Chapter 1
Gak Mungkin Teman Serumahku Bisa Sepintar Ini!
1
"Amakusa-kun,
maaf ya, bisa tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
Suara dari sang
Ketua Kelas (si kacamata cantik) itu menarik paksa kesadaranku kembali dari
alam pikiran.
"Aku sih
sebenarnya malas mencampuri urusan pribadi orang lain... tapi karena lawannya
adalah dia, rasanya seisi kelas tidak akan bisa tenang kalau begini
terus."
Persis seperti
kata Ketua Kelas, pandangan seluruh murid di kelas kini tertuju padaku. Ya,
saat ini aku sedang menjadi sasaran emosi yang mirip dengan niat membunuh dari
seluruh cowok di kelas... tidak, bahkan mungkin dari seluruh cowok di sekolah
ini.
"Jadi, apa
benar kamu pacaran dengan Ketua Kokubirakuin?"
Situasi yang
menjepitku sekarang bermula dari tindakan yang diambil oleh Kokubirakuin
Seira—siswi peringkat satu di Ranking Cantik sekaligus Ketua OSIS—saat
pertarungan antara Ranking Cantik melawan Reject 5.
"Enggak,
bukan begitu kok..."
Tapi apa alasan
seperti itu bakal mempan? Masalahnya, Ketua OSIS yang satu itu tiba-tiba
menembakku di depan seluruh murid dan langsung memelukku di tempat. Sebuah
kejadian yang benar-benar di luar nalar.
"Terus, apa
jangan-jangan incaran aslimu itu Chocolat-chan?"
Ditambah lagi,
gara-gara Mission: Curse Break, aku terpaksa membuat Chocolat bilang
"Aku syuka kamyuu!" sambil masih dipeluk oleh Ketua OSIS.
Keadaan pun jadi makin semrawut.
Bahkan, masih ada
lanjutannya.
Baru saja, Ketua
OSIS sengaja datang ke kelas ini dan memberikan serangan pamungkas berupa
kesalahpahaman fatal, seolah-olah kami sudah saling memanggil dengan nama kecil
seperti 'Kanade-san' dan 'Seira'.
"Hei, hei,
bagaimana, Amakusa-kun?"
Ketua Kelas makin
mendekat ke arahku. Binar di matanya itu sama sekali tidak terlihat seperti
rasa tanggung jawab seorang ketua kelas yang ingin meredakan situasi, melainkan
murni karena rasa kepo yang membara...
"Ugh..."
Tepat di saat
itu, rasa sakit kepala menyerangku, membuatku meringis.
"Kamu
kenapa?"
S-sekarang bukan
waktunya buat klarifikasi! Sekali lagi, aku memeriksa pilihan yang muncul di
dalam otakku.
PILIH:
① Peluk Chocolat
② Peluk Yukihira Furano
③ Peluk Ouji Uta
Ada tiga pilihan. Karena aku sudah menyelesaikan misi
"Mendapatkan ucapan 'Suka' dari semua gadis yang ikut dalam
pertarungan", aku sudah menduga akan ada perubahan pada pilihan yang
muncul. Tapi aku tidak menyangka akan jadi tiga pilihan begini...
Masalahnya, meski jumlah targetnya bertambah jadi tiga,
tingkat "kebrengsekan" tugas ini sama sekali tidak berubah dari
sebelumnya.
"Gkh..."
Selagi aku sibuk berpikir, rasa sakit kepala yang mendesakku
semakin kuat. Sial... tidak ada
pilihan lain, aku harus memilih salah satu.
Sambil berusaha
sekuat tenaga mengabaikan tatapan tajam semua orang, aku melirik ke arah
Yukihira yang berada di dekat jendela. Dia yang biasanya memasang wajah datar,
kini malah mengirimkan tatapan sinis yang penuh dengan nada mencela. Sejak awal
dia memang sulit dibilang bersahabat denganku, tapi entah kenapa hari ini dia
memancarkan aura berduri yang berbeda dari biasanya.
Dalam kondisi
normal saja mustahil, apalagi kalau situasinya begini, mana mungkin aku bisa
memeluknya... Oke, Yukihira dicoret.
Di sisi lain,
Ouji... dia entah kenapa wajahnya sedikit memerah dan tampak gelisah sambil
menunduk. Sepertinya dia merasa malu karena insiden saat pertarungan kemarin di
mana aku tidak sengaja melihat celananya... Padahal biasanya dia bertingkah
seperti anak kecil dan sering pamer pusar, tapi aku tetap tidak mengerti
standar rasa malunya itu di mana.
Kalau Ouji yang
biasanya mungkin masih mending, tapi kalau memeluknya dalam kondisi begini,
urusannya tidak akan berakhir dengan tawa... Jadi, dia juga coret.
Berarti tinggal
satu lagi...
Aku menoleh ke
arah Chocolat yang ada di sampingku.
"......"
Di sana, tidak
ada senyum ceria yang biasanya dia tunjukkan. ...Ya, Chocolat hari ini memang
agak aneh. Begitu sampai di kelas tadi, dia tiba-tiba bilang, "Aku tidak
merasa lapar." Mana mungkin hal seperti itu terjadi pada Chocolat sang Gluttony
Incarnate ini.
Tapi sekarang aku
tidak punya waktu untuk mencari tahu alasannya. Agar tidak terdengar oleh Ketua
Kelas, aku mendekatkan wajahku dan berbisik di telinganya.
(Maaf ya,
Chocolat. Pilihannya muncul lagi, jadi aku bakal memelukmu sebentar.)
Tidak ada reaksi
dari Chocolat. Matanya tampak kosong, gejalanya agak mengkhawatirkan. Tapi
kalau aku tidak segera membereskan pilihan ini, aku tidak akan bisa merawatnya.
Aku harus menyelesaikan apa yang harus dilakukan.
Masalahnya, aku
perlu mengalihkan perhatian semua orang yang sedang menatapku. Tapi
bagaimana caranya—
PILIH:
① Deklarasikan bahwa kau ingin
memperlihatkan wujud aslimu saat lahir (telanjang bulat).
② Terlahir kembali.
...Woi, pilihan
nomor ③ tadi ke mana?!
Mau dicek berapa
kali pun, pilihan di otakku cuma ada dua. Ini... apa sama seperti kejadian
sebelumnya? Artinya perubahan yang terjadi setelah menyelesaikan misi bakal
muncul secara acak? Kalau begitu, mulai sekarang aku tidak tahu apakah yang
muncul bakal dua pilihan atau tiga pilihan...
Entah itu kabar
baik atau buruk, yang jelas sekarang aku harus memilih satu dari dua hal ini.
"G-gawat,
semuanya! Aku... aku tiba-tiba merasa ingin sekali TELANJANG BULAT tanpa alasan
yang jelas! Tolong,
paling tidak untuk sesaat saja, berpalinglah ke arah luar jendela!!!"
Seketika
itu juga, dengan gerakan yang sangat kompak, teman-teman sekelasku langsung
memalingkan wajah ke arah jendela... Menyedihkan sekali rasanya karena tidak
ada satu pun dari mereka yang menganggap ucapanku itu bohong atau bercanda.
Tapi setidaknya, aku berhasil mengalihkan pandangan mereka.
Sip,
mumpung ada celah sesaat ini, aku selesaikan pelukannya!
(Aku
mulai ya.)
Saat aku
berbisik pada Chocolat dan memeluk tubuhnya dengan ringan, pilihan di dalam
otakku pun lenyap.
"Fiuuh..."
Aku menghela
napas lega. Namun, tepat saat aku hendak melepaskan pelukan itu—
"Kanade-san...
anu... itu... aku malu."
................Hah?
Mendengar kalimat
yang keluar dari mulut Chocolat itu, tubuhku langsung kaku seketika. Di saat
yang sama, pandangan teman-teman sekelas kembali tertuju ke arah kami. Di sana,
mereka melihat Chocolat yang wajahnya memerah sambil menunduk karena sedang kupeluk.
"......Choco,
lat?"
"Kanade-san...
karena semuanya sedang melihat... kalau boleh... bisakah kamu
melepaskanku?"
...Apa yang dia
katakan? Sumpah, tidak masuk ke otakku sama sekali.
"Anu... aku
tidak ingin kamu salah paham... bukan berarti aku benci diperlakukan seperti
ini oleh Kanade-san... tapi, ini masalah tempatnya..."
...Aneh.
Ada yang aneh di sini. Maksudku, dari tadi dia memang sudah aneh, tapi kalau
dipikir-pikir, ini sudah lewat dari level "sedang tidak enak badan".
Tanpa
memedulikan aku yang sedang kebingungan, wajah Chocolat semakin memerah saat
dia melanjutkan ucapannya.
"...Hal-hal
seperti ini, kalau bisa dilakukan saat kita hanya berdua saja... aku akan
merasa lebih senang."
“““Hah?!””””
Atmosfer
di kelas langsung membeku. Aku tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti apa
yang sedang terjadi... Tapi, kalau dilihat secara objektif, reaksi yang mungkin
muncul dari situasi ini adalah—
““““Amakusaaa...!””””
“““““DASAR
SAMPAAAH...!”””””
Iya,
kan... Tatapan penuh haus darah dari gerombolan cowok dan ekspresi jijik seolah
melihat sampah dari para cewek langsung tertuju padaku secara bersamaan.
"T-tunggu,
ini salah paham...!"
Padahal aku
sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya salah paham. Di saat kelas mulai
gaduh, tiba-tiba—
"Semuanya,
tolong tunggu sebentar."
Suara
yang bening dan tegas bergema di seluruh ruangan.
"Hah?"
Aku dan
semua orang menoleh ke arah pemilik suara itu.
"Kanade-san
tidak bersalah sama sekali."
"Cho,
Chocolat?"
"Karena
tempatnya memang begini, aku juga jadi sedikit panik. Tapi kalian semua sudah salah paham."
Sosok yang mirip
Chocolat itu sedang berbicara, tapi isinya tidak bisa kuterima dengan akal
sehat... Siapa sih
ini?
"Aku
memang mengagumi Kanade-san, dan Kanade-san pun menyayangiku. Namun, perasaan
itu lebih dekat dengan kasih sayang antar teman. Tidak ada tindakan tidak
senonoh seperti yang kalian bayangkan."
...Mungkin
ekspresi "mataku melotot sampai mau copot" itu digunakan untuk saat
seperti ini.
"Chocolat...
chan?"
"L-loh, ini
maksudnya gimana?"
"Mana
kutahu!"
Kegaduhan
menyebar dengan cepat. Perubahan suasana Chocolat yang begitu mendadak membuat
semua orang di sana benar-benar bingung tujuh keliling.
"Kanade-san,
ada apa?"
Chocolat sedikit
memiringkan kepalanya di sampingku sambil tersenyum manis.
"Enggak,
apanya yang ada apa..."
Cara tersenyumnya
itu sama sekali tidak mirip dengan senyum cerianya yang biasa. Senyumnya
tenang, anggun, bahkan memancarkan aura kecerdasan.
"Apa ada
sesuatu di wajahku?"
"...Enggak
ada sih, tapi kamu ini sebenarnya siapa?"
"Aku
Chocolat, lho."
"Bukan,
bukan itu... maksudku, kamu itu biasanya lebih... gimana ya, lebih 'lembek'
gitu... rasanya kalau bicara kayak pakai huruf hiragana semua..."
Chocolat
kembali tersenyum sambil menatap mataku.
"Benar
juga ya. Kalau aku tiba-tiba bicara dengan nada seperti ini, wajar saja kalau
kamu bingung. Baiklah, akan kujelaskan secara urut."
Rambut
pirang yang berkilau indah, wajah imut seperti hewan kecil, dan tubuh yang
mungil.
Dari sisi mana
pun kulihat, orang di depanku ini memang Chocolat. Tapi aura yang terpancar darinya benar-benar
seperti orang yang berbeda.
"Tadi
pagi, aku terbangun di atas lantai. Melihat situasinya, sepertinya aku jatuh
dari tempat tidur saat sedang tidur."
Waktu aku
mencoba membangunkannya tadi, dia memang masih tidur pulas di kasur, jadi
sepertinya itu kejadian setelahnya. Yah, dengan gaya tidur Chocolat yang
hancur-hancuran, jatuh dari kasur sih bukan hal aneh.
"Kepalaku
sepertinya terbentur keras saat jatuh, dan benturan itu menyebabkan sakit
kepala yang hebat. Tapi karena aku masih bisa beraktivitas, aku tetap
berangkat sekolah... Namun, kondisinya tidak membaik sama sekali. Malah,
kesadaranku jadi setengah kabur dan mulai memengaruhi bagian tubuh
lainnya."
Oalah, jadi itu alasan kenapa wajahnya merah dan dia bilang
"tidak lapar". Tapi kurasa
saat itu dia masih terasa seperti Chocolat yang biasanya...
"Kalau
dipikir-pikir, itu mungkin pertanda sebelum aku kembali ke diriku yang asli. Tapi
pada tahap itu, ingatanku belum pulih... Sepertinya masih butuh satu pemicu
terakhir."
"Pemicu?"
Mendengar itu, wajah Chocolat kembali memerah dan dia
mengangguk pelan.
"Benar... Saat... itu... saat Kanade-san memelukku,
tubuhku terasa panas dan rasanya seperti ada aliran listrik yang menyengat
otakku... Mungkin bisa dibilang semacam terapi kejut. Saat aku sadar, ingatanku
sudah kembali."
"Ingatanmu... sudah kembali?"
"Iya."
...Kalau dipikir-pikir, memang benar Chocolat itu sedang
hilang ingatan. Gara-gara itu, aku jadi tidak bisa mendapatkan informasi apa
pun soal Absolute Choice dan dibuat frustrasi karenanya...
"Kanade-san, aku benar-benar minta maaf karena sudah
memperlihatkan wujud yang menyedihkan selama ini. Mulai sekarang, aku akan
berusaha menebus kesalahanku, jadi tolong maafkan sikap tidak sopanku
sebelumnya."
Dia
membungkuk dengan sangat hormat.
...Tunggu,
tunggu sebentar. Jadi maksudnya Chocolat yang selama ini itu bukan Chocolat
yang asli, dan yang di depanku sekarang inilah Chocolat yang sebenarnya?
Biarpun tiba-tiba dibilang begitu, mana bisa aku langsung percaya begitu saja.
Kemudian Chocolat
berbalik ke arah teman-teman sekelas.
"Kalian
semua pasti terkejut karena kejadian mendadak ini, tapi inilah diriku yang
sebenarnya. Mohon maafkan segala perkataan dan perbuatanku yang terlalu sok
akrab beberapa hari terakhir. Dan, kalau kalian tidak keberatan, tolong tetap berteman baik denganku
seperti biasanya ya."
Setelah
dia memberikan senyum terakhir itu, semua orang terpaku dengan ekspresi
melongo. Ya iyalah, orang gila mana yang bisa langsung menerima penjelasan
seaneh ini.
Di tengah
keheningan kelas yang aneh itu, Yukihira berjalan mendekat ke arahku.
"...Amakusa-kun,
apa aku boleh menganggap ini sebagai variasi baru dari roleplay?"
"Bukan, bukan... Jujur saja, aku sendiri tidak paham
apa yang sedang terjadi."
"Oh, jadi
itu bagian dari skenarionya ya."
"Bukan
begitu! Kenapa caramu bicara kayak di toko esek-esek gitu sih?"
"Pelanggan,
kalau mau perpanjangan waktu lebih dari ini, akan dikenakan biaya
tambahan."
"Sebenarnya
kamu ini siapa sih?!"
"Motto toko
kami adalah: 'Cinta bisa dibeli dengan uang'."
"Makanya aku
tanya kamu itu siapa!"
"Maaf, bisa
tolong sampah masyarakat diam sebentar?"
"Kejam
banget?!"
Kenapa ya... aura
tidak senang yang dipancarkan Yukihira sekarang terasa lebih kuat dari yang
tadi.
"Yukihira...
kamu lagi marah ya?"
"Marah?
Emosi seperti itu tidak ada dalam diri orang yang dijuluki 'Archdemon dengan
Senyum Cahaya Suci' sepertiku ini."
"Aku belum
pernah dengar julukan itu sekali pun..."
"Masa? Waktu
dulu Amakusa-kun telanjang bulat sambil bilang 'Mau dansa denganku?', aku kan
memaafkanmu sambil tersenyum."
"Jangan
bikin fitnah yang ngeri-ngeri dong!"
"Maaf. Apa
tadi itu telanjang bulat sambil bilang 'Mau makan ikan teri hidup-hidup
denganku?' ya?"
"Ajakannya
terlalu agresif woi!"
"Kita jadi
sedikit melenceng dari topik, tapi di dalam diriku tidak ada emosi negatif
seperti marah, sedih, atau benci. Yang ada hanyalah perasaan murni yang
bercahaya. Dan yang menanti di ujung sana adalah kebahagiaan tak terbatas,
kasih sayang abadi, dan reinkarnasi tanpa akhir."
"Mencurigakan
banget, woi!"
"Yah,
mungkin bilang tidak punya emosi negatif sama sekali itu agak berlebihan. Aku
ralat ya, di dalam diriku hanya ada tiga jenis emosi negatif."
"Tiga?"
"Iya, sejak
lahir aku hanya menyimpan 'Kehinaan, Kebrengsekan, dan Ketidakjelasan' di dalam
dadaku."
"Hidup
yang suram amat!"
"Amakusa-kun,
gampang emosi dan berteriak itu kebiasaan burukmu, lho."
"Kamu
pikir siapa yang bikin aku kayak begini!"
"Tuh
kan, marah lagi. Mendingan kamu pergi sana, ngenyot nenen sapi biar agak
tenang."
"Kenapa
kamu nggak bisa bilang 'minum susu' kayak orang normal sih!"
"Lho,
susu itu tidak punya efek meredam amarah seketika."
"Terus
kenapa kamu tadi bilang gitu!"
"Karena
tindakan ngenyot nenen sapi itu sendiri adalah ketenangan yang tak ternilai
harganya bagi Amakusa-kun."
"Kamu pikir
aku se-pervert itu apa?!"
Sudahlah... Seperti biasa, meladeni dia cuma bikin capek
hati. Dengan perasaan jengkel, aku kembali menoleh ke arah Chocolat.
Chocolat yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi kami,
menunjukkan ekspresi seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu mengangguk seolah
sudah paham.
"Hubungan kalian berdua memang sudah ada dalam
ingatanku, tapi setelah melihatnya secara langsung, aku jadi sedikit bingung.
Begitu ya, jadi ini cara kalian berdua mengekspresikan rasa sayang."
"Bukan, sayang apanya—"
"S-SAYANG?! "
...Hmm? Barusan, sepertinya aku mendengar suara yang sangat
imut dari belakang...
"...Yukihira, barusan itu suaramu?"
"...Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
Saat aku menoleh, yang ada di sana hanyalah Yukihira dengan
wajah datar seperti biasa.
"Enggak, tadi jelas-jelas ada suara..."
Di arah itu tidak ada murid perempuan lain selain
Yukihira...
"...Itu sih terserah kamu ya, tapi tolong jangan
menatapku dengan 'Tatapan seperti seorang fujoshi yang sedang
membayangkan pairing <Ikan Kakap Busuk x Makarel Busuk>, tapi
kemudian mati tersedak tahu, lalu mayatnya dibuang ke laut busuk, menjadi
zombie, dan membusuk' begitu."
"Berapa banyak kata 'busuk' yang mau kamu pakai?!"
Isi bicaranya memang absurd seperti biasa, tapi entah
kenapa, rasanya suara Yukihira terdengar agak gemetar. Apa perasaanku saja ya?
"Eh?
Yukihira, apa wajahmu agak merah?"
"――?!"
Ekspresi Yukihira
sempat berubah kaget sesaat, dan sedetik kemudian, gelombang niat membunuh
terpancar dari matanya. Dalam sekejap, jari Yukihira membentuk posisi
"gunting" dan kedua jarinya meluncur lurus ke arah bola mataku.
Anak
ini—dia benar-benar mau menusuk mataku!
Aku harus
menghindar! Tapi pikiranku
dan tubuhku tidak sinkron. Ini seperti kejadian di manga di mana waktu terasa
melambat dan sekelilingku bergerak dalam slow motion.
G-gawat!
Setidaknya aku harus menutup mata—
"Ugh............
eh?"
Setelah menunggu
sekian lama, rasa sakit yang kubayangkan tidak kunjung datang. Perlahan aku
membuka mata. Jari Yukihira berhenti tepat di depan bola mataku.
"...Yukihira?"
Yukihira mematung
di posisi itu selama beberapa detik, lalu dia menghela napas pelan sambil
menurunkan tangannya.
"...Permisi."
"Eh, hei,
Yukihira...!"
Setelah
mengatakan itu dengan ketus, dia langsung berbalik dan pergi begitu saja... Ada
apa sih sebenarnya?
Yah, tingkah aneh
Yukihira memang sudah jadi makanan sehari-hari, tapi yang ini benar-benar tidak
masuk akal. Saat aku sedang kebingungan, Chocolat yang ada di sampingku
tiba-tiba bergumam dengan nada sedih.
"Hubungan
Furano-san dan Kanade-san... aku jadi iri."
"Hah? Iri?
Sama kejadian barusan?"
Cemoohan pedas,
lawakan kotor, sampai kekerasan fisik yang tidak masuk akal. Kurasa tidak ada
satu pun elemen di sana yang patut bikin orang iri.
"Iya, saat
berbicara dengan Furano-san, Kanade-san terlihat sangat santai dan
bersemangat."
Nggak juga,
meladeni dia itu cuma bikin capek...
"Aku yang
hanya bisa melayani dengan sepenuh hati ini tidak bisa berkomunikasi dengan
cara yang terbuka seperti itu dengan Kanade-san."
Ya iyalah.
Rasanya cuma dia satu-satunya siswi SMA di Jepang yang bisa membalas lelucon
kotor seperti itu.
"Makanya,
kalau melihat interaksi kalian tadi tepat di depan mataku..."
Chocolat menunduk
sambil menggerakkan kakinya dengan gelisah, wajahnya merona merah.
"Kenapa?"
Dengan
suara yang hampir tidak terdengar, dia berbisik.
"Itu... aku
jadi... sedikit cemburu."
...Sumpah, kamu
ini sebenarnya siapa sih?
2
Ruang tamu
kediaman Amakusa, waktu menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
"Serius,
nih...?"
Aku bergumam
takjub sambil menatap barisan hidangan yang terhampar di atas meja.
Steak dengan saus
kental yang menggoda dan sari daging yang menetes, carpaccio dari
berbagai jenis ikan, pasta yang ditata dengan estetika artistik, white stew
yang mengepulkan uap hangat, hingga salad dengan warna-warni yang cerah. Untuk
ukuran makan malam biasa, ini mah terlalu mewah!
Dan yang membuat
semua ini bukanlah aku.
"Ini pertama
kalinya aku memasak untuk Kanade-san... jadi, aku sedikit terlalu
bersemangat."
Sekitar setengah
hari telah berlalu sejak perubahan drastis yang mengejutkan itu, dan Chocolat
masih tetap dalam mode 'waras'.
Selama pelajaran
dia tidak tidur sama sekali, mencatat dengan rapi, bahkan membuat guru melongo
karena bisa menjawab pertanyaan dengan tepat.
Saat istirahat
pun, dia menghadapi serbuan pertanyaan dari teman sekelas yang penasaran dengan
jawaban yang logis dan tenang, membuat mereka semua kebingungan.
Senyum yang tak
pernah pudar, sopan, rendah hati, namun tetap terasa akrab tanpa menjaga
jarak—sikapnya yang sempurna itu benar-benar perwujudan dari imajinasi ideal
kaum pria.
Kapan aku
bakal bangun dari mimpi ini? Pikirku sambil terus mengawasinya dengan perasaan waswas. Namun, meski aku
sudah mencubit bahkan menampar pipiku sendiri, tidak ada tanda-tanda aku akan
terbangun. Dan beginilah kondisiku sekarang.
"Nggak, ini
sih..."
Melihatku yang
kehilangan kata-kata menatap hidangan itu, Chocolat dengan anggun memasukkan
tangannya ke balik belahan dadanya dan mengeluarkan segepok uang tunai.
"Ah, tentu
saja biaya bahan-bahannya aku ambil dari sini. Jadi, anggaran rumah tangga kita
tidak akan terganggu sedikit pun."
Bukan itu yang
aku khawatirin! Ya, aku memang melihatnya memasak dengan mata kepalaku sendiri,
tapi tetap saja sulit dipercaya kalau Chocolat yang membuat semua ini.
"Ayo,
silakan dinikmati sebelum dingin."
"A-Ah,
oke..."
Masih sulit
menerima kenyataan di depan mata, aku pun mulai menjulurkan tangan ke arah
makanan.
"...Enak
banget."
Maksudku, dari
tampilannya saja sudah jelas nggak mungkin nggak enak, tapi rasanya benar-benar
jauh melampaui ekspektasiku.
"Ini sih sudah level restoran bintang lima..."
Aku sendiri punya rasa percaya diri soal kemampuan memasak,
tapi hidangan yang berjejer di sini punya kualitas yang levelnya beda jauh.
Chocolat menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan
wajah yang berseri-seri.
"Aku senang
sekali kalau Kanade-san menyukainya."
"Ugh..."
Entah kenapa aku
jadi merasa sangat malu. Untuk menutupinya, aku pun mengajak Chocolat makan.
"Ch-Chocolat,
kamu juga makan dong."
"Tidak, aku
akan memakan sisanya setelah Kanade-san merasa puas."
...Aku
nyaris nggak percaya dengan pendengaranku sendiri.
Mau
ingatannya sudah kembali atau apa, tapi si 'Iblis Rakus' itu bisa-bisanya
ngomong begitu...
"N-Nggak,
aku nggak suka gaya kayak gitu. Ayo makan bareng."
"Baiklah,
jika itu keinginan Kanade-san."
Chocolat
mengambil porsi kecil untuk setiap hidangan ke piringnya, lalu mulai makan.
Gerakannya sangat
elegan. Sama sekali tidak mirip dengan cara makannya yang dulu, yang lebih
cocok diberi efek suara hap-hap-nyam-nyam.
Saking anggunnya,
aku sampai terpana memperhatikannya.
Menyadari hal
itu, Chocolat menghentikan gerakannya dan membuka mulutnya dengan ekspresi
sungkan.
"Kanade-san...
anu, kalau dilihatin terus saat makan seperti itu, aku jadi malu..."
"S-Sori."
Aku buru-buru
memalingkan wajah dan menyuapkan makanan ke mulutku.
"..."
"..."
Aku dan Chocolat
terus makan dalam diam... Duh, suasana apa sih ini?!
"K-Kita
nyalain TV aja, ya?"
Karena sudah
tidak tahan dengan keheningan ini, aku meraih remot TV.
『Nn... emm... ah...』
Layar TV langsung
menampilkan adegan ciuman yang sangat intens. Pasangan pria dan wanita yang
berpelukan panas itu pun langsung ambruk ke atas ranjang.
"Woi, woi!
Kenapa jam tujuh malam mutar ginian—Ugh!"
Baru saja mau
ganti saluran, mataku malah bertatapan dengan Chocolat yang sedang menatapku
lekat-lekat. Pipinya merona merah tipis.
"A-Ah,
ma-maafkan aku. Padahal tadi aku bilang jangan melihatku, tapi aku
malah..."
"N-Nggak,
nggak apa-apa kok..."
"..."
"..."
Kami berdua
langsung memalingkan wajah dan kembali terdiam... SERIUS, SUASANA MACAM APA
INI?!
◆◇◆
"Terima
kasih atas makanannya."
Hanya beberapa
menit kemudian, Chocolat menyatakan selesai makan.
"Eh, cuma
segitu?"
"Iya, ini
sudah cukup."
Makanan di atas
meja hampir tidak berkurang. Dia cuma mencicipi sedikit saja. Serius, nih? Tapi
kalau dipikir-pikir, meski nggak dibandingkan dengan Chocolat yang dulu, porsi
ini rasanya terlalu sedikit buat ukuran cewek normal.
"Anu, kamu
nggak perlu sungkan lho."
"Terima
kasih atas perhatiannya. Tapi kami, para abdi Tuhan, memiliki efisiensi energi
yang sangat tinggi, jadi tidak terlalu perlu menyerap nutrisi dari
makanan."
"...Hah?"
"Kegiatan
makan itu sendiri memang menyenangkan, makanya di sekolah aku ikut makan bekal
bersama teman-teman perempuan. Tapi dari sudut pandang bertahan hidup, makan
porsi segini setiap beberapa hari sekali pun sudah cukup. Jadi, aku sudah
kenyang."
"..."
"Anu...
Kanade-san, ada apa?"
Mendengar fakta
yang mengejutkan itu, aku hanya bisa menatap perut Chocolat dalam diam.
Kalau omongannya
barusan benar, lalu tumpukan makanan raksasa yang lenyap ke dalam sana sampai
kemarin itu sebenarnya buat apa?!
Seolah menyadari
keraguanku, Chocolat menempelkan kedua tangan ke pipinya yang memerah padam.
"Itu...
mohon maafkan aku. Sampai kemarin, aku seperti kehilangan akal. Sebagai seorang
gadis, sangat memalukan bagiku bersikap serakah seperti itu..."
"Ya, soal itu sih sudahlah. Tapi kalau kamu nggak makan
lagi, berarti..."
Di atas meja masih tersisa makanan yang kalau
dihitung-hitung, setidaknya masih cukup buat lima orang. Kupikir tadi dia
memasak sebanyak ini karena memperhitungkan porsi makannya sendiri.
"Ini semua... buat bagianku?"
"Maaf, terlalu banyak ya...?"
Chocolat menunduk lesu.
"Anu, ada beberapa yang bisa disimpan, atau kalau perlu
dibuang saja—"
"Nggak,
bakal kuhabiskan semua."
"Kanade-san..."
Porsi
makanku sebenarnya termasuk kecil untuk ukuran cowok, tapi aku nggak mungkin
menyia-nyiakan makanan yang sudah susah payah dibuatkan seorang gadis untukku.
Aku pun
memantapkan hati dan terus makan.
Ya, emang enak
sih. Rasanya benar-benar kualitas kelas satu, jadi setidaknya itu sebuah
pertolongan.
"...Hm? Ada
apa?"
Beberapa saat
kemudian, aku menyadari ada yang aneh dengan Chocolat. Dia tampak gelisah
seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Itu...
karena kecerobohanku sudah merepotkan Kanade-san, aku ingin membantu Kamu makan."
"Membantu
gimana?"
"Itu...
maksudku..."
Sambil terbata,
dia mengambil sepotong steak dengan sumpit dan mengarahkannya ke depan mulutku.
"...Seperti
ini."
Woi, ini kan
maksudnya...
"...Aaaa~n."
Mendengar
kata-kata yang keluar dengan malu-malu dari mulut Chocolat, pikiranku langsung
membeku.
"N-Nggak,
kalau ini sih agak..."
Saat aku refleks
memundurkan tubuh, mata Chocolat mulai berkaca-kaca.
"...Apakah
aku merepotkan?"
"Ugh..."
...Ekspresi itu
sih curang banget.
"O-Oke, aku
mau..."
Seketika,
Chocolat mengangguk gembira.
"Iya,
aaaa~n."
Dengan perasaan
campur aduk, aku pun melahap steak yang disodorkan.
"Yup...
enak."
Setelah
mengunyah perlahan, aku memberikan komentar jujur.
Tapi
entah kenapa, Chocolat malah memalingkan wajahnya.
"Kenapa?"
"Itu...
ternyata... lebih memalukan dari yang kubayangkan."
...Apa-apaan sih.
"O-Oh, gitu
ya. Kalau malu ya mau gimana lagi."
"Maaf,
sepertinya... aku tidak bisa lebih dari ini..."
"G-Gak
apa-apa, sisanya biar kumakan sendiri."
"I-Iya..."
"..."
"..."
SERIUS, SUASANA
INI KENAPA SIH?!
Di tengah
keheningan canggung yang entah sudah keberapa kalinya hari ini, aku terus
menggerakkan sumpitku dalam diam.
◆◇◆
"Ugh,
kenyang..."
Sekitar satu jam
kemudian, aku berhasil menghabiskan semua hidangan.
"Te-Terima
kasih makanannya."
"Sama-sama,
maaf atas hidangan yang sederhana ini."
Setelah tersenyum
senang, Chocolat membungkuk dengan sopan.
"Tapi
beneran, ini enak banget tanpa basa-basi... Nah, kalau begitu."
Aku
berdiri sambil mengelus perutku yang buncit.
"Kanade-san, mau ke mana?"
"Ya mau
nyuci piringlah."
"Biarkan aku
saja yang melakukannya, silakan Kamu bersantai saja."
"Eh, jangan
gitu. Kamu kan sudah masak, setidaknya bagian ini biar aku saja."
"Tidak, aku
ini menumpang di sini, jadi biarkan aku melakukannya."
Sebagai orang
yang sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga setiap hari, aku merasa nggak
tenang kalau nggak ngapa-ngapa-in. Tapi Chocolat sepertinya nggak mau mengalah.
"Yah, kalau
kamu maksa gitu, ya sudah kutitip ya... Terus, aku ngapain nih?"
"Ah,
bagaimana kalau Kamu mandi saja? Tadi aku sudah membersihkan kamar mandi dan
menyalakan pemanas airnya, jadi kurasa sekarang sudah panas."
Ternyata saat aku
sedang makan tadi, dia sempat pergi buat nyiapin itu semua?
"Aku juga
akan segera menyiapkan pakaian gantinya, ya."
"Eh, nggak
perlu sampai segitu juga—"
Aku mencoba
menghentikannya, tapi dia sudah lari terbirit-birit.
Beberapa menit
kemudian, Chocolat kembali dan menyerahkan satu set handuk serta pakaian ganti
dengan senyuman manis.
"Ini,
silakan."
"A-Ah,
makasih..."
Aku benar-benar
bingung menghadapi pelayanannya yang terlalu sempurna ini.
"Kanade-san,
ada apa?"
"Ah,
nggak... bukan apa-apa."
Melihatku yang
masih berdiri di sana tanpa segera menuju kamar mandi, Chocolat sepertinya
salah paham.
"Kanade-san...
anu... boleh beri aku waktu sebentar untuk menyiapkan hati?"
"Hah?"
"Tatapanku
itu... maksudnya 'Ayo masuk bareng dan gosokin badanku', kan?"
"Nggak,
bukan gitu!"
Meski aku
langsung membantah, Chocolat yang sudah masuk ke mode khayalan aneh itu tidak
mendengarkanku.
"Itu...
kalau bagian punggung aku akan berusaha... tapi karena aku malu melihatnya,
tolong maafkan aku kalau tidak bisa bagian pantat..."
"Dibilang
bukan gitu juga! Aku nggak kepikiran minta digosokin pantat!"
"Ugh...
kalau bagian depan, mau berusaha gimanapun tetap mustahil..."
"INI KOMIK
EROCHI APA GIMANA?!"
Aku pun langsung
kabur ke kamar mandi, meninggalkan Chocolat yang masih merona sendirian.
◆◇◆
"Kanade-san,
bagaimana suhu airnya?"
Setelah keluar
dari kamar mandi, aku kembali ke ruang tamu sambil mengeringkan rambut dengan
handuk. Chocolat yang sepertinya baru saja selesai mencuci piring menyambutku
dengan memakai celemek.
"Ah, pas
kok."
"Begitu ya,
syukurlah."
Senyuman anggun itu... Padahal aku sudah melihatnya
berkali-kali hari ini, tapi rasa janggalnya nggak hilang-hilang juga.
"Chocolat,
bisa sini sebentar?"
"Ya, ada
apa?"
Kalau aku cuma
terus-terusan dipermainkan oleh situasi yang berubah ini, masalah nggak akan
selesai. Aku harus bicara serius dengan Chocolat.
Aku memintanya
duduk di sofa, menyiapkan jus untuk kami berdua dari kulkas, lalu duduk di
hadapannya.
"Hari ini
aku terlalu kaget sampai nggak sempat bicara beneran, tapi aku ingin memastikan
keadaanmu yang sekarang dengan jelas."
"...Benar
juga. Aku pun terlalu fokus ingin mengabdi pada Kanade-san sampai lupa
memberikan penjelasan detail."
Setelah pembukaan
itu, Chocolat mulai menceritakan tentang dirinya.
"Kami, para
abdi Tuhan, sesuai namanya, ada untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh
Tuhan—"
Berdasarkan apa
yang diceritakan Chocolat, dikombinasikan dengan informasi yang kudapat dari
Dewa Alay dan yang lainnya, urutan kejadiannya kira-kira seperti ini:
1.
Chocolat (Versi Waras),
hari-harinya sibuk mengerjakan tugas di bawah perintah Tuhan.
2.
Suatu ketika, dia hilang ingatan. Dia tidak ingat
bagaimana prosesnya. Bersamaan dengan itu, kepribadiannya entah kenapa berubah
menjadi Versi Ponkotsu (bebal).
3.
Menghabiskan hari-hari
dengan malas-malasan dan hanya bermain.
4.
Chocolat menerima surat perintah dari Tuhan.
Isinya: Pergilah ke tempat Tuan A. Magusa Ganadul (seorang pria di dunia lain
yang tidak ada hubungannya denganku, tapi sialnya punya nama alias Amakusa
Kanade). Kemungkinan di saat yang sama, abdi yang teladan dikirim ke tempatku.
5.
Tuhan dimaki 'Dasar kucing garong!' dan
mengurung diri karena hamil.
6.
Dewa Alay menjabat sebagai pengganti Tuhan
yang mengurung diri.
7.
Chocolat dan si abdi teladan dikirim ke dunia
masing-masing, tapi karena suatu kesalahan mereka tertukar, sehingga Chocolat
datang kepadaku.
8.
Hari-hari busuk Chocolat si pengangguran neet
dimulai.
9.
Tadi pagi, ingatannya kembali. (Kondisi sekarang).
Ada beberapa hal yang mengganjal, seperti penyebab Chocolat
hilang ingatan atau kenapa bisa terjadi tertukar. Tapi penyebab utama yang
membuat segalanya makin rumit adalah Tuhan yang sedang mengurung diri itu.
Gara-gara dia mengurung diri dengan alasan mirip sinetron
siang hari, aku jadi sama sekali nggak tahu situasinya dan cuma bisa
menjalankan misi sesuai perintah—Eh, tunggu.
Kalau tidak salah, menurut Dewa Alay, bahkan Tuhan yang
mengurung diri itu pun tidak tahu detail soal kutukan ini, seolah-olah dia cuma
disuruh oleh seseorang.
Kemungkinan 'Seseorang' itulah pelaku utama yang mengirimkan
Absolute Choice ke dalam otakku dan menyuruhku melakukan misi-misi nggak
jelas itu.
Artinya, ada 'Tuhan Ketiga' yang tidak kuketahui
keberadaannya.
Lagipula dari cerita tadi, sepertinya Chocolat cuma mengenal
Tuhan yang sedang mengurung diri itu, jadi informasi soal 'Tuhan Ketiga' ini
tidak bisa diharapkan darinya.
"Anu... Kanade-san."
Suara Chocolat yang terdengar ragu menarikku kembali dari
lamunan.
"A-Ah, iya, ada apa?"
"Meski aku hanya bisa mengurus keperluan Kanade-san...
bolehkah aku tetap berada di sisi Kamu?"
Dia menatapku dari bawah dengan ekspresi cemas. Sepertinya
dia merasa bersalah karena tidak bisa memberikan informasi yang berguna bagiku.
"Seperti
yang kukatakan di kelas, mulai sekarang aku akan berusaha sekuat tenaga untuk
menebus kegagalanku selama ini."
"Nggak usah
sampai segitunya juga nggak apa-apa kok. Aku juga nggak bakal nyuruh kamu pergi
sekarang."
"Be-Benarkah?!"
Begitu
mendengar kata-kataku, ekspresi mendung Chocolat langsung berubah menjadi
senyuman secerah bunga yang mekar.
"Kamu
sesenang itu?"
"Iya,
karena mengabdi pada Kanade-san adalah kebahagiaanku."
Meski
sifatnya berubah, sikapnya padaku tetap tak tergoyahkan, ya.
Tapi, bukankah
ini terasa terlalu tidak alami? Saat dia masih dalam mode bego, aku nggak
terlalu memikirkannya. Tapi saat Chocolat yang versi serius ini menunjukkan
rasa suka tanpa alasan yang jelas, pertanyaan 'Kenapa?' malah lebih dulu muncul
di benakku.
Saat aku sedang
berpikir keras, Chocolat tiba-tiba berdiri.
"Kanade-san,
bolehkah aku duduk di sebelah Kamu?"
"Eh, ya
nggak apa-apa sih."
Begitu
aku menjawab, dia berjalan mendekat dengan tenang dan duduk tepat di sampingku.
"Permisi."
"A-Ah,
ya..."
Begitu
Chocolat duduk di sampingku, entah kenapa aku jadi merasa sangat tegang...
Maksudku, tadi aku memang bilang nggak apa-apa, tapi ini bukannya terlalu
dekat?
Lihat
saja, lengan dan paha kami benar-benar bersentuhan...
Chocolat
sendiri, padahal dia yang menempel seperti ini, malah tampak sedikit malu.
Alhasil,
kami berdua kembali terdiam.
"..."
"..."
SERIUS, SUDAH
BERAPA KALI SIH KEADAAN KAYAK GINI?! Seseorang, tolong lakuin sesuatu
buat suasana canggung ini...!
"...Anu,
Kanade-san, mungkin ini akan merepotkan, tapi maukah Kamu mendengarku?"
Beberapa detik
kemudian, Chocolat membuka mulutnya dengan ragu. Selama bisa keluar dari
situasi canggung ini, topik apa pun nggak masalah sekarang.
"Ada
apa?"
"Aku
menyukaimu."
"Pfffttt!"
Aku
refleks menyemburkan jus yang sedang kuminum.
"Aduh,
gawat."
Chocolat
sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda jijik dan mencoba mengusap tetesan
jus di sekitar mulutku dengan jarinya.
"N-Nggak,
aku bisa sendiri! Bukan itu
masalahnya... tadi, kamu bilang apa?"
"Aduh, kalau
disuruh mengulanginya aku jadi malu,
tapi....................................... Aku menyukaimu."
"Me-Menyukai
itu, maksudmu..."
Memang sih dia
sudah mengatakannya berkali-kali sebelumnya, tapi saat kata-kata itu keluar
langsung dari mulut Chocolat versi ini, daya hancurnya benar-benar beda level!
"Itu...
bagaimana perasaan Kanade-san... terhadapku?"
"Ugh..."
Chocolat
mendekatkan wajahnya sambil menatapku dari bawah.
"N-Nggak,
kalau ditanya mendadak gitu ya... eh, ada apa?"
Tepat saat aku
refleks memundurkan tubuh, kondisi Chocolat berubah drastis.
"Kanade-san... apa Kamu ingin menghilangkan Absolute
Choice?"
Seketika, cahaya redup dari matanya, berubah menjadi tatapan
kosong yang hampa.
"Hah? Ya itu
sih sudah pasti, tapi kenapa tiba-tiba—"
"Kalau
begitu, patuhlah padaku."
"Kamu
ngomong apa sih tiba-tiba... Waaah!"
Tiba-tiba kedua
bahuku dicengkeram, dan aku didorong hingga telentang di atas sofa.
"Chocolat...
apa-apaan ini...!"
Pikiranku nggak
bisa mengejar perkembangan yang mendadak ini. Saat aku mencoba meronta, tenaga
Chocolat ternyata sangat kuat sampai aku tidak bisa melawan.
Chocolat duduk
menindihku yang sedang telentang, lalu memberikan tatapan yang tetap hampa.
"...Maukah Kamu
menciumku?"
"Hah...?"
Bahkan sebelum
aku sempat merasa terkejut, dia sudah mendekatkan wajahnya.
"Ugh..."
Dilihat dari
dekat, wajahnya benar-benar cantik yang nggak masuk akal. Ditambah lagi,
wajahnya yang mulai memanas menciptakan ketidakseimbangan dengan ekspresi hampa
itu, memberikan kesan seksi yang aneh.
Mungkin Chocolat
yang sekarang tidak akan menolak apa pun yang kulakukan padanya. Mau menciumnya
seperti keinginannya... atau bahkan lanjut ke tahap yang lebih jauh sekalipun.
Imajinasi itu
memancarkan daya tarik yang sulit dilawan.
Tapi... ini nggak
benar.
Seolah sudah
tidak sabar, Chocolat mendekatkan bibirnya sampai hampir bersentuhan.
"Kalau
Kanade-san tidak mau melakukannya, maka biar aku saja yang—"
"TUNGGU
SEBENTAR!"
"Kyaa!"
Dengan segenap
tenaga, aku mencoba bangkit. Chocolat yang tadinya menindihku pun terguling
jatuh dari sofa.
"Hah...
hah..."
Sial... aku nggak
bermaksud menolaknya sekeras itu, tapi kalau dibiarkan tadi, bibir kami pasti
sudah bersentuhan.
Aku berdiri lebih
dulu, lalu menjulurkan tangan ke arah Chocolat.
"Ka-Kamu
nggak apa-apa, Choco—"
Saat dia
bangkit, Chocolat langsung memelukku dengan erat.
"Uwoh!"
Tenaganya
masih tetap luar biasa kuat, aku sampai tidak bisa menyeimbangkan diri dan
terdorong ke belakang.
"Aduh!"
Punggungku
menabrak lemari piring dengan keras.
Chocolat
melepaskan tangannya dari leherku dan menekan kedua bahuku ke lemari piring.
"Ayo... berciuman. Apa Kamu... tidak mau menghapus Absolute
Choice?"
Ciuman bisa menghapus Absolute Choice? Apa maksudnya? Nggak, sekarang bukan waktunya
memikirkan itu!
"Ch-Chocolat, pokoknya tenang dulu!"
Aneh... Chocolat yang ini benar-benar aneh bagaimanapun aku
memikirkannya. Apa sebenarnya yang terjadi?!
"Apa berciuman denganku... sebegitu tidak maunya?"
Nggak bisa, matanya masih hampa, dia nggak bisa diajak
bicara.
"Kanade-san..."
Chocolat kembali mendekatkan bibirnya. Gawat. Kedua bahuku
terkunci sepenuhnya, aku nggak bisa lepas dari kunciannya.
"HENTIKAN!"
Tepat saat aku berteriak dan bagian belakang kepalaku
terbentur keras ke lemari piring—
"Ugh!"
Sesuatu jatuh dari atas lemari dan menghantam telak bagian
atas kepala Chocolat.
"Uuuh..."
Sepertinya hantamannya cukup telak, dia limbung dan langsung
jatuh terduduk.
Aku memeriksa benda yang jatuh ke lantai.
Ini... kaleng biskuit, ya?
Di sampingnya, Chocolat berdiri sambil memegangi kepalanya.
Sial... gimana nih. Kalau nggak ngelakuin sesuatu, hal yang
sama bakal terulang lagi. Sambil waspada, aku mundur untuk menjaga jarak dengan
Chocolat.
Namun, Chocolat yang sudah berdiri itu malah menatapku
dengan wajah cengo.
"Hoe?"
3
Keesokan
paginya.
"Ham...
ham-ham... ham-ham-ham!"
Berkurang.
Sarapan yang berjejer di atas meja itu berkurang dalam sekejap mata.
"Hei, Choco—"
"Ada aphah, Kanare-fan?"
Saat mendongak, pipi Chocolat sudah menggembung seperti
tupai.
"Nggak... habisin dulu saja baru ngomong..."
"? Kharo
kithu fhayah fhuruti."
Setelah
mengeluarkan kata-kata misterius itu, dia kembali fokus pada makanannya.
Aku hanya bisa
memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Beberapa menit
kemudian, setelah menghabiskan separuh porsinya dan tampaknya sudah mencapai
titik tenang, Chocolat menyeka mulutnya dengan puas.
"Fuhaaa~
kenyangnya. Rasanya aku seperti tidak makan selama setahun!"
"...Itu
jelas cuma perasaanmu saja, jadi tenanglah."
Kembali... Setelah kepalanya terhantam kaleng biskuit tadi
malam, Chocolat telah kembali normal sepenuhnya.
"Kalau makan yang enak-enak sejak pagi, rasanya jadi hoko-hoko
banget~"
Melihatnya melontarkan kesan yang sangat abstrak sambil
kembali melahap makanan dengan rakus, sama sekali tidak tersisa sisa-sisa
keanggunan dari sosoknya yang kemarin... Tentu saja, termasuk kejadian 'liar'
di akhir malam itu.
"Kanade-san,
kenapa mukamu ditekuk gitu? Ada apa?"
"Ah, nggak
apa-apa... Tapi kamu itu, apa nggak kebanyakan makannya?"
Jumlah lauknya
memang seperti biasa (meski bagi orang normal itu porsinya tiga kali lipat),
tapi jumlah dia nambah nasi sudah memecahkan rekor tertingginya sebanyak dua
mangkuk.
"Fufu, tidak
juga kok."
Chocolat
menghentikan sumpitnya sejenak, lalu berjalan mendekat ke arahku. Dan entah
kenapa, dengan wajah bangga, dia membusungkan perutnya.
Kruyuuuuuuukkkk.
"Kira-kira
begini rasanya."
"Perut macam
apa itu?!"
Mustahil... Padahal kemarin dia bilang makan sedikit saja
sudah kenyang... Apa ukuran lambung bisa berubah-ubah tergantung ingatan yang
ada?
"...Anu,
soal kejadian kemarin, kamu benar-benar tidak ingat?"
"Kemarin
ya... Aku ingat waktu bangun tidur kepalaku terasa agak kosong, tapi setelah
itu apa terjadi sesuatu?"
Sepertinya
dia tidak sedang berpura-pura... Yah, tidak mungkin juga kalau itu dia yang
sekarang.
"...Ya
sudahlah kalau gitu."
Meski
banyak hal yang mengganjal di pikiran—
"Ham...
ham..."
Melihat
wajahnya yang makan dengan begitu lahap, semua kejadian kemarin rasanya jadi
tidak penting lagi.
"Hm? Apa ada
sesuatu di wajahku?"
"...Yah,
butiran nasi banyak nempel di sana."
"Oho, sayang
sekali kalau dibuang."
Chocolat memungut
butiran nasi itu satu per satu dengan jarinya lalu memasukkannya ke mulut.
Sebagai seorang gadis, tindakannya ini agak gimana gitu, tapi dia sendiri tidak
peduli sama sekali. Beda jauh dengan kemarin yang sampai merasa malu hanya
karena dilihat saat makan. Setelah itu, dia kembali melahap nasi putih dengan
kecepatan luar biasa.
Beberapa menit
kemudian.
"Terima
kasih atas makanannya!"
"Gila,
sampai nambah lima mangkuk..."
Stok nasi beku
yang sudah kusiapkan dalam jumlah banyak pun ludes tak bersisa... Di saat aku
sedang terbengong-bengong, Chocolat berdiri dengan penuh semangat dari
kursinya, dan saat itu juga—
Gubrak.
"Ah..."
Sesuatu terjatuh
dari balik punggung piyamanya ke atas kursi, dan Chocolat buru-buru memungutnya
dengan panik.
"Kamu...
itu..."
"N-Nggak ada
apa-apa kok!"
Matanya
jelas-jelas bergerak gelisah ke sana kemari.
"Sini,
perlihatkan padaku."
Kalau mataku
tidak salah lihat, itu adalah...
"Ah,
Kanade-san, jangan kejam begitu!"
"Sudah,
sini!"
Aku merebut benda
yang berusaha dia sembunyikan kembali di balik punggungnya itu dengan paksa.
"Tebakanku
benar..."
Itu adalah kotak yokan
(jeli kacang merah) mewah dari Toko Toranekoya.
"Cuma sisa
satu... ya."
Kotak yang
seharusnya berisi dua batang itu kini tinggal separuh.
"...Bukankah
aku sudah bilang jangan makan yang ini?"
Ini adalah barang
simpanan istimewa untuk tamu penting.
"E-Entahlah,
aku kan tidak punya ingatan tentang kemarin, jadi aku tidak tahu."
"Aku ngomong
gitu bukan kemarin, kan?"
"Anu...
itu... ingatanku sedang kacau, jadi aku tidak ingat jelas..."
Jarang-jarang
ada orang yang sebodoh ini dalam berbohong... Padahal aku sudah merasa tidak
cukup hanya dengan melarangnya, makanya aku sampai memindahkan tempat
penyimpanannya. Gimana caranya dia bisa menemukannya?
"Chocolat...
aku nggak bakal marah, jadi jujurlah."
"Be-Benarkah?!"
"Iya."
Begitu
matanya berbinar, itu sudah sama saja dengan pengakuan dosa, tapi aku sengaja
tidak memotongnya dan menunggu reaksinya.
"Sebenarnya
begini. Saat Kanade-san sedang memasak sarapan, tiba-tiba tercium aroma lain
yang manis dan sangat enak..."
Dia bisa
mencium aroma yokan yang terbungkus rapi di laci paling dalam?! Hidung
macam apa yang dia punya?!
"Lalu
saat aku membuka laci, aku menemukan yokan itu."
"...Terus?"
Aku menatapnya
dengan tajam.
"...Lalu
pelan-pelan aku mengembalikannya ke tempat semula."
...Oho, padahal
bukti nyata ada di depan mata, dia masih mau mengelak?
"Begitu ya,
aku mengerti. Lalu bagaimana kamu menjelaskan kenapa benda itu bisa ada di
balik piyamamu?"
"...I-Itu,
setelah itu punggungku tiba-tiba terasa gatal sekali... j-jadi karena aku salah
mengira itu alat penggaruk punggung, aku memasukkannya ke sana."
"...Ooooh,
gitu ya. Kalau salah sangka sama alat penggaruk punggung sih apa boleh buat,
ya. Tapi, kok bisa isinya berkurang satu? Aneh banget ya."
"Ugh...
i-itu... i-iya! Itu karena b-bakteri! Ada bakteri dalam jumlah besar yang
muncul lalu menguraikannya!"
"Oalah,
bakteri ya. Hebat banget ada bakteri yang bisa menguraikan yokan beserta
bungkusnya cuma dalam hitungan menit. Aku baru tahu lho. Wah, wah, Chocolat
pintar sekali ya."
"Ehehe~"
Dia
beneran senang dipuji... Dasar bodoh, baru kali ini aku melihat orang
sepertinya.
"Ngomong-ngomong Chocolat, aku mau ganti topik. Rasa yokan-nya gimana?"
"Enak
banget!"
"TUHKAN KAMU
MAKAN!"
Aku memukul meja
dengan keras.
"Hah...
i-ini penipuan! Aku dijebak dengan tipu daya yang kejam!"
Entah kenapa dia
malah berlagak jadi korban. Karena merasa kesal, aku mencubit pipinya dan
menarik-nariknya.
"Mulut ini
ya yang sudah makan milik orang lain tanpa izin, terus malah bohong lagi?"
"Afis
fhiratnya ekhak fhanget sih."
"Apa kamu
bakal melahap apa pun yang kelihatan enak?"
"Iyah."
Jadi gitu, ya...
"Sarafmu
kuat juga ya ternyata."
"Ehehe~"
"ITU BUKAN
PUJIAN! Otakmu isinya apaan sih?!"
Aku melepaskan
pipinya dan kembali menatapnya tajam.
"Maafkan
aku..."
Chocolat
tertunduk lesu.
Duh, rakus banget
sih dia... Tiba-tiba aku terpikir untuk mengonfirmasi perkataan Chocolat versi
kemarin.
"Anu,
bukannya abdi Tuhan itu efisiensi energinya bagus, jadi nggak makan pun nggak
masalah?"
"? Aku nggak
ngerti Kanade-san ngomong apa."
Harusnya sih
ngerti...
"Aku dengar
dari mulutmu sendiri kalau kamu bisa hidup meski cuma makan sekali dalam
beberapa hari..."
"Ah, soal
itu ya. Kalau cuma buat bertahan hidup sih memang nggak makan nggak masalah,
tapi kan perut tetap terasa lapar."
"Tapi
kemarin kamu makan sedikit saja sudah kenyang."
"Lain padang
lain belalang, lain hari lain perut!"
"Nggak
nyambung! Itu kan urusan perutmu sendiri!"
"Lagipula
Kanade-san, alasan kenapa aku makan banyak itu..."
Tanpa peduli
dengan omelanku, Chocolat melanjutkan bicaranya dengan santai. Dia berbalik
menatapku dan tersenyum lembut.
"Karena
makan sesuatu yang enak itu bikin perasaan jadi bahagia!"
"Ugh..."
Senyuman itu,
seperti kata-katanya sendiri, tampak begitu penuh dengan kebahagiaan.
Melihatnya, aku
merasa jadi orang bodoh karena sudah membentaknya tadi.
"...Mungkin
kamu memang lebih baik begini."
Tanpa sadar,
gumaman itu lolos dari mulutku.
Karena
dibandingkan senyuman apa pun yang diperlihatkan Chocolat kemarin, senyum dari
Chocolat yang easy-going ini terasa jauh lebih memikat.
"Lagipula...
aku juga tidak benci melihatmu saat sedang makan."
Aku
membisikkannya pelan agar tidak terdengar olehnya.
◆◇◆
"Nah
Chocolat, ayo berangkat—"
Setelah selesai
berganti pakaian dan merapikan diri, aku kembali ke ruang tamu dan pemandangan
yang tak masuk akal menyambut mataku.
"Ham...
ham..."
"...Omong-omong
Chocolat-kun... apa yang sedang kamu lakukan, ya?"
"Fue?"
Berapa
kali pun aku mengucek mata, pemandangan di depanku tidak berubah. Itu adalah
sosok Chocolat yang sedang melahap satu-satunya batang yokan terakhir.
"Fufu...
ufufu..."
Sambil
mengeluarkan suara tertawa yang bahkan menurutku sendiri terdengar mengerikan,
aku mendekati Chocolat dan memutar-mutar tinjuku di pelipisnya.
"A-Aduh,
sakit!"
Mata
Chocolat mulai berkaca-kaca.
"Nah,
sekarang alasan luar biasa apa lagi yang mau kamu kasih tahu ke aku?"
Ini sudah
tertangkap basah di depan mata. Kali ini, alasan apa pun tidak akan kumaafkan.
Selama satu minggu ke depan, aku akan menghukumnya dengan hukuman potong porsi
makan!
Namun, kata-kata
Chocolat selanjutnya benar-benar membuatku membeku.
"Ha-Habisnya,
Kanade-san sendiri yang bilang kalau aku lebih baik begini tadi!"
...Hah?
"Tadi Kamu mengatakannya
dengan suara pelan!"
"B-Bego...
k-kamu dengar?!"
G-Gumaman
tadi terdengar?! Suhu wajahku langsung naik drastis.
"Terus
setelah itu, Kamu bilang kalau Kamu suka melihatku saat sedang makan."
"Ngh...!"
Y-Yang itu juga
terdengar?!
"Makanya,
aku pikir itu artinya aku boleh makan... Eh, Kanade-san, kok mukanya
merah?"
"B-Berisik!
Cepat berangkat sekolah!"
"Ah,
tunggu sebentar. Sedikit lagi habis—"
"Siniin!
Biar aku yang makan!"
"Aaaa!
Kejamnya! Ini namanya pengepungan logistik!"
Aku merebut yokan
itu dari tangan Chocolat dan langsung memakannya.
"Manis
banget..."
Mungkin karena aku sedang gugup dan indra perasaku jadi kacau, tapi yokan mewah yang seharusnya punya rasa lembut itu hanya terasa seperti gumpalan hitam yang terlalu manis.



Post a Comment