NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Kehidupan Sehari-hari Amakusa Kanade yang Tak Manis


1

Apa yang bakal dilakukan orang normal kalau melihat buku porno tergeletak di pinggir jalan?

Ya, sudah pasti dilirik, lah!

Namanya juga anak SMA, demi menjaga harga diri, aku memang tidak bisa langsung memungutnya dengan terang-terangan. Tapi, kalau cuma sekadar melirik dengan kekuatan penuh, itu sudah jadi hukum alam!

Berhubung halaman yang terbuka kebetulan memperlihatkan konten yang agak maniac, tensiku pun naik sedikit. Namun, yang namanya kebahagiaan kecil seperti itu, biasanya memang ditakdirkan untuk dihancurkan.


Pilih:

Tempelkan ke wajah lalu hirup aromanya

Makan


Saat ini juga, pilihan seperti itu muncul di dalam otakku. Dan pilihan ini mutlak, aku harus memilih salah satu. Titik.

Biasanya, orang terangsang karena melihat isi buku porno. Kalau ada yang terangsang karena mencium atau memakannya, itu sih sudah masuk kategori "orang sakit".

Tapi aku... malah memilih untuk menghirupnya.

Tentu saja aku tidak merasa bergairah. Ya iyalah! Karena jaraknya terlalu dekat, yang kelihatan cuma warna kulit doang!

"Uwah, apa-apaan cowok itu?"

"Dia lagi nyium bau buku porno! Dasar eksibisionis mesum!"

Anak-anak SD yang kebetulan lewat langsung berteriak kencang sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.

"Bahaya, si Bau Mesum itu melihat ke sini!"

"Haha, dia pasti jomlo karatan! Jomlooo!"

Mereka pun lari tunggang langgang sambil tertawa.

"...Apa yang sebenarnya kulakukan sepagi ini?"

Dengan perasaan lesu, aku meletakkan kembali buku porno itu ke pinggir jalan.

"Pilihan Mutlak."

Begitulah aku menamai fenomena ini secara sepihak. Sesuai namanya, ini adalah pilihan paksa di mana aku harus memilih salah satu dari opsi yang muncul.

Fenomena yang muncul secara acak di kepalaku ini bukanlah berupa tulisan maupun suara. Bagaimana ya menjelaskannya... rasanya seperti ada informasi yang entah dari mana langsung turun ke otak, dan di saat yang sama, aku langsung memahaminya.

Singkatnya, hal ini benar-benar mengabaikan panca indra. Jadi, mau aku menutup mata atau menyumbat telinga sekalipun, pilihan itu tidak akan pernah hilang sampai aku memilih salah satunya.

"Ara, Kanade-chan."

Tiba-tiba, suara ngebass yang luar biasa bergema dari arah depan.

"Geh..."

Begitu aku mendongak, di sana sudah berdiri tegak sesosok makhluk bernama Gondo Daiko (49 tahun). Dia adalah ibu rumah tangga yang tinggal di lingkungan sekitar sini. Sosok wanita dengan perawakan "berbobot" yang berat badannya jelas-jelas sudah menembus angka tiga digit.

"Kanade-chan, mau berangkat sekolah?"

"I-iya, begitulah."

Ibu Daiko, yang sepertinya baru pulang dari minimarket, melemparkan tatapan yang terasa... lengket.

"Nfufu, wajahmu masih semanis biasanya, ya."

"──!"

Rasa dingin langsung menjalar di punggungku.

Setiap kali bertemu, wanita ini selalu menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar padaku. Katanya sih, wajahku ini mirip sekali—bahkan sudah level kembar—dengan mantan suaminya saat masih muda dulu. Keajaiban macam apa yang sia-sia ini?!

Gara-gara itu, setiap hari aku selalu merasa dalam ancaman krisis kesucian yang sama sekali tidak lucu. Aku harus segera kabur dengan alasan sekolah.

"Te-terima kasih. Kalau begitu, karena saya sudah hampir terlambat, saya duluan—"


Pilih:

"Tolong peluk aku"

"Tolong peluk aku sesuai instingmu"


...Serius, nih?

Pilihan ini terkadang tidak hanya memaksa tindakan, tapi juga sampai ke dialog. Tidak peduli seberapa tidak masuk akalnya itu, selama pilihannya muncul, aku harus mematuhinya.

Lagipula, apa bedanya nomor sama , sih?!

"...Tolong peluk aku."

Begitu aku menggumamkan itu dengan suara kecil yang nyaris hilang, pilihan di dalam otakku pun sirna. Di saat yang bersamaan, mata Ibu Daiko berkilat bagaikan binatang buas yang menemukan mangsanya.

"Kanade-chan... akhirnya kamu mau juga...!"

Gawat, ini benar-benar gawat!

"Tu-tunggu sebentar, yang tadi itu batal—"

"Selamat makan!"

Apanya yang dimakan, woi?!

Gumpalan daging raksasa itu menerjang dan memelukku dengan sekuat tenaga.

"Gyaaaah!"

Woi, kuat banget tenaga orang ini! Tulang-tulangku bahaya! Sampai bunyi kretak-kretak!

"Gib... Gib ap (Give up)...!"

Suara rintihan piluku diabaikan sepenuhnya.

"GYAAAAAAAAAAH!"

◆◇◆

"Fuuuh, kenyangnya."

Sekitar sepuluh detik kemudian, Ibu Daiko yang sepertinya sudah puas (?), melepaskanku sambil tertawa "nfufu" penuh kemenangan, lalu berjalan pergi dengan langkah beratnya.

"Guh..."

Sambil memegang lututku yang gemetar, aku berusaha keras agar tidak ambruk di tempat.

Interval munculnya Pilihan Mutlak ini benar-benar acak. Muncul bertubi-tubi pun bukan hal yang aneh. Tapi, kombo antara "Wajah Nempel Buku Porno" dan "Pelukan Maut Daiko" di pagi buta begini benar-benar terlalu berat untuk ditanggung.

Aku pun mulai berjalan lagi dengan lesu. Namun, saat sampai di persimpangan jalan...


Pilih:

Gadis cantik jatuh dari langit

Ibu Daiko jatuh dari langit


...Nggak, nggak, nggak mungkin.

Ibu Daiko baru saja berjalan ke arah rumahnya... eh, tapi itu tidak penting sekarang. Aku sudah kenyang merasakan bagaimana Pilihan Mutlak ini sama sekali tidak mengenal hukum fisika.

Selama pilihan itu dinyatakan, tidak peduli seberapa tidak ilmiah isinya, hal itu pasti akan terjadi jika dipilih.

Artinya, kalau aku pilih nomor , Ibu Daiko bakal jatuh dari langit dengan probabilitas seratus persen. Kalau aku kena hantaman telak dari benda macam itu... mati aku. Secara fisik maupun mental.

Sambil meresapi makna dari kata "eliminasi", aku pun memilih nomor .

"Tapi, kalau pilih yang ini jadinya gimana?"

Masa tiba-tiba ada orang muncul di udara? Aku menatap langit dengan waswas. Tapi, tidak terjadi apa-apa.

"?"

Tepat saat aku merasa aneh dan mengalihkan pandangan kembali ke depan...

BLAM!

"Dowaah!"

Tiba-tiba sebuah objek jatuh tepat di depan mataku dengan kecepatan tinggi dan menghantam tanah.

"A... Apa..."

Aku terduduk lemas dan kehilangan kata-kata. Oke, aku memang sudah menyiapkan mental, tapi... serius, ada yang jatuh beneran!

Namun, sedetik kemudian, sebuah pertanyaan besar muncul di kepalaku, mengalahkan rasa kagetku atas kejadian jatuh-dari-langit itu sendiri.

"Apaan... ini?"

Soalnya, orang (?) yang jatuh itu mendarat dalam posisi bridge.

Ya, aku tahu ini terdengar tidak masuk akal, tapi aku akan menceritakan apa adanya... Orang (?) yang jatuh itu... mendarat dengan posisi bridge sempurna. Ya, tidak ada informasi tambahan lagi.

Tidak telungkup, tidak telentang, bahkan tidak pingsan. Dia ada di sana, melakukan posisi bridge yang sangat mengagumkan.

...Kenapa harus begitu?

Pemandangan yang saking surealisnya itu membuatku membeku selama beberapa saat.

Mungkin sekitar sepuluh detik berlalu seperti itu. Tiba-tiba, makhluk-tukang-bridge itu jatuh lunglai ke tanah.

Hal itu membuatku tersentak sadar. Gara-gara terdistraksi oleh bridge yang fenomenal tadi, aku hampir lupa kalau orang ini baru saja jatuh dari langit!

"Wo-woi, kamu tidak apa-apa?!"

Aku buru-buru mendekat dan mengguncang tubuhnya.

"Ngh... Fumyu?"

Dia mengeluarkan suara cempreng yang kedengarannya seperti orang baru bangun tidur.

"Syukurlah..."

Sambil menghela napas lega karena dia masih hidup, sosok itu pun mendongakkan wajahnya di hadapanku.

"Lho? Di sini... di mana ya?"

Sambil celingak-celinguk melihat sekitar, mata kami pun bertemu.

"Ugh..."

Tanpa sadar aku menahan napas. Kulit yang putih pucat, rambut pirang yang terlihat lembut, dan mata biru jernih yang bulat. Pakaiannya pun terlihat bergaya dongeng dengan paduan warna seperti cokelat.

Dan yang paling penting, wajahnya benar-benar terlalu cantik sampai terasa tidak alami. Visualnya yang sangat tidak realistis itu membuatku hanya bisa terpana.

Melihatku yang tidak bisa berkata-kata, gadis itu pun langsung memasang wajah ceria.

"Anda Amakusa Kanade-san, 'kan!"

"Eh?"

Aku kaget karena dia tiba-tiba memanggil nama lengkapku.

"A... Ah, iya benar, tapi..."

Sambil merasa bingung, aku mencoba mengubek-ubek ingatanku, tapi tidak ada informasi tentang gadis cantik seperti dia di dalam otakku.

"Anu... kamu siapa?"

"Iya! Nama saya adalah... lho? Nama saya... anu... siapa ya?"

"Mana aku tahu..."

Setelah berpose berpikir sejenak, gadis itu menepukkan tangannya.

"Saya mengerti! Sepertinya saya kena amnesia ringan!"

Woi, dialog kayak gitu jangan diucapkan dengan penuh semangat dong.

"Pasti karena benturan keras di kepala waktu jatuh tadi."

Bukannya waktu mendarat tadi posisi bridge-mu itu hebat banget ya, sampai-sampai kepalamu sama sekali tidak menyentuh tanah?

"Yah, tidak apa-apa deh. Nanti juga ingat sendiri. Pokoknya no problem, Heizaemon!"

Heizaemon? Hari gini mana ada orang yang pakai ungkapan jadul begitu. Apalagi visualnya benar-benar bule banget, jadinya terasa aneh sekali.

"Oh, kalau Anda mau, untuk sementara panggil saja saya Heizaemon juga tidak apa-apa."

Nggak makasih.

"Yah, lupakan soal nama. Saya punya hal penting yang ingin dibicarakan dengan Kanade-san!"

"Hal penting? ...Hmm?"

Melihat gadis yang mendekat sambil memberikan senyum tanpa pertahanan itu, tiba-tiba aku merasakan sensasi yang aneh. Perasaan deja vu yang sangat kuat.

"Ada apa, Kanade-san?"

Aku tahu. Dia ini kayak anjing.

Perasaan akrab yang muncul sendiri dan rasa suka tanpa syarat ini... kesannya mirip sekali dengan seekor anjing.

Tanpa sadar, aku refleks mengelus kepalanya.

Aduh, bahaya, pikirku. Tapi bukannya marah, dia malah terlihat senang dengan wajah yang berseri-seri.

"Ehehe."

"Hah?"

Sebagian poni depannya tiba-tiba berdiri tegak dengan anehnya. Saat aku berhenti mengelus, poninya kembali lemas ke bentuk semula.

"Ah, ini sih, kalau saya merasa senang, entah kenapa dia bakal berdiri sendiri."

Itu sih ekor namanya... Benar-benar mirip anjing.

Tiba-tiba, muncul sebuah keinginan iseng di dalam diriku. Iseng saja, aku pun menjulurkan tanganku.

"Salaman."

"Baik!"

...Dia melakukannya.

"Duduk."

"Baik!"

Dia melakukannya lagi... Fix, ini mah anjing.

KRUYUUUUUUK.

Tiba-tiba, terdengar bunyi yang sangat keras. Sesaat, aku pikir itu suara teriakan fans buat pengisi suara favoritnya, tapi sepertinya itu berasal dari perut gadis ini.

"Pe-perut dan punggung saya rasanya mau nempel."

Deskripsi macam apa itu? Ngeri amat.

"Kamu selapar itu ya... Ah, benar juga. Harusnya masih ada sisa."

Aku pun teringat sesuatu dan merogoh tas. Ada.

Begitu dia melihat sepotong cokelat ukuran sekali suap yang kuambil, wajahnya langsung berbinar-binar.

"Ah, cokelat!"

"Kamu suka ginian?"

"Suka banget!"




Gadis itu memasang senyum lebar. Sebenarnya memberikan cokelat kepada anjing sungguhan itu dilarang keras, tapi anak ini cuma mirip anjing, aslinya dia manusia... 'kan? Manusia, 'kan ya?

"Nih."

Aku membuka bungkusnya lalu melemparnya pelan ke udara. Dia langsung melompat—pyon!—dan menangkap cokelat itu dengan mulutnya.

"O-yi-hiii (Enak banget)."

Wajahnya berseri-berseri penuh kebahagiaan. Sama seperti tadi, poni depannya yang mirip ekor itu berdiri tegak... Lucu juga ya.

"Ah, kita pakai ini saja!"

Setelah selesai menelan cokelatnya, si gadis menepukkan kedua tangannya.

"Pakai apa?"

"Cokelat."

"Ha? Apanya?"

"Itu nama saya!"

"Nggak... aku nggak paham maksudmu."

"Kanade-san suka cokelat, 'kan?"

"Ya, aku sampai nyimpen di tas begini, sih. Aku memang suka semua yang manis-manis."

"Kalau begitu, nama saya Cokelat!"

Gampang banget mikirnya, woi.

"Nggak, 'Cokelat' itu bukan nama orang, tahu."

"Masa, sih? Kalau begitu... biar kedengaran sedikit intelektual, mari panggil saya Chocolat!"

Aku tidak tahu di bagian mana sisi "intelektual"-nya, tapi "Chocolat" memang terasa lebih mirip nama orang daripada "Cokelat"... meskipun tetap saja lebih cocok jadi nama anjing.

"Oke, sudah diputuskan!"

Yah, kalau dianya sendiri setuju, ya sudahlah.

Sepertinya cuma sebagian ingatannya saja yang hilang. Kalau aku tanya pelan-pelan, mungkin dia bisa ingat nama aslinya.

Untuk memastikan sejauh mana ingatan Chocolat (?), aku mencoba menanyakan tujuannya.

"Tujuan saya adalah mengurus Kanade-san!"

Dia mengucapkannya tanpa ragu sedikit pun.

"Ha? Mengurus... aku?"

"Iya. Ingatan saya memang masih samar, tapi hanya hal itu yang saya yakini."

Rasanya... firasatku mulai nggak enak nih.

"O-oh... terus, asalmu dari mana? Kamu datang dari mana?"

"Dari sana!"

Dia menunjuk lurus-lurus ke arah langit.

"Hm? Maksudnya dari Utara?"

Dilihat dari penampilannya, dia jelas bukan orang Asia. Mungkin dari Rusia atau Eropa Utara?

"Bukan, dari atas langit!"

"Atas... langit?"

"Betul sekali!"

Ya memang sih tadi kamu jatuh dari langit, tapi...

"Singkatnya, kamu datang dari dunia di atas langit untuk mengurusku, begitu?"

"Tepat sekali!"

Chocolat melakukan pose guts dengan senyum lebar. Berbanding terbalik dengannya, semangatku justru langsung merosot drastis.

"Dadah."

"L-lho, kenapa malah pergi?! Tunggu sebentar!"

Ya soalnya... kamu mencurigakan banget, woi!

"Saya pasti berguna kok! Coba dulu jadikan saya asisten di sisi Anda!"

Entah kenapa, Chocolat mengejarku sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya (gaya menjilat).

"Nggak, makasih. Aku nggak butuh yang kayak gitu."

"Kalau Anda mau, sekarang saya kasih bonus deterjen, deh!"

"Memangnya kamu loper koran?!"

"Saya kasih semangka sama tempura juga!"

"Bisa sakit perut kalau dimakan barengan, tahu!"

"Saya kasih apel sama gorila juga!"

"Terompet sama celana dalam juga nggak butuh!" (T/N: Referensi permainan kata Shiritori: Ringo -> Gorilla -> Rappa -> Pantsu)

"Saya kasih surat nikah sama surat cerai juga!"

"Dua benda itu jangan disatuin dong!"

"Saya kasih tanah sama sertifikat hak miliknya juga!"

"Nah, kalau itu aku mau!"

"Maaf, saya bohong."

"Sudah kuduga!"

"Saya kasih buku Guri dan Gura juga!" (T/N: Guri dan Gura: Buku cerita anak-anak yang sangat populer di Jepang tentang dua ekor tikus hutan.)

"Aku sudah punya! Itu buku legendaris, aku sudah punya dari dulu!"

"Saya kasih Baka to Test juga!"

"Ada yang kurang tuh! Kalau cuma itu mah jadinya cuma 'Si Bodoh dan Ujian' doang!"

"Kalau begitu, silakan tanda tangan di dokumen 'Saya akan membeli guci mencurigakan ini'."

"Mau jualan apa kamu di tengah kekacauan begini?!"

...Sial, sebenarnya apa sih makhluk ini?

Aku memutuskan lebih baik tidak terlibat lebih jauh lagi dengannya, lalu aku berbalik dan mulai berjalan pergi.

"Aaahhh!"

Terdengar suara yang dibuat-buat dari belakangku. Tapi aku mengabaikannya dan terus melangkah.

"Aaahhhhh!"

...Karena kalau tidak direspons sepertinya bakal lanjut selamanya, dengan terpaksa aku menoleh. Di sana, Chocolat sedang berpose manja di atas tanah sambil menatapku dengan mata memelas.

Entah dari mana dia mengambilnya, dia bahkan menggigit sapu tangan sebagai properti... Sumpah, bikin emosi.

"Duluan ya."

"Tu-tunggu sebentar! Ada gadis lemah yang terkapar begini, harusnya Anda bilang sesuatu yang keren seperti, 'Kamu tidak apa-apa, Baby?', atau perhatian sedikit kek!"

Dialog kayak gitu cuma boleh diucapkan oleh Hanawa-kun doang, tahu. (T/N: Hanawa-kun: Karakter dari anime Chibi Maruko-chan yang kaya raya dan sering menggunakan kata "Baby".)

"Begini ya, aku mau ke sekolah. Nggak ada waktu buat ngeladenin kamu."

Panggilanku padanya berubah secara alami dari "kamu" (sopan) menjadi "kau" (kasual). Sepertinya otakku sudah memutuskan kalau makhluk ini tidak perlu dihormati.

"Ayo dong, jangan begitu. Saya akan melakukan apa saja kok, jadi tolong beri saya perintah!"

"Kalau begitu, jangan ganggu aku."

"Ah, sayang sekali. Permintaan yang melebihi kekuatan saya tidak bisa dikabulkan."

Kamu ini Shenron atau apa, sih?!

Repot juga... Gimana caranya biar bisa lepas dari makhluk aneh ini?

Saat aku sedang berpikir keras, sesuatu yang sedang mendekat masuk ke dalam jangkauanku... Ini dia!

"Chocolat-san, Chocolat-san."

"Iya, ada apa?"

Aku mengeluarkan sisa "benda itu" dari dalam tas.

"Ah, cokelat!"

"Mau?"

"Mau!"

Aku menggoyang-goyangkan tangan yang menggenggam cokelat di atas kepalanya.

"Kasih saya!"

Chocolat melompat-lompat, tapi karena tubuhnya mungil, dia sama sekali tidak sampai. Sambil melakukan itu, aku mengatur waktu.

Sip, waktunya pas. Maaf ya sudah membuang-buang makanan, tapi—

"Eyaat!"

Saat sebuah truk kecil lewat di samping kami, aku melemparkan cokelat itu tepat ke bak belakangnya.

"Ah, Cokelat-san, tunggu sayaaa!"

Chocolat pun mengejar truk itu dengan langkah kaki yang ringan.

Dalam sekejap jaraknya menjauh, tapi dia tidak menyerah dan menghilang di balik tikungan jalan.

"Serius, nih...?"

Setelah beberapa lama, tidak ada tanda-tanda dia bakal kembali. Aku memang sudah mengira dia agak bego, tapi tidak menyangka dia bakal kena tipu semudah itu.

Setelah liburan Golden Week usai, secara kalender memang sudah memasuki musim panas, tapi hawa hangat yang nyaman khas musim semi masih terasa sangat kental.

"Yah... memang harus hati-hati sama orang aneh."

Aku bergumam pada entah siapa, lalu mulai melangkah lagi menuju sekolah.


2

SMA Seikou, sekolahku, adalah sekolah "raksasa" yang punya lima belas kelas dalam satu angkatan. Karena saking banyaknya murid, kompleks sekolahnya pun luasnya nggak kira-kira.

Artinya, jarak dari gerbang sekolah ke loker sepatu saja lumayan jauh.

Setelah harus nempelin muka ke buku porno, dipeluk maut Ibu Daiko, dan bertemu makhluk aneh mirip anjing, fisik dan mentalku sudah terkuras habis. Aku pun menyeret langkah dengan ogah-ogahan menyeberangi lapangan sekolah.

Beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai juga di loker sepatu. Untungnya, kelas 2-1 ada di lantai dua, tepat di depan tangga. Begitu sampai di sini, sisanya tinggal naik satu lantai saja.

"Yo."

Aku membuka pintu kelas dan menyapa teman-teman yang kulihat.

Saat hendak menuju kursuku, sosok seorang gadis yang berdiri di pinggir jendela menarik perhatianku.

Yukihira Furano.

Padahal dia cuma berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa, tapi kehadirannya memancarkan aura yang aneh. Seolah-olah udara di sekelilingnya membeku dan berbeda dari dunia luar.

Sesuai dengan namanya, warna rambutnya yang keputihan berkilau diterpa sinar matahari dari jendela, persis seperti salju yang baru turun.

"Oi, pagi, Yukihira."

Mendengar suaraku, dia menoleh. Wajahnya sangat cantik, meskipun memberikan kesan agak kaku—seperti benda mati.

Yukihira menjawab tanpa menggerakkan ekspresi wajahnya sedikit pun.

"Pagi, dasar Ulat Belatung."

"...Ha?"

Makian macam apa itu?!

Normalnya, orang bakal mengira mereka salah dengar. Tapi, yah, lawan bicaranya 'kan Yukihira. Kalau aku ciut cuma gara-gara ini, kami nggak bakal bisa ngobrol.

"Ah, cuacanya bagus ya hari ini."

"Iya benar, dasar Ulat Belatung."

"Hari begini rasanya pengin bolos saja terus pergi main ke mana gitu."

"Ara, ternyata kamu bandel juga ya, dasar Ulat Belatung."

"Ngomong-ngomong, hari ini hari apa ya?"

"Hari Senin, tapi apa hubungannya, dasar Ulat Belatung?"

"Kamu tahu nggak sih istilah 'pengalihan topik' itu ada?!"

Saat aku mulai berteriak kesal, Yukihira menjawab dengan nada datar yang tenang.

"Ah, maaf kalau menyinggung perasaanmu. Itu cuma Insect Joke (Lelucon Serangga) kok."

"Insect Joke? Apaan lagi itu?"

Ini pertama kalinya seumur hidup aku mendengar istilah itu.

"Sebenarnya tadi pagi, di ramalan cuaca TV, katanya hari ini mungkin akan ada bencana yang berhubungan dengan serangga. Aku tidak percaya sepenuhnya sih, tapi tetap saja kepikiran, 'kan?"

"Terus?"

"Makanya, aku jadikan lelucon saja supaya bisa kutertawakan."

"Pemikiranmu terlalu kelewat kreatif..."

"Habisnya, aku ini tipe wanita pemberontak yang tidak mau tunduk pada takdir. Kalau ada fenomena yang tidak bisa kuterima, aku akan melawannya sampai mati."

"Nggak... ini sama sekali bukan masalah sebesar itu, tahu."

"Ngomong-ngomong, kalau Kanade-kun memaksa, aku bisa menunjukkan Insect Joke yang lain."

"Nggak usah, nggak perlu."

"Ngomong-ngomong, kalau Kanade-kun memaksa, aku bisa menunjukkan Insect Joke yang lain."

Sepertinya dia benar-benar ingin aku mendengarnya. Kalau aku tolak, masalahnya malah bakal makin panjang.

"Ya sudah, satu saja."

"........."

"Yukihira?"

"........."

"Halo? Yukihira-san?"

"Heii, dengerin nih Monsieur (Pak). Hari ini, aku habis me-MUSH-i (mengabaikan) teman kelasku yang MUSH-uk (bodoh)!" (T/N: Plesetan kata mushi (serangga) dan mushi (mengabaikan)).

Garingnya minta ampun.

"Ngomong-ngomong, apa kamu paham kalau barusan itu bukan cuma plesetan antara 'serangga' dan 'mengabaikan', tapi juga terselip sedikit bunyi 'Monsieur'?"

"...Nggak, nggak paham."

Bisa-bisanya dia menjelaskan sendiri dagelan yang nggak lucu itu. Seberapa kuat mentalnya, sih?

"Kalau begitu, George yang jatah tampilnya direbut demi lelucon tadi harus meluapkan kemarahannya ke mana?!"

"Siapa lagi itu George?!"

Yukihira Furano ini aslinya karakter yang keren dan cool, tapi terkadang dia suka melontarkan banyolan garing atau tiba-tiba bersemangat sendiri. Aku sampai tidak tahu kepribadian aslinya itu yang mana.

"Ara, kenapa kamu melamun, Kanade-kun? Wajahmu terlihat seperti orang yang mau pergi menyerang gadis kecil."

"...Memangnya kayak gimana muka kayak gitu?"

"Atau, wajahmu mirip penduduk desa di RPG yang terus-menerus mengulang dialog 'Ini adalah desa permulaan, lho' di depan gerbang desa."

"Dua hal itu sama sekali nggak ada kesamaannya, tahu."

"Atau, wajahmu mirip penduduk desa di depan gerbang yang mengulang dialog 'Hah... hah... lu liat... bocah cewek cakep... lewat sini nggak?'"

"Itu mah kamu cuma maksa nyambung-nyambungin doang!"

...Sudahlah. Meladeni orang ini cuma bikin capek. Begitu aku memutuskan untuk berhenti bicara dan berjalan melewati Yukihira—


Pilih:

"Hei, boleh dong aku pegang dadamu, dada!"

"Hei, ayo dong pegang dadaku, dada!"


...Oke, ini gila. Ini benar-benar gila.

Manusia normal pasti bakal mati-matian menolak kalau dipaksa memilih pilihan mesum seperti ini. Tentu saja, awalnya aku juga begitu... Ya, awalnya.

Apa yang terjadi kalau Pilihan Mutlak muncul tapi tidak dipilih dan dibiarkan saja? Jawabannya: Kepalaku bakal sakit. Itu saja.

Aku tidak bercanda. Awalnya cuma sakit cenat-cenut biasa, tapi seiring berjalannya waktu, rasanya otakku seperti diremas dari dalam, dan berkembang menjadi rasa sakit yang luar biasa tidak manusiawi.

Rasanya seperti tengkorakku masih utuh, tapi bubur otak di dalamnya siap meledak keluar.

Intinya, melawan itu mustahil, sia-sia, dan percuma.

Manusia bernapas, itu wajar. Anjing tidak bisa bicara, itu wajar. Kalau Pilihan Mutlak muncul ya harus dipilih, itu juga wajar.

Jadi, begitulah.

"Hei, ayo dong pegang dadaku, dada!"

Begitu kalimat itu terlontar, alis Yukihira sedikit berkedut.

"...Kanade-kun, barusan kamu bilang apa?"

Wajar dia bertanya balik. Siapa pun pasti bakal meragukan pendengaran mereka sendiri.

"Nggak, ini tuh maksudnya—"

"Jangan-jangan, kamu baru saja menyuruhku memegang paiotsu-mu?"

"...Ha? Barusan kamu bilang apa?"

Malah aku yang bertanya balik. Barusan... dia bilang paiotsu (tektek)?

"Yang ingin kupastikan adalah, apakah kamu benar-benar baru saja membuat pernyataan 'Tolong pegang paiotsu-ku'?"

"Nggak... aku memang bilang yang mirip-mirip, tapi aku nggak bilang paiotsu—"

"Kamu nggak bilang paiotsu? Aneh ya, aku jelas-jelas dengar kata paiotsu. Aku tidak mungkin salah dengar kata paiotsu... Ah, atau kamu malu karena baru saja bilang paiotsu? Menurutku paiotsu bukan kata yang cabul-cabul amat sih. Lagipula, yang namanya paiotsu itu—"

"Kamu cuma pengin ngomong paiotsu berkali-kali, 'kan?!"

"Aku mengakuinya. Tapi ayolah, kamu juga pasti punya saat-saat di mana kamu merasa sangat ingin meneriakkan kata paiotsu, 'kan?"

"Nggak pernah!"

"Kenapa nggak pernah?!"

"Kenapa malah aku yang dimarahin?!"

...Kali ini aku bersyukur Yukihira itu orang aneh. Kalau pilihan semacam ini muncul di depan gadis lain, bisa jadi masalah besar.

Faktanya, tahun lalu kelasku benar-benar berantakan. Di depan para gadis, aku dipaksa melakukan ini-itu dan bicara yang macam-macam... Ah, sudahlah, jangan diingat lagi, nanti aku pengin nangis.

Intinya, Pilihan Mutlak ini sepertinya senang sekali melihatku menderita.

Kalau di dalam Gal Game, pilihan ini cuma menyediakan rute Bad End. Gara-gara ini, selama setahun terakhir, aku tidak pernah merasakan yang namanya cinta-cintaan.

Bukannya aku pengin jadi cowok populer, tapi aku cuma pengin bisa ngobrol normal (tanpa ditakuti atau dipandang rendah) sama perempuan...

Lagi pula, hari ini jumlah pilihannya lebih banyak dari biasanya, dan isinya makin parah. Lebih baik aku cepat-cepat ke tempat duduk dan diam saja.

Tepat saat aku hendak melesat melewati Yukihira—


Pilih:

"Hei, boleh dong aku pegang paiotsu-mu, paiotsu!"

"Hei, ayo dong pegang paiotsu-ku, paiotsu!"


...Nggak perlu. Nggak perlu pakai pilihan yang "menyambung topik" kayak begini!

Tapi ya, meski dalam hati aku mengumpal-umpal, aku tetap tidak punya hak tolak.

"Hei, ayo dong pegang paiotsu-ku, paiotsu!"

Mendengar itu, Yukihira dengan wajah datarnya membuka mulut.

"Maaf. Aku tidak mau bicara dengan orang yang mengucapkan kata-kata mesum seperti itu."

"Kaca mana kaca?! Kamu sendiri yang ngomong duluan!"

"Mulut inilah yang mengucapkannya. Mulut yang entah kenapa malah keterusan ngomong paiotsu."

"Kamu nggak punya kamus konsistensi dalam hidupmu, ya?!"

"Di kamusku cuma ada kata paiotsu."

"Ya sudah, sana teriak paiotsu seumur hidup!"

"Kanade-kun... masa kamu anggap serius becandaan kayak gitu?"

"UGAAAAAHH!"

Aku mengacak-acak rambutku dengan frustrasi. Nggak bisa... aku benar-benar nggak bisa ngeladenin dia. Aku pun meninggalkan Yukihira yang sepertinya masih mau melucu, lalu menuju tempat dudukku.

Padahal jam pelajaran pertama saja belum mulai, tapi aku sudah merasa capek luar biasa. Aku pun duduk sambil menghela napas panjang.

Lalu, tanpa sengaja, mataku melirik ke luar jendela.

"...Eh?"

Ada wajah orang di sana.

"Uwooo!"

Sontak aku langsung berdiri dari kursi.

"Oh, Amacchi. Pagi!"

Sosok itu tersenyum dari balik kaca, lalu membuka jendela dengan penuh semangat.

"Touu!"

Dia menginjak bingkai jendela dan melompat ke dalam kelas dengan teriakan ala pahlawan Tokusatsu.

Rambut hitam panjangnya yang indah menjuntai hingga pinggang melambai saat dia mendarat dengan ringan.

"Kamu... masuk lewat mana sih, woi."

Gadis yang kini jadi pusat perhatian seluruh kelas itu, Ouji Ouka, langsung mengacungkan jempolnya dengan bangga.

"Haha! Tadi guru kedisiplinan lagi jaga di pintu masuk, jadi aku panjat tembok saja!"

"Panjat tembok" katanya... Memang sih nggak tinggi-tinggi amat, kalau jatuh pun paling nggak bakal mati, tapi dia 'kan bukan anak kecil lagi. Orang normal mana ada yang kepikiran begitu.

Aku memperhatikan gadis di depanku. Rambut hitam panjang yang berkilau. Tubuh yang langsing tapi punya lekukan yang pas. Wajahnya yang tenang memberikan kesan seperti putri bangsawan yang terpingit.

Tapi begitu dia buka mulut, dia langsung jadi berisik kayak anak SD. Ekspresi wajahnya berubah-ubah dengan cepat, dan tindakannya tidak pernah bisa diprediksi.

Tindakan "memanjat tembok sekolah" yang harusnya mustahil bagi orang biasa, kalau pelakunya adalah Ouji, orang-orang cuma bakal bilang, "Ah, palingan dia."

"Oyo, Amacchi. Wajahmu kok capek banget? Ada apa?"

Tanpa ragu sedikit pun, dia mendekatkan wajahnya sampai jarak yang sangat dekat untuk mengintip ekspresiku.

"Ugh..."

Aku ingin dia lebih sadar soal batasan antara laki-laki dan perempuan, tapi sepertinya itu permintaan yang mustahil buat si "anak kecil" ini.

"Yah, banyak kejadian tadi pagi... Ngomong-ngomong, tas ransel di punggungmu itu isinya apa?"

Di punggung Ouji ada tas ransel yang saking penuhnya sampai menggelembung, seolah-olah dia mau kabur dari rumah malam-malam.

"Oh, bagus kamu nanya! Nahaha, aku nggak bisa lewat pintu depan gara-gara mau menyelundupkan ini!"

Seolah sudah menunggu pertanyaan itu, Ouji menurunkan tasnya ke lantai dengan wajah riang. Dia memanjat tembok sambil menggendong beban seberat itu? Kemampuan fisiknya ini sebenarnya level berapa, sih?

"Lihat nih, lihat! Ini produk purwarupa dari perusahaanku."

Isi tas itu dikeluarkan secara sembarangan ke lantai. Hampir semua barang yang berserakan di sana memiliki logo "UOG".

Meski sampai sekarang aku masih sulit mempercayainya, Ouji ini adalah putri dari presiden direktur UOG, perusahaan raksasa yang sudah dikenal semua orang.

Bidang usahanya sangat luas, mulai dari makanan, pakaian, kosmetik, elektronik, hingga buku. Susah sekali mencari rumah yang tidak punya satu pun produk UOG. Perusahaan ini sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat.

"Ini barang-barang yang gagal masuk tahap produksi, tapi orang-orang di bagian pengembangan produk memintaku membawanya. Katanya sih buat referensi masa depan, mereka butuh masukan langsung dari anak muda!"

Mendengar suara Ouji, teman-teman sekelas mulai berkumpul. Meski ini barang gagal, wajar kalau mereka tertarik dengan produk UOG yang selalu jadi tren terdepan.

"Ouka-chan, itu apa?"

Di saat semua orang mengambil barang dan memberikan pendapat mereka, salah satu siswi menunjuk ke botol berwarna merah yang terlihat sangat mencolok.

"Oh, itu semacam suplemen stamina versi wanita, buat para istri yang lagi dalam masa jenuh sama suaminya. Katanya sih punya efek mengaktifkan hormon wanita."

Woi, kenapa mereka malah minta masukan anak SMA buat barang kayak gitu...

"Padahal khasiatnya oke banget dan harganya juga murah, tapi katanya langsung ditolak mentah-mentah pas rapat perencanaan."

"Heh, kenapa ya?"

Aku mengambil botol itu dan memutarnya. Lalu aku melihat nama produk dengan logo yang sangat norak.

"ABAZUREN Z" (T/N: Plesetan dari kata Abazure yang berarti wanita jalang).

"Ya... dari namanya saja sudah nggak benar."

"Ngomong-ngomong tadi pagi, diam-diam aku campurkan ke sarapan Ibu. Tiba-tiba Ibu langsung megap-megap terus bilang, 'Ouka... kamu nggak pengin punya adik?' gitu."

"Apa yang kamu lakukan sama istri Presiden UOG, woi!"

Ibu Ouka, Ouji Kyouka, adalah mantan idola yang sangat populer sekitar dua puluh tahun yang lalu.

Berbeda dengan idola lain saat itu yang biasanya tampil manja dan sok imut, dia dikenal dengan imej yang cerdas dan intelektual.

Dia pensiun setelah bertunangan dengan Ouji Outoma, sang maestro bisnis, dan sejak saat itu jarang muncul di media. Tapi belakangan ini dia sering muncul kembali sebagai komentator di berita-berita.

Kesannya benar-benar wanita yang cool. Bisa-bisanya Ouka melakukan eksperimen manusia ke ibunya sendiri sampai membuatnya jadi agresif begitu... Lagipula, aku masih tidak percaya kalau Ouka lahir dari rahim Ouji Kyouka.

Yah, lupakan soal misteri keluarga Ouji. Sepertinya Abazuren Z gagal bukan cuma gara-gara namanya saja. Kalau obat dengan efek seberbahaya itu beredar, masyarakat Jepang pasti bakal hancur.

Aku pun beralih melihat barang lain. Di sudut lantai, ada benda kecil mirip printer yang cukup mencolok. Di tengah mesin itu terselip tumpukan kertas persegi panjang.

"Ouji, ini apa?"

"Oh, itu mainan buat anak kecil namanya SATSU RUN DESU (Ini Bisa Cetak Duit). Kita bisa main cetak uang buatan sendiri." (T/N: Plesetan dari merek kamera Utsurun Desu).

Benar saja, di permukaan kertasnya tergambar karakter anime dan ada tulisan besar "Uang Mainan" di tengahnya. Aku mengambil tumpukan itu dan membaliknya satu-satu.

"Wih, detail banget ya... eh? Kenapa ada yang asli nyelip di sini?!"

Di sela-sela kertas mainan itu, ada satu lembar uang asli bergambar Yukichi-sensei (lembaran 10.000 Yen).

"Nahaha, mesin ini performanya tinggi banget, lho. Pas aku coba-coba bikin, eh malah jadi mirip banget sama aslinya."

"Itu namanya kriminal, woi!"

Benar-benar out, sudah lewat batas hukum ini mah.

"Ampun deh, nggak ada yang lebih normalan dikit... oh, ini Life Candy (Permen Kehidupan) ya."

Life Candy adalah produk legendaris dari merek kembang gula UOG, "Euroji". Setiap kemasan berisi tiga butir dengan tema tertentu yang disebut "Edisi...". Variasinya sangat banyak.

Misalnya seperti ini: Edisi Percintaan: Rasa Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Rasa Pernyataan Cinta, Rasa Cinta Tak Terbalas.

Rasa asam yang melambangkan kesedihan, rasa sangat pedas yang melambangkan deg-degan, dan rasa manis kebangetan yang bikin enek. Komposisinya berantakan, tapi karena sisi humornya dan harganya yang murah, produk ini bersaing ketat dengan seri populer lainnya, Animal Candy.

"Nah, ini juga banyak banget yang gagal masuk pasar," kata Ouka sambil mengambil beberapa dan memberikannya padaku.

Edisi Playboy: Rasa Selingkuh, Rasa Ketahuan Selingkuh, Rasa Ditusuk Pacar.

"Kenapa bagian akhirnya dibilang dengan nada imut begitu?! Nggak lucu, woi!"

Edisi Karyawan Menengah: Rasa Sakit Perut Karena Ditekan Atasan dan Bawahan, Rasa Di-PHK, Rasa Mati Mengenaskan di Jalanan Usia 50 Tahun.

"Menyedihkan banget!"

Edisi Dunia Akhirat: Rasa Oleh-oleh Alam Baka, Rasa Sungai Sanzu, Rasa Tiket Sekali Jalan ke Neraka.

"Siapa juga yang mau beli?!"

Edisi NEET: Rasa 'Memangnya Kenapa?', Rasa 'Masa Tuaku Gimana Ya?', Rasa 'Bakal Jadi Apa Ya Nanti?'.

"Mana aku tahu!"

Edisi 'Kalau Menang Dapat Satu Lagi': Rasa 'Menang Nggak Ya?', Rasa 'Kalah Nggak Ya?', Rasa 'Dasar Bego Mau Saja Ditipu...'.

"Kamu lagi ngeledek ya!"

Intinya, semua ini sudah tidak ada hubungannya sama rasa lagi.

"Meski ini barang gagal, produk utamanya saja sudah begini... eh?"

Saat aku mencari barang yang sedikit lebih normal, aku melihat Yukihira sedang jongkok di pojokan.

Ternyata dia sedang memegang mesin Satsu Run Desu sambil menatapnya tajam... Matanya terlihat menyeramkan.

"Yukihira, kamu kenapa?"

"Ah, Kanade-kun. Mainan ini kalau disalahgunakan bakal jadi bencana besar. Menurutku, orang yang punya integritas moral harus bertanggung jawab untuk mengelolanya."

"Yah... mungkin kamu benar."

Malah menurutku lebih baik dihancurkan sekarang juga di sini.

"Eh, aku? Nggak mungkin lah. Eh, cuma aku yang bisa? Ya-ya sudahlah kalau kamu sampai sebegitunya memohon, mungkin aku bisa mencobanya."

"Drama apaan itu?! Nggak ada yang minta, woi!"

"Cih..."

Dia mendecit. Barusan dia mendecit, 'kan?!

Saat Yukihira berdiri dengan wajah datarnya, Ouji berteriak.

"Ah, Furanocchi! Yo!"

Yukihira membalas sapaannya dengan nada datar.

"Pagi, Gadis Ulat Belatung."

Banyolan itu masih lanjut?!

"Hm? Ulat Belatung? Ah benar juga, ngomong-ngomong soal ulat belatung!"

Ouji mulai mengubek-ubek dasar tas ranselnya. Seumur hidup, baru kali ini aku mendengar orang bilang "ngomong-ngomong soal ulat belatung".

"Nih, ada yang kayak begini juga. Wah, kebetulan banget ya. Cobain deh, Furanocchi."

Di depan Yukihira disodorkan sebuah kemasan berwarna ungu gelap dengan tulisan:

"Animal Candy: Rasa Ulat Belatung"

Keajaiban macam apa ini!

"Begitu ya, jadi bencana serangganya itu adalah benda ini... Semoga pembuatnya cepat mati."

Yukihira menerimanya dengan tenang, meskipun akhirnya dia mengumpat pelan. Yah, aku paham perasaannya. Lagipula, apa-apaan sih rasa ulat belatung? Ini mah bukan level barang gagal lagi.

Setelah membuka bungkusnya, Yukihira memasukkan permen itu ke mulutnya. Setelah beberapa saat memutar-mutarnya dengan lidah, dia berkata dengan wajah serius.

"Rasanya benar-benar ulat banget."

"Review macam apa itu!"

"Kalau ditambah setetes air kencing tonggeret sebagai bumbu rahasia, aromanya pasti bakal makin mantap."

"Nggak bakal! Kenapa kamu ngomong kayak lagi pakai minyak wijen?!"

Sambil membalas omongan Yukihira, aku menoleh ke Ouji.

"Ngomong-ngomong... itu aman dimakan, 'kan?"

"Aman, aman! 'Kan ada permen rasa stroberi atau melon, tapi isinya bukan stroberi atau melon beneran, 'kan? Nih, Amacchi juga coba satu!"

"O-oh... begitu ya?"

...Apaan nih. Bukannya nggak enak, sama sekali nggak nggak enak, tapi rasanya itu... kayak ada yang mengganjal. Susah dijelaskan.

"Ini isinya apaan sih?"

Ouji melihat ke label kemasannya.

"Sebentar ya. Bahan-bahannya adalah... oh, Ekstrak Ulat Belatung."

"HOEEEEEKKK!"

Secara refleks, aku langsung memuntahkan permen itu. Melihat hal itu, Ouji langsung berpose guts dan berseru.

"Amacchi! Kalau dipungut dalam tiga detik masih bisa dimakan, lho!"

"Bukan itu masalahnya!"

"Aha! Amacchi, yang tadi itu cuma bercanda kok, bercanda! Mana mungkin ada sari ulat belatungnya."

Mendengar kata-kata Ouji, Yukihira menepukkan tangannya.

"Ara, itu Insect Joke yang bagus."

"Sudah cukup soal itu!"

Sial... dari ekspresi Ouji, aku tidak bisa membedakan mana yang jujur dan mana yang bohong. Aku harus memastikannya sendiri.

"Coba sini lihat!"

Aku merebut kemasannya dan mengecek label bahannya.

Bahan-bahan: Tidak dapat dicantumkan karena berbagai alasan.

Serem banget!

"Yu-Yukihira, kamu nggak ngerasa gimana-gimana gitu?"

Aku bertanya pada Yukihira yang sudah memakannya duluan.

"Ara, Kanade-kun. Jangan cuma gara-gara masalah begini kamu jadi 'ulat-ulatan' (plin-plan) gitu dong. Nggak laki banget." (T/N: Plesetan kata uji-uji yang berarti ragu/plin-plan).

"Kayak bapak-bapak saja candaanmu!"

"Lagipula, memuntahkan makanan pemberian orang lain itu tindakan yang sangat rendah, tahu?"

"Omonganmu nggak ada wibawanya kalau ngomong sambil nutup mulut pakai tisu gitu, Yukihira-san."

"Ini tuh mual karena hamil."

"Bohong yang lebih masuk akal dikit kenapa sih!"

"Ahaha, tenang saja kalian berdua. Di dunia ini bahkan ada keju yang isinya ulat belatung beneran, jadi nggak apa-apa kok."

"Itu artinya kamu ngaku kalau isinya ada ulatnya, 'kan!"

Suara teriakanku sampai agak pecah. Sudah berapa kali aku berteriak sejak pagi tadi?

"...Hebat ya, kalau tiga orang ini sudah kumpul."

Aku mendengar gumaman seseorang. Telingaku langsung bereaksi. Kalau Ouji, Yukihira, dan aku disatukan dalam satu kategori, pilihannya cuma satu.

"Sial, aku tidak akan mengakuinya... Aku bukan bagian dari mereka."

"Nahaha, Amacchi, menyerah sajalah. Terima saja kenyataan kalau kamu itu salah satu dari Okotowari 5 (Lima Orang yang Ditolak)."

Sambil menepuk pundakku dengan santai, Ouji mengucapkan istilah terkutuk itu.

Di SMA Seikou ini, setiap tahun diadakan pemungutan suara populer sebanyak dua kali. Singkatnya, ini semacam kontes kecantikan dan ketampanan, di mana dari 45 kelas di tiga angkatan, dipilih masing-masing lima besar laki-laki dan perempuan.

Karena dipilih dari ribuan murid, level mereka yang masuk peringkat sangatlah tinggi. Berita ini bahkan diliput besar-besaran oleh klub koran dan klub penyiaran, sehingga tingkat popularitasnya hampir 100 persen.

Namun, di balik gemerlapnya peringkat itu, ada juga peringkat "belakang" yang sangat dibenci.

Orang-orang yang wajahnya rupawan, tapi kepribadian dan perilakunya sangat bermasalah sehingga dianggap "bukan sasaran cinta". Ada lima laki-laki dan lima perempuan yang masuk daftar hitam ini.

Gelar tidak terhormat yang diberikan kepada mereka adalah Okotowari 5.

Yukihira, karena kepribadiannya begitu, dia terlihat sama sekali tidak peduli. Ouji juga, karena sifatnya begitu, dia santai saja.

Tapi aku, orang yang (sebenarnya) normal ini, tidak bisa menerimanya.




"Beda, beda... aku ini beda sama mereka berdua. Aku cuma anak SMA normal biasa, tahu!"

Tapi ya, mau meratap sampai air mata darah pun, sekali gelar itu disematkan, minimal butuh waktu setengah tahun sampai bisa dihapus.

Ngomong-ngomong, peringkat yang dirilis Maret lalu masih menyertakan kakak kelas tiga yang sudah lulus. Jadi per Mei ini, anggota Okotowari 5 yang masih tersisa di sekolah ada sembilan orang, laki-laki dan perempuan.

Faktanya, sepertiga dari jumlah itu—alias tiga orang—berkumpul di kelas 2-1 ini.

Ditambah lagi, di kelas ini tidak ada satu pun murid yang masuk peringkat populer "jalur benar". Tak heran kalau kelas 2-1 sering dihina sebagai "Kelas Produk Gagal".

Yah, meski aku tidak mau mengakui kalau sepertiga tanggung jawabnya ada di pundakku, sih.

"Amacchi juga sih, padahal kalau diam saja kamu itu ganteng, lho," celetuk Ouka.

"Aku nggak mau dengar itu dari kamu..."

Ya, kalau mau jujur-jujuran, penampilanku secara objektif itu masuk kategori oke. Waktu SMP, aku sering ditembak cewek atau dapat surat cinta. Bilang aku ini populer pun bukan berlebihan.

Tapi, tepat di bulan Maret tahun lalu—sesaat sebelum masuk SMA—hidupku berubah total.

Si Pilihan Mutlak sialan ini tiba-tiba turun menimpaku, memaksaku melakukan berbagai tindakan aneh secara mendadak... Sampai akhirnya per Mei kelas dua ini, aku dicap dengan label terendah sebagai anggota Okotowari 5.

Tapi ingat ya, keanehanku ini murni gara-gara elemen irregular bernama Pilihan Mutlak.

Beda sama Yukihira atau Ouka yang memang baut otaknya sudah lepas dari sananya, Amakusa Kanade adalah manusia dengan kepribadian yang sangat normal. Benar, kalau saja tidak ada Pilihan Mutla──


Pilih:

Telanjang dada, lalu berteriak ala Pemuda Jepang Sejati

Telanjang kaki sampai bawah, lalu berteriak ala Prajurit Amazon


KAMU LAGI NGELEDEK AKU, YA?!

Kenapa di saat aku lagi curhat begini kamu muncul?! Baca suasana dong! Terus, sejak kapan "Amazon" identik sama "Bawahannya Blong"?! Itu prasangka macam apa, hah?!

...Oke, diabaikan lagi. Seperti biasa. Aku lakukan, nih! Aku lakukan! Puas?!

Aku memilih nomor . Tanganku mulai memegang seragam dan dengan penuh keraguan, aku mulai melucutinya.

"Uwa, lihat deh dia."

Hal yang paling menyedihkan adalah: para siswi di kelas tidak ada yang menjerit atau mukanya memerah. Reaksi mereka cuma sebatas, "Si Amakusa mulai kumat lagi," gitu.

Padahal kelas baru ini baru berjalan sebulan, tapi aku sudah diakui sebagai "orang yang nggak aneh kalau tiba-tiba telanjang"... kenyataan ini...

Sambil menepis rasa ngenes itu, aku pun sukses (?) bertelanjang dada. Gimana, wahai Pilihan? Sudah puas?

"Guh...!"

Namun, rasa sakit kepala tanda jawaban "NO" menyerangku. Sepertinya bagian "berteriak ala Pemuda Jepang Sejati" masih kurang.

"GAHAHA! INILAH SEMANGAT LELAKI SEJATI, WOI!"

Saking nekat dan putus asanya, aku berteriak dengan nada yang sok garang.

Rasa sakit di kepalaku langsung sirna... Serius, cuma gitu doang?

"Yo."

Tepat saat itu, pintu depan kelas terbuka, dan guru masuk di waktu yang paling amsyong.

Pandanganku langsung beradu dengan guru itu, sementara aku masih dalam posisi telanjang dada sambil melakukan pose guts.

"Kamu... lagi ngapain?"

Wali kelas 2-1, Douraku Utage.

Meski perawakannya seperti anak SD dan wajahnya sangat imut dan manis, omongannya sangat kasar dan pedas (maksudnya emosian).

Di SMA Seikou yang suasananya santai, aura preman yang dia pancarkan terasa sangat asing.

"Anu, Bu Guru, ini ada alasan mendalam..."

"Heh, coba jelasin."

"Anu... saya disuruh begitu."

"Sama siapa?"

"...Sama 'seseorang' yang ada di dalam kepala saya."

Nggak masuk akal! Aku sendiri pun merasa alasan ini ampas banget!

Utage-sensei memberi isyarat dengan telapak tangannya yang mungil.

"Sini. Duduk tegak (seiza)."

"Anu, boleh saya pakai baju dulu ngg──"

"Diam."

"......Baik."

Begitu aku menekuk lutut, tengkukku langsung dicengkeram.

"Bimbingan khusus. Kita ke ruang sebelah."

"Adadada! Sakit, Sensei! Sakit!"

Utage-sensei memerintahkan ketua kelas untuk mengabsen sebagai penggantinya, lalu dia menyeret aku menuju pintu. Dari mana sih tenaga sebesar itu keluar dari tubuh sekecil itu?!

Tanpa bisa melawan, aku pun diseret di sepanjang lorong sekolah... dalam kondisi telanjang dada.


3

Aku diseret masuk ke ruang bimbingan siswa. Utage-sensei menyandarkan tubuh mungilnya di kursi sambil bersedekap, lalu berkata dengan nada malas.

"Jadi, kenapa kamu masih telanjang dada begitu?"

"KARENA ANDA NGGAK KASIH WAKTU BUAT PAKAI BAJU, TAHU!"

"Udah deh, cepetan muntahin apa yang terjadi. Aku juga sibuk, nih."

Padahal dia sendiri yang bertanya, tapi dia malah cuek bebek dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi ke atas meja.

"Aduh, tolong peka sedikit dong. Lagian, Anda pasti sudah tahu tapi sengaja nanya, kan?"

"Kuku. Jadi, pilihan macam apa yang muncul kali ini?"

...Ternyata benar. Utage-sensei adalah satu-satunya manusia yang menyadari keberadaan Pilihan Mutlak di dalam diriku karena alasan tertentu.

"Anu, disuruh milih telanjang dada atau telanjang bawah..."

"...Dan kamu pilih yang atas? Duh, kamu beneran nggak punya selera humor ya."

"MANA ADA SELERA HUMOR KALAU HARUS PAMER BURUNG DI SEKOLAH!"

"Nggak masalah. Paling parah kan kamu cuma dikeluarkan dari sekolah."

"ITU MASALAH BESAR!"

"Di dunia ini ada istilah 'kebakaran di seberang sungai'—alias masa bodoh sama masalah orang lain."

"INI KEBAKARAN DI DEPAN MATA! Aku ini murid di kelas Anda, lho!"

Sial... kenapa orang-orang di sekitarku, mulai dari murid sampai gurunya, nggak ada yang bener satu pun sih?

"Tolong serius dikit do—Eh, Sensei?"

Seketika, sikap meledek Utage-sensei menghilang. Wajahnya tiba-tiba mendung. Dia bergumam pelan.

"Tapi ya... memang dari dulu pilihannya selalu nggak ngotak."

"Sensei..."

Ya, jangan kaget, guru loli di depanku ini ternyata dulunya juga pemegang Pilihan Mutlak. Katanya, kekuatan ini punya sifat berpindah dari satu orang ke orang lain. Utage-sensei adalah pemegang beberapa generasi sebelumnya, dan pemegang saat ini adalah aku.

Meski aku sudah berkali-kali bertanya kenapa kekuatan ini pindah ke aku atau apa syarat perpindahannya, dia selalu mengelak dengan alasan "sekarang belum saatnya" atau "ah, males jelasinnya".

Utage-sensei membuang muka sedihnya dan kembali ke mode malasnya yang biasa.

"Ya sudahlah, kamu boleh balik. Aku cuma bawa kamu ke sini sebagai formalitas saja, soalnya nggak mungkin kan kejadian kayak tadi dibiarin gitu saja. Tenang saja, aku bakal tetap back-up kamu semampuku kayak tahun lalu. Jadi, berjuanglah."

Walaupun aku kesal karena dia sangat tertutup, fakta bahwa dia adalah satu-satunya orang yang memahamiku sejak tahun lalu sangatlah membantu. Kalau bukan karena bantuan Utage-sensei, aku yakin aku sudah kena skors atau bahkan dikeluarkan gara-gara tingkah aneh yang kupelajari dari Pilihan Mutlak ini... Duh, aku jadi benci diriku sendiri kalau ingat itu.

"Ah, benar juga. Ada yang mau aku tanyakan."

Topik soal pilihan tadi mengingatkanku pada sesuatu. Tentang makhluk misterius bernama Chocolat yang jatuh dari langit pagi tadi. Aku tidak tahu apakah dia ada hubungannya langsung dengan Pilihan Mutlak, tapi sebagai mantan pemegang, ada kemungkinan Utage-sensei tahu sesuatu.

"Tadi pas berangkat sekolah, ada gadis cantik aneh yang jatuh dari langit—"

Utage-sensei menepuk bahuku dengan tatapan mata yang seolah melihat ke tempat yang sangat jauh.

"Kasihan sekali... Akhirnya kamu sudah nggak bisa bedain mana dunia dua dimensi dan tiga dimensi ya."

"Bukan begitu! Ini beneran!"

Aku tahu ceritanya memang terdengar sangat mencurigakan, tapi ya mau gimana lagi, itu kenyataannya.

"Eh? Tapi kemarin kamu bilang begini kan: 'Fuhahi, di gal game ini kalau kita namatin satu karakter sampai seratus kali, dia bakal keluar dari layar dan aku bisa melamarnya, lho!' sambil pasang muka seneng."

"AKU NGGAK PERNAH BILANG BEGITU! Ingatan Anda sehat, nggak?!"

"Oh, apa seratus satu kali ya?"

"Bukan di situ masalahnya!"

"Atau, 'Fuhahi, maap-maap nih'?"

"ITU JUGA BUKAN! Anda mengarang bebas semua dialognya dari awal sampai akhir, kan?!"

Sejak tahun lalu aku selalu bertanya-tanya, apa orang ini beneran guru? Dilihat dari mana pun, perilakunya sama sekali tidak mencerminkan orang yang bertugas mengajar.

"Ngapain kamu lihat-lihat begitu... jangan-jangan..."

Utage-sensei sengaja melangkah mundur satu langkah.

"Kamu mau memanfaatkan situasi di ruangan tertutup ini buat menyerangku ya?"

"Aduh, ngomong apa sih Anda ini."

"Habisnya, kamu telanjang dada begini di siang bolong."

"YA INI KAN GARA-GARA ANDA!"

"Jangan mendekat, dasar lolikon."

"Siapa yang lolikon! Sadar umur dong!"

"Umurku dua belas tahun. Jelas-jelas aku ini target lolikon."

"Jangan bohong kayak anak SD!"

"Udah deh, jangan berisik kayak anjing kejepit. Anu, siapa ya namamu..."

"...Sensei, jangan bilang Anda lupa namaku?"

"Bego, jangan remehkan guru ya. Mana mungkin aku lupa. Anu, Ama... Ama... Ama..."

"Tahun lalu aku juga di kelas Anda, lho!"

"Haha, maap-maap, cuma bercanda kok, Amakasu."

"ITU SALAH BENERAN, WOI!" (T/N: Nama Kanade adalah Amakusa).

"Pffft."

"Kenapa Anda malah ketawa!"

Sial, aku benar-benar dikerjain habis-habisan.

"Lagian aku sudah bilang kan kalau aku sibuk. Buruan cerita!"

"Lho, yang bikin ceritanya nggak jalan-jalan itu kan gara-gara Anda sendiri..."

Sambil menggerutu, aku kembali ke topik awal.

"Jadi, soal gadis cantik itu..."

"Iya, iya. Si gadis imajiner 'Mo-So-ko' yang jatuh dari langit itu kan?" (T/N: Plesetan dari Mousou yang berarti delusi).

Duh... cara ngomongnya bikin emosi banget.

"Sepertinya dia jatuh gara-gara aku milih salah satu dari Pilihan Mutlak—"

"Apa?"

Wajahnya langsung berubah serius.

"...Begitu ya."

Dia kembali memasang wajah melankolis dan bergumam pelan.

"Dari wajah Anda, sepertinya Anda tahu sesuatu ya?"

Utage-sensei tidak membantahnya.

"Mungkin saja. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa kucampuri sembarangan."

Jawabannya sangat menggantung. Namun, sorot mata Utage-sensei terlihat sangat serius.

"Yah, satu hal yang bisa kukatakan, persiapan untukmu melepaskan Pilihan Mutlak sudah dimulai."

"Eh? Maksudnya—"

Bel tanda masuk jam pelajaran pertama berbunyi, memotong kalimatku.

"Nah, sudah waktunya. Buruan balik ke kelas."

"Duh Sensei, aku mau dengar lebih detail!"

"Untuk saat ini, nggak ada lagi yang bisa kubicarakan."

"Tapi..."

Bagi aku, segala hal yang berkaitan dengan Pilihan Mutlak adalah masalah hidup dan mati yang menentukan masa depanku.

"Berisik banget sih. Kalau masih cerewet, aku kebiri amandelmu ya!"

"Istilahnya aneh banget! ...Lho, kenapa Anda malah asyik kirim email?"

"Hm? Ini? Aku baru kirim pesan ke HP-nya Yukihira. Katanya kalau kamu nggak balik dalam satu menit, baju seragammu boleh dibakar."

"APA-APAAN ANDA INI!"

Yah, dipikir secara normal sih mana mungkin dia bakal melakukan hal itu cuma gara-gara disuruh. Tapi, aku tidak bisa membuang keraguan kalau itu adalah Yukihira... Nggak, nggak mungkin kan... Eh, tapi bisa saja dia beneran melakukannya.

"Oke, terkirim. Inget ya, kalau kamu ngadu ke kepsek, bakal kubunuh kamu."

"ANDA INI SEBENARNYA GURU MACAM APA SIH?!"

"Masih mau di sini? Tinggal lima puluh detik lagi, lho."

"SI-SIALAAAAAAN!"

Aku membuka pintu ruang bimbingan dan lari sekencang mungkin di lorong... dalam kondisi masih telanjang dada.

◆◇◆

"Hmm..."

Kira-kira apa hubungan antara makhluk misterius bernama Chocolat itu dengan Pilihan Mutlak-ku? Sepanjang pagi, kata-kata Utage-sensei terus terngiang di kepalaku sampai-sampai aku tidak bisa fokus belajar.

Kondisi itu terus berlanjut sampai istirahat siang. Aku makan siang bareng teman-teman cowok dengan meja yang digabung, tapi pikiranku benar-benar melayang entah ke mana.

"Hm?"

Tiba-tiba, suara dari pengeras suara di atas papan tulis membuyarkan lamunanku.

Halo semuanya, saatnya acara Seikou Day Crash!

Ah, sudah jam segini ya. Acara ini adalah siaran radio sekolah yang diadakan setiap hari oleh klub penyiaran. MC dan segmennya berganti-ganti setiap hari, pokoknya niat banget deh. Yah, dipikirin terus juga nggak bakal ada jawabannya. Lebih baik aku dengerin radio saja buat refreshing.

Nah, hari Senin ini adalah segmen populer Toxic Mansion, di mana kita mengundang orang terkenal di sekolah dan memberondong mereka dengan pertanyaan tajam!

Suara ceria sang MC perempuan bergema.

Hari ini, kita kedatangan dua orang dari kelas 2-1, yaitu Ouji Ouka-san dan Yukihira Furano-san!

Mendengar itu, aku celingukan melihat seisi kelas. Pantas saja dua orang itu nggak ada.

Yuhuuu! Halo, aku Ouji Ouka! Panpakapaaan!

Selamat malam, aku Yukihira Furano.

Seperti biasa, Ouka yang hiperaktif dan Yukihira yang entah kenapa suaranya jadi mirip penyanyi lawas, Shinichi Mori. Dua orang ini muncul bareng di siaran sekolah... perasaanku nggak enak.

Baik, seperti yang kalian tahu, dua orang ini sayangnya terpilih masuk ke dalam Okotowari 5 periode semester lalu. Bisa tolong ceritakan perasaan buruk kalian saat itu?

MC-nya langsung nanya hal yang nggak sopan. Tapi ya wajar, segmen ini memang menjual gaya MC yang bermulut tajam dan berani menusuk ke topik-topik sensitif yang biasanya tabu dibicarakan.

Okey-dokey! Hmm, gimana ya... Eh, ini tombol apaan ya?

E-eh, tunggu sebentar! Jangan sembarangan pegang alatnya!

Terdengar suara kursi yang bergeser karena si MC buru-buru berdiri.

Lho, tapi tadi aku dibilangin 'jangan pernah sentuh alat ini selama siaran', lho.

Y-ya makanya jangan disentuh! Kenapa malah mau dipencet?

Bukannya itu artinya minta disentuh ya?

INI BUKAN ACARA LAWAK, WOI! Dasar Ouka. Padahal seluruh sekolah lagi dengerin, tapi dia tetap saja liar dan bebas.

Ba-baiklah, mari kita lanjut. Silakan, Yukihira-san.

Giliran Yukihira bicara, dia malah pakai nada bicara yang sangat dramatis.

Aduh, gimana ya bilangnya? Aku sih sebenarnya nggak mikirin apa-apa, tapi ya gitu deh, orang-orang di sekitarku saja yang heboh sendiri. Tadinya mau nolak sih, tapi rasanya nggak enak sama orang-orang yang sudah capek-capek milihin aku... Duh, malu deh, cukup sampai di sini saja ya ceritanya.

KENAPA KAMU MALAH KAYAK ORANG LAGI PIDATO TERIMA PENGHARGAAN!

Anu...

Si MC sampai bingung mau merespons apa. Kalau aku yang jadi MC, aku pasti sudah menyerah di titik ini. Tapi dia sepertinya sudah profesional, dia berdehem kecil lalu lanjut bicara seolah tidak terjadi apa-apa.

Kalau begitu, sebagai anggota Okotowari 5, ada pesan buat murid-murid yang lagi dengerin siaran ini? Yah, palingan juga kalian cuma bisa ngomong hal yang nggak mutu sih.

Sengaja memancing emosi buat narik obrolan yang lebih "pedas" adalah jurus andalan MC ini. Tapi, Ouka sama sekali nggak terpancing.

Hmm, nggak tahu sih, tapi rasanya kayak... 'Tapi aku menolak!' gitu?

PENGGUNAAN ISTILAHNYA SALAH, TAHU! Kamu itu yang ditolak, bukan yang menolak! Dan saat Yukihira ditanya hal yang sama...

Aku penasaran, kira-kira setengah tahun lagi, ada berapa banyak orang yang bisa mendaki sampai ke puncak tempatku berdiri sekarang ya?

KENAPA SOMBONG BANGET?!

...Oke, kalian berdua memang sangat unik ya.

Mungkin karena kesal kedua tamu ini nggak bisa diajak kerja sama, nada bicara si MC mulai terdengar jengkel. Dia pun mengganti targetnya.

Ngomong-ngomong, di kelas kalian ada satu lagi anggota Okotowari 5, kan? Kalau nggak salah namanya Amakusa Kanade-san?

Tanganku yang lagi pegang sumpit langsung kaku. Benar-benar serangan mendadak.

Iya, tapi dia itu cuma menang tampang doang tapi otaknya payah, jadi agak susah kalau mau dibawa ke ruang publik.

AKU NGGAK MAU DENGER ITU DARI KAMU!

Ahaha, tadi di kelas saja dia tiba-tiba telanjang dada, lho!

Iya sih aku memang telanjang, tapi... Ouka, kenapa harus diomongin di sini!

Tiba-tiba telanjang di kelas... Apakah Amakusa-san itu seorang eksibisionis?

Eh? Hmm, kayaknya bukan deh. Kayaknya dia cuma mendadak pengin telanjang saja.

ITU NAMANYA EKSIBI-SIONIS, WOI!

Dia itu tipe orang yang sudah nggak bisa hidup lagi kalau nggak dikasih sensor mosaik di tubuhnya.

JANGAN NGOMONG SEOLAH AKU INI PECANDU SESUATU!

Sebagai teman sekelas, aku sangat mengkhawatirkan masa depannya.

KALAU GITU CEPETAN TUTUP MULUTMU SEKARANG JUGA!

Ah, gimana kalau minggu depan Amacchi saja yang jadi tamu?

Ouka... kok kepikiran ngomong gitu di situasi kayak gini!

Wah, ide bagus! Karena tadi sudah dikenalkan, minggu depan kita undang si berengsek sampah Amakusa Kanade-san sebagai tamu kita ya.

Si MC malah setuju dengan gampangnya. Terus apa-apaan itu, di sela-sela obrolan dia malah ngatain aku berengsek sampah!

Oke, mari kita telepon dia sekarang juga!

Format siaran ini memang mengharuskan tamu minggu ini mengenalkan kenalannya buat minggu depan—singkatnya sih jiplak acara TV populer di siang hari—tapi biasanya kan harusnya janjian dulu secara pribadi, kan?

"Hm?"

Saat aku lagi mikir, tiba-tiba HP-ku bergetar. Dari mana mereka tahu nomor HP-ku!

Halo, ini dengan Amakusa Kanade-san~?

Karena situasinya nggak mungkin buat ditolak, aku menekan tombol jawab dengan enggan. Suara riang sang MC terdengar dari seberang.

"Halo... iya benar."

Sepertinya di sana pakai mode loudspeaker, soalnya suaraku langsung bergema dari pengeras suara kelas. Artinya, segala hal yang kuomongkan sekarang bakal langsung disiarkan ke seluruh sekolah.

Kamu lagi dengerin siaran tadi, kan?

"Iya, begitulah."

Tenang. Aku tinggal ngomong ala murid teladan, terus nolak halus. Pasti beres.

Jadi, Amakusa-san, kenapa sih kamu melakukan tindakan super menjijikkan kayak tiba-tiba telanjang begitu? Kamu emang sebegitu sesatnya ya~?

Duh, cara ngomongnya bikin naik darah!

Tapi nggak boleh, aku harus tenang. Kalau emosi, aku malah masuk jebakannya.

Di sini aku harus menjawab dengan aman dan normal—


Pilih:

"Uhehe, sebenarnya tadi aku pengin telanjang bawah juga, lho."

"Gehehe, sekarang kamu lagi pakai celana dalam warna apa?"]


...Boleh aku pulang sekarang? Tapi, aku harus ngomong. Kalau pilihannya sudah muncul, aku terpaksa mengatakannya.

"Uhehe, sebenarnya tadi aku pengin telanjang bawah juga, lho."

Sambil menahan tangis, aku akhirnya mengucapkannya. Tentu saja, kalimat mesum itu menggelegar dari pengeras suara tanpa ada satu kata pun yang terlewat.

Sekarang aku cuma bisa berharap pada kemampuan si MC. Kalau dia bisa menganggapnya sebagai lelucon, mungkin luka mentalku nggak bakal terlalu parah—

...Baiklah, mari kita lanjut ke pertanyaan yang lebih serius buat dua tamu kita!

DIABAIKAN BEGITU SAJA?!

"TUNGGU DULU, WOIIIII!"

Aku berteriak, tapi sambungan teleponnya sudah diputus sepihak.

"...Amakusa, kamu emang gila."

Suara temanku menyadarkanku. Aku melihat sekeliling kelas. Murid cowok pada ketawa-ketiwi atau senyum kecut, tapi murid cewek... mereka benar-benar memandangku dengan tatapan jijik yang maksimal. Kalau telanjang atas mungkin masih bisa dianggap lucu-lucuan, tapi kalau sampai mau telanjang bawah... sepertinya itu sudah melewati batas toleransi mereka.

"Nggak, kalian salah paham..."

Begitu aku mengulurkan tangan mau menjelaskan, seluruh murid cewek di kelas langsung membuang muka secara serentak, kayak pasukan tentara yang sudah terlatih.

"Ahaha... Ternyata Tuhan itu memang nggak ada ya."

Aku bergumam gila sambil menjatuhkan kepalaku ke atas meja.

"Gak mau lagi gak mau lagi gak mau lagi ooh begitu ya ini pasti mimpi ini pasti mimpi aku pasti habis kecelakaan terus koma di rumah sakit dan ini cuma mimpi tapi kok rasanya nyata banget ya ooh begitu ya ini pasti dunia paralel kayak di manga gitu sekarang aku memang aku tapi bukan aku yang sebenarnya ini cuma kembaranku yang beda sifatnya kan bener kan soalnya mana mungkin aku yang waras ini ngomong aneh-aneh dan bikin para cewek ilfeel begini kan ufufu."

────────

Radio sekolah masih terus berbunyi, tapi suaranya teredam oleh gumaman kutukan yang keluar otomatis dari mulutku sendiri. Lama-lama kesadaranku mulai memudar, dan aku pun tenggelam ke dalam samudra bernama pelarian dari kenyataan.

"Hah!" Hah... begitu ya... oke deh.

Beberapa menit kemudian saat aku akhirnya "kembali" ke dunia nyata, aku mendengar suara MC yang terdengar sangat lelah dan menderita.

Ka-kalau begitu karena waktunya sudah hampir habis, siaran hari ini cukup sampai di sini saja...

Dari nada suaranya, terasa banget kalau dia pengin cepat-cepat kabur. Aku nggak tahu Ouka dan Yukihira ngomong apa pas aku lagi "trip" tadi, tapi sepertinya dua orang itu terlalu berat buat ditangani bahkan oleh MC bermulut tajam sekalipun.

Eh, padahal cerita soal bisul di pantat anjingku, si John, baru mau masuk ke bagian intinya!

Ternyata mereka ngomongin hal nggak mutu kayak gitu! Menyusul Ouka yang terdengar kecewa, Yukihira berkata dengan suara yang tegas.

Terakhir, aku punya satu usul buatmu. Boleh?

I-iya, apa itu?

Si MC menjawab dengan nada waspada.

Pertama-tama, menurutku karaktermu yang sekarang itu mendingan diakhiri saja.

Si gadis cantik ini mulai ngomong aneh-aneh lagi.

...Ha? Maksudnya apa ya?

Kamu kan menjual gaya 'mulut tajam', tapi lama-lama pendengar juga bosan. Jujur saja, itu membosankan banget.

Tapi nada bicara Yukihira... meskipun datar seperti biasa, tapi rasanya ada emosi lain di dalamnya... Dia marah?

Ngomong-ngomong, tadi kamu bilang kalau dadaku ini 'kurang berkembang' ya... Sampai tiga kali pula.

Oh, jadi ada kejadian begitu pas aku lagi di "dunia lain". Memang sih dada Yukihira nggak bisa dibilang besar, tapi... ternyata dia beneran kepikiran ya.

Anu, iya sih, tapi itu kan cuma buat bahan candaan saja...

Bercanda? Maaf ya, biarpun aku ini orang yang gampang ketawa, tapi aku sama sekali nggak merasa itu lucu.

Padahal kamu nggak pernah ketawa sama sekali, tahu!

Intinya, jangan harap kamu bisa selamat setelah mengejek paiotsu orang lain.

Duh, bahasanya kedengaran kayak ancaman kriminal... Terus, tolong berhenti pakai kata paiotsu.

Makanya aku punya ide baru. Untuk menghancurkan kebosanan acara ini, aku sudah memikirkan segmen baru untuk era baru. Namanya adalah: MOE-BUTA HOI-HOI (Perangkap Babi-Moe) MC BABI-BETINA!

Apaan lagi itu... Ngomong-ngomong, Moe-buta itu—setahuku—adalah sebutan menghina buat para otaku cowok yang tergila-gila sama gadis cantik di anime atau manga.

Jadi kamu bakal jadi babi betina yang harus patuh total sama perintah para pendengar tuan besar, dan kamu harus memamerkan berbagai pose memalukan buat memenuhi permintaan mereka. Gimana, segmen yang agak erotis, kan?

Woi! Kalau di radio malam sih mungkin saja, tapi ini siaran sekolah di siang bolong! Mana mungkin bisa!

Ya mana mungkin bisalah! Ini kan siaran sekolah!

Ternyata si MC setuju sama pikiranku. Ya iyalah, orang normal pasti mikirnya begitu.

Sepertinya kamu salah paham ya. Ini bukan tawaran, tapi keputusan mutlak, dasar Babi Betina.

Si MC langsung dipanggil babi betina!

Nah, mari kita mulai melatih gadis bermulut tajam yang bodoh ini jadi babi betina sejati.

Terdengar suara kursi yang berdiri dengan kasar.

Yu-Yukihira-san? Tatapan matamu menyeramkan banget...

Si MC benar-benar ketakutan. Karakter bermulut tajamnya sudah nggak berbekas sedikit pun.

O-Ouji-san! Tolongin aku, orang ini—Lho, dia tidur?!

Kukaaaa...

Serius?!

Saraf macam apa yang dia punya sampai bisa tidur nyenyak pas siaran langsung begini!

Padahal baru satu menit sejak kamu berhenti cerita soal bisul pantat si John!

Huaaa... Eh, siarannya sudah selesai ya?

Ah, pas banget kamu bangun, Ouji-san. Tolong pegangin babi betina ini sebentar.

Hm? Nggak tahu sih kenapa, tapi oke deh! Hop!

Eh? K-kapan kamu ada di belakangku?! Lepasin!

Sepertinya si MC berhasil ditangkap. Kemampuan fisik Ouka itu luar biasa, jadi cewek biasa nggak bakal bisa menang lawan dia.

T-tunggu! Ahh! Ouji-san, apa yang Anda lakukan!

Hm? Habisnya kamu kelihatan takut banget, jadi aku kasih pijatan relaksasi sedikit ya.

Enggak usah! Lepasin saja—Eh, tunggu, jangan di situ! Jangan! Ahh! Nngghh!

Tiba-tiba saja suara desahan si MC terdengar dari pengeras suara. Murid cowok yang tadinya cuek dan asyik ngobrol langsung diam seribu bahasa dan mendengarkan dengan serius.

Uli-uli! Ketiaknya geli yaaa~?

Jangan! Tunggu... ahh... kenapa... rasanya enak... annh!

Ini... bahaya. Buat ukuran siaran sekolah, ini sudah out banget. Tapi sebagai cowok, aku cuma bisa bilang: Ouka, lanjut terus!

Wahh! Jarang-jarang ada orang yang sensitif begini! Ahaha, lucu banget! Lucu!

Ouka lanjut terus dengan gembira.

Ah... berhenti... berhenti!

Percuma saja, babi betina. Ruang siaran ini kedap suara total. Mau nangis atau teriak pun, bantuan nggak bakal datang.

Kamu ini penjahat dari film mana sih, Yukihira...

◆◇◆

Hah... hah... fuh...

Setelah bimbingan (penyiksaan?) selama puluhan detik berakhir, si MC sudah nggak sanggup bicara normal lagi. Melihat kondisinya, Yukihira berkata dengan suara datar tapi terdengar puas.

Buat percobaan pertama, suaramu lumayan bagus juga ya. Pertahankan itu, babi betina.

Aku yakin. Pasti nggak bakal ada percobaan kedua.

Ahaha, kayaknya aku agak kelewatan ya? Sampai lemas begitu. Ada minuman penambah stamina nggak ya... oh nggak ada. Eh, aku punya Abazuren Z, mau minum?

JANGAN, WOIIII!

Wah, sepertinya siaran sudah nggak bisa dilanjut lagi ya. Ya sudah, aku saja yang tutup.

Suara Yukihira yang terdengar sangat dramatis kembali bergema.

Jadi, para pendengar sekalian. Mulai minggu depan akan dimulai acara baru MOE-BUTA HOI-HOI MC BABI-BETINA. Selain itu, akan ada acara spesial YUKIHIRA FURANO: SEMUA BABI-BETINA YANG DADANYA DI ATAS UKURAN B MENDING MUSNAH SAJA. Jadi buat para gadis yang dadanya masuk kategori itu, segera cuci paiotsu kalian dan tunggu—

KLIK.

Suaranya tiba-tiba terputus. Sesaat kemudian, musik klasik diputar dari pengeras suara. ...Inikah yang namanya "kecelakaan siaran"? Parah. Benar-benar parah. Pantas saja kelas 2-1 disebut kelas paling ampas di sekolah.

Beberapa teman sekelas menatapku. Tatapan mereka seolah bilang, "Kamu kan sekelompok sama mereka, buruan urusin sana." Salah, kalian salah paham! Sebenarnya aku ini bagian dari kalian! Gara-gara Pilihan Mutlak sialan ini saja aku jadi kelihatan agak aneh, tapi aslinya aku ini cuma murid SMA biasa yang normal banget!

Tapi ya, teriakan hatiku mana mungkin sampai ke mereka. Di tengah suasana yang canggung itu, aku memakan sisa bekalku dengan lunglai. Rasanya hambar banget.

◆◇◆

Pas istirahat siang hampir habis, Ouka dan Yukihira balik ke kelas.

"Yuhuuu! Kami pulang!"

"Benar-benar tidak masuk akal."

Katanya sih, mereka berdua habis diceramahi habis-habisan di ruang guru. Yukihira, yang sepertinya sama sekali tidak merasa bersalah, berkata dengan wajah lempeng.

"Aneh ya. Bukannya di negara ini ada yang namanya kebebasan berpendapat?"

"Manggil orang babi betina berkali-kali itu bukan kebebasan, tahu!"

"Itu cuma Pig Joke (Lelucon Babi) kok."

"Kenapa seri leluconmu makin aneh saja sih!"

"Itu cuma Butack Joke." (T/N: Plesetan dari Buta (babi) dan Black Joke).

"Nggak usah sok asyik kayak lagi ngomongin Black Joke deh!"

"Ngomong-ngomong kalau pakai Babi Hitam, nanti jadinya Black-Butack Joke, susah ngomongnya."

"ASLI NGGAK PENTING BANGET!"

"Anak-anak klub penyiaran yang di balik layar juga pada 'nguik-nguik' (ngomel) tadi."

"Jangan dipaksa-paksain ke babi semua kenapa sih!"

Setelah aku selesai ngomel ke Yukihira, Ouka tiba-tiba menarik-narik ujung lenganku.

"Hei, hei, Amacchi! Lihat deh!"

Dia memegang beberapa lembar foto.

"Habis siaran tadi, aku foto pakai kamera digital terus langsung cetak di situ juga!"

Foto pertama. Foto biasa yang isinya si MC di tengah, diapit Ouka dan Yukihira. Cuma tatapan mata si MC yang kosong saja yang agak mengkhawatirkan. Hebat juga ya dia bisa diajak foto bareng setelah kejadian tadi...

Lalu, foto kedua.

"Ouka... Apa... ini?"

Si MC sedang pasang wajah sangat puas (atau teler?) sambil berpose M-Kaki-Terbuka. Sudut fotonya sih nggak sampai memperlihatkan isi roknya, tapi kondisinya benar-benar kacau balau.

"Ahaha, tadi habis kukasih Abazuren Z, dia jadi begitu deh."

"FIX ITU MAH OBAT PERANGSANG, WOI!"

Lalu foto ketiga. Apaan nih? Mungkin ini staf di balik layar klub penyiaran, tapi empat orang cowok di foto itu mukanya pucat pasi kayak nggak ada gairah hidup lagi.

"Ouka... kalau yang ini?"

"Oh, tadi aku bagi-bagi Life Candy: Edisi Dunia Akhirat ke mereka."

"PECAT YANG BIKIN PERMENNYA SEKARANG JUGA!"

"Oh iya! Ada satu laporan lagi!"

Sambil mengangkat tangan kayak anak SD yang mau pamer, Ouka berseru dengan mata berbinar-binar.

"Ya, apa?" tanyaku dengan nada malas.

"Anu, sebenarnya aku bohong soal produk purwarupa itu dibuat sama bagian pengembangan produk, soalnya aku nggak mau kalian punya prasangka buruk. Sebenarnya semua barang yang kubawa hari ini..."

Tumben Ouka ngomongnya sok misterius begini.

"Semuanya adalah buatanku sendiri!"

"TERNYATA PELAKUNYA KAMU SENDIRI, WOI!"

Yah, sebenarnya dari dulu aku sudah tahu sih, tapi hari ini aku baru bener-bener sadar.

Yukihira Furano dan Ouji Ouka.

Dua orang ini memang pantas banget dapat gelar Ditolak.


4

"Fuu..."

Begitu sampai di depan pintu depan rumah, aku langsung mengembuskan napas panjang. Capek banget... Pokoknya hari ini benar-benar melelahkan. Udah kena rentetan Pilihan Mutlak, ditambah lagi harus berurusan sama duo Yukihira dan Ouka yang bikin pusing tujuh keliling.

Tapi ya, biarpun aku buka pintu ini, nggak akan ada keluarga yang menyambutku dengan ucapan "Selamat datang kembali".

Karena Ayah dipindahtugaskan ke luar kota dan Ibu ikut menemaninya, saat ini penghuni rumah keluarga Amakusa cuma ada satu orang. Singkatnya, aku berada dalam kondisi "protagonis gal game" yang tinggal sendirian.

Duh, malas banget rasanya kalau harus nyiapin makan malam sekarang—pikiranku mendadak jadi mirip ibu-ibu rumah tangga saat aku membuka pintu.

"Spiii..."

...Ada sesuatu.

"Spiii..."

...Lebih tepatnya, ada "sesuatu" yang lagi tidur.

Tidur. Tidurnya nyenyak banget. Di lorong rumahku, ada sesuatu yang lagi tidur dengan wajah yang kelihatan sangat bahagia.

Aku nggak paham... Beneran nggak paham apa yang sedang terjadi. Kapan? Kapan aku kena sihir kebingungan Medapani?

Meski otakku masih kacau balau, tubuhku bergerak sendiri. Aku berjongkok dan mengguncang-guncang tubuh makhluk itu dengan kencang.

Sambil mengucek mata, makhluk itu perlahan bangkit dan menatapku dengan mata yang masih mengantuk.

"Fumyu... Anda siapa ya?"

"HARUSNYA AKU YANG TANYA BEGITU!"

Tapi ya, aku sudah tahu identitasnya. Rambut pirang yang lembut, tubuh mungil, suara yang lemas... Nggak salah lagi, ini si makhluk bernama Chocolat yang kutemui pagi tadi.

"Ah, ternyata Kanade-san. Selamat datang di rumah!"

"A-ah, iya, aku pulan—EH, BUKAN GITU DONG!"

Aduh, gara-gara senyumnya yang alami dan polos banget, aku jadi refleks ngejawab dengan normal.

Tenang dulu. Nggak ada gunanya mikirin semuanya sekaligus.

"Pertama... pertama ya. Kamu, gimana caranya bisa masuk ke dalam rumah orang?"

Sebelum nanya apa tujuannya dan lain-lain, ini masalah fisik. Kunci yang barusan kupakai jelas-jelas ada di kantongku, dan kunci cadangan ada di dalam rumah.

Chocolat pun menjawab dengan senyum lebar.

"Aku ambil cetakannya pakai tanah liat khusus, terus minta tolong tukang kunci buat bikinin kunci cadangan."

...INI MAH KRIMINAL TINGKAT TINGGI!

"Kanade-san, ada apa? Wajah Anda pucat sekali."

"AKU LAGI ILFEEL, TAHU! Aku beneran merinding sama tindakanmu!"

Oke, aku paham. Dia ini cuma penyusup ilegal. Nggak ada waktu buat nanya pelan-pelan. Aku harus mengeluarkannya paksa. Tepat saat aku memantapkan niat dan mengulurkan tangan—

"Aku datang ke sini untuk membantu melepaskan 'kutukan' Kanade-san."

"Apa...?"

Gerakanku terhenti.

"Kutukan itu... maksudmu soal Pilihan Mutlak?"

Entah kenapa instingku langsung mengarah ke sana. Benar saja, Chocolat mengangguk pelan.

Serius nih...? Memang tadi Utage-sensei bilang persiapan buat melepaskan pilihan sudah siap dan sebagainya, tapi...

"Nah, nah, karena nggak enak ngomong di tempat kayak begini, mending kita masuk dulu ke dalam."

"Woi, kenapa malah kamu yang ngatur..."

Mencurigakan... benar-benar mencurigakan dari segala sisi. Tapi, begitu dengar kalau Pilihan Mutlak ini bisa dilepaskan, aku jadi nggak bisa mengusirnya begitu saja.

"Kalau begitu, mari kita perrrrgi~"

Dengan Chocolat sebagai pemandu yang semangatnya kayak mau pergi piknik, aku pun masuk ke ruang tengah.

"...Apa-apaan ini?"

Suhu ruangan yang terasa sangat pas. Aroma teh yang wangi menggelitik hidung. Serta deretan kue kering buatan tangan dengan bentuk-bentuk lucu yang memanjakan mata. Di sana, telah tercipta sebuah ruang bersantai yang sangat mewah.

"Aku sudah bersiap-siap karena kukira Kanade-san sebentar lagi bakal pulang!"

Kalau saja ini diucapkan oleh seorang istri, aku pasti bakal merasa sangat bahagia. Tapi kalau diucapkan oleh orang asing yang nggak kukenal, rasanya malah ngeri.

"Ayo, silakan jangan sungkan-sungkan."

"Ya itu masalahnya, kenapa KAMU yang mempersilakan?!"

Aku pun duduk di sofa sesuai arahannya dan mengulurkan tangan ke cangkir teh yang masih mengepulkan uap.

"Gimana rasanya?"

"Yah... enak sih."

Wajah Chocolat langsung berbinar senang. Seiring dengan itu, rambut antena di kepalanya juga ikut berdiri tegak pyokon.

"Tentu saja! Soalnya ini barang kualitas kelas atas, lho!"

Ya itu kan karena aku yang beli, aku juga tahu kali.

Selanjutnya, Chocolat menyodorkan piring berisi kue kering.

"Gimana rasanya?"

"Yah... enak sih."

Sekali lagi, wajahnya berbinar-binar.

"Tentu saja! Soalnya bikinnya butuh waktu dan usaha banget, lho!"

YA ITU KAN KARENA AKU YANG PANGGANG SENDIRI, AKU JUGA TAHU KALI!

"Udah deh, itu nggak penting... Mari masuk ke topik utama."

Aku memintanya duduk di sofa seberang.

"Siap, ada apa?"

Setelah Chocolat duduk dengan manis, aku pun membuka mulut.

"Nggak usah basa-basi lagi... Apa kamu tahu cara melepaskan Pilihan Mutlak?"

"Iya!"

Chocolat mengangguk dengan sangat gampangnya.

Serius...? Aku beneran bisa lepas? Dari kekuatan sialan yang sudah menyiksaku selama setahun ini?

"Tolong, kasih tahu caranya!"

Saking semangatnya, aku sampai refleks berdiri dari kursi.

"Kanade-san, tenang dulu. Tepatnya sih, bukan aku yang tahu caranya."

"Terus, siapa?!"

Menanggapi pertanyaanku yang sudah sangat mendesak itu, Chocolat menjawab dengan gayanya yang santai seperti biasa.

"Kami-sama (Tuhan)!"

".......................Hah?"



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close