NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 3 Chapter 4

Chapter 4

Ternyata Gadis-Gadis di Sekitarku Salah secara Moral


1

"Sudah jam segini, ya……"

Dari tepi kolam, aku menghela napas sambil memperhatikan Yuuouji yang sedang asyik bermain bersama Chocolat dan Yuragi di kolam arus.

Sekitar satu jam yang lalu.

"Tu-tunggu dulu, Yuuouji! Maaf! Aku tidak tahu kalau kamu sebegitu bencinya tangannya digenggam!"

Setelah mencari ke seluruh area kolam renang, aku akhirnya menemukan Yuuouji dan berusaha keras menahannya saat dia hendak kabur lagi dengan wajah merah padam.

"He? ……Tangan?"

Yuuouji memasang ekspresi bengong.

"Hah? ……Bukankah kita sedang membicarakan tangan?"

Aku pun memasang ekspresi yang sama persis dengannya.

"………………A-ahaha, i-iya ya! Soal 'menyentuh' itu maksudnya soal tangan, kan. Ha-haha…… kenapa aku malah lari ya!"

"Nggak…… justru itu yang ingin kutanyakan."

"Iya, Amacchi tidak ingat…… Oke, kalau begitu OKE!"

Yuuouji yang tiba-tiba bersemangat dengan alasan tidak jelas itu telah kembali ke sifat aslinya yang biasa…… Aku benar-benar tidak paham apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah itu, aku membawa Yuuouji yang sudah pulih kembali ke tempat Urakaze, lalu bergabung dengan anggota lainnya yang sudah dikumpulkan oleh Ketua di satu titik.

Melihat enam gadis cantik kebanggaan akademi berkumpul dalam balutan baju renang adalah pemandangan yang luar biasa, namun—

"Semuanya, syukurlah kalian bisa berkumpul kembali dengan selamat. Kalau begitu, mari kita kembali ke pasangan semula~"

Ketua Kokuboin segera pergi entah ke mana sambil membawa Urakaze dan Reikado, jadi kami berempat kembali ke formasi awal dan pergi ke kolam arus.

Karena akhirnya bisa beristirahat sejenak, aku membiarkan tiga gadis berisik itu bermain sementara aku memikirkan cara untuk menyelesaikan misi.

Namun, meski sudah memutar otak sejak tadi, tanda-tanda ide untuk membuat Yuuouji menangis sama sekali tidak muncul. Kalau sudah begini, keberadaan senjata rahasia itu terus terngiang-ngingat di kepalaku. Kalau pakai itu sih urusannya bakal cepat selesai, tapi…… tidak, aku harus berpikir sedikit lebih keras lagi.

"Haa…… Untuk menyegarkan pikiran, lebih baik aku ikut berenang sebentar."

Sambil memijat kepala yang terasa berat karena terlalu banyak berpikir, aku berjalan menuju kolam arus.

◆◇◆

(Semuanya…… kelihatan senang sekali.)

Furano menatap Chocolat, Ouka, dan Yuragi dengan iri sambil mengapung di atas ban di kolam arus.

Setelah sempat kehilangan jejak karena insiden Agua-kun, dia mencari ke seluruh area dan baru berhasil menemukan Kanade dan yang lainnya beberapa menit yang lalu.

(Uuuh…… kenapa aku malah melakukan hal yang seperti penguntit begini sih.)

Dia tidak punya keberanian untuk menyapa, tapi juga tidak bisa melepaskan diri untuk pulang begitu saja.

"Haaa……"

Tepat saat pikiran negatif mulai merasukinya kembali, dia melihat Kanade yang tadi beristirahat sendirian di tepi kolam kini mulai masuk ke dalam air, tepat di tengah-tengah antara posisi Furano dan kelompok Chocolat.

(Wa-waduh, gawat! Aku harus menjauh atau aku bakal ketahuan—eh?)

Saat dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya dan hendak menoleh,

"Ah, maaf!"

"……Eh?"

Seseorang menabraknya, dan Furano terpental dari bannya.

"A-awa, awawa!"

Padahal kalau dia tenang, airnya tidak terlalu dalam dan kakinya bisa menapak, tapi Furano sudah benar-benar jatuh dalam kepanikan.

"Wapu, wapu!"

Sambil meronta-ronta, air masuk ke hidung dan mulutnya, membuat rasa panik Furano semakin menjadi-jadi.

(Si-siapa pun, tolo—)

◆◇◆

"Hm?"

Begitu aku masuk ke kolam arus, terdengar suara ceburan air dari arah belakang.

Saat aku menoleh, seseorang yang tampak hampir tenggelam sedang hanyut terbawa arus.

Padahal airnya tidak sedalam itu, tapi sepertinya orang itu sangat panik; dia meronta-ronta hingga menimbulkan cipratan air yang hebat sampai aku tidak bisa membedakan apakah itu laki-laki atau perempuan……

"Wapu, wapu!"

Ternyata perempuan…… Suaranya rasanya pernah kudengar di suatu tempat, pikirku sambil menahan orang yang hanyut itu agar tidak terbawa arus lebih jauh.

"Kamu tidak apa-apa?"

"Auuu…… Te-terima kasih bany—"

"Yuki…… hira?"




Saat mataku bertemu dengannya, wajah Yukihira seketika membeku.

"A-Amakusa-kun……"

Perasaanku saja, atau bukan ya? Barusan kulihat dia bergumam auuu dengan ekspresi wajah yang sangat imut……

Tapi begitu aku mengerjap, wajah Yukihira sudah kembali datar seperti topeng noh, bahkan lebih kaku dari biasanya…… Ya, pasti cuma perasaanku saja.

Namun, apa-apaan hawa tidak enak ini…… Haus darah?

"Uoooo!"

Detik berikutnya, sebuah tinju mentah meledak tepat di posisi wajahku berada tadi.

"Kamu mau membunuhku, ya?!"

Ini benar-benar nggak lucu. Serius.

"Analisis yang cukup akurat."

"Malah diakui!"

"Cuma bercanda kok. Manusia tidak akan mati hanya karena tulang hidungnya hancur berkeping-keping."

"Ternyata niat beneran, ya!"

"Yah, rencana aslinya sih membuatmu lengah dengan serangan itu, lalu aku berputar ke belakang dan menghantam tengkukmu."

"Kejam banget rencana cadangannya!"

Yukihira hari ini terasa jauh lebih berbahaya dari biasanya. Atmosfernya seolah dia bisa saja mengeluarkan gunting dan berkata, 'Siapa pun yang melawanku akan kubunuh, meski itu orang tuaku sendiri'.

"Lagipula, bukannya kamu bilang ada urusan sampai tidak bisa datang?"

Aku memang memberikan tiketnya padanya, tapi seingatku dia bilang hal tidak jelas soal tiketnya dimakan kambing atau semacamnya.

"Iya, awalnya aku memang tidak berniat datang, jadi tiketnya kukasihkan ke kambing untuk dimakan. Tapi sepertinya pencernaan kambing itu sedang bermasalah, tiketnya keluar lagi dari pantatnya tanpa hancur sedikit pun, jadi terpaksa kupakai saja."

"Nggak mungkin, lah……"

"Yah, soal tidak hancur itu cuma bercanda. Sebenarnya tiket itu sempat meleleh, lalu keluar lagi dalam bentuk kertas daur ulang."

"Malah makin nggak masuk akal!"

Melelahkan…… Di mana pun tempatnya, menghadapi orang ini selalu saja menguras tenaga.

"Yah, apa pun alasannya terserah deh, tapi mumpung sudah sampai di sini, kenapa tidak menyapa Yuuouji dan yang lainnya di sana?"

"……Tidak, aku permisi saja."

"Kenapa? ……Eh, badanmu gemetaran gitu, kamu nggak apa-apa?"

"Amakusa-kun, jika berhasil menebas kepala jenderal musuh, orang sepertiku pun tidak punya pilihan selain merasa bersemangat."

"Kenapa malah gemetar karena semangat perang (mushaburui) di tempat begini sih!"

"Melakukan perbuatan asusila (mushaburitsuku) di tempat begini? Benar-benar kelakuan terendah."

"Telingamu itu sudah busuk ya?!"

"…………Benar."

"Kenapa pakai jeda lama banget kayak acara kuis Millinaire gitu!"

"Ngomong-ngomong, telingaku tidak benar-benar busuk kok."

"Aku tahu, tahu! Kamu sedang meremehkanku ya?!"

"…………Benar."

"KAMU NYEBELIN BANGET, SIH!"

Di hadapanku yang sedang naik pitam, Yukihira berkata dengan nada datar.

"Bicara soal waktu, Amakusa-kun…… Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau mengambilkan ban renang di sana."

Yukihira menunjuk ke arah ban renang yang tersangkut di tanaman hias di bagian dalam kolam.

"……Jangan-jangan, kamu tidak bisa berenang ya?"

Tadi dia hampir tenggelam juga bukan karena kakinya kram atau semacamnya.

"……Mana mungkin begitu."

"Terus kenapa kamu butuh ban renang?"

"Jika aku berada di dalam alat berbentuk mesum itu, entah kenapa aku merasa sangat tenang."

"Minta maaf sana sama ban renangnya sekarang juga!"

Sudah dipastikan kalau Yukihira memang tidak bisa berenang, tapi aku jadi ingin sedikit menjahilinya.

"Tapi ya, kalau emang beneran bisa berenang, nggak butuh ban itu lagi dong ya~"

Karena aku selalu dipojokkan olehnya, kurasa pembalasan kecil seperti ini boleh-boleh saja, kan?

"…………"

"Eh, balas dong! Aku jadi ngerasa kayak orang jahat kalau didiemin begini!"

"…………●● (Sensor)."

"Batas kata-kata kasar kalau mau bales itu ada batasnya, tahu!"

Yukihira melirik tajam ke arahku. Ugh…… Sepertinya dia tidak sedang bercanda, tapi beneran marah.

"Oke, oke, aku yang salah. Nih."

Aku mengambil ban renang itu dan menyodorkannya padanya.

"Tidak butuh. Aku kan bisa berenang."

Waduh…… dia beneran merajuk.

"Jangan keras kepala begitu, ambil saja."

"Tidak mau."

"……"

"……"

"Ka-kalau kamu memaksa, aku mau ambil ju—"

"Kalau kamu keras kepala begitu, ya sudah nggak usah di—"

Aduh, waktu bicara kami benar-benar bertabrakan…… Suasananya jadi canggung sekali.

"……Aku pulang saja."

"Eh, jangan, jangan dipaksakan……"

Tanpa memedulikan cegahanku, dia mulai melangkah dengan hati-hati menuju bagian tengah kolam.

Namun, baru jalan beberapa langkah……

"Wapu!"

Dia mulai meronta-ronta lagi.

"Duh…… Kalau aku menolongnya sekarang, dia pasti bakal marah lagi, kan……"

Tanpa bisa berbuat apa-apa, aku hanya berdiri diam memperhatikan punggung Yukihira yang sedang berjuang keras melawan air.


2

"Fuu... capek juga."

Setelah naik dari kolam arus (Yukihira yang diselamatkan petugas entah pergi ke mana setelahnya), kami beristirahat sejenak di area makan dan minum.

Sambil menyedot jus, aku berusaha keras memutar otak, tapi... percuma. Tidak ada ide yang muncul sama sekali.

"Amacchi, kenapa wajahmu ditekuk begitu? Ada masalah?"

"Kakak, dahi Kakak sampai berkerut, lho."

"Apa perut Kakak sakit?"

"Nggak, bukan apa-apa."

Aku menyahuti pertanyaan Yuuouji dan yang lainnya dengan setengah melamun. Tepat saat itu, sebuah suara ceria terdengar di telingaku.

"Ahahaha! Kakek, ayo main ke sana lagi!"

"Ooh, iya, iya. Sini Kakek gendong sampai sana, ya."

"Yaaaay!"

Sepertinya itu seorang kakek yang sedang bermain dengan cucunya... Tiba-tiba, penglihatan yang dipaksakan oleh Ketua tadi terbayang kembali di otakku.

'HEI! LIHATLAH BEACH-CHICK MILIKKU INI, YO!—LIHATLAH, YO!—LIHATLAH, YO!'... Rap kakek-kakek itu bergema berulang kali di dalam kepalaku bagaikan kaset rusak.

Kalau aku gagal menjalankan misi, aku akan jadi seperti itu, atau bahkan lebih parah lagi... Membayangkannya saja membuat sekujur tubuhku merinding.

"……Maaf, bisa tunggu sebentar? Sepuluh menit saja."

Aku berdiri dengan sebuah tekad bulat.

Kalau sudah begini... tidak ada pilihan lain selain menggunakan senjata rahasia itu.

Mengingat waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan pulang, kami hanya punya sisa waktu satu atau dua jam lagi di sini. Kalau aku terus bimbang, aku tidak akan mendapatkan hasil apa pun.

Sambil mencari-cari alasan di dalam hati, aku melangkah cepat menuju ruang ganti. Aku membuka loker pribadiku, lalu mengambil sebuah botol kecil dari dalam tas.

"Aku benar-benar tidak ingin menggunakan benda ini, tapi……"

Kalimat barusan terdengar sangat chuunibyou, tapi itu benar-benar isi hatiku yang paling jujur.

……Yuuouji, maafkan aku.

◆◇◆

"Maaf membuat kalian menunggu."

"Eh, Amacchi, apa yang kamu sembunyikan di belakang punggungmu itu?"

"Ti-tidak, jangan dipikirkan……"

Yang kusembunyikan adalah sebuah pistol air kecil yang baru saja kubeli di toko cendera mata saat jalan kembali tadi. Dan di dalamnya, sudah terisi Ekstrak Penghancur Kelenjar Air Mata spesial.

Dalam buku 'Sepuluh Cara Membuat Gadis Menangis' yang dibeli Chocolat, ada cara super jahat seperti menyemprotkan ekstrak cabai habanero ke wajah, tapi sepertinya itu hanya sekadar pembuka. Sebagai tambahan, buku itu memuat cara membuat Ekstrak Penghancur Kelenjar Air Mata ini.

Bahan dasarnya adalah sari bawang bombay. Menurut catatan peringatannya, cairan ini hanya akan membuat air mata keluar deras tanpa memberikan dampak buruk pada kesehatan.

Untuk memastikan, aku sudah mencobanya sendiri dan terbukti tidak berbahaya.

……Hanya saja, ingus akan keluar. Ingus akan keluar deras bersamaan dengan air mata. Benar-benar akan membuat wajah berantakan.

Itulah alasan kenapa aku ragu menggunakannya. Meskipun itu Yuuouji, membuat wajah seorang gadis penuh dengan ingus adalah perbuatan yang tidak termaafkan.

Namun…… namun!

"……Yuuouji, bisa ikut sebentar?"

Aku…… akan menjadi iblis!

"Hm? Ada apa~?"

Agar tidak terlihat oleh Yuragi atau Chocolat, aku memancingnya ke pinggir kolam yang agak sepi. Bagus, kalau di sini, aku bisa memotret wajah menangis Yuuouji dengan cepat, lalu mendorongnya masuk ke kolam agar orang lain tidak melihat wajahnya yang penuh ingus.

Tentu saja, bukan berarti tindakanku ini bisa dimaafkan…… Aku akan bersujud meminta maaf padanya nanti.

"……"

Tanpa kata, aku mengeluarkan pistol air itu.

"Ooh, apa itu? Keren banget. Kamu baru beli ya?"

"Iya……"

Sambil menahan rasa bersalah melihat senyum polos Yuuouji, aku melangkah mendekat.

Kalau menembak dari jarak tanggung, ada risiko seranganku dihindari oleh kemampuan fisik Yuuouji yang luar biasa.

……Oke, jarak ini sudah pasti kena.

Aku mengarahkan moncong pistol itu tepat ke wajah Yuuouji.

"Maafkan aku—"

Namun, jariku tidak mau bergerak.

Sial…… apa yang kulakukan? Kalau begini terus, nasib akhirku adalah rap telanjang—


PILIH:

Tembakkan ke lubang pantat sendiri. (Efek stimulasi 10x lipat)

Tembakkan ke lubang hidung sendiri. (Efek stimulasi 2x lipat)


Apa……-apaan ini?!

"Kenapa, Amacchi?"

Yuuouji menatapku dengan bingung karena aku mendadak kaku sambil menodongkan pistol air.

"Kh……"

Dengan tangan gemetar, aku menurunkan pistol yang tadinya mengarah ke Yuuouji, lalu mengarahkannya ke wajahku sendiri.

Dan, aku memasukkannya ke lubang hidungku—

"GYAAAAAAAAAAAAAAA!"


3

"Uuu…… hiks…… hiks……"

"Cup, cup, anak pintar~"

Chocolat mengelus kepalaku yang sedang menangis tersedu-sedu.

"Bagus, bagus! Kakak yang lagi menangis begini juga sangat 'menarik' buatku!"

Yuragi tampak bersemangat dengan napas menderu.

"Ahahahahahaha! Wajah Amacchi aneh banget, ingusnya berantakan!"

Yuuouji tertawa terbahak-bahak melihat kondisiku.

"U-uguhyai! (Be-berisik tahu!)"

"Tapi kenapa kamu mau menembakkan benda itu ke aku?"

"So-sodeba, joddo gigyoubi mizuda…… (I-itu cuma, se-sedikit rasa penasaran……)"

"Ahahahaha! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!"

……Kurasa ini yang namanya karma. Aku paham.

◆◇◆

"……Fuu."

Belasan menit kemudian, air mata dan ingusku akhirnya reda, tapi situasiku saat ini adalah yang terburuk. Sekarang satu-satunya cara mutlak untuk menyelesaikan misi telah hancur, aku tidak punya rencana cadangan lagi.

Sial…… gawat, ini benar-benar gawat.

"Berikutnya kita mau ke mana~?"

Di tengah kegalauanku, Chocolat bersuara dengan nada riang tanpa beban.

"Mengingat waktunya, kita tidak bisa berkeliling ke banyak tempat lagi, jadi kita harus pilih-pilih…… Ah, Kakak Chocolat, ini kelihatannya seru!"

Yuragi menunjuk ke salah satu bagian di brosur yang dipegangnya.

"'Water x Ghost'…… Oh, intinya rumah hantu bertema air ya?"

"Rumah hantu ya, kelihatannya menyenangkan!"

Memang terdengar seperti atraksi yang menarik, tapi saat ini aku sama sekali tidak punya waktu untuk bermain-main. Aku harus segera memikirkan cara membuat Yuuouji menangis.

"Maaf, tapi aku sepertinya—"

"I-itu, sebaiknya jangan ke sana deh."

Tepat saat aku hendak menolak ikut, suara keberatan muncul dari arah yang tidak terduga.

"Yuuouji?"

Ada apa dengannya? Padahal dia biasanya yang paling suka hal-hal seperti ini.

"Ouka-san keberatan?"

Chocolat bertanya dengan wajah heran.

"E-enggak kok, bukan keberatan. Gimana ya, aku itu sudah 'lulus' dari yang namanya rumah hantu. Hal kekanak-kanakan begitu aku sudah tidak terlalu tertarik—"

"Kekanak-kanakan……"

Aku tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Yuuouji.

Tapi tunggu sebentar. Perasaan ini, rasanya aku baru saja mengalaminya…… Ah, ini persis seperti alasanku saat di roller coaster tadi. Dia berbohong karena ketakutan dan tidak mau masuk…… Hm? Tunggu, berarti……

"Yuuouji, jangan-jangan…… kamu takut ya?"

"……Ma-mana mungkin!"

"Hohoo……"

Aku bisa merasakan wajahku menyeringai licik.

"Kalau begitu, harusnya berani masuk dong~?"

"Ugh……"

Posisi kami sekarang benar-benar berbalik.

"Nggak gitu, kita kan sudah SMA, ja-jadi mendingan kita main yang…… itu lho, permainan yang lebih dewasa, mungkin……?"

Yuuouji mulai bicara terbata-bata. Aku melakukan ini bukan sekadar ingin balas dendam soal yang tadi…… ini adalah kesempatan untuk menyelesaikan misi.

"A-aku tidak masalah kalau mau masuk, tapi tempat begitu kan cuma buat menipu anak kecil—"

"Ah, kalau itu tenang saja, Kakak Ouka. Di brosur ini tertulis kalau tempat ini sangat autentik, bahkan orang dewasa pun bisa lari tunggang langgang karena ketakutan."

"A-ooh, begitu ya……"

Wajah Yuuouji benar-benar kaku. Dari reaksi yang sangat jelas ini, sudah tidak salah lagi kalau dia lemah terhadap hal-hal berbau horor.

Aku tidak tahu apakah dia akan menangis semudah itu, tapi mumpung senjata rahasia sudah gagal dan tidak ada ide lain, mempertaruhkan segalanya pada emosi dasar bernama "rasa takut" sangat layak untuk dicoba.

"Oke, kalau begitu sudah diputuskan kita ke sana."

"UEEEEEEEI!"

Yuuouji mengeluarkan suara yang aneh saking kagetnya.

"Oi, nggak perlu sekaget itu juga kali."

Karena atmosfernya seolah dia akan membatalkannya kapan saja, aku menepuk bahunya untuk menenangkannya.

"AHYABESHI!"

Yuuouji melompat sambil mengeluarkan suara seperti musuh kroco di anime akhir zaman yang sedang sekarat. Tingkat ketakutannya jauh melampaui dugaanku…… ini bisa diharapkan.

◆◇◆

Tak lama kemudian, kami sampai di depan 'Water x Ghost'. Penampilan luarnya terlihat menyeramkan dan digarap dengan cukup serius.

Di pintu masuk, seorang mbak petugas bertanya dengan ramah.

"Pasangan ya? Silakan masuk bersama-sama."

"Ah, tidak, kami bukan pasangan—"

"I-iya! Be-bersama! Aku dan Amacchi bersama-sama!"

Yuuouji memotong kalimatku dengan teriakan, sepertinya dia cuma mendengar kata "bersama". Astaga, separah itu ya rasa takutmu……

Yah, bagiku juga lebih menguntungkan kalau kami masuk berdua saja. Aku agak cemas meninggalkan Chocolat dan Yuragi, tapi sekarang aku harus fokus pada misi.

"……Ayo jalan, Yuuouji."

"I-iya, m-mohon bantuannya!"

"……Kamu beneran nggak apa-apa?"

"A-aman terkendali!"

Aman apanya…… karakternya sudah benar-benar hancur begitu.

Yuuouji mencengkeram lenganku dan mengekor dengan langkah kaki yang gemetaran seperti nenek-nenek.

Keadaan di dalam cukup gelap dan atmosfernya lumayan dapet, tapi selain air yang mengalir sedikit-sedikit di lantai, sejauh ini tidak terlihat beda jauh dengan rumah hantu biasa.

"Satu orang hantu, dua orang hantu……"

Yuuouji yang panik mulai menghitung hal-hal tidak jelas, lalu menulis huruf "domba" di telapak tangannya dan pura-pura menelannya (metode tradisional Jepang untuk menenangkan diri).

Entah dia mau tidur atau mau menenangkan diri, tapi kurasa itu tidak akan menghilangkan rasa takutnya.

"Oh?"

Air mulai menetes dari langit-langit ke bahuku. Ini efek yang khas untuk fasilitas di dalam kolam renang.

Setiap kali tetesan air mengenai tubuhnya, Yuuouji berjengit kaget sambil berbunyi "Hik!", "Hik!". Kalau aku jadi hantunya, dia ini tipe pengunjung yang paling seru untuk dikerjai.

"……Yuuouji, kamu yakin nggak apa-apa?"

Meski untuk misi aku butuh dia ketakutan sampai level maksimal, tapi melihatnya ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetaran begini, aku jadi merasa sedikit kasihan.

"A-aman kok, lagipula sejak awal aku tidak takut sama se—"

"GRUGYORURAAAA!!"

Seolah memotong kalimat Yuuouji, sesuatu melompat keluar dari tangki air di samping kami.

"UHYAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Sosok itu adalah manusia ikan yang sekujur tubuhnya berwarna hijau tua.

Yuuouji yang hampir lemas karena penampilannya yang sangat menjijikkan itu mencengkeram celana renangku sambil gemetar hebat.

"A-au…… au……"

"Yuuouji, itu cuma boneka, tenang saja."

"Ta-tapi kelihatan nyata ban—eh?"

"GRUGYORURAAAAAAA!!"

Tiba-tiba satu lagi muncul dari sisi yang berlawanan.

"UHYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"

"Ah, oi, Yuuouji!"

Setelah mengeluarkan jeritan yang luar biasa, Yuuouji lari tunggang langgang sebelum sempat aku cegah.

◆◇◆

"Oi, Yuuouji—!"

Aku memanggil namanya sambil menyusuri rute rumah hantu selama beberapa menit.

Ketemu. Yuuouji sedang duduk memeluk lutut di tengah jalan, tubuhnya bergetar kecil.

"Hiks…… hiks……"

……Dia benar-benar menangis.

"Kamu…… sampai segitunya cuma gara-gara rumah hantu."

"Habisnya…… habisnya, itu tadi nakutin banget tahu!"

Untuk pertama kalinya dia jujur mengakui rasa takutnya, lalu dia menggenggam erat tanganku yang kuulurkan.

"O-oi, tunggu dulu……"

Padahal sikapnya sekarang lebih kekanak-kanakan dari biasanya, tapi ekspresinya yang basah oleh air mata terlihat sangat menggoda sampai aku tidak sengaja memalingkan wajah.

Hm…… tunggu…… basah oleh air mata?

"U-UOOHHHHH!"

Keadaan ini, bukankah sama saja dengan misi sudah berhasil!?

Meski merasa sedikit bersalah karena dia sedang ketakutan setengah mati, aku menyiapkan kamera tahan air yang tergantung di leherku.

"Uuu…… hiks……"

Cepat potret, lalu bawa dia keluar. Saat aku berpikir begitu dan membidikkan kamera—

"Hm?"

Sebuah jari menepuk-nepuk bahu Yuuouji.

Yuuouji menoleh. Dan yang ada di hadapannya adalah—

"GRUGYORURAAAAAAA!!"

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Terkejut oleh manusia ikan ketiga, Yuuouji yang sudah kehilangan kendali diri langsung memelukku erat-erat.

"O-oi! ……Eh?"

Lalu, dia merebut kamera dari tanganku dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah si manusia ikan.

"PERGI SANA KAMUUUUUU!"

Kamera itu menghantam telak topeng sang manusia ikan, lalu jatuh ke lantai dengan bunyi yang tidak mengenakkan.

"YA AMPUN, SERIUS?!"

Aku buru-buru memungutnya, tapi meskipun tahan air, ketahanannya terhadap benturan tidak seberapa. Kamera itu benar-benar hancur total.

K-kesempatan emas sekali seumur hidupku……!

"UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Tanpa sempat aku meratapi nasib, Yuuouji yang menjerit histeris lari lagi menjauh.

"Yu-Yuuouji!"

Aku pun buru-buru mengejarnya.

◆◇◆

"Ah, ketemu."

Kali ini dia tidak duduk memeluk lutut, tapi berdiri mematung di tengah lorong.

Saat aku mendekat, aku menyadari ada yang aneh. Air matanya sudah berhenti, tapi ekspresi wajahnya terlihat kosong.

"Yu-Yuuouji, kamu nggak apa-apa?"

"……"

Tidak ada jawaban. Sorot matanya juga tidak fokus, ini sepertinya gawat.

"Kanade."

"……Eh?"

Dia barusan bilang apa?

"Kanade."

Dia menyebut namaku sekali lagi dengan jelas, lalu mencengkeram erat celana renangku.

"Yu-Yuuouji?"

Apa? Apa yang sebenarnya terjadi?

"Bukankah namamu Kanade?"

"I-iya, namaku memang Kanade, tapi bukan itu masalahnya……"

Lalu, dari mulut Yuuouji keluar kata-kata lain.

"Gendong."

"……Hah?"

"Aku takut, gendong."

"Bukannya 'gendong' itu……"

Cara bicaranya sudah bukan lagi sekadar kekanak-kanakan, tapi sudah di level balita.

Jangan-jangan…… saking takutnya, mentalnya mengalami kemunduran (regresi) jadi balita?

"Ayo…… gendong……"

Mana mungkin hal seperti di manga terjadi…… tapi faktanya Yuuouji di depanku sekarang, baik ekspresi maupun tingkah lakunya, benar-benar selevel anak TK.

"I-iya deh, nih……"

"Hm……"

Terpaksa aku membiarkannya naik ke punggungku. Sepertinya dia benar-benar ketakutan karena dia langsung memelukku dengan sekuat tenaga.

Kalau dia memeluk sekencang itu, tentu saja bagian yang seharusnya menempel akan terasa menempel di punggungku……

"Yu-Yuuouji, jangan terlalu nempel—"

"Ouka."

"Hah?"

"Bukan Yuuouji, panggil Ouka."

Ouka? ……Ah, nama depannya…… Maksudnya dia mau dipanggil nama depan?

"……Ayah biasanya panggil begitu."

"Ayah? Kamu ini……"

"Ouka!"

Yuuouji memelukku semakin erat seolah-olah sedang melayangkan protes.

"Ugh…… uooh……"




Sensasi lembut yang tertekan di punggungku benar-benar nyata. G-gawat... ini benar-benar berbahaya.

"O-Ouka..."

"Un, oke."

Dia menjawab dengan nada puas, dan pelukannya pun sedikit melonggar. A-apa-apaan situasi ini... Yah, meratap pun tidak ada gunanya, jadi sambil menggendong Yuuouji, aku terus menyusuri rute. Mungkin karena digendong rasa takutnya sedikit berkurang, awalnya dia cukup tenang, tapi...

"Hik!"

"Uhyak!"

"Takuuuut!"

Setiap kali ada kejutan kecil, dia akan memelukku semakin kencang, dan setiap kali itu pula dadanya menekan punggungku.

Aku merasa sedang berada di ambang maut, tapi bukan karena hantu, melainkan karena hal lain. Dan kemudian—

"GRUGYORURAAAAAAA!!"

Manusia ikan keempat menyerang.

"UHYAAAAAAAAAAAAA!"

Rumah hantu ini kenapa fanatik banget sih sama manusia ikan... Biasanya kalau muncul berturut-turut begini rasa takutnya bakal berkurang, tapi Yuuouji tetap menjerit histeris dengan kekuatan yang sama seperti di awal.

"Fu... fue... fueeeeeeennn!"

Karena sedang digendong, dia tidak lari tunggang langgang, tapi dia malah mulai menangis lagi.

"O-oi, sudah jangan menangis, Ouka. Aman kok."

Aku berusaha menenangkannya dengan gugup. Tadi aku juga membuat Manami-chan menangis, tapi situasinya benar-benar berbeda. Bagaimanapun, yang menangis di punggungku sekarang adalah seorang gadis enam belas tahun.

"Uuu... hiks... hiks..."

Sambil berjalan aku berusaha keras membujuknya, tapi air mata Yuuouji tidak kunjung berhenti. Jika memikirkan misi, ini situasi yang bagus, tapi dengan kamera yang sudah hancur, sebanyak apa pun Yuuouji menangis, itu tidak ada artinya. Idealku adalah dia tetap dalam kondisi sedikit merajuk sampai keluar, tapi...

"UEEEEEENNN!"

Tangisan Yuuouji malah semakin menjadi-jadi.

◆◇◆

"Oh?"

Di tengah kebingunganku, sebuah jalan bercabang muncul di depan. Jalannya benar-benar simetris, sulit untuk menentukan mana yang lebih dekat ke pintu keluar hanya dengan melihatnya. Nah, apa yang harus kulakukan—


PILIH:

Ke jalan kiri. (Segera keluar, tapi Yuuouji Ouka akan berhenti menangis.)

Ke jalan kanan. (Rute menuju pintu keluar sangat jauh, penuh parade teror yang tidak masuk akal. Setelah sampai di garis finish pun Yuuouji Ouka akan terus menangis histeris.)


……Jika aku memilih nomor 2, setelah sampai di garis finish, aku bisa meminjam kamera seseorang untuk memotretnya dan misi pasti berhasil, tapi…… Aku melirik kondisi Yuuouji yang sedang kugendong.

"Hiks…… hiks……"

Dia benar-benar terlihat seperti anak kecil. Menangis karena takut, sesederhana itu. Yuuouji benar-benar membenci situasi ini dari lubuk hatinya. ……Melihatnya begitu, aku tidak bisa memilih nomor 2.

"Ouka…… sebentar lagi kita keluar kok."

"……Beneran?"

"Iya, aku akan segera membawamu ke pintu keluar, jadi jangan menangis lagi ya."

"Un…… hiks…… kalau Kanade yang bilang, aku bakal berusaha."

Meskipun masih sedikit merajuk, dia tampak jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Aku melangkah ke jalan kiri, dan sesuai deskripsi pilihan, hanya setelah berjalan sekitar sepuluh meter, pintu keluar pun terlihat.

"Uo……"

Cahaya matahari terasa menyilaukan mata. Mbak petugas di pintu keluar mendekat dengan ramah.

"Ya, selamat suda—"

Kalimatnya terhenti saat melihatku menggendong Yuuouji. ……Yah, kalau melihat situasi ini secara objektif, normalnya memang akan bereaksi begitu.

"Ti-tidak, ini bukan seperti yang Kamu bayangkan. Turun, Ouka."

"Nggak mau."

Sesuai pilihan tadi, Yuuouji memang sudah berhenti menangis, tapi dia malah menempel erat di punggungku dan tidak mau lepas.

"Di sini nyaman, jadi aku mau di sini terus."

……Sepertinya sifat balitanya belum hilang meski sudah keluar. Serius nih…… gimana cara mengatasinya?

"Ja-jangan manja, pokoknya turun dulu!"

Aku menariknya turun dengan setengah memaksa.

"Muu—"

Yuuouji menggembungkan pipinya dan menatapku tajam. Karena biasanya Yuuouji hampir tidak pernah marah, melihat ekspresi seperti ini terasa sangat baru bagiku.

"A-anu……"

Mbak petugas menyapa dengan ragu-ragu. Ugh…… kami pasti dikira orang aneh.

"……Hobi orang kan beda-beda. Jadi jangan berpikir, 'Uwah, orang-orang ini main peran balita di depan umum. Kalau aku jadi mereka, aku pasti sudah bunuh diri karena malu', ya!"

"Malah dipikirkan yang lebih parah dari dugaanku!"

Karena tidak tahan lagi, aku menarik tangan Yuuouji dan segera meninggalkan tempat itu.

◆◇◆

"Fuu……"

Saat aku berhenti dan menghela napas, Yuuouji menarik-narik celana renangku.

"Hm, ada apa?"

"O-to-i-le (Ke toilet)."

"Ke toilet? ……Oh, ya sudah, toilet ada di sana, sana pergi."

"……Nggak berani sendirian, temenin."

"O-oi……"

Yuuouji menarik tanganku dan menyeretku paksa sampai ke depan toilet.

"……Astaga. Ya sudah, aku tunggu di sini ya."

"Temenin sampai dalam."

"Pffft!"

Aku refleks menyemburkan tawa.

"A-apa yang kamu bicarakan……"

"Habisnya, aku takut sendirian."

Sepertinya dia masih trauma gara-gara yang tadi…… sebegitunya kah rasa takutmu.

"Aku tahu kamu takut, tapi aku laki-laki, mana mungkin masuk ke toilet perempuan."

"Kalau gitu, aku masuk ke toilet laki-laki saja."

"Nggak boleh juga!"

"Kenapa?"

Karena tubuhmu itu enam belas tahun! Bakal jadi masalah besar!

"Pokoknya nggak boleh ya nggak boleh."

Yuuouji menggembungkan pipinya lagi, lalu berteriak kencang.

"KENAPA KAMU NGGAK MAU TEMENIN AKU KE TOILET?!"

"Cho, oi!"

Aku buru-buru membungkam mulutnya, tapi sudah terlambat.

"Oi, apa-apaan barusan itu……"

"Kayaknya dia minta ditemenin ke toilet deh"

"Anak muda zaman sekarang……"

"Kenapa ceweknya cara bicaranya kayak anak kecil ya"

‘"Cih, kalau mau main peran begitu di rumah sendiri sana"

"Ka-kalau mau, aku yang temenin kok……"

……Setiap kali aku selalu berpikir, apakah sudah jadi aturan kalau bisikan-bisikan begini harus diakhiri dengan lawakan di bagian akhir?

Ah, bukan waktunya memikirkan itu. Pandangan dingin dari orang sekitar benar-benar menyakitkan.

"Mugaga, mau ke toilet baleng-baleng!"

Saat aku sedang terpukul, Yuuouji masih meronta-ronta.

"Te-tenanglah sedikit. Jadilah anak baik dan pergi sendirian—"


PILIH:

Masuk bersama.

Berubah jadi perempuan (♀) dan masuk bersama. (Kondisi ♀ akan hilang sebelum hari ini berakhir.)


Oi, apa-apaan opsi ♀ itu?

Jangan-jangan…… ingatan buruk saat hari pertama Chocolat datang ke rumah terlintas di benakku.

Perubahan tubuh jadi perempuan…… aku harus melakukannya…… lagi?

"Guh……"

Sakit kepala sebagai peringatan segera menyerang…… sial.

"O-Ouka, tu-tunggu sebentar ya."

Sedih, tapi aku tidak punya pilihan. Kalau aku pilih nomor 1, aku bakal langsung ditangkap polisi. Aku berlari ke tempat tersembunyi agar tidak terlihat orang.

"Suuu…… haaaa."

Aku menarik napas dalam-dalam dan menyiapkan mental. "……A-apa pun yang terjadi, jadilah!"

Saat aku memilih nomor 2, sensasi pusing menyerang dan pandanganku memutih.

"U…… o."

Saat aku membuka mata…… yah, begitulah…… gimana ya…… tubuhku sudah berubah. Rambutku memanjang sampai bahu, dan dadaku yang tadinya rata kini memiliki gundukan yang empuk.

Baju renangku juga berubah jadi bikini yang sangat terbuka. Aku mendekat ke pinggir kolam dan melihat pantulanku di air…… itu benar-benar seorang gadis.

"Ini mimpi buruk……"

Sambil menutupi wajah dengan telapak tangan, aku melangkah berat kembali ke tempat Yuuouji.

"Are? Kanade, kenapa jadi perempuan?"

Sepertinya instingnya tahu kalau aku ini Amakusa Kanade. Meski mentalnya jadi balita, ketajamannya tetap ada.

"O-orang dewasa itu banyak urusannya kalau sudah besar."

"Fuuun…… ya sudahlah. Ayo ke toilet!"

"U…… ujung-ujungnya tetap begitu ya."

Jujur, meski aku sudah jadi perempuan, masalahnya belum selesai. Masuk ke toilet perempuan bersama Yuuouji mungkin "aman" secara objektif, tapi secara moral aku merasa sudah tamat.

"Guuuuu……"

Sakit kepala itu menyerang lagi tanpa ampun, bahkan lebih kuat dari tadi…… aku tidak punya pilihan selain masuk.

"A-ayo, Ouka."

Aku menarik tangan Yuuouji menuju toilet perempuan. Nggak, tetap saja nggak bisa—

"UGUUUUUU!"

Karena rasa sakit yang luar biasa, aku sampai mengerang seperti karakter moe.

"Nggak apa-apa?"

Yuuouji melongok wajahku dengan cemas…… sial, ini sudah batasnya. Aku harus nekat. Eeei, pasrah saja!

Saat aku melangkah masuk ke toilet, rasa sakit kepalanya sedikit berkurang. Belum hilang sepenuhnya…… apa artinya aku harus menunggu sampai Yuuouji selesai buang air? Aku menutup mata rapat-rapat, lalu menutupinya lagi dengan telapak tangan.

"Kenapa tutup mata?"

Masuk ke sini saja sebenarnya sudah salah secara kemanusiaan, tapi ini adalah bentuk kepuasan diri atau mungkin garis pertahanan terakhirku yang tidak boleh dilewati.

"Ja-jangan pedulikan aku, cepat masuk sana."

"Un……"

Meski terdengar sedikit tidak puas, Yuuouji sepertinya masuk ke bilik toilet. Syukurlah, kalau melihat semangatnya tadi, aku takut dia minta ditemani sampai ke dalam bilik.

"Fuu……"

Aku menyandarkan punggung ke dinding. Tinggal menunggu Yuuouji keluar, lalu kabur—

"Anu…… apa ada masalah?"

"!?"

Tiba-tiba, sebuah suara yang jelas bukan milik Yuuouji menyapaku.

"Ti-tidak, i-ini bukan apa-apa! Ma-maafkan aku, to-tolong jangan lapor polisi!"

Aku memberikan reaksi yang sangat tidak wajar. Te-tenanglah, sekarang aku bukan Kanade tapi Kanade-chan.

Jika aku menghadapi ini dengan tenang, identitasku tidak akan ketahuan. Suara wanita itu terdengar bingung.

"Polisi? Aku tidak mengerti maksudnya…… tapi apakah kamu tidak enak badan? Wajahmu merah sekali dan kamu berkeringat deras."

"A-Aku tidak apa-apa, jadi jangan khawatir."

 "Anu…… lagipula, kenapa kamu menutup mata begitu?"

Yah…… pertanyaan yang wajar.

" A-Aku …… maksudku, aku…… a-aku suka melakukan ini. Aku merasa sangat bergairah kalau masuk toilet sambil menutup mata."

……Mengatakan itu sendiri membuatku ingin menangis.

"Be-begitu ya……"

Entah harus disebut beruntung atau tidak, wanita yang tampak ketakutan itu mundur perlahan dan menghilang ke luar (dilihat dari suara langkah kakinya).

"Sudah selesai."

Suara Yuuouji terdengar. Pada saat itu juga rasa sakit kepalaku menghilang, jadi aku segera meraba dinding dan kabur ke luar.

"Puh…… rasanya mau mati……"

"Aneh banget deh."

Capek banget…… hari ini banyak hal sial yang terjadi, tapi yang barusan adalah yang paling melelahkan.

"Tapi…… kapan tubuhku bakal kembali normal?"

Aku memperhatikan tubuhku sendiri. Katanya sih bakal balik sebelum hari ini berakhir, tapi—

"Halo, kalian berdua."

Saat aku sedang melamun, tiba-tiba ada suara yang memanggil. Saat aku mendongak, ada tiga orang pria yang penampilannya terlihat sangat tidak benar.

"A-ada apa?"

Aku refleks mundur dan bertanya dengan waspada. Ketiga pria itu semuanya berambut pirang, pakai tindik hidung, dan kulitnya kecokelatan. Benar-benar tipe pria berandal yang sering muncul di drama jadul. Kenapa orang-orang seperti ini menyapa kami? Jangan-jangan…… aku harap bukan, tapi…… Apakah ini yang namanya digoda (nanpa)—?

"Mau main sama kami sebentar?"

……Ternyata benar.

"A-anu, terima kasih, tapi kami tidak berminat."

Rasa merinding menjalar di punggungku. Yuuouji bersembunyi di belakangku dengan ketakutan.

"Jangan bilang gitu dong—"

"Iya nih, kami lagi senggang nih."

Ketiganya memasang senyum licik…… apa-apaan ini, menjijikkan sekali sampai aku ingin muntah.

Apakah ini yang sering disebut para gadis sebagai rasa jijik secara biologis?

Dulu saat pertama kali berubah jadi perempuan pun begitu, sepertinya sebagian inderaku juga diubah menjadi milik perempuan.

"Ugh……"

Saat aku menyadari itu, aku sadar tatapan para pria itu tertuju pada dadaku.

"To-tolong hentikan. Apa yang kalian lihat?"

……Sebenarnya itu kalimat yang aneh buatku sendiri, tapi rasa malu ini tidak bisa dibendung.

"Lho, pakai baju renang begitu tapi dilarang lihat itu kan aneh…… Lagipula, daripada berdiri di sini, ayo duduk dan ngobrol di sana saja."

Salah satu dari mereka tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku.

"!"

Punggungku merinding hebat. Aku ingin segera melepaskannya, tapi tubuhku kaku dan tidak bisa digerakkan sesuai keinginan. Aku hanya bisa mengeluarkan suara kecil yang hampir hilang.

"To-tolong lepaskan……"

Namun, tindakan itu malah membuat para pria itu semakin tertarik.

"Wah, polos banget deh"

"Imut ya"

"Berikutnya bagianku yang pegang ya, bagianku."

Sialan, pergi sana, kenapa kata-kata itu tidak mau keluar!

"Haha! Nah, kalau kamu tidak melawan, aku bakal pegang tempat yang lebih sensitif—!?"

Tangan pria itu ditepis dengan keras.

"Hentikan!"

Yuuouji, yang tadinya bersembunyi di belakangku, kini berdiri di depan menghalangi pria itu.

"Jangan ganggu Kanade!"

Dengan suara yang sedikit bergetar, dia menatap tajam pria yang mencengkeram pergelangan tanganku.

"Wah, anak ini juga imut banget"

"Kenapa cara bicaranya kayak anak kecil gitu?"

"Gawat nggak sih? Aku juga doyan yang kayak gini."

Gawat…… perhatian mereka beralih ke Yuuouji.

"Anu, kami benar-benar tidak berminat, jadi tolong hentikan…… Kalau kalian terus memaksa, aku akan panggil orang."

Kata-kataku itu sama sekali tidak punya kekuatan untuk menghentikan mereka.

"Oke, oke, maaf deh. Tapi kami tidak berminat melakukan apa pun kok. Kalau kalian mau diajak minum sebentar di sana, kami bakal pergi dengan tenang."

Tangan pria itu diletakkan di bahuku.

"U…… au……"

Hanya karena itu saja, tubuhku jadi kaku lagi. ……Apa-apaan ini, apakah perempuan adalah makhluk yang sesensitif ini?

Ini bukan daerah kumuh yang rawan kriminalitas, dan banyak orang di sekitar.

Aku tahu mereka tidak akan bisa melakukan hal yang lebih jauh dengan paksa, tapi rasa takut secara insting ini tidak bisa dihapus dengan logika.

"Anak yang di sana juga, sini."

Tangan pria lainnya terulur ke arah Yuuouji.

"—!"

Seketika, amarah naik ke kepalaku.

"HENTIKAN!"

Tepat sebelum tangan itu menyentuh kulit Yuuouji, aku menepisnya sekuat tenaga.

"Aduh……"

Pria itu melepaskan sikap main-mainnya dan menunjukkan ekspresi marah. Sebenarnya jika sampai di situ mungkin masih bisa diredam, tapi—

"Rasakan ini!"

"Guh!"

Yuuouji menginjak kaki pria itu dengan sekuat tenaga.

"Aku benci kalian! Pergi sana, weeek!"

Tindakan Yuuouji membuat amarah pria itu meledak.

"……Bocah, jangan keterlaluan ya!"

Pria yang sudah tersulut emosi itu mencengkeram pergelangan tangan Yuuouji dengan kasar.

"Sa-sakit……"

Saat Yuuouji merintih kecil, sesuatu di dalam kepalaku putus.

"JANGAN SENTUH OUKA!!"

Tubuhku bergerak sebelum otakku sempat berpikir.

"O…… gueh……"

Tinjuku telak menghujam ulu hati pria itu. Sepertinya seranganku tepat sasaran, pria itu langsung tumbang ke tanah dengan mata putih terbalik dan pingsan. Gawat, aku tidak berniat melakukannya sejauh ini……

"Pe-perempuan ini……"

"Jangan meremehkan kami!"

Gawat…… dua pria sisanya juga ikut tersulut amarah. Apa yang harus kulakukan…… Saat aku bersiap melindungi Ouka,

"TOLOOOONG! ADA ORANG JAHAT MAU NYERANG KAMI!!"

Suara Ouka yang luar biasa kencang bergema di seluruh area.

"Ada apa?"

"Bukankah itu cuma godaan biasa?"

"Hei, lebih baik panggil petugas."

Orang-orang di sekitar mulai menoleh dan memperhatikan kami.

"Cih……"

"Sialan!"

Kedua pria itu menunjukkan wajah kesal, lalu tanpa menolong temannya yang pingsan, mereka segera kabur menghilang.

◆◇◆

"Ha, haaaa……"

Begitu mereka menghilang dari pandangan, kekuatanku seolah terkuras habis dan aku jatuh terduduk di sana. Aku takut…… benar-benar takut. Ini adalah perasaan yang tidak akan pernah dimengerti oleh laki-laki.

"Eh?"

Tiba-tiba, ada sensasi seperti dipeluk oleh sesuatu.

"O-Ouka?"

Yuuouji memelukku dari belakang.

"Terima kasih sudah menolongku."

"O-oi……"

"Aku senang banget karena tahu Kanade melindungiku."

"Tu-tunggu sebentar……"

Aku hendak memintanya lepas karena dadanya menempel di punggungku, tapi aku mengurungkan niat. Karena di dalam diriku, sama sekali tidak ada pikiran kotor.

Bukan karena tubuhku sedang jadi perempuan atau apa…… tapi karena melalui kulitku, aku bisa merasakan bahwa tindakan ini adalah bukti terima kasih yang murni dari lubuk hati Yuuouji.

Aku tetap diam dan membiarkan Yuuouji melakukan apa yang dia mau sampai dia puas.


4

"……Nah, sekarang gimana ya."

Sambil menarik tangan Yuuouji yang sifat balitanya belum hilang, aku berjalan ke tempat yang sepi dari orang lewat.

"Ouka, hal yang menakutkan sudah selesai. Di sini luar ruangan dan tidak ada yang menakutkan. Cepatlah kembali ke sifatmu yang biasanya."

"Biasanya itu apa? Aku nggak ngerti."

Kh……

"……Lagipula, aku masih sedikit takut."

Wajah Yuuouji mendung. Itu bukan sekadar soal rumah hantu, tapi juga termasuk insiden digoda tadi.

"Terus, kamu harus gimana supaya nggak takut lagi?"

"Peluk."

 "……Hah?"

"Tadi waktu digendong rasanya enak, sekarang aku mau dipeluk (digendong depan)."

Astaga…… aku sudah tahu dia manja, tapi aku tidak menyangka waktu kecil dia semanja ini……

"Peluk, peluk! Yang gaya tuan putri itu!"

"P-peluk gaya tuan putri (princess carry)? Mana mungkin aku bisa."

"……Nggak boleh?"

Ugh…… apa-apaan tatapan memelas dari bawah itu.

"Se-sekali saja ya."

"Yaaaay!"

Ini sangat memalukan, tapi kalau ini bisa mengurangi rasa takutnya, apa boleh buat. Aku membulatkan tekad dan mengangkat tubuh Yuuouji.

"Ugh……"

Apa-apaan ini…… waktu menggendong di punggung tadi terasa sangat ringan, tapi sekarang dengan kekuatan otot perempuan, aku harus berjuang keras menjaga keseimbangan agar tidak jatuh.

"Su-sudah puas?"

"Belum."

Duh, ini berat banget tahu…… beberapa puluh detik berlalu.

"……Gi-gimana?"

"Un, rasa takutnya mulai hilang…… sedikit lagi."

Gawat, tanganku mulai gemetaran…… beberapa puluh detik lagi berlalu.

"……Su-sudah belum?"

"Umm…… kalau begitu, sebagai penyelesaian terakhir, aku mau gesek-gesek pipi!"

"Hah? ……Eh, tunggu, o-oi!"

Tiba-tiba wajah Yuuouji mendekat dan dia mulai menggesekkan pipinya ke pipiku.

"He-hentikan!"

"Nggak mau. Kalau begini rasanya tenang banget—eh?"

Karena tanganku sudah mencapai batas dan ditambah gerakan mendadak itu, aku tidak bisa mempertahankan posisi pelukan tuan putri.

"Uo!"

"Uwawa!"

Tanpa bisa berbuat apa-apa, tubuh Yuuouji terjatuh. Bahkan keseimbanganku pun goyah dan aku ikut jatuh menindih Yuuouji yang ada di tanah.

"Ma-maaf. Kamu nggak apa-apa…… eh, hm?"

Ada perasaan aneh yang sangat kuat dari ekspresinya.

"Hm…… are?"

Dan suara Yuuouji yang terdengar jelas berbeda dari sebelumnya.

"Are? Aku……"

Oi…… jangan-jangan ini……

"Tadi masuk ke rumah hantu…… terus apa yang terjadi setelah itu ya?"

Kembali…… normal?

K-kenapa di saat seperti ini…… mendadak sekali. Bukankah harusnya ada tanda-tanda dulu kalau mau kembali normal?!

Aku bertatapan mata dengan Yuuouji yang tampak bingung dalam jarak yang sangat dekat sampai hidung kami hampir bersentuhan.

Ga-gawat. Dari sudut pandang Yuuouji, begitu kesadarannya kembali, tiba-tiba dia sedang ditindih oleh seorang gadis asing.

Ugh…… gimana cara menjelaskannya?

Tapi…… situasinya ternyata jauh lebih buruk dari dugaanku.

"Amac…… chi?"

"……Hah?"

Aku…… sudah kembali jadi………… laki-laki?

"Eh? ……Eh? Kenapa aku…… ditindih oleh Amacchi?"

"U-UOOHHHHH!"

Aku buru-buru bangkit dan melompat mundur.

"……"

Yuuouji ikut berdiri, lalu menatap wajahku dalam diam dengan ekspresi melongo. Ga-gawat…… dia pasti berpikir aku sedang mencoba menyerangnya secara paksa.

"Yu-Yuuouji, ini ada penjelasannya—"

Tepat saat aku membuka mulut untuk membela diri,

"……Eh?"

Satu tetes air mata jatuh dari mata Yuuouji.

"Na……"

Setelah itu, air mata mulai mengalir deras tanpa henti dari mata Yuuouji.

"Are…… are?"

Sepertinya itu bukan keinginan pribadinya.

"Aneh ya, ke-kenapa ya, aku kok bisa menangis……"

Artinya, dia sangat syok sampai tidak bisa mengendalikan emosinya, kan?

"Maaf! Aku beneran nggak bermaksud buruk! A-ada alasan yang tidak bisa dihindari……"

Gawat, gawat, GAWAT! Gimana nih? Harus gimana?! Aku sudah benar-benar panik.

"Yu-Yuuouji, anu…… itu—"

"Bukan begitu, Amacchi."

Nada bicara Yuuouji terdengar sangat tegas dan mantap.

"Eh? Bukan?"

"Iya. Pas aku sadar, wajah Amacchi dekat sekali…… kalau aku yang biasanya, aku pasti sudah kabur karena malu, tapi yang tadi itu rasanya sama sekali tidak buruk…… aku sulit mengatakannya dengan kata-kata……"

Nada bicaranya berubah jadi terbata-bata.

"Anu…… semua ingatan tentang keseruan kita ngobrol, waktu kita dimarahi Guru bersama-sama, terus…… waktu kamu lihat celana dalamku dan aku merasa malu…… semua kenangan bersama Amacchi, baik yang bagus maupun buruk, semuanya…… tiba-tiba muncul di kepalaku dalam sekejap."

Kata-katanya tidak teratur dan sulit dimengerti maksudnya. Tapi, aku bisa merasakan dengan jelas bahwa Yuuouji sedang memendam perasaan yang sangat kuat di dalam dadanya.

"Waktu tadi…… itu…… yang dipegang itu juga…… memang malu sih…… tapi rasanya aku tidak membencinya."

Apa dia sedang membicarakan waktu aku menggenggam tangannya di roller coaster tadi?

"Terus ya…… hari ini, aku tidak punya banyak ingatan sejak di tengah rumah hantu tadi…… tapi, aku ingat kalau Kanade sudah berusaha keras demi aku……"

Monolog Yuuouji berlanjut.

"Semua perasaan itu bercampur jadi satu…… lalu, rasanya di bagian dadaku jadi hangat sekali……"

Di sela-sela kata-katanya, air mata Yuuouji terus mengalir tanpa henti.

"Nahaha…… padahal aku senang, tapi kenapa menangis ya. Aneh, padahal ini urusanku sendiri, tapi aku nggak paham."

Sambil terus meneteskan air mata, Yuuouji menatap wajahku dan memasang senyum yang sangat lebar.

"Perasaan seperti ini…… baru pertama kali kurasakan seumur hidupku!"




Aku hanya bisa terpaku, menatap senyum itu dalam diam dengan perasaan takjub. Ternyata di dunia ini... masih ada ekspresi yang benar-benar semurni itu.

"Amakusa-san~"

"UWOOKH!?"

Tiba-tiba, sebuah suara santai bin tenang menyela momen tersebut.

"Yak, cukup sampai di sini~"

"Ke-Ketua..."

"Maaf ya sudah mengganggu atmosfer yang sedang bagus-bagusnya ini, tapi sepertinya sekarang adalah kesempatan terakhirmu untuk menyelesaikan misi lho~"

"Ah..."

Benar juga. Terlalu banyak kejadian mengejutkan yang bertubi-tubi sampai aku benar-benar lupa soal itu.

"Nah, ini silakan~"

Ketua menyodorkan sebuah kamera digital ke arahku... Sumpah, aku benar-benar tidak paham apakah orang ini sebenarnya kawan atau lawan.

Yah, tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya dalam situasi sekarang. Jadi, aku menerimanya dan langsung menekan tombol rana.

Cekrek!

"Yak, dengan ini misi selesai ya~"

Ketua menerima kembali kamera digital itu dariku, lalu memeriksa hasilnya di layar LCD.

"Aduh, aduh, kamu berhasil memotret ekspresi yang sangat bagus ya~. Nanti akan kupencetkan fotonya dan kuberikan padamu, ya."

"Nggak usah... terima kasih atas tawarannya, tapi aku lewat saja."

Aku menolak tawaran itu dengan sangat sopan.

Lagipula, tanpa perlu melakukan hal seperti itu pun, senyum Yuuouji sudah terpatri kuat di dalam benakku dan tidak akan pernah hilang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close