Interlude 3
"Terima kasih banyak untuk hari ini. Hati-hati di
jalan dalam perjalanan pulang."
Pertemuan ketiga orang itu pun berakhir dengan lancar.
Sambil membungkuk memberi hormat kepada rombongan
keluarga Ansarage dan mengantar mereka sampai akhir, sang Residen berjalan
menuju ruang kerja dengan ekspresi yang jauh lebih tegang dari biasanya.
Semua itu demi menemui tuan rumah ini, sosok bernama
Shikkoku yang bahkan dilarang untuk diselidiki asal-usulnya.
(Sejujurnya, aku tidak ingin terlalu terlibat dengan
beliau...)
Sekadar catatan—alasan ia tidak ingin terlibat bukan
karena rasa tidak suka secara personal, melainkan karena sosok tersebut terlalu
agung hingga menimbulkan rasa ngeri.
Fakta bahwa Tuan Digaut mewanti-wantinya dengan sangat
keras agar "jangan sampai melakukan ketidaksopanan sekecil apa pun"
adalah bukti bahwa sang Duke sendiri pun tidak sanggup menanganinya.
Itu seolah-olah sang Duke mengatakan, "Jika terjadi
masalah, pihak kami pun tidak akan bisa bertanggung jawab".
Hanya segelintir orang di dunia ini yang sanggup membuat
seseorang berpangkat Duke berkata sejauh itu.
"……Jangan sampai melakukan satu pun tindakan kurang
ajar."
Ia bergumam pelan pada diri sendiri.
Setelah memantapkan hati sekali lagi, ia mengetuk pintu
ruang kerja, lalu melangkah masuk setelah mendapat izin.
Sosok yang duduk di kursi ruang kerja langsung tertangkap
oleh matanya.
Meski sadar ini mungkin terasa lancang, ia memberikan
hormat sedalam mungkin kepada Shikkoku—yang memancarkan aura keberadaan lebih
kuat dibanding Tuan Digaut—sambil mengucapkan kata-kata penghargaan.
"Terima kasih atas waktu Anda dalam pertemuan tadi.
Saya datang untuk melaporkan bahwa Nona Marie dan Nona Nina telah berangkat
pulang."
"A-ah...
Terima kasih sudah repot-repot lapor."
"Sama sekali tidak. Ini adalah bagian dari tugas
saya."
(Jika suaranya terdengar agak lelah... pasti itu hanya
perasaan saya saja.)
"Aduh, tapi tadi itu benar-benar lama ya..."
Sambil memegangi kepala dengan kedua tangan, sosok di
depannya itu melepas pelindung kepalanya dengan bunyi spon.
"Anu, apakah selama pertemuan tadi Anda terus
memakai benda itu?"
"Yah, karena memang diperlukan."
"Begitu ya."
(Seandainya saya lebih cerdas, mungkin saya bisa
lebih memahami maksud dari kata 'diperlukan' itu...)
Mengingat beliau adalah tipe orang yang tidak banyak
bicara, bertanya lebih jauh dikhawatirkan akan menyinggung perasaannya.
Dan ia bisa membayangkan dengan mudah bahwa hanya
orang-orang yang mampu memahami maksud tersiratnyalah yang biasanya berkumpul
di sekitar pria ini.
"Ah, benar juga. Aku memberikan kunci rumah ini
kepada mereka berdua, jadi kalau mereka mampir, aku serahkan urusan
penyambutannya padamu."
"Baik, saya mengerti."
"Kamu tidak terkejut, ya?"
"Sesaat sebelum berpisah tadi, Nona Nina tampak
sangat gembira memasukkan kunci ke lubang kunci pintu depan dan mencobanya
berkali-kali, jadi saya sudah menduganya."
"Haha, begitu ya. Ternyata bagian itu masih
sesuai dengan usianya."
Tuan Shikkoku menyipitkan mata sambil bertopang dagu.
(……Apakah ini pertama kalinya saya melihatnya? Ekspresi
senyum beliau.)
Mungkin itu bukti bahwa beliau sudah mulai membuka diri.
Meski beliau menunjukkan ekspresi yang terkesan ramah,
jangan sampai tertipu oleh wajah tampannya itu.
"Mengenai Nona Marie, tampaknya beliau merasa sangat
senang terhadap Anda. Beliau bahkan berkata ingin berkunjung lagi dalam waktu
dekat."
"Bahkan jika itu cuma basa-basi, aku senang
mendengarnya."
"Saya rasa itu bukan basa-basi. Mungkin terdengar
agak berlebihan jika saya bilang beliau terlihat sangat 'bahagia', tapi ini
pertama kalinya saya melihat Nona Marie seperti itu."
──Justru karena itulah, ada hal yang terasa mengerikan.
"Yah, mungkin itu karena dia merasa lega karena
sudah 'menyelesaikan urusan terima kasih'. Apalagi dia datang sebagai
perwakilan keluarga di usia semuda itu."
"Bukankah itu karena Anda menggerakkannya dengan
'kemampuan bicara' Anda?"
"Mana mungkin."
Jawaban instan sambil melambaikan tangan dan
menggelengkan kepala.
Sekilas beliau memang tampak benar-benar menyangkalnya,
tapi ini pasti salah satu bentuk kerendahan hati.
Karena sang Residen memiliki berbagai informasi, ia tidak
akan tertipu oleh akting yang lihai sekalipun.
"Hm? Kenapa kamu menatapku dengan mata penuh curiga
begitu?"
"Saya tidak bermaksud menatap dengan kurang ajar,
tapi (mengingat Anda bahkan bisa membuat Tuan Digaut tak berdaya) saya pikir
hal seperti itu sangat mudah bagi Anda."
"Aku benar-benar berharap punya kelonggaran seperti
itu."
"……"
'Bukankah jawaban santai itu sendiri adalah bukti bahwa
Anda punya kelonggaran?' Kalimat
itu tentu tak bisa diucapkan.
Beliau
mungkin sosok yang baik hati dan murah hati... tapi beliau juga sosok licin
yang sangat sesuai dengan posisinya.
Bagi
kakak-beradik keluarga Ansarage yang masih muda, beliau menggunakan cara bicara
lembut yang membuat mereka senang.
Sementara
bagi Duke Digaut yang sampai sakit perut menghadapinya, beliau pasti mengganti
mode bicaranya menjadi tanpa ampun.
(Mengenai hal ini, aku hanya bisa berdoa. Semoga mode
itu tidak pernah ditujukan kepadaku...)
Membayangkannya saja sudah mengerikan.
Padahal beliau baru saja menerima lencana segel
keluarga Ansarage—salah satu dari tiga kekuatan besar—yang nilainya tak
terhingga.
Namun beliau sama sekali tidak mengungkitnya, tidak
memamerkannya, dan hanya membiarkannya tergeletak begitu saja di atas meja. Itu
benar-benar pemandangan yang mengerikan.
Apakah karena pengaruh beliau yang sudah memiliki
"beberapa lencana segel" lainnya, sehingga nilai benda itu tampak
menyimpang di mata pria di depannya ini?
Satu hal yang bisa dipastikan, ini adalah pemandangan
yang sangat tidak masuk akal.
(……)
Sang Residen menatap langit-langit seolah ingin
melarikan diri dari kenyataan.
Ia harus segera membiasakan diri dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh tuan rumah ini.



Post a Comment