!"
Dia mulai
menekan-nekan pusarku (meski terhalang baju).
"A-Ah, di
situ..."
Tanpa sadar suara
aneh keluar dari mulutku.
"Ahaha!
Wajah Kanade-chi lucu banget—"
"Ku...
he-hentikan... ah!"
"Kanade-chi,
reaksimu kayak anak perempuan deh~."
Ouka tampak
sangat senang menyerang pusarku.
"Aku diajari
Mama lho, bagian mana yang kalau ditekan bakal terasa enak."
"Tu-Tunggu
dulu, Ouka!"
"Ahahaha,
nggak mau berhenti~!"
"Eng-Enggak,
di situ... di situ bahaya!"
"Terasa
enak, kan?"
"Ha-Hal
seperti itu... Aaahh!"
"Mufufu,
tubuhmu jujur sekali ya."
"Su-Sudah
tidak kuat, aku sudah sampai ba—"
"Ahahahahaha!"
"YA-YA-YAMETEEEEE*!"
Pikiranku
langsung menjadi putih bersih.
◆◇◆
"Kanade-san
tidak ketemu juga..."
Chocolat
berjalan sendirian di area pertokoan.
"Kalau
ketemu Kanade-san... aku harus bicara baik-baik soal Furano-san. Mungkin
saja itu cuma kesalahpahaman... Hm?"
Tepat saat itu, sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar.
"Eng-Enggak,
di situ... di situ bahaya!"
"Ah,
itu suara Kanade-san!"
Chocolat
hendak segera berlari menghampiri, tapi—
"Kanade-sa—"
Begitu melihat
sosok itu...
"YA-YA-YAMETEEEEE!"
"—?!?"
Tubuhnya mendadak
kaku membeku.
"Ka-Kanade-san
dan Ouka-san... sedang melakukan hal mesum..."
Ouka yang tampak
sangat menikmati saat menginjak Kanade, dan Kanade yang pingsan dengan ekspresi
yang terlihat jauh lebih menikmati lagi... Entah apa yang sebenarnya mereka
lakukan, tapi yang jelas itu adalah sesuatu yang sangat mencurigakan.
"Benar
kan... benar kan..."
Sambil
gemetaran, Chocolat berteriak sekuat tenaga.
"KANADE-SAN
DASAR MESUMMMMM!"
◆◇◆
"Hah?!"
Kesadaranku
mendadak pulih total.
"Ah,
sudah bangun."
Di atasku
adalah wajah Ouka. Ini... aku sedang dipangku ya? (Lap pillow)
"Ah,
begitu saja dulu. Maaf ya, aku tadi agak kebablasan, jadi istirahatlah sebentar
lagi."
Ouka menahan
dadaku saat aku mencoba bangkit.
"Aku...
sudah pingsan berapa lama?"
"Oh, cuma
sekitar semenit kok."
Hanya sebentar ya... Tapi meskipun singkat, tidak kusangka
aku sampai kehilangan kesadaran...
"Hei,
Kanade-chi..."
"A-Ada
apa?"
Ouka menatapku
tepat dari atas.
"Yang
tadi itu... rasanya enak, kan?"
Melihat
ekspresinya, bulu kudukku langsung merinding.
"Aku juga
lho... rasanya senang sekali."
Mata Ouka tampak
sayu dan menunjukkan ekspresi ekstasi. Namun, sesaat kemudian, wajahnya kembali
ke ekspresi anak kecil seperti biasanya.
"Kanade-chi
ternyata seorang Masokis ya!"
Enggak, jangan
mengatakannya sambil tersenyum lebar begitu dong... Tapi, memang sih,
diutak-atik pusarnya oleh Ouka tadi rasanya emang en—
"Nggak,
nggak, apa sih yang kupikirkan!"
Aku langsung
bangkit dengan paksa.
"Dengar ya,
hal seperti ini tidak akan pernah kulakukan lagi untuk kedua kalinya!"
"Ehh..."
Ouka
mengerucutkan bibirnya tanda tidak senang.
"Itu sudah seharusn—"
Pilih:
① Jari dimasukkan ke pusar dan membangkitkan 'sesuatu'.
② Jari dimasukkan ke pantat dan membangkitkan 'sesuatu'.
...Baru diinjak permukaannya saja sudah begitu, kalau sampai
jari dimasukkan entah bakal jadi apa aku ini.
Baki saja bisa membangkitkan darah Hanma kalau digituin,
tapi Amakusa bakal membangkitkan apaan coba?!
Nomor dua sudah jelas di luar nalar tanpa perlu dipikirkan
lagi... Apa memang sudah aturannya harus ada unsur homo di sini, hah?
Pokoknya, selama aku tidak tahu 'sesuatu' itu apa secara
spesifik, aku tidak akan memilihnya. Di sini... aku terpaksa pakai hak veto lagi. Sial... sisa hak vetoku
tinggal lima kali.
"Kanade-chi,
kenapa?"
Ouka bertanya
heran melihatku yang memasang wajah masam.
"Nggak,
bukan apa-a—"
"Ah,
ketemu!"
Tiba-tiba
terdengar suara dari belakang.
"Ah,
Hikaru-chi."
Ternyata seorang
wanita berumur awal dua puluhan yang memakai seragam pelayan (maid)
sedang berlari ke arah kami. Hikaru-chi... berarti orang ini adalah pelayan
yang tadi disebut Ouka sebagai pendidiknya.
"Hikaru-chi,
ada apa?"
"'Ada apa'
kepalamu! Kenapa kamu malah kabur! Kan sudah kubilang kalau nanti malam ada
pesta peringatan Farmasi UOG, jadi banyak yang harus dipersiapkan!"
"Habisnya
pesta itu membosankan, tahu."
"Jangan
egois begitu. Cuma dua atau tiga jam saja kok, kamu tinggal duduk manis."
"Hmm, itu
yang susah. Kemarin saja pas aku ambil wig bapak-bapak yang sombong itu terus
aku bawa lari, aku malah dimarahi."
"Ya
iyalah!"
"Wajar
dong!"
Aku dan
si pelayan berseru berbarengan. Si pelayan sepertinya baru menyadari keberadaanku, lalu menoleh padaku.
"Apa Anda
teman Nona Muda?"
"Ah, iya.
Saya Amakusa Kanade."
"Mohon maaf
atas keterlambatan saya memperkenalkan diri. Nama saya Kuramori Hikaru, pelayan
di kediaman keluarga Yuuouji."
"Ah, salam
kenal."
Karena Hikaru-san
membungkuk dalam, aku pun ikut melakukannya. Sikapnya sangat halus dan terkesan
sopan. Dia tidak terlihat seperti tipe orang yang suka berteriak.
Mungkin dia jadi
meledak-ledak tadi karena lawannya adalah Ouka... Orang ini sepertinya sama
denganku, selalu dibuat pening oleh tingkah laku Ouka.
"Pokoknya
Nona Muda, kalau saya tidak membawa Anda kembali, saya bakal dibunuh oleh
Kepala Pelayan."
"Ahaha, tapi
aku suka lho melihat wajah Hikaru-chi yang sedang dimarahi Kepala Pelayan, lucu
banget soalnya."
"I-Ini
bocah kurang ajar satu ini..."
"Hikaru-chi,
ada kerutan tuh di antara alismu. Katanya akhir-akhir ini kamu khawatir
kelihatan tua, kalau begitu terus nanti malah jadi kayak tante-tante lho."
Ctak. Aku seperti mendengar suara
sesuatu yang putus.
"I-INI SEMUA
GARA-GARA SIAPAAAAA!"
"Ahaha,
lariii!"
"Kembalikan
kedamaian lambungkuuuuu!"
"Kanade-chi!
Meski cuma sebentar,
tadi seru banget! Sampai
jumpa ya!"
Mereka berdua pun
berlari pergi. ...Memang benar, aku ogah banget jadi guru didiknya Ouka.
Aku pun ditinggal
sendirian di sana.
"Nah,
sekarang bagaimana ya... lanjut cari Chocolat? Nggak, kalau terlalu dimanja
juga nanti—"
"Halo~"
"Ouwah!"
Tiba-tiba
terdengar suara dari belakang. Saat aku menoleh, di sana berdirilah orang yang
paling tidak ingin kutemui, dengan senyum palsu yang selalu menempel di
wajahnya.
"Ketua...
tolong berhenti muncul tiba-tiba begitu, jantung saya mau copot rasanya."
"Nggak mau~.
Soalnya saya suka melihat Amakusa-san menderita~."
"............"
"Bercanda
kok~. Jangan marah begitu dong."
Bukannya aku
marah, tapi aku memang payah menghadapi orang ini. Padahal dia mengatakan hal
yang hampir sama dengan Ouka tadi, tapi dari orang ini aku bisa merasakan aura
hitam yang pekat.
"Jadi, ada
urusan apa hari ini?"
"Ko-Kok
dingin banget sih~. Padahal saya sudah repot-repot membawakan informasi yang
bisa langsung melepaskan kutukanmu lho, jahatnya~."
"Be-Benarkah?!"
"Bohong ding~."
Iritasi...
"Aku yang bodoh karena sempat percaya sedetik saja...
Kalau begitu minimal beri tahu soal misi kali ini. Hak veto dan hal-hal
merepotkan itu sebenarnya apa gunanya?"
Aku mencoba bertanya meskipun kemungkinannya kecil akan
dijawab.
"Entahlah~.
Mana saya tahu apa yang dipikirkan Tuhan~."
Ketua menempelkan
jari telunjuk ke bibirnya sambil memiringkan kepala... Sepertinya dia memang
tidak berniat menjawab.
"Apa aku
harus berurusan dengan hal begini selama lima hari lagi..."
Keberadaan hak
veto bukannya membuatku tenang, malah makin menyudutkanku. Selain harus memilih
pilihan yang ada, sekarang ada pilihan tambahan apakah akan menggunakan hak
veto atau tidak.
Sama seperti
kejadian dengan Ouka tadi, kalau aku menghabiskan hak veto sekarang lalu di
akhir nanti muncul pilihan yang lebih gila lagi... Tapi, hal kayak tadi kan aku
benar-benar nggak mau melakukannya... Tapi, kalau begini terus...
Memikirkannya saja sudah membuat lambungku sakit.
Sejujurnya, lebih enak sistem yang lama di mana aku tinggal
pasrah melakukan apa yang muncul.
Ketua
bertepuk tangan sekali di depanku yang sedang depresi.
"Amakusa-san,
informasi tadi sebenarnya setengah benar lho. Apa kamu nggak dengar dari
Chocolat-san? Kalau kutukan
itu terasa berat, daripada memikirkan misi, mending kamu segera jatuh cinta
pada seseorang saja~."
...Jadi benar,
cara melepaskan kutukan ini adalah dengan aku jatuh cinta pada seseorang.
"Tapi kan
jatuh cinta itu bukan hal yang bisa dilakukan cuma karena kita ingin."
"Bahkan
setelah melakukan hal seperti ini~?"
"Uwoh!"
Ketua mendadak
merapatkan tubuhnya padaku.
"A-Apa yang
Anda lakukan?!"
Aku buru-buru
menjauh.
"Bercanda
kok~. Saya kan sudah membuktikan lewat Mitsuka-san kalau godaan fisik tidak
mempan padamu~."
Senpai Mitsuka ya... Orang itu memang sering menggangguku
sebelum liburan musim panas, tapi ternyata itu semua suruhan Ketua ini... Yah,
meski sepertinya ada campuran hobi pribadi Senpai Mitsuka juga sih di dalamnya.
"Makanya
saya bilang urutannya salah. Aku nggak bisa jatuh cinta itu sudah pasti
gara-gara Mutlak Pilih—"
"Apa benar
begitu~?"
"Ugh..."
Wajah Ketua
tiba-tiba sudah ada tepat di depan mataku.
"Amakusa-san,
apa alasanmu tidak bisa jatuh cinta itu benar-benar karena kutukan~?"
"Ugh!"
Sakit kepala yang
hebat menyerangku. Lagi... Sebenarnya sakit kepala apa ini?
"Yah, tadi saya memang bilang mending kamu jatuh cinta
saja, tapi dalam kondisimu yang sekarang, meskipun ada benihnya pun, dia tidak
akan pernah bisa mekar selamanya~."
Kalimat Ketua
terdengar sangat meyakinkan.
"Ketua...
apa jangan-jangan Anda tahu kenapa saya tidak bisa menyukai orang lain?"
"Iya, saya
tahu kok~."
Ketua mengangguk
dengan santai.
"A-Apa
alasannya? Beri tahu sa—"
"Itu adalah
sesuatu yang harus kamu ingat-ingat sendiri~."
Ketua menyentil
keningku dengan jari telunjuknya, lalu berbalik badan.
"Kalau
begitu, berjuanglah ya dalam berbagai hal~."
Sambil menatap
punggungnya yang menjauh, satu pertanyaan berputar-putar di dalam kepalaku.
Apa benar aku...
telah melupakan sesuatu?
5
"Muuu...."
Chocolat belum pulang juga.
Aku berjalan bolak-balik di ruang tamu tanpa tujuan. Waktu
sudah menunjukkan lewat pukul dua belas malam. Awalnya aku meremehkan, mengira
dia bakal segera pulang, tapi sampai jam makan malam pun batang hidungnya tidak
kelihatan.
Tadi aku sempat keluar lagi untuk mencarinya, dan baru saja
kembali.
Dia memang punya tenaga monster, jadi secara fisik dia tidak
mungkin kenapa-kenapa, tapi... dalam kondisi terburuk, aku harus mulai
memikirkan untuk lapor polisi.
"Ah, elah!"
Saking khawatirnya, aku mengacak-acak rambutku sendiri
sampai berantakan.
Tepat saat itu,
terdengar suara pintu depan terbuka.
"!"
Seketika reaksiku
langsung menyambar, aku melakukan sprint maut menuju pintu depan.
Di sana,
berdirilah Chocolat yang sedang tertunduk lesu.
"Aku
pulang de-su..."
"Kamu
ini! Tahu nggak sih seberapa khawatirnya aku—"
Baru saja
aku hendak membentaknya,
"Maafkan
aku!"
"...Eh?"
Chocolat
mendadak memelukku sekuat tenaga.
"O-Oi,
jangan pikir kamu bisa menyogokku dengan begini—"
Baru
sampai di situ kalimatku, aku menyadari tubuh Chocolat sedang gemetaran.
"Chocolat..."
Chocolat
membenamkan wajahnya di dadaku, lalu mengeluarkan suara yang nyaris tak
terdengar.
"Aku... anak yang nakal... Maafkan aku."
Lalu, dia
terus-menerus mengulang kata maaf berkali-kali. Setelah itu, dia melepaskan
pelukannya dan kembali tertunduk.
"...Kanade-san,
aku sudah melakukan hal buruk... tolong marahi aku."
"............"
Tanpa kata, aku
berbalik menuju ruang tamu, mengambil sesuatu yang sudah kupersiapkan, lalu
kembali lagi.
"...Nih."
"Eh?"
"Kupikir
kamu bakal pulang dengan perut keroncongan, jadi aku membuatkan ini."
Aku meletakkan
sebuah onigiri di tangan Chocolat.
"Kanade-san..."
"Makan dulu
sana... marahnya nanti saja."
"Ugh...
ugh..."
"Hah?"
"Uuuuuu...."
"O-Oi..."
Apa-apaan ini...
ja-jangan-jangan?
"Uwaaa...
uwaaaa..."
Dari mata
Chocolat, air mata mulai jatuh bercucuran butir demi butir.
"Eh...
kamu..."
Menghadapi
situasi di mana seorang gadis menangis tepat di depan mata, aku langsung
gelagapan.
"Uuu...
uwaaaaa..."
"O-Oi,
jangan tiba-tiba nangis dong, aku nggak ngerti..."
Sambil
terisak-isak, Chocolat berusaha keras mengeluarkan kata-kata.
"Hiks...
aku... pada Kanade-san... hiks... suka... tapi, Kanade-san... sama -san... sama
-san... malah mesra-mesraan... hiks..."
Nggak bisa...
kata-katanya terputus-putus, aku tidak paham maksudnya.
"Tapi itu
kan hak Kanade-san... hiks... setelah aku merenung sendirian... hiks...
ternyata aku saja yang merajuk nggak jelas... aku sudah menyesal... makanya mau
pulang... hiks... tapi karena sudah terlalu malam... aku takut nanti
dimarahi... makanya malah jadi makin telat pulangnya... hiks... hiks... tapi
karena aku sudah berbuat salah, aku pikir aku harus dimarahi dengan benar...
aku sudah siap dibentak, tapi... kenapa... kenapa Kanade-san malah baik banget
begini de-suuuuu!"
Setidaknya aku
mulai bisa menangkap inti bicaranya.
"Aku... cuma
bisa cemburu saja... padahal aku anak yang menyebalkan begini... hiks..."
"Cup cup, sudah, tenang dulu ya."
Aku mengelus punggung Chocolat pelan, seolah sedang
menenangkan anak kecil. Beberapa menit kemudian, barulah isak tangisnya mereda.
"Sudah bisa bicara?"
"……Iya."
Suaranya masih terdengar lemah, tapi setidaknya sekarang aku
bisa menanyakan apa yang terjadi.
"Bagus.
Pertama, kenapa tadi kamu merajuk sampai segitunya?"
"Itu... karena Kanade-san dan Furano-san
berciuman—"
"Tunggu,
tunggu, tunggu!"
Na-Ngapain ada
kesalahpahaman seajaib itu?! Pantas saja tadi dia terus-menerus menyuruhku
melakukan hal yang sama, aku sempat bingung apa maksudnya... ternyata dia salah
paham begitu.
Aku pun segera
meluruskan situasinya.
"Waktu
itu dia kan sedang merawatku yang sakit. Mungkin pas wajahnya mendekat, dari sudut pandangmu kelihatannya jadi
seperti itu, kan?"
"Kalau
dipikir lagi... mungkin saja begitu... Tapi, tadi pun Kanade-san melakukan hal
mesum dengan Ouka-san—"
"Itu juga
tunggu dulu, woy!"
Ja-Jangan-jangan
dia melihat kejadian tadi? Yah, meski memang tidak salah kalau dibilang sedikit
erotic, tapi itu sama sekali bukan jenis hal mesum yang dipikirkan
Chocolat.
Aku pun
menjelaskan kronologi panjang lebar kenapa aku bisa berakhir diinjak-injak oleh
Ouka.
"……Jadi
ceritanya begitu, ya."
"Benar, itu
murni kesalahpahaman. Lagi pula... kenapa kamu harus secemburu itu sama mereka
berdua?"
"Eh? Kenapa,
ya..."
"Iya, kan?
Apa yang kamu curigai dari mereka dan aku?"
"Kanade-san...
apa kamu serius menanyakan itu?"
Chocolat
menunjukkan ekspresi wajah yang benar-benar tercengang.
"Maksudnya?"
"……Kanade-san memang aneh."
"Hah? Apanya?"
"Itu... aku
tidak bisa mengatakannya."
……Maksudnya apa,
sih?
"Kanade-san……
anu……"
Tiba-tiba,
Chocolat membuka suaranya dengan ragu-ragu.
"Hm? Kenapa?"
"Anu…… itu……"
Dia menatapku dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Aku…… aku…… mulai sekarang akan jadi anak yang
penurut, jadi…… apa aku masih boleh tinggal di rumah ini?"
Ugh……
"Ya-Ya iyalah."
……Ekspresi kayak anak anjing yang dibuang itu benar-benar
curang, tahu. Keinginanku buat marah langsung lumat tak bersisa.
"Karena rumahmu…… cuma di sini, kan."
Seketika,
wajah Chocolat langsung berseri-seri.
"Te-Terima
ka—"
Kruyuuukk~.
Tepat di saat
dramatis itu, bunyi perut keroncongan terdengar sangat keras.
"Haha,
dasar kamu banget ya."
"Ehehe."
Kami berdua pun
tertawa bersama.
"Ya sudah,
ayo cepat makan."
Aku menunjuk
onigiri yang masih digenggamnya.
"Siap!"
Chocolat mulai
menggigit onigiri itu, meski kali ini gerakannya jauh lebih sopan dan ragu-ragu
dibanding biasanya.
"……Enak
de-su."
Setelah
mengucapkan kalimat singkat itu, dia kembali mengunyah dalam diam. Setelah
onigirinya habis,
"Kanade-san……"
Dia memelukku
lagi, membenamkan wajahnya di dadaku.
"Aku…… ingin terus bersama Kanade-san selamanya……
selamanya."
Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi perasaan yang
terlalu murni itu, jadi aku hanya terus mengelus kepalanya dalam diam.



Post a Comment