Chapter 4
Ternyata
Gadis-Gadis di Sekitarku Salah secara Moral
1
"Sudah jam segini, ya……"
Dari tepi kolam, aku menghela napas sambil memperhatikan Yuuouji
yang sedang asyik bermain bersama Chocolat dan Yuragi di kolam arus.
Sekitar satu jam
yang lalu.
"Tu-tunggu
dulu, Yuuouji! Maaf! Aku tidak tahu kalau kamu sebegitu bencinya tangannya
digenggam!"
Setelah mencari
ke seluruh area kolam renang, aku akhirnya menemukan Yuuouji dan berusaha keras
menahannya saat dia hendak kabur lagi dengan wajah merah padam.
"He? ……Tangan?"
Yuuouji
memasang ekspresi bengong.
"Hah?
……Bukankah kita sedang
membicarakan tangan?"
Aku pun
memasang ekspresi yang sama persis dengannya.
"………………A-ahaha, i-iya ya! Soal 'menyentuh' itu maksudnya soal tangan,
kan. Ha-haha…… kenapa aku malah lari ya!"
"Nggak…… justru itu yang ingin kutanyakan."
"Iya, Amacchi tidak ingat…… Oke, kalau begitu
OKE!"
Yuuouji yang tiba-tiba bersemangat dengan alasan tidak jelas
itu telah kembali ke sifat aslinya yang biasa…… Aku benar-benar tidak paham apa
yang sebenarnya terjadi.
Setelah itu, aku membawa Yuuouji yang sudah pulih kembali ke
tempat Urakaze, lalu bergabung dengan anggota lainnya yang sudah dikumpulkan
oleh Ketua di satu titik.
Melihat enam gadis cantik kebanggaan akademi berkumpul dalam
balutan baju renang adalah pemandangan yang luar biasa, namun—
"Semuanya, syukurlah kalian bisa berkumpul kembali
dengan selamat. Kalau begitu, mari kita kembali ke pasangan semula~"
Ketua Kokuboin segera pergi entah ke mana sambil membawa
Urakaze dan Reikado, jadi kami berempat kembali ke formasi awal dan pergi ke
kolam arus.
Karena akhirnya bisa beristirahat sejenak, aku membiarkan
tiga gadis berisik itu bermain sementara aku memikirkan cara untuk
menyelesaikan misi.
Namun, meski sudah memutar otak sejak tadi, tanda-tanda ide
untuk membuat Yuuouji menangis sama sekali tidak muncul. Kalau sudah begini, keberadaan senjata rahasia itu
terus terngiang-ngingat di kepalaku. Kalau pakai itu sih urusannya bakal
cepat selesai, tapi…… tidak, aku harus berpikir sedikit lebih keras lagi.
"Haa…… Untuk menyegarkan pikiran, lebih baik aku ikut
berenang sebentar."
Sambil memijat kepala yang terasa berat karena terlalu
banyak berpikir, aku berjalan menuju kolam arus.
◆◇◆
(Semuanya…… kelihatan senang sekali.)
Furano menatap Chocolat, Ouka, dan Yuragi dengan iri sambil
mengapung di atas ban di kolam arus.
Setelah sempat kehilangan jejak karena insiden Agua-kun, dia
mencari ke seluruh area dan baru berhasil menemukan Kanade dan yang lainnya
beberapa menit yang lalu.
(Uuuh…… kenapa aku malah melakukan hal yang seperti
penguntit begini sih.)
Dia tidak punya keberanian untuk menyapa, tapi juga tidak
bisa melepaskan diri untuk pulang begitu saja.
"Haaa……"
Tepat saat pikiran negatif mulai merasukinya kembali, dia
melihat Kanade yang tadi beristirahat sendirian di tepi kolam kini mulai masuk
ke dalam air, tepat di tengah-tengah antara posisi Furano dan kelompok
Chocolat.
(Wa-waduh, gawat! Aku harus menjauh atau aku bakal
ketahuan—eh?)
Saat dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya dan
hendak menoleh,
"Ah, maaf!"
"……Eh?"
Seseorang menabraknya, dan Furano terpental dari bannya.
"A-awa, awawa!"
Padahal kalau dia tenang, airnya tidak terlalu dalam dan
kakinya bisa menapak, tapi Furano sudah benar-benar jatuh dalam kepanikan.
"Wapu, wapu!"
Sambil meronta-ronta, air masuk ke hidung dan mulutnya,
membuat rasa panik Furano semakin menjadi-jadi.
(Si-siapa pun,
tolo—)
◆◇◆
"Hm?"
Begitu aku masuk
ke kolam arus, terdengar suara ceburan air dari arah belakang.
Saat aku menoleh,
seseorang yang tampak hampir tenggelam sedang hanyut terbawa arus.
Padahal airnya
tidak sedalam itu, tapi sepertinya orang itu sangat panik; dia meronta-ronta
hingga menimbulkan cipratan air yang hebat sampai aku tidak bisa membedakan
apakah itu laki-laki atau perempuan……
"Wapu, wapu!"
Ternyata perempuan…… Suaranya rasanya pernah kudengar di
suatu tempat, pikirku sambil menahan orang yang hanyut itu agar tidak terbawa
arus lebih jauh.
"Kamu tidak
apa-apa?"
"Auuu……
Te-terima kasih bany—"
"Yuki…… hira?"
Saat mataku
bertemu dengannya, wajah Yukihira seketika membeku.
"A-Amakusa-kun……"
Perasaanku saja,
atau bukan ya? Barusan kulihat dia bergumam auuu dengan ekspresi wajah
yang sangat imut……
Tapi begitu aku
mengerjap, wajah Yukihira sudah kembali datar seperti topeng noh, bahkan lebih
kaku dari biasanya…… Ya, pasti cuma perasaanku saja.
Namun, apa-apaan
hawa tidak enak ini…… Haus darah?
"Uoooo!"
Detik berikutnya,
sebuah tinju mentah meledak tepat di posisi wajahku berada tadi.
"Kamu mau
membunuhku, ya?!"
Ini benar-benar
nggak lucu. Serius.
"Analisis
yang cukup akurat."
"Malah
diakui!"
"Cuma
bercanda kok. Manusia tidak akan mati hanya karena tulang hidungnya hancur
berkeping-keping."
"Ternyata
niat beneran, ya!"
"Yah,
rencana aslinya sih membuatmu lengah dengan serangan itu, lalu aku berputar ke
belakang dan menghantam tengkukmu."
"Kejam
banget rencana cadangannya!"
Yukihira hari ini
terasa jauh lebih berbahaya dari biasanya. Atmosfernya seolah dia bisa saja
mengeluarkan gunting dan berkata, 'Siapa pun yang melawanku akan kubunuh,
meski itu orang tuaku sendiri'.
"Lagipula,
bukannya kamu bilang ada urusan sampai tidak bisa datang?"
Aku memang
memberikan tiketnya padanya, tapi seingatku dia bilang hal tidak jelas soal
tiketnya dimakan kambing atau semacamnya.
"Iya,
awalnya aku memang tidak berniat datang, jadi tiketnya kukasihkan ke kambing
untuk dimakan. Tapi sepertinya pencernaan kambing itu sedang bermasalah,
tiketnya keluar lagi dari pantatnya tanpa hancur sedikit pun, jadi terpaksa
kupakai saja."
"Nggak mungkin, lah……"
"Yah, soal tidak hancur itu cuma bercanda. Sebenarnya
tiket itu sempat meleleh, lalu keluar lagi dalam bentuk kertas daur
ulang."
"Malah makin
nggak masuk akal!"
Melelahkan…… Di mana pun tempatnya, menghadapi orang ini
selalu saja menguras tenaga.
"Yah, apa pun alasannya terserah deh, tapi mumpung
sudah sampai di sini, kenapa tidak menyapa Yuuouji dan yang lainnya di
sana?"
"……Tidak,
aku permisi saja."
"Kenapa?
……Eh, badanmu gemetaran gitu, kamu nggak apa-apa?"
"Amakusa-kun,
jika berhasil menebas kepala jenderal musuh, orang sepertiku pun tidak punya
pilihan selain merasa bersemangat."
"Kenapa
malah gemetar karena semangat perang (mushaburui) di tempat begini
sih!"
"Melakukan
perbuatan asusila (mushaburitsuku) di tempat begini? Benar-benar
kelakuan terendah."
"Telingamu
itu sudah busuk ya?!"
"…………Benar."
"Kenapa
pakai jeda lama banget kayak acara kuis Millinaire gitu!"
"Ngomong-ngomong,
telingaku tidak benar-benar busuk kok."
"Aku tahu,
tahu! Kamu sedang meremehkanku ya?!"
"…………Benar."
"KAMU
NYEBELIN BANGET, SIH!"
Di
hadapanku yang sedang naik pitam, Yukihira berkata dengan nada datar.
"Bicara soal
waktu, Amakusa-kun…… Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau mengambilkan
ban renang di sana."
Yukihira menunjuk
ke arah ban renang yang tersangkut di tanaman hias di bagian dalam kolam.
"……Jangan-jangan,
kamu tidak bisa berenang ya?"
Tadi dia
hampir tenggelam juga bukan karena kakinya kram atau semacamnya.
"……Mana
mungkin begitu."
"Terus
kenapa kamu butuh ban renang?"
"Jika aku
berada di dalam alat berbentuk mesum itu, entah kenapa aku merasa sangat
tenang."
"Minta maaf
sana sama ban renangnya sekarang juga!"
Sudah dipastikan
kalau Yukihira memang tidak bisa berenang, tapi aku jadi ingin sedikit
menjahilinya.
"Tapi ya,
kalau emang beneran bisa berenang, nggak butuh ban itu lagi dong ya~"
Karena aku selalu
dipojokkan olehnya, kurasa pembalasan kecil seperti ini boleh-boleh saja, kan?
"…………"
"Eh, balas
dong! Aku jadi ngerasa kayak orang jahat kalau didiemin begini!"
"…………●● (Sensor)."
"Batas
kata-kata kasar kalau mau bales itu ada batasnya, tahu!"
Yukihira melirik tajam ke arahku. Ugh…… Sepertinya dia tidak
sedang bercanda, tapi beneran marah.
"Oke,
oke, aku yang salah. Nih."
Aku
mengambil ban renang itu dan menyodorkannya padanya.
"Tidak
butuh. Aku kan bisa berenang."
Waduh…… dia beneran merajuk.
"Jangan
keras kepala begitu, ambil saja."
"Tidak
mau."
"……"
"……"
"Ka-kalau
kamu memaksa, aku mau ambil ju—"
"Kalau kamu
keras kepala begitu, ya sudah nggak usah di—"
Aduh, waktu
bicara kami benar-benar bertabrakan…… Suasananya jadi canggung sekali.
"……Aku
pulang saja."
"Eh, jangan,
jangan dipaksakan……"
Tanpa memedulikan
cegahanku, dia mulai melangkah dengan hati-hati menuju bagian tengah kolam.
Namun,
baru jalan beberapa langkah……
"Wapu!"
Dia mulai
meronta-ronta lagi.
"Duh…… Kalau aku menolongnya sekarang, dia pasti bakal
marah lagi, kan……"
Tanpa bisa berbuat apa-apa, aku hanya berdiri diam
memperhatikan punggung Yukihira yang sedang berjuang keras melawan air.
2
"Fuu... capek juga."
Setelah naik dari kolam arus (Yukihira yang diselamatkan
petugas entah pergi ke mana setelahnya), kami beristirahat sejenak di area
makan dan minum.
Sambil menyedot
jus, aku berusaha keras memutar otak, tapi... percuma. Tidak ada ide yang
muncul sama sekali.
"Amacchi,
kenapa wajahmu ditekuk begitu? Ada masalah?"
"Kakak, dahi
Kakak sampai berkerut, lho."
"Apa perut
Kakak sakit?"
"Nggak,
bukan apa-apa."
Aku menyahuti
pertanyaan Yuuouji dan yang lainnya dengan setengah melamun. Tepat saat itu,
sebuah suara ceria terdengar di telingaku.
"Ahahaha!
Kakek, ayo main ke sana lagi!"
"Ooh, iya,
iya. Sini Kakek gendong sampai sana, ya."
"Yaaaay!"
Sepertinya itu
seorang kakek yang sedang bermain dengan cucunya... Tiba-tiba, penglihatan yang
dipaksakan oleh Ketua tadi terbayang kembali di otakku.
'HEI! LIHATLAH BEACH-CHICK MILIKKU INI, YO!—LIHATLAH,
YO!—LIHATLAH, YO!'... Rap kakek-kakek itu bergema berulang kali di dalam
kepalaku bagaikan kaset rusak.
Kalau aku gagal
menjalankan misi, aku akan jadi seperti itu, atau bahkan lebih parah lagi...
Membayangkannya saja membuat sekujur tubuhku merinding.
"……Maaf,
bisa tunggu sebentar? Sepuluh menit saja."
Aku berdiri
dengan sebuah tekad bulat.
Kalau sudah
begini... tidak ada pilihan lain selain menggunakan senjata rahasia itu.
Mengingat waktu
yang dibutuhkan untuk perjalanan pulang, kami hanya punya sisa waktu satu atau
dua jam lagi di sini. Kalau aku terus bimbang, aku tidak akan mendapatkan hasil
apa pun.
Sambil
mencari-cari alasan di dalam hati, aku melangkah cepat menuju ruang ganti. Aku
membuka loker pribadiku, lalu mengambil sebuah botol kecil dari dalam tas.
"Aku
benar-benar tidak ingin menggunakan benda ini, tapi……"
Kalimat
barusan terdengar sangat chuunibyou, tapi itu benar-benar isi hatiku
yang paling jujur.
……Yuuouji,
maafkan aku.
◆◇◆
"Maaf
membuat kalian menunggu."
"Eh,
Amacchi, apa yang kamu sembunyikan di belakang punggungmu itu?"
"Ti-tidak,
jangan dipikirkan……"
Yang
kusembunyikan adalah sebuah pistol air kecil yang baru saja kubeli di toko
cendera mata saat jalan kembali tadi. Dan di dalamnya, sudah terisi Ekstrak
Penghancur Kelenjar Air Mata spesial.
Dalam
buku 'Sepuluh Cara Membuat Gadis Menangis' yang dibeli Chocolat, ada
cara super jahat seperti menyemprotkan ekstrak cabai habanero ke wajah, tapi
sepertinya itu hanya sekadar pembuka. Sebagai tambahan, buku itu memuat cara
membuat Ekstrak Penghancur Kelenjar Air Mata ini.
Bahan
dasarnya adalah sari bawang bombay. Menurut catatan peringatannya, cairan ini
hanya akan membuat air mata keluar deras tanpa memberikan dampak buruk pada
kesehatan.
Untuk
memastikan, aku sudah mencobanya sendiri dan terbukti tidak berbahaya.
……Hanya saja,
ingus akan keluar. Ingus
akan keluar deras bersamaan dengan air mata. Benar-benar akan membuat wajah
berantakan.
Itulah
alasan kenapa aku ragu menggunakannya. Meskipun itu Yuuouji, membuat wajah
seorang gadis penuh dengan ingus adalah perbuatan yang tidak termaafkan.
Namun…… namun!
"……Yuuouji,
bisa ikut sebentar?"
Aku…… akan
menjadi iblis!
"Hm? Ada
apa~?"
Agar tidak
terlihat oleh Yuragi atau Chocolat, aku memancingnya ke pinggir kolam yang agak
sepi. Bagus, kalau di sini, aku bisa memotret wajah menangis Yuuouji dengan
cepat, lalu mendorongnya masuk ke kolam agar orang lain tidak melihat wajahnya
yang penuh ingus.
Tentu saja, bukan berarti tindakanku ini bisa dimaafkan……
Aku akan bersujud meminta maaf padanya nanti.
"……"
Tanpa kata, aku
mengeluarkan pistol air itu.
"Ooh, apa
itu? Keren banget. Kamu baru beli ya?"
"Iya……"
Sambil menahan
rasa bersalah melihat senyum polos Yuuouji, aku melangkah mendekat.
Kalau menembak
dari jarak tanggung, ada risiko seranganku dihindari oleh kemampuan fisik Yuuouji
yang luar biasa.
……Oke, jarak ini
sudah pasti kena.
Aku mengarahkan
moncong pistol itu tepat ke wajah Yuuouji.
"Maafkan
aku—"
Namun, jariku
tidak mau bergerak.
Sial…… apa yang kulakukan? Kalau begini terus, nasib akhirku
adalah rap telanjang—
PILIH:
① Tembakkan ke lubang pantat sendiri. (Efek stimulasi 10x lipat)
② Tembakkan ke lubang hidung
sendiri. (Efek stimulasi 2x lipat)
Apa……-apaan ini?!
"Kenapa,
Amacchi?"
Yuuouji menatapku
dengan bingung karena aku mendadak kaku sambil menodongkan pistol air.
"Kh……"
Dengan tangan
gemetar, aku menurunkan pistol yang tadinya mengarah ke Yuuouji, lalu
mengarahkannya ke wajahku sendiri.
Dan, aku
memasukkannya ke lubang hidungku—
"GYAAAAAAAAAAAAAAA!"
3
"Uuu…… hiks…… hiks……"
"Cup, cup, anak pintar~"
Chocolat mengelus kepalaku yang sedang menangis
tersedu-sedu.
"Bagus, bagus! Kakak yang lagi menangis begini juga
sangat 'menarik' buatku!"
Yuragi
tampak bersemangat dengan napas menderu.
"Ahahahahahaha!
Wajah Amacchi aneh banget, ingusnya berantakan!"
Yuuouji
tertawa terbahak-bahak melihat kondisiku.
"U-uguhyai!
(Be-berisik tahu!)"
"Tapi
kenapa kamu mau menembakkan benda itu ke aku?"
"So-sodeba, joddo gigyoubi mizuda…… (I-itu cuma, se-sedikit rasa penasaran……)"
"Ahahahaha!
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!"
……Kurasa ini yang
namanya karma. Aku paham.
◆◇◆
"……Fuu."
Belasan menit
kemudian, air mata dan ingusku akhirnya reda, tapi situasiku saat ini adalah
yang terburuk. Sekarang satu-satunya cara mutlak untuk menyelesaikan misi telah
hancur, aku tidak punya rencana cadangan lagi.
Sial…… gawat, ini benar-benar gawat.
"Berikutnya
kita mau ke mana~?"
Di tengah
kegalauanku, Chocolat bersuara dengan nada riang tanpa beban.
"Mengingat
waktunya, kita tidak bisa berkeliling ke banyak tempat lagi, jadi kita harus
pilih-pilih…… Ah, Kakak Chocolat, ini kelihatannya seru!"
Yuragi menunjuk
ke salah satu bagian di brosur yang dipegangnya.
"'Water x Ghost'…… Oh, intinya rumah hantu bertema air
ya?"
"Rumah hantu
ya, kelihatannya menyenangkan!"
Memang terdengar
seperti atraksi yang menarik, tapi saat ini aku sama sekali tidak punya waktu
untuk bermain-main. Aku harus segera memikirkan cara membuat Yuuouji menangis.
"Maaf, tapi
aku sepertinya—"
"I-itu,
sebaiknya jangan ke sana deh."
Tepat saat aku
hendak menolak ikut, suara keberatan muncul dari arah yang tidak terduga.
"Yuuouji?"
Ada apa
dengannya? Padahal dia biasanya yang paling suka hal-hal seperti ini.
"Ouka-san keberatan?"
Chocolat bertanya dengan wajah heran.
"E-enggak kok, bukan keberatan. Gimana ya, aku itu
sudah 'lulus' dari yang namanya rumah hantu. Hal kekanak-kanakan begitu aku
sudah tidak terlalu tertarik—"
"Kekanak-kanakan……"
Aku tidak
menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Yuuouji.
Tapi tunggu
sebentar. Perasaan ini, rasanya aku baru saja mengalaminya…… Ah, ini persis
seperti alasanku saat di roller coaster tadi. Dia berbohong karena
ketakutan dan tidak mau masuk…… Hm? Tunggu, berarti……
"Yuuouji, jangan-jangan…… kamu takut ya?"
"……Ma-mana
mungkin!"
"Hohoo……"
Aku bisa
merasakan wajahku menyeringai licik.
"Kalau
begitu, harusnya berani masuk dong~?"
"Ugh……"
Posisi
kami sekarang benar-benar berbalik.
"Nggak gitu,
kita kan sudah SMA, ja-jadi mendingan kita main yang…… itu lho, permainan yang
lebih dewasa, mungkin……?"
Yuuouji mulai
bicara terbata-bata. Aku
melakukan ini bukan sekadar ingin balas dendam soal yang tadi…… ini adalah
kesempatan untuk menyelesaikan misi.
"A-aku
tidak masalah kalau mau masuk, tapi tempat begitu kan cuma buat menipu anak
kecil—"
"Ah, kalau
itu tenang saja, Kakak Ouka. Di brosur ini tertulis kalau tempat ini sangat
autentik, bahkan orang dewasa pun bisa lari tunggang langgang karena
ketakutan."
"A-ooh,
begitu ya……"
Wajah Yuuouji
benar-benar kaku. Dari reaksi yang sangat jelas ini, sudah tidak salah lagi
kalau dia lemah terhadap hal-hal berbau horor.
Aku tidak tahu
apakah dia akan menangis semudah itu, tapi mumpung senjata rahasia sudah gagal
dan tidak ada ide lain, mempertaruhkan segalanya pada emosi dasar bernama
"rasa takut" sangat layak untuk dicoba.
"Oke, kalau
begitu sudah diputuskan kita ke sana."
"UEEEEEEEI!"
Yuuouji
mengeluarkan suara yang aneh saking kagetnya.
"Oi, nggak
perlu sekaget itu juga kali."
Karena
atmosfernya seolah dia akan membatalkannya kapan saja, aku menepuk bahunya
untuk menenangkannya.
"AHYABESHI!"
Yuuouji melompat
sambil mengeluarkan suara seperti musuh kroco di anime akhir zaman yang sedang
sekarat. Tingkat ketakutannya jauh melampaui dugaanku…… ini bisa
diharapkan.
◆◇◆
Tak lama kemudian, kami sampai di depan 'Water x Ghost'.
Penampilan luarnya terlihat menyeramkan dan digarap dengan cukup serius.
Di pintu masuk, seorang mbak petugas bertanya dengan ramah.
"Pasangan
ya? Silakan masuk bersama-sama."
"Ah,
tidak, kami bukan pasangan—"
"I-iya!
Be-bersama! Aku dan Amacchi bersama-sama!"
Yuuouji memotong kalimatku dengan teriakan, sepertinya dia
cuma mendengar kata "bersama". Astaga, separah itu ya rasa takutmu……
Yah, bagiku juga lebih menguntungkan kalau kami masuk berdua
saja. Aku agak cemas meninggalkan Chocolat dan Yuragi, tapi sekarang aku harus
fokus pada misi.
"……Ayo
jalan, Yuuouji."
"I-iya,
m-mohon bantuannya!"
"……Kamu
beneran nggak apa-apa?"
"A-aman terkendali!"
Aman apanya…… karakternya sudah benar-benar hancur begitu.
Yuuouji
mencengkeram lenganku dan mengekor dengan langkah kaki yang gemetaran seperti
nenek-nenek.
Keadaan
di dalam cukup gelap dan atmosfernya lumayan dapet, tapi selain air yang
mengalir sedikit-sedikit di lantai, sejauh ini tidak terlihat beda jauh dengan
rumah hantu biasa.
"Satu
orang hantu, dua orang hantu……"
Yuuouji
yang panik mulai menghitung hal-hal tidak jelas, lalu menulis huruf
"domba" di telapak tangannya dan pura-pura menelannya (metode
tradisional Jepang untuk menenangkan diri).
Entah dia
mau tidur atau mau menenangkan diri, tapi kurasa itu tidak akan menghilangkan
rasa takutnya.
"Oh?"
Air mulai
menetes dari langit-langit ke bahuku. Ini efek yang khas untuk fasilitas di
dalam kolam renang.
Setiap
kali tetesan air mengenai tubuhnya, Yuuouji berjengit kaget sambil berbunyi
"Hik!", "Hik!". Kalau aku jadi hantunya, dia ini tipe
pengunjung yang paling seru untuk dikerjai.
"……Yuuouji,
kamu yakin nggak apa-apa?"
Meski untuk misi
aku butuh dia ketakutan sampai level maksimal, tapi melihatnya ketakutan sampai
sekujur tubuhnya gemetaran begini, aku jadi merasa sedikit kasihan.
"A-aman kok,
lagipula sejak awal aku tidak takut sama se—"
"GRUGYORURAAAA!!"
Seolah memotong
kalimat Yuuouji, sesuatu melompat keluar dari tangki air di samping kami.
"UHYAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Sosok itu adalah
manusia ikan yang sekujur tubuhnya berwarna hijau tua.
Yuuouji yang
hampir lemas karena penampilannya yang sangat menjijikkan itu mencengkeram
celana renangku sambil gemetar hebat.
"A-au…… au……"
"Yuuouji, itu cuma boneka, tenang saja."
"Ta-tapi
kelihatan nyata ban—eh?"
"GRUGYORURAAAAAAA!!"
Tiba-tiba satu
lagi muncul dari sisi yang berlawanan.
"UHYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
"Ah, oi, Yuuouji!"
Setelah
mengeluarkan jeritan yang luar biasa, Yuuouji lari tunggang langgang sebelum
sempat aku cegah.
◆◇◆
"Oi, Yuuouji—!"
Aku memanggil
namanya sambil menyusuri rute rumah hantu selama beberapa menit.
Ketemu. Yuuouji
sedang duduk memeluk lutut di tengah jalan, tubuhnya bergetar kecil.
"Hiks…… hiks……"
……Dia
benar-benar menangis.
"Kamu……
sampai segitunya cuma gara-gara rumah hantu."
"Habisnya…… habisnya, itu tadi nakutin banget
tahu!"
Untuk pertama
kalinya dia jujur mengakui rasa takutnya, lalu dia menggenggam erat tanganku
yang kuulurkan.
"O-oi,
tunggu dulu……"
Padahal sikapnya
sekarang lebih kekanak-kanakan dari biasanya, tapi ekspresinya yang basah oleh
air mata terlihat sangat menggoda sampai aku tidak sengaja memalingkan wajah.
Hm…… tunggu…… basah oleh air mata?
"U-UOOHHHHH!"
Keadaan ini,
bukankah sama saja dengan misi sudah berhasil!?
Meski merasa
sedikit bersalah karena dia sedang ketakutan setengah mati, aku menyiapkan
kamera tahan air yang tergantung di leherku.
"Uuu…… hiks……"
Cepat potret,
lalu bawa dia keluar. Saat aku berpikir begitu dan membidikkan kamera—
"Hm?"
Sebuah jari
menepuk-nepuk bahu Yuuouji.
Yuuouji menoleh.
Dan yang ada di hadapannya adalah—
"GRUGYORURAAAAAAA!!"
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Terkejut oleh
manusia ikan ketiga, Yuuouji yang sudah kehilangan kendali diri langsung
memelukku erat-erat.
"O-oi! ……Eh?"
Lalu, dia merebut
kamera dari tanganku dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah si manusia ikan.
"PERGI SANA
KAMUUUUUU!"
Kamera itu
menghantam telak topeng sang manusia ikan, lalu jatuh ke lantai dengan bunyi
yang tidak mengenakkan.
"YA AMPUN,
SERIUS?!"
Aku buru-buru
memungutnya, tapi meskipun tahan air, ketahanannya terhadap benturan tidak
seberapa. Kamera itu benar-benar hancur total.
K-kesempatan emas
sekali seumur hidupku……!
"UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Tanpa sempat aku
meratapi nasib, Yuuouji yang menjerit histeris lari lagi menjauh.
"Yu-Yuuouji!"
Aku pun buru-buru
mengejarnya.
◆◇◆
"Ah,
ketemu."
Kali ini dia
tidak duduk memeluk lutut, tapi berdiri mematung di tengah lorong.
Saat aku
mendekat, aku menyadari ada yang aneh. Air matanya sudah berhenti, tapi
ekspresi wajahnya terlihat kosong.
"Yu-Yuuouji,
kamu nggak apa-apa?"
"……"
Tidak ada
jawaban. Sorot matanya juga tidak fokus, ini sepertinya gawat.
"Kanade."
"……Eh?"
Dia
barusan bilang apa?
"Kanade."
Dia
menyebut namaku sekali lagi dengan jelas, lalu mencengkeram erat celana
renangku.
"Yu-Yuuouji?"
Apa? Apa
yang sebenarnya terjadi?
"Bukankah
namamu Kanade?"
"I-iya,
namaku memang Kanade, tapi bukan itu masalahnya……"
Lalu, dari mulut Yuuouji
keluar kata-kata lain.
"Gendong."
"……Hah?"
"Aku takut, gendong."
"Bukannya 'gendong' itu……"
Cara bicaranya sudah bukan lagi sekadar kekanak-kanakan,
tapi sudah di level balita.
Jangan-jangan…… saking takutnya, mentalnya mengalami
kemunduran (regresi) jadi balita?
"Ayo…… gendong……"
Mana mungkin hal seperti di manga terjadi…… tapi faktanya Yuuouji
di depanku sekarang, baik ekspresi maupun tingkah lakunya, benar-benar selevel
anak TK.
"I-iya
deh, nih……"
"Hm……"
Terpaksa aku
membiarkannya naik ke punggungku. Sepertinya dia benar-benar ketakutan karena dia langsung memelukku
dengan sekuat tenaga.
Kalau dia
memeluk sekencang itu, tentu saja bagian yang seharusnya menempel akan terasa
menempel di punggungku……
"Yu-Yuuouji,
jangan terlalu nempel—"
"Ouka."
"Hah?"
"Bukan Yuuouji,
panggil Ouka."
Ouka? ……Ah,
nama depannya…… Maksudnya dia mau dipanggil nama depan?
"……Ayah biasanya panggil begitu."
"Ayah? Kamu ini……"
"Ouka!"
Yuuouji memelukku semakin erat seolah-olah sedang
melayangkan protes.
"Ugh…… uooh……"
Sensasi
lembut yang tertekan di punggungku benar-benar nyata. G-gawat... ini
benar-benar berbahaya.
"O-Ouka..."
"Un,
oke."
Dia
menjawab dengan nada puas, dan pelukannya pun sedikit melonggar. A-apa-apaan
situasi ini... Yah, meratap pun tidak ada gunanya, jadi sambil menggendong Yuuouji,
aku terus menyusuri rute. Mungkin karena digendong rasa takutnya sedikit
berkurang, awalnya dia cukup tenang, tapi...
"Hik!"
"Uhyak!"
"Takuuuut!"
Setiap kali ada kejutan kecil, dia akan memelukku semakin
kencang, dan setiap kali itu pula dadanya menekan punggungku.
Aku merasa sedang
berada di ambang maut, tapi bukan karena hantu, melainkan karena hal lain. Dan
kemudian—
"GRUGYORURAAAAAAA!!"
Manusia ikan
keempat menyerang.
"UHYAAAAAAAAAAAAA!"
Rumah hantu ini
kenapa fanatik banget sih sama manusia ikan... Biasanya kalau muncul
berturut-turut begini rasa takutnya bakal berkurang, tapi Yuuouji tetap
menjerit histeris dengan kekuatan yang sama seperti di awal.
"Fu...
fue... fueeeeeeennn!"
Karena sedang
digendong, dia tidak lari tunggang langgang, tapi dia malah mulai menangis
lagi.
"O-oi, sudah
jangan menangis, Ouka. Aman kok."
Aku berusaha
menenangkannya dengan gugup. Tadi aku juga membuat Manami-chan menangis, tapi
situasinya benar-benar berbeda. Bagaimanapun, yang menangis di punggungku
sekarang adalah seorang gadis enam belas tahun.
"Uuu...
hiks... hiks..."
Sambil berjalan
aku berusaha keras membujuknya, tapi air mata Yuuouji tidak kunjung berhenti.
Jika memikirkan misi, ini situasi yang bagus, tapi dengan kamera yang sudah
hancur, sebanyak apa pun Yuuouji menangis, itu tidak ada artinya. Idealku
adalah dia tetap dalam kondisi sedikit merajuk sampai keluar, tapi...
"UEEEEEENNN!"
Tangisan Yuuouji
malah semakin menjadi-jadi.
◆◇◆
"Oh?"
Di tengah
kebingunganku, sebuah jalan bercabang muncul di depan. Jalannya benar-benar
simetris, sulit untuk menentukan mana yang lebih dekat ke pintu keluar hanya
dengan melihatnya. Nah, apa yang harus kulakukan—
PILIH:
① Ke jalan kiri. (Segera keluar, tapi Yuuouji Ouka akan berhenti menangis.)
② Ke jalan kanan. (Rute menuju pintu keluar sangat jauh, penuh parade teror
yang tidak masuk akal. Setelah sampai di garis finish pun Yuuouji Ouka
akan terus menangis histeris.)
……Jika aku memilih nomor 2, setelah sampai di garis finish,
aku bisa meminjam kamera seseorang untuk memotretnya dan misi pasti berhasil,
tapi…… Aku melirik kondisi Yuuouji yang sedang kugendong.
"Hiks…… hiks……"
Dia
benar-benar terlihat seperti anak kecil. Menangis karena takut, sesederhana itu. Yuuouji benar-benar membenci
situasi ini dari lubuk hatinya. ……Melihatnya begitu, aku tidak bisa memilih
nomor 2.
"Ouka…… sebentar lagi kita keluar kok."
"……Beneran?"
"Iya, aku akan segera membawamu ke pintu keluar, jadi
jangan menangis lagi ya."
"Un…… hiks…… kalau Kanade yang bilang, aku bakal
berusaha."
Meskipun masih sedikit merajuk, dia tampak jauh lebih tenang
dibanding sebelumnya. Aku melangkah ke jalan kiri, dan sesuai deskripsi
pilihan, hanya setelah berjalan sekitar sepuluh meter, pintu keluar pun
terlihat.
"Uo……"
Cahaya matahari
terasa menyilaukan mata. Mbak petugas di pintu keluar mendekat dengan ramah.
"Ya, selamat
suda—"
Kalimatnya
terhenti saat melihatku menggendong Yuuouji. ……Yah, kalau melihat situasi ini
secara objektif, normalnya memang akan bereaksi begitu.
"Ti-tidak,
ini bukan seperti yang Kamu bayangkan. Turun, Ouka."
"Nggak
mau."
Sesuai
pilihan tadi, Yuuouji memang sudah berhenti menangis, tapi dia malah menempel
erat di punggungku dan tidak mau lepas.
"Di sini
nyaman, jadi aku mau di sini terus."
……Sepertinya sifat balitanya belum hilang meski sudah
keluar. Serius nih…… gimana cara mengatasinya?
"Ja-jangan
manja, pokoknya turun dulu!"
Aku menariknya
turun dengan setengah memaksa.
"Muu—"
Yuuouji
menggembungkan pipinya dan menatapku tajam. Karena biasanya Yuuouji hampir
tidak pernah marah, melihat ekspresi seperti ini terasa sangat baru bagiku.
"A-anu……"
Mbak petugas menyapa dengan ragu-ragu. Ugh…… kami pasti
dikira orang aneh.
"……Hobi
orang kan beda-beda. Jadi jangan berpikir, 'Uwah, orang-orang ini main peran
balita di depan umum. Kalau aku jadi mereka, aku pasti sudah bunuh diri karena malu', ya!"
"Malah
dipikirkan yang lebih parah dari dugaanku!"
Karena tidak
tahan lagi, aku menarik tangan Yuuouji dan segera meninggalkan tempat itu.
◆◇◆
"Fuu……"
Saat aku berhenti
dan menghela napas, Yuuouji menarik-narik celana renangku.
"Hm, ada
apa?"
"O-to-i-le
(Ke toilet)."
"Ke toilet? ……Oh, ya sudah, toilet ada di sana, sana
pergi."
"……Nggak
berani sendirian, temenin."
"O-oi……"
Yuuouji menarik
tanganku dan menyeretku paksa sampai ke depan toilet.
"……Astaga.
Ya sudah, aku tunggu di sini ya."
"Temenin
sampai dalam."
"Pffft!"
Aku
refleks menyemburkan tawa.
"A-apa yang
kamu bicarakan……"
"Habisnya,
aku takut sendirian."
Sepertinya dia
masih trauma gara-gara yang tadi…… sebegitunya kah rasa takutmu.
"Aku tahu
kamu takut, tapi aku laki-laki, mana mungkin masuk ke toilet perempuan."
"Kalau gitu,
aku masuk ke toilet laki-laki saja."
"Nggak boleh
juga!"
"Kenapa?"
Karena tubuhmu
itu enam belas tahun! Bakal jadi masalah besar!
"Pokoknya
nggak boleh ya nggak boleh."
Yuuouji
menggembungkan pipinya lagi, lalu berteriak kencang.
"KENAPA KAMU
NGGAK MAU TEMENIN AKU KE TOILET?!"
"Cho,
oi!"
Aku buru-buru
membungkam mulutnya, tapi sudah terlambat.
"Oi,
apa-apaan barusan itu……"
"Kayaknya
dia minta ditemenin ke toilet deh"
"Anak muda
zaman sekarang……"
"Kenapa
ceweknya cara bicaranya kayak anak kecil ya"
‘"Cih, kalau
mau main peran begitu di rumah sendiri sana"
"Ka-kalau
mau, aku yang temenin kok……"
……Setiap kali aku
selalu berpikir, apakah sudah jadi aturan kalau bisikan-bisikan begini harus
diakhiri dengan lawakan di bagian akhir?
Ah, bukan
waktunya memikirkan itu. Pandangan dingin dari orang sekitar benar-benar menyakitkan.
"Mugaga,
mau ke toilet baleng-baleng!"
Saat aku sedang
terpukul, Yuuouji masih meronta-ronta.
"Te-tenanglah sedikit. Jadilah anak baik dan pergi
sendirian—"
PILIH:
① Masuk bersama.
② Berubah jadi perempuan (♀) dan
masuk bersama. (Kondisi
♀ akan hilang sebelum hari ini berakhir.)
Oi, apa-apaan
opsi ♀ itu?
Jangan-jangan…… ingatan buruk saat hari pertama Chocolat
datang ke rumah terlintas di benakku.
Perubahan tubuh jadi perempuan…… aku harus melakukannya……
lagi?
"Guh……"
Sakit kepala
sebagai peringatan segera menyerang…… sial.
"O-Ouka,
tu-tunggu sebentar ya."
Sedih, tapi aku
tidak punya pilihan. Kalau aku pilih nomor 1, aku bakal langsung ditangkap
polisi. Aku berlari
ke tempat tersembunyi agar tidak terlihat orang.
"Suuu……
haaaa."
Aku
menarik napas dalam-dalam dan menyiapkan mental. "……A-apa pun yang
terjadi, jadilah!"
Saat aku memilih nomor 2, sensasi pusing menyerang dan
pandanganku memutih.
"U…… o."
Saat aku membuka mata…… yah, begitulah…… gimana ya…… tubuhku
sudah berubah. Rambutku memanjang sampai bahu, dan dadaku yang tadinya rata
kini memiliki gundukan yang empuk.
Baju renangku juga berubah jadi bikini yang sangat terbuka.
Aku mendekat ke pinggir kolam dan melihat pantulanku di air…… itu benar-benar
seorang gadis.
"Ini mimpi buruk……"
Sambil menutupi wajah dengan telapak tangan, aku melangkah
berat kembali ke tempat Yuuouji.
"Are?
Kanade, kenapa jadi perempuan?"
Sepertinya
instingnya tahu kalau aku ini Amakusa Kanade. Meski mentalnya jadi balita,
ketajamannya tetap ada.
"O-orang
dewasa itu banyak urusannya kalau sudah besar."
"Fuuun…… ya sudahlah. Ayo ke toilet!"
"U…… ujung-ujungnya tetap begitu ya."
Jujur, meski aku
sudah jadi perempuan, masalahnya belum selesai. Masuk ke toilet perempuan
bersama Yuuouji mungkin "aman" secara objektif, tapi secara moral aku
merasa sudah tamat.
"Guuuuu……"
Sakit kepala itu
menyerang lagi tanpa ampun, bahkan lebih kuat dari tadi…… aku tidak punya
pilihan selain masuk.
"A-ayo,
Ouka."
Aku menarik
tangan Yuuouji menuju toilet perempuan. Nggak, tetap saja nggak bisa—
"UGUUUUUU!"
Karena rasa sakit
yang luar biasa, aku sampai mengerang seperti karakter moe.
"Nggak
apa-apa?"
Yuuouji melongok
wajahku dengan cemas…… sial, ini sudah batasnya. Aku harus nekat. Eeei, pasrah
saja!
Saat aku
melangkah masuk ke toilet, rasa sakit kepalanya sedikit berkurang. Belum
hilang sepenuhnya…… apa artinya aku harus menunggu sampai Yuuouji selesai buang
air? Aku menutup mata rapat-rapat,
lalu menutupinya lagi dengan telapak tangan.
"Kenapa
tutup mata?"
Masuk ke sini
saja sebenarnya sudah salah secara kemanusiaan, tapi ini adalah bentuk kepuasan
diri atau mungkin garis pertahanan terakhirku yang tidak boleh dilewati.
"Ja-jangan
pedulikan aku, cepat masuk sana."
"Un……"
Meski terdengar
sedikit tidak puas, Yuuouji sepertinya masuk ke bilik toilet. Syukurlah, kalau
melihat semangatnya tadi, aku takut dia minta ditemani sampai ke dalam bilik.
"Fuu……"
Aku
menyandarkan punggung ke dinding. Tinggal menunggu Yuuouji keluar, lalu kabur—
"Anu…… apa ada masalah?"
"!?"
Tiba-tiba, sebuah suara yang jelas bukan milik Yuuouji
menyapaku.
"Ti-tidak,
i-ini bukan apa-apa! Ma-maafkan
aku, to-tolong jangan lapor polisi!"
Aku
memberikan reaksi yang sangat tidak wajar. Te-tenanglah, sekarang aku bukan
Kanade tapi Kanade-chan.
Jika aku
menghadapi ini dengan tenang, identitasku tidak akan ketahuan. Suara wanita itu
terdengar bingung.
"Polisi?
Aku tidak mengerti maksudnya…… tapi apakah kamu tidak enak badan? Wajahmu merah
sekali dan kamu berkeringat deras."
"A-Aku
tidak apa-apa, jadi jangan khawatir."
"Anu…… lagipula, kenapa kamu
menutup mata begitu?"
Yah…… pertanyaan yang wajar.
" A-Aku …… maksudku, aku…… a-aku suka melakukan ini. Aku merasa sangat bergairah kalau masuk
toilet sambil menutup mata."
……Mengatakan itu
sendiri membuatku ingin menangis.
"Be-begitu
ya……"
Entah harus
disebut beruntung atau tidak, wanita yang tampak ketakutan itu mundur perlahan
dan menghilang ke luar (dilihat dari suara langkah kakinya).
"Sudah
selesai."
Suara Yuuouji
terdengar. Pada saat itu juga rasa sakit kepalaku menghilang, jadi aku segera
meraba dinding dan kabur ke luar.
"Puh…… rasanya mau mati……"
"Aneh
banget deh."
Capek
banget…… hari ini banyak hal sial yang terjadi, tapi yang barusan adalah yang
paling melelahkan.
"Tapi…… kapan tubuhku bakal kembali normal?"
Aku memperhatikan tubuhku sendiri. Katanya sih bakal balik
sebelum hari ini berakhir, tapi—
"Halo, kalian berdua."
Saat aku sedang melamun, tiba-tiba ada suara yang memanggil.
Saat aku mendongak, ada tiga orang pria yang penampilannya terlihat sangat
tidak benar.
"A-ada apa?"
Aku refleks mundur dan bertanya dengan waspada. Ketiga pria
itu semuanya berambut pirang, pakai tindik hidung, dan kulitnya kecokelatan. Benar-benar tipe pria berandal
yang sering muncul di drama jadul. Kenapa orang-orang seperti ini menyapa kami?
Jangan-jangan…… aku harap bukan, tapi…… Apakah ini yang namanya digoda (nanpa)—?
"Mau main
sama kami sebentar?"
……Ternyata benar.
"A-anu,
terima kasih, tapi kami tidak berminat."
Rasa
merinding menjalar di punggungku. Yuuouji bersembunyi di belakangku dengan
ketakutan.
"Jangan
bilang gitu dong—"
"Iya
nih, kami lagi senggang nih."
Ketiganya memasang senyum licik…… apa-apaan ini, menjijikkan
sekali sampai aku ingin muntah.
Apakah ini yang sering disebut para gadis sebagai rasa jijik
secara biologis?
Dulu saat pertama kali berubah jadi perempuan pun begitu,
sepertinya sebagian inderaku juga diubah menjadi milik perempuan.
"Ugh……"
Saat aku
menyadari itu, aku sadar tatapan para pria itu tertuju pada dadaku.
"To-tolong
hentikan. Apa yang kalian lihat?"
……Sebenarnya itu
kalimat yang aneh buatku sendiri, tapi rasa malu ini tidak bisa dibendung.
"Lho,
pakai baju renang begitu tapi dilarang lihat itu kan aneh…… Lagipula, daripada
berdiri di sini, ayo duduk dan ngobrol di sana saja."
Salah
satu dari mereka tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku.
"!"
Punggungku
merinding hebat. Aku ingin segera melepaskannya, tapi tubuhku kaku dan tidak
bisa digerakkan sesuai keinginan. Aku hanya bisa mengeluarkan suara kecil yang
hampir hilang.
"To-tolong
lepaskan……"
Namun, tindakan
itu malah membuat para pria itu semakin tertarik.
"Wah, polos
banget deh"
"Imut
ya"
"Berikutnya
bagianku yang pegang ya, bagianku."
Sialan, pergi
sana, kenapa kata-kata itu tidak mau keluar!
"Haha! Nah,
kalau kamu tidak melawan, aku bakal pegang tempat yang lebih sensitif—!?"
Tangan pria itu
ditepis dengan keras.
"Hentikan!"
Yuuouji, yang
tadinya bersembunyi di belakangku, kini berdiri di depan menghalangi pria itu.
"Jangan
ganggu Kanade!"
Dengan suara yang
sedikit bergetar, dia menatap tajam pria yang mencengkeram pergelangan
tanganku.
"Wah,
anak ini juga imut banget"
"Kenapa
cara bicaranya kayak anak kecil gitu?"
"Gawat
nggak sih? Aku juga doyan yang kayak gini."
Gawat…… perhatian mereka beralih ke Yuuouji.
"Anu,
kami benar-benar tidak berminat, jadi tolong hentikan…… Kalau kalian terus memaksa, aku akan panggil
orang."
Kata-kataku itu
sama sekali tidak punya kekuatan untuk menghentikan mereka.
"Oke, oke,
maaf deh. Tapi kami tidak berminat melakukan apa pun kok. Kalau kalian mau diajak minum
sebentar di sana, kami bakal pergi dengan tenang."
Tangan pria itu
diletakkan di bahuku.
"U…… au……"
Hanya karena itu
saja, tubuhku jadi kaku lagi. ……Apa-apaan ini, apakah perempuan adalah makhluk
yang sesensitif ini?
Ini bukan
daerah kumuh yang rawan kriminalitas, dan banyak orang di sekitar.
Aku tahu
mereka tidak akan bisa melakukan hal yang lebih jauh dengan paksa, tapi rasa
takut secara insting ini tidak bisa dihapus dengan logika.
"Anak yang
di sana juga, sini."
Tangan pria
lainnya terulur ke arah Yuuouji.
"—!"
Seketika, amarah
naik ke kepalaku.
"HENTIKAN!"
Tepat sebelum
tangan itu menyentuh kulit Yuuouji, aku menepisnya sekuat tenaga.
"Aduh……"
Pria itu
melepaskan sikap main-mainnya dan menunjukkan ekspresi marah. Sebenarnya jika
sampai di situ mungkin masih bisa diredam, tapi—
"Rasakan
ini!"
"Guh!"
Yuuouji menginjak
kaki pria itu dengan sekuat tenaga.
"Aku benci
kalian! Pergi sana, weeek!"
Tindakan Yuuouji
membuat amarah pria itu meledak.
"……Bocah,
jangan keterlaluan ya!"
Pria yang sudah
tersulut emosi itu mencengkeram pergelangan tangan Yuuouji dengan kasar.
"Sa-sakit……"
Saat Yuuouji
merintih kecil, sesuatu di dalam kepalaku putus.
"JANGAN
SENTUH OUKA!!"
Tubuhku bergerak
sebelum otakku sempat berpikir.
"O…… gueh……"
Tinjuku telak menghujam ulu hati pria itu. Sepertinya
seranganku tepat sasaran, pria itu langsung tumbang ke tanah dengan mata putih
terbalik dan pingsan. Gawat, aku
tidak berniat melakukannya sejauh ini……
"Pe-perempuan
ini……"
"Jangan meremehkan kami!"
Gawat…… dua pria sisanya juga ikut tersulut amarah. Apa yang
harus kulakukan…… Saat aku bersiap melindungi Ouka,
"TOLOOOONG!
ADA ORANG JAHAT MAU NYERANG KAMI!!"
Suara
Ouka yang luar biasa kencang bergema di seluruh area.
"Ada
apa?"
"Bukankah
itu cuma godaan biasa?"
"Hei, lebih
baik panggil petugas."
Orang-orang di
sekitar mulai menoleh dan memperhatikan kami.
"Cih……"
"Sialan!"
Kedua pria itu
menunjukkan wajah kesal, lalu tanpa menolong temannya yang pingsan, mereka
segera kabur menghilang.
◆◇◆
"Ha,
haaaa……"
Begitu mereka
menghilang dari pandangan, kekuatanku seolah terkuras habis dan aku jatuh
terduduk di sana. Aku takut…… benar-benar takut. Ini adalah perasaan yang tidak akan pernah
dimengerti oleh laki-laki.
"Eh?"
Tiba-tiba, ada
sensasi seperti dipeluk oleh sesuatu.
"O-Ouka?"
Yuuouji memelukku
dari belakang.
"Terima
kasih sudah menolongku."
"O-oi……"
"Aku
senang banget karena tahu Kanade melindungiku."
"Tu-tunggu
sebentar……"
Aku
hendak memintanya lepas karena dadanya menempel di punggungku, tapi aku
mengurungkan niat. Karena di
dalam diriku, sama sekali tidak ada pikiran kotor.
Bukan karena
tubuhku sedang jadi perempuan atau apa…… tapi karena melalui kulitku, aku bisa
merasakan bahwa tindakan ini adalah bukti terima kasih yang murni dari lubuk
hati Yuuouji.
Aku tetap diam
dan membiarkan Yuuouji melakukan apa yang dia mau sampai dia puas.
4
"……Nah,
sekarang gimana ya."
Sambil menarik
tangan Yuuouji yang sifat balitanya belum hilang, aku berjalan ke tempat yang
sepi dari orang lewat.
"Ouka, hal
yang menakutkan sudah selesai. Di sini luar ruangan dan tidak ada yang menakutkan. Cepatlah kembali ke
sifatmu yang biasanya."
"Biasanya
itu apa? Aku nggak ngerti."
Kh……
"……Lagipula,
aku masih sedikit takut."
Wajah Yuuouji
mendung. Itu bukan sekadar soal rumah hantu, tapi juga termasuk insiden digoda
tadi.
"Terus, kamu
harus gimana supaya nggak takut lagi?"
"Peluk."
"……Hah?"
"Tadi waktu
digendong rasanya enak, sekarang aku mau dipeluk (digendong depan)."
Astaga…… aku sudah tahu dia manja, tapi aku tidak menyangka
waktu kecil dia semanja ini……
"Peluk,
peluk! Yang gaya tuan putri itu!"
"P-peluk gaya tuan putri (princess carry)? Mana mungkin aku bisa."
"……Nggak
boleh?"
Ugh…… apa-apaan tatapan memelas dari bawah itu.
"Se-sekali
saja ya."
"Yaaaay!"
Ini sangat
memalukan, tapi kalau ini bisa mengurangi rasa takutnya, apa boleh buat. Aku
membulatkan tekad dan mengangkat tubuh Yuuouji.
"Ugh……"
Apa-apaan ini……
waktu menggendong di punggung tadi terasa sangat ringan, tapi sekarang dengan
kekuatan otot perempuan, aku harus berjuang keras menjaga keseimbangan agar
tidak jatuh.
"Su-sudah
puas?"
"Belum."
Duh, ini
berat banget tahu…… beberapa puluh detik berlalu.
"……Gi-gimana?"
"Un, rasa
takutnya mulai hilang…… sedikit lagi."
Gawat, tanganku mulai gemetaran…… beberapa puluh detik lagi
berlalu.
"……Su-sudah belum?"
"Umm…… kalau begitu, sebagai penyelesaian terakhir, aku
mau gesek-gesek pipi!"
"Hah? ……Eh, tunggu, o-oi!"
Tiba-tiba wajah Yuuouji mendekat dan dia mulai menggesekkan
pipinya ke pipiku.
"He-hentikan!"
"Nggak mau. Kalau begini rasanya tenang
banget—eh?"
Karena tanganku sudah mencapai batas dan ditambah gerakan
mendadak itu, aku tidak bisa mempertahankan posisi pelukan tuan putri.
"Uo!"
"Uwawa!"
Tanpa bisa berbuat apa-apa, tubuh Yuuouji terjatuh. Bahkan
keseimbanganku pun goyah dan aku ikut jatuh menindih Yuuouji yang ada di tanah.
"Ma-maaf.
Kamu nggak apa-apa…… eh, hm?"
Ada perasaan aneh yang sangat kuat dari ekspresinya.
"Hm…… are?"
Dan suara Yuuouji yang terdengar jelas berbeda dari
sebelumnya.
"Are? Aku……"
Oi…… jangan-jangan ini……
"Tadi masuk
ke rumah hantu…… terus apa yang terjadi setelah itu ya?"
Kembali…… normal?
K-kenapa di saat
seperti ini…… mendadak sekali. Bukankah harusnya ada tanda-tanda dulu kalau mau
kembali normal?!
Aku bertatapan
mata dengan Yuuouji yang tampak bingung dalam jarak yang sangat dekat sampai
hidung kami hampir bersentuhan.
Ga-gawat. Dari
sudut pandang Yuuouji, begitu kesadarannya kembali, tiba-tiba dia sedang
ditindih oleh seorang gadis asing.
Ugh…… gimana cara menjelaskannya?
Tapi…… situasinya ternyata jauh lebih buruk dari dugaanku.
"Amac…… chi?"
"……Hah?"
Aku…… sudah kembali jadi………… laki-laki?
"Eh? ……Eh? Kenapa aku…… ditindih oleh Amacchi?"
"U-UOOHHHHH!"
Aku buru-buru bangkit dan melompat mundur.
"……"
Yuuouji ikut berdiri, lalu menatap wajahku dalam diam dengan
ekspresi melongo. Ga-gawat…… dia pasti berpikir aku sedang mencoba menyerangnya
secara paksa.
"Yu-Yuuouji,
ini ada penjelasannya—"
Tepat saat aku
membuka mulut untuk membela diri,
"……Eh?"
Satu tetes air
mata jatuh dari mata Yuuouji.
"Na……"
Setelah itu, air
mata mulai mengalir deras tanpa henti dari mata Yuuouji.
"Are…… are?"
Sepertinya itu
bukan keinginan pribadinya.
"Aneh ya,
ke-kenapa ya, aku kok bisa menangis……"
Artinya, dia
sangat syok sampai tidak bisa mengendalikan emosinya, kan?
"Maaf! Aku
beneran nggak bermaksud buruk! A-ada alasan yang tidak bisa dihindari……"
Gawat, gawat, GAWAT! Gimana nih? Harus gimana?! Aku sudah
benar-benar panik.
"Yu-Yuuouji, anu…… itu—"
"Bukan begitu, Amacchi."
Nada bicara Yuuouji terdengar sangat tegas dan mantap.
"Eh? Bukan?"
"Iya. Pas aku sadar, wajah Amacchi dekat sekali…… kalau
aku yang biasanya, aku pasti sudah kabur karena malu, tapi yang tadi itu
rasanya sama sekali tidak buruk…… aku sulit mengatakannya dengan
kata-kata……"
Nada bicaranya berubah jadi terbata-bata.
"Anu…… semua ingatan tentang keseruan kita ngobrol,
waktu kita dimarahi Guru bersama-sama, terus…… waktu kamu lihat celana dalamku
dan aku merasa malu…… semua kenangan bersama Amacchi, baik yang bagus maupun
buruk, semuanya…… tiba-tiba muncul di kepalaku dalam sekejap."
Kata-katanya
tidak teratur dan sulit dimengerti maksudnya. Tapi, aku bisa merasakan dengan
jelas bahwa Yuuouji sedang memendam perasaan yang sangat kuat di dalam dadanya.
"Waktu tadi…… itu…… yang dipegang itu juga…… memang
malu sih…… tapi rasanya aku tidak membencinya."
Apa dia sedang membicarakan waktu aku menggenggam tangannya
di roller coaster tadi?
"Terus ya…… hari ini, aku tidak punya banyak ingatan
sejak di tengah rumah hantu tadi…… tapi, aku ingat kalau Kanade sudah berusaha
keras demi aku……"
Monolog Yuuouji berlanjut.
"Semua perasaan itu bercampur jadi satu…… lalu, rasanya
di bagian dadaku jadi hangat sekali……"
Di sela-sela
kata-katanya, air mata Yuuouji terus mengalir tanpa henti.
"Nahaha…… padahal aku senang, tapi kenapa menangis ya.
Aneh, padahal ini urusanku sendiri, tapi aku nggak paham."
Sambil terus meneteskan air mata, Yuuouji menatap wajahku
dan memasang senyum yang sangat lebar.
"Perasaan seperti ini…… baru pertama kali kurasakan
seumur hidupku!"
Aku hanya bisa terpaku, menatap senyum itu dalam diam dengan
perasaan takjub. Ternyata di dunia ini... masih ada ekspresi yang benar-benar
semurni itu.
"Amakusa-san~"
"UWOOKH!?"
Tiba-tiba, sebuah suara santai bin tenang menyela momen
tersebut.
"Yak, cukup sampai di sini~"
"Ke-Ketua..."
"Maaf ya sudah mengganggu atmosfer yang sedang
bagus-bagusnya ini, tapi sepertinya sekarang adalah kesempatan terakhirmu untuk
menyelesaikan misi lho~"
"Ah..."
Benar juga. Terlalu banyak kejadian mengejutkan yang
bertubi-tubi sampai aku benar-benar lupa soal itu.
"Nah, ini silakan~"
Ketua menyodorkan sebuah kamera digital ke arahku... Sumpah,
aku benar-benar tidak paham apakah orang ini sebenarnya kawan atau lawan.
Yah, tidak ada
alasan bagiku untuk menolaknya dalam situasi sekarang. Jadi, aku menerimanya
dan langsung menekan tombol rana.
Cekrek!
"Yak, dengan
ini misi selesai ya~"
Ketua menerima
kembali kamera digital itu dariku, lalu memeriksa hasilnya di layar LCD.
"Aduh, aduh,
kamu berhasil memotret ekspresi yang sangat bagus ya~. Nanti akan kupencetkan
fotonya dan kuberikan padamu, ya."
"Nggak
usah... terima kasih atas tawarannya, tapi aku lewat saja."
Aku menolak
tawaran itu dengan sangat sopan.
Lagipula, tanpa perlu melakukan hal seperti itu pun, senyum Yuuouji sudah terpatri kuat di dalam benakku dan tidak akan pernah hilang.



Post a Comment