NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (NouCome) Volume 5 Chapter 4

Chapter 4

Kenikmatan Tiada Tara, Kehancuran Bumi, dan Pantat


1

"Luar biasa, orangnya banyak sekali!"

Hari terakhir bulan Juli, tanggal tiga puluh satu. Aku datang ke festival musim panas yang diadakan di kuil bersama Chocolat.

Belakangan ini, aku sering mendengar kabar kalau anak-anak zaman sekarang mulai tidak tertarik dengan acara seperti ini.

Namun, kerumunan hari ini benar-benar luar biasa, keluarga-keluarga terlihat berkumpul di sana-sini.

Berada di ruang yang dipenuhi orang-orang yang mengenakan yukata saja sudah membuatku merasa tenang. Mungkin ini adalah perasaan khas orang Jepang. Pemandangan yang indah.

"Kanade-san, Kanade-san! Banyak toko makanan di sana!"

……Yah, tapi di sini ada satu makhluk yang sama sekali tidak peduli pada estetika pemandangan.

Penampilan Chocolat adalah perpaduan rambut pirang dengan yukata. Kalau dipikir secara normal, itu terdengar tidak cocok, tapi entah kenapa dia terlihat sangat manis mengenakannya.

Aku bersandar pada pohon besar di dekat pintu masuk kuil dan memeriksa jam tangan.

Pukul 18.45. Masih ada lima jam lebih menuju waktu yang ditetapkan untuk misi. Hak penolakanku sisa tiga kali.

Kemarin dan hari ini pun, pilihan-pilihan busuk terus bermunculan.

Namun, dengan tekad bulat yang menguras air mata, aku menyelesaikannya demi mempertahankan sisa hak penolakan tersebut.


PILIH:

Berbaring telentang di tengah jalan raya, dan setiap kali ada orang yang menginjakmu, teriakkan: "KENIKMATAN TIADA TARA!"

Berbaring telentang di tengah jalan raya, dan setiap kali ada orang yang menginjakmu, teriakkan: "INILAH MOMEN PALING BAHAGIA DALAM HIDUPKU!"

Berbaring telentang di tengah jalan raya, dan setiap kali ada orang yang menginjakmu, teriakkan: "LINTASAN 42 KILOGRAM YANG SANGAT MENYENANGKAN!"


Waktu pilihan ini muncul, aku benar-benar bingung harus bagaimana.

Tapi akhirnya, sambil menangis aku mengambil pilihan …… Rasanya aku ingin sekali memuji diriku sendiri yang berhasil bertahan hidup.

Selain itu, aku juga sudah melakukan hal gila lain seperti: "Mengejar kucing pencuri yang menggondol ikan sambil merangkak dengan empat kaki", lalu "Berjoget tanpa henti di jalanan sambil berteriak 'POMPOKORIIIN!'", sampai "Ingin terbang bebas di angkasa, menaruh baling-baling bambu mainan di atas kepala, lalu melompat dari lantai dua rumah (dan dilihat jelas oleh tetangga)".

Semuanya sudah kulakukan…… Aduh, aku melihat jam bukan untuk mengingat kejadian yang bikin ingin mati itu.

"Sepertinya masih terlalu awal dari waktu perjanjian ya……"

Ya, di festival ini bukan cuma aku dan Chocolat saja. Ouka dan Furano juga berencana datang.

Dua hari lalu, setelah Chocolat pulang jalan-jalan, Ouka dan Furano meneleponku. Intinya mereka berdua bilang, "Ternyata aku ingin pergi ke festival bersama-sama."

Tentu saja aku tidak keberatan pergi bareng, jadi aku mengiyakan. Tapi aneh juga ya, mereka berdua menelepon di waktu yang hampir bersamaan.

"Ah, Kanade-tchi, yaho~!"

"……Sepertinya rakyat jelata lainnya sudah berkumpul ya."

Selagi aku melamun, Ouka dan Furano muncul di waktu yang bersamaan pula.

Ouka mengenakan yukata merah menyala yang sesuai dengan imejnya. Sementara Furano memakai yukata hitam yang kontras dengan warna rambutnya.

"Oh, kalian berdua cocok banget pakai itu."

"Benarkah? Hehe, makasih!"

"……Memujiku tidak akan menghasilkan uang, tahu."

Meski mereka merespons kata-kataku, entah kenapa pandangan mereka berdua tertuju tajam ke arah Chocolat.

"Ada apa, kalian berdua?"

Chocolat memiringkan kepalanya karena merasa diperhatikan secara berlebihan. Furano membuka suara dengan ekspresi yang sedikit waspada.

"……Tidak, aku cuma merasa dia terlihat bodoh seperti biasanya."

……Kasar banget ya. Eh, tapi bukannya jarang-jarang Furano menyemburkan racun ke arah Chocolat?

"Benar sekali, aku ini bodoh!"

Orang yang bersangkutan malah tidak keberatan sama sekali. Furano kemudian berbisik pelan pada Ouka.

"Yuuouji-san…… bagaimana menurutmu?"

"Iya, dia nggak kelihatan lagi akting atau bohong sama sekali…… Kejadian tempo hari itu sebenarnya apa ya?"

Ouka mendekat dan menatap wajah Chocolat dengan penuh rasa penasaran. Ada apa sih? Apa terjadi sesuatu di antara mereka bertiga tanpa sepengetahuanku?

"Rasanya agak antiklimaks…… tapi lebih baik kita jangan lengah dan lanjut sesuai rencana saja."

"Iya, kita nggak tahu kapan Chocolat-tchi bakal berubah lagi, jadi lebih baik tetap waspada."

Furano dan Ouka saling mengonfirmasi sesuatu.

"Amakusa-kun, aku punya usul."

"Apa?"

"Bagaimana kalau kita tidak berkeliling berempat, tapi dibagi jadi dua kelompok?"

"Eh? Kenapa harus repot-repot begitu?"

"Kamu tidak mengerti juga?"

"Hah? ……Iya, aku nggak paham."

"Soalnya aku tidak mau berduaan bersamamu."

"TERUS KENAPA KAMU MENGAJAKKU?!"

"Yah, itu sepuluh persen cuma bercanda, kok."

"Berarti sisanya kejujuran dong!"

Apa Furano sebegitu tidak sukanya pergi ke festival denganku…… Serius, kenapa aku diajak kalau begitu?

"Ahaha, Kanade-tchi, rencana ini aku dan Furanocchi yang memikirkannya lho."

"Hah? Ouka juga?"

"He-eh. Yah…… pemicunya sih gara-gara Chocolat-tchi."

"Chocolat? Maksudnya?"

"……Amakusa-kun. Dua hari lalu, apa tidak ada yang aneh dengan Chocolat-san?"

"Hal aneh? Oh, dia sempat bilang kepalanya agak pening sih, tapi selain itu tidak ada apa-apa lagi."

"Jadi, waktu sampai di rumah dia sudah kembali normal ya…… Berarti itu cuma sementara?"

"Yah, tetap harus dipantau."

Ouka dan Furano kembali menatap Chocolat bersamaan.

"?"

Chocolat hanya memiringkan kepala sambil terus tersenyum…… Aku benar-benar tidak paham apa yang sedang terjadi.

"Ngomong-ngomong, pasangannya akan diganti setiap tiga puluh menit sekali."

"Eh? Kalau begitu kan mendingan dari awal kita berempat saja──"

"Diamlah sedikit, dasar berandalan pengisap dot."

"Kata-katamu ada yang sedikit keliru, tapi terasa sangat kasar!"


2

Singkat cerita, setelah hasil undian "Hompimpa" yang sangat ketat, diputuskan bahwa pasangan pertamaku adalah Ouka.

Aku tidak tahu apa niat tersembunyi Furano dan Ouka, tapi karena sepertinya aku tidak akan jadi korban kejahatan apa pun…… ya sudahlah, aku terima saja.

"Jadi, kita mau ke mana dulu, Ouka?"

"Hmm…… Ah, aku mau main itu!"

Pandangan Ouka tertuju pada stan tembak sasaran (shateki).

"Oi, selamat datang!"

Kami disambut oleh seorang paman pemilik stan yang gaya bicara dan visualnya mirip ayahnya Butagorilla. (T/N:karakter anime Kiteretsu Daihyousha yang berbadan bongsor.)

"Paman, di sini tertulis paket 300 Yen bisa nembak berkali-kali sampai gagal. Boleh tidak kalau aku jatuhkan semua hadiahnya?"

"Haha, jangan bicara sembarangan, Neng. Hadiah-hadiah kesayanganku ini tidak akan jatuh semudah itu oleh bocah ingusan sepertimu!"

Mendengar itu, Ouka menyeringai lebar.

"Kalau begitu, kalau aku bisa menjatuhkan semuanya, Paman mau apa?"

"Hah! Kalau kamu bisa, aku bakal telanjang dan jalan handstand keliling festival ini!"

"Beneran ya?"

"Laki-laki tidak akan menarik kata-katanya!"

O-Om…… Anda mungkin tidak tahu, tapi itu yang biasa disebut dengan "Death Flag"──

Dor! "Lho……"

Dor! Dor! "Ti-Tidak mungkin……"

"Rasanya lega banget!"

"Su-Sudah, hentikaaaannn!"

……Sudah kubilang, kan. Tentu saja di dunia nyata "Death Flag" itu tidak benar-benar ada, tapi masalah utamanya adalah spesifiksi Ouka yang di atas rata-rata manusia normal.

Dengan bidikan presisi, dia menjatuhkan semua hadiah tanpa pandang bulu; mau berat atau ringan, besar atau kecil, semuanya tumbang.

Seiring dengan jatuhnya hadiah-hadiah itu, wajah si Paman makin pucat pasi.

"I-Itu konsol game paling mahal…… Ja-Jangaaannnn!"

"Ah, aku suka ekspresi wajah Paman yang itu!"

Ouka-san…… sisi Sadis-mu keluar lagi tuh.

"Target berikutnya…… itu dia!"

Ouka dengan riang menjatuhkan konsol game tersebut dalam satu tembakan.

"Padahal di dalamnya sudah aku kasih pemberat…… Bagaimana bisa!"

Tanpa sadar si Paman malah membocorkan kecurangannya sendiri, tapi karena dia sudah menerima ganjaran yang setimpal, aku biarkan saja.

"Ahahaha!"

"Hiiih! Ampun, ampuni akuuuu!"

Ouka menatap si Paman dengan mata yang berbinar-binar penuh kegembiraan.

"Paman, ayo tunjukkan ekspresi itu lebih banyak lagi!"

……Gawat, anak ini benar-benar harus segera dihentikan.

Hanya dalam beberapa menit.

"Uuu…… uuu……"

Si Paman tersungkur dengan empat kaki di tanah, meratapi hadiah-hadiahnya yang habis tak tersisa. Ouka menoel bahunya pelan.

"Paman, jangan terlalu sedih begitu. Aku tidak butuh hadiahnya, kok."

"Eh? ……Ka-Kamu mau mengembalikannya?"

"Iya. Aku sudah cukup bersenang-senang, dan kalau aku ambil semua, nanti orang lain tidak bisa main. Jadi, buat Paman saja."

"Terima kasih…… terima kasih banyak."

Si Paman sampai meneteskan air mata. Yah, ini bukan sekadar drama, bagi dia ini masalah hidup dan mati……

"Ah, tapi sebagai gantinya, aku mau Paman melakukan satu hal saja."

"A-Apa itu?"

Kepada si Paman yang sudah merasa sangat lega, Ouka berkata sambil tersenyum manis.

"Tolong handstand sambil telanjang, ya."

"Hah?"

"Tadi janji, kan? Ayo, lakukan."

"I-Itu kan cuma asalan saja tadi, maksudnya……"

Si Paman bergumam tidak jelas, tapi Ouka memberikan seringai tipis.

"Lho, bukannya laki-laki tidak akan menarik kata-katanya?"

"Guh…… uuuuu……"

Wajah si Paman memerah padam sambil mengerang.

"Nggak laki banget, deh~"

Mendengar itu, si Paman akhirnya pasrah.

"O-Oke, bakal aku lakukaaannn!"

Dengan mata berkaca-kaca, si Paman memegang sabuk perutnya (haramaki), siap-siap beraksi.

"Ahaha, aku bercanda kok!"

Ouka menghentikannya sambil tertawa.

"Ja-Jangan hentikan aku! Kalau sudah begini, aku tidak bisa berhenti!"

"Tapi pelanggan berikutnya sudah menunggu, lho?"

"Ta-Tapi janji seorang pria……"

"Aku kan perempuan, jadi aku tidak keberatan sama sekali."

"Nu…… nuuu."

"Oke?"

……Dilihat sekilas, Ouka tampak seperti orang baik dalam percakapan ini, padahal dialah yang memulai semua kekacauan ini dari awal.

"A-Aku kalah telak…… Mulai sekarang aku akan bertobat dan mengurangi berat pemberatnya jadi setengah!"

Bukannya harusnya dihilangkan semua ya?

◆◇◆

"Wah, tadi seru banget ya!"

Ouka berjalan dengan senyum lebar di wajahnya.

"Tapi kamu…… menurutku kamu harus lebih menahan diri soal kecenderungan Sadis-mu itu."

"Eh? ……Kanade-tchi tidak suka?"

"Bukannya tidak suka, tapi…… hal kayak tadi itu kan nggak normal."

Ouka sempat tertegun sejenak, lalu,

"Ahahahaha!"

"A-Apa yang lucu, tiba-tiba tertawa begitu……"

"Maaf, maaf. Soalnya aku tidak menyangka kata 'normal' bakal keluar dari mulut Kanade-tchi."

"Ugh……"

Mengingat kelakuanku sehari-hari, aku tidak bisa membantah.

"Tapi ya, Kanade-tchi itu memang aneh."

"Hah?"

"Padahal kamu sendiri selalu melakukan hal-hal konyol, tapi kalau aku sudah mulai kelewatan, kamu pasti menghentikanku dan menjagaku."

"Yah, itu kan──"

Seandainya tidak ada PILIHAN sialan itu, aku ini orang yang sangat waras dan punya tata krama, tahu.

"Mungkin, aku suka bagian darimu yang itu……"

"Eh?"

"N-Nggak ada apa-apa kok!"

Wajah Ouka sedikit merona merah, lalu dia berlari mendahuluiku.

"……Sebenarnya ada apa dengannya?"

◆◇◆

"Fiuh…… kemampuan fisikmu benar-benar nggak masuk akal ya."

Saat aku akhirnya berhasil menyusulnya, Ouka sudah memegang sebuah gelas minuman di tangannya.

"Apa itu?"

"Ah, tadi ada yang membagikannya gratis di sana. Teksturnya agak kental, tapi kelihatannya enak!"

Ouka memperlihatkan isinya sekilas padaku, lalu langsung meminumnya.

"Eh? O-Ouka, itu kan……"

Saat aku baru menyadari minuman apa itu, semuanya sudah terlambat.

"……Lho?"

Yang diminum Ouka adalah Amazake (sake manis).

"Nyaha…… nyahahaha!"

……Sudah kuduga bakal begini. Aku sudah tahu betul betapa lemahnya Ouka terhadap alkohol dari kejadian pesta kostum tempo hari.

Waktu itu, dia mabuk berat hanya karena menghirup uap brendi untuk pengharum masakan. Meskipun Amazake kadar alkoholnya hampir nol, kali ini dia langsung meminumnya sebelum sempat mencium baunya──

"Uralalaaa~"

……Sejak kapan dia jadi suku Indian begini? Karena dia kelihatan mau tumbang, aku meminjamkan bahuku untuk menyangganya.

"Ka-Kamu tidak apa-apa?"

"Heheee, nggak aph-apha khok."

Dia langsung bersandar padaku dengan berat. Lalu tiba-tiba,

"Suka!"

"Suka apa……"

"Aku bilang aku sukaaa!"

"Iya, makanya suka apa……"

Entah kenapa Ouka menatapku dengan mata setengah tertutup.

"Kenapa…… kenapa Khanade-tchi bhuat kayak bhegitu."

Payah, bicaranya sudah tidak jelas sama sekali.

"Khenapa…… khenapa khamu peka bhenget fih!"

"Aduh! Aduh duh duh!"

Telingaku dijewer kencang sekali.

"Ahaha! Dia mherasa fakit, mherasa fakit!"

Ouka bertepuk tangan kegirangan.

"Hei, kamu ini──"

"Hei…… ayo bhikin yang enak-enak fahamku."

Seketika, wajah Ouka mendekat hingga jarak yang sangat tipis.

"Ugh……"

Dan di saat inilah, dia mengeluarkan ekspresi yang sangat seksi itu lagi.

"Hei…… ayo lhakukhannn."

"T-Tenanglah, Ouka…… oooohhh?!"

Dia memelukku dengan kekuatan yang luar biasa.

"Tu-Tunggu──"

Saat aku berniat melepaskan diri dengan paksa, tiba-tiba tenaganya menghilang.

"Zzz……"

Dia tertidur pulas…… Ini sih bukan cuma cepat tidur, ini mah pingsan.

"Oi, Ouka, bangun."

"Nyufufu."

Aku menepuk pipinya pelan, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Mau tidak mau, aku menggendongnya…… dengan gaya bridal carry. (T/N: gaya menggendong seperti gendongan putri)

Yah, dari seksi, jadi sadis, jadi mabuk, sekarang tidur. Sibuk sekali anak ini……

"Untuk sementara…… istirahat di sini saja dulu."

Aku membawanya ke tempat yang agak tersembunyi dan menyandarkannya di sebatang pohon.

"Oi, cepat bangun──"

Saat aku hendak menepuk pipinya lagi, tanganku terhenti.

"I-Ini……"

Yukata Ouka tersingkap hingga bahunya terlihat sepenuhnya.

"Gulp……"

Tanpa sadar aku menelan ludah. Wajah tidurnya yang tadinya terlihat seperti anak-anak, entah kenapa sekarang terlihat sangat menggoda.

T-Tidak, aku tidak berniat melakukan hal buruk. Aku cuma mau merapikan bajunya yang berantakan.

Aku meyakinkan diriku sendiri dan menjulurkan tangan sambil berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat ke area sensitif.

Namun, tepat saat tanganku hampir menyentuh kulitnya,

"Nggak mauuu!"

"Uwaah?!"

Aku tersentak kaget dan menghentikan gerakanku. A-Apa?

"Aku fangat fuka…… tapi nggak tahu haruf ghimana."

Ouka tiba-tiba mulai bergumam dalam tidurnya.

"Khelihatannya feru banget ngobrol famha Furanocchi, terus Chocholatchi juga lucu kayak hanjing…… aku haruf ghimana ya……"

Aku bisa menangkap nama Furano dan Chocolat, tapi aku tidak paham apa intinya.

"Moooh!"

"Uwaah?!"

Ouka berteriak keras lagi.

"I-Ini gawat……"

Gara-gara gerakan mendadaknya itu, yukata-nya makin merosot ke bawah sampai ke level yang berbahaya. Singkatnya, payudaranya hampir saja terlihat sepenuhnya.

"Ja-Jangan lihat……"

Sambil memalingkan muka, aku pelan-pelan menjulurkan tangan untuk merapikan bajunya. Tapi, tepat di saat tanganku hampir mencapainya──

"Nnyah?"

I-Ini yang terburuk……

"Eh? ……Eh?"

Ouka mulai menyadari situasi yang menimpanya.

Ga-Gawat…… dari pengalamanku sebelumnya, Ouka biasanya akan merasa sangat malu dalam situasi seperti ini. Kalau tidak segera diatasi, dia pasti akan berteriak kencang dan lari kabur.

"I-Ini salah paham, Ouka! Ini benar-benar salah paham!"

Ouka menatap wajahku dengan tatapan kosong. Dan tepat setelah itu──

"Boleh sentuh, kok."

"Hah?"

"Kalau Khanade-tchi…… bholeh fenthuh."

Syukurlah…… dia masih mabuk…… Benar-benar syukurlah.

"Akuh ya, hari ini mau fhaingan fhamha Chocholatchi, aku mau bikin Khanade-tchi fenang, biar Khanade-tchi fuka fhamha aku, aku fudah mhikirkhan banyhak hal……"

Ouka terus meracau tidak jelas, tapi karena kalau dia sampai sadar bakal makin gawat, aku biarkan saja dia bicara sesukanya.

"Tapi akuh mikir ituh falah…… cuma gara-gara mau direbut orang teruf aku jadi bherjuang, itu kheyaknya falah…… Akuh ya akuh, aku fuka Khanade-tchi, jadi bukannya mhau fenang-fenangan famha orang lain, tapi aku mhau hadapi Khanade-tchi dengan diriku yang biashanya……"

Lalu, dia tersenyum manis sekali.

"Taph aku beneran fuka Khanade-tchi…… kalau Khanade-tchi mhau fenthuh juga bholeh…… zzz."

Dan di tengah-tengah kalimatnya, dia kembali tertidur…… Cepat sekali, buset.

"Ehehe…… Suka~"

Pada akhirnya, aku tetap tidak tahu sebenarnya apa yang disukai Ouka.


3

"Fiuh……"

Setelah menitipkan Ouka ke pos kesehatan sementara (tadi ada petugas wanita di sana, dan karena Ouka cuma tidur nyenyak dengan wajah bahagia, kurasa tidak akan ada masalah), aku pun menuju tempat janjian dengan Furano.

"Aduh…… gajiku rendah banget, ya."

……Di sana, Furano sedang menempelkan tangan ke mulutnya, berpose persis seperti meme yang sering kulihat di internet.

"Kamu…… lagi ngapain?"

Furano berbalik menghadapku. Dengan pandangan yang masih tertuju ke bawah dan tetap mempertahankan pose yang sama, dia berkata:

"Aduh…… punyamu Amakusa-kun kecil banget, ya."

"Nggak usah ikut campur!"

"Aduh…… punyamu Amakusa-kun gede banget, ya (wkwk)."

"Kamu lagi ngeledek aku, ya?!"

"Aduh…… saking miripnya kalian berdua kayak saudara kembar."

"Emangnya itu hal buruk?! Nanti kamu dimarahi orangnya lho!"

"Nah, sudah cukup main-mainnya. Ayo cepat kita keliling kedai malamnya."

……Bahkan dalam situasi spesial seperti festival musim panas sekalipun, Furano tetap beroperasi normal seperti biasa.

Saat kami berjalan berdampingan, tiba-tiba Furano berhenti mendadak.

"Amakusa-kun…… bisa dengarkan aku sebentar?"

"Ada apa?"

"Sebenarnya hari ini, aku berencana sengaja mengiris sedikit tali sandalku. Terus aku mau bilang, 'Aduh~ talinya putus, gendong dong~', begitu."

"Hah?"

Aku sampai meragukan pendengaranku sendiri. Barusan anak ini…… ngomong apa?

"Tapi, melihat tubuhmu yang cuma tulang dan kulit begini, niatku langsung hilang seketika. Kenapa kamu masih hidup, sih? Mending cepat-cepat jadi kaldu saja sana."

"Memangnya aku salah apa sampai dibilang begitu?!"

Ya, aku memang kurus sih, tapi kurasa nggak kerempeng-kerempeng banget juga…… Jadi ujung-ujungnya tadi itu cuma candaan lagi ya. Tapi bicaranya kasar sekali, buset.

"──Tapi aku membatalkannya karena merasa itu tindakan yang tidak jujur…… Dan aku berubah pikiran. Tidak peduli orang lain bergerak bagaimana, aku akan bertarung dengan caraku sendiri."

"……Furano?"

Aku sama sekali tidak paham maksud dari kalimatnya, tapi karena Furano memasang ekspresi yang sangat serius tidak seperti biasanya, aku pun menatap wajahnya dalam-dalam.

"Amakusa-kun……"

"A-Apa?"

Masih dengan wajah serius, Furano melangkah mundur satu langkah.

"……Jangan menatapku terus begitu, nanti aku bisa hamil. Dasar menjijikkan."

"NGGAK BAKAL HAMIL, TAHU!"

◆◇◆

Setelah berjalan beberapa menit sambil menahan rasa jengkel, tiba-tiba Furano berhenti lagi.

"Amakusa-kun, ada sesuatu yang ingin kumakan."

"Mau makan apa?"

"…………"

Setelah terdiam sejenak, Furano menunjuk sebuah kedai dengan ragu-ragu.

"……Permen kapas."

"Permen kapas? Kamu suka?"

"Itu…… soalnya bentuknya fluffy dan lucu."

"Eh?"

Tepat setelah mengatakannya, wajahnya langsung berubah panik.

"……Maksudku, rasanya pasti akan sangat indah kalau aku menonjok hidungmu, lalu menggunakan darahmu untuk mewarnai permen kapas yang putih bersih itu menjadi merah terang."

"Itu bukan indah, tapi horor!"

"Cuma bercanda kok…… mana mungkin aku mau memakan makanan menjijikkan seperti permen kapas, dikasih gratis pun ogah."

……Apa dia punya dendam pribadi sama permen kapas?

"Sepertinya lebih baik apel karamel saja."

"Yah, itu memang jajanan standar sih."

"Ngomong-ngomong, ini apel karamel biasa, ya, bukan 'Apel Kata-Kata Cabul', jadi jangan sampai salah dengar."

"SIAPA JUGA YANG BAKAL SALAH DENGAR! Lagian apa-apaan itu Apel Kata-Kata Cabul?!"

"Apel yang di permukaannya diukir tulisan 'Aset'."

"Siapa juga yang mau beli barang begini!"

"Kalau begitu, bagaimana kalau Cumi Panggang bau amis?"

"Memangnya itu masih berbentuk makanan?!"

"Kalau begitu, Takoyaki bau amis saja."

"Makin membingungkan!"

"Cairan bau amis bagaimana?"

"Kamu benar-benar parah, ya!"

"Memangnya apa yang parah dari tinta cumi?"

"Main kata-katamu itu lho yang parah!"

"Kentang Goreng Anj**g."

"Bisa nggak sih berhenti ngomong kasar!"

"Baby (making) Castella."

"Maksa banget plesetannya!"

"Bukkake Udon."

"Kamu cuma pengin ngomong itu doang, kan! Itu bukan jajanan festival!"

"Bukkake Udon."

"KENAPA DIULANG DUA KALI?!"

"Bukkake Udon."

"BERISIK BANGET, SIH!"

"Berisik? Kamu sepertinya tidak mengerti betapa besarnya keinginanku untuk mengucapkan 'Bukkake Udon'."

"Gimana caranya biar aku bisa mengerti hal kayak gitu?!"

"Bukka—"

"SUDAH CUKUP!"

"Sopan sedikit dong, padahal aku tadi mau membahas tentang 'Keuntungan dan Kerugian dari kenaikan harga barang (Bukka)'."

"MANA ADA YANG PERCAYA!"

Anak ini…… pintar sekali memikirkan hal-hal konyol dalam sekejap.

"Aku berencana merangkum semua ini ke dalam buku berjudul 'Daftar Jajanan Festival yang Ternyata Mesum'. Bagaimana menurutmu?"

"Terserah kamu saja!"

Parah…… benar-benar parah.

"Hah?"

Saat aku menoleh ke arah Furano dengan perasaan jengah, entah kenapa dia malah terlihat murung dengan aura hitam pekat di punggungnya.

"Gagal…… Biarpun aku bilang mau jadi diriku sendiri, tapi kalau begini sih kelewatan……"

Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, tapi jarang-jarang Furano terlihat seperti ini.

"Kamu kenapa?"

"……Aku lagi benci sama diri sendiri, jadi tolong jangan ajak aku bicara."

"Benci diri sendiri? Kenapa?"

"Apa kamu tidak dengar kalau kubilang jangan ajak bicara…… Lagi pula, kamu pasti malas kan bicara dengan perempuan yang isinya cuma omongan mesum begini?"

"Eh? Nggak juga, tuh."

"……Eh?"

"Bukannya tempo hari aku sudah bilang? Memang menurutku kata-katamu parah setiap saat, tapi aku tidak pernah sekalipun berpikir kalau aku benci bicara denganmu."

"Be…… benarkah?"

"Iya. Lagian, kalau aku melakukan hal yang aneh-aneh, kamu selalu menimpali dengan semangat, kan? Jujur saja, kalau tidak ada reaksi dari orang-orang di sekitar itu rasanya sakit sekali…… Jadi aku merasa sangat terbantu."

"…………"

"Makanya, aku ingin kita tetap seperti biasa saja…… Yah, kalau diomongin begini sih memang agak malu."

"……Curang."

"Eh? Apa yang curang?"

"Kalau kamu bilang begitu…… aku kan jadi…… jadi ingin terus berada dalam suasana seperti ini selamanya……"

Setelah bergumam pelan, Furano kembali ke wajah datarnya yang biasa.

"……Aku merasa kalau menatapmu terus aku bakal melahirkan sesuatu yang bukan manusia, jadi bisa tolong berhenti menatapku? Menjijikkan."

"Sebenarnya aku ini dianggap apa, sih!"

……Sepertinya aku harusnya menahan kata-kataku tadi.

"……Jadi, akhirnya kita mau beli apa?"

Obrolan kita sudah melenceng jauh dari topik awal.

"Benar juga……"

Furano kembali menunjuk sebuah kedai dengan ragu-ragu.

"……Permen kapas."

……Ujung-ujungnya balik ke situ lagi. Terus buat apa semua rentetan omongan mesum tadi itu?!

"Baiklah, mari kita nikmati."

Furano memasukkan permen kapas yang baru dibelinya ke dalam mulut.

"Enak banget!"

Cetek.

"Eh?"

A-Apa itu tadi? Barusan aku seperti melihat ekspresi yang tidak mirip Furano sama sekali…… dan aku juga mendengar suara aneh.

"……Ada apa?"

"T-Tidak……"

Dalam sekejap mata, dia sudah kembali ke wajah datarnya. ……Apa cuma perasaanku saja?

"……Ah."

"Hmm? Ada apa?"

Furano mengeluarkan suara. Dia melihat ke arah bawah, dan saat aku mengikuti arah pandangannya……

"Tali sandalnya…… putus ya."

"……"

"……"

Setelah kami berdua terdiam sejenak,

"……Aku tidak mengirisnya sengaja lho ya," gumam Furano pelan.

Yah, aku tidak akan meragukannya sih…… tapi suara aneh tadi itu ternyata suara sandal ini, ya.

"Kenapa bengong saja, Amakusa-kun. Ayo jalan."

Furano memanggilku dan mencoba berjalan dengan pincang.

"Hei, tunggu sebentar."

"Apa?"

"Kamu mau jalan begitu saja?"

"Habis mau bagaimana lagi? Seingatku kedai yang menjual alas kaki ada di sebelah sana."

Yah, memang benar sih. Tapi biar bagaimanapun, aku tidak bisa membiarkan seorang gadis berjalan dengan kondisi seperti itu…… Mau bagaimana lagi.

"Kalau begitu, mumpung situasinya pas, mau aku gendong?"

"?!"

Mata Furano membelalak lebar. J-Jangan benci begitu dong…… Aku juga malu tahu melakukan ini.

"Yah, kamu pasti malas ya digendong olehku…… Ah, benar juga, kamu istirahat saja dulu di sini, biar aku lari sebentar buat beli alas kaki──"

"Karena terpaksa, aku mau digendong olehmu."

"Eh? Tapi bukannya lebih baik aku belikan saja──"

"Cepat gendong aku, dasar bocah sandal!"

"Sejak kapan panggilanku jadi begitu!"

Yah, aku sudah terbiasa dengan perasaan Furano yang suka berubah-ubah dengan cepat…… Aku pun berjongkok dan menunggu Furano naik ke punggungku.

"……Gendong yang benar supaya aku tidak hamil ya."

Justru aku yang mau tanya, gaya gendong macam apa yang bikin hamil……

"Oke……"

Akhirnya Furano naik ke punggungku, dan aku pun berdiri.

"!"

Tubuh Furano tersentak gemetar…… Kalau sebenci itu, mendingan tadi tunggu saja aku belikan sandal.

"Wah, Furano, ternyata kamu ringan banget ya."

"Eh?"

"Maksudku, aku tahu kamu kurus, tapi ternyata jauh lebih ringan dari bayanganku."

"Be-Benarkah?"

Furano sepertinya tidak merasa keberatan dibilang begitu. Aku tidak bermaksud memuji sih, ini murni pengamatanku saja. Tapi sepertinya perempuan memang senang kalau dibilang ringan ya.

"Kalau begini sih aku bisa lari kencang."

"……Eh?"

"Tunggu ya, aku akan sampai di kedai sandal dalam sekejap—GYAAAAA?!"

Tiba-tiba telingaku dijewer dengan sangat kuat.

"A-Apa yang kamu lakukan?!"

"……Gara-gara kamu bilang aku ringan karena 'Aset-ku kosong', makanya aku mencoba mencopot telingamu sebagai pembalasan."

"SIAPA JUGA YANG BILANG BEGITU!"

"Kalau tidak mau jadi Hoichi Si Telinga Tak Berdaun, jalanlah pelan-pelan."

"Eh? Kenapa harus jalan pelan-pelan──"

"Kalau protes lagi, akan kupotong telingamu."

"Kenapa istilahnya makin ngeri saja!"

"Sudahlah…… tolong…… jalan pelan-pelan saja," ucapnya dengan suara yang tertahan sambil mempererat pelukannya di leherku.

"Hah…… ya sudah."

Tanpa paham alasannya, aku menurunkan kecepatanku semaksimal mungkin.

"Kalau bisa…… selamanya begini saja……"

"Eh, Furano, badanmu panas banget. Kamu nggak apa-apa?"

"I-Itu pasti cuma perasaanmu saja."

Dia bilang begitu, tapi suhu tubuhnya ini tidak wajar. Bahaya kalau dia tiba-tiba demam.

"Nggak, lebih baik aku turunkan dulu sejenak──"

"Kalau kamu berani melakukannya, telingamu akan kugigit sampai putus."

"Kamu monster apa gimana, sih?!"

……Ujung-ujungnya, aku terpaksa terus menggendong Furano sambil bertarung melawan rasa takut kehilangan telingaku.




4

Dan sesi terakhir adalah tiga puluh menit bersama Chocolat.

"Kanade-saaaannn!"

Begitu menemukanku, Chocolat langsung menghampiri dengan rambut kuncir kuda (shippo-ke) yang bergoyang-poyong kegirangan.

"Aku senang sekali bisa ke festival bareng Kanade-san!"

……Melihat dia sebahagia ini, aku jadi ingin membuatnya lebih bersenang-senang lagi.

"Chocolat, kamu boleh beli satu barang apa pun yang kamu mau."

"Benarkah?! Kalau begitu…… aku mau makan SEMUANYA!"

"Kamu budek, ya?!"

Ugh…… baru dimanja sedikit saja sudah begini.

"Eeeummm…… eeeummm……"

"Hei…… liurmu tuh, liurmu."

Aku mengelap mulut Chocolat yang sudah banjir air liur menggunakan lengan yukata-ku…… Aku ini sudah benar-benar seperti wali murid saja.

"Aku mau Choco Banana!"

Yah, mengingat dia sendiri yang memberi nama dirinya 'Chocolat', memilih cokelat adalah pilihan yang sudah sewajarnya.

Namun, meskipun aku sudah memberi batasan hanya satu barang saja, ujung-ujungnya Chocolat tetap saja dimanja oleh keadaan. Kenapa? Karena──

"Neng, lahap banget makannya! Nih, ambil ini juga buatmu!"

"Terima kasih banyak!"

"Aduh, lucunya. Mau makan ini?"

"Terima kasih banyak!"

"Ini cuma barang sepele, tapi bawalah."

"Terima kasih banyak!"

Seperti biasa, kemampuan Chocolat dalam mendapatkan sedekah makanan benar-benar di level dewa.

"Enyak banget fih!"

Dia mengunyah dengan pipi yang menggembung seperti tupai. Tapi ya, dia memang terlihat sangat menikmati makanannya…… Itulah alasan kenapa semua orang jadi ingin memberinya sesuatu.

Tiba-tiba, jauh di dalam lubuk hatiku, muncul keinginan untuk sedikit menjahilinya.

"Chocolat, kalau kamu dapat sebanyak itu, berarti kamu nggak perlu makan buat sementara waktu, kan?"

"……Eh?"

"Iya ya…… kalau makan sebanyak itu, kayaknya tiga hari ke depan kamu nggak perlu dikasih makan lagi."

"K-Kenapa begitu?!"

"Lagipula aku sudah bosan memasakkan makanan untukmu."

"……Eh?"

Chocolat terpaku membatu.

"Haha, cuma bercanda kok."

Padahal aku cuma ingin iseng sedikit, tapi──

"Ke-Kenapa Kanade-san bilang hal jahat begitu……"

"Ugh……"

Chocolat memasang ekspresi yang sangat sedih.

"Uuu…… uuu……"

"Hei……"

Dia menundukkan kepalanya. Ja-Jangan-jangan dia benar-benar menangis?

"Hei, itu cuma bercanda. Aku yang salah. Jadi jangan menangis──"

Tiba-tiba Chocolat mendongakkan kepalanya dan menunjukkan senyum manis.

"Kena deh! Cuma bercanda tahu!"

A-Anak ini……

"Aku satu langkah lebih maju ya!"

"Cih……"

Melihat wajah kemenangannya yang menyebalkan itu, aku langsung menyentil dahinya.

"Auh!"

Kali ini air mata Chocolat benar-benar keluar sedikit.

"Hahaha!"

Melihat reaksinya yang lucu, aku pun tertawa. Dan anehnya, Chocolat yang baru saja kusentil pun ikut tertawa.

"Ehehe."

"Hei, kenapa kamu juga tertawa──"

Saat itulah, sebuah pertanyaan muncul di kepalaku.

"Kanade-san, ada apa?"

"Ah…… tidak, bukan apa-apa."

Aku tidak bisa mengutarakan keraguan yang muncul saat melihat senyumnya tadi, dan memilih untuk diam.

Setelah berjalan berdampingan beberapa lama, aku berhenti melangkah.

"……Hei, Chocolat."

Sial, kalau tidak ditanyakan sekarang, aku tidak akan tenang menikmati festival ini.

"Ada apa?"

Aku akhirnya menyuarakan pertanyaan yang muncul sejak melihat senyumannya tadi.

"Seandainya…… seandainya ya…… kalau aku menyukai seseorang dan PILIHAN MUTLAK itu lenyap, apa yang akan terjadi padamu?"

Chocolat meletakkan jari telunjuknya di bibir dan memiringkan kepala.

"Eeeummm…… bakal jadi gimana ya?"

"Justru itu yang ingin kutanyakan!"

"……Aku belum terlalu memikirkannya."

Jawaban macam apa itu…… Yah, sangat khas Chocolat sih.

"Tapi tenang saja. Mungkin aku harus pulang ke langit sebentar, tapi aku pasti akan langsung datang menemuimu lagi!"

"Begitu ya…… kalau begitu syukurlah."

Aku tidak tahu sistemnya bagaimana, tapi karena dia sendiri yang bilang begitu, kurasa semuanya akan baik-baik saja.

"Kanade-san, kita akan selalu bersama selamanya!"

"H-Hei!"

Tiba-tiba saja dia memelukku erat.

"O-Orang-orang melihat kita, tahu!"

Banyak pasangan yang berpegangan tangan di sini, tapi tentu saja tidak ada yang berpelukan seperti ini di tengah keramaian. Mustahil untuk tidak menjadi pusat perhatian.

"Le-Lepaskan!"

"Kanade-saaaannn!"

……Dia tidak mendengarkanku sama sekali. Tepat saat aku mencoba melepaskan Chocolat yang sedang mengusel-uselkan pipinya ke dadaku──

"!"

Aku merasakan aura keberadaan yang tajam seperti haus darah dari arah para pejalan kaki, lalu aku menoleh.

"Kupikir ini sudah waktunya, jadi aku datang menjemput. Tapi ternyata, apa yang sedang kalian lakukan di sini?"

Itu Furano, dengan ekspresi wajah yang sangat mengerikan.

"I-Ini bukan apa-apa──"

"Aaaah! Kanade-tchi dan Chocolat-tchi melakukan hal mesum!"

Ouka berteriak dari arah yang berlawanan. Ke-Kenapa harus di saat seperti ini……

Saat aku gemetar menghadapi tekanan dari mereka berdua yang mendekat dari kedua sisi──


PILIH:

Bumi hancur.

Alam semesta hancur.


……Hei, bukannya ini sudah keterlaluan?! Misalnya aku memilih salah satu…… apa hal seperti ini benar-benar bisa terjadi meskipun kekuatannya melampaui nalar manusia?

Tapi kebenarannya tidak penting sekarang.

Tidak ada ruang untuk ragu sama sekali dalam pilihan ini. Ini seolah-olah memang muncul hanya untuk memaksaku menggunakan hak penolakan──


PILIH:

Perang menghilang dari dunia ini.

Penyakit menghilang dari dunia ini.


Apa……-apaan ini. Apa yang kau pikirkan…… Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh si pemberi PILIHAN ini!

Hal seperti ini…… mana mungkin bisa kupilih?! Ugh…… Dengan ini hak penolakanku sisa satu kali. Aku benar-benar tidak boleh menggunakannya lagi──


PILIH:

Jatuh cinta pada Chocolat.

Jatuh cinta pada Ouka.

Jatuh cinta pada Furano.


…………K-Kau bercanda, kan?

◆◇◆

"Aduh, aduh, orang itu benar-benar tega ya~"

Ada sebuah bayangan yang mengamati Kanade dan kawan-kawan dari kejauhan. Itu adalah Kokubyakuin Seira. Sosok cantiknya yang mengenakan yukata begitu mempesona hingga menarik perhatian setiap pria di sekitarnya, namun dia sama sekali tidak peduli.

"Membawa kembali pilihan yang paling tidak ingin dipilih oleh Amakusa-san di saat hak penolakannya tinggal satu…… benar-benar kejam ya~ Kasihan sekali Amakusa-san~"

Meskipun kata-katanya terdengar kasihan, Seira justru menunjukkan senyum tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.

"Nah, kira-kira apa yang akan dilakukan Amakusa-san ya~?"

◆◇◆

Ke-Kenapa pilihan yang sudah pernah kutolak muncul lagi?! Apalagi di situasi di mana hak penolakanku tinggal satu…… Aku terpaku lemas sambil berulang kali memastikan isi pilihannya.

Namun, tidak peduli berapa kali pun aku membacanya, pilihan itu tidak kunjung menghilang.


PILIH:

Jatuh cinta pada Chocolat.

Jatuh cinta pada Ouka.

Jatuh cinta pada Furano.


……Kalau dipikir secara objektif, ini adalah sebuah kesempatan emas.

Jika aku memercayai perkataan Chocolat dan Ketua OSIS, begitu aku jatuh cinta pada seseorang, PILIHAN MUTLAK ini akan lenyap selamanya.

Dengan kata lain, di saat aku memilih salah satu, aku akan terbebas dari penderitaan terbesar dalam hidupku.

Sebaliknya, jika aku menolak pilihan ini, bukan saja aku melewatkan kesempatan tersebut, tapi misiku juga akan gagal dan aku harus hidup berdampingan dengan kutukan ini seumur hidup.

Tapi…… tapi pilihan ini…… adalah pilihan yang paling tidak ingin aku ambil.

Pilihan seperti rumah terbakar, Bumi musnah, atau melenyapkan penyakit dari dunia, memang banyak sekali pilihan buruk yang tidak mungkin bisa kupilih.

Namun, dibandingkan semua itu, pilihan inilah yang menimbulkan rasa muak dan penolakan paling kuat dalam diriku.

Jika itu pilihan yang mengendalikan tindakan orang lain, setelah tindakan itu selesai, ingatan mereka akan hilang, jadi biasanya tidak akan menjadi masalah besar.

Tapi, ini adalah masalah tentang diriku sendiri. Jika aku memilihnya, ingatanku akan tetap ada…… Artinya, aku harus terus hidup dengan perasaan palsu terhadap salah satu dari ketiga gadis ini.

……Jangan bercanda.

Aku memantapkan sebuah kesimpulan di dalam dada, lalu mendongakkan kepala.

"……Hei Chocolat, apa kamu menyukaiku?"

"Iya! Aku sangat suka!"

Chocolat menjawab pertanyaanku yang tiba-tiba itu dengan cepat tanpa ragu sedikit pun.

"Begitu ya……"

Aku kemudian berbalik ke arah dua orang lainnya.

"Ouka, Furano."

"Ada apa?"

"Apa?"

Aku menatap mata mereka berdua secara bergantian dan bertanya.

"Kalian berdua, apa kalian menyukaiku?"

"Eh?"

"Hah?"

"Ah, bukan suka sebagai sesama manusia, tapi dalam artian romantis."

"K-Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?"

"I-Iya, benar kata Furanocchi, Kanade-tchi."

Keduanya menunjukkan ekspresi bingung. Yah, wajar saja sih.

"Benar juga ya. Aku tahu kok kalau kalian berdua tidak punya perasaan semacam itu padaku."

"…………"

Entah kenapa, ekspresi mereka berdua membeku. Aku tidak tahu apa artinya, tapi aku tetap melanjutkan kata-kataku.

"……Aku pun sama. Aku tidak menyukai kalian bertiga."

"…………"

"…………"

"…………"

Kali ini, termasuk Chocolat, mereka bertiga memasang ekspresi yang kaku.

"Ah, jangan salah paham dulu ya. Ini maksudnya aku tidak suka dalam artian romantis. Tapi kalau sebagai teman, aku suka kok, serius."

Lho? Padahal aku sudah meralatnya, tapi ekspresi mereka tetap kaku. Malah rasanya makin tegang…… Yah, sudahlah, lanjut saja.

"Sebenarnya…… sepertinya aku tidak bisa jatuh cinta…… Aku tidak tahu alasannya…… tidak, sepertinya aku hanya melupakannya saja…… Intinya, karena suatu faktor tertentu, aku tidak bisa menaruh perasaan 'suka' terhadap seorang gadis."

Sejujurnya, tidak ada gunanya aku mengatakan hal ini secara terang-terangan. Ini adalah masalah yang seharusnya cukup kuselesaikan sendiri di dalam hati.




Tapi, aku ingin mereka bertiga mendengarnya.

Tentu saja termasuk Chocolat yang menyukaiku, juga Ouka dan Furano yang telah menghabiskan waktu yang tidak sebentar bersamaku selama beberapa bulan terakhir sejak misi-misi ini dimulai.

Aku menyukai mereka bertiga... sebagai manusia.

Aku suka menimpali banyolan mesum Furano, aku suka melihat ekspresi Ouka yang cepat berubah, dan aku suka keimutan Chocolat yang mirip seekor anjing.

Karena itulah... justru karena aku menyukai mereka... meski aku harus menanggung kutukan ini seumur hidup, aku tidak sudi memilih PILIHAN tidak jujur yang memaksaku untuk mencintai salah satu dari mereka di sini.

Maka dari itu... aku akan menggunakan hak penolakan terakhirku—

"Amakusa-kun, bisa bicara sebentar?"

Furano memotong keputusanku dengan suara yang tenang.

"Sejujurnya, aku tidak paham apa yang kamu bicarakan dari tadi. Kamu asyik dengan duniamu sendiri dan itu menjijikkan sekali."

"...Ma-maaf."

"Kalau ada yang sedang kamu cemaskan, cepat katakan saja."

"Eh?"

"Sepertinya kamu tidak sadar, jadi biar kuberi tahu... kamu sedang gemetar, tahu."

"Eh?... Ah."

Baru setelah diberitahu, aku menyadari tubuhku sedang bergetar kecil. Itu benar-benar di luar kendali.

Tadi aku mencoba berlagak keren untuk menyemangati diri sendiri, tapi sepertinya aku tetap tidak bisa lari dari ketakutan bahwa PILIHAN MUTLAK ini tidak akan pernah hilang selamanya.

"Aku merasa Kanade-tchi selalu memikul semuanya sendirian. Menurutku, tingkah anehmu yang biasanya itu pasti ada hubungannya dengan sesuatu yang mencurigakan~"

Ouka pun ikut masuk ke dalam percakapan.

"Enggak... itu..."

"Aku tahu sepertinya ada alasan yang tidak bisa kamu ceritakan. Tapi, bukankah tidak apa-apa jika sesekali kamu mengeluh atau menunjukkan kelemahanmu pada kami? Lagipula, aku juga menyukai Kanade-tchi, setidaknya sama besarnya dengan caramu menyukai kami sebagai teman!"

"Ouka..."

"Kanade-san. Furano-san dan Ouka-san benar-benar memahami Kanade-san, lho."

"Chocolat..."

Chocolat menggenggam tanganku dengan lembut seolah membungkusnya. Tanpa kusadari, getaran di tanganku pun mereda.

"Jadi, pada akhirnya apa yang ingin kamu katakan tadi?"

Ehm, sebenarnya tadi itu hanya sekadar kepuasan pribadiku saja, dan aku sendiri belum merangkum apa yang ingin kusampaikan...

Baiklah, kalau begitu izinkan aku mengucapkan satu keluhan kecil, mumpung mereka menawarkan.

"Begini, aku merasa ke depannya aku akan terus melakukan tindakan-tindakan aneh... tapi, apakah kalian tetap mau bergaul denganku seperti biasa?"

Bagaimanapun, aku baru saja memutuskan untuk hidup berdampingan dengan kutukan ini seumur hidup...

"Maksudku... aku... benar-benar suka menghabiskan waktu bersama kalian."

"—!"

Ketiganya serentak menahan napas.

Lalu, untuk sesaat mereka menunjukkan ekspresi yang terasa geli dan malu, namun mereka segera menyingkirkannya dan kembali menatapku serempak.

"...Kenapa bicara begitu sekarang? Justru kamulah yang harus berusaha keras agar bisa mengimbangi konten mesumku yang terus berevolusi ini."

"Tentu saja! Aku juga ingin melakukan lebih banyak hal lagi bersama Kanade-tchi!"

"Benar, aku... tidak, kami akan selalu berada di pihak Kanade-san apa pun yang terjadi!"

"Kalian..."

Ketiganya tersenyum padaku secara bersamaan.

"Fufu."

"Ahaha!"

"Ehehe."

Deg-dug.

Saat senyuman mereka tertangkap mataku, jantungku berdegup kencang.

"...Eh?"

Dan di saat berikutnya, sesuatu yang mustahil terjadi.

Pilihan yang bersarang di dalam otakku tiba-tiba mulai kehilangan warnanya, seolah-olah perlahan memudar dan menghilang.

"Apa... ini?"

Tentu saja, ini adalah situasi yang pertama kali kualami.

"A-Apa yang terjadi?"

Sambil aku bergumam, tulisan pilihan itu semakin menipis.

"Hal seperti ini... mungkinkah..."

Aku terpaku melihat kejadian yang benar-benar di luar dugaan ini.

"Ada apa Amakusa-kun, kenapa pasang muka bodoh begitu?"

"Ahaha, muka Kanade-tchi aneh banget!"

"Kanade-san lucu sekali!"

Begitu sosok mereka bertiga masuk kembali ke pandanganku—

"Ah..."

Pilihan itu benar-benar lenyap sepenuhnya.

...A-Apa yang sebenarnya terjadi? Syarat agar pilihan itu musnah seharusnya adalah "aku jatuh cinta pada seseorang"... Jika dipikir begitu, debaran jantung tadi...

Ja-Jangan-jangan tanpa kusadari, aku telah jatuh cinta pada salah satu dari mereka bertiga, dan itulah yang membuat PILIHAN MUTLAK ini menghilang—


PILIH:

Perlihatkan pantatmu ke mereka bertiga dengan tulisan 'KHUSUS HOMO'.

Perlihatkan pantatmu ke mereka bertiga dengan tulisan 'CEPAT JILAT'.

Perlihatkan pantatmu ke mereka bertiga dengan tulisan '5 DETIK SEBELUM MELUNCUR'.


...Ya nggak mungkinlah, ya.

"..........."

Meski aku menunggu dengan sedikit harapan di dada, pilihan itu bukannya menghilang, malah tidak bergeming sedikit pun.

Dan hak penolakan yang tersisa dari tadi cuma satu kali.

"...................."

Sambil mati-matian menahan dorongan untuk mati saja, aku menyingsingkan yukata-ku ke atas.

"ORYAAAAAA!"





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close