Chapter 3
【MANTAP】Kasih Tahu Dong Pengalaman Gagal Kalian
yang Paling Parah Pas Kencan
1
"......Sebenarnya
apa yang terjadi padamu?"
Hari Sabtu.
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutku saat melihat Ouka muncul di
tempat pertemuan.
"Hm? Apa
ada yang aneh, degozaimashou ka?"
"Nggak,
pakaianmu itu..."
Aneh.
Penampilan Ouka jelas-jelas aneh.
Bagaimana
tidak, dia mengenakan rider suit hitam legam yang melekat ketat di
seluruh tubuhnya. Mirip seperti baju yang dipakai Fujiko-chan di serial Lupin
III. Bagian dadanya yang beritsleting terbuka cukup berani, ada kacamata hitam
di dahinya, dan dia memakai sepatu hak yang sangat tinggi...... Kalau ini tidak
disebut aneh, lalu apa lagi?
"Ouka......"
Padahal aku
sudah yakin dia bakal datang pakai rok mini dan kaos pusar terbuka seperti
biasanya......
"Ohoho,
tema aku—bukan, tema saya hari ini adalah wanita dewasa,
Kanade-sama."
Terus
apa-apaan cara bicaranya itu...... Belum lagi panggilan "Kanade-sama"
itu......
"Lagian,
kenapa tiba-tiba mau jadi wanita dewasa?"
Begitu
mendengar pertanyaanku, entah kenapa wajah Ouka memerah tipis.
"A-Alasannya
rahasia, t-tapi pokoknya, inilah tema saya hari ini!"
"O-Oh,
begitu ya......"
Karena
terintimidasi oleh semangatnya yang aneh, aku jadi sungkan untuk bertanya lebih
jauh. Aku sangat meragukan apakah pakaian yang bikin aku agak malu jalan di
sampingnya ini bisa disebut 'wanita dewasa' atau bukan...... Tapi karena dia
pasti tidak bawa baju ganti, kami tidak punya pilihan selain berangkat.
"Kalau
begitu, pertama-tama kita mau ke mana, ya?"
Aku sudah
memikirkan banyak hal, tapi biarpun diminta sesuatu yang 'menantang', aku yang
tidak punya pengalaman kencan sungguhan tidak bisa memikirkannya dengan mudah.
Jujur saja,
aku benar-benar tanpa rencana. Karena sekarang waktu makan siang, aku berniat
mampir ke suatu tempat...... Tapi kalau ke restoran keluarga (famires)
yang merupakan standar kencan anak SMA (menurutku), itu tidak bisa dibilang
menantang, kan?
"Kanade-sama,
serahkan saja rutenya pada kakak perempuanmu ini."
Ouka terlihat
sangat percaya diri. Yah, wanita dewasa yang asli tidak akan menyebut dirinya
'kakak perempuan'...... tapi kurasa aku tidak boleh me-tsukkomi itu.
Aku berjalan
mengikuti Ouka yang memimpin di depan, tapi......
"O-Oto-to......"
Ouka yang
seharusnya memiliki kemampuan atletik luar biasa berkali-kali tersandung. Cara
jalannya memperlihatkan dengan jelas kalau dia sama sekali tidak terbiasa
memakai sepatu hak tinggi.
"Oi,
jangan dipaksakan. Lebih baik kita beli sepatu kets atau semacamnya di suatu
tempat, kan?"
"T-Tidak,
saya tidak memaksakan diri, de-go-ri-yan-sen. I-Ini adalah hal yang biasa bagi arinusu."
Nggak,
akhiran kalimatmu itu sama sekali tidak biasa, tahu......
Setelah itu
pun Ouka terus berjalan dengan cara yang sangat mendebarkan hati (karena takut
dia jatuh), tapi entah bagaimana dia berhasil sampai di tujuan tanpa terjatuh.
"Oh,
kafe yang suasananya cukup tenang, ya."
"Begitulah.
Karena saya diajari oleh Konagi-ta...... maksud saya, Yawakaze-san."
Bukannya
memikirkan cara memanggil Yawakaze, bukannya seharusnya dia menyembunyikan
fakta kalau dia 'diajari' orang lain? Tapi aku memilih untuk tidak
mengucapkannya.
Setelah duduk
dan memeriksa menu, harga per cangkirnya terasa agak mahal. Interiornya juga
mewah, sepertinya target utamanya adalah kalangan usia dewasa yang mapan.
Memang terasa
dewasa sih, tapi karena tema hari ini adalah 'menantang', rasanya agak meleset
sedikit......
"Fufu,
saya ini agak pemilih soal kopi, no koto yo."
Saat Ouka
sedang pamer dengan wajah sombongnya, pelayan pun datang.
"Sudah
memutuskan pesanannya?"
"Kopi
saja de—maksud saya, bolehkah saya memesan kopi?"
Ouka
terburu-buru meralat ucapannya. Kalau sulit bicara begitu kenapa tidak berhenti
saja sih......
"Apakah Anda ingin Espresso?"
"He? Espresso?"
Ouka bertanya balik dengan wajah cengo.
"Kanade-sama,
apakah kopi itu ada beberapa jenis, de-seu-ka?"
Oi......
bukannya tadi kamu bilang kamu 'pemilih' soal kopi?
"Aku
juga tidak terlalu paham, tapi lihat, kalau ke kedai kopi kan ada tulisan
Americano, Cafe Latte, dan macam-macam."
"Ah,
ternyata itu semua jenis kopi ya...... de gozaimasu ne."
......Jadi
pemahamanmu baru sampai situ, ya.
"Anu...... saya pesan yang paling
pahit, no koto yo."
Ouka memesan dengan perintah yang
sangat kasar.
"Saya pesan Cappuccino saja."
Karena aku
tidak terlalu suka pahit, aku memilih yang ringan.
Dan beberapa
menit kemudian.
"Maaf
menunggu."
Di tangan
pelayan, kopi yang masih mengepulkan uap diletakkan di depan kami.
"Apa
tidak apa-apa tanpa gula dan susu?"
"Kanade-sama.
Kalau masih memasukkan benda-benda seperti itu, kamu masih anak kecil, de
ojaru."
Iya, tapi
kamu malah jadi kayak karakter di acara TV anak-anak, tahu.
Ouka meminum
kopi itu tanpa mencampur apa pun.
"Uek."
Barusan
dia bilang 'uek', kan......
"Pahit?"
"T-Tidak
pahit, de gozaimasu."
Ouka
bersikeras.
"Pahit,
kan?"
"T-Tidak
pahit, zansu."
Ouka
malah berubah jadi karakter Iyami. (T/N:dari Osomatsu-kun).
Kalau begini,
seberapa banyak pun aku bicara, dia pasti tidak akan memasukkan gula. Lebih
baik aku menyuruhnya makan sesuatu untuk menetralisir rasa di mulutnya.
"Kalau
begitu, ayo pesan makanan juga."
"B-Benar
juga, de gozaimashuru ne."
Menu yang ada
hanyalah makanan standar kafe seperti roti lapis, spageti, kari, dan beberapa
jenis hidangan penutup.
Ouka memilih
Neapolitan, aku memilih sandwich telur, dan kami menekan tombol panggil.
Tak lama
kemudian pelayan yang tadi datang lagi, sambil menunjuk menu dengan ramah.
"Pelanggan,
menu rekomendasi kami adalah 'Kari Super Pedas Dewasa', bagaimana menurut
Anda?"
"Dewasa?"
Mendengar
kata itu, tubuh Ouka bereaksi seketika.
"Pelayan,
saya akan menyantap kari itu, zo."
"Baik,
terima kasih. Tingkat kepedasannya dibagi menjadi lima level."
"Tolong
berikan rasa yang paling 'dewasa', de sourou."
"Level
lima ya, baik, terima kasih!"
"O-Oi,
oi......"
A-Apa dia bakal baik-baik saja?
Dan saat Ouka menyuap kari yang baru
datang itu......
"Higih!"
Barusan dia bilang 'higih', kan......
"Pedas?"
"T-Tidak pedas, de gozaimasu."
Ouka tetap
bersikeras.
"T-Tidak
pedas, hidebu." (T/N: Teriakkan terkenal saat kroco mati di
anime Hokuto no Ken)
Ouka malah jadi kroco di film Fist of
the North Star yang mau meledak.
"Uuu......"
Beberapa menit kemudian, Ouka
menyuapkan kari ke mulutnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Ngomong-ngomong, porsinya hampir tidak berkurang sejak tadi.
Lalu Ouka berdiri dari kursinya.
"S-Saya mau ke Toi...... ke kamar
kecil sebentar, desu."
Mungkin dia mau berkumur.
Benar-benar...... dasar merepotkan.
"Aku kemba...... lho?"
Beberapa
menit kemudian, Ouka yang kembali dari toilet membelalakkan matanya.
"Karinya hilang...... de
gozaimasu."
"Ah,
maaf. Karena kelihatannya enak, jadi aku makan saja."
Aku cukup
tahan dengan rasa pedas, jadi bagiku itu tidak sampai membuatku menderita, tapi
bagi orang yang tidak suka pedas pasti itu sangat menyiksa.
Ouka terdiam
berdiri di sana tanpa kata.
"Makanya,
maaf ya. Jangan marah begitu dong."
"N-Nggak,
aku nggak marah—"
"Maaf
menunggu."
Tepat
saat itu pelayan membawakan Strawberry Parfait.
"Sebagai
gantinya, aku pesankan ini."
"......T-Tapi,
aku t-tidak bisa makan makanan kekanak-kanakan seperti—"
"Yah,
ini kan sebagai tanda permintaan maafku, anggap saja kamu makan demi
menghargaiku."
"K-Kalau begitu...... saya......
makan."
Setelah duduk, Ouka menyuapkan krim
bagian paling atas ke mulutnya.
"......Enak."
"Begitu ya, syukurlah kalau
begitu."
Saat aku
tersenyum mengatakannya, entah kenapa Ouka menundukkan wajahnya.
"Uu......
Kanade-cchi terlalu dewasa...... aku kayak orang
bodoh...... aku harus berusaha lebih keras lagi."
Suaranya
sangat teredam, jadi aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.
"Nah,
perut sudah kenyang, selanjutnya kita mau ke mana?"
Biasanya sih
bioskop itu standar ya, tapi kalau cuma itu rasanya terlalu biasa dan tidak
sesuai dengan tujuan kali ini.
"Kanade-sama.
Saya akan mengantarmu ke lokasi dewasa yang menantang, desu."
Dan tujuan
yang dia tuju adalah...... gedung bioskop.
"Biasa
saja......"
"Tidak.
Isi film ini sama
sekali tidak biasa, gozansen."
Seperti biasa
bahasa sopannya sudah ngawur tapi aku abaikan saja. Aku membaca pamflet yang
dikeluarkan Ouka dari tasnya.
'Istri
Kompleks Kaoru dan Guci Madunya'
Oi, apa-apaan ini...... ini jelas-jelas
film dewasa, kan?
"Papa—Ayahanda bilang kalau kencan
dewasa ya harus nonton ini, begitu rekomendasinya, desu."
Di pamflet tertulis rating R-15.
Meskipun ada batasan umur, tapi bukan berarti film porno (18+).
──Yamada Kaoru, tiga puluh dua
tahun. Sudah lima tahun menikah, dia adalah ibu rumah tangga yang mulai merasa
jenuh.
Kelelahan karena pekerjaan paruh waktu
dan urusan tetangga, satu-satunya kesenangan baginya adalah menjilat madu dari
guci yang dia sembunyikan di balik plafon sedikit demi sedikit.
Namun suatu hari, saat dia tidak
sengaja memecahkan guci madunya, kesehariannya hancur.
Sang
suami murka karena Kaoru menjilat madu diam-diam darinya. Kaoru yang kesal
dengan kesempitan hati suaminya pun melawan. Cacian berterbangan.
Pertengkaran
keduanya yang saling meluapkan kekesalan sehari-hari pun semakin memanas.
Lalu,
saat sang suami yang meledak amarahnya hendak menerkam Kaoru namun terpeleset
jatuh karena madu, hal itu menjadi pemicu insiden besar yang belum pernah
terjadi sebelumnya, yang melibatkan seluruh kompleks perumahan tersebut.
Apa
rahasia yang tersembunyi di balik madu Kaoru yang mampu mengguncang sejarah
manusia—
......Kok kelihatannya agak seru.
Tapi kalau isinya begitu, kenapa
judulnya harus dibuat seperti itu...... Memang ada sih, kayak di Light Novel
gitu yang judul dan isinya beda jauh alias tipu-tipu.
Yah, lupakan soal judulnya, tapi isinya
memang terlihat cukup menantang.
"Kalau begitu, ayo nonton
ini."
"Baik,
mari kita berangkat, kai."
Meskipun hari
Sabtu, kursinya hampir tidak ada yang terisi—yah, wajar saja karena ini film niche
yang bahkan orang-orang tidak tahu kalau sedang tayang—jadi kami bisa duduk di
posisi yang pas di tengah-tengah.
Lalu film
dimulai.
Awalnya
persis seperti di pamflet, menggambarkan keseharian Istri Kompleks Kaoru yang
penuh kejenuhan.
Di sela-sela
itu, gerakan Kaoru saat menjilat madu dari gucinya memang sangat erotis, jadi
kupikir itulah alasan kenapa film ini jadi R-15, tapi—
"Uhyaraaaaa!"
......Di
tengah-tengah, entah kenapa malah jadi film zombi.
Kronologinya
begini—madu yang tumpah ke tikar tatami saat mereka bertengkar,
bercampur dengan rumput tikar dan kulit kepala suami Kaoru, lalu terjadi reaksi
kimia ajaib yang menciptakan patogen misterius.
Terjadilah Biohazard
di mana seluruh penghuni kompleks selain Kaoru berubah jadi zombi......
Perkembangan plot macam apa itu?
"Hiiiiih!"
Wajah Ouka
yang awalnya menonton dengan penuh minat perlahan-lahan mulai pucat pasi, dan
sekarang dia benar-benar ketakutan sampai hampir menangis. Benar, seperti yang
ketahuan saat di kolam renang kemarin, Ouka itu penakut tingkat akut.
"Kalau
takut begitu, mau keluar saja?"
"T-Tidak,
w-wanita dewasa tidak akan takut dengan hal sepe—HYAAAA!"
"Woah......"
Bajuku
ditarik kencang sekali. Tapi itu baru permulaan.
"HYAAAAA!"
"Guekh!"
Ouka yang
merapatkan tubuhnya padaku tiba-tiba mencekik kerah bajuku dengan sekuat
tenaga.
"M-Mati...... aku bakal
mati......"
"A-Ah, ma-maaf...... maksud saya,
m-mohon maaf sekali, yan-sen!"
Baru saja kupikir cekikannya melonggar
sedikit, detik berikutnya,
"HYAAAAAA!"
"GUEEEEEEKH!"
......Ujung-ujungnya, sampai film
selesai, aku berakhir dicekik berkali-kali.
" "Uuu......" "
Kami berdua berjalan keluar sambil
mengerang (meskipun alasannya sangat berbeda).
Pada akhirnya Ouka yang keras kepala
tetap bertahan menonton sampai akhir.
Sedangkan aku, karena terlalu sering
dicekik, di paruh kedua film aku sampai menguasai keahlian tidak berguna yaitu
mengerang kesakitan tanpa suara supaya tidak mengganggu penonton lain.
"M-Mohon
maaf yang sebesar-besarnya......"
Karena
sisa ketakutan dan rasa bersalah, Ouka berjalan lesu sambil menundukkan kepala
dengan air mata yang menggenang tipis di matanya.
Katanya
sampai insiden kolam renang kemarin, dia sudah bertahun-tahun tidak pernah
menangis di depan orang lain, tapi mungkin dia cuma belum punya kesempatan
untuk menonton hal-hal seperti ini saja.
"Nggak
apa-apa kok, mau pinjam sapu tangan?"
"Nggak,
aku nggak nangis kok, dabi-jou-bu-befu."
Bagian
terakhir kalimatnya sudah benar-benar suara sengau, tapi aku memilih untuk
tidak membahasnya.
"Ah."
Saat sampai
di pintu keluar, langkah Ouka terhenti. Dia menengadah ke arah jadwal
penayangan yang akan datang, dan di sana ada film berjudul 'Gamen Rider
Wizard VS Gamen Rider Tiga Puluh Tahun Perjaka'.
Kenapa furigana-nya
persis sama padahal tulisannya beda? Terus meskipun ini acara anak-anak, berani
banget mereka menulis kata 'Perjaka' di situ, apa boleh ya......
"Ternyata
ini sudah tayang ya......"
Karena tadi
sudah diputuskan untuk menonton 'Guci Madu Kaoru', saat masuk aku tidak
benar-benar memeriksa film lain yang sedang tayang.
"Sebenarnya
kamu ingin nonton yang ini?"
"T-Tentu
saja tidak, arinusu."
Ouka
menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Meskipun
bilang begitu, tapi ekspresi antusiasnya tidak bisa disembunyikan.
Wajahnya
terlihat sangat cerah sampai-sampai orang tidak akan percaya kalau dia baru
saja hampir menangis tadi.
"Aku
tidak keberatan kalau mau nonton satu film lagi, lho."
"Eh,
b-beneran ngg—maksud saya, saya benar-benar tidak ingin menontonnya, ayo kita
keluar."
Ouka yang
menyelesaikan debat dengan dirinya sendiri itu pun segera berjalan keluar
seolah ingin memutuskan rasa penasarannya.
"Hah......"
Entah sudah
keberapa kalinya embusan napas panjang keluar dari mulut Ouka yang berjalan di
sampingku.
Dia pasti
melakukannya tanpa sadar, tapi wajahnya terlihat sangat kelelahan sampai-sampai
aku yang melihatnya merasa kasihan.
......Aku
sudah tidak tahan melihatnya.
Aku tidak
tahu apakah Ouka akan mendengarkan atau tidak, tapi aku harus bilang padanya
kalau dia tidak perlu memaksakan diri jadi dewasa—
Pilih:
① Merengek minta diperlihatkan celana
dalamnya
② Merengek minta memainkan pusarnya
③ Merengek minta dia pakai celemek tanpa
baju (hadaka apron)
......Baca suasana dong...... Kamu
benar-benar tidak bisa baca suasana ya.
Di saat aku
merasa jengah dengan pilihan yang sama sekali tidak tahu situasi itu,
......Tunggu
dulu.
Tiba-tiba
sebuah ide muncul di benakku.
......Ini
judi apakah akan berhasil atau tidak, tapi karena aku tetap harus memilih salah
satu, ini layak untuk dicoba.
"Ouka."
"A-Ada
apa, de-arimasu-ka?"
"Kumohon,
perlihatkan celana dalammu."
"He?"
"Kumohon,
biarkan aku memainkan pusarmu."
"Eh?......
Eh?"
"Kumohon,
jadilah hadaka apron untukku."
"K-Kanade-cchi?"
"Kumohon,
panggil aku 'Tuan' (Goshujin-sama)."
"A-Ada
apa? Kamu jadi aneh, lho?"
Dengan
ekspresi serius, aku memojokkan Ouka.
"Kumohon,
pakailah sabuk garter (garter belt)."
"K-Kenapa
matamu jadi seram begitu?"
Ouka
melangkah mundur, tapi punggungnya terbentur tembok beton.
"Kumohon,
mainkanlah puting susuku."
Aku
menumpukan kedua tanganku di sisi kepala Ouka seolah mengunci jalan larinya.
"M-Mana
mungkin aku bisa melakukan hal mesum begit—"
"Kumohon,
maki-maki aku dan bilang 'Jilat jari kakiku, dasar sampah'!"
Diberondong
dengan permintaan mesum yang sangat tiba-tiba, Ouka memasang wajah bingung yang
seolah tidak paham apa-apa...... Nah, bagaimana reaksinya?
"Kenapa...
kenapa kamu sengaja ngomong hal-hal aneh begitu? I-Ini sama sekali bukan
seperti Kanade-cchi yang biasanya."
"Itu
dia."
"He?"
"Di
mataku saat ini...... Ouka terlihat seperti itu."
"Aku?"
Mungkin
penyampaianku agak salah, tapi secara garis besar tidak keliru.
"Benar.
Setelah melihatku yang sekarang, apa yang kamu pikirkan tentangku?"
"Hmm......
aku nggak tahu cara bilangnya, tapi...... rasanya aku nggak suka."
"Sama.
Bagiku, kamu yang hari ini itu, rasanya aku nggak suka. Kamu terlalu memaksakan
diri membuat karakter yang sama sekali bukan dirimu."
"Kanade-cchi......"
Cara bicara
Ouka sudah kembali normal sepenuhnya. Ini dia kesempatannya.
"Lagian
kenapa cuma hari ini saja kamu bersikeras mau jadi dewasa?"
"I-Itu......"
"Sudah,
bilang saja."
"Anu......
Hisamitsu-chan senpai menyuruhku begitu......"
"Hisamitsu-senpai?"
"Iya.
Setelah konsultasi asmara kemarin selesai, Hisamitsu-chan senpai mendatangiku
dan bilang, 'Kalau kekanak-kanakan terus begitu, kamu nggak akan bisa pacaran
seumur hidup'. Terus dia bilang aku kurang seksi lah, dan banyak hal parah
lainnya...... Aku jadi merasa agak kesal, jadi aku ingin membuktikan kalau aku
juga bisa jadi dewasa, makanya aku jadikan itu tema hari ini......"
......Hisamitsu-senpai,
katanya mau 'memberi bumbu', ternyata dia menghasut Ouka dengan hal seperti
itu, ya.
Yah,
mungkin Senpai juga tidak menyangka kalau Ouka bakal menelan mentah-mentah
ucapannya se-ekstrem ini.
"Kamu
ini polos banget, sih. Hal-hal begitu harusnya diabaikan saja dan tetaplah jadi
dirimu yang biasa."
"Tapi,
tapi, laki-laki kan lebih suka tipe dewasa seperti Hisamitsu-chan senpai,
kan?"
Yah, itu
tidak sepenuhnya salah sih, tapi kan itu masalah selera masing-masing.
"Meskipun
cuma simulasi, tapi karena ini kencan, aku ingin membuat Kanade-cchi merasa
senang...... makanya kupikir daripada diriku yang kekanak-kanakan seperti
biasa, akan lebih baik kalau aku jadi dewasa."
Begitu ya...... ternyata itu yang
dipikirkan Ouka.
"Aku
tanya sebentar, hari ini, apa kamu sendiri merasa senang?"
"Eh?"
Ouka terdiam
cengo seolah dia sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu.
"Apa
kamu merasa senang dengan memaksakan diri berpakaian dewasa, minum kopi pahit
di kafe, dan nonton film yang tidak kamu minati?"
Ouka terdiam
sejenak, lalu membuka mulutnya.
"......Nggak
terlalu senang."
"Kan?"
"Tapi,
tapi, kalau demi membuat pasangan senang, kan kita harus menahan diri
sedik—"
"Kalau
begitu, aku juga tidak senang."
"Eh?"
"Menurutku
tidak ada laki-laki yang merasa bahagia melihat gadis yang bersamanya harus
menahan diri demi dirinya."
Aku sendiri
merasa geli mengucapkannya. Aku cuma bisa bilang begini karena ini kencan
simulasi, kalau ke pacar sungguhan pasti aku tidak akan sanggup bilang begini.
"Maksudnya...... kalau aku
terlihat senang, Kanade-cchi juga jadi senang?"
"Yah, begitulah."
"Begitu ya...... begitu
rupanya......"
Ouka menunduk dan berpikir sejenak,
lalu dia mendongak dengan penuh semangat.
"Oke, aku paham!"
Begitu bilang begitu, dia langsung
melepas kacamata hitamnya dan melempar sepatu hak tingginya. Dia bahkan mencoba
menurunkan ritsleting di bagian dadanya yang sudah terbuka itu lebih rendah
lagi.
"O-Oi......"
"Wah, baju ini benar-benar
menyiksa...... Ah, tapi nggak enak ya kalau buka baju di sini. Kanade-cchi,
boleh aku ganti baju dulu sebentar?"
"Eh, oh, tapi kamu nggak bawa baju
ganti kan—"
"Siaaap!"
Sambil membawa tas yang tadi diletakkan
di tanah, dia berlari menuju toilet umum di taman terdekat.
Yah, baguslah dia sudah kembali normal,
tapi pergantiannya cepat banget ya......
Tapi
syukurlah rencana memanfaatkan pilihan tadi berhasil. Kalau aku tidak berhasil
menggiring pikiran Ouka dengan benar, aku cuma bakal dianggap sebagai orang
mesum saja.
Namun, kalau
seandainya pilihan itu tidak muncul dan aku langsung mulai menasehatinya, Ouka
yang ternyata punya sisi keras kepala mungkin tidak akan mendengarku. Yah, bisa
dibilang ini keberuntungan di tengah musibah.
Setelah
menunggu beberapa menit.
"Maaf
menungguuu!"
Ouka kembali
dengan rok yang sangat amat mini. Oh, dengan ini penampilan luar dan dalamnya
sudah kembali ke imejnya yang biasa. Fakta bahwa dia memakai sabuk garter (garter
belt) memberinya nilai tambahan yang sangat tinggi bagiku.
"Tapi
kok kamu bisa bawa baju ganti sih......"
Padahal kalau
melihat sikap Ouka tadi, sepertinya dia sama sekali tidak punya niat untuk
berganti baju di tengah jalan.
"Tadi
aku bilang ke Mama kalau hari ini aku mau jadi dewasa jadi nggak butuh baju
ini, tapi Mama maksa menyuruhku membawanya karena katanya 'pasti nanti butuh'.
Wah, aku harus terima kasih ke Mama nih!"
Apa dia sudah
bisa membaca perkembangan ini? Ternyata biarpun masokis tingkat akut, seorang
ibu tetaplah seorang ibu.
"Wah,
gampang gerak nih!"
Ouka
memperlihatkan senyum lebar yang terlihat sangat senang dan berlari keluar
taman.
"O-Oi,
tunggu sebentar!"
Aku buru-buru
mengejarnya dan baru berhasil menyusulnya di area pertokoan.
"Fuu......
Nah, karena tenagamu sudah kembali normal, ayo kita cari rute kencan yang
menantang—"
"Ah,
makan es krim yuk, es kriiiim!"
Ouka melihat
kedai es krim dan langsung lari ke sana.
"Oi,
jangan gerak sembarangan—"
"Pesan
yang paling manis satu!"
Pesanan itu
datang berupa es krim dengan saus karamel yang warnanya sangat pekat.
"Waaaah!"
Mata Ouka
berbinar-binar saat melahapnya.
"Enaaaak!
Hm? Ada apa, Kanade-cchi?"
"Nggak,
bukan apa-apa."
"Ah, apa
kamu mau minta setengah? Boleh kok."
Ouka
menyodorkan bagian yang baru saja dia gigit...... Biasanya kan disodorkan bagian sebaliknya, oi.
"Nggak...... aku nggak usah."
"Oh ya?
Kalau gitu biar aku makan semuanya sendiri!"
Ouka melahap
es krim itu sampai krimnya belepotan di sekitar mulutnya. Ini mah benar-benar
anak kecil......
Tapi itu baru
permulaan. Setelah belenggu itu lepas dan Ouka kembali full power—
"Ah,
toko di sana kelihatannya seru!"
"J-Jangan
tiba-tiba lari!"
"Ahahaha,
tinggi, tinggi!"
"Ngapain
kamu manjat ke sana, woi!"
"Ah,
Paman, tolong fotokan kami sebentar!" (Hiiiih! Kenapa kamu minta tolong ke
orang yang tampangnya kayak yak*za begitu!?)
......Kekacauan
hari ini terasa lebih parah dari biasanya.
"C-Capek
banget......"
Waktu sudah
menunjukkan senja. Rasa lelahku sudah mencapai batasnya. Vitalitas Ouka saat
dia serius benar-benar tidak wajar, dalam waktu setengah hari aku sudah diseret
keliling ke tempat yang jumlahnya tidak masuk akal.
"Kamu,
jalan-jalan sebanyak ini, apa nggak capek sama sekali?"
Biarpun
kemampuan atletiknya bagus, Ouka itu tetap perempuan. Dia kelihatannya tidak
berlatih secara rutin, tapi stamina ini benar-benar tidak normal. Sampai-sampai
aku merasa harus mengeluarkan jurus Haou Shokouken.
"Segini
sih nggak ada apa-apanya. Kalau main sama Papa, dalam sehari kita bisa keliling
tiga kali lipat dari ini."
......Sebenarnya
darah keluarga Yuuouji itu terbuat dari apa sih? Lagian anak SMA mana yang main
seharian penuh sama bapaknya? Yah, tapi ini memang sangat khas Ouka sih.
"Begitu ya...... tapi aku sudah
mencapai batas. Waktunya juga sudah begini, ayo kita pulang saja."
Sambil
melihat jam, aku mengonfirmasinya pada Ouka.
"Oke,
kalau begitu ayo pulang!"
Ouka
yang sepertinya masih penuh energi itu pun berjalan berdampingan denganku di
jalanan.
"Ah, ngomong-ngomong."
"Hm? Apa?"
"Apa Kanade-cchi benar-benar ingin
dipanggil 'Tuan'?"
"Puffft!"
Mendengar ucapan Ouka yang tiba-tiba,
aku tersedak ludah sendiri.
"T-Tiba-tiba ngomong apa
sih......"
"Terus,
apa kamu juga ingin aku bilang 'Jilat jari kakiku, dasar sampah'?"
"O-Ouka-san?"
Tanpa sadar
aku jadi bicara sopan. K-Kenapa hal itu harus dibahas lagi sekarang......
"Waktu
kamu menasehatiku untuk jadi diri sendiri tadi, kamu sengaja bilang banyak hal
aneh, kan? Di antara semua itu, soal celana dalam, pusar, dan celemek tadi,
rasanya kayak buatan alias nggak alami. Tapi empat permintaan yang terakhir
rasanya nggak kayak bohong, jadi aku mikir jangan-jangan kamu beneran ingin aku
melakukannya?"
T-Tajam
banget anak ini...... Dia membedakan secara insting antara bagian yang datang
dari pilihan dan bagian yang aku tambahkan sendiri secara spontan.
"Mau
aku lakukan?"
"He?"
"Tadi
sih kupikir itu mesum banget, tapi sepertinya seru juga. Jadi kalau Kanade-cchi
ingin, sebagai penutup, aku tidak keberatan kalau mencobanya sedikit."
N-Ngomong
apa sih anak ini?
"Aku
tadi benar-benar merasa tersentuh waktu Kanade-cchi bilang 'Kalau pasanganku
senang, aku juga jadi senang'. Makanya aku ingin membuat Kanade-cchi jadi lebih
senang lagi. Ah, ini bukan memaksakan diri kayak tadi ya, aku bilang begini
karena aku juga ingin mencobanya, lho?"
......Sebenarnya
terbuat dari apa sih sirkuit pikirannya?
"Nggak,
aku senang dengan niatmu, tapi hal-hal mesum seperti itu tidak per—"
Pilih:
① "Lakukanlah"
② "Silakan lakukan"
③ "Mau melakukannya? (Yaranai ka?)"
Uho.
......Yah, ini kan bukan aku yang
memaksa, tapi dia sendiri yang menawarkan diri, jadi kurasa tidak masalah kalau
aku mengiyakan.
Tapi ingat,
ini murni karena paksaan pilihan, bukan karena keinginan pribadiku. Soal isinya
pun, ini cuma demi membuat Ouka kembali seperti semula, mana mungkin ini adalah
keinginan dari alam bawah sadarku yang tidak sengaja keluar...... Aduh,
sebenarnya aku lagi membela diri ke siapa sih.
"......Lakukanlah."
"Oke!
Ah, kalau gitu ayo kita lakukan di bangku taman itu!"
Sambil
ditarik tangannya oleh Ouka yang entah kenapa sangat antusias, kami berdua
duduk berdampingan.
"Tuaaan!"
Tiba-tiba
Ouka berteriak kencang. Dia terlalu
bersemangat sampai-sampai imej pelayan (maid) yang kubayangkan hancur
total...... tapi yah, ini juga boleh lah.
"Wah, rasanya segar dan seru ya!
Ayo lanjut ke yang berikutnya!"
"O-Oi......"
Ouka melepas
kaos kakinya dan menjadi bertelanjang kaki. Lalu entah kenapa dia menyuruhku
berbaring di bangku taman, sementara dia berdiri menatapku dari atas. Dari
sudut ini bagian dalam roknya terlihat jelas, tapi sepertinya tidak masalah
baginya karena dia memakai celana ketat (spats).
"Oryaaah!"
Dan
tiba-tiba, dia menyentuh puting susuku dengan jempol kakinya.
"Afuh......"
Tanpa sadar
aku mengeluarkan suara aneh.
T-Ternyata
bukan jilat jari kaki, tapi bagian puting susunya...... d-dan dia memainkannya
pakai kaki......
"Ahahaha,
reaksi Kanade-cchi lucu banget!"
"H-Hentikan......"
"Ahahaha,
sini, sini!"
Ouka semakin
menjadi-jadi dan memutar-mutar jari kakinya di sana.
"O-Oi,
cukup—"
"Jilat jari kakiku, dasar sampah."
"Ya,
ya, dengan senang hati... YA
KALI AKU MAU!"
Sial, aku
nyaris saja terbawa suasana dan menuruti perintahnya.
"Ahahaha,
Kanade-cchi, kamu mirip ya sama Mama. Apa ya
sebutannya kalau yang begini... oh, Do-M, kamu beneran Do-M!"
Aku bukan Do-M... Entah kenapa aku
tidak merasa benci dengan situasi ini, tapi aku bersumpah aku bukan Do-M.
Meskipun jauh di lubuk hatiku mungkin
ada hasrat ingin diteriaki oleh seorang maid yang kupaksa memanggilku 'Tuan',
yang memakai sabuk garter, dan kusuruh memainkan puting susuku... Tetap saja,
aku bukan Do-M!
Sebaliknya, Ouka dengan riang gembira
terus memainkan putingku menggunakan jari kakinya. Aku sempat heran kenapa dia
begitu bersemangat... jangan-jangan, anak ini punya bakat terpendam jadi
seorang S (Sadis).
"Seru juga, aku coba lebih keras
lagi ah!"
"Ah... tung—henti—"
"Bisa minta waktunya
sebentar?"
Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat
berat menyela kami.
Aku buru-buru bangkit, dan di sana
berdiri tegak seorang pria berseragam biru yang dikenal oleh seluruh rakyat
Jepang.
"Kalian...
lagi ngapain?"
Pak Polisi,
ya. Paham, aku paham kok.
◆◇◆
"Ahahaha,
untung saja ya tadi!"
"Nggak
lucu, tahu!"
Gila, tadi
itu benar-benar gawat. Aku berhasil lolos setelah mati-matian beralibi kalau
kami cuma sedang latihan drama, tapi sedikit lagi saja kami pasti sudah
diangkut ke kantor polisi.
Yah, kalau
aku sendiri sih masa bodoh, tapi kalau sampai putri presiden direktur UOG
ditangkap polisi, itu bakal jadi masalah besar di mana-mana.
"Tapi
kamu tadi kelewatan, tahu..."
"Ahaha,
maaf ya! Tapi habisnya, melihat wajah Kanade-cchi pas dipasrah begitu, seru
banget sih!"
Fix,
anak ini memang punya bakat Sadis... Kuharap ke depannya dia tidak terbangun ke
jalan yang salah.
"Sudahlah...
aku capek, ayo pulang saja."
"Iya
ya~"
Berbanding
terbalik dengan ucapannya, Ouka mulai melangkah lagi di sampingku tanpa
menunjukkan tanda-tapan kelelahan sedikit pun.
Setelah
berjalan beberapa saat, Ouka melongokkan wajahnya ke arahku.
"Ngomong-ngomong
Kanade-cchi, boleh aku tanya satu hal?"
"Apa?"
Ouka berujar
dengan sedikit terbata-bata.
"Itu...
hari ini, apa kamu merasa senang?"
Melihat Ouka
yang tampak cemas, aku menyuarakan apa yang benar-benar kupikirkan.
"Iya,
aku senang kok."
Seperti yang
kukatakan di awal tadi, paruh pertama kencan ini memang tidak murni kunikmati
karena aku merasa kasihan melihat Ouka yang memaksakan diri.
Tapi setelah
dia kembali jadi dirinya yang biasa, biarpun aku diseret ke sana kemari, kencan
ini sama sekali tidak membosankan... yah, kalau kita mengabaikan sesi permainan
sesat di taman tadi.
Seketika,
wajah Ouka langsung berseri-seri mendengar jawabanku.
"Syukurlah!
Kanade-cchi bilang kalau aku senang maka kamu juga senang, tapi karena aku tadi
terlalu asyik sendiri, aku jadi agak khawatir."
Ouka
yang tampak lega itu terdiam sejenak, lalu membuka mulutnya lagi.
"Ah,
Kanade-cchi. Hari ini ada satu hal lagi yang ingin kupastikan."
"Apa?"
Nada suara
Ouka sedikit merendah.
"Hm...
waktu kita ke kolam renang kemarin, apa kamu ingat aku menangis di bagian
akhir?"
Mana mungkin
aku lupa. Ekspresi tertawa sambil menangis yang ditunjukkan Ouka di Water
Amusement Park itu masih terpatri jelas di ingatanku.
"Aku
terus memikirkan perasaan apa yang kurasakan saat itu, tapi aku benar-benar
tidak paham dan rasanya mengganjal sekali."
Pantas saja
sikapnya agak aneh, termasuk saat dia mulai memanggilku 'Kanade-cchi'.
"Alasanku
minta kencan simulasi hari ini juga karena kupikir, kalau kita bersama lagi,
mungkin aku akan paham sesuatu."
"...Begitu ya. Jadi, hasilnya
bagaimana?"
"Nggak
tahu!"
Dia
menjawab instan sambil mengacungkan jarinya dengan mantap.
"O-Oh,
begitu ya..."
"Tapi,
tapi! Hari ini
aku benar-benar senang banget!"
"Syukurlah
kalau begitu."
"Yup!
Makanya, aku mau coba pikirkan lagi sendiri pelan-pelan."
Ouka pun
menunjukkan senyum lebar yang sangat tulus.
"Ah,
sampai di sini saja nggak apa-apa kok!"
Setelah
berjalan beberapa lama, Ouka bersuara.
"Nggak
bisa, ini sudah malam, aku antar sampai depan rumah."
"Makasih.
Tapi beneran sudah dekat banget kok, jadi nggak apa-apa."
"Beneran?"
"Iya,
sampai jumpa lagi ya!"
Ouka berlari
pergi sambil melambaikan tangannya dengan semangat.
"Kencan...
ternyata rasanya begini ya."
Meskipun cuma
simulasi dan sama sekali tidak mirip pasangan normal, melihat ekspresi Ouka
yang berubah-ubah saja sudah cukup membuatku terhibur.
Aku mulai
sedikit paham kenapa anak-anak SMP dan SMA sibuk meributkan soal asmara.
Tapi, itu
mungkin cuma perasaanku saja.
Sebab bagiku—
Pilih:
① Berlari sekencang
tenaga keliling kota sambil berteriak "Kojirooo! Aku mencintaimuuuu!"
② Berlari sekencang
tenaga keliling kota sambil berteriak "Daiko-saaan! Aku
mencintaimuuuu!"
③ Berlari sekencang
tenaga keliling kota sambil dicintai oleh Daiko-san
...Ya, selama benda ini masih
bersarang di kepalaku, pacaran atau asmara itu cuma mimpi di siang bolong.
Aku
menggigit bibir bawahku dan melangkah maju.
"KOJIROOO!
AKU MENCINTAIMUUUU!"
Ayah...
maafkan aku.
2
"Bego."
Suara Chocolat bergema di ruang tamu
kediaman Amakusa.
"Bodoh."
Mungkin dia
berniat memaki sekuat tenaga, tapi...
"Nggak
berguna."
Karena cara
bicaranya yang lembek dan imut, tidak ada satu pun percikan niat jahat yang
tersampaikan.
"Aku
benci Kanade-san."
Bahkan
setelah dia mengucapkan kata-kata langsung seperti itu, notifikasi misi selesai
tetap tidak menggetarkan ponselku.
"Kanade-san,
aku sudah tidak mau lagi melakukannya..."
Chocolat
menatapku dengan mata sedih.
"Iya ya... Maaf sudah menyuruhmu
melakukan hal aneh."
Yah, aku tahu sih misi ini tidak akan
selesai cuma dengan memaksanya bicara begitu. Aku hanya mencoba bereksperimen,
siapa tahu dengan pengulangan terus-menerus, perasaan Chocolat bisa berubah
walau cuma sesaat karena sugesti... tapi ternyata gagal ya.
"Haaaah..."
Kelelahan fisik akibat diseret-seret
Ouka ditambah beban mental karena misi yang tidak kunjung selesai... wajar saja
kalau aku ingin menghela napas panjang.
"Kanade-san...
maafkan aku karena tidak bisa membencimu."
Chocolat
terlihat sangat murung. Ugh, rasa bersalahku jadi makin besar saja...
"N-Nggak,
kamu nggak salah apa-apa kok, jangan dipikirkan... Hm?"
Tepat saat
itu, ponselku tiba-tiba berbunyi.
Aku memeriksa
layarnya dan melihat tulisan 'Dewa'.
Si brengsek itu ya... Aku menyiapkan
mental lalu menekan tombol jawab.
"Hahlo-hahlo,
Kanade-kun sayang, hahlo-hahlo~"
Mendengarnya
saja sudah membuatku naik pitam. Aku tahu mematikan ponsel atau apa pun itu
sia-sia di hadapan makhluk ini, tapi karena terlalu kesal, aku menutup
teleponnya.
Toh,
dia pasti bakal menelepon lagi sege—
"Lho?"
Nada
dering yang familier terdengar. Tapi, ponsel di tanganku tidak berbunyi.
Apa-apaan ini? Rasanya suaranya berasal dari arah belakangku...
"Lucu
sekali, Kanade-san, pantatmu berbunyi!"
"...Hah?"
Pantat? Mana
mungkin, pikirku sambil memusatkan konsentrasi ke sana.
"Bunyi
beneran..."
Nada
dering ponsel mengalun keluar dari pantatku.
"A-Apa-apaan
ini..."
Aku mencoba
mengencangkan otot pantatku.
"S-Suaranya
mengecil..."
Aku mencoba
mengendurkan otot pantatku.
"W-Wah,
suaranya membesar..."
'Kasus
di mana Pantatku Berubah Jadi Ponsel dan Aku Tidak Tahu Harus Bagaimana'. Sebuah judul
thread internet mendadak terlintas di otakku... Tapi siapa juga yang peduli!
Ini bukan
waktunya memikirkan itu. Sepertinya satu-satunya cara menghentikan ini adalah
dengan mengangkatnya.
"Tapi,
gimana cara angkatnya!?"
"Ah,
sekarang nenen Kanade-san menyala!"
"Hah?"
Begitu aku
melihat ke bawah, salah satu puting susuku tampak berkedip-kedip terang-padam.
"...Jangan-jangan."
Meski rasanya
sangat menjijikkan, aku menekan puting susuku sendiri. Seketika itu juga, suara
genit terdengar dari ponsel yang kupegang di tangan satunya.
"Hahlo-hahlo~"
"APA
YANG KAMU LAKUKAN, HAH!?"
"Habisnya
Kanade-kun dingin banget sih sama aku~"
"Itu
karena kamu selalu melakukan hal aneh!"
"Hal
aneh? Maksudmu 'Nada Dering Pantat' dan 'Puting Glow-in-the-Dark'
tadi?"
"Jangan
seenaknya kasih nama aneh begitu!"
"Kanade-kun,
apa pun alasannya, menutup telepon tiba-tiba itu melanggar etika, lho."
"Memangnya
'Nada Dering Pantat' dan 'Puting Glow-in-the-Dark' itu bukan pelanggaran
etika!?"
"Are-re,
jangan-jangan kamu agak suka ya sama nama itu?"
Cekit...
"...Aku
tutup ya."
"Boleh
saja sih. Tapi
nanti pantat Kanade-kun yang bakal menyala terang benderang."
"Pantat
Kanade-san menyala? Itu bisa jadi lampu penanda yang bagus!"
"Penanda
apaan!?"
Saat aku
dibuat ilfeel oleh radar humor homo milik Chocolat, suara si Dewa Sok
Gaul kembali terdengar.
"Yah,
yah, yang tadi itu cuma pembukaan. Kamu pikir aku menelepon Kanade-kun kalau
nggak ada urusan?"
Padahal
kemarin kamu melakukannya dengan sangat santai...
Tiba-tiba,
nada suara si Dewa Sok Gaul sedikit merendah.
"Sebenarnya,
aku tahu sedikit informasi tentang dewa yang mengirimkan Absolute Choice
dan misi-misi itu kepadamu."
"B-Benarkah!?"
Aku berteriak
tanpa sadar.
Sejauh yang
kupahami, ada tiga dewa yang keberadaannya kutahu (setahuku dewa dihitung
dengan satuan itu). Pertama, Dewa Sok Gaul yang mengelola dunia ini sekarang.
Kedua, pendahulunya yang mengurung diri karena depresi akibat masalah
perselingkuhan. Dan ketiga, dewa yang kemungkinan besar adalah biang keladi
dari semua penderitaanku.
Karena selama
ini informasi yang didapat hampir nol besar, aku tidak bisa untuk tidak
berharap.
"Jadi...
apa yang kamu ketahui?"
"Yah,
cuma sedikit sih, jadi jangan terlalu berharap ya. Ini
soal atribut dewa itu."
"Atribut?"
"Yup. Misalnya dewa perang, dewa
kesuburan, atau dewa seni. Ah, omong-omong, aku ini dewa yang menaungi Hostess
Club."
"Itu mah cuma manajer kelab!"
"Haha,
lupakan bercandanya, ayo ke topik utama. Dewa itu... ternyata menaungi 《Asmara》."
"Dewa
Asmara..."
"Benar,
dewa itu... aduh, siapa ya namanya... sudahlah, lupakan saja karena aku lupa,
kita panggil saja dia Dewa Love."
Meski cuma
nama sementara, kedengarannya murahan sekali... Yah, masih jauh lebih mending
daripada Dewa Sok Gaul.
"Dewa
Love itu... kabarnya dia adalah eksistensi kontradiktif yang tidak mengenal
cinta."
"Tidak mengenal cinta... Padahal
dia Dewa Asmara?"
"Iya.
Dia sangat suka mengamati asmara manusia, tapi dia sendiri punya konstitusi
tubuh yang tidak bisa merasakan cinta sama sekali."
Aku tidak
paham logika para dewa, tapi tidak bisa merasakan cinta itu kedengarannya cukup
menyedihkan... Yah, aku yang manusia—maksudku, aku sendiri—saat ini tidak punya
hak untuk mengomentari orang—atau dewa—lain sih.
"Lalu
aku mencoba bertanya ke teman-teman chatting-ku sesama dewa—"
Jangan pakai
istilah 'teman chatting' dong...
"Dewa Love itu saat ini statusnya
sedang hilang kontak alias raib."
"Raib... Seorang dewa?"
Yah, mengingat ada dewa yang cuma cowok
sok gaul atau yang mengurung diri karena mogok kerja, kurasa ada dewa yang
hilang juga bukan hal aneh lagi.
"Haha, dewa-dewa itu memang
kebanyakan santai dan sembarangan. Tapi karena dia dewa tingkat tinggi, kalau
keberadaannya tidak diketahui itu bisa gawat, jadi mereka sudah melakukan
pencarian besar-besaran... tapi kemungkinan besar dia tidak ada di Alam
Dewa."
"Tidak
ada di sana?"
"Benar.
Mungkin dia sedang iseng jalan-jalan di dunia manusia."
"Dunia
manusia.................. Ah."
"Hm?
Sepertinya kamu terpikirkan sesuatu ya~"
Mendengar
itu, yang pertama kali terlintas di otakku adalah Ketua Murid berhati hitam
itu.
"Ah,
sebenarnya—"
Aku
menjelaskan secara singkat tentang Ketua Kokubyouin kepada si Dewa Sok Gaul.
"Heee,
tunggu sebentar ya..."
Mendengarnya,
si Dewa Sok Gaul terdiam sejenak seolah sedang menelusuri sesuatu.
Setelah
sepuluh detik berlalu.
"Ya,
benar kalau Ketua-chan itu bukan manusia."
...Sudah
kuduga.
"Tapi,
kurasa dia juga bukan dewa."
"Eh?"
"Aura
ini... ini milik seorang pelayan. Ketua-chan itu sama seperti Chocolat-chan
yang ada di sisimu."
Ketua bukan
dewa?
"Lalu,
di mana Dewa Love itu sebenarnya..."
"Hmm,
kalau dewa yang lebih tinggi dariku benar-benar menghapus keberadaannya, aku
tidak akan bisa mendeteksinya. Lagipula, dunia manusia itu jumlahnya tak
terhingga, bukan cuma dunia tempat Kanade-kun berada... Eh?
Akemi-chan di toko bikin pelanggan marah? ...Maaf Kanade-kun, ada urusan
darurat, nanti lagi ya~"
"O-Oi,
tunggu sebentar..."
Telepon
langsung terputus... Si brengsek itu, apa dia benar-benar manajer kelab malam?
"Kanade-san, ceritanya sudah
selesai?"
Chocolat menghampiriku dengan wajah
riang.
Sial... Harusnya tadi aku minta si Dewa
Sok Gaul menyelidiki tentang Chocolat juga.
Fakta bahwa dia kehilangan ingatan
secara aneh dan perubahan kepribadiannya tempo hari, asal-usulnya benar-benar
terlalu banyak misteri.
"Kanade-san,
ada apa?"
"Nggak,
bukan apa-apa..."
Aku tahu
percuma bertanya langsung padanya, dan kalaupun dia bisa menjawab, rasanya aku
agak takut untuk mengetahui semuanya.
"Begitu ya... Fuwaaa."
Chocolat menguap lebar. Aku jadi ikut
tertular.
"Huaaa... Kalau begitu, ayo kita
tidur."
"Benar.
Aku juga sudah mengantuk!"
Memang
masih agak awal, tapi hari ini aku lelah sekali gara-gara diseret Ouka, dan
besok aku harus pergi berdua saja dengan Yukihira.
...Sepertinya
besok bakal jadi hari yang sangat berat.
"Fuu..."
Aku
tidak bisa tidur dan hanya menatap langit-langit dari tempat tidurku.
"Seorang
dewa asmara, tapi tidak mengenal cinta... ya."
Kalimat itu
entah kenapa menempel kuat di kepalaku dan tidak mau pergi.
3
"Lho?"
Hari Minggu,
aku sampai melongo melihat penampilan Yukihira yang muncul di depan stasiun.
Mengingat tabiatnya, kupikir dia bakal datang pakai baju training, atau
paling parah pakai kostum boneka demi memancing tawa atau semacamnya—tapi
dugaanku meleset total.
"Yukihira...
kan?"
Gaun putih
bersih yang tampak lembut, tas mungil dengan hiasan imut, ditambah aksesori
bunga di rambutnya. Singkat kata, dia terlihat sangat, sangat feminin.
"……"
Yukihira
hanya berdiri diam di hadapanku tanpa mengucap sepatah kata pun.
"O-Oi,
selamat pagi."
"……"
"Syukurlah
hari ini cerah, ya."
"……"
"Suhunya
juga nggak terlalu panas, pas banget buat jalan."
"……"
"Anu...
kalau kamu nggak ngomong apa-apa, kita nggak bakal bisa ngobrol, lho."
Mendengar
itu, Yukihira terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka mulut.
"……Seharusnya
kamu mati saja sambil menyemburkan seluruh darah dari sekujur tubuhmu."
"SADIS
BANGET?!"
"Maaf.
Waktu kecil aku diajari, kalau pergi sama cowok yang bikin mual saking
bencinya, aku harus bilang begitu."
"Masa
kecil macam apa yang kamu jalanin?!"
Biasanya aku
memang sering disemprot kata-kata pedas atau dipukuli, jadi aku tahu kalau
Yukihira membenciku. Tapi kalau sampai dibilang 'benci sampai mual', rasanya
sakit juga ya...
Seolah
menyadari perasaanku, Yukihira kembali bicara.
"Maaf.
Bilang 'benci sampai mual' itu sepertinya agak keterlaluan. Lagipula pilih
katanya kurang estetis, ya."
Yah, memang
benar sih. Kata 'mual' kalau keluar dari mulut cewek imut rasanya kurang enak
didengar.
"Aku
ralat jadi 'benci sampai mau muntah pelangi'."
"NGGAK
JADI LEBIH BAGUS JUGA KALI! Lagian 'muntah pelangi' itu apa?!"
"Kalau
begitu, aku ralat jadi 'benci sampai ada merpati keluar dari topi'."
"Kenapa
jadi main sulap?!"
"Kalau
begitu, aku ralat jadi 'benci sampai ada sepupu jauh keluar dari topi'."
"MAKIN
NGGAK NYAMBUNG!"
"Amakusa-kun,
di situ kamu harusnya me-tsukkomi: 'Mana ada sepupu jauh di dalam
topi!'."
"Mana
aku tahu!"
"Ngomong-ngomong,
Ken-chan sepupuku itu dadanya membusung kayak merpati, lho."
"Info
itu buat apaan, sih?!"
"Terus,
poin plusnya Ken-chan itu bibirnya seksi kayak bebek."
"Kubilang
info soal Ken-chan nggak butuh!"
"Ah,
Ken-chan yang kumaksud bukan pelawak Ken Shimura, ya."
"NGGAK
BAKAL ADA YANG SALAH PAHAM!"
"Bukan
Takagi Boo juga, kok."
"Bukannya
mereka nggak ada mirip-miripnya?!"
"Masa
sih, Boo?"
"Itu mah
Boo-taro di kartun sebelah!"
"Amakusa-kun,
sebenarnya sampai kapan kamu mau bercanda terus?"
"KAMU
YANG DARI TADI BEGITU!"
...Yukihira
benar-benar beroperasi seperti biasa secara mengerikan. Kupikir karena ini hari
libur dan kami pergi berdua—apalagi judulnya kencan (simulasi)—dia bakal
bersikap agak 'cewek' sedikit. Ternyata yang berubah cuma bungkusnya saja.
"Hah...
aku paham kok kalau kamu benci aku."
Sial, kalau
saja target misi kali ini bukan Chocolat melainkan Yukihira, urusannya pasti
jauh lebih gampang... Eh, tapi karena dia benci aku dari awal, misinya malah
nggak bakal jalan, ya?
"Eh, ada
apa?"
Yukihira
tiba-tiba mematung.
"Amakusa-kun,
barusan kamu bilang kalau aku membencimu, kan?"
"Eh? Ah,
i-iya..."
Aku jadi
salah tingkah karena ditatap tajam seolah sedang diinterogasi. Lho,
jangan-jangan dia nggak sebenci itu?
"…………………Tepat
sekali."
"KENAPA
PAKE JEDA LAMA BANGET?!"
Kalau memang
benar begitu, kenapa harus ditanya ulang? Yukihira benar-benar sulit dimengerti. Tapi terserah apa pun pendapat Yukihira
tentangku, aku di sini untuk menyelesaikan masalah si pemohon misi. Jadi aku
harus profesional.
"Ya
sudah, mari kita mulai kencan (simulasi)-nya."
"?!"
Tubuh
Yukihira tersentak kaget.
"Yukihira?"
Apa aku salah
ngomong?
"……Bukan
apa-apa."
Yukihira
langsung berjalan mendahuluiku.
"O-Oi,
Yukihira, tangan sama kakimu geraknya barengan tuh!"
"Apa
yang kamu bicarakan? Hal seperti di manga begitu mana mungkin terjadi di dunia
nyata."
"Lha,
kenyataannya begitu k—eh, AWAS!"
Gubrak!
Dia
tersungkur dengan sukses.
"K-Kamu
nggak apa-apa?"
Saat aku
menghampirinya, Yukihira yang masih dalam posisi merangkak berkata dengan nada
datar.
"……Ini
tadi gag fisik."
"Totalitas
banget?! Lagian nggak lucu!"
Padahal
siapa pun yang lihat juga tahu kalau itu murni jatuh karena ceroboh.
"Eh,
lututmu lecet tuh."
Lututnya
sedikit berdarah, tapi Yukihira tetap bersikap tenang.
"Luka
begini tinggal kasih ludah juga sembuh."
"KASIH
OBAT MERAH DONG! Gimana ceritanya kasih ludah?!"
Yah,
dikasih ludah pun nggak bakal bikin sembuh, sih.
"Ngomong-ngomong,
seumur hidup aku ingin sekali mencoba memuntahi diri sendiri pas tidur, apa
cuma aku yang punya keinginan begitu?"
"PASTI
CUMA KAMU DOANG!"
Keinginan
macam apa itu? Silakan lakukan sendiri nanti kalau sudah jadi mbak-mbak
kantoran...
"Luka
begini, tinggal ditempelin ikan sarden juga sembuh."
"JANGAN
NEMPELIN BARANG AMIS KE LUKA!"
"Dibiarkan
saja juga tidak apa-apa. Ayo jalan lagi."
Saat dia
berdiri dan hendak berjalan, aku menahan pundaknya.
"Nggak
boleh. Kalau kena kuman terus infeksi gimana..."
Aku melangkah
ke depannya, berjongkok, dan memeriksa lukanya sekali lagi.
"T-Tunggu
sebentar..."
"Tuh
kan, lukanya lumayan dalam."
"Amakusa-kun,
bukannya kamu terlalu berlebihan? Luka begini kasih kuda juga—"
"Yukihira."
Aku memotong
ucapannya saat dia hendak melantur lagi.
"A-Apa... Kenapa wajahmu seram
begitu?"
Aku baru sadar. Sepertinya wajahku jadi
agak kaku karena aku bicara dengan serius.
"Ah, maaf. Tapi aku khawatir bukan
cuma soal kebersihan. Kalau lukanya bernanah terus berbekas gimana?"
"……"
Kali ini Yukihira tidak membalas. Dia
hanya menunduk diam.
"Aku beli obat antiseptik dulu di
toko sana, tunggu di sini ya."
Aku
segera lari menuju drugstore terdekat.
Sepuluh menit
kemudian.
"Ssh..."
Yukihira
sedikit meringis di bangku taman karena antiseptiknya terasa perih. Yah, mau
bagaimana lagi. Aku juga menempelkan plester luka ukuran besar yang baru saja
kubeli.
"Oke,
harusnya ini sudah cukup sebagai pertolongan pertama."
"……Padahal
kubilang nggak usah, berlebihan sekali."
"Dengar
ya Yukihira, kamu itu punya kulit yang cantik, jadi tolong lebih hargai dirimu
sendiri."
"……Ugh."
Yukihira
tiba-tiba memalingkan wajahnya. Dia terdiam cukup lama
sebelum akhirnya mendongak lagi.
"……Amakusa-kun."
"Kenapa?"
"……A……"
"A?"
"A…… a……"
Dia tampak kesulitan bicara.
"……Bisakah kamu menghilang dari
muka bumi ini sebelum besok pagi?"
"TIDAK MAU DONG?!"
Aku syok tiba-tiba disuruh mati... Apa
aku barusan melakukan kesalahan?
"I-Itu
tadi cuma salah ucap..."
Salah ucap
macam apa sampai keluar kalimat sekejam itu?!
"Anu... a... a..."
"A?"
"Ari...
ari..."
"Ari?"
"ARRIVEDERCI!
(Sampai jumpa!)"
"KENAPA
JADI KARAKTER JOJO?!"
Setelah itu,
Yukihira berusaha keras untuk mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya dia tidak
sanggup menyelesaikannya.
"Hah..."
Dia menghela
napas panjang lalu berdiri.
"Amakusa-kun,
ini."
Dia mendadak
menyodorkan uang.
"Apaan
nih?"
"Uang
ganti antiseptik dan plesternya."
"Eh?
Nggak usah, nggak apa-apa kok."
Barang-barangnya
juga bisa kupakai di rumah nanti.
"Nggak
boleh. Aku nggak suka kalau urusan begini nggak diselesaikan dengan
benar."
Ternyata
biarpun kelakuannya ajaib, dia punya sisi teliti yang tak terduga... Ya
sudahlah, karena dia memaksa, kuterima saja uangnya.
"Jadi,
permintaannya adalah rute kencan yang 'merangsang', kan? Aku sudah memikirkan
beberapa rencana, mau dengar?"
Firasatku
nggak enak, tapi kucoba dengarkan dulu.
"Gimana
kalau kita membasmi sarang tawon dengan tangan kosong?"
"ITU
MAH MERANGSANG BAHAYA FISIK!"
"Atau
Amakusa-kun menggerebek markas Yakuza sampai badanmu penuh lubang peluru?"
"JANGAN
NGOMONG BEGITU PAKE WAJAH SERIUS!"
Benar
kan, isinya sampah semua... Sebagai bentuk evaluasi dari kencan kemarin yang
kuserahkan sepenuhnya pada Ouka, hari ini aku sudah menyiapkan persiapan kecil.
Aku mengeluarkan
sebuah majalah dari tas dan menunjukkannya pada Yukihira.
"Nih,
gimana kalau ini?"
Di sana
tertulis judul besar: 'Lepaskan Diri dari Kebosanan! Edisi Khusus Spot
Kencan Unik!' Sepertinya edisi ini memang dibuat khusus untuk kasus kami
sekarang.
"Aku
belum pernah lihat majalah ini."
"Ah, ini
majalah buatan klub kampus. Anak tetanggaku salah satu anggotanya, jadi aku
pinjam pagi tadi."
Kalau pergi
ke tempat populer yang ada di majalah nasional, ongkos transportasinya pasti
mahal.
Tapi karena
ini pilihan mahasiswa lokal, kita bisa keliling tanpa keluar banyak uang.
Yah,
mengandalkan majalah memang agak gimana gitu, tapi mendingan daripada nggak ada
rencana sama sekali.
"Begitu
ya... lumayan menarik juga."
Yukihira
membolak-balik halamannya, lalu jarinya terhenti di satu halaman.
"I-Ini..."
Pandangan
Yukihira tertuju pada fitur: 'Cewek Wajib Lihat! Tur Barang-Barang Unik & Lucu!'
Halaman
itu memperkenalkan toko pernak-pernik karakter dan tempat di mana kita bisa
berinteraksi dengan hewan.
"Wah,
latar belakangnya serba pink, seleranya norak banget ya. Lagian ini berlawanan
sama konsep 'merangsang' kita, kamu pasti nggak tertarik kan, Yukihira?"
"……Iya
juga."
"Ya
sudah, kita pilih beberapa tempat unik dari majalah ini saja ya?"
"……Iya."
"Mau ke
mana dulu?"
"……Iya."
"Yukihira?"
"……Iya."
...Apa-apaan
ini, dia bengong total.
"Oi,
Yukihira."
Aku memegang
pundaknya dan menggoyang-goyangkannya pelan.
"Eh?"
"Kamu
kenapa, sih? Kayak lagi di duniamu sendiri."
"……Maaf.
Aku sedang memikirkan sesuatu. Jadi, apa tadi kita sedang membicarakan tanggal
operasi kebiri Amakusa-kun?"
"SEBENARNYA
APA YANG TERJADI PADA DIRIKU?!"
"Soal
memotong 'barang' itu..."
"JANGAN
NGOMONGIN ITU!"
"Soal memotong ○○○ itu..."
"KENAPA MALAH DIUCAPIN LEBIH
DETAIL?!"
...Sial,
obrolannya nggak jalan-jalan.
"Sudahlah,
di dekat sini ada kafe unik, ayo ke sa—"
"Tunggu
sebentar."
Yukihira
menahan pundakku.
"Ke arah
sana... arahnya tidak bagus."
"Arah?"
"Sebenarnya
aku sedang mendalami ilmu fengshui."
Baru tahu
aku. Dia nggak kelihatan kayak orang yang tertarik hal begini.
"Kalau
ke sana, peruntungan 'anu'-mu bakal turun drastis."
"Peruntungan
'anu'?!"
Apaan tuh?
Apa aku salah dengar 'peruntungan uang'?
"Melangkah
satu langkah lagi saja, kamu bakal berakhir dioperasi kebiri di tempat ini
juga."
"SAMPAI
KAPAN MAU BAHAS TOPIK ITU?!"
"Pokoknya,
kalau ke arah sini, nasib sial itu bisa dihindari."
Yukihira
menunjuk arah yang berlawanan. Di tangannya yang lain, dia menggenggam erat
majalah yang masih terbuka di halaman 'barang-barang lucu'.
"……Ya
sudahlah, kalau kamu sampai segitunya, ayo ke sana."
Kami
berjalan berdampingan sampai tiba di depan sebuah toko pernak-pernik karakter.
Di etalase terpajang berbagai barang fantasi yang menurutku semuanya kelihatan
sama saja.
"Yukihira?"
Langkah
Yukihira terhenti di depan etalase. Matanya tertuju pada satu titik. Ah, kalau
itu aku juga tahu. Itu boneka Shirobuta-kun, karakter yang lagi dipromosikan
oleh 'UOG Toys'.
"Jangan-jangan
kamu mau itu?"
"……Eh?"
"Habisnya
kamu melihatinya terus."
"Jangan
salah paham ya. Aku cuma sedang berpikir, kalau boneka jelek ini kurobek-robek
dan kapasnya kusebar ke mana-mana, pasti rasanya bakal sangat lega
sekali."
"KEJAM
BANGET?!"
Tepat
saat aku berteriak, terdengar suara nyaring dari pengeras suara.
"Yah~
sayang sekali! Cuma dapat tisu~!"
"Eh?
Apa tuh?"
Ada suara
penuh semangat yang bergema.
"Oh,
undian berhadiah ya."
Zaman
sekarang ternyata masih ada yang bikin acara begini. Aku mendekat dan memeriksa
papan hadiahnya. Juara satu paket wisata pemandian air panas, juara dua
pembersih udara, juara tiga konsol game portabel. Lumayan mewah juga hadiahnya.
"Ah,
omong-omong..."
Tadi pas
belanja di drugstore, aku dapat satu tiket undian. Tadi cuma kumasukkan
ke dompet tanpa dipikir, ternyata acaranya di sini.
"Yukihira,
mau coba putar?"
"……"
Yukihira
masih menatap Shirobuta-kun di dalam etalase... sepertinya dia nggak dengar.
Biar aku saja yang coba.
"Permisi."
Aku
menyerahkan tiket pada petugas yang memakai baju happi.
"Satu
kali ya. Silakan diputar~!"
Aku memutar
tabung undiannya. Sejujurnya aku nggak pernah punya keberuntungan soal begini—
Ting! Sebuah bola kuning keluar.
"SELAMAT!
ANDA DAPAT HADIAH KEEMPAT!"
Oh,
serius nih?!
"Ini
hadiahnya. Imut banget, lho~"
Mbak
petugas memberikan sebuah boneka Shirobuta-kun kepadaku... Serius?
"Ah,
i-iya... terima kasih."
Apanya yang
imut? Katanya sih matanya yang sayu melambangkan kondisi emosional yang nggak
stabil, tapi kenapa karakter anak-anak punya setting seberat itu? Apa
sih yang dipikirin pengembangnya?
Tiba-tiba ada
suara dari belakang.
"Amakusa-kun."
"Ah,
Yukihira."
"Kamu
dapat barang yang menjijikkan ya. Cocok sekali buat barang bawaan orang yang mirip tikus got
sepertimu."
Eh... Kenapa
tiba-tiba aku kena diss juga?
"Ngomong-ngomong, itu mau
diapakan?"
Hmm. Aku jelas nggak butuh, kalau
dibawa pulang pun Chocolat cuma tertarik sama makanan...
"Enaknya gimana ya... Eh? Kenapa?"
Tiba-tiba
Yukihira bersikap gelisah.
"Itu...
kalau Amakusa-kun nggak butuh... aku nggak keberatan kalau harus
menerimanya..."
"Eh?
Gimana?"
"……Bukan
apa-apa."
"Kamu
sebenarnya pengen boneka ini, ya?"
"……Nggak
mau."
"Iya
juga sih... Ah, kebetulan ada bapak sama anak di sana, kasih ke mereka saja
d—"
"Tunggu
sebentar!"
Grep!
Kerah bajuku
ditarik tiba-tiba.
"O-Oi,
bahaya tahu!"
Yukihira
tanpa rasa bersalah berkata pelan.
"Jangan
panggil mereka. Mereka itu bukan bapak dan anak, tapi pasangan pedofil."
"KALAU
GITU PANGGIL POLISI DONG!"
"Aku
cuma bercanda."
"AKU
TAHU KOK! Ini tuh cuma tsukkomi! Jangan bikin aku ngomong yang bikin
malu begini!"
"Duh,
aku kan memang pengen bikin kamu ngomong begitu."
"Kenapa
tiba-tiba mirip gaya bicaranya Ken○ Mikawa?!"
"Karena
aku berbintang Scorpio."
"Bisa
nggak berhenti berlagak keren cuma gara-gara alasan nggak nyambung
begitu?!"
"Ngomong-ngomong, aku bukan
Scorpio kok."
"UGHAAAA!"
Aku mengacak-acak rambutku... Sial, aku
nggak kuat ngadepin dia.
"Udah
puas kan? Ya sudah, aku kasih boneka ini ke mer—"
"Tunggu
sebentar!"
Greeeepp! Kerah bajuku ditarik lagi.
"KUBILANG
BAHAYA TAHU!"
Yukihira
tetap santai dan berujar.
"Jangan
panggil mereka. Itu bukan bapak dan anak, tapi TKP penculikan."
"KALAU
GITU MALAH HARUS DIPANGGIL!"
Saking jelasnya tingkah dia, aku pun
akhirnya sadar... Dia pasti pengen banget boneka ini.
"Nih."
Aku
menyodorkan Shirobuta-kun padanya.
"……Apa
maksudmu?"
"Kalau
kubawa pulang juga cuma bakal berdebu. Lebih baik dia ikut sama orang yang
bakal menyayanginya."
"……Bicara
apa sih. Kan
kubilang kalau dikasih padaku, bakal kurobek dan kusebar kapasnya."
"Ya
sudah, kalau gitu aku kasih ke penculik di sana saja ya?"
"……"
Yukihira
terdiam lama, lalu seolah memantapkan niat, dia bicara.
"……K-Kalau
Amakusa-kun sampai segitunya... sampai memohon padaku, kurasa aku nggak
keberatan untuk menerimanya—mugu."
Karena bakal
lama kalau ditunggu, aku langsung menjejalkan boneka itu ke wajah Yukihira.
"……"
Tubuh
Yukihira kaku. Waduh... apa menempelkan ke wajah itu terlalu berlebihan? Tapi
saat aku berpikir begitu,
"……"
Dia merebut
boneka itu dari tanganku, lalu mendekapnya erat-erat di dada.
"Nggak
usah didekap segitunya juga nggak bakal ada yang ambil kok."
"……Jangan
salah paham ya, aku cuma sedang menahan hasrat untuk membantingnya ke
tanah."
Alasannya sudah terlalu maksa... Aku
jadi sedikit ingin menggodanya.
"Ooh, gitu ya~"
Tepat saat aku menyeringai sambil
melongok wajahnya,
"ADUUUHHH!"
Kakiku diinjak sekuat tenaga.
◆◇◆
Ternyata tidak butuh waktu lama sampai
suasana hati Yukihira membaik. Yah, membaik dalam artian dia kembali ke
ekspresi datarnya yang biasa. Yukihira mengecek jam tangannya dan berkata
dengan nada dingin.
"Ngomong-ngomong Amakusa-kun,
sepertinya kaum rakyat jelata di dunia ini punya keberanian untuk makan siang
saat jam segini."
"Kamu
tuh sebenarnya siapa sih..."
Kalau
lapar tinggal bilang saja, susah banget. Ngomong-ngomong, boneka Shirobuta-kun
tadi dia jepit di ketiaknya. Karena didekap terlalu kencang, bonekanya sampai
penyok-penyok mengenaskan. Tapi biarlah, aku pun memang sudah lapar, jadi kami
memutuskan makan siang di kafe terbuka terdekat. Setelah memesan, Yukihira
berdiri.
"Aku
mau pergi memetik bunga sebentar."
Dia pergi ke
toilet sambil tetap membawa bonekanya... Padahal ditaruh saja juga nggak
apa-apa.
"Hah..."
Saat
sendirian, aku hanya melamun melihat pemandangan sekitar. Kalau sedang bersama
Yukihira, aku terlalu sibuk me-tsukkomi sampai nggak sempat istirahat.
"Eh?"
Ada suara
sesuatu jatuh, aku menoleh. Sepertinya ada buku yang jatuh dari tas Yukihira
yang diletakkan di atas kursi.
"Kayaknya...
aku pernah lihat desain sampul ini."
Aku
memungutnya dengan rasa penasaran. Judul buku itu adalah—
'Sepuluh
Cara Dibilang Imut oleh Cowok ~Dengan Ini Kamu Juga Bisa Jadi Ratu Populer~'
Ini mah...
sudah pasti sejenis dengan buku sesat itu. Ternyata ada versi buat ceweknya
juga ya.
"Tapi
kenapa Yukihira punya barang begin—"
"Ah...
a-ah..."
Terdengar
suara melengking panik dari belakang, aku menoleh. Di sana berdiri Yukihira
dengan wajah pucat pasi. Boneka Shirobuta-kun yang tadi dia sayangi jatuh ke
lantai. Ada apa? Apa buku ini barang yang sangat terlarang untuk dilihat?
"Ah,
nggak, ini tadi cuma jatuh dari tasmu, aku nggak sengaja liha—"
Tepat saat
aku hendak menjelaskan kesalahpahaman itu,
"UWAAA?!"
Tinju
Yukihira melesat melewati ruang di mana kepalaku tadi berada.
"OI,
APA-APAAN K—UWAAAA!"
Tanpa
diberi waktu buat bertanya, dia menyerang lagi dengan serangan balasan. Aku
refleks berdiri.
"Kamu... lihat, kan..."
Gawat... Aku sudah sering kena serangan
tidak masuk akal dari Yukihira, tapi aura yang dia pancarkan sekarang
benar-benar berada di level yang berbeda.
"T-Tenang dulu, Yukihira!"
"Setelah kepalamu kubenturkan ke
tanah beberapa kali, aku baru bisa tenang."
"KAMU ANEH BANGET,
YUKIHIRA-SAN!"
Aneh... Yukihira yang sekarang sudah
selevel gila dengan karakter antagonis di anime lama.
"……Mati saja sana!"
Dengan kalimat yang sangat berbahaya
itu, dia menerjang ke arahku.
"Kubilang tenang dulu!"
Aku
menangkis serangannya dan menangkap kedua pergelangan tangannya.
"Kh..."
Waktu
di kolam renang kemarin dia hampir tenggelam, jadi Yukihira sebenarnya tidak
punya kemampuan atletik yang bagus. Selama bukan serangan mendadak, dia bakal
sulit menang melawanku yang laki-laki.
Tapi,
"Ngh...
nghhh!"
Meski
pergelangan tangannya kutahan, dia terus meronta-ronta dengan brutal.
"Oi,
jangan ngamuk... UWAAA!"
Karena dia
meronta tanpa peduli keselamatan, keseimbanganku goyah, dan kami berdua jatuh
ke tanah.
"Aduh...
eh, lho!"
Belum sempat
merintih sakit, Yukihira sudah berada di posisi mounting di atasku.
"……Sepertinya
langit berpihak padaku."
G-Gimana nih?
Kalau aku meronta sekuat tenaga sih bisa saja lepas, tapi di sekitar sini
banyak kursi dan meja, takutnya Yukihira malah terluka.
"……Maafkan
aku."
"Hah?"
Di tengah
keraguanku, Yukihira mengangkat tinjunya tinggi-tinggi. G-Gawat... dia serius!
"Tunggu...
berhenti..."
Tepat saat
tinju itu hendak menghantam wajahku—
Tangan
Yukihira berhenti tepat sebelum kena.
"……"
"……"
Kami berdua hanya saling menatap dalam keheningan.
Setelah
beberapa waktu berlalu──
"Ugh..."
Tiba-tiba
Yukihira melepaskan pelukannya dan berdiri. Namun, belum sempat aku bereaksi,
tenaganya seolah terkuras habis dan dia langsung merosot duduk bersimpuh di
lantai dengan lemas.
"O-Oi..."
Yukihira
tetap dalam posisi duck sit, sementara tubuhnya gemetar hebat. (T/N:
Gaya duduk bersimpuh dengan kaki membentuk huruf W (paha merapat, betis di
samping luar paha)
"......
Sudah tidak sanggup lagi, tahu."
Aku
berniat mendekat, tapi refleks menghentikan langkah.
"Kenapa...
kenapa tiba-tiba bisa ketahuan begini? Aku belum siap mental, tahu... ugh."
Apa
jangan-jangan... dia menangis?
Tidak,
tidak, tidak, ini 'kan Yukihira. Lagipula tidak ada kejadian yang sampai harus
bikin menangis, 'kan?
Kalau
melihat waktunya, satu-satunya penyebab yang terpikirkan hanyalah karena aku
tidak sengaja melihat buku itu, tapi...
"Yu-Yukihira.
Pokoknya kita tenang dulu, ya?"
"......"
Dia pasti
mendengarku, tapi tidak ada reaksi sama sekali.
"A-Aku
benar-benar tidak melihat isinya, kok. Aku malah kagum, ternyata kamu sampai memikirkan klien dan mempelajari
perasaan perempuan meskipun ini cuma kencan pura-pura──"
"!?"
Begitu
kata-kata itu keluar dari mulutku, tubuh Yukihira tersentak.
"Yuki...
hira?"
"Cara
itu... bisa dipakai."
Setelah
menggumamkan sesuatu, Yukihira mengusap matanya, lalu berdiri tegak dan
berbalik menghadapku.
"Bisa
tidak jangan memanggilku sok akrab begitu, dasar SI BRENGSEK."
"KEJAM
BANGET!?"
Kenapa
aku tiba-tiba dimaki sampai level sensor begini?
"Seperti
yang kamu katakan, aku membaca buku itu hanya untuk memahami perasaan gadis
normal. Tapi isinya benar-benar berantakan, sama sekali tidak layak
dibaca."
Ternyata
benar... penulis itu, bahkan untuk buku target pembaca perempuan pun dia tetap
menulis hal-hal yang parah, ya.
"Yah,
tapi syukurlah kamu sudah kembali jadi Yukihira yang biasanya."
"Eh?"
"Soalnya, begini lebih mirip
dirimu."
"Ah..."
Mendengar kalimatku, Yukihira langsung
menundukkan kepalanya.
"Kenapa... kenapa setelah aku
berbuat sekejam itu, kamu masih bisa bersikap lembut begitu?"
"Yukihira?"
Karena merasa
suasana kembali aneh, aku mencoba melongok wajahnya. Ternyata, wajah Yukihira
sudah memerah padam entah karena apa.
"......
Aku pulang."
"Eh?"
"Sudah kubilang, aku sudah tidak
tahan lagi melihat WAJAHMU itu!"
"SUMPAH, KEJAM BANGET!?"
Yukihira langsung melangkah pergi
begitu saja.
"O-Oi,
Yukihira, tunggu sebentar!"
Karena
benar-benar tidak mengerti situasinya, aku mencengkeram bahunya untuk
menahannya.
"......
He?"
Saat
berbalik, Yukihira tiba-tiba mendekatkan wajahnya tepat ke telingaku.
"Tunggu...
kamu mau apa──"
"......
Terima kasih sudah mengobati lukaku."
"Eh?"
"Sudah ya... aku sudah
mengatakannya, lho."
Yukihira berbalik, lalu langsung lari
terbirit-birit menjauh.
"A-Ada
apa sih sebenarnya..."
Aku terpaku
sendirian di sana.
Situasinya
benar-benar tidak bisa kupahami, tapi kata-kata "terima kasih" yang
diucapkan Yukihira tadi menyisakan rasa hangat yang terus bergema berkali-kali
di telingaku.
4
Senin pagi
pun tiba.
"Hmm,
hmm, begitu ya."
Di dalam
ruangan serba pink itu, aku sedang melaporkan hasil kencan pura-pura
kepada Utage-senpai.
"Maaf...
laporanku ini pasti sama sekali tidak berguna sebagai referensi."
Pada
akhirnya, rute yang kutempuh bersama Ouka dan Yukihira—meskipun ada beberapa
bagian yang cukup intens—bukanlah sesuatu yang bisa kurekomendasikan
kepada orang lain.
"Tidak,
tidak. Aku yang memaksa meminta bantuanmu, jadi jangan dipikirkan."
Utage-senpai
menyeringai tipis.
"Jadi,
sejauh mana kemajuanmu dengan mereka berdua?"
"Sejauh
mana apanya?"
"Maksudku,
apa kalian ada bermesraan sedikit?"
"Bermesraan?
Haha, mereka berdua lho? Mana mungkin."
Sepanjang
waktu aku cuma dipermainkan oleh Ouka, dan Yukihira malah pulang di tengah
jalan.
"Mana
mungkin, katamu? Apa itu berarti bagimu Ouka-kun dan Furano-kun bukan objek
cinta?"
"Habisnya,
yang satu bocah ingusan dan yang satunya lagi ratu berlidah tajam. Bukan
masalah akunya bagaimana, tapi aku sama sekali tidak bisa membayangkan mereka
sedang jatuh cinta."
"Biarpun
aneh, mereka itu tetap gadis remaja, lho. Bukankah ada kemungkinan mereka akan
menyukai seseorang?"
"Mereka
berdua jatuh cinta... Haha, kalau ada pria yang disukai mereka, aku benar-benar
ingin bertemu dengannya."
"Begitu
ya... Jadi kau tetap tidak merasakan apa-apa setelah semua itu..."
Gaya bicara Utage-senpai seolah-olah
dia telah melihat semuanya... Jangan-jangan dia membuntutiku? Tidak, kalau
orang ini sih, dia mungkin saja melakukannya.
Baru saja aku hendak menginterogasinya,
Senpai sudah membuka mulut lebih dulu.
"Amakusa-kun,
kau memang punya sesuatu yang aneh. Sepertinya kau kena kutukan menjadi tidak
peka atau semacamnya──"
"KUTUKAN!?"
"Eh?
Kenapa tiba-tiba berteriak?"
"A-Ah,
tidak, bukan apa-apa."
Aku bereaksi
berlebihan karena mendengar kata kunci "kutukan", tapi sepertinya
kali ini dia murni hanya menggunakan kiasan.
"Begitukah?
Padahal reaksimu tadi besar sekali untuk ukuran 'bukan apa-apa'."
Tepat saat
Senpai memiringkan kepalanya dengan curiga...
"UTAGE!"
Tiba-tiba
pintu terbuka lebar, dan sebuah bayangan melompat masuk.
"Ibu
Guru?"
Sambil
terengah-engah dan berteriak gusar, sosok itu adalah wali kelas kami sendiri,
Douraku Utage.
Visualnya
yang sangat khas tidak mungkin salah kukenali, tapi ada alasan kenapa aku
sempat merasa ragu.
"Wah,
Douraku-sensei. Ada apa sampai seheboh ini?"
"Utage, BRENGSEK... Apa-apaan ini
maksudnya!?"
Sensei
berteriak sambil menunjuk pakaiannya sendiri. Ya, penampilannya saat ini
bukanlah setelan rok mini biru seperti biasanya... melainkan entah kenapa dia
memakai kimono dengan warna dasar merah muda dan putih.
"Aduh,
maaf. Tadi aku ke ruang guru karena ada urusan dengan Douraku-sensei, tapi
karena Sensei tidur dengan wajah yang terlihat sangat nyenyak, kupikir ini
kesempatan bagus, jadi aku melakukannya."
Kenapa Senpai
punya stok kimono ukuran anak kecil begini, sih... Sensei juga, jangan tidur
nyenyak di ruang guru dong... Lagipula, tidur macam apa sampai tidak
bangun-bangun saat dipakaikan kimono begini... Dan lagi, guru-guru lain, cegah
dia kek... Terlalu banyak hal yang ingin kukomentari.
"Sensei, hebat ya langsung tahu
kalau pelakunya adalah aku."
"Utage... Setiap hari kau selalu
merengek 'biarkan aku mendandanimu, biarkan aku mendandanimu', jadi jangan
pura-pura bodoh sekarang!"
"Yah, sudah sifat wanita untuk
ingin memakaikan berbagai macam baju pada anak yang lucu."
"BRENGSEK,
jangan perlakukan aku seperti anak kec—Hm?"
Sepertinya
saat itulah Utage-sensei baru menyadari keberadaanku.
"Amakusa,
kenapa kau ada di sini, BRENGSEK!"
"Gueehh!"
Kenapa aku
malah yang dipiting!?
"Uhuk...
I-Ini benar-benar salah sasaran..."
"Kau
yang salah karena berada di dekatku."
Sensei
mengucapkan kalimat yang mirip seperti karakter Rider ular dari suatu
tempat... Dalam hal kejahatan murni, mungkin mereka bisa bersaing.
Setelah
rasa sakit di leherku mereda, aku sekali lagi memperhatikan penampilan
Utage-sensei... Tubuh seukuran anak SD, dipadukan dengan kimono yang
mencolok... Ya, dari sisi mana pun dilihat, dia mirip sekali dengan anak kecil
yang mau merayakan Shichi-Go-San.
T/N:
[Shichi-Go-San] adalah festival tradisional Jepang untuk merayakan pertumbuhan
anak-anak berusia tujuh, lima, dan tiga tahun. Biasanya anak-anak akan memakai
kimono formal.
"...Amakusa. Wajahmu sepertinya
ingin mengatakan sesuatu, ya?"
Utage-sensei
menyadari pikiranku, dan wajahnya mulai berkedut karena kesal. Gawat... dia
benar-benar marah.
Di saat
seperti ini, lebih baik aku tidak mengatakan hal yang aneh-aneh──
PILIH:
① Jujur berkata,
"Anda kelihatan seperti anak kecil yang ikut perayaan Shichi-Go-San."
② Mengatakan hal
tentang Shichi-Go-San secara halus menggunakan ritme puisi 5-7-5.
③ Dunia bawah tanah.
...Aku harus memilih dengan sangat
hati-hati, kalau salah langkah nyawaku bisa terancam.
Bagaimana ini?
Pilihan pertama pasti akan membuatnya
marah besar, tapi pilihan kedua mungkin bisa menyelamatkanku kalau aku berhasil
menyampaikannya dengan baik.
Tapi, risiko
gagalnya lebih besar daripada pilihan pertama... Sedangkan memilih nomor tiga
itu mustahil.
"Ugh..."
Sial, sakit
kepala yang mendesakku untuk memilih sudah dimulai... Kalau begitu... Aku akan
bertaruh!
"Permen
Chitose... Diemut lucu sekali... Utage-chan
sayang."
"KAU MAU
MATI YA, KEPARAT!"
"GUEEEEEHHHHH!"
Sudah kuduga,
tetap saja gagal!
"Uhuk!
Uhuk!"
Melihatku
menderita sepertinya sedikit meredakan kekesalan Utage-sensei (kejam
sekali...), lalu dia berbalik menghadap Utage-senpai.
"......
Lagipula kalian ini sedang apa di tempat yang bikin mual seperti ini?"
"Tadi kami sedang membicarakan
Amakusa-kun yang katanya sedang bernafsu padaku."
"TIDAK BEGITU, KAN!"
"Bukan, tadi kami sedang
membicarakan Amakusa-kun yang bernafsu pada boneka kokeshi merah muda yang
diletakkan di sana."
"Itu sih bukan cuma level maniak
lagi!"
"Amakusa-kun, level kokeshi itu
belum bisa disebut maniak, lho. Mantan pacarku dulu ada yang hanya bisa
terangsang kalau melihat 'beruang kayu yang sedang menggigit ikan
salmon'."
"Cepat bawa orang itu ke rumah
sakit!"
"Yah, tapi semua selesai setelah
aku melakukan cosplay jadi 'beruang kayu yang sedang menggigit ikan
salmon' sih."
"Kau
juga pergilah ke rumah sakit!"
...Orang
ini, aku takut dia benar-benar melakukannya, bukan sekadar bercanda.
"Yah,
mari kita sudahi bercandanya... Sebenarnya yang kami bicarakan adalah
kebalikannya, Sensei. Amakusa-kun ini tidak hanya tidak bernafsu pada
perempuan, tapi dia juga sangat tidak peka sampai kelewatan. Makanya aku merasa
heran."
Sangat tidak
peka... Apa yang dia bicarakan? Yah, justru karena aku
tidak paham makanya aku disebut tidak peka.
"Sangat
tidak peka... Yah, sepertinya memang begitu."
Tiba-tiba, wajah Utage-sensei berubah
menjadi serius.
"Amakusa... Apa sekarang ada gadis
yang sedang kau sukai?"
"Eh? Gadis yang kusukai?"
Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Aku sama sekali tidak mengerti
maksudnya, tapi karena ekspresi Sensei sangat serius, aku menjawab dengan
jujur.
"Tidak,
tidak ada..."
Ini semua
gara-gara pilihan gila itu... Eh, tapi rasanya akhir-akhir ini aku sering
sekali memikirkan hal yang sama.
"Begitu
ya... kalau begitu baguslah. Tapi bersiaplah. Suatu saat nanti si anjing kecil
itu──Ugh..."
Ucapan Sensei
terhenti sambil memegangi kepalanya.
Aku tahu
betul gejala ini... Sepertinya dia mencoba mengatakan sesuatu tentang kutukan,
tapi tertahan oleh "perlindungan" rasa sakit kepala.
Anjing kecil? Berarti... apa dia sedang
membicarakan Chocolat?
"Cih...
Utage, kau menyembunyikan bajuku, kan? Cepat keluarkan."
"Iya,
ada di sini kok. Sudah aku hangatkan sebagai antisipasi kejadian seperti
ini."
Senpai
mengeluarkan pakaian sehari-hari Utage-sensei dari belahan dadanya. Kau ini
Hideyoshi apa...
"Kalau
kau melakukan hal yang sama lagi, aku akan mencekikmu sampai mati."
Sensei
memelototi Utage-senpai sambil mengucapkan kalimat ancaman yang mengerikan.
"Dan
Amakusa juga."
"KOK AKU
JUGA!?"
Sambil
mengabaikan protesku, Utage-sensei melenggang pergi.
"Padahal
aku ingin mengelus-elusnya, atau memakaikannya baju transparan dengan ukuran
yang sama, tapi kalau kulakukan itu sepertinya aku benar-benar akan dicekik
ya."
Yah,
kalau Sensei benar-benar marah, dia sepertinya tidak akan segan-segan meski
lawannya perempuan...
"Maksudku,
Amakusa-kun yang akan dicekik."
"KOK AKU
LAGI!?"
...Sialnya,
gambaran itu langsung terbayang jelas di kepalaku.
"Ah
benar juga, Amakusa-kun. Bicara soal ganti baju, aku jadi ingat. Selain laporan kencan tadi, ada satu hal lagi yang ingin
kusampaikan."
Sambil
berkata begitu, dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari balik dadanya... Sama seperti Chocolat, aku penasaran
bagaimana mekanisme penyimpanan di sana.
"Ini
adalah tiket acara Cosplay Mixer yang aku ceritakan sebelumnya."
Ah, tentang
konsultasi kemarin itu ya... Pada akhirnya, tidak ada ide kostum yang bagus.
"Aku
sangat suka melakukan dan melihat cosplay, jadi tentu saja aku akan
ikut... Kau juga akan ikut, kan, Amakusa-kun?"
"Aku
juga?"
"Tentu
saja. Tempat itu adalah ajang di mana ratusan pria dan wanita berkumpul secara
sukarela untuk mencari pasangan. Jadi, keinginanmu untuk melihat 'momen orang
jatuh cinta' kemungkinan besar bisa terwujud di sana."
Oh, jadi itu
maksudnya dia bilang punya ide bagus.
Ini tawaran
yang jauh lebih masuk akal daripada yang kukira. Benar juga, kalau pergi ke
tempat di mana banyak orang yang memang ingin mencari cinta berkumpul, peluang
untuk menyelesaikan misi akan meningkat drastis.
"Eh,
tapi bukankah sebelumnya dibilang khusus untuk usia dua puluh tahun ke
atas?"
"Ah, soal itu jangan khawatir.
Penyelenggaranya sudah aku buat bertekuk lutut... maksudku, sudah aku ajak
bicara. Kita diberi izin masuk lewat jalur khusus."
...Sepertinya aku mendengar kata yang
kurang menyenangkan tadi, tapi sebaiknya jangan dibahas.
"Aku
dapat enam tiket. Aku, Amakusa-kun, Furano-kun, Ouka-kun, Chocolat-kun... Nah,
satu lagi siapa ya yang sebaiknya diajak?"
Kenapa
keikutsertaan mereka bertiga sudah diputuskan secara sepihak... Aku sudah bisa
membayangkan kalau ini bakal berakhir kacau, jadi sejujurnya aku ingin dia
membatalkannya.
"Anu,
Senpai. Boleh aku tanya satu hal?"
"Apa
itu?"
Karena ada
kesempatan, aku menanyakan hal yang selama ini mengganjal di pikiran.
"Sebenarnya...
apa yang ingin Senpai lakukan?"
"Wah,
pertanyaan yang sangat mendasar ya."
Aku sendiri
merasa begitu, tapi tidak ada cara lain untuk menanyakannya.
Baru pertama
kali bertemu langsung datang ke rumahku untuk menggoda, lalu memaksaku terlibat
dengan Ouka dan Yukihira lewat konsultasi cinta dan acara cosplay... Aku
tidak merasakan adanya konsistensi.
Yah, mungkin
bisa dibilang ini karena Utage-senpai memang orangnya moody, tapi...
"Sejujurnya,
siapapun orangnya tidak masalah bagiku."
"Hah?"
"Ah, mungkin agak membingungkan
ya. Maksudku bukan 'siapapun boleh menjadi pasanganku selain Amakusa-kun', tapi
'siapapun boleh menjadi pasangan Amakusa-kun', jadi jangan salah paham."
...Bahkan
setelah diperjelas pun, aku sama sekali tidak mengerti maksudnya.
"Lagipula
itu memang permintaannya sejak awal. Yah, tapi seperti yang kau lihat, aku ini
tipe yang mudah jatuh hati. Awalnya aku berpikir untuk melakukannya sendiri,
tapi... kau, maksudku kalian, sepertinya lebih menarik jika dilihat dari luar
daripada kurebut."
Permintaan...
mungkin maksudnya dari Ketua Kokubyouin, tapi pernyataan Senpai terlalu abstrak
dan aku tidak bisa menangkap poin pentingnya.
"Ngomong-ngomong,
Amakusa-kun..."
"A-Ada
apa?"
Utage-senpai
tiba-tiba mendekat ke arahku.
"Ada
sesuatu yang ingin kubicarakan dengan serius..."
Sesuai
ucapannya, ekspresinya berubah menjadi sangat serius.
"A-Apa
itu?"
Wajahnya
mendekat sampai ke jarak yang sangat tipis.
Sambil
menelan ludah, aku menunggu kata-kata yang akan diucapkan Senpai.
"Bagaimana
kalau kita nges*ks dulu?"
"GAK
MAU LAH!"
...Memang orang ini benar-benar tidak bisa dimengerti.



Post a Comment