NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (NouCome) Volume 5 Chapter 1

Chapter 1

Magnum, Pose Ero, dan Ciuman Mendalam


1

"Kanade-san. Ini, silakan dinikmati!"

"A-Ah, iya..."

Di hadapanku sekarang, telah tersaji menu sarapan yang masih mengepul hangat.

Isinya terdiri dari sup miso penuh isian yang uapnya membubung tinggi, Buri no Teriyaki dengan permukaan yang berkilau menggoda, Buta no Shogayaki yang aromanya benar-benar membangkitkan selera, hingga salad khas Jepang yang penuh warna dan memanjakan mata.

Ini benar-benar hidangan yang dibuat dengan niat luar biasa.

Dan, yang memasak semua ini bukanlah aku. Saat aku bangun di jam seperti biasanya dan turun ke ruang tengah, semuanya sudah tertata rapi di atas meja.

Saat ini, yang tinggal di kediaman Amakusa hanya ada dua orang... yang artinya, jawabannya sudah jelas, kan—

"Aku tanya sekali lagi ya... ini benar-benar kamu yang buat?"

"Iya, benar sekali!"

Chocolat mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya. Seingatku, kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya.

Saat itu, kepala Chocolat terbentur dan dia tiba-tiba berubah drastis, menjadi sosok lain yang mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna.

Tapi, situasinya berbeda dengan saat itu. Chocolat yang sekarang masih tetap Chocolat yang santai dan planga-plongo seperti biasanya.

Chocolat yang itu—si NEET busuk yang kerjanya cuma berguling-guling, makan, lalu tidur—si Chocolat yang cuma tahu cara konsumsi dan jauh dari kata produktif—kini bisa membuat sarapan semewah ini? Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku.

Mari kita rapikan situasinya sebentar.

Awal mulanya adalah acara kencan buta kostum (cosplay konpa) tadi malam. Sejak bagian akhir acara itu, tingkah Chocolat mulai aneh.

Tiba-tiba saja dia bilang, "Tolong sukai aku sebagai seorang gadis," dan setelah pulang ke rumah pun, dia jadi jauh lebih menempel padaku daripada biasanya.

Lalu, kalimat yang keluar dari mulutnya soal "Cara agar aku bisa melepaskan Absolute Choice"... itu benar-benar sulit dipercaya... atau lebih tepatnya, sulit dimengerti.

Aku ingin menanyakan detail situasinya lebih lanjut, tapi penjelasan Chocolat tidak begitu jelas. Karena hari sudah larut, aku memutuskan untuk menunda sesi tanya jawab sampai besok dan langsung tidur.

Lalu begitu bangun pagi dan masuk ke ruang tengah, sarapan ini sudah jadi. Begitulah kronologinya.

Sekali lagi aku menatap tajam meja di depanku. Tampilannya mendekati level sempurna, dan aroma yang menguar benar-benar menusuk perutku yang keroncongan dengan hebatnya.

Rasanya aku ingin segera menyantapnya sekarang juga, tapi pertama-tama, aku harus memastikan situasinya dulu.

"Chocolat, coba duduk sebentar."

"Baik!"

Chocolat yang masih memakai celemek menjawab dengan penuh semangat.

"...Woi, kamu duduk di mana itu?"

"Di atas pangkuan Kanade-san!"

"...Bukan, bukan itu maksud pertanyaanku—"

"Ah, kalau di sini sepertinya lebih nyaman!"




Chocolat, yang memotong perkataanku, langsung berputar di atas pangkuanku dan berakhir dalam posisi memelukku erat.

"Ehe-he."

Dia menggesek-gesekkan wajahnya ke dadaku. Apa-apaan ini, baunya wangi ban—TUNGGU, BUKAN ITU MASALAHNYA!

"……Chocolat, duduk di sana."

"Eeeh, tidak boleh di sini?"

Chocolat menatapku dengan pandangan memelas (uwamezukai).

Ugh……

"……TIDAK BOLEH."

Hampir saja aku luluh, tapi dengan sisa-isa akal sehat yang ada, aku memaksanya pindah ke sisi lain meja.

"Sayang sekali……"

Chocolat duduk di kursinya dengan tampang lesu. Untuk menenangkan diri, aku berdehem sedikit sebelum masuk ke topik utama.

"Ehem…… Pertama-tama. Kamu beneran sudah ingat semuanya?"

Menurut pengakuannya kemarin, acara kencan buta kostum itu menjadi pemicu kembalinya sebagian ingatannya yang hilang, tapi……

"Iya! Bagian yang penting sudah ingat kok!"

Chocolat membusungkan dadanya dengan penuh percaya diri. Karena kepribadiannya tidak berubah drastis seperti waktu itu, aku masih kurang merasa yakin…… tapi mari kita konfirmasi isinya.

"Kalau begitu, bisa beri tahu sekali lagi cara untuk menghapus 'kutukan'-ku?"

Chocolat menyahut dengan suara lantang sambil tersenyum lebar.

"Siap! Cara agar Kanade-san bisa lepas dari 'kutukan' adalah dengan 'Jatuh Cinta pada Seseorang'!"

"……Kenapa begitu?"

"Kurang tahu!"

"Pede banget padahal nggak tahu alasannya……"

"Iya! Biarpun nggak tahu alasannya, syarat itu sudah pasti benar! Aku ingat dengan jelas. Aku datang ke dunia ini untuk membantu Kanade-san supaya bisa menyukai seseorang!"

Benar-benar tidak masuk akal. Apa hubungannya pilihan-pilihan gila yang muncul di otakku dengan urusan asmara?

Lagipula, premis dasarnya adalah aku TIDAK BISA jatuh cinta justru karena Absolute Choice ini. Kalau disuruh jatuh cinta supaya kutukannya hilang, bukankah hubungan sebab-akibatnya terbalik—

"……Eh?"

"Kanade-san, ada apa?"

Apa itu tadi? Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di otakku—

Namun, perasaan aneh yang samar itu menghilang dalam sekejap. Apa ya tadi?…… Sudahlah, daripada memikirkan hal itu, lebih baik aku bertanya pada Chocolat dulu.

"Bukan apa-apa. Oke, katakanlah syarat aku harus jatuh cinta itu benar—OI!…… SEDANG APA KAMU?!"

Entah sejak kapan, Chocolat yang seharusnya duduk di depanku sudah kembali nangkring di atas pangkuanku.

"Karena itu, tolong sukai aku!"

Chocolat mendongakkan wajahnya tepat ke arahku.

"Ugh……"

Gawat, wajah kami hampir bersentuhan.

"Kenapa jadi begini sih……"

Aku memegang kepalanya dan menjauhkan wajah Chocolat secara paksa. Dengan tampang agak tidak puas, Chocolat berdiri dan menatap mataku dalam-dalam.

"Habisnya, kalau Kanade-san suka pada seseorang, kutukannya akan hilang, kan? Bukankah itu sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui?"

"Ya tapi, kenapa harus kamu—"

"Karena aku sangat menyukai Kanade-san!"

Chocolat mengatakannya dengan sangat tegas.

"Biarpun kamu bilang begitu…… apa kamu paham arti dari 'suka'?"

"Iya! Kemarin aku sadar dengan jelas. Sebagai seorang gadis, aku menyukai Kanade-san!"

"Ukh……"

Aku tersentak melihat matanya yang jernih tanpa keraguan sedikit pun. Sebagai seorang gadis, ya…… memang ada hal yang terlintas di pikiranku.

Waktu aku hampir mencium Ouka dan Furano di kencan buta kostum kemarin, Chocolat bilang dia sempat membenciku sebentar. Saat itu aku tidak mengerti maksudnya, tapi kalau melihat situasi sekarang…… mungkinkah itu rasa cemburu?

"…………"

Aku menatap wajah Chocolat sekali lagi. Selama ini aku menganggapnya murni sebagai hewan peliharaan, tapi kalau memikirkannya sebagai 'seorang gadis' yang ada di depanku……

"Kanade-san? Ada apa?"

Chocolat memiringkan kepalanya melihatku terpaku.

"Ti-tidak, bukan apa-apa……"

"Begitu ya. Ah, mendingan kita makan dulu yuk, mumpung sarapannya belum dingin."

"A-ah, iya, benar juga."

Lebih baik aku menenangkan diri dulu.

"Oke, mari makan."

"Iya, silakan!"

Sambil menerima senyum lebar Chocolat, aku menjulurkan tangan. Pertama, sup miso. Aku menikmat aroma miso yang menguar, lalu mencicipinya.

"Ugh……"

Reaksi pertama yang keluar dariku adalah erangan. A-apa-apaan ini……

Aneh…… singkatnya, rasanya aneh banget. Ini bukan di level sampai menyembur atau pingsan seperti di manga. Bukannya tidak bisa dimakan, tapi jelas rasanya TIDAK ENAK. Rasanya aku pernah baca adegan seperti ini di light novel baru-baru ini…… eh, kalau yang itu memang beneran busuk ya rasanya.

"Aku juga mau makan!"

Selagi aku bingung mau berkomentar apa, Chocolat juga mencicipi sup miso itu.

"Lho? Kok nggak enak ya……"

Untungnya, dia sendiri sadar. Padahal tampilannya terlihat lezat dan aromanya pun wangi sup miso kelas atas, tapi kenapa rasanya bisa seaneh ini?

"Kamu bumbuin pakai apa saja tadi?"

Chocolat menjawab sambil meletakkan jari telunjuk di bibir.

"Eeeh, gula, kecap asin, garam, mentega, tobanjan (pasta cabai), selai, minyak zaitun, bumbu sukiyaki, krim kental, lada, jus sayuran aojiru, madu, minyak zaitun lagi, sama Saus Homo!"

"KEBANYAKAN WOI! Minyak zaitun dua kali itu kamu mau jadi Mo*omichi?! Terus barusan aku dengar ada yang aneh di akhir kalimatmu?! Lagian ini nggak pakai miso sama sekali ya?!"

Duh, terlalu banyak yang harus dikritik. Pertama-tama aku harus konfirmasi kata yang paling mengganggu.

"Woi, apa-apaan itu Saus Homo……"

"Ah, maksudku Saus Moho."

"MALAH MAKIN NGGAK NGERTI!"

Tapi saat aku iseng mencarinya di Google lewat ponsel, ternyata 'Saus Moho' itu beneran ada…… Ternyata ada, ya. Tapi yang hebat dari sup miso ini adalah, meski sudah dimasuki segala macam benda tadi, rasanya tetap bertahan di level 'aneh-nggak-enak'. Terlebih lagi, tampilan dan aromanya benar-benar seperti sup miso biasa…… Percayakah kalian? Sup ini nggak pakai miso sama sekali.

"Ya-yah, mari coba yang lain."

"Ah, iya benar!"

Dengan rasa waswas yang luar biasa, aku menjulurkan tangan ke arah Buri no Teriyaki.

"Ukh……"

Erangan itu sudah menjelaskan segalanya. Aneh…… lagi-lagi rasanya aneh secara ajaib.

"……Bumbu ikannya kamu kasih apa?"

"Minyak zaitun, minyak zaitun, sama minyak zaitun."

"KENAPA DISEBUT TIGA KALI?!"

Tidak mungkin, kalau cuma minyak zaitun nggak bakal punya rasa seaneh ini. Ikan ini punya warna bakaran yang cantik, minimal pasti ada bumbu lain yang masuk.

"Masih ada lagi yang kamu masukkan, kan?"

Apa ada bumbu aneh lagi yang tidak kuketahui? Seperti Homo-so…… eh, Saus Moho tadi.

"Ah, hebat ya bisa tahu. Aku pakai Geiyu."

"Minyak GAY?! (T/N: Gei dalam bahasa Jepang juga bisa berarti Paus)"

"Iya, minyak dari Tuan Paus, Geiyu (Minyak Paus)."

"Gara-gara alur bicaranya, kedengarannya jadi ambigu tau!"

Tapi minyak paus dan minyak zaitun harusnya nggak bikin warna bakaran seindah ini, pasti ada yang lain…… ah sudahlah, lanjut yang berikutnya.

"Daging Tumis Jahe (Shogayaki), ya……"

Melihat dua hidangan sebelumnya, aku tidak berani berharap rasanya normal—

"Cuma mau tanya…… ini isinya apa?"

Chocolat mengeluarkan botol kecil yang asing dengan wajah ceria.

"Minyak zaitun, sama Ekstrak Ngengat Kecil (Shoga) ini!" (T/N: Permainan kata antara Shoga yang berarti jahe dan Shoga yang berarti ngengat kecil).

"HOEEEKKKK!"

Dan hidangan ini pun tidak mengandung jahe sama sekali…… tapi entah kenapa baunya benar-benar seperti tumis jahe…… Dunia ini penuh dengan misteri.

Dan yang terakhir, Salad Jepang.

"……E-ehem, saus saladnya pakai apa?"

"Minyak zaitun sama Ekstrak Moko*ichi!"

"ITU MAH KAYAK CAIRAN TUBUH ORANG!"

……Kesimpulannya, semuanya aneh. Titik.

"Kenapa ya? Padahal masakan Kanade-san enak banget……"

Chocolat sepertinya sadar diri, dia menundukkan bahunya dengan lesu. Yah, masakan rumah itu masalah jam terbang, bukan cuma bakat. Dulu saat aku mulai memasak, rasanya juga tidak karuan dan tampilannya berantakan.

Mengingat ini hampir pertama kalinya dia memasak, bisa membuat tampilan selevel ini sudah termasuk kategori hebat.

Maksudku, kalau aku disuruh membuat tampilan dan aroma semirip aslinya menggunakan bahan-bahan 'ajaib' tadi, aku pun tidak akan sanggup.

"Yah, dalam satu sisi, menurutku kamu hebat kok……"

Meski begitu, nafsu makanku tidak bertambah. Melihat sumpitku berhenti bergerak, Chocolat mencoba mengambil piring di depanku.

"Biar aku saja yang makan ini."

Aku menahannya dengan tangan.

"Jangan, aku yang akan memakannya."

Meski itu Chocolat, aku tidak bisa menyisakan makanan yang dibuat seorang gadis demi aku.

"Nguuuu……"

Sambil mengerang, aku memaksakan mulutku mengunyah. Sebenarnya rasanya tidak sampai busuk, cuma 'aneh' saja, jadi bukan berarti tidak bisa dimakan. Hanya saja secara mental berat karena bahan-bahannya terlalu ekstrem……

Aku mengunyah masakan yang mengandung Saus Moho, Minyak Paus, Ekstrak Ngengat, dan Ekstrak Moko*ichi itu sedikit demi sedikit.

Dan belasan menit kemudian.

"……Terima kasih makanannya."

A-akhirnya habis juga. Chocolat menatap piring kosong itu dengan senyum lebar yang merekah.

"Terima kasih kembali!"

……Yah, melihat senyuman ini saja sudah membuat perjuanganku makan tadi terasa sepadan.

"Oke, biar aku yang cuci piringnya."

"Ah, jangan! Biar aku saja!"

Tanpa sempat dicegah, dia menumpuk piring kosong ke nampan dan membawanya ke dapur.

"Hum-hum~"

Chocolat yang kembali memakai celemek mulai mencuci piring dengan riang, tapi gerakannya sangat kasar.

"Ah, jangan digosok sekuat itu……"

"Eh, apa?"

"O-oi, cuci piringnya sambil dilihat!"

Dia terus mencuci dengan suara gaduh. Sebuah keajaiban piring-piring itu tidak pecah padahal saling beradu karena tenaga monster Chocolat.

"Lho? Kok kotorannya nggak hilang-hilang ya~"

Chocolat memiringkan kepalanya…… Ya iyalah nggak bakal hilang. Kamu kan cuci piring pakai piring juga.

"Harus tambah sabun cuci lagi."

"Bukan itu masalahnya…… Woi, kebanyakan……"

Gara-gara sabun yang dituang Chocolat dalam jumlah masif, wastafel penuh dengan busa yang meluap-luap. Piring-piringnya sampai tenggelam dan tidak kelihatan.

Chocolat tetap cuek dan mulai mengaduk-ngaduk piring dengan tangan di dalam busa sambil menimbulkan suara gaduh…… K-kenapa piringnya tidak ada yang pecah?!

……Dan beberapa menit kemudian.

"Selesaaiii!"

Meski piring-piringnya selamat, sekali lihat saja masih banyak bagian yang kotor dan sabunnya belum terbilas bersih…… nanti aku cuci ulang saja diam-diam.

"Ah, aku lupa menyalakan mesin cuci."

Biasanya aku menyalakannya di sela waktu bangun tidur dan sarapan, tapi gara-gara syok melihat Chocolat memasak, aku benar-benar lupa. Chocolat mendekat dan berkata dengan bangga.

"Ah, kalau cucian, sudah aku kerjakan sewaktu Kanade-san masih tidur!"

"Sudah dikerjakan…… maksudmu sudah dijemur?"

"Iya!"

Dengan firasat buruk, aku pergi ke balkon bersama Chocolat.

"Ugh……"

Satu kata yang bisa menggambarkannya: 'Berantakan'. Sepertinya dia cuma mengeluarkan baju dari mesin dan langsung menyampirkannya begitu saja ke jemuran.

Padahal ramalan cuaca bilang nanti sore hujan, jadi aku berencana cuma mencuci bahan yang cepat kering dan mengeringkannya dengan mesin……

"Ini sih……"

"A-apa ada yang salah?"

……Melihat tatapan matanya yang cemas itu, aku jadi tidak tega mengomel.

"……Yah, untuk ukuran pertama kali, ini lumayan kok."

"Syukurlah!"

Wajahnya langsung berubah ceria. Nanti aku ambil saja diam-diam agar dia tidak sadar, lalu aku cuci ulang besok.

"Gimana? Aku sudah berusaha keras demi Kanade-san lho."

Chocolat mendongak menatapku dengan tatapan ingin dipuji. Persis seperti anjing yang minta imbalan.

……Uzut.

"Kamu sudah berjuang ya."

Refleks, aku mengusap kepalanya.

"Ehe-he."

Wajah Chocolat langsung berseri-seri.

"Apa Kanade-san jadi suka padaku?"

"……Eh?"

Chocolat langsung menempelkan badannya padaku.

"Aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan sempurna, aku akan jadi istri yang baik lho!"

"Enggak juga……"

Aku kehilangan kata-kata. Abaikan saja bagian 'sempurna'-nya, tapi soal istri…… kamu melangkah kejauhan tahu.

"Ah, ngomong-ngomong, ada satu hal lagi yang sudah aku lakukan."

Chocolat menepuk tangannya seolah baru ingat sesuatu.

"Satu lagi?"

"Iya, selagi Kanade-san tidur, aku menyelinap ke kamar dan merapikan tumpukan buku-buku berwarna kulit (bokep) yang ada di bawah tempat tidur."

"NGAPAIN KAMU LANCANG BANGET SIH?!"

"Aku sudah mengurutkannya sesuai abjad. Tapi, buku yang di urutan pertama berjudul 'Cinta·Ah~n Man', itu pahlawan macam apa?"

"KAMU NGGAK PERLU TAHU!"

Isinya adalah seorang om-om yang memakai full body suit dan dicambuk seluruh tubuhnya oleh seorang ratu sambil mengerang 'Ah~n' terus-menerus…… Kenapa juga aku beli buku kayak gitu?

"Terus yang berikutnya, 'Ahegao Double Peace x 24 ~Namanya AGP48~', itu grup idola apa?"

"SUDAH KUBILANG KAMU NGGAK PERLU TAHU!"

"Terus yang ketiga, 'Buncis of Joytoy: Permainan Sayur──'"

"Bisa nggak sih tolong berhenti?!"

Dengar ya, itu cuma kebetulan saja buku-buku aneh ngumpul di huruf 'A' dan 'B', bukan berarti semua seleraku seaneh itu…… eh, kenapa juga aku malah membela diri?

"Ngomong-ngomong, Kanade-san……"

"A-apa?"

"Kanade-san suka yang seperti itu ya?"

"Yang seperti itu apa maksudnya?"

"Yang dadanya boing-boing."

"BUFT!"

"Secara keseluruhan, banyak yang dadanya besar…… gimana?"

"Ya-yah…… gimana ya, anu……"

Aku bukannya maniak dada tingkat akut, tapi aku tidak benci dada. Sama seperti tidak ada gadis yang benci cowok ganteng, tidak ada cowok yang benci dada.

"Muu……"

Chocolat tampak berpikir melihatku yang tergagap. Dan setelah keheningan singkat,

"Dadaku juga besar lho!"

"BUFTT!!"

"Artinya, Kanade-san yang suka dada besar pasti suka padaku, kan!"

……Logika macam apa itu.

"Chocolat, tenang se-…… WOI!"

Chocolat malah semakin menempelkan badannya. Dadanya sampai tertekan gepeng tuh……

"Aku…… ingin Kanade-san menyukaiku!"

"Tunggu dulu……"

"Kalau aku menempel begini dengan Kanade-san, dadaku jadi berdebar-debar."

"Ukh……"

Hembusan napas hangatnya terasa di leherku.

"STOP! BERHENTI DULU!"

Gawat…… ini gawat. Aku buru-buru menjaga jarak dari Chocolat.

"Aneh. Padahal isi kepala Kanade-san harusnya '99 Persen Nafsu dan 1 Persen Nafsu'."

"ITU MAH SEMUANYA NAFSU! Kamu belajar kata-kata begitu dari mana?!"

"Furano-san yang bilang dulu."

"Si brengsek itu ngomong apa sih!"

"Dan dia menceritakannya ke semua orang."

"Mati saja sana!"

……Yah, kesampingkan soal nafsu, bagi cowok berusia 16 tahun, situasi ini benar-benar buruk bagi kesehatan mental. Berduaan dengan gadis cantik berambut pirang di bawah satu atap…… kalau orang lain yang dengar, pasti mereka bakal bilang 'meledaklah kau'.

"……Hm?"

Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintas di kepalaku. Ada yang aneh nggak sih?

Chocolat secara visual sangat cantik, dan meski kepribadiannya agak menyedihkan di beberapa bagian, itu malah jadi daya tarik tersendiri. Secara objektif, dia adalah gadis yang sangat menarik. Kenyataannya, belakangan ini dia mulai populer di kalangan cowok di sekolah.

Tapi entah kenapa, aku tidak merasakan ketertarikan asmara sedikit pun pada Chocolat.

Tentu saja, kalau dia menempel seperti tadi, secara fisiologis aku akan berdebar atau wajahku memerah, tapi itu rasanya seperti dialami orang lain, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan berkembang menjadi cinta……

Bahkan jika dikurangi faktor sifat 'hewan peliharaan' atau tanggung jawabku menjaga rumah selagi orang tua pergi, rasanya tidak wajar kalau aku sama sekali tidak merasakan daya tarik Chocolat sebagai wanita.

Sampai di titik itu, pertanyaan lain muncul. —Apakah aku tidak merasa tertarik ini cuma kepada Chocolat saja?

Di SMA-ku yang sangat besar ini, ada jajaran gadis cantik yang masuk peringkat 'Ratu', dan banyak gadis menarik lainnya. Apakah aku pernah sekali saja merasa benar-benar ingin berpacaran dengan mereka? ……Tidak pernah.

Tapi itu kan gara-gara Absolute Choice. Mana bisa jatuh cinta kalau di dalam otak dipenuhi hal gila seperti itu……

Lalu, muncul lagi pertanyaan berikutnya. —Lalu, bagaimana sebelum itu?

Kutukan bernama Absolute Choice ini dimulai setahun beberapa bulan yang lalu, tepat sebelum aku masuk SMA. Lalu, bagaimana saat SMP?

Bukannya mau sombong, tapi aku dulu cukup populer. Pengakuan cinta atau surat cinta bukanlah hal yang langka.

Tapi, jawabanku untuk semuanya adalah 'tidak'. Kenapa? Iya, aku ingat. Saat kelas 1 SMP, aku belum paham konsep cinta.

Ada beberapa gadis yang menyatakan cinta padaku, tapi jujur aku tidak mengerti maksudnya, jadi aku tolak.

Saat kelas 3 SMP, tentu saja aku sudah paham hal-hal seperti itu, tapi—aku tetap menolak semuanya.

Kenapa?…… Aku tidak tahu. Kenapa waktu itu aku menolak semua pengakuan cinta mereka? Apakah ada kejadian yang menjadi penyebabnya—

"Akh!"

Tiba-tiba, rasa sakit kepala yang hebat menyerangku. Apa-apaan ini?…… Ini jenis rasa sakit yang berbeda dari biasanya saat aku dipaksa memilih pilihan.

"Kuh……"

Sambil memegang kepala, aku menyandar ke dinding untuk menopang tubuh. Melihat itu, Chocolat bertanya dengan cemas.

"Kanade-san, kamu nggak apa-apa?"

"Iya…… aku baik-baik saja."

Sial…… ada apa ini. Begitu aku mencoba mengingat masa SMP, tiba-tiba—

"GUKKH!!"

Kali ini rasa sakit yang jauh lebih hebat menyerang. A-ada apa ini…… seolah-olah ada sesuatu yang menghalangiku untuk mengingat. Seolah membenarkan pemikiran itu, saat aku berhenti memikirkan masa lalu, rasa sakitnya hilang begitu saja seperti bohong.

……Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaanku itu buyar oleh ucapan Chocolat yang khawatir.

"Anu…… apa mungkin karena terlalu banyak baca buku 'Pukullah Aku Sampai Kepalaku Sakit ~Akhir Pekan Istri Masokis yang Bejat~'?"

"BISA BERHENTI BAHAS ITU NGGAK?!"

Tapi dipikir-pikir, kenapa juga aku punya banyak koleksi bokep yang aneh-aneh begini? Mungkin ini saatnya untuk membuang sebagian—


Pilih:

Melakukan Cosplay 'Cinta·Ah~n Man' lalu mencambuk bokong sendiri seratus kali.

Melakukan Cosplay 'Buncis of Joytoy' lalu memasukkan sayuran berbentuk batang ke bokong sendiri (jenisnya bebas kok )


"Bebas? Baik banget. Gimana ya, burdock kelihatannya sakit, apa pakai daun bawang saja? Eh, tapi itu kayaknya bakal perih, mending mentimun saja kali ya…… TENTU SAJA AKU NGGAK BAKAL MEMILIH!"


Pilih: Tambahan Memasukkan lem stik ke bokong sendiri.


"SIAPA JUGA YANG MAU MILIH!"


2

Keesokan harinya, Selasa pagi setelah libur panjang tiga hari berakhir.

"Ukh…… uuuuh……"

Aku berangkat sekolah sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di bokongku. Hanya dengan mengingat sosok diriku yang melakukan self-spanking tanpa henti saja, rasanya aku ingin menangis saking malunya.

Namun, tanpa memedulikan kondisi mentalku yang hancur lebur, ada satu orang yang wajahnya tampak berseri-seri tanpa dosa.

"Ehe-he~"

Sosok itu menempelkan tubuhnya padaku dengan senyum lebar yang merekah.

"O-oi…… jangan menempel begitu, dong."

"Nggak mau!"

Sifat nempelnya Chocolat ternyata tidak hanya terbatas di dalam rumah, tapi berlanjut sampai kami keluar.

Tatap mata orang-orang di jalan terasa menyakitkan…… Yah, kalau ada yang melakukan hal begini sejak pagi buta, siapa pun pasti bakal menoleh, kan?

Tapi ini sih sudah keterlaluan nempelnya. Bahkan anak SMP yang baru jadian saja pasti bakal lebih tahu diri daripada dia yang terus-menerus mendempetkan tubuhnya padaku.

Selagi aku berpikir bagaimana cara melepaskannya, kami sudah sampai di gerbang sekolah.

"Cepat…… LEPAS!"

Karena masuk ke area sekolah dengan kondisi begini sudah jelas-jelas 'kartu merah', aku memaksanya lepas dengan sedikit kasar.

"Muuu~ jahat."

Chocolat cemberut, tapi tetap mengekor tepat di belakangku. Meski tidak bersentuhan fisik, tapi jaraknya…… dekat banget. Tentu saja, kami jadi pusat perhatian.

"Hah……"

Sambil menghela napas, aku membuka pintu kelas.

"Yo."

Setelah berhasil menjaga jarak dari Chocolat, aku menyapa gerombolan cowok, lalu sebuah suara memanggilku.

"Selamat pagi, Amakusa-kun."

"Ah, pagi Yukihir—bukan…… Furano."

Hampir saja aku memanggilnya Yukihira seperti biasanya, untungnya aku langsung meralatnya di tengah jalan.

Waktu kencan buta kostum kemarin lusa, dia memintaku memanggilnya dengan nama kecil…… Tapi karena selama ini kami tidak pernah begitu, aku memperhatikan reaksinya dengan waswas.

"……"

Syukurlah…… sepertinya leherku tidak akan ditusuk seperti waktu itu.

"Tadi kurang kedengaran, bisa tolong ulangi sekali lagi?"

……Sepertinya aku belum benar-benar lolos dari zona bahaya. Dengan nada ragu, aku memanggil namanya sekali lagi.

"……Furano."

Seketika itu juga, hidung Furano kembang-kempis.

"Tadi kurang kedengaran, bisa tolong ulangi sekali lagi?"

"Woi, kamu pasti dengar, kan! Ngomong begini itu cukup berat tahu!"

Wajah Furano langsung berkedut.

"……Berat?"

"Iya, soalnya malu kalau didengar orang sekitar."

"……Malu?"

Aku merasa urat di pelipisnya mengeluarkan bunyi piki.

"……Tadi aku bilang kurang dengar jadi ulangi lagi, DASAR ●●● BRENGSEK!"

"KEJAM BANGET!"

Lalu, Furano mengeluarkan suara yang sangat kecil sampai hampir hilang.

"Anu…… kalau Amakusa-kun memang tidak suka…… panggil Yukihira juga tidak apa-apa, kok."

Biasanya kalau dia sudah masuk mode suara semut begini, aku tidak akan bisa mendengarnya sama sekali. Tapi kali ini aku berhasil menangkap ucapannya.

"Eh, bukannya aku tidak suka—"

"KALAU BEGITU CEPAT KATAKAN, DASAR ●●● BUSUK!"

"KOK MALAH MAKIN PARAH MAKINAN?!"

Seperti biasa, aku tidak pernah paham jalan pikiran Furano. Tapi untuk saat ini, lebih baik ikuti saja maunya.

"Furano."

Lagi-lagi hidungnya kembang-kempis.

"……Yah, untuk hari ini kumaafkan sampai di sini saja."

Apa-apaan kalimat sok keren ala karakter figuran yang kalah itu? Tiba-tiba, Sato yang sepertinya menguping pembicaraan kami, menghampiri.

"O-oi, kalian…… jangan bilang kalian pacaran?"

"Nggak mungkin, lah,"

"Haha, nggak mungkin banget kan."

Kami membantahnya secara serempak. Tuh, kan, karena kesalahpahaman begini makanya aku malu.

"…………"

"…………"

Setelah keheningan yang tidak jelas maksudnya, tiba-tiba—

"GUEKKH?!"

Leherku ditusuk sekuat tenaga. Padahal kami berdua mengatakan hal yang sama, kenapa cuma Furano yang marah?

"Coba tanya ke tulang keringmu sendiri!"

"Hati nurani, tahu!" (T/N: Kanade mengoreksi peribahasa 'tanya ke dada sendiri').

"Coba tanya ke Suneo di tulang keringmu!"

"Malah makin nggak ngerti!"

"Sebagai laki-laki, setidaknya kamu harus memelihara satu ekor Suneo di dalam hatimu."

"Nggak paham sama sekali maksudnya!"

"Ya sudah, kalau begitu kita kompromi pakai Tongari saja."

"Nggak sopan sama Tongari! Dia itu bukan varian KW-nya Suneo ya!"

"Ngomong-ngomong soal itu, panggilan Butagorilla menurutku sudah masuk level bullying."

"Nggak ada hubungannya sekarang!"

"Kalau dipikir-pikir, Jaiko itu masih lebih beruntung. Kalau Butagorilla punya adik perempuan, pasti namanya jadi Gorilla-Betina."

"Analisis macam apa itu!"

"Atau Tagoriko."

"Malah makin nggak jelas!"

"Kalau begitu, panggil Tagoriko saja."

"Meski intonasinya dibikin mirip 'Kokoriko', tetap nggak bakal berubah!"

"Nggak sopan ya. Padahal aku niatnya pakai intonasi 'Jagariko'."

"SAMA SAJA TAHU!"

……Benar juga, meladeni orang ini memang luar biasa menguras tenaga.

"Hah…… kamu ini setiap hari kok ya kepikiran saja hal-hal nggak penting begitu."

"Boleh kuanggap itu sebagai pujian?"

"Isi otakmu itu kayak gimana sih?!"

"Kalau kutunjukkan kamu bisa mati, jadi nggak akan kutunjukkan."

"Kamu anak SD, hah?!"

"Bukan, aku anak SMA."

"JANGAN DIJAWAB SERIUS, DONG!"

"Berhenti pakai bahasa wibu 'jawab serius' (majiresu) begitu, bikin mual, buft."

"KAMU MALAH LEBIH PARAH TAHU!"

Gawat, kalau nggak dihentikan sekarang nggak bakal ada habisnya……

"Hah…… sudah ya, cukup sampai di sini."

"Duh, padahal aku masih merasa kurang."

Setelah mengatakan sesuatu yang mengerikan, Furano menambahkan sesuatu dengan suara pelan.

"……Apa benar begini saja sudah cukup."

"Kenapa?"

"……Bukan apa-apa. Cuma teringat percakapan di rumah saja."

Percakapan di rumah…… kayak gimana sih sebenarnya suasana rumah Furano? Aku benar-benar tidak bisa membayangkan kehidupan pribadi atau keluarganya.

"Heh, tolong berhenti membayangkan hal mesum tentang ibuku."

"SIAPA JUGA YANG BEGITU!"

"Heh, tolong berhenti membayangkan hal mesum tentang ayahku."

"NAJIS BANGET!"

Tiba-tiba, Chocolat berteriak kencang.

"AYAH FURANO X KANADE?! IYA KAH?!"

"YANG OTAKNYA SUDAH BUSUK DIAM SAJA!"

Mengabaikan aku yang berteriak, Furano tampak melamun sambil menatap kosong ke udara.

◆◇◆

Keseharian Keluarga Yukihira

"Aku pulang, Ibu."

"Ah, selamat datang, Furano."

Menyambut putrinya yang baru pulang dari kencan buta kostum, Yukihira Rumoi menoleh sembari mengibaskan rambut putih panjangnya yang indah dan menjuntai hingga ke pinggang.

"Anu... ada sesuatu yang ingin kukonsultasikan, boleh?"

"Ara, jarang-jarang ya. Ada apa?"

"Itu... anu..."

"Ada apa? Jangan sungkan-sungkan, cepat katakan saja, DASAR BABI BETINA."

"............"

"Tidak perlu ragu. Khusus hari ini, Ibu izinkan kamu bicara selain kata 'Oink', DASAR BABI BETINA."

"............"

"Cuma bercanda kok."

"A-ah, iya... aku tahu kok, nggak apa-apa."

Rumoi pada dasarnya memang punya mulut berbisa. Tentu saja, Furano yang sudah terbiasa dengan itu sejak kecil paham bahwa itu semua cuma candaan dan ibunya tidak sungguh-sungguh, tapi sampai sekarang dia tetap tidak tahu harus merespons bagaimana.

Seolah merasa kurang puas karena tidak ada reaksi, racun di mulut Rumoi pun semakin meningkat.

"Jadi, apa yang sedang dipikirkan oleh SI BABI PUTIH BETINA INI?"

"............"

Pada asalnya, Furano adalah orang yang pemalu dan tertutup. Alasan kenapa dia sampai memerankan karakter ekstrem seperti di kelas adalah karena pengaruh besar dari ibunya, Rumoi.

Saat pindah sekolah dan lingkungannya berubah—istilahnya High School Debut—secara tidak sadar karakter yang paling berkesan di benaknya malah muncul ke permukaan.

Dengan kata lain, itu bukti betapa Furano sangat mengagumi ibunya. Buktinya, jika ada masalah, dia akan langsung berkonsultasi pada Rumoi.

Furano memantapkan hatinya untuk bicara.

"Anu, sebenarnya aku... menyukai seseo—"

"Oooit, aku pulang!"

Terdengar suara dari arah pintu depan yang memotong ucapan Furano. Tak lama kemudian, sang ayah, Yukihira Daichi, mengintip ke dalam ruang tengah.

"Oh, Furano juga sudah pulang ya."

Daichi bertubuh tinggi namun sangat kurus. Wajahnya sangat tampan, dan mata di balik kacamatanya selalu memancarkan senyuman.

"Ah, Ayah, selamat da—"

"Selamat datang, DASAR BELATUNG."

Rumoi langsung meluncurkan kalimat tajam, memotong ucapan Furano. Menerima sambutan itu, Daichi hanya menunjukkan senyum malu-malu.

"Hahaha, aku pulang. Rumoi masih galak seperti biasanya ya. Ngomong-ngomong, hari ini dada (paiotsu) kamu terlihat mantap juga ya. Boleh aku remas sedikit?"

(Uwaa...)

Normalnya itu adalah ucapan yang bikin orang curiga pada pendengaran sendiri, tapi di keluarga Yukihira, ini sudah jadi konsumsi sehari-hari.

"……Seharusnya kamu musnah saja dari dunia ini."

Rumoi menatap suaminya seolah sedang melihat tumpukan sampah.

"Hahaha, tentu saja aku cuma bercanda. Jadi, boleh aku remas dadanya?"

"……Setelah mendapatkan tubuh abadi, sebaiknya kamu masuk ke matahari dan mati selamanya di sana."

—Ya, Yukihira Daichi adalah pria yang sangat mencintai lelucon mesum.

Karakter Furano di sekolah (entah kenapa) terbentuk dari gabungan sisi buruk kedua orang tuanya. Mulut berbisa dari ibunya, Rumoi, dan lelucon mesum dari ayahnya, Daichi. Benar-benar kombo terburuk.

Sebagai catatan tambahan, Rumoi, ibu kandung Furano, memiliki dada yang sangat besar.

Entah di mana letak kesalahannya sampai bisa terjadi kesenjangan yang begitu jauh antara ibu dan anak, Furano sudah tidak terhitung berapa kali meratapi hal itu.

Karena wajahnya mirip dengan ibunya, hal itu terasa semakin menyakitkan.

"Selamat datang, Ayah. Anu... bisakah kalian berdua mendengarkanku?"

Karena kalau Daichi dibiarkan tidak akan ada habisnya, Furano langsung masuk ke inti pembicaraan.

"Anu... aku... aku..."

Sambil terbata-bata, dia berusaha mengeluarkan suaranya.

"Aku... sudah punya orang yang aku sukai."

"Ara."

"Hooo."

Rumoi dan Daichi langsung berubah ekspresi.

"……Sepertinya perlu dilakukan tindakan pengebirian segera."

"Selama Ayah masih hidup, Ayah tidak akan membiarkan ada laki-laki yang menyentuh dada Furano yang kecil itu."

"Dengarkan aku dengan serius dong……"

"Bercanda kok. Baguslah kalau begitu, Furano. Tapi, karena kamu mau berkonsultasi, apa ada masalah?"

"Ayah tahu. Pasti cowok itu menderita 'Penyakit Ingin Meremas Dada Gadis Secara Teratur', kan?"

"……Itu kan cerita masa sekolahmu dulu, DASAR BABI MESUM."

"A-ahahaha…… bukan. Bukan soal orang itu, tapi masalahnya ada padaku—"

Furano sudah menceritakan kepada orang tuanya soal karakter yang dia mainkan di sekolah.

"Selama ini sih tidak apa-apa…… tapi setelah aku menyukainya, rasanya sakit kalau harus terus bicara dengan karakter aneh itu di depannya…… Apa lebih baik aku mengaku secara paksa saja kalau sifat asliku sebenarnya begini?"

"Itu salah, Furano."

"Eh?"

Tanpa jeda, Daichi angkat bicara dengan ekspresi serius.

"Jika dia memang orang yang kamu sukai, dia pasti akan menyukai dirimu apa adanya."

"Ta-tapi Ayah. Diriku di kelas itu kan cuma karakter buatan, jadi itu bukan diriku yang apa adanya."

"Furano. Berusaha menunjukkan jati diri itu bukan hal buruk. Tapi karakter yang kamu bilang aneh itu, bukannya muncul secara alami dan bukan dibuat-buat secara paksa? Kalau begitu, untuk saat ini itulah dirimu apa adanya. Jangan terburu-buru. Saat kamu merasa benar-benar ingin dia melihat dirimu yang sebenarnya, saat itulah kamu mengatakannya padanya."

"Ara, ternyata si babi cabul ini sesekali bisa bicara bener juga ya," Rumoi menunjukkan persetujuannya.

"Hahaha, lagipula Rumoi kan jatuh cinta padaku karena sisi cabulku ini."

"……Diamlah, DASAR BABI KACAMATA MESUM."

"Hahaha, aku juga suka saat kamu berusaha menutupi rasa malumu seperti itu, Rumoi."

"A-apa yang kamu katakan sih, DASAR BABI…… busuk."

Mendengar kata-kata jujur Daichi, Rumoi jadi terbata-bata.

"Aku mencintaimu, Rumoi."

"Ugh……"

Wajah Rumoi memerah padam.

"Gimana? Apa perasaanmu padaku?"

"Ka-kamu itu licik ya. Se-selalu saja begitu……"

"Tapi aku ingin mendengar perasaan jujurmu."

"Ugh……"

Rumoi menunduk, badannya menggeliat malu sambil mengeluarkan suara yang hampir hilang.

"Itu…… aku juga."

"Aku juga apa?"

Daichi sengaja memasang telinga dengan tangan, sementara Rumoi meremas celemeknya kuat-kuat sambil memaksakan suaranya keluar.

"Aku juga…… mencintaimu."

Meski mulutnya selalu mengumpat, Rumoi ternyata sangat tergila-gila pada Daichi.

"Rumoi……"

"Sayang……"

Dan mereka pun tenggelam dalam dunia berdua saja.

"A-ahahaha……"

Bukan pemandangan yang pantas di depan anak SMA kelas 2, tapi ini pun sudah jadi konsumsi sehari-hari di keluarga Yukihira. Meski dipandang dari sudut mana pun mereka bukan pasangan suami istri yang normal, bagi Furano, sosok mereka berdua adalah gambaran pasangan ideal.

(Suami istri……)

Begitu memikirkan kata itu, frasa 'Amakusa Furano' langsung terlintas di kepalanya.

(Uuuu……)

Furano sendirian memerah karena malu. Kemudian, dia kembali menatap orang tuanya yang sedang bermesraan.

(Andai aku juga bisa menjadi seperti itu……)

Karena dua orang yang saling mencintai ini berkata begitu secara kompak, mungkin aku tidak perlu terburu-buru membongkar jati diriku.

(Tanpa perlu memaksakan diri, berubah sedikit demi sedikit…… mungkin itu lebih baik.)

Warna kegalauan sedikit memudar dari wajah Furano, dan senyum tipis tersungging di sana.

◆◇◆

"Ada apa, Furano?"

Furano menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.

"……Bukan apa-apa."

Dan seketika itu juga dia kembali ke ekspresi datar seperti biasa, lalu berbalik menatapku.

"Amakusa-kun, boleh aku tanya satu hal?"

"Apa?"

"Apa kamu merasa tidak nyaman mengobrol denganku yang sekarang?"

"Kenapa tiba-tiba?"

"……Sudah, jawab saja."

Aku tidak mengerti maksudnya, tapi aku menjawab jujur apa adanya.

"Nggak juga sih, nggak merasa tidak nyaman."

Memang meladeni Furano itu melelahkan dan terkadang bikin muak, tapi aku tidak pernah merasa tidak nyaman atau benar-benar membencinya.

Mendengar itu, hidung Furano kembang-kempis dan—

"……Begitu ya. Padahal aku merasa tidak nyaman sampai mau muntah."

"KOK MALAH NANYA?!"

"Bercanda kok. Aku merasa tidak nyaman sampai mau muntah lendir."

"Situasi macam apa itu!"

"Bercanda kok. Tanpa alasan apa pun, pokoknya aku merasa tidak nyaman."

"Itu alasan yang paling parah tahu!"

……Ternyata emang capek banget.

Mengabaikan aku yang merasa muak, Furano entah kenapa menunjukkan ekspresi lega.

"Yah, memang sebaiknya jangan terburu-buru dan seperti biasa sa—"

"Kanade-saaan!"

Kalimat Furano terpotong oleh teriakan Chocolat dari belakang.

"W-woi, ngapain kamu!"

"Jangan cuma ngobrol sama Furano-san saja dong, urusi aku juga!"

Chocolat langsung menempelkan badannya erat-erat padaku.

"Ja-jangan menempel begitu!"

"Nggak mau!"

"Hentikan, orang-orang melihat kita…… hm?"

Merasakan aura yang sangat kuat, aku menoleh ke arah Furano.

"Hiiih!"

Suaraku refleks melengking. Furano menunjukkan ekspresi yang seramnya seperti Yaksha.

"Anu…… Furano……-san?"

Mengabaikanku, Furano bicara pada Chocolat.

"Chocolat-san…… sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan?"

"Iya! Aku sedang menempel pada Kanade-san!"

"……Kenapa kamu melakukan itu?"

"Karena aku sangat menyukai Kanade-san!"

"Ka-kalau soal itu, aku ju—"

Furano hampir mengatakan sesuatu menanggapi pernyataan Chocolat, tapi dia langsung menutup mulutnya dengan tangan seolah tersadar.

"Aku…… juga Daffunda." (T/N: Slapstick khas komedian Jepang Ken Shimura).

Kenapa tiba-tiba jadi om-om aneh begitu?!

Furano berdehem sebentar, lalu berkata dengan nada datar.

"Chocolat-san. Rasa 'suka'-mu itu bukan dalam artian asmara, kan?"

"Fu-Furano, pertanyaan itu……"

Aku mencoba menutup mulut Chocolat tapi sudah terlambat.

"Bukan! Sebagai seorang gadis, aku sangat menyukai Kanade-san!"

Deg……

Suasana di dalam kelas langsung berubah drastis.

"Menjijikkan……"

"Se-seriusan…… si Amakusa itu."

"Oi, gimana sama janjimu buat menyerahkan keperjakaanmu padaku?!"

YANG TERAKHIR ITU NGOMONG APA SIH?!

"Sa-salah paham, teman-teman……"

Pembelaanku sia-sia, tatapan dingin dari sekitar menusukku. Gawat…… aku memberikan kesalahpahaman yang buruk lagi pada orang-orang.

Setelah libur musim panas berakhir, voting untuk Popularity Ranking dan 'Reject Five' (Lima Orang yang Ditolak) akan dilakukan. Agar aku bisa melepaskan gelar memalukan itu, aku harus memperbaiki citraku dari sekarang, tapi malah……

Dengan wajah agak berkedut, Furano melontarkan kata-kata pada Chocolat.

"Memalukan, lakukanlah di tempat yang tidak ada orang yang meli…… nggak, itu juga jangan. Pokoknya hentikan di sini."

"Baiklah……"

Chocolat menjauh dengan tampang kecewa. Fuh, setidaknya aku harus meluruskan kesalahpahaman mereka—

"Nggak bisa! Aku tetap mau nempel!"

"Uwaaaa!"

Chocolat menempel lagi. Bo-bocah ini……

Bagaimana dengan reaksi Furano—?

"Sudah kubilang…… HENTIKAN, KAN."

"GYAAAA!"

KE-KENAPA AKU YANG DICUBIT?!

"Jadi begitu, Chocolat-san. Kalau kamu tidak lepas, kulit Amakusa-kun akan terpelintir sampai daging di dalamnya tercongkel keluar."

"GORE BANGET!"

"Baiklah……"

Chocolat pun menjauh dengan sangat terpaksa.

"Tapi Furano-san, kenapa kamu marah sekali kalau aku dan Kanade-san menempel?"

"……Bukannya aku marah. Aku cuma memperingatkan karena melihat kalian bermesraan di depan umum itu memalukan."

"Itu bohong!" Chocolat menegaskan.

"Aku tahu perasaan Furano-san ini. Eeeh…… ah, aku tahu! Sama seperti aku waktu kencan buta kostum kemarin lusa!"

"Sama? Apa maksudnya?"

"Jelasi! (Cemburu!)"

"Na……"

"Aku tahu. Karena aku juga merasakan hal yang sama!"

"Sa-salah……"

"Aku juga merasakan hal yang sama saat Kanade-san mencoba mencium Furano-san dan Ouka-san!"

KE-KENAPA KAMU MALAH NGOMONG BEGITU DI SINI SIH?!

"Ci-cium Yukihira sama Uouji?! Maksudnya apa nih……"

"Dia main tiga kaki?"

"Sampah banget."

"Jangan-jangan sama Ketua juga, jadi empat kaki?"

"Lu-lubang Amakusa jadi terasa semakin jauh……"

MAKANYA YANG TERAKHIR ITU SIAPA SIH?!

Pencarian pelaku yang terakhir itu nanti saja, yang jelas suasana ini gawat. Ditambah lagi dengan berbagai tindakan menyimpangku (yang jelas-jelas bukan salahku), kalau aku dicap sebagai playboy keparat juga, habislah sudah.

"I-itu nggak benar—"


Pilih:

Mencium seluruh siswi satu per satu.

Mencium seluruh siswa satu per satu.

Mencium seluruh bagian tubuhmu sendiri.


……Boleh nggak aku dicap playboy saja tapi tolak pilihannya? ……Nggak boleh ya. Iya, aku tahu kok.

"──Mmuach! Mmuach!"

Setelah melewati proses mencium bahu, lengan atas, lengan bawah, telapak tangan, paha, lutut, betis, mata kaki, punggung kaki, dan akhirnya mencium telapak kaki sendiri, rasa sakit kepalaku pun hilang total. Bersamaan dengan itu, harga diriku juga ikut lenyap.

Reaksi para siswi benar-benar jijik tingkat dewa. Keputusasaan yang kurasakan sekarang mungkin setara dengan melihat Toguro dalam kekuatan 100 persen.

Tepat saat aku berniat pulang dan mengurung diri selamanya—

"Selamat pagiii!"

Ouka membuka pintu dengan keras dan masuk.

"Lho? Kok suasananya aneh ya?"

Ouka memiringkan kepalanya, tapi kehadirannya mengubah suasana dan ketegangan sedikit mencair. Se-selamat…… eh, nggak juga sih. Gara-gara pilihan tadi, perhatian orang-orang sempat teralih, tapi Ouka adalah salah satu tokoh utama dalam gosip ini.

Benar saja, salah satu siswi langsung bertanya pada Ouka.

"Ouka-chan, be-beneran Amakusa-kun menciummu?"

"Ah, iya."

"""──APA?!"""

Hiiiiiiiiii! Jawaban instan Ouka membuat seisi kelas gempar, dan wajahku langsung pucat pasi.

"Ah, tepatnya sih baru 'hampir' dicium."

Ouka menceritakan ringkasan kejadian di kencan buta kostum kepada semua orang.

"Ooh, cuma hukuman gim ya……"

"Bener juga, Amakusa-kun mana mungkin punya nyali sebesar itu."

"Fuh…… tunggu saja, sampai hari di mana aku menusuk bokongmu."

……Aku nggak bakal komentar lagi soal si nomor terakhir itu, tapi bisa tolong berhenti menusuk nggak?

Terlepas dari itu, situasinya akhirnya mereda.

"Nih-hihi, sepertinya repot ya."

"Iya, makasih bantuannya."

"Hehe, itu sih gampang!" ucapnya sambil mendekatkan wajahnya.

"……Kan sudah kubilang wajahmu terlalu dekat setiap kali bicara."

"Masa sih?"

Ouka menjauhkan wajahnya sedikit saja. Melihat wajahnya, aku terpikir sesuatu.

Aku merasakannya sejak akhir acara kencan buta itu, tapi sepertinya dia jadi agak lebih dewasa ya…… Padahal sulit dipercaya mendapatkan kesan begitu dari Ouka, tapi kenyataannya, ekspresi dan gerak-geriknya terasa punya aura 'kemolekan' tertentu……

"……"

"Kenapa?"

Melihatku menatapnya lekat-lekat, Ouka memasang wajah heran.

"……Enggak, apa auramu berubah ya?"

"Bener banget! Soalnya kemarin banyak kejadian sih!"

"Banyak kejadian?"

"Iya, iya. Istilahnya mah, perubahan suasana hati (shinkyo) gitu!"

"Suasana hati…… ya."

"Muhu-hu, ini yang namanya hati gadis yang nggak bakal dimengerti Kanade-chi. Gimana-gimana, terlihat dewasa, kan?"

Ucapnya sambil meliukkan pinggangnya dan tertawa riang.

"……Yah, tapi jangan terlalu memaksakan diri."

Dulu waktu kencan simulasi, Ouka pernah memaksakan diri tampil dewasa tapi malah jadi gaya berpakaian dan cara bicara yang kacau balau.

"Ahaha. Tenang saja. Diriku yang sekarang nggak terlihat memaksakan diri, kan?"

"Yah, benar sih……"

Seperti katanya, Ouka yang sekarang terlihat sangat natural.

"Di rumah juga dibilang begitu. Makanya, aku mau jadi wanita dewasa sedikit demi sedikit secara alami."

Setelah Furano, sekarang giliran Ouka yang membicarakan soal rumahnya. Kalau soal orang tua Ouka, mereka berdua kan orang yang sangat terkenal, tapi……

Ouka menatap ke atas seolah sedang mengingat sesuatu.

◆◇◆

Keseharian Kediaman Keluarga Yuuouji

"Wahahahaha!"

"Ahahahaha!"

"Tunggu kalian, woi—!"

Dua suara tawa dan satu teriakan amarah menggema di dalam kediaman Yuuouji. Dua suara pertama berasal dari sang kepala keluarga, Yuuouji Ouma, dan putrinya, Ouka. Sedangkan satu suara lainnya berasal dari—

"Sudah kubilang jangan lari-larian di dalam rumah, tahu—!"

Seorang pelayan yang masih mengenakan roknya tampak sedang mengejar-ngejar mereka berdua. Dia adalah Kuramori Hikaru, penanggung jawab pendidikan Ouka.

"Fuhaha! Kalau mau kami berhenti, coba tangkap saja kalau bisa!"

"Ayo, ayo, oni-san kochira—!" [T/N: "Ke mari, Setan/Penjaga", frasa umum dalam permainan petak umpet/kejar-kejaran di Jepang].

"Hah... hah... Sial..."

Hikaru yang sudah mencapai batas fisiknya langsung berlutut di tempat.

"Ke-kenapa orang modelan begitu bisa jadi presiden direktur perusahaan besar, sih... Aduh..."

Lambung Hikaru sudah kronis mengalami peradangan akibat ulah kekanak-kanakan Ouma dan Ouka yang selalu membuatnya kelimpungan.

"Sial... Suatu hari nanti aku bakal berhenti ja—"

"Sepertinya kamu lelah sekali, ya."

"Hyaa!"

Tiba-tiba saja Ouma muncul dari belakangnya.

"Wahaha, wajahmu muram sekali, Hikaru-kun. Ada apa gerangan?"

"A..."

Hikaru mati-matian menelan kata-kata, "Itu gara-gara Anda, tahu!" yang hampir saja terlontar.

"Hikaru-cchi, semangat ya—!"

Ouka pun ikut menghampiri. Bukan cuma Ouma, tapi anak ini juga... padahal mereka baru saja lari-larian sehebat itu, tapi kenapa napas mereka tidak tersengal sedikit pun? Sebenarnya keluarga ini punya fisik sekuat apa, sih?

"Nona Muda... Saya mohon, tolonglah bersikap sedikit lebih anggun."

"Ahaha. Daripada itu, Hikaru-cchi, panggil namaku Ouka saja, jangan pakai 'Nona Muda'."

"Saya tidak bisa melakukan hal itu."

"Eeeh, kaku banget, sih."

Di sana, Ouma ikut menyela.

"Benar itu, kamu kaku sekali, Hikaru-cchi."

"OM-OM JANGAN IKUT MANGGIL HIKARU-CCHI!"

Secara refleks, Hikaru langsung melontarkan tsukkomi.

"Ma-maafkan kelancangan saya."

Bagaimanapun santainya orang itu, dia tetaplah majikannya. Hikaru pun meminta maaf atas ketidaksopanannya.

"Wahaha, jangan dimasukkan ke hati, Hikaru-cchi."

"Ugh..."

Ouma menepuk-nepuk pundak Hikaru dengan santai.

"Kamu terlalu tegang. Nih, makan ini supaya bisa lebih relaks."

Yang disodorkan kepadanya adalah sebutir permen yang terbungkus kertas selofan.

"Hah... Terima kasih banyak."

Hikaru pun memasukkan permen itu ke mulutnya. Dan di saat itu juga—

"Bfuhhh!"

Dia langsung menyemburkannya sekuat tenaga.

"Wahahaha! Kena deh!"

"Ahahaha! Kena deh!"

"Bau banget! A-apa-apaan ini?! Bauu!!"

"Itu purwarupa terbaru dari Animal Candy. Aku yang membuatnya sendiri, lho," ujar Ouka.

"Animal apanya... Ini rasa apa sebenarnya?!"

"Rasa kentut om-om."

"BAGIAN MANANYA YANG ANIMAL, HAH?!"

"Wahaha, menggoda Hikaru-kun memang yang paling seru."

"Ahaha!"

"O-orang-orang ini...!"

Hikaru mengepalkan sebelah tangannya hingga gemetar, sementara tangan lainnya memegangi perutnya yang mulas. Di saat itulah, sebuah suara yang terdengar berwibawa bergema.

"Kalian berdua, jangan terlalu merepotkan Kuramori-san, dong."

Pemilik suara itu adalah Yuuouji Kyouka. Dia adalah mantan idol terkenal yang kini aktif sebagai komentator di berbagai program berita.

"Nih, obat lambung. Maaf ya, suami dan putriku sudah menyusahkanmu."

"A-ah, terima kasih banyak."

Hikaru merasa terharu dengan perhatian tersebut.

"Tapi ya, Kuramori-san."

"Iya, ada apa, Nyonya?"

Wajah Kyouka yang sedari tadi tampak tenang dan berwibawa, tiba-tiba saja meleleh jadi ekspresi yang... agak menjijikkan.

"Lambung yang sampai berlubang itu... rasanya bakal sakit-sakit nikmat gimanaaa gitu, lho."

"LU MASOKIS BERAT, YA?!"

Benar sekali. Meskipun di mata publik Kyouka dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berkelas, identitas aslinya adalah seorang masokis ekstrem.

"Nyonya... Saya mohon, setidaknya Anda sajalah yang tetap waras di rumah ini."

"Duh, Kuramori-san, aku ini benar-benar waras, kok. Cuma ya, aku memang lebih suka dipanggil 'babi betina' dibanding orang-orang pada umumnya."

"ITU JELAS NGGAK WARAS, TAHU!"

Tepat saat Hikaru berteriak sekuat tenaga, suara lain terdengar dari arah belakangnya.

"Kuramori, apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini?"

"Nggak, ini lho, orang-orang ini—"

Wajah Hikaru langsung pucat pasi saat dia menoleh.

"Ke-Kepala Pelayan..."

Sosok yang berdiri di sana adalah sang "Ratu" yang bertahta di puncak hierarki para pelayan kediaman Yuuouji.

"Terhadap majikan sendiri... kau bilang 'orang-orang ini'?"

Dari balik kacamata, tatapan tajam sang Kepala Pelayan seolah menusuk tepat ke jantung Hikaru.

"Ti-tidak, itu, soalnya mereka ini bercandanya sudah keterlaluan..."

Hikaru melirik ke arah tiga orang tadi.

"Tuan Besar, Kuramori berkata demikian, tapi bagaimana menurut Anda?"

Pandangan Ouma mulai tidak fokus ke mana-mana, lalu dia mulai bersiul santai.

"Aku nggak ngapa-ngapain, kok. Hikaru-cchi sendirian saja yang sedari tadi bercanda."

"SITU BOCAH YANG LAGI DIMARAHIN, APA?!"

"Hikaru-cchi juga makan permen pas lagi jam kerja, lho."

"KAN KALIAN YANG CEKOKIN, BOCAH TENGIL!"

"...Bocah tengil?"

Sekali lagi, tatapan tajam Kepala Pelayan menusuk Hikaru.

"A, bukan, maksud saya Nona Muda yang lincah..."

Di sana, Kyouka mencoba memberi bantuan.

"Jangan memarahinya terlalu kejam sepert—ah, tidak, tolong marahi dia sampai mampus saja!"

"CUMA ANDA DOANG YANG BAKAL KEGIRANGAN KALAU DIGITUIN!"

"...Anda?"

"Ti-tidak, Kepala Pelayan, ini itu... anu..."

"Kuramori, sepertinya kau butuh sedikit 'bimbingan' khusus."

Kepala Pelayan menaikkan posisi kacamatanya dengan jari tengah, lalu tangan satunya mencengkeram kerah baju Hikaru.

"AKU NGGAK SALAH APA-APAAAAA!"

Hikaru pun diseret pergi begitu saja oleh Kepala Pelayan.

"Wah, kasihan ya Hikaru-cchi."

"Fuhaha, tidak perlu khawatir. Kepala Pelayan juga sangat paham betapa berbakatnya Hikaru-kun."

Benar sekali. Kinerja Hikaru dalam segala hal memang sangat cepat dan rapi.

Kepala Pelayan sendiri yang mengakuinya hingga baru-baru ini dia menunjuk Hikaru sebagai penanggung jawab pendidikan Ouka.

Sayangnya, karena Hikaru terlalu sering melontarkan tsukkomi, beban mentalnya pun terus bertambah.

"Haha, entah kenapa Hikaru-cchi jadi mirip Kanade-cchi, ya."

Ouka menggumamkan hal itu secara spontan.

"Kanade-san itu... apa dia temanmu?"

"Ah, iya, benar begitu, sih..."

Ouka sempat terdiam sejenak, lalu dia menatap kedua orang tuanya dengan serius.

"Anu, Ayah, Ibu... kenapa sih kalian berdua memutuskan buat menikah?"

"Hm? Jarang sekali Ouka menanyakan hal seperti itu."

"Kalau ditanya kenapa, Ibu cuma bisa bilang karena Ibu mencintainya, sih."

Ouma dan Kyouka saling bertatapan.

"Benar juga ya... kalau sudah cinta, pasti bakal menikah."

Ouma sepertinya menangkap sesuatu dari gelagat putrinya itu.

"Hmm, aku merasa auramu agak berbeda hari ini... Ouka, apa jangan-jangan kau sedang jatuh cinta?"

"Iya... begitulah."

"Oalah, jadi Kanade-san yang tadi itu jangan-jangan seorang laki-laki?"

"Iya... Tapi aku benar-benar nggak paham soal urusan asmara, jadi aku mau dengar cerita yang bisa kujadikan referensi..."

"Begitu rupanya. Kalau begitu, mau dengar cerita itu? Hal yang paling membuat Ibu bahagia adalah... saat Ayahmu mencintai Ibu apa adanya."

"Apa adanya?"

"Iya. Dulu saat masih jadi idol, citra Ibu kan 'tipe yang keren', kan? Itu bukan sekadar akting, tapi memang sudah mendekati kepribadian asli Ibu."

Kenyataannya, Kyouka memang biasanya bersikap keren di rumah (kecuali kalau mode masokisnya kumat).

"Tapi, karena Ibu ingin Ayahmu melirik, Ibu sempat memaksakan diri bersikap manis seperti idol-idol lain."

"He~. Aku nggak bisa membayangkan Ibu yang kayak gitu."

"Ya, kan? Tapi anehnya, para staf malah suka. Bahkan ada rencana untuk mengubah konsep Ibu jadi seperti itu... Tapi Ayahmu tiba-tiba bilang kalau itu sama sekali nggak imut! Dia bilang, dia lebih suka Ibu yang apa adanya! Dia menolak ide itu mentah-mentah."

Setelah mengakhiri ceritanya, wajah Kyouka memerah.

"Wah... Ayah keren juga, ya."

"WAHAHAHAHA! ITU KARENA AKU HANYA TERTARIK PADA SISI MASOKIS-MU SAJA, KYOUKA!"

Kisah mengharukan itu hancur total seketika.

(Diriku yang apa adanya... ya?)

Namun, putrinya tampaknya berhasil mendapatkan sesuatu dari obrolan ayah dan ibunya tersebut.

◆◇◆

"Ada apa, Ouka?"

Aku menyapa Ouka yang sedari tadi tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Eh, nggak apa-apa, kok. Cuma lagi ingat-ingat obrolan sama Ayah dan Ibu tadi," sahut Ouka, lalu dia berbalik menatapku sambil memamerkan tawa cerianya. "Nahaha! Ternyata aku memang nggak perlu buru-buru, cukup jadi kayak biasanya—"

"Kanade-saaaan!"

Ucapan Ouka terpotong oleh Chocolat yang tiba-tiba menerjang dan memelukku.

"Perhatikan aku juga, dong!"

"W-woi, lepas!"

"Ehehe~."

Di sampingku yang sedang bersusah payah melepaskan diri, Ouka tiba-tiba bersuara.

"Chocolat-cchi... bukannya itu nempelnya agak kelewatan, ya?"

Eh, ada apa ini? Suaranya rendah sekali, tidak seperti Ouka yang biasanya.

"Habisnya, aku suka banget sama Kanade-san!"

Gaya manja Chocolat sudah bukan level memeluk lagi, dia sudah nemplok di punggungku seperti sedang digendong.

"S-suka banget katanya..."

Ga-gawat, kalau begini terus, atmosfernya bakal jadi sama seperti yang tadi—

"AW?! ADEUH, SAKIT!"

Rasa sakit yang tiba-tiba menyerang membuatku melirik ke bawah. Entah sejak kapan, Ouka sudah menginjak kakiku dengan keras.

"Ah, maaf. Nggak sengaja menginjaknya."

"Hah? Nggak sengaja... mana ada yang kayak gitu?"

Rasanya ada yang aneh, tapi pokoknya sekarang prioritas utamanya adalah membereskan Chocolat dulu.

"Chocolat, turun."

"Nggak mau!"

"Porsi nambahmu aku jatah cuma sampai tiga piring, lho."

"A-aku bisa mati kelaparan!"

Meskipun panik, Chocolat tetap tidak mau turun.

"...Kalau nggak mau dengar, aku kurangi jadi dua piring."

"A-aku bisa lenyap jadi debu!"

Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Chocolat akhirnya turun dari punggungku dengan ogah-ogahan.

"Tapi setidaknya boleh gandengan tangan, kan?"

Ucapnya sambil menggenggam tanganku erat-erat.

"Nggak, kalau ini juga rasanya—ADEUH, SAKIT BANGET!"

Rasa sakit yang luar biasa kembali menyerang. Saat aku melihat apa yang terjadi, ternyata Ouka sedang mencubit punggung tangan satunya dengan sekuat tenaga.

"Ah, maaf. Nggak sengaja mencubitnya."

"NGGAK MUNGKIN, KAN!"

Mulai dari Furano sampai Ouka, sebenarnya ada apa sih dengan mereka ini...

"Ah, tapi..."

Tiba-tiba, ekspresi Ouka berubah jadi linglung memerah.

"Kenapa?"

"Enggak, cuma... entah kenapa, pas lihat Kanade-cchi kesakitan... aku jadi agak bergairah."

"...Hah?"

Ngomong apa sih dia? ...Woi, orang ini barusan ngomong apa?!

"Apa... aku aneh ya?"

Iya, aneh banget, nggak pakai ragu barang semili pun. ...Apa jangan-jangan, hal yang selama ini aku takuti mulai jadi kenyataan?

Waktu kencan simulasi tempo hari, gara-gara suatu hal dia sempat menginjakku dengan kaki telanjang, dan saat itu Ouka kelihatan menikmatinya dari lubuk hati yang paling dalam... Sial, anak ini beneran mulai bangun insting S-nya (Sadist), ya?

"Sakit banget, ya? Maaf, ya."

Wajahnya tampak benar-benar tulus mengkhawatirkanku, tanpa niat jahat sedikit pun... Sepertinya yang tadi itu memang benar-benar tidak disengaja... Seorang Sadis potensial yang tidak sadar diri... Ini gawat kalau tidak segera ditangani secepatnya.

Maksudku, ibunya Ouka kan masokis berat. Terus anaknya jadi sadis berat... Sebenarnya ada apa dengan keluarga Yuuouji?!

"Kalau gitu, aku usap-usap ya supaya sembuh."

Tanpa mempedulikanku yang sedang melamun, Ouka menggenggam tanganku.

 Tangan kanan dipengangi Chocolat, tangan kiri dipengangi Ouka... Tentu saja, teman-teman sekelas langsung melemparkan tatapan dingin ke arahku.

"A-anu, kalau bisa dilepaskan, aku bakal sangat terbantu..."

"Nggak mau!"

"Belum selesai aku usap-usap, jadi nggak boleh!"

Di tengah-tengah kami bertiga, sebuah bayangan mendekat. Itu Furano.

"Amakusa-kun, sebagai seorang perjaka ting ting, beraninya kau bergaya punya 'bunga' di kedua tangan. Memangnya kau pikir kau ini siapa, hah?"

...Memang sih aku masih perjaka, tapi apa hubungannya dengan situasi sekarang?!

"Bukan gitu, ini mereka sendiri yang—"

"Paling-paling otakmu lagi mikir, 'Kuku, jangan cuma pegang jari yang ribet begini, cepat remas Magnum di selangkanganku ini, gete-gete', kan?"

"SITU SUDAH BUKAN MANUSIA LAGI, YA!"

"Furano-san, apa kamu iri?"

"...Hah?"

Mendengar ucapan Chocolat, wajah Furano langsung berkedut seketika.

"Apa kamu iri karena aku dan Ouka-san nempel terus sama Kanade-san? Jangan-jangan Furano-san juga su—"

"Gofuh!"

Body blow telak mendarat di perutku. Ke... kenapa malah aku yang kena...?! Tepat saat aku meneteskan air mata menahan sakit,


PILIH:

"Woi cewek-cewek, hati-hati ya, kalau kalian dekat-dekat, Magnum di selangkanganku bakal menyemburkan api!"

Selangkanganmu jadi Magnum benarannya


...Inikah yang namanya sudah jatuh tertimpa tangga? Apa-apaan sih, serius, maunya apa?! Apa si 'Dewa' ini bodoh? Mau bunuh aku, ya? Apa coba maksudnya selangkangan jadi Magnum... Pasti itu bukan metafora, tapi arti yang sebenarnya... Mana bisa kupilih!

"...Woi cewek-cewek, hati-hati ya, kalau kalian dekat-dekat, Magnum di selangkanganku bakal menyemburkan api!"

...Wajah gadis-gadis di kelas langsung membeku. Dan di detik berikutnya, mereka semua serempak membuang muka dariku dan kembali ke kursi masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa. Inilah jurus kelompok: "Ayo Anggap Amakusa Tidak Ada". Aku sudah kena jurus ini berkali-kali, jadi aku tidak merasa apa-apa, kok! ...Bohong, deng. Rasanya perih banget, aku mau nangis, aku mau pulang.

Yang tersisa di sekitarku hanyalah gerombolan cowok yang cengengesan, serta trio aneh Chocolat, Ouka, dan Furano. Sial... kalau begini terus, impianku buat keluar dari kelompok "5 Cowok Ditolak" cuma bakal jadi mimpi di siang bo—


PILIH:

Berpose erotis paling maksimal yang bisa terpikirkan

Berpose narsistik paling maksimal yang bisa terpikirkan


...Y-yang benar saja, dong! Ada apa sih dari tadi?! Disuruh cium dirilah, Magnum-lah, sekarang pose nggak jelas! Aku yang merasa sebagai orang sabar pun akhirnya mencapai batas. Kalau diserang bertubi-tubi begini, mana tahan! Kali ini aku akan menolaknya dengan te—

"GUAAAAKH!"

"...Amakusa-kun, apa yang sedang kau lakukan?"

"Jangan pedulikan aku..."

Dengan bertelanjang dada sambil menjepit puting sendiri dan menatap langit dengan pose narsistik maksimal, bahkan Furano pun tampak sedikit jijik melihatku.

"Hiks... hiks..."

Jahat banget, sih... Dipaksa melakukan hal-hal begini tanpa hak menolak, ini namanya perundungan, tahu.

Nng?

Di dalam kantongku yang sedang merana, ponselku bergetar. Sebenarnya aku sedang tidak mood memeriksa apa pun, tapi karena punya firasat buruk, aku pun mengeluarkannya.

"...Sudah kuduga."

Isi surelnya adalah "Misi Penghapusan Kutukan" dari si 'Dewa'. Pemandangan yang sudah mulai biasa, tapi tetap saja membuat hatiku berat setiap kali melihatnya. Sambil merasa muak, aku memeriksa isinya.

«Mulai sekarang, kamu mendapatkan sepuluh kali "Hak Tolak" terhadap pilihan yang muncul. Kamu harus menyisakan hak tersebut (jangan sampai habis) hingga tenggat waktu: 31 Juli (Rabu).»

Hm?

Apa ini?

Hak Tolak?

Maksudnya gimana?

Kalau diartikan mentah-mentah, sepertinya aku bisa melewati pilihan sampai sepuluh kali.

Karena tenggatnya sampai akhir Juli, dan sekarang tanggal enam belas... berarti sisa dua minggu lebih sedikit.

Dalam waktu sesingkat itu, bisa menolak sepuluh kali (yah, sembilan kali kalau mau aman menyelesaikan misi) rasanya seperti sebuah pelayanan servis yang luar biasa.

Tapi tunggu dulu. Mana mungkin ada perkembangan yang semudah itu bagiku.

Pasti ada jebakan busuk di baliknya. Saat aku sedang berpikir keras, Sato memanggilku.

"Oi, Amakusa, ada apa?"

"Nggak, nggak ada ap—"


PILIH:

French Kiss dengan Sato

French Kiss dengan Daiko-san yang dipanggil lewat ritual pemanggilan

"...Tuhkan, bener, kan."

Hak Tolak: Sisa 9 kali.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close