Chapter
2
P engalaman
Nol, Tapi Malah Harus Jadi Konsultan Cinta Wkwkwkwk
1
Tanggal 11
Juni, sehari setelah misi diberikan.
"Muuu..."
Di ruang tamu
setelah makan malam, aku mengerang sendirian.
Tiap kali ada
misi muncul, aku harus berjuang setengah mati buat menyelesaikannya. Lah
ini, sekali muncul langsung dua sekaligus... Tolong ampuni aku.
Yah, meratapi nasib juga nggak bakal
ngerubah apa-apa, jadi mending aku tenangin diri dan susun strategi. Pertama, misi nomor satu: 《Menjadi saksi saat seseorang jatuh cinta》.
Seperti yang
kupikirkan kemarin, misi ini beda dari biasanya karena nggak ada nama target
yang spesifik. Ditambah lagi, isinya juga sangat ambigu—"saat seseorang
jatuh cinta".
Karena
misinya sendiri sangat abstrak, susah banget buat nentuin langkah konkret apa
yang harus kuambil.
Kalau
begitu, hal pertama yang harus kukerjakan adalah misi 《Membuat Chocolat membencimu》...
"Kanade-san,
kenapa pasang muka susah gitu?"
Orang yang
jadi target misinya baru saja keluar dari kamar mandi dengan setelan piyama dan
mendekatiku.
Membuat Chocolat benci padaku, ya. Aku
nggak pernah kepikiran hal itu, dan biarpun disuruh nyari caranya, nggak ada
ide yang muncul di otak.
Benci... Dibenci.
"A-Anu... DASAR B-BEGO!"
Untuk
sementara, aku mencoba melontarkan makian level anak SD.
"Benar
juga ya, aku memang agak kurang pintar."
Dia
membenarkannya sepenuhnya. Yah, ini respons yang sudah bisa kutebak, sih...
Oke, sekali lagi.
"PENDEK!"
"Benar
juga ya, tubuhku memang kecil."
"Ugh..."
Dia
tersenyum lebar, senyum yang sama seperti biasanya.
Nggak bisa... Kalau aku terus begini,
cuma rasa bersalahku saja yang makin numpuk, nggak ada gunanya sama sekali.
Apalagi aku sudah kasih tahu Chocolat
soal isi misinya, jadi dia tahu persis kalau aku sengaja bertingkah biar
dibenci, makanya efeknya makin tipis.
Sepertinya
aku harus menyerang dari sisi lain.
"Mulai
hari ini, kamu nggak boleh makan malam selama seminggu!"
"Eeeh!?"
Efeknya
instan. Wajah Chocolat langsung pucat seolah dunia mau kiamat.
"Ka-Kanade-san,
tolong jangan bercanda yang keterlaluan begitu!"
Oh... reaksi
ini sepertinya ada harapan.
"Aku
nggak bercanda. Kamu tahu nggak sih, kamu itu makannya berapa kali lipat
dariku?"
Aku terus
memojokkannya. Memang agak kasihan sih, tapi aku nggak boleh melewatkan
kesempatan emas ini. Kalau cuma begini saja bisa menyelesaikan setengah misi,
ini mah untung besar.
"A-Apa yang sebenarnya
terjadi..."
Dia bergumam
pelan lalu jatuh lemas di lantai. Kemudian, dia menatapku dengan tatapan
seperti anak anjing yang dibuang.
"Kanade-san...
aku benar-benar nggak dikasih makan?"
"Ugh..."
Rasa bersalah
yang menyerang kali ini jauh lebih dahsyat dari yang tadi.
"I-Iya,
aku cuma bohong kok, bohong."
Detik itu
juga, wajah Chocolat langsung cerah ceria.
"Berarti
malam ini kita makan Sukiyaki, ya!"
"Lompatan
logikamu jauh banget!"
Benar-benar
deh, kalau dikasih hati sedikit saja langsung begini... Memang harusnya aku
lebih tegas mendidiknya, tapi akunya sendiri memang masih lemah.
"Tapi,
apa gara-gara tadi kamu nggak jadi benci padaku?"
"Nggak
kok. Tadi aku memang sedih banget, tapi itu beda masalah. Mana mungkin aku
benci sama Kanade-san."
"Ugh..."
Chocolat
mengatakannya dengan tegas. Saat dia bicara dengan tatapan semurni itu, aku malah jadi malu sendiri.
"...Tapi
begini, kali ini kalau kamu nggak benci padaku, aku yang bakal susah. Kamu
ngerti kan?"
"Tapi
kalau aku cuma bilang 'aku benci Kanade-san' lewat mulut doang, misinya nggak
bakal selesai kan?"
"...Benar
juga, sih."
Tepat sekali.
Beda dari misi-misi sebelumnya, kali ini aku mendapat kerja sama penuh dari
target, tapi malah nggak bisa selesai... Dalam sekejap, situasinya langsung
terasa buntu.
"Kanade-san,
kalau begitu pakai ini saja!"
Dengan penuh
percaya diri, Chocolat mengeluarkan sebuah buku.
"Jangan-jangan
buku ini..."
Sepuluh
Cara Agar Dibenci Gadis Sampai Ke Lubuk Hati ~Dengan Ini Kamu Akan Menjadi Raja
Penolakan~
Sudah kuduga... Sebenarnya kenapa sih
anak ini terobsesi banget sama seri buku ini?
Yah, pas misi memotret wajah Ouka yang
sedang menangis tempo hari, buku ini memang memuat informasi yang ajaibnya
berguna (meskipun akhirnya diganggu oleh Absolute Choice sih). Jadi,
biarpun aku mau mengalah dan membacanya, sebenarnya eksistensi buku ini saja
sudah aneh, kan?
Cara agar dibenci gadis sampai ke lubuk
hati? Memangnya siapa yang butuh informasi kayak gini...
Seperti biasa, aku langsung membaca
halaman rangkumannya.
①
Dalam kasusmu, sepertinya nggak perlu ngapa-ngapain juga sudah cukup, deh.
Langsung ngajak berantem, ya!
Penjelasan:
Ada pepatah bilang 'benci jadi cinta', tapi tenang saja, kamu itu beneran
dibenci kok.
Kupukul
ya kamu!
② Membicarakan hal jorok.
Ah,
kalau ini memang bakal bikin ilfeel. Ada tipe gadis yang nggak bisa terima sama
sekali biarpun cuma guyonan ringan.
Penjelasan: Pas aku coba, bukannya dibenci, aku
malah dimuntahi.
Sebenarnya
apa yang kamu omongin!?
③ Mencoba bilang "A-Aku t-tidak suka padamu, tahu!"
Kenapa
jadi gaya Tsundere begini... Cowok yang ngelakuin gitu mah nggak ada gunanya.
Penjelasan: Penulis mencoba latihan ini ke arah
ruang kosong, eh malah kena pemeriksaan polisi.
Mencurigakan
banget, woi!
Tambahan: Pas aku bilang "Saya cuma lagi
main peran jadi Kiyoshi Yamshita kok", aku langsung dilepaskan.
Malah
makin mencurigakan tahu!
④ Ngupil di depan matanya.
Ya...
kalau ini sih fiks bakal dibenci seratus persen.
Penjelasan: Eh, rasanya ternyata lumayan asin,
lho.
KENAPA
DIMAKAN!?
Tambahan: Tergantung kondisi fisik, rasanya bisa
sedikit berbeda.
Berapa
kali kamu makan, hah!?
⑤ Mengucapkan makian kasar.
Yah,
ini juga pasti bikin dibenci. Tadi aku gagal melakukannya ke Chocolat, tapi itu
kan kasus spesial.
Penjelasan: Makiannya dibalas sepuluh kali lipat
ke aku... Di industri kami, itu namanya hadiah.
Dasar
Masokis!
⑥ Jalan-jalan di kota dengan pakaian yang nyaris melanggar hukum.
Bukannya
itu sudah bukan masalah dibenci atau nggak lagi ya...
Penjelasan: Tatapan menghina dari polwan yang
memeriksaku... rasanya nggak tahan banget.
Kan,
beneran Masokis!
⑦ Memukul.
Oi,
oi, mana mungkin aku bisa melakukan hal serendah itu.
Penjelasan: Memukul diri sendiri.
Ini
mah sudah lewat level Masokis!
⑧ Ramalan bunga, tapi semua kelopaknya isinya "Benci".
Oh,
yang nyabut kelopak bunga satu per satu sambil bilang "Suka",
"Benci", selang-seling itu ya.
Penjelasan: Omong-omong, itu kan cuma ngerusak
bunga doang ya. Sebenarnya apa gunanya?
Mana
aku tahu!
⑨ Pas nulis nomor ⑧ aku baru sadar, sebenarnya apa gunanya dibenci sama
gadis?
TELAT WOI!
Penjelasan:
Anu... Anda sendiri ngapain baca buku ginian?
Kumatikan kamu ya!
⑩
Kemarin, editor wanitaku bilang begini: "Di kantor kami (Penerbit U*G),
ada banyak penulis yang bukunya laku keras, jadi keuntungan mereka bisa dipakai
buat nutupin kerugian dari penulis sampah." (T/N:
Penerbit U*G: Plesetan dari penerbit asli novel ini di Jepang Kadokawa Sneaker
Bunko.)
Apaan nih? Kayak curhatan penulisnya
sendiri, tapi ada hubungannya nggak sih? Tapi biarpun penulisnya separah ini, kalimat editornya
ngenes juga ya...
Penjelasan: Aku jawab begini: "Oalah.
Benar-benar deh, para sampah itu harusnya lebih berterima kasih padaku
ya."
ITU
MAKSUDNYA KAMU! KAMU YANG SAMPAH DI ANTARA PARA SAMPAH!
Tambahan: Terus aku disuruh jadiin percakapan
itu poin nomor ⑩.
Nggak paham deh maksudnya apa.
Paham
dong! Maksudnya kamu itu dibenci sampai ke lubuk hati!
...Benar-benar
kualitas sampah yang konsisten seperti biasanya. Aku mencoba membolak-balik
halaman lain, tapi tidak ada satu pun informasi yang kelihatannya berguna.
"Hah..."
"Gimana?
Ada informasi bagus?"
Chocolat
mengintip dari belakang, aku pun memperlihatkan bukunya.
"Kalau
aku melakukan salah satu dari hal di sini, apa kamu bakal benci padaku?"
"Nggak
mungkin. Soalnya aku sayang banget sama Kanade-san!"
"...Sudah
kuduga."
Dengan
perasaan campur aduk, secara refleks aku mengusap-usap kepalanya.
2
"Hah..."
Aku menghela
napas panjang sambil berjalan menuju sekolah. Sepanjang malam tadi aku terus
memutar otak mencari cara agar dibenci Chocolat, tapi tidak ketemu satu pun ide
sampai-sampai aku tidak bisa tidur nyenyak.
Lagipula,
"saat seseorang jatuh cinta" itu bukan sesuatu yang bisa disaksikan
dengan gampang begitu saja... Yah, batas waktunya memang sampai liburan musim
panas dimulai, jadi terhitung sejak tanggal 12 Juni hari ini, masih ada waktu
lebih dari sebulan.
Tapi
masalahnya, dua misi ini bukan tipe yang bisa selesai hanya dengan modal waktu
saja.
Dengan
perasaan berat, aku mengganti sepatu di loker depan. Tiba-tiba, sebuah suara
menyapaku dari belakang.
"Ya
ampun, selamat pagi Amakusa-kun."
Pemilik suara
yang kelewat seksi itu adalah Hisamitsu-senpai. Sebenarnya aku malas berurusan
dengannya, tapi tidak sopan juga kalau diabaikan. Jadi, aku membalas sapaannya
dengan ekspresi canggung.
"......Selamat
pagi, Kak."
"Ada
apa? Kenapa wajahmu terlihat seperti anak yang buku pornonya ketahuan sama
ibunya?"
"Spesifik
banget wajahnya!"
"Ada
apa? Kenapa wajahmu terlihat seperti anak yang kaget melihat ibunya ada di
dalam buku porno?"
"Hentikan!
Aku jadi terbayang, tahu!"
"Ada
apa? Kenapa wajahmu terlihat seperti anak yang kaget melihat ayahnya ada di
dalam buku BL versi live-action?"
"Itu mah
kiamat!"
Sial... masih
pagi begini aku sudah terjebak dengan orang yang merepotkan.
"Ngomong-ngomong
Amakusa-kun, aku punya satu permintaan. Bisa tolong dengarkan sebentar?"
"TIDAK."
Aku
sendiri kaget betapa refleksnya kata itu keluar dari mulutku.
"Oya,
oya, sedihnya. Sepertinya aku sudah dibenci ya."
Berbanding
terbalik dengan ucapannya, Hisamitsu-senpai justru memasang senyum geli sambil
mengeluarkan selembar kertas dari sakunya.
"Nah,
Amakusa-kun. Menurutmu ini foto apa?"
"Foto...
kan?"
"Benar.
Ini adalah foto yang menangkap sosokmu dua hari yang lalu."
Dua hari lalu... Ja-Jangan-jangan, foto
saat aku dan Hisamitsu-senpai sedang 'bergulat' di rumahku? Kalau sampai itu
tersebar, bisa gawat urusannya. Tapi seingatku, waktu itu dia tidak terlihat
sedang memotret... Pokoknya aku harus memastikan dulu.
"......Coba perlihatkan
padaku."
Yang ada di foto itu adalah—
"KENAPA
AKU PAKAI SARUNG PEN*S (KOTEKA) BEGITU?!"
Fotoku
yang sedang TELANJANG BULAT sambil memakai koteka dengan senyum yang
sangat lebar.
"Ini
editan."
"Kenapa
Kakak bilang begitu dengan wajah bangga?!"
"Ngomong-ngomong,
tubuh asli yang telanjang bulat itu adalah ayahku."
"Keluarga
kalian memang benar-benar mesum, ya!"
Koteka
bekas kepala suku tertentu dan bekas ayahnya Senpai... benar-benar berlapis.
Untung saja waktu itu aku tidak memakainya.
"Kalau
kamu tidak mau menuruti permintaanku, foto ini akan kusebarkan ke seluruh siswa
di sekolah."
"......Anu,
Kak. Foto editan konyol begini mana mungkin ada yang percaya. Ini tidak bisa
dijadikan bahan ancaman tahu."
"Fufu,
Amakusa-kun, tidakkah kamu terlalu meremehkan pandangan orang lain terhadapmu?
Seandainya kamu adalah siswa biasa, lalu ditunjukkan foto ini dan diberi tahu
kalau 'Amakusa Kanade berulah aneh lagi', apa kamu masih bisa percaya kalau dia
tidak bersalah?"
"Ugh..."
Mungkin aku
tidak akan percaya... tidak, PASTI tidak percaya. Ditambah
lagi, kualitas editan ini luar biasa tinggi... Tunggu dulu.
Saat itu,
sebuah rencana penyelamat muncul di kepalaku. Benar, di saat genting seperti
ini, aku harus memutarbalikkan cara pikir ala pengacara berambut runcing
bersetelan biru itu.
"Fufu,
Kakaklah yang meremehkan situasinya. Reputasiku di sekolah ini sudah hancur
lebur sampai ke dasar tanah. Biarpun foto ini tersebar sekarang, pengaruhnya
tidak akan seberapa."
......Mengatakan
itu barusan membuatku ingin menangis, tapi setidaknya aku berhasil membalas
serangan Senpai.
......Seharusnya
begitu, tapi Senpai sama sekali tidak kehilangan ketenangannya.
"Amakusa-kun,
editan ini masih dalam tahap pengerjaan. Dan lihat, di sini ada foto
Chocolat-kun yang sedang menjilat permen loli dengan lahapnya."
Ja-Jangan-jangan...
"Tergantung
sikapmu, aku akan menempelkan foto Chocolat-kun ini di ujung kotekanya—"
"Tolong
bantu aku, aku akan lakukan apa pun!"
"Fufu,
aku suka anak yang jujur."
Iblis... dia
benar-benar iblis. Menanggapi tatapan tajamku yang penuh tuduhan, Senpai hanya
tertawa kecil.
"Oi, oi,
jangan melihatku begitu dong. Aku terpaksa pakai cara terakhir karena
Amakusa-kun menolakku dengan sangat keras. Aku tidak berniat memintamu
melakukan hal yang mustahil kok. Cuma konsultasi asmara ringan."
"Hah?
Konsultasi asmara... aku?"
Frasa yang
sama sekali tidak terduga keluar dari mulut Senpai.
"Iya.
Sudah kubilang dua hari lalu kan kalau aku sering melakukan konsultasi asmara?
Aku ingin kamu membantuku menjawab masalah-masalah itu."
"Tapi...
kenapa harus aku?"
Mana mungkin
orang sepertiku yang tidak pernah pacaran bisa melakukan hal semacam itu.
"Justru
harus kamu, Amakusa-kun."
Senpai
menatap mataku dengan tajam.
"Aku ingin tahu cara pandangmu
soal asmara... Karena dari situ, mungkin aku bisa melihat alasan kenapa kamu
sangat menghindari cinta."
Yah, kalau Absolute Choice ini
hilang, aku sih mau-mau saja pacaran sekarang juga... Hmm? Rasanya ada sesuatu
yang mengganjal di sudut pikiranku, tapi hal itu lenyap sebelum sempat terwujud
dalam kata-kata.
"Lagipula, aku ingin melibatkanmu
dengan 'dua orang' itu juga... Ah, tapi yang ini biar jadi rahasia dulu."
Hisamitsu-senpai
bergumam penuh teka-teki.
"Tapi
Kak, aku benar-benar tidak punya pengalaman, jadi sepertinya aku tidak akan
berguna sama sekali."
"Tenang
saja, aku tahu kok kalau 'burung'-mu jarang 'berdiri'."
"Lelucon
Kakak isinya mesum semua, ya!"
"Lelucon
mesum... ah, kalau disingkat jadi LM, atau dalam istilah medis ED (Ereksi Dini)
ya?"
"Maksa banget!"
"Yah, lupakan soal bercandanya.
Alasan aku ingin kamu membantu bukan cuma karena ingin tahu pandangan asmaramu,
tapi juga masalah fisik. Belakangan ini, jumlah konsultasi yang masuk terlalu
banyak sampai aku tidak sanggup menanganinya sendirian. Aku akan sangat
terbantu kalau kamu mau bekerja sama."
Ugh... kalau dia sudah memohon dengan
sikap begitu, jadi susah menolaknya. Apalagi seperti katanya tadi,
permintaannya tidak terlalu aneh-aneh. Tapi kalau situasinya memang begitu,
bukannya lebih baik dia memilih orang yang lebih paham soal asmara?
"Karena
aku yang memaksamu, kalau Amakusa-kun punya permintaan dariku, akan
kupertimbangkan."
Permintaan supaya jangan menggangguku
lagi pasti bakal ditolak ya... Lalu, tiba-tiba sebuah ide muncul.
"Ah,
kalau begitu, ada hal yang ingin kukonsultasikan."
"Ingin
menunggangiku? Boleh saja, tapi aku bakal susah kalau kamu tidak punya 'barang'
yang sehebat kuda."
"Telingamu
itu fungsinya apa sih?!"
"Biarpun
kamu protes begitu, aku cuma akan mengabaikannya... bagai masuk telinga
kuda." (T/N: Plesetan dari peribahasa Jepang Uma no mimi ni nenbutsu
(seperti membacakan doa di telinga kuda), yang mirip dengan peribahasa
"Masuk telinga kanan keluar telinga kiri".)
"Malah
bikin peribahasa sendiri!"
......Biarpun
sifatnya begini, dengan banyaknya orang yang berkonsultasi padanya, sudah pasti
dia punya pengalaman asmara yang kaya. Dalam kondisi di mana aku tidak punya
rencana, tidak ada salahnya mencoba bertanya.
"Sebenarnya
aku... ingin melihat saat seseorang jatuh cinta."
Mendengar
itu, Hisamitsu-senpai sedikit menyipitkan matanya.
"Hooo,
itu keinginan yang sangat romantis ya."
Aku juga
sebenarnya malas bilang hal yang memalukan begini, tapi apa boleh buat.
"Anu,
aku tidak bisa menjelaskan detailnya, tapi ini bukan sekadar rasa penasaran.
Demi tujuanku, ini sangat diperlukan..."
"Hmm.
Baiklah, aku tidak akan tanya detailnya. Melihat saat seseorang jatuh cinta,
ya... Kalau begitu, masalah cosplay itu mungkin akan pas sekali."
Cosplay? Apa-apaan itu?
"Ada
satu konsultasi yang sangat cocok untuk masalahmu. Jika berhasil, keinginan
Amakusa-kun mungkin akan terkabul."
Hisamitsu-senpai
tersenyum penuh percaya diri. Biarpun orang ini agak meragukan, dalam kondisiku
yang belum menemukan solusi, aku ingin mencoba berharap pada kemungkinan
sekecil apa pun.
"Anu,
boleh aku tanya satu hal lagi?"
Sekalian saja
aku tanya pendapatnya soal misi yang satu lagi. Karena tidak enak kalau bilang langsung, aku akan
menyamarkannya sedikit.
"......Dalam
konsultasi Kakak selama ini, pernah tidak ada yang minta saran supaya dibenci
oleh lawan jenis?"
"Supaya
dibenci?"
Kali ini
Hisamitsu-senpai benar-benar menunjukkan wajah heran.
"Sepertinya
aku tidak pernah ingat ada yang seperti itu. Kalau konsultasi minta saran
supaya si A dan si B putus sih sering banget."
Senpai
mengatakannya dengan enteng seolah itu hal biasa... Seram
banget.
"Ngomong-ngomong, apa maksudmu? Apa Amakusa-kun ingin dibenci oleh
seseorang?"
"Yah...
kurang lebih begitu."
Hisamitsu-senpai
menepuk bahuku yang sedang bicara dengan nada ragu.
"Tenang
saja, Amakusa-kun. Bukannya sekarang pun kamu sudah dibenci oleh hampir semua
siswi di sekolah ini?"
"Oh
benar juga, kalau begitu aku tenang... HEI, GAK GITU JUGA KALI!"
Sial...
melakukan tsukkomi pada diri sendiri malah bikin aku sedih.
"Kanade-san, Kanade-san."
"Uwoh!"
Tiba-tiba terdengar suara Chocolat dari
belakang. Setelah makan tadi, dia malah tertidur pulas dengan wajah menempel di
meja ruang tamu, jadi kutinggalkan saja. Ternyata dia bisa sampai ke sekolah
tepat waktu sebelum jam pelajaran dimulai. Chocolat menyapaku dengan senyum
lebar.
"Kanade-san, aku dengar lho
pembicaraan kalian. Tenang saja, apa pun yang terjadi, aku sendiri akan selalu
menyayangi Kanade-san!"
"......Malah gagal dong."
3
Sekitar satu minggu berlalu setelah
hari itu, tepatnya saat jam pulang sekolah. Aku dipanggil oleh Hisamitsu-senpai
ke sebuah tempat di gedung klub ekstrakurikuler budaya.
"Eks-anu...
harusnya di sekitar sini, kan."
Karena
Akademi Seikou adalah sekolah yang sangat besar, jumlah klub selain olahraga
pun sangat banyak. Akibatnya, gedung klub budaya menjadi bangunan yang
ukurannya cukup membanggakan.
Klub-klub populer atau yang punya segudang
prestasi seperti klub orkestra, klub seni, dan klub penyiaran menempati lantai
satu dan dua.
Sementara
itu, klub-klub yang agak "niche" atau organisasi yang belum bisa naik
pangkat jadi klub resmi karena jumlah anggotanya kurang, semuanya dikumpulkan
di lantai tiga yang merupakan lantai paling atas ini.
Di
sepanjang jalan, aku melihat berbagai papan nama klub dan organisasi yang unik,
tapi ada satu area yang terasa sangat aneh.
‘Perkumpulan
Pencinta High Heels’, ‘Persatuan Mencari Dewi yang Mau Menginjak Kami dengan High Heels’,
‘Kelompok Muka Unik High Heels’, ‘Fan Club High Hee● Momoko’, ‘Fan
Club High Hee● Ringo’.
......Ada apa sih dengan area obsesi high
heels ini?
Dua yang terakhir itu aku tidak paham
apa gunanya dipisah jadi organisasi berbeda, dan yang sebelumnya lagi, aku
bahkan tidak sanggup membayangkan aktivitas mereka seperti apa.
Biarpun cuma
organisasi rintisan, kok bisa ya pihak sekolah mengizinkan mereka...
Sambil
berjalan dengan perasaan heran, akhirnya aku sampai di tempat yang ditentukan.
Di sana, sesuatu telah menungguku...
"Apa-apaan...
ini?"
Sebuah pintu
dengan warna shocking pink yang sangat mencolok mata.
"Oh, apa
itu Amakusa-kun?"
Suara
Hisamitsu-senpai terdengar dari dalam ruangan.
"Maaf
ya, aku lagi agak sibuk di dalam. Tolong buka saja pintunya dan langsung
masuk."
Suaranya
terdengar agak teredam, mungkin dia ada di bagian dalam ruangan.
"Kalau
begitu, permisi."
Mengikuti
instruksinya, aku pun membuka pintu.
"Ugh..."
Detik
saat aku melihat pemandangan di dalam, tanpa sadar aku mengerang. Ruangan itu
seluruhnya bertema shocking pink.
Benar-benar
sebuah ruang yang sangat shocking dan sangat pink. Yah,
deskripsiku mungkin terdengar minim kosakata, tapi mau bagaimana lagi kalau
kenyataannya memang se-shocking dan se-pink itu.
Dari
balik rak warna merah muda gonjreng (beli di mana sih barang kayak gitu?) yang
ada di pojok, suara Hisamitsu-senpai kembali terdengar.
"Maaf
ya sudah jauh-jauh datang tapi aku tidak menyambutmu di depan."
"Ah, tidak apa-apa
k-BUFUHHH!"
Yang muncul dari balik rak adalah
Hisamitsu-senpai yang mengenakan kimono... tapi kimononya terbuat dari bahan
transparan alias tembus pandang.
"APA-APAAN YANG SENPAI LAKUKAN, SIH?!"
Meskipun
disebut transparan, karena kain merah muda semi-transparan itu dipakai
berlapis-lapis, bukan berarti kulit aslinya terlihat sepenuhnya.
Meski begitu,
tidak bisa dimungkiri kalau pakaian itu benar-benar kelewat berani.
"Gimana?
Sensasi ngepas antara kelihatan dan nggak kelihatan ini. Menurutmu, apa
nama yang cocok 'Sepuluh Lapis Kimono Setipis Kertas'?"
"Nggak
penting banget..."
Senpai
sedikit membungkuk, mengambil pose yang menonjolkan dadanya.
"Lihat,
lihat, Amakusa-kun. Mumpung lagi begini, kamu boleh pegang dadaku sepuasnya,
lho."
"Apa...
katamu?!"
Nggak, nggak,
tenang. Mana mungkin aku bisa melakukan hal semacam itu. Sambil tersenyum penuh
misteri, Senpai berbalik dan meliukkan tubuhnya.
"Lalu,
kamu juga boleh pegang pantatku sepuasnya."
"Apa...
katamu?!"
Dibilang
tenang, ya tenang! Mana
mungkin aku bisa, tahu! Kembali berbalik ke arahku, Senpai mengalihkan
pandangannya ke area selangkanganku.
"Terus,
Amakusa-kun juga boleh pegang 'punya' Amakusa-kun sendiri sepuasnya."
"Apa...
katamu?!"
"K-Kalau
itu sih jelas bisa... Eh, lagian dari awal juga memang sudah bisa dipegang
sendiri, tahu!"
"Oya,
jadi maksudnya Amakusa-kun setiap malam tanpa henti selalu memainkan 'punya'-mu
itu, ya?"
"Nggak
tiap malam juga kali! Paling juga seminggu... Eh, kenapa
aku malah jawab jujur begini!"
"Memangnya berapa kali seminggu
'itu'-nya?"
"Sudah, diam!"
Lelah... meladeni orang ini benar-benar
menguras batin.
"Hah... kalau Kakak cuma mau
menyuruhku melakukan hal konyol begini, aku pulang saja."
"Sabar, sabar. Aku juga ingin
segera memulai konsultasi asmaranya, tapi pemeran pembantunya belum
lengkap."
"Pemeran pembantu?"
"Sepertinya sudah sampai."
Tepat saat Hisamitsu-senpai melirik jam
dinding merah muda, terdengar ketukan di pintu.
"Permisi."
"Halo,
halo!"
"Yukihira?
Ouka?"
Dua
orang yang masuk adalah orang yang sangat kukenal.
"Yah,
karena Amakusa-kun sudah datang, kupikir bakal rugi kalau tidak mengajak dua
orang dari 'Reject 5' di kelas yang sama," kata Hisamitsu-senpai sambil
memasang senyum licik.
Mencurigakan... Sebenarnya apa yang
sedang dia rencanakan?
"Tempo
hari kan aku melakukan hal mesum kepada kalian berdua di kelas? Ouka-kun
langsung memaafkanku, tapi Furano-kun sepertinya sangat membenciku. Butuh waktu
seminggu bagiku untuk membujuknya agar tidak marah lagi."
Sambil
bicara, Hisamitsu-senpai melirik ke arah Yukihira, yang langsung memalingkan
wajah dengan ketus. Sepertinya mereka belum sepenuhnya berdamai.
Tapi, kalau
Ouka dan Yukihira... menurutku mereka berdua yang—sama sepertiku—sangat jauh
dari urusan asmara, tidak akan bisa memberikan saran yang benar.
"Anu,
apa tidak apa-apa kami yang tidak ada hubungannya ini mendengarkan isi
konsultasinya?" tanyaku, karena sejak awal hal ini membuatku penasaran.
Urusan asmara bukannya termasuk hal yang sangat pribadi, ya?
"Tidak
masalah. Aku percaya kalian tidak akan membocorkannya sembarangan. Lagipula
sebelum-sebelumnya aku juga sering meminta bantuan orang lain, jadi aku sudah
memberitahu para klien bahwa ada kemungkinan orang selain aku akan melihat
isinya."
"Yah,
aku sih tidak akan membocorkannya ke orang lain."
"Aku
juga bakal jaga janji, jadi tenang saja!" seru Ouka.
"Mulutku
sekaku daging sapi sisa yang nggak laku dijual, jadi kamu boleh merasa
tenang," timpal Yukihira.
......Perumpamaan
Yukihira jelas-jelas aneh, tapi kalau di-tsukkomi terus urusannya nggak
bakal selesai, jadi aku abaikan saja.
Lagipula
semuanya pasti anonim, dan selama tidak ada situasi yang ditulis terlalu
spesifik, di sekolah sebesar ini tidak mungkin bisa diketahui siapa orangnya.
"Yah,
kalau ada kasus yang identitasnya gampang ketahuan dan kelihatan berbahaya, aku
sendiri yang akan turun tangan menyelesaikannya secara langsung," kata
Hisamitsu-senpai sambil meliukkan jari dan pinggangnya dengan genit...
Sepertinya lebih baik aku tidak tanya detail penyelesaiannya seperti apa.
"Nah,
Ouka-kun, Furano-kun, silakan duduk."
"Siaaap!"
"Baiklah."
Atas ajakan
Hisamitsu-senpai, keduanya pun duduk di kursi.
"Nah,
mari kita mulai dengan konsultasi pertama."
Hisamitsu-senpai
mengoperasikan laptop merah mudanya dan membacakan email yang masuk.
"Halo.
Aku punya sahabat berinisial A yang selalu bersamaku sejak SD. A punya pacar
berinisial B yang mulai kencan dengannya tahun lalu. A yang baik dan feminin, serta B
yang atletis dan segar. Aku selalu mendukung mereka sebagai pasangan yang
serasi... tapi belakangan ini, karena suatu hal, aku malah jadi suka pada B.
Aku tahu ini salah, tapi perasaanku padanya semakin kuat dari hari ke hari. Apa
yang harus kulakukan?"
Wah...
isinya benar-benar drama asmara yang klise banget. Justru
karena klise, sulit untuk memberikan jawaban yang pasti... Saat aku sedang
berpikir begitu, Yukihira tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Oh,
cepat sekali, Furano-kun."
"Gampang.
Kalau dia orang yang tidak boleh disukai, si pengirim cukup fokus melihat sisi
buruk si B itu saja."
"Maksudnya?"
"Misalnya,
cara memegang sumpitnya sangat aneh, atau dia punya kebiasaan menggigit kuku
secara tidak sadar. Hal-hal sepele seperti itu sering kali bisa membuat
perasaan cinta yang sudah berlangsung seratus tahun pun langsung hilang
seketika. Tidak ada manusia yang sempurna, jadi cari saja kekurangan seperti
itu meskipun terkesan dipaksakan."
Memang
sih, aku pernah baca artikel tentang orang yang putus gara-gara merasa jijik
karena hal sepele.
"Atau
mungkin ternyata dia sangat suka anak kecil usia enam sampai sembilan tahun.
Atau malah cuma bisa suka sama yang usianya di atas enam puluh sembilan
tahun."
"Itu mah
bukan hal sepele lagi, woi!" potongku.
"Atau
dia nggak bisa nafsu kalau nggak pakai gaya 6—"
"KAMU
CUMA MAU NGOMONG ITU DOANG KAN!"
"Atau
mungkin dia suka telanjang setengah badan di kelas, atau menirukan suara
babi—"
"ITU KAN
AKU!"
"Maaf,
sepertinya aku agak selip lidah... maksudku Amakusa-kun yang garing
(selip)."
"NGGAK
PERLU DIPERJELAS JUGA KALI?!"
Gawat,
suasananya jadi benar-benar persis seperti di kelas biasanya.
"Anu...
ini kan konsultasi serius, apa tidak apa-apa kalau kita bercanda begini?"
Menanggapi
keraguanku, Hisamitsu-senpai menyeringai dan mengangguk.
"Tidak
masalah. Kalau kita bicara terlalu kaku, aku rasa tidak akan ada saran praktis
yang muncul. Aku tahu mereka sangat serius dalam kegalauannya, tapi kita tidak
perlu ikut-ikutan jadi serius. Berikan saja pendapat apa pun yang terlintas di
pikiran kalian."
Nggak, kalau
dua orang ini dibebaskan, mana mungkin bakal ada jawaban yang waras...
Hisamitsu-senpai pasti tahu itu, tapi sebenarnya apa maksudnya?
"Nah,
bagaimana menurut Ouka-kun?"
"Aku?
Kalau aku sih, mending bilang jujur saja ke si B itu!"
Sangat khas
Ouka, tapi karena itu terlalu blak-blakan, aku jadi ikut bicara.
"Tapi
kan urusan antar perempuan itu rumit? Mereka ini sahabat karib, apalagi si A
yang lebih dulu suka."
"Eh?
Memangnya kalau sudah suka, siapa yang duluan itu ada hubungannya ya?"
"Ugh...
yah... itu sih..."
Ditanya balik
dengan wajah serius begitu, aku jadi tidak bisa menjawab.
"Fufu,
ucapan Ouka-kun sebenarnya cukup menohok inti masalahnya, ya. Tapi sayangnya
itu tidak bisa dijadikan jawaban resmi. Ah, omong-omong, menurutku masalah
bakal selesai kalau aku saja yang 'memakan' si B itu, bagaimana?"
"Malah
makin gawat kalau gitu..."
Saat aku
sedang geleng-geleng kepala, Hisamitsu-senpai melirik ke arahku.
"Kalau
begitu, mari kita dengar pendapat Amakusa-kun."
Jujur saja
aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi karena sudah di sini, aku tidak mungkin
mengoper giliran begitu saja.
"Yah—"
Pilih:
① "Kira-kira kalau
dicium aromanya, mana yang lebih wangi antara si pengirim dan si A?"
② "Kira-kira mana
yang pakai celana dalam lebih lucu antara si pengirim dan si A?"
③ Dunia Terbalik
...Iya, iya, aku bakal ngomong. Ngomong
saja kan?! Tapi ngomong-ngomong, pilihan ③ ini muncul lagi... Sebenarnya apa
sih Dunia Terbalik itu? Karena pilihan ① dan ② parah banget,
aku sempat tergoda buat memilihnya, tapi aku sama sekali tidak bisa
membayangkan isinya...
"Guh..."
Tanpa sempat
berpikir panjang, rasa sakit kepala menyerangku. Sial...
"Kira-kira
kalau dicium aromanya (kunka-kunka), mana yang lebih wangi antara si
pengirim dan si A?"
““““………………””””
Ruang klub
mendadak hening. Ugh... kupikir mereka bertiga bakal merasa jijik, tapi—
"Amakusa-kun,
lubang mana yang mau kamu cium? Lubang telinga atau lubang hidung?"
"Targetmu
terlalu maniak, woi!"
"Kanade-cchi,
cewek itu kalau di luar memang wangi karena sudah persiapan macam-macam, tapi
kalau di kamar sendiri dan lagi lengah, baunya kayak ikan busuk, lho."
"Mana
mungkin!"
"Lagipula,
Amakusa-kun kan tidak akan punya kesempatan mencium bau wanita seumur hidupnya,
jadi lebih baik kamu cium bau lubang an*lmu sendiri saja supaya nafsu,"
timpal Yukihira.
"ITU SUDAH BUKAN LEVEL MESUM
LAGI!"
Tiga-tiganya malah membalas dengan
lawakan... Untung saja tidak ada siswi normal di sini.
Tapi di luar itu, aku yang tadi
bertanya "apa boleh bercanda" malah mengeluarkan pertanyaan kunka-kunka
begini... Benar-benar tidak tulus atau entahlah... Sialan kau, Absolute
Choice.
"Yah,
konsultasi ini sepertinya agak terlalu sulit untuk pembukaan. Biar nanti aku
saja yang mengirimkan jawabannya sendiri," kata Hisamitsu-senpai dengan
santai.
Memang benar-benar aneh... Mulai dari
pemilihan orang sampai sikapnya, aku sama sekali tidak merasakan niat serius
darinya untuk menyelesaikan konsultasi ini.
"Nah,
nah, mari lanjut ke pertanyaan berikutnya."
Mengabaikan
kecurigaanku, Hisamitsu-senpai membacakan email selanjutnya.
"Aku
punya dada yang kecil, tapi pacarku itu tipe 'maniak dada' (Oppai Seijin), aku
jadi kesusahan. Dia mati saja sana."
......Ini mah
bukan konsultasi namanya. Aku cuma ingin bilang: "Selesaikan saja sendiri
masalah kalian." Tapi kalau isinya begini...
Meskipun
tidak sengaja, pandangan semua orang—termasuk aku—langsung tertuju pada
Yukihira.
"......"
Hisamitsu-senpai
dan Ouka termasuk dalam kategori 'berukuran besar', jadi di antara kami, cuma
Yukihira yang dadanya rata. Wajar saja kalau orang-orang ingin mendengar
pendapat dari yang sudah berpengalaman (?).
"......"
Sambil tetap
diam, Yukihira memasang ekspresi kemarahan yang tidak terucapkan... Dia
benar-benar sedang tidak dalam kondisi untuk diajak bicara.
"Hmm,
gimana ya."
Bagi orang
yang punya 'gunung' besar seperti Hisamitsu-senpai, galau begini pasti sulit
dimengerti.
"Aku
juga nggak paham~" timpal Ouka yang juga punya 'gunung' serupa.
"Amakusa-kun.
Bagaimana pendapatmu dari sisi laki-laki?"
Yah, pasti
ujung-ujungnya ke aku... Aku bukan 'maniak dada' sih... tapi sepertinya lebih
baik aku menjawab jujur saja.
"Anu,
aku juga tidak terlalu suka yang terlalu besar. Ukuran yang pas itu yang paling baik..."
Hisamitsu-senpai
menyeringai lebar.
"Amakusa-kun,
aku kan tidak sedang tanya ukuran seleramu."
Gawat!
Tanpa sadar aku malah mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya.
"Yah,
namanya juga anak laki-laki, jadi wajar saja," goda Senpai.
"Reaksi
Kakak kayak ibu baik hati yang nggak sengaja nemu majalah bokep anaknya! Aku
mau mati saja rasanya!"
"Nggak
apa-apa kok, di umur segini kan memang masanya," tambah Senpai.
"GUAAAAAKK!"
S-Senpai
ini... dia pasti sengaja melakukannya.
"Kanade-cchi
mesum~" Ouka tertawa, tapi...
"Ugh..."
Tatapan tajam
nan dingin dari Yukihira langsung menusukku.
"Furano-kun,
sepertinya kamu sangat kepikiran ya," kata Hisamitsu-senpai sambil melirik
geli.
"......Tidak
juga. Punya gumpalan lemak menjijikkan seperti itu cuma bikin susah gerak saja.
Lebih baik tidak punya 'payot' yang besarnya nggak guna begitu."
"Susah gerak? Nggak juga,
tuh."
Baru saja bilang begitu, dengan gerakan
gesit Senpai mendekati Yukihira.
"E-Eh, apa..."
Dia langsung memiting Yukihira dari
belakang dengan erat, lalu mengulurkan tangannya ke arah dada Yukihira.
"T-Tunggu...
h-hentikan..."
"Fufufu,
yang di kelas kemarin itu baru permulaan. Jalan menuju 'Seni Meremas Payudara'
yang sejati jauh lebih dalam dari itu."
"Ku-Kubilang
hentikan... ahh!"
"Jangan
bilang begitu, serahkan saja dirimu padaku. Siapa tahu dengan begini ukurannya
bisa sedikit membesar."
Setiap
kali tangan Hisamitsu-senpai bergerak meliuk, wajah Yukihira semakin merah
padam.
"Ah...
uuuh... ahh."
Ini...
mesum banget.
"Nunggu
apa lagi Amakusa-kun, cepat ikut remas juga!"
"Oh, benar juga... EH MANA
MUNGKIN!"
Nyaris saja
aku terbawa suasana dan jadi kriminal... Tapi kalau sudah begini, bukannya
sesama perempuan pun ini sudah termasuk pelecehan seksual, ya?
"Ahahaha,
wajah Furano-cchi merah banget!" Ouka malah tertawa kegirangan, sementara
aku... yah, aku tidak punya niat buat menghentikannya secara aktif (ehem).
Setelah
"waktu bersenang-senang" Hisamitsu-senpai (plus aku sebagai penonton)
berlangsung selama beberapa menit...
"Kh...
hah... hah..."
Yukihira
terengah-engah dan ambruk di atas meja.
"Aduh,
aku jadi kebablasan lagi gara-gara tidak tahan... Aku harus introspeksi
diri."
Padahal
bicaranya begitu, tapi kulit Hisamitsu-senpai malah terlihat sangat segar...
Sebenarnya energi apa yang baru saja dia serap?
"Yah,
biarkan Furano-kun istirahat sebentar."
Dengan wajah
puas, Hisamitsu-senpai membacakan email berikutnya.
"Pacarku
suka menyingkap rokku, aku kesusahan. Dia mati saja sana."
Anak SD
apa... Lagian
ini pengirimnya sama dengan yang tadi, kan?
"Kalau
sudah pacaran sih, menurutku nggak apa-apa kalau cuma memperlihatkan celana
dalam satu atau dua kali," kata Senpai.
Itu cuma
berlaku buat Kakak saja tahu...
"Biarpun
belum pacaran juga nggak apa-apa lho kalau cuma satu atau dua kali."
"Itu mah
namanya eksibisionis!" teriakku.
"Lubang
an*l ikat sendiri (Jijo)?"
"CEPAT
PERGI KE DOKTER THT, SANA! LAGIAN
KAKAK NGOMONG APAAN SIH!"
"Hmm,
kalau kasusnya begitu, bukannya harus ke dokter proktologi (spesialis
dubur)?"
"Jangan ngomong begitu dengan
wajah serius!"
Sial... kalau aku tidak me-tsukkomi,
masalahnya bakal selesai begitu saja, tapi kata-kataku keluar secara refleks...
Aku benci bakat alamiku ini.
"Sepertinya
kamu tidak suka pendapatku. Kalau begitu, bagaimana menurut Ouka-kun?"
Ditanya oleh
Senpai, Ouka langsung mengacungkan jempolnya dengan mantap.
"Aku
selalu pakai celana ketat (spats) di dalam, jadi biarpun rokku disingkap
aku nggak masalah! Suruh saja orang itu pakai celana ketat juga!"
"Begitu
ya. Ngomong-ngomong Ouka-kun, celana ketat yang kamu maksud itu... apakah yang
ini?"
"He?"
Tiba-tiba di
tangan Hisamitsu-senpai yang sudah berdiri di samping Ouka, ada sebuah benda
berwarna biru tua.
"Eh?...
Eh?"
Dengan wajah
bingung, Ouka meraba-raba roknya untuk memastikan.
"......N-Nggak
pakai."
"FUHAHA!
Dan dengan ini, DISINGKAP!"
Hisamitsu-senpai
mengayunkan tangannya dengan kuat, membuat rok mini Ouka berkibar tertiup
angin.
"Hmm, motif yang cukup
bagus."
"Uuu... aaa..."
"Tenang saja. Karena aku sudah
mencapai level tertinggi dalam ilmu menyingkap rok, aku melakukannya di sudut
yang tidak bisa dilihat oleh Amakusa-kun."
Keahlian
nggak berguna macam apa itu... Tapi memang benar sih, aku sama sekali tidak
bisa melihat apa-apa...
"Se...
Se..."
Bukan cuma
suaranya, seluruh tubuh Ouka juga bergetar hebat.
"BUKAN
ITU MASALAHNYA, TAHUUUUUU!"
Setelah
merebut celana ketatnya dari Hisamitsu-senpai, Ouka langsung lari keluar ruang
klub dengan kecepatan luar biasa.
"Aduh,
aku keterlaluan lagi ya."
"Hah...
hah..."
Ouka kabur,
Yukihira masih terkapar di meja sambil terengah-engah... Hei, kenapa konsultasi
asmara malah jadi kacau begini?
"Nah,
nah, karena sayang sekali mereka berdua gugur, mari kita istirahat
sebentar."
Nggak,
yang bikin mereka gugur kan Kakak sendiri!
◆◇◆
Sekitar
sepuluh menit kemudian.
"Syukurlah
Furano-kun sudah bangkit dan Ouka-kun sudah kembali. Mari kita lanjut
konsultasinya."
Yukihira yang
sudah pulih menatap tajam Hisamitsu-senpai, dan Ouka yang sepertinya sudah
memakai kembali celana ketatnya juga terlihat cemberut karena marah.
Anehnya,
mereka berdua tidak mau pulang... Apa ada untungnya tetap di sini? Sementara itu, Senpai seolah tidak peduli
dengan tatapan penuh permusuhan mereka—malah terlihat menikmatinya—sambil
mengecek email... Benar-benar sulit memahami jalan pikiran orang ini.
"Hisamitsu-senpai,
maaf mengganggu, tapi apa Kakak tahu acara bernama 'Cosplay Mixer'? Itu sejenis
acara perjodohan 'Machikon' yang diadakan oleh pemerintah daerah untuk
memajukan kota, tapi dilakukan dengan bercosplay. Karena syarat pesertanya minimal
20 tahun, aku sendiri tidak ada hubungannya, tapi kakak perempuanku akan ikut
acara itu di kota ini pada pertengahan Juli nanti. Kakakku yang biasanya pemalu
itu akhirnya bertekad ikut demi mendapatkan pacar. Aku ingin membantunya, tapi
aku tidak tahu kostum apa yang disukai laki-laki. Bisa tolong beri tahu cosplay
seperti apa yang bisa memikat hati laki-laki?"
Cosplay...
Ini konsultasi yang Senpai bilang kemarin, ya? Aku melirik ke arah Senpai, tapi
dia cuma menyeringai penuh arti dan kembali menatap Ouka serta Yukihira.
"Nah,
mari kita dengar pendapat kalian."
Memikat hati
laki-laki, ya... Ini cukup sulit karena pilihannya luas banget, mulai dari
profesi seperti perawat atau polisi, sampai karakter manga, anime, atau game.
Lagipula selera pribadi itu beda-beda, jadi sulit memberikan jawaban yang
pasti.
"Aku,
aku!" Ouka mengangkat tangannya dengan semangat. Padahal baru saja marah,
cepat banget ya dia berubah suasana hati... Yah, seingatku dia memang tipe
orang yang amarahnya tidak bertahan lama.
"Menurutku
kostum tali tambang itu bagus!"
"Hah?"
Apa... dia
baru saja bilang tali tambang?
"Aku
kurang paham sih, tapi ibuku bilang 'Itu kostum yang paling bikin laki-laki
nafsu tahu!'"
"ITU
CUMA DI KELUARGAMU DOANG!"
Ibu Ouka,
Yuuouji Kyouka yang mantan idol, katanya memang seorang masokis berat. Karena
aku tidak mau imejnya yang terlihat cerdas itu hancur, aku tidak mau dengar
lebih jauh lagi...
"Terus
katanya, 'Mama paling nafsu kalau jadi kura-kura'," lanjut Ouka.
"STOP!
STOOOOOP!"
Orang itu, di
balik pekerjaannya sebagai komentator berita di pagi hari, sebenarnya ngomong
apa saja sih ke anaknya...
"Boleh
aku beri pendapat?" Yukihira mengangkat tangannya. Dia masih terlihat agak
kesal, tapi karena wajahnya memang jarang berekspresi, jadi agak sulit
dipastikan.
"Oh,
silakan Furano-kun."
"Menurutku
kostum jamur itu bagus."
......Nggak paham. Apaan itu cosplay
jamur?
"Atau
bisa juga pisang atau sosis."
Jamur,
pisang, sosis... perasaanku nggak enak.
"Kalian
tidak tahu ya? Ada karakter antropomorfik dari tiga benda itu yang sedang
sangat populer di kalangan anak-anak, namanya Pasukan Dewasa Dankon 3."
"Bo-Bohong,
kan?"
"Iya
bohong, aku baru saja mengarangnya."
"Kamu
parah banget, sih!"
"Kalau
aku parah, berarti Amakusa-kun itu ampas muntahan."
"KOK
GITU?!"
Di sampingku
yang sedang berteriak, Hisamitsu-senpai mulai bicara.
"Kalian
ini masih naif. Jawaban untuk masalah ini cuma ada satu, kan?"
"Cuma
satu?"
Lalu dia
mengatakannya dengan penuh percaya diri.
"Tidak
pakai apa-apa."
"Hah?"
"Yah, cosplay
telanjang bulat."
Iya... aku
nggak paham Kakak ngomong apa.
"Bagi
laki-laki, pakaian perempuan yang paling menarik bukannya telanjang
bulat?"
Yah,
kalau dibilang secara ekstrem sih mungkin benar, tapi...
"Hah... yah..." Aku cuma bisa
menjawab dengan ambigu karena dia tidak sepenuhnya salah.
"Kalau
begitu, mari kita coba praktekkan di sini."
Oi, oi, apa
orang ini mau mulai buka baju di sini...
"Nah
Amakusa-kun, cepat buka bajumu."
"KENAPA
JADI AKU?!"
"Biarpun
aku begini, aku tidak mungkin telanjang bulat di sini, kan? Jadi pilihannya
cuma Amakusa-kun seorang."
......Nggak,
aku beneran nggak paham logikanya di mana.
"Kalau
kamu sangat malu, cukup buka bagian bawahmu saja juga boleh."
"Malah
jadi lebih mesum daripada telanjang bulat, tahu!"
"Kalau
gitu, bagian belakangnya saja yang telanjang."
"Memangnya
aku tokoh kartun Binbo-chamma apa!" (T/N: Karakter dari anime
Obocchama-kun yang pakaiannya bolong di bagian belakang sehingga pantatnya
terlihat.)
"Kalau
gitu, bagian lubang pantatnya saja yang telanjang."
"ITU
MAHA LEVEL HOMO!"
Di saat aku
sedang berteriak-teriak, Yukihira mengangkat tangan.
"Oh, ada
apa Furano-kun?"
"Kupikir
biarpun dia buka baju atau tidak, tidak ada bedanya, karena 'barangnya' terlalu
kecil sampai tidak kelihatan."
"Nggak
perlu angkat tangan cuma buat ngomong gitu kali!"
"Terus aku harus ngomong
gimana?"
"Nggak usah ngomong, mending diam
saja!"
(..- --- .--- - .-- .-- --- .)
"PAKAI KODE MORSE SEGALA, SEBEGITU
PENGENNYA KAMU NGOMONG HAH!"
Kemudian Hisamitsu-senpai melirik ke
arahku.
"Konsultasi
ini sepertinya pendapat Amakusa-kun sebagai laki-laki yang paling bisa
dijadikan referensi. Bagaimana menurutmu?"
Cosplay... cosplay...
Seperti yang kupikirkan tadi, ini masalah selera. Aku tidak tahu apakah
pendapatku akan berguna, tapi...
"Yah, pokoknya harus pakai sabuk
garter (garter belt)."
“““……”””
Suasana di ruangan itu mendadak jadi
aneh gara-gara ucapanku... Kenapa?
"Amakusa-kun,
itu sih selera mesummu saja, bukan cosplay."
"HAH?!"
B-Benar juga... Hisamitsu-senpai
menyeringai, Ouka sepertinya tidak terlalu peduli, tapi tatapan tajam dan
dingin dari Yukihira itu sakit banget. Aku memang salah karena mengatakannya di
sini, tapi memangnya suka sabuk garter itu aneh banget ya?
"Yah,
soal ini, nanti biar aku sendiri yang mencoba beberapa kostum dan mengirimkan
sampel fotonya ke si pengirim. Sebenarnya, pakaian transparan ini dan gaya
kemeja tanpa bawahan kemarin juga masuk dalam daftar kandidat."
Ujar
Senpai sambil mengibaskan kimononya yang tembus pandang. Nggak, dua-duanya
pasti nggak boleh lah! Tapi yah, itu masih jauh lebih mending daripada tali
tambang, batang kemaluan, atau telanjang bulat... Memilih yang paling mending
di antara yang terburuk itu memang mengerikan.
Tapi
kalau dia sudah menyiapkan semuanya sendiri, sepertinya dia beneran nggak butuh
pendapat kami...
"Nah,
nah, mari kita masuk ke konsultasi terakhir hari ini."
Mengabaikan
kecurigaanku, Hisamitsu-senpai membacakan isi emailnya.
"Halo.
Aku punya pacar sejak sekitar setengah tahun lalu dan kami sudah beberapa kali
kencan. Awalnya dia selalu ceria ke mana pun kami pergi, tapi belakangan ini
dia mulai mengeluh karena kencannya terasa membosankan dan monoton. Aku sudah
mencari info ke mana-mana, tapi tidak menemukan rencana yang pas. Bisa berikan
saran rute kencan yang menantang dan berkesan?"
......Konsultasi
macam apa ini. Sudah punya pacar, kencan berkali-kali pula... Benar-benar
masalah orang yang beruntung. Mati saja sana.
"Hmm,
aku punya banyak rekomendasi tempat sih... tapi semuanya bukan konsumsi buat
pelajar."
Hisamitsu-senpai
berkata begitu—dan karena aku mencium aroma bahaya, aku menahan diri buat tidak
me-tsukkomi—lalu dia melirik Ouka dan Yukihira, tapi kali ini sepertinya
belum ada pendapat yang keluar. Wajar saja karena dua orang ini sepertinya
tidak punya pengalaman kencan.
"Hm, bagaimana ya... Oh, benar
juga, Amakusa-kun. Ayo
lakukan kencan simulasi denganku!"
"Hah?"
Aku sampai
mengeluarkan suara aneh karena tawarannya yang kelewat mendadak.
"Kak,
apa-apaan sih tiba-tiba bilang gitu?"
"Kalau
tidak ada pendapat yang keluar, satu-satunya cara ya dengan mempraktekkannya
langsung dan memikirkannya bersama."
Sambil
bicara, dia langsung menempel padaku.
"Uwaah...
ngapain sih!"
"Lho,
kan namanya mau kencan, jadi ini latihan, latihan."
"Nggak,
tapi aku nggak paham kenapa harus nempel-nempel begini..."
"Fufu,
jangan kaku begitu dong. Yah, biarpun bagian tubuhmu yang lain jadi kaku juga
aku tidak keberatan sih."
Orang ini parah banget... Lalu Yukihira
ikut bicara.
"Kupikir bagi Amakusa-kun yang
perjaka, meladeni Senpai itu terlalu berat buatnya."
"Eh, soal perjaka itu..."
"Dan sepertinya kulit Amakusa-kun
juga agak 'kelebihan' (tidak disunat)."
"LAGI BAHAS APAAN SIH?!"
Yukihira melanjutkan dengan datar.
"Makanya, kupikir lebih baik
Amakusa-kun jangan kencan dengannya."
"Oalah.
Jadi Furano-kun mau menggantikannya karena kamu yang ingin kencan, ya?"
"Apa...
t-tentu saja aku tidak bilang begitu!"
"Jahat
sekali mau merebutnya. Padahal aku yang sudah memesan Amakusa-kun duluan,
lho."
"Makanya...
aku tidak bilang ingin pergi—"
"Aku,
aku! Hisamitsu-chan senpai!"
Tiba-tiba
Ouka mengangkat tangan.
"Ada
apa, Ouka-kun?"
"...Aku
juga ingin coba kencan simulasi dengan Kanade-cchi!"
"Apa..."
Entah
kenapa Yukihira bereaksi berlebihan mendengar pernyataan Ouka.
"......Hooo."
"Nahaha,
soalnya ada hal yang ingin kupastikan juga!"
"Begitu ya... Baiklah, karena
Ouka-kun jujur, aku akan berikan setengah haknya padamu. Gimana kalau akhir pekan nanti kalian masing-masing
menemani Amakusa-kun kencan selama satu hari?"
"Boleh
banget!"
Jadwalnya
langsung ditentukan begitu saja secara sepihak.
"Amakusa-kun,
apa akhir pekan nanti kamu luang?"
"Yah...
kalau luang sih, luang."
Menyelesaikan
misi memang prioritas utamaku, tapi berdiam diri di rumah juga tidak akan
membuahkan hasil... Lagipula, kalau aku pergi ke tempat di mana banyak pasangan
atau calon pasangan berkumpul, siapa tahu aku bisa melihat saat seseorang jatuh
cinta.
"K-Kalau
gitu, hari Minggu biar aku yang..."
Yukihira
mendekati Hisamitsu-senpai dan membisikkan sesuatu.
"Fufufu,
hari Minggu kamu mau apa?"
Wajah
Hisamitsu-senpai terlihat sangat senang.
"Aku
juga punya banyak jadwal, lho. Tapi kalau Furano-kun benaran pengeeen
banget menggantikanku, boleh saja kupertimbangkan."
"Kh..."
Aku tidak
tahu apa yang dikatakan Senpai, tapi Yukihira langsung terdiam sambil menggigit
bibir.
"Pa-Padahal
aku sudah janji menemani konsultasi asmara hari ini supaya Kakak tidak
mengganggu Amakusa-kun lagi, tapi kenapa malah jadi jahat begini..."
"Jahat?
Wah, menyinggung sekali. Aku cuma ingin mendengar kata-kata jujur dari
Furano-kun."
Setelah
mendengar sesuatu lagi dari Senpai, Yukihira tertunduk di depan Senpai dan
membuka mulutnya.
"Uuuh...
kencan dengan Amakusa-kun... tolong gantikan... denganku."
Mendengar
bisikan Yukihira, Hisamitsu-senpai tersenyum puas... lalu tiba-tiba memegangi
perutnya.
"Aduh,
s-sakit. Aduh, s-sakit sekali~"
A-Apa-apaan
akting yang kaku banget ini...
"Aduh
sakitnya... sepertinya sampai hari Minggu juga tidak akan sembuh, nih. Apa ada
orang yang mau menggantikanku kencan simulasi dengan Amakusa-kun~?"
Lalu Yukihira
mengangkat tangan pelan-pelan.
"......Kalau
Kakak memaksa begitu, boleh saja aku yang pergi menggantikanmu."
......Drama
macam apa ini.
"......"
Dan Yukihira
tetap diam sambil menatapku dengan tatapan yang luar biasa tajam... Aku tidak
tahu apa yang dibicarakan mereka berdua, tapi sebenarnya apa yang sedang
terjadi?
"Hmm.
Masalah Furano-kun sih biarkan saja dulu karena pasti bakal jadi menarik...
tapi masalah Ouka-kun sepertinya terlalu sehat jadi kurang menantang."
"Maksudnya
apa?"
"Bukan
apa-apa, ini urusanku. Hmm, sepertinya aku harus beri sedikit bumbu rahasia
dulu."
Ujar
Hisamitsu-senpai sambil memberi isyarat agar Ouka mendekat.
"Ada
apa, Hisamitsu-chan senpai?"
"Sini
sebentar. Aku punya strategi rahasia buatmu..."
Lalu mereka
berdua menghilang entah ke mana.
Duh, sabtu
dan minggu berturut-turut meladeni Ouka dan Yukihira, ya... Aku benar-benar
tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi, dan perasaanku jadi
berat sekali.



Post a Comment