NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V10 Chapter 1

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 1

Sang Pangeran Bangun

Bagian 1

“Hah... sungguh. Ini hasil terburuk yang bisa kubayangkan.” 

Di dalam kamar, aku mengeluh begitu saja. 

Melihatku seperti itu, Fine hanya tersenyum cerah. 

“Benarkah? Saya justru menantikannya.”

“Aku bilang ini demi kebaikanmu, jadi sebaiknya kamu buang jauh-jauh rasa penasaran itu. Mereka bukan orang-orang seperti yang kamu bayangkan. Mereka adalah orang-orang terkuat di benua dan pada saat yang sama, orang-orang paling gila di benua ini.” 

“Penilaian yang luar biasa ya. Ngomong-ngomong, apakah Anda termasuk dalam kelompok itu?” 

“Aku normal. Dibandingkan mereka, aku ini bisa dibilang yang paling normal.” 

“Begitu ya. Kalau begitu, biar saya pastikan sendiri setelah bertemu mereka nanti.” 

Fine menjawab sambil terkekeh pelan. 

Sikapnya yang seolah ingin berkata “dasar orang aneh” membuatku mengernyit di balik topeng. 

Sial, inilah alasanku tak suka berurusan dengan para petualang sekelas itu. Hanya karena kami berada di peringkat yang sama, aku langsung dianggap sama dengan mereka. 

Benar-benar menjengkelkan. 

“Dengar, Fine. Hanya karena aku juga petualang peringkat SS, jangan samakan aku dengan mereka. Disamakan begitu rasanya sangat menghina.” 

“Hanya ada lima petualang peringkat SS di seluruh benua. Bukankah wajar kalau masing-masing punya sedikit masalah dalam kepribadian? Orang yang terlalu menonjol biasanya memang terlihat aneh di mata orang biasa.” 

“Aku ini sangat, sangat normal. Orang biasa.” 

Fine hanya menanggapiku dengan senyum yang jelas-jelas bermakna “iya, iya,” lalu membiarkan ucapanku lewat begitu saja. 

Kenapa begini, sih... 

Semua ini salah orang-orang bodoh di markas pusat guild. 

Mereka tiba-tiba mengusulkan pemeriksaan terhadap Silver, dan dari situ muncul ide konyol untuk ikut campur dalam urusan para petualang peringkat SS. 

“Sampai-sampai aku harus meminta bantuan mereka...”

Sambil bergumam, aku membuka gerbang teleportasi. 

Kalau hanya aku, yang menjadi objek pemeriksaan, kemungkinan besar aku takkan mampu menahan tekanan itu. 

Mengumpulkan dan membawa para petualang peringkat SS lainnya, itulah tujuan kami saat ini. 

Di belakangku, Fine tetap tersenyum dari awal hingga akhir. 

Terhibur oleh senyuman itu, aku pun melangkah memasuki gerbang teleportasi.


* * *


Dalam kegelapan yang pekat. 

Kesadaranku, yang terus tenggelam tanpa henti, tiba-tiba terbangun. 

“Ugh...”

Yang menyambutku adalah cahaya menyilaukan dan rasa haus. 

Kerongkonganku terasa sangat kering.

Aku membuka mata sedikit, lalu meraba-raba, mencari air. 

Seseorang menyodorkan segelas air ke tanganku. 

Aku menenggaknya hingga habis dalam sekali minum, barulah aku memeriksa keadaan sekitar. 

“Selamat pagi, Tuan Arnold. Tidurnya nyenyak?” 

“...Sebas...” 

Pelayanku yang seperti biasa tetap tenang itu mengatakan hal bodoh sambil berdiri di samping ranjang.

Mana mungkin aku terbangun dengan nyenyak. 

“Berapa lama aku tidur...?”

“Kurang lebih satu bulan setengah. Kepada orang-orang, saya jelaskan bahwa Anda terkena kutukan ketika menggeledah kamar Putri Zandra. Karena saat itu terjadi kekacauan, tak ada seorang pun yang mencurigainya.” 

“Oh... Jadi selama itu aku tak sadarkan diri...”

“Bisa dibilang itu adalah akumulasi kelelahan yang menumpuk, Tuan.” 

Aku mengangguk mendengar penjelasan Sebas. 

Sejak memutuskan untuk ikut dalam perebutan takhta, konsumsi sihirku tidak berhenti. Pemulihan tak lagi seimbang dengan pemakaian, dan beginilah hasilnya. Sudah kuduga ini akan terjadi, tapi karena kupaksa terus, jadinya cukup panjang juga. 

“Bagaimana situasinya?” 

“Kalau begitu, izinkan saya mulai dari kondisi dalam negeri. Pangeran Gordon, yang mundur dari ibu kota, telah menguasai sepertiga wilayah utara Kekaisaran Adrasia, menjadikannya pangkalan untuk merebut seluruh wilayah utara. Sebagai tanggapan, Paduka Kaisar mengirim pasukan dengan Tuan Leonard sebagai komandan. Saat ini kedua belah pihak saling berhadapan tanpa bergerak.” 

“Saling berhadapan? Mereka tidak menyerbu habis-habisan?” 

“Tampaknya Paduka Kaisar memutuskan hanya menggunakan pasukan yang benar-benar beliau percaya.” 

“Begitu...” 

Jika melihat skala militer Kekaisaran, menghancurkan sisa pasukan Gordon seharusnya bukan masalah. Tetapi jika tak tahu siapa yang mungkin bersekongkol dengan Gordon, tentu sulit menggerakkan seluruh kekuatan. 

Kalau dikhianati dari dalam, itu akan fatal. 

“Tidak mungkin pasukan yang bisa dipercaya sesedikit itu, kan?” 

“Benar. Hampir seluruh pasukan disiagakan di perbatasan barat. Kerajaan Perlan sudah memulai invasi besar-besaran, dan pasukan perbatasan barat menahannya di sana. Santa Leticia juga pergi ke barat, menegaskan bahwa dia masih hidup dan bahwa Kerajaan Perlan tak memiliki alasan yang benar untuk menyerang. Nona Elna menemani beliau sebagai pengawal.” 

“Kupikir Kerajaan Perlan akan mengambil posisi netral... Tapi meski Gordon gagal memberontak dan sudah diancam oleh Silver, mereka tetap menyerang? Berani sekali.” 

“Benar, itu juga di luar perkiraan kami. Untuk perbatasan lainnya, Putri Lizelotte telah kembali ke perbatasan timur, sedangkan perbatasan utara ditembus sebagian akibat serangan sengit dari Persatuan Kerajaan Egret dan Negara Bagian Cornix. Karena itu, Pangeran Gordon kini menerima bantuan dari keduanya.” 

“Perbatasan utara ditembus? Padahal kita sudah menggagalkan serangan mendadak mereka.” 

Jika serangan mendadak itu sukses, menembus perbatasan bukan hal aneh. Tapi gerakan mereka sempat dihentikan. Seharusnya akan jauh lebih sulit untuk menembusnya. 

“Pada awalnya, pasukan musuh berhasil dipukul balik. Namun salah satu bawahan Pangeran Gordon membunuh komandan benteng utara. Ketika rantai komando kacau, musuh memanfaatkan celah itu untuk menerobos.” 

“Begitu ya... Mereka dihancurkan dari dalam.” 

“Ya. Komandan benteng itu kemudian memaksakan diri dan berhasil menimbulkan kerugian besar pada musuh... namun karena memaksakan diri, beliau gugur.” 

“Itu sudah menjadi tanggung jawabnya menjaga perbatasan...”

“Berkat pengorbanan itu, garis pertahanan utara sebagian besar masih bertahan. Jika pasukan Cornix dan Egret berhasil masuk sepenuhnya, Paduka Kaisar harus mengerahkan seluruh angkatan perang.” 

“Lalu pengkhianatan mulai terjadi, dan kecurigaan menyebar ke mana-mana. Memang kemenangan yang gemilang, tapi kalau harus kehilangan nyawa, percuma saja. Akar masalahnya kali ini ada di keluarga kekaisaran. Jika tidak karena mereka, komandan benteng tidak perlu tewas.”

Hanya sedikit yang mampu memimpin pertahanan perbatasan. Keberhasilannya sangat berarti, tapi jika melihat apa yang hilang, manfaatnya terasa pahit. 

Kita kehilangan aset yang berharga. 

Namun tidak ada waktu untuk meratapi terus. 

“Aku mengerti situasinya. Tapi itu bukan akhir, kan?” 

“Betul. Markas besar Guild Petualang menerima protes dari berbagai negara dan memutuskan mengadakan sidang investigasi terhadap Silver. Dari pihak Kekaisaran, Nona Fine dikirim sebagai duta besar ke markas tersebut.” 

“Untuk membela Silver, ya?” 

“Secara resmi begitu.” 

“Dan tujuan sebenarnya?” 

“Untuk mengulur waktu. Jika Anda belum bangun, Silver tidak akan muncul. Dan jika Silver tidak muncul, mereka bisa saja berasumsi bahwa Silver menyembunyikan sesuatu.” 

“Keputusan yang bagus. Itu ide Fine?” 

“Benar.” 

Memang terdengar seperti sesuatu yang akan Fine lakukan. 

Kalau begitu, tugas yang harus kulakukan menjadi jelas. 

“Pertama-tama, aku harus menyelesaikan masalah Silver.” 

“Saya kira itu yang terbaik. Di utara, situasinya tidak ada ujungnya. Kemungkinan besar keadaan akan mandek sementara.” 

“Aku tak bisa menangani dua hal sekaligus. Sembunyikan dulu fakta bahwa aku sudah bangun, dan biarkan aku bergerak sebagai Silver. Akan merepotkan kalau identitasku bocor.” 

“Tentu. Penilaian orang terhadap Anda di ibu kota meningkat drastis berkat tindakan Anda waktu itu. Mungkin saja ada yang mulai menghubungkan Anda dengan Silver.” 

“Kalau begitu, bisa kamu urus soal menyamarkan identitas? Aku akan meninggalkan sedikit ilusi.” 

“Baik. Dan yang terakhir, ada satu laporan lagi.” 

“Masih ada...?” 

Aku tahu ini salahku karena tidur terlalu lama, tapi tetap saja, jumlah laporannya bikin aku lelah. 

Saat aku mulai merasa jengkel, Sebas menjatuhkan bom besar. 

“Hukuman terhadap Putri Zandra telah dilaksanakan. Beliau dipaksa meminum Anggur Kekaisaran, dan penderitaannya ditayangkan di depan rakyat ibu kota.” 

“Apa...?” 

“Paduka Kaisar sebenarnya berniat menunggu sampai Anda bangun. Tetapi ketidakpuasan rakyat ibu kota sudah memuncak...”

“Sekarang hari ke berapa? Dia sudah tewas?” 

“Hari ini hari terakhir.” 

Yang berarti, hari ini.

Hari di mana Zandra akan mati.


Bagian 2

Mendengar ucapan Sebas, aku memandangi sekeliling. 

Meski ruangan terang benderang, tirainya tertutup rapat. 

Aku bangkit dari tempat tidur dan mencoba melihat ke balik tirai, tetapi tubuhku ternyata jauh lebih lemah dari yang kusangka, gerakanku sedikit lunglai. 

“Cih...”

“Jangan memaksakan diri, Tuan. Walaupun tubuh Anda dipertahankan dengan sihir, penurunan kekuatan otot tetap tidak bisa sepenuhnya dicegah.” 

“Memang sejak awal tubuhku tidak kuat.” 

Aku memperkuat tubuh dengan sihir, lalu membuka sedikit tirai. 

Di luar, matahari sudah hampir tenggelam. 

Jika hari ini adalah hari terakhirnya, berarti Zandra akan mati malam ini. 

“Zandra ada di luar?” 

“Tidak, tiga hari pertama dia dipertontonkan sebagai hukuman. Namun karena banyak petisi masuk, sekarang dia dikurung di dalam kamarnya.” 

“Mereka sendiri yang minta dia dipertontonkan, tapi sekarang mengajukan permohonan belas kasihan...”

“Anggur Kekaisaran adalah racun rahasia negara. Selama ini hanya rumor yang beredar, tapi penderitaan akibat racun itu benar-benar melampaui batas. Melihatnya menggeliat kesakitan seperti itu, bahkan mereka yang ingin melampiaskan kekesalan pun akhirnya tak kuat menyaksikannya.” 

“Bukan karena penderitaannya melampaui bayangan mereka. Masalahnya, mereka kurang berimajinasi. Seorang anggota keluarga kekaisaran yang melawan Kaisar, mana mungkin hukumannya hanya sebatas yang bisa dibayangkan rakyat. Kalau mereka mau berpikir sedikit saja...” 

Penderitaan yang ditimbulkan Anggur Kekaisaran sedemikian parah hingga membuat ahli penyiksa sekalipun mengernyit. 

Secara normal, penderita pasti sudah mati berkali-kali. Tapi racun itu tidak mengizinkan kematian. Itu inti dari Anggur Kekaisaran: tujuh hari neraka, lalu barulah seseorang boleh mati. 

Tanpa ragu, itu adalah racun tergila di seluruh benua. 

Dan fakta bahwa Ayahanda menggunakan racun itu pada putrinya sendiri berarti dia tidak akan pernah memaafkan Zandra. 

Apa yang dia rasakan di dalam hati, aku tak tahu. 

“Siapa yang berada di kamar Zandra?” 

“Paduka Kaisar melarang siapa pun merawatnya. Beliau berkata bahwa kesendirian adalah yang pantas untuk seorang pengkhianat.” 

“Begitu ya... Kalau begitu aku akan pergi sebentar. Topengku ada?” 

“Apakah Anda hendak pergi sebagai Silver?” 

“Ayahanda... Mungkin saja dia memutuskan untuk menjaganya sendiri.” 

“Dengan semua pejabat tinggi mengawasi, saya rasa itu tidak mungkin.” 

“Untuk berjaga-jaga.” 

“Dimengerti.” 

Sebas menundukkan kepala dan menyerahkan topengku. 

Setelah mengenakannya dan berganti pakaian, aku membuka gerbang teleportasi dan menuju kamar Zandra.


* * *


Saat aku berpindah ke dalam kamar, hal pertama yang kusadari adalah bau darah. 

Di berbagai sudut kamar Zandra, tampak bercak-bercak darah. Hampir pasti semuanya milik Zandra. 

Aneh rasanya melihat seseorang bisa tetap hidup meski sudah memuntahkan darah sebanyak itu. 

Dan Zandra, yang sedang berada dalam puncak nerakanya, tergeletak di atas tempat tidur. Rambutnya kusut, tubuhnya mengering, kulitnya pucat keabu-abuan. Sekilas, dia tak terlihat seperti apa pun selain mayat. 

Namun dia masih hidup, hanya saja tinggal sedikit. 

“...Sil... ver...?”

Zandra menyadari kehadiranku dan tersenyum tipis. 

Mungkin rasa sakitnya sudah tak bisa dia rasakan lagi. Kematian sudah berada tepat di belakangnya. 

Mungkin itulah sebabnya wajahnya tampak mengejutkan tenang. 

“Kamu datang untuk menertawakan aku...? Untuk melihat sendiri bagaimana kemunculanmu memutus harapan terakhirku?” 

“Bukan karena itu. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan.” 

“Waktunya tak banyak... Aku sebentar lagi mati...”

“Kuminta kamu bertahan sedikit saja. Setidaknya jawab ini dengan pasti. Ceritakan apa yang kamu ketahui tentang Grimoire.” 

Grimoire.

Mendengar nama organisasi itu, alis Zandra sedikit bergerak. 

Dia lalu mengangkat tangan kanannya ke arahku. Di tangan itu, sedikit sihir menyala. 

“Kamu pikir aku akan memberitahumu...?”

“Siapa tahu. Tapi kamu pasti tahu banyak. Jika seseorang menginginkan ilmu terlarang, organisasi itu adalah tempat paling menguntungkan untuk dihubungi.” 

Aku menatapnya lurus. 

Cahaya kecil berkilat di ujung jarinya. 

Itu jauh dari sihir yang dulu menjadikan Zandra terkenal sebagai pengguna seni terlarang. Itu hanyalah tingkat dasar, bola cahaya kecil yang meluncur perlahan dari tangannya.

Bola itu melewati wajahku, lalu menghantam dinding di belakang. 

Zandra menurunkan tangannya, tampak kelelahan. 

“Kalau kamu mau tahu... cari sendiri...”

“Rak tersembunyi, ya.” 

Kulihat ke belakang. Dinding itu berlubang. Mungkin hanya bisa terbuka bila terkena sihir Zandra. 

Di dalamnya ada sebuah buku catatan. 

“Ibu... mulai bersangkutan dengan Grimoire lebih dari sepuluh tahun lalu... lalu sejak saat itu dia berubah...” 

“Berubah bagaimana?” 

“Ibu bersaing dengan Selir Kedua, dan selalu menyuruhku agar tidak kalah dari Lizelotte... Tapi kemudian dia mulai menyuruhku untuk menjadi kaisar... kemudian menggunakan seni terlarang untuk mengutuk Lizelotte dan yang lain, bahkan sampai membunuh Selir Kedua...” 

“Jadi Grimoire yang mengubahnya?” 

“Aku tidak tahu... Tapi lama-kelamaan, aku pun berhenti meragukan ucapan ibu... Entah kenapa... Padahal dulu aku sama sekali tidak tertarik dengan takhta... Aku hanya ingin menjadikan Kekaisaran ini sebagai negeri sihir yang tak kalah dari Kekaisaran Suci, dan meneliti seni terlarang demi pemanfaatan sihir yang lebih baik... Tapi entah kapan, aku mulai menelitinya demi mengutuk orang...”

Zandra tersenyum getir. 

Hasil dari perubahan itulah yang membawanya sampai ke titik ini. 

Perebutan takhta kali ini jelas ada yang aneh. Banyak orang merasakannya. Perubahan itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Seperti sesuatu yang perlahan, sedikit demi sedikit, menggerogoti keluarga kekaisaran. 

Kegelapan yang ada jauh lebih dalam dari dugaan. 

“Di dalam buku itu tercatat lokasi markas dan cabang-cabang mereka... Semoga berhasil menghancurkannya...”

“Akan kupakai sebaik mungkin.” 

“...Bagaimana semuanya bisa jadi begini...”

“...Meski kamu dimanfaatkan... apa yang kamu lakukan tetap tak bisa dimaafkan. Banyak orang-orang yang mati.” 

“Aku tahu... Aku yang paling tahu betapa bodohnya perbuatanku... Aku bahkan... berniat menjadikan adikku sebagai bahan eksperimen... menjijikkan... Lalu semua kekejaman lain yang kulakukan... aku memang sudah gila...”

Zandra menatap kedua tangannya. Tangan itu gemetar halus. 

Entah kenapa, sosok itu justru terasa lebih mirip Zandra yang dulu. 

Wataknya memang keras dan jauh dari lembut, tapi dia tidak sekacau sekarang, itulah yang kuingat. 

Langkahku terhenti sebelum memasuki gerbang teleportasi. 

Tidak ada ruang untuk menyayangkan nasib Zandra. Bahkan jika seseorang telah merusak kepribadiannya, kerusakan yang dia sebabkan pada rakyat Kekaisaran tidak akan hilang. Dosanya tidak akan sirna. 

Namun ingatan lama terus bermunculan di benakku. 

Saat aku berumur lima tahun, kami pernah ikut Ayahanda berburu. 

Aku tersesat saat mengejar hewan di hutan. Yang menemukanku waktu itu adalah Zandra. 

Meski dia memarahiku habis-habisan, aku masih ingat hangatnya tangan yang dia ulurkan. 

“Masih ada pertanyaan... yang lain...?”

“Ada banyak. Tapi... kamu tak akan sanggup menjawabnya lagi.” 

“Benar... Aku akan mati sendirian... Aku mengabaikan Ibu, Ayahanda pun ku khianati... Sudah sepantasnya bagiku...”

Suara Zandra semakin kecil. 

Tanpa sadar, aku menggenggam tangannya. 

“Untuk apa... kamu melakukan itu...?”

“Kamu tak akan dimaafkan, dan aku pun tidak memaafkanmu... Tapi aku punya utang lama. Mau tak mau, aku akan menemanimu di saat-saat terakhirmu.” 

Setelah berkata begitu, aku melepas topengku. 

Zandra membuka mata lebar-lebar, terkejut. Tapi segera dia tersenyum seolah semuanya masuk akal. 

“Pantas saja, aku selalu bertanya-tanya kenapa kamu membela Leonard, bukan aku, sekarang aku mengerti...” 

“Tidak, tidak. Meski tanpa Leo, aku tetap tidak akan memihakmu.” 

“Berani sekali... Anak yang dulu bahkan tidak bisa menembakkan sihir dasar... ternyata punya bakat sihir kuno, siapa sangka...” 

“Siapa pun tidak akan menyangka. Aku juga terkejut.” 

“...Tapi kamu tetap naif seperti dulu... Sifat naifmu itu akan membunuhmu suatu hari nanti... Kamu tak perlu bersimpati padaku...”

Zandra menepis tanganku. 

Lalu dengan gerakan lamban, tangannya meraba-raba ke arah wajahku, seolah matanya tak lagi bisa melihat. 

Tangannya menyentuh pipiku, mengusap pelan, sebelum Zandra berbisik. 

“Memang layak... Adikku...”

“Kak Zandra...”

“...Waspadalah dengan Eric... Jagalah Ayahanda... kumohon...” 

Setelah berpesan demikian, kekuatan merosot dari tangan Zandra dan jatuh terkulai.


Matanya setengah terbuka, dan sisa-sisa kehidupan yang masih bertahan di tubuhnya lenyap begitu saja. 

Kakakku, Zandra, kini telah tiada. 

Aku menggertakkan gigi dan mengepalkan tangan. 

Agar tak menimbulkan kecurigaan, aku tidak menyentuh jasad Zandra, hanya memperbaiki pintu rahasia itu sebelum pergi dari ruangan. 

Kemudian, setelah kembali ke kamarku, aku menciptakan ilusi di atas tempat tidur. 

“Apakah Anda akan segera berangkat?”

“Kita tidak punya waktu untuk disia-siakan.”

“...Apakah terjadi sesuatu?”

“Tidak ada. Aku hanya pergi mengumpulkan informasi.”

“Untuk seseorang yang bilang begitu, suara Anda terdengar muram.” 

Aku tidak menjawab komentar Sebas. Sebagai gantinya, aku menyerahkan buku catatan Zandra kepadanya. 

Lalu, dengan nada tegas, aku berkata, 

“Selidiki Grimoire. Seluruhnya. Usut sampai ke akar.”

“Segera dilaksanakan.” 

Sebas menunduk dalam tanpa menambahkan sepatah kata pun. 

Melihat itu, aku menarik napas panjang, lalu membuka gerbang teleportasi. 

“Kalau begitu, aku berangkat.”

“Semoga perjalanan Anda aman.” 

Dan aku melangkah masuk ke dalam gerbang itu.


Bagian 3

Markas pusat Guild Petualang terletak di sisi selatan wilayah timur benua.

Di bawah wilayah Kekaisaran Suci Sokal, terdapat sebuah zona kosong, dahulu merupakan kota terbengkalai yang dipenuhi monster. Tak satu pun negara mau menyentuh wilayah itu, dan Guild Petualang memutuskan menjadikannya sebagai pusat mereka. 

Para petualang kala itu menyingkirkan monster-monster tersebut, lalu mendirikan sebuah menara raksasa di pusat kota mati itu.

Itulah Markas Pusat Guild Petualang, “Babel”.

Puncak tertinggi yang mengatur seluruh petualang di Benua Vogel. Kini, wilayah yang dulunya kota hantu telah berubah menjadi kota petualang yang makmur mengelilingi menara itu. 

Secara resmi, daerah itu adalah wilayah netral di mana tak satu negara pun boleh mencampuri. 

“Walau pada akhirnya hanya omong kosong belaka.” 

Malam itu.

Setibanya aku di kota Babel, markas pusat Guild lewat teleportasi, aku bergumam seperti itu. 

Memang benar negara-negara tidak memusuhi Guild Petualang. Tapi mereka tetap ikut campur. Sewaktu-waktu. Guild, sebagai organisasi yang mengatur semua petualang, tidak ingin menimbulkan ketegangan dengan negara mana pun. Karena itu, dalam banyak kasus, mereka lebih memilih mengikuti keinginan negara. 

Kemungkinan, hal yang sama terjadi kali ini. 

“Khususnya karena Dewan Guild sekarang terlalu sibuk membaca suasana hati negara-negara.” 

Dewan Guild, petinggi dari markas pusat.

Sebuah lembaga pengambil keputusan yang terdiri dari para pejabat penting guild. 

Tiap generasi anggotanya berbeda, namun jarang ada dewan sereaktif ini terhadap negara.

Biasanya setengah anggota adalah mantan petualang, dan sisanya berasal dari staf internal guild. Namun sekarang, jumlah dari pihak staf sangat mendominasi. Akibatnya, ketidaksepahaman dengan pihak lapangan juga semakin sering terjadi. 

Contoh terbaiknya adalah sidang investigasi terhadap Silver. Mereka bahkan tidak mengerti konsekuensi dari tindakan itu. 

Meski begitu, tidak semua anggota dewan seperti itu.

Ada satu-satunya petualang lapangan yang naik hingga menjadi anggota dewan.

Clyde, Wakil Kepala Guild di markas pusat. Dia pasti memahami betapa berbahayanya memanggil Silver ke sidang investigasi. 

Itulah sebabnya aku langsung menuju kediamannya. 

Di kawasan terbaik kota yang mengelilingi markas pusat, berdiri sebuah rumah besar.

Inilah rumah Clyde, mantan petualang peringkat S yang namanya tersohor. 

Meski matahari telah terbenam, mengunjunginya di jam seperti ini jelas tidak sopan. Namun saat ini, urusan sopan santun bukan hal yang perlu kupikirkan. 

Aku menyelimuti diriku dengan penghalang untuk berjaga-jaga, lalu menyelinap masuk tanpa diketahui para pelayan. 

Menuju bagian terdalam kediaman itu, ke ruangan pribadi Clyde. 

Di sana, Clyde duduk seperti orang yang lelah. Setelah menyeruput tehnya, dia bergumam, “Jarang sekali kamu telat. Aku kira kamu bakal muncul lebih cepat.” 

“Jadi kamu sadar juga.” 

“Bagaimanapun juga aku mantan petualang peringkat S. Setidaknya membaca keberadaan seseorang masih bisa kulakukan.” 

Sambil berkata begitu, Clyde bangkit dan menatap ke arahku. 

Karena sudah ketahuan, tak ada gunanya mempertahankan penghalangku. 

Aku menampakkan diri sebagai Silver. 

“Sudah lama tidak berjumpa, Silver. Syukurlah kamu tampak baik-baik saja.” 

“Tidak terlalu. Aku sedang memulihkan kekuatan sihir.” 

“Dalam waktu sesingkat itu, terlalu banyak hal yang terjadi. Tapi sepertinya akhirnya kamu sadar bahwa berdiam diri dan beristirahat justru memperburuk keadaan.” 

“Kalau melihat keadaan dewan yang sekarang, ya...” 

“Maafkan aku. Aku tidak bisa menahannya sendiri. Kalau pendapat terpecah, kami harus memutuskan lewat voting.” 

Clyde tersenyum getir sambil mempersilakanku duduk.

Aku pun duduk di sofa di hadapannya, dan Clyde ikut duduk. 

“Baiklah, aku akan dengarkan dulu. Apa alasan di balik sidang investigasi ini?” 

“Ikut campur dalam perang. Itu yang terutama. Kalau seorang petualang peringkat SS ikut campur dalam perang, itu masalah besar.” 

“Aku hanya menangani naga. Naga Suci sudah disetujui sebagai kekuatan pertahanan Persatuan Kerajaan. Tapi mereka malah menariknya keluar ke negara lain. Pada titik itu, ia sudah tergolong monster.” 

“Aku paham. Meski begitu, itu cuma alasan. Pada dasarnya, lewat sidang ini, dewan ingin memasang berbagai pembatas padamu.” 

“Dengan kata lain, mereka ingin menjadikanku anjing dewan?” 

“Benar. Mereka ingin punya petualang SS yang mau bergerak sesuai kehendak mereka. Mereka sempat berharap pada generasi berikutnya, tapi karena tidak ada yang memenuhi syarat, sekarang mereka mencoba memasang kalung pada petualang SS yang ada. Menyeramkan bukan?” 

“Lebih menyeramkan lagi kalau ternyata cuma kamu yang menyadarinya.” 

Hanya ada lima petualang peringkat SS di seluruh benua ini, puncak tertinggi para petualang. Kekuatan mereka berada jauh di atas peringkat S. Pengaruh Guild Petualang terhadap seluruh benua dan pengakuan negara-negara terhadap keberadaannya sebagian besar berkat keberadaan lima orang super kuat ini. 

Keinginan untuk mengendalikan kekuatan sebesar itu memang bisa dimengerti. Namun mencoba mengalunginya tanpa memikirkan kemungkinan mereka akan balik menggigit, itu sudah kelewat bodoh. 

“Semua petualang peringkat SS itu orang-orang bermasalah, satu dua tingkat lebih kacau daripada petualang biasa. Mereka punya kemampuan hebat, tapi justru itu yang membuat mereka sulit diatur. Mereka bergabung dengan guild hanya karena ingin bebas bergerak. Kalau mereka berkeliaran tanpa afiliasi, negara-negara akan mulai memperhatikan mereka.” 

“Sebagian besar aku setuju, tapi jangan samakan aku dengan mereka.” 

“Seorang manusia bertopeng yang bisa teleportasi seenaknya bilang begitu? Kamu cuma sedikit lebih kooperatif daripada yang lain, tapi sifatmu sama saja.” 

“Aku memperhatikan sekelilingku. Itu beda.” 

“Kalau kamu mau ngotot begitu, silakan. Tapi menurutku itu tak ada gunanya. Bagi orang-orang, semua petualang SS adalah kumpulan orang gila.” 

“Setelah ini selesai, kamu harus menyebarkan gosip yang sedikit lebih positif tentangku.” 

Setelah berkata begitu, aku berdiri untuk mengakhiri pembicaraan. 

Lalu...

“Aku pinjam salah satu kamar.” 

“Silakan. Tapi kamu tidak akan menemui duta Kekaisaran?” 

“Dia adalah duta resmi yang dikirim Kekaisaran. Menemuinya tengah malam begini tidak sopan.” 

“Jadi kalau menemuiku begitu sopan?” 

“Kamu orang yang kupilih untuk didatangi. Dan terus terang, aku tidak punya hobi menyelinap ke kamar wanita tengah malam. Lagi pula, pengawal duta itu adalah kapten kesatria pengawal, bukan? Kalau aku tiba-tiba teleportasi di sana, pasti terjadi pertempuran. Dan kalau itu terjadi, kota ini habis terbakar.” 

“Kamu tidak pernah berpikir untuk berkunjung tanpa teleportasi....?”

“Manusia kalau punya cara yang praktis, pasti akan mengandalkannya. Cobalah belajar teleportasi, nanti kamu mengerti.” 

“Enak sekali kamu bicara...” 

Clyde menghela napas panjang dengan wajah lelah, lalu mengibaskan tangan seperti menyuruhku cepat pergi. 

Melihat itu, aku hanya tersenyum kecil dan meninggalkan ruangan.


Bagian 4

Begitu fajar menyingsing, aku segera meninggalkan kediaman Clyde.

Kemarin, aku sudah mendengar di mana Fine menginap. 

Kota Babel memang ramai oleh para wisatawan, tetapi lebih dari itu, banyak tokoh besar datang langsung ke markas pusat guild untuk mengajukan permintaan secara pribadi. Untuk menampung orang-orang seperti itu, ada beberapa penginapan kelas atas, dan Fine tinggal di salah satunya. 

Yang bertugas sebagai pengawalnya adalah Pasukan Kesebelas Kesatria Pengawal.

Dalam kondisi di mana internal Kekaisaran sedang terpecah, mengirimkan Kapten Kesatria Pengawal demi menjaga Fine mungkin terkesan berlebihan, tetapi itu juga menunjukkan betapa Ayahanda sangat menaruh berat pada urusan ini. 

Silver akan menjalani pemeriksaan karena dianggap berpihak pada Kekaisaran. Ayahanda pasti punya rasa bersalah soal itu, dan dalam waktu yang sama, dia tak ingin kehilangan Silver yang merupakan kekuatan penyeimbang penting bagi Kekaisaran. 

Dengan pertimbangan itu, Kapten Kesatria Pengawal dipilih sebagai pengawal yang paling tepat. 

Aku berteleportasi ke penginapan, lalu menuju kamar paling dalam.

Namun, seketika beberapa pria mengepungku. Tangan mereka menggenggam pedang. 

“Sebagai kesatria pengawal istana, harus kuakui, bahkan Pasukan Kesebelas yang utamanya bertugas diplomatik pun mampu memberi sambutan semacam ini.” 

Mereka semua tampak seperti orang biasa, tetapi sebenarnya mereka adalah kesatria pengawal.

Mereka tak mengenakan mantel putih atau zirah yang menjadi identitas mereka karena tempat ini adalah pusat dunia para petualang. 

Di sini, campur tangan negara sangat tidak disukai. Menyamar sebagai orang biasa dan membaur agar tak menimbulkan bentrokan. 

Pasukan Kesebelas adalah pengecualian di antara kesatria pengawal.

Sebelumnya, peran para kesatria pengawal adalah menjadi mata dan telinga Kaisar, berkelana ke seluruh penjuru Kekaisaran. Namun Pasukan Kesebelas berbeda, mereka bertugas di luar negeri. 

Sebagai utusan rahasia Kaisar, mereka menghadap raja-raja negara lain, menjadi pengawal rombongan diplomatik, mengumpulkan informasi dari berbagai negara, beragam tugas semacam itu adalah keahlian mereka. Karena sifat tugasnya, yang dibutuhkan untuk masuk unit ini bukan semata kekuatan, melainkan sopan santun dan fleksibilitas. 

Karena itu, jika muncul pertanyaan, “Pasukan mana yang paling lemah di antara kesatria pengawal?”, nama Pasukan Kesebelas hampir selalu disebut. 

Namun itu bukan berarti kualitas pelatihan mereka lebih rendah. 

“Kalau orang biasa mungkin akan kesal diperlakukan begini, tapi kalau petualang SS seperti Anda yang bilang begitu rasanya malah menyenangkan.” 

Suara seorang wanita kecil terdengar, disertai langkah ringan. 

Dia memiliki rambut kastanya cerah yang dipotong sebahu, dan mata biru muda yang menatapku dengan penuh minat.

Sama seperti para pria itu, dia juga menyamar sebagai orang biasa, bahkan lebih biasa daripada mereka.

Orang yang melihatnya di jalan pasti tak akan pernah menebaknya sebagai kesatria pengawal istana. 

Namanya Ines Lauck. Usianya, kalau tidak salah, 18 tahun.

Kapten Pasukan Kesebelas. 

Meski baru di antara para kapten kesatria pengawal, dia mendapatkan kepercayaan Ayahanda karena kemampuan dan kepribadiannya. Kali ini dia ditugaskan sebagai pihak yang menangani negosiasi. 

Dalam kelompok kesatria pengawal yang kebanyakan berkepribadian keras, sifatnya yang lembut membuatnya sangat cocok untuk tugas itu. 

“Kalau begitu, kupikir kamu bisa menyuruh anak buahmu mundur, Kapten Ines.” 

“Baik, baik. Tunggu sebentar ya. Aku konfirmasi dulu pada Nona Fine.” 

Dengan senyuman manis, Ines berkata santai.

Bersikap seperti itu di depan petualang peringkat SS, memang pantas disebut kapten kesatria pengawal.

Mentalnya benar-benar tenang. 

Dia masuk ke kamar, lalu kembali tidak lama kemudian.

Dia memberi isyarat pada anak buahnya, dan pedang-pedang itu pun diturunkan. 

“Izin sudah diberikan. Silakan masuk.” 

“Sungguh, bertemu dengan utusan Kekaisaran saja sudah cukup sulit.” 

“Kamu kan bisa langsung berpindah ke kamar Nona Fine, bukan?” 

“Aku ini orang yang menjunjung norma.” 

“Orang yang menjunjung norma biasanya masuk lewat pintu, tahu?” 

Kalau masuk lewat pintu, mereka bisa menyambutku dengan jauh lebih damai.

Ines mempertanyakan teleportasiku. 

Memang benar, kalau dipikir-pikir, tapi repot sekali harus berjalan ke pintu kalau teleportasi jauh lebih cepat. 

Lagipula... 

“Aku tak ingin orang lain tahu aku ada di sini.” 

“Kenapa tidak pakai ilusi?” 

“...”

“Hmm, ternyata kamu lumayan pemalas juga ya.” 

Sambil terkikik, Ines membuka pintu.

Dia sendiri tetap menunggu di luar. 

“Nona Fine ingin berbicara sendiri.” 

“Begitu, ya. Apa kamu tidak keberatan?”

“Aku percaya kamu masih punya sedikit kewarasan di kepalamu.” 

Aku kurang suka cara bicaranya, tapi ini bukan saatnya mengeluh.

Aku segera masuk dan memasang penghalang.

Lalu aku berbicara pada Fine, yang berdiri di tengah ruangan. 

“Harusnya aku bilang lama tak berjumpa, ya? Sepertinya aku sudah merepotkanmu cukup banyak.” 

“Tidak, ini bukan masalah besar. Selamat pagi, Tuan Al. Saya lega mendengar Anda bangun dengan selamat.” 

Dengan senyum lembut seperti biasa, Fine membungkuk.

Melihatnya, aku hanya bisa tersenyum kecut dan duduk di kursi. 

Fine berniat menyiapkan teh dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa, tapi aku menghentikannya dengan isyarat tangan. 

“Tak perlu teh. Aku tidak bisa meminumnya.” 

“Anda tidak bisa melepas topengnya?” 

“Lebih baik kalau aku tetap waspada. Aku memang belum mendengar kabar bahwa mereka ada di markas pusat, tapi mereka itu orang yang tidak mengerti aturan. Tidak ada jaminan mereka tidak muncul tiba-tiba.” 

“Mereka...?” 

“Para petualang peringkat SS lainnya. Bahkan dengan penghalangku tidak bisa sepenuhnya menahan mereka.” 

Penghalang yang kupasang hanya mencegah kebocoran dan meredam suara. Tapi mereka bisa menghancurkannya di saat itu juga.

Sepertinya aku tidak akan punya waktu untuk melepaskan topengku. 

“Cukup sampai di situ?” 

“Cukup. Karena itu, perlakukan aku sebagai Silver.” 

“Baik. Kalau begitu, Tuan Silver, izinkan saya menjelaskan kondisi saat ini.” 

“Tolong.” 

Fine pun mulai memaparkan situasi terkini.

Singkatnya, satu-satunya pihak yang memihak kami dalam dewan hanyalah Clyde. Para anggota dewan lainnya mau bertemu demi menghormati Fine, tetapi tidak ada satu pun yang mau mendengarkan. 

“Sesuai yang kuperkirakan.” 

“Maaf... Saya tidak bisa berbuat lebih banyak...”

“Itu bukan salahmu. Jangan minta maaf. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup. Sidang investigasi saja bisa tertunda sampai sejauh ini juga karena usahamu.” 

“Namun tetap saja ini tidak menyelesaikan masalahnya.” 

“Itu bagianku. Tenang saja, aku sudah punya rencana.” 

“Jangan bilang Anda berniat berhenti menjadi petualang?” 

Fine bertanya dengan nada cemas.

Dari sudut pandang seseorang yang tahu jati diriku, hal itu mungkin terdengar masuk akal. 

Namun, seorang petualang peringkat SS tidak bisa berhenti begitu saja tanpa alasan yang luar biasa kuat.

Karena mereka terlalu kuat. 

“Tidak mungkin. Lebih tepatnya, tidak bisa. Petualang peringkat SS adalah individu yang punya kekuatan untuk mengguncang satu negara. Kalau seseorang seperti itu berhenti jadi petualang, negara-negara lain akan berebut menariknya. Tapi di antara kami semua, tak ada satu pun yang akan bersumpah setia pada negara mana pun. Dari sudut pandang negara, kami hanya akan menjadi individu berbahaya yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Demi keselamatan mereka sendiri, mereka akan menekan Guild Petualang untuk mengelompokkan kami sebagai monster. Jujur saja, kami memang lebih berbahaya dari naga.” 

Pada dasarnya, kebebasan kami hanya ada karena status petualang peringkat SS.

Status itu membuat semua orang percaya bahwa kekuatan kami akan selalu diarahkan kepada monster. Jika status itu dicabut, kecurigaan yang akan muncul. 

Bagaimana kalau suatu hari mereka mengarahkan kekuatan itu pada kami? 

Begitu pikiran itu muncul, semuanya berakhir.

Pertempuran antar petualang peringkat SS akan dimulai. Apa pun hasilnya, benua ini pasti akan terguncang. 

Aku tidak bisa membiarkan hal bodoh seperti itu terjadi. 

“Jadi, karena kalian terlalu kuat...”

“Petualang peringkat SS adalah wadah bagi orang-orang kuat dari seluruh benua. Status ini menjamin kebebasan mereka, dan kekuatan mereka itulah yang menopang Guild Petualang. Tapi dewan yang sekarang sudah mulai merasa risih. Mereka ingin memasang batasan pada orang kuat yang terlalu bebas.” 

“Dewan bersikap berani karena mereka yakin Anda tidak akan berhenti menjadi petualang... begitu maksud Anda?” 

“Benar. Selama aku tetap seorang petualang, mau tidak mau aku berada dalam lingkup pengaruh dewan. Menghadapi ini sendirian akan sangat merepotkan.” 

“Begitu. Tapi kalau bukan sendirian, bagaimana kalau ada lima orang?” 

“Tepat sekali. Tidak terlalu menyenangkan, tapi aku akan meminta bantuan mereka. Masalah ini juga menyangkut mereka.” 

Dewan mungkin berada di puncak guild, tetapi para petualang peringkat SS memiliki pengaruh yang tak jauh berbeda.

Kami berhak menghadiri rapat dewan, bahkan punya hak suara. 

Seorang anggota dewan mungkin berani memusuhi satu orang petualang SS, tapi mustahil mereka nekat memusuhi lima dari kami. 

Alasan aku yang diincar adalah karena mereka mengira aku tidak bertindak berdasarkan emosi. Yang lain berbeda. 

Mereka adalah orang-orang yang bisa saja berhenti menjadi petualang tanpa berpikir panjang. 

Jika aku bisa menyeret mereka semua masuk, arusnya akan berubah. 

Masalahnya adalah... 

“Mencari mereka itu yang sulit...” 

Bahkan guild tidak selalu tahu lokasi mereka.

Dan aku harus menemukan mereka dalam waktu singkat. 

Itu saja sudah merupakan misi yang sangat tidak masuk akal. 

“Apa Anda punya petunjuk?” 

“Yah, mungkin saja.” 

Aku menghela napas panjang.

Mencarinya mungkin bisa. Tapi bertemu mereka itu yang melelahkan. 

Berkumpul dengan orang-orang itu saja membuatku lelah.


Bagian 5

Lalu kejadian kembali ke awal. 

Setelah mengakhiri percakapan dengan Fine, aku membuat gerbang teleportasi dan bersiap untuk berangkat. 

“Tuan Silver. Siapa yang akan Anda temui dahulu?”

“Satu-satunya yang pasti keberadaannya hanya satu orang. Sebelum dia tersesat lagi, kita harus menemui si tua itu dulu.” 

“Berarti Anda menemui si Pendekar Tersesat itu dulu, ya? Sisanya adalah Pendekar Tinju Dua Kutub, Dewa Busur Pengembara... dan Pendekar Pedang Sihir Penghancur Ruang yang sama misteriusnya dengan Anda, Tuan Silver. Mereka semua hanya hidup sebagai rumor yang berkembang sendiri. Apakah mereka bisa diajak bicara?” 

“Satu-satunya yang kemungkinan bisa diajak bicara adalah Kakek Egor. Masalahnya orang itu punya kebiasaan tersesat yang parah, tapi sekarang dia sedang tinggal di satu tempat. Dari sisi itu saja, situasinya lumayan.” 

Kalau bukan begitu, orang itu bisa tersesat sampai puluhan tahun. Dia yang paling sulit ditemukan, dan justru karena itu pula dia yang paling sulit diajak bicara. 

“Bagaimana dengan tiga orang lainnya?” 

“Kita tidak tahu sampai bertemu langsung. Aku tidak mengira mereka akan menolak mentah-mentah untuk bekerja sama... tapi kita pasti akan punya utang budi besar. Terutama karena aku baru-baru ini sempat bermusuhan dengan Dewa Busur.” 

Sulit membayangkan mereka akan membantu tanpa syarat. 

Mencari mereka saja sudah merepotkan, apalagi meyakinkannya. 

Pada dasarnya, masing-masing dari mereka bukan orang yang suka mendengarkan orang lain. 

“Ugh...”

“Semangatlah! Saya juga akan melakukan apa pun yang bisa saya lakukan dari sini!” 

“Mendengar itu saja rasanya semangatku sedikit kembali. Kalau begitu, aku berangkat.” 

“Baik. Selamat jalan.” 

Fine menundukkan kepala. 

Diantar oleh Fine yang seperti itu, aku pun melakukan teleportasi.


* * *


Tempat yang kutuju dengan teleportasi adalah suatu wilayah otonom di dalam Kekaisaran, Desa Dwarf. Egor seharusnya berada di sana, menjaga Sonia dan yang lainnya. 

Gordon, yang pernah memanfaatkan Sonia, masih hidup. Setidaknya sampai Gordon benar-benar dilumpuhkan, Egor pasti tidak akan menjauh darinya. 

Sampai-sampai dia memanfaatkan aku demi menyelamatkannya. 

Egor rupanya cukup menyukai Sonia, yang mana itu tidak biasa. 

Dengan pikiran itu, aku melangkah menyusuri Desa Dwarf. 

Aku tiba di dekat gubuk tempat Sonia dan yang lainnya tinggal, tetapi tak terasa ada jejak orang di sana. Sebaliknya, dari pusat desa terdengar suara gaduh. 

“Festival?” 

Dari suara bising itu, jelas mereka sedang berpesta besar-besaran. 

Dwarf memang peminum berat dan penggila festival. Ada sedikit alasan saja, langsung minum dan mengadakan perayaan. Mungkin ini salah satu dari itu. 

Saat aku berjalan mendekat, semakin dekat aku ke pusat desa, semakin banyak dwarf yang bergelimpangan sambil memeluk kendi minuman dan tertidur. 

Aku sempat ragu ingin membangunkan mereka karena tidur di tanah bukan ide bagus, tapi melihat betapa nyenyaknya mereka, dan mengingat jumlahnya bukan hanya satu dua, aku menyerah dan terus bergerak. 

Tiba-tiba, terdengar tawa bodoh meledak dari depan. 

Mengitari api unggun raksasa, para dwarf menenggak arak sambil tertawa terbahak-bahak. Dari kelihatannya, mereka sudah berpesta sejak tadi malam. 

Di antara kerumunan, yang paling berisik adalah sekelompok dwarf bertubuh besar. Dan di tengah mereka, berdiri seorang Dwarf tua bertubuh kecil. 

“Hei, hei! Kalian tak mungkin bisa melihatnya! Saksikan kelincahan tangan sang pendekar pedang ini!” 

“Wahahaha!! Bagus! Teruskan!!” 

“Gila! Cepat banget sampai nggak kelihatan!!” 

“...”

Egor, di tengah-tengah kerumunan, sedang mempertunjukkan sebuah “keahlian”. 

Dia berdiri telanjang bulat, hanya berbekal dua ember yang digunakan untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, dan menukarnya dengan kecepatan mengerikan. Secepat itu hingga benar-benar tidak terlihat. 

Kalau para pendekar pedang di seluruh benua melihat adegan ini, mereka pasti terdiam tak bisa berkata apa-apa. Namun bagi para dwarf, pertunjukan itu justru sangat lucu sampai mereka terbahak sambil memeluk perut. 

Melihat ini, aku semakin yakin bahwa bukan kali pertama dia mempertontonkan itu. 

Inilah alasan aku benci para petualang peringkat SS. 

“Haa...” 

Aku mengembuskan napas seraya menatap langit. 

Kenapa aku harus meminta kerja sama dari orang tua itu? 

Saat kukembalikan pandangan, tingkah konyol Egor malah meningkat. Para dwarf memulai permainan melempari biji-biji kecil ke arah selangkangannya. 

“Hajar! Tembuskan!!” 

“Uoooooooo!!” 

“Manis sekali! Jangan mimpi kalian bisa menembus pertahananku!” 

Egor menepis semua lemparan itu dengan kedua embernya. 

Para dwarf berseru kecewa, dan para pemuda mulai mengantre untuk menjadi penantang berikutnya. 

Aku benar-benar tidak ingin menyapa kerumunan itu. 

Saat aku bingung harus bagaimana, para wanita dwarf muncul sambil membawa nampan makanan. 

“Hei! Makan malam sudah siap! Pakai bajumu dulu!” 

“Apa!? Sudah waktunya!? Pada akhirnya, tidak satu pun dari kalian mampu menembus pertahananku...” 

Egor bergumam sedikit kecewa. 

Jadi sebenarnya dia ingin kena lempar? 

Aku tidak bisa mengerti orang ini. 

Saat aku berdiri terpaku karena kehabisan kata-kata, Sonia—yang ikut membawa nampan makanan bersama para wanita dwarf—datang. Dia langsung menyadari kehadiranku. 

“Tidak mungkin...? Kenapa kamu di sini!? Ada apa!?” 

“Hmm?” 

Karena suara Sonia, barulah para dwarf yang tadi tertawa terbahak-bahak itu menoleh ke arahku. 

Wajah mereka memerah, jelas karena arak. 

“Siapa orang yang kelihatan muram itu?” 

“Paduka tidak tahu? Dia itu, orang itu loh. Yang sedang ramai dibicarakan di ibu kota... Gold!” 

“Silver.” 

Aku benar-benar tak punya tenaga untuk marah ataupun membantah keras. 

Aku hanya mengoreksi dengan lemah, dan raja dwarf itu—pria yang dipanggil Paduka—mengangguk beberapa kali sebelum tertawa lebar. 

“Oh! Begitu rupanya! Rekan sejenis Egor, ya! Kamu datang di saat yang tepat! Minumlah bersama kami! Kebetulan, Putri dari perbatasan timur dan sang Duke baru saja mengirimkan banyak sekali minuman! Minumlah sepuasnya!!” 

“Kalian sudah berhari-hari minum tanpa henti... Sudah, istirahatlah,” kata Sonia pada raja dwarf dengan tampang takjub. 

Rupanya Sonia sudah cukup akrab dengan para dwarf. 

Saat aku memikirkan itu, Egor mendekatiku.

Dan masih tanpa sehelai benang pun. 

“Kamu datang di saat yang bagus, Silver! Saksikanlah pertahananku!!” 

Dia kembali menukar embernya dalam kecepatan kilat. 

Memang hebat, tapi tidak berguna. 

“...Lalu?” 

“Anak-anak muda di sini tidak bisa menandingiku! Kamu coba sini!” 

“Oh! Pertarungan antar petualang SS! Bagus! Lakukan!!” 

Raja dwarf tampak sangat bersemangat, dan para dwarf lain bersorak-sorai. 

Sebuah biji dilemparkan ke tanganku. 

Aku spontan menatap Sonia, dan Sonia hanya memberi senyum simpul. 

“Kalau tidak kamu lakukan, ini tidak akan selesai.” 

“Begitu, ya...” 

“Dari arah mana saja, aku siap!!” 

Egor makin memutar embernya dengan kecepatan konyol. 

Aku menghela napas sekali lagi, memperkuat tubuhku, dan melempar biji itu dengan kekuatan penuh. 

Tidak perlu timing. 

Biji itu mengenai ember, menembusnya, dan langsung menghantam selangkangan Egor. 

“Guhhhooooo!!?!?” 

“Uooooooo!!” 

“Gila! Kena, lho!!!” 

“Seperti yang diharapkan dari petualang SS!!” 

“...Haa.” 

Entah sudah berapa kali aku menghela napas di tempat ini. 

Egor, sambil memegangi selangkangannya, meringkuk dan merintih. 

“Kamu tidak punya belas kasihan pada orang tua...?”

“Dalam definisiku, seseorang yang bermain-main dengan ember seperti itu bukan orang tua. Pokoknya, ada yang perlu dibicarakan denganmu.” 

“T-Tunggu dulu... Aku lengah barusan, sakitnya duh...” 

Jadi kalau dia tidak lengah, jadinya tidak sakit...? 

Memikirkan itu saja membuatku menghela napas lagi.


Bagian 6

“Lalu? Apa tujuanmu datang kemari?”

Egor, yang akhirnya pulih dari luka di selangkangan, menyeruput teh yang diseduh Sonia di dalam gubuk. Di sampingnya ada botol minuman keras, dan begitu dia hendak meraihnya setelah meneguk teh, Sonia sudah lebih dulu merebutnya.

“Tidak boleh. Kakek, kamu sudah berpesta minum selama berhari-hari, kan?” 

“Aaaah... kebahagiaanku...”

Egor menjatuhkan bahunya, murung. 

Sepertinya setelah tinggal di sini beberapa lama, hubungan kekuatan mereka sudah terbentuk dengan jelas. 

Dengan wajah merajuk, Egor menggoyang-goyang cangkir teh dan terus memandangi daun teh di dalamnya. 

“Sederhana saja, kita butuh mengumpulkan para petualang peringkat SS. Aku ingin kamu bekerja sama.” 

“Sekarang aku ingat, sempat terdengar kabar tentang sidang investigasi itu.” 

“Dewan saat ini sepertinya ingin memaksa para petualang SS berada di bawah kendali mereka.” 

“Bodoh sekali. Aku tidak keberatan membantu, tapi bukan cuma-cuma. Aku sibuk.” 

Sibuk? 

Mendengarnya, aku menatap Sonia, yang barusan menyita minuman Egor. 

Sonia hanya menghela napas dan menggeleng. 

“Yang dia lakukan cuma minum dan berpesta bersama semua orang.” 

“Terdengar sangat sibuk.” 

“Benar, benar sekali!” 

Melihat Egor tertawa dengan puas, aku dan Sonia menghela napas bersamaan. 

Benar-benar merepotkan. Kakak dan sang Duke juga sama saja.

Bahkan anak kecil pun tahu apa jadinya kalau kamu memberikan banyak minuman keras kepada kaum dwarf. 

“Jadi? Apa yang harus kulakukan?” 

“Sebelum itu, aku perlu bertanya dulu. Kamu tahu keberadaan petualang yang lain?” 

“Ada beberapa yang kutahu tempatnya. Itu pun pasti merepotkanmu kalau harus mencarinya satu-satu. Biar kuberitahu saja.” 

“...Kamu tahu?” 

“Satu orang sudah pasti. Dua lainnya setengah-setengah.” 

“Itu cukup. Katakan.” 

“Yang pasti adalah si Dewa Busur Pengembara.” 

“Jadi dia tidak mengembara, ya...”

Mendengar Sonia nyeletuk begitu, aku menjatuhkan bahu. 

Gelar para petualang SS diberikan oleh guild. 

Ini bertujuan agar terlihat lebih bergengsi dan agar ciri khasnya mudah dikenali oleh semua cabang guild di seluruh benua. 

Biasanya, gelar itu memang mencerminkan kemampuan atau sifat si pemilik. 

Kalau dia Dewa Busur Pengembara, mestinya dia mengembara. 

“Mungkin ada alasannya.” 

“Benar. Sekarang dia ada di sebuah kota kecil di utara Kerajaan Perlan. Kota yang minumannya lezat.” 

“Jadi di Bayeux.” 

Egor mengangguk berkali-kali. 

Bayeux terkenal sebagai pusat penghasil minuman terbaik di Kerajaan Perlan. Surga bagi para peminum. 

Jadi dia di sana. Terakhir kali aku bentrok dengannya, dia sedang menjalankan tugas dari Kerajaan Perlan. Ternyata dia masih tinggal di wilayah Kerajaan. 

Jarang terjadi. 

“Pemanah terhebat di antara para petualang, Jack, sedang menenangkan hati di sana. Sekalian, belikan aku minuman juga. Yang mahal, ya.” 

“Kalau cuma itu, tidak masalah... Tapi apa yang terjadi pada Jack?” 

Jack, si Dewa Busur Pengembara, adalah petualang yang suka berkelana keliling benua hanya kalau sedang mood, sedikit mirip Egor yang tersesat setiap kali berkelana, hanya saja Jack tahu jalan pulang. 

Katanya dia sedang mencari sesuatu, tapi tidak ada yang tahu apa yang dia cari. 

Beberapa tahun terakhir dia lebih sering berada di bagian barat benua, dan urusan di Kerajaan Perlan biasanya menjadi tanggung jawabnya. Dia menerima semua pekerjaan selama dibayar, jadi terakhir kali aku bertemu dengannya, kami malah menjadi musuh. Ya, dia hanya menjalankan tugas, jadi kupikir itu sebaiknya kulupakan. 

Namun tetap saja, si pemabuk santai seperti Jack harus “menenangkan hati”? Ada apa? 

“Kasihan juga si Jack...”

“Apa dia sedang berduka?” 

“Bisa dibilang begitu.” 

Egor menunduk, meminum teh, lalu berkata pelan, “Dari semua selingkuhan yang dia punya di seluruh benua, sepuluh wanita sekaligus memutuskan hubungannya...”

“Jelek sekali... Petualang SS itu...” 

“Jangan lihat aku. Jangan samakan aku dengannya.” 

Kupikir ada masalah serius, ternyata dia hanya diputuskan. 

Lagi pula, dari kata-katanya, sepertinya Jack masih memiliki selingkuhan lain. Lebih baik semuanya menusuknya saja. 

“Jadi, Jack sekarang tenggelam dalam arak. Mencarinya mudah saja. Cari saja laki-laki yang menghamburkan uang untuk wanita dan minuman, pasti itu dia.” 

“Sungguh sampah...” 

“Dulunya dia pemuda yang baik. Dia naik ke peringkat SS di usia awal dua puluhan, tapi tidak lama setelah itu istri dan putrinya kabur darinya. Sejak itu dia tenggelam dalam wanita dan minuman. Ironisnya, kemampuan memanahnya justru meningkat puluhan kali lipat setelah terjerumus.” 

“Berarti karakter buruk dan kemampuan tidak selalu berhubungan.” 

Aku mengangguk mendengarnya. 

Tidak ada petualang peringkat SS yang benar-benar berperilaku baik. Orang yang kuat selalu berbeda dari orang biasa. Elna adalah contohnya. Bahkan ada teori bahwa semakin rusak kepribadiannya, semakin kuat. 

“Memang waktu pertama bertemu pun dia sedang minum. Kalau orang awam melihatnya, pasti mereka mengira dia cuma pria paruh baya yang pemabuk.” 

“Tapi dia kuat, ‘kan?” 

“Benar. Waktu bertemu kedua kali, dia menetralkan sihir kunoku dan merampas target buruanku.” 

Memang aku belum serius waktu itu, tapi tetap saja memalukan. 

Dan membajak pekerjaan orang lain itu tindakan tidak sopan. 

Kalau aku tidak menahan diri, mungkin saat itu sudah jadi perang. 

“Dia peringkat SS tapi merebut buruannya orang?” 

“Dia itu orang yang menghabiskan uang lalu bekerja lagi, lalu menghabiskan uang lagi. Mungkin waktu itu dia lagi butuh uang.” 

“Mendengar cerita Kakek, kelihatannya kalian cukup dekat?” 

“Ah, karena kami sama-sama suka tersesat. Jadi kami sering bertemu.” 

“Kamu tersesat, tapi tidak dengan Jack.” 

“Dia tersesat, tersesat dalam hidupnya.” 

“Dia pasti akan menyangkal itu.” 

Egor tersesat di jalan, Jack tersesat dalam hidup. 

Mungkin karena itu mereka cocok. 

Memikirkan itu, aku bangkit berdiri. 

“Kalau begitu, aku akan pergi menemuinya.” 

“Kamu tidak ingin tahu tentang dua lainnya?” 

“Nanti saat aku kembali. Aku juga harus singgah lewat markas pusat setelah dari Kerajaan Perlan. Akan kubahas setelah itu.” 

“Baiklah. Aku tunggu oleh-olehnya.” 

“Hati-hati, ya. Jangan sampai bertarung.” 

“Tenang saja. Aku dewasa.” 

Setelah berkata begitu, aku membuka gerbang teleportasi dan berangkat menuju kota Bayeux di wilayah Kerajaan Perlan.


Bagian 7

Di wilayah utara Kerajaan Perlan, kota kecil bernama Bayeux.

Kota itu terkenal sebagai surga pencinta arak, tempat di mana para pemburu minuman lezat datang dari seluruh penjuru benua. 

Mengincar para wisatawan itu, jasa penyedia wanita penghibur pun berkembang pesat, membuat para peminum datang bukan hanya demi arak, tetapi juga hiburan. 

Setibanya di Bayeux dengan menggunakan sihir pemindahan, aku langsung menyamarkan diri dengan ilusi dan berbaur dengan warga.

Kekaisaran Adrasia dan Kerajaan Perlan sedang berperang, dan aku adalah petualang peringkat SS yang jelas memihak Kekaisaran. Apa pun yang kukatakan, fakta itu tidak akan berubah. 

Kalau Silver muncul begitu saja di kota Kerajaan, sudah pasti kekacauan tak terhindarkan. 

“Padahal orang di balik nama itu jauh lebih bermasalah.” 

Bagaimanapun juga, aku adalah pangeran Kekaisaran. 

Jika identitasku terbongkar, pasukan Kerajaan pasti akan dikerahkan. 

Merepotkan sekali. 

Sambil memikirkan itu, aku menghampiri pria paruh baya yang sedang menjual arak di tokonya. 

“Permisi, di mana aku bisa menemukan arak termahal di kota ini?” 

“Arak mahal? Kalau arak enak, tempatku yang nomor satu, tahu?” 

“Temanku memintaku membeli arak yang mahal. Jadi aku sedang mencarinya.” 

“Temanmu itu nggak tahu apa-apa soal arak.” 

“Aku setuju. Tapi permintaan tetaplah permintaan.” 

“Hmph, ya sudah. Kalau bicara yang mahal, mungkin toko Baldur. Rasanya juga yah, nomor dua setelah kami. Ikuti jalan utama saja, nanti juga kelihatan.” 

Pria itu menjawab sambil agak meringis.

Kurasa dia sebenarnya mengakui kualitas saingannya juga. 

Sambil tersenyum kecil, aku meletakkan sekeping koin emas dan mengambil sebotol. 

“Terima kasih. Kubeli satu botol.” 

“Ayolah, koin emas tuh berlebihan!” 

“Itu biaya informasi. Dan karena kamu tetap merekomendasikan tempat lain meski bisa saja menjual punyamu sendiri. Arak ini akan kuminum sendiri.” 

“Oh, o-oh. Yah, kami memang diajarkan berdagang dengan jujur sejak zaman Ayah dan Kakek.” 

Pria itu menggaruk kepala dengan wajah malu. 

Diantar olehnya, aku melangkah menyusuri jalan utama.

Tak lama, sebuah toko besar dengan papan bertuliskan ‘Baldur’ terlihat. 

“Ini dia.” 

Aku masuk ke dalam dan mencari pemiliknya.

Di sudut toko, seorang pria besar berkepala botak sedang duduk dengan tampang percaya diri. 

“Permisi. Apa benar Anda pemiliknya?” 

“Aaah, benar. Aku Baldur.” 

“Temanku meminta arak mahal. Katanya di sini harganya tinggi tapi rasanya sepadan. Bisakah kubeli yang paling bagus satu botol?” 

“Hmm! Arak di sini memang lebih mahal dari tempat lain, tapi kalau bicara rasa, tak ada yang berani bilang terlalu mahal!” 

“Itu terdengar menjanjikan.” 

Dengan bangga, Baldur mulai memilih minumannya. 

Para penjual arak di Bayeux umumnya meracik arak mereka sendiri.

Wajar kalau mereka punya harga diri tinggi. Di kota ini, persaingan antar toko sangat ketat. 

“Yang ini bagaimana?” 

“Berapa harganya?” 

“Satu koin emas.” 

“Harga yang lumayan. Sesuai reputasi tempat ini.” 

“Rasanya juga sepadan!” 

“Kalau begitu, pembelian yang bagus.” 

Aku menyerahkan koin emas dan menerima botolnya. 

Baldur terlihat sangat puas dengan pujian dan penjualannya.


Lalu aku bertanya, “Bagaimana keadaan bisnis? Kan sekarang Kerajaan Perlan dan Kekaisaran Adrasia sedang berperang. Bukannya penjualan merosot?” 

“Yah, memang begitu. Tapi sekarang kami punya pelanggan besar, jadi aman.” 

Kena kamu.

Dilihat dari sifat Jack, dia pasti membeli minuman-minuman mahal. Aku sudah menduga dia ada di kota ini. 

“Pelanggan besar?” 

“Iya. Entah bangsawan kaya atau orang kaya gila dari mana, tapi sejak beberapa bulan lalu dia menyewa seluruh penginapan terbesar di kota ini dan pesta terus tiap hari. Dia membeli arak dari toko ini dalam jumlah besar, memanggil banyak wanita, dan berpesta.” 

“Orang yang beruntung.” 

“Buat kami juga berkah besar. Dan ternyata orang itu bisa menilai rasa minuman dengan baik.” 

“Kalau begitu aku ingin melihatnya. Penginapan mana yang dia sewa?” 

“Jalan utama lurus saja. Penginapan paling besar di kota ini, pasti kelihatan.” 

“Baiklah. Akan kucoba lihat-lihat.” 

Aku meninggalkan toko dan menyusuri jalan utama.

Tak lama, sebuah penginapan besar tampak berdiri mencolok. Pasti yang ini.

Aku berjalan mendekati penginapan itu.

Namun...

“Maaf, penginapan ini sedang disewa sepenuhnya. Silakan pergi,” kata dua pria penjaga sambil menghalangi jalanku. 

Pengawal penginapan, rupanya. 

Aku tersenyum kepada mereka.

“Maafkan aku. Aku pergi sekarang.” 

Dan aku berjalan lurus ke depan. 

Tentu saja mereka tidak bereaksi.

Yang mereka lihat hanyalah ilusi diriku yang berbalik pergi. 

Tidak perlu membuat keributan, aku tetap menjaga kedamaian ini.

Kalau ingin meminta tolong pada Jack, aku harus menjaga suasana tetap tenang.

Aku memasuki penginapan. Dari dalam terdengar suara gaduh.

Mengikuti suara itu, aku tiba di sebuah ruangan besar.

Pintunya dibiarkan terbuka, dan dari sana terdengar suara seorang pria dan banyak wanita. 

“Di mana? Di maaana? Cantik-cantik, ayo keluarlah~!”

“Di sini, Tuan Jack!” 

“Tidak, di sini~!”

Di ruangan itu, seorang pria paruh baya dengan penutup mata sedang bermain kejar-kejaran dengan belasan wanita penghibur.

Dia jalan sempoyongan, jelas mabuk berat.

Setiap kali hampir menangkap seorang wanita, mereka melompat menghindar sambil terkekeh. 

Betul-betul bajingan. Yang membuatku kesal adalah teknik tempurnya yang bisa menyaingi diriku. 

Saat aku mengamati dari balik bayangan, Jack meraih botol minuman dan menenggaknya sampai habis. 

“Puhah!” 

“Luar biasa, Tuan Jack!” 

“Hahaha, tentu saja!” 

Setelah menerima tepuk tangan para wanita, Jack tertawa puas. 

Lalu tanpa peringatan, dia mengambil botol lain dan melemparkannya tepat ke arahku. 

Aku menahan botol itu dengan penghalang. 

“Sial, pantas saja minuman ini terasa hambar... rupanya ada laki-laki yang mengintip.”

“Kalau kamu bisa merasakan kehadiranku, mustahil kamu tidak menyadari keberadaan para wanita itu. Permainan yang konyol.” 

Walau matanya tertutup, Jack tetap seorang ahli yang mampu menembak musuh dari kejauhan tanpa meleset.

Itulah Jack. Bukan tanpa alasan dia dijuluki Dewa Busur. 

Para wanita penghibur itu mungkin merasa mereka berhasil menghindar tepat ketika dia mendekat, tapi kenyataannya Jack bisa menangkap mereka kapan pun dia mau. 

Benar-benar sandiwara. 

“Hei hei, pantes saja kupikir suara suram ini familiar, ternyata kamu.” 

“Lama tak bertemu, Jack. Gangguanmu waktu itu luar biasa.” 

Aku pun melepaskan ilusi penyamaranku.

Tak ada gunanya membuang energi sihir jika sudah ketahuan.

Lagipula, seluruh tempat ini disewa. 

Sedikit keributan dari para wanita tidak akan menjadi masalah. 

“Jadi apa maumu, Silver? Aku sedang sibuk.” 

“Tidak terlihat begitu.” 

Menanggapi ucapanku, Jack mendekap para wanita yang ribut itu ke dalam pelukannya. 

“Aku sedang bermain dengan gadis-gadis manis ini. Kalau kamu tak bisa melihat itu, buang saja topengmu itu.” 

“Kudengar kamu diputuskan selingkuhanmu. Kalau terus begini, selingkuhan lain juga akan pergi.” 

“Hei... Kamu datang untuk menantangku bertarung?” 

Jack melepas wanita-wanita itu dan menatapku tajam.

Dia berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda dari yang tadi.

Para wanita pun ketakutan, buru-buru menjauhkan diri mereka dari Jack. 

“Aku tidak datang untuk bertarung. Tidak sudi sebenarnya, tapi aku butuh bantuanmu.” 

“Bantuan? Hmph, apa pun itu, aku tak berniat mendengarnya.” 

“Haah... Karena kamu enggan mendengar perkataan orang lain, istri dan anakmu kabur.” 

Kata-kataku itu menjadi pemicu. 

Jack langsung menerjangku.

Sudah kuduga. Aku membuka gerbang teleportasi tepat di depanku, terhubung ke rumah Egor. 

“Pergi duluan. Aku bantu bawa barang-barangmu.” 

“Apa!? Silver!! Bajingan!!” 

Jack berhenti di detik terakhir, tapi aku sudah bergerak ke belakangnya dan mendorongnya masuk.

Dia tersedot ke gerbang tanpa sempat melawan. 

Selesai. Kalau pun dia mengamuk di sana, Egor pasti bisa menghadapinya.

Inilah namanya pertarungan orang dewasa. 

“Sekarang, di mana barang-barangnya?” 

Para wanita menunjuk ke satu sudut ruangan.

Di sana hanya ada barang bawaan sederhana dan sebuah busur.

Sungguh gaya hidup seorang Dewa Busur Pengembara. Sangat ringan. 

Sambil memikirkannya, aku mengambil barang-barang itu dan masuk ke gerbang teleportasi yang masih terbuka. 

Dari Bayeux ke Desa Dwarf diperlukan dua kali teleportasi. Artinya, harus ada titik transit di tengah.

Tapi kalau kubiarkan begitu, Jack pasti kabur. Jadi aku membuat dua gerbang yang tersambung seperti terowongan. 

Teleportasi itu berat bagi orang biasa bahkan hanya sekali. Teleportasi beruntun tanpa jeda jelas jauh lebih berat.

Normalnya tidak boleh dilakukan orang biasa, tapi lawanku adalah petualang peringkat SS.

Tubuhnya pasti kuat menahannya. Walau, mungkin mabuknya akan makin parah. 

Rumah Egor mungkin sudah jadi bencana, tapi kurasa dia akan memaafkanku kalau kubawa minuman. 

Dengan pikiran itu, aku berpindah ke Desa Dwarf. 

Dan tentu saja... 

“Ini gara-gara kamu, dasar kakek brengsek!!” 

“Berisik! Tiba-tiba muncul dan muntah, itu adat negara mana, hah!?” 

“Diam! Mabukku makin parah gara-gara teleportasi, tolol!!” 

“Mabuk parah karena minum banyak itu salahmu sendiri, dasar dungu!” 

“Jangan lempar masalah itu padaku!!” 

Rumah Egor setengah hancur. Di luar, Egor dan Jack sedang saling banting.

Mereka berteriak seperti dua anak kecil yang mabuk. Aku menghela napas panjang. 

Tapi kemudian seseorang menarik ujung jubahku. 

“Jangan cuma lihat. Bisa tolong hentikan mereka?” 

“A-Ah...” 

Sonia.

Dia tersenyum manis, tapi auranya penuh dengan amarah.

Tekanan itu membuatku refleks mengangguk berulang kali. 

Aku menjebak keduanya dalam penghalang terpisah. 

Namun... 

“Diam dulu...” 

“Lembek!” 

“Rapuh!” 

“...”

Mereka menghancurkan penghalangku dengan satu pukulan.

Lalu mereka langsung kembali bertarung. Walau saling memukul dengan kekuatan setingkat monster, mereka nyaris tak ada yang benar-benar terluka. 

“Inilah akibatnya kalau orang-orang tidak waras bertemu...”

“Dan orang yang membawa dua orang tak waras itu ke rumah orang lain juga tidak waras. Mengerti?” 

“Jangan samakan aku dengan mereka. Aku tidak sampai mabuk seperti itu.” 

“Oh begitu. Kalau tanpa arak saja sudah tidak waras, berarti kamu lebih parah.” 

Nada Sonia yang terdengar seperti mengatakan kedua pemabuk itu masih lebih baik membuatku sedikit tertekan. Tapi tidak ada waktu untuk menanggapinya. 

Menghentikan dua orang itu adalah prioritasku. 

Aku menggeledah rumah yang setengah hancur dan menemukan tongkat putih Egor yang juga merupakan pedang kesayangannya. 

Aku membawa tongkat itu dan busur Jack, lalu memanggil mereka. 

“Hei, kalian berdua. Kalau kalian sayang senjata masing-masing, berhenti sekarang.” 

“Rendah sekali...” 

“Sebut saja pintar.” 

“Hah!? Silver... Kamu menculikku, lalu menyandera senjataku!? Kamu bercanda!?” 

“Hmph! Pedang kesayanganku mana mungkin bisa kamu rusak!” 

Aku mengangguk.

Senjata yang digunakan petualang peringkat SS jelas senjata kelas tertinggi.

Untuk menghancurkannya butuh waktu dan mereka tidak akan memberiku kesempatan. 

Tapi... 

“Aku tidak bilang mau menghancurkannya. Aku akan mengirimnya secara acak.” 

“Apa...? Kalau begitu aku tinggal mencarinya di seluruh benua ini! Lebih baik begitu daripada nurut sama kamu!” 

“Aku, aku masih bisa hidup tanpa tongkatku...” 

“Kalau begitu, minuman ini akan kukirim juga.” 

Aku menambahkan dua botol arak yang kubeli di Bayeux. 

“A-Apa!? Bahkan arak pun dijadikan sandera!?” 

“Brengsek... Kukira kamu cuma suram, ternyata kamu juga kejam!? Lepaskan botol itu!!” 

“Kenapa arak jadi yang paling ampuh...”

Di sampingku, Sonia bergumam dengan nada jengkel.

Inilah alasan para manusia tak masuk akal itu disebut manusia tak masuk akal. 

“Untuk saat ini tunda dulu urusan kalian dan dengarkan dulu apa yang akan kukatakan. Kalau kalian mau mendengarku, arak ini akan jadi milik kalian.” 

“...Baiklah. Berkelahi dengan si kakek sialan ini malah bikin mabukku hilang.”

“Aku juga tak keberatan selama bisa minum arak.” 

“Tapi bukannya arak itu bayaran untuk Kakek...?”

“Diam saja. Mereka sudah setuju. Negosiasinya selesai.” 

“...”

Dengan begitu, pertarungan sengit antara dua petualang peringkat SS pun akhirnya mereda.


* * *


“Investigasi? Kenapa aku harus ikut-ikut hal merepotkan begitu?”

Di rumah Egor yang setengah hancur, Jack mengernyit sambil menenggak arak. 

Aku dan Egor duduk berhadapan dengannya, berusaha membujuknya. 

“Aku juga pikir itu merepotkan. Tapi kalau kita biarkan, cepat atau lambat masalahnya bakal merambat ke kita juga, kan?”

Egor menuang arak hingga penuh ke cawannya, lalu menenggaknya sekaligus.

Jack menyusul dengan kecepatan yang tak kalah cepat. 

Dua botol jelas tak akan cukup. 

“Kalau makin ribet, aku tinggal keluar dari Guild Petualang. Aku cuma mau hidup bebas.”

“Justru supaya itu tidak terjadi, aku minta kerja sama kalian. Menenangkan dewan untuk kali ini saja masih bisa diupayakan. Dibanding meminta bantuan kalian berdua, itu jauh lebih mudah. Masalahnya, meski sekali dibungkam, mereka tak akan berhenti. Itu yang jadi masalah.” 

Kalau sasarannya nanti bukan aku, tapi para petualang peringkat SS lainnya, orang-orang itu pasti akan memilih keluar dari guild daripada berunding.

Kalau ingin mencegah itu, lebih baik kami menancapkan paku besar ke kepala dewan sejak sekarang. 

Para petualang SS bertindak semaunya. Mereka bergerak di tempat yang mereka suka, sesuka hati. Karena itu, dewan tidak punya gambaran nyata tentang apa itu petualang SS.

Mereka hanya tahu dari laporan di atas kertas, makanya mereka pikir masih bisa ikut campur. 

Tapi kalau melihat langsung, mereka akan sadar betapa salahnya dugaan itu. 

Tentu, itu bukan satu-satunya tujuan.


“Kalau mau bikin mereka nyerah, tinggal ledakin Babel dengan sihir. Beres.”

“Kisruh di Guild Petualang bisa bikin rakyat resah. Sekarang saja negara-negara besar lagi perang. Kita harus menghindari cara-cara keras.”

“Jadi cuma mau lewat jalur bicara, begitu?”

“Benar.”

“Demi rakyat, huh... susah juga hidupmu.” 

Jack menghela napas, lalu menyibakkan rambut rami kusutnya.

Mata Jack yang berwarna sama dengan rambutnya menatap lurus ke arahku. 

“Kalau para petualang peringkat SS keluar dari guild, seluruh benua bakal kacau. Aku juga tahu itu. Nggak ada pilihan lain, jadi kali ini aku bantu.” 

“Aku berterima kasih.” 

“Tapi aku nggak kerja gratis. Bantu aku mencari sesuatu.” 

Yah, sudah kuduga.

Jack pada dasarnya mengembara keliling benua demi mencari itu. 

“Baiklah. Setelah urusan ini selesai, aku akan membantumu mencari apa pun yang kamu cari. Sebisa mungkin, tentu saja. Ngomong-ngomong... sesuatu yang kamu cari itu istrimu dan anakmu?” 

“Awalnya, iya. Tapi... delapan tahun lalu istriku meninggal. Putriku dibesarkan oleh guruku. Sepertinya setelah pergi dariku, istriku bergantung pada guru itu. Tapi aku baru tahu ketika surat kabar duka dikirim padaku. Setidaknya aku cuma mau datang ke makamnya untuk meminta maaf, dan melihat bagaimana anakku tumbuh.” 

“Surat itu tak mencantumkan lokasinya?” 

“Tidak. Surat itu dikirim lewat guild. Sepertinya itu memang wasiat istriku, guruku tidak berniat mempertemukan kami. Aku pun tak berniat mengaku sebagai ayahnya. Aku tak punya hak itu. Hanya melihat dari jauh saja, itu sudah cukup.” 

Begitu rupanya. 

Aku mencari angin dan keluar rumah.

Aku menarik napas panjang lalu menatap langit. 

Jika itu gurunya Jack, berarti orang itu pengguna busur sihir.

Dan aku mengenal seorang gadis yang belajar busur sihir dan gaya bicara aneh dari seseorang yang dia panggil “Kakek”. 

Dilihat dari umurnya, tidak aneh kalau dia itu anaknya Jack. 

“Apakah kebetulan...?” 

Dunia ini luas, tapi kadang terasa sangat sempit. 

Tapi kalau kukatakan sekarang, Jack pasti langsung melesat ke negeri itu.

Untuk saat ini, sebaiknya diam dulu. 

Kalau memang bukan kebetulan melainkan takdir... 

Apakah benar aku boleh memberitahunya? 

“Dipikir terlalu jauh juga percuma.” 

Lagi pula, cepat atau lambat mereka pasti bertemu. 

Negeri itu tengah berperang dengan Kekaisaran.

Saat waktunya tiba, aku bisa menanyakannya padanya.

Apakah dia tertarik pada sosok ayah yang tak pernah dia lihat. 

Dan bisa jadi semua ini hanya kebetulan belaka. 

Dengan itu, aku kembali ke rumah Egor yang setengah hancur.


* * *


Untuk sementara, Egor dan Jack kutinggalkan menunggu di Desa Dwarf, sementara aku kembali ke markas pusat guild—kota Babel. 

Kalau sampai mereka ikut datang, para anggota dewan pasti akan menyadari bahwa aku sedang berusaha mengumpulkan para petualang peringkat SS. Kalau mereka mulai mengambil langkah pencegahan, atau memaksa mempercepat sidang investigasi, itu akan sangat merepotkan. 

Dengan adanya sosok Fine, duta besar Kekaisaran, dewan belum berani melaksanakan investigasi itu. Mereka masih akan berpura-pura seolah sudah melakukan banyak diskusi dengan sang duta besar. 

Namun, kenyataannya pembicaraan-pembicaraan itu sudah terjadi berulang kali. Waktu yang tersisa tidak banyak. 

Dalam waktu sesingkat itu, aku harus menemukan dua orang yang tersisa.


Bagian 8

Dengan menyamar sebagai orang biasa yang tidak mencolok lewat ilusi, aku masuk dari pintu depan menuju penginapan mewah tempat Fine menginap. 

Para kesatria pengawal yang juga menyamar sebagai warga biasa segera mengarahkan pandangan mereka padaku. 

“Aku ingin bertemu Nona Fine.” 

Ketika kutunjukkan wujudku sebagai Silver, para kesatria itu langsung paham dan menuju ruangan di bagian dalam. 

Tak lama kemudian, sang kapten, Ines, muncul. 

“Wah, wah. Langsung praktik di hari yang sama, itu niat yang bagus.” 

“Aku ini orang yang waras, jadi tentu saja.” 

“Orang yang waras itu masuk dari pintu depan tanpa disuruh. Silakan masuk.” 

Ines langsung menusuk bagian yang agak menyakitkan. 

Aku dibawa masuk ke dalam dan dipersilakan memasuki kamar Fine. 

Di dalam, Fine menungguku dengan wajah lelah. 

“Selamat datang kembali.” 

“Ada apa? Kamu terlihat lelah.” 

“Tadi sampai beberapa saat yang lalu saya berbicara dengan para anggota dewan... Berbicara dengan orang-orang yang sama sekali tak memberiku celah itu sungguh melelahkan...” 

“Maaf telah merepotkanmu.” 

“Tidak, sebatas inilah yang bisa saya lakukan... Namun, sepertinya Dewan Guild tidak mau menunggu lebih lama.” 

“Kuduga begitu. Kapan mereka bilang akan mengadakan investigasi?” 

“Dua hari lagi. Andai Tuan Al belum sadar, saya bisa membantah dengan alasan tidak mengakui posisi saya sebagai duta besar, tapi...”

“Tak perlu. Itu keputusan yang tepat. Kalau sampai digelar hari ini, itu memang menyulitkan, tapi kalau masih ada dua hari, masih bisa kuurus.” 

“Berarti Anda mendapat hasil!” 

“Aku berhasil menemukan dua orang. Tinggal dua lagi.” 

Ketika kukabarkan hasil itu, wajah Fine langsung cerah. 

Dia tersenyum seperti biasa dan mulai menyiapkan teh sambil bersenandung kecil. 

Lalu, ketika dia sadar sudah menuang untuk dirinya dan untukku, dia terlihat panik. 

“Ya ampun!! Saya sampai membuatkan untuk Tuan Silver juga!” 

“Tak apa. Kali ini aku minum.” 

Setelah berkata begitu, aku melepas topeng dan menghela napas. 

Fine melongo melihatku. 

“Anda yakin?” 

“Aku sudah menemukan orang yang paling patut kuwaspadai, dan dua orang lainnya tidak berada di markas pusat.” 

“Apa informasinya sudah pasti?” 

“Tidak seratus persen. Tapi tidak masalah. Dari Egor aku sudah tahu perkiraan lokasi mereka. Lagi pula, keduanya memang bukan orang yang suka muncul di markas pusat.” 

“Kalau Tuan Al bilang begitu, baiklah...” 

“Tak perlu khawatir. Lagi pula, aku juga butuh istirahat. Menghadapi orang-orang itu saja sudah melelahkan.” 

Sambil memutar leher dan bahu, aku menghembuskan napas dalam-dalam, lalu meneguk teh buatan Fine. 

Teh hangat itu merilekskan tubuhku yang lelah, dan rasa yang tak pernah berubah membuat pikiranku tenang. 

“Aah...” 

“Sampai sebegitu lelahnya...?” 

“Mereka itu orang-orang gila...”

Aku menyandarkan tubuh pada sandaran kursi dan memejamkan mata. 

Lalu, tangan Fine perlahan membungkus tanganku dengan lembut. 

“Mau beristirahat sebentar?” 

“Kalau bisa, aku mau... tapi dua orang sisanya adalah lawan yang sulit.” 

“Pendekar Tinju Dua Kutub dan Pendekar Pedang Sihir Penghancur Ruang. Di Kekaisaran pun saya hanya pernah mendengar desas-desus tentang mereka...”

Masih dengan mata terpejam, aku mengangguk. 

Keduanya memang tak terlalu punya hubungan dengan Kekaisaran Adrasia. 

“Pendekar Tinju Dua Kutub, Lienares, adalah salah satu yang paling unik di antara petualang peringkat SS. Dia hampir tidak pernah mengambil permintaan biasa.” 

“Maksudnya?” 

“Kecuali permintaan darurat dari guild, dia hanya menerima tugas menjaga wilayah.” 

“Menjaga wilayah?” 

“Di benua ini ada banyak tempat khusus yang dipenuhi energi sihir. Guild menyebutnya ‘titik khusus’. Dia hanya menerima tugas menjaga tempat-tempat itu. Lokasi seperti itu sering memancing munculnya penyihir buronan atau monster berbahaya. Bagi guild, menjaga titik khusus adalah tugas penting, jadi semuanya diserahkan pada Lienares. Di Kekaisaran Adrasia juga ada titik khusus, tapi karena aku ada di sana, guild tidak mau membebaninya. Karena itu, namanya tak begitu dikenal di Kekaisaran.” 

“Saya mengerti... tapi kenapa dia hanya menerima tugas semacam itu?” 

“Terkait itu... Kamu akan mengerti setelah bertemu dengannya. Dia menyerahkan pencarian titik khusus pada guild, dan berpindah dari satu titik ke titik lain di seluruh benua. Kabarnya sekarang dia berada di sebuah gunung. Maaf, tapi aku ingin meminjam bantuanmu untuk meyakinkannya.” 

Mendengar ucapanku, Fine sempat memiringkan kepala seakan tidak mengerti. 

Namun setelah beberapa saat, ketika dia memahami maksudku, dia tersenyum kecut. 

“Apa ada yang bisa saya bantu...?” 

“Sudah pasti. Kamu jauh lebih berguna daripada kalau aku pergi sendiri.” 

“Tapi saya tidak paham apa-apa soal ilmu bela diri...” 

“Tak apa-apa. Lienares adalah ahli bela diri terkuat di benua ini. Dalam bidang itu, dia berada di puncak. Siapa pun akan dianggap tak paham bela diri kalau di hadapan dia. Jadi hal semacam itu tak dibutuhkan.” 

“B-Baiklah... Saya mengerti! Kalau saya bisa membantu, saya akan berusaha!” 

Ketika aku sedikit membuka mata, Fine sudah mengepalkan tangan di depan dada, tampak penuh semangat. 

Niatnya memang bagus. 

Walau sebenarnya semangatnya itu tak terlalu penting. Hanya dengan berada di sana saja dia sudah sangat membantu. 

“Kalau begitu, mari kita minta bantuan Kapten Ines. Kamu ada rencana setelah ini?” 

“Tidak ada.” 

“Kalau begitu aman. Di antara para kapten pengawal, dia yang paling fleksibel. Walau kadang suka bicara berlebihan.” 

“Benarkah? Saya suka Kapten Ines, beliau perhatian.” 

“Orang seperti itu memang yang paling cocok mengurus urusan diplomatik.” 

Setelah itu, aku kembali mengenakan topeng. 

Waktu istirahatku selesai.

Saat sudah menata hati, aku bersiap untuk mulai bergerak. 

“Ngomong-ngomong, apa nama asli Pendekar Pedang Sihir Penghancur Ruang? Dia disebut sebagai sosok misterius yang sejajar dengan Anda, Tuan Silver...”

“Dia bermarkas di Kekaisaran Suci Sokal. Wajar kalau di Kekaisaran Adrasia hanya julukannya saja yang terdengar. Menurutmu, namanya apa?” 

“Eh? Apa itu nama yang bisa saya tebak?” 

“Ya. Siapa pun bisa menebaknya.” 

“Siapa pun...?” 

Fine memiringkan kepala, tanda tanya seakan muncul di atas kepalanya. 

Dengan senyum pahit aku memberi tahu jawabannya. 

“No Name. Itu sebutan untuknya.” 

“No Name...”

“Wujud, nama, bahkan jenis kelaminnya tak diketahui. Dibandingkan dia, misteriku belum ada apa-apanya.” 

“Mungkin ada alasan kenapa dia harus menyembunyikannya?” 

“Mungkin saja. Tapi kalau soal kepribadian, yang paling merepotkan tetap Lienares.” 

“Sampai sebegitunya...?” 

“Memang begitu. Siapkan mentalmu. Dia sangat merepotkan.” 

Aku mengerutkan wajah. Tak kusangka suatu hari aku justru datang menemuinya dengan sukarela. 

Hidup memang tak bisa ditebak. 

Setelah mendapatkan izin dari Ines, aku dan Fine tiba di sebuah titik khusus di timur laut benua. 

Tempat itu berada di perbatasan Kekaisaran Suci. Gunung Keramat, Shangri-La. 

Sepintas hanyalah gunung raksasa, tetapi semakin dekat, kepadatan sihir di udara langsung terasa. 

“Jadi ini Shangri-La... Rasanya agak sesak, ya.” 

“Aku sudah memasang penghalang padamu. Itulah sebabnya terasa sesak. Tanpa itu, kamu pasti sudah tumbang.” 

“Jadi gunung ini dipenuhi sihir sampai setingkat itu...”

Kepadatan sihir itu bahkan memengaruhi tumbuhan. 

Dekat puncak gunung, seluruh area tertutup bunga bercahaya hijau lembut. 

“Bunga ini...?”

“Itu bunga Kilau Zamrud. Sangat langka, tidak beredar umum. Tergantung cara pakainya, bisa jadi obat atau racun. Bunga ini hanya tumbuh di sebagian titik khusus, jadi ada permintaan pengambilan khusus untuknya.” 

“Benar-benar indah...”

“Memang terlihat seperti dunia mimpi. Tapi hanya segelintir petualang yang bisa melihatnya. Kepadatan sihir di gunung ini sangat memengaruhi monster yang hidup di sini. Rata-rata monster di sini berada pada tingkat AA.” 

“Rata-rata AA...?”

“Mereka tidak turun gunung karena tertarik pada sihir yang pekat, jadi aman. Tapi bagi orang yang hendak naik, itu gangguan besar. Untungnya kita langsung berpindah ke puncak.” 

Tanpa sihir teleportasi, ini akan menjengkelkan sekali. 

Monster memang tidak naik ke puncak, tapi jumlah mereka menumpuk di bawah, jadi menembusnya bukan hal mudah. 

“Terima kasih sudah memperlihatkan pemandangan langka ini.” 

“Baguslah kalau kamu senang. Tapi sayang sekali, ini hanya bonus.” 

Sambil mengangkat bahu, aku mulai berjalan menuju puncak. 

Tiba-tiba suara ledakan terdengar. Bukan sekali, melainkan berkali-kali, mengguncang udara. 

“S-Suara apa itu!?” 

“Jangan khawatir.” 

“T-Tapi saya tidak bisa tenang!” 

Karena suara itu terlalu keras, Fine sampai harus berteriak. 

Dengan nada agak malas, aku menjawab, “Itu hanya suara pukulan.” 

“...Maaf?” 

“Dia dijuluki Pendekar Tinju, ingat? Satu pukulan lurusnya saja punya kekuatan selevel sihir tingkat tinggi.” 

Tanpa berhenti, aku terus berjalan. Kalau berhenti, rasanya aku akan malas melanjutkan. 

Fine mengikuti di belakangku sambil ketakutan. 

Akhirnya, kami melihat sosok yang sedang berdiri tegak di tengah puncak. 

Sosok itu berhenti sejenak, lalu mengayunkan tinju dengan kecepatan tak tertangkap mata. 

Kemudian... 

“Masuk tanpa izin ke halaman rumahku, itu tidak sopan, Silver. Kamu memang selalu begitu buruk.” 

“Ada urusan penting, Lienares.” 

“Berapa kali harus kubilang? Panggil aku ‘Liena’.” 

Sosok itu berbalik, seorang pria berotot besar dengan tinggi lebih dari dua meter. 

Rambut panjang berwarna ungu muda, dengan mata yang sama warnanya. Kulitnya pucat, wajahnya dihias riasan tipis. 

Usianya terlihat sekitar tiga puluh, tapi sebenarnya tak ada yang tahu. 

Gerak-geriknya feminin, tapi penampilan luarnya sepenuhnya laki-laki. 

Lienares ini seorang lanang kemayu. 

“Uh...”

“Kenalkan, Nona Fine. Ini Ronald Lienares, dikenal sebagai Pendekar Tinju Dua Kutub. Dia ingin dipanggil Liena.” 

“Aduh, jangan sebutkan nama lengkapku! Kamu ini gak peka.” 

“Lienares. Di sini Nona Fine von Kleinert dari Kekaisaran Adrasia. Kamu pasti pernah dengar namanya.” 

“Ya, aku pernah mendengarnya. Si cantik nomor satu di Kekaisaran Adrasia, Putri Camar Biru. Dia bahkan lebih cantik dari yang dirumorkan. Sungguh cantik.” 

“S-Senang bertemu dengan Anda, Tuan Liena. Saya Fine.” 

Fine membungkuk anggun. 

Lienares menatapnya dari ujung kaki hingga kepala, seperti menilai barang seni. 

“...Sempurna! Luar biasa! Bukan hanya wajah, tapi gerak tubuh dan auranya juga indah! Cantik sekali! Selain diriku, belum pernah kulihat yang secantik ini!!” 

“Terima kasih banyak.” 

Fine menerima pujian itu dengan tulus.


Dari kata-katanya saja sudah jelas. Lienares punya penilaian sangat tinggi terhadap dirinya sendiri. Entah bagaimana caranya dia membandingkan dirinya dengan Fine. 

Tapi tingginya standar kecantikannya itulah yang membuatnya tinggal di titik khusus. 

Alasannya ada dua, melatih diri dan mempercantik diri. 

Berlatih di tempat padat energi sihir demi meningkatkan diri, dan hidup di tempat seperti ini untuk mengasah kecantikannya. 

Dia bahkan membuat ramuan kecantikan dari bunga Kilau Zamrud. 

Karena itulah dia dijuluki “Dua Kutub”, kekuatan dan kecantikan, maskulin dan feminin. 

Dia dikenal sebagai orang yang menguasai dua jalur, yang kemudian dikenal ahli dari dua sisi ekstrem. 

“Silver, meski kamu memakai topeng jelek tanpa selera begitu, kamu bisa juga membawa anak secantik ini! Kamu dan anak ini bagaikan langit dan sumur!” 

“Maaf tentang topengku ini. Ada yang perlu kubicarakan hari ini. Bisa kami masuk dulu?” 

“Sebenarnya aku tak mau membiarkan pria norak sepertimu masuk... tapi karena Fine ikut, jadi kubiarkan saja. Masuklah.” 

“Terima kasih, Tuan Liena!” 

“Aduh! Jangan pakai ‘Tuan Liena’! Kita sama-sama cantik, jadi panggil saja ‘Liena’, ya?” 

“T-Tapi itu terlalu tidak sopan!”

“Jangan segan begitu!” 

“K-Kalau begitu, Liena...” 

“Ya, tidak apa. Aku punya teh spesial. Bagus untuk kecantikan! Silver, kamu jalan agak jauh di belakang.” 

“Ya, ya.” 

Dengan helaan napas, aku mengikuti Lienares.

Lienares jelas-jelas tidak menyukai topengku. Setiap kali kami bertemu, dia selalu mengeluh soal topeng ini. Karena itu, kupikir meski aku mengatakan ingin bicara, dia tidak akan mau mendengarkanku. Maka dari itu aku membawa Fine, dan ternyata itu keputusan yang tepat. 

Lienares memang punya standar kecantikan yang agak gila jika menyangkut dirinya sendiri, tapi untuk hal lain, selera estetiknya masih cukup normal. 

Kalau soal keindahan, Lienares memang rewel. Karena itu, aku yakin dia pasti akan menyukai Fine kalau kubawa bersamanya. 

Setidaknya tahap pertama sudah lolos. 

Setelah berjalan beberapa saat, tampak sebuah rumah yang luar biasa imut. 

Aku heran bagaimana dia bisa membangun rumah seperti ini di puncak gunung...

“Silakan masuk ke dalam.” 

Dengan begitu Lienares mempersilakan Fine masuk. Sesudahnya aku ikut melangkah masuk, tapi Lienares menggeleng keras seakan-akan melarangku. Sebegitunya dia benci topeng ini, ya. 

Bagian dalam rumahnya sangat feminin. Di mana-mana terlihat pernak-pernik ungu, sama dengan warna rambutnya. Itu pasti semacam preferensi pribadi miliknya. 

“Ungu yang indah! Sangat cocok denganmu, Liena!” 

“Benar, kan!? Aduh, kamu itu memang mengerti!” 

“...”

Kemampuan Fine memuji tepat di titik yang ingin didengar lawan bicaranya adalah salah satu kelebihannya. 

Dengan mudah dia bisa masuk ke hati seseorang. Dan itu membuat negosiasi berjalan jauh lebih lancar. 

Jabatan duta besar memang seperti takdir yang pas untuk Fine. 

Saat aku memikirkan itu, Lienares mengeluarkan kursi tamu. 

Hanya satu dan untuk Fine. 

“Lalu kursiku?” 

“Kamu berdiri saja. Kalau kamu menyentuh barang-barangku, akan kulempar kamu sampai ke Kekaisaran.” 

“...”

Hampir saja ingin kuhancurkan rumah ini, tapi aku berhasil menahan diri. 

Toh Fine sudah disukai, dan sepertinya kami bisa membujuk Lienares. Merusak suasana sekarang jelas bukan ide bagus. 

Begitulah, proses negosiasi dimulai. 

“Baiklah, sekarang aku dengar ceritanya.” 

“Sebenarnya...” 

“Aku sedang bicara pada Fine, bukan kamu. Kalau ingin bicara denganku, lepaskan dulu topeng jelek itu.” 

“...”

Orang ini...! 

Aku hanya bisa menahan wajahku yang tertekuk. Namun sebelum aku sempat membalas, Fine sudah mengambil kendali percakapan. 

“Kalau begitu, izinkan saya yang menjelaskan dulu. Liena tentu sudah mendengar kabar bahwa Tuan Silver dituduh berpihak pada Kekaisaran Adrasia, bukan?” 

“Maksudmu soal dia membunuh Naga Suci dari Persatuan Kerajaan Egret? Hanya membunuh dua ekor naga tua, dan itu dianggap berpihak pada Kekaisaran? Berlebihan.” 

“Tapi keduanya adalah Naga Suci Pelindung negeri itu. Karena intervensi itu, Kekaisaran terselamatkan, dan pasukan pemberontak terpaksa mundur. Dewan Guild menilai tindakan itu tidak seharusnya dilakukan seorang petualang peringkat SS, dan sedang bersiap menjatuhkan sanksi pada Tuan Silver.” 

“Bodoh. ‘Naga Suci Pelindung’. Nama itu saja sudah menunjukkan segalanya. Mereka dibiarkan karena digunakan untuk mempertahankan negara. Kalau mereka dipakai untuk menyerang, mereka tak lebih dari monster biasa. Sama halnya jika kita para petualang SS keluar dari batas peran kita, kita langsung dipandang sebagai ancaman terbesar di benua ini.” 

“Dewan Guild menilai Tuan Silver memang sudah keluar dari batas itu. Katanya, keberpihakannya pada Kekaisaran sudah terlalu jauh.” 

“Begitu ya. Logika yang indah. Apa tujuan mereka sebenarnya?” 

“Menempatkan para petualang SS di bawah kendali Dewan Guild. Jika Tuan Silver berhasil mereka tekan, itu akan menjadi preseden. Pada akhirnya semua petualang SS akan kehilangan kebebasan mereka.” 

Mendengar itu, Lienares tertawa kecil. 

Kemudian tanpa berkata apa-apa, dia berdiri dan mulai menyiapkan teh. 

Selama itu, Fine sama sekali tak membuka mulut. 

Setiap orang butuh waktu untuk berpikir. 

“Silakan, Fine.” 

“Terima kasih.” 

Lienares menyerahkan secangkir teh khusus untuk Fine. Seperti dugaan, tidak ada untukku. Tidak masalah, aku pun tidak berniat meminumnya. 

Fine mengucapkan terima kasih, lalu mencium aroma tehnya. 

“Harumnya lembut. Menenangkan sekali.” 

“Benar, kan? Bunga Kilau Zamrud biasanya dipakai untuk obat, jadi kurang cocok untuk teh. Tapi aku bereksperimen banyak sampai akhirnya bisa enak diminum. Sangat bagus untuk kecantikan, lho.” 

“Pantas kulit Liena begitu cantik.” 

“Aduh! Kamu memang pintar merayu!” 

Keduanya kemudian mengobrol hal-hal ringan. 

Topik yang dibicarakan sama sekali tak relevan. Namun Fine tetap tersenyum. 

Inilah salah satu bakat Fine. Dia luar biasa sabar. 

Dia tahu betul bahwa menunggu adalah bagian penting dari strategi, dan punya mental untuk bertahan. 

Berkat ketekunannya, akhirnya Lienares kembali ke pokok bahasan. 

“...Ini hanya pendapat pribadiku.” 

“Ya.” 

“Kalau orang-orang menuduh Silver berpihak pada Kekaisaran, itu memang salahnya sendiri. Petualang seharusnya sebisa mungkin tak mencampuri urusan politik. Semakin tinggi peringkatnya, semakin penting hal itu. Mereka yang memiliki kekuatan besar memberi pengaruh besar. Sudah lama aku berpikir seperti ini, karena kamu bisa menggunakan sihir teleportasi yang sangat berguna, Silver—bukankah kamu seharusnya tinggal di markas pusat, lalu menerima misi darurat dan langsung teleportasi ke lokasi?” 

“Kamu ingin aku melindungi seluruh benua?” 

“Maksudku, bukan hanya Kekaisaran yang membutuhkanmu. Aku tidak menolak kekuatanmu, tahu? Aku mungkin bisa seimbang melawanmu, tapi kalau bicara kemampuan total, mungkin tidak ada petualang SS lain yang bisa mengunggulimu.” 

“Tak kusangka kamu mengakui itu.” 

“Tentu saja. Yang harus diakui, harus diakui. Bagaimana? Kalau usulan itu dijalankan, Dewan Guild tidak akan bisa protes. Demi seluruh rakyat benua, itu kedengarannya bukan ide buruk, kan?” 

Mata Lienares menatapku, seakan tengah menguji. 

Bagaimana seharusnya aku menjawab? 

Kalau mereka menuduhku berpihak pada Kekaisaran, maka tinggal di markas pusat dan menawarkan diri untuk menangani seluruh benua adalah langkah yang sangat masuk akal. Dewan Guild tak akan bisa banyak bicara. 

Kalau hanya menerima misi darurat, campur tangan Dewan bisa ditekan seminimal mungkin. Mereka memang ingin memanfaatkan kekuatanku sesuka hati, tapi dengan usulan ini, mereka tidak akan bisa melakukannya. 

Usulan yang tidak buruk sama sekali.

Namun kalau begitu, aku akan jadi sulit bergerak di wilayah Kekaisaran. 

Masalah akan muncul bagi diriku yang sebenarnya. 

Saat aku memikirkan itu, Fine berkata pelan. 

“Tidak bisa diterima.” 

“Oh? Mengapa begitu? Demi rakyat. Itulah prinsip dasar seorang petualang, bukan?” 

“Tapi sebelum menjadi petualang, semua orang adalah manusia. Mereka punya tempat untuk hidup, punya orang-orang yang terhubung dengan mereka. Meminta seseorang meninggalkan semuanya itu adalah tindakan sewenang-wenang. Dengan usulan itu, semua beban justru ditumpahkan pada Tuan Silver seorang.” 

“Makanya tadi kubilang, itu salahnya sendiri.” 

“Aku tidak menganggap itu sebagai kesalahan. Tuan Silver selalu melakukan yang terbaik dalam jangkauan yang bisa dijangkau oleh tangannya. Kalau itu dianggap salah, lalu atas dasar apa seorang petualang harus bergerak?” 

“Aku tidak mengatakan itu salah. Untuk petualang biasa, tindakan itu sudah tepat. Tapi Silver adalah peringkat SS. Ada fakta bahwa keberadaan Silver memungkinkan Kekaisaran mengalihkan lebih banyak kekuatan ke luar, dan Silver sendiri sudah membuktikannya.” 

“Kekaisaran sudah menjadi negara kuat bahkan sebelum Tuan Silver muncul. Kalau beliau tidak ada, maka Kekaisaran akan mengambil langkah lain untuk mempertahankan diri dan tetap bergerak keluar. Mengaitkan kekuatan Kekaisaran dengan keberadaan Tuan Silver adalah kekeliruan logika. Sebenarnya, karena Tuan Silver ada, Kekaisaran tidak perlu menghabiskan uang untuk mengumpulkan petualang peringkat tinggi, itu justru sebuah keuntungan.” 

“Benar. Kekaisaran adalah negara kuat. Bahkan bisa dibilang yang terkuat di benua ini. Karena itulah negara-negara lain mengeluh. Dan keluhan itu tidak sepenuhnya tidak beralasan. Silver tinggal di ibu kota Kekaisaran. Tak ada yang tahu kapan dia muncul. Hanya dengan itu saja negara lain sudah mendapat tekanan mental. Efek semacam itu tidak akan tercipta bahkan jika mereka mengumpulkan banyak petualang kuat.” 

Sejenak, tatapan Lienares dan Fine saling bertemu. 

Keduanya berbicara sambil mengamati reaksi satu sama lain. 

Sebuah permainan psikologis tingkat tinggi sedang berlangsung. 

“Seakan-akan hanya Kekaisaran yang menerima manfaat dari Tuan Silver, padahal beliau juga pergi ke negara-negara lain. Bukti paling jelas adalah saat beliau membasmi naga laut di perairan Kadipaten. Kehadiran Tuan Silver di pusat benua adalah sebuah keuntungan besar.” 

“Lalu karena ada keuntungan, kita harus menutup mata dari kerugian? Misalnya, kalau negara lain mengembangkan teknik untuk mengendalikan monster dan menyerang bersama pasukan mereka, Silver bisa melenyapkannya dalam sekejap. Dari sudut pandang negara lain, itu bencana.” 

“Itu justru mengikuti prinsip dasar petualang, demi rakyat. Menghilangkan ancaman sebelum jatuh korban. Itu pekerjaan seorang petualang. Kalau Liena berada di posisi yang sama, kamu juga pasti akan membasmi monster itu. Bukan begitu?” 

Mendengar itu, Lienares tersenyum puas. 

Dia menyesap tehnya pelan, lalu berkata, “Baiklah. Aku akan bekerja sama.” 

“Terima kasih banyak!” 

“Aku hanya ingin memastikan. Kalau kalian gampang dipermainkan olehku saja, tentu kalian juga akan dipermainkan oleh para rubah tua di Dewan... Tapi tampaknya tidak ada masalah. Jujur saja, aku paling tidak mau kalau aku sendiri yang harus maju bernegosiasi.” 

“Itu bagian saya. Akan saya tangani.” 

“Membantu sekali. Petualang peringkat SS itu kerjanya membuat onar di lapangan, kan? Hampir semuanya tidak bisa negosiasi.” 

“Jangan samakan aku dengan mereka.” 

“Kamu itu pihak yang kena sidang, kan? Kurang meyakinkan. Pembela itu harus orang lain, baru bisa dipercaya.” 

Dengan senyum meremehkan, Lienares memandangku. 

Seperti biasa, aku tidak cocok dengan orang ini. 

“Oh ya, tentu saja aku tidak melakukannya gratis.” 

“Apa yang kamu mau? Kalau itu sesuatu yang bisa aku lakukan...” 

“Tidak boleh. Yang membayar harus orangnya langsung.” 

“Apa maumu?” 

“Lepaskan topeng norak itu. Kalau kamu lakukan itu, aku akan menerima permintaan kalian.” 

“Apa!?” 

Fine terkejut menatap Lienares. 

Tatapan Lienares sangat serius. 

Sepertinya kalau aku tidak melepasnya, dia tidak akan membantu. 

“Baiklah.” 

“T-Tuan Silver!?” 

Mengabaikan kepanikan Fine, aku melepas topeng itu. 

Lalu memperlihatkan wajah asliku pada Lienares. 

“...Kamu bercanda?” 

“Tidak. Aku serius.” 

“Kamu sama sekali tidak terlihat serius. Wajahmu tertutup hitam begitu. Kamu menyembunyikannya dengan sihir, bukan?” 

“Tidak ada yang bilang tidak boleh menggunakan sihir.” 

“Kamu ini...! Aku bisa bersihkan sihir itu dengan paksa kalau kamu mau!?” 

“Asal kamu tidak keberatan kalau ruangan kesayanganmu hancur.” 

“...Dasar laki-laki licik.” 

“Lebih tepat kalau disebut cerdas.” 

Aku kemudian mengenakan topengku kembali. 

Lienares langsung mengernyit kesal. 

“Saat kubilang lepaskan topengnya, maksudku mulai sekarang kamu dilarang pakai topeng itu! Aku tidak mau bekerja sama dengan pria yang memakai topeng jelek begitu!” 

“Kamu harus bilang dari tadi. Aku kira kamu ingin aku melepasnya sementara.” 

“Dasar tidak tahu malu...!” 

Andai ada saputangan, dia pasti menggigitnya sambil gemas menahan kesal. 

Aku menghela napas kecil, dan Lienares tampak hampir saja memukulku. 

Fine buru-buru menengahi. 

“L-Liena! Aku akan mengganti syaratnya dengan hal lain!” 

“Tidak perlu. Janji adalah janji. Itu tanggung jawab pada diri sendiri di masa lalu. Janji itu indah kalau ditepati. Tidak seperti pria tak tahu rasa malu di sebelah sana.” 

“Estetika yang mengagumkan.” 

“Diam! Aku tidak senang dipuji olehmu! Dasar!” 

Dengan wajah merah dan kesal, Lienares mendorong kami keluar rumah. 

Lalu dengan nada serius, dia berkata, “Ayo. Kita harus memberi pelajaran pada para manusia buruk rupa yang mencoba memasukkan burung bebas ke dalam sangkar. Burung itu indah karena dia terbang bebas.” 

“Tidak. Kamu akan kubawa saat sidang sudah dekat. Sekarang aku harus mencari No Name dulu.” 

“No Name? Anak itu bilang mau pergi ke dungeon.” 

“Dungeon?” 

Itu adalah petunjuk langka yang muncul dari arah yang tidak terduga.


Bagian 9

Meninggalkan Lienares di belakang, aku datang ke sebuah dungeon di bagian timur Kekaisaran bersama Fine. 

Dungeon ini adalah tempat yang katanya sudah dikunjungi oleh No Name. 

“Ini pertama kalinya saya masuk dungeon!” 

“Akhir-akhir ini dungeon juga sudah jadi hal yang langka.” 

Dungeon adalah istilah umum untuk berbagai jenis bangunan atau fasilitas mulai dari reruntuhan peradaban sihir kuno, bangunan buatan iblis, dan banyak lagi bentuk lainnya. 

Hanya untuk masuk saja biasanya sudah sulit. Dan sekalinya berhasil masuk, kita harus berhadapan dengan monster atau mekanisme pertahanan yang tersisa di dalamnya. 

Monster dalam dungeon sering kali bukan monster biasa, ada yang merupakan monster yang berhasil bertahan hidup di lingkungan terisolasi, ada pula yang merupakan spesies baru yang berevolusi menyesuaikan kondisi unik di dalam dungeon. 

Mekanisme pertahanan adalah peninggalan dari zaman peradaban sihir kuno, banyak di antaranya sangat kuat. Bahkan puing-puingnya saja sudah bernilai tinggi. 

Meski penuh rintangan seperti itu, dungeon tetap terus ditaklukkan di berbagai wilayah benua. Bahkan belakangan ini, sampai-sampai kata “dungeon” sudah jarang terdengar. 

Kenapa bisa begitu? 

Karena jauh di kedalaman reruntuhan peradaban sihir kuno, terdapat barang-barang berharga yang kini tak dapat lagi direplikasi. Sementara dungeon buatan iblis menyimpan banyak peninggalan dari era pasukan Raja Iblis. 

Itu adalah benda-benda yang pantas diperebutkan meski risikonya besar. 

“Kekaisaran Suci Sokal, sebagai negara paling maju dalam bidang sihir, aktif dalam penggalian dungeon. Di benua ini, mungkin merekalah yang paling berpeluang menemukan dungeon baru.” 

Sambil berkata begitu, aku memandang sebuah pintu buatan yang tampak seperti terkubur di tubuh gunung. 

Mungkin saja fasilitas dari era peradaban sihir kuno. 

Pasti ada alat-alat maupun senjata berharga yang tertidur di dalam sana. 

Kalau No Name sampai datang ke sini, tak mungkin dungeon ini sudah habis dijarah. 

“Tempat seperti ini pasti cocok dengan seleranya.” 

“No Name itu suka dungeon, ya?” 

“Bisa dibilang begitu. Tempat seperti ini sangat cocok untuk hobinya dan juga untuk tujuannya.” 

“Hobi dan tujuan?” 

“No Name itu penuh misteri. Sudah lebih dari setengah abad sejak dia menjadi petualang peringkat SS. Tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda menua. Tidak jelas apakah dia manusia atau ras lain. Namun satu hal yang konsisten adalah tindakannya untuk meningkatkan level pedang sihirnya.” 

“Meningkatkan? Maksudnya untuk lebih menguasai cara menggunakannya?” 

“Bukan. Nama pedang kesayangannya adalah Dis Pater, Dewa Dunia Bawah. Mungkin pedang terkuat di antara kategori pedang sihir. Sifat pedang itu ialah memakan energi sihir. Pedang itu menyerap sihir dan tumbuh lebih kuat.” 

“Pedang seperti itu benar-benar ada...?” 

Fine berbisik terkejut. 

Wajar saja dia terkejut. 

Pedang yang tumbuh seperti makhluk hidup sebenarnya sudah berada di luar kategori pedang. 

“Tujuan orang itu adalah membuat pedang sihirnya melampaui Pedang Suci. Karena itu dia menaklukkan dungeon dan memburu monster kuat. Alasannya dia berpusat di Kekaisaran Suci adalah karena dungeon lebih sering ditemukan di sini.” 

“Pedang Suci... Maksudnya Pedang Suci milik Nona Elna itu...? Dia ingin melampauinya?” 

“Bagi orang yang pernah melihat kekuatan pedang itu, ambisi tersebut terdengar konyol... tapi No Name melakukannya dengan sangat serius.” 

Seorang petualang SS yang ingin melampaui Pedang Suci. 

Itu ambisi yang belum pernah ada sebelumnya. Pedang Suci adalah senjata terkuat di seluruh benua.

Senjata pamungkas umat manusia yang bahkan pernah membinasakan Raja Iblis. 

Melampauinya berarti apa? 

Pedang Suci hanya bisa digunakan oleh keturunan keluarga Armsberg. Jadi melampaui Pedang Suci berarti melampaui Amtsberg itu sendiri. 

“Tujuan No Name adalah melampaui sang Pahlawan.” 

Sambil masuk ke dalam dungeon, aku menjelaskan hal itu kepada Fine. 

Sebagai seseorang yang hidup di Kekaisaran, tujuan No Name itu cukup gila sampai Fine tampak begitu terkejut hingga tak sempat menikmati pengalaman pertamanya di dalam dungeon. 

Jujur saja, saat pertama mendengarnya pun aku sampai mundur setengah langkah. 

Pedang Suci yang digunakan Elna bahkan belum pernah mengeluarkan kekuatan penuhnya. Pedang Suci masih menyembunyikan sejuta misteri. Tapi aku sendiri, pada kondisi sekarang pun, tidak pernah terpikir ingin melampauinya. 

“Benar-benar petualang peringkat SS, ya...” 

“Ambisi itu saja sudah membuatnya jadi salah satu orang paling gila di seluruh benua. Dia benar-benar tidak pilih-pilih cara demi mencapai tujuannya.” 

Aku mengembuskan napas panjang. 

Dia tetap mempertahankan status petualang peringkat SS karena itu efisien untuk tujuannya. 

Dis Pater dapat menyerap sihir dari monster maupun pedang sihir lain. Syaratnya hanya dengan menghancurkannya. Pada saat monster dibunuh atau pedang sihir dihancurkan, pedang itu menyerap energi sihir target tersebut dan tumbuh. 

Menjadi petualang peringkat SS berarti dia selalu bisa melawan monster kuat maupun kriminal berbahaya. Kondisi yang ideal untuk meningkatkan kekuatan pedangnya. 

“Pertama kali aku bertemu dengannya dua tahun lalu. Waktu itu dia bilang dungeon di Kekaisaran Suci mulai menipis.” 

“Kalau negara sebesar Kekaisaran Suci sudah meneliti semua dungeon di wilayahnya dan kalau jumlah dungeon di seluruh benua memang berkurang, maka hilangnya dungeon di Kekaisaran Suci tinggal menunggu waktu saja.” 

Jumlahnya memang sedikit, tapi berkat kemampuan investigasi Kekaisaran Suci yang unggul, masih ada dungeon yang berhasil ditemukan. 

Tapi jika negara lain melakukan hal yang sama, mereka akan menemukan lebih banyak. 

“Itulah sebabnya dia bilang ingin pergi ke Kekaisaran Adrasia.” 

“Itu... memang agak...”

“Dua petualang SS dalam satu negara tentu terlalu berlebihan. Waktu itu aku bilang padanya untuk menyerah...”

Tentu saja No Name tak mungkin menyerah demi obsesinya. 

Kemungkinan besar, kalau ada petualang SS yang melapor saat insiden Kura-Kura Roh terjadi, itu pastilah dia. Dilihat dari respons para petualang SS lain, tak ada yang punya rasa kompetitif terhadapku. 

Jika begitu, maka mungkin dialah yang ingin aku keluar dari Kekaisaran. 

Dan jika itu benar, maka membujuknya akan sangat sulit. 

Bahkan bisa saja dia menuntut aku agar meninggalkan Kekaisaran sebagai imbalannya. 

Kalau hanya aku yang harus pergi, sebenarnya aku bisa menerimanya. Proposal Lienares juga seperti itu, sebuah usulan agar tak ada petualang peringkat SS tinggal di Kekaisaran.

Namun kalau No Name yang akan menetap di Kekaisaran menggantikan posisiku, itu cerita lain. 

Tidak mungkin No Name bisa menjalin hubungan baik dengan keluarga Armsberg. 

“Kalau dia datang ke ibu kota dan menantang Elna bertarung, itu bakal merepotkan...”

“Ibu kota bisa hancur...”

“Aku berani jamin, cepat atau lambat dia akan melakukannya. Kalau dia sampai yakin pedang sihirnya telah melampaui Pedang Suci.” 

Sambil berkata begitu, aku melihat sekeliling. 

Yang ada hanyalah puing-puing boneka zirah. Salah satu jenis mekanisme pertahanan yang mungkin dibuat untuk menjaga fasilitas ini. 

Semuanya dihancurkan. Benar-benar dihancurkan habis-habisan. 

Berkat itu, aku dan Fine bisa melangkah jauh ke dalam tanpa mendapat hambatan. 

Melihat kondisi ini, No Name pasti sudah menerobos dungeon ini sampai ke dasarnya sambil meratakan seluruh mekanisme pertahanan. 

Ya, sangat sesuai dengan gayanya. 

“Apa mungkin dia sudah keluar dari dungeon ini?” 

“Tidak, dia masih di bawah. Aku bisa merasakan energi sihir yang khas.” 

Namun itu bukan sihir miliknya. 

Sebagai petualang SS, No Name sendiri sudah cukup kuat. Tapi sihir yang berputar liar di sekelilingnya jauh lebih besar sampai menutupi keberadaannya. 

Itu adalah energi dari Dis Pater, pedang sihirnya. 

“Aku membawamu karena kalau hanya aku dan dia, bisa-bisa berakhir dalam pertempuran... Kamu takut?” 

“Tidak, selama bersama Tuan Silver, saya tidak apa-apa.” 

“Biasanya aku bakal bilang ‘serahkan saja padaku’, tapi kali ini aku tidak yakin. Kalau sampai jadi pertempuran, kita kabur dengan teleportasi. Menjagamu sambil melawannya bisa membuatku jadi santapan pedang sihirnya.” 

No Name tidak menyerang petualang SS lain karena risiko. Jika terjadi pembalasan, dia bisa kehilangan status SS-nya. 

Tapi sekarang aku membawa Fine, sebuah keuntungan. Dan aku juga sedang diawasi oleh Dewan Guild. 

Dengan kondisi ini, dia bisa saja memutuskan untuk menyerang. Meski kurasa dia tidak akan melakukannya di depan Fine. 

Bagaimanapun, dia masih seorang petualang. 

Masalahnya, No Name adalah sosok yang mustahil ditebak. 

Aku dan Fine menuruni tangga panjang. 

Hingga akhirnya kami tiba di sebuah ruang luas yang luar biasa besar. Mungkin fasilitas bawah tanah. 

Bisa jadi ini tempat untuk percobaan. Luasnya cukup untuk mengadakan latihan militer. 

Di tengah ruangan itu, dekat puing-puing boneka zirah raksasa. 

Dia ada di sana. 

“No Name.” 

Saat kupanggil, dia menoleh. 

Pakaian putihnya tidak ternoda sedikit pun, meski jelas baru saja bertarung. Wajahnya tertutup topeng hitam. 

Dan di tangannya, tergenggam pedang sihir yang begitu hitam mengutuk dunia. 

“Salam, Silver. Apa gerangan hingga kamu datang menemuiku?” 

Tutur kata yang sopan. Tapi suaranya tidak tinggi dan tidak rendah, tidak terdengar seperti pria maupun wanita. 

Bukan hanya suaranya, bahkan aura tubuhnya pun tidak memberi petunjuk sama sekali. Seperti topengku, topeng itu pasti punya efek yang sama. 

Nama, wajah, jenis kelamin, usia—segala sesuatu tentangnya tidak diketahui. Itulah No Name. 

“Urusannya, ya. Kukira kamu sudah tahu.” 

“Cara bicaramu seolah-olah aku yang mengatur semuanya. Untuk urusan sidang investigasimu, aku tidak terlibat. Para anggota dewan hanya menyerah pada tekanan negara-negara tetangga.” 

“Sidang investigasi?” 

“Ya. Seperti yang mungkin kamu duga, saat Kura-Kura Roh muncul, aku mengeluh pada dewan. Apa layak Silver mendapatkan semua pencapaian itu untuk dirinya sendiri?” 

“Jadi benar memang kamu.” 

“Sebenarnya aku berharap kamu kecewa pada Kekaisaran, lalu saat para petualang S gagal membunuh Kura-Kura Roh, aku yang membunuhnya dan menjadi petualang SS baru Kekaisaran Adrasia. Tapi semua itu berhasil kamu jungkirbalikkan.” 

Petualang peringkat SS memang gila. 

Setelah menjebakku, ekspresi menyesalnya saja tidak tampak. Sama sekali tidak ada rasa bersalah. 

“Sayang sekali.” 

“Ya, sayang sekali. Jujur saja, waktuku di Kekaisaran Suci juga memang sudah hampir habis.” 

“Karena setiap dungeon yang kamu temukan langsung kamu taklukkan, ‘kan?” 

“Dungeon adalah yang paling efisien. Kebanyakan monster kabur begitu merasakan kekuatan pedang sihirku. Tapi dalam dungeon, tidak ada tempat untuk lari.” 

“Jadi nilai Kekaisaran Suci bagimu hanya dungeon? Kalau rakyat mereka mendengarnya, mereka bisa menangis.” 

“Biarkan saja mereka menangis. Secara pribadi, aku tidak suka Kekaisaran Suci yang mendiskriminasi ras lain.” 

“Oh? Mendengar pendapat pribadimu saja sudah mengejutkan. Kalau begitu mengapa kamu berbasis di Kekaisaran Suci selama ini?” 

No Name mengangkat bahu menanggapiku.

Entah tulus atau dibuat-buat. Aku sulit membacanya. Padahal biasanya aku sangat jago membaca reaksi orang. 

“Aku juga punya pendapat pribadi. Namun prioritasku selalu pada tujuan. Semakin kuat pedang sihirku, semakin aku membutuhkan dungeon. Dan negara yang paling agresif menemukan dungeon serta paling kooperatif terhadap petualang adalah Kekaisaran Suci. Itu saja.” 

“Dan sekarang karena tidak lagi membutuhkannya, kamu ingin pindah ke Kekaisaran?” 

“Ya. Aku dengar Kekaisaran Adrasia negara yang baik. Dan kemungkinan masih banyak dungeon yang belum ditemukan. Masalahnya adalah guild tidak akan membiarkan dua petualang SS berada dalam satu negara.” 

“Tentu saja. Kekaisaran juga tidak akan setuju. Obat yang berlebihan bisa menjadi racun.” 

Petualang adalah “obat” bagi negara dalam menghadapi monster. Petualang SS adalah obat yang sangat kuat, hampir seperti racun ekstrem. Kalau sampai ada dua peringkat SS di negara yang sama, bisa jadi bencana yang lebih berbahaya dari monster manapun. 

Karena itu, untuk mendapatkan apa yang diinginkan, No Name harus menyingkirkanku. 

“Benar sekali. Kamu adalah penghalang. Saat ini kamu sedang diawasi Dewan Guild. Sementara diriku cukup disukai oleh dewan. Setelah kamu menjalani sidang, begitu aku mengatakan ingin pindah ke Kekaisaran Adrasia, mereka akan setuju.” 

“Kamu pikir Kekaisaran akan menerimamu?” 

“Mereka akan menerimaku. Dengan musuh di dalam dan luar negeri, Kekaisaran tidak bisa kehilangan petualang SS. Tanpa dirimu, mereka harus lebih waspada terhadap monster. Apalagi belakangan ini serangan monster di Kekaisaran meningkat. Sementara kualitas petualang mereka rendah. Tidak berlebihan kalau aku bilang mereka bergantung padamu untuk menangani monster.” 

Karena itu, mereka pasti akan menerimaku.

Begitulah No Name menyimpulkannya. 

Benar-benar luar biasa. Sampai sejauh itu dia sudah memperkirakannya sebelum bergerak.

Namun. 

“Bagaimana, Nona Fine?” 

“Ya. Sayangnya, Kekaisaran tidak akan menerimamu, Nona No Name.” 

“Apa kamu memiliki wewenang untuk mengatakan itu, Nona Fine von Kleinert?” 

“Jadi kamu tahu.” 

“Tentu saja. Seorang wanita cantik yang langka, dengan hiasan rambut camar biru. Tidak mungkin aku tidak menyadarinya. Namun sayang sekali. Sepertinya kamu berpihak pada Silver, ya?” 

“Aku diutus sebagai duta besar mewakili Kekaisaran ke markas pusat guild. Pendapatku adalah suara Kekaisaran. Silver telah memberikan segalanya demi Kekaisaran. Kami tidak bisa menerima adanya sidang investigasi atas dirinya, dan apalagi jika ada seseorang yang ingin memanfaatkan itu untuk menggantikan posisinya.” 

“Oh?” 

Tadi dia memandang Fine hanya sebagai putri bangsawan. Tapi setelah mendengar balasan Fine, No Name tampak mengubah cara pandangnya. 

Fine tidak dipilih menjadi duta besar hanya karena ketenarannya. Dia memiliki bakat bawaan sebagai diplomat, dan pengalaman panjang terlibat dalam berbagai operasi di balik layar. Dia bahkan bisa berhadapan langsung dengan menteri luar negeri negara lain. 

“Kalau kamu tidak mengakui itu, apa yang akan kamu lakukan? Negerimu sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, bukan?” 

“Benar sekali. Namun salah satu penyebab kekacauan itu juga berasal dari kamu.” 

“Itu memang patut disesalkan. Aku berniat menebusnya melalui perbuatanku.” 

“Tidak perlu. Jika Silver sampai menjalani sidang investigasi dan harus meninggalkan Kekaisaran, kami sudah memiliki seorang petualang SS lain yang dapat menggantikan posisinya.” 

“...Kakek Egor, ya. Aku terkejut orang tua itu masih berada di Kekaisaran. Tapi dia orang yang tak bisa diam. Kurasa dia tak akan tinggal lama.” 

“Tidak masalah. Asal beliau bertahan sampai pemberontakan Gordon dan invasi serangan negara lain selesai, itu sudah cukup. Setelah itu, Silver akan kami tarik kembali ke Kekaisaran. Jika guild yang tunduk pada tekanan asing melakukan investigasi terhadap Silver, maka mereka pun akan tunduk pada tekanan Kekaisaran yang berhasil menahan invasi.” 

Egor sedang berada di Desa Dwarf demi Sonia. 

Setidaknya sampai pemberontakan Gordon selesai, hampir bisa dipastikan dia akan berada di Kekaisaran. Setelah itu semua tergantung suasana hatinya, tapi jika dia bertahan sampai saat itu, itu sudah cukup. Pendapat Fine memang benar. 

Kalau Kekaisaran bisa bertahan sampai titik itu dan menjadi negara yang memenangkan peperangan, mereka bisa menuntut negara lain menghentikan tekanan terhadap Dewan Guild. Lalu Dewan Guild akan kehilangan alasan untuk menekan diriku. 

“Sepertinya aku tidak disukai.” 

“Karena tujuanmu sendiri.” 

“...Aku hanya ingin menciptakan pedang sihir yang dapat melampaui Pedang Suci.” 

“Itu berarti kamu berkehendak melampaui Sang Pahlawan, dan Pahlawan adalah simbol negara kami. Selama tujuan itu kamu pegang, Kekaisaran tak akan pernah bekerja sama denganmu.” 

“Begitu rupanya. Sungguh bangsawan muda yang luar biasa. Ngomong-ngomong, Silver. Karena kamu datang kemari, berarti kamu sudah mendapatkan persetujuan petualang SS lainnya, bukan?” 

“Tentu saja. Tampaknya kamu yang paling tidak akan mau bekerja sama.” 

“Itu demi tujuanku sendiri. Bukannya aku membencimu secara pribadi. Baiklah, aku mengerti. Aku akan bekerja sama soal sidang investigasi itu. Meski aku berpihak pada Dewan Guild, jika empat petualang SS berkumpul, sidang itu pasti akan dibatalkan. Yang bisa kulakukan hanyalah melindungi beberapa anggota dewan yang memihakku... tapi aku tak berniat menanggung kerugian demi mereka. Itu hanya akan menghambat tujuanku.” 

Dengan berkata begitu, No Name mengangkat kedua tangan seolah menyerah. 

Membawa Fine ke sini benar-benar memberi tekanan kuat bahwa Kekaisaran tidak akan menerima dirinya. Dengan demikian, No Name tak lagi punya alasan untuk memusuhiku. 

“Tinggalkan saja Kekaisaran dan pergilah ke negara lain.” 

“Akan kulakukan. Namun alasanku ingin pergi ke Kekaisaran bukan hanya karena dungeon.” 

“Oh?” 

“Aku ingin melihat keadaan sebenarnya. Seberapa jauh jarak antara Pedang Suci-nya dengan pedang sihirku. Itulah yang ingin kuketahui.” 

“...Kamu berniat menantang bocah jenius dari Keluarga Pahlawan?” 

“Tentu tidak. Aku hanya ingin melihat Pedang Suci-nya dengan mataku. Tapi kamu sudah melihat Pedang Suci itu. Dengan kemampuanmu, kamu bisa membandingkan pedang sihirku dengan Pedang Suci itu. Maka, imbalan atas kerjasamaku adalah bertarung denganmu, Silver.” 

Sambil berkata begitu, No Name mengarahkan pedang sihir hitam legam, Dis Pater, ke arahku. 

Pada akhirnya, tetap jatuhnya ke sini juga...

“Bertarung tidak masalah. Tapi aku ingin menolak untuk sekarang.” 

“Mengapa?” 

“Pertama, Fine ada di sini. Kedua, hari ini aku sudah berkali-kali menggunakan sihir teleportasi. Aku tidak ingin menggunakan lebih banyak sihir.” 

Mendengar alasanku, No Name mengangguk singkat. 

Lalu dia melangkah ke bagian terdalam ruang eksperimen bawah tanah yang sangat luas itu. 

Ketika aku bersiap, bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan, No Name menghancurkan pintu besar di sana dan masuk begitu saja. 

“Dia tidak terpikir untuk membuka pintu dengan normal...?” 

“Benar-benar heboh ya...” 

Tindakan itu membuat aku dan Fine tercengang. Tak lama, No Name kembali membawa sesuatu di tangan kirinya. Dia melemparkan benda itu kepadaku. 

“Ini...” 

“Gelang bertatahkan permata. Di dalamnya tersimpan energi sihir yang bisa menggantikan beban penyihir. Kamu pasti tahu itu, bukan?” 

“Tentu saja aku tahu... tapi alat sihir seperti ini sangat berharga.” 

“Pakailah. Bahkan benda-benda di balik pintu tadi pun boleh kamu ambil. Dis Pater memiliki preferensi. Efisiensi menyerap sihir lebih tinggi jika sasarannya makhluk hidup. Alat sihir seperti itu tidak berguna bagiku.” 

Benar-benar tidak peduli apa pun selain pedang sihirnya... 

Sepertinya golem raksasa yang dihancurkannya tadi bertugas melindungi eksperimen-eksperimen berharga di balik pintu itu. 

Tapi No Name tak tertarik sedikit pun. Meski itu benda berharga sekalipun, kalau tak bisa meningkatkan level pedang sihirnya, baginya itu tak ada bedanya dengan rongsokan. 

Buatku, ini tawaran yang sangat menguntungkan. Aku mendapat kerja samanya dan juga alat sihir berharga. 

Tapi bertarung dengan No Name membuatku enggan. 

“Seberapa besar sih keinginanmu untuk bertarung denganku?” 

“Aku tidak ingin bertarung denganmu. Aku hanya ingin mengetahui posisi kekuatan Dis Pater saat ini. Lagi pula, kalau nanti, kamu bisa saja kabur dengan teleportasi. Aku tidak bisa membiarkanmu menipuku.” 

Sekarang, kamu akan serius melawanku, bukan? 

Sambil mengatakan itu, No Name sekali lagi mengacungkan pedang hitam itu ke arahku. 

Sepertinya aku tidak akan dibiarkan pergi kalau tidak melayani keinginannya. 

“Fine. Bisa kamu pulang duluan?”

“Tapi...”

“Kalau kamu ada di sini, aku tak bisa bertarung.” 

“...Baiklah.” 

Fine sempat ingin membantah, namun setelah mendengar perkataanku, dia menyerah dan mundur selangkah. 

Maaf, tapi kalau dia terluka sedikit saja, urusan sidang investigasi akan menjadi tidak relevan lagi. 

Aku membuka gerbang teleportasi menuju markas pusat. 

“...Semoga Anda tidak terluka.” 

“Akan kucoba semaksimal mungkin.” 

Setelah mengatakan itu, Fine melangkah masuk ke gerbang teleportasi dan kembali ke markas pusat. 

Yang tersisa hanya aku dan No Name. 

Aku menghela napas lalu mengenakan gelang itu. 

Yah, sampai sekarang aku selalu berusaha menghindari benturan langsung dengan para petualang SS. Namun sepertinya dengan orang ini, hal itu tak bisa dihindari. 

“No Name. Ada satu hal yang perlu kukatakan.” 

“Apa itu?” 

“Kalau topengmu terlepas, jangan mengeluh.” 

“Dengan senang hati.” 

Pada saat itu juga. 

Energi sihirku dan No Name mengembang dahsyat, membuat seluruh ruang eksperimen bawah tanah mulai bergetar.


* * *


“Aku mulai.” 

Mengucapkan itu, No Name menerobos masuk ke jarak tempurku.

Menghadapi Dis Pater yang dia ayunkan tanpa ragu, aku membalasnya dengan berlapis-lapis penghalang. 

Pedang itu menghantam penghalang, lalu merobeknya seperti kertas.

Menyadari sekadar penghalang tak akan mampu menahannya, aku segera menembakkan sihir ke arah Dis Pater.

“Berpancarlah, Bloody Lightning.” 

Petir raksasa berwarna merah gelap seperti darah menghantam Dis Pater yang melesat ke arahku, menimbulkan ledakan dahsyat. 

Guncangannya membuat seluruh ruang eksperimen bawah tanah bergetar hebat.

Sepertinya ini adu cepat, apakah No Name puas lebih dulu, atau ruang eksperimen ini yang lebih dulu runtuh. 

Memanfaatkan dorongan dari gelombang ledakan, aku menjejak lantai dan mengambil jarak, lalu menatap asap tebal yang membubung. 

Tentu saja, serangan seperti itu tidak akan membuatnya gentar.

Dan benar saja, dari balik asap, No Name muncul perlahan. Tanpa luka sedikit pun. 

“Bagaimana? Coba bandingkan dengan Pedang Suci.” 

“Untuk saat ini belum setara. Kalau bocah jenius keluarga Pahlawan itu memegang Pedang Suci dan menyerangku dari jarak barusan, aku tak akan selamat.” 

“Begitu ya. Memang, Pedang Suci itu menakutkan. Luar biasa.” 

Sambil berkata begitu, No Name menghimpun sihir pada Dis Pater.

Ucapannya memang pujian, tapi dari raut wajahnya jelas dia tidak merasa kalah sama sekali. 

Memang kenyataannya, kekuatan No Name jauh lebih besar dari ini.

Dia disebut Pendekar Pedang Sihir Penghancur Ruang karena setiap kali dia mengayunkan Dis Pater, segalanya dalam ruang itu musnah seketika. 

Jika No Name serius, boneka-boneka zirah yang tadi ada di ruangan ini pun takkan tersisa bentuknya.

Serangan barusan saja sudah jelas dia menahan diri. 

Aku tak tahu keseluruhan kemampuan Dis Pater, tapi aku tahu tipenya. Pedang itu tidak berubah bentuk seperti pedang sihir Lynfia, dan tidak mengendalikan elemen seperti pedang sihir Ignart.

Tanpa trik rumit. Sama seperti Pedang Suci, pedang ini hanya menghancurkan musuh lewat kekuatan dan energi sihir yang luar biasa. Itulah hakikat dari Dis Pater, Dewa Dunia Bawah. 

Meski begitu, No Name terus mengumpulkan sihir tanpa mengambil posisi untuk melepaskannya. 

“Kenapa? Kalau kamu terus berbelas kasihan pada tempat ini, pertarungan tak akan selesai.” 

“Kalau aku berhenti berbelas kasihan, ruangan ini langsung runtuh. Sebelum itu, aku harus mendengar pendapatmu.” 

“Pendapat soal apa?” 

“Apakah kemampuan bertarungku sebagai pendekar pedang lebih rendah daripada Elna von Amrsberg.” 

Tiba-tiba aku sadar dia sudah berada tepat di belakangku.

Kecepatannya bahkan melampaui kemampuan deteksi penghalang yang kupasang di sekeliling. 

Refleks, aku menghimpun sihir dalam jumlah besar ke tangan kananku.

Dengan tangan itu, aku menahan Dis Pater sambil menoleh. 

“Seperti yang diharapkan dari Silver.” 

“Kukembalikan kata-katamu. Aku sebenarnya tak ingin memakai cara ini.” 

Saat ini sebagian besar energi sihirku terpusat pada tangan kanan. Karena itulah aku mampu menahan Dis Pater, tapi ini bukan gaya bertarung yang cocok untukku. 

Jika aku memusatkan sihir ke tangan kanan, pertahanan di bagian lain jadi terbengkalai.

Andaikan aku ahli seni bela diri, mungkin kekuranganku masih bisa ditutupi. Tapi tidak peduli seberapa kuat aku memperkuat diri, bakatku di bidang itu tetap menyedihkan. 

Tidak peduli seberapa hebat tangan kananku menjadi pedang, sang pengguna tetaplah payah. 

Karena itu, aku berusaha menjauhkan diri dari tempat itu.

No Name langsung mendekat untuk menggagalkannya. Untuk menahannya, aku menembakkan sihir tanpa mantra. 

Ratusan peluru cahaya kecil muncul mengelilingiku, lalu terbang cepat ke arah No Name.

Biasanya ini dipakai saat menghadapi musuh dalam jumlah banyak, tapi untuk menghentikan No Name, jumlah ini memang diperlukan. 

Namun...

“Sial...!”

“Kamu cukup kompeten rupanya.” 

Sambil berkata begitu, No Name menghindari semuanya tanpa menerima satu pun serangan, dan terus mendekat. 

Meski begitu, jarak antara kami tidak bertambah jauh. Wilayah No Name masih tetap miliknya.

Padahal aku sudah menembakkan begitu banyak sihir, tapi tak satu pun berhasil menahannya. 

Wajar saja dia menargetkan Pedang Suci. Artinya dia bermaksud melampaui keluarga Pahlawan.

Singkatnya, tujuannya adalah mengalahkan Elna. 

“Aku akui. Tujuanmu bukan mimpi kosong... tapi, untuk sekarang, sang Pahlawan wanita itu masih lebih kuat.” 

Aku menjentikkan jari. 

Saat tadi aku menjejak lantai untuk memanfaatkan ledakan.

Aku sudah menanam sebuah penghalang tipe jebakan. 

Namanya Penghalang Pilar Cahaya. 

Dari lantai, pilar cahaya menyembur dan menangkap No Name.

Jangkauannya sempit dan hanya efektif untuk satu orang, sehingga jarang kugunakan. Namun untuk lawan yang kuat, penghalang itu cukup berguna. 

Baiklah, saatnya mengambil jarak. 

Aku melangkah jauh dari No Name dengan santai.

Ketika aku sudah cukup jauh, pilar cahaya itu pecah, dan No Name keluar dari dalamnya. 

Mudah sekali dia menghancurkannya. 

Bahkan terasa menyegarkan melihatnya. 

“Dengan jebakan penghalang sekecil itu, apa yang bisa kamu simpulkan?” 

“Penghalang itu lebih kuat daripada ini, dan kukeluarkan sebagai serangan mendadak yang benar-benar tanpa peringatan. Meski begitu, sang jenius Armsberg tetap berhasil lolos. Aku memang bukan pendekar pedang, jadi aku tak paham detail teknik pedang... tapi soal kecepatan reaksi, intuisi, membaca gerakan, dan kemampuan mendeteksi bahaya, dalam hal-hal itu, kamu masih kalah dari sang jenius Armsberg.” 

Jika bertarung dengan senjata yang sama, yang membedakan adalah kemampuan fisik dan teknik.

Baik Elna maupun No Name, kemampuan fisik dan teknik mereka termasuk yang terbaik di benua ini. Ada sedikit perbedaan, mungkin, tapi tidak sampai signifikan. 

Namun dalam hal merespons serangan, Elna jauh lebih unggul. Perbedaan itu cukup besar untuk menentukan pemenang. 

Saat melawan vampir, Elna berhasil lolos dari Penghalang Rantai Kutukan. Sejauh ini, dialah satu-satunya yang berhasil lolos dari penghalang itu.

Lebih-lebih lagi, saat itu aku dan Elna sedang bertarung bersama. Dia jelas tersudut oleh serangan mendadak. Namun tetap saja dia tidak tertangkap. 

Itulah yang membuat Elna luar biasa, sekaligus berbahaya.

Entah itu karena darah pahlawan yang diwarisinya, atau hasil dari latihan keras dan banyaknya medan tempur yang telah dia lewati. Apa pun alasannya, ketika Elna masuk ke mode bertarung, serangan mendadak hampir tidak pernah mempan. 

“Begitu. Jadi dalam hal pertahanan, aku kalah.” 

“Soal teknik pedang, tanyakan saja pada Kakek Egor. Kurasa tidak ada perbedaan yang berarti.” 

Meski begitu, Elna yang memegang Pedang Suci hampir tidak akan bertarung dengan mengandalkan teknik.

Dia tak membutuhkan trik.

Pertarungan pasti akan berubah menjadi adu satu serangan super kuat. 

No Name tampaknya memahami itu. Dia tidak terlihat kesal ketika kubilang dia kalah dalam hal pertahanan. Memang penting, tapi baginya ada hal yang jauh lebih penting. 

“Kalau begitu, lihat juga seranganku.” 

Dengan itu No Name mengangkat Dis Pater tinggi-tinggi di posisi atas kepala.

Sebagai tanggapan, aku pun mulai menyiapkan pertahanan dan teleportasi.

Tidak diragukan, ruang eksperimen ini pasti akan runtuh. 

Saat aku berpikir seperti itu, sihir dari Dis Pater mulai meningkat drastis.

Bukan seperti mengumpulkan energi sihir dari sekitar, melainkan seperti sihir itu meluap dari dalam pedangnya sendiri. 

Tekanan pekat itu tak kalah dari Pedang Suci.

Kekuatan itu sudah pasti sebanding dengan Empat Relik Pusaka. 

Tapi... 

“Hebat juga. Puncak dari bertahun-tahun latihan keras. Benar-benar terasa tekad manusianya. Tapi Pedang Suci itu pengecualian di antara Empat Relik Pusaka. Senjata terkuat yang diciptakan dari bintang itu sendiri. Dengan kekuatan sebesar ini, kamu belum bisa menang.” 

“Kamu benar. Tapi aku masih belum mengeluarkan seluruh kekuatanku.” 

No Name mengatakannya sambil membiarkan bayangan hitam meluap dari Dis Pater. Bayangan itu menyelimuti tubuhnya lalu perlahan menyatu kembali pada pedang kegelapan. 

Serangan yang terkonsentrasi.

Kemungkinan besar ini adalah keluaran maksimum dari Dis Pater.

Serangan yang tidak mudah untuk ditahan.

Namun bukan berarti aku bisa membiarkannya mengenai diriku.

“Perisai itu adalah perisai dewata yang menyelubungi langit.

“Laksana awan gemuruh ia menjaga cakrawala.

“Hadir di segenap penjuru angkasa, lalu sirna bagai kabut.

“Memeluk segalanya, menyelubungi segalanya.

“Nama yang digunakan untuk perlindungan,

“Diciptakan untuk semua yang lemah.

“Maka, bahkan dewa-dewi pun tak mampu menembusnya.

“Maka, perisai itu tak terkalahkan dan tak tertandingi.

“Namanya adalah... Firmament Aegis.”

Setelah kuakhiri mantra itu, sebuah perisai raksasa berwarna biru dan perak, dikelilingi awan, muncul di hadapanku.

Ada banyak sihir pertahanan dalam sihir kuno, namun yang disebut Aegis selalu memiliki daya tahan luar biasa. Di antara semua Aegis, Firmament Aegis adalah yang paling kokoh. 

Lebih kuat daripada Aegis yang pernah menahan napas naga laut Leviathan. Di antara semua sihir pertahanan yang bisa kugunakan, ini masuk tiga yang terkuat. 

Aku ragu sihir ini bisa melindungiku dari Pedang Suci. Namun untuk menahan Dis Pater harusnya cukup. 

Intuisiku mengatakan demikian, pedang kegelapan itu tidak sebanding dengan Pedang Suci.

Artinya No Name tidak bisa melampaui teman masa kecilku. 

“Seperti yang diharapkan dari Silver. Dengan ini aku bisa menyerang semampuku!” 

Dis Pater memancarkan cahaya merah hitam.

Bayangan pekat yang terkumpul tampak menggeliat, seolah mencari jalan keluar. 

“Wahai Dis Pater, dengarlah seruanku.

“Engkaulah pedang malapetaka dari dunia bawah.

“Berselubung bayangan kematian, memusnahkan segalanya.

“Tuanmu kini menghendaki kehancuran!”

No Name mengayunkan pedang itu ke bawah dengan gerakan besar.

Dengan itu... 

“Tebasan Maut Kegelapan!!” 

Arus dahsyat bayangan hitam mengalir deras ke arahku.

Dan yang menahannya adalah perisai biru-perak. 

Arus bayangan hitam mencoba menembusnya, namun perisai itu tak bergerak sedikit pun, tak bergetar sama sekali.

Benturan hebat itu berlangsung lama. Namun hasilnya sama.

Arus bayangan hitam itu tak dapat menembus perisai biru-perak. 

Arus itu perlahan melemah.

Sementara perisainya tetap bersinar tanpa mundur.

Ketika akhirnya arus itu lenyap, perisai itu bahkan tidak bergeming. Jika lawanku Pedang Suci, ini tidak akan terjadi. Perisai ini pasti retak, atau bahkan kalah. 

“Kamu tidak melampaui sang Pahlawan. Dis Pater pun tidak melampaui Pedang Suci. Itulah jawabanku, No Name.” 

“...”

Perisai menghilang, dan di depanku tinggal No Name yang masih memegang pedangnya, terdiam.

Sepertinya itu benar-benar membuatnya terkejut. Jelas sekali suasananya berubah.

Keterkejutannya terasa nyata. 

Aku menaruh kasihan pada No Name, tapi inilah saatnya rencana kecilku bekerja. 

“Oh iya. Seperti kukatakan di awal, jangan protes nanti.” 

“Apa...!?” 

No Name memutar tubuhnya cepat.

Beberapa peluru cahaya tiba-tiba melesat ke arahnya. 

Beberapa peluru cahaya itu adalah yang tadi kugunakan sebagai pengalih, dan sengaja kusisihkan tanpa dia sadari.

Karena dia sedang terpukul secara mental dan baru saja melepaskan serangan penuh, reaksinya sedikit terlambat. 

Tak kusia-siakan peluang itu, aku mengarahkan peluru cahaya tersebut. 

Lintasannya dibuat sedemikian rupa hingga hanya menggores topengnya. 

Sesuai rencana, peluru cahaya itu menggeser topeng No Name. 

Topeng itu pasti tidak akan rusak oleh gangguan kecil, tapi peluru sihirku cukup kuat untuk membuatnya bergeser. 

“Oh? Ini mengejutkan.” 

“...?!?”

Topeng yang bergeser memperlihatkan sedikit wujud asli No Name.


Hanya sebagian dari wajahnya yang terlihat, tapi dia memiliki kulit yang pucat, mata berwarna merah, dan rambut perak.

Wajah seorang gadis yang memukau, begitu cantik hingga membuatku tertegun. 

Dia telah menjadi petualang peringkat SS selama lebih dari setengah abad, namun masih tampak begitu muda. Mungkin karena rasnya, atau mungkin karena alasan lain. 

Aku penasaran, tapi sekalipun kutanya, dia pasti tidak akan menjawabnya.

Topeng yang telah kembali ke wajahnya membuat No Name kembali menatapku dengan penuh permusuhan, namun waktunya sudah habis. 

“Sudah saatnya.” 

Bersamaan dengan kata-kataku, fasilitas bawah tanah ini mulai runtuh. 

Karena tak ingin hadiahku ikut tertelan dalam reruntuhan, aku membungkus area sekitar pintu tempat artefak-artefak itu dengan sebuah penghalang, lalu menyiapkan gerbang teleportasi untuk diriku sendiri. 

Kemudian, mendekati No Name, aku meraih lengannya. 

“Apa!?” 

“Kamu tidak ingin pergi dari sini?” 

Sambil mendengus, seolah berkata jangan menanyakan hal bodoh, aku menarik No Name masuk bersama ke dalam gerbang teleportasi. 

Tujuan teleportasiku adalah luar dungeon. 

Begitu tiba, No Name langsung menepis tanganku dari lengannya. 

“Padahal aku sudah menolongmu, kamu malah bersikap seperti itu.” 

“Aku tidak ingat pernah meminta untuk ditolong.” 

“Sayang sekali. Padahal aku lebih memprioritaskanmu daripada hadiahnya.” 

Sambil berkata begitu, aku membuka kembali gerbang teleportasi, lalu kembali mengambil artefak-artefak yang tadi kulindungi dengan penghalang. 

Barang-barang yang tampak paling berharga kubawa sendiri, sementara yang tampak bisa dijual mahal, kulemparkan ke permukaan lewat gerbang teleportasi. 

Tak lama kemudian. 

Setelah sebagian besar artefak dipindahkan, aku kembali ke permukaan. 

“Tak kusangka kamu masih di sini.” 

“Haruskah aku pergi begitu saja? Kalau aku menghilang, bukankah justru aku akan menyulitkanmu?” 

“Tidak juga. Selama kamu tidak bekerja sama dengan para dewan itu saja sudah cukup. Kalau sampai kamu memusuhiku, aku tinggal membeberkan kenyataan di balik topengmu ke seluruh guild.” 

“...Apa itu ancaman?” 

“Terserah bagaimana kamu menafsirkannya. Tapi kamu memakai topeng berarti kamu tidak mau hal itu terbongkar, bukan? Rambut yang pucat, kulit yang hampir sakit-sakitan pucatnya, ciri khas ras tertentu. Tapi ciri paling menonjol dari ras itu tidak tampak di dirimu.” 

Ciri terkuat vampir adalah taring yang runcing. 

Barusan aku melihat jelas bagian mulut No Name, namun tidak ada taring itu. 

Apa yang sebenarnya terjadi? 

“Jangan bicara lebih jauh. Jangan memikirkannya, Silver.” 

“Begitu ya. Kalau begitu, ini juga tidak perlu aku dalami? Kamu benar-benar No Name?” 

“...Apa maksudmu?” 

“Ada beberapa hal yang berbeda dari cerita yang kudengar. Termasuk yang dikatakan Kakek Egor. Banyak orang di guild bilang No Name itu berhati-hati dan penuh misteri. Tapi dari apa yang terjadi tadi? Sulit sekali kamu dibilang orang yang waspada. Dan seseorang yang bisa kubuka topengnya seperti itu rasanya tidak cocok disebut penuh misteri.” 

No Name dan Egor, setahuku, punya hubungan yang cukup lama. 

Membuat Egor berkata bahwa seseorang penuh misteri bukanlah hal sepele. Kakek tua itu adalah monster yang berada di level berbeda bahkan di antara para petualang SS. 

Ditambah lagi, saat bertarung, aku tidak merasakan pengalaman panjang darinya. Justru hanya ada kesan anak muda. 

Ada jurang yang jelas antara No Name yang kudengar dan No Name yang kulihat sendiri. 

“Maka kutanyakan sekali lagi. Apa kamu benar-benar No Name?” 

“...Aku adalah No Name.” 

“Baiklah.” 

Tak ada gunanya menekan lebih jauh. 

Kalau dia bersikeras, maka pembicaraan selesai. 

“Baiklah. Seperti yang sudah dijanjikan, artefak-artefak ini jadi milikku. Lalu, apa kamu berniat menghadiri sidang investigasi?” 

“Janji tetaplah janji.” 

“Kamu cukup berpegang teguh pada janji, ya. Kalau aku yang topengnya dilepas, rasanya aku tak akan sudi bekerja sama.” 

“...Kalau begitu kenapa kamu malah menargetkan topengku? Bukannya kamu ingin aku bekerja sama?” 

“Maaf. Aku hanya suka mengambil ketenangan orang lain yang terlihat terlalu percaya diri.” 

Aku tersenyum miring dari balik topengku. 

No Name tampaknya merasakan itu.

Dia memalingkan wajah dengan kesal. 

Melihat itu, aku hanya tersenyum kecil sebelum membuka gerbang teleportasi menuju markas pusat. 

“Kamu berbeda dengan yang lain. Kamu setidaknya bisa bersikap tenang, kan? Sampai hari sidang nanti, tinggallah di tempat Nona Fine. Membuka gerbang teleportasi lagi untuk menjemputmu itu merepotkan.” 

“Aku tidak suka cara bicaramu, tapi baiklah. Aku juga malas kalau harus dicari-cari.” 

No Name melangkah menuju gerbang teleportasi, tapi sebelum sepenuhnya masuk, aku memanggilnya. 

“Tunggu sebentar.” 

“Ada apa?” 

“Bantu aku bawa ini.” 

Tanpa menunggu jawaban, aku menumpukkan beberapa artefak ke tangannya. 

No Name mengklik lidahnya, kesal, tapi tampaknya menganggap protes pun tak ada gunanya, sehingga dia mengangkut barang-barang itu dalam diam dan masuk ke dalam gerbang teleportasi. 

“Benar-benar masih muda...” 

Meski tidak mustahil dia adalah ras berumur panjang, mereka memang butuh lebih banyak waktu untuk membentuk kedewasaan mental dibanding manusia. Faktor individu juga memengaruhi perbedaan itu.

Tetap saja terasa janggal bila melihat penilaian Egor. Bisa saja dia hanya kebetulan lengah saat melawanku, tapi reaksi berlebihan karena serangan Dis Pater kublokir? Tingkah seperti itu bukan sifat orang yang waspada dan misterius. 

Dis Pater adalah pedang sihir yang terus tumbuh. 

Kalau serangannya bisa kutahan, berarti dia masih jauh dari level sang Pahlawan. Dia seharusnya tahu bahwa dia perlu membuat pedangnya terus berkembang. 

Jika dia tak bisa mengalihkan perhatian dan terus memikirkan kegagalan kecil, mana mungkin dia menjalani proses panjang untuk menumbuhkan pedang itu. Itu hanya membuang waktu. 

Apalagi setelah serangan penuh tenaga, aku masih berdiri tegak. Seorang veteran seharusnya langsung waspada terhadap serangan balasan. 

Dengan mempertimbangkan semua itu, hanya ada satu jawaban. 

“Entah generasi kedua, atau mungkin sudah beberapa generasi setelahnya.” 

Jika dia generasi kedua, mungkin dia mewarisi tujuan generasi pertama. 

Jika sudah beberapa generasi, maka kegelapannya jauh lebih dalam. 

Anak keturunan, atau murid. Entah yang mana, mereka terus mewarisi pertumbuhan Dis Pater, memupuk harapan untuk melampaui Pedang Suci dan mengalahkan Pahlawan. 

Lebih kuat. Lebih jauh. Pasti ada sesuatu yang menopang ambisi itu.

Apakah itu kegigihan atau dendam? Atau mungkin sesuatu yang lain sama sekali. 

“Vampir tanpa taring...”

Sebuah firasat buruk melintas dalam benakku. 

Jika ciri terbesarnya tidak sesuai, kemungkinan besar karena darahnya sudah menipis. 

Campuran, atau bahkan lebih tipis dari itu. 

Jika... Dan jika...

Apa mungkin mereka telah mencampurkan berbagai darah hanya untuk menjadi lebih kuat? 

Keluarga Pahlawan telah melindungi darah mereka turun-temurun. Jika ada pihak yang ingin menandingi itu, mungkin mereka terus mencampurkan darah yang kuat ke dalam garis keturunan mereka, lalu menitipkan ambisi mereka pada para penerus. 

“Hampir seperti keluarga kerajaan.” 

Jika benar masih ada keluarga yang sebegitu bodohnya, itu sungguh menyedihkan. Karena kebodohan yang dilakukan dengan kesungguhan justru lebih berbahaya. 

Dan karena dilakukan dengan kesungguhan, hasil pun mulai terlihat. Memang itu yang membuatnya lebih merepotkan. 

Selama seseorang merasa bahwa dia semakin dekat dengan tujuannya, manusia akan terus bergerak ke depan. 

Aku tak akan menyangkalnya. Ada banyak sekali contoh di mana orang-orang bodoh justru menemukan jawaban yang benar. Sering kali, yang merasa dirinya paling benar justru yang salah. 

Namun, bagaimana dengan mereka yang menempuh jalan yang terjal dan tak berujung itu?

Dan memaksakan jalan itu pada anak dan cucu mereka, apakah salah jika aku menganggap itu terlalu kejam? 

Melindungi dan menyelamatkan semua orang di benua ini.

Mengalahkan sang Pahlawan terkuat di benua dan melampaui Pedang Suci-nya. 

Mana yang lebih bodoh? 

“Sungguh... Sulit bagiku untu menentukannya.” 

Sungguh merepotkan. Terlalu banyak orang yang serius dalam kebodohan mereka. 

Dengan pikiran seperti itu, aku melangkah masuk ke dalam gerbang teleportasi.


Bagian 10

Setelah kembali ke penginapan milik Fine, aku hanya bisa menoleh dengan bingung melihat para kesatria pengawal yang tampak ribut. 

“Ada apa? Apa yang terjadi?” 

“Iya, ada. Dari gerbang teleportasimu itu, si No Name, petualang peringkat SS, keluar begitu saja dan langsung masuk ke kamar tanpa izin.” 

“Kurang ajar sekali. Apa dia tidak bisa bilang sepatah kata?” 

“Orang yang punya sopan santun itu tidak asal memindahkan orang lain ke penginapan tanpa izin, tahu? Ngerti nggak? Tempat ini kami sewa khusus untuk Nona Fine, lho?” 

“Aku tahu itu. Aku tidak sebodoh itu sampai memindahkan orang ke tempat yang bukan sewaan. Bisa mengganggu tamu lain. Ah, sebelum sidang dimulai, No Name akan tinggal di sini, jadi tolong siapkan makanannya.” 

“...”

Padahal aku sudah memintanya dengan sopan, tapi Ines hanya menghela napas panjang. 

Para kesatria pengawal lainnya pun menatapku dengan pandangan tidak percaya. 

Kenapa, ya? 

Ah. Begitu rupanya. 

“Tenang saja. Aku akan menginap di tempat lain.” 

“Sudah seharusnya begitu. Kalau kamu juga ikut menginap, kami semua bisa mati karena kelelahan.” 

“Begitukah? Menurutku kalau ada aku dan No Name, kami tidak butuh pengawalan.” 

“Kalian berdua justru yang paling berbahaya, tahu? Susah sekali sih dijelaskan. Oh iya, No Name meninggalkan alat sihirnya. Itu mau diapakan?” 

Ines menunjuk alat sihir yang diletakkan begitu saja di lantai koridor. 

Menaruh alat sihir berharga di lantai, benar-benar tidak tahu nilainya. Padahal dijual pun pasti laku mahal. 

“Antarkan ke ibu kota. Itu upahku.” 

“Kenapa kami harus mengangkut upahmu?” 

“Kalian akan kembali ke ibu kota, kan?” 

“Kamu juga akan kembali, ‘kan? Dan dalam sekejap pula.” 

“Ya, aku bisa membawanya sendiri, tapi mempertahankan gerbang teleportasi dari sini sampai ibu kota itu lumayan menguras energi sihir. Jadi, tolong bawa saja.” 

“Bisakah kamu tidak memperlakukan kesatria pengawal seperti jasa angkut barang...?”

Meski menggerutu, Ines tetap memberi instruksi pada bawahannya untuk mengangkut barang itu. 

Fleksibel juga dia. Sangat membantu. 

“Tolong perlakukan dengan baik, ya? Itu barang rampasan dari dungeon.” 

“Barang rampasan dungeon? Sebenarnya kamu tadi ke mana dan sedang apa sih?” 

“Hanya adu satu ronde dengan No Name di dalam dungeon yang ada di wilayah Kekaisaran Suci. Dungeon-nya memang runtuh, tapi alat sihirnya berhasil kami selamatkan. Nyaris berbahaya, sih.” 

“‘Hanya’? Tolong, jangan pernah lakukan itu di dalam wilayah Kekaisaran, oke?” 

“Tentu saja. Aku tidak akan merusak dungeon berharga milik Kekaisaran.” 

“Masalahnya bukan dungeon-nya, tapi fakta bahwa dua petualang SS saling bertarung. Kamu paham tidak?” 

“Hanya sparing ringan. Tidak usah dipikirkan. Aku sudah memperhatikan lingkungan sekitar.” 

“Hanya sparing ringan sampai menghancurkan dungeon itu cuma tingkah laku kalian para petualang SS.” 

“Permisi. Pahlawan wanita Kekaisaran itu juga bisa melakukan hal yang sama.” 

“Elna itu berbeda darimu. Setidaknya dia masih punya akal sehat.” 

“Wanita itu punya akal sehat...?” 

Buatku, kalau bicara soal wanita yang tidak punya akal sehat, Elna adalah contoh paling jelas. 

Sepertinya Ines masih belum mengenalnya cukup lama, jadi wajar kalau dia belum tahu. 

Kasihan sekali. Dia pasti akan dipusingkan nanti. 

Sambil merasa iba pada Ines dalam hati, aku pun melangkah menuju kamar Fine.


* * *


“Selamat datang kembali.” 

“Ah, aku kembali...”

Begitu masuk kamar dan memasang penghalang, aku langsung menjatuhkan diri ke kursi. 

Benar-benar lelah. Bukan cuma karena No Name, rasanya semua kelelahan yang menumpuk sampai sekarang datang sekaligus. 

Bertemu empat petualang peringkat SS dalam waktu sesingkat ini, benar-benar melelahkan pikiranku. 

“Kapten Ines bilang No Name sudah datang?” 

“Ya. Sepertinya dia akan menepati janjinya. Tolong biarkan dia tinggal di sini sampai hari investigasi.” 

“Baik. Lalu bagaimana dengan yang lain?” 

“Nanti pada hari investigasi aku akan menjemput mereka. Mereka itu orang yang asing dengan kata ‘menyamar’.” 

“Liena saja sudah ramai sekali. Sepertinya yang lain juga sama ramainya, ya?” 

Menyebut tingkah Liena sebagai ‘ramai’, Fine memang hebat. 

Bahkan Leo pun mungkin tidak bisa menilai selembut itu. 

Ya, Fine ini memang sosok besar. 

Sembari berpikir begitu, aku hendak melepaskan topengku, tapi urung. 

“...Tidak jadi. Takut dibalas dendam.” 

“Dibalas dendam?” 

“Yah. Soalnya aku sempat menyenggol topengnay No Name.” 

“Eh? Kenapa bisa sampai begitu...?”

“Aku sadar ini kebiasaan burukku, tapi... aku itu suka menjegal orang yang terlihat terlalu santai. Kebiasaan itu keluar begitu saja.” 

“Jadi Anda membuatnya marah padahal datang untuk meminta bantuan? Ah! Tapi, pada akhirnya dia tetap datang ke sini. Malah bagus, menurut saya. Lagipula, rasanya tenang kalau ada orang lain yang tahu rahasia kita.” 

Fine menepuk kedua tangannya sambil berkata begitu. 

Benar juga. Aku punya orang-orang yang mengetahui rahasiaku. Sebas dan Fine. 

Mungkin No Name juga membutuhkan sosok seperti itu. 

“Benar juga, ada benarnya. Menyimpan terlalu banyak rahasia itu bikin kepala seperti mau pecah. Aku juga pernah mengalami masa-masa itu.” 

“Iya! Karena itu, ayo kita berteman baik dengan No Name!” 

“Berteman, ya... Tapi rasanya dia punya banyak masalah.” 

“Banyak masalah? Kalau begitu dia justru lebih butuh tempat bersandar, bukan?” 

“Memang benar. Kalau sampai dia lepas kendali juga bahaya. Tapi dia itu wanita.” 

“Wanita? Wah, kalau begitu saya juga bisa membantu! Saya cukup mahir berteman dengan sesama wanita!” 

“Meski dia wanita, dia tetap petualang SS, kamu tahu itu?” 

“Saya sudah terbiasa!” 

“Begitu, ya. Kalau begitu tolong bertemanlah denganny. Ah... dan apa pun yang kuberitahukan tadi, rahasiakan, ya?” 

“Tenang saja! Saya akan menyapanya seolah-olah tidak tahu apa-apa soal itu!” 

Melihat Fine mengepalkan kedua tangan dengan penuh percaya diri, aku hanya bisa mengangguk beberapa kali. 

Kalau Fine bisa akrab dengan No Name, rasa permusuhannya padaku pasti berkurang. Dan kalau gagal pun tak ada risiko yang berarti. 

Untuk saat ini, aku serahkan saja padanya. 

Kalau hubungan mereka membaik, mungkin aku bisa menggali banyak informasi. 

No Name pun, demi keuntungan diri sendiri, mungkin akan mempertimbangkan menjalin hubungan baik dengan Fine. Fine itu sosok yang dekat dengan Elna, bagaimanapun juga. 

Walau aku sudah melihat wajahnya, tetap saja dia penuh misteri. Kalau Fine bisa menyelidikinya sedikit, itu akan sangat membantu. 

“Kalau begitu, aku serahkan padamu. Sampai hari sidang investigasi tiba, aku akan berada di kediaman Clyde. Karena tanggalnya sudah ditentukan, sepertinya mereka tidak akan bergerak besar-besaran sejak sekarang. Tapi tetap, tolong temui para anggota dewan.” 

“Untuk mencegah mereka curiga, ya?” 

“Benar. Kalau kita terlihat panik, mereka akan ceroboh. Mumpung begini, sekalian saja kita buat mereka terkejut. Kesempatan melihat seluruh petualang SS berkumpul itu sangat langka.” 

Aku menyeringai kecil. 

Sebagai pihak yang hendak menginterogasiku, pasti menyenangkan melihat wajah para anggota dewan itu terkejut hebat. 

Mereka yakin berdiri di posisi aman untuk menjatuhkanku, tapi tentu saja tidak akan berjalan semudah itu. 

Kalau mau menekan orang lain, mereka harus siap juga menghadapi balasannya. 

Apalagi kalau yang kamu hadapi itu petualang peringkat SS. 

Kalau berani menyerang, minimal harus siap menanggung kehancuran diri sendiri. 

“Ini bakal menarik.” 

“Tolong jangan melakukan hal yang terlalu parah, ya?” 

“Itu tergantung bagaimana mereka bergerak. Yah, setidaknya, semua orang yang mengusulkan investigasiku itu harus turun dari kursi dewan.” 

“Saya sangat setuju!” 

Fine memunculkan ekspresi kesal. 

Sepertinya dia juga punya banyak kekesalan yang menumpuk. 

Tinggal sedikit lagi. 

Bersiaplah, Dewan Guild.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close