NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (NouCome) Volume 4 Interlude 2

Interlude

Kisah Tentang Sebuah Kemungkinan — Bagian 2


"Oi..."

"Ada apa, Amakusa Kanade?"

"Kenapa kamu malah mengikutiku?"

Gadis yang tiba-tiba jatuh dari langit dan menamai dirinya Chocolat itu entah kenapa terus menempel di belakangku dan tidak mau lepas.

"Bukankah sudah kubilang kalau kamu itu anjingku? Sudah tugasku untuk mendidikmu," ucapnya dengan wajah datar bin serius.

Aku tidak paham apa yang sedang terjadi, tapi yang jelas dia ini sama sekali tidak waras... Pokoknya, lebih baik aku tidak terlibat dengannya.

Oke, saat berbelok di pojokan itu nanti, aku akan lari sekencang mungkin untuk kabur darinya.

Tiga, dua, satu—

"Tunggu."

"Aduh-duh-duh-duhh!"

Tepat saat aku hendak melangkah maju, tengkuk leherku dicengkeram dari belakang. G-Gila, kuat banget tenaga anak ini...

"Berani-beraninya seekor anjing peliharaan mencoba kabur dari tuannya. Nyalimu besar juga ya."

Chocolat mengeluarkan suara dingin yang seolah tanpa emosi sedikit pun.

Benar-benar seperti bukan manusia... Nggak, mana mungkin, tapi yang pasti dia ini memang tidak normal.

Aku mencoba berkali-kali untuk melepaskan diri, tapi semuanya digagalkan dengan kekuatan fisik belaka. Ujung-ujungnya, Chocolat mengikutiku sampai masuk ke lingkungan sekolah, bahkan sampai di depan kelas.

"Apa yang kamu lakukan? Jangan pedulikan aku, cepat buka pintunya dan masuk."

Nggak, disuruh jangan peduli itu mustahil, tahu... Kamu tahu tidak betapa banyaknya tatapan aneh yang diarahkan pada kita dari gerbang sekolah sampai ke sini?

Tapi yah, aku tidak bisa pulang begitu saja, jadi aku terpaksa membuka pintunya.

"Ugh..."

Begitu aku membuka pintu dan Chocolat melangkah masuk mengikutiku, tatapan seluruh kelas langsung tertuju ke arah kami.

"A-Amakusa?"

"B-Bawa cewek...?"

"Si-Siapa itu? Cakep banget, woi."

Di tengah keriuhan itu, Yukihira yang tadinya berada di dekat jendela berjalan menghampiriku.

Lalu, dengan wajah datar seperti biasanya, dia membuka mulut.

"Selamat pagi, dasar si Ulat Belatung Busuk."

"Sadis banget!?"

"Tidak sadis, kok. Tadinya aku memang berniat memanggilmu Belatung hari ini, tapi karena sekarang aku melihatmu, jadi kutambahkan kata 'busuk' di depannya."

"Premisnya saja sudah aneh!"

Ternyata biarpun aku masuk kelas secara normal pun, aku tetap diperlakukan seperti belatung, ya...

"Itu cuma Joke Serangga (Insect) kok."

Iya... aku sama sekali tidak paham maksudnya.

Mengabaikanku yang mulai jengah, Yukihira mengalihkan pandangannya ke arah Chocolat.

"Lalu, kamu siapa?"

"Aku Chocolat, pemilik Amakusa Kanade."

"Bukan, woi!"

"Diam. Seekor anjing yang berani membangkang pada tuannya itu namanya tidak tahu diri."

"D-Dengar itu? Anjing dan Pemilik katanya."

"Begitu ya, jadi dia profesional... Berapa ya si Amakusa bayar dia?"

"Agak menjijikkan..."

Tatapan dingin dari seisi kelas menusuk-nusuk tubuhku.

Gawat, ini bahaya. Kalau aku terus di sini, bisa gawat... Aku pun bergegas menuju tempat dudukku seolah sedang melarikan diri.

"Haaaaah..."

Padahal bel masuk saja belum bunyi, tapi rasa lelahku sudah luar biasa. Sambil menghela napas, aku mendudukkan diriku di kursi.

Lalu, tanpa sengaja aku melirik ke luar jendela.

"...Hm?"

Ada wajah orang di sana.

"UWOOOO!"

Secara refleks aku langsung melompat berdiri dari kursi.

"Oh, Ama-cchi. Pagi!"

Yuuouji yang membuka jendela dengan penuh semangat langsung melompat masuk ke dalam kelas.

Ja-Jangan-jangan, dia memanjat dinding sekolah? Kemampuan fisik macam apa itu...

"Amakusa Kanade, berhenti berteriak di tempat umum."

Tiba-tiba saja Chocolat sudah berdiri di sampingku tanpa suara.

"Are, siapa ini?"

"Aku Chocolat, pemilik Amakusa Kanade."

"KUBILANG BUKAN, TAHU!"

"Pemilik? Ama-cchi itu hewan peliharaan?"

"Gampangnya sih, dia itu Hewan Ternak."

"MALAH JADI KATEGORI LAIN!"

"Ahahaha, mirip kayak di rumahku, ya!"

"Mirip?"

"Iya. Mama sering bilang, 'Kalau malam hari, Mama itu hewan peliharaan Papa yang bernama Babi Betina', lho."

"SEBENARNYA ADA APA DENGAN KELUARGAMU!?"

Ibu Yuuouji itu... Yuuouji Kyouka yang terkenal itu, kan...?

"Amakusa Kanade."

Mendengar Chocolat memanggil namaku, secara refleks aku menoleh.

"Salaman."

Pluk...

"KOK AKU MALAH NURUT?!"

"Hmm. Respons yang cukup bagus. Mari kita lanjutkan pelatihannya."

"Pe-Pelatihan katanya..."

Aku langsung memegangi kepalaku. Apa-apaan sih... sebenarnya siapa sih si Chocolat ini?

Padahal tanpa dia pun, hari-hariku sudah tidak pernah tenang gara-gara Absolute Choice, Yukihira, dan Yuuouji. Kalau bebanku ditambah lagi seperti ini—

"Amakusa Kanade, duduk."

"MANA MAU AKU MELAKUKANNYA!"

Aduh... perutku jadi sakit.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close